BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Globalisasi merupakan proses yang tidak dapat dihindari, globalisasi memiliki impact bagi semua bidang dari sosial, ekonomi hingga politik. Dalam bidang politik sendiri, globalisasi tentunya memiliki dampak yang cukup besar terutama bagi negara-negara demokrasi. Konsep globalisasi yang neo-liberal tentunya kurang relevan bagi negara-neara demokrasi. Demokrasi yang digadang-gadang merupakan konsep terbaik bagi semua organisasi kini telah banyak di klaim oleh banyak negara artinya kini banyak negara yang mengakui bahwa dirinya merupakan negara demokrasi. Walaupun negara-negara tersebut hanya sekedar melaksanakan standar minimal sebagai negara demokrasi yaitu melakukan pemilihan umum dan melakukan pergantian pemimpin secara berkala.
Di era serba global ini, isu mengenai demokrasi menjadi sangat krusial untuk diperbincangkan karena beberapa alasan. Alasan yang pertama yaitu pergeseran kekuasaan mendorong pentingnya melakukan redefinisi atas peran negara. Jika entitas negara menjadi “ruang politik” demokrasi, maka transformasi politik akibat globalisasi pastinya mendorong pentingnya diskusi mengenai krisis demokrasi yang diakibatkan oleh globalisasi. Alasan selanjutnya adalah, dengan menguatnya tatanan neoliberal yang menciptakan kemiskinan dan ketimpangan dalam skala luas. Jika kondisi sosio-ekonomi merupakan variabel atau faktor penting yang harus dipertimbangkan ketika membahas demokrasi, maka neoliberal tentunya berkontribusi dalam hal ini.
daripada yang positif dikarenakan adanya dunia ketiga. Di bidang sosio-ekonomi Indonesia telah menerima banyak dampak dari adanya globalisasi ini. Sedangkan di bidang politik Indonesia juga tidak lepas dari adanya demokrasi. Kemunduran demokrasi atau dapat dikatakan krisis demokrasi di Indonesia apabila ditelusuri memang lebih banyak dipengaruhi oleh adanya globalisasi sekarang ini. Oleh karena itu, krisis demokrasi yang diakibatkan oleh globalisasi penting untuk dikaji lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana globalisasi dapat mempengaruhi sistem demokrasi sehingga dapat menyebabkan krisis demokrasi di Indonesia?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat pelaksanaan tugas mata kuliah Teori Sosial dan Politik dengan topik mengenai sosial dan politik. Berdasarkan topik tersebut saya mengambil judul “Krisis Demokrasi Akibat Globalisasi di Indonesia”.
Melalui paper ini, kami mencoba untuk memberikan pengetahuan mengenai “Demokrasi di Indonesia”. Selain, tujuan dari penulisan makalah ini untuk memberikan pengetahuan tentang globalisasi yang dapat mempengaruhi sistem demokrasi sehingga dapat menyebabkan krisis demokrasi di Indonesia.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Demokrasi
Secara etimologis “demokrasi” terdiri dari 2 kata bahasa Yunani, yaitu demos yang artinya rakyat atau penduduk suatu tempat dan cratein atau cratos yang artinya kekuasaan atau kedaulatan, maka demokrasi dapat diartikan suatu sistem pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Pengertian Demokrasi secara terminologi adalah sebagai berikut:
1. Demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik dimana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat (Joseph A. Schmeter)
2. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung maupun tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa (Sidney Hook) menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik (Henry B. Mayo)
Terdapat 3 faktor yang menjadi tolok ukur umum dari suatu pemerintahan yang demokratis, tolok ukur tersebut antara lain:
1. Pemerintahan dari rakyat (government of the people)
Pemerintahan yang sah adalah suatu pemerintahan yang mendapat pengakuan dan dukungan mayoritas dari rakyat melalui mekanisme demokrasi, pemilihan umum.
2. Pemerintahan oleh rakyat (government by the people)
3. Pemerintahan untuk rakyat (government for the people)
Kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah harus dijalankan untuk kepentingan rakyat.
B. Pengertian Globalisasi
Ada 3 pandangan kelompok yang berbeda mengenai globalisasi yaitu kelompok hiperglobalis, transformasionalis dan skeptis. Menurut kelompok hiperglobalis, globalisasi merupakan sejarah baru kehidupan besar manusia dimana negara tradisional telah menjadi tidak lagi relevan, apalagi menjadi tidak mungkin menjadi unit-unit bisnis dalam sebuah ekonomi global. Kelompok ini juga berpendapat bahwa globalisasi ekonomi tengah membangun bentuk-bentuk baru organisasi sosial yang tengah menggantikan atau yang akhirnya akan menggantikan negara bangsa sebagai lembaga ekonomi utama dan unit politik masyarakat yang ada di seluruh dunia.
Kelompok selanjutnya yaitu kelompok skeptis. Kelompok skeptis mengungkapkan bahwa globalisasi yang diungkapkan oleh kaum hiperglobalis terlalu berlebihan. Mereka beranggapan bahwa ekonomi akan lebih didominasi ‘regionalisasi’ dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di dunia dapat memarginalkan negara-negara dunia ketiga karena predagangan dan investasi hanya mengalir di negara-negara kaya.
Kelompok ketiga yang memberikan pendapatnya tentang globalisasi adalah kelompok tarnsformasionalis. Kelompok ini berpendapat bahwa globalisasi dapat memberikan perubahan di bidang sosial, ekonomi dan politik yang tengah menentukan kembali masyarakat modern dan tatanan dunia (world order) yang berakibat pada tidak ada kejelasan mengenai antara internasional dan domestik serta hubungan internal dan eksternal. Hal ini berarti, kelompok transformasionalis mengartikan globalisasi menyebabkan dunia tanpa adanya batas negara lagi.
BAB III
PEMBAHASAN
Selain dampak negatif, globalisasi juga memberikan dampak positif bagi demokrasi. Globalisasi informasi yang telah terjadi mendorong berbagai negara untuk menjadi negara demokrasi, jadi globalisasi membantu menyebarkan gagasan-gagasan atau nilai-nilai tentang demokrasi. Hal ini terbukti dengan banyaknya negara yang memproklamirkan diri sebagai negara demokrasi. Selain itu, globalisasi informasi demokrasi ini mendorong kekuatan-kekuatan nonpemerintah yang terlibat aktif dalam mendorong demokrasi politik. Konferensi dan seminar antar gerakan demokrasi seluruh dunia telah banyak dilakukan dan telah menjadi inspirasi bagi negara-negara otoriter, misalnya Gerakan Pink Tide di Amerika Latin yang mengilhami dan mendorong Venezuela dan Kolombia untuk melawan neoliberalisme.1
Negara demokrasi membutuhkan pendalaman demokrasi itu sendiri, inilah pendapat dari Anthony Giddens yang berarti bahwa suatu masyarakat yang mengaku dirinya merupakan negara demokratis haruslah memahami makna demokrasi itu sendiri jadi tidak ada kesalahan yang terjadi di sistem negara tersebut. Di era serba globalisasi ini tentunya sangat mudah mendapatkan informasi tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi yang sebenarnya apalagi ditambah dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Yang coba saya tekankan disini adalah bahwa pemerintah maupun rakyat dapat memperoleh informasi yang sama. Hal ini mengindikasikan dengan adanya kesetaraan, kesetaraan sendiri merupakan salah satu konsep dari demokrasi. Dengan kata lain, globalisasi juga dapat menimbulkan adanya demokrasi.
Dampak positif globalisasi yang positif sendiri juga dirasakan oleh Indonesia, dengan adanya globalisasi Indonesia menjadi lebih demokratis. Tentunya masih cukup hangat di ingatan tentang peristiwa tahun 1999 dimana pemilihan umum diadakan pertama kali setelah masa otoriter Orde Baru. Pada saat itu terjadi perubahan struktur politik secara substansial, pemilihan umum setelah lebih dari 30 tahun masa Orde Baru dimana partai politik dibatasi. Amandemen yang dilakukan sebagai akibat dari tuntutan demonstrasi pada saat itu menciptakan sistem pemilihan presiden secara langsung sehingga presiden
Yossina Putri H.S. Page 6
bertanggung jawab kepada rakyat. Maka dapat disimpulkan globalisasi yang mengakibatkan krisis moneter justru dapat membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis.
Indonesia kini juga sedang mengalami demokrasi, berdasarkan pengertian globalisasi yang diungkapkan ketiga kelompok yang telah dijelaskan di bab II saya mencoba membandingkan dengan realita yang kini terjadi di Indonesia karena pada dasarnya pengertian yang diungkapkan ketiga kelompok yang memiliki sudut pandang berbeda tersebut benar adanya. Kelompok pertama yaitu hiperglobalis menyebutkan bahwa dalam globalisasi ini pemerintah tidak lebih dari sekedar transmissions belts. Masyarakat Ekonomi ASEAN yang Indonesia menjadi salah satu negara anggotanya tentunya akan terjadi perdagangan bebas sehingga masyarakat negara satu dapat berbisnis dengan masyarakat negara lain dengan mudah, dalam hal ini tentunya peran pemerintah sangatlah kecil dalam prosesnya.
Pendapat kelompok yang selanjutnya yaitu kelompok skeptis. Kelompok skeptis berpendapat bahwa globalisasi berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang memarginalkan negara-negara dunia ketiga. Hal ini terlihat dari Indonesia yang menjadi sasaran empuk bagi para investor asing untuk menanamkan modal dan mengembangkan bisnis mereka ke Indonesia dikarenakan kekayaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia dan pola masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif.
sempat terputus. Salah satu cara yang akan digunakan pemerintah adalah penggunaan free visa untuk masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak ada lagi batas negara yang diterapkan jika kebijakan ini benar diterapkan.
Terdapat 2 perbedaan pendapat tentang dampak globalisasi bagi demokrasi, pendapat pertama menyebutkan bahwa globalisasi dapat mengancam demokrasi sedangkan pendapat lainnya menyebutkan bahwa globalisasi dapat mengembangkan demokrasi. Globalisasi akan dianggap pendorong atau penghambat demokrasi tergantung pada apakah globalisasi mendorong terciptanya otonomi dan kesetaraan yang lebih luas diantara Individu atau masyarakat.2 Globalisasi akan dianggap sebagai pendorong demokrasi jika dapat
memperluas kesetaraan dan otonomi sedangkan jika hanya menghambat adanya kesetaraan dan otonomi maka globalisasi dianggap sebagai ancaman bagi demokrasi karena bagaimanapun otonomi dan kesetaraan merupakan salah satu kriteria utama dalam demokrasi.
Globalisasi dapat mengancam demokrasi apabila perusahaan-perusahaan multinasional mempresentasikan dirinya menjadi kekuatan ekonomi dan politik. Perusahaan-perusahaan inilah yang berkuasa dan melakukan pembajakan yang tengah berlangsung. Kekuatan politik memang sudah biasa bekerja sama dengan kekuatan ekonomi karena semakin besar kekuatan ekonomi semakin besar pemain-pemain yang dominan dan semakin terkonsentrasi kekuatan-kekuatan politik ditangan korporasi-korporasi besar. Semakin besar kekuatan politik korporasi dan pihak-pihak yang bersekutu maka semakin lemah kekuatan politik rakyat dan semakin lunturlah makna demokrasi.3 Menurut Robert Dahl, ketimpangan sumber daya sosial dan ekonomi memang cenderung menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap persamaan politik sehingga tidak sesuai dengan konsep demokrasi yang menjunjung kesetaraan.
Globalisasi menyebabkan menguatnya kekuasan ekonomi maupun politik untuk segelintir orang. Perusahaan multinasional dan transnasional yang semakin
Yossina Putri H.S. Page 8
Budi Winarno, 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer. Yogyakarta: CAPS, hal. 127.
3 Puji Rianto, 2004. Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi dan Krisis Demokrasi. Jurnal Ilmu Sosial dan
menguat bukan hanya mempengaruhi pemerintah namun juga mempengaruhi lembaga-lembaga multilateral seperti IMF, World Bank dan WTO. Seperti yang kita tahu bahwa lembaga multilateral tersebut merupakan ‘aktor penguasa’ yang mempresentasikan diri yang memiliki kekuasaan melebihi negara bangsa dan masyarakat dunia. Indonesia yang hanya merupakan dunia ketiga tentunya tidak akan lepas dari dikte yang dilakukan oleh lembaga-lembaga multilateral tersebut, lembaga-lembaga multilateral tersebut tentunya sangat mempengaruhi keadaan politik dan kebijakan di Indonesia. Salah satu kebijakan yang merupakan salah satu dikte dari World Bank atau Bank Dunia adalah kebijakan privatisasi air yang pada Februari 2015 yang lalu dibatalkan bersamaan dengan berakhirnya perjanjian pengembalian hutang kepada World Bank selama 15 tahun.
Globalisasi juga dapat mengancam tujuan dan cara terpenting dalam pembangunan, menurut Sen perluasan kemerdekaan yang merupakan tujuan dan cara terpenting dalam pembangunan tersebut biasa disebut sebagai ‘peran konstitutif’ dan ‘peran instrumental’. Peran konstitutif yang dimaksud disini secara substansial dapat diartikan sebagai kemerdekaan yang sesungguhnya, kemerdekaan sesungguhnya dapat berupa mencegah pengurangan hak-hak dasar seperti kelaparan, kekurangan gizi dan kematian usia dini, pendidikan, kesetaraan dalam bidang politik, kebebasan berbicara dan lain sebagainya. Dengan adanya globalisasi tentunya hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja dan merugikan pihak yang lainnya, secara otomatis akan terjadi ketimpangan sehingga pihak yang berbeda ini akan memiliki hak dasar yang berbeda. Pihak yang memiliki kendali dalam globalisasi dapat memiliki hak dasar yang lebih banyak sedangkan pihak lainnya hak dasar mereka dapat dirampas oleh pihak yang memiliki kendali tersebut. Kemerdekaan-kemerdekaan instrumental mengandung lima pokok yaitu kemerdekaan politik, kemudahan-kemudahan ekonomi, peluang-peluang sosial, jaminan-jaminan keterbukaan dan perlindungan keamanan. Dengan adanya globalisasi telah dijelaskan diatas tentunya akan mengurangi kemudahan dalam ekonomi, ekonomi yang dikuasai beberapa pihak tentunya hanya akan mengakibatkan kesulitan bagi masyarakat. Hal ini terjadi ketika ada privatisasi, contohnya adalah privatisasi air yang ada di Klaten yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan kelangkaan air bagi masyarakat Klaten dan sekitarnya. Selain itu, masyarakat yang seharusnya dapat menikmati air yang berada di lingkungan tempat tinggalnya dengan bebas kini harus membayar dengan harga tinggi demi mendapatkan air tersebut padahal seperti yang kita ketahui air adalah kebutuhan dasar manusia. Hal ini berdampak pada ekonomi masyaakat tersebut, jika mereka harus menghabiskan uang mereka hanya untuk membeli air maka mereka tidak akan dapat mengembangkan status ekonomi mereka sendiri.
Apabila dilihat dari tujuan pembangunan diatas, maka globalisasi hanya akan menimbulkan ketimpangan dalam distribusi pendapatan dan meluasnya kemiskinan. Padahal para pedukung globalisasi selalu mengkoar-koarkan bahwa
globalisasi dapat menciptakan kemakmuran. Pasar bebas dapat diartikan sebagai inti dari globalisasi hanya akan membawa keuntungan bagi mereka yang memiliki lebih banyak materi sedangkan untuk negara dunia ketiga tentunya hanya akan dijadikan wilayah pemasaran mereka jika tidak dapat bersaing dengan negara lain dalam memproduksi barang yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi. Heredia dan Purcell mencatat bahwa Meksiko yang menerapkan privatisasi dan deregulasi menyebabkan terjadinya konsentrasi pendapatan dan kemakmuran, hal ini berarti peningkatan ekonomi hanya terjadi di kalangan tertentu yang menyebabkan adanya ketimpangan. Kejadian yang terjadi di Meksiko ini menyebabkan terjadi rendahnya kesehatan gizi, hancurnya para produsen kecil, peningkatan jumlah pengangguran, penurunan jumlah upah, meningkatnya kemiskinan dan distribusi pendapatan yang timpang. Selain itu, pemerintah Meksiko juga melakukan pengurangan subsidi, kualitas kesehatan dan gizi yang semakin buruk dan lain sebagainya yang akhirnya hanya akan mengancam demokrasi dalam arti seluas-luasnya. Tidak hanya dalam konteks demokrasi politik karena proses marginalisasi warga negara dan partai politik tetapi juga pengahancuran demokrasi ekonomi.4
Otonomi negara dalam era globalisasi ini dapat disebabkan oleh interdepensi dan munculnya lembaga-lembaga supranasional. Negara bangsa dalam suatu batas teritorial pada situasi interdepensi tidak akan dapat menggunakan kekuasaan otoritatifnya atas nama kedaulatan nasional yang dikarenakan keputusan-keputusan penting yang diformulasikan oleh perusahaan-perusahaan transnasional maupun multinasional. Maka otonomi negara berkurang karena kebijakan dan keputusan yang diambil oleh elit-elit pemegang kekuasaan yang tidak dapat melepaskan diri dampak dan pengaruh negara lain. Yang selanjutnya yaitu munculnya lembaga-lembaga supranasional artinya ada organisasi yang lebih tinggi dari negara seperti organisasi kawasan ataupun
organisasi internasional. Rezim internasional biasanya akan menyediakan jaringan pengaturan hubungan interstate dan transnasional. Dan juga lembaga-lembaga ekonomi global seperti IMF, World Bank dan WTO mengambil peran penting dalam menentukan kebijakan-kebijakan di negara-negara dunia ketiga terutama negara-negara yang terkena krisis.
Yossina Putri H.S. Page 12
4 Puji Rianto, 2004. Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi dan Krisis Demokrasi. Jurnal Ilmu Sosial
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan:
Globalisasi dapat mengancam demokrasi apabila perusahaan-perusahaan multinasional mempresentasikan dirinya menjadi kekuatan ekonomi dan politik. Perusahaan-perusahaan inilah yang berkuasa dan melakukan pembajakan yang tengah berlangsung. Kekuatan politik memang sudah biasa bekerja sama dengan kekuatan ekonomi karena semakin besar kekuatan ekonomi semakin besar pemain-pemain yang dominan dan semakin terkonsentrasi kekuatan-kekuatan politik ditangan korporasi-korporasi besar. Semakin besar kekuatan politik korporasi dan pihak-pihak yang bersekutu maka semakin lemah kekuatan politik rakyat dan semakin lunturlah makna demokrasi.3 Menurut Robert Dahl, ketimpangan sumber daya sosial dan ekonomi memang cenderung menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap persamaan politik sehingga tidak sesuai dengan konsep demokrasi yang menjunjung kesetaraan.
cara terpenting dalam pembangunan tersebut biasa disebut sebagai ‘peran konstitutif’ dan ‘peran instrumental’. Peran konstitutif yang dimaksud disini secara substansial dapat diartikan sebagai kemerdekaan yang sesungguhnya, kemerdekaan sesungguhnya dapat berupa mencegah pengurangan hak-hak dasar seperti kelaparan, kekurangan gizi dan kematian usia dini, pendidikan, kesetaraan dalam bidang politik, kebebasan berbicara dan lain sebagainya. Dengan adanya globalisasi tentunya hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja dan merugikan pihak yang lainnya, secara otomatis akan terjadi ketimpangan sehingga pihak yang berbeda ini akan memiliki hak dasar yang berbeda. Pihak yang memiliki kendali dalam globalisasi dapat memiliki hak dasar yang lebih banyak sedangkan pihak lainnya hak dasar mereka dapat dirampas oleh pihak yang memiliki kendali tersebut. Kemerdekaan-kemerdekaan instrumental mengandung lima pokok yaitu kemerdekaan politik, kemudahan-kemudahan ekonomi, peluang-peluang sosial, jaminan-jaminan keterbukaan dan perlindungan keamanan. Dengan adanya globalisasi telah dijelaskan diatas tentunya akan mengurangi kemudahan dalam ekonomi, ekonomi yang dikuasai beberapa pihak tentunya hanya akan mengakibatkan kesulitan bagi masyarakat.