GANGGUAN SEKSUAL DAN IDENTITAS
GENDER
Gangguan seksual antara lain:
1. Parafilia
2. Disfungsi Seksual
Gangguan Identitas
Gender ( GIG )
Gangguan identitas gender adalah bagaimana seseorang merasa bahwa ia adalah seorang pria atau wanita, dimana terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya (Nevid, 2002).
Identitas jenis kelamin adalah keadaan
psikologis yang mencerminkan perasaan
dalam diri seseorang sebagai laki-laki atau
wanita (Kaplan, 2002).
Fausiah (2003) berkata, identitas gender adalah
keadaan psikologis yang merefleksikan
perasaan dalam diri seseorang yang berkaitan
dengan keberadaan diri sebagai laki-laki dan
perempuan.
Identitas jenis kelamin
(gender identity
): keadaan psikologis yang mencerminkan perasaan dalam
(inner
sense
). Didasarkan pada sikap, perilaku, atribut lainnya yang ditentukan secara kultural dan berhubungan
dengan maskulinitas atau femininitas. Peran jenis kelamin (
gender role):
pola perilaku eksternal yang
mencerminkan perasaan dalam
(inner sense
) dari identitas kelamin. Peran gender berkaitan dengan
pernyataan masyarakat tentang citra maskulin atau feminim.
Konsep tentang normal dan abnormal dipengaruhi oleh factor social budaya, Perilaku
seksual dianggap normal apabila sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat dan
dianggap abnormal apabila menyimpang dari kebiasaan yang ada di masyarakat.
Gangguan identitas gender bermula di masa kanak-kanak hal itu dihubungkan dengan
banyaknya perilaku lintas-gender, seperti berpakaian seperti lawan jenisnya, lebih suka
bermain dengan teman-teman dari lawan jenis, dan melakukan permainan yang secara
umum dianggap sebagai permainan lawan jenisnya. Gangguan identitas gender pada
anak-anak biasanya teramati oleh orang tua ketika si anak berusia antara 2-4 tahun
(Green & Blanchard, 1995).
Awal mula Gangguan Identitas
Gender
Gangguan identitas gender bermula dari trauma dari orang tua yang
berlawan jenis, pergaulan individu, pengaruh media massa. Kaplan
(2002), gangguan identitas gender ditandai oleh perasaan
kegelisahan yang dimiliki seseorang terhadap jenis kelamin dan
peran jenisnya. Gangguan ini biasanya muncul sejak masa
kanak-kanak saat usia dua hingga empat tahun (Green dan Blanchard
dalam Fausiah, 2003)
Nevid (2002) mengemukakan bahwa gangguan identitas
gender dapat berawal dari masa kanak-kanak dengan
disertai distress terus menerus dan intensif, bersikap
seperti lawan jenis dan bergaul dengan lawan jenis, serta
menolak sifat anatomi mereka dengan adanya anak
perempuan yang memaksa buang air kecil sambil berdiri
atau anak laki-laki yang menolak testis mereka.
1.
Berkeinginan kuat menjadi anggota gender lawan jenisnya
(berkeyakinan bahwa ia memiliki identitas gender lawan jenisnnya)
2. Memilih memakai baju sesuai dengan stereotip gender lawan jenisnya
3. Berfantasi menjadi gender lawan jenisnya atau melakukan permainan
yang dianggap sebagai permainan gender lawan jenisnya.
4. Mempunyai keinginan berpartisipasi dalam aktivitas permainan yang
sesuai dengan stereotip lawan jenisnya
5. Keinginan kuat mempunyai teman bermain dari gender lawan jenis
(dimana biasanya pada usia anak
– anak lebih tertarik untuk mempunyai
teman bermain dari gender yang sama). Pada remaja dan orang dewasa
dapat diidentifikasikan bahwa mereka berharap menjadi sosok lawan
jenisnya, berharap untuk bisa hidup sebagai anggota dari gender lawan
jenisnya.
6. Perasaan yang kuat dan menetap ketidaknyamanan pada
gender anatominya sendiri atau tingkah lakunya yang sesuai
stereotip gendernya.
7. Tidak terdapat kondisi interseks.
(Kondisi biologis ini dapat terlihat di organ reproduksi, hormon, kromosom, dan rambut di tubuh. Contoh sederhana dari kasus interseks misalnya perempuan yang lahir dengan vagina tertutup. Contoh lain adalah laki-laki yang lahir dengan kondisi skrotum terbelah yang terlihat seperti mulut vagina).8. Menyebabkan kecemasan yang serius atau
mempengaruhi pekerjaan atau sosialisasi atau yang lainnya.
9. Gangguan identitas gender dapat berakhir pada remaja
ketika anak
– anak mulai dapat menerima identitas gender.
Tetapi juga dapat terus berlangsung sampai remaja bahkan
hingga dewasa sehingga mungkin menjadi gay atau lesbian.
Kriteria gangguan Identitas Gender dalam
DSM IV-TR
1. Identifikasi yang kuat dan menetap terhadap lawan
jenis
2. Pada anak-anak, terdapat 4 atau lebih dari cirri, yaitu:
a. Berulang kali menyatakan keinginan untuk menjadi
atau memaksakan bahwa ia adalah lawan jenis
b. Lebih suka memakai pakaian lawan jenis
c. Lebih suka berperan sebagai lawan jenis dalam
bermain atau terus menerus berfantasi menjadi
lawan jenis
d. Lebih suka melakukan permainan yang merupakan
stereotip lawan jenis
e. Lebih suka bermain dengan teman-teman lawan
jenis
Tidak sama dengan kondisi fisik antar jenis kelamin
Menyebabkan distress atau hendaknya dalam fungsi sosial dan
perkerjaan.
3. Pada remaja dan orang dewasa, simtom-simton seperti keinginan untuk menjadi lawan jenis, berpindah ke kelompok lawan jenis, ingin diperlakukan sebagai lawan jenis, keyakinan bahwa emosinya adalah tipikal lawan jenis. 4. Rasa tidak nyaman yang terus-menerus dengan jenis kelamin biologisnya atau rasa terasing dari peran gender jenis kelamin tersebut. ;
a. Pada anak-anak, terwujud dalam salah satu hal di antaranya; pada laki-laki merasa jijik dengan penisnya dan yakin bahwa penisnya akan hilang seiring berjalannya waktu; tidak menyukai permainan stereotip anak laki-laki. Pada anak perempuan, menolak untuk buang air kecil dengan cara duduk; yakin bahwa penis akan tumbuh; merasa tidak suka dengan payudara yang membesar dan menstruasi; merasa benci/tidak suka terhadap pakaian
perempuan yang konvensional
b. Pada remaja dan orang dewasa, terwujud dalam salah satu hal di
antaranya; keinginan kuat untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin sekunder melalui pemberian hormone dan/atau operasi; yakni bahwa ia dilahirkan dengan jenis kelamin yang salah
Tidak sama dengan kondisi fisik antar jenis kelamin
Menyebabkan distress atau hendaknya dalam fungsi sosial dan perkerjaan. Transeksual
Saat ini, masih belum terdapat pertanyaan mengenai penyebab
munculnya gangguan identitas gender: nature atau nurture?
Walaupun terdapat beberapa data tentatif bahwa gangguan tersebut
disebabkan oleh faktor biologis, yaitu hormon, namun data yang
tersedia tidak dapat mengatribusikan munculnya transeksualisme
hanya kepada hormon (Carroll, 2000). Faktor biologis lain, seperti
kelainan kromosom dan struktur otak, juga tidak dapat memberikan
penjelasan yang konklusif.
Faktor lain yang dianggap dapat menyebabkan munculnya
gangguan identitas seksual adalah faktor sosial dan psikologis.
Lingkungan rumah yang memberi reinforcement kepada anak yang
melakukan cross-dressing, misalnya, kemungkinan berkontribusi
besar terhadap konflik antara anatomi sex anak dan identitas
gender yang diperolehnya (Green, 1974, 1997; Zuckerman &
Green, 1993). Walaupun demikian, faktor sosial tidak dapat
menjelaskan mengapa seorang laki-laki yang dibesarkan sebagai
perempuan, bahkan dengan organ seks perempuan, tetap tidak
memiliki identitas gender perempuan dan akhirnya memilih untuk
hidup sebagai laki-laki.
Teori belajar menekankan tidak adanya figur
seorang ayah pada kasus anak laki
–
laki
menyebabkan ia tidak mendapatkan model
seorang pria.
Teori psikodinamika dan teori belajar lainnya menjelaskan
bahwa orang dengan gangguan identitas gender tidak
dipengaruhi tipe sejarah keluarganya. Faktor keluarga mungkin
hanya berperan dalam mengkombinasikan dengan
kecenderungan biologisnya. Orang yang mengalami gangguan
identitas gender sering memperlihatkan gender yang
berlawanan dilihat dari pemilihan alat bermainnya dan
pakaian pada masa anak
–
anak. Hormon pernatal yang tidak
seimbang juga mempengaruhi. Pikiran tentang maskulin dan
feminine dipengaruhi oleh hormone seks fase
–
fase tertentu
dalam perkembangan prenatal.
a. Biologis
Teori biologis telah difokuskan pada jumlah dan jenis
hormone antenatal yang datang dalam kontak dengan janin.
Secara khusus, jika janin terkena tingkat yang sangat tinggi
testosteron, terdapat buktibahwa seperti janin akan
mengembangkan identitas pria, bahkan jika bayi lahir dan
dibesarkan sebagai seorang gadis. Juga, jika janin terkena
kelebihan androgen atau kekurangan hormone androgen,
maka gendera tipikal perilaku telah diamati dalam studi
penelitian (Cohen-Kettenis &Gooren, 1999).
Kasus Reimer dapat digunakan sebagai sumber utama
dukungan untuk penelitian dengan teori-teori biologis seperti,
karena itu adalah contoh yang jelas alam versus pengasuhan,
di mana alam akhirnya menang.
Menurut teori Toone, ketidakseimbangan hormon kehamilan
dapat mempengaruhi individu untuk thedisorder. Masalah
dalam interaksi keluarga individu atau keluarga dynamicsmay
memainkan peran.
b. Psikologis
Teori Psikologis menunjukkan faktor lingkungan sebagai pengaruh kunci dalam etiologi GID. Penelitian sampai saat ini menunjukkan perbedaan yang jelas berbagai penyebab GID antara anak perempuan dan laki-laki. Namun, kesamaan dalam menyebabkan titik ke GID sebagai mekanisme coping untuk stressor lingkungan yang dihadapi individu. Karena tidak ada temuan yang jelas tentang kausalitas telah ditentukan, penelitian lebih lanjut
diperlukan untuk mengembangkan teori psikologi yang komprehensif tentang etiologi GID. Di sisi lain, teori-teori psikologi mengidentifikasi pengaruh orang tua, kebutuhan primer, dan kognisi pribadi sebagai faktor utama yang menyebabkan GID, dengan atau tanpa membutuhkan diatesis biologis. Dalam makalah ini, ikhtisar dari beberapa teori psikologi akan disajikan.
Pengaruh orang tua adalah yang paling banyak dipelajari dan tampaknya menjadi kekuatan yang paling kuat dalam genesis GID, terutama peran ibu. Pada atau bahkan sebelum rahim, kebanyakan orangtua mengekspresikan preferensi seks untuk mereka anak-to-be. Menurut Zucker dan Bradley (1995), sifat psikologis umum bahwa ibu dari anak laki-laki dengan GID miliki adalah kebutuhan untuk memelihara dan dipelihara oleh seorang anak perempuan. Sangat kecewa karena tidak memiliki anak perempuan, seorang ibu yang memutuskan untuk menjaga anaknya bisa memberinya varian dari nama
perempuan, lintas-baju dia, atau memperlakukan dia seperti seorang gadis. Namun demikian, dalam mempelajari anak-anak ini, hubungan ibu-anak yang terlalu dekat dan pelindung sering ditemukan.
c. Sosiokultural
Perspektif penting yang muncul dalam psikologi dalam beberapa tahun terakhir disebut perspektif sosiokultural. Seperti teori belajar sosial,
pendekatan sosial budaya didasarkan pada asumsi bahwa kepribadian kita, keyakinan, sikap. dan keterampilan yang dipelajari dari orang lain.
Pendekatan sosial budaya berjalan lebih lanjut, namun, dalam menyatakan bahwa adalah mustahil untuk memahami seseorang tanpa memahami budaya-nya, identitas etnis, identitas gender, dan faktor-faktor lain yang patut incportant 'sosiokultural (Miller, 1999; Phinney, 1996a).
Suatu istilah yang penting untuk perspektif sosial budaya adalah identitas gender. Istilah ini mengacu pada pandangan seseorang tentang dirinya sendiri sebagai laki-laki atau perempuan. Sebagai anak laki-laki dan perempuan berinteraksi dengan orang tua mereka. saudara. guru. dan teman-teman, mereka belajar apa artinya menjadi seorang laki-laki atau
perempuan dalam masyarakat mereka. Di Amerika Serikat, misalnya. laki-laki secara tradisional telah diajarkan untuk menjadi kuat dan tegas. sedangkan perempuan telah diajarkan untuk memelihara dan lembut. Dan, meskipun langkah telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi
pembentukan dari dua jenis kelamin dalam peran seks yang sempit, dampak sosialisasi semacam ini memiliki dampak pada masing-masing identitas
Prevensi
Menyediakan gender yang sesuai pakaian dan mainan pada masa bayi dan anak usia dini sangat
membantu dalam mencegah atau mengurangi gangguan identitas gender. Menghindari komentar
menghina tentang mainan anak, pakaian, atau preferensi aktivitas mengurangi potensi bahaya psikis
sengaja.
Kebanyakan individu dengan gangguan identitas gender memerlukan dan menghargai dukungan dari
beberapa sumber. Keluarga, serta orang dengan gangguan tersebut, perlu dan menghargai informasi dan
dukungan. Lokal dan nasional kelompok dukungan dan layanan informasi yang ada, dan penyedia
1. Perubahan Tubuh
Orang yang mengalami GIG yang mengikuti program yang
mencakup perubahan tubuh umumnya diminta untuk
menjalani psikoterapi selama 6 hingga 12 bulan dan hidup
sesuai gender yang diinginkan (harry Benjamin
Internasional Gender Dysphoria Assosiation, 1998). Terapi
umumnya tidak hanya memfokuskan pada kecemasan dan
depresi yang mungkin dialami orang yang bersangkutan,
namun juga pada berbagai pilihan yang ada untuk
mengubah tubuhnya. Banyak transeksual juga
mengonsumsi hormone agar tubuh mereka secara fisik
lebih mendekati keyakinan mereka tentang gender mereka.
Banyak yang mengalami gangguan identitas gender tidak
menggunakan metode yang lebih jauh dari itu, namun
beberapa orang mengambil langkah tambahan dengan
menjalani operasi perubahan kelamin.
Terapi Gangguan Identitas Gender
2. Operasi perubahan kelamin
Operasi perubahan kelamin adalah operasi yang mengubah alat kelamin yang ada agar lebih sama dengan kelamin lawan jenis. Dalam operasi perubahan kelamin laki-laki ke perempuan, alat kelamin laki-laki hampir seluruhnya di buang dan beberapa jaringan dipertahankan untuk
membentuk vagina buatan. Minimal setahun sebelum operasi, berbagai hormone perempuan dikonsumsi untuk memulai proses perubahan tubuh. Sebagian besar transeksual laki-laki ke perempuan harus
menjalani elektrolisis yang ekstensif dan mahal untuk menghilangkan bulu-bulu di wajah dan tubuh dan mendapatkan pelatihan untuk menaikkan nada suara mereka, hingga hormone-hormon perempuan yang dikonsumsi membuat bulu-bulu tidak lagi tumbuh dan suaranya menjadi kurang maskulin. Operasi kelamin itu sendiri biasanya tidak
dilakukan sebelum berakirnya masa uji coba selama satu atau dua tahun. Hubungan seks heteroseksual konvensional dimungkinkan bagi
transeksual laki-laki ke perempuan, meskipun kehamilan tidak akan mungkin terjadi karena alat kelamin bagian luar di ubah.
Terapi Gangguan Identitas Gender
Proses perubahan kelamin perempuan ke laki-laki
dalam beberapa hal lebih sulit, namun, dalam
beberapa hal lain lebih mudah. Di satu sisi, penis
yang di buat melalui operasi berukuran kecil dan
tidak mengalami ereksi normal sehingga
dibutuhkan alat bantu buatan untuk melakukan
hubungan seksual konvensional. Di sisi lain, lebih
sedikit penanganan kosmetik lanjutan yang
diperlukan di banding pada transeksual laki-laki ke
perempuan karena hormon laki-laki yang yang di
konsumsi perempuan yang ingin berubah gender
secara drastic mengubah distribusi lemak dan
menstimulasi pertumbuhan bulu-bulu di wajah dan
tubuh. Operasi perubahan kelamin merupakan
pilihan yang sering kali diambil oleh laki-laki
daripada perempuan
Meity Arianty . 18Terapi Gangguan Identitas Gender
3. Perubahan gender identitas
Operasi dan pemberian hormone sebelumnya dianggap sebagai satu-satunya penanganan yang dimungkinkan untuk gangguan identitas gender karena berbagai upaya psikologis untuk mengubah identitas gender secara konsisten mengalami kegagalan. Identitas gender diasumsikan tertanam terlalu
dalam utuk diubah. Sejumlah kecil prosedur mengubah identitas gender melalui terapi perilaku yang tampaknya berhasil. Para peneliti mengatakan, para klien mereka
kemungkinan berbeda dari orang-orang lain yang mengalami GIG karena mereka bersedia berpartisipasi dalam program terapi yang bertujuan mengubah identitas gender. Sebagian besar transeksual menolak penanganan itu. Bagi mereka
mengubah tubuh mereka secara fisik merupakan satu-satunya tujuan yang diinginkan. Namun, jika tidak terdapat pilihan operasi, akan lebih banyaklah tenaga professional yang
dikeluarkan untuk mengembangkan prosedur psikologis yang mengubah identitas gender.
1. PARAFILIA (Paraphilias)
Parafilia (“Para artinya penyimpangan dan “filia” artinya obyek atau situasi yang disukai). Parafilia menunjuk pada obyek seksual yang menyimpang (misalnya dengan benda atau anak kecil) maupun
aktivitas seksual yang menyimpang (misalnya dengan memamerkan alat genital).
Normal bila seorang pria terangsang nafsu seksnya ketika melihat celana dalam wanita (terangsang pada benda). Baru dianggap abnormal benda atau obyek tersebut sebagai cara mendapatkan kepuasaan seksual.
Perilaku penyimpangan seksual sering dianggap perbuatan tidak bermoral oleh masyarakat. Ada penderita yang merasa bersalah atau depresi dengan pemilihan obyek atau aktivitas seksualnya yang tidak normal. Namun banyak pula yang tidak merasa terganggu dengan penyimpangannya tersebut kecuali bila ada reaksi dari masyarakat atau sanksi dari yang berwenang.
Penyimpangan ini bisa mengganggu hubungan seksual
yang sehat (mengingat banyak penderita Parafilia yang
menikah). Misalnya gairah seks penderita Sadisme
seksual baru bisa diajukan ke pengadilan karena aktivitas
seks mereka sering merenggut
“korban”
misalnya
Voyeurisme (mengintip orang lain), Eksibionisme
(memamerkan di depan orang lain, dan Pedofilia
(memilih anak kecil sebagai obyek seks).
Parafilia digolongkan ke dalam kriteria tingkat ringan
yaitu bila penderita hanya mengalami dorongan Parafilia
yang kuat tetapi tidak melakukannya. Dianggap sedang
bila dilakukan kadang-kadang dan dianggap berat bila
berulang-ulang dilakukan. Parafilia lebih banyak diderita
pria daripada wanita dengan perbandingan 20:1.
Ada 10 jenis Gangguan Parafilia antara lain:
• Pedofilia• Eksibionisme ( memperlihatkan alat kelamin )
• Voyeurisme ( melihat org org lain, mengintip, melihat adegan sex)
• Sadisme Seksual( menyiksa pasangan untuk kepuasan sex)
• Masokhisme Seksual ( menerima penyiksaan )
• Fetisisme ( menggunakan benda u/kepuasan, bh, cln dlm wanita)
• Transvestisme ( menggunakan pakaian wanita) • Zofilia ( dg binatang )
• Froteurisme ( menyentuh/meremas organ sex org yg tdk dikenal)
• Homoseksual ( tertarik dg jenis sex yg sama )
Selain 10 jenis di bawah ini, masih ada gangguan seksual yang tidak tergolongkan yaitu mencakup necrofilia (hubungan seks dengan mayat), telephon scatologia (gairah seks bertelepon cabul)
Asfiksiofilia, mendapatkan kepuasan seksual dengan mencekik/menghambat masuknya oksigen ke dalam saluran napas. Dan masih banyak lagi perilaku kelainan seks lainnya yang disebabkan oleh parafilia.
Pedofilia
Pedofilia merupakan jenis parafilia yang banyak mendapat sanksi keras dari masyarakat. Ciri utamanya adalah dorongan seksual yang kuat terhadap anak-anak (biasanya usia di bawah 13 tahun). Melalui kontak dengan anak-anak, penderita berusaha untuk mendapatkan kepuasan seksual. Rata-rata yang mengalami gangguan ini adalah para pria. Penyimpangan seksualnya mencakup aktivitas melihat anak sambil melakukan masturbasi, menjamah bagian-bagian tubuh anak termasuk daerah sekitar kemaluan, menyuruh anak memanipulasi penis penderita atau melakukan hubungan seks dengan anak. Yang menjadi korban bisa anak kandung sendiri, anak tiri, anak saudara atau orang lain. Untuk menarik perhatian anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat dermawan. Sekaligus untuk mencegah anak agar tidak melaporkan aktivitas seksualnya. Ada juga yang berperilaku kasar dengan cara mengancam.
Umumnya penderita pedofilia adalah orang yang takut gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya penderita mengalihkannya pada anak-anak karena
kepolosan anak tidak mengancam harga dirinya. Di samping itu ketika kanak-kanak, penderita meniru perilaku seks dari model atau contoh yang buruk.
Eksibionisme
Eksbionisme adalah dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan kepuasaan seksual dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tak dikenal. Setelah memamerkan alat genitalnya, penderita tidak bermaksud melakukan aktivitas seksual lebih lanjut terhadap korban misalnya memperkosa. Oleh sebab itu gangguan ini tidak berbahaya secara fisik bagi korban. Penderita eksbionisme kebanyakan pria dan korbannya wanita (anak maupun dewasa) biasanya terjadi di
tempat-tempat umum.
Para ahli mengatakan bahwa penderita Eksibionisme biasanya mempunyai hubungan buruk dengan pasangan seksnya.
Voyeurisme
Voyeurisme berasa dari akta “voir” artinya melihat. Ciri utama gangguan ini adalah
dorongan untuk memperoleh kepuasaan seks dengan cara melihat organ seks orang lain atau orang yang sedang melakukan hubungan seks.
Kepuasan seksual didapatkan ketika sedang mengintip atau ketika sedang membayangkan adegannya. Setelah mengintip, penderita tidak bermaksud untuk melakukan tindakan seksual dengan orang yang yang telah di intipnya.
Voyeurisme meempunyai ciri (1) mengintip merupakan kegiatan utama yang disukai (2) korban tidak mengetahui (menonton tarian telanjang dalam sebuah pertunjukan tidak termasuk Voyeurisme)
Sadisme Seksual
Sadisme ialah kelainan seksual dalam mana kepuasan seksual
diasosiasikan dengan penderitaan, kesakitan dan hukuman.
Ciri utama dari Sadisme Seksual adalah keinginan untuk
mendapatkan gairah dan kepuasaan seksual dengan
menyiksa partner seksnya. Siksaan bisa secara fisik
(menendang, memperkosa) maupun psikis (menghina,
maki-maki). Penderitaan korban inilah yang membuatnya merasa
bergairah dan puas.
Masokhisme Seksual
Masokhisme seksual ialah gangguan atau penyakit seksual
yang mana individu memperoleh kepuasaan seksual lewat
kesakitan pada diri sendiri. Kesakitan ini dianggap sebagai
pendahuluan atau pelengkap bagi relasi-relasi seksual dan
penerapan kesakitan dianggap cukup baik untuk
mendapatkan orgasme.
Ciri utama dari Masokhisme seksual adalah mendapatkan
kegairahan dan kepuasaan seks dengan cara diperlakukan
secara kejam baik disakiti secara fisik (memukul, di ikat)
sedangkan psikis (dihina, diremehkan). Perlakuan kejam
bisa dilakukan sendiri (mengikat diri sendiri, menyetrum
diri sendiri) atau dilakukan oleh pasangannya.
Fetisisme
Ciri utama dari gangguan ini adalah penderita
menggunakan benda sebagai cara untuk menimbulkan
gairah atau kepuasan seksual. Benda yang umum digunakan
adalah benda aksesoris wanita misalnya BH, celana dalam,
kaus kaki, sepatu, dan lain-lain. Penderita melakukan
masturbasi sambil memegang, meremas-remas atau
mencium benda-benda tersebut. Bisa juga menyuruh
pasangan seksnya untuk menggunakan benda tersebut
ketika melakukan hubungan seksual.Benda-benda ini
digunakan untuk membangkitkan gairah tanpa benda
Transvestisme
Transvestisme ialah nafsu yang patologis untuk
memakai pakaian dari lawan jenis kelaminnya;
orangnya mendapatkan kepuasaan seks dengan
memakai pakaian dari jenis kelamin lainnya.
Jadi anak atau orang laki-laki yang lebih suka
memakai pakaian perempuan dan anak atau
orang wanita yang lebih suka memakai pakaian
laki-laki.
Zofilia
Ciri utama gangguan ini adalah penderita mendapatkan
gairah atau kepuasaan seksual dengan cara melakukan
kontak seksual dengan binatang. Kontak seksual bisa
berupa senggama dengan binatang lewat anus atau vagina
binatang, atau menyuruh binatang memanipulasi alat
Froteurisme
Ciri utama gangguan ini adalah dorongan
untuk menyentuh atau meremas-remas
organ seks orang tak dikenal. Penderita
umumnya senang berada di tempat yang
penuh seks dimana ia bisa melarikan diri
dengan mudah.
Homoseksual
Homoseksualitas adalah relasi seks dengan jenis
kelamin yang sama atau rasa tertarik dan
mencintai jenis seks yang sama. Jumlah pria yang
homoseksual itu diperkirakan 3-4 kali lebih
banyak daripada jumlah wanita homoseksual.
Ekpresi homoseksualitas ada tiga, yaitu: a) Aktif, bertindak sebagai pria yang agresif
b) Pasif, bertingkah laku dan berperan pasif-feminin seperti wanita
c) Bergantian peranan; kadang-kadang memerankan fungsi wanita, kadang-kadang jadi laki-laki
Banyak teori yang menjelaskan sebab-sebab homoseksualitas antara lain:
1) Faktor herediter berupa ketidakimbangan hormon-hormon seks
2) Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak
menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual normal.
3) Seseoarang selalu mencari kepuasan relasi homoseks, karena ia pernah menghayati pengalaman homoseksual yang
menggairahkan pada masa remaja.
4) Seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibunya sehingga timbul kebenciaan atau antipati terhadap ibunya dan semua wanita. Lalu muncul dorongan homoseks yang jadi menetap.
TREATMENT
Penyimpangan seksual tidak hanya
bersangkutan dengan kepuasan seksual atau
pemuasan dorongan seksual semata, akan
tetapi sering kali merupakan mekanisme
pertahanan diri terhadap perasaan-perasaan
tidak senang, ketakutan-ketakutan,
kecemasan-kecemasan, dan rasa depresi yang
dialami oleh seseorang. Dengan demikian
diketahui bahwa penyebab gangguan seksual
bukan hanya bertitik berat pada satu faktor,
akan tetapi multifaktor. Artinya dalam
penyembuhannya harus menggunakan
beberapa metode (multidispliner dan elektis/
dipilih yang paling baik). Antara lain dengan
menggunakan metode psikoanalitis, medis,
treatmen behavioral, pekerjaan sosial, melalui
pendekatan sosial budaya.
TREATMENT
Treatmen-treatmen yang akan dilakukn sangat bergantung pada beberapa peristiwa di bawah ini :
Seberapa jauh pasien menyadari akan pentingnya kesembuhan pada
dirinya. Misalnya; apakah kesembuhan pada dirinya adalah murni keinginan pasien atau hanya untuk membahagiakan orang-orang di sekitar pasien.
Motivasi yang dimiliki oleh pasien juga sangat berperan. Jika pasien enggan merubah perilaku menyimpang pada dirinya, maka akan sulit dan sangat sulit penyembuhannya.
Sikap individu yang bersangkutan terhadap tingkah laku seksual yang menyimpang. Yaitu seberapa jauh proses ego_distonic (tidak senada atau bertentangan dengan ego sendiri) ataukah ego_syntonic (senada, serasi
dengan egonya) berlangsung pada dirinya? Sebab semakin kuat ego syntonic dan semakin terperangkap erat struktur kepribadian dan perkembangan
seksual seseorang dalam kebiasaan seksual menyimpang, maka semakin kecil kemungkinan untuk sembuh.
TREATMENT
Treatmnen ini juga tergantung pada struktur kepribadian individu yang bersangkutan. Misalnya, temramennya, kemampuan menjalin relasi
interpersonal, dll.
Usia yang masih muda. Jika usia pasien sudah memasuki usia rentan, misalnya 35 tahun. Maka akan sedikit kemungkinan untuk merubahnya. Sementara untuk penyimpangan seksual yang sifatnya primer, karena terjadi akibat kerusakan pada fungsi otak, maka penyembuhan yang dilakukan dengan cara medis. Pada kondisi demikian, terjadilah proses regresi dari seksualitas yang semula normal, dengan munculnya gejala-gejala:
o Kontrol diri semakin berkurang
o Pengembangan tingkah laku seksual yang infanti o Semakin banyak fantasi-fantasi seksual
o Terjadi awal dementia, ditmbah dengan
o Kemunculan penyakit-penyakit cerebro-vascular (pembuluh darah otak) o Epilepsi, alkoholisme, dan penyakit cardiovascular (pembuluh darah jantung)