• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESCRIPTION OF STUDENTS BEHAVIOR OF SMA NEGERI 9 PALU ON HIV AIDS PREVENTION | Bangkele | Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 9278 30305 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DESCRIPTION OF STUDENTS BEHAVIOR OF SMA NEGERI 9 PALU ON HIV AIDS PREVENTION | Bangkele | Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 9278 30305 1 PB"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

26 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... DESCRIPTION OF STUDENTS BEHAVIOR OF SMA NEGERI 9 PALU ON

HIV/AIDS PREVENTION

Elli Yane Bangkele*, Andi Zuhra Ibrahim**.

* Public Health Unit, Faculty of Medicine and Health Science, Tadulako University **Medical Student, Faculty of Medicine and Health Science Tadulako University

ABSTRACT

Background: HIV/AIDS is a disease that spreads widely in the world which the number of

sufferers are constantly increasing. Most of the people with HIV/AIDS are on the productive age range, including the students, that were influenced by risk behavior among adolescents. The high risk of HIV transmission is affected by the behavior, including syringe usage and free sex.

Methods: The research was an observation descriptive with a cross sectional approach.

Population of this research were 270 people which the samples were 73 people with the selection of samples was performed using stratified random sampling technique and purposive sampling. Data was collected by using a questionnaire.

Results: The result of the research are 73 students in SMA Negeri 9 Palu were in the category of good knowledge with percentage at 74,0%, 19,2% respondents were categorized in the group of moderate knowledge and category of less knowledge was 6,8%. In addition to the students’s attitude, moderate category was to 87,7% and 12,3% respondents were categorized in the group of less behaviour. Student action lied on good category were as many as 83,6% and moderate category were as many as 16,4%.

Conclusion : Overview of student behavior in SMA Negeri 9 Palu on the prevention of

HIV/AIDS as a whole were quite good, but the stakeholder of the school should pay more attention to students, in order to refrain from risky behavior to HIV/AIDS infection.

(2)

27 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... GAMBARAN PERILAKU SISWA SMA NEGERI 9 PALU TERHADAP

PENCEGAHAN HIV/AIDS

Elli Yane Bangkele *,Andi Zuhra Ibrahim**.

* Bagian Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako **Mahasiswi Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako

ABSTRAK

Latar Belakang: HIV/AIDS merupakan penyakit yang tersebar di seluruh dunia dan jumlah penederitanya semakin hari semakin meningkat. Penderita HIV/AIDS tersebut sebagian besar berada dalam rentang usia produktif, termasuk para pelajar, hal ini dipengaruhi oleh perilaku beresiko di kalangan remaja. Resiko tinggi penularan HIV diketahui berasal dari perilaku, termasuk penggunaan jarum suntik dan seks bebas.

Metode: Jenis penelitian ini adalah observasi yang bersifat deskriptif dengan pendekatan

cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 270 orang, besar sampel sebanyak 73 orang.

Pemilihan sampel dilakukan menggunakan teknik Stratified Random Sampling dan

Purposive Sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.

Hasil: Dari 73 orang siswa SMA Negeri 9 Palu, yang memiliki kategori pengetahuan baik sebesar 74,0%, kategori pengetahuan cukup sebesar 19,2% dan kurang sebesar 6,8%. Sikap siswa berada pada kategori cukup sebesar 87,7% dan kategori kurang sebesar 12,3%. Tindakan siswa berada pada kategori baik sebesar 83,6% dan kategori cukup sebesar 16,4%.

Kesimpulan: Gambaran perilaku siswa SMA Negeri 9 Palu terhadap pencegahan HIV/AIDS secara keseluruhan sudah cukup baik, namun kepada pihak sekolah harus tetap memperhatikan siswa agar tidak melakukan perilaku beresiko terhadap penularan HIV/AIDS.

(3)

28 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... PENDAHULUAN

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyerang/menginfeksi sel darah putih

yang menyebabkan turunnya kekebalan

tubuh manusia. AIDS atau Acquired

Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit yang diderita

seseorang yang sudah terinfeksi HIV yang

merusak sistem kekebalan tubuh manusia

sehingga daya tahan tubuh makin

melemah dan mudah terkena penyakit

infeksi lainnya.1

Di seluruh dunia pada tahun 2013 ada

35 juta orang hidup dengan HIV yang

meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta

anak berusia <15 tahun. Jumlah infeksi

baru HIV pada tahun 2013 sebesar 2,1 juta

perempuan dari 1,9 juta dewasa dan

240.000 anak berusia <15 tahun. Jumlah

kematian akibat AIDS sebanyak 1,5 juta

terdiri dari 1,3 juta dewasa dan 190.000

anak berusia <15 tahun.1

Di Indonesia, HIV AIDS pertama kali

dilaporkan di Bali pada April 1987 (terjadi

pada orang Belanda). Pada tahun 1999

terdapat 635 kasus HIV dan 183 kasus

baru AIDS. Mulai tahun 2000-2005 terjadi

peningkatan kasus HIV dan AIDS secara

signifikan di Indonesia.2

Laporan kasus HIV/AIDS di Sulawesi

Tengah tahun 2002 hingga Desember

2015 terdapat 1085 total kasus HIV/AIDS

yang tersebar di 13 kabupaten/kota.

Penyebaran kasus terbesar ditemukan di

Kota Palu dengan jumlah total 604 kasus

HIV/AIDS, disusul kabupaten Sigi

sebanyak 82 total kasus HIV/AIDS.3

Jumlah kasus HIV dan AIDS di

wilayah Kota Palu dari tahun ke tahun

semakin menunjukkan trend peningkatan

dan mengisyaratkan bahwa sebagian besar

pengidap HIV dan AIDS di Kota Palu

adalah golongan usia produktif termasuk

para remaja.4

Masa remaja merupakan masa

perubahan atau peralihan dari masa

kanak-kanak ke masa dewasa yang

meliputi perubahan biologis, perubahan

psikologis dan perubahan sosial. Masa

remaja pada umumnya dimulai pada usia

10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22

(4)

29 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... Sifat khas remaja mempunyai rasa

keingintahuan yang besar, menyukai

petualangan dan tantangan serta

cenderung berani menanggung resiko atas

perbuatannya tanpa didahului oleh

pertimbangan yang matang. Apabila

keputusan yang diambil dalam

menghadapi konflik tidak tepat, mereka

akan jatuh ke dalam perilaku beresiko dan

harus menanggung akibat dalam berbagai

masalah kesehatan fisik dan psikososial.6

Perilaku dapat diartikan sebagai suatu

respon organisme atau seseorang terhadap

rangsangan (stimulus) dari luar objek

tersebut.5 Perilaku berisiko pada remaja

mengacu pada segala sesuatu yang

berkaitan dengan perkembangan

kepribadian dan adaptasi sosial dari

remaja.7

Beberapa masalah kesehatan yang

terjadi pada remaja berkaitan dengan

perilaku yang berisiko, yaitu merokok,

minum minuman beralkohol,

penyalahgunaan narkoba, dan melakukan

hubungan seksual pranikah.8

Resiko tertinggi penularan HIV

diketahui berasal dari perilaku, termasuk

penggunaan jarum suntik (penasun) dan

seks yang tidak telindungi dan dari ibu

yang terjangkit ke anak mereka dan

selama persalinan.9

Tingkat pengetahuan dan kesadaran

masyarakat terhadap HIV/AIDS

merupakan faktor yang sangat penting

dalam pencegahan penyebaran penyakit

HIV/AIDS. Berdasarkan uraian tersebut

diatas, penulis tertarik melakukan

penelitian untuk mengetahui perilaku

remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS di

salah satu sekolah negeri di kota Palu

yaitu SMA Negeri 9 Palu.

METODE

Jenis penelitian ini adalah observasi yang

bersifat deskriptif dengan pendekatan

cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 270 orang, besar sampel

sebanyak 73 orang. Pemilihan sampel

dilakukan menggunakan teknik Stratified

Random Sampling dan Purposive

Sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.

HASIL

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

SMA Negeri 9 Palu bertempat di Jl. Hi.

Patila Kecamatan Tawaeli Kota Palu

(5)

30 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... ruang kelas, 2 ruang laboratorium,

perpustakaan, halaman/lapangan olahraga,

kantin, ruang tata usaha, ruang guru dan

ruang kepala sekolah. Jumlah siswa-siswi

SMA Negeri 9 Palu pada tahun ajaran

2. Deskripsi Karakteristik Responden Ditinjau dari segi jenis kelamin,

kelompok terbesar adalah perempuan

yaitu sebanyak 49 orang (67,1%) dan

terendah pada kelompok laki-laki yaitu

sebesar 24 orang (32,9%). Data lengkap

mengenai karakteristik jenis kelamin

responden dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di SMA Negeri 9 Palu Tahun 2016

Jenis Kelamin n %

Sumber : Data Primer (Kuesioner)

Ditinjau dari segi usia, kelompok

terbesar pada usia 16 tahun yaitu sebanyak

36 orang (46,5%) dan kelompok usia

terendah yaitu usia 14 tahun dan 20 tahun

masing-masing sebanyak 1 orang (1,36%).

Data lengkap mengenai karakteristik umur

responden dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi Karakterstik Responden Berdasarkan

Sumber : Data Primer (Kuesioner)

3. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan dalam penelitian

ini diukur menggunakan kuesioner yang

terdiri dari 14 buah pertanyaan yang

sebelumnya telah diuji validitas dan

(6)

31 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... tingkat pengetahuan responden mengenai

HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Distribusi Tingkat Pengetahuan Siswa-siswi Tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 9 Palu Tahun 2016

Kategori n %

Sumber : Data Primer (Kuesioner)

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan

bahwa tingkat pengetahuan siswa-siswi

SMA Negeri 9 Palu mengenai HIV/AIDS

terbanyak berada dalam kategori baik

yaitu sebanyak 54 orang (74,0%), kategori

cukup sebanyak 14 orang (19,2%) dan

kategori kurang sebanyak 5 orang (6,8%).

4. Sikap

Sikap responden dalam penelitian

ini diukur menggunakan kuesioner yang

terdiri dari 7 buah pertanyaan yang

sebelumnya telah diuji validitas dan

reliabilitasnya. Data lengkap mengenai

sikap responden terhadap pencegahan

HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Distribusi Sikap Siswa-siswi terhadap Pencegahan

Sumber : Data Primer (Kuesioner)

Berdasarkan tabel 4.4 sikap

siswa-siswi SMA Negeri 9 Palu terhadap

pencegahan HIV/AIDS terbanyak berada

dalam kategori cukup yaitu sebanyak 64

orang (87,7%) dan kategori kurang

sebanyak 9 orang (12,3%).

5. Tindakan

Untuk mengetahui tindakan

responden, peneliti menyajikan beberapa

pernyataan kepada responden terkait

tindakan yang telah dilakukan dalam

mencegah penularan HIV. Data lengkap

mengenai hasil penelitian terhadap

tindakan pencegahan HIV/AIDS dapat

(7)

32 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... Tabel 4.5 Distribusi Tidakan

Siswa-siswi terhadap Pencegahan HIV/AIDS di SMA Negeri

Sumber : Data Primer (Kuesioner)

Berdasarkan tabel 4.5 diatas

menunjukkan bahwa tindakan siswa-siswi

SMA Negeri 9 Palu terhadap pencegahan

HIV/AIDS berada dalam kategori baik

yaitu sebanyak 61 orang (83,6%) dan

kategori cukup sebanyak 12 orang

(16,4%).

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri

9 Palu pada April-Mei 2016 dengan

memberikan kuesioner kepada siswa-siswi

kelas X dan XI di SMA Negeri 9 Palu

dengan pemilihan sampel menggunakan

Stratified Random Sampling dan

Purposive Sampling yang berjumlah 73 responden.

Responden diberikan lembar

kesediaan untuk ikut serta dalam

penelitian (informed consent) dan

kuesioner untuk menilai perilaku siswa

yang terdiri dari tiga bagian kuesioner

yang digunakan untuk menilai perilaku

siswa, yaitu tingkat pengetahuan, sikap

dan tindakan responden terhadap

pencegahan HIV/AIDS. Identitas

responden sekaligus lembar pesetujuan

berada di halaman pertama dan tiga item

kuesioner berada pada lembaran

selanjutnya.

Tingkat pengetahuan pada penelitian

ini dinilai dengan menyajikan 14

pertanyaan pada kuesioner yang mewakili

aspek definisi dan penyebab HIV,

penularan, gejala serta pencegahan

HIV/AIDS. Pengetahuan responden

tentang definisi dan penyebab HIV

diwakili oleh pertanyaan nomor 1-4,

pengetahuan responden tentang gejala

HIV diwakili oleh nomor 5 dan 11,

pengetahuan responden tentang penularan

HIV diwakili oleh nomor 6-10 serta

pengetahuan responden tentang

pencegahan HIV diwakili oleh nomor

(8)

33 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... Pengetahuan responden mengenai

definisi dan penyebab HIV sebagian besar

sudah cukup baik. Demikian pula

pengetahuan mengenai penularan

HIV/AIDS sebagian besar sudah cukup

baik. Namun masih terdapat beberapa

pertanyaan dengan persentase jawaban

benar yang masih rendah, yaitu

pertanyaan bahwa HIV/AIDS merupakan

penyakit keturunan dan dapat menular

melalui makanan. Sedangkan untuk

pengetahuan responden mengenai gejala

HIV sebagian besar masih rendah.

Menurut peneliti hal ini dapat disebabkan

karena tingkat pengetahuan responden

tentang gejala HIV belum secara

mendalam, tetapi masih seputar

pengetahuan dasar mengenai HIV.

Adapun tingkat pengetahuan responden

mengenai pencegahan HIV sudah cukup

baik. Hal ini menjadi sangat penting untuk

diketahui oleh remaja agar mereka dapat

melakukan tindakan pencegahan sejak

dini dan memulai dari diri sendiri.

Penelitian ini sejalan dengan

penelitian lain yang telah dilakukan

sebelumnya, dimana diperoleh hasil

tingkat pengetahuan remaja yang

bervariasi. Penelitian yang dilakukan oleh

Muhanur (2006) diperoleh hasil yaitu

tingkat pengetahuan remaja tentang

HIV/AIDS berada pada kategori sedang

yaitu sebanyak 51 orang (53,1%), dan

hasil penelitian oleh Rahman (2014),

diperoleh tingkat pengetahuan remaja

dalam kategori baik sebesar 70,6% dan

kategori kurang sebesar 29,4%.

Pengetahuan dipengaruhi oleh

beberapa faktor internal dan eksternal.

Faktor internal meliputi pendidikan,

persepsi dan motivasi serta pengalaman.

Pendidikan adalah suatu proses belajar

yang berarti terjadi proses pertumbuhan,

perkembangan atau perubahan kearah

yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih

matang pada diri individu, kelompok dan

masyarakat. Persepsi mengenal dan

memilih berbagai objek sehubungan

dengan tindakan yang diambil. Motivasi

merupakan dorongan, keinginan dan

tenaga penggerak yang berasa dari dalam

diri seseorang. Pengalaman adalah sesuatu

yang dirasakan (diketahui, dikerjakan),

dan juga merupakan kesadaran akan suatu

hal yang tertangkap oleh indera manusia.

Adapun faktor eksternal yang

mempengaruhi pengetahuan antara lain

(9)

34 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... dan informasi. Lingkungan sebagai faktor

yang berpengaruh bagi pengembangan

sikap dan perilaku individu. Sosial

ekonomi, penghasilan, sering dilihat untuk

menilai hubungan antara tingkat

penghasilan dengan pemanfaatan

pelayanan kesehatan. Kebudayaan adalah

perilaku normal, kebiasaan, nilai,

penggunaan sumber-sumber di dalam

suatu masyarakat akan menghasilkan

suatu pola hidup. Informasi keterangan,

pemberitahuan yang dapat menimbulkan

kesadaran dan mempengaruhi perilaku

(Notoatmodjo, 2007).

Widianti (2007) menyebutkan bahwa

faktor yang mempengaruhi pengetahuan

seseorang antara lain pengalaman, tingkat

pendidikan, keyakinan, fasilitas,

penghasilan, dan sosial. Semakin banyak

pengalaman seseorang yang diperoleh dari

pengalaman sendiri maupun orang lain

yang ada di sekitarnya semakin luas pula

pengetahuan orang tersebut. Seseorang

yang berpendidikan lebih tinggi akan

mempunyai pengetahuan yang lebih luas

dibandingkan dengan seseorang yang

tingkat pendidikannya lebih rendah.

Keyakinan yang diperoleh secara

turun-temurun dan tanpa adanya pembuktian

terlebih dahulu juga dapat mempengaruhi

pengetahuan seseorang. Semakin banyak

fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi

seperti radio, televisi, majalah, koran, dan

buku maka semakin banyak pula

pengetahuan yang didapat. Seseorang

yang berpenghasilan cukup besar akan

mampu menyediakan atau membeli

fasilitas-fasilitas sumber informasi yang

dapat menambah pengetahuan.

Kebudayaan setempat dan kebiasaan

dalam keluarga juga dapat mempengaruhi

pengetahuan, persepsi, dan sikap

seseorang.

Pengetahuan merupakan domain yang

sangat penting terhadap terbentuknya

tindakan seseorang. Pengetahuan

responden dalam penelitian ini secara

keseluruhan sudah cukup baik. Adapun

kekurangan yang masih terdapat pada

beberapa aspek pengetahuan perlu untuk

ditingkatkan. Pengetahuan yang benar

mengenai HIV/AIDS perlu diperhatikan

agar para remaja dapat menghindari

perilaku beresiko terhadap penularan

HIV/AIDS.

Sikap pada penelitian ini dinilai

dengan menyajikan 7 pertanyaan yang

(10)

35 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... pencegahan penularan HIV/AIDS. Sikap

responden terhadap pencegahan penularan

HIV/AIDS diwakili oleh pertanyaan 1-4

dan sikap responden terhadap penularan

HIV/AIDS diwakili oleh nomor 5-7.

Berdasarkan hasil penelitian,

didapatkan bahwa sikap responden

terhadap penularan HIV/AIDS sebagian

besar sudah cukup baik. Demikian pula

sikap responden mengenai pencegahan

penularan HIV/AIDS. Hal ini dapat dilihat

dari sebagian besar jawaban responden

yang sepakat agar penyuluhan/sosialisasi

mengenai HIV dan narkoba dilakukan

secara rutin.

Penelitian ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Muhanur

(2006), dimana diperoleh hasil sikap

remaja terhadap HIV/AIDS mayoritas

berada dalam kategori baik yaitu 96 orang

(100%).

Menurut Berkowitz (1972) sikap

seseorang terhadap suatu objek adalah

perasaan mendukung atau memihak

(favorable) maupun perasaan tidak

mendukung atau tidak memihak

(unfavorable) pada objek tertentu.

Sikap seseorang dipengaruhi oleh

banyak faktor dalam proses

pembentukannya. Ada berbagai faktor

yang mempengaruhi pembentukan sikap

antara lain pengalaman pribadi, orang lain

yang dianggap penting, kebudayaan,

media massa, lembaga pendidikan dan

lembaga agama, serta faktor emosional

Azwar (2005).

Menurut Middlebrook (1974) tidak

adanya pengalaman sama sekali dengan

suatu objek psikologis cenderung akan

membentuk sikap negatif terhadap objek

tersebut.

Perbedaan sikap seseorang dengan

orang lain terhadap objek yang sama dapat

dipengaruhi oleh faktor sosio-psikologis.

Manifestasi sikap tidak dapat langsung

dilihat tetapi dapat ditafsirkan terlebih

dahulu dari perilaku yang tertutup

(Notoatmodjo, 2011).

Sikap belum merupakan tindakan atau

aktivitas, melainkan merupakan

predisposisi suatu tindakan. Sikap

ditentukan oleh beberapa hal penting,

seperti pengetahuan, keyakinan dan emosi

seseorang (Notoatmodjo, 2011).

Tindakan pada penelitian ini dinilai

dengan menyajikan 8 pertanyaan

mengenai tindakan yang telah dilakukan

(11)

36 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... HIV/AIDS. Berdasarkan hasil penelitian

diketahui bahwa semua responden

menjawab pernah melakukan tindakan

pencegahan HIV yaitu sebanyak 73 orang

(100%). Adapun tindakan pencegahan

yang paling banyak dilakukan adalah

dengan tidak melakukan hubungan

seksual sebelum menikah, yaitu sebesar

98,6% dan terendah yaitu dengan

menjauhi penderita sebesar 57,5%.

Penelitian ini sejalan dengan

penelitian sebelumnya yang telah

dilakukan, dimana diperoleh hasil

tindakan remaja yang bervariasi.

Penelitian yang dilakuka oleh Muhanur

(2006) diperoleh hasil bahwa tindakan

responden dalam pencegahan HIV/AIDS

berada dalam kategori baik yaitu 96 orang

(100%), dan penelitian yang dilakukan

oleh Dalimunthe (2008) bahwa tindakan

pencegahan HIV pada remaja diperoleh

hasil pada kategori baik sebesar 70,3%,

kategori sedang sebesar 24,2% dan

kategori kurang sebesar 5,5%.

Suatu sikap belum otomatis terwujud

dalam suatu tindakan (overt behaviour). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu

perbedaan nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan, antara lain adalah

fasilitas (Notoatmodjo, 2011).

Tingkat tindakan responden terhadap

pencegahan HIV/AIDS sebagian besar

termasuk dalam kategori baik yaitu

sebesar 83,6% (Tabel 4.5). Tindakan

responden ini dapat dipengaruhi

pengetahuan dan sikap responden tentang

penularan HIV yang pada umumnya juga

pada kategori baik. Hal ini sejalan dengan

pendapat Notoatmodjo (2007), yang

menyatakan bahwa setelah seseorang

mengetahui stimulus atau objek

kesehatan, kemudian mengadakan

penilaian atau pendapat terhadap apa yang

diketahui, proses selanjutnya diharapkan

ia akan melaksanakan atau

mempraktekkan apa yang disebut praktek

(practice) kesehatan, atau dapat juga

dikatakan perilaku kesehatan (overt

behavior). Menurut peneliti hal ini sudah sangat baik dan sepatutnya dipertahankan

agar para remaja dapat terhindar dari

hal-hal yang beresiko terhadap penularan

(12)

37 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ... KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari hasil penelitian

ini adalah sebagai berikut.

1. Tingkat pengetahuan siswa-siswi SMA

Negeri 9 Palu berada dalam dalam

kategori baik yaitu sebesar 73,9%,

kategori cukup sebesar 19% dan

kategori kurang sebesar 6,8%.

2. Sikap siswa-siswi SMA Negeri 9 Palu

dalam mencegah HIV/AIDS terbanyak

berada dalam kategori cukup yaitu

sebesar 87,7% dan kategori kurang

sebesar 12,3%.

3. Tindakan siswa-siswi SMA Negeri 9

Palu dalam mencegah HIV/AIDS

terbanyak dalam kategori baik yaitu

sebesar 83,6% dan kategori cukup

sebesar 16,4%.

SARAN

1. Bagi pihak sekolah dan pendidik dapat

lebih memperhatikan perilaku para

siswa terkait pencegahan HIV/AIDS

pada khususnya dan kesehatan

reproduksi remaja pada umumnya

dengan melaksanakan program

pendidikan kesehatan melalui

sosialisasi, ceramah, maupun seminar

untuk meningkatkan pengetahuan

siswa-siswi mengenai HIV/AIDS dan

kesehatan reproduksi remaja.

2. Bagi peneliti lain diharapkan dapat

memperluas sampel dan variabel yang

belum diteliti pada penelitian ini

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia, 2014. Situasi dan Analisis

HIV AIDS. Pusat Data dan Informasi

Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.

2. Widoyono, 2011. Penyakit Tropis:

Epidemiologi, Penularan, Pencegahan

& Pemberantasannya. Ed 2. Pp:

108-115. Penerbit Erlangga. Jakarta.

3. Komisi Penanggulangan AIDS

Provinsi Sulawesi Tengah, 2016.

Perkembangan HIV/AIDS di Sulawesi

Tengah. (diakses 20 Januari 2016).

2014. Pemerintah Kota Palu.

5. Notoatmodjo, S. 2007. Promosi

Kesehatan dan Ilmu Perilaku. PT.

(13)

38 Elli Yane Bangkele & Andi Zuhra Ibrahim, Gambaran Perilaku Siswa SMA Negeri 9 Palu ...

6. Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia, 2015. Situasi Kesehatan

Reproduksi Remaja, Pusat Data dan

Informasi Kementrian Kesehatan RI,

Jakarta.

7. World Health Organization, 1993.

The Health of Young People : A

Challenge and a Promise. Geneva.

Switzerland.

8. Departemen Kesehatan Republik

Indonesia, 2003. Materi Pelayanan

Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).

Jakarta.

9. UNICEF Indonesia, 2004.

Mengurangi Resiko HIV. (diakses

pada 20 Januari 2016). Dari

http://unicef.org/indonesia/id/hiv_aids

.html.

10. Notoatmodjo, S. 2011. Kesehatan

Masyarakat: Ilmu & Seni. PT. Rineka

Gambar

Tabel 4.2
Tabel 4.4 Distribusi Sikap Siswa-siswi
Tabel 4.5 Distribusi Tidakan Siswa-

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian membuktikan bahwa ada pengaruh pengetahuan (p=0,04), sikap (0,00) dan motivasi diri (p=0,00) terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS pada siswa- siswi SMA

Dari 4 kriteria yang dapat diteliti, pengobatan pasien demam tifoid di RSUD Undata Palu Tahun 2012 dapat dikatakan tidak rasional, karena kriteria pengobatan

Menunjukkan dari uji statistik diperoleh hasil hanya kadar hemoglobin yang cukup signifikan peranannya terhadap terjadinya koinfeksi Tuberkulosis pada pasien

Sampel dalam penelitian ini yaitu balita yang berada di Kelurahan Taipa Kota Palu yang berjumlah 99 balita yang terdiri dari 33 kasus dan 66 kontrol.. Pengumpulan data dilakukan

desain cross sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data kejadian DBD dan kepadatan penduduk di Kota Palu tahun 2010-2014 yang diperoleh dari

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptiv untuk mengetahui persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan di unit rawat inap RS Anuta Pura Palu

Pada umumnya sikap informan terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS sudah cukup baik, dengan adanya ketersediaan kondom di kamar masing-masing PSK serta dukungan dari para mucikari

Responden yang mempunyai pengetahuan cukup cenderung bersikap positif terhadap pencegahan HIV dan AIDS, karena dengan bekal pemahaman yang baik maka seseorang sudah dapat