• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA POLITIK ORDE BARU DAN DAMPAKNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BUDAYA POLITIK ORDE BARU DAN DAMPAKNYA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BUDAYA POLITIK ORDE BARU DAN

DAMPAKNYA

Oleh Pertampilan S. Brahmana

1.Pengertian Budaya Politik

Menurut Koentjaraningrat (1970), kebudayaan berasal daripada perkataan Sanskrit 'buddhayah' iaitu bentuk jamak dari 'buddhi' yang berarti 'budi' atau 'akal'. Kebudayaan dapat diartikan sebagai 'hal-hal yang bersangkutan dengan akal'. Kebudayaan adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tatakelakuan yang harus diperoleh dengan cara belajar. Edward B. Taylor (1871), budaya adalah satu keseluruhan sistem yang kompleks yang berisi ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, kesusilaan, undang-undang, adat istiadat dan lainnya, serta kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakatnya. Leslie White (1947) mendefinisikan kebudayaan adalah satu organisasi fenomena - perlakuan (pola tingkah laku), objek (alat bertukang dan barang lain yang dibuat daripada alat tadi), idea (kepercayaan dan ilmu pengetahuan), dan sentimen (sikap, nilai) - yang bergantung kepada penggunaan simbol. Lucy Mair (1965) mendefinisikan kebudayaan adalah milik bersama sesuatu masyarakat yang mempunyai tradisi yang sama. Horskovit mendefinisikan kebudayaan adalah is a way of life atau satu cara hidup.

Dari definisi-definisi di atas, maka kebudayaan atau budaya adalah satu cara hidup yang merujuk kepada manusia yang diwarisi dan bersifat dinamis. Artinya budaya tidak diterima melalui warisan. Setiap orang harus mempelajarinya dan hidup bersama-sama dalam masyarakat. Budaya suatu bangsa mewujudkan keseragaman tingkah laku. Keseragaman tingkah laku ini memuluskan kehidupan masyarakat, karena budaya di sini berperan mengatur, menata masyarakat agar tidak mengalami chaos ketika menghadapi suatu situasi tertentu.

(2)

untuk menyatakan lingkungan perasaan dan sikap dimana sistem politik itu berlangsung.

Kebudayaan politik suatu bangsa terutama nampaknya terpusat terhadap legitimasi peraturan-peraturan dan lembaga politik serta prosedur (Finer). Indikator-indikator kebudayaan politik suatu bangsa, menurut Pye, mencakup faktor-faktor seperti wawasan politik, bagaimana hubungan antara tujuan dan cara standar untuk penilaian aksi politik serta nilai-nilai yang menonjol bagi aksi politik. Sedangkan menurut Samuel Beer komponen-komponen kebudayaan adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap emosi tentang bagaimana pemerintah seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah.

Namun disisi lain, menurut Robert Dahl, kebudayaan politik adalah satu faktor yang menjelaskan pola-pola yang berbeda mengenai pertentangan politik. Unsur budaya yang penting,

1. Orientasi masalah-masalah, apakah mereka pragmatik atau rasionalistis.

2. Orientasi terhadap aksi bersama, apakah mereka bersifat kerjasama atau tidak (kooperatif atau non kooperatif).

3. Orientasi terhadap sistem politik, apakah mereka setia atau tidak. 4. Orientasi terhadap orang lain, apakah mereka bisa dipercaya atau tidak.

Jadi kebudayaan politik tidak lain adalah bagian dari kebudayaan suatu masyarakat. Dalam kedudukannya sebagai satu subkultur, kebudayaan politik dipengaruhi oleh budaya secara umum. Adapun obyek-obyek politik mencakup bagian dari sistem politik, seperti badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, partai-partai politik, dan kelompok-kelompok organisasi, pandangan-pandangan individual sendiri sebagai pelaku-pelaku politik dan pandangannya terhadap warga masyarakat lain.

Dari dua Presiden Republik Indonesia terdahulu yaitu Soekarno dan Soeharto, keduanya berorientasi kekuasaan. Atas nama UUD 45 Soekarno tampl sebagai penguasa tnggal sampai Dmokrasi Terpimpin hinga tahun 1965/1966. Kemudian Soeharto dating menggantikannya, atas nama Demokrasi Pancasila persis seperti Bung Karno sebagai penguasa tunggal. Pancasila dan UUD 45 dan segala perundang-undangan, umumnya ditafsirkan secara monolitik1.

1

(3)

2.Ordebaru

2.1 Pengertian Ordebaru

Ordebaru adalah salah satu babakan sejarah dalam sejarah Negara Indonesia. Ordebaru dimulai tahun 1966 dan berakhir 1998. Tokoh utamanya adalah Soeharto, presiden republik Indonesia yang kedua.

Ordebaru lahir, berawal dari Surat Perintah Sebelas Maret tahun 1967 yang diberikan Soekatno (Presiden Indonesia yang pertama) kepada Jenderal Soeharto untuk mengamankan negara akibat tertadinya pembunuhan terhadap tujuh panglima tinggi TNI. Kemudian berdasarkan Tap MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 bertanggal 12 Maret 1967, tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Sukarno, dan menghukuhkan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia.

Presiden Soeharto menerma perintah tersebut dalam kondisi negara yang labil, karena negara sedang mengalami.konflik (disharmoni) horizontal dan vertikal. Konflik horizontal ini bersumber dari antar pendukung partai, sedangkan konflik vertikal ini, ada partai mengkudeta negara, ada gerakan bawah tanah dari golongan tertentu yang ingin pula mengganti ideologi negara.

Selama 32 tahun masa kepemimpinan Presiden Soeharto, Presiden Soeharto membangun negara Indonesia dengan sistem politik yang “keras”, oleh kalangan pemerhati dikatakan sistem otoriter dan represif (Subekti, 1998:11).

Ordebaru tidak dapat dilepaskan dari nama Soeharto, presiden RI yang kedua. Ordebaru ini dimulai dari tahun 1966-1998, awal naiknya Soeharto menjadi penguasa di Indonesia hingga mengundurkan dirinya Soeharto dari panggung kekuasaan politik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998, melalui gerakan pemuda Indonesia.

(4)

rakyat banyak ... yang dibersihkan dari segala bentuk penyelewengan, atau pun penunggangan untuk kepentingan yang lain dari kepentingan rakyat (Soeharto, 1985:4).

Menurut Amir Mahmud (Mahmud, 1986: 136-137) orde baru pada hakekatnya adalah sikap dan tekad mental dan itikad baik yang mendalam untuk mengabdi kepada rakyat dan kepentingan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sejalan dengan hakekat tersebut maka orde baru adalah:

a. Satu orde yang merupakan tatanan seluruh kehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

b. Merupakan koreksi total atas penyelewengan yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

c. Suatu proses sosial yang panjang, sebab penyelewengan yang terjadi pada masa lampau, berjalan bertahun-tahun sehingga menyentuh hampir seluruh segi kehidupan bangsa kita.

d. Perubahan sikap mental yang mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi atau golongan dan yang memerlukan sikap dan pola bekerja yang berorientasi pada program. Karena itu urgensi yang implisit dalam perjuangan Orde Baru ialah menyusun kembali kekuatan bangsa dan menentukan cara-cara yang tepat untuk menumbuhkan stabilitas nasional jangka panjang, untuk mempercepat proses pembangunan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-undang dasar 1945.

2.2 Sistem Politik Ordebaru

Bila dicemati pandangan-pandangan masyarakat tentang ordebaru, setelah ordebaru tidak memerintah lagi, sistem politik yang dibangun ordebaru seperti sama sekali tidak ada sisi positipnya.

Bagaimana buruknya sistem politik odebaru ini, dapat dilihat dalam buku Subadio Sastrosatomo dengan judul Renungan Gunung Luwum Politik Doso Muko Rezim Ordebaru, Rapuh dan Sengsarakan Rakyat dikatakan Soeharto membangun ordebaru tidak berdasarkan kebenaran tapi berlandaskan kepalsuan-kepalsuan yang dipaksakan (Sastrosatomo, 1998:ii). Sistem politik ini memiliki sepuluh wajah (Sastrosatomo, 1998:3-4) yaitu:

1. Kedaulatan rakyat dirampas.

2. Pancasila dijadikan tameng kekuasaan 3. Hukum dikangkangi

(5)

5. Parlemen dikebiri 6. Pers dimandulkan

7. Ekonomi berawajah Nepotisme-korupsi-kolusi 8. Pendidikan dijinakkan

9. Kebudayaan diseragamkan

10. Nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak

Bagaimana masyarakat antipatinya terhadap ordebaru ini, dapat dibaca melalui judul-judul tulisan atau kelompok berikut ini.

1. KOALISI NASIONAL ANTI ORDE BARU Sekretariat : Jl. Prapanca Raya No. 39 A, Darmawangsa 5, Kebayoran Baru, Telp. (021) 73989202.

2. Gaya Kepemimpinan Represif Orde Baru3

3. GOTONG-ROYONG MELAWAN SISA-SISA ORDE BARU Oleh Umar Said4.

4. INTEL-INTEL SISA ORDE BARU DITUDUH MENYULUT KONFLIK DI POSO5

5. Jangan Ulangi Kekeliruan Orde Baru6

6. KEBOHONGAN SEJARAH ORDE BARU HARUS KITA BONGKAR BERSAMA-SAMA7

7. Kedunguan Nasionalisme Orde Baru8

8. Konflik Poso adalah Permainan Intrik Orba9

9. Membongkar Niat Jahat Rezim Orba melalui RUU Politiknya10. Tudingan dan antipati seperti ini, tidak sepenuhnya benar dan positip bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan telalu emosional. Kalau dikatakan kedaulatan rakyat dirampas, kedaulatan rakyat yang mana? Kalau dikatakan Pancasila dijadikan tameng kekuasaan, tameng yang bagimana?, kalau dikatakan hukum dikangkangi, apa memang 100% benar, parpol dan serikat buruh dipasung, parlemen dikebiri, pers dimandulkan, ekonomi berawajah

2http://www.indopubs.com/archives/0519.html (31 Mei 2001) 3

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0004/03/nasional/jang08.htm (3 April 2000)

7

Umar Said, http://members.fortunecity.com/toleransi/kebohongan_orba.html

(04/02/2002)

8

http://www.detakanalisis.com/politik/2002/06/13/130602-politik-1515.htm (20/07/2002)

9

http://www.indopubs.com/archives/0595.html (11 Juli 2001)

10

(6)

nepotisme-korupsi-kolusi, pendidikan dijinakkan dan kebudayaan diseragamkan serta nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak, tuduhan yang tidak sepenuhnya dapat dibenar. Memang ada sisi negatif, namun bukan pula tidak ada sisi positip dari tindakan di atas.

2.3 Progam Pembangunan Orde Baru

Untuk melaksanakan tujuan dari orde baru di atas, maka disusunlah rencana pembangunan yang kemudian dikenal dengan Repelita.

Menurut Susetiawan (1999:13), prinsip utama pelaksanaan pembangunan di Indonesia menekankan kepada terciptanya stabilitas politik guna mendukung pertumbuhan ekonomomi. Alasannya adalah (1) pemikiran yang didukung oleh pengalaman historis yakni kegagalan pemikiran rezim orde lama yang tidak mampu mengangkat perkembangan ekonomi bangsa Indonesia, (2) situasi sosial dan politik yang penuh dengan konflik dan perbedaan pada jaman orde lama dianggap tidak mendukung perkembangan ekonomi negara, (3) alasan legitimasi budaya bahwa konflik dan perbedaan diharamkan oleh nilai budaya bangsa karena tidak mendukung kehidupan yang harmonis.

Kelemahan prinsip utama di atas adalah situasi tidak mungkin tanpa konflik. Akibatnya stabilitas bukan untuk kepentingan politik tetapi alat bagi kelompok yang berkuasa. Maka Orde baru bukan memanajemen konflik (managed conflict), tetapi mengelola adu domba (managed devide et impera) (Susetiawan, 1999:17,21).

3. Budaya Politik Orde Baru

Budaya politjk adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam mengatasi sesuatu masalah.

Orde Baru dalam mengatasi sesuatu masalah yang terjadi dalam bidang ketertiban, keamanan, dan kewibawaan hukum.dalam melaksanakan pembangunan, mengg nakan Keppres.

Orde Baru menerapkan sistem KKN dalam jabatan-jabatran dan perusahaan-perusahaan tertentu. Kemudian menerbitkan sejumlah Keppres dan Undang0Undang/

3.1 KKN

(7)

dan para kroni. KKN orde baru ini bukan saja terang-terangan tetapi juga dalam bentuk :invisible hand”, tangan-tangan tidak nampak. Maka tangan KKN Orde Baru ini memasuki ke dalam segenap sendi-seni kehidupan.

Adapun korupsi orde baru antara lain

- menyangkut penggunaan uang negara oleh 7 buah yayasan yang diketuai oleh Soeharto , yaitu Yayasan Dana Sejahtera Mandiri[1][2], Yayasan Supersemar [1][3], Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) [1][4], Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti(Dakab) [1], Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila[1][5], Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Trikora[1][6].

Ini hanya beberapa contoh.

3.2 Keppres

Atas Nama Ketertiban, Keamanan, dan Kewibawaan Hukum.

Tanggal Nomor Subyek Keppres

No

300/1968

Terkenal dengan istilah skrining

03-03-1969

Keppres No 19/1969

(8)

dilaksanakan oleh Pelaksana Khusus (Laksus), dan berkembang cepat menjadi lembaga yang menakutkan. Semula Kopkamtib berkonsentrasi pada tugas-tugas menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan sisa-sisa persoalan PKI. Akan tetapi, dalam waktu yang terasa berjalan begitu cepat, Kopkamtib bergerak dengan kewenangan sangat besar. Sejak awal tahun 1970-an, Kopkamtib mulai menangkap dan menjebloskan orang ke dalam penjara semata-mata karena dicurigai berpotensi mengganggu ketertiban dan keamanan, tanpa bukti jelas. Orang ditangkap dan ditahan tanpa proses pengadilan

04-04-1973

Keppres No 13 tahun 1973

(9)

1974.

04-02-1974

Keppres No 4/1974

Tentang Dewan Stabilisasi Politik dan Keamanan Nasional. Tugas Dewan ini pada intinya tidak banyak berbeda dengan Kopkamtib.

Tentang Perlakuan terhadap Mereka Yang Terlibat G-30S/PKI Golongan C.

05-09-1977

Keppres No 9/1977

Tentang Operasi Tertib (Opstib) bertugas melakukan penertiban terhadap aparatur negara. Opstib bergerak bebas ke departemen-departemen di lingkungan pemerintah. Pejabat atau petugas yang dicurigai tidak bersih dari PKI atau dicurigai menentang pemerintah, ditertibkan dan dikeluarkan. Aktivitas Opstib maupun Kopkamtib benar-benar membuat banyak orang cemas dan terus dibayangi ketakutan

05-09-1988

Keppres No 29/1988

tentang Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional/Daerah

(10)

anggota calon DPR dan MPR dalam Pemilu tahun 1992 dan 1997

Sumber: Kompas, Jumat, 11 Desember 1998

Penerbitan Keppres tersebut tentu ada tujuan positipnya. Keppres No 19/1969, Tentang Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Tugas pokoknya disebutkan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban dari akibat-akibat peristiwa pemberontakan G-30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia), serta kegiatan-kegiatan ekstrem dan subversi lainnya. Selain itu Kopkamtib juga ditugaskan untuk ikut mengamankan kewibawaan pemerintah beserta alat-alatnya, dari pusat sampai dengan daerah, demi kelangsungan hidup Pancasila dan UUD 1945. Sisi lain dari tugas Kopkamtib jelas terjadi pelanggaran HAM sebab sejak awal tahun 1970-an, Kopkamtib mulai menangkap dan menjebloskan orang-orang yang dicurigai mampu membuat “onar” ke dalam penjara. Mereka ditangkap dan ditahan tanpa proses pengadilan

3.3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985

UU Nomor 8 Tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan berisi agar Organisasi Kemasyarakatan berdasarkan Pancasila,

Fungsinya agar Organisasi Kemasyarakatan berfungsi sebagai:wadah penyalur sesuai kepentingan anggotanya; wadah pembinaan dan pengembangan anggotanya dalam usaha ewujudkan tujuan organisasi; wadah peran serta dalam usaha menyukseskan pembangunan nasional; sarana penyalur aspirasi anggota, dan sebagai sarana komunikasi sosial timbal balik antar anggota, dan/atau antar organisasi Kemasyarakatan, dan antar organisasi Kemasyarakatan dengan organisasi kekuatan sosial politik, Badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat, dan Pemerintah.

Sekarang UU Ormas ini sudah dicabut

(11)

Panduan Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4( dibentuk melalui Ketetapan MPR no. II/MPR/1978. Ketetapan ini berisi tentang Eka Prasetya Pancakarsa yang menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.

Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila ( P4) merupakan panduan tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara,

Saat ini Tap MPR no. II/MPR/1978 ini telah dicabut melalui Ketetapan MPR no XVIII/MPR/1998.

.

4. Dampak Budaya Politik

4.1 Pembangunan

Pembangunan dan keamanan dinilai berhasil. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% per tahun Pendapatan perkapita dari US$ 260 (tahun 1970) menjadi US$ 500 (tahun 1980).

Swasembada beras tahun 80-an yang mendapat penghargaan FAO tahun 1986

Penduduk miskin dari 54,2 juta jiwa (40,08%) tahun 1976 menjadi 27,2 juta jiwa (15,08%) tahun 1990 (https://student.uigm.ac.id/assets/file/Materi/sejarah-perekonomian-indonesia.pdf)

4.2 HAM

Berdasarkan catatan redaksi sekitar kita, Pelanggaran HAM semasa Orde Baru adalah sebagai berikut11:

Data-Data Pelanggaran HAM Semasa Orde Baru Tahun Kasus

1965 - Penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh jendral Angkatan Darat.

- Penangkapan, penahanan dan pembantaian massa pendukung dan mereka yang diduga sebagai pendukung

11

(12)

Partai Komunis Indonesia. Aparat keamanan terlibat aktif maupun pasif dalam kejadian ini.

1966 - Penahanan dan pembunuhan tanpa pengadilan terhadap PKI terus berlangsung, banyak yang tidak terurus secara layak di penjara, termasuk mengalami siksaan dan intimidasi di penjara.

- Dr Soumokil, mantan pemimpin Republik Maluku Selatan dieksekusi pada bulan Desember.

- Sekolah- sekolah Cina di Indonesia ditutup pada bulan Desember.

1967 - Koran- koran berbahasa Cina ditutup oleh pemerintah.

- April, gereja- gereja diserang di Aceh, berbarengan dengan demonstrasi anti Cina di Jakarta.

- Kerusuhan anti Kristen di Ujung Pandang.

1969 - Tempat Pemanfaatan Pulau Buru dibuka, ribuan tahanan yang tidak diadili dikirim ke sana.

- Operasi Trisula dilancarkan di Blitar Selatan.

- Tidak menyeluruhnya proses referendum yang diadakan di Irian Barat, sehingga hasil akhir jajak pendapat yang mengatakan ingin bergabung dengan Indonesia belum mewakili suara seluruh rakyat Papua. - Dikembangkannya peraturan- peraturan yang

membatasi dan mengawasi aktivitas politik, partai politik dan organisasi kemasyarakatan. Di sisi lain, Golkar disebut- sebut bukan termasuk partai politik.

1970 - Pelarangan demo mahasiswa.

- Peraturan bahwa Korpri harus loyal kepada Golkar. - Sukarno meninggal dalam ‘tahanan’ Orde Baru. - Larangan penyebaran ajaran Bung Karno.

1971 - Usaha peleburan partai- partai.

- Intimidasi calon pemilih di Pemilu ’71 serta kampanye berat sebelah dari Golkar.

(13)

penggusuran tanah tanpa ganti rugi yang layak.

- Pemerkosaan Sum Kuning, penjual jamu di Yogyakarta oleh pemuda- pemuda yang di duga masih ada hubungan darah dengan Sultan Paku Alam, dimana yang kemudian diadili adalah Sum Kuning sendiri. Akhirnya Sum Kuning dibebaskan.

1972 - Kasus sengketa tanah di Gunung Balak dan Lampung. 1973 - Kerusuhan anti Cina meletus di Bandung.

1974 - Penahanan sejumlah mahasiswa dan masyarakat akibat demo anti Jepang yang meluas di Jakarta yang disertai oleh pembakaran- pembakaran pada peristiwa Malari. Sebelas pendemo terbunuh.

- Pembredelan beberapa koran dan majalah, antara lain ‘Indonesia Raya’ pimpinan Muchtar Lubis.

1975 - Invansi tentara Indonesia ke Timor- Timur.

- Kasus Balibo, terbunuhnya lima wartawan asing secara misterius.

1977 - Tuduhan subversi terhadap Suwito. - Kasus tanah Siria- ria.

- Kasus Wasdri, seorang pengangkat barang di pasar, membawakan barang milik seorang hakim perempuan. Namun ia ditahan polisi karena meminta tambahan atas bayaran yang kurang dari si hakim.

- Kasus subversi komando Jihad.

1978 - Pelarangan penggunaan karakter- karakter huruf Cina di setiap barang/ media cetak di Indonesia.

- Pembungkaman gerakan mahasiswa yang menuntut koreksi atas berjalannya pemerintahan, beberapa mahasiswa ditahan, antara lain Heri Ahmadi. - Pembredelan tujuh suratkabar, antara lain Kompas,

yang memberitakan peritiwa di atas.

(14)

Kekerasan menyebar ke Semarang, Pekalongan dan Kudus.

- Penekanan terhadap para penandatangan Petisi 50. Bisnis dan kehidupan mereka dipersulit, dilarang ke luar negeri.

1981 - Kasus Woyla, pembajakan pesawat garuda Indonesia oleh muslim radikal di Bangkok. Tujuh orang terbunuh dalam peristiwa ini.

1982 - Kasus Tanah Rawa Bilal.

- Kasus Tanah Borobudur. Pengembangan obyek wisata Borobudur di Jawa Tengah memerlukan pembebasan tanah di sekitarnya. Namun penduduk tidak mendapat ganti rugi yang memadai.

- Majalah Tempo dibredel selama dua bulan karena memberitakan insiden terbunuhnya tujuh orang pada peristiwa kampanye pemilu di Jakarta. Kampanye massa Golkar diserang oleh massa PPP, dimana militer turun tangan sehingga jatuh korban jiwa tadi.

1983 - Orang- orang sipil bertato yang diduga penjahat kambuhan ditemukan tertembak secara misterius di muka umum.

- Pelanggaran gencatan senjata di Tim- tim oleh ABRI.

1984 - Berlanjutnya Pembunuhan Misterius di Indonesia. - Peristiwa pembantaian di Tanjung Priuk terjadi. - Tuduhan subversi terhadap Dharsono.

- Pengeboman beberapa gereja di Jawa Timur

1985 - Pengadilan terhadap aktivis- aktivis islam terjadi di berbagai tempat di pulau Jawa.

(15)

- Pengusiran, perampasan dan pemusnahan Becak dari Jakarta.

- Kasus subversi terhadap Sanusi. - Ekskusi beberapa tahanan G30S/ PKI. 1989 - Kasus tanah Kedung Ombo.

- Kasus tanah Cimacan, pembuatan lapangan golf. - Kasus tanah Kemayoran.

- Kasus tanah Lampung, 100 orang tewas oleh ABRI. Peritiwa ini dikenal dengan dengan peristiwa Talang sari. - Bentrokan antara aktivis islam dan aparat di Bima. - Badan Sensor Nasional dibentuk terhadap publikasi

dan penerbitan buku. Anggotanya terdiri beberapa dari unsur intelijen dan ABRI.

1991 - Pembantaian di pemakaman Santa Cruz, Dili terjadi oleh ABRI terhadap pemuda-pemuda Timor yang mengikuti prosesi pemakaman rekannya. 200 orang meninggal.

1992 - Keluar Keppres tentang Monopoli perdagangan cengkeh oleh perusahaan-nya Tommy Suharto.

- Penangkapan Xanana Gusmao.

1993 - Pembunuhan terhadap seorang aktifis buruh perempuan, Marsinah. Tanggal 8 Mei 1993

1994 - Tempo, Editor dan Detik dibredel, diduga sehubungan dengan pemberita-an kapal perang bekas oleh Habibie.

1995 - Kasus Tanah Koja. - Kerusuhan di Flores.

1996 - Kerusuhan anti Kristen diTasikmalaya. Peristiwa ini dikenal dengan Kerusuhan Tasikmalaya. Peristiwa ini terjadi pada 26 Desember 19962. Kasus tanah Balongan. - Sengketa antara penduduk setempat dengan pabrik

(16)

- Sengketa tanah Manis Mata.

- Kasus waduk Nipah di madura, dimana korban jatuh karena ditembak aparat ketika mereka memprotes penggusuran tanah mereka.

- Kasus penahanan dengan tuduhan subversi terhadap Sri Bintang Pamung-kas berkaitan dengan demo di Dresden terhadap pak Harto yang berkun-jung di sana.

- Kerusuhan Situbondo, puluhan Gereja dibakar. - Penyerangan dan pembunuhan terhadap

pendukung PDI pro Megawati pada tanggal 27 Juli.

- Kerusuhan Sambas – Sangualedo. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Desember 1996.

1997 - Kasus tanah Kemayoran.

- Kasus pembantaian mereka yang diduga pelaku Dukun Santet di Jawa Timur.

1998 - Kerusuhan Mei di beberapa kota meletus, aparat keamanan bersikap pasif dan membiarkan. Ribuan jiwa meninggal, puluhan perempuan diperkosa dan harta benda hilang. Tanggal 13 – 15 Mei 1998.

- Pembunuhan terhadap beberapa mahasiswa Trisakti di jakarta, dua hari sebelum kerusuhan Mei.3. Pembunuhan terhadap beberapa mahasiswa dalam demonstrasi menentang Sidang Istimewa 1998. Peristiwa ini terjadi pada 13 – 14 November 1998 dan dikenal sebagai tragedi Semanggi I.

1999 - Pembantaian terhadap Tengku Bantaqiyah dan muridnya di Aceh. Peritiwa ini terjadi 24 Juli 1999. Pembumi hangusan kota Dili, Timor Timur oleh Militer indonesia dan Milisi pro integrasi. Peristiwa ini terjadi pada 24 Agustus 1999.

(17)

II.

- Penyerangan terhadap Rumah Sakit Jakarta oleh pihak keamanan. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 Oktober 1999.

Sumber: http://www.sekitarkita.com/data/tabel_kml.htm (30/12/2003)

Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang terbuka. Beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terbuka seperti yang tersebut pada tabel di atas, memang masih dapat diperdebatkan, apakah layak dikategorikan pelanggaran hak asasi manusia atau tidak. Kasus di atas adalah pelanggaran hak asasi manusia dengan pelaku tertuding adalah negara (negara menzalimin warganya), namun pelanggaran hak asasi manusia yang pelakunya bukan aparat negara belum termasuk di dalamnya seperti warga negara menzalimin negaranya, tetapi dengan mengorbankan orang lain. Antara pelaku aparat negara dengan yang bukan aparat negara mempunyai hubungan sebab akibat.

Beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia tersebut, ada yang sudah selesai diadili seperti kasus Timor Timur, ada yang sedang dalam proses pengadilan seperti kasus Tanjung Priok. Dan ada yang belum mendapat tanggapan pemerintah seperti kasus G30S/PKI, dan ada yang dianggap bukan kasus pelanggaran hak asasi manusia, seperti kasus Trisakti dan Semanggi.

5. Simpulan

(18)

Budata politjk adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam mengatasi sesuatu masalah. Orde Baru dalam mengatasi sesuatu masalah yang terjadi dalam bidang ketertiban, keamanan, dan kewibawaan hukum.dalam melaksanakan pembangunan, Akibat budaya politik berakibat banyk terjadi pelanggaram HAM

Daftar Pustaka

Amirin, Tatang M. 1992. Pokok-Pokok Teori Sistem. Jakarta: CV. Radjawali.

Dahrendorf, Ralf. 1986. Konflik Dan Konflik Dalam Masyarakat Industri. Jakarta: CV. Rajawali.

Kantaprawira, Rusadi. 1990 Pendekatan Sistem Dalam Ilmu-Ilmu Sosial: Aplikasi Dalam Meninjau Kehidupan Politik Indonesia. Bandung: Penerbit Sinar Baru.

Mannheim, Karl. 1986. Sosiologi Sistematis. Jakarta: Bina Aksara. Soekanto, Soerjono & Tjandrasari, Heri. 1987. J.S. Roucek

Pengendalian Sosial. Jakarta: Rajawali Press.

Soekanto, Soerjono. 1996. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Soekanto, Soerjono & Salman, R. Otje (ed). 1988 Antropologi

Hukum, dalam Disiplin Hukum dan Disiplin Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Soemardjan, Selo dan Soemardi, Soelaeman. TT. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Mahmud, Amir. 1986. Pembangunan Politik dalam Negeri Indonesia. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Koran

Kompas, Kamis 1 April 1999, hal 19. Kompas, Kamis 16 April 1999, hal 15.

Kompas, 25-5-199. 350 Keluarga Korban DOM Jadi PNS.

Surabaya Post 13 Februari 1999

(19)

Laporan Akhir Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Tanggal 13-15 Mei Ringkasan Eksekutif

Bali Post, Rabu 2, Juni 1999, hal 15 Pembebasan Nomor IV, February 1997

Susetiawan (dalam "Kritik Sosial Dalam Wacana Pembangunan", Pengantar Dr. Mohtar Mas'oed) 1997. Yogyakarta: UII Press. Soeharto. 1985. Amanat Kenegaraan I, 1967-1971. Jakarta: Inti Idayu Perss.

Afan Gaffar. 2004. Politik Indonesia. Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Amir Mahmud. 1986. Pembangunan Politik dalam Negeri Indonesia. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Anonim. Tuntutan Masyarakat Adat: "Tak Akui Kami, Selamat Tinggal Indonesia!".

http://www.bubu.com/kampus/mei99/fokus0.htm (1/03/2004) Deliar Noer. Ideologi, Politik Dan Pembangunan.

Kompas. 1998. Kilas Balik: Atas Nama Stabilitas.11 Desember Kontras. http://www.kontras.org

Mizan. http://www.mizan.com/beranda/berita275.htm (22/01/2002) Nurhayati, Rachmah dan Umar Sholahudin.

http://www.surabayapost.co.id/article.php?id=6267&page=1 Rusadi Kantaprawira. 1999. Sistem Politik Indonesia. Bandung: Sinar

Baru Algensindo.

Sastrosatomo, Subadio. 1998. Renungan Gunung Luwum Politik Doso Muko Rezim Orde baru, Rapuh dan Sengsarakan Rakyat Sekitar Kita. Data-Data Pelanggaran HAM Semasa Orde Baru

http://www.sekitarkita.com/data/tabel_kml.htm (30/12/2003)

Soeharto. 1985. Amanat Kenegaraan I, 1967-1971. Jakarta: Inti Idayu Perss.

Susetiawan.1997. Kritik Sosial Dalam Wacana Pembangunan. Yogyakarta: UII Press.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Diskursus masyarakat madani dalam berita pada masa pasca Orde Baru juga meliputi identifikasi warisan rezim Orde Baru berupa hilangnya ketrampilan sosial -karena "negara

Pemuda Pancasila bisa disebut sebagai alat penghancur musuh-musuh politik rezim tersebut, maka pada masa Orde Baru banyak sekali terbentuk ormas- ormas pendukung yang

P roses untuk menyajikan rezim Orba sebagai realitas yang paling sah, secara implisit merupakan proses untuk membuat semua sosok tandingannya sebagai sesuatu yang tidak masuk

Seebagaimana partai-partai yang lain, awal Orde Soeharto tidak ada pemilu, dan pemerintahan dikendalikan banyak orang militer yang dikaryakan dan para teknokrat didikan AS yang

Pemikiran Soekarno yang kental dengan sifat sekuler, tidak saja bersumber dari pemikiran Barat yang memisahkan urusan agama dan politik yang maju dengan sains dan

bagai negara dunia ketiga memiliki cara tersendiri untuk maju. Soekarno pada rezim orde baru Orde lama memiliki kontruksi pemikiran tentang bagaimana indonesia bisa maju

Pada hakikatnya , Orde Baru merupakan tatanan dalam kehidupan rakyat state ,bangsa dan negara principle diletakkan sebagai mana mestinya dalam edeologi negara yaitu Pancasila

argumen empirik yang memadai diantaranya adalah berbeda dengan demokrasi terpimpin Bung Karno yang lahir sebagai produk rekayasa elit, orde baru lahir karena adanya gerakan massa