BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Keong Mas
Keong mas atau siput murbei atau siput emas (pomacea sp.) adalah salah satu jenis keong air tawar yang berasal dari benua Amerika, khusunya dari Amerika Utara dan Amerika Selatan. Keong mas ini awalnya dimasukkan ke Asia sebagai menu makanan orang lokal dan juga berpotensi untuk produk eksport lalu hama ini dilepaskan begitu saja (Cowie, 2005)
Kehadiran siput murbei pertama kali di Indonesia hinga kini belum diketahui dengan pasti.Menurut Direktorat perlindungan Tanaman, siput murbai
masuk ke Indonesia pada tahun 1980. Kemudian pada tahun tersebut siput murbai telah dijual belikan sebagai ikan hias di Yogyakarta. Pada tahun-tahun berikutnya
Gambar 2.1 Keong mas (Pomacea canaliculata L.)
Klasifikasi ilmiah keong mas adalah sebagai berikut:
Phylum : Mollusca
Klas : Gastropoda
Ordo : Mesogastropoda
Family : Ampullaraiidae
Genus : Pomacea
Spesies : Pomacea sp. (Adalla dan Rejesus, 1989).
Keong mas dewasa memiliki cangkang yang berdiameter sekitar 4 cm dan berat 10-20 gram. Pertumbuhan cangkang dipengaruhi ketersediaan kalsium sebagai bahan pembentuk cangkang. Selain itu, lingkungan yang kaya dengan zat-zat makanan akan membentuk cangkang yang lebih besar, tebal dan kuat. Hewan ini dapat hidup 2-6 tahun dengan fertilitas yang tinggi (Sulistiono, 2007).
2.2 Kalsium Oksida
Kalsium oksida, juga dikenal sebagai caustic lime, berwujud kristal putih. Kalsium oksida dibuat dengan cara memanaskan kalsium karbonat pada suhu 500-600 C, terdekomposisi menjadi oksida dan karbon dioksida. Reaksinya adalah:
CaCO3(s) CaO(s) + CO
Reaksi ini bersifat reversible, saat produk yang terbentuk menjadi dingin, terjadi penyerapan karbon dioksida dari udara, sehingga dikonversikan kembali menjadi kalsium karbonat. Reaksi ini disebut juga reaksi kalsinasi.
Kalsium oksida banyak digunakan di industri, misalnya dalam pembuatan porselen dan kaca, pemurnian gula, kalsium karbida, kalsium sianamat, dan pembuatan semen. Dalam bidang agrikultur, kalsium oksida berguna untuk mengasamkan tanah. Dalam bidang organik, kalsium oksida bermanfaat dalam beberapa reaksi, seperti pembuatan gas metana secara sederhana dari sodium asetat. Kalsium oksida juga digunakan untuk melepaskan atau memindahkan gugus karboksil dari asam karboksilat aromatik, seperti asam benzoat dan asam salisilat.
Kalsium oksida, jika direaksikan dengan air akan membentuk kalsium hidroksida. Selama reaksi berlangsung, panas berlebih dikeluarkan. Reaksinya
adalah CaO + H2O Ca(OH)2
Panas yang dihasilkan dari rekasi ini dapat berguna sebagai sumber panas untuk berbagai kebutuhan.
+ Panas
Kalsium oksida juga bereaksi dengan garam ammonium atau dengan protein membentuk gas ammonia.Selain kalsium oksida juga dapat bereaksi dengan asam, namun bukan dalam bentuk oksidanya, melainkan harus dalam
bentuk kalsium hidroksida, sehingga harus direaksikan dengan air terlebih dahulu. Kalsium adalah sebua 20. Mempunyai massa atom 40.078 amu. Kalsium merupakan salah sat
2.3 Logam Berat
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5
2.4 Zinkum (Zn)
Zinkum (Zn) adalah komponen alam yang terdapat dikerak bumi. Zn adalah logam yang memiliki karakteristik cukup reaktif, berwarna putih-kebiruan, pudar bila terkena uap udara, dan terbakar bila terkena udara dengan api hijau terang. Zn dapat bereaksi dengan asam, basa, dan senyawa nonlogam.Zn memiliki nomor atom 30 dan memiliki titik lebur 419,73oC. Seng (Zn) di alam tidak berada dalam keadaan bebas, tetapi dalam bentuk terikat dengan unsur lain berupa mineral.Mineral yang mengandung Zn di alam bebas antara lain kalamin,
franklinit, smithsonit, willenit, dan zinkit. Sumber Zn adalah biji biji Zn berupa
sphalerit (sulfit), smithsonit (karbonat), kalamin (silikat), franklinit (Zn, Mn
Fe-oksida). Logam Zn yang masuk mencemari laut dari hasil proses geologi sebesar 370 metrik ton/tahun, sedangkan dari kegiatan manusia mencapai 3.430 metrik ton/tahun (Widowati, W. 2008)
2.4.1 Efek Toksik Zinkum (Zn)
Logam Zn sebenarnya tidak toksik, tetapi dalam keadaan sebagai ion, Zn bebas memiliki toksisitas tinggi.Meskipun Zn merupakan unsur esensial bagi tubuh, tetapi dalam dosis tinggi Zn dapat berbahaya dan bersifat toksik. Zn yang berlebih dan dicampurkan dalam makanan dapat menyebabkan hidrosefalus pada hewan uji tikus dan juga akan mempengaruhi metabolisme dalam perkembangan mesoderm untuk rangka.
Konsumsi Zn berlebih mampu mengakibatkan defesiensi mineral lain. Toksisitas Zn bisa bersifat akut dan kronis. Intake Zn 150 - 450 mg/hari mengakibatkan penurunan kadar Cu, pengubahan fungsi Fe, pengurangan imunitas tubuh, serta pengurangan kadar high density lipoprotein (HDL) kolesterol.
The National Academy of Sciences menetapkan dosis tertinggi zn yang
bulan adalah sebesar 4 mg, anak umur 7 – 12 bulan sebesar 5 mg, anak umur 1 – 3 tahun sebesar 7 mg, anak umur 4 – 8 tahun sebesar 12 mg, umur 9 – 13 tahun sebesar 23 tahun, umur 14 – 18 tahun sebesar 34 mg, umur > 19 tahun dan ibu hamil sebesar 40 mg (Widowati, 2008).
2.5 Argentum (Ag)
Perak adalah suatu unsur kimia dalam table periodik yang memiliki lambang Ag dan nomor atom 47.Lambangnya berasal dari bahasa Latin, yaitu Argentum.Perak merupakan logam yang terbentuk dan selalu bersama-sama dengan logam emas, yang mempunyai warna putih, lunak, mengkilap dan memiliki konduktivitas listrik dan panas tertinggi di seluruh logam
2.5.1 Efek Toksik Argentum (Ag)
Walau unsur perak itu sendiri tidak beracun, banyak senyawa garamnya sangat berbahaya. Exposisi pada perak (baik logam maupun senyawa-senyawanya yang dapat larut) di udara jangan sampai melebihi 0,01 g/m3 (berdasarkan 8 jam
rata-rata, selama 40 jam per minggu). Senyawa-senyawa perak dapat diserap dalam sistim sirkulasi tubuh dan hasil reduksi perak dapat terdepositkan pada banyak jaringan tubuh.Sebuah kondisi (argyria) dapat menimbulkan pigmen-pigmen abu-abu pada kulit tubuh dan selaput-selaput mucous.Perak memiliki sifat-sifat yang dapat membunuh bakteri tanpa membahayakan binatang-binatang besar
2.6 Adsorpsi
dalam zat penyerap. Secara kimia absorpsi adalah masuknya gas ke dalam padatan atau larutan, atau masuknya cairan ke dalam padatan. Sedangkan secara fisika, absorpsi adalah perubahan energi radiasi elektromagnetik, bunyi, berkas partikel, dan lain-lain ke dalam bentuk energy lain jika dilewatkan pada suatu medium.bila foton diserap akan terjadi suatu peralihan ke keadaan tereksitasi (Daintith, 1994).
2.7 Difraksi Sinar X
Difraksi sinar x atau x-ray diffraction (XRD) adalah suatu metode analisa yang digunakan untuk mengidentifikasi fasa kristalin dalam material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan ukuran partikel. Profil XRD juga dapat memberikan data kualitatif dan semi kualitatif pada padatan atau sampel. Difraksi sinar x ini digunakan untuk beberapa hal, diantaranya:
- Pengukuran jarak rata-rata antara lapisan atau baris atom - Penentuan Kristal tunggal
- Penentuan struktur Kristal dari material yang tidak diketahui - Mengukur bentuk, ukuran, dan tegangan dalam dari kristal kecil
2.8 Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
Peristiwa serapan atom pertama kali oleh Fraunhofer, ketika menelaah garis-garis hitam pada spektrum matahari.Sedangkan yang memanfaatkan prinsip serapan atom pada bidang analis adalah seorang Australia bernama Alan Wish pada tahun 1955.Sebelumnya ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik atau metode analisa spektrografik. Beberapa cara ini sulit dan memakan waktu, kemudian segera digantikan dengan spektroskopi serapan atom atau atomic
2.8.1 Prinsip Dasar Spektofotometer Serapan Atom
Jika cahaya dengan panjang gelombang resonansi dilewatkan nyala yang
mengandung atom-atom bersangkutan, maka sebagian cahaya itu akan diserap, dan jauhnya penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan
dasar yang berada dalam nyala. Hal ini merupakan dasar penentuan kualitatif logam-logam dengan menggunakan SSA (Walsh, 1955).
2.8.2 Instrumentasi Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
A B C D E F
Gambar 2.2 Skema peralatan ringkas Spektrofotometer Serapan Atom
Keterangan gambar:
A = Lampu Katoda Berongga B = Nyala
C = Monokromator D = Detektor E = Amplifier
F = Rekorder (Sumber: Purworini, 2006)
2.7.3 Cara Kerja Spektrofotometer Serapan Atom
Cara kerja spekrofotometer serapan atom ini adalah berdasarkan atas penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut mengabsorpsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya (Darmono, 1955).