• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi

Badan Penelitian dan Pengembangan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

POLICY BRIEF:

PEMETAAN SOSIAL

EKONOMI DAN

WILAYAH

MENDUKUNG RENCANA

PEMBANGUNAN

JEMBATAN APUNG DAN

PENGEMBANGAN

KAWASAN BUTON –

MUNA

Fx.Hermawan K

Adji Krisbandono

Masmian Mahida

Dwi Rini Hartati

Henniko Okada

(2)

i

Policy Brief : Pemetaan Sosial Ekonomi dan Wilayah

Mendukung Rencana Pembangunan Jembatan Apung dan

Pengembangan Kawasan Buton-Muna

Penulis:

Fx.Hermawan K Adji Krisbandono Masmian Mahida Dwi Rini Hartati Henniko Okada

ISBN :

978-602-0811-08-6

Editor:

Tomi Hendratno

Layout dan design:

Tomi Hendratno

Penerbit:

Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi

Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Redaksi :

Gedung Heritage Lt.3 Jl.Pattimura No.20 Kebayoran Baru 12110 Jakarta Selatan Cetakan pertama, Desember 2015

©Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak buku ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan buku Policy Brief berjudul Pemetaan Sosial Ekonomi dan Wilayah Mendukung Rencana Pembangunan Jembatan Apung dan Pengembangan Kawasan Buton-Muna oleh Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi telah terlaksana dengan baik.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan dan Penerapan Teknologi mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan, pengkajian kebijakan dan strategi pengembangan infrastruktur serta penerapan teknologi hasil penelitian dan pengembangan bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Latar belakang penulisan buku policy brief Pemetaan Sosial Ekonomi dan Wilayah Mendukung Rencana Pembangunan Jembatan Apung dan Pengembangan Kawasan Buton-Muna ini merupakan bagian dari penelitian terpadu Badan Penelitian dan Pengembangan melalui “Litbang Terintegrasi Sistem Modular Wahana Apung”. Dalam buku policy brief ini dibahas aspek non teknis yang menjadi perhatian dalam litbang terintegrasi ini, yakni profil sosial ekonomi dan wilayah, assessment potensi dampak, dan pemetaan kesiapan masyarakat.

Akhirnya, kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Tim Penyusun yang telah merumuskan buku policy brief ini. Semoga buku policy brief ini bermanfaat bagi kita dalam implementasi program pembangunan infrastruktur wahana apung di masa mendatang.

Jakarta, Desember 2015 Ir.Bobby Prabowo, CES

Kepala Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi

(4)

iii

RINGKASAN

Mendukung penelitian terpadu Badan Penelitian dan Pengembangan melalui “Litbang Terintegrasi Sistem Modular Wahana Apung” dalam rencana Pembangunan Jembatan Apung dan Pengembangan Kawasan Buton-Muna. Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi dari sisi non-teknis melakukan pemetaan sosial ekonomi dan wilayah, assessment potensi dampak, dan kesiapan masyarakat.

Kegiatan litbang terintegrasi ini akan dilakukan selama tahun 2015 – 2019 dengan salah satu sasarannya adalah pengembangan Kawasan Jabuna (Jembatan Buton – Muna). Alasan pemilihan kawasan yang akan menghubungkan Pulau Buton dan Pulau Muna ini karena kawasan tersebut direncanakan sebagai bentuk sinergi “Gerakan Asbutonisasi”, yaitu mengoptimalkan pemanfaatan Asbuton untuk pembangunan jalan di kedua pulau tersebut.

Dari hasil pemetaan sosial ekonomi dan wilayah ini diberikan rekomendasi, antara lain : pembangunan Jabuna diprediksi menurunkan aktivitas pelayaran terutama di jalur Wara (Pulau Muna) dengan Baubau (Pulau Buton). Oleh karenanya, ASDP perlu mencari rute pelayaran yang lebih "gemuk“ atau ramai; Hilirisasi komoditi unggulan Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, yakni Kacang Mete dan Rumput Laut dalam bentuk Agroindustry/agrobisnis melalui kerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koperasi dan UKM; Jabuna akan berdampak pada Usaha Pelayaran Rakyat (PELRA) maka perlu strategi memaksimalkan pemberdayaan ekonomi berbasis pengolahan sumber daya kelautan dan perikanan yang menjadi kekuatan utama ekonomi masyarakat pesisir melalui kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan; industrilisasi pariwisata kawasan Buton-Muna perlu didukung sarana dan prasarana infrastruktur guna menarik investor agar menanamkan modal bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Badan Koordinasi Penanaman Modal.

(5)

iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... ii RINGKASAN ... iii DAFTAR ISI ... iv I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 1.3. Metode Penelitian ... 2

II. LOKASI DAN PROFIL SOSIAL EKONOMI WILAYAH ... 2

2.1. Lokasi Wilayah ... 2

2.2. Potensi dan Komoditi Unggulan ... 4

III. PERSEPSI DAN DUKUNGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH ... 13

3.1. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara ... 13

3.2. Persepsi Instansi Kota Baubau ... 18

3.3. Persepsi Instansi Kabupaten Buton Tengah ... 23

IV. REKOMENDASI ... 30

(6)

1

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara Archipelago terbesar di dunia dengan total luas perairan 2/3 dari luas total wilayahnya. 15.000 lebih pulau – pulau berjajar dari Sabang sampai Merauke, ditambah kekayaan perairan dan keanekaragaman hayati yang perlu dioptimalkan lebih lanjut untuk mengerakkan “ekonomi berbasis sumberdaya kemaritiman”, sebagaimana kerap dikemukakan oleh Presiden RI Joko Widodo. Salah satu prasyarat untuk mengoptimalkan sumberdaya kemaritiman tersebut adalah dengan mengakselerasi pembangunan infrastruktur. Pada umumnya infrastruktur/konstruksi bangunan di atas air menggunakan pondasi yang langsung berhubungan dengan tanah seperti : tiang pancang, bored

piled, dan lain sebagainya. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian

Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berinisiatif mengoptimalkan perairan menggunakan gaya apung yang dimiliki air untuk menggantikan pondasi yang bersentuhan dengan tanah/batuan (dasar air). Beberapa aplikasinya antara lain berupa pembangunan breakwater, dermaga, jembatan, jalan, dan hunian. Hal inilah yang melatarbelakangi digagasnya “Litbang Terintegrasi Sistem Modular

Wahana Apung”.

Litbang Integrasi Sistem Modular Wahana Apung dibuat untuk menciptakan dan menggerakan industri modular wahana apung yang mencakup bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (perairan, jalan, jembatan, dan perumahan). Diharapkan dengan suatu bentuk modular wahana apung, pengguna dapat membangun jalan (untuk pejalan kaki, kendaraan roda 2, dan kendaraan roda 4), dermaga, pemecah gelombang, dermaga, serta hunian apung.

Litbang terintegrasi ini dilaksanakan seluruh Pusat Litbang di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat didukung beberapa kalangan bisnis (PT. Wika Beton, PT. B-Foam) dan akademisi (ITB). Kegiatan akan dilakukan selama 2015 – 2019 dengan salah satu sasarannya adalah pengembangan Kawasan Jabuna (Jembatan Buton – Muna). Alasan pemilihan kawasan yang akan menghubungkan Pulau Buton dan Pulau Muna ini karena kawasan tersebut direncanakan sebagai bentuk sinergi “Gerakan

(7)

2

Asbutonisasi”, yaitu mengoptimalkan pemanfaatan Asbuton untuk pembangunan jalan di kedua pulau tersebut. Selain itu, sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2014 – 2034, kedua pulau tersebut akan dihubungkan dengan infrastruktur jembatan (Perda Provinsi Sulawesi Tenggara No. 2 Tahun 2014).

Untuk itu, selain mendalami rekayasa teknis, teknologi material, dan perilaku hidrodinamika, aspek lain yang mutlak menjadi perhatian dalam litbang terintegrasi ini adalah profil sosial ekonomi dan wilayah, assessment potensi

dampak, serta pemetaan kesiapan masyarakat. Pusat Litbang Kebijakan dan

Penerapan Teknologi bertugas melakukan kegiatan – kegiatan tersebut guna mendukung litbang terintegrasi sistem modular wahana apung, khususnya di kawasan Jabuna.

1.2. Tujuan

Melakukan pemetaan sosial ekonomi dan wilayah untuk kemudian menyusun rekomendasi kebijakan terkait pengembangan kawasan Pulau Buton dan Pulau Muna.

1.3. Metode Penelitian

Survey Lapangan dan Wawancara dengan Aktor di lapangan (Bappeda, ASDP, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Camat, Warga) dengan analisis

frame/value critical analysis.

II. LOKASI DAN PROFIL SOSIAL EKONOMI WILAYAH 2.1. Lokasi Wilayah

Rencana pembangunan jembatan yang menghubungankan Pulau Muna dengan Buton sepanjang kurang lebih 600 Meter, dimana rencana 2 (dua) titik kaki jembatan terletak di Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah untuk sisi Pulau Muna dengan Dusun Kolagana Kelurahan Palabusa Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau untuk sisi Pulau Buton.

(8)

3

Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah merupakan 2 kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa bagian wilayah yang berada di pulau Sulawesi serta beberapa wilayah lain yang berada di pulau-pulau yang lebih kecil dan terpisah dari Pulau Sulawesi. Letak Kota Baubau adalah di Pulau Buton yang berada di Sulawesi Tenggara bagian selatan. Kota Baubau diresmikan sebagai Kota kabupaten pada tahun 2001. Kota Baubau memiliki luas 221 Km2 yang terbagi ke dalam 8 (delapan) kecamatan yaitu : - Betoambari - Murhum - Batupoaro - Wolio - Kokalukuna - Sorawolio - Bungi - Lea-lea

Topografi Kota Baubau pada umumnya bergunung-gunung dan berbukit yang diantaranya terdapat daratan rendah yang memiliki potensi untuk daerah pertanian. Wilayah ini dilewati oleh sebuah sungai besar, yaitu Sungai Baubau. Sedangkan Kabupaten Buton Tengah terletak di pulau yang berada bersebelahan dengan Pulau Buton, yaitu di Pulau Muna. Di Pulau Muna terdapat 2 (dua) kabupaten, yaitu Kabupaten Buton Tengah dan Kabupaten Muna. Kabupaten Buton Tengah merupakan salah satu Daerah Otonom Baru (DOB) yang baru diresmikan pada bulan Oktober tahun 2014. Kabupaten Buton Tengah memiliki luas sebesar 958,3 Km2 yang terbagi dalam 7 kecamatan antara lain :

- Kecamatan Lakudo - Kecamatan Gu

- Kecamatan Sangiawambulu - Kecamatan Mawasangka

(9)

4

- Kecamatan Mawasangka Timur - Kecamatan Talaga Raya

Gambar 1. Peta Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau

2.2. Potensi dan Komoditi Unggulan 2.2.1. Penduduk dan Tenaga Kerja

Jumlah penduduk Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau per kecamatan bervariasi dari hanya sekitar 5.000 jiwa sampai dengan 22.000 jiwa. Jumlah penduduk di Kota Baubau relatif lebih tinggi karena wilayah ini merupakan wilayah perkotaan yang lebih berkembang dan merupakan wilayah perdagangan. Selain itu juga karena di Kota Baubau terdapat pelabuhan besar yang melayani jalur perdagangan laut.

(10)

5

Gambar 2. Kepadatan dan Jumlah Penduduk di Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014

Secara umum, kepadatan penduduk di Kabupaten Buton Tengah relatif seragam dan rendah, yaitu antara 39 sampai dengan 514 jiwa per ha. Sedangkan di Kota Baubau kepadatan tertinggi ada di kecamatan Batupoaro yang mencapai 18.482 jiwa per ha. Meskipun kecamatan ini merupakan kecamatan baru yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Murhum, namun kecamatan ini merupakan wilayah yang paling padat di Kota Baubau. Kecamatan ini merupakan lokasi pelabuhan besar kota Baubau.

Tabel 1. Kepadatan dan Jumlah Penduduk di Kabupaten Buton Tengah dan Baubau tahun 2014 Kabupaten Kecamatan Jumlah Penduduk L P Pendudu k (Jiwa) Jumlah Rumah Tangga Kepadata n (Jiwa/Ha) Baubau Betoambari 8897 9126 18023 3848 646 Murhum 1038 3 1092 8 21311 4550 4349 Batupoaro 1391 6 1473 2 28648 6117 18482 Wolio 2106 0 2088 8 41948 8859 2420

(11)

6 Kokalukuna 9167 9345 18512 3954 1961 Sorawolio 3912 3941 7853 1677 94 Bungi 3883 3965 7848 1677 164 Lea-lea 3562 3780 7342 1568 253 Buton Tengah Gu 7841 8421 16262 4036 156 Sangia Wambulu 2437 2703 5140 1244 514 Lakudo 9783 1093 9 20722 4882 92 Mawasangk a 1079 4 1187 1 22665 5198 83 Mawasangk a Timur 2347 2610 4957 1272 39 Mawasangk a Tengah 4503 4890 9393 2141 63 Talaga Raya 4172 5085 9257 2044 130 Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014

Kualitas tenaga kerja di Kota Baubau relatif lebih tinggi dari pada di Kabupaten Buton Tengah. Di Kota Baubau mayoritas pekerja di atas usia 15 tahun telah mendapatkan pendidikan di tingkat SLTA atau lebih (diploma maupun sarjana). Sedangkan di Kabupaten Buton Tengah, sebagian besar pekerja masih berada di tingkat SD atau bahkan tidak lulus SD. Terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara kedua wilayah ini dalam pengelolaan sumber daya manusia. Hal ini kemungkinan diakibatkan juga karena perbedaan tingkat pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk mengenyam pendidikan.

(12)

7

Gambar 3. Komposisi Penduduk berdasarkan Pendidikan di Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau

Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014

Dari kedua kabupaten/kota tersebut dapat dilihat dengan jelas untuk profil pendidikan terdapat perbedaan signifikan terutama pada jumlah lulusan SD/tidak sekolah di Kabupaten Buton Tengah dengan Kota Baubau. Kota Baubau dapat dikatakan relatif lebih maju dari Kabupaten Buton Tengah. Pembangunan Jembatan Buton-Muna (Jabuna) diharapkan dapat memeratakan kemajuan ekonomi (trickle down effect) dari Kota Baubau ke wilayah-wilayah di Pulau Muna, termasuk Kabupaten Buton Tengah. Sangat utama untuk ditawarkan strategi agar tidak terjadi “backwash” dimana kota Baubau (atau Pulau Buton) semakin maju, sementara kabupaten Buton Tengah (atau Pulau Muna) kurang berkembang.

2.2.2. Kemiskinan

Jumlah keluarga miskin tertinggi di Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau adalah di kecamatan Masangka Timur, Kabupaten Buton Tengah dan Kecamatan Lea-Lea di Kota Baubau.

Kabupaten Buton Tengah rata-rata memiliki jumlah keluarga miskin antara 50 sampai dengan 75%. Hanya satu daerah saja yang hanya 25-50% penduduknya miskin, yakni Kecamatan Mawasangka Tengah. Sedangkan di Kota Baubau sebagian besar wilayah ini memiliki penduduk miskin di bawah 50%. Dari sini ini dapat dijelaskan bahwa ada korelasi antara tingkat kemiskinan dengan pendidikan tenaga kerja di kedua kabupaten/kota tersebut. Kota Baubau dengan tenaga kerja

SD/ Tidak 28% SLTP 19% SLTA keatas 53% 0% 0%

Penduduk 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Pendidikan

di Kota Bau-Bau SD/ Tidak 58% SLTP 22% SLTA keatas 20% 0% 0% Penduduk 15 Tahun Keatas yang

Bekerja Menurut Pendidikan di Kab. Buton Tengah

(13)

8

yang lebih berkualitas juga memiliki penduduk miskin yang relatif lebih rendah dari Kabupaten Buton Tengah.

Gambar 4. Presentase Rumah Tangga Miskin terhadap Jumlah Rumah Tangga di Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau

Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014

2.2.3. Komoditas Unggulan

Kedua kabupaten dan kota di wilayah studi memiliki hasil tanaman perkebunan yang unggulan daripada daerah lainnya, antara lain Kacang Mete, Perikanan Laut, dan Rumput Laut. Namun, secara peningkatan nilai tambah produk tersebut di dua kabupaten/kota tersebut masih rendah, karena hasil panen tanaman perkebunan dari dua kabupaten kota tersebut hanya sampai bahan mentah yang kemudian dikirim ke Makassar, Surabaya, dan kota besar lain bahkan diekspor ke Vietnam dan India untuk proses menjadi bahan makanan jadi dengan nilai harga lebih tinggi.

Data menunjukkan bahwa komoditi perkebunan Kacang Mete memiliki produksi paling banyak diantara komoditi lainnya di Kota Baubau, yakni 75, 94 ton tahun 2013, seperti dalam tabel berikut :

(14)

9

Tabel 2. Produksi Tanaman Perkebunan menurut Jenis Tanaman dan Kecamatan di Kota Baubau (ton) 2013

(15)

10

Kemudian untuk Kabupaten Buton Tengah bahkan lebih tinggi lagi untuk produksi Kacang Mete, yakni mencapai 2.595 ton tahun 2013.

Tabel 3. Produksi Tanaman Perkebunan menurut Jenis Tanaman dan Kecamatan di Kabupaten Buton Tengah (ton) 2013

No. Kecamatan

Tahun 2013 Asam

Jawa

Jambu

Mete Kakao Kapuk

Kelapa Dalam

Kelapa

Hibrida Kemiri Kopi Lada

1 Gu 5.50 529.00 0.54 12.50 16.00 4.40 1.40 2 Sangia Mambulu 1.45 11.00 4.20 3 Lakudo 20.00 670.00 4.00 3.00 50.00 1.30 16.75 0.25 4 Mawasangka 5.00 1,087.00 10.15 5.00 595.50 1.90 2.15 1.50 1.00 5 Mawasangka Timur 57.50 6.80 6 Mawasangka Tengah 0.49 232.60 1.85 4.40 7 Talaga Raya 8.50 11.00 Jumlah 32.44 2,595.60 14.69 22.35 687.90 7.60 20.30 1.50 1.25

Sumber : Dalam Angka Kabupaten Buton Tengah, 2014

Berikut jika digambarkan dalam grafik produksi perkebunan di Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah.

Gambar 5. Produksi perkebunan Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah dalam Ton Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014

(16)

11

Kemudian komoditi unggulan lain untuk Kota Baubau adalah hasil perikanan, yakni penangkapan ikan laut dan rumput laut yang masing-masing mencapai 7.885 ton dan 2.668 ton tahun 2013.

Tabel 4. Produksi perikanan di Kota Baubau (ton) 2013

(17)

12

Sedangkan untuk Kabupaten Buton Tengah hasil produksi untuk komoditi perikanan laut dan rumput laut sangat tinggi, yakni masing-masing 50.379 ton dan 22.926 ton pada tahun 2013.

Tabel 5. Produksi perikanan di Kabupaten Buton Tengah (ton) 2013

No. Kecamatan Perikanan

Laut

Perikanan Budidaya

Jumlah

Kerapu Bandeng Mabe Rumput

Laut 1 Gu 3,063.80 3,454.54 6,518.34 2 Sangia Mambulu 3,143.72 2,020.43 5,164.15 3 Lakudo 14,023.23 91.22 4,705.49 18,819.94 4 Mawasangka 17,808.79 103.62 6,434.76 24,347.17 5 Mawasangka Timur 2,390.79 2,905.19 5,295.98 6 Mawasangka Tengah 5,428.45 3,002.06 8,430.51 7 Talaga Raya 4,520.93 404.30 4,925.23 Jumlah 50,379.71 91.22 103.62 0.00 22,926.77 73,501.32

Sumber : Dalam Angka Kabupaten Buton Tengah, 2014

Berikut jika digambarkan dalam grafik produksi perikanan di Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah.

Gambar 6. Produksi perikanan Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah dalam Ton Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014

(18)

13

III. PERSEPSI DAN DUKUNGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH 3.1. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara

3.1.1. Persepsi Terhadap Pembangunan Jabuna

Dalam survey awal dengan dilakukan wawancara terhadap 3 (tiga) instansi di tingkat provinsi, antara lain Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Dinas Pekerjaan Umum, dan Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Secara umum pemerintah daerah menerima dan telah siap dengan rencana pembangunan Jembatan Buton-Muna (Jabuna). Kesiapan pemerintah tersebut ditunjukkan dengan masuknya pembangunan jembatan ini ke dalam rencana pembangunan daerah di Sulawesi Tenggara. Selain itu alokasi anggaran sebesar 30% dari seluruh APBD Provinsi Sulawesi Tenggara juga telah diperuntukan untuk sektor infrastruktur.

Jabuna merupakan rangkaian rencana pengembangan transportasi Sulawesi Tenggara yang menghubungkan Kendari – Pulau Muna – Pulau Buton bersama dengan Jembatan Teluk Kendari (Jembatan Bahteramas) yang menghubungkan Kota Kendari sisi Utara dan sisi Selatan, serta pembangunan jembatan Hulu Konawe di Kolaka. Pembangunan jembatan ini akan mempermudah akses distribusi barang dan jasa. Diharapkan dengan lancarnya aksesibilitas tersebut dapat memberikan multiplier effect terhadap sektor lain.

(19)

14

Gambar 7. Peta Jaringan Jalan Nasional dan Provinsi di Sulawesi Tenggara Sumber : Bappeda Provinsi Sulawesi Tenggara, 2014

Akses utama menuju Jabuna merupakan jalan nasional yang menghubungkan Walue – Baubau hingga Pasarwajo, namun pemerintah daerah juga telah menyiapkan akses jalan ke Jabuna dengan meningkatkan status beberapa ruas jalan menjadi lebih tinggi untuk mendukung kelancaran transportasi dan distribusi barang dan jasa.

Salah satu respon nyata yang menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah siap untuk rencana pembangunan Jabuna, selain pembangunan akses jalan adalah telah disusunnya studi kelayakan serta DED (Detail Engineering design) pembangunan Jabuna ini oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tenggara. Pemerintah daerah telah mengalokasikan dana APBD khusus untuk studi kelayakan dan pembuatan DED sejak tahun 2012. Pembiayaan untuk program pemerintah saat ini masih berasal dari dana APBD. Di sisi lain, minat swasta terhadap pengembangan di wilayah Sulawesi Tenggara masih belum ada terutama skema Kerjasama Pemerintah Swasta. Hal ini menjadi peluang besar

(20)

15

untuk menggarap sektor-sektor unggulan, seperti pariwisata. Di beberapa daerah, swasta banyak dilibatkan untuk memajukan daerah bersama-sama pemerintah daerahnya.

Desain rencana Jabuna yang sudah dibuat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berupa jembatan gantung dengan panjang ±1,670 meter dengan perkiraan biaya ± Rp. 1,5 – 2 Trilliun dengan bentang utama jembatan sepanjang 700 meter. Rencana lokasi pembangunan merupakan lokasi dengan jarak terpendek yang menghubungkan Kota Baubau dengan Kabupaten Buton Tengah. Pemilihan konstruksi didasarkan pada kondisi lingkungan, yaitu pada lokasi perairan laut dengan arus kecil dan juga merupakan jalur pelayaran domestik.

Sesuai RTRW, Kota Baubau yang terletak pada Pulau Buton akan dikembangkan menjadi wilayah perdagangan, sedangkan Kabupaten Buton Tengah yang terletak di Pulau Muna menjadi wilayah industri dan pertambangan. Pemerintah daerah berharap dengan terbukanya akses ini, sektor-sektor ekonomi di kedua wilayah ini akan semakin maju karena kemudahan akses terhadap pusat Kota.

3.1.2. Pariwisata

Dalam dokumen RTRW, Kota Baubau, Kabupaten Buton Tengah dan Kabupaten Buton, dan Kabupaten Muna masuk dalam KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional). Kawasan peruntukan wisata yang termasuk dalam KPPN adalah :

- Kota Baubau meliputi Pantai Nirwana, Pantai Lakeba, Pantai Kokalukuna dan perairan laut Pulau Makassar, serta wisata darat, yaitu Air Terjun Tirta Rimba, Air Terjun Samparona, Air Terjun Lagaguna, Air Terjun Samparona, Air Terjun Kantongara, Permandian Alam Bungi, Gua Lakasa, Gua Ntiti, Gua Kaisabu, Bukit Palatiga dan Kali Baubau. Sedangkan wisata sejarah antara lain Kompleks Keraton Kerajaan Buton, Mesjid Keraton, dan Tugu Naga Kota Baubau.

- Kabupaten Buton Tengah dan Kabupaten Buton memiliki Pantai Jodoh, Pantai Katembe, Pantai Posuncui, Pantai Kasosona, Pantai Kancinaa, Pantai Hulu Wakoko, Pantai Topawabula, Pantai Banabungi, Pantai Pasir Banabungi, Pantai Sukoa dan Pantai Sangia Waode. Sedangkan kawasan wisata darat meliputi Air Panas Warede-Rede, Air Panas Kaongkeongkea, Permandian Benteng Takimpo, Permandian Winto, Permandian Goa Lakaedu, Permandian Goa Katukotobari, Permandian Goa Watorumbe dan

(21)

16

Permandian Uncume. Kemudian Hutan Lambusango (pusat penelitian flora dan fauna), Pulau Liwutongkidi, Kekayaan Laut Teluk Pasarwajo, Kekayaan Laut Kecamatan Wabula, Air Terjun Tirta Rimba, dan Air Terjun Samparona - Kabupaten Muna memiliki perairan laut Selat Tiworo, Pulau Munante dan

Pantai Walengkabol. Kemudian Permandian Danau Napabale, Permandian Mata Air Kamonu, Permandian Mata Air Fotuno Rete, Permandian Mata Air Jompi dan Permandian Air Terjun Kalima-lima. Dan Situs Prasejarah Gua Liangkobori Muna, festival layangan Tradisional “Kaghati”, Atraksi Adu Kuda, Festival Danau Napabale dan Pantai Bungin Pinungan.

Selain itu juga, Pulau Wakatobi yang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata bahari di Indonesia juga termasuk ke dalam salah satu Kawasan Strategis Nasional untuk pengembangan pariwisata. Sedangkan kawasan wisata terpadu meliputi Kota Kendari – Water Spot, Pulau Hari, dan Pulau Bokori.

Pengembangan kawasan pariwisata di Sulawesi Tenggara telah cukup banyak melibatkan partisipasi masyarakat. Pada umumnya masyarakat terlibat dalam perdagangan (penjualan souvenir, oleh-oleh, makanan, dan minuman) serta penyewaan sarana atau prasarana (perahu tradisional/penginapan). Disamping itu bentuk partisipasi masyarakat yang lain adalah adanya kelompok-kelompok yang disebut dengan “kelompok sadar wisata” dimana melalui kelompok tersebut, masyarakat diberi kesadaran akan pentingnya konservasi dan menjaga daya tarik wisata.

Dukungan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata terhadap partisipasi masyarakat diwujudkan dalam bentuk sosialisasi, pelatihan, dan bimbingan teknis. Kelompok sadar wisata dilatih untuk dapat menjadi pelatih bagi masyarakat lokal mengenai pengembangan peningkatan kapasitas usaha di wilayah pariwisata. Setiap pengurus kelompok mengenalkan keterampilan yang mampu memberikan daya jual daerah dan peningkatan ekonomi anggotanya. Saat ini belum banyak peran swasta dalam pengembangan wilayah pariwisata di Sulawesi Tenggara. Peran pihak swasta saat ini masih hanya sebatas penyediaan

cottage, penyewaan alat-alat wisata, seperti speed boat, banana boat, alat

menyelam, dan lain-lain. Pembangunan infrastruktur perlu dilakukan untuk menunjang kawasan wisata agar dapat menarik investor untuk berinvestasi.

(22)

17

3.1.3. Dukungan Kebijakan Pembangunan Jabuna

Dukungan kebijakan pemerintah terwujud dengan dimasukkannya rencana pembangunan Jabuna ini ke dalam RPJMD dan RTRW Provinsi Sulawesi Tenggara.

a. RPJMD Provinsi Sulawesi Tenggara 2013-2018

Dalam dokumen RPJMD Sulawesi Tenggara tahun 2013-2018 disebutkan salah satu strategi kebijakan percepatan dan pemerataan pembangunan infrastruktur dasar kewilayahan serta kawasan strategis Sulawesi Tenggara adalah dengan pembangunan jaringan jalan dan jembatan baru dalam kawasan strategis dan lintas strategis. Strategi tersebut diwujudkan melalui kebijakan pembangunan jaringan jalan baru melalui perintisan, pembangunan jalan, dan jembatan baru (Jembatan Teluk Kendari, Pulau Muna-Pulau Buton).

b. RTRW Provinsi Sulawesi Utara

Rencana pembangunan jembatan antar pulau di Sulawesi Utara : - Jembatan Bahteramas Teluk Kendari

- Jembatan menghubungkan Kota Baubau dengan Pulau Makassar - Jembatan menghubungkan Pulau Muna dengan Pulau Buton

c. Penyusunan Studi Kelayakan dan DED

Salah satu realisasi dari kebijakan tersebut adalah dialokasikannya dana APBD untuk pembuatan studi kelayakan jembatan serta DED. Hasil studi kelayakan dan DED nantinya akan diserahkan kepada pemerintah pusat untuk pelaksanaan pembangunan dengan dana APBN.

(23)

18

3.2. Persepsi Instansi Kota Baubau 3.2.1. PT. ASDP Cabang Kota Baubau

Selain sebagai salah satu daerah penghubung antara Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia, Kota Baubau juga berperan sebagai akumulator hasil produksi dan distribusi kebutuhan daerah yang mana menggunakan pelabuhan Fery ASDP untuk transportasi antar pulau di Pelabuhan Batulo.

Kemudian menggunakan Kapal Pelni untuk transportasi jarak jauh lintas provinsi

di Pelabuhan Murhum. Pelabuhan Murhum ini biasa disinggahi kapal-kapal besar milik Pelni, seperti KM Lambelu dan KM Kerinci.

(24)

19

Gambar 9. Kapal Pelni di Dermaga Pelabuhan Murhum, Kota Baubau

Terkait dengan Rencana Pembangunan Jembatan Buton –Muna, pihak PT. ASDP Cabang Kota Baubau pada prinsipnya pihak PT. ASDP Kota Baubau mendukung rencana pembangunan Jembatan Buton-Muna karena merupakan program Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang sudah direncanakan dengan biaya triliunan rupiah. Selama ini PT. ASDP selalu siap melaksanakan program Pemerintah. Hal ini merupakan bentuk pelayanan dengan melancarkan jalur transportasi masyarakat di Kota Baubau dan lainnya agar berdampak positif terhadap ekonomi regional.

Pembangunan jembatan diprediksi akan memberikan dampak luas, baik negatif maupun positif. PT.ASDP Cabang Baubau sudah mengantisipasi pembangunan tersebut dengan strategi mencari wilayah operasi lain untuk merintis jalur transportasi laut baru yang lebih ramai dan dinamis.

Membuka bisnis baru di wilayah pelayaran baru, sekaligus menyusun business

plan baru dalam rangka meningkatkan mendukung konektivitas dan logistik

nasional, menjadi tantangan tersendiri bagi PT. ASDP. Untuk itu, PT. ASDP Cabang Baubau mengusulkan agar Pemerintah mengutamakan pembangunan insfrastruktur penghubung dan pendukung terlebih dahulu sebelum Jembatan Buton-Muna selesai konstruksi dan siap beroperasi.

Hal lain yang perlu dicatat adalah apakah dana sedemikian besar yang telah dianggarkan untuk membangun jembatan tersebut layak secara ekonomi. Mengingat jumlah angkutan dan komoditi yang selama ini melewati pelabuhan belum seramai dan seprogresif port city lain, seperti Surabaya. Kapal laut PT. ASDP Cabang Baubau itu juga hanya mengangkut kendaraan, mobil pribadi, truk, motor, dan penumpang kendaraan. Sedangkan warga masyarakat lebih banyak mengunakan speed boat yang lebih cepat sampai dengan kapasitas lebih besar.

3.2.2. Bappeda dan Badan Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal Kota Baubau

Bahwa pembangunan seyogyanya melibatkan masyarakat dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pembangunan Jembatan Pulau Buton-Muna merupakan langkah strategis, bagaimana Pemerintah Pusat menstimulus ekonomi daerah untuk maju dan terarah. Dukungan penuh Pemerintah Pusat untuk mengembangkan potensi daerah adalah keniscayaan yang harus diaplikasikan demi memenuhi tujuan berbangsa dan bernegara, yakni

(25)

20

kesejahteraan umum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terkait dengan pembangunan daerah juga berurusan dengan Bidang Penanaman Modal dilaksanakan oleh Badan Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal Kota Baubau. Capaian pembangunan yang telah dihasilkan sampai dengan tahun 2012 adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata lama proses perizinan investasi selama 7 hari. Kegiatan yang mendukung capaian ini adalah Pengembangan sistem informasi investasi. 2. Tersedianya 1 Peraturan Daerah tentang Penanaman Modal dan 1

dokumen cetak biru (master plan) pengembangan penanaman modal. Jumlah investor PMDN/PMA yang menanamkan modal di Kota Baubau sebanyak 7 investor.

Dukungan kebijakan pengembangan daerah, Bappeda, dan Badan Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal di Kota Baubau diarahkan untuk mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian dan mempercepat peningkatan penanaman modal. Adapun bidang usaha yang dapat dilakukan penanaman modal adalah bidang usaha yang dinyatakan terbuka yaitu:

1. Perlindungan sumber daya alam

2. Perlindungan, pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi 3. Pengawasan produksi dan distribusi

4. Peningkatan kapasitas teknologi dan partisipasi modal dalam negeri 5. Kerjasama dengan badan usaha yang ditunjuk Pemerintah.

(26)

21

Gambar 10. Diskusi dengan pejabat Bappeda

Terdapat pula titik kaki Jembatan yang akan menghubungkan Pulau Buton denganPulau Muna.

(27)

22

Gambar 12. Spead Boat di Dermaga Pelabuhan Murhum, Kota Baubau

Selain itu, jika terdapat jembatan yang menghubungkan Pulau Buton dan Pulau Muna akan mempercepat akses ke dua wilayah tersebut, sehingga arus distribusi barang, jasa, dan manusia akan meningkat. Meskipun memiliki dampak lain, yakni sektor penyeberangan lewat kapal, sektor tenaga kerja, dan perubahan mata pencaharian masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan model pengembangan kawasan dengan melihat komoditi unggulan tiap wilayah. Sebagai contoh untuk daerah daratan dan pengunungan dapat menanam kacang mete, kemudian untuk daerah pesisir dengan budidaya rumput laut dan perikanan ikan tangkap serta mutiara (budidaya mabe). Selain itu juga, karena mudahnya akses kedua pulau tersebut memungkinkan untuk hilirisasi produk mentah menjadi setengah jadi atau bahkan barang jadi seperti pada kacang mete dan rumput laut.

Sektor pariwisata juga menarik, pengembangan kawasan Wisata, seperti Pantai Nirwana yang terletak berdekatan dengan Bandara Baubau di Kecamatan Betoambari Kota Baubau. Wisata pantai Nirwana ini sangat potensial untuk promosikan ke wilayah lain khususnya bagi penduduk di pulau Buton dan Pulau Muna, dan umumnya secara nasional bahkan manca negara.

(28)

23

Gambar 13. Jalan akses yang baik menuju Pantai Nirwana hanya 10 menit dari bandara Baubau

Gambar 14. Pantai Nirwana menawarkan suguhan seperti surga Nirwana

3.3. Persepsi Instansi Kabupaten Buton Tengah 3.3.1. Bappeda Kabupaten Buton Tengah

Rencana pembangunan jembatan yang menghubungankan Pulau Muna dengan Buton sepanjang kurang lebih 600 Meter sangat didukung oleh Bappeda. Bahkan harapannya juga pemerintah pusat dapat mengembangkan kawasan wisata. Menegaskan bahwa setuju dalam pembangunan jembatan namun perlu mempertimbangkan aspek sosial (non teknis) dan aspek teknis dalam pembangunan jembatan. Dalam hal ini adalah kearifan lokal yang ada di Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu Kabupaten Buton Tengah.

Aspek non teknis antara lain:

1. Terkait tanah adat jika nantinya pembangunan kaki jembatan menggunakan tanah adat atau tanah masyarakat.

2. Memperhatikan nilai kearifan lokal dan budaya masyarakat.

3. Terdapat makam raja yang luasnya hampir 1 ha yang terletak di Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah yang mana rencana kaki jembatan terletak di dekat kawasan makan tersebut. Aspek teknis antara lain :

(29)

24

1. Struktur tanah yang terletak di Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah tanahnya mudah longsor

2. Naik-turunnya permukaan air laut dan arus laut.

3. Lewatnya kapal Pelni dimana memiliki tinggi kurang lebih 20-30 meter dari permukaan air laut. Dan juga jalur perairan alternatif yang dilewati kapal penumpang dari Ambon atau Sorong menuju Makassar dan Jawa.

Gambar 15. Diskusi dengan sekretaris Bappeda Kabupaten Buton Tengah

Dari sisi ekonomo wilayah, Kabupaten Buton Tengah untuk kebutuhan logistik sembako sebagian besar dipasok dari Kota Baubau melalui Dermaga Tolandona di Kecamatan Sangia Wambulu. Dari segi komoditi daerah di Kabupaten Buton Tengah adalah Kacang Mete dan Budi Daya Rumput Laut, namun hanya memproduksi hingga bahan mentah lalu dikirim ke Kota Surabaya, Kendari, dan Makassar bahkan diekspor ke Vietnam dan India (AIP, 2009) untuk menjadi produk siap makan.

Jalan menuju Ibu Kota Kabupaten Buton Tengah, yakni Lakudo dapat ditempuh melalui jalur darat dari Pelabuhan Penyeberangan Dermaga Tolandona melalui Desa Baruta Lestari Kecamatan Sangia Wambulu ditempuh dengan waktu 1 jam lebih karena saat ini sebagian jalannya rusak dan termasuk jalan Provinsi.

(30)

25

Gambar 16. Rute perjalanan menuju ibukota kabupaten Buton Tengah, yakni Lakudo

Gambar 17. Kondisi jalan provinsi sebagian rusak menuju ibukota Kabupaten Buton Tengah

Gambar 18. Perbaikan jalan akses Lakudo ke Tolandona yang menggunakan aspal Buton

Gambar 19. Sebagian kecil kondisi jalan baik di sekitar permukiman warga namun penuh debu

Selain itu juga dilakukan diskusi dengan Kepala Bappeda Kabupaten Buton Tengah terkait rencana pembangunan jangka menengah dan panjang Kabupaten Buton Tengah.

(31)

26

Gambar 20. Diskusi dengan Kepala Bappeda Kabupaten Buton Tengah

Diskusi lebih lanjut terkait teknolosi sistem modular Wahana Apung dimana Kepala Bappeda sangat setuju jika di daerah Teluk Lianabanggai dimana terdapat 2 daerah yang berdekatan namun dipisahkan oleh teluk, yakni Mawasangka Timur dan Masasangka Tengah untuk dapat dibangun Wahana Apung. Maka dengan dibangunnya wahana apung di lokasi tersebut diharapkan dapat menarik sektor wisata. Selain itu juga, Kepala Bappeda juga tertarik untuk dibangunkan jembatan Apung yang dapat memotong teluk tersebut sehingga mempercepat akses dari dan ke Mawasangka Timur dan Masasangka Tengah.

(32)

27

Gambar 21. Peta Lokasi Rencana Wahana Apung oleh Bappeda

3.3.2. Persepsi masyarakat diwakili oleh Kapala Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah.

Ditegaskan bahwa Kepala Desa Baruta setuju dengan adanya pembangunan Jembatan yang menghubungkan Pulau Muna dengan Pulau Buton hanya saja jika nanti memakai lahan warga maka perlu memberikan kompensasi yang layak. Selain itu juga di dekat area tersebut terdapat makan raja yang luasnya hampir 1 Ha untuk diperhatikan, sebaiknya akses jalan tidak melewati daerah makan tersebut. Namun, di bawah area makam terdapat jalan beraspal yang saat ini digunakan warga yang dapat dilewati sepeda motor dan mobil.

(33)

28

Gambar 22. Permukiman Desa Baruta Kec. Sangia Wambulu Buton Tengah

Gambar 23. Terdapat makam raja yang terletak didekat area rencana kaki jembatan di sisi Desa Baruta Sangai Wambulu Buton tengah

Gambar 24. Tim diskusi dengan Kades Desa Baruta Ibu Wa Ode Rosdiana dan Camat Sangia Wambulu Bapak Asman

Gambar 25. Rencana kaki jembatan apung yang melewati perairan laut yang berjarak kurang lebih 600 meter (foto diambil di sisi Kab.Buton Tengah)

Dari sisi sektor perkebunan dan budi daya rumput laut hampir tersebar di seluruh daerah Kabupaten Buton Tengah.

(34)

29

Gambar 26.Budidaya rumput laut di pesisir Desa Baruta Sangia Wambulu Buton Tengah

Gambar 27. Kebun Kacang Mete di Desa Baruta, produk perkebunan andalan Kabupaten Buton Tengah

(35)

30

IV. REKOMENDASI

Dari hasil pemetaan sosial ekonomi dan wilayah ini diberikan rekomendasi, yakni : 1. DED jembatan gantung (cable stayed) yang telah disusun menunjukan bahwa pemerintah daerah juga proaktif untuk segera mewujudkan rencana pembangunan Jembatan Jabuna. Hasil pemetaan ini dapat menjadi referensi prastudi kelayakan (Pre-FS) terhadap kemungkinan pembangunan jembatan menggunakan teknologi apung, sebagai pembanding hasil studi kelayakan jembatan gantung yang telah disusun. Hasil komparasi tersebut nantinya dapat menjadi pertimbangan realisasi pembangunan jembatan atas pertimbangan value engineering.

2. Pulau Sulawesi, Pulau Muna dan Pulau Buton pada saat ini dihubungkan dengan pelayaran penyeberangan pada 2 (dua) titik, yaitu Torobulu (Sulawesi) dengan Tampo (Pulau Muna) dan Wara (Pulau Muna) dengan Baubau (Pulau Buton). Selain itu, pada waktu dekat akan dilakukan

launchingperesmian penyeberangan baru, yaitu Amolengu (Sulawesi)

dengan Labuan (Pulau Buton). Pembangunan Jabuna ini diprediksi akan menurunkan aktivitas pelayaran, terutama di jalur Wara (Pulau Muna) dengan Baubau (Pulau Buton). Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan terobosan oleh ASDP selaku satu-satunya perusahaan pelayaran yang menangani transportasi penyeberangan tersebut agar tidak terjadi penurunan pendapatan. Merekomendasikan ke ASDP untuk mencari rute pelayaran yang lebih "gemuk“ atau ramai & dinamis sebagai bagian strategi investasi baru dan bagian pengembalian investasi di Baubau melalui kerjasama dan sharing informasi dengan Pelni mendukung Tol Laut.

3. Buton Tengah dan Kota Baubau merupakan penghasil komoditas kacang mete, sedangkan wilayah lain di Sulawesi Tenggara, Kolaka, merupakan penghasil kakao. Untuk meningkatkan nilai ekonomi dari hasil pertanian tersebut, dapat dilakukan terobosan dengan melakukan pelatihan-pelatihan home industry coklat mete. Aksesibilitas dan konektivitasyang baik antara daerah-daerah penghasil kakao dan mete akan lebih mempermudah proses produksi dan distribusinya.Oleh karenanya, diperlukan hilirisasi produk kacang mete di Buton Tengah dan Baubau

(36)

31

berbasis Agroindustry/agrobisnis melalui kerjasama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koperasi dan UKM. 4. Dampak pembangunan jembatan perlu diantisipasi. Salah satu dampak yang akan terjadi adalah kehilangan pendapatan masyarakat yang saat ini hidup dari penyewaan speedboat/kapal rakyat untuk penyeberangan antara Pulau Muna ke Pulau Buton.Adanya Jabuna akan berdampak pada Usaha Pelayaran Rakyat (PELRA); perlu strategi memaksimalkan pemberdayaan ekonomi berbasis pengolahan sumber daya kelautandan perikanan yang menjadi kekuatan utama ekonomi masyarakat pesisir melalui kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

5. Pembangunan Jabuna dapat menjadi langkah awal penyediaan akses bagi daerah-daerah wisata khususnya di Kota Baubau, Muna dan Buton. Pemda perlu melakukan fasilitasi dalam pembukaan kawasan yang berpotensi memiliki daya tarik wisatawan, mengelola dan mengenalkan ke masyarakat, kemudian melengkapi sarana dan prasarana infrastruktur untuk kemudian mengenalkannya kepada investor agar menanamkan modal untuk pengembangan wilayah tersebut kerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. Hal ini dilatarbelakangi komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas dan pembina industri perbankan yang menaruh perhatian lebih pada pembangunan sektor kemaritiman yang diikuti oleh bank-bank nasional maupun swasta.

(37)

32

DAFTAR PUSTAKA

Kabupaten Buton Tengah Dalam Angka. 2014, BPS Kabupaten Buton Tengah. Kota Baubau Dalam Angka. 2014. BPS Kota Baubau.

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara No.2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara 2014-2034.

Sadi-Aciar, Potensi Kacang Mete di Kawasan Timur Indonesia. 2009. Australian Centre for International Agricultural Research.

Gambar

Gambar 1. Peta Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau
Gambar 2. Kepadatan dan Jumlah Penduduk di Kabupaten Buton Tengah dan Kota Baubau  Sumber : Dalam Angka Kota Baubau dan Kabupaten Buton Tengah, 2014
Gambar 3. Komposisi Penduduk berdasarkan Pendidikan di Kabupaten Buton Tengah dan  Kota Baubau
Gambar 4. Presentase Rumah Tangga Miskin terhadap Jumlah Rumah Tangga di Kabupaten  Buton Tengah dan Kota Baubau
+7

Referensi

Dokumen terkait

BM: Pengembangan Infrastruktur Jalan Nasional Akses Maloy (Fisik: 2020, DED-LARAP : 2019, FS-AMDAL: 2018). BM: Peningkatan Kapasitas Jalan Provinsi dari Sangkulirang Ke Jalan

16 BAYOE HARDIJANTO SENIOR FASILITATOR NGANJUK SIDOARJO 17 BUDI TRI WAHYUNI, SPSI SENIOR FASILITATOR BOJONEGORO PONOROGO 18 CANDRA FITRIA MURTI SENIOR FASILITATOR

8) Menetapkan Penyedia Barang/ Jasa untuk: 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15/PRT/M/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/PRT/M/2013 tentang perubahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kelola

Bagian bersama merupakan bagian rumah susun yang dimiliki secara tidak terpisah untuk pemakaian bersama dalam kesatuan fungsi dengan satuan-satuan rumah susun dan

Kepadatan campuran CPHMA yang telah dipadatkan, seperti yang ditentukan dalam SNI 03-6757-2002, tidak boleh kurang dari 97% kepadatan standar kerja ( job standard density )

Sehingga kekurangan target sebesar 61.948 unit tersebut, direncanakan dapat dipenuhi pada tahun 2017.. SEBARAN RENCANA PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEWA TA.. LOKASI VERIFIKASI TEKNIS

RKUD dan CAPAIAN OUTPUT kegiatan DAK Fisik sampai dengan Tahap II yang menunjukkan paling sedikit 70% yang telah direviu APIP.. Laporan yang memuat