BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Bombana yang dibangun pada tahun
2007, berlokasi di Jalan Diklat No. 1 Keluruahan Kampung Baru Kecamatan
Rumbia Tengah dengan luas lahan 35.770 m2 dan membuka 3 jurusan/program keahlian yaitu 1) Teknik Konstruksi Kayu, 2) Teknik Otomotif Kendaraan Ringan,
dan 3) Teknik Komputer dan Jaringan. Dalam perkembangan pendidikan pada
tahun 2011/2012, ditambah lagi jurusan kesehatan.
SMK Negeri 1 Bombana terus meningkatkan kegiatan pembelajarannya
dengan menerapkan model-model pembelajran yang dikuasai oleh para guru di
sekolah tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan adalah
model Think Pair Share yaitu model pembelajaran berpikir, berpasangan dan berbagi. Model ini digunakan untuk berbagai mata pelajaran, salah satunya adalah
PKn yang diterapkan pada kelas X dengan jumlah siswa mencapai 24 orang.
Penelitian ini mengkaji pembelajaran PKn dengan materi pelajaran tentang supra
struktur dan infra struktur politik.
1. Pembelajaran PKn di SMK Negeri 1 Bombana
Pelajaran PKn adalah pelajaran yang diselenggaran Pembelajaran PKn
merupakan proses secara utuh dan menyeluruh terhadap pembentuk karakter
siswa di kelas X, XI dan XII sebagai warga negara yang cerdas dan baik.
prosedural berupaya memanusiawi dan membudayakan serta memberdayakan
masyarakat menjadi warga yang dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diawali dari jenjang pendidikan di sekolah.
Pembelajaran think pair share merupakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan ke berbagai mata pelajaran untuk dapat mengimplementasi
materi pelajaran kepada siswa di kelas. Pembelajaran mata pelajaran PKn yang
diajarkan pada Kelas X SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian Teknologi
Komputer Jaringan. Pembelajaran kooperatif tipe think pair share difokuskan kepada aktivitas guru dan siswa di kelas.
Pembelajran akan dikonsetrasikan pada pasangan belajar sebagai suatu tim
untuk menyelesaikan materi pelajaran PKn dan pengukuran keberhasilan siswa
yang diajar serta aktivitas guru. Setiap siswa akan memberikan umpan balik
sebagai ukuran penilaian daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan oleh
guru. Hasil belajar PKn tidak selamanya memuaskan, karena perbedaan daya
serap siswa dan kompetensi mengajar guru dalam menyajikan materi pelajaran di
kelas. Hasil penelitian diperoleh bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
guru untuk mencapai kriteria kletuntasan minimum dilakukan melalui penelitian
tindakan kelas dengan siklus perlakukan dari permasalahan yang dihadapi hingga
evaluasi dan pengambilan keputusan terhadap hasil yang dicapai.
Model pembelajaran Think Pair Share memberikan solusi untuk belajar
berpasangan dalam menyelesaikan penyelesaian masalah dilakukan dengan
Tabel 3. Tahapan Model Pembelajaran Think Pair Share
Tahapan Aktivitas Guru
1. Thinking (Berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat
2. Pair
(Berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3. Sharing
(Berbagi) Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untukberbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Sumber : Nurhadi,( 2003: 70).
Tabel 3 menunjukkan tahapan pembelajaran yang dilakukan dengan
menggunakan model think pair share untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di Kelas X SMK Negeri 1 Bombana guna meningkatkan hasil belajar, aktivitas
siswa dan aktivitas guru di kelas melalui penelitian tindakan kelas.
2. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran PKn
Pembelajaran PKn di SMK Negeri 1 Bombana dilakukan pada kelas X
Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan dengan menggunakan model
pembelajaran Think Pair Share (Berpikir, Berpasangan dan Berbagi).
a. Siklus I
Penelitian tindakan kelas dengan menggunakan siklus tindakan kelas pada
kemudian dilakukan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasil I,
evaluasi, refleksi dan penyajikan hasil siklus 1.
1) Pemasalahan
Dalam penelitian ini permasalahan yang ditemukan adalah
rendahnya hasil belajar yang tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yakni 70. Hasil belajar PKn pada diperoleh rata-rata dari 24 siswa
yang ada pada Kelas X pada semester genap tahun pelajaran 2012/20113
rata-rata sebesar 65,08 yang berarti tingkat ketuntasan belajar dibawah 70.
Permasalahan ini dapat mengarah pada ketidakberhasilan guru PKn dalam
penerapan pembelajaran PKn di kelas X. Kemampuan guru melalui
penggunaan rencana pelaksanaan pembelajaran tidak cukup untuk
mewujudkan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan. Masih ada
faktor lain yang mempengaruhi kriteria ketuntasan minimal ketuntasan
belajar yakni hasil belajar siswa. Hasil belajar dipengaruhi oleh daya
serap siswa dan daya serap siswa yang baik akan kembali kepada
kemampuan guru dalam beraktivitas di kelas. Permasalahan antara
kemampuan guru dan hasil belajar siswa membutuhkan model-model
pembelajaran yang efektif dan salah satunya yang digunakan adalah
model pembelajaran think pair share. a) Rencana Tindakan
Berdasarkan permasalahan hasil belajar yang diperoleh siswa
rata-rata 65,08 pada ulangan harian, maka rencana tindakan yang
Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam model pembelajaran think pair share pada pelajaran PKn dilakukan dengan kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Bagian yang
termasuk kegiatan pendahuluan adalah guru melakukan apersepsi,
menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan pertanyaan
yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
Kegiatan inti dalam penerapan model pembelajaran think pair
share adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru.
Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk
menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing. Guru
mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang
menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru
memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan
model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal
latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok. Siswa
mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual
atau kelompok didepan kelas. Guru membantu siswa untuk
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah
ang telah mereka diskusikan. Kegiatan penutup yang dilakukan adalah
guru memberikan penilaian dan penghargaan terhadap hasil
pembelajaran think pair share, rencana tindakan yang disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 4. Rencana Tindakan Pembelajaran PKn Dengan Model Think pair share di Kelas X SMA Negeri 1 Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan.
Langka h
Rencana Tindakan Aktivitas Guru
1. Guru menyampaikan pertanyaan Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan
2. Siswa berpikir secara individual Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing.
3. Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan
Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok 4. Siswa berbagi jawaban dengan
seluruh kelas Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas
5. Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah ang telah mereka diskusikan.
6. Pemberian nilai hasil belajar Guru memberikan penghargaan atas hasil belajar siswa.
Sumber : Data diolah (2013)
Tabel 4 memperlihatkan langka-langkah rencana tindakan dalam
model pembelajaran dengan tipe think pair share. Pada langkah 1 sampai dengan 5 menunjukkan adalah upaya guru untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dalam penerapan model
dicapai dari pelajaran PKn dan setiap tindakan memiliki hubungan
yang saling menunjang untuk mewujudkan tujuan pembelajaran..
Rencana tindakan berdasarkan tujuan dibagian menjadi tiga
bagian besar dalam pencapaian tujuan yaitu Guru melakukan
apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan
pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
Kegiatan inti terdiri dari; a) Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang
disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta
siswa untuk menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing, b) Guru
mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang
menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru
memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan
model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal
latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok, c) Siswa
mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual
atau kelompok didepan kelas, dan d) Guru membantu siswa untuk
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah
ang telah mereka diskusikan serta kegiatan penutup yaitu guru
b) Tindakan
Tindakan yang dilakukan untuk mengukur aktivitas mengajar guru
yang dilakukan di kelas X SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian
Teknologi Komputer Jaringan menggunakan rentang skala sebagai
berikut : a) skor 1 untuk kriteria tidak baik, b) skor 2 untuk kriteria
cukup, c) skor 3 untuk kriteria baik dan d) skor 4 untuk kriteria
sangat baik.
Tindakan guru yang tidak baik maksudnya adalah aktivitas guru
tidak sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam penerapan model
think pair share di kelas X SMK Negeri 1 Bombana Program
Keahlian Teknologi Komputer Jaringan. Tindakan guru yang cukup
baik ditujukan kepada tindakan guru yang belum sepenuhnya
menerapkan model pembelajaran think pair share. Tidakan yang baik
ditujukan pada penerapan model think pair share yang mulai dipahami
oleh siswa di kelas. Sedangkan tindakan sangat baik ditujuan kepada
aktivitas guru yang telah melakukan penerapan model think pair share
dengan baik.
Berdasarkan rencana tindakan yang dilakukan dalam penerapan
model pembelajaran tipe think pair share pada pelajaran PKn, aktivitas yang dilakukan oleh guru dilakukan merupakan penerapan
dari tujuan dan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang
Tabel 5. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru di Kelas Pada Pertemuan I Siklus I
.
No. Aspek Yang Diamati Penelitian Nilai Kriteria Kegiatan Pendahuluan
1. Guru menyampaikan secara singkat tentang pembelajaran think pair share
2 Cukup
2. Guru melakukan apresiasi sesuai dengan topik 2 Cukup 3. Guru mengecek kesiapan siswa 2 Cukup 4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai 2 Cukup
5. Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
2 Cukup
Kegiatan Inti
6. Guru menyajikan materi dengan singkat 2 Cukup 7. Guru mengorganisasikan siswa untuk
berpasangan 2 Cukup
8. Guru menjelaskan aktivitas siswa dengan
pasangan belajarnya 2 Cukup 9. Guru membagi materi dalam bentuk LKS 2 Cukup 10. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam
belajar dalam bentuk berpasangan 2 Cukup 11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memecahkan masalah yang dihadapi
2 Cukup
12. Guru meminta siswa untuk berpikir,
berpasangan dan berbagai dalam diskusi 2 Cukup 13. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan
hasil diskusi.
2 Cukup
Kegiatan Penutup
14. Guru melakukan evaluasi 2 Cukup 15. Guru bersama siswa menyimpulan materi
pelajaran yang diajarkan 2 Cukup 16. Guru memberikan penghargaan kepada setiap
pasangan 2 Cukup
17. Guru memberi tugas/RP dan menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya
2 Cukup
Jumlah Skor Capaian 34 Jumlah Skor Ideal (4 x 17) 68 Persentase Skor Capaian Aktivitas Guru 50% Sumber : Data diolah (2013)
Data pada Tabel 5 mempelihatkan tindakan kelas pada pertemuan 1
dalam siklus 1 aspek yang diamati dari aktivitas guru menunjukkan
bawah 90% dan aktivitas guru berada pada kriteria cukup yang
disebabkan oleh guru belum melakukan sosialisasi terhadap model
pembelajaran yang akan digunakan pada pelajaran PKn selain itu guru
masih menggunakan kebiasaan mengajar berdasarkan pengalaman.
Tindakan guru dalam pembelajaran dihadapkan dengan pemilihan
model-model pembelajaran yang tepat sehingga sebagian dari mereka
tidak dapat dengan mudah melakukan sosialisasi terhadap model
pembelajaran yang sedangkan dikembangkan saat ini, yang akibatnya
aktivitas guru belum mencapai kriteria ketuntasan minimum yang
ditetapkan terhadap keberhasilan guru.
Aktivitas guru pada pertemuan I siklus I menunjukkan kriteria
yang cukup dan hal ini tidak dapat memenuhi Kriteria Ketuntasan
Minimum (KKM) sehingga dilakukan pengujian pada pertemuan II.
Hal ini ditujukan untuk memperbaiki aktivitas mengajar guru dalam
menerapkan model pembelajaran PKn di kelas X SMK Negeri 1
Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan. Hasil yang dicapai
dalam pertemuan kedua dalam siklus I dan kegiatan yang sama. Hal
Tabel 6. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru di Kelas Pada Pertemuan II Siklus I
No. Aspek Yang Diamati Penelitian Nilai Kriteria Kegiatan Pendahuluan
1. Guru menyampaikan secara singkat tentang pembelajaran think pair share
2 Cukup
2. Guru melakukan apresiasi sesuai dengan topik 2 Cukup 3. Guru mengecek kesiapan siswa 3 Baik 4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai 2 Cukup
5. Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
2 Cukup
Kegiatan Inti
6. Guru menyajikan materi dengan singkat 3 Baik 7. Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan 2 Cukup 8. Guru menjelaskan aktivitas siswa dengan pasangan
belajarnya
2 Cukup
9. Guru membagi materi dalam bentuk LKS 3 Baik 10. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam belajar
dalam bentuk berpasangan
2 Cukup
11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi
3 Baik
12. Guru meminta siswa untuk berpikir, berpasangan
dan berbagai dalam diskusi 3 Baik 13. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil
diskusi. 2 Cukup
Kegiatan Penutup
14. Guru melakukan evaluasi 2 Cukup 15. Guru bersama siswa menyimpulan materi pelajaran
yang diajarkan 2 Cukup
16. Guru memberikan penghargaan kepada setiap
pasangan 2 Cukup
17. Guru memberi tugas/RP dan menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya
2 Cukup
Jumlah Skor Capaian 39
Skor Ideal (4 x 17) 68
Persentase Skor Aktivitas Guru 57,35 Sumber : Data diolah (2013)
Data pada Tabel 6 mempelihatkan tindakan kelas pada pertemuan
II dalam siklus I aspek yang diamati dari aktivitas guru menunjukkan
kemampuan guru mencapai 57,35%. Hal ini mengindikasikan bahwa
share masih rendah di bawah 90%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman guru dalam menerapan model pembelajaran yang
dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaaan mengajar di kelas. Oleh
karena aktivitas guru masih rendah, maka dilakukan pengukur pada
pertemuan III. Hal ini penulis sajikan pada Tabel berikut :
Tabel 7. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru di Kelas Pada Pertemuan III Siklus I
No. Aspek Yang Diamati Penelitian Nilai Kriteria Kegiatan Pendahuluan
1. Guru menyampaikan secara singkat tentang
pembelajaran think pair share 2 Cukup 2. Guru melakukan apresiasi sesuai dengan topik 3 Baik 3. Guru mengecek kesiapan siswa 3 Baik 4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai 2 Cukup
5. Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
2 Cukup
Kegiatan Inti
6. Guru menyajikan materi dengan singkat 3 Baik 7. Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan 3 Baik 8. Guru menjelaskan aktivitas siswa dengan pasangan
belajarnya
3 Baik
9. Guru membagi materi dalam bentuk LKS 3 Baik 10. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam belajar
dalam bentuk berpasangan 2 Cukup 11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memecahkan masalah yang dihadapi
3 Baik
12. Guru meminta siswa untuk berpikir, berpasangan
dan berbagai dalam diskusi 3 Baik 13. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil
diskusi. 2 Cukup
Kegiatan Penutup
14. Guru melakukan evaluasi 2 Cukup 15. Guru bersama siswa menyimpulan materi pelajaran
yang diajarkan 3 Baik
16. Guru memberikan penghargaan kepada setiap pasangan
2 Cukup
17. Guru memberi tugas/RP dan menyampaikan materi
untuk pertemuan berikutnya 2 Cukup
Jumlah Skor 43
Skor Ideal (4 x 17) 68
Data pada Tabel 7 mempelihatkan tindakan kelas pada pertemuan
III dalam siklus I aspek yang diamati dari aktivitas guru menunjukkan
kemampuan guru mencapai 63,24% dan masih rendah di bawah 90%.
Hal ini disebabkan karena guru masih menggunakan kemampuan diri
untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengakibatkan
penerapan model pembelajaran think pair share belum memenuhi kriteria ketuntasan minimum.
Hasil pengukuran aktivitas guru PKn di kelas X SMK Negeri 1
Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan pada
siklus I belum mencapai kriteria ketuntasan minimum. Hasil tersebut
penulisan rekap pada Tabel berikut :
Tabel 8 Rekapitulasi Hasil Pengalamat Aktivitas Guru Pada Siklus I
No .
Kegiatan Persentas e (%)
Persentas e Ideal
(%)
Belum Tercapai
1. Pertemuan I 50 90 55,5
2. Pertemuan II 57,37 90 32,63
3. Pertemuan III 63,24 90 26,76
Sumber : Data Diolah (2013)
Hasil pada Tabel 8 memperlihatkan upaya guru untuk mencapai
persentase ideal yang ditetapkan dalam penerapan model
pembelajaran think pair share. Pada pertemuan pertama, yang belum tercapai sebesar 55,5%, dibandingkan dengan pertemuan ketiga yang
mewujudkan penerapan model pembelajaran think pair share pada pelajaran PKn di SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian
Teknologi Komputer Jaringan. Hal ini dapat diperlihatkan pada
gambar berikut :
c) Observasi
Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru di kelas dalam
pertemuan I, II dan III pada siklus I masih rendah, namun demikian
perlu adanya observasi terhadap keadaan siswa di kelas. Untuk
melakukan observasi, setiap pasangan yang terdiri dari 24 orang siswa
dari dibagi 12 pasang dengan kode A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, dan
L, memberikan skor terhadap aspek yang diamati dengan kriteria dan
skor sebagai berikut : a. Sangat Baik = 4
b. Baik = 3
c. Cukup = 2
d. Tidak Baik = 1
Observasi atau pengamatan kepada siswa dilakukan sesuai
aspek-aspek yang ditetapkan sebagai berikut; a) Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru, b) Siswa aktif dalam proses belajar, c)
Siswa saling berdiskusi dengan pasangannya, d) Siswa saling
membantu dan bekerja sama dengan pasangannya, e) Siswan dapat
menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya, dan f) Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan pasangannya Hasil
pemberikan skor yang dilakukan oleh masing-masing pasangan yang
Tabel 9. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Pada Pertemuan I Siklus I.
No Aspek Yang Diamati Pasangan dan Skor
A B C D E F G H I J K L 1 Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru
2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 1 2
2 Siswa aktif dalam
proses belajar 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 3 Siswa saling berdiskusi
dengan pasangan
2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 1
4 Siswa saling membantu dan bekerja sama dengan pasangannya
2 1 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1
5 Siswan dapat menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya
2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1
6 Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan
pasangannya
1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1
Skor Aktivitas Siswa 11 8 9 8 10 9 7 10 12 9 9 8 Rata-Rata 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 Sumber (Data Diolah, 2014)
Data pada Tabel 9 memperlihatkan bahwa pasangan A memberikan
skor 11 kelompok B, D dan L dengan skor 8 sedangkan pasangan C, F.
J dan K memberikan skor 9, pasangan G memberikan skor 7,
pasangan E dan H memberikan skor 10 dan pasangan I memberikan
skor 12. Namun demikian skor tersebut masih berada pada kriteria
tidak baik dan cukup baik, artinya perlu ada peningkatan aktivitas
siswa kelas X dalam pembelajaran PKn.
Pada pertemuan II dalam siklus I, masing-masing pasangan
memberikan tanggapan terhadap aktivitas berpasangan yang diukur
dengan skor yang disajikan sebagai berikut :
Tabel 10. Aktivitas Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Pada Pertemuan II Siklus I
A B C D E F G H I J K L 1 Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 Siswa aktif dalam
proses belajar 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 3 Siswa saling berdiskusi
dengan pasangan
2 2 1 3 2 2 1 2 2 1 2 2
4 Siswa saling membantu dan bekerja sama dengan pasangannya
2 1 1 2 1 3 2 2 2 3 1 2
5 Siswan dapat menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya
2 1 2 2 1 2 3 2 2 2 1 1
6 Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan
pasangannya
2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1
Jumlah 1 4 1 0 1 0 11 1 2
11 13 1 0 1 4 1 3 1 0 1 0 Rata-Rata 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Sumber (Data Diolah, 2014)
Data pada Tabel 10 memperlihatkan bahwa pasangan A dan I
memberikan skor 14, pasangan B, C, H, K dan L memberikan skor 10,
pasangan D dan F memberikan skor 11, pasangan, E memberikan skor
12, pasangan G dan J memberikan skor 13. Namun demikian skor
tersebut masih berada pada kriteria cukup baik, artinya aktivitas siswa
kelas X dalam pembelajaran PKn masih berada pada kriteria cukup,
artinya cukup untuk mengikuti pelajaran di kelas tetapi masih belum
memahami tujuan model pembelajaran dengan baik sehingga aktivitas
belajar belum berlangsung dengan baik.
Pada pertemuan III dalam siklus I, masing-masing kelompok
memberikan tanggapan terhadapa aktivitas kelompok yang dibentuk
dengan skor yang disajikan sebagai berikut :
Tabel 11. Aktivitas Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Pada Pertemuan III Siklus I
A B C D E F G H I J K L 1 Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru
3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 Siswa aktif dalam
proses belajar 2 2 2 2 3 2 3 2 3 2 2 3 3 Siswa saling berdiskusi
dengan pasangan
2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3
4 Siswa saling membantu dan bekerja sama dengan pasangannya
2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2
5 Siswan dapat menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya
2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2
6 Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan
pasangannya
3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
Jumlah 1 4 1 2 1 2 1 3 1 4 1 3 14 1 3 1 4 1 4 1 2 1 4 Rata-Rata 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Sumber (Data Diolah, 2014)
Data pada Tabel 11 memperlihatkan bahwa pasangan A, E, G, I, J
dan L memberikan skor 14, pasangan B, C, H, dan K memberikan skor
12, pasangan D, F dan H memberikan skor 13. Namun demikian
rata-rata skor tersebut masih berada pada kriteria cukup baik, artinya
aktivitas siswa kelas X dalam pembelajaran PKn masih berada pada
kriteria cukup, artinya cukup untuk mengikuti pelajaran di kelas tetapi
masih belum memahami tujuan model pembelajaran dengan baik
sehingga aktivitas belajar belum berlangsung dengan baik.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap skor dari kelompok belajar
terhadak aktivitas guru, diperoleh skor capaian tertinggi pada tiap-tiap
pengamatan dan skor ideal yang disajikan pada Tabel Berikut :
Tabel 12 Rekapitulasi Aktivitas Siswa Pada Pembelajaran Siklus I
Pasanga
Pert.
I Pert.II Pert.III Pert.I Pert.II Pert.III
A 11 14 14 24 45,8 58,3 58,3 54,2 Sedang B 8 10 12 24 33,3 41,7 50,0 41,7 Rendah C 9 10 12 24 37,5 41,7 50,0 43,1 Rendah D 8 11 13 24 33,3 45,8 54,2 44,4 Rendah E 10 12 14 24 41,7 50,0 58,3 50,0 Sedang F 9 11 13 24 37,5 45,8 54,2 45,8 Rendah G 7 13 14 24 29,2 54,2 58,3 47,2 Rendah H 10 10 13 24 41,7 41,7 54,2 45,8 Rendah I 12 14 14 24 50,0 58,3 58,3 55,6 Sedang J 9 13 14 24 37,5 54,2 58,3 50,0 Sedang K 9 10 12 24 37,5 41,7 50,0 43,1 Rendah L 8 10 14 24 33,3 41,7 58,3 44,4 Rendah Sumber : Data diolah (2014)
Hasil pada Tabel 12 menunjukkan bahwa aktivitas siswa di dalam
pasangan belajar. Jumlah skor yang dicapai pada pertemuan I, II dan
III tidak terdapat perubahan yang signifikan karena tingkat aktivitas
siswa di kelas masih rendah hingga sedang dengan persentase antara
41,7% - 55,6%. Hal ini membuktikan bahwa penerapan model
pembelajaran think pair share pada kelas X SMK Negeri 1 Bombana
Program Keahlian Teknologi Komupter Jaringan masih rendah. Hal
ini dipertegas dengan hasil evaluasi yang dilakukan secara tertulis
yang memperlihatkan nilai hasil belajar siswa.
d) Evaluasi
Evaluasi dalam penelitian ini adalah pengamatan terhadap hasil
ulangan harian. Siswa mencapai nilai ketuntasan pada ulangan harian
think pair share, nilai yang diperoleh siswa dapat disajikan sebagai berikut :
Tabel 13. Hasil Belajar Siswa Pada Pertemuan 1 Siklus I
No. Nomor Siswa Skor/Nilai Keterangan
1 1 70 Tuntas
2 2 65 Tidak Tuntas
3 3 69 Tidak Tuntas
4 4 55 Tidak Tuntas
5 5 68 Tidak Tuntas
6 6 63 Tidak Tuntas
7 7 70 Tuntas
8 8 70 Tuntas
9 9 60 Tidak Tuntas
10 10 65 Tidak Tuntas
11 11 53 Tidak Tuntas
12 12 70 Tuntas
13 13 69 Tidak Tuntas
14 14 70 Tuntas
15 15 65 Tidak Tuntas
16 16 70 Tuntas
17 17 67 Tidak Tuntas
18 18 64 Tidak Tuntas
19 19 65 Tidak Tuntas
20 20 69 Tidak Tuntas
21 21 67 Tidak Tuntas
22 22 68 Tidak Tuntas
23 23 60 Tidak Tuntas
24 24 50 Tidak Tuntas
Jumlah 1.562 Rat-rata 65,08 Tuntas 7,0 Persentasi Tuntas 29,2 Tidak Tuntas 17,0 Persentasi Tidak Tuntas 70,8
Sumber : Data diolah Dari Hasil Ulangan Harian (2014)
Data pada Tabel 13 menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa
menunjukkan hasil belajar yang mencapai 29,2% dari jumlah siswa
sementara 70,8% tidak tunntas pada pertemuan pertama dalam siklus I.
Idealnya siswa memperoleh nilai 70 untuk mencapai ketuntasan belajar.
Hal ini disebabkan karena siswa tidak dapat memberi jawaban yang tepat
Hasil ulangan pada pertemuan kedua dapat disajikan pada Tabel
berikut :
Tabel 14. Hasil Belajar Siswa Pada Pertemuan II Siklus I
No. Nomor Siswa Skor/Nilai Keterangan
1 1 70 Tuntas
2 2 75 Tuntas
3 3 69 Tidak Tuntas
4 4 60 Tidak Tuntas
5 5 70 Tuntas
6 6 65 Tidak Tuntas
7 7 75 Tuntas
8 8 75 Tuntas
9 9 60 Tidak Tuntas
10 10 65 Tidak Tuntas
11 11 60 Tidak Tuntas
12 12 70 Tuntas
13 13 69 Tidak Tuntas
14 14 70 Tuntas
15 15 65 Tidak Tuntas
16 16 70 Tuntas
17 17 67 Tidak Tuntas
18 18 64 Tidak Tuntas
19 19 65 Tidak Tuntas
20 20 68 Tidak Tuntas
21 21 70 Tuntas
22 22 68 Tidak Tuntas
23 23 68 Tidak Tuntas
24 24 65 Tidak Tuntas
Jumlah 1.623
Rat-rata 67,63
Tuntas 9,0
Persentasi Tuntas 37,5 Tidak Tuntas 15,0 Persentasi Tidak Tuntas 62,5 Sumber : Data diolah Dari Hasil Ulangan Harian (2014
Data pada Tabel 14 menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa
menunjukkan hasil belajar yang mencapai 37,5% dari jumlah siswa
sementara 62,5% tidak tunntas pada pertemuan kedua dalam siklus I.
Hasil ulangan pada pertemuan ketiga dapat disajikan pada Tabel
Tabel 15. Hasil Belajar Siswa Pada Pertemuan III Siklus I
No. Nomor Siswa Skor/Nilai Keterangan
1 1 75 Tuntas
2 2 75 Tuntas
3 3 70 Tuntas
4 4 69 Tidak Tuntas
5 5 77 Tuntas
6 6 65 Tidak Tuntas
7 7 76 Tuntas
8 8 75 Tuntas
9 9 65 Tidak Tuntas
10 10 69 Tidak Tuntas
11 11 65 Tidak Tuntas
12 12 75 Tuntas
13 13 69 Tidak Tuntas
14 14 76 Tuntas
15 15 68 Tidak Tuntas
16 16 69 Tidak Tuntas
17 17 67 Tidak Tuntas
18 18 64 Tidak Tuntas
19 19 65 Tidak Tuntas
20 20 69 Tidak Tuntas
21 21 75 Tuntas
22 22 70 Tuntas
23 23 73 Tuntas
24 24 65 Tidak Tuntas
Jumlah 1.686
Rat-rata 70,25
Tuntas 11,0
Persentasi Tuntas 45,8 Tidak Tuntas 13,0 Persentasi Tidak Tuntas 54,2
Sumber : Data diolah Dari Hasil Ulangan Harian (2014)
Data pada Tabel 15 menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa
menunjukkan hasil belajar yang mencapai 45,8% dari jumlah siswa
sementara 54,2% tidak tunntas pada pertemuan tiga dalam siklus I. Hasil
evaluasi ketuntasan ini menunjukkan bahwa siswa yang melakukan proses
belajar dalam kelompok belum memperoleh ketuntasan belajar. Hal ini
keseluruhan kegiatan siklun belum tuntas baik aktivitas guru maupun
siswa.
e) Refleksi
Refleksi adalah koreksi-koreksi yang dilakukan terhadap
ketidakberhasilan guru dalam melaskanakan aktivitas di kelas dan
aktivitas serta hasil belajar siswa yang rendah. Hasil belajar yang tidak
tuntas disebabkan oleh adanya penetapan kriteria ketuntasan belajar PKn
yang tinggi yakni 70% sedangkan kemampuan siswa rata-rata adalah
65,08% dari 3 pertemuan yang dilakukan di SMK Negeri 1 Bombana
Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan. Aktivitas guru dengan
17 tindakan yang dilakukan di dalam kelas masih belum mencapai 90%
sebagai kriteria baik. Selain itu aktivitas siswa di kelas masih didominasi
oleh satu kelompok yang produktif. Dengan demikian perllu dilakukan
pengkajian kembali terhadap hasil belajar siswa dalam siklus kedua.
b. Siklus II
Penelitian ini belum menemukan hasil yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan untuk guru dan siswa. tindakan pada siklus I belum mewujudkan
ketuntasan dalam menerapkan model pembelajaran think pair share Dengan demikian pada siklus II, dilakukan berbagai perubahan yang berkaitan dengan
peningkatan hasil belajar.
1) Permasalahan
Permasalahan pada siklus II ini sama seperti pada siklus I dimana aktivitas
selain itu aktivitas belajar siswa dan hasil belajar juga berada pada kondisi
yang rendah atau berada di bawah batas ketuntasan yang ditetapkan. Sehingga
permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana meningkatkan aktivitas
guru PKn dan siswa di kelas X SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian
Teknologi Komputer Jaringan.
2) Rencana Tindakan
Berdasarkan masalah yang dikemuakan dalam siklus II ini, maka rencana
tindakan yang akan dilakukan adalah lanjutan melalui upaya guru untuk
menerapkan model pembelajaran think pair share (Berpikir, Berpasangan dan Berbagi). Rencana tindakan pada siklus II dilakukan dengan indikator yang
sama pada siklus I yakni berdasarkan pengamatan terhadap
indikator-indikator aktivitas guru dan aktivitas siswa di kelas.
Penerapan model pembelajaran think pair share lebih fokus pada aktivitas belajar berpasangan sehingga segala sesuatu diselesaikan di dalam kelas.
Siswa tidak melakukan presentase hasil diskusi di depan kelas berdasarkan
hasil yang mereka temukan tetapi siswa dibimbing untuk membangun kerja
sama dalam kelompok belajar guna meningkatkan hasil belajar dan menjadi
kriteria ketuntasan minimum 70.
Rencana tindakan pada aktivitas guru adalah mencapai kriteria 90%
sebagai yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Hal ini diimplementasikan
melalui pengamatan aktivitas guru di kelas dan aktivitas siswa dalam
siklus I sehingga diharapkan adalah perubahan atau peningkatan skor capaian
yang mengarahkan kepada ketuntusan belajar pada pelajaran PKn.
3) Tindakan
Tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah pengamatan aktivitas guru
dan siswa pada tiga pertemuan pembelajaran di kelas. Hasil pengamatan yang
dilakukan terhadap aktivitas guru dalam merencanakan kegiatan, kegiatan inti
dan kegiatan penutup Hal ini disajikan pada tiga pertemuan sebagai berikut :
a) Pertemuan I
Aktivitas guru pada siklus II menggunakan 17 indikator pengukuran
yang sama seperti pada siklus I dan pada tindakan ini kegiatan
pendahuluan. kegiatan inti dan kegiatan penutup adalah ukuran
keberhasilan guru dalam menerapkan model pembelajaran think pair
share. Tindakan yang dilakukan dalam pertemuan I sebanyak 17 tindakan untuk menyampaikan materi, melaksanakan pembelajaran dan melakukan
penilaian akhir sebagai evaluasi. Hasil pengamatan terhadap pertemuan I
tersebut disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 16 Hasil Pengamatan Aktivitas Guru di Kelas Pada Pertemuan I Siklus II
No. Aspek Yang Diamati Penelitian Nilai Kriteria Kegiatan Pendahuluan
1. Guru menyampaikan secara singkat tentang
pembelajaran think pair share 3 Baik 2. Guru melakukan apresiasi sesuai dengan topik 4 Sangat Baik 3. Guru mengecek kesiapan siswa 4 Sangat Baik 4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai
3 Baik
5. Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan
Kegiatan Inti
6. Guru menyajikan materi dengan singkat 4 Sangat Baik 7. Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan 4 Sangat Baik 8. Guru menjelaskan aktivitas siswa dengan pasangan
belajarnya
3 Baik
9. Guru membagi materi dalam bentuk LKS 4 Sangat Baik 10. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam belajar
dalam bentuk berpasangan 3 Baik 11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memecahkan masalah yang dihadapi 3 Baik 12. Guru meminta siswa untuk berpikir, berpasangan
dan berbagai dalam diskusi 3 Baik 13. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil
diskusi. 3 Baik
Kegiatan Penutup
14. Guru melakukan evaluasi 3 Baik 15. Guru bersama siswa menyimpulan materi pelajaran
yang diajarkan 4 Sangat Baik
16. Guru memberikan penghargaan kepada setiap pasangan
3 Baik
17. Guru memberi tugas/RP dan menyampaikan materi
untuk pertemuan berikutnya 3 Baik
Total 56
Persentase (%) 82,35 Sumber : Data diolaj (2014)
Tabel 16 menunjukkan hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dalam
penelitian ini diperoleh sebesar 82,35%, Idealnya adalah 90%. Hal ini
mengindikasikan ketuntasan minimum dalam pertemuan I di siklus II ini
belum tercapai karena masih ada tindakan guru yang berlangsung dengan
baik sehingga nilai yang diperoleh masih rendah sehingga perlu dilakukan
pertemuan kedua.
b) Pertemuan II
Kegiatan pengamatan dilakukan pada pertemuan kedua dalam siklis II
yang hasil pengalamatan disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 17 Hasil Pengamatan Aktivitas Guru di Kelas Pada Pertemuan II
1. Guru menyampaikan secara singkat tentang
pembelajaran think pair share 3 Baik 2. Guru melakukan apresiasi sesuai dengan topik 4 Sangat Baik 3. Guru mengecek kesiapan siswa 4 Sangat Baik 4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai 3 Baik
5. Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan
dengan materi yang akan disampaikan. 3 Baik Kegiatan Inti
6. Guru menyajikan materi dengan singkat 4 Sangat Baik 7. Guru mengorganisasikan siswa untuk
berpasangan 4 Sangat Baik
8. Guru menjelaskan aktivitas siswa dengan
pasangan belajarnya 3 Baik
9. Guru membagi materi dalam bentuk LKS 4 Sangat Baik 10. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam belajar
dalam bentuk berpasangan 4 Sangat Baik 11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memecahkan masalah yang dihadapi
4 Sangat Baik
12. Guru meminta siswa untuk berpikir, berpasangan
dan berbagai dalam diskusi 3 Baik 13. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan
hasil diskusi. 3 Baik
Kegiatan Penutup
14. Guru melakukan evaluasi 3 Baik 15. Guru bersama siswa menyimpulan materi
pelajaran yang diajarkan 4 Sangat Baik 16. Guru memberikan penghargaan kepada setiap
pasangan 3 Baik
17. Guru memberi tugas/RP dan menyampaikan
materi untuk pertemuan berikutnya 3 Baik
Total 59
Persentase (%) 86,76 Sumber : Data diolaj (2014)
Data pada Tabel 17 memperlihatkan aktivitas guru yang diamati dalam
penelitian ini menunjukkan tingkat persentase 86,76%, Idealnya adalah
90%. Dengan demikian, pertemuan ini mengalami kenaikan dari
pertemuan sebelumnya tetapi masih perlu dikembangkan pada beberapan
tindakan yang berhubungan dengan penerapan model pembelajaran think pair share.
Pertemuan II yang dilakukan guru di kelas, pada kegiatan pendahuluan
kesiapan siswa di kelas merupakan tindakan yang sangat baik dilakukan
oleh guru di kelas. Sementara itu masih ada 3 tindakan lain yang perlu
ditingkatkan.
Pada kegiatan inti, terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dengan
sangat baik yang menunjukkan adanya upaya guru untuk meningkatkan
penerapan model pembelajaran think pair share kepada siswa kelas X.
Pada kegiatan penutup, guru melakukan evaluasi terhadap kegiatan siswa
yang secara berpasangan dalam menjawab pertanyaan. Tanggung jawab
guru untuk melaksanakan kegatan pembelajaran dengan model think pair share telah mencapai 86,76%, namun demikian hasil tersebut belum
memenuhi kriteria ketuntasan minimum sehingga tindakan tersebut perlu
dilanjut pada pertemuan berikutnya.
c) Pertemuan III
Pengamatan pada pertemuan III merupakan lanjutan dari pertemuan II
dan hasil pengamatan yang dilakukan, disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 18 Hasil Pengamatan Aktivitas Guru di Kelas Pada Pertemuan III
No. Aspek Yang Diamati Penelitian Nilai Kriteria Kegiatan Pendahuluan
1. Guru menyampaikan secara singkat tentang
pembelajaran think pair share 4 Sangat Baik 2. Guru melakukan apresiasi sesuai dengan topik 4 Sangat Baik 3. Guru mengecek kesiapan siswa 4 Sangat Baik 4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai
4 Sangat Baik
5. Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan
dengan materi yang akan disampaikan. 4 Sangat Baik Kegiatan Inti
6. Guru menyajikan materi dengan singkat 4 Sangat Baik 7. Guru mengorganisasikan siswa untuk
berpasangan 4 Sangat Baik
pasangan belajarnya
9. Guru membagi materi dalam bentuk LKS 4 Sangat Baik 10. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam belajar
dalam bentuk berpasangan 4 Sangat Baik 11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memecahkan masalah yang dihadapi
4 Sangat Baik
12. Guru meminta siswa untuk berpikir, berpasangan
dan berbagai dalam diskusi 3 Baik 13. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan
hasil diskusi.
3 Baik
Kegiatan Penutup
14. Guru melakukan evaluasi 4 Sangat Baik 15. Guru bersama siswa menyimpulan materi
pelajaran yang diajarkan 4 Sangat Baik 16. Guru memberikan penghargaan kepada setiap
pasangan
4 Sangat Baik
17. Guru memberi tugas/RP dan menyampaikan
materi untuk pertemuan berikutnya 4 Sangat Baik
Total 65
Persentase (%) 95,59
Sumber : Data diolaj (2014)
Tabel 18 menunjukkan bahwa aktivitas guru yang diamati dalam
penelitian ini mencapai 93,8%, Idealnya 90%. Hasil dari pertemuan III
dalam siklus II telah mencapai kriteria yang ditetapkan sehingga dapat
dikatakan bahwa aktivitas guru dalam penerapan model pembelajaran
think pair share pada pelajaran PKn di kelas X dapat ditingkatkan.
Penerapan model pembelajaran think pair share meningkatkan
aktivitas mengajar guru dalam pembelajaran PKn SMK Negeri 1 Bombana
Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan Tengah Kabupaten
Bombana.
4) Observasi
Observasi pada siklus II terhadap aktivitas siswa di kelas X
dilakukan dengan membagi siswa secara berpasangan untuk belajar.
Kegiatan belajar dilakukan dalam 3 pertemuan.
Pengamatan ini ditujuan untuk mengetahui perkembangan aktivitas
siswa setelah melewati siklus I. Hasil pengamatan disajikan pada Tabel
berikut :
Tabel 19. Aktivitas Siswa Pada Pertemuan I
N o
Aspek Yang Diamati Pasangan dan Skor
A B C D E F G H I J K L 1 Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru 3 3 3 3 3 3 3
3 3 4 3 3
2 Siswa aktif dalam proses
belajar 3 3 3 3 3 2 3
3 4 4 2 3
3 Siswa saling berdiskusi dengan pasangan
3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3
4 Siswa saling membantu dan bekerja sama dengan pasangannya
3 2 2 3 3 3 3 3 4 2 3 3
5 Siswan dapat menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya
4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3
6 Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan pasangannya
3 2 3 2 2 2 4 2 3 3 2 3
Jumlah 19 16 17 17 17 16 19 17 2
1 20 16 18 Rata-rata 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 Sumber : Data Diolah dari (2014)
Tabel 19 menunjukkan bahwa keaktivan siswa dalam pasangan belajar
yang diamati melalui aspek-aspek yang ditetapkan diperoleh pasangan I
memberikan skor sebesar 21 yang merupakan skor tertinggi dalam
memperhatikan penjelasan singkat dari guru, aktif dalam proses belajar,
saling berbagi, saling membantu dan bekerja sama dalam belaja, dapat
menyimpulkan hasil belajar berpasangan, dan dapat mengelola waktu
belajar dengan baik. Sementara kelompok B, F dan K adalah pasangan
belajar dengan nilai terendah dengan skor 16.
Pengamatan keaktivan sistem pada pertemuan kedua dilakukan seperti
pada petermuan pertama dan hasil pengamatan diperoleh sebagai berikut :
Tabel 20. Aktivitas Siswa Pada Pertemuan II
No Aspek Yang Diamati Pasangan dan Skor
A B C D E F G H I J K L 1 Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru
3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3
2 Siswa aktif dalam
proses belajar 4 3 3 3 3 3 3
3 4 4 3 3
3 Siswa saling berdiskusi dengan pasangan
4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3
4 Siswa saling membantu dan bekerja sama dengan pasangannya
3 2 3 3 3 4 3 3 4 2 3 4
5 Siswan dapat menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya
4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4
6 Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan
pasangannya
4 3 3 2 2 3 4 3 3 3 4 3
Jumlah 22 17 18 17 17 19 19 18 22 21 19 2 0 Rata-rata 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 Sumber : Data Diolah dari (2014)
Tabel 20 menunjukkan bahwa keaktivan siswa dalam pasangan belajar
yang diamati melalui aspek-aspek yang ditetapkan diperoleh pasangan A
dan I memberikan skor sebesar 22 yang merupakan skor tertinggi dalam
memperhatikan penjelasan singkat dari guru, aktif dalam proses belajar,
saling berbagi, saling membantu dan bekerja sama dalam belaja, dapat
menyimpulkan hasil belajar berpasangan, dan dapat mengelola waktu
belajar dengan baik. Sementara pasangan belajar B, D dan F adalah
pasangan belajar dengan nilai terendah dengan skor 17.
Pengamatan keaktivan sistem pada pertemuan kedua dilakukan seperti
pada petermuan pertama dan hasil pengamatan diperoleh sebagai berikut :
Tabel 21. Keaktivan Siswa Dalam Pembelajaran Pada Pertemuan III
N
o Aspek Yang Diamati A B C D Pasangan dan SkorE F G H I J K L 1 Siswa memperhatikan
penjelasan singkat dari guru
4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
2 Siswa aktif dalam
proses belajar 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 Siswa saling berdiskusi
dengan pasangan
4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 3
4 Siswa saling membantu dan bekerja sama dengan pasangannya
4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3
5 Siswan dapat menyimpulkan hasil diskusi dengan pasangannya
4 4 3 3 4 4 3 4 3 3 3 3
6 Siswa dapat
mempresentasikan hasil belajar dengan
pasangannya
4 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 3
Jumlah 2
3 21 22 21 23 23 22 21 22 22 22 20 Rata-rata 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Sumber : Data Diolah dari (2014)
Tabel 21 menunjukkan bahwa keaktivan siswa dalam pasangan belajar
yang diamati melalui aspek-aspek yang ditetapkan diperoleh beberapa
pasangan yang memperoleh skor tertinggi yaitu pasangan A, E, dan F
sedangkan pasangan yang memberikan nilai rendah adalah pasangan L.
Berdasarkan hasil pengamatan di SMK Negeri 1 Bombana Program
Keahlian Teknologi Komputer Jaringan, diperoleh bahwa pasangan A, E,
dan F adalah pasangan belajar yang aktif sedangkan pasangan C, D, B, G,
H, I, J, K, dan L adalah pasangan belajar yang pasif. Tingkat aktivitas
siswa dalam penelitian dapat disajikan pada Tabel berikut :
No
. PasanganBelajar PerolehanSkor IdealSkor Persentase Keterangan
1. A 23 24 95,8 Tertinggi
2. B 21 24 87,5 Sedang
3. C 22 24 91,7 Sedang
4. D 21 24 87,5 Sedang
5. E 23 24 95,8 Tertinggi
6. F 23 24 95,8 Tertinggi
7. G 22 24 91,7 Sedang
8. H 21 24 87,5 Sedang
9. I 22 24 91,7 Sedang
10. J 22 24 91,7 Sedang
11. K 22 24 91,7 Sedang
12. L 20 24 83,3 Terendah
Sumber : Data Diolah (2013)
Tabel 22 menunjukkan bahwa aktivitas siswa di dalam kelompok
belajar mencapai 95,8% lebih besar dari 83,3%. Hal ini mengindikasikan
bahwa pada siklus II terjadi peningkatan kemampuan siswa dimana siswa
memperhatikan penjelasan singkat dari guru, siswa aktif dalam proses
belajar, siswa berpikir, berpasangan dan berbagi dengan siswa dapat
mengelola waktu belajar dengan baik.
5) Evaluasi
Hasil aktivitas guru dikelas menunjukkan nilai yang mencapai
95,59% dan aktivitas belajar siswa 95,83 yang berarti bahwa aktivitas
guru dan siswa sudah mencapai kriteria yang ditetapkan sehingga aktivitas
guru dan siswa di kelas X dapat ditingkatkan. Aktivitas siswa yang telah
mencapai hasil yang baik, dapat dirujuk dengan nilai hasil ulangan harian
pada pertemuan I, II dan III.
Pelaksanaan evaluasi pada siklus II dalam penelitian ini diukur dengan
hasil ulangan harian yang dilakukan dalam 3 kali pertemuan. Proses
evaluasi dilakukan pada setiap akhir belajar dengan maksud agar siswa
dapat menyelesaikan pertanyaan dengan baik melalui model think pair share. Nilai-nilai dari pertemuan I, II dan III akan menunjukkan adanya
perubahan daya serap yang menggambarkan adanya penerapan model
pembelajaran think pair share. Evaluasi terhadap hasil ulangan pada
pertemuan I diperoleh dari 24 orang sisa berupa nilai yang bervariasi.
Kemampuan siswa untuk memperoleh nilai dalam ulangan yang
dilakukan oleh guru PKn di kelas X menunjukkan adanya perubahan daya
serap siswa terhadap pelajaran yang diberikan guru. Hasil ulangan siswa
dapat disajikan sebagai berikut :
Tabel 23. Hasil Belajar Siswa Pada Pertemuan I
No. Nomor Siswa Skor/Nilai Keterangan
1 1 75 Tuntas
2 2 75 Tuntas
3 3 70 Tuntas
4 4 69 Tidak Tuntas
5 5 77 Tuntas
6 6 65 Tidak Tuntas
7 7 76 Tuntas
8 8 75 Tuntas
9 9 65 Tidak Tuntas
10 10 69 Tidak Tuntas
11 11 74 Tuntas
12 12 75 Tuntas
13 13 69 Tidak Tuntas
14 14 76 Tuntas
15 15 68 Tidak Tuntas
16 16 69 Tidak Tuntas
18 18 64 Tidak Tuntas
19 19 80 Tuntas
20 20 78 Tuntas
21 21 75 Tuntas
22 22 70 Tuntas
23 23 73 Tuntas
24 24 75 Tuntas
Jumlah 1.729
Rat-rata 72,04
Tuntas 14,0
Persentasi Tuntas 58,3 Tidak Tuntas 10,0 Persentasi Tidak Tuntas 41,7
Sumber : Data Diolah Dari Hasil Ulangan Harian (2013)
Tabel 23 memperlihat hasil ulangan harian siswa terhadap pelajaran
PKn di SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer
Jaringan. Persentase ketuntasan mencapai 58,3 persen sedangkan
persentase ideal adalah 70% hal ini menunjukkan bahwa masih ada siswa
yang belum mampu memberi jawaban yang tepat dalam ulangan harian
sehingga perlu dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.
b) Pertemuan II.
Dalam pertemuan II, guru melakukan evaluasi dengan memberikan
ulangan harian dengan materi PKn yang sama pada pertemuan
sebelumnya. Hasil belajar siswa pada pertemuan kedua disajikan sebagai
berikut :
Tabel 24. Hasil Belajar Siswa Pada Pertemuan II
No. Nomor Siswa Skor/Nilai Keterangan
1 1 87 Tuntas
2 2 85 Tuntas
3 3 70 Tuntas
4 4 69 Tidak Tuntas
5 5 77 Tuntas
7 7 76 Tuntas
8 8 75 Tuntas
9 9 75 Tuntas
10 10 80 Tuntas
11 11 85 Tuntas
12 12 75 Tuntas
13 13 69 Tidak Tuntas
14 14 76 Tuntas
15 15 68 Tidak Tuntas
16 16 69 Tidak Tuntas
17 17 67 Tidak Tuntas
18 18 75 Tuntas
19 19 80 Tuntas
20 20 78 Tuntas
21 21 75 Tuntas
22 22 80 Tuntas
23 23 86 Tuntas
24 24 80 Tuntas
Jumlah 1.837
Rat-rata 76,54
Tuntas 19,0
Persentasi Tuntas 79,2
Tidak Tuntas 5,0
Persentasi Tidak Tuntas 20,8 Sumber : Data dioleh (2013)
Tabel 24 memperlihat hasil ulangan harian siswa mencapai 79,2
persen sedangkan persentase ideal adalah 70%. Hal ini sudah tercapai
tetapi masih ada siswa yang belum menunjukkan peningkatan hasil
belajar sehingga perlu dilakukan tindakan lanjutan.
c) Pertemuan III
Dalam pertemuan III, guru melakukan evaluasi dengan memberikan
ulangan harian dengan materi PKn yang sama pada pertemuan
sebelumnya. Hasil belajar siswa pada pertemuan kedua disajikan sebagai
berikut :
Tabel 25. Hasil Belajar Siswa Pada Pertemuan III
No. Nomor Siswa Skor/Nilai Keterangan
2 2 85 Tuntas
3 3 70 Tuntas
4 4 69 Tidak Tuntas
5 5 77 Tuntas
6 6 80 Tuntas
7 7 76 Tuntas
8 8 75 Tuntas
9 9 75 Tuntas
10 10 80 Tuntas
11 11 85 Tuntas
12 12 79 Tuntas
13 13 79 Tuntas
14 14 80 Tuntas
15 15 70 Tuntas
16 16 69 Tidak Tuntas
17 17 67 Tidak Tuntas
18 18 80 Tuntas
19 19 85 Tuntas
20 20 78 Tuntas
21 21 75 Tuntas
22 22 85 Tuntas
23 23 87 Tuntas
24 24 83 Tuntas
Jumlah 1.877
Rat-rata 78,21
Tuntas 21,0
Persentasi Tuntas 87,5
Tidak Tuntas 3,0
Persentasi Tidak Tuntas 12,5 Sumber : Data diolah (2014)
Tabel 25 memperlihat hasil ulangan harian siswa terhadap pelajaran
PKn di SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer
Jaringan. Persentase ketuntasan mencapai 87,5 persen dan lebih besar dari
70 % yang berarti bahwa hasil belajar siswa telah mencapai tingkat
ketuntasan belajar. Idealnya hasil belajar siswa mencapai persentase
ketuntasan
6) Refelsi
Hasil belajar yang tuntas menunjukkan adanya pencapaian kriteria
ketuntasan belajar PKn yang tinggi yakni 70 sedangkan kemampuan siswa
Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan. Aktivitas guru
dengan 17 tindakan yang dilakukan di dalam kelas mencapai 95,59%
sebagai kriteria baik. Selain itu aktivitas siswa di kelas berpikir,
berpasangan, dan berbagi. Dengan demikian keberhasilan dalam model
pembelajaran think pair share dapat diterapkan dengan baik pada
pelajaran PKn sebagai ilmu pengetahuian yang mempelajari tentang
hubungan antara siswa belajar dan berpasangan untuk menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi.
Penerapan model pembelajaran think pair share meningkatkan aktivitas mengajar guru dalam pembelajaran PKn SMK Negeri 1
Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer Jaringan Tengah
Kabupaten Bombana begitu pula hasil evaluasi menunjukkan bahwa
penerapan model pembelajaran think pair share meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PKn SMK Negeri 1 Bombana Program
Keahlian Teknologi Komputer Jaringan dan penerapan model
pembelajaran think pair share meningkatkan hasil belajar PKn siswa SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer
Jaringan.
3. Kendala-Kendala Yang dialami guru dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
Penelitian yang dilakukan pada kelas X SMK Negeri 1 Bombana Program
Keahlian Teknologi Komputer dan Jaringan dengan tujuan untuk menerapkan
dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share di dalam upaya meningkatkan hasil belajar PKn antara lain :
a. Kurangnya referensi
Referensi adalah buku-buku atau bahan pelajaran yang
berhubungan dengan materi pelajaran PKn yang menyebabkan guru
mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan ajar yang lebih memadai
untuk menerangkan materi supra struktur dan infra struktur politik.
Keterbatasan referensi ini membuat materi pelajaran lebih banyak
menggunakan metode ceramah di depan kelas.
Kendala kurangnya referensi membuat proses pembelajaran lebih
banyak dikuasai oleh guru dan siswa menjadi pasif sehingga hasil belajar
siswa tergantung pada kecakapan guru dalam menyampaikan materi di
kelas dengan gaya mengajar yang dimilikinya.
b. Media pembelajaran
Dalam penerapan model pembeljaran think pair share, selain
referensi yang kurang, media pembelajaran menjadi bagian penting yang
dapat mendorong guru untuk menggunakan alat peraga walaupun di dalam
pelajaran PKn. Setiap pelajaran yang diajarkan membutuhkan media
pembelajaran dan peranannya sangat signifikan atau nyata terhadap daya
serap siswa.
Bagi siswa yang tidak memahami kalimat dari seorang guru dalam
mengamati alat peraga atau media yang digunakan dan mudah
menjelaskan materi pelajaran supra struktur dan infra struktur politik.
Keterbatasan media pembelajaran PKn ini menjadi kendala bagi
pengembangan pembeljaran PKn dengan model think pair share. c. Jam pelajaran yang terbatas
Setiap pelajaran memiliki jadwal yang ditetapkan dan diatur untuk
setiap kelas menurut jam pelajar dan setiap mata pelajaran diberi waktu 45
menit. Setiap guru menghabiskan separuh waktu mengajarnya untuk
mengatur kelas sehingga materi pelajaran tidak dapat diselesaikan secara
efektif.
Waktu pembelajaran di setiap sekolah telah diatur dalam kurikulum
pembelajaran dan telah disetujui oleh semua pihak di sekolah sehingga
waktu belajar tidak dapat dirubah sesuai keinginnan guru. Hal ini
membuat waktu belajar yang efektif berada pada kekuarangan jam
pelajaran. hasil pengamatan di lapangan diperoleh bahwa kelas X SMK
Negeri 1 Program Keahlian Teknologi Komputer dan Jaringan lebih
mengutakan praktek komputerisasi dengan jam pelajaran yang lebih lama
dibanding pelajaran lainnya.
4. Kendala-Kendala Yang dialami siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
Hasil penelitian yang dilkaukan di kelas X SMK Negeri 1 Bombana
program keahlian Teknologi Kompoter dan Jaringan diperoleh beberapa
kendala yang dialami siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe Think-Pair-Share yaituminat belajar, kemampuan kerja sama, partisipasi
a. Minat belajar
Minat belajar siswa adalah kemauan siswa untuk belajar di skolah
maupun di rumah terhadap setiap pelajaran yang diajarkan. Hasil
pengamatan di lapangan diperoleh bahwa siswa kurang berminat pada
beberapa mata pelajaran tertentu seperti PKn yang lebih cenderung pada
kajian dan tidak semua siswa memiliki kemampuan untuk menghafat akan
memamahi teori yang diajarkan, mereka cenderung belajar untuk praktek
sesuai dengan program keahlian teknologi komputer jaringan.
Minat belajar siswa yang rendah berpengaruh kepada hasil belajar
yang diperoleh siswa. Hal ini nampak pada hasil evaluasi dalam siklus I
dimana siswa memperoleh nilai yang relatif di bawah 70. Kenyataan ini
diperburuh dengan kondisi siswa yang belum mampu belajar dengan
model-model pembelajaran yang dikembangkan oleh guru PKn di SMK
Negeri 1 Bombana.
b. Kemampuan kerja sama
Kerja sama dalam penelitian ini adalah kerja sama antara siswa
yang dibentuk dengan pasangan belajar dalam model pembelajaran think
pair share. Siswa tidak memahami tujuan pembentukan pasangan dalam belajar sehingga menjadi kendala dalam belajar PKn. Banyak siswa yang
mengandalkan kebiasaan belajar sendiri atau mandiri untuk menghadapi
setiap pelajaran sekalipun hasil belajar mereka rendah.
Hasil pengamatan di SMK Negeri 1 Bombana, bahwa pada
diharapkan, tetapi dalam beberapa mata pelajaran, siswa sangat sulit
diarahkan untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah dari mata
pelajaran yang diajarkan sehingga kemampuan kerja sama ini menjadi
salah satu kendala dalam model think pair share. c. Partisipasi dalam belajar
Keikutsertaan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat
dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Namun
demikian tidak semua siswa memiliki partisipasi pada mata pelajaran PKn,
selain itu sosialisasi model pembelajaran think pair share tidak dilakukan
dengan baik sehingga partisipasi siswa untuk belajar berpasangan sangat
kurang.
Partisipasi untuk belajar didukung dengan kerja sama dan
partisipasi siswa tetapi hasil pengamatan di kelas X diperoleh bahwa guru
hanya memberikan apresiasi untuk belajar tetapi tidak mensosialisasi
model pembelajaran think pair sehare sehingga tingkat partisipasi siswa
untuk belajar PKn dengan model think pair share menjadi salah satu kendala yang mempengaruhi penerapan model pembelajaran tersebut di
kelas X SMK Negeri 1 Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer
Jaringan.
d. Rendahnya daya serap
Hal penting yang menjadi kendala dalam penerapan model
pembelajaran think pair share lainnya adalah daya serap atau kemampuan
yang ada di kelas X hanya sebagian kecil yang memiliki daya serap yang
baik artinya mereka dapat menerima pelajaran yang diajarkan guru di
kelas.
Hasil pengamatan di kelas X, diperoleh bahwa sebagian besar
siswa terfokus pada pelajaran komputer sesuai dengan program yang
dipilihnya untuk menjadi tenaga komputer dan mengabaikan pelajaran
lainnya. Hal ini menjadi kendala dalam penerapan model think pair share.
Selain itu nilai ulangan harian yang diperoleh siswa tidak mencapai
kriteria yang ditetap sehingga guru dianggap tidak mampu menerapkan
model pembelajan think pair share yang menunjukkan ketidaktuntasan
guru dalam pembelajaran PKn di kelas X.
5. Upaya-upaya dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala yang dialami
guru dan siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share sehingga hasil belajar PKn pada siswa kelas X SMK Negeri 1
Bombana Program Keahlian Teknologi Kompoter dan Jaringan dapat
ditingkatkan melalui:
a. Sosialisasi model pembelajaran
Upaya yang dilakukan oleh setiap guru dalam menerapkan model
pembelajaran think pair share adalah melalui sosialisasi model
1) Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan
pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau
isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2) Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan
menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang
akan disampaikan
3) Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk
mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama.
Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan
jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban
yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik.
Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
4) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan
jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat
dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil
pemikiranyya masing-masing
5) Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut
mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa
untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat
dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal latihan atau
6) Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi
dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan.
Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan
menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil
kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga
sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk
melaporkan.
7) Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara
individual atau kelompok didepan kelas
8) Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
hasil pemecahan masalah ang telah mereka diskusikan.
b. Pembentukan pasangan belajar siswa
Berpikir, berpasangan dan berbagi dalam model pembelajaran
merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat memudahkan siswa
untuk menyelesaikan permasalahan dengan sekan sekelas secara
berpasangan. Model pembelarajan berpasangan ditentukan oleh guru
diawal pembelajaran dengan menentukan siswa mampu dan kurang
mampu berpasangan kemudian guru mengapresiasian tujuan pembelajaran
yang disertai dengan tujuan pembelajaran . setiap siswa akan berpasangan
dan jika nilai telah memenuh kriteria ketuntasan belajar, guru mengatur
ulang pasangan belajar sehingga semua siswa dapat berganti pasangan
dalam belajar.
Saran dan prasarana pembelajaran merupakan media yang sangat
dibutuhkan untuk memberikan ketegasan terhadap materi pelajaran yang
diajarkan di kelas. Penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran menjadi
tanggung jawab kepala sekolah, tetapi guru PKn juga dapat membantu
menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang dibuat sendiri yang
sesuai dengan tujuan pembelajaran di kelas.
Penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran dapat membangun
komunikasi media kepada siswa sehingga melalui media pembelajaran
tersebut siswa dapat membentuk pemikiran sendiri dan dapat belajar
dengan baik. Selain itu siswa juga memiliki kesempatan untuk mencari
dan membuat sarana dan prasarana pembelajaran. Dengan demikian
penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran menjadi bagi penting
dalam upaya meningkatkan hasil belajar PKn di kelas X SMK Negeri 1
Bombana Program Keahlian Teknologi Komputer dan Jaringan.
B. Pembahasan
Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa, aktiivtas
belajar dan aktivitas mengajar guru dapat meningkat melalui penerpaan model
pembelajaran think pair share.
1. Aktivitas mengajar guru dalam penerapan model pembelajaran think pair share.
Hasil penelitian yang dikaji dengan penelitian tindakan kelas diperoleh
bahwa penerapan model pembelajaran think pair share pada siklus I selama 3
pada siklus I yang dilakukan dari tahapan penyusunan masalah, rencana
tindakan, tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi tidak tuntas dalam
menerapkan model pembelajaran think pair share. karena adanya kendala-kendala seperti kurangnya referensi, tidak adanya media pembelajaran yang
memadai dan jam pembelajaran PKn yang terbatas, menunjukkan bahwa guru
dalam melaksanakan pembelajaran PKn Namun dalam demikian pada siklus
II, guru berupaya untuk meningkatkan aktivitas mengajar dengan model think
pair share.
Pada siklus II guru melanjutkan 17 tindakan yang dilakukan pada siklus I
dengan materi pelajaran yang sama yaitu supra struktur dan infra struktur
politik dan hasil yang dicapai pada pertemuan yang ketiga dalam siklus II
adalah 95,59 persen. Persentasi capaian ini menunjukkan bahwa aktivita guru
dalam menerapkan model think pair share mengalam peningkatan. Ukurannya adalah perubahan nilai tindakan dalam setiap pertemuan yang dilakukan guru
di kelas X.
Menurut pendapat Nasution (1997:34) belajar juga merupakan suatu
bentuk perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam tingkah laku,
bakat, pengalaman, keahlian, keberhasilan, keterampilan dan kesanggupan
menghargai perkembangan sikap-sikap sosial, emosional dan pertumbuhan
jasmani. Pendapat ini menunjukkan kemampuan seorang guru dalam belajar
untuk menyiapkan diri untuk melaksanakan proses pembelajaran dan
Pendapat Nasution yang dikemukakan tersebut mengarah kepada guru
untuk membangun kompetensi diri dalam menerapkan model pembelajaran
think pair share. Aktivitas guru didukung dengan tingkah laku, bakat, pengalaman, keahlian, keberhasilan, keterampilan dan kesanggupan
menghargai perkembangan sikap-sikap sosial, emosional dan pertumbuhan
jasmani. Hal ini yang membuat guru sanggup melakukan perubahan dalam
meningkatkan aktivitas mengajar untuk menerapkan model think pair share.
Pendapat dari Bloom (1997:57) tentang tujuan langsung pendidikan
adalah perubahan kualitas, kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
Peningkatan ini tidak sekedar meningkatkan belaka tetapi peningkatan yang
hasilnya dapat dipergunkan untuk meningkatkan taraf