Fiqih Muamalah Rukun dan Syarat Jual Bel

Teks penuh

(1)

FIQIH MUAMALAH

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI DALAM ISLAM

Makalah ini disusun guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Fiqih Mu’amalah

Dosen Pengampu : Imam Mustafa, S.H.I, M.S.I

Disusun Oleh :

Diah Ayu Wulandari : 1502100172

Kelas C

PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARI’AH JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JURAI SIWO METRO

(2)

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

A. Pendahuluan

Jual beli (bisnis) dimasyarakat merupakan kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap

waktu oleh semua manusia. Tetapi jual beli yang benar menurut hukum Islam belum

tentu semua orang muslim melaksanakannya. Bahkan ada pula yang tidak tahu sama

sekali tentang ketentutanketentuan yang di tetapkan oleh hukum Islam dalam hal jual

beli (bisnis). Jual beli merupakan transaksi yang dilakukan oleh pihak penjual dan

pembeli atas suatu barang dan jasa yang menjadi objek transaksi jual beli. Akad jual

beli dapa diaplikasikan dalam pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah.

Pembiayaan yang menggunakan akad jual beli dikembangkan di bank syariah dalam

tiga jenis pembiayaan, yaitu pembiayaan murabahah, istishna, dan salam.

Islam sebagai agama telah diyakini oleh umat manusia hampir separuh dari

penduduk bumi, di mana mereka meyakini adanya Tuhan yang esa dengan

mentauhidkan Allah swt. Sebagai Tuhan yang tidak beranak dan tidak diperanakan

serta tidak membutuhkan bantuan dari makhluknya dan dapat melakukan

kekuasaannya tanpa adanya campur tangan dari yang selainNya. Oleh Karena itu,

umat Islam kemudian melakukan ritual untuk menghambakan diri kepada Allah

sebagai kewajiban spiritual agar dapat masuk kedalam golongan orang yang saleh. Di

sisi lain Islam sebagai suatu norma moral, pada tatanan bermasyarakat dalam

pranata sosial terkadang terlepas dari pola pikir dan pola tindak umatnya. Islam masih

dianggap sebuah ajaran yang hanya mengajarkan dan bahkan memerintahkan

umatnya untuk beribadah secara vertikal belaka, belum masuk ke dalam relung hati

kaum muslimin untuk dilaksanakan secara kaffah dalam segala lini kehidupan, yang

bukan hanya spiritual namun aktual sosial kemasyarakatan atau bermuamalah.

B. Rukun Jual Beli

Sebagai salah satu bentuk transaksi, dalam jurnal beli harus ada beberapa hal

agar akadnya dianggap sah dan mengikat. Beberapa hal tersebut disebut sebagai

(3)

Menurut mereka hal yang paling prinsip dalam jual beli adalah saling reela yang

diwujudkan dengan kerelaan untuk saling memberikan barang. Maka jika telah terjadi

ijab, di situ jual beli telang dianggap berlangsung. Tentunya dengan adanya ijab, pasti

ditemukan hal-hal yang tekait dengannya,seperti para pihak yang berakad, objek jual

beli dan nilai tukarnya.1

Pengertian rukun adalah sesuatu yang merupakan unsur pokok pada sesuatu,

dan tidak terwujud jika ia tidak ada. Misalnya, penjual dan pembeli merupakan unsure

yang harus ada dalam jual beli.2

mungkin terwujud. Adapun rukun-rukun jual beli adalah sebagai berikut :

a. Ada Penjual

Penjual adalah pihak yang memiliki objek barang yang akan diperjualbelikan.

Dalam transaksi perbankan syariah, maka pihak penjualnya adalah bank syariah

b. Ada Pembeli

Pembeli merupakan pihak yang ingin memperoleh barang yang di harapkan,

dengan membayar sejumlah uang tertentu kepda penjual. Pembeli dalam aplikasi

bank syariah adalah nasabah.

c. Objek Jual Beli

Merupakan barang yang akan digunakan sebagai objek transaksi jual beli.

Objek ini harus ada fisiknya.

1

Imam Mustafa, Fiqih Muamalah Kontemporer,(Jakarta:Rajawali Pers, 2016) hal 25 2

Siti Mujiatun,”Jual Beli dalam Perspektif Islam: Salam dan Istishna”, dalam Jurnal RISET AKUNTANSI DAN BISNIS Volume 13 No.2 Tahun 2013 Edisi September, hal 205

3

(4)

d. Harga

Setiap transaksi jual beli harus disebutkan dengan jelas harga jual yang

disepakati antara penjual dan pembeli

e. Ijab kabul (serah terima) antara penjual dan pembeli

Merupakan kesepakatan penyerahanbarang dan penerimaan barang yang

diperjual belikan. Ijab Kabul harus di sampaikan secara jelas atau dituliskan untuk

ditandatangani oleh penjual dan pembeli.4

Sedangkan menurut jumhur ulama rukun jual beli itu ada empat yaitu para

pihak yang bertransaksi(penjual dan pembeli),sigat (lafal ijab dan kabul), barang

yang di perjualbelikan, dan nilai tukar pengganti barang.5

Pertama, Akad (ijab qobul), pengertian akad menurut bahasa adalah ikatan

yang ada diantara ujung suatu barang. Sedangkan menurut istilah ahli fiqh ijab qabul

menurut cara yang disyariatkan sehingga tampak akibatnya. Mengucapkan dalam

akad merupakan salah satu cara lain yang dapat ditempuh dalam mengadakan

akad, tetapi ada juga dengan cara lain yang dapat menggambarkan kehendak untuk

berakad para ulama menerangkan beberapa cara yang ditempuh dalam akad

diantaranya:

1) Dengan cara tulisan, misalnya, ketika dua orang yang terjadi transaksi jual

beli yang berjauhan maka ijab qabul dengan cara tulisan (kitbah).

2) Dengan cara isyarat, bagi orang yang tidak dapat melakukan akad jual beli

dengan cara ucapan atau tulisan, maka boleh menggunakan isyarat.

3) Dengan cara ta’ahi (saling memberi), misalnya, seseorang melakukan

pemberian kepada orang lain, dan orang yang diberi tersebut memberikan

imbalan kepada orang yang memberinya tanpa ditentukan besar imbalan.

4) Dengan cara lisan al-hal, menurut sebagian ulama mengatakan, apabila

seseorang meninggalkan barang-barang dihadapan orang lain kemudian

orang itu pergi dan orang yang ditinggali barang-barang itu berdiam diri saja

4

Ismail, Perbankan Syariah,(Jakarta: Kencana, 2011), hal 136-137 5

(5)

hal itu dipandang telah ada akad ida’ (titipan) antara orang yang meletakkan

barang titipan dengan jalan dalalah al hal.

Dengan demikian akad ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli

belum dikatakan sah sebelum ijab dan qobul dilakukan sebab ijab qabul

menunjukkan kerelaan (keridhaan). Ijab qabul boleh dilakukan dengan lisan atau

tulis. Ijab qabul dalam bentuk perkataan atau dalam bentuk perbuatan yaitu saling

memberi (penyerahan barang dan penerimaan uang). Pada dasarnya akad dapat

dilakukan dengan lisan langsung tetapi bila orang bisu maka ijab qobul tersabut

dapat dilakukan dengan surat menyurat yang pada intinya mengandung ijab qobul.6

Kedua, orang yang berakad (subjek), dua pihak terdiri dari bai’(penjual) dan mustari (pembeli). Disebut juga aqid, yaitu orang yang melakukan akad dalam jual

beli, dalam jual beli tidak mungkin terjadi tanpa adanya orang yang melakukannya,

dan orang yang melakukanharus:

1) Beragama Islam, syarat orang yang melakukan jual beli adalah orang Islam,

dan ini disyaratkan bagi pembeli saja dalam benda-benda tertentu.

2) Berakal, yang dimaksud dengan orang yang berakal disini adalah orang yang

dapat membedakan atau memilih mana yang terbaik baginya. Maka orang

gila atau bodoh tidak sah jual belinya, sekalipun miliknya sendiri.

3) Dengan kehendaknya sendiri, yang dimaksud dengan kehendaknya sendiri

yaitu bahwa dalam melakukan perbuatan jual beli tidak dipaksa.

4) Baligh, baligh atau telah dewasa dalam hukum Islam batasan menjadi

seorang dewasa bagi laki-laki adalah apabila sudah bermimpi atau berumur

15 tahun dan bagi perempuan adalah sesudah haid.

5) Keduanya tidak mubazir, yang dimaksud dengan keduanya tidak mubazir

(6)

Ketiga, ma’kud ‘alaih (objek) yaitu barang menjadi objek jual beli atau yang

menjadi sebab terjadinya perjanjian jual beli.8 Barang yang dijadikan sebagai objek

jual beli ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Bersih barangnya, maksudnya yaitu barang yang diperjual belikan bukanlah

benda yang dikualifikasikan kedalam benda najis atau termasuk barang yang

digolongkan diharamkan.

2) Dapat dimanfaatkan, maksudnya yaitu barang yang diperjual belikan harus

ada manfaatnya sehingga tidak boleh memperjual belikan barang-barang

yang tidak bermanfaat.

3) Milik orang yang melakukan aqad, maksudnya bahwa orang yang melakukan

perjanjian jual beli atas sesuatu barang adalah pilihan sah barang tersebut

dan atau telah mendapat izin dari pemilik sah barang tersebut. Dengan

demikian jual beli barang yang dilakukan oleh yang bukan pemilik atau

berhak berdasarkan kuasa si pemilik dipandang sebagai perjanjian yang

batal

4) Mengetahui, maksudnya adalah barang yang diperjual belikan dapat

diketahui oleh penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya,

sifatnya dan harganya. Sehingga tidak terjadi kekecewaan diantara kedua

belah pihak.

5) Barang yang di akadkan ada ditangan, maksudnya adalah perjanjian jual beli

atas sesuatu barang yang belum ditangan (tidak berada dalam kekuasaan

penjual) adalah dilarang, sebab bisa jadi barang sudah rusak atau tidak

dapat diserahkan sebagaimana telah diperjanjikan

6) Mampu menyerahkan, maksudnya adalah keadaan barang haruslah dapat

diserah terimakan. Jual beli barang tidak dapat diserah terimakan, karena

apabila barang tersebut tidak dapat diserah terimakan, kemungkinan akan

terjadi penipuan atau menimbulkan kekecewaan pada salah satu pihak.9

8

Chairuman dan Suhwardi, 1996, sebagaimana dikutip oleh Sobhirin , “Jual Beli Dalam Pandangan Islam”,dalam jurnal studia Islamika, Vol. 11, No. 2, Desember 2014: (371-387) hal

9

(7)

Keempat, ada nilai tukar pengganti barang, nilai tukar pengganti barang,

yaitu sesuatu yang memenuhi tiga syarat; bisa menyimpan nilai (store of value), bisa

menilai atau menghargakan suatu barang (unit of account) dan bisa dijadikan alat

tukar (medium of exchange).10 Suci, najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan

uang untuk dibelikan, seperti kulit binatang/bangkai yang belum disamak.11

C. Syarat Jual Beli

Pengertian syarat adalah sesuatu yang bukan merupakan unsur pokok tetapi

adalah unsur yang harus ada di dalamnya. Jika ia tidak ada, maka perbuatan

tersebut dipandang tidak sah. Misalnya; suka sama suka merupakan salah satu

syarat sahnya jual beli. Jika unsur suka sama suka tidak ada, jual beli tidak sah

menurut hukum.12 Syarat-syarat jual beli ada empat macam, yaitu syarat

terpenuhinya akad (syurut al-in ‘iqad), syarat sah (syurut al-nafadz), syarat sah

(syurut al-sihhah), dan syarat mengikat (syurut al-luzum). Adanya syarat-syarat ini di

maksudkan untuk menjamin bahwa jual beli yang dilakukan akan membawa

kebaikan bagi kedua belah pihak dan tidak ada yang dirugikan.13

Syarat, menurut terminology para fuqaha seperti diformulasikan Muhammad

Khudlari Bek, ialah sesuatu yang ketidakadaannya mengharuskan (mengakibatkan)

tidak adanya hukum itu sendiri. Hikmah dari ketiadaan syarat itu berakibat pula meniadakan hikmah hukum atau sebab hukum. Dalam syari’ah, rukun, dan syarat sama-sama menentukan sah atau tidaknya suatu transaksi. Definisi syarat berkaitan dengan sesuatu yang tergantung padanya keberadaan hukum syar’i dan ia berada

di luar hukum itu sendiri, yang ketiadaannya menyebabkan hukum pun tidak ada.14

10

Sobhirin, “Jual Beli….,hal 249 11

Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung:Sinar Bandung, 1990), hal 263 12

Siti Mujiatun,”Jual Beli….,hal 205 13

Imam Mustafa, Fiqih Muamalah Kontemporer,(Jakarta:Rajawali Pers, 2016) hal 25 14

(8)

Sesuatu yang tidak berupa barang/harta atau yang dihukumi sepertinya tidak

sah untuk diperjulbelikan. Tukar menukar tersebut hukumnya tetap berlaku, yakni

kedua belah pihak memiliki sesuatu yan diserahkan kepadanya dengan adanya

ketetapan jual beli dengan kepemilikan abadi.15 Empat rukun jual beli tersebut,

memuat beberapa syarat yang harus di penuhi dalam jual beli (bisnis), yaitu :

1. Syarat orang yang berakad Ulama fiqih sepakat, bahwa orang yang

melakukan transaksi jual beli harus memenuhi syarat-syarat :

 Berakal. Dengan syarat tersebut maka anak kecil yang belum berakal

tidak boleh melakukan transaksi jual beli, dan jika telah terjadi

transaksinya tidak sah. Jumhur ulama berpendapat, bahwa orang yang

melakukan transaksi jual beli itu harus telah akil baliqh dan berakal.

Apabila orang yang bertransaksi itu masih mumayyiz, maka transaksi

jual beli itu tidak sah. Sekalipun mendapat izin dari walinya.

 Orang yang melakukan transaksi itu, adalah orang yang berbeda.

Maksud dari syarat tersebut adalah bahwa seorang tidak boleh menjadi

pembeli dan penjual pada waktu yang bersamaan.

 Tidak dalam keadaan terpaksa ketika melakukan akad. Karena karena

adanya kerelaan dari kdua belah pihak merupakan salah satu rukun jual

beli. Jika terdapat paksaan, maka akadnya dipandang tidak sah atau

batal menurut Jumhur Ulama. Sedangkan menurut Hanafiyah, sah

akadnya ketika dalam keadan terpaksa jika diizinkan, tetapi bila tidak

diizinkan, maka tidak sah akadnya.16

2. Syarat yang terkait dengan ijāb dan qabūl. Ulama fiqih sepakat bahwa urusan utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli.

Kerelaan ini dapat terlihat pada saat transaksi berlangsung. Oleh karena itu, ijāb qabūl harus diungkapkan dengan jelas sehingga tidak terjadi penipuan

dan dengan ijab Kabul dapat mengikat kedua belah pihak. Apabila ijāb-qabūl

15

Nizaruddin, Fiqih Mu’amalah, (Yogyakarta : Idea Press, 2013) hal 91 16

(9)

telah diucapkan dalam transaksi, secara otamatis kepemilikan barang dan

uang telah berpindah tangan. Ulama fiqih menjelaskan bahwa syarat dari ijāb-qabūl adalah sebagai berikut :

 Jangan ada yang memisahkan, pembeli jangan diam saja setelah

penjual menyatakan ijab atau sebaliknya.

 Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijab dan qabul.

Masalah ijab qabul ini para ulama berbeda pendapat diantaranya sebagai

berikut :

1) Madzhab Syafi’i

Syarat sighat menurut madzhab syafi’i:

a) Berhadap-hadapan, pembeli dan penjual harus menunjukkan sighat

akadnya kepada orang yang sedang bertransaksi dengannya yakni

harus sesuai dengan orang yang dituju

b) Ditujukan pada seluruh badan yang akad. Tidak sah jika berkata, “Saya menjual barang ini kepada kepala atau tangan kamu”

c) Qabul diucapkan oleh orang yang dituju dalam ijab. Orang yang

mengucapkan qabul haruslah orang yang diajak bertransaksi oleh

orang yang mengucapkan ijab kecuali bila diwakilkan.

d) Harus menyebut barang dan harga, ketika mengucapkan shighat

harus disertai niat (maksud)

e) Pengucapan ijab dan qabul harus sempurna, jika seseorang yang

melakukan transaksi itu gila sebelum mengucapkan ,jual beli yang di

lakukannya batal.

f) Ijab qabul tidak terpisah, antara ijab dan qabul tidak boleh diselingi

oleh waktu yang terlalu lama yang menggambarkan adanya

penolakan dari salah satu pihak.

g) Antara ijab dan qabul tidak terpisah dengan pernyataan lain.

h) Tidak berubah lafazh

(10)

j) Tidak dikaitkan dengan sesuatu, akad tidak boleh dikaitkan dengan

sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan akad dan akad tiak

dikaitkan dengan waktu.

2) Madzhab Hambali, syarat shighat ada 3 yaitu :

a) Berada di tempat yang sama

b) Tidak terpisah, antara ijab dan qabul tidak terdapat pemisah yang

menggambarkan adanya penolakan.

c) Tidak diikatkan dengan sesuatu, akad tiak boleh dikaitkan dengan

sesuatu yang tidak berhubungan dengan akad.

3) Imam Malik berpendapat, syarat shighat ada 2 , yaitu :

a) Tempat akad harus bersatu

b) Pengucapan ijab qabul tidak terpisah, diantara ijab dan qabul tidak

boleh ada pemisah yang mengandung unsure penolakan dari salah

satu aqid secara adat.

4) Madzhab Hanafi, syarat shighat :

a) Qabul harus sesuai dengan ijab

b) Ijab dan qabul harus bersatu, yakni berhubungan antara ijab dan

qabul walaupun teempatnya tidak bersatu.17

3. Syarat yang diperjual belikan. Syarat yang diperjualbelikan, adalah sebagai

berikut :

 Barang itu ada, atau tidak ada ditempat, tetapi pihak penjual

menyatakan sanggup untuk mengadakan barang itu.

 Barang tersebut dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.

Oleh karena itu keluar dari syarat ini adalah menjual khamar, bangkai

haram untuk diperjualbelikan, karena tidak bermanfaat bagi manusia dalam pandangan syara’. Tidak sah18

menjual belikan barang najis

atau barang haram seperti darah, bangkai dan daging babi. Karena

barang-barang tersebut menurut syariat tidak bisa digunakan

17

Nizaruddin, Fiqih Mu’amalah…,hal 93-94 18

(11)

 Milik seseorang. Maksudnya adalah barang yang belum milik seseorang tidak boleh menjadi objek jual beli, seperti menjual ikan

yang masih di laut, emas yang masih dalam tanah, karena keduanya

belum menjadi milik penjual.

 Dapat diserahkan pada saat akad berlangsung, atau pada waktu yang

telah disepakat.

 Obyek transaksi dapat diketahui dengan dua cara;

1. Barang dilihat langsung pada saat akad atau beberapa saat

sebelumnya yang diperkirakan barang tersebut tidak berubah dalam

jangka waktu itu.

2. Spesifikasi barang dijelaskan dengan sejelas-jelasnya seakan-akan

orang yang mendengar melihat barang tersebut.

 Harga harus jelas saat transaksi. Maka tidak sah jual-beli dimana penjual mengatakan "Aku jual mobil ini kepadamu dengan harga yang akan kita

sepakati nantinya". Berdasarkan Hadist di atas yang melarang jual beli

gharar.19

4. Syarat nilai tukar (harga barang), Nilai tukar suatu barang merupakan salah

satu unsur terpenting. Yang pada zaman sekarang disebut dengan uang.

Ulama fiqih memberikan penjelasan bahwa syarat nilai tukar adalah sebagai

berikut:

 Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.

 Dapat diserahkan pada saat waktu transaksi, sekalipun secara hukum

seperti pembayaran dengan cek atau kartu kredit. Apabila barang

dibayar kemudian (berhutang), maka waktu pembayarannya harus

jelas waktunya.

 Jika jual beli itu dilakukan dengan cara barter, maka barang yang

dijadikan nilai tukar, bukan barang yang diharamkan syara’ seperti babi dan khamar.

19

(12)

Syarat uang menurut Imam Al-Ghazali ada 3, yaitu :

1. Penyimpanan nilai (store of value), yaitu uang harus bisa mempunyai

nilai atau harga yang tetap (stabil)

2. Satuan perhtiungan/timbangan (Unit of Account), yaitu uang harus bisa

berfungsi sebagai satuan perhitungan atau timbangan (Unit of Account)

untuk menimbang atau menilai suatu barang atau jasa.

3. Alat tukar (Medium of Exchange), yaitu uang harus bisa berfungsi

sebagai alat tukar untuk melakukan transaksi perdagangan barang atau

jasa.20

20

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Enang, dalam buku, “Fiqih Jual Beli”, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015.

Ismail, Perbankan Syariah,Jakarta: Kencana, 2011.

Mujiatun, Siti, ”Jual Beli Dalam Perspektif Islam: Salam Dan Istishna”, Dalam

Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Volume 13 No.2 Tahun 2013 Edisi September

Mushlih, Abdullah, Fiqih Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta : Darul Haq,

2004.

Mustafa, Imam, Fiqih Muamalah Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

Nizaruddin, Fiqih Mu’amalah, Yogyakarta : Idea Press, 2013

Sobhirin, “Jual Beli Dalam Pandangan Islam”,dalam Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 3, No. 2, Edisi Desember 2015

Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, Bandung: Sinar Bandung, 1990.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...