• Tidak ada hasil yang ditemukan

HOAKS TERKAIT COVID-19 DAN ISLAM DI MASA AWAL PANDEMI COVID-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HOAKS TERKAIT COVID-19 DAN ISLAM DI MASA AWAL PANDEMI COVID-19"

Copied!
206
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Magister Sosial (M.Sos.)

oleh:

Anita Sartika NIM: 21190510000004

MAGISTER KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1442 H / 2021 M

(2)

ii

HOAKS TERKAIT COVID-19 DAN ISLAM DI MASA AWAL PANDEMI COVID-19

Tesis

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Magister Sosial (M.Sos.)

oleh Anita Sartika NIM 21190510000004

Pembimbing I

Syamsul Rijal, M.A., Ph.D NIP. 197810082006041002

Pembimbing II

Khaeron Sirin, M.A NIP. 197510172005011004

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1442 H/ 2021 M

(3)

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Tesis berjudul HOAKS TERKAIT COVID-19 DAN ISLAM DI MASA AWAL PANDEMI COVID-19 telah diujikan pada sidang munaqasyah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 12 Juli 2021. Tesis ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sosial (M.Sos) pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Jakarta, 12 Juli 2021 Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota

Dr. Tantan Hermansah, M.Si NIP: 197606172005011006

Sekretaris Merangkap Anggota

Kiky Rizky, M.Si

NIP: 197303212008011002 Anggota :

Penguji I

Dr. Ismail Cawidu, M.Si NIP: 195610171984031001

Penguji II

Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si NIP: 197608122005011005 Pembimbing

Pembimbing I

Syamsul Rijal, M.A., Ph.D NIP: 197810082006041002

Pembimbing II

Khaeron Sirin, M.A NIP. 197510172005011004

(4)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Anita Sartika NIM : 21190510000004 Jenjang : Magister (S2)

Program Studi : Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas : Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Menyatakan bahwa tesis yang berjudul HOAKS TERKAIT COVID-19 DAN ISLAM DI MASA AWAL PANDEMI COVID-19 secara keseluruhan adalah hasil penelitian karya saya sendiri kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.

Jakarta, 15 Mei 2021

Anita Sartika

NIM 21190510000004

(5)

v

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Anita Sartika NIM : 21190510000004

TTL : Bengkulu, 22 Desember 1996 Alamat : Jl. Hibrida X, Kota Bengkulu

Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang berjudul HOAKS TERKAIT COVID-19 DAN ISLAM DI MASA AWAL PANDEMI COVID-19 adalah benar merupakan karya saya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunannya. Adapun kutipan dalam tesis ini sudah saya cantumkan sumber referensinya sesuai dengan tata cara pengutipan yang berlaku. Saya bersedia melakukan proses hukum sebagaimana mestinya apabila ternyata sebagian atau keseluruhan dari tesis ini merupakan plagiat dari karya orang lain.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.

Jakarta, 30 Mei 2021

Anita Sartika

NIM 21190510000004

(6)

vi ABSTRAK

ANITA SARTIKA. Hoaks Terkait Covid-19 dan Islam di Masa Awal Pandemi Covid-19.

Hoaks di masa pandemi Covid-19 dapat lebih membahayakan dan berdampak negatif bagi masyarakat, di antaranya dapat mempengaruhi persepsi publik. Salah satu topik hoaks Covid-19 yang cukup banyak tersebar adalah berkaitan dengan Islam. Hoaks tersebut memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi persepsi publik dalam melihat hubungan Covid- 19 dan Islam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana Islam direpresentasikan dalam hoaks Covid-19 serta bagaimana tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam.

Penelitian ini menggunakan paradigma nonpositivistik, pendekatan kualitatif, dan metode deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan teori Analisis Wacana Kritis pendekatan Bahasa Kritis Roger Fowler dkk. untuk mengungkap bagaimana wacana terkait Islam direpresentasikan. Analisis dilakukan pada dua tingkatan, yakni tingkat kosakata dan tingkat kalimat.

Hasil penelitian mengungkapkan hoaks terkait Covid-19 dan Islam di masa awal pandemi Covid-19 merepresentasikan Islam dengan tidak tepat sehingga merugikan Islam. Selain itu, hoaks terkait Covid-19 dan Islam yang paling banyak tersebar adalah berjenis False Context, Misleading Content, dan Imposter Content. Terdapat tiga belas hoaks berjenis False Context dan Misleading Content, serta sebelas hoaks berjenis Imposter Content. Terdapat juga dua hoaks berjenis Manipulated Content dan satu hoaks berjenis Fabricated Content. Adapun hoaks berjenis Satire/Parody dan False Connection tidak ada dalam hoaks terkait Covid-19 dan Islam di media sosial pada masa awal pandemi Covid-19.

Kata Kunci: Covid-19, Hoaks, Islam, Media Sosial, Pandemi.

(7)

vii ABSTRACT

ANITA SARTIKA. Hoakses Related to Covid-19 and Islamic Issues in the Early Period of the Covid-19 Pandemic

Hoaxes during the Covid-19 pandemic can be more dangerous and have a negative impact on the community, including influencing public perception. One of the most widely spread Covid-19 hoax topics is related to Islam. These hoaxes have the possibility to influence public perception of the relationship between Covid-19 and Islam. Therefore, this study aims to reveal how Islam is represented in the Covid-19 hoax and how the typology of hoaxes related to Covid-19 and Islam.

This study uses a non-positivistic paradigm, a qualitative approach, and a qualitative descriptive method. Researcher uses Critical Discourse Analysis theory by Roger Fowler et al. to reveal how Islam is represented. The analysis was carried out at two levels, namely the vocabulary level and the sentence level.

The results of this study reveal that hoaxes related to Covid-19 and Islam in the early days of the Covid-19 pandemic represented Islam incorrectly, thus harming Islam. In addition, the most widely spread hoaxes related to Covid-19 and Islam are False Context, Misleading Content, and Imposter Content. There are thirteen hoax types of False Context and Misleading Content, and eleven hoaxes of Imposter Content type. There are also two Manipulated Content hoaxes and one Fabricated Content hoax.

There are no hoax types of Satire/Parody and False Connection related to Covid-19 and Islam on social media in the early days of the Covid-19 pandemic.

Keywords: Covid-19, Hoax, Islam, Social Media, Pandemic.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. yang telah memberikan nikmat kesempatan dan kesehatan, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis yang merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sosial (M.Sos) pada Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat, dan pengikut setianya hingga akhir zaman.

Pada penghujung tahun 2019, dunia dikagetkan dengan munculnya virus dari Wuhan, salah satu kota di Republik Rakyat Cina, yang kemudian dinyatakan sebagai pandemi Covid-19.

Sejak saat itu, dunia menghadapi babak baru yang berbeda. Virus menyebar ke berbagai belahan bumi, menyebabkan jutaan orang meninggal dunia. Penyebaran virus tersebut disertasi pula dengan hoaks yang tidak kalah masifnya di media sosial, menyebabkan sulit membedakan informasi yang salah dan benar. Hal ini menjadi keresahan peneliti, sehingga lahirlah tesis berjudul

“Hoaks Terkait Covid-19 dan Islam di Masa Awal Pandemi Covid-19”.

Penyelesaian tesis ini tentunya telah melibatkan partisipasi, dukungan, bimbingan, serta arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan rasa hormat dan ucapkan terima kasih kepada:

(9)

ix

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Dekan, Ibu Dr. Siti Napsiyah, MSW selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Bapak Dr. Sihabudin Noor, MA selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, serta Bapak Drs. Cecep Castrawijaya, MA selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Dr. Tantan Hermansah, M.Si selaku Ketua Jurusan dan Bapak Kiki Rizky, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Program Studi Magister KPI, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Syamsul Rijal, M.A., Ph.D dan Bapak Khaeron Sirin, M.A selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan masukan dan pencerahan, serta berbagi ilmunya untuk membimbing tesis ini hingga dapat diselesaikan dengan baik.

5. Bapak Dr. Ismail Cawidu, M.Si selaku Dosen Penguji 1 pada Seminar Hasil Penelitian dan Ujian Tesis, Bapak Dr.

Gun Gun Heryanto selaku Dosen Penguji 2 pada Ujian Tesis, serta Bapak Deden Mauli Darajat, S.Sos.I., M.Sc selaku Dosen Penguji 2 pada Seminar Hasil Penelitian.

Terima kasih atas saran dan masukan sehingga penulisan tesis ini dapat menjadi lebih baik.

6. Bapak Ibu dosen tim pengajar selama masa studi di Program Magister KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:

(10)

x

Bapak Prof. Andi Faisal Bakti, Bapak Prof. Murodi, Bapak Dr. Gun Gun Heryanto, Bapak Dr. Syamsul Yakin, Ibu Dr.

Yopi Kusmiati, Bapak Dr. Rulli Nasrullah, Bapak Dr.

Sungaidi, Bapak Dr. Ibnu Qoyim, Bapak Dr. Fachrurrozi, dll. Terima kasih telah menginspirasi dan menjadi role model agar selalu memperkaya diri dengan wawasan.

7. Bapak Dr. Moh. Zamroni (Dosen KPI UIN Sunan Kalijaga sekaligus Ketua Umum DPP ASKOPIS) dan Bapak Dr.

Achmad Syarifudin (Dekan FDK UIN Raden Fatah) yang telah membantu tesis ini lewat kiriman buku gratis. Terima kasih atas dukungan dan kebaikan hatinya.

8. Seluruh Staff dan Karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah yang telah memberikan pelayanan terbaik.

9. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Rifai, B.A dan Ibunda Jamilawati, S.Pd yang selalu mendoakan, memberikan cinta dan kasih sayang, memenuhi segala kebutuhan, dan selalu tulus berbahagia atas segala pencapaian peneliti.

10. Kakak dan adik tersayang: Woh Disfa Lidian Handayani, S.E.I, M.E.I, Kak Catur Eri Gunawan. S.T., M.Cs, Ayuk Praftiwi Umitri, S.T, Mas Rayindha Priyantama, S.Kom, Abang Fajar Nugraha, S.M dan Ahmad Mustafa, serta kedua generasi alfa penyejuk keluarga, Ibrohim Ahmad Ziandrutama dan Ranya Rumaisha Eridian.

11. Teman-teman seperjuangan Magister KPI angkatan 2019 yang selalu mendukung, berbagi informasi, serta menjadi teman diskusi selama menimba ilmu di kampus ini.

(11)

xi

Akhirnya, peneliti berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak lain yang membutuhkan.

Jakarta, Mei 2021

Anita Sartika, S.Sos NIM. 21190510000004

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……….. i

PERSETUJUAN PEMBIMBING……… ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN………. iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ………..iv

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ………..v

ABSTRAK ……….vi

ABSTRACT ………..vii

KATA PENGANTAR ………..viii

DAFTAR ISI ………..xii

DAFTAR GAMBAR………..xvi

DAFTAR TABEL……… xviii

BAB I PENDAHULUAN ………1

A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 7

E. Manfaat Penelitian ... 8

F. Tinjauan Kajian Terdahulu ... 8

G. Metodologi Penelitian ... 12

(13)

xiii

1. Paradigma Penelitian ... 12

2. Pendekatan Penelitian ... 13

3. Metode Penelitian ... 14

4. Subjek dan Objek Penelitian ... 14

5. Data Penelitian ... 15

6. Teknik Pengumpulan Data ... 16

7. Teknik Analisis Data... 18

H. Pedoman Penulisan ... 19

I. Sistematika Penulisan ... 20

BAB II TINJAUAN TEORETIS 22 A. Hoaks Secara Umum ... 22

B. Hoaks dalam Perspektif Islam ... 28

C. Media Sosial ... 37

D. Aspek Legalitas Pelarangan Hoaks di Media Sosial dalam UU ITE ... 41

E. Analisis Wacana Kritis Pendekatan Bahasa Kritis Roger Fowler Dkk. ... 44

1. Tingkat Kosakata ... 47

2. Tata Bahasa ... 49

BAB III PENYEBARAN HOAKS ISU AGAMA DI MEDIA SOSIAL 51 A. Media Sosial dan Hoaks ... 51

(14)

xiv

B. Hoaks Isu Agama di Media Sosial ... 59

C. Hoaks Isu Agama di Masa Pandemi Covid-19 Kemkominfo63 BAB IV DATA HOAKS COVID-19 TERKAIT ISU-ISU ISLAM PADA MASA AWAL PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA 69 A. Laporan Hoaks Covid-19 Terkait Islam Januari 2020 ... 69

B. Laporan Hoaks Covid-19 Terkait Islam Februari 2020 ... 76

C. Laporan Hoaks Covid-19 Terkait Islam Maret 2020 ... 86

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN 100 A. Representasi Islam dalam Hoaks Covid-19 pada Masa Awal Pandemi ... 100

B. Tipologi Hoaks Terkait Covid-19 dan Islam di Media Sosial pada Masa Awal Pandemi ... 138

1. Satir/Parody ... 138

2. False Connection ... 139

3. False Context ... 140

4. Misleading Content ... 142

5. Imposter Content ... 143

6. Manipulated Content ... 144

7. Fabricated Content ... 148

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 149 A. Kesimpulan ... 149

(15)

xv

B. Saran ... 151

DAFTAR PUSTAKA 153

LAMPIRAN 164

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pembagian Kategori Hoaks ... 28 Gambar 4. 1 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 6… ….71 Gambar 4. 2 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 17 ……72 Gambar 4. 3 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 33 ……74 Gambar 4. 4 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 34 ……75 Gambar 4. 5 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 40 ……76 Gambar 4. 6 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 66 ……78 Gambar 4. 7 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 79 ……79 Gambar 4. 8 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 111 ….80 Gambar 4. 9 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 112 ….81 Gambar 4. 10 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 114 …82 Gambar 4. 11 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 129 …83 Gambar 4. 12 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 136 …84 Gambar 4. 13 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 138 …86 Gambar 4. 14 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 158 …87 Gambar 4. 15 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 196 …88 Gambar 4. 16 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 198 …89 Gambar 4. 17 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 268 …90 Gambar 4. 18 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 280 …91 Gambar 4. 19 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 293 …92 Gambar 4. 20 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 294 …93 Gambar 4. 21 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 312 …95 Gambar 4. 22 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 338 …96 Gambar 4. 23 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 349 …97 Gambar 4. 24 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 377 …98

(17)

xvii

Gambar 4. 25 Tangkapan Layar Hoaks Covid-19 Nomor 403 …99

Gambar 5. 2 Artikel Asli ... 146

Gambar 5. 3 Artikel Hasil Suntingan ... 146

Gambar 5. 4 Artikel Asli ... 147

Gambar 5. 5 Foto Hasil Suntingan ... 148

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Analisis Wacana Model Roger Fowler dkk. ………..19 Tabel 2.1 Data Hoaks Covid-19 Terkait Isu Islam Periode Januari-Maret 2020……… 66 Tabel 5.1. Hoaks Jenis False Context ………...140 Tabel 5.2. Hoaks Jenis Imposter Content ... ..143

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tahun 2020 menjadi tahun penuh tantangan bagi dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pada tahun ini masyarakat dihadapkan dengan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), virus mematikan yang ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO). Data WHO pada 22 Juli 2020 mencatat 14.731.563 kasus Covid-19 di dunia, 611.284 di antaranya meninggal dunia. Sementara di Indonesia, pada tanggal yang sama jumlah kasus positif mencapai 89.869 dengan 4.320 meninggal dunia.1 Tingginya jumlah kasus menunjukkan bahwa tingkat penyebaran dan dampak Covid-19 sangat membahayakan.

Hal ini juga dinyatakan oleh Anthony Stephen Fauci, Direktur Nasional Institute of Allergy dan Infectious Diseases, bahwa pandemi Covid-19 sebagai pandemi terparah dalam satu abad terakhir.2

Salah satu fenomena yang terjadi selama pandemi Covid-19 adalah penyebaran hoaks terkait dengan virus tersebut. Menurut WHO, penyebaran hoaks selama pandemi sangat berbahaya dan berdampak buruk bagi masyarakat. António Guterres, Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa menyebut penyebaran hoaks ini

1 World Health Organization, “Indonesia: WHO Coronavirus Disease (COVID-19) Dashboard | WHO Coronavirus Disease (COVID-19) Dashboard,” 2020, https://covid19.who.int/region/searo/country/id.

2 Oleantimesherald.com, “Fauci: Pandemic Is the Worst in over a Century,” 2020, https://www.oleantimesherald.com/fauci-pandemic-is-the- worst-in-over-a-century/video_e34bc624-92e1-53f2-94a6-c14e38800ebf.html.

(20)

sebagai ‘pandemi’ informasi palsu yang tidak kalah berbahaya dari virus itu sendiri.3 Hal tersebut didukung dengan pernyataan Mike Ryan, Direktur Eksekutif WHO yang mengatakan masyarakat tidak hanya membutuhkan vaksin melawan virus Covid-19 namun juga ‘vaksin’ melawan hoaks.4 Bahaya hoaks ini sudah diprediksi oleh Bruce Schneier, professor dari Harvard Kennedy School pada tahun 2019 lalu. Schneier menyatakan bahwa masyarakat harus menyiapkan dua hal ketika terjadi pandemi berikutnya, yaitu bagaimana menyembuhkan pandemi itu sendiri dan bagaimana memerangi hoaks di media sosial.5

Dampak negatif dari penyebaran hoaks di masa pandemi adalah kesalahan persepsi masyarakat disebabkan sulit memilah mana informasi yang benar dan hoaks. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Scheufele dan Krause6 dan Aengus Bridgman dkk.7 Kedua penelitian tersebut menyatakan bahwa hoaks terkait Covid-19 yang beredar di media sosial menyebabkan kesalahan persepsi masyarakat. Kesalahan persepsi

3 UNifeed, “UN / GUTERRES Misinformation Eoidenic | United

Nations UN Audiovisual Library,” 2020,

https://www.unmultimedia.org/tv/unifeed/asset/2543/2543061/.

4 Tarik Jasarevic et al., “WHO Audio Emergencies Coronavirus Full Press Conference,” 2020.

5 Bruce Schneier, “We Must Prepare for the Next Pandemic | Belfer Center for Science and International Affairs,” 2019, https://www.belfercenter.org/publication/we-must-prepare-next-pandemic.

6 Dietram A. Scheufele and Nicole M. Krause, “Science Audiences, Misinformation, and Fake News,” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 116, no. 16 (2019): 7662–69, https://doi.org/10.1073/pnas.1805871115.

7 Aengus Bridgman et al., “The Causes and Consequences of COVID- 19 Misperceptions: Understanding the Role of News and Social Media,”

Harvard Kennedy School Misinformation Review, 2020, https://doi.org/10.37016/mr-2020-028.

(21)

ini berdampak pada rendahnya kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Salah satu contohnya adalah sebagian masyarakat tidak menggunakan masker karena mempercayai hoaks menggunakan masker dapat menyebabkan toksisitas karbondioksida. Padahal menggunakan masker adalah salah satu protokol kesehatan yang wajib dilakukan untuk meminimalisir potensi penularan Covid-19.

Penelitian Alan J. Daly dkk. bahkan menyatakan bahwa penyebaran hoaks dapat mengancam nyawa masyarakat.8 Pernyataan ini sejalan dengan hasil penelitian Md Saiful Islam dkk. yang juga mengungkapkan bahwa mempercayai hoaks selama pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab lebih banyaknya angka kematian.9 Oleh karena itu, dampak negatif hoaks tentu tidak dapat dianggap sepele dan karenanya perlu menjadi perhatian semua pihak.

Di Indonesia, hoaks pada masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah Indonesia secara resmi melaporkan kasus pertama Covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020.

Akan tetapi, sejak Januari 2020 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Republik Indonesia telah melaporkan banyak hoaks terkait Covid-19 tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelum pemerintah mengumumkan adanya virus tersebut

8 Alan J Daly, Miguel Del Fresno García, and Peter Bjorklund Jr.,

“Social Media in a New Era: Pandemic, Pitfalls, and Possibilities,” American Journal of Education 127, no. 1 (October 19, 2020): 143–51, https://doi.org/10.1086/711018.

9 Md Saiful Islam et al., “COVID-19-Related Infodemic and Its Impact on Public Health: A Global Social Media Analysis,” American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 103, no. 4 (2020): 1621–29, https://doi.org/10.4269/ajtmh.20-0812.

(22)

di tanah air, masyarakat telah dihadapkan dengan serangan hoaks berkenaan dengan Covid-19. Laporan Isu Hoaks Covid-19 yang dikeluarkan oleh Kemkominfo dari 6 - 31 Mei 2020 mencatat terdapat 796 hoaks tentang Covid-19 yang tersebar di Indonesia.10 Hoaks terkait pandemi Covid-19 yang beredar tersebut berkaitan dengan topik yang beragam, mulai dari kesehatan, politik, bisnis, hingga hoaks yang berkaitan dengan isu agama.

Hoaks terkait isu agama adalah informasi bohong bermuatan isu agama yang disebarluaskan. Karakteristik dari hoaks terkait isu agama ini di antaranya adalah menghadirkan ketakutan, membangkitkan emosional, serta mengatasnamakan otoritas agama dalam menarik perhatian masyarakat agar mempercayainya. Hoaks terkait isu agama dapat berdampak lebih buruk bagi masyarakat. Hal ini karena agama merupakan salah satu hal yang sensitif, sebagaimana dinyatakan Hendrasmo, Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Informasi Komunikasi Publik, sensitifitas tersebut dapat lebih menyulut emosi masyarakat.11 Anita Wahid, Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), menyatakan bahwa hoaks semakin meningkat apabila bersentuhan dengan agama.12 Penelitian Erwin Jusuf

10 Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika, “Isu Hoaks Corona Virus” (Jakarta, 2020), https://eppid.kominfo.go.id/storage/uploads/3_30_

Rekap_Laporan_Isu_Hoaks_Virus_Corona_.pptx.pdf.

11 Sonya Michaella, “Hoaks Mengandung Agama Dinilai Sangat

Berbahaya - Medcom.Id,” Medcom.Id, 2018,

https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/GbmjG14k-hoaks-mengandung- agama-dinilai-sangat-berbahaya.

12 Ibnu Hariyanto, “Anita Wahid: Hoax Makin Meningkat Bila Berhubungan Dengan Isu Agama,” News.detik.com, 2018,

(23)

Thaib juga mengungkapkan bahwa hoaks terkait isu agama biasa digunakan untuk menyerang paham atau aliran keagamaan yang berseberangan, dan mengunggulkan paham atau kepercayaan agama sendiri.13 Adapun secara lebih spesifik, hoaks terkait isu agama Islam dijelaskan pada penelitian Mahsa Alimardani dan Mona Elswah, bahwa hoaks terkait isu-isu Islam disebarluaskan secara online dengan menyajikan petunjuk yang keliru, kesalahan dalam menginterpretasikan ayat Al-Qur’an, atau klaim keliru tentang agama.14

Di masa pandemi Covid-19, hoaks terkait isu-isu Islam dinilai sangat meresahkan. Dalam penelitian ini, hoaks terkait isu- isu Islam yang dimaksud adalah hoaks yang mengatasnamakan tokoh atau pihak yang memiliki otoritas agama Islam dan disegani oleh masyarakat, mengandung klaim ajaran Islam, dan berhubungan dengan ibadah dalam agama Islam, serta dilaporkan beredar di media sosial. Dengan indikator tersebut, maka terdapat dua puluh lima hoaks terkait isu-isu Islam dalam Laporan Isu Hoaks Covid-19 yang dikeluarkan oleh Kemkominfo periode Januari-Maret 2020.15 Hoaks tersebut disebarluaskan melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan Youtube.

https://news.detik.com/berita/d-4259224/anita-wahid-hoax-makin-meningkat- bila-berhubungan-dengan-isu-agama.

13 Erwin Jusuf Thaib, “Hoax in Social Media and It’s Threats to Islamic Moderation in Indonesia,” Proceedings of International Conference on Da’wa and Communication 2, no. 1 (2020): 259–69.

14 Mahsa Alimardani and Mona Elswah, “Online Temptations: COVID- 19 and Religious Misinformation in the MENA Region,” Social Media and Society 6, no. 3 (2020): 1–4, https://doi.org/10.1177/2056305120948251.

15 Kominfo, “Isu Hoaks Corona Virus,” 2020.

(24)

Hoaks yang disebarkan di media sosial merupakan sebuah wacana sosial. Bahasa yang terkandung di dalam hoaks adalah sebuah wacana. Hal ini sejalan dengan pendapat Roger Fowler dkk. yang menilai bahasa tidak hanya sebatas teks semata, tetapi juga memiliki implikasi terhadap ideologi tertentu.16 Penelitian Suyoga dan Anadhi juga menjelaskan bahwa di dalam wacana terdapat tingkat pengetahuan, pengalaman, dan penalaran individu yang membuatnya.17 Dengan kata lain di dalam hoaks yang diunggah di media sosial terdapat wacana yang ingin disampaikan, berdasarkan pada pengetahuan, pengalaman, dan penalaran individu yang mengunggahnya. Setiap wacana tersebut mengandung pesan yang disampaikan. Dalam kajian Ilmu Komunikasi, wacana dapat diungkapkan dengan melakukan Analisis Wacana Kritis. Salah satu pendekatan Analisis Wacana Kritis yang relevan dalam mengungkap wacana pada hoaks adalah Pendekatan Bahasa Kritis (Critical Linguistics).

Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana wacana yang terdapat dalam hoaks Covid-19 terkait isu-isu Islam di media sosial tersebut merepresentasikan Islam. Hoaks diyakini dapat mempengaruhi persepsi masyarakat. Apabila Islam direpresentasikan secara keliru dalam hoaks Covid-19, maka persepsi masyarakat terkait Islam dan pandemi Covid-19 dapat berisiko keliru juga. Selain itu, peneliti juga bermaksud

16 Eriyanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, 1st ed.

(Yogyakarta: LKiS Group, 2017).

17 I Putu Gede Suyoga and I Made Gede Anadhi, “Pemaknaan Hoax Sebagai Wacana Sosial,” in Prosiding Seminar Nasional Filsafat, 2019, 135–

44.

(25)

mengungkap bagaimana tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam di media sosial pada masa awal pandemi Covid-19. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana jenis hoaks yang beredar, sehingga dapat memperkuat karakteristik hoaks.

B. Batasan Masalah

Penelitian ini akan berfokus pada wacana dalam hoaks terkait Covid-19 dan Islam di media sosial selama pandemi Covid-19 di Indonesia, serta tipologi hoaks terkait dengan Covid- 19 dan Islam tersebut. Konten hoaks yang dimaksud adalah yang sudah diklarifikasi secara resmi oleh Kemkominfo dan dimuat dalam Laporan Isu Hoaks Covid-19 periode Januari-Maret 2020.

Hoaks tersebut tersebar melalui media sosial Facebook, Twitter, Whatsapp, dan Youtube.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah ditentukan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana wacana terkait Islam direpresentasikan dalam hoaks Covid-19 di media sosial pada masa awal pandemi Covid-19?

2. Bagaimana tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam di media sosial pada masa awal pandemi Covid-19?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan secara komprehensif bagaimana Islam direpresentasikan dalam wacana hoak terkait Covid-19 dan Islam, serta bagaimana tipologi hoaks

(26)

yang beredar terkait kedua hal tersebut di media sosial pada masa awal pandemi Covid-19.

E. Manfaat Penelitian

Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dalam kajian media seputar hoaks berkaitan dengan isu-isu Islam. Hoaks menjadi musuh bagi segala aspek kehidupan, tidak terkecuali agama. Secara umum, SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) menempati posisi kedua hoaks terbanyak setelah politik. Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan sumber rujukan ilmiah dalam kajian hoaks terkait Covid-19 dan Islam selama pandemi Covid-19.

Adapun secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi perhatian banyak pihak bahwa hoaks terkait isu-isu Islam merupakan ancaman serius yang dapat menciptakan wacana dan membahayakan masyarakat terutama di masa pandemi. Dengan mengungkap wacana hoaks terkait isu-isu Islam, diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana Islam direpresentasikan dalam hoaks Covid-19 serta bagaimana tipologi hoaks terkait kedua hal tersebut.

F. Tinjauan Kajian Terdahulu

Penelitian seputar hoaks selama pandemi Covid-19 di media sosial telah dilakukan sebelumnya, begitupun dengan analisis wacana terhadap isu hoaks. Namun belum ditemukan penelitian yang secara spesifik membahas bagaimana Islam direpresentasikan dalam isu-isu hoaks selama pandemi Covid-19

(27)

di Indonesia. Oleh karena itu, dilakukan tinjauan terhadap kajian terdahulu untuk mempertegas posisi penelitian ini, sekaligus sebagai bahan perbandingan dan bahan analisis.

Di antara kajian terdahulu yang meneliti hoaks di masa pandemi adalah penelitian Aengus Bridgman dkk.18 Penelitian ini menyelidiki bagaimana hubungan antara mengonsumsi informasi terkait Covid-19 di media sosial terhadap sikap dan perilaku selama pandemi Covid-19 di Kanada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hoaks lebih banyak beredar di media sosial, sementara media massa tradisional (offline) cenderung memperkuat rekomendasi kesehatan masyarakat. Perbedaan dengan penelitian yang sedang dilakukan terletak pada spesifikasi hoaks yang berbeda, yakni memfokuskan pada wacana dalam isu- isu hoaks terkait Islam dan Covid-19. Perbedaan lainnya terletak pada metode penelitian. Aengus Bridgman dkk. menggunakan pendekatan mixed method, sedangkan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh R. Kunjana Rahardi yang berfokus pada efek dari perbincangan seputar Covid-19 di media sosial, terutama pada Facebook, Instagram, dan Twitter.19 Hasil penelitian menunjukkan terdapat delapan dampak negatif dari hoaks seputar Covid-19, yaitu menipu, menyebarkan informasi yang salah, menyarankan informasi tidak akurat,

18 Bridgman et al., “The Causes and Consequences of COVID-19 Misperceptions: Understanding the Role of News and Social Media.”

19 R Kunjana Rahardi, “Covid-19 Hoaxes in Virtual Media : Perlocutionary Effects in Cyber-Pragmatic Perspective,” International Journal of Advanced Science and Technology vol. 29, no. 5, 2020.

(28)

menghasut kerusuhan, meningkatkan kecurigaan, meningkatkan desas-desus, menyesatkan, dan menyebarkan tipuan di kalangan publik. Hal ini menjadi referensi penelitian bahwa hoaks di masa pandemi membawa dampak negatif bagi masyarakat. Perbedaan dengan penelitian yang sedang dilakukan terletak pada objek penelitian. Rahardi meneliti mengenai dampak negatif hoaks Covid-19 di media sosial, sedangkan penelitian yang sedang dilakukan berfokus pada bagaimana Islam direpresentasikan dalam hoaks Covid-19 serta bagaimana hoaks tersebut direspons oleh pengguna media sosial lainnya.

Adapun kajian terdahulu mengenai hoaks agama selama pandemi Covid-19 adalah penelitian yang dilakukan Christoph Stueckelberger dan Tudor Cosmin Ciocan.20 Penelitian ini membahas bagaimana berbagai agama menghadapi pandemi Covid-19. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Mahsa Alimardani dan Mona Elswah yang memaparkan tentang bahasa dan daya tarik dari hoaks isu agama di Timur Tengah dan Afrika Utara.21 Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa banyak hoaks yang mengatasnamakan Islam selama pandemi Covid-19, namun tidak ada unsur Islami yang melekat pada elemen hoaks di media sosial, selain penggunaannya untuk kepentingan finansial atau politik. Lebih jauh, hoaks agama dapat digunakan oleh penentang

20 Christoph Stueckelberger and Cosmin-Tudor Ciocan, “Religious Controversies in COVID-19,” Proceedings of Dialogo-Conf 2020 4, no. 2 (2020): 168–85, https://doi.org/10.18638/dialogo.2020.6.2.15.

21 Alimardani and Elswah, “Online Temptations: COVID-19 and Religious Misinformation in the MENA Region.”

(29)

Islam untuk merusak agama dan pemeluknya serta memicu Islamophobia.

Adapun berikut adalah tinjauan kajian terdahulu berkaitan dengan analisis wacana terhadap hoaks atau konten di media sosial. Analisis wacana biasanya digunakan untuk menganalisis berita di media mainstream. Namun, perkembangan teknologi dan pesatnya kemajuan media sosial menggerakkan para peneliti untuk menganalisis konten media sosial dengan analisis wacana.

Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Suka Fatmawati dkk.22 Penelitian ini menganalisis wacana dalam empat puluh sampel data berita hoaks yang beredar di berbagai media sosial selama dua tahun. Dalam menganalisis wacana, Fatmawati dkk. menggunakan teori Analisis Wacana Kritis model Norman Fairlough. Salah satu hasil penelitian ini mengungkapkan ciri-ciri berita hoaks yang dapat dikenali masyarakat adalah berita hoaks ditulis dalam huruf kapital yang tidak tepat, tidak memiliki narasumber yang jelas, tidak memiliki wartawan yang jelas, penulis tidak melihat konteks, tidak ada gambar pendukung berita, antara berita dan gambar tidak berhubungan, serta ketidakjelasan waktu dan tempat kejadian.

Peneliti juga melakukan tinjauan terhadap tesis yang ditulis oleh Baiti Rahmawati yang menganalisis wacana dalam unggahan di laman Twitter terkait pro dan kontra dakwah Ustaz Abdul

22Suka Fatmawati dkk., “Analisis Berita Hoaks di Korpus Social Media Guna Mengembangkan Model “Kapak Hoaks” (Kemandirian Pembaca Menganalisis Konten Hoaks) Studi Analisis Wacana Kritis,” Latie, vol 15, no.

2, 2020.

(30)

Somad.23 Rahmawati menggunakan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough untuk mengungkap wacana dalam teks serta konteks dan sejarah.

Beberapa penelitian terdahulu ini telah menguatkan penelitian yang sedang dilakukan, bahwa penelitian hoaks selama pandemi merupakan satu hal yang sangat penting. Penelitian sebelumnya banyak mengkaji bagaimana hoaks selama pandemi telah menciptakan berbagai dampak negatif. Akan tetapi, belum ada penelitian terdahulu yang secara spesifik menganalisis bagaimana Islam direpresentasikan dalam wacana hoaks Covid- 19 di media sosial, serta bagaimana hoaks tersebut direspons oleh pengguna media sosial lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan satu hal yang baru dan berbeda, sehingga diharapkan dapat menambah kajian akademik mengenai hoaks terkait Islam di masa pandemi Covid-19.

G. Metodologi Penelitian 1. Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian adalah cara pandang, kepercayaan, asumsi, konsep, proposisi atau persepsi yang mendasari pikiran dan cara kerja dalam penelitian.24 Paradigma penelitian juga dapat diartikan sebagai cara pandang peneliti terhadap suatu

23 Baiti Rahmawati and Abdul Muhid, “Analisis Wacana Kritis Di Media Sosial (Studi Pada Fenomena Pro-Kontra Penolakan Dakwah Ustadz Abdul Somad),” Jurnal Dakwah Tabligh 20, no. 1 (2019): 126, https://doi.org/10.24252/jdt.v20i1.9608.

24 Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2015).

(31)

realitas yang mempengaruhi pendapat dan sikap peneliti mengenai realitas tersebut.25 Secara umum, paradigma penelitian terbagi menjadi dua. Kedua paradigma tersebut menghasilkan jenis penelitian yang berbeda, yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Jalaludin Rahmat dan Idy Subandy Ibrahim menggunakan istilah paradigma positivistik untuk penelitian kuantitatif dan paradigma nonpositivistik untuk penelitian kualitatif.26 Istilah lain dari dua paradigma tersebut adalah paradigma objektif dan subjektif.

Adapun penelitian ini menggunakan paradigma nonpositivistik atau subjektif, yakni mengkaji makna dari peristiwa dan fakta sosial.27 Peneliti menganalisis bagaimana wacana terkait Islam direpresentasikan dalam hoaks Covid-19 dan bagaimana tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam tersebut.

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni pendekatan dengan cara kerja penelitian yang menekankan pada aspek pendalaman data demi mendapatkan kualitas dari hasil suatu penelitian.28 Pendekatan ini dipilih untuk menentukan cara mencari, mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian.

25 Nanang Martono, Metode Penelitian Sosial Konsep-Konsep Kunci, 2nd ed. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016).

26 Jalaluddin Rahmat and Idy Subandy Ibrahim, Metode Penelitian Komunikasi, 2nd ed. (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017).

27 Jalaluddin Rahmat and Idy Subandy Ibrahim.

28 Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif.

(32)

3. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.29 Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni metode penelitian untuk melukiskan, menggambarkan atau memaparkan keadaan objek yang diteliti sebagaimana apa adanya, sesuai dengan situasi dan kondisi ketika penelitian tersebut dilakukan.30 Untuk keperluan penelitian ini, peneliti fokus pada Analisis Wacana Kritis model Roger Fowler dkk, yakni meneliti pada tingkat kosa kata dan kalimat. Peneliti menjelaskan dan memaparkan secara apa adanya terhadap objek yang diteliti, yaitu berkaitan dengan wacana hoaks Covid-19 terkait isu-isu Islam di media sosial dan bagaimana tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam.

4. Subjek dan Objek Penelitian

Menurut Muhammad Idrus, subjek penelitian adalah individu, benda, atau organisme yang dijadikan sumber informasi yang dibutuhkan dalam data penelitian.31 Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Suharsimi Arikunto bahwa subjek penelitian adalah benda, hal atau orang yang menjadi tempat data

29 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2018).

30 Ibrahim, Metodologi Penelitian Kualitatif.

31 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif Dan Kuantitatif (Jakarta: Erlangga, 2009).

(33)

di mana variable penelitian melekat, dan yang dipermasalahkan.32 Menurut Saifudin Azwar, subjek penelitian adalah sumber utama data penelitian.33 Definisi yang sama juga disampaikan Rahmadi bahwa subjek penelitian adalah tempat diperolehnya data penelitian.34 Adapun objek penelitian dapat dimaknai sebagai konsep atau kata-kata kunci yang diteliti atau topik penelitian.35

Dari definisi di atas maka subjek penelitian ini adalah Laporan Isu Hoaks Covid-19 periode Januari-Maret 2020 yang dirilis oleh Kemkominfo. Laporan Kemkominfo ini menjadi sumber utama data penelitian. Dalam laporan tersebut, terdapat link rujukan Kemkominfo dalam menetapkan informasi yang beredar adalah hoaks atau bukan. Peneliti memanfaatkan link rujukan sebagai data tambahan dalam penelitian ini, di antaranya adalah untuk mengungkap bagaimana interaksi pengguna media sosial dalam merespons hoaks yang dilaporkan oleh Kemkominfo. Sedangkan objek penelitian ini adalah wacana dalam hoaks Covid-19 terkait isu-isu Islam serta tipologi hoaks.

5. Data Penelitian

Penelitian ini bersumber pada data primer dan data sekunder. Data primer dan data sekunder dapat dimaknai dari dua sudut pandang, yaitu bagaimana data diperoleh dan bagaimana

32 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan (Jakarta:

Rineka Cipta, 1998).

33 Saifudin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014).

34 Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian, Antasari Press (Banjarmasin: Antasari Press, 2011).

35 Hamidi, Metode Penelitian Dan Teori Komunikasi (Malang: UMM Press, 2010).

(34)

peran data dalam penelitian. Pertama, dari sudut pandang cara memperoleh data, data primer adalah sekumpulan informasi yang diperoleh peneliti secara langsung dari lokasi penelitian melalui sumber pertama atau melalui pengamatan langsung peneliti, sedangkan data sekunder adalah informasi yang didapatkan bukan dari sumber pertama atau memanfaatkan data yang telah dikumpulkan pihak lain.36 Kedua, apabila dimaknai dari sudut pandang peran data dalam penelitian, maka data primer adalah data utama yang digunakan peneliti untuk memperoleh jawaban atas masalah penelitian yang dikaji, sedangkan data sekunder adalah data penunjang yang keberadaanya hanya digunakan untuk memperkuat, melengkapi, atau mendukung data primer.37

Berdasarkan pengertian tersebut, maka data primer penelitian ini baik dari sudut pandang cara memperoleh data ataupun peran data dalam penelitian adalah Laporan Isu Hoaks Covid-19 periode Januari-Maret 2020 yang dirilis oleh Kemkominfo. Adapun data sekunder dalam penelitian ini adalah link rujukan Kemkominfo dalam menetapkan informasi sebagai hoaks atau bukan, artikel ilmiah, artikel berita, buku, dan sumber referensi lainnya.

6. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode dokumenter dan metode penelusuran data online. Peneliti mengumpulkan dokumen resmi yaitu Laporan Isu Hoaks Covid-

36 Martono, Metode Penelitian Sosial Konsep-Konsep Kunci.

37 Martono, Metode Penelitian Sosial Konsep-konsep Kunci.

(35)

19 yang dikeluarkan Kemkominfo periode Januari-Maret 2020.

Adapun alasan peneliti menetapkan rentang waktu Januari hingga Maret 2020 adalah karena mewakili masa awal pandemi Covid- 19. Di Indonesia, kasus pertama Covid-19 secara resmi diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020, namun sejak Januari 2020 Kemkominfo telah merilis Laporan Isu Hoaks Covid-19.

Hal ini menunjukkan hoaks Covid-19 telah beredar di Indonesia sejak Januari 2020.

Dalam memilih data, peneliti melakukan teknik purposive sampling pada laporan hoaks tersebut, yakni memilih data berdasarkan tujuan penelitian.38 Data yang dipilih adalah laporan isu hoaks Covid-19 terkait isu-isu Islam selama bulan Januari- Maret 2020. Dalam menentukan hoaks yang terkait dengan isu- isu Islam, peneliti merumuskan indikator sebagai berikut:

a. Hoaks tersebut mengatasnamakan tokoh atau pihak yang memiliki otoritas agama Islam dan disegani oleh masyarakat.

b. Hoaks tersebut mengandung klaim ajaran Islam.

c. Hoaks tersebut berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam.

d. Hoaks tersebut dilaporkan beredar di media sosial.

Selain itu, peneliti juga menggunakan metode penelusuran data online, yakni tata cara melakukan penelusuran melalui media online.39 Metode ini merupakan salah satu cara pengumpulan data

38 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2017).

39 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Jakarta: Prenada Media Group, 2015).

(36)

dalam penelitian kuliatatif. Menurut Burhan Bungin, pada awalnya banyak kalangan akademisi yang meragukan validitas data online untuk keperluan karya ilmiah, akan tetapi perkembangan dan kemajuan internet yang pesat menyebabkan keraguan tersebut sirna.40 Peneliti melakukan penelusuran terhadap unggahan hoaks yang dilaporkan Kemkominfo sebagai penguat data penelitian ini. Penelusuran tersebut dilakukan dengan memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan data hoaks Covid-19 pada laman pencarian media sosial, yaitu Facebook, Twitter, dan Youtube.

7. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah teknik yang digunakan untuk melakukan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Adapun interpretasi yang dimaksud adalah memberi arti yang siginifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi tersebut.41 Menurut Burhan Bungin, terdapat dua hal yang dilakukan dalam analisis data kualitatif, yaitu menganalisis suatu fenomena sosial dan memperoleh gambaran terhadap proses tersebut dan menganalisis makna yang ada di balik informasi, data, dan proses suatu fenomena sosial tersebut.42 Penelitian ini bertujuan mengungkap wacana Islam di balik hoaks

40 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif.

41 Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian (Banjarmasin: Antasari Press, 2011).

42 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2017).

(37)

terkait Covid-19 dan Islam, serta mengungkap tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam dengan mengacu pada tujuh jenis hoaks MAFINDO.

Dalam mengungkap wacana dan tipologi tersebut, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Wacana Kritis model Roger Fowler dkk.. Peneliti menggunakan model Analisis Wacana Kritis Roger Fowler dkk. untuk mengungkap bagaimana wacana dalam hoaks Covid-19 terkait Islam merepresentasikan Islam. Terdapat dua tingkatan yang perlu dianalisis, yakni sebagai berikut:

Tabel 1.1 Analisis Wacana Model Roger Fowler dkk.

Tingkat Yang ingin dilihat

Kata Pilihan kosakata yang digunakan dalam menggambarkan peristiwa

Pilihan kosakata yang digunakan dalam menggambarkan aktor yang terlibat dalam peristiwa Kalimat Bagaimana peristiwa digambarkan lewat rangkaian

kata

Sumber: Eriyanto, Analisis Wacana

Selain itu, peneliti juga menganalisis bagaimana tipologi hoaks terkait Covid-19 dan Islam yang tersebar di Media Sosial.

Peneliti mengacu pada tujuh jenis hoaks yang dikemukakan oleh MAFINDO.

H. Pedoman Penulisan

Penelitian ini ditulis dengan mengacu pada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Adapun setiap referensi dalam

(38)

penelitian ini ditulis dengan menggunakan Chicago Manual of Style 17th edition (note, annotated bibliography).

I. Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan. Peneliti menguraikan latar belakang mengapa penelitian ini perlu dilakukan, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan kajian terdahulu, metode penelitian, pedoman penulisan, dan sistematika pembahasan.

Bab II Tinjauan Teoretis. Peneliti memaparkan sejumlah konsep dan teori yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu kajian tentang hoaks secara umum, hoaks dalam perspektif Islam, media sosial, aspek legalitas pelarangan hoaks di media sosial dalam UU ITE, serta Analisis Wacana Kritis model Roger Fowler dkk..

Bab III Penyebaran Hoaks Isu Agama di Media Sosial.

Peneliti memaparkan bagaimana hubungan media sosial dan hoaks, hoaks isu agama di media sosial, laporan hoaks isu agama di masa pandemi Covid-19 oleh Kemkominfo.

Bab IV. Data Hoaks Covid-19 Terkait Isu-isu Islam di Masa Awal Pandemi Covid-19. Peneliti memaparkan data berupa laporan hoaks Covid-19 Kemkominfo terkait isu-isu Islam pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2020.

BAB V. Analisis dan Pembahasan. Peneliti menganalisis bagaimana wacana terkait Islam dalam hoaks Covid-19 dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Roger Fowler dkk., serta tipologi hoaks mengacu pada tujuh jenis hoaks yang dikeluarkan oleh MAFINDO.

(39)

BAB VI. Penutup. Peneliti memaparkan kesimpulan penelitian dan saran penelitian selanjutnya.

(40)

22 BAB II

TINJAUAN TEORETIS

A. Hoaks Secara Umum

Menurut penelusuran sejarah, terminologi hoaks telah ada sejak akhir abad ke-18, yakni dalam buku Lynda Walsh berjudul Sins Against Science. Asal kata hoaks diyakini Walsh berasal dari mantra sulap penyihir ratusan tahun lalu, yakni Hocus Pocus yang berarti untuk mengelabui.43 Mantra Hocus Pocus diambil dari nama King James, seorang pesulap yang sering menyebut dirinya dengan julukan The Kings Majesties Most Excellent Hocus Pocus. Dalam setiap penampilan sulapnya, King James sering melafalkan mantra “hocus pocus, tontus talontus, vade celeriter jubeo.”44 Gun Gun Heryanto menjelaskan mantra tersebut merupakan tiruan atau ejekan dari frasa yang digunakan para Imam Gereja Roma dalam proses transubstansiasi.45

Saat ini istilah hoaks sering digunakan untuk menyebut informasi palsu atau keliru yang beredar di tengah masyarakat.

Secara terminologi, istilah hoaks dalam Kamus Bahasa Inggris didefinisikan sebagai olok-olok, cerita bohong, dan memperdayakan alias menipu.46 Dalam Kamus Oxford, hoaks

43 Lynda Walsh, Sins Against Science (Albany: State University of New York Press, 2006).

44 Gun Gun Heryanto, “Hoax Dan Krisis Nalar Publik: Potret Perang Informasi Di Media Sosial,” in Melawan Hoax Di Media Sosial Dan Media Massa (Yogyakarta: Trustmedia Publishing, 2017), 3–23.

45 Gun Gun Heryanto, "Hoax dan Krisis Nalar Publik: Potret Perang Informasi di Media Sosial."

46Firdaus Purnomo and Dewi Anwar, Kamus Lengkap Inggris- Indonesia (Surabaya: Karya Abditama, 2000).

(41)

didefinisikan sebagai deceive somebody with a hoax (memperdaya banyak orang dengan berita bohong).47 Adapun dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, hoaks didefinisikan sebagai berita bohong dan berita tidak bersumber.48 Definisi bahasa dari ketiga sumber ini memiliki kesamaan, yakni mengartikan hoaks sebagai suatu kebohongan.

Para ahli juga turut mendefinisikan hoaks. Menurut Craig Silverman, hoaks adalah rangkaian informasi yang sengaja disesatkan untuk ‘dijual’ sebagai kebenaran.49 Pengertian ini sejalan dengan definisi hoaks oleh Werme, yakni hoaks adalah berita palsu mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda tertentu.50 Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Muhammad Alwi Dahlan juga mendefinisikan hoaks sebagai manipulasi berita yang sengaja dilakukan bertujuan memberikan pengakuan dan pemahaman yang salah.51 Ketiga ahli tersebut mendefinisikan hoaks dengan kata sengaja atau disengaja. Dengan demikian, ketidakbenaran dalam hoaks dapat dipahami sebagai suatu kesengajaan.

47 Victoria Bull, Oxford: Learner’s Pocket Dictionary (Oxford: Oxford University Press, 2008).

48 Yenny Salim Peter Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Modern English Press, 2002).

49 Craig Silverman, “Lies, Damn Lies, and Viral Content,” Tow Center for Digital Journalism, 2015, 164.

50 Julie Posetti et al., Journalism , ‘Fake News’ & Handbook for Journalism Education and Training, 2018.

51 Ilham, “Ahli: Hoax Merupakan Kabar Yang Direncanakan,”

Republika Online, 2017,

https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/01/11/ojm2pv361-ahli- hoax-merupakan-kabar-yang-direncanakan.

(42)

Dari definisi hoaks di atas dapat diketahui tujuan diciptakan dan disebarkan hoaks. Merujuk pendapat Werme di atas, terdapat agenda tertentu di balik penciptaan hoaks dan penyebarannya.

Menurut MAFINDO, hoaks sebagai informasi yang direkayasa bertujuan agar pesan yang benar tidak dapat diterima seseorang.52 Pendapat MAFINDO ini sejalan dengan pernyataan Muhammad Alwi Dahlan, yakni hoaks bertujuan memberikan pemahaman yang salah. Adapun menurut Dedi Rianto Rahardi, tujuan diciptakan dan disebarkan hoaks adalah untuk membentuk dan menggiring opini publik, serta sengaja menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna internet dan media sosial. Rianto menjelaskan pada umumnya hoaks disebarkan hanya sebagai lelucon atau sekedar iseng, menjatuhkan pesaing, promosi dengan penipuan, ataupun ajakan untuk berbuat amalan-amalan baik yang sebenarnya belum ada dalil yang jelas di dalamnya.53 Begitupun menurut Milhorn hoaks tidak hanya bertujuan ekonomi atau hiburan, pembuat hoaks kadang hanya sekedar bermain-main namun berdampak serius.54 Oleh karena itu, terdapat dua kemungkinan di balik tujuan diciptakan dan disebarkan hoaks, yakni sengaja menciptakan pemahaman yang salah dengan agenda tertentu atau hanya sekedar hiburan.

52 MAFINDO, “Metode Klasifikasi Hoax - MAFINDO - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia,” accessed January 11, 2021, https://www.mafindo.or.id/about/metode-klasifikasi-hoax/.

53Dedi Rianto Rahardi, “Perilaku Pengguna dan Informasi Hoax di Media Sosial,” Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 5, No. 1, 2017, h. 58–

70.

54Milhorn, H.T, Cybercrime: How to Avoid Becoming a Victim (Florida: Universal Publishers, 2007).

(43)

Selain istilah hoaks, terdapat istilah lain yang juga digunakan untuk menggambarkan fenomena berita bohong di media sosial, seperti fake news, misinformasi, disinformasi, dll.

Keragaman istilah tersebut disikapi dengan beragam pendapat, misalnya MAFINDO yang membagi hoaks ke dalam dua klasifikasi, yakni klasifikasi umum dan klasifikasi akademis.

Dalam klasifikasi umum, istilah hoaks mencakup semua variasi dari berita bohong, sehingga hanya ada dua kemungkinan yakni informasi benar atau hoaks. Sedangkan dalam klasifikasi akademis, MAFINDO mengklasifikasikan hoaks ke dalam tujuh jenis hoaks, yakni satir/parody (tidak ada niat jahat namun bisa mengecoh), false connection (judul berbeda dengan isi berita), false context, (konten disajikan dengan narasi konteks yang salah), misleading content, (konten diplintir untuk menjelekkan), imposter content, (tokoh publik dicatut namanya), manipulated content, (konten yang sudah ada diubah untuk mengecoh), dan fabricated content (100% konten palsu).55

Dedi Rianto Rahardi juga membagi hoaks ke dalam tujuh jenis, yaitu56:

1. Fake news (berita bohong), yakni berita yang berusaha menggantikan berita aslinya dengan tujuan memalsukan atau memasukkan ketidakbenaran dalam suatu berita.

55 MAFINDO, “Metode Klasifikasi Hoax - MAFINDO - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia.”

56 Rahardi, “Perilaku Pengguna Dan Informasi Hoax Di Media Sosial.”

(44)

2. Clickbait (tautan jebakan), yakni tautan dengan judul yang berlebihan. Terkadang isinya merupakan fakta namun tidak sesuai dengan judul.

3. Confirmation bias (bias konfirmasi), yakni kecenderungan menginterpretasikan kejadian yang baru terjadi sebagai bukti dari kepercayaan yang sudah ada.

4. Misinformasi, yakni informasi yang salah atau tidak akurat, terutama ditujukan untuk menipu.

5. Satire, yakni sebuah tulisan yang menggunakan humor, ironi, hal yang dibesar-besarkan untuk mengomentari kejadian yang sedang hangat.

6. Post-truth (paska kebenaran), yakni kejadian di mana emosi lebih berperan dari fakta untuk membentuk opini publik.

7. Propaganda, yakni aktifitas menyebarluaskan informasi, fakta, argumen, gosip, setengah kebenaran, atau bahkan kebohongan untuk mempengaruhi opini publik.

Salah satu istilah yang juga cukup sering digunakan menggantikan hoaks adalah fake news. Fake news dapat didefinisikan sama dengan hoaks, seperti pendapat Lazer dkk.

yang mendefinisikan fake news sebagai berita palsu yang dibuat dengan meniru model berita pada umumnya, namun tidak melewati tahapan organisasi berita.57 Allcot dan Gentzkow mendefinisikan fake news sebagai artikel berita yang secara sengaja dibuat salah, sehingga dapat menyesatkan pembaca.58

57 David M J Lazer dkk., “The Science Of Fake News,” Insights 359, no. 6380 (2018): 1094–96.

58 David M J Lazer dkk., “The Science of Fake News.”

(45)

Namun, menurut hasil penelitian terbaru yang dikeluarkan oleh Uni Eropa (EU), seluruh jenis informasi yang dikategorikan sebagai fake news atau hoaks lebih tepat disebut sebagai disinformasi.59 Begitupun halnya dengan The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang memilih menggunakan istilah disinformasi, misinformasi, dan malinformasi.

Misinformasi adalah informasi yang tidak benar namun orang yang menyebarkannya pecaya bahwa informasi tersebut benar tanpa bermaksud membahayakan orang lain. Disinformasi adalah informasi yang tidak benar dan orang yang menyebarkannya juga tahu kalau informasi tersebut tidak benar.

Sedangkan malinformasi adalah informasi yang memang memiliki cukup unsur kebenaran, baik berdasarkan penggalan atau keseluruhan fakta objektif namun penyajiannya dikemas sedemikian rupa untuk melakukan tindakan yang merugikan bagi pihak lain atau kondisi tertentu, ketimbang berorientasi pada kepentingan publik.60

59 Bambang Pratama, “Hoax Dan Fake News Dalam UU-ITE,” 2018, https://business-law.binus.ac.id/2018/08/09/hoax-dan-fake-news-dalam-uu- ite/.

60 Posetti et al., Journalism , ‘Fake News’ & Handbook for Journalism Education and Training.

(46)

Gambar 1.1 Pembagian Kategori Hoaks

Sumber: The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)

Berdasarkan Laporan Isu Hoaks Covid-19, Kemkominfo mengkategorikan hoaks ke dalam tiga kategori, yaitu hoaks, misinformasi, dan disiformasi. Meskipun dibagi ke dalam tiga kategori tersebut, Kemkominfo menyatakan bahwa laporan informasi bohong yang beredar selama pandemi sebagai laporan isu hoaks. Oleh sebab itu, penelitian ini hanya akan menggunakan istilah hoaks dalam menyebut informasi bohong atau keliru yang beredar tersebut.

B. Hoaks dalam Perspektif Islam

Perbuatan menciptakan atau menyebarkan hoaks dilarang dalam ajaran Islam. Menurut Abdul Wahid, apabila hoaks dimaknai sebagai usaha menipu untuk mempercayai sesuatu, maka hoaks dalam istilah kitab salaf sama dengan kadzib, yakni mengutarakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan atau

(47)

berbohong.61 Kata kadzib dengan makna di atas dapat ditemukan dalam Q.s. An-Nahl (16): 105. Hoaks juga dapat diidentifikasi dari pengertian kata al-ifk yang artinya keterbalikan.62 Menurut Quraish Shihab, al-ifk adalah sebuah kebohongan besar, karena kebohongan adalah pemutarbalikan fakta.63 Terdapat 22 kata al-

‘Ifk dalam Alquran dengan mengandung tiga arti, yakni tentang perkataan dusta (Q.s An-Nur (24): 11, 2), kehancuran suatu negeri karena penduduknya tidak membenarkan ayat-ayat Allah (Q.s. At-Taubah (9): 70), dan dipalingkan dari kebenaran orang- orang yang selalu berdusta (Q.s. Al-Ankabut(29): 61).64

Sejarah Islam mencatat beragam peristiwa hoaks yang berdampak buruk bagi manusia. Allah swt. menjelaskan peristiwa tersebut dalam Al-Qur’an sebagai pembelajaran bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi hoaks. Salah satu di antaranya adalah kisah terusirnya Adam a.s. dan Siti Hawa dari surga karena kebohongan Iblis yang termaktub dalam Q.s. Al- A’raf (7): 11-25. Menurut Abdul Muiz Amir, peristiwa tersebut adalah peristiwa hoaks pertama dalam sejarah umat manusia.

Muiz Amir berpendapat Q.s. Al-Araf (7): 20-21 mengisahkan tentang propaganda yang dilakukan oleh Iblis terhadap Adam dan Hawa. Selain itu, Iblis melakukan kebohongan dengan

61 Abd Wahid HS, “Hoax Dalam Perspektif Islam,” Pendidikan Dan Pranata Islam 8, no. 2 (2017): 190–97.

62 Supriyadi Ahmad dan Husnul Hotimah, “Hoaks dalam Kajian Pemikiran Islam dan Hukum Positif,” SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, Vol. 5, No. 3, 2019. : 291–306, h. 296.

63 Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2002).

64 Iftitah Jafar, “Konsep Berita dalam Al’Quran (Implikasinya dalam Sistem Pemberitaan di Media Sosial),” Jurnalisa, Vol. 03, No. 1, 2017.

(48)

bersumpah bahwa Ia memberi nasihat seolah merupakan kebenaran.65 Dari peristiwa ini, hoaks dapat diidentifikasi sebagai sebuah kebohongan yang dikemas seolah merupakan kebenaran dan berdampak negatif apabila mempercayainya.

Selain itu, menurut Mubasyaroh hoaks adalah penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman, yakni ketika terbunuhnya Usman bin Affan. Pada saat itu, umat Islam saling menyebar berita bohong terkait pembunuhan Usman untuk kepentingan politik, sehingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam yang bermuara pada peperangan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Ali menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh berita bohong.66

Peristiwa hoaks lainnya adalah haditsul ifki, yakni peristiwa ketika Aisyah r.a. dikabarkan melakukan perselingkuhan dengan Shafwan ibn Muathal as Sulamy. Hoaks ini tersebar setelah Aisyah r.a. tertinggal dari rombongan yang akan kembali ke Madinah karena mencari kalungnya yang hilang. Saat Aisyah mencari kalung yang hilang tersebut, pasukan muslim meninggalkan dan mengira Aisyah sudah bersama mereka.

Shawfan bin Muattal As-Sulamy menemukan Aisyah yang tertinggal seorang diri dan mengantarkannya pulang. Karena peristiwa ini, hoaks tersebar di tengah masyarakat dan berdampak

65Muiz Amir, “Reinterpretation of Q.s. Al-Araf (7): 11-25 on Hoax:

Hermeneutics Study of Ma’na-Cum-Maghza,” Ushuludin, Vol. 27, No. 3, 2019. h. 215.

66 Mubasyaroh, “Melawan Hoax Di Media Sosial Dan Media Massa,”

in Melawan Hoax Di Media Sosial Dan Media Massa (Yogyakarta:

Trustmedia Publishing, 2017), 138–62.

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan media sosial Arsip UGM masa pandemi covid-19 ini memiliki peluang antara lain: sosialisasi layanan kearsipan masa pandemi covid-19; kerjasama antara akun

Menuju Tatanan Baru Era Pandemi COVID 19. Budaya Media Sosial, Edukasi Masyarakat dan Pandemi COVID-19. Virus Corona: Hal-hal apa yang perlu

Maka dari itu dalam penelitian ini akan dikaji bagaimana program pengembangan keberagamaan yang dilaksanakan sebelum terjadi pandemi COVID-19 dan pada saat pandemi

Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi dampak pandemi Covid -19 terhadap sektor perbankan, mengidentifikasi apakah pandemi Covid -19 dapat digolongkan

pendidikan di indonesia selama masa pandemi covid-19 dilakukan secara daring atau dari rumah (School From Home). Namun karena sekarang masa pandemi covid mulai

Pada analisis tingkat kalimat, kalimat dalam narasi hoaks tersebut merupakan model transitif, yakni dengan memposisikan Presiden Cina sebagai pihak atau subjek

Bulanan Shopee pada Masa Pandemi Covid-19 (Ditinjau dalam Perspektif Ekonomi Islam). UIN Antasari

Dalam tahapan analisa ini, fase yang paling tepat dalam.. penanganan kasus hoaks yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan Bandung adalah dengan menganalisa situasi. Dalam