• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Globalisasi telah membuat batas antar negara menjadi semakin tersamar, sehingga memungkinkan terjadinya hubungan kerjasama antar negara baik melalui hubungan regional, bilateral, maupun multilateral. Kerjasama ini terjadi di berbagai sektor, termasuk di dalam sektor ketenagakerjaan. Dalam konteks ini, Indonesia telah melakukan kerjasama ketenagakerjaan dengan negara lain sejak masa penjajahan di tahun 1890. Menurut Effendi dalam Nasution (1999), migrasi tenaga kerja ini sifatnya cenderung permanen (tenaga kerja akan menetap dan menjadi penduduk di negara tujuan) dan ada unsur paksan (forced migration).

Pada tahun 1947, dibentuklah sebuah lembaga yang mengurus sektor ketenagakerjaan atau perburuhan di Indonesia yaitu Kementerian Perburuhan. Pembentukan lembaga ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.3/1947. Pada saat itu, pemerintah tidak terlibat dalam proses penempatan tenaga kerja. Penempatan tersebut masih bersifat tradisional dan berdasarkan asas kekerabatan (dilakukan secara orang perorang). Pemerintah mulai turun tangan pada tahun 1970 dimana penempatan TKI kemudian diatur dan didasarkan pada kebijakan pemerintah Indonesia pada tahun 1970 melalui Peraturan Pemerintah No.4/1970 melalui Program Antarkerja Antardaerah (AKAD) dan Antarkerja Antarnegara (AKAN). Program ini dilaksanakan oleh Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi yang bekerjasama dengan pihak swasta untuk melakukan proses pengerahan jasa TKI dan penempatan TKI swasta.

Mulai tahun 2004, seluruh proses penempatan dan perlindungan TKI secara resmi dilaksanakan oleh sebuah badan bernama BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia). Sesuai dengan Keputusan Kepala Badan BNP2TKI Nomor: PER.35/KA.VIII/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di lingkungan BNP2TKI, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogyakarta mempunyai tugas

(2)

untuk memberikan kemudahan pelayanan pemrosesan seluruh dokumen penempatan, perlindungan, dan penyelesaian masalah TKI secara terkoordinasi dan terintegrasi khusunya di wilayah Yogyakarta.

Dengan adanya pembentukan lembaga yang resmi mengurus TKI, maka perlu diketahui pengertian dari TKI itu sendiri. Pengertian TKI menurut pasal 1 bagian (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Tenaga Kerja Indonesia Purna yang selanjutnya disebut TKI Purna adalah setiap TKI yang telah kembali ke Indonesia baik karena telah berakhir perjanjian kerjanya maupun karena sebab lain.

Sesuai dengan Keputusan Kepala Badan BNP2TKI Nomor: PER.35/KA.VIII/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di lingkungan BNP2TKI, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogyakarta mempunyai tugas untuk memberikan kemudahan pelayanan pemrosesan seluruh dokumen penempatan, perlindungan, dan penyelesaian masalah TKI secara terkoordinasi dan terintegrasi khusunya di wilayah Yogyakarta. Melalui pencatatan yang dilakukan oleh BP3TKI, terdapat 10.548 TKI Purna yang kembali ke Indonesia melalui pintu Bandara Internasional Adi Soetjipto. Berikut adalah data yang menunjukkan kepulangan TKI Purna berdasarkan daerah asalnya:

Tabel 1. Data Kepulangan TKI Berdasarkan Daerah Asal Melalui Bandara Internasional Adi Soetjipto Yogyakarta tahun 2015

Kabupaten/Kota Jumlah Kepulangan TKI

Yogyakarta 30 Sleman 136 Bantul 221 Gunung Kidul 72 Kulon Progo 223 Luar DIY 9866 Total 10548

(3)

Dari data tersebut dapat diketahui jumlah kepulangan tertinggi ditempati oleh TKI yang berasal dari luar DIY, misalnya dari Klaten, Cilacap, dan lain-lain. Jumlah tertinggi kedua dan ketiga ditempati oleh Kulon Progo dan Gunung Kidul. Kedua daerah ini masih menjadi penyumbang TKI terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Konsentrasi utama yang ditujukkan kepada para TKI Purna adalah kemampuannya di dalam mengelola pendapatan yang diterimanya dari pekerjaannya di luar negeri. Harapannya, TKI Purna dapat bersikap bijak di dalam mengelola keuangannya sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi keluarganya. Namun, hal yang sering ditemui di lapangan adalah TKI Purna yang masih kurang bijak memanfaatkan uang yang dimilikinya dan cenderung konsumtif. Perilaku konsumtif ini dapat dipengaruhi oleh gaya hidup yang biasa diaplikasikan selama bekerja di luar negeri.

Untuk mengatasi hal tersebut, BP3TKI melakukan program pelatihan sebagai bentuk pemberdayaan kepada para TKI Purna dan keluarganya. Tujuan pelatihan ini adalah untuk menambah wawasan mereka serta meningkatkan motivasi mereka untuk dapat memanfaatkan uang atau gaji yang mereka dapatkan dari hasil bekerja di luar negeri menjadi suatu bentuk kegiatan yang sifatnya produktif. Pemberdayaan TKI Purna ini menjadi Fokus dan Prioritas Program Kepala BNP2TKI untuk mendorong, membantu dan memfasilitasi para TKI Purna dan keluarganya menuju kesejahteraaan yang lebih baik dan penghidupan yang layak. Program pemberdayaan TKI Purna berada di bawah Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan, kegiatan yang dilakukan diantaranya:

(4)

Identifikasi Calon

Peserta Seleksi dan Penetapan Peserta Koordinasi dengan Stakeholders

Pelaksanaan (mencakup fasilitasi dan pendampingan) Akses Pasar, Akses

Modal, Link ke Stakeholders Terkait Pembentukan Usaha Mandiri, Koperasi, Asosiasi, Kelompok Usaha, Pekerja Produktif Monitoring dan Evaluasi

1. Pelatihan Bimtek Kewirausahaan TKI Purna

Kegiatan pemberdayaan yang pertama yaitu Pelatihan Bimtek Kewirausahaan TKI Purna dan keluarganya, mekanismenya adalah sebagai berikut:

Grafik 1. Alur Mekanisme Pelatihan Bimtek bagi TKI Purna dan Keluarganya

Sumber: Pemberdayaan Terintegrasi Bagi TKI Purna dan Keluarganya - BNP2TKI Tahap pertama adalah identifikasi peserta yang dilakukan sebelum pelaksanaan pelatihan. Identifikasi peserta dilakukan dengan melakukan pendataan di debarkasi maupun di kantong daerah asal TKI melalui data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara atau kunjungan melalui kuesioner, ditabulasi dan dianalisa sesuai dengan wilayah kerja BP3TKI. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh pada waktu pemulangan TKI melalui daerah debarkasi (misalnya: melalui Bandara Adi Soecipto Yogyakarta) dan melalui crisis center. Setelah memperoleh data peserta, BP3TKI melakukan proses kedua yaitu seleksi dan penetapan peserta dari data tersebut.

Tahap selanjutnya yaitu koordinasi dengan stakeholders. Stakeholders yang dimaksud adalah berbagai pihak yang membantu kelancaran proses pelatihan Bimtek

(5)

tersebut. Berbagai stakeholders yang terkait adalah mitra usaha lokal, praktisi dari lembaga keuangan dan perbankan, motivator, dan inspirator (TKI Purna yang berhasil dalam usahanya). Peran mereka dalam pelatihan ini adalah sebagai narasumber.

Pelaksanaan pelatihan Bimtek dilaksanakan selama 6 (enam) hari yang terdiri dari teori dan praktek, dengan materi yang mencakup:

a. motivasi dari trainer dan inspirator, b. perencanaan keuangan pribadi dan usaha, c. pengelolaan keuangan,

d. pengelolaan usaha (prinsip-prinsip kewirausahaan, bagaimana membangun usaha produk, harga, tempat, pengemasan, pemasaran, dan pengorganisasian SDM)

e. praktek/magang (produk/jasa) f. rencana aksi kelompok

g. program pemberdayaan kelompok TKI Purna

Materi praktek produksi yang diberikan dapat berbeda-beda. Program pemberdayaan TKI Purna dan keluarganya dilaksanakan dalam bentuk pelatihan yang pelaksanaannya ditentukan berdasarkan seleksi atas identifikasi peserta atau pemetaan mitra yang berpotensi di wilayah kerja masing-masing (kearifan lokal), berikut merupakan pengelompokan jenis pelatihannya:

a. Sektor ketahanan pangan, adalah sektor yang memperkuat ketersediaan pangan nasional. Contoh: pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan.

b. Sektor industri ekonomi kreatif, adalah sektor dengan konsep ekonomi baru yang menginvestasikan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Contoh: kerajinan tangan, usaha kreatif dari limbah, olahan diversifikasi pangan, dan sebagainya.

c. Sektor pariwisata, adalah sektor yang bergerak dalam pengembangan wisata. Contoh: tour and travel, spa therapist, traveller guide, dan sebagainya.

(6)

d. Sektor jasa, adalah sektor yang bergerak di bidang jasa (peningkatan kapabilitas). Contoh: salon, rias pengantin, penerjemah, guru bahasa, supir, jurnalis, toko kelontong, fotografer, penyewaan guest house, dan sebagainya.

Setelah melalui proses bimbingan ini, TKI Purna dibekali dengan akses modal, akses pasar, dan link stakeholder untuk menampung produk yang dihasilkan. Harapannya, melalui kegiatan Bimtek ini para TKI Purna dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya melalui pembangunan usaha produktif mandiri sehingga tidak perlu bekerja keluar negeri lagi.

Tahap terakhir dari pelatihan yaitu monitoring dan evaluasi. Monitoring dilaksanakan oleh BP3TKI setiap 3 (tiga) bulan sekali setelah pelaksanaan dengan menggunakan metode penyebaran kuesioner kepada responden yaitu TKI Purna dan keluarganya yang pernah mengikuti edukasi kewirausahaan. Laporan pendampingan disampaikan kepada kepala BP3TKI. Pendampingan dilaksanakan melalui pemberian motivasi secara berkala kepada para TKI Purna agar mereka mau mengaplikasikan hal yang sudah dipelajari selama pelatihan Bimtek dan menjadikannya sebagai bentuk usaha mandiri. Di dalam proses ini, BP3TKI mengalami hambatan dikarenakan tidak adanya anggaran dan sumber daya manusia yang bisa melakukan proses pendampingan. Selama ini, pendampingan hanya dilakukan sebanyak satu kali paska pelatihan Bimtek dan tidak bersifat berkelanjutan.

2. Edukasi Perbankan dalam Rangka Pengelolaan Remitansi untuk Kegiatan Edukatif

Kegiatan pemberdayaan yang kedua yaitu Edukasi Perbankan dalam Rangka Pengelolaan Remitansi untuk Kegiatan Edukatif merupakan sebuah kegiatan yang mengajarkan cara pengelolaan keuangan yang meliputi pengelolaan tabungan dan pinjaman, penyusunan anggaran, dan asuransi. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah agar para TKI Purna dan keluarganya dapat lebih bijaksana di dalam mengelola pendapatan dan mengindari terjadinya pemborosan pendapatan.

(7)

Kedua kegiatan pemberdayaan tersebut rutin dilakukan oleh BP3TKI Yogyakarta dan tidak terlepas dari kendala maupun permasalahan yang meliputinya. Permasalahan yang sering terjadi selama proses pemberdayaan tersebut adalah:

1. Kesulitan BP3TKI Mengidentifikasi TKI Purna yang Bersedia Mengikuti Pelatihan Bimtek

Identifikasi peserta yang mengikuti pelatihan Bimtek adalah para TKI Purna. Kesulitan yang dihadapi oleh BP3TKI pada proses identifikasi ini ketika adanya TKI Purna yang enggan mengikuti pelatihan. Keengganan ini berasal dari kurangnya motivasi untuk berwirausaha sehingga mereka tidak menganggap pelatihan Bimtek sebagai suatu kebutuhan. Selain itu, proses pendataan ini sering dilakukan secara manual dengan door-to-door di rumah para TKI Purna sehingga dituntut efektivitasnya mengingat hal ini membutuhkan waktu, sumber daya, dan anggaran yang lebih banyak. Permasalahan ini diatasi oleh BP3TKI dengan cara menentukan koordinator dari tiap daerah untuk mendata calon TKI Purna yang mau mengikuti pelatihan sehingga memudahkan proses pendataan (tidak perlu door-to-door).

2. Kesulitan TKI Purna dalam Menentukan Kebutuhan Pelatihan Usaha

Proses identifikasi peserta untuk mengikuti kegiatan Bimtek dilaksanakan untuk menentukan jenis pelatihannya. Dari proses seleksi peserta akan diketahui kebutuhan atau minat usaha dari para peserta, dan disinergikan dengan jenis pelatihan yang akan dilaksanakan. Melalui proses seleksi ini, maka jenis pelatihan akan sesuai dengan kebutuhan atau minat usaha peserta. Permasalahan yang dihadapi BP3TKI dalam tahap ini adalah kesulitan yang dialami peserta untuk mengetahui kebutuhan dan minat usahanya. Sehingga, dibutuhkan proses wawancara yang mendalam dan waktu yang lebih lama pada saat identifikasi peserta ini. Selain itu, pihak BP3TKI akhirnya menentukan pelatihan berdasarkan potensi alam atau sumber daya yang terdapat di wilayah tersebut (kearifan lokal).

3. Penghapusan Anggaran untuk Bantuan Modal dan Peralatan

Selama beberapa tahun terakhir, pelaksanaan Bimtek diikuti dengan penyaluran bantuan peralatan serta modal usaha bagi para TKI Purna setelah selesai mengikuti pelatihan. Harapannya, dengan adanya peralatan serta modal usaha yang

(8)

diberikan, TKI Purna dapat segera memanfaatkannya untuk membangun kegiatan usaha. Penyaluran bantuan peralatan dan modal usaha ini kemudian dihentikan berdasarkan keputusan Kemendagri yang menyatakan bahwa bantuan tidak dapat diberikan dalam bentuk uang tunai.

4. Proses Pendampingan Paska Pelatihan Bimtek yang Belum Optimal

Pelatihan diadakan dengan tujuan untuk menambah keterampilan dan kemampuan produksi, serta meningkatkan motivasi kewirausahaan para TKI Purna. Pihak pemberdayaan BP3TKI Yogyakarta mengakui masih adanya kesulitan di dalam proses pemberdayaan TKI Purna paska pelatihan. Hal ini disebabkan tidak adanya anggaran dan sumber daya manusia di BP3TKI untuk melakukan proses pendampingan. Padahal, proses pendampingan ini memiliki peranan yang penting di dalam rangkaian usaha pemberdayaan dimana BP3TKI dapat mengetahui kondisi terkini yang terjadi dengan unit usaha TKI Purna dan dapat terus mengontrol perkembangannya.

Banyak ditemui kondisi dimana para TKI Purna tidak segera memulai usaha produktifnya, meskipun sudah lewat satu bulan lebih dari paska pelatihan Bimtek. Alasannya dapat bermacam-macam, utamanya karena kurangnya motivasi dan ketakutan untuk memulai usaha. Jika proses monitoring atau pendampingan secara berkala kepada TKI Purna dapat dilaksanakan dengan baik, maka harapannya para TKI Purna dapat terus merasa termotivasi dan tergerak untuk segera memulai usahanya.

Berdasarkan adanya empat permasalahan di atas, penulis merasakan adanya kepentingan untuk dapat melakukan kegiatan magang di BP3TKI Yogyakarta. Kepentingan tersebut berasal dari keinginan untuk dapat memberikan kontribusi dan bantuan yang nyata pada pelaksanaan program pemberdayaan BP3TKI. Kontribusi yang dilakukan penulis selama proses magang diharapkan dapat menjawab permasalahan pada butir pertama yaitu kesulitan BP3TKI mengidentifikasi TKI Purna yang bersedia mengikuti pelatihan Bimtek serta permasalahan pada butir keempat yaitu proses monitoring paska Bimtek yang tidak optimal. Penulis telah merumuskan

(9)

solusi dan tujuan dari kedua permasalahan tersebut, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Permasalahan, Solusi, dan Tujuan Kegiatan Magang

Permasalahan Solusi Tujuan

Proses pendampingan yang belum optimal

Pendampingan personal kepada TKI Purna pada saat pelatihan Bimtek

Memberikan dorongan semangat dan motivasi kepada TKI Purna untuk aktif mengikuti pelatihan

Bimtek Pendataan

perkembangan Unit Usaha Kerajinan Bambu TKI Purna

paska pelatihan

Mengetahui perkembangan usaha TKI Purna di Kabupaten Kulon

Progo Tidak adanya penjalinan

relasi antara unit usaha TKI Purna dengan mitra usaha

Menjadi perantara antara Unit Usaha TKI

Purna dengan Mitra Usaha

Meningkatan produktivitas unit usaha

TKI Purna, utamanya dalam bidang pemasaran Pentingnya informasi

kebutuhan pelatihan untuk tahun selanjutnya Melakukan assessment kebutuhan pelatihan pemberdayaan TKI Purna Mengetahui kebutuhan pelatihan untuk hasil

pemberdayaan yang optimal Sumber: Penulis, 2016

1.2 Program Kegiatan Magang

Kegiatan magang dilaksanakan di BP3TKI Yogyakarta yang beralamat di Jalan Sambisari No. 311A Juwangen, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai pada tanggal 2 Mei 2016 dan berakhir pada tanggal 31 Mei 2016. Total durasi magang selama 176 jam, dengan rincian dalam seminggu bekerja selama 5 hari dengan total waktu bekerja 8 jam per harinya. Jadwal kegiatan magang yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Senin - Kamis, pukul 08.00 s.d. 16.30 b. Jumat, pukul 08.00 s.d. 17.00

Penulis melakukan kegiatan magang di BP3TKI Yogyakarta pada bidang pemberdayaan dan perlindungan. Bagian pemberdayaan yang berada di bawah pengawasan Deputi Perlindungan BP3TKI ini memfokuskan kegiatan pada bidang rehabilitasi dan fasilitasi TKI purna, kerjasama antar lembaga, serta pemulangan TKI

(10)

ke daerah asal. Penulis melakukan kegiatan magang di BP3TKI pada bidang pemberdayaan TKI Purna, dimana rencana program yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Bentuk Kegiatan dan Kompetensi yang Dibutuhkan Selama Magang Bentuk Kegiatan Magang Kompetensi yang Dibutuhkan Pendampingan kepada TKI Purna

Kabupaten Kulon Progo pada saat pelatihan

Kemampuan bersosialisasi yang baik, komunikasi persuasif

Pendampingan unit usaha TKI Purna paska pelatihan

Kemampuan penelitian lapangan, melakukan pemetaan dan pendataan

administratif sosial Memberikan informasi dan

menjembatani relasi dengan mitra usaha

Kemampuan survey pasar untuk mitra usaha, networking yang baik dengan mitra

usaha Melakukan wawancara dengan

penggiat unit usaha TKI Purna

Kemampuan bersosialisasi yang baik, kemampuan analisis kebutuhan Sumber: Penulis, 2016

1.3 Hasil Capaian Kegiatan Magang

Capaian yang diharapkan dari terselenggaranya kegiatan magang di BP3TKI adalah peningkatan motivasi dari TKI Purna untuk mengikuti pelatihan Bimtek, sehingga para peserta yang mengikuti pelatihan Bimtek adalah para TKI Purna yang secara sungguh-sungguh ingin meningkatkan kualitas hidupnya melalui kemampuan berwirausaha. Kondisi saat ini yang terjadi adalah masih adanya beberapa peserta yang mengikuti pelatihan Bimtek dikarenakan motivasi lain, misalnya: untuk mendapatkan fasilitas menginap di hotel dan mendapatkan uang saku. setelah mengikuti pelatihan. Dengan dilaksanakannya kegiatan magang yang melibatkan TKI Purna yang sukses di dalam proses identifikasi peserta dan pendampingan oleh pemagang selama kegiatan pelatihan Bimtek berlangsung, diharapkan penyelenggaraan pelatihan Bimtek dapat berjalan dengan optimal dan tepat sasaran.

(11)

Selain itu, kegiatan magang ini memberikan output berupa database kondisi kewirausahaan dari para TKI Purna paska pelatihan Bimtek. Database ini disusun melalui peninjauan dan pendampingan langsung ke lapangan, dalam hal ini sasaran utamanya adalah di daerah Kulonprogo. Melalui database ini, dapat diketahui kondisi terbaru dari para TKI Purna, termasuk status ketenagakerjaannya (memulai berwirausaha, bekerja pada sektor informal/formal, atau menganggur). Proses pembuatan database ini bisa memberikan gambaran mengenai kondisi TKI Purna paska pelatihan yang belum optimal dikarenakan terbatasnya anggaran. Melalui proses ini, pemagang mendapatkan manfaat utama yaitu keahlian untuk terjun langsung meneliti di lapangan dan memetakan kondisi sosial, utamanya dalam sektor ketenagakerjaan yang berada di suatu daerah. Berikut adalah tabel kegiatan magang secara keseluruhan.

(12)

Tabel 4. Tabel Kegiatan Magang Permasalahan Solusi Tujuan

Bentuk Kegiatan Magang Kompeten-si yang Dibutuh-kan Capaian Kegiatan Proses pendampingan yang belum optimal Pendampingan personal kepada TKI Purna pada saat pelatihan Bimtek Memberikan dorongan semangat dan motivasi kepada TKI Purna untuk aktif mengikuti pelatihan Bimtek Pendampi-ngan kepada TKI Purna Kabupaten Kulon Progo pada saat pelatihan Kemam-puan bersosiali-sasi yang baik, komunikasi persuasif TKI Purna yang aktif mengikuti pelatihan Pendataan perkembangan unit usaha TKI Purna paska pelatihan Mengetahui perkemba-ngan usaha TKI Purna di Kabupaten Kulon Progo Pendampi-ngan unit usaha TKI Purna paska pelatihan Kemam-puan penelitian lapangan, melakukan pemetaan dan pendataan administra-tif sosial Database kondisi perkemba-ngan unit usaha TKI Purna paska pelatihan Tidak adanya penjalinan relasi antara unit usaha TKI

Purna dengan mitra usaha Menjadi perantara antara unit usaha TKI Purna dengan mitra usaha Meningkatan produktivitas Unit Usaha TKI Purna, utamanya dalam bidang pemasaran Memberikan informasi dan menjemba-tani relasi dengan mitra usaha Kemam-puan survey pasar untuk mitra usaha, networking yang baik dengan mitra usaha Terbentuk-nya relasi antara unit usaha TKI Purna dengan mitra usaha Pentingnya informasi kebutuhan pelatihan untuk tahun selanjutnya Melakukan assessment kebutuhan pelatihan pemberdayaan TKI Purna Mengetahui kebutuhan pelatihan untuk hasil pemberda-yaan yang optimal Melakukan wawancara dengan penggiat unit usaha TKI Purna Kemam-puan bersosiali-sasi yang baik, kemampuan analisis kebutuhan Mengetahui kebutuhan pelatihan pemberda-yaan untuk tahun selanjutnya Sumber: Penulis, 2016

(13)

1.4 Tinjauan Pustaka 1.4.1 Tenaga Kerja

Pengertian tenaga kerja dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Ketenagakerjaan adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik dalam maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pengertian ini kemudian mengalami penyempurnaan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 yang menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Menurut Dumairy (1997) yang tergolong sebagai tenaga kerja adalah penduduk yang mempunyai umur didalam batas usia kerja. Batas tersebut memisahkan tenaga kerja ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok angkatan kerja dan kelompok bukan angkatan kerja. Kelompok angkatan kerja adalah penduduk yang telah menginjak usia kerja yang bekerja atau memiliki pekerjaan tetapi untuk sementara waktu sedang tidak bekerja dan yang sedang mencari pekerjaan. Kelompok bukan angkatan kerja adalah penduduk yang telah menginjak usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan, dan tidak sedang mencari pekerjaan. Sedangkan Badan Pusat Statistik (2001) mengkategorikan yang masuk dalam kelompok angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang selama seminggu yang lalu mempunyai pekerjaan, baik yang bekerja maupun sementara tidak bekerja karena suatu sebab.

Pengertian Tenaga Kerja Indonesia menurut Pasal 1 Bagian 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.

Dalam konteks pemberdayaan TKI Purna, yang dimaksud dengan TKI Purna adalah tenaga kerja Indonesia yang sudah kembali ke daerah asalnya dari negara tempa ia bekerja, baik dikarenakan kontrak kerja yang sudah habis maupun TKI yang

(14)

pulang karena bermasalah. TKI bermasalah yang dipulangkan ini disebut sebagai TKIB (Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah). Para TKI Purna yang sudah kembali dari tempat bekerjanya inilah yang menjadi sasaran dari kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh BP3TKI Yogyakarta. Pemberdayaan ini penting dilakukan karena sesuai dengan harapan BNP2TKI pada umumnya yaitu untuk meningkatkan keberdayaan ekonomi para TKI Purna. Peran penting pemberdayaan ini diperkuat dengan adanya argumen berikut:

"Mereka (para TKI Purna) harus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di desanya dengan mengembangkan usaha."

- Kutipan pidato Nusron Wahid (Kepala BNP2TKI) pada Pelatihan pemberdayaan TKI Purna di Parepare, Sulawesi Selatan Jumat, 2 Oktober 2015 dalam Setelah

Pelatihan Pemberdayaan, TKI Purna Harus Jadi Pahlawan Desa (Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/10/03/230726226/Setelah.Pelatihan.Pe mberdayaan.TKI.Purna.Harus.Jadi.Pahlawan.Desa, diakses pada tanggal 18 Agustus

2016)

Berdasarkan kutipan di atas, sangat jelas bahwa BNP2TKI mengadakan program pemberdayaan ini dengan tujuan untuk menciptakan kondisi TKI Purna yang mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di daerahnya dengan mengembangkan usaha. Untuk mendukung terciptanya kondisi tersebut, BNP2TKI mengadakan pelatihan yang memberikan keterampilan usaha kepada para TKI Purna. 1.4.2 Pemberdayaan

Pemberdayaan adalah proses memberikan kemampuan kepada masyarakat agar menjadi berdaya, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya. Pemberdayaan harus ditujukan pada kelompok atau lapisan masyarakat yang tertinggal (Prijono & Pranarka, 1996). Melalui pengertian ini, pemberdayaan ditujukkan kepada kelompok masyarakat yang tertinggal untuk dapat meningkatkan kualitas kehidupannya.

Pemberdayaan adalah suatu proses untuk memberikan daya atau kekuasaan (power) kepada pihak yang lemah (powerless), dan mengurangi kekuasaan (disempowered) kepada pihak yang terlalu berkuasa (powerful) sehingga terjadi

(15)

kesimbangan menurut (Djohani, 2003 dalam Anwas, 2014). Demikian pula yang disampaikan oleh Rappaport, 1984, (dalam Anwas, 2014) bahwa pemberdayaan adalah suatu cara dengan mana rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai atau berkuasa atas kehidupannya. Penertian ini menekankan pada aspek pendelegasian kekuasaan, memberi wewenang, atau pengalihan kekuasaan kepada individu atau masyarakat sehingga mampu mengatur diri dan lingkungannya sesuai dengan keinginan, potensi, dan kemampuan yang dimilikinya.

Pendapat lain mengenai pemberdayaan berbunyi "Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar 'daya' yang berarti kekuatan atau kemampuan" (Sulistiyani, 2004). Bermula dari pengertian tersebut, pemberdayaan dapat dipahami sebagai proses meningkatkan 'daya' dari kehidupan seseorang. Peningkatan keberdayaan tersebut dapat diusahakan melalui meningkatkan kemampuan dan kekuatan yang dapat dicapai dengan berbagai cara dari suatu pihak yang kurang atau belum berdaya.

Berkenaan dengan pemaknaan konsep pemberdayaan masyarakat, Ife (1995) menyatakan bahwa:

"Empowerment is a process of helping disadvantaged groups and individual to compete more effectively with other interests, by helping them to learn and use in lobbying, using the media, engaging in political action, understanding how to ‘work

the system,’ and so on. Empowerment aims to increase the power of disadvantaged".

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Ife mencoba merumuskan pengertian pemberdayaan sebagai hal yang ditujukkan bagi individu maupun kelompok masyarakat yang kurang beruntung melalui berbagai proses peningkatan keberdayaan. Proses tersebut dilakukan dengan bersiap diri akan kesempatan, sumber daya, keahlian dan pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Peningkatan kapasitas tersebut berperan di dalam menentukan masa depan masyarakat itu sendiri.

(16)

Di sisi lain, pemberdayaan dipandang sebagai sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini memunculkan paradigma baru pembangunan yang bersifat "people centered, participatory, empowering, and sustainable" (Chambers, 1995 dalam Rudito, 2003). Paradigma ini berpusat kepada peran masyarakat yang partisipatoris, objektifnya adalah agar pemberdayaan dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Partisipasi masyarakat yang berkelanjutan merupakan hal utama untuk mencapai manfaat yang diinginkan karena masyarakat merupakan kunci atau penggerak yang dapat meningkatkan daya atau kekuatan dirinya.

Hakikat utama dari pemberdayaan adalah bagaimana membuat masyarakat mampu membangun dirinya dan memperbaiki kehidupannya sendiri. Istilah mampu disini mengandung makna: berdaya, paham, temotivasi, memiliki kesempatan, melihat dan memanfaatkan peluang, berenergi, mampu bekerjasama, tahu sebagai alternatif, mampu mengambil keputusan, berani mengambil risiko, mampu mencari dan menangkap informasi, serta mampu bertindak sesuai inisiatif (Slamet, 2003 dalam Anwas, 2014).

Dari beberapa pengertian pemberdayaan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan merupakan suatu usaha yang dikerahkan bersama untuk mencapai peningkatan kemampuan, pengetahuan, dan kapasitas individu maupun kelompok masyarakat yang mampu digunakan sebagai bekal untuk meningkatkan kesejahteraan maupun kualitas kehidupannya. Proses pemberdayaan ini akan lebih dipusatkan kepada individu atau kelompok masyarakat yang kurang berdaya atau kurang memiliki kesempatan dan kekuatan.

Dalam konteks pemberdayaan TKI Purna yang dilakukan oleh BP3TKI Yogyakarta, kegiatan ini dilakukan untuk mencapai objektif yang utama yaitu untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan kapasitas para TKI Purna. Objektif ini kemudian dituangkan dalam langkah-langkah konkrit melalui mengadakan pelatihan. Pelatihan dilaksanakan selama 7 (tujuh) hari dengan menyertakan berbagai

(17)

narasumber yang mampu di bidangnya untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada para TKI Purna. Pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan keberdayaan mereka melalui pengaplikasiannya di dalam kegiatan kewirausahaan.

1.4.3 Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan ini makin populer setelah digunakan oleh pakar ekonomi J.B Say, 1803 (dalam Winardi, 2003) untuk menggambarkan para pengusaha yang mampu memindahkan sumber daya ekonomis dari tingkat produktivitas rendah ke tingkat yang lebih tinggi serta menghasilkan lebih banyak lagi.

Hisrich dan Brush (dalam Winardi, 2003) menyatakan bahwa kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan jalan mengorbankan waktu dan upaya yang diperlukan untuk menanggung resiko finansial, psikologikal serta sosial dan menerima hasil-hasil berupa imbalan moneter dan kepuasan pribadi sebagai dampak dari kegiatan tersebut.

Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acad Sanusi, 1994 dalam Suryana, 2003). Selain itu, kewirausahaan dapat dimaknai sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer, 1996 dalam Suryana, 2003).

Menurut Marzuki Usman dalam Suryana (2003), wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan dan mengombinasikan sumber daya seperti keuangan, material, tenaga kerja, keterampilan untuk menghasilkan produk, proses produksi, bisnis, dan organisasi usaha baru. Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur internal yang meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan, semangat, dan kemampuan memanfaatkan peluang usaha.

(18)

Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dipaparkan di atas, wirausaha adalah seseorang atau kelompok yang mampu mendayagunakan sumber daya yang dimilikinya untuk kemudian dimanfaatkan dan diolah menjadi suatu produk yang berdaya nilai dengan melihat berbagai peluang dan kesempatan yang ada.

Perspektif pemberdayaan yang dilakukan oleh BP3TKI Yogyakarta adalah ekonomi. Melalui pelatihan yang diberikan kepada TKI Purna, pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan dari pelatihan tersebut dapat digunakan untuk mewujudkan kegiatan usaha. Secara jelas, BP3TKI menyiapkan dan membekali para TKI Purna untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Kriteria sukses adalah bagi mereka yang mampu mengolah remiten yang didapatkan dari hasil bekerja di luar negeri untuk menjadi sebuah kegiatan usaha produktif yang meningkatkan keberdayaan mereka di dalam bidang ekonomi.  

Gambar

Tabel 1. Data Kepulangan TKI Berdasarkan Daerah Asal  Melalui Bandara Internasional Adi Soetjipto Yogyakarta tahun 2015
Grafik 1. Alur Mekanisme Pelatihan Bimtek bagi TKI Purna dan Keluarganya
Tabel 2. Permasalahan, Solusi, dan Tujuan Kegiatan Magang
Tabel 3. Bentuk Kegiatan dan Kompetensi yang Dibutuhkan Selama Magang  Bentuk Kegiatan Magang  Kompetensi yang Dibutuhkan  Pendampingan kepada TKI Purna
+2

Referensi

Dokumen terkait

Logo merupakan lambang yang dapat memasuki alam pikiran/suatu penerapan image yang secara tepat dipikiran pembaca ketika nama produk tersebut disebutkan (dibaca),

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan