• Tidak ada hasil yang ditemukan

GANGGUAN SEKSUAL DAN IDENTITAS GENDER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GANGGUAN SEKSUAL DAN IDENTITAS GENDER"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

GANGGUAN SEKSUAL DAN IDENTITAS

GENDER

(2)

Gangguan seksual antara lain:

1. Parafilia

2. Disfungsi Seksual

(3)

Gangguan Identitas

Gender ( GIG )

Gangguan identitas gender adalah bagaimana seseorang merasa bahwa ia adalah seorang pria atau wanita, dimana terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya (Nevid, 2002).

Identitas jenis kelamin adalah keadaan

psikologis yang mencerminkan perasaan

dalam diri seseorang sebagai laki-laki atau

wanita (Kaplan, 2002).

Fausiah (2003) berkata, identitas gender adalah

keadaan psikologis yang merefleksikan

perasaan dalam diri seseorang yang berkaitan

dengan keberadaan diri sebagai laki-laki dan

perempuan.

(4)

Identitas jenis kelamin

(gender identity

): keadaan psikologis yang mencerminkan perasaan dalam

(inner

sense

). Didasarkan pada sikap, perilaku, atribut lainnya yang ditentukan secara kultural dan berhubungan

dengan maskulinitas atau femininitas. Peran jenis kelamin (

gender role):

pola perilaku eksternal yang

mencerminkan perasaan dalam

(inner sense

) dari identitas kelamin. Peran gender berkaitan dengan

pernyataan masyarakat tentang citra maskulin atau feminim.

Konsep tentang normal dan abnormal dipengaruhi oleh factor social budaya, Perilaku

seksual dianggap normal apabila sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat dan

dianggap abnormal apabila menyimpang dari kebiasaan yang ada di masyarakat.

Gangguan identitas gender bermula di masa kanak-kanak hal itu dihubungkan dengan

banyaknya perilaku lintas-gender, seperti berpakaian seperti lawan jenisnya, lebih suka

bermain dengan teman-teman dari lawan jenis, dan melakukan permainan yang secara

umum dianggap sebagai permainan lawan jenisnya. Gangguan identitas gender pada

anak-anak biasanya teramati oleh orang tua ketika si anak berusia antara 2-4 tahun

(Green & Blanchard, 1995).

(5)

Awal mula Gangguan Identitas

Gender

Gangguan identitas gender bermula dari trauma dari orang tua yang

berlawan jenis, pergaulan individu, pengaruh media massa. Kaplan

(2002), gangguan identitas gender ditandai oleh perasaan

kegelisahan yang dimiliki seseorang terhadap jenis kelamin dan

peran jenisnya. Gangguan ini biasanya muncul sejak masa

kanak-kanak saat usia dua hingga empat tahun (Green dan Blanchard

dalam Fausiah, 2003)

Nevid (2002) mengemukakan bahwa gangguan identitas

gender dapat berawal dari masa kanak-kanak dengan

disertai distress terus menerus dan intensif, bersikap

seperti lawan jenis dan bergaul dengan lawan jenis, serta

menolak sifat anatomi mereka dengan adanya anak

perempuan yang memaksa buang air kecil sambil berdiri

atau anak laki-laki yang menolak testis mereka.

(6)

1.

Berkeinginan kuat menjadi anggota gender lawan jenisnya

(berkeyakinan bahwa ia memiliki identitas gender lawan jenisnnya)

2. Memilih memakai baju sesuai dengan stereotip gender lawan jenisnya

3. Berfantasi menjadi gender lawan jenisnya atau melakukan permainan

yang dianggap sebagai permainan gender lawan jenisnya.

4. Mempunyai keinginan berpartisipasi dalam aktivitas permainan yang

sesuai dengan stereotip lawan jenisnya

5. Keinginan kuat mempunyai teman bermain dari gender lawan jenis

(dimana biasanya pada usia anak

– anak lebih tertarik untuk mempunyai

teman bermain dari gender yang sama). Pada remaja dan orang dewasa

dapat diidentifikasikan bahwa mereka berharap menjadi sosok lawan

jenisnya, berharap untuk bisa hidup sebagai anggota dari gender lawan

jenisnya.

(7)

6. Perasaan yang kuat dan menetap ketidaknyamanan pada

gender anatominya sendiri atau tingkah lakunya yang sesuai

stereotip gendernya.

7. Tidak terdapat kondisi interseks.

(Kondisi biologis ini dapat terlihat di organ reproduksi, hormon, kromosom, dan rambut di tubuh. Contoh sederhana dari kasus interseks misalnya perempuan yang lahir dengan vagina tertutup. Contoh lain adalah laki-laki yang lahir dengan kondisi skrotum terbelah yang terlihat seperti mulut vagina).

8. Menyebabkan kecemasan yang serius atau

mempengaruhi pekerjaan atau sosialisasi atau yang lainnya.

9. Gangguan identitas gender dapat berakhir pada remaja

ketika anak

– anak mulai dapat menerima identitas gender.

Tetapi juga dapat terus berlangsung sampai remaja bahkan

hingga dewasa sehingga mungkin menjadi gay atau lesbian.

(8)

Kriteria gangguan Identitas Gender dalam

DSM IV-TR

1. Identifikasi yang kuat dan menetap terhadap lawan

jenis

2. Pada anak-anak, terdapat 4 atau lebih dari cirri, yaitu:

a. Berulang kali menyatakan keinginan untuk menjadi

atau memaksakan bahwa ia adalah lawan jenis

b. Lebih suka memakai pakaian lawan jenis

c. Lebih suka berperan sebagai lawan jenis dalam

bermain atau terus menerus berfantasi menjadi

lawan jenis

d. Lebih suka melakukan permainan yang merupakan

stereotip lawan jenis

e. Lebih suka bermain dengan teman-teman lawan

jenis

(9)

Tidak sama dengan kondisi fisik antar jenis kelamin

Menyebabkan distress atau hendaknya dalam fungsi sosial dan

perkerjaan.

3. Pada remaja dan orang dewasa, simtom-simton seperti keinginan untuk menjadi lawan jenis, berpindah ke kelompok lawan jenis, ingin diperlakukan sebagai lawan jenis, keyakinan bahwa emosinya adalah tipikal lawan jenis. 4. Rasa tidak nyaman yang terus-menerus dengan jenis kelamin biologisnya atau rasa terasing dari peran gender jenis kelamin tersebut. ;

a. Pada anak-anak, terwujud dalam salah satu hal di antaranya; pada laki-laki merasa jijik dengan penisnya dan yakin bahwa penisnya akan hilang seiring berjalannya waktu; tidak menyukai permainan stereotip anak laki-laki. Pada anak perempuan, menolak untuk buang air kecil dengan cara duduk; yakin bahwa penis akan tumbuh; merasa tidak suka dengan payudara yang membesar dan menstruasi; merasa benci/tidak suka terhadap pakaian

perempuan yang konvensional

b. Pada remaja dan orang dewasa, terwujud dalam salah satu hal di

antaranya; keinginan kuat untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin sekunder melalui pemberian hormone dan/atau operasi; yakni bahwa ia dilahirkan dengan jenis kelamin yang salah

Tidak sama dengan kondisi fisik antar jenis kelamin

Menyebabkan distress atau hendaknya dalam fungsi sosial dan perkerjaan. Transeksual

(10)

Saat ini, masih belum terdapat pertanyaan mengenai penyebab

munculnya gangguan identitas gender: nature atau nurture?

Walaupun terdapat beberapa data tentatif bahwa gangguan tersebut

disebabkan oleh faktor biologis, yaitu hormon, namun data yang

tersedia tidak dapat mengatribusikan munculnya transeksualisme

hanya kepada hormon (Carroll, 2000). Faktor biologis lain, seperti

kelainan kromosom dan struktur otak, juga tidak dapat memberikan

penjelasan yang konklusif.

Faktor lain yang dianggap dapat menyebabkan munculnya

gangguan identitas seksual adalah faktor sosial dan psikologis.

Lingkungan rumah yang memberi reinforcement kepada anak yang

melakukan cross-dressing, misalnya, kemungkinan berkontribusi

besar terhadap konflik antara anatomi sex anak dan identitas

gender yang diperolehnya (Green, 1974, 1997; Zuckerman &

Green, 1993). Walaupun demikian, faktor sosial tidak dapat

menjelaskan mengapa seorang laki-laki yang dibesarkan sebagai

perempuan, bahkan dengan organ seks perempuan, tetap tidak

memiliki identitas gender perempuan dan akhirnya memilih untuk

hidup sebagai laki-laki.

(11)

Teori belajar menekankan tidak adanya figur

seorang ayah pada kasus anak laki

laki

menyebabkan ia tidak mendapatkan model

seorang pria.

Teori psikodinamika dan teori belajar lainnya menjelaskan

bahwa orang dengan gangguan identitas gender tidak

dipengaruhi tipe sejarah keluarganya. Faktor keluarga mungkin

hanya berperan dalam mengkombinasikan dengan

kecenderungan biologisnya. Orang yang mengalami gangguan

identitas gender sering memperlihatkan gender yang

berlawanan dilihat dari pemilihan alat bermainnya dan

pakaian pada masa anak

anak. Hormon pernatal yang tidak

seimbang juga mempengaruhi. Pikiran tentang maskulin dan

feminine dipengaruhi oleh hormone seks fase

fase tertentu

dalam perkembangan prenatal.

(12)

a. Biologis

Teori biologis telah difokuskan pada jumlah dan jenis

hormone antenatal yang datang dalam kontak dengan janin.

Secara khusus, jika janin terkena tingkat yang sangat tinggi

testosteron, terdapat buktibahwa seperti janin akan

mengembangkan identitas pria, bahkan jika bayi lahir dan

dibesarkan sebagai seorang gadis. Juga, jika janin terkena

kelebihan androgen atau kekurangan hormone androgen,

maka gendera tipikal perilaku telah diamati dalam studi

penelitian (Cohen-Kettenis &Gooren, 1999).

Kasus Reimer dapat digunakan sebagai sumber utama

dukungan untuk penelitian dengan teori-teori biologis seperti,

karena itu adalah contoh yang jelas alam versus pengasuhan,

di mana alam akhirnya menang.

Menurut teori Toone, ketidakseimbangan hormon kehamilan

dapat mempengaruhi individu untuk thedisorder. Masalah

dalam interaksi keluarga individu atau keluarga dynamicsmay

memainkan peran.

(13)

b. Psikologis

Teori Psikologis menunjukkan faktor lingkungan sebagai pengaruh kunci dalam etiologi GID. Penelitian sampai saat ini menunjukkan perbedaan yang jelas berbagai penyebab GID antara anak perempuan dan laki-laki. Namun, kesamaan dalam menyebabkan titik ke GID sebagai mekanisme coping untuk stressor lingkungan yang dihadapi individu. Karena tidak ada temuan yang jelas tentang kausalitas telah ditentukan, penelitian lebih lanjut

diperlukan untuk mengembangkan teori psikologi yang komprehensif tentang etiologi GID. Di sisi lain, teori-teori psikologi mengidentifikasi pengaruh orang tua, kebutuhan primer, dan kognisi pribadi sebagai faktor utama yang menyebabkan GID, dengan atau tanpa membutuhkan diatesis biologis. Dalam makalah ini, ikhtisar dari beberapa teori psikologi akan disajikan.

Pengaruh orang tua adalah yang paling banyak dipelajari dan tampaknya menjadi kekuatan yang paling kuat dalam genesis GID, terutama peran ibu. Pada atau bahkan sebelum rahim, kebanyakan orangtua mengekspresikan preferensi seks untuk mereka anak-to-be. Menurut Zucker dan Bradley (1995), sifat psikologis umum bahwa ibu dari anak laki-laki dengan GID miliki adalah kebutuhan untuk memelihara dan dipelihara oleh seorang anak perempuan. Sangat kecewa karena tidak memiliki anak perempuan, seorang ibu yang memutuskan untuk menjaga anaknya bisa memberinya varian dari nama

perempuan, lintas-baju dia, atau memperlakukan dia seperti seorang gadis. Namun demikian, dalam mempelajari anak-anak ini, hubungan ibu-anak yang terlalu dekat dan pelindung sering ditemukan.

(14)

c. Sosiokultural

Perspektif penting yang muncul dalam psikologi dalam beberapa tahun terakhir disebut perspektif sosiokultural. Seperti teori belajar sosial,

pendekatan sosial budaya didasarkan pada asumsi bahwa kepribadian kita, keyakinan, sikap. dan keterampilan yang dipelajari dari orang lain.

Pendekatan sosial budaya berjalan lebih lanjut, namun, dalam menyatakan bahwa adalah mustahil untuk memahami seseorang tanpa memahami budaya-nya, identitas etnis, identitas gender, dan faktor-faktor lain yang patut incportant 'sosiokultural (Miller, 1999; Phinney, 1996a).

Suatu istilah yang penting untuk perspektif sosial budaya adalah identitas gender. Istilah ini mengacu pada pandangan seseorang tentang dirinya sendiri sebagai laki-laki atau perempuan. Sebagai anak laki-laki dan perempuan berinteraksi dengan orang tua mereka. saudara. guru. dan teman-teman, mereka belajar apa artinya menjadi seorang laki-laki atau

perempuan dalam masyarakat mereka. Di Amerika Serikat, misalnya. laki-laki secara tradisional telah diajarkan untuk menjadi kuat dan tegas. sedangkan perempuan telah diajarkan untuk memelihara dan lembut. Dan, meskipun langkah telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi

pembentukan dari dua jenis kelamin dalam peran seks yang sempit, dampak sosialisasi semacam ini memiliki dampak pada masing-masing identitas

(15)

Prevensi

Menyediakan gender yang sesuai pakaian dan mainan pada masa bayi dan anak usia dini sangat

membantu dalam mencegah atau mengurangi gangguan identitas gender. Menghindari komentar

menghina tentang mainan anak, pakaian, atau preferensi aktivitas mengurangi potensi bahaya psikis

sengaja.

Kebanyakan individu dengan gangguan identitas gender memerlukan dan menghargai dukungan dari

beberapa sumber. Keluarga, serta orang dengan gangguan tersebut, perlu dan menghargai informasi dan

dukungan. Lokal dan nasional kelompok dukungan dan layanan informasi yang ada, dan penyedia

(16)

1. Perubahan Tubuh

Orang yang mengalami GIG yang mengikuti program yang

mencakup perubahan tubuh umumnya diminta untuk

menjalani psikoterapi selama 6 hingga 12 bulan dan hidup

sesuai gender yang diinginkan (harry Benjamin

Internasional Gender Dysphoria Assosiation, 1998). Terapi

umumnya tidak hanya memfokuskan pada kecemasan dan

depresi yang mungkin dialami orang yang bersangkutan,

namun juga pada berbagai pilihan yang ada untuk

mengubah tubuhnya. Banyak transeksual juga

mengonsumsi hormone agar tubuh mereka secara fisik

lebih mendekati keyakinan mereka tentang gender mereka.

Banyak yang mengalami gangguan identitas gender tidak

menggunakan metode yang lebih jauh dari itu, namun

beberapa orang mengambil langkah tambahan dengan

menjalani operasi perubahan kelamin.

(17)

Terapi Gangguan Identitas Gender

2. Operasi perubahan kelamin

Operasi perubahan kelamin adalah operasi yang mengubah alat kelamin yang ada agar lebih sama dengan kelamin lawan jenis. Dalam operasi perubahan kelamin laki-laki ke perempuan, alat kelamin laki-laki hampir seluruhnya di buang dan beberapa jaringan dipertahankan untuk

membentuk vagina buatan. Minimal setahun sebelum operasi, berbagai hormone perempuan dikonsumsi untuk memulai proses perubahan tubuh. Sebagian besar transeksual laki-laki ke perempuan harus

menjalani elektrolisis yang ekstensif dan mahal untuk menghilangkan bulu-bulu di wajah dan tubuh dan mendapatkan pelatihan untuk menaikkan nada suara mereka, hingga hormone-hormon perempuan yang dikonsumsi membuat bulu-bulu tidak lagi tumbuh dan suaranya menjadi kurang maskulin. Operasi kelamin itu sendiri biasanya tidak

dilakukan sebelum berakirnya masa uji coba selama satu atau dua tahun. Hubungan seks heteroseksual konvensional dimungkinkan bagi

transeksual laki-laki ke perempuan, meskipun kehamilan tidak akan mungkin terjadi karena alat kelamin bagian luar di ubah.

(18)

Terapi Gangguan Identitas Gender

Proses perubahan kelamin perempuan ke laki-laki

dalam beberapa hal lebih sulit, namun, dalam

beberapa hal lain lebih mudah. Di satu sisi, penis

yang di buat melalui operasi berukuran kecil dan

tidak mengalami ereksi normal sehingga

dibutuhkan alat bantu buatan untuk melakukan

hubungan seksual konvensional. Di sisi lain, lebih

sedikit penanganan kosmetik lanjutan yang

diperlukan di banding pada transeksual laki-laki ke

perempuan karena hormon laki-laki yang yang di

konsumsi perempuan yang ingin berubah gender

secara drastic mengubah distribusi lemak dan

menstimulasi pertumbuhan bulu-bulu di wajah dan

tubuh. Operasi perubahan kelamin merupakan

pilihan yang sering kali diambil oleh laki-laki

daripada perempuan

Meity Arianty . 18

(19)

Terapi Gangguan Identitas Gender

3. Perubahan gender identitas

Operasi dan pemberian hormone sebelumnya dianggap sebagai satu-satunya penanganan yang dimungkinkan untuk gangguan identitas gender karena berbagai upaya psikologis untuk mengubah identitas gender secara konsisten mengalami kegagalan. Identitas gender diasumsikan tertanam terlalu

dalam utuk diubah. Sejumlah kecil prosedur mengubah identitas gender melalui terapi perilaku yang tampaknya berhasil. Para peneliti mengatakan, para klien mereka

kemungkinan berbeda dari orang-orang lain yang mengalami GIG karena mereka bersedia berpartisipasi dalam program terapi yang bertujuan mengubah identitas gender. Sebagian besar transeksual menolak penanganan itu. Bagi mereka

mengubah tubuh mereka secara fisik merupakan satu-satunya tujuan yang diinginkan. Namun, jika tidak terdapat pilihan operasi, akan lebih banyaklah tenaga professional yang

dikeluarkan untuk mengembangkan prosedur psikologis yang mengubah identitas gender.

(20)

1. PARAFILIA (Paraphilias)

Parafilia (“Para artinya penyimpangan dan “filia” artinya obyek atau situasi yang disukai). Parafilia menunjuk pada obyek seksual yang menyimpang (misalnya dengan benda atau anak kecil) maupun

aktivitas seksual yang menyimpang (misalnya dengan memamerkan alat genital).

Normal bila seorang pria terangsang nafsu seksnya ketika melihat celana dalam wanita (terangsang pada benda). Baru dianggap abnormal benda atau obyek tersebut sebagai cara mendapatkan kepuasaan seksual.

Perilaku penyimpangan seksual sering dianggap perbuatan tidak bermoral oleh masyarakat. Ada penderita yang merasa bersalah atau depresi dengan pemilihan obyek atau aktivitas seksualnya yang tidak normal. Namun banyak pula yang tidak merasa terganggu dengan penyimpangannya tersebut kecuali bila ada reaksi dari masyarakat atau sanksi dari yang berwenang.

(21)

Penyimpangan ini bisa mengganggu hubungan seksual

yang sehat (mengingat banyak penderita Parafilia yang

menikah). Misalnya gairah seks penderita Sadisme

seksual baru bisa diajukan ke pengadilan karena aktivitas

seks mereka sering merenggut

“korban”

misalnya

Voyeurisme (mengintip orang lain), Eksibionisme

(memamerkan di depan orang lain, dan Pedofilia

(memilih anak kecil sebagai obyek seks).

Parafilia digolongkan ke dalam kriteria tingkat ringan

yaitu bila penderita hanya mengalami dorongan Parafilia

yang kuat tetapi tidak melakukannya. Dianggap sedang

bila dilakukan kadang-kadang dan dianggap berat bila

berulang-ulang dilakukan. Parafilia lebih banyak diderita

pria daripada wanita dengan perbandingan 20:1.

(22)

Ada 10 jenis Gangguan Parafilia antara lain:

• Pedofilia

• Eksibionisme ( memperlihatkan alat kelamin )

• Voyeurisme ( melihat org org lain, mengintip, melihat adegan sex)

• Sadisme Seksual( menyiksa pasangan untuk kepuasan sex)

• Masokhisme Seksual ( menerima penyiksaan )

• Fetisisme ( menggunakan benda u/kepuasan, bh, cln dlm wanita)

• Transvestisme ( menggunakan pakaian wanita) • Zofilia ( dg binatang )

• Froteurisme ( menyentuh/meremas organ sex org yg tdk dikenal)

• Homoseksual ( tertarik dg jenis sex yg sama )

Selain 10 jenis di bawah ini, masih ada gangguan seksual yang tidak tergolongkan yaitu mencakup necrofilia (hubungan seks dengan mayat), telephon scatologia (gairah seks bertelepon cabul)

Asfiksiofilia, mendapatkan kepuasan seksual dengan mencekik/menghambat masuknya oksigen ke dalam saluran napas. Dan masih banyak lagi perilaku kelainan seks lainnya yang disebabkan oleh parafilia.

(23)

Pedofilia

Pedofilia merupakan jenis parafilia yang banyak mendapat sanksi keras dari masyarakat. Ciri utamanya adalah dorongan seksual yang kuat terhadap anak-anak (biasanya usia di bawah 13 tahun). Melalui kontak dengan anak-anak, penderita berusaha untuk mendapatkan kepuasan seksual. Rata-rata yang mengalami gangguan ini adalah para pria. Penyimpangan seksualnya mencakup aktivitas melihat anak sambil melakukan masturbasi, menjamah bagian-bagian tubuh anak termasuk daerah sekitar kemaluan, menyuruh anak memanipulasi penis penderita atau melakukan hubungan seks dengan anak. Yang menjadi korban bisa anak kandung sendiri, anak tiri, anak saudara atau orang lain. Untuk menarik perhatian anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat dermawan. Sekaligus untuk mencegah anak agar tidak melaporkan aktivitas seksualnya. Ada juga yang berperilaku kasar dengan cara mengancam.

Umumnya penderita pedofilia adalah orang yang takut gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya penderita mengalihkannya pada anak-anak karena

kepolosan anak tidak mengancam harga dirinya. Di samping itu ketika kanak-kanak, penderita meniru perilaku seks dari model atau contoh yang buruk.

(24)

Eksibionisme

Eksbionisme adalah dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan kepuasaan seksual dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tak dikenal. Setelah memamerkan alat genitalnya, penderita tidak bermaksud melakukan aktivitas seksual lebih lanjut terhadap korban misalnya memperkosa. Oleh sebab itu gangguan ini tidak berbahaya secara fisik bagi korban. Penderita eksbionisme kebanyakan pria dan korbannya wanita (anak maupun dewasa) biasanya terjadi di

tempat-tempat umum.

Para ahli mengatakan bahwa penderita Eksibionisme biasanya mempunyai hubungan buruk dengan pasangan seksnya.

(25)

Voyeurisme

Voyeurisme berasa dari akta “voir” artinya melihat. Ciri utama gangguan ini adalah

dorongan untuk memperoleh kepuasaan seks dengan cara melihat organ seks orang lain atau orang yang sedang melakukan hubungan seks.

Kepuasan seksual didapatkan ketika sedang mengintip atau ketika sedang membayangkan adegannya. Setelah mengintip, penderita tidak bermaksud untuk melakukan tindakan seksual dengan orang yang yang telah di intipnya.

Voyeurisme meempunyai ciri (1) mengintip merupakan kegiatan utama yang disukai (2) korban tidak mengetahui (menonton tarian telanjang dalam sebuah pertunjukan tidak termasuk Voyeurisme)

(26)

Sadisme Seksual

Sadisme ialah kelainan seksual dalam mana kepuasan seksual

diasosiasikan dengan penderitaan, kesakitan dan hukuman.

Ciri utama dari Sadisme Seksual adalah keinginan untuk

mendapatkan gairah dan kepuasaan seksual dengan

menyiksa partner seksnya. Siksaan bisa secara fisik

(menendang, memperkosa) maupun psikis (menghina,

maki-maki). Penderitaan korban inilah yang membuatnya merasa

bergairah dan puas.

(27)

Masokhisme Seksual

Masokhisme seksual ialah gangguan atau penyakit seksual

yang mana individu memperoleh kepuasaan seksual lewat

kesakitan pada diri sendiri. Kesakitan ini dianggap sebagai

pendahuluan atau pelengkap bagi relasi-relasi seksual dan

penerapan kesakitan dianggap cukup baik untuk

mendapatkan orgasme.

Ciri utama dari Masokhisme seksual adalah mendapatkan

kegairahan dan kepuasaan seks dengan cara diperlakukan

secara kejam baik disakiti secara fisik (memukul, di ikat)

sedangkan psikis (dihina, diremehkan). Perlakuan kejam

bisa dilakukan sendiri (mengikat diri sendiri, menyetrum

diri sendiri) atau dilakukan oleh pasangannya.

(28)

Fetisisme

Ciri utama dari gangguan ini adalah penderita

menggunakan benda sebagai cara untuk menimbulkan

gairah atau kepuasan seksual. Benda yang umum digunakan

adalah benda aksesoris wanita misalnya BH, celana dalam,

kaus kaki, sepatu, dan lain-lain. Penderita melakukan

masturbasi sambil memegang, meremas-remas atau

mencium benda-benda tersebut. Bisa juga menyuruh

pasangan seksnya untuk menggunakan benda tersebut

ketika melakukan hubungan seksual.Benda-benda ini

digunakan untuk membangkitkan gairah tanpa benda

(29)

Transvestisme

Transvestisme ialah nafsu yang patologis untuk

memakai pakaian dari lawan jenis kelaminnya;

orangnya mendapatkan kepuasaan seks dengan

memakai pakaian dari jenis kelamin lainnya.

Jadi anak atau orang laki-laki yang lebih suka

memakai pakaian perempuan dan anak atau

orang wanita yang lebih suka memakai pakaian

laki-laki.

(30)

Zofilia

Ciri utama gangguan ini adalah penderita mendapatkan

gairah atau kepuasaan seksual dengan cara melakukan

kontak seksual dengan binatang. Kontak seksual bisa

berupa senggama dengan binatang lewat anus atau vagina

binatang, atau menyuruh binatang memanipulasi alat

(31)

Froteurisme

Ciri utama gangguan ini adalah dorongan

untuk menyentuh atau meremas-remas

organ seks orang tak dikenal. Penderita

umumnya senang berada di tempat yang

penuh seks dimana ia bisa melarikan diri

dengan mudah.

(32)

Homoseksual

Homoseksualitas adalah relasi seks dengan jenis

kelamin yang sama atau rasa tertarik dan

mencintai jenis seks yang sama. Jumlah pria yang

homoseksual itu diperkirakan 3-4 kali lebih

banyak daripada jumlah wanita homoseksual.

Ekpresi homoseksualitas ada tiga, yaitu: a) Aktif, bertindak sebagai pria yang agresif

b) Pasif, bertingkah laku dan berperan pasif-feminin seperti wanita

c) Bergantian peranan; kadang-kadang memerankan fungsi wanita, kadang-kadang jadi laki-laki

Banyak teori yang menjelaskan sebab-sebab homoseksualitas antara lain:

1) Faktor herediter berupa ketidakimbangan hormon-hormon seks

2) Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak

menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual normal.

3) Seseoarang selalu mencari kepuasan relasi homoseks, karena ia pernah menghayati pengalaman homoseksual yang

menggairahkan pada masa remaja.

4) Seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibunya sehingga timbul kebenciaan atau antipati terhadap ibunya dan semua wanita. Lalu muncul dorongan homoseks yang jadi menetap.

(33)

TREATMENT

Penyimpangan seksual tidak hanya

bersangkutan dengan kepuasan seksual atau

pemuasan dorongan seksual semata, akan

tetapi sering kali merupakan mekanisme

pertahanan diri terhadap perasaan-perasaan

tidak senang, ketakutan-ketakutan,

kecemasan-kecemasan, dan rasa depresi yang

dialami oleh seseorang. Dengan demikian

diketahui bahwa penyebab gangguan seksual

bukan hanya bertitik berat pada satu faktor,

akan tetapi multifaktor. Artinya dalam

penyembuhannya harus menggunakan

beberapa metode (multidispliner dan elektis/

dipilih yang paling baik). Antara lain dengan

menggunakan metode psikoanalitis, medis,

treatmen behavioral, pekerjaan sosial, melalui

pendekatan sosial budaya.

(34)

TREATMENT

Treatmen-treatmen yang akan dilakukn sangat bergantung pada beberapa peristiwa di bawah ini :

Seberapa jauh pasien menyadari akan pentingnya kesembuhan pada

dirinya. Misalnya; apakah kesembuhan pada dirinya adalah murni keinginan pasien atau hanya untuk membahagiakan orang-orang di sekitar pasien.

Motivasi yang dimiliki oleh pasien juga sangat berperan. Jika pasien enggan merubah perilaku menyimpang pada dirinya, maka akan sulit dan sangat sulit penyembuhannya.

Sikap individu yang bersangkutan terhadap tingkah laku seksual yang menyimpang. Yaitu seberapa jauh proses ego_distonic (tidak senada atau bertentangan dengan ego sendiri) ataukah ego_syntonic (senada, serasi

dengan egonya) berlangsung pada dirinya? Sebab semakin kuat ego syntonic dan semakin terperangkap erat struktur kepribadian dan perkembangan

seksual seseorang dalam kebiasaan seksual menyimpang, maka semakin kecil kemungkinan untuk sembuh.

(35)

TREATMENT

Treatmnen ini juga tergantung pada struktur kepribadian individu yang bersangkutan. Misalnya, temramennya, kemampuan menjalin relasi

interpersonal, dll.

Usia yang masih muda. Jika usia pasien sudah memasuki usia rentan, misalnya 35 tahun. Maka akan sedikit kemungkinan untuk merubahnya. Sementara untuk penyimpangan seksual yang sifatnya primer, karena terjadi akibat kerusakan pada fungsi otak, maka penyembuhan yang dilakukan dengan cara medis. Pada kondisi demikian, terjadilah proses regresi dari seksualitas yang semula normal, dengan munculnya gejala-gejala:

o Kontrol diri semakin berkurang

o Pengembangan tingkah laku seksual yang infanti o Semakin banyak fantasi-fantasi seksual

o Terjadi awal dementia, ditmbah dengan

o Kemunculan penyakit-penyakit cerebro-vascular (pembuluh darah otak) o Epilepsi, alkoholisme, dan penyakit cardiovascular (pembuluh darah jantung)

(36)

TREATMENT

Pada orang yang sangat agresif secara seksual,

misalnya; kaum pedofilia habitual, para

pemerkosa, psikopat, diberikan pengobatan

dengan obat anti-libido, yaitu hormon

estrogen. Namun pengobatan ini ada efek

sampingnya yaitu mmebuat individu tersebut

menjadi lebih feminin, ada proses feminasi

dengan gynaccomastia (pembesaran

kelenjar-kelenjar payudara pada orang laki-laki). Bisa

juga diberikan obat anti-androgen, yaitu

cyproterone acetate dan chlormadinone yang

bisa menekan dorongan-dorongan seks yang

paling mendasar.

(37)

Referensi

Dokumen terkait

Berhubungan kelamin/ seks dengan teman akrab yang beda jenis kelamin diluar ikatan perkawinan merupakan perilaku seksual..

Hasilnya, mengungkapkan perilaku transeksual (gangguan identitas gender) terjadi karena hilangnya model kelelakian yang diturunkan oleh ayah kepada subjek (individu

partisipan menyatakan bahwa seks bebas diartikan dengan orang. yang berhubungan badan dengan lawan jenis layaknya suami

Hasilnya, mengungkapkan perilaku transeksual (gangguan identitas gender) terjadi karena hilangnya model kelelakian yang diturunkan oleh ayah kepada subjek (individu

Sehingga dengan salah satu calon mempelai memalsukan identitas jenis kelaminnya seperti contoh salah satu calon mempelai yang seharusnya dalam data identitasnya adalah jenis

Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas (Santrock, 2007). Seks dalam

Jadi, melakukan hubungan seksual yang aman berarti bahwa mengusahakan sebisa mungkin untuk menghindari kontak langsung dengan kulit kelamin pasangan anda, dan juga dengan

149 JHSK ◼ Volume 17, Nomor 2, Juli – Desember 2022 hanya menunjukan keadaan korban yang pantas disalahkan seperti cantik, memakai pakaian minim, lelaki tidak kuat menahan nafsu, tapi