• Tidak ada hasil yang ditemukan

peraturan daerah 2013 15

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "peraturan daerah 2013 15"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1

BUPATI BANTUL

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

NOMOR 15 TAHUN 2013

TENTANG

PERLINDUNGAN ANAK DAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANTUL,

Menimbang : a. bahwa setiap anak dan perempuan berhak untuk bebas

dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia serta berhak mendapatkan rasa aman, bebas dari segala bentuk tindak kekerasan, diskriminasi dan pelanggaran hak-hak perempuan dan anak;

b. bahwa tindak kekerasan terhadap anak dan

perempuan terus meningkat, sehingga diperlukan upaya perlindungan yang komprehensif dan maksimal, adanya tindakan nyata, dukungan kelembagaan secara formal, peraturan yang dapat menjamin pelaksanaan

dari Pemerintah Daerah dalam meningkatkan

partisipasi masyarakat secara luas;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

dimaksud dalam huruf a, huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang

Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam

Lingkungan Daerah Istimewa Jogjakarta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 44);

3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak

Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3886);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan

(2)

2

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

7. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Perlindungan Saksi dan Korban (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4635);

8. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang

Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4976);

9. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem

Peradilan Pidana Anak (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2012 Nomor 153, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5332);

10.Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang

Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 12, 13, 14 dan 15 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 59);

11.Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2006 tentang

Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 64);

12.Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Perlindungan Perempuan;

13. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Perlindungan Anak;

14. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

(3)

3

15.Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Nomor 5 Tahun 2010 tentang Panduan Pembentukan dan Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu;

16.Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerasan;

17.Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberdayaan Perempuan Korban Kekerasan;

18.Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Nomor 3 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan Korban Kekerasan (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3);

19.Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 7 Tahun

2005 tentang Transparansi dan Partisipasi Publik Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2005 Seri C Nomor 1);

20.Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 13 Tahun

2007 tentang Penetapan Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 11);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL,

dan

BUPATI BANTUL,

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

DAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

1. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.

2. Daerah adalah Kabupaten Bantul.

3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur

(4)

4

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disingkat DPRD adalah

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bantul sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

5. Bupati adalah Bupati Bantul.

6. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah

Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Bantul.

7. Perempuan adalah seseorang yang berjenis kelamin perempuan dan orang

yang oleh hukum diakui sebagai perempuan.

8. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang

masih dalam kandungan.

9. Kekerasan adalah setiap perbuatan yang berakibat atau dapat

mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan baik fisik, seksual, ekonomi, sosial, dan psikologis, ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi terhadap korban.

10.Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat

atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, ekonomi, sosial, psikis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan, baik yang terjadi di depan umum atau kehidupan pribadi.

11.Kekerasan terhadap anak adalah setiap tindakan yang berakibat atau

mungkin berakibat penderitaan anak secara fisik, psikis, seksual, penelantaran, eksploitasi, ekonomi, dan kekerasan lainnya.

12.Kekerasan Fisik adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, cedera, luka atau cacat pada tubuh seseorang, gugurnya kandungan, pingsan dan atau menyebabkan kematian.

13.Kekerasan Psikis adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,

hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

14.Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pelecehan

seksual, pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan tidak wajar atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau tujuan tertentu.

15.Kekerasan Ekonomi adalah setiap perbuatan yang menelantarkan anggota

keluarga dalam bentuk tidak memberikan kehidupan perawatan atau pemeliharaan secara layak.

16.Eksploitasi Terhadap Anak adalah setiap perbuatan melibatkan anak

dalam kegiatan yang dapat merugikan kesejahteraan dan tumbuh-kembang atau membahayakan keselamatan anak dengan tujuan membuat orang lain dapat memperoleh manfaat ekonomi, seksual, sosial, atau juga politik, termasuk bila di dalamnya terdapat pembatasan atau penghilangan kesempatan anak memperoleh haknya.

17.Pelecehan seksual adalah segala tindakan bernuansa seksual yang

disampaikan melalui kontak fisik maupun non fisik yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang, termasuk dengan menggunakan siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

18.Korban adalah Anak dan Perempuan yang mengalami kesengsaraan dan

(5)

5

19.Pencegahan adalah upaya langsung yang dilakukan oleh Pemerintah

Daerah untuk melakukan mencegah terjadinya tindak kekerasan kepada perempuan dan anak.

20.Perlindungan adalah segala tindakan pelayanan untuk menjamin dan

melindungi hak-hak korban tindak kekerasan yang diselenggarakan oleh Pusat Pelayanan Terpadu.

21.Perlindungan terhadap perempuan adalah segala kegiatan yang ditujukan

untuk memberikan rasa aman bagi perempuan yang dilakukan oleh anggota keluarga, pihak kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga sosial, atau pihak lain yang mengetahui atau mendengar akan atau telah terjadi kekerasan terhadap perempuan.

22.Perlindungan terhadap anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan

melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat

kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan

diskriminasi.

23.Pelayanan adalah tindakan yang dilakukan sesegera mungkin kepada

korban ketika melihat, mendengar dan mengetahui akan, sedang atau telah terjadinya kekerasan terhadap korban.

24.Pemberdayaan Perempuan adalah setiap upaya meningkatkan kemampuan

fisik, mental, spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan agar perempuan siap didayagunakan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

25.Pendamping adalah orang atau perwakilan dari lembaga yang mempunyai

keahlian melakukan pendampingan korban untuk melakukan konseling, terapi dan advokasi guna penguatan dan pemulihan diri korban kekerasan.

26.Bimbingan rohani adalah pendampingan berupa pelayanan untuk

penguatan rohani agar orang yang sakit dapat bangkit guna lebih dekat dengan Tuhan sehingga timbul rasa tenang, aman, menjadi sehat mentalnya.

27.Badan peradilan adalah peradilan umum yang mempunyai kewenangan

untuk menerima, memeriksa, dan mengadili, serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan padanya, untuk mewujudkan penegakan hukum dan keadilan.

28.Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara

ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.

29.Gugatan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang

berkepentingan kepada hakim untuk menindak menurut hukum seseorang yang telah merugikan dirinya secara keperdataan.

30.Lembaga adalah instansi/dinas/badan/kantor dalam lingkup Pemerintah

Daerah dan/atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melakukan pendampingan terhadap korban tindak kekerasan.

31.Pusat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disingkat PPT adalah suatu

unit kerja fungsional yang menyelenggarakan pelayanan terpadu terhadap korban kekerasan yang berbasis rumah sakit, dan dikelola secara

bersama-sama dalam bentuk pelayanan medis (termasuk medico–legal),

psikososial dan pelayanan hukum.

32.Rencana Aksi Daerah adalah landasan dan pedoman bagi dinas terkait,

instansi vertikal, dan masyarakat, dalam rangka melaksanakan kegiatan penyelenggaraan pencegahan dan perlindungan terhadap anak dan perempuan korban tindak kekerasan.

33.Rumah Aman adalah rumah singgah untuk korban, selama proses

(6)

6

34.Reintegrasi Sosial adalah proses mempersiapkan masyarakat dan korban

yang mendukung penyatuan kembali korban ke dalam lingkungan keluarga, pengganti keluarga yang dapat memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan korban.

35.Standar Operasional Prosedur yang selanjutnya disingkat SOP adalah

langkah-langkah standar yang harus dilakukan dalam melindungi korban mulai dari pengaduan/identifikasi, rehabilitasi, kesehatan, rehabilitasi sosial, layanan hukum sampai dengan pemulangan dan reintegrasi sosial saksi dan/atau korban.

36.Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami-istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga.

37.Rumah Tangga adalah suami, istri, dan anak, orang-orang yang

mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwakilan, dan/atau Pekerja rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

38.Masyarakat adalah perseorangan, keluarga, kelompok, organisasi sosial

dan/ atau organisasi kemasyarakatan.

39.Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat

APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bantul

40.Anggaran responsif gender adalah anggaran yang memberi dan

mengakomodasi keadilan dan kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki untuk mengakses dan memperoleh akses, juga manfaat dari program pembangunan serta berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan mempunyai kontrol terhadap sumber daya.

41.Forum Perlindungan Korban Kekerasan yang selanjutnya disingkat FPKK

adalah forum koordinasi penanganan korban kekerasan Anak dan Perempuan yang penyelenggaraannya dilakukan secara berjejaring.

Pasal 2

Asas penyelenggaraan perlindungan Anak dan Perempuan dari tindak kekerasan adalah :

a. penghormatan dan pemenuhan terhadap hak-hak korban;

b. keadilan dan kesetaraan gender;

c. non diskriminasi; dan

d. pemberdayaan yang terbaik bagi korban.

Pasal 3

(1)Tujuan perlindungan Anak dan Perempuan dari tindak kekerasan adalah :

a. mencegah dan menghapus segala bentuk tindak kekerasan dan

eksploitasi terhadap anak dan perempuan yang terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakat;

b. mengupayakan pemulihan dan reintegrasi sosial terhadap anak dan

perempuan korban tindak kekerasan;

c. memberikan pelayanan kepada anak dan perempuan korban tindak

kekerasan, pelapor, dan saksi;

d. melakukan pemberdayaan kepada perempuan korban kekerasan; dan

(7)

7

(2) Penyelenggaraan perlindungan anak dan perempuan dari tindak kekerasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi aspek:

a. pencegahan;

b. pelayanan dan pendampingan; c. reintegrasi sosial; dan

d. pemberdayaan.

BAB II

HAK–HAK KORBAN

Pasal 4

Setiap korban tindak kekerasan mendapatkan hak-hak sebagai berikut:

a. hak untuk dihormati harkat dan martabatnya sebagai manusia;

b. hak atas pemulihan kesehatan dan psikologis dari penderitaan yang

dialami korban;

c. hak menentukan sendiri keputusannya;

d. hak mendapatkan informasi;

e. hak atas kerahasiaan identitasnya;

f. hak pelayanan optimal;

g. hak atas kompensasi;

h. hak penanganan berkelanjutan sampai tahap rehabilitasi sosial;

i. hak atas penanganan pengaduan;

j. hak untuk mendapatkan kemudahan dalam proses peradilan;

k. hak atas pendampingan psikologis dan hukum; dan

l. hak atas perlindungan dan pelayanan hukum.

Pasal 5

Anak korban kekerasan selain mendapatkan hak-hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, juga mendapatkan hak-hak sebagai berikut:

a. hak penghormatan atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang;

b. hak pelayanan dasar dalam bidang pendidikan;

c. hak pelayanan dasar dalam bidang kesehatan;

d. hak perlindungan yang sama;

e. hak bebas dari berbagai stigma; dan

f. hak mendapatkan kebebasan.

BAB III

KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB

Pasal 6

Kewajiban dan tanggungjawab dalam penyelenggaraan perlindungan terhadap anak dan perempuan korban kekerasan adalah:

a. Pemerintah Daerah; b. masyarakat;

(8)

8 Pasal 7

(1) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6

huruf a, Pemerintah Daerah melaksanakan upaya perlindungan korban, dalam bentuk:

a. merumuskan kebijakan tentang perlindungan Anak dan Perempuan

dari segala bentuk tindak kekerasan dan diskriminasi;

b. menyusun perencanaan program dan kegiatan;

c. memberikan dukungan sarana dan prasarana;

d. mengalokasikan anggaran khusus yang responsif gender;

e. membentuk PPT dan/atau Rumah Aman;

f. membentuk dan memfasilitasi FPKK; dan

g. melakukan monitoring dan evaluasi.

(2) Dalam hal pelaksanaan kewajiban Pemerintah Daerah sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Daerah menyusun Rencana Aksi Daerah sebagai dasar bagi SKPD dalam melaksanakan perlindungan terhadap korban.

(3) Rencana Aksi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), merupakan

bagian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Rencana Aksi Daerah sebagaimana

dimaksud pada ayat (2), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 8

Pemerintah Daerah menyelenggarakan layanan bagi korban dalam bentuk:

a.memfasilitasi pembentukan PPT;

b.memfasilitasi sarana dan prasarana PPT sesuai kemampuan; dan

c. memfasilitasi FPKK sebagai wadah jejaring penanganan korban.

Pasal 9

Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggungjawab untuk:

a. mengawasi penyelenggaraan pelayanan terhadap korban sesuai standar

pelayanan minimal; dan

b. menyediakan dana untuk perlindungan korban melalui APBD.

Pasal 10

Dalam melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9, Bupati

memberikan wewenang kepada SKPD yang mempunyai tugas dan fungsi di

bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Pasal 11

Kewajiban dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan anak dan Perempuan Korban kekerasan berupa :

a. mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan;

b. memberikan pendidikan budaya damai dan kesetaraan gender;

c. memberikan informasi dan/ atau melaporkan bila terjadi tindak kekerasan

terhadap anak dan perempuan kepada aparat penegak hukum atau pihak yang berwenang;

(9)

9

e. memberikan pertolongan darurat.

Pasal 12

Kewajiban keluarga dan/ atau orangtua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c dan huruf d, secara hukum memiliki tanggung jawab penuh untuk mencegah segala bentuk tindak kekerasan dan melindungi anak dan perempuan sebagai anggota keluarga.

BAB IV

PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN Bagian Kesatu

Kelembagaan

Pasal 13

(1) Dalam rangka memberikan pelayanan dan perlindungan kepada korban

tindak kekerasan, Pemerintah Daerah membentuk PPT.

(2) PPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas, pokok, dan

fungsi memberikan perlindungan kepada Anak dan Perempuan dari tindak kekerasan, yang terdiri dari bidang-bidang.

(3) PPT sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan dengan Keputusan

Bupati.

(4) PPT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertugas memberikan pelayanan

dan perlindungan sementara berupa rumah aman bagi korban kekerasan.

(5) Dalam hal PPT tidak memiliki rumah aman (shelter) sebagaimana

dimaksud pada ayat (3), maka korban kekerasan dirujuk pada lembaga lain.

Pasal 14

(1) Struktur organisasi PPT yang dibentuk oleh Bupati sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 12 ayat (1) terdiri dari:

a. Ketua atau sebutan lain yang setingkat;

b. Sekretaris;

c. Bendahara; dan

d. Ketua Pelaksana yang membawahi bidang-bidang.

(2) Bidang-Bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, paling sedikit

meliputi:

a. bidang layanan pengaduan;

b.bidang layanan kesehatan;

c. bidang layanan rehabilitasi sosial;

d.bidang pemulangan dan reintegrasi sosial;

e. bidang layanan bantuan hukum;

f. bidang kerohanian; dan

(10)

10 Pasal 15

Bidang layanan pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf a memiliki tugas:

a. melakukan wawancara dan observasi keadaan korban;

b. membuat rekomendasi layanan lanjutan;

c. melakukan koordinasi dan rujukan ke layanan lanjutan dan pihak terkait;

dan

d. melakukan administrasi proses pengaduan.

Pasal 16

Bidang layanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf b memiliki tugas:

a. melakukan pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan lanjutan terhadap

korban;

b. melakukan koordinasi pelaksanaan rehabilitasi kesehatan dan

mediko-legal;

c. melakukan pemeriksaan mediko-legal meliputi pengumpulan barang bukti

pada korban, pembuatan visum et repertum dan visum et psikiatrikum;

d. melakukan pemeriksaan penunjang dan laboratorium terhadap barang

bukti;

e. melakukan konsultasi kepada dokter ahli atau melakukan rujukan; dan

f. membuat laporan kasus.

Pasal 17

Bidang layanan rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf c memiliki tugas:

a. melakukan pendampingan selama proses penanganan kasus;

b. melakukan konseling; dan

c. melaksanakan fungsi sosial.

Pasal 18

Bidang pemulangan dan reintegrasi sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf d memiliki tugas:

a. melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk pemulangan korban;

b. membuat laporan perkembangan proses pendampingan pemulangan dan

rehabilitasi sosial; dan

c. melakukan pemantauan paling lama 3 (tiga) bulan setelah korban

dipulangkan ke keluarganya.

Pasal 19

Bidang layanan bantuan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf e memiliki tugas:

a. mendampingi dan membela setiap proses hukum; dan

b. membuat laporan perkembangan penanganan hukum.

Pasal 20

Bidang kerohanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf f memiliki tugas:

a. melakukan bimbingan rohani kepada korban;

(11)

11

c. membuat laporan dan rekomendasi layanan lanjutan;

Pasal 21

Bidang psikologi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) huruf g memiliki tugas:

a. melakukan bimbingan psikologi kepada korban;

b. membuat rekomendasi layanan lanjutan; dan

c. melakukan koordinasi dan rujukan ke layanan lanjutan

Pasal 22

(1) PPT paling sedikit memiliki 5 (lima ) konselor.

(2) Konselor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a.konselor dalam bidang hukum;

b.konselor dalam bidang kesehatan;

c. konselor dalam bidang psikologi;

d.konselor dalam bidang sosial; dan

e. konselor dalam bidang kerohanian.

Pasal 23

Struktur organisasi PPT yang dibentuk oleh Bupati melibatkan SKPD terkait dengan lembaga masyarakat disesuaikan dengan kebutuhan.

Pasal 24

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan, mekanisme dan hubungan kerja berjejaring PPT diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB V

BENTUK DAN MEKANISME PERLINDUNGAN Bagian Kesatu

Pencegahan

Pasal 25

(1) Upaya pencegahan kekerasan terhadap Anak dan Perempuan dilakukan

secara terpadu oleh Pemerintah Daerah yang dikoordinasikan oleh instansi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi koordinasi di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

(2) Upaya pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan

dengan cara:

a. membentuk jaringan kerja dalam upaya pencegahan kekerasan dan

penanganan tindak kekerasan secara koordinasi, integrasi,

sinkronisasi pencegahan kekerasan berdasarkan pola kemitraan;

b. membentuk sistem pencegahan kekerasan, pemetaan lokasi atau

wilayah rawan terjadinya tindak kekerasan;

c. menyelenggarakan komunikasi, informasi, dan pendidikan kritis

tentang hak-hak anak dan perempuan bagi masyarakat;

d. melakukan sosialisasi tentang peraturan perundang-undangan yang

(12)

12

e. upaya pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

secara terpadu yang dikoordinasi oleh SKPD yang membidangi pemerdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Pasal 26

Upaya pencegahan juga dilakukan oleh: a. masyarakat;

b. keluarga; dan c. orangtua.

Bagian Kedua Pelayanan

Pasal 27

(1) Penyelenggaraan pelayanan terhadap korban dilakukan secara terpadu

oleh PPT.

(2) PPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menerima dan mengirim

rujukan kasus dari atau kepada unit pelayanan lainnya secara berjejaring.

Pasal 28

Penyelenggaraan pelayanan terhadap korban dilaksanakan dengan:

a. tidak dipungut biaya;

b. cepat;

c. aman dan nyaman;

d. empati;

e. non diskriminasi;

f. terpadu;

g. mudah dijangkau; dan

h. dijamin kerahasiaannya.

Pasal 29

Bentuk pelayanan terhadap korban meliputi:

a. pelayanan pengaduan, konsultasi, dan konseling;

b. pelayanan pendampingan;

c. pelayanan kesehatan;

d. pelayanan rehabilitasi sosial;

e. pelayanan hukum;

f. pelayanan pemulangan dan reintegrasi sosial; dan

g. pelayanan psikologi.

Pasal 30

Pelayanan pengaduan, konsultasi, dan konseling sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf a meliputi:

a. identifikasi atau pencatatan awal korban; dan

(13)

13 Pasal 31

Pelayanan pendampingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf b

meliputi:

a. mendampingi korban selama proses pemeriksaan dan pemulihan

kesehatan;

b. mendampingi korban selama proses medicolegal;

c. mendampingi korban selama proses pemeriksaan di Kepolisian, Kejaksaan

dan pengadilan;

d. memantau kepentingan dan hak-hak korban dalam proses pemeriksaan di

Kepolisan, Kejaksaan dan Pengadilan;

e. menjaga privasi dan kerahasiaan korban dari semua pihak yang tidak

berkepentingan, termasuk pemberitaan oleh media massa;

f. melakukan koordinasi dengan pendamping yang lain; dan

g. memberikan penanganan yang berkelanjutan hingga tahap rehabilitasi.

Pasal 32

Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf c meliputi:

a. pertolongan pertama kepada korban;

b. perawatan dan pemulihan luka-luka fisik yang bertujuan untuk pemulihan

kondisi fisik korban yang dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis; dan

c. rujukan ke layanan kesehatan.

Pasal 33

Pelayanan rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf d merupakan pelayanan yang diberikan oleh pendamping dalam rangka memulihkan kondisi traumatis korban, termasuk penyediaan rumah aman untuk melindungi korban dari berbagai ancaman dan intimidasi bagi korban dan memberikan dukungan secara sosial sehingga korban mempunyai rasa percaya diri, kekuatan, dan kemandirian dalam menyelesaikan masalahnya, dengan cara:

a. memberikan bimbingan kerohanian kepada korban; dan

b. pemulihan kejiwaan korban.

Pasal 34

Pelayanan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf e untuk

membantu korban dalam menjalani proses peradilan dengan cara:

a. memberikan konsultasi hukum yang mencakup informasi mengenai

hak-hak korban dan proses peradilan;

b. mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan

dalam sidang pengadilan dan membantu korban untuk secara lengkap memaparkan kekerasan yang dialaminya; dan

c. melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan

pendamping, dan pekerja sosial agar proses peradilan berjalan sebagaimana mestinya.

Pasal 35

(1) Pelayanan pemulangan dan reintegrasi sosial sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 29 huruf f bertujuan untuk mengembalikan korban kepada

(14)

14

(2) Pelayanan pemulangan dan reintegrasi sosial sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah Daerah berkoordinasi dengan:

a. Pemerintah Daerah lain; dan

b. instansi dan lembaga terkait baik pemerintah maupun non

pemerintah.

Pasal 36

Pelayanan psikologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf g bertujuan untuk:

a. memberikan pendampingan dan pelayanan psikologis; dan

b.memberikan pemulihan psikologi korban dari trauma.

Bagian Ketiga Pemberdayaan

Paragraf 1

Pemberdayaan Perempuan Korban Kekerasan

Pasal 37

Bentuk pemberdayaan perempuan korban kekerasan meliputi: a. pelatihan kerja, meliputi :

1. pelatihan keterampilan;

2. praktik kerja lapangan; dan

3. pemagangan.

b. usaha ekonomi produktif dan kelompok usaha bersama, meliputi :

1. pelatihan keterampilan wirausaha;

2. fasilitasi pembentukan kelompok usaha bersama; dan

3. pendampingan pelaksanaan usaha.

c. bantuan permodalan, meliputi :

1.bantuan sarana dan prasarana kerja; dan

2.fasilitasi bantuan modal kerja.

Paragraf 2

Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak

Pasal 38

(1) Perlindungan bagi anak yang berhadapan dengan hukum dilaksanakan

melalui :

a. perlakuan atas anak secara manusiawi sesusi dengan martabat dan

hak-hak anak;

b. penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini;

c. penyediaan sarana dan prasarana khusus;

d. penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan terbaik bagi anak;

e. pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan

anak yang berhadapan dengan hukum.

f. pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang

tua atau keluarga; dan

g. perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan

untuk menghindari labelisasi.

(2) Bentuk pemenuhan hak-hak anak korban tindak kekerasan, meliputi :

a. upaya rehabilitasi baik dalam lembaga maupun diluar lembaga;

b. pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli baik

(15)

15

c. pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai

pengembangan perkara.

(3) PPT dan masyarakat berkewajiban melakukan pemenuhan hak-hak anak

korban tindak kekerasan.

Pasal 39

(1)Dalam upaya menjamin pemenuhan hak-hak anak, Pemerintah Daerah

bekerjasama dengan Forum Anak yang telah terbentuk.

(2)Forum Anak merupakan organisasi yang anggotanya adalah para

anak-anak yang menjadi pengurus organisasi anak-anak, sanggar atau kelompok

kegiatan anak dan sejenisnya yang pada umumnya berbasis

pengembangan bakat, minat, kemampuan dan pemanfaatan waktu luang.

(3)Forum anak memiliki tugas :

a. melakukan sosialisasi tentang tindak kekerasan kepada teman sebaya;

b.terlibat aktif dalam perencanaan kebijakan, program dan kegiatan

terkait perlindungan anak dari tindak kekerasan;

c. menjadi sumber informasi kejadian tindak kekerasan di lingkungannya;

dan

d.mengkonsultasikan kebutuhan dan keinginan anak korban kekerasan

kepada mitra dari sektor terkait.

Bagian Keempat

Koordinasi Pelayanan dan Perlindungan Korban

Pasal 40

(1) Dalam upaya menyediakan dan menyelenggarakan penanganan pelayanan

dan perlindungan bagi korban, PPT membentuk FPKK.

(2) FPKK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk:

a. mengkoordinasikan dan mensinkronisasikan penanganan pelayanan

PPT;

b. memelihara dan mengembangkan jejaring serta sistem rujukan; dan

c. mengumpulkan, menyusun dan menyajikan laporan kekerasan.

(3) Kepengurusan dan keanggotaan FPKK sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) ditetapkan dengan Keputusan Ketua PTT.

(4) Keanggotaan FPKK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikelompokkan

dalam peran sebagai berikut:

a. peran kesehatan;

b. peran psikologi;

c. peran hukum;

d. peran sosial; dan

e. peran ekonomi.

(16)

16 BAB VI

KERJA SAMA DAN KEMITRAAN Bagian Kesatu

Kerja sama

Pasal 41

(1) Dalam rangka mencapai tujuan perlindungan anak dan perempuan dari

tindak kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pemerintah Daerah bekerjasama dengan:

a. Pemerintah;

b. Pemerintah Provinsi;

c. Kabupaten/Kota lain; dan

d. lembaga non Pemerintah.

(2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. pertukaran data dan informasi;

b. rehabilitasi korban tindak kekerasan;

c. pemulangan dan reintegrasi sosial; dan

d. penyediaan barang bukti dan saksi, serta ditindaklanjuti sesuai dengan

hukum yang berlaku.

(3)Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan

dalam bentuk Kesepakatan Bersama.

Bagian Kedua Kemitraan

Pasal 42

(1) Pemerintah Daerah membentuk kemitraan dengan dunia usaha dalam

perlindungan anak dan perempuan dari tindak kekerasan.

(2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui :

a. sistem informasi kesempatan kerja bagi perempuan korban tindak

kekerasan;

b. pendidikan dan pelatihan bagi anak dan perempuan korban tindak

kekerasan;

c. bantuan pendidikan bagi anak dan perempuan korban tindak

kekerasan yang rawan putus sekolah; dan

d. menumbuhkan dan meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan

korban tindak kekerasan.

(3) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam bentuk kesepakatan bersama.

BAB VII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 44

(1) Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap

(17)

17

(2) Pembinaan dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi:

a. koordinasi;

b. bimbingan;

c. pendidikan dan pelatihan; dan

d. pemantauan dan evaluasi.

(3) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a mencakup aspek

yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan.

(4) Bimbingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b mencakup aspek

yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, tata laksana, pendanaan, kualitas, pengendalian dan pengawasan.

(5) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c

dilakukan oleh SKPD yang membidangi pemerdayaan perempuan dan perlindungan anak.

(6) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d

dilakukan secara berkala.

BAB VIII PELAPORAN

Pasal 43

(1) PPT dan FPKK membuat pelaporan perlindungan Anak dan Perempuan

korban tindak kekerasan kepada Bupati.

(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara

tertulis, meliputi: a. administrasi; b. keuangan; c. pelayanan; dan d. kinerja.

(3) Penyampaian pelaporan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat

(2), dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali dan diselenggarakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB IX PENDANAAN

Pasal 45

(1) Pendanaan dilakukan oleh Pemerintah Daerah terhadap kegiatan

perlindungan bagi korban akibat tindak kekerasan dibebankan pada APBD.

(2) Pengelolaan alokasi pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

(18)

18 BAB X

PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 46

(1) Masyarakat berperan serta dalam penyelenggaraan perlindungan terhadap

Korban tindak kekerasan.

(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. membentuk mitra keluarga di tingkat kelurahan/desa oleh masyarakat;

b. membentuk unit perlindungan Anak dan Perempuan di dalam

organisasi kemasyarakatan;

c. melakukan sosialisasi hak Anak dan Perempuan secara mandiri;

d. melakukan pertolongan pertama kepada korban; dan

e. melaporkan kepada instansi yang berwenang apabila di lingkungannya

terjadi kekerasan terhadap korban.

(3) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

oleh perorangan, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, swasta, dan media massa.

BAB XI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 47

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Bantul.

Ditetapkan di Bantul

pada tanggal 20 NOVEMBER 2013

BUPATI BANTUL, TTD

SRI SURYA WIDATI

Diundangkan di Bantul

pada tanggal 20 NOVEMBER 2013

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BANTUL, TTD

RIYANTONO

(19)

19

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

NOMOR 15 TAHUN 2013

TENTANG

PERLINDUNGAN ANAK DAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN

I. UMUM

Salah satu tujuan dibentuknya negara adalah untuk memberikan perlindungan kepada setiap warga negara dengan rasa aman dan nyaman, hal tersebut secara tegas tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Alinea IV. Disebutkan bahwa tujuan nasional bangsa Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan

kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Untuk mencapai hal tersebut telah dilakukan upaya

pembangunan yang berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian pembangunan yang menyeluruh, terarah dan terpadu, termasuk diantaranya pembangunan dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam Tujuan Pembangunan Millennium (MDGs).

Penyelenggaraan akan terjadinya kesetaraan gender dan

pemberdayaan perempuan menjadi sebuah prioritas yang selalu diupayakan perbaikan dari tahun ke tahun, terutama sejak tahun 2000, ketika dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) atas dorongan dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) kala itu.

Instruksi Presiden ini menegaskan bahwa seluruh Kementerian maupun lembaga pemerintah non Kementerian di Pemerintah Nasional, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota harus melakukan

pengarusutamaan gender dalam perencanaan, pelaksanaan,

pemantauan, dan evaluasi pada kebijakan dan program

pembangunan. Hal ini adalah perwujudan dari upaya pemenuhan hak asasi setiap warga negara Indonesia, juga dimaksudkan agar kesetaraaan gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia semakin baik.

(20)

20

kesetaraan dan keadilan antara perempuan dan laki-laki, serta terhapusnya segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, termasuk tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Merupakan angin segar bagi perempuan Indonesia, ketika dengan terang dijelaskan dalam Konvensi Perempuan tersebut yang

menetapkan prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan untuk

menghapus kesejangan, subordinasi serta tindakan yang melanggar hak perempuan dan merugikan kedudukan perempuan dalam hukum, keluarga dan masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut dengan gamblang tertuang dalam pasal-pasal substansi Konvensi Perempuan (pasal 1-16).

Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pemerintah mengakui keberadaan hak-hak anak. Hak asasi yang melekat pada anak, meliputi hak-hak dasar sebagai manusia yaitu Hak Hidup, Hak Tumbuh Kembang, Hak Perlindungan dan Hak Partisipasi.

Untuk memenuhi Hak hidup, anak memerlukan makanan dalam jumlah yang cukup, sehat dan bergizi, serta akses kesehatan yang optimal. Perlindungan dari kekerasan yang mengancam keselamatan dan kesehatannya harus diberikan sejak dini. Perlindungan diperlukan untuk mencegah adanya kekerasan dan eksploitasi fisik, mental dan seksual. Untuk memenuhi hak tumbuh kembang, anak memerlukan ruang untuk bermain, berolahraga, pendidikan yang sesuai dengan perkembangan fisik dan jiwanya. Dalam pemenuhan hak anak, setiap penyelenggara pemerintahan, masyarakat dan orang tua wajib memahami dan peduli terhadap hak anak. Adanya perangkat hukum dan aparat hukum yang membela kepentingan

anak diperlukan untuk upaya perlindungan ini. Peraturan

perundang-undangan yang berprinsip membela kepentingan terbaik bagi anak diperlukan untuk memwujudkan perlindungan yang bersifat legal. Selanjutnya, tidak jarang ditemukan kasus perempuan dan anak yang mengalami masalah kekerasan fisik, psikis, seksual dan sosial. Misalnya perempuan dan anak korban penganiayaan, penelantaran, pengusiran dan perlakuan salah oleh orang tua ataupun orang lain. Bagi perempuan dan anak yang mengalami masalah tersebut pemerintah harus menyediakan Rumah Aman atau Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) bagi perempuan dan anak korban tindak kekerasan. Rumah Aman atau PPT merupakan tempat yang aman dan bersifat bersahabat bagi perempuan dan anak. PPT tersebut dilengkapi dengan pendamping dari unsur pendidik, dokter, psikolog, ulama/rohaniawan dan berjaringan dengan pengacara perempuan dan anak serta Unit RPK di Kepolisian.

(21)

21

Untuk pemberdayaan bagi korban tindak kekerasan, pemerintah daerah dapat membentuk Pusat Pelayanan Terpadu dan Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) sebagai pusat pemberdayaan perempuan korban tindak kekerasan yang secara khusus memiliki tugas pokok dan fungsi untuk pemberdayaan terhadap anak dan perempuan korban tindak kekerasan.

Dari kerangka di atas, maka Pemerintah bertanggungjawab untuk melakukan tindakan-tindakan baik secara hukum, politik, ekonomi maupun sosial untuk mencegah, menekan, mengurangi, dan menghapuskan segala bentuk tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dari berbagai upaya tersebut, maka akan terwujud kerangka hukum dalam penyelenggaraan perlindungan terhadap anak dan perempuan dari tindak kekerasan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas

Pasal 2 Huruf a

Yang dimaksud dengan ”penghormatan dan pemenuhan

terhadap hak-hak korban” adalah serangkaian tindakan

menghormati, menghargai dan menjamin terpenuhinya hak-hak korban.

Huruf b

Yang dimaksud dengan ”keadilan dan kesetaraan gender” adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan dan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan Nasional dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut.

Huruf c

Yang dimaksud dengan ”non diskriminasi” adalah sikap dan perlakuan terhadap korban dengan tidak melakukan perbedaan atas dasar usia, jenis kelamin, ras, suku, agama dan antar golongan.

Huruf d

Yang dimaksud dengan ”pemberdayaan yang terbaik bagi korban” adalah semua tindakan pemulihan, rehabilitasi, reunifikasi menyangkut korban yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan badan yudikatif, harus menjadi pertimbangan utama.

Pasal 3 Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Huruf a

Yang dimaksud dengan aspek “pencegahan” adalah upaya strategi perlindungan melalui:

a. Pencegahan primer, semua orang, keluarga,

(22)

22

meningkatkan kemampuan pengetahuan,

pemahaman dan menjaga agar kekerasan

terhadap perempuan dan anak tidak terjadi, meliputi sosialisasi kebijakan, pelayanan yang

memadai, kebijakan tempat bekerja yang

mendukung, serta pelatihan keterampilan hidup bagi perempuan dan anak. Yang dimaksud dengan

pelatihan keterampilan hidup meliputi

penyelesaian konflik tanpa kekerasan,

keterampilan menangani stress, manajemen

sumber daya, membuat keputusan efektif,

komunikasi interpersonal secara efektif, tuntunan perkembangan psikososial perempuan dan anak.

b. Pencegahan sekunder, ditujukan bagi kelompok

masyarakat dengan risiko tinggi dalam upaya meningkatkan keterampilan, termasuk pelatihan

dan layanan korban untuk menjaga agar

kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak terjadi pada generasi berikut. Kegiatan yang dilakukan di sini di antaranya dengan melalukan kunjungan rumah bagi orang tua yang baru

mempunyai anak untuk melakukan self

assessment apakah mereka berisiko melakukan kekerasan pada anak di kemudian hari.

c. Pencegahan tersier, dimaksudkan untuk

meningkatkan kemampuan pengasuhan yang menjaga agar kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak terulang lagi, di sini yang dilakukan adalah pelayanan terpadu untuk perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan, melalui konseling, pelatihan tatalaksana stres.

Huruf b

Yang dimaksud dengan aspek “pelayanan dan pendampingan” adalah kegiatan dan tindakan segera

yang dilakukan oleh tenaga profesional dan

pendamping sesuai dengan profesi masing-masing

berupa konseling, terapi dan advokasi guna

penguatan dan pemulihan korban kekerasan. Huruf c

Yang dimaksud dengan aspek “pemberdayaan” adalah

proses meningkatkan peran masyarakat untuk

berpartisipasi dalam penyelenggaraan perlindungan bagi perempuan dan anak korban tindak kekerasan

yang bertujuan dapat memperoleh akses dan

partispasi dalam proses perlindungan terhadap perempuan dan anak secara luas.

Pasal 4

Huruf a

Yang dimaksud dengan “hak untuk dihormati harkat

dan martabatnya sebagai manusia” adalah

menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Huruf b

(23)

23

(dokter) untuk gangguan fisik yang dideritanya dan

dari psikolog kepada korban yang menderita

trauma/masalah kejiwaan lainnya untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan korban.

Huruf c

Cukup jelas

Huruf d

Yang dimaksudkan dengan “mendapatkan informasi” adalah akses dan keterangan tentang keberadaan tempat pengaduan, PPT, dan segala hal-hal yang berhubungan dengan pemenuhan hak-haknya dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pendampingan dan perkembangan perkara yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam

berbagai kemasan dan format sesuai dengan

perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun non elektronik yang terkait tindak kekerasan.

Huruf e

Yang dimaksud dengan “kerahasiaan identitasnya” adalah upaya jaminan kepastian bagi korban untuk tidak disebarluaskan mengenai identitas dirinya, perawatan medis dan penanganan hukum.

Huruf f

Yang dimaksud dengan “pelayanan optimal” adalah

pelayanan yang mencakup medis, medicolegal

ektensial , psikososial dan hukum. Huruf g

Yang dimaksud dengan “hak atas kompensasi” meliputi: pemberdayaan ekonomi, biaya pemulangan, jaminan kesehatan, dan pendidikan atau ketrampilan. Huruf h

Yang dimaksud dengan “penanganan berkelanjutan

sampai tahap rehabilitasi” adalah penanganan yang

tidak berhenti sampai penyembuhan fisik dan psikis, bantuan hukum untuk mengembalikan hak-hak keperdataan, tapi sampai korban dapat menjalani kehidupan kembali dalam masyarakat termasuk dalam pemulihan nama baik, dan kewarganegaraan. Huruf i

Yang dimaksud dengan “hak atas penanganan pengaduan” adalah tersedianya unit khusus layanan terpadu oleh petugas.

Huruf j

Cukup jelas Huruf k

Yang dimaksud dengan “hak atas pendampingan” antara lain: psikolog, psikiater, ahli kesehatan,

rohaniawan, advokat, dan anggota keluarga.

(24)

24

tingkatan pemeriksaan dan selama proses hukum berjalan.

Huruf l

Cukup Jelas

Pasal 5

Cukup jelas

Pasal 6

Cukup jelas

Pasal 7

Cukup jelas

Pasal 8

Cukup jelas

Pasal 9

Cukup jelas

Pasal 10

Cukup jelas

Pasal 11

Cukup jelas

Pasal 12

Cukup jelas

Pasal 13

Cukup jelas

Pasal 14

Cukup jelas

Pasal 15

Yang dimaksud dengan “melakukan wawancara, dan

observasi terhadap korban” adalah jika kondisi korban sudah mulai pulih dari trauma dan memungkinkan untuk dilakukannya wawancara. Sedangkan yang dimaksud dengan observasi adalah mengetahui konteks lingkungan, peran dan statusnya ketika terjadi tindak kekerasan kepada korban.

Pasal 16

Cukup jelas

Pasal 17

Cukup jelas

Pasal 18

Cukup jelas

Pasal 19

(25)

25 Pasal 20

Cukup jelas

Pasal 21

Cukup jelas

Pasal 22

Cukup jelas

Pasal 23

Cukup jelas

Pasal 24 Ayat (1)

Cukup jelas Ayat (2)

Huruf a

Yang dimaksud dengan “jaringan kerja” meliputi:

mitra keluarga, dasawisma, kelompok-kelompok

keluarga yang ada di masyarakat. Yang dimaksud

dengan “koordinasi” meliputi: perencanaan,

pelaksanaan dan pemantauan program pencegahan kekerasan.

Huruf b

Yang dimaksud dengan “sistem pencegahan

kekerasan” meliputi: pemetaan lokasi atau wilayah rawan terjadinya kekerasan dan melakukan upaya promotif serta preventif kepada masyarakat.

Huruf c

Yang dimaksud dengan “Pendidikan kritis tentang

hak-hak anak dan perempuan” merupakan upaya

membangun kesadaran anak dan perempuan tentang hak-haknya. Tujuan dilaksanakannya pendidikan kritis adalah dapat membantu keputusan dan tidak

menjadi korban kekerasan berulang. Bentuk

pendidikan kritis bagi masyarakat terdiri dari: pelatihan-pelatihan kesetaraan dan keadilan gender, pendidikan tentang kesehatan reproduksi untuk perempuan, dan pemberian pemahaman peraturan

perundang-undangan tentang Penghapusan

Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Perlindungan Anak.

Huruf d

Sosialisasi dapat dilakukan melalui media massa, media elektronik, dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.

Pasal 25

Huruf a

Upaya pencegahan dalam keluarga dan/atau kerabat

terdekat dapat dilakukan dengan memperkuat

(26)

26 Huruf b

Lembaga pendidikan dapat turut serta mengupayakan

pemberian hukuman yang bersifat mendidik,

mengupayakan menghapus ketentuan yang tidak berpihak pada korban kekerasan.

Huruf c

Upaya pencegahan dalam masyarakat meliputi:

menumbuhkan kepedulian lingkungan terhadap tindak kekerasan yang terjadi di lingkungannya.

Pasal 26

Cukup jelas

Pasal 27

Huruf a

Yang dimaksud dengan ”tidak dipungut biaya” adalah

kegiatan penyelenggaran pelayanan dan

pendampingan yang dilakukan oleh PPT tidak dibebankan pada korban yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Huruf b

Yang dimaksud dengan “cepat” adalah tindakan

segera yang dilakukan tanpa berbelit-belit atau prosedur dipermudah.

Huruf c

Yang dimaksud dengan “aman dan nyaman” adalah

jaminan perlindungan pelayanan yang terasan

nyaman, tidak diganggu, dan dilayani dengan ramah, menghormati dan menghargai.

Huruf d

Yang dimaksud dengan “empati” adalah tindakan menghargai, menghormati, menyayangi, bersahabat, dan membahagiakan yang bertujuan menyenangkan dan menenteramkan hati korban.

Huruf e

Yang dimaksud dengan “non diskriminasi“ artinya tidak melakukan pembedaan dengan alasan dan cara

apapun, baik menyangkut agama dan

kepercayaannya, suku, ras, jenis kelamin, warna kulit, bahasa, dan politik.

Huruf f

Cukup jelas

Huruf g

Yang dimaksud dengan ”mudah dijangkau” adalah penyelenggaraan pelayanan dan pendampingan untuk semua orang tanpa memandang status sosialnya, sehingga pelayanan tersebut murah bagi kalangan tidak mampu atau relatif cukup bagi kalangan mampu.

Huruf h

(27)

27 Pasal 28

Cukup jelas

Pasal 29 Huruf a

Cukup jelas

Huruf b

Yang dimaksud dengan “persetujuan dilakukan tindakan” adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh korban atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap korban tersebut.

Pasal 30

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Yang dimaksud dengan “medicolegal” adalah pelayanan kedokteran untuk memberikan bantuan professional yang optimal dalam memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Termasuk pelayanan medicolegal antara lain: visum et repertum dan visum et psikiatrikum. Yang dimaksud dengan “visum et repertum” adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter dalam ilmu kedokteran forensik atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap korban berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan proses peradilan. Yang dimaksud dengan “visum et psikiatrikum” adalah keterangan yang diberikan oleh seorang Dokter Ahli Jiwa tentang kondisi kesehatan jiwa korban yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara dan untuk keperluan proses peradilan.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Pasal 31

Cukup jelas

Pasal 32

Cukup jelas

Pasal 33

(28)

28 Pasal 34

Cukup jelas

Pasal 35

Cukup jelas

Pasal 36

Cukup jelas

Pasal 37

Cukup jelas

Pasal 38

Cukup jelas

Pasal 39

Cukup jelas

Pasal 40

Cukup jelas

Pasal 41

Cukup jelas

Pasal 42

Cukup jelas

Pasal 43

Cukup jelas

Pasal 44

Cukup jelas

Pasal 45

Cukup jelas Pasal 46

Cukup jelas

Pasal 47

Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 28

Salinan sesuai dengan aslinya

a.n. Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul u.b. Asisten Pemerintahan

Kepala Bagian Hukum

Referensi

Dokumen terkait

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG LAYANAN TERPADU BAGI PEREMPUAN DAN ANAK

(4) Dalam melakukan pemberdayaan korban tindak kekerasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Daerah dapat menjalin kerjasama dengan lembaga

Pelayanan terpadu adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan penanganan dan perlindungan bagi korban tindak kekerasan termasuk didalamnya tindak pidana perdagangan orang

Peraturan Daerah mengatur upaya perlindungan bagi korban khususnya dalam hal pencegahan, pelayanan dan pemberdayaan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan

Pelayanan Terpadu adalah serangkaian kegiatan untuk m elakukan perlindungan bagi saksi dan/atau korban tindak pidana perdagangan orang yang dilaksanakan secara

Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Memaksimalkan dalam penanganan korban kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak2. SDM

Pelayanan Terpadu adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan perlindungan bagi anak korban kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran yang dilaksanakan

Dalam melakukan penelitian, peneliti menemukan beberapa faktor penghambat dalam penanganan anak korban kekerasan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan