• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI KONSEP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI KONSEP"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI KONSEP SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER

(NHT) BAGI SISWA KELAS VIIIA SMP NEGERI 1 MAKASSAR.

Nurhikma Ramadhana

Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Makassar

Abstrak

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIIIa

SMP Negeri 1 Makassar, sebanyak 32 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang dilaksanakan selama empat kali pertemuan. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada siklus I mencapai skor rata-rata 62,5% meningkat pada siklus II menjadi 72,7%. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 59,3% dengan jumlah siswa yang tuntas hanya 19 orang meningkat pada siklus II menjadi 87,5% dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 28 orang. Selain itu, melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) presentase terlihat keaktifan belajar siswa dapat meningkat. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar biologi khususnya pada konsep sistem pernapasan, siswa kelas VIIIa SMP Negeri

1 Makassar.

(2)

Improving the result of student’ biology learning in respiration concept through cooperative learning Numbered head together (NHT) type to the

student of class VIIIa SMP Negeri 1 Makassar}

Nurhikma Ramadhana

Departement of Biology, FMIPA State University of Makassar

Abstract

This research is a Class-Action Research (Classroom Action Research) that aims to improve student learning outcomes through cooperative learning NHT type. The subject of this research is class VIIIa SMP Negeri 1 Makassar, a

total of 32 students. This research carried out in two cyclus carried out during four sessions. The data of students learning and the data of student learning activities result analized of quantitative. The results showed that the outcomes of students learning after implementation cooperative learning NHT type on 1st cyclus with ration 62,5% average increase and 2nd cyclus to be 72,7 %. Exhaustiveness learning students on 1st cyclus 59,3% the are 13 students passed, increase on 2nd cyclus 87,5% with 28 students passed. Another that through cooperative learning NHT type, the percentage of students active increased. From this research results of this study can be concluded that the implementation of cooperative learning NHT type to Improve learning Results graders Biology specially in respiration system concept to the student of class VIIIa SMP Negeri 1 Makassar.

(3)

A.Latar Belakang

Peningkatan mutu pendidikan menjadi salah satu program pokok pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini tampak pada mutu pendidikan di Indonesia yang jauh tertinggal ditingkat Asia, lebih-lebih ditingkat dunia. Meskipun ada beberapa siswa telah berhasil mendapatkan juara olimpiade Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi ditingkat ASEAN, Asia bahkan dunia. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai proses peningkatan sumber daya manusia mendorong pemerintah untuk melakukan upaya perbaikan mutu pendidikan dengan berbagai kebijakan terus-menerus mulai dari pembangunan dan perbaikan kurikulum, perbaikan sarana pendidikan, penataran-penataran, pelatihan-pelatihan bagi guru yang berimplikasi pada hasil belajar. Rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh 4 faktor yaitu : jumlah guru yang belum memadai serta penyebarannya yang belum merata, kondisi sarana dan prasarana yang belum memadai, anggaran pendidikan yang jumlahnya sangat terbatas, serta proses pembelajaran yang belum efektif. Peningkatan hasil belajar siswa atau prestasi yang dicapai anak didik tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan guru terhadap materi pelajaran, tetapi yang juga ikut menentukan adalah penggunaan model pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar diharapkan dapat memudahkan siswa menerima dan memahami materi yang disampaikan.

Salah satu model pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan permintaan kurikulum adalah model pembelajaran kooperatif. Beberapa ahli menyatakan bahwa model pembelajaran ini sangat berguna untuk menumbuhkan kerja sama antar siswa karena dalam proses pembelajaran bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru tetapi juga antara siswa dengan siswa. Semua metode pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggungjawab terhadap teman satu timnya mampu membuat diri mereka belajar sama baiknya (Robert S, 2008). Sistem pengajaran ini memberikan kesempatan antara siswa untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas terstruktur yang disebut sistem “pembelajaran gotong royong” dimana guru bertindak sebagai fasilitator. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMP negeri 1 Burau, informasi yang diperoleh dari guru bidang studi biologi bahwa nilai hasil belajar biologi siswa kelas VIIIE masih rendah dibandingkan dengan

(4)

NHT adalah suatu pendekatan pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan bertanggungjawab penuh untuk memahami materi pelajaran baik secara berkelompok maupun individual. Peneliti berasumsi bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT ini mampu mengatasi masalah di atas karena pembelajaran ini dalam penerapannya melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman siswa terhadap isi pelajaran. Dalam pembelajaran ini terjadi pula ketergantungan sosial, dimana yang mampu dapat membantu yang kurang mampu, dan yang kurang mampu diharapkan antusias belajar untuk mempertanggungjawabkan nomornya atau dengan kata lain dapat melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik, sehingga berpengaruh positif pada hubungan dan sikap terhadap siswa yang terlambat secara akademik. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang diberikan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa itu diterapkan pada konsep materi sistem pernapasan pada manusia. Salah satu hal yang menjadi bahan pertimbangan mengapa konsep materi sistem pernapasan pada manusia dijadikan sebagai objek kajian dalam penelitian ini adalah dengan melihat nilai-nilai rata-rata kelas siswa tahun lalu pada konsep materi yang sama dimana nilai-nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah 60 khususnya kelas VIIIa yang jika disesuaikan kriteria ketuntasan minimal di sekolah tersebut yaitu 65, maka nilai hasil belajar yang diperoleh siswa tersebut berada dalam kategori tidak tuntas. Materi tersebut memiliki cakupan materi yang luas dan rumit dimana hal tersebut menuntut siswa untuk lebih banyak membaca, menghafal dan memahami konsep-konsep yang termuat pada pokok bahasan tersebut. Hal itu tentunya menuntut konsentrasi siswa dalam belajar untuk dapat memahami betul isi dari pelajaran tersebut. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibrahim, dkk (2009), adalah suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer Kangen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling memberikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu banyaknya istilah-istilah penting pada konsep sistem pernapasan ini, dapat dijadikan bahan pertanyaan pada langkah mengajukan pertanyaan(Questioning) pada pembelajaran kooperatif tipe NHT ini. Dengan teknik ini siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan sekelompoknya, serta meningkatkan semangat kerja mereka. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ada di kelas VIIIE SMP Negeri 1 Burau.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Apakah hasil belajar biologi pada konsep sistem pernapasan dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) bagi siswa Kelas VIIIa SMP Negeri 1 Makassar? ”.

C.Tujuan Penelitian

(5)

pernapasan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) siswa Kelas VIIIa SMP Negeri 1 Makassar.

D.Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah memberikan sumbangan dalam meningkatkan hasil belajar dan perbaikan pembelajaran biologi pada khususnya sistem pernapasan.

E.Kerangka pikir

Proses pembelajaran dengan sistem persekolahan saat ini belum menunjukkan hasil yang maksimal. Rendahnya hasil belajar selama ini didasarkan oleh banyak faktor diantaranya karena suasana belajar yang terkesan monoton, guru cenderung memonopoli kegiatan belajar mengajar sementara siswa hanya menjadi pendengar saja. Selain itu penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat dalam proses belajar mengajar. Akibatnya pelajaran IPA khususnya biologi akan semakin terasa membosankan. Oleh karena itu seorang guru harus jeli melihat keadaan belajar siswanya di dalam kelas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pemilihan model pembelajaran yang tepat pada saat mengajar. Pembelajaran kooperatif dapat menjadi salah alternatif dalam meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Pada prinsipnya model pembelajaran kooperatif bertujuan mengembangkan tingkah laku kooperatif antar siswa sekaligus membantu siswa dalam pelajaran akademisnya. Pada kenyataannya, setiap anak akan lebih mudah untuk memahami dan mengingat pelajaran atau apa saja yang diterimanya jika dapat melakukan sendiri, menyelesaikan sendiri bukan hanya mendengar dan melihat saja. Ada banyak variasi pendekatan dalam model pembelajaran kooperatif. Setiap pendekatan memberi penekanan pada tujuan tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Khususnya model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together (NHT) adalah pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Pembelajaran kooperatif tipe NHT ini selalu diawali dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing anggota mendapat nomor berbeda. Penomoran ini sebagai ciri khas dari pembelajaran kooperatif tipe NHT menjadi kelebihan tersendiri dalam penerapannya. Penomoran bagi setiap siswa dapat menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap nomor anggota masing-masing dalam kelompoknya, sehingga siswa termotivasi dan aktif dalam proses pembelajaran. Teknik ini juga memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk saling memberikan ide-ide jawaban yang paling tepat dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing dalam kehidupannya. Karena sesungguhnya, pelajaran akan lebih menarik dan berhasil, apabila dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman di mana anak dapat melihat, berbuat, berfikir bersama dan saling memberikan semangat. Dengan diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe NHT ini diharapkan penguasaan konsep dan hasil belajar siswa memuaskan dan meningkat

F. Hipotesis Penelitian

(6)

G.Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan berupa proses pengkajian bersiklus yang terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

2. Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Makassar dengan subyek penelitian siswa kelas VIIIa dengan jumlah siswa 32 orang.

3. Faktor Yang Diselidiki

Faktor-faktor yang menjadi perhatian untuk diselidiki adalah:

1.Hasil belajar adalah nilai yang didapatkan oleh siswa melalui tes hasil belajar untuk setiap siklus pada konsep sistem pernapasan dalam bentuk pilihan ganda, yang diberikan setelah mengikuti proses belajar mengajar.

2.Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah jenis pembelajaran kooperatif dimana siswa dibagi kedalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang dan setiap anggota kelompok tersebut diberi nomor masing-masing sesuai jumlah anggota kelompok, lalu berfikir bersama dalam kelompok dan meyakinkan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban tim, selanjutnya memanggil salah satu siswa dengan nomor yang dipanggil untuk melaporkan hasil kerja sama mereka. Dalam hal ini aktivitas belajar siswa dalam proses belajar dengan menggunakan model pembelajaran tersebut. H. Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini direncanakan 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Antara sisklus I dan siklus II merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan dalam arti pelaksanaan siklus II merupakan kelanjutan dari perbaikan siklus I.

I. Instrumen Penelitian

Adapun instrumen penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tes hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda

Perencanaan

SIKLUS I

Pengamatan

Perencanaan

SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Pelaksanaan

? Refleksi Refleksi

(7)

2. Lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.

J. Teknik Pengumpulan Data

a. Data tentang peningkatan hasil belajar diambil dari nilai tes hasil belajar siswa tiap akhir siklus.

b. Data tentang aktivitas pembelajaran selama tindakan dilakukan, diambil dengan menggunakan lembar observasi. Pada proses pengisian lembar observasi, semua indikator dari aktivitas yang diamati tercantum didalamnya. Jika siswa melakukan setiap aktivitas yamg menjadi tolak ukur, maka ia akan memperoleh tanda checklist () pada lembar observasi. Keadaan yang diobservasi adalah kegiatan siswa dalam peroses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT).

K.Teknik Analisis Data

Pengelolaan data pada penelitian ini dilakukan setelah terkumpulnya data, selanjutnya dianalisis secara kuantitatif. Untuk analisis secara kuantitatif digunakan analisis deskriptif yaitu skor rata-rata yang diperoleh dari hasil tes tiap siklus yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengguasaan materi melalui penggambaran karakteristik distribusi nilai pencapaian hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Kemudian nilai tersebut dikelompokkan dengan melihat pedoman pengkategorian menurut Arikunto (2005), sebagai berikut.

Tabel 1. Pengkategorian tingkat penguasaan hasil belajar biologi L.

Kategori Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah. Tabel 2. Kategori Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Daya Serap Siswa Kategori Ketuntasan Belajar 0 – 64 Tidak tuntas

65 -100 Tuntas

Analisis aktivitas siswa dideskripsikan berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa di dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung dari tiap siklus dengan menggunakan lembar observasi.

L. Indikator Keberhasilan

Hasil Belajar siswa mengalami peningkatan 70% atau lebih, telah mencapai ketuntasan minimal 65 dan terjadi perubahan sikap siswa dalam proses belajar mengajar yaitu peningkatan aktivitas belajar siswa.

Interval Nilai Kualifikasi

80-100 Baik Sekali

66-79 Baik

56-65 Cukup

40-55 Kurang

(8)

M. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Hasil Belajar Siswa

Tabel 3.1 Nilai frekuansi dan persentase Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIIIE

SMP Negeri 1 Burau pada Siklus I dengan Siklus II.

Kategori

Siklus I Siklus II

Frekuensi Persentase (%)

Frekuensi Persentas e (%) Baik sekali Baik Cukup Kurang Gagal 2 10 9 11 0 6,2 31,3 28,1 34,4 0 5 20 7 0 0 15,6 62,5 21,8 0 0

Jumlah 32 100 32 100

Tabel 3.2 Distribusi hasil belajar biologi siswa kelas VIIIa SMP Negeri 1

Makassar pada siklus I dan siklus II.

Uraian Skor

Siklus I Siklus II

Jumlah siswa 32 32

Skor terendah 46 60

Skor tertinggi 86 90

Rata-rata 62.5 72.7

Tabel 3.3 Perbandingan Ketuntasan Belajar Biologi Siklus I dan Siklus II Siswa Kelas VIIIa SMP Negeri 1 Makassar.

Skor Kategori

Siklus I Siklus II

Frekuensi Persentase (%)

Frekuensi Persentase (%)

65 - 100 0 - 64

Tuntas Tidak tuntas 19 13 59,3 40,6 28 4 87,5 12,5

(9)

Tabel 5. Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Belajar pada Siklus I dan Siklus II Siswa Kelas VIIIa SMP Negeri 1 Makassar.

N

o Komponen Aktivitas yang diamati

Siklus

I II

F % F %

1. Siswa yang menyimak penjelasan guru (bila siswa terlihat memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru)

22 68.7 29 90.6

2. Siswa yang mengajukan pertanyaan pada

saat pemberian materi 5 16.6 8 25

3. Kerjasama siswa dalam kelompok pada saat

mengerjakan LKS 23 71.9 30 93.8

4. Siswa yang meminta bimbingan kepada

pengajar pada saat mengerjakan LKS 8 25 9 28.1

5.

Siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar (Nomor anggota dari setiap kelompok yang bertanggungjawab memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh guru).

4 12,5 7 21.8

6.

Siswa yang mengajukan pertanyaan pada

saat persentase kelompok 3 9,3 5 15,6

7.

Siswa yang mengajukan tanggapan (bila siswa menyangkal dan memberi jawaban

lain dengan alasan sendiri) 3 9,3 5 15,6

8.

Siswa yang melakukan kegiatan lain baik dalam proses pemberian materi pelajaran maupuin disaat mengerjakan tugas (main-main, keluar masuk kelas, ribut, mengerjakan pekerjaan lain, dan sebagainya)

9 28,1 6 18,7

Jumlah 77 241,4 99 309,2

Rata-rata 9,6 30,1 12,3 38,6

N. Refleksi

a. Analisis Refleksi pada Siklus I

Siklus I yang dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan diperoleh beberapa hal yang menjadi bahan refleksi pada pelaksanaan siklus berikutnya.

(10)

karena biasanya siswa membentuk kelompok cenderung hanya memilih teman akrab atau teman dekat saja.

2. Masih adanya siswa dalam satu kelompok yang tidak aktif bekerjasama menyelesaikan LKS, masih mengharapkan jawaban dari dari teman sekelompoknya yang lain, hal ini terjadi karena siswa masih kurang percaya diri akan jawabannya. Nampak pula dalam satu kelompok masih ada siswa yang mendominasi teman-teman yang lain dalam menjawab LKS sehingga siswa yang lainnya kurang mengusai jawaban dari LKS yang diberikan.

3. Pada kegiatan mempresentasekan hasil diskusi kelompok, masih ada siswa yang kurang percaya diri (sesuai dengan nomor kepala) tampil di depan kelas, karena takut diejek / ditertawakan teman atau kelompok yang lain. Begitu pula dalam memberi memberikan tanggapan.

4. Siswa belum disiplin dalam belajar, keluar masuk kelas, ribut, bahkan ada yang menyalin PR untuk pelajaran lain.

Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka peneliti melakukan tindakan baru untuk mengatasi masalah tersebut di atas. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh peneliti adalah:

1. Mengarahkan kepada setiap siswa tentang pentingnya kerjasama dalam kelompok, dimana penilaian yang diberikan tidak terlepas dari kerjasama kelompok. Menjalin keakraban diantara sesama anggota kelompok.

2. Mengarahkan siswa agar masing-masing memiliki jawaban sebelum didiskusikan bersama, Mencegah siswa tertentu mendominasi jalannya diskusi dan mendorong semua anggota kelompok untuk aktif mencari jawan bersama, bertanggung jawab atas nomor masing-masing, bekerja sama, dan penuh kepedulian dengan anggota kelompoknya.

3. Menanamkan rasa percaya diri siswa untuk untuk bertanya, menjawab dan menanggapi hasil diskusi bahwa mereka memiliki kemampuan masing-masing yang dapat dikembangkan khususnya dalam pembelajaran menyampaikan dimana tujuan utama dari diskusi adalah untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama.

4. Memberikan sanksi yang tegas kepada siswa yang tidak disiplin pada saat proses pembelajaran berlangsung apalagi melakukan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran biologi.

5. Meningkatkan pemberian penghargaan kepada setiap individu maupun pada kelompok, baik berupa tepukan tangan, sanjungan, pujian maupun berupa bingkisan sederhana.

b. Hasil Refleksi Pada Siklus II

(11)

dan keinginan mereka untuk membawa kelompok mereka sebagai pemenang.suasana kelaspun menjadi lebih tertib.

Menyikapi hasil refleksi siklus II dan setelah mengamati berbagai kekurangan dan kemajuan siswa selama siklus II, terlihat bahwa sebagian besar hambatan yang ditemukan pada siklus II dapat teratasi. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dikatakan berhasil. Selain itu, berdasarkan data hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini telah tercapai, yaitu terjadi peningkatan hasil belajar biologi siswa dari siklus I ke siklus II, peningkatan persentase siswa yang tuntas hasil belajarnya dari 59,3% menjadi 87,5%,. Nilai ketuntasan tersebut telah memenuhi indikator keberhasilan yang harus dicapai yakni 70% siswa yang mencapai KKM dalam kelas yaitu nilai 65. Tercapainya indikator keberhasilan penelitian menunjukkan bahwa penelitian tindakan kelas ini dapat diakhiri dengan dua siklus (penelitian tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya).

O. Pembahasan

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas VIIIe yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT. Pernyataan ini didukung oleh hasil analisis data secara deskriptif yang dapat dilihat pada tabel 4 dimana kelas VIIIE nilai rata-rata pada

siklus I diperoleh sebesar 62,5 sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II diperoleh sebesar 72,7. Terjadi peningkatan nilai rata-rata skor sebesar 10,3 dari siklus I ke siklus II. Ini juga dapat dilihat dari hasil pengkategorian berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) maka dari 32 siswa yang mengikuti tes siklus I, sebanyak 13 siswa yang termasuk kategori tidak tuntas dengan rentang skor 46 hingga 60 dengan persentase 40,6%. Siswa yang termasuk dalam kategori tuntas dengan rentang skor 65 hingga 100 sebanyak 19 siswa atau 59,3%. Sedangkan pada siklus II dari 32 siswa yang mengikuti tes siklus II sebanyak 4 siswa yang termasuk kategori tidak tuntas atau sebesar 12,5%. Siswa yang termasuk dalam kategori tuntas sebanyak 28 siswa atau sebesar 87,5%. Kembali melihat indikator keberhasilan dapat dikatakan penelitian ini berhasil dimana dari jumlah keseluruhan siswa yang ada di kelas VIIIE terdapat 87,5 %

siswa berada dalam kategori tuntas (dikatakan tuntas apabila apabila 70% dari jumlah siswa memperoleh nilai minimal 65). Ini sesuai yang dikatakan Wiraatmadja (2006), bahwa siklus dapat diakhiri apabila apa yang direncanakan sudah berjalan sebagaimana diharapkan dan data yang ditampilkan dapat diamati, serta kondisi kelas dalam pembelajaran sudah stabil, sehingga peneliti tidak lagi melanjutkan ke siklus III. Selain itu terjadi peningkatan hasil belajar dari Siklus I ke siklus II ini terjadi karena kekurangan-kekurangan pada siklus I dari hasil refleksi siklus I sedapat mungkin diperbaiki di siklus II.

Berdasarkan hasil analisis data di atas, maka hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar biologi siswa kelas VIIIa SMP Negeri 1

(12)

pada siklus I berkurang menjadi 7 orang dengan persentase 21,8% pada siklus II, kategori kurang sebanyak 11 orang dengan persentase 34,4% pada siklus I dan tidak ada lagi yang berada pada posisi kategori kurang pada siklus II. Tidak ada siswa yang berada pada kategori gagal baik pada siklus I maupun siklus II. Secara umum peningkatan ini terjadi karena siswa lebih bekerja sama dalam kelompok dan memiliki rasa tanggungjawab atas nomor kepala masing-masing sesuai dengan penerapan model pembelajaran tipe NHT.

Hasil observasi aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran kooperatif tipe NHT, menunjukkan bahwa rata-rata persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan pada pelaksanaan tindakan siklus II. Adapun peningkatan yang dimaksud adalah meningkatnya semangat belajar siswa dalam proses belajar mengajar. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya siswa yang memperhatikan dan menyimak pengarahan guru maupun siswa yang mempersentasekan hasil diskusi kelompoknya. Peningkatan aktivitas belajar siswa kategori menyimak pengarahan guru pada siklus I sebanyak 68,7% dan pada siklus II sebanyak 90,6%. Jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan pada saat pemberian materi sebanyak 16,6% pada siklus I meningkat menjadi 25 % pada siklus II, kerjasama dalam kelompokpun ketika mengerjakan LKS pada siklus I sebanyak 23% dan meningkat pada siklus II sebanyak 93,8%. Begitu pula dengan siswa yang menjawab pertanyaan (mempresentasekan hasil diskusi kelompok sesuai nomor kepala)meningkat dari siklus I hanya sebesar 12,5 % menjadi 28,1%.

Timbulnya kesadaran pada diri siswa yang ditandai dengan berkurangnya perilaku yang tidak relevan dengan Proses Belajar Mengajar siswa seperti membicarakan hal yang tidak berhubungan dengan materi pelajaran mengalami perubahan, yaitu pada siklus I sebanyak 28,1% menurun menjadi 18,7% pada siklus II. Peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II disebabkan pada pembelajaran kooperatif tipe NHT membentuk siswa belajar keterampilan sosial untuk saling mengenal, saling memahami dan kerjasama dalam meningkatkan prestasi kelompok. Juga usaha siswa untuk mengungkapkan gagasannya ataupun informasi antar mereka. Hal ini sejalan dengan pendapat Kauchak dan Eggen dalam Khaeruddin (2005), bahwa dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja sama dalam suatu kelompok, mereka saling membantu untuk mempelajari suatu materi akademik dan keterampilan antar pribadi anggota-anggota kelompok bertanggung jawab atas ketuntasan tugas-tugas kelompok dan untuk mempelajari materi itu sendiri.

(13)

setiap individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran dengan cara berbagai pengetahuan antara anggota kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT ini, memberi kesempatan bagi siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban-jawaban yang paling tepat, dan mendorong untuk meningkatkan semangat kerjasama setiap anggota kelompok (Lie, 2002)

Hasil analisis yang ada, maka terlihat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VIIIe SMP Negeri

1 Burau. Selain hasil belajar yang meningkat, juga aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar juga meningkat. Ini sesuai yang dikatakan (Aunurrrahman, 2009) bahwa “belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Jadi, belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, minat, dan penyesuaian diri. Hasil penelitian yang sama juga dikemukakan oleh Mirawati (2009) yang mampu meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP 26 makassar dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe NHT.

P. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data, dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran tipe Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil belajar biologi khususnya pada konsep sistem pernapasan siswa kelas VIIIa SMP Negeri 1 Makassar.

Q.Saran

1. Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together dapat menjadi salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran materi sistem pernapasan manusia untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Diharapkan pada peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan dan memperkuat hasil penelitian ini dengan mengadakan penelitian lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.,Suhardjono & Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.

Haling, Abdul. 2006. Belajar dan Pembelajaran. University Press. Makassar.

Hamalik, Oemar. 1990. Pengembangan Kurikulum (Dasar-dasar Dan Pengembangannya). Mandar Maju. Bandung.

Ibrahim, Fida Rachmadiarti, Mohammad Nur dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Press. Surabaya.

Gambar

Gambar 1. Skema Penelitian tindakan kelas (Arikunto, 2007))
Tabel 5. Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Belajar pada Siklus I dan  Siklus II Siswa Kelas VIIIa  SMP Negeri 1 Makassar

Referensi

Dokumen terkait

Second , the different formulations setting legal standing of legal en- tities in the procedural law judicial review rights also push on delegitimation quality of

System EMS pada mobil bensin bermanfaat terutama untuk mengurangi emisi gas buang sehingga lebih ramah lingkungan, hemat bahan bakar, performa mesin yang

Kelebihan- kelebihan pendekatan Ki Hajar Dewantara adalah: (1) membiasakan siswa belajar aktif dan mandiri dalam memecahkan suatu persoalan/ masalah yang mampu mengurangi dominasi

Premda je do sada nekoliko lijekova poznato kao teratogeno, većina žena uzima barem jedan lijek tijekom trudnoće, a upotreba po broju lijekova se od broja četiri utrostručila

1) Untuk membangun aplikasi simulasi ujian nasional berbasis komputer, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan analisa terhadap kebutuhan sistem, lalu

Penelitian mengenai beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi, seperti komitmen organisasi, budaya organisasi dan kepuasan kerja akan dilakukan di

Untuk memperjelas pembahasan agar analisis menjadi terarah sesuai dengan masalah yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasannya yaitu variabel

Hal ini disebabkan karena Kepala Daerah dan DPRD berada dalam satu kotak, sehingga Pasal : 13 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 merupakan alasan yang h a t bagi