• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Jati Diri dan Kinerja Ekonomi K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Jati Diri dan Kinerja Ekonomi K"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH EKONOMI KOPERASI

“ANALISIS JATI DIRI DAN KINERJA EKONOMI TERHADAP KOPERASI SYARIAH MIITRA KARYA AIRLANGGA”

DISUSUN OLEH:

ARIKA KAMELIA 041411331035

KELAS M

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(2)

1. Gambaran Umum Koperasi

Koperasi Syariah Mitra Karya Airlangga (MIKA) adalah sebuah koperasi koperasi yang satu-satunya dikelola secara syariah Islam di Universitas Airlangga dengan No. Badan Hukum P2T/24/09.01/VIII/2011 yang didirikan pada tahun 2011. Kantor koperasi tersebut mulai dibuka dari jam 09.00-15.00 WIB di ruang PDAK (Pusat Data dan Analisa Keuangan) pada hari senin-sabtu di samping ruang Mandiri Sekuritas, Ruang Baca Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

Koperasi MIKA memiliki Visi dan Misi yaitu:

1. Visi Koperasi MIKA Airlangga adalah:

 Menjadi Soko guru Ekonomi Rakyat/Masyarakat

 Menjadikan Koperasi Syariah sebagai tempat kesejahteraan karyawan dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair (anggota)

2. Misi Koperasi MIKA Airlangga adalah:

a. Meningkatkan pendapatan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya

b. Mensejahterakan anggota khususnya dan masyarakat luas pada umumnya

c. Membentuk masyarakat Madani dalam usaha ekonominya

d. Menciptakan pengusaha-pengusaha yang tangguh di lingkungan Unair pada khususnya dan masyarakat pada umumnya

e. Menciptakan pengusaha-pengusaha tangguh di lingkungan masyarakat Surabaya

(3)

jurusan ekonomi syariah. Namun pada generasi kedua dan ketiga saat ini, komposisi mahasiswa dari semua jurusan di FEB sudah hampir seimbang. Pada generasi ketiga ini, pengelola (manajemen) dipimpin oleh seorang mahasiswi dari Prodi S1 Akuntansi. Disamping itu, pendirian koperasi MIKA ditujukan agar civitas akademika FEB dan UNAIR mengetahui bahwa terdapat koperasi yang berpinsip pada syariah Islam.

(4)

b. Sekretari : Bapak Bayu c. Bendahara : Bapak Shaleh

Manajemen:

a. Ketua : Nining Islamiyah (Akuntansi 2012)

Divisi-divisi yang terdapat pada Manajemen Koperasi MIKA yaitu: 1. Funding : 4 orang tersusun dari para dosen departemen ekonomi syariah dan para dosen dari departemen lain yang berminat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Para dosen yang notabennya adalah pengurus, tidak dapat mengurus koperasi karena terlalu sibuk sehingga dibentuklah manajemen yang teridiri dari para mahasiswa. Pengurus tidak boleh digaji, yang mendapat gaji adalah para manajer. Dengan sistem pembagian keuntungannya adalah 50% untuk manajemen dan 50% nya lagi untuk SHU yang dibagikan kepada anggota.

Pembagiannya menjadi seimbang dikarenakan oleh koperasi MIKA bukan hanya menjadi tempat bagi mahasiswa (dalam hal ini yang menjadi pengelola) sebagai laboraturorium mereka yang secara orisinil memberikan mereka ilmu dan permasalahan riil dalam kehidupan koperasi yang tidak mereka daapatkan dari kebanyakan unit-unit kegiatan lain di fakultas. Apa yang sekarang diahadapi mahasiswa dalam koperasi MIKA akan sama persis dengan apa yang akan dihadapinya saat terjun di dunia perkoperasian di luar. Setelah lulus dari FEB UNAIR diharapakn mahasiswa membuka koperasi-koperassi lain di wilayah-wilayah di Indonesia yang masih berada di garis kurang sejahtera yang masih membutuhkan program peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Usaha yang dilakukan oleh Koperasi MIKA adalah: 1. Unit Perdagangan

(5)

3. Unit Persewaan persewaan kendaraan

4. Unit Konsultan perbankan syariah, konsultan hukum dan fikh syariah

5. Unit Usaha Pendidikan

6. Unit Usaha Kesehatan

7. Unit Usaha Jasa Keuangan syariah (yang paling aktif berjalan)

 Simpanan Wajib: 50.000 (dibayarkan setiap bulan)

 Simpanan pokok: 50.000

 RAT dilaksanakan setahun sekali pada akhir tahun

 Sanksi dikenakan pada peminjam yang telat dalam membayar angsurannya. Jumlah denda Rp 5000 per hari.

Aspek-aspek dalam koperasi MIKA yang tidak sesuai dengan UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian

Setiap diadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) pengurus jarang sekali bisa hadir karena alasan kesibukan masing-masing. Dari jumlah pengurus koperasi MIKA yang datang hanya ¼ dari total jumlah pengurus. Hal ini menurut salah satu pengurus dikarenakan oleh para pengurus kurang concern di bidang ekonomi syariah. Apabila RAT dalam sebuah koperasi terus berjalan seperti ini sebenarnya tidak bagus untuk perkembangan koperasi ke depannya. Disamping itu, menurut tujuannya, berdasarkan pasal 3 UU No. 25 Tahun 1992 koperasi didirikan untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

(6)

Oleh Karen itu, pada RAT terakhir kemarin diputuskan bahwa mahasiswa akan dijadikan anggota, dan mahasiswa yang berkeinginan untuk meminjam uang maka harus mendaftar menjadi anggota. namun terdapat kendalan dalam hal ini, ketika mahasiswa akan melakukan pinjaman dana dan dimintai kesediananya untuk melakukan simpanan wajib serta pokok, mereka kurang bersedia karena mereka tidak selalu mempunyai uang saat melakukan pembayaran simpanan pokok, apalagi simpanan wajib yang dibayarkan secara rutin tiap bulan oleh anggota koperasi dengan nominal yang ditentukan. Para pengurus dan pengelola berinisiatif untuk memberikan stimulan pada anggota untuk tertarik melakukan kegiatan menabung melalui simpanan sukarela agar pada saat dimana ketika mereka sudah tidak lagi menjadi anggota, mereka memiliki sejumlah uang yang dapat mereka ambil dari koperasi MIKA.

Dalam hal perkembangan koperasi, sampai sejauh ini, belum mendapat penghargaan. Alih-alih mendapatkan penghargaan, koperasi MIKA sempat mendapatkan surat teguran dari Dinas Koperasi karena telat memberikan laporan kegiatan koperasi setelah melakukan RAT. Hingga kemarin akhirnya dari DinKop melakukan pengecekan terhadap koperasi MIKA. Akhirnya DinKop tetap memperbolehkan Koperasi MIKA berjalan sebagaimana mestinya karena dengan pertimbangan bahwa kopersi MIKA merupakan koperasi yang berada di dalam lingkungan universitas yang juga ditujukan untuk kepentingan akademik. Koperasi-koperasi biasa di luar akan mendapatkan surat peringatan dari DinKop apabila setelah berjalan setahun tidak menyetorkan laporan kegiatan koperasi, apabila selama dua tahun berturut-turut tidak menyetorkan maka akan dicabut izin kegiatan koperasi tersebut.

Beberapa Hal Menarik dan Penting Mengenai Koperasi MIKA

(7)

dengan bunga. Sedangkan dalam sebuah lembaga keuangan yang berdasarkan prinsip syariah Islam dianggap tidak jelas keuntungan dan bunganya sehingga tidak bisa dihitung. Dalam konsep koperasi syariah ini pada hakikatnya adalah saling tolong menolong untuk kesejahteran bersama. Tolong-menolong disini tentunya muncul dari hati nurani masing-masing individu untuk mencapai taraf kesejahteraan bersama-sama.

Pada hakikatnya semua yang ada pada prinsip syariah Islam dalam koperasi MIKA ini merujuk pada keimanan kita. Jika kita mau hitung-hitungan materiil, semua hal yang dilakukan oleh pengurus dan manajemen koperasi jika dibandingkan dengan jumlah materiil yang didapat tentu akan membuat kita berpikir untuk apa mengelola sebuah lembaga yang tidak memberikan keuntungan materiil kepada kita. Semua dilakukan karena ada dimensi lain yang sangat dipercayai. Semua bermuara pada akidah (kepercayaan atau keyakinan) kita kepada Allah. Apa yang kita dapatkan memang tidak akan Nampak namun kita mempercayainya karena hal ini menyangkut iman dan kepercayaan seseorang. Ketika mereka mengabdikan diri untuk koperasi syariah MIKA ini karena mereka percaya bahwa Allah akan memberi lebih. Jika kita hanya percaya materiil saja kita hanya akan mendapatkan apa yang sesuai dengan hitung-hitungan kita saja. Sedangkan hitung-hitungan Allah itu jauh lebih banyak dari yang kita bayangkan. Pada hakikatnya semua perkara dalam koperasi syariah ini mudah dan sederhana, yatu hanya sebatas niat, keyakinan, pengetahuan mengenai syariah Islam, dan keinginan. Namun manusianya saja yang membuatnya menjadi rumit.

2. Jatidiri dan Kinerja Ekonomi Koperasi Menurut International Co-operative Alliance

(8)

Nilai-nilai koperasi menurut ICA didasarkan pada nilai-nilai yang mendorong diri sendiri, tanggung jawab sendiri, demokratis, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan. Selain itu, setiap anggota koperasi harus memiliki nilai-nilai etis seperti kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, serta kepedulian terhadap orang lain. Sedangkan prinsip-prinsip koperasi menurut ICA terdiri dari tujuh prinsip yakni keanggotaan yang bersifat sukarela dan terbuka, pengendalian oleh anggota secara demokratis, partisipasi ekonomi anggota, otonomi dan kebebasan, pendidikan, pelatihan dan informasi, kerjasama diantara koperasi, kepedulian terhadap komunitas (Soedjono, 2007).

3. Jatidiri dan Kinerja Ekonomi Koperasi Dalam Undang-Undang No. 17/2012

Dalam Undang-Undang Perkoperasian terbaru No. 17/2012 koperasi didefinisikan sebagai badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.

Dari pengertian di atas dijelaskan bahwa koperasi merupakan organisasi berbadan hukum yang artinya koperasi harus bekerja berdasarkan ketentuan undang-undang dan hukum yang berlaku yang terkait dengan koperasi. Di samping itu, koperasi didirikan oleh sekumpulan orang (koperasi primer) atau beberapa badan hukum koperasi (koperasi sekunder) bukan perkumpulan modal seperti halnya pada perseroan. Dalam koperasi terdapat pemisahan kekayaan para anggotanya yang digunakan sebagai modal untuk menjalankan kegiatan usaha koperasi dan telah diatur dalam undang-undang perkoperasian. Para anggota koperasi memiliki kepentingan dan aspirasi yang sama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, serta bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.

Nilai-nilai yang mendasari kegiatan koperasi sesuai dengan UU No. 17/2012 terdiri dari nilai kekeluargaan, menolong diri sendiri, bertanggung jawab, demokrasi, persamaan, berkeadilan dan kemandirian. Sedangkan nilai-nilai yang diyakini anggota koperasi meliputi nilai, kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.

(9)

No. 17/2012 yang isinya adalah keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka; pengawasan oleh anggota diselenggarakan secara demokratis; anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi koperasi; koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom dan independen; koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengawas, pengurus, dan karyawannya, serta memberi informasi kepada masyarakat tentang jatidiri, kegiatan, dan kemanfaatan koperasi; koperasi melayani anggotanya secara prima dan memperkuat gerakan koperasi dengan bekerja sama melalui jaringan kegiatan pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional; terakhir, koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya melalui kebijakan yang disepakati oleh anggota.

4. Hasil analisis kinerja Koperasi Mitra Karya Airlangga

Jenis-jenis instrumen pengembangan koperasi

a. Penilaian Tangga Perkembangan bagi Koperasi (PTP) atau Development Ladder Assesment (DLA) Disusun dan digunakan oleh Canadian Co-operative Association (CCA) untuk membangun koperasi model di Indonesia dalam program Indonesia Cooperative Development Assistance Program (INCODAP)

b. Indeks Jatidiri Koperasi (Proximity to ICIS Index)

Index untuk menetapkan posisi koperasi dalam suatu diagram yg menggambarkan konteks jatidiri dan profil koperasi. Indeks jatidiri ada dua model:

Pertama: model metode kwadran, diperkenalkan oleh Dr. Daniel Cote (Univ. Montreal Kanada)

Kedua: Model Kisis-kisi (grid model) disiapkan oleh International Co-oretaive Alliance Regional Office for Asia-Pasific (ICA-ROAP) dalam koperensi Menteri-menteri Koperasi Asia-Pasifik pada bulan April 2002 di Kathmandu, Nepal.

c. Sistem monitoring Keuangan dgn Rasio-rasio PEARLS.

d. Menggerakkan faktor-faktor Keunggulan Koperasi dan Menjamin Hari Depan Koperasi.

e. Namun pada pembahasan ini, kami menggunakan instrument pengembangan berupa Penilaian Tangga Perkembangan bagi Koperasi (PTP) atau Development Ladder Assesment (DLA) dan Indeks Jatidiri Koperasi (Proximity to ICIS Index)

A. Menggunakan metode Development Ladder Assessment (DLA)

DLA atau PTP () terdiri dari 24 indikator kinerja  7 indikator visi

 9 indikator kapasitas

(10)

Masing-masing indikator diberi bobot 1-5 dan kemudian hasil penilaian dibagi menjadi 3 kelompok (Zona).

Zona Hijau : kinerja baik

Zona Kuning : kinerja memuaskan tapi memerlukan perhatian lebih lanjut. Zona Merah : organisasi dalam kesulitan

Tabel 1: Kompilasi Hasil Wawancara Pada Koperasi Mitra Karya Airlangga,

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga

(11)

No Variabel Indikator Total

Skor Skor Zonasi

1. Visi 1. Keterwakilan perempuan, kaum muda, dan golongan

minoritas dalam staf dan kepengurusan, didukung oleh 4 AD atau kebijakan tertulis dan keputusan-keputusan.

2. Efektifitas organisasi melakukan hubungan dengan

anggota. 2

3. Upaya organisasi melakukan pengembangan bisnis. 3

4. Tingkat komitmen organisasi terhadap pembangunan

sosial. 1

5. Efektivitas kepemimpinan dan menejemen pengurus. 2

6. Sifat rencana strategik dan efektivitasnya. 2

7. Keberadaan mekanisme penyelesaian pertentangan 3

dalam AD dan pembuatan keputusan-keputusan terekomendasi.

Sub total 17 kuning

2. Kapasitas1. Tingkat struktur dan staf organisasi mencerminkan

sebuah koperasi yang memiliki daya hidup dan 2

berhasil.

2. Tingkat resistensi pegawai senior dalam menejemen

lima tahun terakhir. 4

3. Tingkat kepuasan dari syarat-syarat pelayanan bagi staf.

4. Tingkat kecukupan komitmen organisasi mengenai 2

pentingnya pelatihan.

5. Efektivitas langkah-langkah yang diambil organisasi

untuk menurunkan biaya. 4

6. Pemeliharaan sistem operasi dan pengaturan keuangan 4 organisasi.

7. Respons terhadap audit dalam lima tahun terakhir. 5

8. Pelayanan koperasi kepada anggota berdasarkan 1

penelitian pasar (menguntungkan).

9. Keterlambatan laporan-laporan keuangan koperasi. 2

Sub total 24 kuning

3. Sumber- 1. Kecukupan modal organisasi. 4

daya 2. Pertumbuhan aset dalam arti riil tiga tahun terakhir. 2

3. Perlindungan terhadap ekuiti dan pengelolaan aset 2 secara menguntungkan.

4. Efektivitas kedudukan kebijakan perkreditan dan 5 prosedur pengendalian.

Sub total 13 Kuning

4. Jaringan 1. Kebijakan fiskal dalam organisasi.

(12)

Kekurangan:

 Kurang melakukan branding dengan baik

 Jumlah modal sangat minim

 Manajemen asset kurang baik

 Pernah mendapat surat teguran dari Dinas Koperasi

 Para anggota kurang memiliki rasa kepemilikan atas koperasi

Kelebihan:

 Membentuk manajemen yang dikelola oleh mahasiswa

 Keterwakilan atas perempuan tinggi

 Dibimbing oleh orang yang kompeten di bidangnya

 Audit terhadap sistem koperasi berjalan dengan baik

 Produk usaha yang berupa simpan pinjam berjalan dengan baik

B. Analisis Jatidiri Koperasi Mitra Karya Airlangga Menurut Grid Model ICA ROAP

(13)

ini, terdiri dari dua poros yakni poros X yang mencirikan hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian negara pada sebelah kiri dan kemampuan daya saing koperasi di sebelah kanan. Sedangkan poros Y mencirikan hal-hal yang berkaitan dengan jatidiri di sebelah atas dan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-pinsip perusahaan yang berorientasi pada investasi.

Gambar 2: Diagram Model Kisi-Kisi (Grid Model) Koperasi Mitra Karya Airlangga Menurut ICA ROAP

Jatidri Koperasi (Y) (+ 9)

Kuadran I Keadaan Terbaik

Kuadran I Kuadran II

Pengendalian (-9) Mampu

(+9) Bersaing

Negara

(Ekonomi pasar yang sudah diregulasi) (X)

Kuadran III Kuadran IV

Keadaan Terburuk

(-9)

Prinsip-prinsip perusahaan dengan orientasi investor (perusahaan dikendalikan & digerakkan oleh modal)

Sumber: Hasil Penelitian, diolah.

Grafik menunjukkan bahwa hasil perhitungannya berada pada kuadran II

(14)

Berdasarkan hasil analisis dan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a. Secara keseluruhan hasil analisis kinerja Koperasi Mitra Karya Airlangga menggunakan metode Development Ladder Assessment mendapatkan score 62 yang berada di zona kuning. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kinerja Koperasi Mitra Karya Airlangga memuaskan, namun memerlukan perhatian lebih lanjut. b. Indikator visi, kapasitas, dan sumber daya pada Koperasi Mitra Karya Airlangga

berada pada zona kuning dengan score masing-masing 17, 24, dan 13 yang menunjukkan bahwa kinerja koperasi secara umum memuaskan namun ada beberapa yang belum sesuai dengan visi koperasi. Sedangkan indikator jaringan kerja berada pada zona kuning dengan score 8 yang berarti bahwa kinerja koperasi memuaskan tetapi masih memerlukan perhatian lebih lanjut.

c. Dilihat dari analisis indeks jatidiri Daniel Cote, Koperasi Mitra Karya Airlangga berada pada kuadran II di mana penerapan jatidiri baik namun kurang adanya kegiatan yang penuh persaingan. Indikator intensitas koperasi terhadap aturan pasar (sumbu x) menunjukkan bahwa besarnya jumlah rasio solvabilitas yang diwakili oleh rasio hutang terhadap ekuitas telah melebihi standar rasio yang dianjurkan. Sementara untuk variabel ukuran pasar pada unit usaha simpan pinjam masih didominasi oleh para mahasiswa, untuk dosen dan karyawan, koperasi belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Upaya deregulasi dilakukan oleh Koperasi Mitra Karya Airlangga dengan mempertimbangkan saran dan pendapat anggota dalam menentukan kebijakan fiscal melalui wawancara ketika pihak koperasi melakukan penagihan hutang. Akan tetapi, Koperasi Mitra Karya Airlangga kurang optimal dalam branding sehingga masih banyak civitas akademika di fakultas dan Universitas yang belum mengetahui keberadaannya.

d. Sementara itu, untuk indikator intensitas jatidiri koperasi yang diwakili oleh sumbu y menunjukkan pengaplikasian jatidiri koperasi yang baik. adanya pengendalian secara demokratis di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama, terdapat hubungan kepemilikan yang kuat di antara anggota, dipenuhinya cadangan koperasi sesuai kesepakatan, dan pembagian SHU yang adil.

(15)

(3, 2). Keadaan ini menunjukkan bahwa penerapan jatidiri koperasi cukup baik. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan koperasi didasarkan pada definisi, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip koperasi. Akan tetapi daya saingnya masih sedang dikarenakan kurangnya jumlah modal, branding yang belum optimal, serta masih tingginya tingkat ketergantungan koperasi pada modal luar. Sehingga koperasi belum memiliki daya saing yang cukup tinggi.

Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, maka terdapat beberapa saran yang dapat diajukan yakni:

a. Meningkatkan keefektifan hubungan organisasi dengan anggota dengan memperbaiki kualitas pertemuan kelompok agar semua informasi dapat tersampaikan kepada anggota secara tepat waktu dan juga untuk memupuk rasa kepemilikan dan kebersamaan di antara anggota.

b. Dalam upaya meningkatkan kualitas kinerjanya, Koperasi juga perlu mencantumkan mekanisme penyelesaian sengketa dalam Anggaran Dasar agar selanjutnya bila terjadi persengketaan masalah dapat diselesaikan secara adil dan cepat. Keberadaan mekanisme penyelesaian sengketa sangat penting karena merupakan bagian dari jatidiri koperasi. Koperasi merupakan badan usaha yang dikendalikan secara demokratis, oleh karena itu koperasi menyelesaikan masalahnya dengan musyawarah mufakat dan pemungutan suara untuk kasus-kasus tertentu yang tidak dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Gambar

Tabel 1: Kompilasi Hasil Wawancara Pada Koperasi Mitra Karya Airlangga,
Gambar 2: Diagram Model Kisi-Kisi (Grid Model) Koperasi Mitra Karya Airlangga         Menurut ICA ROAP

Referensi

Dokumen terkait

Modal luar beiasal dari pinjarnan pihak luar yang tidak merugikan koperasi, yaitu berasal dari : anggota berupa simpanan sukarela dan Simpanan Khusus Berjangka

Laporan laba rugi menyajikan hasil akhir yang disebut sisa hasil usaha (SHU). SHU koperasi dapat berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota.. dab bukan anggota. SHU

kata lain hanya 30% nya saja dari jumlah anggota koperasi yang aktif dalam. usaha

NPM.. tidak aktif lebih mendominasi dibanding koperasi yang aktif, serta terjadi penurunan jumlah koperasi yang aktif dari tahun 2012 ke tahun 2016. Berlandaskan pada latar

Menurut Sitio (2001:30) keberhasilan koperasi sangat erat hubungannya dengan partisipasi aktif anggotanya. Apabila anggota koperasi berpartisipasi aktif dalam koperasinya

Pemilik Sistem Informasi Koperasi Wahana Arta Nugraha Calon Anggota Anggota Simp. Wajib Form Pendaftaran Simpanan Pokok Simp. Sukarela Form Peminjaman kas. Form

1 Koperasi konsumen  Melakukan pengawasan terhadap jalannya koperasi  Berpartisipasi dan terlibat aktif dalam pengambilan keputusan  Berpartisipasi dalam kontribusi

Sedangkan Aspek Non Keuangan dalam peningkatan SHU bisa diperoleh dari peran aktif anggota koperasi baik itu moril maupun materi, semakin banyak anggota koperasi yang menyimpan dananya