1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era globalisasi, perkembangan kota menjadi sangat pesat dengan inovasi-inovasi pembangunan untuk meningkatkan daya saing perkotaan. Pembangunan di perkotaan membutuhkan manajemen kota untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Suatu kota memiliki kompleksitas permasalahan antara lain : penurunan kualitas pelayanan publik, berkurangnya ketersediaan lahan permukiman, kemacetan di jalan raya, konsumsi energi yang berlebihan, penumpukan sampah, peningkatan angka kriminalitas, dan masalah-masalah sosial lainnya (Supangkat, 2015). Kota memiliki fungsi dan peranan yang penting sebagai wadah konsentrasi dalam mengatur pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat (Adisasmita, 2006).
Inovasi yang sedang berkembang di Indonesia dalam membangun kota adalah konsep smart city. Kota di beberapa negara telah melakukan transisi dengan merepresentasikan tipologi kota baru, salah satunya adalah kota cerdas/smart city (Nallary dkk, 2012 ). Smart City di beberapa negara mampu mengatasi permasalahan dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, pemerintahan, transportasi dan lingkungan. Smart City merupakan sebuah konsep kota yang dapat mengintegrasikan pemerintah, masyarakat dan pihak swasta untuk mengelola kota secara optimal dan efisien. Smart City terdiri dari enam dimensi antara lain : smart economy, smart mobility, smart environment, smart people, smart living dan smart governance.
Smart City mampu menunjang suatu kota untuk memanfaatkan teknologi sehingga dapat memudahkan masyarakat dalam mendapatkan informasi secara cepat dan tepat. Smart City tidak hanya berkaitan dengan teknologi, konsep ini merupakan kombinasi antara teknologi yang sedang berkembang dengan pola pikir cerdas tentang penggunaan teknologi dalam sebuah organisasi (Supangkat,
2 2015). Pembangunan yang diterapkan untuk mendukung penataan kota sebagai smart city bersifat tidak ego sektoral sehingga dapat berkelanjutan dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar (Sutaryono, 2007). Kota-kota yang disebut smart city adalah Kota-kota yang pada awalnya memiliki terobosan baru dalam penyelesaian-penyelesaian masalah di kotanya, dan sukses dalam manajemen kotanya (Widyaningsih, 2013).
Kota Surakarta berhasil mendapatkan penghargaan sebagai smart city pada tahun 2015. Surakarta merupakan salah satu kota yang meraih juara III Kota cerdas versi Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) dan juara I kota cerdas untuk kategori kota menengah dengan penduduk 200.000 -1000.000 jiwa versi Indonesia Smart Nation Award (ISNA), penilaian penghargaan smart city ini digolongkan menjadi tiga yaitu kota besar, kota sedang dan kota kecil. Penghargaan tersebut diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang bekerjasama dengan KOMPAS (Majalah Kota Kita Edisi XII Januari, 2016).
Kota Surakarta di tahun 2015 telah mulai menerapkan e-government yang salah satunya mendukung dalam implementasi smart city. Pemerintah Kota Surakata telah memiliki dokumen Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Kota Surakarta tahun 2015-2020 dan Masterplan TIK Kota Surakarta tahun 2016 yang berisi tentang program-program pembangunan yang mendorong inovasi daerah yang salah satunya dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi dalam implementasinya.
Beberapa program telah diimplementasikan Pemerintah Kota Surakarta dalam mendukung smart city dapat dilihat pada website pemerintah Kota Surakarta yang terintegrasi dengan SKPD di Kota Surakarta terdiri dari Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS), Transparansi Anggaran Online, Sistem Laporan Pajak-Pajak Pribadi, Sistem Informasi Pengendalian Pembangunan Daerah, Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah, Layanan Pengadaan Secara Elektronik, Sistem Informasi Persiapan Paket Pengadaan, Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH), Surakarta Simpus (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas, Sistem Penanggulanan Gawat Darurat Terpadu
3 (SPGDT), Public Information Openness tentang harga komoditas dan bahan pokok . Program tidak hanya terdiri dari sistem informasi tetapi juga infrastruktur, sarana dan prasarana yang didukung dengan menggunakan Teknologi, Informasi dan Komunikasi antara lain : Intelligent Transport System (ITS), Aplikasi Lalu Lintas Solo, Integrated Bus Batik Solo Trans, Mobile Community Access Point (MCAP) dan Kampung UKM Digital Batik Laweyan. Penelitian ini akan mengkaji kesiapan implementasi smart city di Kota Surakarta berdasarkan cakupan implementasi smart city, alasan pendukung dalam pemilihan cakupan implementasi smart city dan pencapaian implementasi smart city. Kota Surakarta sedang bersiap untuk implementasi smart city di tahun 2018.
1.2 Rumusan Masalah
Smart City dapat membantu masyarakat untuk mengelola sumberdaya yang ada secara optimal dan efisien. Konsep smart city tidak hanya berhubungan dengan pengembangan teknologi, tetapi juga dapat menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas hidup. Kota Surakarta memperoleh penghargaan pada tahun 2015 sebagai juara III kota cerdas untuk kategori kota menengah di Indonesia versi IKCI dan juara I kota cerdas untuk tingkat kota menegah di Indonesia versi ISNA.
Penghargaan smart city yang diperoleh Kota Surakarta pada tahun 2015 menjadi hal yang perlu dianalisis sehingga dapat diketahui implementasi langsung dan kesiapannya. Pertanyaan penelitiaan dalam Kesiapan implementasi smart city di Kota Surakarta antara lain :
1. Apa saja cakupan implementasi smart city di Kota Surakarta ?
2. Apa alasan pendukung dalam pemilihan cakupan implementasi smart city di Kota Surakarta?
4 1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dijelaskan, tujuan penelitian yang akan dicapai dalam penelitian terkait kesiapan implementasi smart city di Kota Surakarta antara lain :
1. Mendeskripsikan cakupan implementasi smart city di Kota Surakarta. 2. Mendeskripsikan alasan pendukung dalam pemilihan cakupan
implementasi smart city di Kota Surakarta.
3. Mengidentifikasi pencapaian implementasi smart city di Kota Surakarta.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :
1. Menambah referensi dalam penelitian terkait kesiapan implementasi smart city di Kota Surakarta sehingga dapat digunakan untuk acuan penelitian selanjutnya.
2. Menambah informasi tentang kesiapan implementasi smart city di Kota Surakarta sehingga mampu memberikan masukan kepada pemerintah kota. 3. Sebagai referensi dalam tata kelola kota dengan dukungan teknologi,
informasi, komunikasi dan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien. 4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan peran terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
1.5 Keaslian Penelitian
Penelitian smart city bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di perkotaan dengan konsep pengelolaan kota dengan menggunakan kombinasi antara teknologi,informasi dan komunikasi serta pola pemikiran masyarakat yang cerdas sehingga menjadi sistem yang terintegrasi dengan baik (Supangkat, 2015). Penelitian tentang smart city telah banyak dilakukan pada beberapa kota di negara maju maupun negara berkembang, salah satunya adalah di Indonesia. Kota- kota di Indonesia yang mulai menerapkan smart city tidak hanya terdiri dari kota besar tetapi juga kota menengah dan kota kecil. Kota
5 Surakarta merupakan kota menengah kategori penduduk 200.000-1000.000 yang mulai menerapkan smart city (Majalah Kota Kita Edisi XII, 2016). Beberapa penelitian tentang smart city yang telah dilakukan memiliki tujuan, metode dan lokasi kajian yang berbeda sehingga hasil yang didapatkan dari penelitian yang satu dengan yang lain akan berbeda. Penelitian sebelumnya terkait dengan smart city diantaranya menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif.
Kajian dari beberapa penelitian sebelumnya digunakan untuk mendukung keaslian penelitian tentang kesiapan implementasi smart city di Kota Surakarta. Penelitian ini terdiri dari analisis cakupan smart city di Kota Surakarta, alasan pendukung dalam pemilihan cakupan implementasi smart city dan pencapaian implementasi smart city di Kota Surakarta. Beberapa penelitian yang digunakan sebagai referensi terdiri dari jurnal internasional antara lain : 1) Smart Cities in Europe oleh Andrean Calagliu, Chiara Del Bo, Peter Nijkamp tahun 2015 , 2) Thinking About Smart City oleh Amy Glasmeier and Susan Christopherson tahun 2015 , 3) Smart Cities of The Future oleh M.Batty, K.W Axhausen, dkk tahun 2012.
Proceeding terdiri dari : 4) A Theory of Smart Cities oleh Colin Harrison and Ion Abbot Donnelly tahun 2011, 5)Conceptualizing Smart City with Dimensions of Technology, people, and Institutions oleh Taewoo Nam and Theresa A.Pardo tahun 2011. Thesis terdiri dari : 6) Kota Surabaya Menuju Smart City oleh Dwita Widyaningsih tahun 2013 dan 7) Strategi Kota Barcelona Menuju Smart city oleh Merry Colleena tahun 2014. Skripsi terdiri dari 8). Pemanfaatan Media Center dalam pelayanan publik sebagai Upaya Mewujudkan Surabaya Smart City oleh Trafika Anggraini tahun 2015 dan 9)Tingkat Kesiapan Kota Surakarta Terhadap Dimensi Mobilitas Cerdas oleh Alfariani Pratiwi tahun 2015. Penjelasan terkait dengan penelitian yang digunakan untuk referensi
6 Tabel 1.1 Perbandingan Keaslian penelitian
Peneliti Jenis Judul dan Tahun Tujuan Metode Hasil
Andrean
Calagliu, Chiara Del Bo, Peter Nijkamp
Jurnal Smart cities in Europe ( 2015)
Mengkaji smart city dengan fokus dan definisi operasional dalam penerapannya di Eropa
Kuantitatif Sebuah kota akan menjadi pintar apabila investasi pada sumber daya manusia dan modal sosial serta infrastruktur sistem komunikasi tradisional dan modern dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kehidupan yang berkualitas, dengan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, melalui tata pemerintahan yang partisipatif dan mampu melayani masyarakat dengan baik.
Amy Glasmeier and Susan Christopherson
Jurnal Thinking About Smart City, (2015)
Mengetahui konsep smart city yang sedang menjadi isu kontroversial negara-negara di dunia
Deskriptif kualitatif
Pengembangan smart city merupakan hasil kolaborasi antara stakeholders dan masyarakat. Smart city dapat dikaitkan dengan kota yang menerapkan teknologi tetapi juga tidak hanya teknologi.
Colin Harrison and Ion Abbot Donnelly
Proceedings A Theory of Smart Cities, (2011)
Mendeskripsikan model kolaborasi sistem perkotaan salah satunya adalah smart city.
Deskriptif kualitatif
Teknologi informasi dapat memberikan benefit untuk smart city terdiri dari aspek lingkungan, infrastruktur, pelayanan, ekonomi dan energi. Kunci dari teori baru instrumen smart city adalah membuat ruang virtual menjadi nyata dan tidak ada batasan.
Taewoo Nam and Theresa A.Pardo
Proceedings Conceptualizing Smart City with Dimensions of
Technology, people,
and Institutions (2011)
Mengidentifikasi aspek-aspek kota dalam penerapan Smart city
Deskriptif kualitatif
Smart city terdiri dari konsep yang multidimensional terdiri dari dimensi teknologi, manusia dan pemerintah. Faktor utama dari keberhasilan penerapan smart city adalah variasi dan inovasi kota yang dapat menjadi strategi untuk dapat mengembangkan smart city.
7 Lanjutan Tabel 1.1 Perbandingan Keaslian penelitian
Peneliti Jenis Judul dan Tahun Tujuan Metode Hasil
M.Batty, K.W Axhausen, dkk
Jurnal Smart Cities of The Future(2012)
Mengidentifikasi
penggunaan ICT dalam membangun fungsi kecerdasan sebuah kota
Deskripsi kualitatif
Peluang untuk pengembangan smart city menggunakan platform teknologi yang terintegrasi. smart city akan mendatangkan benefit untuk seluruh masyarakat dengan kemudahan dalam menggunakan ICT.
Dwita
Widyaningsih
Tesis Kota Surabaya menuju Smart City (2013)
Mengkaji tahapan pembangunan dalam menuju Surabaya Smart City
Deskriptif kualitatif
Surabaya smart city diteliti berdasarkan pada prioritas masalah, kebutuhan masyarakat dan keinginan memberikan pelayanan publik yang lebih baik.
Trafika Anggraini
Skripsi Pemanfaatan Media Center dalam pelayanan publik sebagai Upaya Mewujudkan Surabaya Smart City (2015) Mengidentifikasi media center dalam mewujudkan Surabaya Smart City Deskriptif kualitatif
Media Center memiliki manfaat untuk mendukung smart city di Surabaya. Penyediaan media center oleh pemerintah dibutuhkan oleh publik dalam melakukan kegiatan yang akan lebih mudah dengan pemanfaatan teknologi.
Alfariani Pratiwi Skripsi Tingkat Kesiapan Kota Surakarta Terhadap Dimensi Mobilitas Cerdas(2015)
Mengetahui tingkat kesiapan Kota Surakarta dari dimensi mobilitas cerdas
Kuantitatif Mengukur tingkat kesiapan kota Surakarta berdasarkan dimensi mobilitas cerdas salahsatunya menekankan pada transportasi (ITS)
Merry Colleena Tesis Strategi Kota Barcelona Menuju Smart city (2014)
1.Mengetahui strategi pengembangan menuju Smart city
2.Mengetahui faktor-faktor Barcelona menuju Smart city
Deskripsi kualitatif
Strategi pengembangan Barcelona menuju smart city dipengaruhi oleh lima komponen antara lain : event perencanaan, forum pengembangan, perencanaan regional, metropolitan dan strategis. Faktor yang mendukung yaitu, festival internasional, kebijakan, perkembangan TIK dan partisipasi.
8 1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Kota
Pengertian kota dapat dikaji dari berbagai macam perspektif, dalam hal ini dapat menggunakan perspektif morfologi kota (urban morphological perspective) dan menggunakan perspektif legal atau yuridis administratif (legal or administrative perspective). Kota ditinjau dari segi yuridis administratif dapat didefinisikan sebagai suatu daerah tertentu dalam wilayah negara di mana keberadaannya diatur oleh Undang-Undang (peraturan tertentu), daerah mana dibatasi oleh batas-batas administratif yang jelas keberadaannya diatur oleh Undang-Undang atau peraturan tertentu dan ditetapkan berstatus sebagai kota dan berpemerintahan tertentu dengan segala hak dan kewajibannya dalam mengtur wilayah kewenangannya (Yunus, 2005).
Kota dari tinjauan fisik morfologis merupakan salah satu bagian dalam suatu wilayah yang luas, dan merupakan konsentrasi penduduk yang padat, bangunan yang didominasi oleh struktur permanen dan kegiatan-kegiatan fungsionalnya (Yunus, 2005). Kota merupakan sebuah wilayah yang didalamnya terdapat berbagai aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia yang selalu berkembang menuntut adanya perkembangan pula atas kota dalam dimensi ruang mapun sosial-ekonomi.
Kota dalam pengertian umum adalah suatu daerah terbangun yang didominasi jenis penggunaan tanah non pertanian dengan jumlah penduduk dan intensitas penggunaan ruang yang cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dalam hal pemakaian modal yang besar, jumlah orang yang terlibat lebih banyak, nilai tambah penggunaan ruang yang dihasilkan lebih besar dan keterkaitan dengan penggunaan tanah yang lebih erat (Sadyohutomo, 2008). Intensitas penggunaan lahan yang tinggi untuk kegiatan non pertanian sehingga menjadikan kota sebagai pusat bagi daerah sekitarnya.
Manajemen kota adalah manajemen terhadap suatu kesatuan pengelolaan dalam sistem keruangan (Sadyohutomo, 2008). Konteks perencanaan kota khususnya untuk memahami pertumbuhan dan perkembangan kota dalam mencapai suatu kota yang berkeadilan, melalui berbagai macam bentuk visi
9 pengembangan kota seperti kota layak huni (liveable city), kota hijau (green city), maupun kota cerdas (smart city). Di era sekarang teknologi informasi dan komunikasi merupakan bagian dari kehidupan perkotaan. Upaya memanfaatkan TIK untuk melakukan perencanaan kota yang lebih baik (Sutardi, 2015).
TIK dapat dilihat sebagai alat perencanaan yang signifikan untuk mendorong dan memperkuat manajemen perencanaan kota. Upaya untuk mengimplementasikan kemajuan TIK bagi konteks tata kelola perkotaan telah dilakukan, dalam hal ini terdapat enam persoalan dasar yang berupaya untuk diselesaikan melalui dukungan TIK diantaranya (Sutardi, 2015) :
1. Tata kelola pemerintahan lokal. 2. Kemiskinan di perkotaan.
3. Perencanaan kota, lahan dan perumahan.
4. Hubungan antar pemerintahan dan pembiayanaan pembangunan kota. 5. Lingkungan perkotaan dan perubahan iklim.
6. Sistem penyediaan air dan sanitasi kota.
Kehadiran konsep smart city dan pemanfaatan TIK dalam perencanaan tata ruang tidak dapat dilepaskan dari posisi rencana tata ruang pada tata kelola pemerintahan. Inovasi dengan memanfaatkan TIK merupakan upaya tata kelola perkotaan menjadi lebih baik dan dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan kota (Rydin, 2005). Perkembangan kota pada basisnya berawal dari adanya industrialisasi hingga adanya konsep hijau sebagai wujud kepedulian kota terhadap lingkungan dan isu keberlanjutan kota.
Kota juga merupakan sekumpulan sistem dan interaksi berupa aturan, kumpulan hubungan antara beberapa lapisan mulai dari kegiatan manusia meliputu ekonomi, sosial, politik dan lingkungan termasuk juga untuk penanganan masalah dan solusinya. Sebuah platform umum dibutuhkan untuk dapat digunakan dalam membentuk pengetahuan terhadap solusi yang diterapkan di kota (Supangkat, 2015). Konsep kota terbaru yang sedang berkembang adalah konsep smart city atau disebut pula kota cerdas.
10 1.6.2 Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi informasi dan komunikasi merupakan sekumpulan teknologi dan aplikasinya yang terkait dengan proses elektronik, penyimpananm dan pemindahan informasi untuk penggunaan yang bervariasi (Rachmawati, 2014). Karakteristik TIK adalah (1) sangat dinamis terhadap perubahan, (2)menurunkan biaya (3) aplikasi dan penetrasi TIK dalam banyak bidang terkait dengan profesi dan gaya hidup meningkat secara cepat dan, (4) adanya kualtias keterampilan sumberdaya manusia dalam mengoperasikan TIK (Cohen dkk dalam Rachmawati, 2014). Teknologi informasi dapat meliputi seluruh komponen yang berbasis informasi, digerakkan oleh komputer, dan komunikasi berkaitan dengan aktivitas (Knox dan Marson dalam Rachmawati, 2014).
Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi salah satu hal yang penting dengan transformasi kehidupan masyarakat dunia kearah informasi society. TIK saat ini telah menjadi salah satu infrastruktur utama dalam kehidupan masyarakat modern seperti kebutuhan listrik, air, dan jalan. TIK berperan pula sebagai sumber daya produksi dan konsumsi manusia sekaligus sebagai piranti pendukung dan enabler dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari baik yang bersifat pemerintahan, industri, organisasi, maupun kemasyakatan (Rachmawati, 2014).
Perkembangan dan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin pesat serta infrastruktur informasi global, telah merubah pola dan tata cara kegiatan bisnis perdagangan dan pemerintahan. Fenomena tersebut telah berdampak positif terhadap perkembangan TIK dalam konteks regional telah memberikan manfaat yang signifikan bagi kemajuan bangsa dan peningkatan daya saing nasional, sedangkan dalam konteks global, negara-negara di dunia secara berkesinambungan terus berbenah dan mempersiapkan diri untuk dapat sesegera mungkin menjadi komunitas digital yang siap menghadapi berbagai tantangan perubahan (Yunus, 2005).
Konsep ruang bergeser karena adanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Di era teknologi informasi dan komunikasi, ruang relatif berkaitan dengan ruang aktivitas (activity space), ruang ekonomi (economic
11 space), dan ruang pergerakan (movement space) yang dapat menempati ruang maya (virtual space). Konsep ruang menurut Goodall dalam Rachmawati (2014) yaitu dengan memasukkan ruang maya sebagai ruang relatif bersama-sama dengan ruang aktivitas, ruang ekonomi, dan ruang pergerakan perlu mempertimbangkan bahwa di dalam ruang maya terdapat ruang aktivitas, ruang ekonomi dan ruang pergerakan.
Konsep smart city dan pemanfaatan TIK dalam perencanaan tata ruang tidak dapat dilepaskan dari posisi rencana tata ruang pada tata kelola pemerintahan (Sutriadi, 2015). Membangun smart city membutuhkan prasarana penunjang seperti perangkat teknologi dan sistem informasi teknologi. Teknologi Informasi dan Komunikasi berperan penting dalam penerapan smart city agar dapat memaksimalkan sumber daya yang ada. Sumber daya yang dimanfaatkan secara optimal dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga lebih efektif dan efesien. TIK digunakan dalam proses pembelajaran (e-education), pemerintahan (e-government), bisnis (e-business), dan lain-lain adalah bukti bagaimana teknologi mampu mengubah pola tindak individu dan komunitas dalam berbagai aktifitas kegiatan sehari-hari (Giffinger dkk, 2007).
1.6.3 Smart City
1.6.3.1 Konsep Smart City
Smart City merupakan konsep penataan kota yang mampu menunjang dalam mengelola sumberdaya yang ada dengan memanfaatkan teknologi sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat (Supangkat, 2015). Dimensi sebuah kota untuk dapat menjadi smart city antara lain : smart people, smart environment, smart economy, smart mobility, smart living and smart governance (Giffinger dkk, 2007). Enam dimensi smart city dapat dioptimalkan sesuai dengan fungsinya. Implementasi smart city di sebuah kota dapat difokuskan pada salah satu dimensi.
Definisi smart city diantaranya menjelaskan sebuah kota akan menjadi cerdas apabila investasi pada sumber daya manusia dan modal sosial serta infrastruktur sistem komunikasi tradisional dan modern dapat meningkatkan
12 pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kehidupan yang berkualitas, dengan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, melalui tata pemerintahan yang partisipatif dan mampu melayani masyarakat dengan baik (Caragliu dkk, 2011).
Smart city dapat juga direpresentasikan sebagai kota cergas(cerdas dan gegas), cerdas dalam bertindak dan segera mengeksekusi sampai suatu permasalahan terselesaikan dengan baik. Konsep cergas melibatkan tiga komponen yaitu teknologi, proses dan manusia. Ketiga komponen harus saling mendukung dan selaras dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan kota melalui implementasi smart city (Supangkat, 2015).
Konsep smart city dengan meletakkan penekanan eksplisit pada penggunaan teknologi. Permasalahan kota dapat diselesaikan dan diposisikan sebagai hal yang penting dari inisiatif kota cerdas. Permasalahan dalam kota antara lain : krisis termasuk kelangkaan sumber daya, infrastruktur yang tidak memadai, kemiskinan, kekurangan energi dan ketidakstabilan harga, masalah lingkungan global dan urbanisasi (Washburn dkk, 2010).
Pengertian smart city juga meliputi adalah area geografis tertentu dimana teknologi canggih seperti ICT, logistik, produksi energy yang saling melengkapi untuk menciptakan manfaat bagi masyarakat di kota dalam kesejahteraan,partisipasi, kualitas lingkungan hidup, pembangunan yang cerdas, yang dikelola oleh tata pemerintahan yang tertib dengan kebijakan-kebijakan yang baik (Dameri dalam Supangkat, 2015).
Konsep smart city bersifat dinamis dan cepat berkembang sehingga belum ada definisi yang baku. Pendekatan yang dikaji melalui aspek-aspek informatif antara lain : infrastruktur digital yang modern; pemahaman bahwa pelayanan akan lebih baik jika terpusat pada masyarakat, infrastruktur fisik yang cerdas, keterbukaan akan pendekatan dan model yang baru dan transparasi akan capaian (Department for Business, Innovation and Skills the United Kingdom, 2013).
13 1.6.3.2 Dimensi Smart City
Tujuan smart city yaitu penyelesaian dari berbagai masalah perkotaan melalui pemanfaatan berbasis TIK yang terhubung dengan infrastruktur perkotaan (Lee dkk, 2013). Pemanfaatan berbasis TIK ini dilakukan oleh seluruh pelaku yang terlibat antara lain pembuat kebijakan dan pelaksanaan kebijakan yang berada di kota untuk mempermudah hubungan dan komunikasi sehingga meningkatkan adanya interaksi dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.
Salah satu hal penting dari smart city bahwa kota memberikan pelayanan dengan menggunakan teknologi terkini dan membangun infrastruktur yang pintar yang mempermudah adanya interaksi dan aksesibilitas sehingga lebih efektif dan efisien bagi masyarakat (Angelidou, 2015). Dimensi smart city dijelaskan pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1 Dimensi dan indikator smart city Sumber: Giffinger dkk, 2007
14 Terdapat enam dimensi dan beberapa indikator yang mendukung smart city berdasarkan Giffinger dkk, 2007 antara lain:
1.Smart Economy (ekonomi pintar), adanya inovasi-inovasi usaha untuk meningkatkan peluang usaha dan daya saing ekonomi.
2.Smart People (masyarakat pintar), pembangunan senantiasa memiliki objek yaitu masyarakat yang mana seharusnya masyarakat dapat peduli dan ikut serta dalam pembangunan yang ada di perkotaan/ lingkungannya.
3.Smart Governance (pemerintahan yang cerdas), berkaitan dengan transparansi kebijakan kepada masyarakat dalam wujud kemudahan masyarakat mengakses dokumen-dokumen publik.
4.Smart Mobility (mobilitas cerdas), penggunaan infrastruktur yang berbasis teknologi berkelanjutan yang mana mempermudah aktor dalam interaksi.
5.Smart Environment (lingkungan cerdas), adanya penerapan keberlanjutan dalam setiap kegiatan perkotaan yang mana dapat mengenali dan menyelesaikan masalah-masalah lingkungan dan sumber daya.
6.Smart Living (kehidupan yang cerdas), adanya masyarakat dan komunitas yang sehat, berbudaya, dan pintar.
Penggunaan teknologi menjadi kunci dari penerapan konsep smart city pada sebuah kota. Teknologi yang digunakan cenderung pada teknologi yang efisien dalam hal energi, ekonomi, dan penggunaannya tidak berdampak buruk pada lingkungan. Teknologi yang inovatif dan berkelanjutan membentuk adanya sebuah komunitas perkotaan yang pintar dan sadar akan lingkungan. Smart City digunakan untuk merepresentasikan kemampuan sebuah kota dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat dengan menyediakan informasi yang dibutuhkam tentang kota tersebut(Zhu, Yao, Huang dan Zhang, 2002).
Dimensi dalam smart city antara lain: smart economy (ekonomi yang pintar) yang meliputi faktor seperti inovasi, kewirausahaan, self-branding, produktivitas, dan juga persaingan dalam pasar internasional. Smart economy dapat berguna untuk mencapai peningkatan ekonomi bangsa yang lebih baik dan cerdas (smart) karena inovasi dan kemampuan daya saing merupakan modal utama untuk kemajuan bangsa (Pratama, 2014)
15 Smart People (masyarakat yang cerdas) yang tidak hanya terkait dengan level pendidikan dari masyarakat itu sendiri, tetapi juga bagaimana interaksi sosial yang terjadi didalamnya. Smart People dapat menciptakan komunitas yang cerdas. Kondisi smart diperoleh melalui beberapa tahap pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan sehingga akan mendukung kreativitas masyarakat, kemampuan berpikir dan kemampuan dalam bersosialisasi.
Smart Governance merupakan dimensi smart city yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan tata kelola dan pemerintahan yang bersih, jujur, adil, demokrasi, kualitas dan kuantitas layanan publik yang lebih baik (Pratama, 2014). Smart Governance (pemerintahan yang pintar) meliputi faktor-faktor seperti partisipasi politik, kualitas pelayanan dan administrasi publik.
Smart Mobility merupakan dimensi yang terkait dengan transportasi dan mobilitas masyarakat. Aksesibilitas lokal maupun internasional merupakan indikator dari smart mobility (pergerakan yang pintar) selain dari ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi, serta sistem transportasi perkotaan yang ramah lingkungan. Smart Mobility akan menciptakan layanan publik untuk transportasi dan mobilitas yang lebih baik serta mampu menyelesaikan permasalahan transportasi.
Smart Environment (lingkungan yang pintar) yang berkaitan dengan isu-isu perlindungan lingkungan alami. Smart Environment merupakan dimensi smart city yang mengkhususkan pada bagaimana menciptakan lingkungan yang cerdas, meliputi keberlanjutan dan pengelolaan sumberdaya yang lebih baik (Pratama, 2014).
Smart Living (pola hidup yang pintar) yang berkaitan dengan aspek kualitas hidup masyarakat kota. Smart Living terdapat syarat, kriteria dan tujuan untuk proses pengelolaan kualitas hidup(quality of life) dan budaya(culture) yang cerdas. Enam dimensi smart city tidak harus semuanya diterapkan dan dikembangkan tetapi dapat difokuskan pada satu atau sebagian saja tergantung dengan potensi dan karakter kota tersebut (Giffinger dkk, 2007).
16 1.6.3.3 Faktor-faktor dalam Smart City
Faktor-faktor pendukung smart city adalah aksesibilitas lokal, regional, nasional, sampai internasional perlu diperhatikan. Sistem transportasi, terutama transportasi umum yang berkelanjutan, inovatif, serta ramah lingkungan pun perlu mendapat prioritas pembangunan. Ditambah dengan peningkatan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (Giffinger dkk, 2007).
Konsep smart city pada umumnya meliputi:
1.Kota yang memiliki kinerja baik dalam aspek ekonomi, penduduk, pemerintahan, mobilitas, dan lingkungan hidup.
2.Kota yang mengontrol dan mengintegrasikan semua infrastruktur berupa infrastruktur fisik, IT, sosial, dan bisnis.
3.Kota yang lebih efisien dan layak huni.
Pengembangan kota melalui konsep smart city terus mengalami peningkatan yang sangat pesat sesuai dengan kebutuhan kota. Namun pengembangan kota yang terjadi tidak diiringi tentang pemahaman konsep Smart City (Dameri dalam Supangkat, 2015). Beberapa kota mengalami kesulitan dalam penerapan konsep smart city, hal ini dipengaruhi karena begitu banyak konsep yang digunakan dalam pengembangan smart city sementara evaluasi yang dilakukan masih minim (Manvire dan Conchrane dalam Supangkat, 2015).
Evaluasi dan panduan yang baku dalam penerapan konsep smart city belum dirumuskan yang berlaku secara universal. Kota cerdas yang optimal dilakukan dengan pembangunan dari atas (top down) maupun dari bawah (bottom up) selayaknya memiliki kecerdasan yang spesifik dan berinovasi (Komninos dalam Supangkat, 2015)
1.6.3.4 Smart City pada Beberapa Kota di Indonesia
Sejumlah kota di Indonesia menerapkan smart city untuk memyelesaikan permasalahan-permasalahan di perkotaan. Penerapan smart city dapat dilakukan di satu atau beberapa bidang sesuai dengan keenam dimensi smart city yang telah ada. Kota- kota di Indonesia yang telah menerapkan smart city antara lain :
17 Kota Surabaya menerapkan smart city dengan tiga dimensi yaitu smart governance, smart living, smart environment. Beberapa contoh penerapannya antara lain :
a. Adanya sistem peringatan dini terhadap adanya bencana alam seperti banjir yang diakibatkan oleh luapan sungai maupun air laut.
b. Sistem pengelolaan sampah dan pemantauan volume pembuangan sampah berbasis teknologi.
c. Sistem administrasi perijinan dan kependudukan berbasis teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
d. Adanya portal untuk masyarakat dan pemerintah untuk berdiskusi mengenai jalannya pemerintahan, kebijakan-kebijakan publi, kritik dan saran dari masyarakat untuk pemerintah (Pratama, 2014)
2. Kota Bandung
Penerapan smart city di Kota Bandung antara lain di bidang transportasi, navigasi, pembelajaran, parkir, rumah pengawasan, energi dan sistem peringatan dini terhadap bencana. Beberapa informasi yang diterapkan smart city Bandung antara lain :
a. Website pemerintah kota Bandung yang memuat informasi tentang kota Bandung, pemerintah, pariwisata, pendidikan, investasi, peta, artikel, jadwal sholat dan ramalan cuaca.
b. Layanan publik online untuk aspirasi dan pengaduan rakyat kota Bandung. c. Layanan RW Net di Kota Bandung.
d. BIRMS (bandung Integrated Resources Management System) merupakan layanan publik secara online dalam bentuk informasi terintegrasi, yang bertujuan untuk membantu mengelola sumber daya pemerintah (Supangkat, 2015).
3. Kota Makassar
Kota Makassar merupakan kota terbesar di Pulau Sulawesi. Kota Makassar telah menerapkan smart city dengan mengkolaborasikan konsep “Sombere” (keramahan yang luar biasa) sebagai karakteristik kota. Implementasi smart city di Kota Makassar terdiri dari berbagai bidang antara lain:
18 a. Makassar Smart Card yang merupakan kartu cerdas yang digunakan
meningkatkan pelayanan publik antara lain untuk layanan puskesmas, e-kelurahan, e-office, e-parking, e-education.
b. Smart traffic digunakan untuk memantau lalu lintas dengan cerdas karena menggunakan teknologi, informasi dan komunikasi.
c. E-Sibuntulu sebagai layanan pengelola pengaduan maupun keluhan dari masyarakat untuk masukan kepada pemerintah menggunakan TIK (Permadi, 2015).
1.7 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran penelitian ini dimulai dengan konsep smart city yang sedang menjadi trend di Indonesia. Pemerintah Kota Surakarta mulai menerapkan implementasi smart city agar dapat membantu dalam memberikan solusi terhadap permasalahan di perkotaan. Kesiapan implementasi smart city yang dianalisis dalam penelitian ini mengenai cakupan implementasi smart city di Kota Surakarta mencakup penerapan smart city berdasarkan enam dimensi (smart governance, smart mobility, smart people, smart environment,smart economy dan smart living). Cakupan dimensi smart city di Kota Surakarta terdiri dari smart governance, smart mobility, smart economy dan smart living.
Alasan pendukung dalam pemilihan cakupan implementasi smart city terkait dengan kebijakan pemerintah dalam pemilihan penerapan berdasarkan kondisi dan karakteristik Kota Surakarta antara lain kebutuhan kota, komponen pendukung (TIK, tata kelola pemerintahan, masyarakat). Hal ini menjadi pertimbangan dalam penerapan karena setiap kota memiliki kondisi dan karakteristik yang berbeda-beda. Pencapaian dalam implementasi smart city terkait dengan hasil pencapaian dari program-program yang telah diimplementasikan dan tahap implementasi smart city di Kota Surakarta. Hal ini dikaji juga berdasarkan potensi kota dan strategi dalam implementasi smart city di Kota Surakarta. Skema kerangka pemikiran dari penelitian ini kemudian jelaskan dalam Gambar 1.2
19 Gambar 1.2 Skema Kerangka Pemikiran