RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Download (0)

Full text

(1)

Satuan Pendidikan : SMA N 1 Kerambitan Kelas /Semester : X / Genap Mata Pelajaran : Geografi Materi Pokok :

Atmosfer

Alokasi Waktu : 3 x 45 menit A. Tujuan Pembelajaran

1.

Siswa dapat

Menjelaskan pengaruh La-nina dan El-nino terhadap kehidupan di muka bumi.

2.

Siswa dapat

Menjelaskan pengaruh Global Warming terhadap kehidupan di muka bumi.

3.

Siswa dapat

Menjelaskan pengaruh kekeringan terhadap kehidupan di muka bumi.

4.

Siswa dapat Menjelaskan pengaruh badai terhadap kehidupan di muka bumi.

5.

Siswa dapat Menjelaskan pengaruh Madden-Julian Oscillation terhadap kehidupan di muka

bumi.

6.

Siswa dapat menjelaskan dipole mode terhadap kehidupan di muka bumi.

B. Pendekatan, Model, Dan Metode

Pendekatan

:

Saintifik (5 M)

Model

: Discovery learning

Metode

: Penugasan

C.

Langkah-Langkah Pembelajaran

No

Kegiatan

1.

Pendahuluan

Orientasi

-

Guru Memberikan materi pemahaman tentang dampak iklim bagi kehidupan dengan

mengirimkan di

Google Clasroom

dengan modul

2.

1.

Siswa

mengamati

modul yang diberikan

2.

Siswa diberi kesempatan untuk

mengajukan

pertanyaan terkait materi dengan aplikasi

komentar di google classroom atau WA pribadi

3.

Siswa diberikan beberapa tema :

A.

pengaruh Badai terhadap kehidupan di muka bumi.

B.

Pengaruh La-nina dan El-nino terhadap kehidupan di muka bumi.

C.

pengaruh Global Warming terhadap kehidupan di muka bumi.

D.

pengaruh kekeringan terhadap kehidupan di muka bumi.

E.

pengaruh Madden-Julian Oscillation terhadap kehidupan di muka bumi.

Agar tercipta keadilan tema akan dibagi berdasarkan nomer absen.

4. Siswa mengumpulkan informasi baik berupa literasi secara mandiri, baik dengan internet atau buku 5. Siswa mengasosiasi pembelajaran sesuai tema yang diberikan

6. Perserta didik dapat mengerjakan tugas yang diberikan dapat berupa presentasi (vidio), power poin, ringkasan, review materi atau ringkasan terhadap tema yang diberikan.

3

Kegiatan Penutup

4.

Siswa mengirimkan tugas yang diberikan samapai batas waktu yang ditentukan

D.

PENILAIAN

Teknik non tes

Hasil berupa presentasi (berupa vidio)

-

Lembar penilaian presentasi (Terlampir)

Hasil berupa ringkasan atau power poin

-

Lembar penilaian hasil kerja siswa (Terlampir)

Mengetahui

Kepala SMA N 1 Kerambitan

Drs. Nyoman Wardana, M.Pd.

NIP. 19630215 199003 1 008

Tabanan, April 2020

Guru Mata Pelajaran

I Nyoman Supariarta, S.Pd.

NIP.19900408 201903 1 008

(2)

Lampiran 1. Rubrik Penilaian

1)

Jika tugas dikirim dengan Presentasi

Penilaian Presentasi sebagai berikut:

No

Nama Siswa

Kejelasan

presentasi

Pengetahuan Penampilan

Total skor

Nilai

Skor 1-4

Skor 1-4

Skor 1-4

1.

2.

3.

dst

Nilai = Total skor x 100

Skor Maksimal

No

Kriteria

Bobot

Skala

1

2

3

4

1

Kejelasan

Presentasi

1x

a.

Sistematika

Tidak

sistematika

Kurang

sistematika

Cukup sistematika

Sangat

sistematika

b.

Bahasa yang

digunakan

Sulit dipahami

Ada

yang

bias

dipahaminamun

banyak yang masih

membingungkan

Banyak

yang

mudah

dipahami

namun ada sedikit

yang

membingungkan

Sangat

mudah

dipahami

c.

Suara

Tidak terdengar

Ada

yang

bias

didengar

namun

banyak yang masih

sulitdidengar

Banyak yang bias

didengar,

namun

ada sedikit yang

sulit didengar

Sangat

jelas

terdengar

2 Pengetahuan 2x

a.

Penguasaan

materi

presentasi

Tidak paham

Paham

namun

masih banyak yang

kurang jelas dalam

penyampaian

Paham namun ada

sedikit yang kurang

jelas

dalam

penyampaian

Paham

dan

sangat

jelas

dalam

penyampaian

b.

Menjawab

pertanyaan

Tadak

dapat

menjawab

Menjawab

namunmasih

banyak

yang

kurang jelas dalam

menjawabnya

Menjawab namun

ada sedikit yang

kurang jelas dalam

menjawabnya

Menjawab

dengan tepat dan

jelas

3 Penampilan 1x

a.

Visualiasi

presentasi

Tidak menarik

dan

tidak

menggunakanal

at-alat

bantu

yang sesuai.

Kurang

menarik

dan

sedikit

menggunakan

alat-alat bantu yang

sesuai

Menarik

namun

sedikit

menggunakan

alat-alat

bantu

yang

sesuai.

Sangat menarik

dan

menggunakan

alat-alat

bantu

yang sesuai.

(3)

b.

Kerapian,

kesopanan,

dan rasa

percayadiri

Tidak

rapi,

tidak sopan dan

tidak

percayadiri

Hanya satu hal

diantara kerapian,

kesopanan,

dan

rasa percaya diri

yang dimiliki olehs

iswa

Hanya

dua

hal

diantara

kerapian,

kesopanan, dan rasa

percaya diri yang

dimiliki oleh siswa

Rapi, sopan, dan

percayadiri

2)

Jika tugas dikirim dengan ringkasan, power poin

Penilaian Hasil kerja siswa sebagai berikut:

Kriteria Jawaban

Skor

Analisis lengkap, sesuai konsep, dan rapi

100

Analisis lengkap, sesuai konsep, dan rapi

90

Analisis kurang lengkap, sesuai konsep, dan rapi

85

(4)

Tema Tugas : Badai

Badai

Badai adalah cuaca yang ekstrem, mulai dari hujan es dan badai salju sampai badai pasir dan debu. Badai disebut juga siklon tropis oleh meteorolog, berasal dari samudera yang hangat. Badai bergerak di atas laut mengikuti arah angin dengan kecepatan sekitar 250 km/jam. Badai bukan angin ribut biasa. Kekuatan anginnya dapat mencabut pohon besar dari akarnya, meruntuhkan jembatan, dan menerbangkan atap bangunan dengan mudah.

Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang. Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur, dan badai salju. Badai paling merusak adalah badai topan (hurricane), yang dikenal sebagai angin siklon (cyclone) di Samudera Hindia atau topan (typhoon) di Samudera Pasifik.

Penyebab badai adalah tingginya suhu permukaan laut. Perubahan di dalam energi atmosfer mengakibatkan petir dan badai. Badai tropis ini berpusar dan bergerak dengan cepat mengelilingi suatu pusat, yang sumbernya berada di daerah tropis. Pada saat terjadi angin ribut ini, tekanan udara sangat rendah disertai angin kencang dengan kecepatan bisa mencapai 250 km/jam. Hal ini bisa terjadi di Indonesia maupun negara-negara lain. Di dunia, ada tiga tempat pusat badai, yaitu di Samudera Atlantik, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik.

(5)

Tema Tugas : La Nina Dan El Nino

September 2012 Kembali Jadi Bulan Terpanas

Faktor pemicunya adalah berakhirnya La Nina dan menghangatnya Arktik yang kemudian memicu pemecahan rekor pencairan es di lautan kutub utara. Menurut data US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), sepanjang September 2012, temperatur rata-rata di seluruh dunia mencapai 60,2 derajat Fahrenheit atau sekitar 15,6 derajat Celsius. Bulan tersebut merupakan ketiga kalinya temperatur rata-rata menyamai rekor sebagai September terpanas. Sejumlah ilmuwan menuding pemanasan global sebagai penyebabnya.

Sebelum ini, suhu yang sama terjadi pada September 2003 dan 2005. Catatan suhu sendiri sudah dipantau sejak tahun 1880 lalu. Lalu, mengapa selalu September? Menurut Andrew Weaver, pakar iklim dari University of Victoria, Kanada, penyebabnya adalah meredanya musim panas di kawasan belahan bumi utara yang merupakan hasil dari pemanasan global akibat ulah manusia. Secara tidak langsung, ini memicu pendinginan di sejumlah kawasan lain di seluruh dunia. Data NOAA juga menyebutkan, suhu September lalu juga merupakan ke-16 kalinya temperatur dunia menyamai titik terpanas sejak tahun 2000. Adapun terakhir kali suhu dunia memecahkan rekor terdingin adalah pada Desember 1916, hampir 96 tahun yang lalu. Secara total, bulan September 2012 juga merupakan bulan ke 331 berturut-turut di mana temperatur global berada di atas temperatur rata-rata abad ke 20.

“Tren ini merupakan hasil pemanasan global perbuatan manusia. Apa yang kini terjadi adalah persis seperti yang diperkirakan oleh para pengamat iklim sekitar 20 sampai 30 tahun lalu,” ucap Weaver.

Selama setahun ini, temperatur rata-rata dunia juga lebih hangat dibanding biasanya, meski masih jauh dari titik rekor. Tetapi di saat yang sama, Amerika Serikat justru malah terus mencetak rekor suhu terpanas. Walaupun suhu rata-rata September mencapai titik rekor, di Amerika Serikat suhu September lalu hanya mencapai posisi ke-23 sebagai September terpanas. Menurut Deke Arndt, ketua tim pemantau iklim NOAA, intensitas panas yang paling terasa terjadi di Amerika Selatan, Jepang, Rusia, Kanada, dan Samudra Atlantik.

Menurut Weaver dan Arndt, ada dua faktor yang menjadi pemicu. Pertama adalah berakhirnya La Nina yang merupakan kebalikan dari El Nino yang cenderung menekan angka temperatur global. Kedua, bulan lalu, Arktik cenderung hangat dan pencairan es di lautan kutub utara memecahkan rekor dan mempengaruhi cuaca di seluruh kawasan belahan bumi utara.

Sayangnya, laporan pemanasan global tersebut dibantah oleh kalangan skeptis yang menunjuk data dari sebuah koran harian di London yang menyatakan bahwa dunia tidak bertambah panas sejak tahun 1997 lalu. Padahal, Weaver dan badan meteorologi Inggris sendiri menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar. “Kami tidak tahu data mana yang mereka lihat. Yang pasti, 2010 merupakan tahun terpanas dan 2005 merupakan tahun terpanas kedua,” ucap Weaver. Menurut NOAA, dari sepuluh tahun terpanas yang tercatat, seluruhnya terjadi setelah tahun 1997, tahun di mana para kalangan skeptis menyatakan bahwa pemanasan global telah berhenti. Sumber :

www.nasionalgeografiindonesia.com/dampaklanina (Abiyu Pradipa. Sumber: Phys.Org)

(6)

Tema Tugas :

Global Warming

Global Warming

Pemanasan global (global warming) adalah peningkatan secara gradual suhu permukaan bumi dan lautan secara global akibat efek emisi gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Akibat pemanasan global, terjadinya perubahan iklim (climate change) berupa perubahan pola angin (arah dan kecepatan angin), pola tekanan udara, meningkatkan badai atmosfir, perubahan pola curah hujan, dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem, hingga bertambahnya jenis organisme penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan. Diperkirakan planet bumi ini bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5 oC memasuki abad

mendatang sebagai efek akumulasi

penumpukan gas rumah kaca (GRK) di atmosfir.

Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya seperti CO, CH4, NOx, NO2 yang dikenal sebagai gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer, yang dikenal dengan efek rumah kaca. Disisi lain hutan semakin gundul sehingga penyerapan karbondioksida semakin sedikit. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dalam bentuk gelombang panjang yang dipancarkan oleh Bumi. Para ilmuan telah membuat prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap perubahan cuaca (climate change), tinggi permukaan air laut, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan. Rata-rata temperatur permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4-5,8 oC (2,5-10,4 oF) pada tahun 2100. Kenaikan temperatur ini akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9-100 cm (4-40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering, serta dibarengi dengan erosi sehingga merusak tanah dan perairan akibat terjadinya sedimentasi, permukaan sungai dan danau serta laut makin naik.

(7)

Tema Tugas :

Kekeringan

KEKERINGAN LAHAN PERTANIAN DI NTT, BAGAIMANA SOLUSINYA?

Kekeringan mungkin sudah menjadi keseharian saat musim kemarau di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seperti lahan tepat di belakang rumah dinas Gubernur NTT di Kota Kupang, yang mengering dengan rekahan tanah selebar 5 – 10 centimeter. Irigasi kering, hanya terlihat rumput ilalang. Di lain tempat, di beberapa kecamatan di Kabupaten Kupang Barat dan di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang Timur hal serupa juga terlihat.

Sore itu pukul 15.30 Wita, pada Selasa (18/11/2014), Juventino hanya bisa menatap lahan pertanian miliknya yang kering. Ia bertani sudah puluhan tahun di Keluharan Oebelo, Kabupaten Kupang Timur, NTT. Ia mengatakan kekeringan sudah terjadi berulang kali disetiap musim kemarau. Rata-rata pertanian hanya bisa dilakukan ketika musim hutan tiba. Belum ada upaya pemerintah daerah untuk mencari solusi kekeringan. Tidak ada juga bantuan untuk petani.“Kami bertani untuk membiayai sekolah anak, hingga saat belum ada bantuan pemerintah. Sekarang bingung harus bagaimana. Semoga hujan lekas turun,” kata Juventino.Di musim kemarau, ia menjadi buruh bangunan atau kerja serabutan. Beberapa petani lainnya mencoba menanam pohon sagu di lahan kering. Yang lain hanya membiarkannya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTT Yohanes Tay Ruba kepada Mongabay mengatakan, selama ini pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pendampingan petani. Bantuan kepada petani berupa sarana pertanian, benih, pupuk, alat pompa air secara reguler. Problemnya di NTT, musim hujan lebih pendek dari pada kemarau. Sehingga kekeringan lahan tentu terjadi setiap tahunnya. Mereka terus memberikan sosialisasi pemanfaatan ketika musim kemarau atau di lahan kering.“Saat ini memang luas lahan kering lebih luas dari pada tahun sebelumnya, namun ketersediaan pangan di NTT masih cukup,” kata Yohanes. Ketersediaan beras untuk rumah tangga dan raskin di kendalikan oleh Bulog. Saat ini di NTT, produksi terus meningkat namun kebutuhan juga meningkat. Sehingga NTT sendiri memasok kebutuhan pangan dari Jawa Timur dan Sulawesi. Data pemerintah NTT, potensi pertanian lahan kering yaitu sekitar 1.528.308 hektar berdasarkan kelas kesesuaian lahan terdiri dari daerah kecocokan tinggi, sedang dan terbatas. Sedangkan potensi lahan pertanian basah seluas 284.103 hektar yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten/kota, dimana sebagian telah dikelola dan dibagi berbagai daerah irigasi.

Dampak kekeringan sangat dirasakan di sektor pertanian tanaman pangan yang menjadi tumpuan bagi sebagian besar penduduk Indonesia, yang berpengaruh terhadap kerawanan pangan dan penurnan produksi tanaman. Selain melalui pendekatan teknis, antisipasi kekeringan dilakukan pula melalui pendekatan kelembagaan yang mencakup pendekatan strategis, taktis, dan operasional. Pendekatan antisipatif dalam mengurangi resiko kekeringan dapat dilakukan melalui pendekatan teknis dan pendekatan kelembagaan. Tindakan-tindakan yang dilakukan melalui pendekatan teknis, seperti mengefektifkan informasi prakiraan iklim yang dihasilkan oleh beberapa lembaga internasional dan nasional seperti BMG, LAPAN, Badan Litbang Pertanian, untuk memprediksi terjadinya kekeringan dan menentukan alternatif teknologi antisipasinya.

(8)

Tema Tugas :

MJO

Dampak Madden Julian Oscillation terhadap wilayah Tropi

Osilasi Madden-Julian (MJO) adalah sebuah pola khatulistiwa anomali curah hujan yang dalam skala planet.MJO ditandai ditingkatkan dan ditekan oleh curah hujan tropis, diamati terutama di atas Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Anomali curah hujan yang biasanya pertama kali terlihat di bagian barat Samudera Hindia, dan tetap jelas seperti mengalir di atas air laut yang sangat hangat dari barat dan pusat tropis Pasifik. Pola curah hujan tropis yang menyebabkan gelombang energi tersebut terlihat jelas ketika bergerak di atas air laut timur Pasifik, tetapi muncul atas tropis Atlantik dan Samudera Hindia. Tahap yang basah ditingkatkan konveksi dan curah hujan diikuti oleh fase kering.MJO biasanya terjadi pada hari 30-60 atau hari 40-50, menghasilkan fluktuasi utama intra-musiman yang menjelaskan variasi-variasi cuaca di daerah tropis. MJO mempengaruhi seluruh troposfer daerah tropis bahkan lebih jelas di Samudera Hindia dan di barat Samudera Pasifik. MJO meliputi variasi-variasi dalam hal angin, suhu permukaan laut (SST), perawanan dan curah hujan. Dikarenakan kebanyakan curah hujan di tropis konvektif, dan awan tinggi konvektif sangat dingin (emitting little longwave radiation.

Daerah yang dipengaruhi MJO suhu muka lautnya meningkat seiring dengan perjalanan arus laut ke timur sehingga berdampak pada tingginya penguapan air laut. Proses selanjutnya terjadi gerakan uap air secara vertikal dan membentuk beberapa cluster awan hujan yang bergerak ke timur dengan kecepatan 5–10 m/s. Satu hal penting yang perlu diketahui, awan ini mengandung air sangat banyak serta mempunyai periode ulang 30 sampai 90 hari yang berarti dalam kisaran waktu tersebut akan terjadi peningkatan hujan di kawasan-kawasan yang dilaluinya. Namun perlu diingat, MJO hanya akan berpengaruh terhadap peningkatan hujan di Indonesia ketika posisi matahari di sebelah selatan khatulistiwa. Banjir dan tanah longsor terjadi bukan semata-mata akibat curah hujan yang amat tinggi, namun juga dipengaruhi oleh jenis tanah dan kondisi lingkungan yang semakin rusak. Dari sisi meteorologis, menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMG Mezak Arnold Ratag, fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation) masih dalam kategori sebagai pemahaman baru yang menerangkan, pada periode 20-30 hari terjadi osilasi atau pergerakan angin permukaan dan angin paras atas di daerah tropis. Analisis terhadap fenomena MJO sekarang diharapkan turut membuka peluang untuk semakin meningkatkan akurasi prakiraan curah hujan di Indonesia.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in