• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DALAM BERDAKWAH PADA MASA COVID-19 DI ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DALAM BERDAKWAH PADA MASA COVID-19 DI ACEH"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

138

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DALAM BERDAKWAH PADA MASA COVID-19 DI ACEH

Zulfikar

Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga-Bireuen Email : [email protected]

Abstrak

Penelitian ini untuk menjelaskan bahwa perkembangan dakwah selama masa Pandemik Covid-19 melanda Indonesia secara umumnya dan Aceh secara khususnya telah memberikan perubahan penggunaan media dakwah yang dilakukan oleh pendakwah di Aceh. Di mana sebelumnya para juru dakwah lebih memilih media mimbar atau mengumpulkan massa pada suatu tempat, tetapi selama pandemik Covid-19 telah mengubah persepsi para da’i dalam melakukan kegaitan dakwah dengan lebih memilih media sosial sebagai media dakwah. Media sosial dianggap lebih aman dan mudah dijangkau oleh masyarakat dalam rangka mendengar dakwah, sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah selama Covid-19 melanda Aceh. Diantara beberapa media sosial yang digunakan oleh para juru dakwah dalam melakukan kegiatan dakwahnya, maka media sosial Facebook lebih banyak digunakan, dan media sosial Facebook dianggap lebih mudah digunakan dan lebih mudah dijangkau oleh lapisan masyarakat dibandingkan dengan media sosial lainnya. Media sosial Facebook bisa langsung melakukan live kegiatan dakwah yang dilakukan oleh para da’i dan masyarakat pun bisa langsung menonton kegiatan dakwah dimana saja selama ada koneksi internet atau wifi yang sekarang ini sudah ada dimana saja.

Kata Kunci : Media Sosial, Media Dakwah Abstract

This research is to explain that the development of da'wah during the Covid-19 Pandemic has hit Indonesia in general and Aceh in particular has provided changes in the use of da'wah media carried out by preachers in Aceh. Where previously the preachers preferred the media pulpit or mass gathering at a place, but during the Covid-19 pandemic it has changed the perception of preachers in carrying out da'wah activities by preferring social media as a media of preaching. Social media is considered safer and easier to reach by the community in order to hear da'wah, according to the health protocol recommended by the government during Covid-19 in Aceh. Among the several social media used by preachers in carrying out their da'wah activities, Facebook social media is more widely used, and Facebook social media is considered easier to use and easier to reach by layers of society compared to other social media. Social media Facebook can directly do live da'wah activities carried out by preachers and the public can immediately watch da'wah activities anywhere

(2)

139

as long as there is an internet or wifi connection which is now available anywhere.

(3)

140

A. Pendahuluan

Abad teknologi yang semakin canggih dan mutakhir, manusia modern dituntut untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan ilmu dan teknologi bagi kehidupannya.1 Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih membawa kemajuan dalam berbagai bidang. Saat ini tidak ada lagi pelosok dunia tidak terjangkau dan luput dari kecanggihan komunikasi. Seluruh bagian dunia menjadi tembus pandang membuka diri dan siap untuk berubah. Dengan kecanggihan teknologi komunikasi seolah-olah tidak saling terpisah lagi, bagi dunia yang terkait dengan dunia lainnya, dan telah memperpendek antar wilayah. Salah satu kecanggihan komunikasi, yang saat ini tren adalah internet.2

Pada era globalisasi saat ini, bahwa manusia modern khusunya umat Islam dituntut untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan ilmu pengetahua dan teknologi bagi kehidupannya, dan dakwah harus semaksimal mungkin menggunakan media massa modern seperti televisi, film, pers dan internet. Tidak ada yang dapat membantah kemampuan media massa dalam penyebaran agama Islam. Media massa yang mutlak harus digunakan dalam pelaksanaan dakwah Islam, yang memiliki efektifitas yang tinggi.3Perkembangan dalam bidang komunikasi telah memperpendek jarak antar wilayah, salah satu kecanggihan komunikasi pada saat ini yang tren adalah internet yang menempatkan posisi yang kuat dideretan media massa. Sehubungan dengan media ini, dakwah dapat memainkan perannya dalam menyebarluaskan informasi tentang Islam ke seluruh penjuru, dengan keluasan akses yang dimilikinya yaitu tanpa adanya batasan wilayah.

Dakwah melalui internet merupakan suatu inovasi terbaru dalam syiar Islam, dan tentunya akan memudahkan para da’i dalam memperlebar sayap-sayap dakwahnya. Penggunaan media internet sebagai salah satu media

1 Moh. Ali Azis, Ilmu Dakwah, Edisi Revisi, Cet Kedua, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 154. 2 Moh. Ali Azis, Ilmu Dakwah..., hal. 155.

3 Ibrahim, Teknologi Emansipasi dan Transenden, Wacana Peradaban dengan Visi Islam,

(4)

141

merupakan kesempatan dan tantangan untuk mengembangkan dan memperluas cakrawala dakwah Islamiyah. Kesempatan yang dimaksud yaitu bagaimana orang-orang yang peduli terhadap kemampuan dakwah maupun memanfaatkan media internet tersebut sebagai sarana dan media dakwah untuk menunjang proses dakwah Islam. Sementara mewujudkannya muai dari tenaga, pikiran dan sumber daya manusia yang mengerti arti dakwah dan internet. Umat Islam harus mampu menguasai dan memanfaatkan sebesar-besarnya perkembangan teknologi informasi, dari sisi dakwah kekuatan internet sangat potensial untuk dimanfaatkan.4

Perkembangan teknologi memberikan peran yang sangat besar dalam perkembangan dakwah saat ini. Dengan kehadiran teknologi seperti internet, jangkauan dakwah menjadi sangat luas dan tidak terbatas oleh geografis. Secara khusus ada tiga alasan mengapa dakwah melalui internet menjadi penting.5

1. Umat Islam telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia Agama Islam merupakan agama dengan pemeluk terbanyak, sedangkan di dunia, Islam merupakan agama dengan pemeluk terbanyak kedua setelah Kristen. Hal yang sama juga terjadi di Amerika, Perancis dan Inggris. Pertumbuhan pemeluk Islam di Negara eropa lainnya dan Australia juga sangat pesat. Internet merupakan sarana yang mudah dan murah untuk selalu keep

intouch dengan komunitas muslim yang terbesar di segala penjuru dunia;

2. Citra Agama Islam yang buruk akibat pemberitaan satu sisi oleh banyak media barat perlu diperbaiki. Internet menawarkan kemudahan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang jernih dan benar serta pesan-pesan ketuhanan keseluruh dunia. Dalam konteks ini, internet banyak digunakan untuk menyebarkan propaganda anti-Islam atau memberikan informasi tentang Islam yang salah, maka penggunaan internet merupakan

4 Nur Ahmad, Tantangan Dakwah di Era Teknologi dan Informasi: Formulasi Karakteristik,

Popularitas, dan Materi di Jalan Dakwah, (Jurnal ADDIN, Vol. 8, 2014), hal. 326-327.

5 Fathul Wahid, E-Dakwah: Dakwah Melalui Internet, (Yogyakarta: Gava Media, 2004),

(5)

142

salah satu cara efektif melawannya. Dalam kaitan ini, kita sekaligus melakukan dakwah ke komunitas non-muslim;

3. Pemanfaatan internet untuk dakwah, dengan sendirinya juga menunjukkan bahwa muslim juga bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan perdaban yang ada, selama itu tidak bertentangan dengan akidah. Di negara-negara maju, media ini telah memudahkan muslim dalam mengelola dakwahnya dan berkomunikasi dengan anggota jamaah lainnya. Selama pandemik Covid-19 melanda Aceh selama ini, maka banyak kegiatan dakwah yang tidak bisa dilakukan dengan tatap muka dan mengumpulkan massa dalam jumlah yang banyak, karena pemerintah Aceh telah mengeluarkan kebijakan untuk tidak melakukan kegiatan yang mengumpulkan massa yang banyak pada suatu tempat. Sedangkan dari sudut yang lain bahwa kegiatan dakwah itu harus tetap dilakukan kepada masyarakat terlebih selama pandemik Covid-19 ini masyarakat banyak yang butuh siraman rohani dan ilmu agama supaya lebih nyaman dalam menghadapi cobaan Covid-19 dan dalam beribadah kepada Allah swt.

Berangkat dari latar belakang inilah, maka penulis tertarik mengkaji beberapa da’i dalam melakukan dakwahnya beralih kepada media sosial, adapun yang menjadi rumusan masalahnya adalah:

1. Apa alasan para da’i dalam melakukan kegiatan dakwah beralih kepada media sosial?

2. Bagaimana da’i mengelola media sosial sebagai media dakwah selama masa pandemik Covid-19?

B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dari rumusan masalah yang telah ditetapkan maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apa alasan para da’i dalam melakukan kegiatan dakwah beralih kepada media sosial

(6)

143

2. Untuk mengetahui bagaimana da’i mengelola media sosial sebagai media dakwah selama masa pandemik Covid-19

3. Untuk mengetahui bagaiman persepsi masyarakat dalam mengikuti dakwah melalui media sosial

Sedangkan kegunaan penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini berguna untuk mengikuti anjuran Pemerintah Aceh dalam

rangka mencegah penyebaran wabah Covid-19 dengan tidak mengumpulkan massa dalam jumlah yang banyak pada suatu tempat. 2. Penelitian ini juga menjadi sebuah acuan bahwa dakwah tidak hanya bisa

dilakukan dengan tatap muka saja, tetapi juga bisa dilakukan dengan menggunakan media sosial yang lagi ngetren pada saat ini.

3. Penelitian ini juga mengajarkan kepada para da’i agar selalu mengupdate informasi teknologi yang berkembang dan semakin maju, sehingga para da’i bisa memanfaatkan teknologi sebagai media dakwahnya.

4. Masyarakat juga semakin mudah dalam mendengar dakwah dan tidak perlu pergi ketempat yang jauh atau meninggalkan keluarga demi untuk mendengar dakwah.

5. Penelitian ini diharapkan akan memberikan konstribusi positif terhadap pengembangan dakwah bagi para da’i di Provinsi Aceh, sehingga dakwah kedepan akan semakin berkembang dan mendunia.

C. Kerangka Teori

Pada saat ini, saluran media dikatagorikan dengan banyaknya pilihan yang sangat membingungkan, terdapat ratusan saluran televisi kabel dan program siaran sesuai permintaan yang dapat dijumpai setiap hari, belum lagi jaringan internet yang sudah memiliki isi dan konten beranekaragam tanpa batas. Selanjutnya dan yang lebih penting saat ini teknologi media baru

(7)

144

member peluang bagi selera dan mengkreasiisi media seperti blog, halaman

Facebook, portal, dan catatan harian video Youtube.6

Menurut Mc Quail cirri utama media baru adalah adanya saling keterikatan, aksesnya terhadap khalayak individu sebagai penerima maupun pengirim pesan, interaktivitasya, kegunaan yang beragam sebagai karakter yang terbuka, dan sifatnya yang ada dimana-mana. Adapun perbedaan media baru dengan media lama yakni media baru mengabaikan batasan percetakan dan model penyiaran dengan memungkinkan terjadinya percakapan antara banyak pihak, memungkinkan penerimaan secara simultan, perubahan dan penyebaran kembali objek-objek budaya, mengganggu Tindakan komunikasi dari posisi pentingnya dari hubungan kewilayahan dan modernitas, menyediakan kontak global secra instan, dan memasukkan subjek modern/akhir kedalam mesin aparat yang berjaringan.7

McLuhan mengawali pemikirannya dengan mengajukan sebuah tesis: media, terlepas dan apa pun isi yang disampaikan, akan berdampak terhadap individu-individu dan masyarakat. Gagasan ini dalam beragam bentuknya adalah apa yang dimaksudkan sebagai “medium theory”. Televisi mempengaruhi kita tanpa memandang apa yang kita tonton. Internet mempengaruhi masyarakat tanpa memperhatikan situs-situs apa yang mereka kunjungi. Pemikiran McLuhan sangat dipenagruhi oleh mentornya, Harold Adam Innis. Ia mengajarkan bahwa media komunikasi adalah esensi dan peradaban dan sejarah itu diarahkan oleh media yang menonjol (media utama) pada setiap masanya. Bagi McLuhan dan Innis, media adalah perluasan dan pemikiran manusia, sehingga media yang menonjol memiliki bias pada setiap periode sejarah.8

6 Charles R. Berger dkk, Handbook Ilmu Komunikasi Prosedur, Tren, dan Etika, (Bandung:

Simbiosa Rekatama Media, 2015), hal. 381.

7 Denis McQuail, TeoriKomunikasi Massa McQuailEdisi 6 buku 1, (Jakarta: Salemba

Humanika, 2011), hal. 43.

8 Stephen W. Litlejohn & Karen A. Foss, Encyclopedia of Communication Theory Thousand

(8)

145

Gagasan lain yang terkait dengan kehadiran media baru adalah Media

Ecology Theory, sebuah pemikiran teoritik hasil dan studi yang dilakukan oleh

McLuhan. Secara sekilas teori ini menjelaskan bahwa masyarakat telah berevolusi, begitu juga dengan teknologi. Mulai dari abjad hingga internet, kita telah dipengaruhi oleh dan mempengaruhi media eletronik. Dengan perkataan lain, the medium is the message. Hukum-hukum media menunjukkan bahwa teknologi mempengaruhi komunikasi melalui teknologi baru. Media Ecologi

Theory memusatkan perhatian pada prinsip-prinsip bahwa masyarakat tidak

dapat melarikan diri dari pengaruh teknologi dan bahwa teknologi akan tetap menjadi pusat bagi semua bidang profesi dan kehidupan.9

Gagasan McLuhan yang tercermin dalam Classical Medium Theory menstimulasi lahirnya pemikiran baru yang dikenal dengan New Media Theory. Pada tahun 1990, Mark Poster menerbitkan buku berjudul“The Second Media

Age” yang menegaskan periode baru di mana teknologi interaktif dan

komunikasi jejaring, khususnya internet, akan merubah masyarakat. Gagasan

The Second Media Age yang telah dikembangkan sejak tahun 1980an menandai

perubahan-perubahan penting dalam Media Theory. Pertama, hilangnya konsep “media” dan komunikasi “massa” menuju beragam media yang berjenjang dan sangat luas ke media personal. Kedua, konsep tersebut mengarahkan perhatian kita kepada bentuk-bentuk media baru yang berjenjang informasi dan pengetahuan individual hingga interaksisosial. Ketiga, tesis dan the second media

age membawa medium theory yang relatif tidak dikenal pada tahun 1960an

menuju popularitas yang diperbaharui pada tahun 1990an.10

New Media Theory juga memberikan penjelasan tentang 2 (dua)

pandangan dominan tentang perbedaan-perbedaan antara the first media age yang menekankan pada siaran (broadcast) dengan the second media age yang menekankan pada jejaring (networks). Kedua pandangan tersebut adalah

9 Richard West &Lynn H. Turner, Introducing Communication Theory, Analysis and

Application, (New York: The McGraw-Hill Companies Inc. 2007), hal. 461-262.

(9)

146

pendekatan interaksi sosial dan pendekatan integrasi social dalam masyarakat.11

Kritik terhadap digitalisasi dan konvergensi yang menjadi pusat bahasan dalam New Media Theory diwujudkan dalam pendekatan ritual tentang komunikasi yang dikenal dengan Ritual Theory. Pendekatan ritual menawarkan sebuah penjelasan mengapa televise bahkan surat kabar dan buku tidak mengalami penurunan dalam menghadapi hadirnya media baru. Dengan mengkaji bagaimana dan mengapa orang berinteraksi dengan medium-medium komunikasi, pendekatan ini menegaskan bahwa keterikatan terhadap medium tidak secara sederhana diarahkan oleh efesiensi dan kontrol terhadap media yang didesakkan oleh para teoritisi dan the second media age. Namun, keterikatan terhadap media, baik media lama maupun media baru, memberikan ketergantungan bahwa individu-individu akan sulit untuk mencapai relasi tatap muka dan kawasan-kawasan lain dan kehidupan sehar-hari.12

D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini dikatagorikan sebagai penelitian lapangan atau (fiel

research), dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif analisis, karena mencoba mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar dan gambaran yang ditemukan pada saat penelitian tentang manfaat media sosial sebagai salah satu media dakwah yang efektif pada saat pandemik Covid-19 melanda Pemerintah Aceh. Metode deskriptif, yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa pada masa sekarang.13 Tujuan sebuah penelitian adalah untuk memberi gambaran atau

11 Stephen W. Littlejohn & Karen A. Foss, Theories of Human Communication…, hal.

292-293.

12 Stephen W. Litlejohn & Karen A. Foss, Encyclopedia of Communication Theory Thousand

TaksCalofornia, (London: Sage Publication, Inc 2009), hal. 686.

(10)

147

lukisan secara sistematis, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang sedang diteliti.

2. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan daripada objek penelitian. Dalam penelitian yang menjadi populasi adalah para penda’i yang aktif dalam melakukan kegiatan berdakwah walaupun pandemik Covid-19 sedang melanda Provinsi Aceh. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi secara keseluruhan. Mengingat waktu, biaya dan tenaga yang tidak memungkinkan dilakukan penelitian secara menyeluruh, maka ditetapkan sebagian untuk dijadikan sebagai sampel. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bireuen.

Pemilihan Kabupaten Bireuen sebagai sampel dalam penelitian ini atas dasar pertimbangan bahwa di Kabupaten Bireuen banyak pendakwah yang aktif dalam kegiatan dakwah, walaupun ditengah pandemik Covid-19 para pendakwah dalam Kabupaten Bireuen mencoba menggunakan media sosial Facebook sebagao media dakwahnya, demi menghindari terjadinya kerumunan massa yang banyak pada suatu tempat.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

a. Telaah dokumentasi

Telaah dokumentasi merupakan telaah sumber data yang berkaitan dengan pemanfaatan media sosial sebagai media dakwah di Kabupaten Bireuen. Data yang dimaksudkan dalam penelitian berupa buku, artikel, majalah dan sejumlah referensi lainnya yang mendukung data yang diperlukan untuk keperluan penelitian.

(11)

148

c. Wawancara adalah bentuk tanya jawab yang dilakukan oleh peneliti dengan responden guna memperoleh data yang dibutuhkan.14 Teknik ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang penggunaan media sosial sebagai media dakwah pada masa pendemik Covid-19. Kalau dilihat dari bentuk wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur, di mana pertanyaan yang ditanyakan dan alternatif jawaban yang didapatkan dari responden tanpa ditetapkan terlebih dahulu.15 Dalam memperoleh data dilakukan secara langsung melalui dialog dengan responden dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu, sehingga peneliti memperoleh berbagai informasi dari responden yang dijadikan target wawancara untuk kesempurnaan penelitian.

d. Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh data di lokasi penelitian melalui proses pengamatan. Observasi dilakukan untuk melihat fenomena dilapangan terkait dengan objek penelitian yang sedang dilakukan, yaitu data yang berkaitan dengan penggunaan media sosial sebagai media dakwah pada masa pandemik Covid-19 di Kabupaten Bireuen.

4. Teknik Analisis Data

Setelah data yang diperlukan untuk penelitian sudah terkumpul semua, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data dalam rangka menemukan hasil temuan. Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, katagori dan satu uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan menjadi sebuah hipotesis seperti yang disaranan dalam mengolah data hasil penelitian.16

14 Suparno, Metode Research, Cet. V, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hal. 68.

15 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan R&D, (Bandung:

Al-Fabet, Edisi III, 2010), hal. 197.

16 Lexy J. Moleong, Penelitian Kualitatif, (Bandung: remaja Rosdakarya, Cet. Ke-13, 2010),

(12)

149

Data yang ditemukan terdiri dari catatan-catatan yang diperoleh melalui tahapan observasi, wawancara dan telaah dokumentasi setelah perlu dilakukan analisis telebih dahulu agar dapat diketahui maknanya dengan menyusun data, menghubungkan data, mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan secara menyeluruh dan terarah sehingga akan mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan maksud dari peneliti dalam melakukan penelitian.

Adapun analisis data dalam penelitian ini termasuk dalam pola penelitian kualitatif, peneliti dalam hal mengolah data hasil penelitian menggunakan teori yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu: reduksi data, display data dan verifikasi data.17

E. Pembahasan Hasil Penelitian

Kegiatan dakwah pada pandemik Covid-19 sangat penting sekali untuk terus dilakukan, selain untuk menjaga supaya ajaran dakwah itu terus dilakukan secara kontinyu, juga untuk mengurangi rasa ketakutan berlebihan bagi masyarakat terhadap pemberitaan Covid-19 yang dinilai sudah sangat berlebihan dan menambah rasa ketakutan bagi masyarakat.

Beberapa pendakwah di Aceh dalam melakukan kegiatan dakwah pada masa pandemik Covid-19 beralih kepada media sosial yang dianggap sudah mampu menjadi media alternatif dan relevan dengan kegiatan dakwah selama ini, selain sudah familiar dengan berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan dengan media sosial, maka media dakwah juga menjadi salah satu solusi dalam melakukan kegiatan dakwah dengan menggunakan media sosial.

Media sosial yang dijadikan sebagai media dakwah menjadi sebuah tren positif bagi masyarakat Aceh pada masa pandemik Covid-19, selain mudah diakses dan bisa disaksikan oleh siapa saja, tanpa harus meninggalkan keluarga dan rumah serta tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar baik untuk

17Mattew B. Miles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, Terj. Tjetjep

(13)

150

transportasi maupun akomodasi dalam rangka mengikuti kegiatan dakwah melalui media sosial.

Media sosial telah mampu menyaingi media televisi dan radio dalam menyiarkan kegiatan dakwah, selain media sosial bisa menyiarkan siaran langsung kegiatan dakwah dengan mudah tanpa perlu peralatan yang canggih dan tempat yang begitu besar. Media sosial ini bisa menyiarkan kegiatan dakwah yang dilakukan di daerah pelosok sekalipun, asalkan kawasan itu terkoneksi dengan sinyal operator seluler dengan baik.

Dalam menyiarkan kegiatan dakwah melalui media sosial bisa dilakukan dengan mudah serta dapat dilakukan oleh siapa saja, selain itu juga dapat dibagikan siaran langsung kegiatan dakwah kepada siapa saja yang ingin menonton, baik itu kepada perorangan maupun kelompok, sehingga kegiatan dakwah sangat cepat sekali tersebar dan menyebar ke berbagai daerah tanpa dibatasi oleh jarak dan lokasi.

Media sosial yang familiar dengan kegiatan dakwah selama pandemik Covid-19 ini adalah Facebook yang bisa menyiarkan kegiatan dakwah secara langsung dan dengan begitu mudah disaksikan oleh pengguna media sosial ini, walau hanya terbatas kepada orang yang berteman dengan orang yang menyiarkan siaran langsung, tetapi siaran langsung melalu media sosial facebook dapat dibagikan dengan mudah kepada orang lain.

Selain facebook, media sosial yang sering dipakai untuk menyiarkan siaran langsung kegiatan dakwah adalah youtube, di mana youtube merupakan media sosial yang sangat mudah digunakan dan tidak memerlukan peralatan yang canggih. Youtube ini menjadi media sosial yang sangat digemari dalam menyiarkan berbagai kegiatan yang dilakukan, baik itu kegiatan dakwah maupun kegiatan yang lain.

Bagi para pendakwah pada masa pandemik Covid-19 ini sudah menyiapkan berbagai perlatan media sosial dalam kegiatan berdakwah, peralatan yang disiapkan untuk menyiarkan kegiatan dakwah melalui media sosial ini langsung bisa disiarkan kepada masyarakat umum dan bisa

(14)

151

disaksikan secara langsung oleh siapa saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh jarak dan negara, sehingga media sosial ini dianggap sangat bagus untuk kegiatan dakwah.

Dalam melakukan kegiatan dakwah selama ini, para pendakwah yang selalu aktif dalam kegaiatan dakwah sudah punya akun masing-masing yang selalu dipakai dalam menyiarkan kegiatan dakwah yang dilakukan dimana saja, kegiatan dakwahnya akan langsung bisa disaksikan oleh para penggemar dakwahnya secara langsung mulai dari awal sampai akhir.

Dalam memelihara alat dan perangkat yang dipakai untuk menyiarkan kegiatan dakwah, maka para da’i perlu orang-orang yang dianggap kompeten dalam menyiapkan perangkat dan alat yang dipakai untuk menyiarkan kegiatan dakwah. Selain orang yang mengerti dan mampu mengoperasikan peralatan tersebut, tentu perlu biaya yang sangat besar untuk melakukan kegiatan dakwah menggunakan perlatan media sosial tersebut.

Dalam mengelola akun media sosial ini tentu perlu tenaga dan orang-orang yang memahami dalam menjalankan peralatan yang dipakai untuk menyiarkan kegiatan dakwah, supaya akun yang dipakai tidak di akan dihack oleh orang lain atau disalahkangunakan dengan alasan dan tujuan yang tidak baik. Media sosial tentu lebih mudah disabotase oleh siapa saja jika tidak dijaga dengan baik dan tingkatan keamanannya sangat lemah, tentu ini mejadi sebuah keniscayaan dan sebuah kepercayaan publik yang harus dijaga dengan baik.

Pemanfaatan media sosial sebagai media dakwah tentu akan memberikan penambahan media dakwah dalam menyiarkan kegiatan dakwah, selain pemanfaatan yang mudah dan tidak memerlukan biaya yang sangat besar dalam mengoperasikannya, maka tentu media sosial ini akan semakin diminati sebagai media dakwah. Para pendakwah tentunya akan semakin mudah dalam menyiarkan ajaran dakwah kepada masyarakat melalui media sosial yang tidak dibatasi oleh dareah dan kawasan tertentu, bahkan mampu menjangkau berbagai negara yang ada dibelahan dunia ini.

(15)

152

Tentu saja memanfaatkan media sosial sebagai media dakwah akan semakin membuka jalan dalam menyampaikan informasi keagamaan dalam jangkauan yang tidak terbatas, tentu ini harus bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. jangan sampai ada teknologi tetapi tidak bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada orang-orang yang membutuhkannya.

F. Kesimpulan

Pada masa pandemik Covid-19 tentu banyak persoalan dakwah yang tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya, tetapi ini jangan dijadikan sebagai alasan untuk tidak melakukan kegiatan dakwah keagamaan. Jika pada masa pandemik Covid-19 dibatasi dengan jangan mengupulkan massa dalam jumlah yang banyak, maka selaku penda’i tentu perlu mencari alternatif solusi dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat.

Media sosial tentu bisa dijadikan sebagai salah satu media dalam menyampaikan dakwah kepada masyarakat, baik itu dalam skala besar maupun dalam skala kecil. Memanfaatkan media sosial sebagai media dakwah merupakan sebuah kesempatan yang sangat baik bai para pendakwah, supaya media sosial itu tidak disalahkan digunakan oleh sekelompok orang untuk kegiatan yang tidak baik dan bertentangan dengan agama.

Para penda’i harus mampu mengoperasikan dan menjalankan media sosial dengan baik, supaya jangan dianggap bahwa para da’i tidak siap dengan kemajuan teknologi yang sedang berkembang. Menjadikan media sosial sebagai media dakwah tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para da’i dalam menyampaikan kegiatan dakwah, karena ada sebagian da’i yang masih kaku dan menganggap bahwa media sosial itu tidak perlu sama sekali.

(16)

153

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Zaini, Dakwah Melalui Internet, At-Tabsyir Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 1, 2013.

Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.

Andi AlimuddinUnde, Televisi dan Masyarakat Pluralistik, 2014, Jakarta: Prenada Media

Apriadi Tamburaka, Literasi Media: Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa, Jakarta: Rajawali Pers, 2013.

Asep Saeful Muhtadi, Komunikasi Dakwah: Teori, Pendekatan, dan Aplikasi, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012.

Artikel di akses, 4 Juli 2020 dari http://www.bimasislam.kemenag.go.id.

Bambang Ma’arif, Komunikasi Dakwah: Paradigma Untuk Aksi, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2010.

Charles R. Berger dkk, Handbook IlmuKomunikasiProsedur, Tren, dan Etika, Bandung: SimbiosaRekatama Media, 2015.

Dauglas E. Cowan, Relegion Online, London: Routledge, 2004.

David Croteau and William Hoynes, Media/Society: Industries, Images, and

Audiences, London: Pine Forge Press, 1997.

Denis McQuail, Mc Quail’s Communication Theory (4th edition), London: Sage

Publication, 2000.

Denis McQuail, Mass Communication Theory, Sixth Edition, London: Sage Publication Ltd, 2010

Denis McQuail, TeoriKomunikasi Massa McQuailEdisi 6 buku 1, Jakarta: Salemba Humanika, 2011.

Everett M. Rodgers, Communication Technology: The New Media in Society, New York: The Free Press, 1986.

Em Griffin, A First Look At Communication Theory, Sixth Edition, International

(17)

154

Fathul Wahid, E-Dakwah: Dakwah Melalui Internet, Yogyakarta: Gava Media, 2004.

Ibrahim, Teknologi Emansipasi dan Transenden, Wacana Peradaban dengan Visi

Islam, Bandung: Mizan, 1994.

Junaidi, Manajemen E-Dakwah: BerdakwahMelalui Saber, Banda Aceh: Mahasiswa IAIN Banda Aceh, 2008.

John Fiske, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling

Komprehensif, terj. Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim, Yogyakarta:

Jalasutra, 2010.

John V. Pavlik, New Media Technology: Cultural and Commercial Perspectives, Boston: Allyn and Bacon, 2002.

Kumanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 2004.

Moh. Ali Azis, Ilmu Dakwah, Edisi Revisi, Cet Kedua, Jakarta: Kencana, 2009. Nur Ahmad, Tantangan Dakwah di Era Teknologi dan Informasi: Formulasi

Karakteristik, Popularitas, dan Materi di Jalan Dakwah, Jurnal ADDIN, Vol.

8, 2014.

Oemar Hamalik, Media Pendidikan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1989.

Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003.

Richard West &Lynn H. Turner, Introducing Communication Theory, Analysis and

Application, New York: The McGraw-Hill Companies Inc. 2007.

Stephen W. Littlejohn &Karen A. Foss, Theories of Human Communication, Ninth

Edition, Belmont, California: Thomson Wadsworth, 2008.

Stephen W. Litlejohn&Karen A. Foss, Encyclopedia of Communication Theory

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak: Wabah covid 19 yang melanda seluruh indonesia belum juga usai sehingga pembelajaran tatap muka mahasiswa universitas muhammadiyah di tiadakan sementara

Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran daring di PAUD khususnya selama dan setelah pandemik COVID-19. Guru-guru

Jadi kesimpulannya, penggunaan media komunikasi daring google classroom dalam kegiatan perkuliahan selama masa pandemic covid-19 di Universitas Dehasen Bengkulu

Secara spesifik, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan literasi baru tentang intensitas tweet terkait kegiatan dakwah, terutama dakwah berbasis filantropi

Kondisi pandemic covid-19 yang mengharuskan menerapkan Pysical distencing sehingga pembelajaran tatap muka tidak bisa dilakukan dan terpaksa pembelajaran dilakukan

Selama Pandemi Covid-19, pelayanan konsultasi secara tatap muka dialihkan melalui media daring (pesan Whatsapp/ Email/ Telepon, atau Daring melalui zoom meeting)

Penelitian ini akan berfokus pada wacana dalam hoaks terkait Covid-19 dan Islam di media sosial selama pandemi Covid-19 di Indonesia, serta tipologi hoaks

4) Jangan Berbagi Barang Pribadi Virus Corona mampu bertahan di permukaan hingga tiga hari. Penting untuk tidak berbagi peralatan makan, sedotan, handphone, dan