• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan Bidang Perumahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kelembagaan Bidang Perumahan"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Modul kelembagaan bidang perumahan bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang peraturan perundang-undangan, prinsip dasar dan pola pembinaan kelembagaan.

Buku ini disusun dalam 8 (delapan) bab, meliputi; pendahuluan, dasar kebutuhan kemitraan dan kelembagaan, pengantar penyelenggaraan kemitraan dan kelembagaan, kerangka regulasi dan amanatnya, pengertian kelembagaan bidang perumahan, kerjasama atau kemitraan bidang perumahan, dan pembinaan kelembagaan bidang perumahan serta penutup. Modul ini disusun secara sistematis agar peserta pelatihan dapat mempelajari materi dengan lebih mudah. Fokus pembelajaran diarahkan pada peran aktif peserta diklat.

Ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada tim penyusun atas tenaga dan pikiran yang dicurahkan untuk mewujudkan modul ini. Penyempurnaan maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga modul ini dapat membantu dan bermanfaat bagi peningkatan kompetensi aparatur di Pusat dan Daerah dalam Bidang Penyediaan perumahan.

Bandung, Desember 2017

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman, dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah

(2)

ii Kelembagaan Bidang Perumahan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... v

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... vi

A. Deskripsi ... vi

B. Persyaratan ... vi

C. Metode ... vi

D. Alat Bantu/Media ... vii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 2

B. Deskripsi Singkat ... 2

C. Kompetensi Dasar ... 3

D. Indikator Hasil Belajar ... 3

E. Materi dan Submateri Pokok ... 3

F. Estimasi Waktu ... 4

BAB 2 ... 5

DASAR KEBUTUHAN KEMITRAAN DAN KELEMBAGAAN ... 5

A. Indikator keberhasilan ... 6

B. Permasalahan Sektor PKP ... 6

C. UU No. 23/2014 ... 6

D. Kondisi APBN dan APBD ... 8

E. Rangkuman ... 8

(3)

PENGANTAR PENYELENGGARAAN KEMITRAAN DAN KELEMBAGAAN ... 9 A. Indikator keberhasilan... 10 B. Dasar Hukum ... 10 C. Pemahaman Dasar ... 11 D. Kelembagaan ... 11 E. Kemitraan ... 12 F. Rangkuman ... 13 BAB 4 ... 15

KERANGKA REGULASI DAN AMANATNYA ... 15

A. Indikator keberhasilan... 16

B. Regulasi dan Amanat Bidang Perumahan ... 16

C. Kerangka Regulasi dan Amanatnya Peran Kelompok Kerja PKP ... 16

D. Regulasi dan Amanat Peran Perumnas ... 17

E. Rangkuman ... 18

BAB 5 ... 19

PENGERTIAN KELEMBAGAAN BIDANG PERUMAHAN ... 19

A. Indikator keberhasilan... 20

B. Tipologi Lembaga dalam Penyediaan Perumahan ... 20

C. Jenis Lembaga Di Bidang Perumahan ... 20

D. Peran Lembaga ... 21

E. Kemitraan dan Kelembagaan dalam Penyediaan Perumahan ... 23

F. Hubungan antara Kemitraan dan Kelembagaan ... 23

G. Wujud Kegiatan Kelembagaan ... 23

H. Wujud Kegiatan Kemitraan ... 24

I. Rangkuman ... 24

BAB 6 ... 25

(4)

iv Kelembagaan Bidang Perumahan

A. Indikator keberhasilan ... 26

B. Mitra Kerjasama ... 26

C. Kemitraan Bilateral/Multilatleral ... 26

D. Kemitraan Lintas Unit Organisasi PUPR ... 30

E. Bentuk Dokumen Legalitas Kerjasama ... 33

F. Pengembangan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha ... 34

G. Rangkuman ... 35

BAB 7 ... 37

PEMBINAAN KELEMBAGAAN BIDANG PERUMAHAN ... 37

A. Indikator keberhasilan ... 38

B. Pembentukan dan Pendampingan Kelompok Kerja PKP ... 38

C. Pembentukan Badan Pengelolaan Rusun ... 38

D. Penguatan Peran Perumnas ... 40

E. Rangkuman ... 41 F. Latihan ... 41 BAB 8 PENUTUP ... 43 A. Simpulan ... 44 B. Tindak Lanjut ... 45 DAFTAR PUSTAKA ... 46 GLOSARIUM ... 47 BAHAN TAYANG ... 49

(5)

DAFTAR GAMBAR

(6)

vi Kelembagaan Bidang Perumahan

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

A. Deskripsi

Mata pelatihan ini memberikan pengenalan dan pemahaman tentang dasar kebutuhan kemitraan dan kelembagaan, kerangka regulasi dan amanatnya, pengertian kelambagaan, kerjasama atau kemitraan bidang perumahan dan pembinaan kelembagaan bidang perumahan kepada peserta pelatihan melalui ceramah, diskusi interaktif dan latihan soal.

Peserta pelatihan mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan. Pemahaman setiap materi pada modul ini sangat diperlukan karena materi ini menjadi dasar pemahaman sebelum mengikuti pembelajaran modul-modul berikutnya. Hal ini diperlukan karena masing-masing modul-modul saling berkaitan. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan latihan atau evaluasi. Latihan atau evaluasi ini menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta pelatihan setelah mempelajari materi dalam modul ini.

B. Persyaratan

Dalam mempelajari modul ini peserta pelatihan dilengkapi dengan peraturan perundangan dan pedoman yang terkait dengan materi kelembagaan bidang perumahan.

C. Metode

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh pemberi materi (narasumber). Dalam kegiatan pembelajaran juga diberikan kesempatan tanya jawab, curah pendapat, bahkan diskusi.

(7)

D. Alat Bantu/Media

Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan alat bantu/media pembelajaran tertentu, yaitu :

a. LCD/projector b. Laptop

c. Papan tulis atau whiteboard dengan penghapusnya

d. Flip chart

e. Bahan tayang

f. Modul dan/atau Bahan Ajar

(8)
(9)

BAB 1

(10)

2 Kelembagaan Bidang Perumahan

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Sesuai amanat UU No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pasal 5 ayat (1), ”Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah.” Namun dalam pelaksanaannya, terdapat permasalahan-permasalahan dalam bidang penyelenggaraan perumahan, diantaranya ketimpangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand), keterbatasan kapasitas pengembang (developer), rendahnya keterjangkauan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), baik dalam membangun ataupun membeli rumah, potensi perumahan dan permukiman kumuh diperkotaan, serta permasalahan-permasalahan lainnya dalam penyelenggaraan perumahan.

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi permasalahan-permasalahan penyelenggaraan perumahan tersebut disusun dalam program kerja/kegiatan berupa diantaranya pembangunan rumah susun sederhana sewa, pembangunan rumah khusus, pembangunan rumah swadaya, serta pembinaan dan pengembangan rumah umum dan komesial.

Untuk mendukung terlaksananya program/kegiatan pemerinah tersebut, maka diperlukan Aparatur Sipil Negara (ASN) di tingkat pusat maupun daerah yang handal. Dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas dan kompetensi para ASN lingkungan Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR inilah, Badan Pengembangan Sumber daya Manusia memberikan dukungan melalui pelatihan berbasis kompetensi yang ditunjang dengan materi pengajaran yang komprehensif.

B. Deskripsi Singkat

Mata pelatihan ini memberikan pengenalan dan pemahaman tentang dasar kebutuhan kelembagaan, kerangka regulasi dan amanatnya, pengertian kelembagaan, jenis kegiatan kelembagaan, pembinaan kelembagaan, penguatan kelembagaan dan pembentukan badan pengelola kepada peserta pelatihan melalui ceramah, diskusi interaktif dan latihan soal.

(11)

C. Kompetensi Dasar

Mata pelatihan kelembagaan bidang perumahan memberikan pemahaman kepada peserta pelatihan terkait aspek kemitraan dan kelembagaan dalam kegiatan penyelenggaraan perumahan.

D. Indikator Hasil Belajar

Setelah mengukuti pelatihan ini, peserta mampu:

a. Menjelaskan dasar kebutuhan kemitraan dan kelembagaan

b. Menjelaskan pengantar penyelenggaraan kemitraan dan kelembagaan c. Menjelaskan kerangka regulasi dan amanatnya

d. Menjelaskan pengertian kelembagaan bidang perumahan e. Menjelaskan kerjasama atau kemitraan bidang perumahan f. Menjelaskan pembinaan kelembagaan bidang perumahan

E. Materi dan Submateri Pokok

Materi dan submateri pokok dalam mata Diklat ini adalah: a. Dasar Kebutuhan Kemitraan dan Kelembagaan

1) Permasalahan Sektor PKP 2) UU No. 23/2014

3) Kondisi APBN dan APBD

b. Pengantar Penyelenggaraan Kemitraan dan Kelembagaan 1) Dasar Hukum

2) Pemahaman Dasar 3) Kelembagaan 4) Kemitraan

c. Kerangka Regulasi dan Amanatnya

1) Regulasi dan Amanat Bidang Perumahan

2) Kerangka Regulasi dan Amanatnya Peran Pokja PKP 3) Regulasi dan Amanat Peran Perumnas

d. Pengertian Kelembagaan Bidang Perumahan

1) Tipologi Lembaga dalam Penyediaan Perumahan 2) Jneis Lembaga di Bidang Perumahan

(12)

4 Kelembagaan Bidang Perumahan

3) Peran Lembaga

4) Kemitraan dan Kelembagaan dalam Penyediaan Perumahan 5) Hubungan Antara Kemitraan dan Kelembagaan

6) Wujud Kegiatan Kelembagaan 7) Wujud Kegiatan Kemitraan

e. Kerjasama atau Kemitraan Bidang Perumahan 1) Mitra Kerjasama

2) Kemitraan Bilateral/Multirateral 3) Kemitraan Lintas Unit Organisasi PUPR 4) Bentuk Dokumen Legalitas Kerjasama

5) Pengembangan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha

f. Pembinaan Kelembagaan Bidang Perumahan

1) Pembentukan dan Pendampingan Lembaga Pokja PKP 2) Pembentukan Badan Pengelolaan Rusun

3) Penguatan Peran Perumnas

F. Estimasi Waktu

Untuk mempelajari mata pelatihan kelembagaan bidang perumahan ini, dialokasikan waktu sebanyak 3 (tiga) jam pelajaran.

(13)

BAB 2

DASAR KEBUTUHAN KEMITRAAN DAN

KELEMBAGAAN

(14)

6 Kelembagaan Bidang Perumahan

Dasar Kebutuhan Kemitraan Dan Kelembagaan

A. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu menjelaskan dasar kebutuhan kemitraan dan kelembagaan.

B. Permasalahan Sektor PKP

Perumahan merupakan salah satu sektor strategis untuk mendukung pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia juga berfungsi strategis di dalam mendukung terselenggaranya pendidikan keluarga, persemaian nilai budaya dan peningkatan kualitas generasi akan datang yang berjati diri.

Pembangunan sektor perumahan di Indonesia saat ini tengah menghadapi 2 (dua) tantangan besar yaitu backlog dan rumah tidak layak huni dan permasalahan permukiman kumuh. Pada tahun 2014, backlog berdasarkan konsep penghunian mencapai 7,6 juta unit dan rumah tidak layak huni mencapai 3,4 juta unit, dan luasan kumuh sebesar 38.431 Ha. Merespon kondisi tersebut, Pemerintah telah menetapkan target penanganan tahun 2019, yaitu backlog turun menjadi 5 juta unit dan rumah tidak layak huni menjadi 1,9 juta unit, serta kumuh turun menjadi 0 Ha. Target penanganan yang telah dicetuskan hanya bisa ditangani secara bersama-sama, melibatkan peran serta aktif, koordinasi dan sinergi dari berbagai sektor dan berbagai pihak. Oleh karena itu keberadaan suatu wadah atau lembaga di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) yang dapat menjembatani kepentingan dan kebutuhan dari berbagai pihak atau berbagai sektor berkaitan dengan bidang perumahan dan kawasan permukiman sangat diperlukan.

C. UU No. 23/2014

Perumahan rakyat, sesuai dengan pembagian urusan di pemerintahan merupakan tanggung jawab dan urusan wajib Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, baik Provinsi dan Kabupaten/Kota. Hal ini tertuang pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menekankan bahwa bidang perumahan rakyat merupakan urusan pemerintahan konkuren (menjadi

(15)

kewenangan antara Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota) yang bersifat wajib berkaitan dengan pelayanan dasar. Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Daerah provinsi dengan Daerah kabupaten/kota walaupun Urusan Pemerintahan sama, perbedaannya akan nampak dari skala atau ruang lingkup Urusan Pemerintahan tersebut. Terkait penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, maka Pemerintah Daerah harus memprioritaskan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar (pasal 11 ayat 3). Pada pasal lainnya, yaitu Pasal 298 Ayat 1 disebutkan bahwa belanja daerah diprioritaskan untuk mendanai urusan pemerintahan wajib yang terkait pelayanan dasar yang ditetapkan dengan standar pelayanan minimal (SPM). Diharapkan seluruh kementerian dan lembaga dapat mengelaborasi arah kebijakan RPJMN ini ke dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/ Lembaga (K/L) 2015 – 2019. Demikian pula halnya dengan pemerintah daerah, diharapkan dapat mengadopsi berbagai program nasional terutama perumahan dan kawasan permukiman ini kedalam perencanaan pembangunan di daerah masing-masing sebagai penjabaran dari RPJMN 2015 – 2019 sekaligus perwujudan Pemerintah Daerah telah memprioritaskan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar (UU 23/ 2014 pasal 11 ayat 3) dan memenuhi harapan sebagian besar masyarakat di perdesaan dan sebagian masyarakat perkotaan yang sangat membutuhkan akses perumahan layak dan terjangkau.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman juga telah memberikan arahan jelas tentang tugas dan wewenang antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan pembinaan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman. UU PKP telah secara jelas mengamanatkan beberapa tugas pemerintah daerah di sektor perumahan, di antaranya adalah: (i) Melaksanakan strategi dan kebijakan perumahan di tingkat Pemda; (ii) menyusun rencana pembangunan dan pengembangan perumahan dan kawasan permukiman; (iii) Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan peraturan terkait perumahan; (iv) Menyelenggarakan fungsi operasionalisasi dan koordinasi pelaksanaan kebijakan daerah; (v) dan Memfasilitasi penyediaan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

(16)

8 Kelembagaan Bidang Perumahan

Kedua peraturan tersebut telah menempatkan pemerintah daerah (selaku pelaku administrasi publik di daerah) menjadi pelaku utama yang menentukan kemajuan sektor perumahan di daerah.

Target pemerintah untuk menjawab permasalahan backlog, RTLH, kumuh dan melaksanakan program sejuta rumah sulit tercapai bila tidak ada dukungan mitra kerja di daerah. Oleh karena itu, diperlukan pelibatan peran dari lembaga pemerintah (sinergisme antara pusat dan daerah) dan non pemerintah untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan perumahan.

D. Kondisi APBN dan APBD

Dari data RPJMN 2015-2019, indikasi kebutuhan investasi untuk perumahan 384 Triliun. Kemampuan APBN dan APBD dalam membiayai proyek infrastruktur tersebut hanyalah 52%. Selanjutnya hanya sekitar 28% yang dibiayai oleh BUMN, pinjaman, penerbitan obligasi dan pembiayaan lainnya. Sehingga masih terdapat celah sebesar 20% dari total kebutuhan infrastruktur yang masih membutuhkan pembiayaan.

Sisa pendanaan diharapkan datang dari partisipasi badan usaha, baik dari BUMN maupun swasta. Alternatif pendanaan yang melibatkan peran dari swasta ini diwadahi dalam bentuk skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

E. Rangkuman

Pembangunan sektor perumahan di Indonesia saat ini tengah menghadapi 2 (dua) tantangan besar yaitu backlog dan rumah tidak layak huni dan permasalahan permukiman kumuh. Pada tahun 2014, backlog berdasarkan konsep penghunian mencapai 7,6 juta unit dan rumah tidak layak huni mencapai 3,4 juta unit, dan luasan kumuh sebesar 38.431 Ha. Merespon kondisi tersebut, Pemerintah telah menetapkan target penanganan tahun 2019, yaitu backlog turun menjadi 5 juta unit dan rumah tidak layak huni menjadi 1,9 juta unit, serta kumuh turun menjadi 0 Ha.

(17)

BAB 3

PENGANTAR PENYELENGGARAAN KEMITRAAN

DAN KELEMBAGAAN

(18)

10 Kelembagaan Bidang Perumahan

Pengantar Penyelenggaraan Kemitraan dan

Kelembagaan

A. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu menjelaskan terkait pengantar penyelenggaraan kemitraan dan kelembagaan.

B. Dasar Hukum

Peraturan perundang-undangan yang mendasari penyelenggaraan kemitraan dan kelembagaan, meliputi:

1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional (SPPN);

3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional;

4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2015 tentang Perusahaan Umum (Perum) Pembangunan Perumahan Nasional;

8. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019;

9. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara;

10. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 14/PERMEN/M/2007 tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sew

11. Peraturan Menteri PPN/Bappenas Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengajuan Usulan, Penilaian, Pemantauan, dan Evaluasi Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri dan Hibah;

(19)

12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 29/PRT/M/2016 tentang Pembentukan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,

C. Pemahaman Dasar

Subdirektorat Kemitraan dan Kelembagaan di bawah Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan, Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) Nomor 15 Tahun 2015 Pasal 54 mempunyai tugas melaksanakan penyiapan pelaksanaan kemitraan dan pembinaan kelembagaan dengan lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah di bidang penyelenggaraan penyediaan perumahan.

D. Kelembagaan

Kelembagaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) didefinisikan sebagai suatu sistem badan sosial atau organisasi yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu.

Menurut Uphoff (1986), kelembagaan diartikan sebagai suatu himpunan atau tatanan norma-norma dan tingkah laku yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk melayani tujuan kolektif yang akan menjadi nilai bersama. Lembaga atau institusi ditekankan pada norma-norma perilaku, nilai budaya dan adat istiadat. Kata kunci dalam definisi kelembagaan:

himpunan atau organisasi tatanan atau sistem norma perilaku

(20)

12 Kelembagaan Bidang Perumahan

tujuan atau nilai bersama

E. Kemitraan

Definisi Kemitraan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) didefinisikan sebagai perihal hubungan (jalinan kerja sama dan sebagainya) sebagai mitra. Kemitraan menurut beberapa sumber dipahami sebagai hubungan kerja sama antara dua pihak atau lebih berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberi manfaat). Secara operasional kemitraan dapat diartikan sebagai upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor, kelompok, masyarakat, lembaga pemerintah atau non pemerintah untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip dan peran masing-masing.

Kata kunci dalam kemitraan mitra (pihak bermitra) kerja sama

kesepakatan

mencapai tujuan bersama pembagian peran

Kemitraan adalah merupakan suatu kesepakatan hubungan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama tertentu. Hubungan kemitraan antara dua pihak atau lebih dapat berupa hubungan dalam tingkatan yang dinilai lebih longgar seperti koordinasi (coordination) hingga tingkatan yang lebih mengikat seperti kerjasama (cooperation) dan kolaborasi (collaboration).

(21)

Kemitraan pada esensinya dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), kemitraan adalah suatu kerjasama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan terentu.

Terdapat 3 (tiga) prinsip kunci yang perlu dipahami dalam membangun suatu kemitraan, yaitu:

1. Prinsip Kesetaraan (Equity), individu, organisasi, atau institusi yang telah bersedia menjalin kemitraan harus merasa sama atau sejajar kedudukannya dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang disepakati;

2. Prinsip Keterbukaan, keterbukaan terhadap kekurangan atau kelemahan masing-masing anggota serta berbagai sumber daya yang dimiliki. Keterbukaan ada sejak awal dijalinnya kemitraan sampai berakhirnya kegiatan. Dengan saling keterbukaan, akan menimbulkan rasa saling melengkapi dan saling membantu di antara golongan (mitra); dan

3. Prinsip Azas Manfaat Bersama (Mutual Benefit), invidu, organisasi, atau institusi yang telah menjalin kemitraan memperoleh manfaat dari kemitraan yang terjalin sesuai dengan kontribusi masing-masing.

Bentuk-bentuk kemitraan dapat tertuang dalam SK Bersama, Kesepakatan Bersama (MoU), Perjanjian Kerjasama (PKS), Kelompok Kerja (Pokja), Forum Komunikasi, dan kontrak kerja/perjanjian kerja.

F. Rangkuman

Kelembagaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) didefinisikan sebagai suatu sistem badan sosial atau organisasi yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu.

Kemitraan adalah merupakan suatu kesepakatan hubungan antara dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama tertentu. Hubungan kemitraan antara dua pihak atau lebih dapat berupa hubungan dalam tingkatan yang dinilai lebih longgar seperti koordinasi (coordination) hingga tingkatan yang lebih mengikat seperti kerjasama (cooperation) dan kolaborasi (collaboration).

(22)
(23)

BAB 4

(24)

16 Kelembagaan Bidang Perumahan

Kerangka Regulasi dan Amanatnya

A. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu menjelaskan kerangka regulasi dan amanatnya.

B. Regulasi dan Amanat Bidang Perumahan

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pasal 18 diamanatkan bahwa Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan perumahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

C. Kerangka Regulasi dan Amanatnya Peran Kelompok Kerja PKP

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman diamanatkan bahwa penyelenggaraan perumahan dan kawasan perumukiman dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran masyarakat.

Dalam Pasal 18 c diamanatkan pemerintah kabutapen/kota dalam melaksanakan pembinaan mempunyai wewenang untuk memberdayakan pemangku kepentingan dalam bidang PKP pada tingkat kabupaten/kota.

Pasal 131 ayat (3) disebutkan peran masyarakat dilakukan membentuk forum pengembangan perumahan dan kawasan permukiman

Pasal 132 ayat (2) diamanatkan bahwa Forum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari unsur:

a) instansi pemerintah yang terkait dalam bidang perumahan dan kawasan permukiman;

(25)

b) asosiasi perusahaan penyelenggara perumahan dan kawasan permukiman; c) asosiasi profesi penyelenggara perumahan dan kawasan permukiman;

d) asosiasi perusahaan barang dan jasa mitra usaha penyelenggara perumahan dan kawasan permukiman;

e) pakar di bidang perumahan dan kawasan permukiman; dan/atau

f) lembaga swadaya masyarakat dan/atau yang mewakili konsumen yang berkaitan dengan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.

D. Regulasi dan Amanat Peran Perumnas

Ruang lingkup penugasan Perumnas tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2015 tentang Perusahaan Umum (PERUM) Pembangunan Perumahan Nasional sebagai:

1. Land Bank Pengelola Lahan Pemerintah

Perumnas berkewenangan membuat perencanaan, peruntukan dan penggunaan tanah termasuk membangun sarana dan prasarananya. Adapun pasal-pasal yang terkait adalah:

Pasal 3 ayat (2a) diamanatkan bahwa pengelolaan tanah yang dikuasai dengan kewenangan perencanaan dan peruntukkan untuk keperluan usaha Perusahaan, dapat dilakukan penyerahanatau pemindahtanganan (menjual) rumah dan bangunan dan/atau bagian-bagian tanah yang merupakan aset dalam bentuk persediaan (inventory)

Pasal 9 ayat (1) s.d. (6) tentang hak pengelolaan dan hak atas tanah

Pasal 12 ayat (2a) disebutkan bahwa kegiatan usaha utama sebagai penyedia tanah

2. Housing & Urban Developer

Pasal 12 ayat (2a) dan (2b) disebutkan bahwa kegiatan usaha utama sebagai penyedia tanah dan sebagai pengembang Perumahan dan Permukiman

(26)

18 Kelembagaan Bidang Perumahan

3. Building / Estate Management

Pasal 3 ayat (2c) disebutkan perumnas sebagai pelaksana pengelolaan Rumah susun Umum Sewa Beli, Rumah Susun Umum Sewa, Rumah Susun Milik, dan Rumah Susun Khusus

E. Rangkuman

Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Pasal 18 diamanatkan bahwa Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan perumahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman diamanatkan bahwa penyelenggaraan perumahan dan kawasan perumukiman dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran masyarakat.

(27)

BAB 5

PENGERTIAN KELEMBAGAAN BIDANG

PERUMAHAN

(28)

20 Kelembagaan Bidang Perumahan

Kelembagaan Bidang Perumahan

A. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu menjelaskan kelembagaan bidang perumahan.

B. Tipologi Lembaga dalam Penyediaan Perumahan

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pasal 654 dan 655, lembaga dalam perspektif penyediaan perumahan dibatasi pada 2 jenis, yaitu lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah di bidang penyelenggaraan penyediaan perumahan.

Yang dimaksud dengan lembaga pemerintah di bidang penyelenggaraan penyediaan perumahan yaitu Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan beserta Direktorat lainnya yang digunakan untu mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran serta melaksanakan strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Lembaga non pemerintah dapat diartikan lembaga yang dibentuk untuk menunjang tugas yang dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan peratauran perundang-undang yang berlaku.

C. Jenis Lembaga Di Bidang Perumahan

Berikut adalah beberapan jenis lembaga yang terdapat di bidang perumahan: 1. Lembaga Pemerintah di bidang penyelenggaraan penyediaan perumahan yaitu

Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan beserta Direktorat lainnya yang digunakan untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran serta melaksanakan strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Lembaga Pemerintah Daerah di bidang penyelenggaran penyediaan perumahan yaitu Organisasi Perangkat Daerah atau dalam hal ini adalah Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman.

(29)

2. Lembaga Non Pemerintah yang terlibat di bidang penyelenggaraan perumahan: a. Badan Usaha/Swasta, BUMN, BUMD, Perusahaan (PMDN/PMA), Pengembang b. Akademisi (peneliti, pemerhati)

c. Masyarakat (P3SRS, Kelompok Masyarakat, LSM)

D. Peran Lembaga

Perangkat kelembagaan di bidang perumahan, merupakan satu kesatuan sistem kelembagaan untuk mewujudkan pembangunan perumahan secara berencana, terarah dan terpadu, baik itu berfungsi sebagai pemegang kebijaksanaan, pembinaan dan pengaturan pada berbagai tingkat pemerintahan, maupun lembaga-lembaga pelaksana pembangunan di sektor dan swasta.

1. Swasta

Peran swasta dalam sektor pembangunan perumahan sangat penting kaena swasta berperan dalam menerjemahkan rencana sektor pembangunan dalam sistem produksi pembangunan perumahan di lapangan dan mengakomodasi

demand (kebutuhan) yang terus meningkat.

2. Pemerintah

Pemerintah Pusat sebagai regulator mempunyai peran yang penting untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang layak huni (livible), aman, nyaman, damai dan sejahtera serta berkelanjutan yang merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Pemerintah wajib memberikan akses kepada masyarakat untuk dapat memperoleh permukiman yang layak huni, sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan sosial.

Berperan menyediakan perumahan untuk masyarakat berbagai golongan baik bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau menengah ke atas walaupun pada kenyataannya pihak swasta lebih berperan dalam menyediakan perumahan untuk golongan menengah ke atas.

Pemerintah Daerah mempunyai peranan penting dalam mengembangkan pembngunan perumahan di masing-masing daerahnya. Pemerintah Daerah ke depannya diharapkan akan menjadi nakhoda pembangunan perumahan. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus mempunyai dokumen perencanaan yang baik. Perencanaan merupakan aspek yang tidak boleh dianggap sebelah mata,

(30)

22 Kelembagaan Bidang Perumahan

dengan perencanaan yang matang, sinergis dan integral dalam setiap sektor akan menghasilkan keluaran pengembangan perumahan perumahan dan kawasan permukiman yang baik. Dengan memiliki dokumen perencanaan, diharapkan arah kebijakan pengembangan perumahan dan permukiman dapat menumbuhkan lingkungan hidup perumahan yang lebih sehat dan terkendali. 3. Akademisi

Universitas dan Badan Peneliti mempunyai peranan yang cukup penting dalam penyediaan perumahan dan diharapkan dapat mengembangkan riset dan inovasi teknologi, industri bahan bangunan dan industri jasa konstruksi. Faktor ini juga merupakan pendukung yang ikut menentukan sukses atau tidaknya program pembangunan perumahan, hal ini dapat dilihat dari produksi bahan bangunan dan distribusinya yang erat kaitannya dengan harga, jumlah dan mutu serta penguasaan akan teknologi pembangunan perumahan.

4. Masyarakat

Berdasaarkan UU 1945 pasal 28 (h) yang menyatakan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak atas perumahan yang layak, dapat diartikan bahwa masyarakat mempunya peran serta dalam penyediaan perumahan. Pemenuhan pembangunan perumahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah akan tetapi menjadi tanggung jawab masyarakat sendiri, baik itu secara perorangan maupun secara bersama-sama. Dalam hal ini, peran pemerintah hanyalah sebagai pengatur, pembina dan membantu serta menciptakan iklim yang baik agar masyarakat dapat memenuhi sendiri kebutuhan akan perumahan mereka. Masyarakat bukanlah semata-mata objek pembangunan, tetapi merupakan subjek yang berperan aktif dalam pembangunan perumahan dan permukiman.

Peran serta masyarakat akan dapat berlangsung lebih baik apabila sejak awal sudah perencanaan pembangunan, agar hasilnya sesuai dengan aspirasi, kebutuhan nyata, kondisi sosial budaya dan kemampuan ekonomi masyarakat yang bersangkutan, dengan demikian perumahan dan permukiman dapat menciptakan suatu proses kemajuan sosial secara lebih nyata.

(31)

E. Kemitraan dan Kelembagaan dalam Penyediaan Perumahan

Kemitraan merupakan salah satu dari asas penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang tertera dalam Pasal 2 Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Kemitraan adalah memberikan landasan agar penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran pelaku usaha dan masyarakat dengan prinsip saling memerlukan, memercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang dilakukan, baik langsung maupun tidak langsung.

Pelaksanaan pembangunan perumahan memerlukan kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendorong terwujudnya perumahan yang layak dan terjangkau, terutama bagi MBR. Kemitraan dalam penyediaan perumahan dapat diwujudkan dalam hal pengadaan lahan; pelaksanaan pembangunan; penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU); pengelolaan bangunan; serta hal lainnya yang berhubungan dengan penyediaan perumahan. Secara berkelanjutan Pemerintah (Kementerian PUPR) menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, Kementerian/Lembaga/Instasi lain, BUMN/BUMD, badan usaha swasta, lembaga pendidikan tinggi, dan masyarakat

F. Hubungan antara Kemitraan dan Kelembagaan

Melihat uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan kemitraan dan

kelembagaan dalam penyelenggaraan penyedian perumahan bersifat

komplementer atau saling melengkapi.

G. Wujud Kegiatan Kelembagaan

Berbagai bentuk kegiatan kelembagaan dalam penyediaan perumahan berupa: a. Pembentukan& pendampingan lembaga perumahan

b. Training of Trainers (ToT), pelatihan c. Bimbingan Teknis

d. Review/ evaluasi penyelenggaraan e. Sosialisasi

(32)

24 Kelembagaan Bidang Perumahan

H. Wujud Kegiatan Kemitraan

Berbagai bentuk kemitraan dapat dijalin antara Pemerintah (Kementerian PUPR) dengan Mitra, dalam bidang perumahan dan permukiman. Kerjasama dapat diwujudkan dalam hal kerja sama luar negeri pengembangan sektor/ bidang perumahan melalui kerja sama bilateral atau multilateral, penyelenggaraan event kolaboratif antara lain hari Habitat Nasional. Kerjasama dengan pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota) atau Kementerian/Lembaga lainnya dalam hal pembangunan fisik (rumah susun, rumah khusus, rumah swadaya) dan penjajakan bermitra/chanelling dengan perusahaan swasta, lembaga pendidikan tinggi, dan masyarakat dalam bidang perencanaan, pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan pengadaan perumahan horisontal maupun perumahan vertikal di seluruh wilayah Indonesia.

I. Rangkuman

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pasal 654 dan 655, lembaga dalam perspektif penyediaan perumahan dibatasi pada 2 jenis, yaitu lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah di bidang penyelenggaraan penyediaan perumahan.

Terdapat dua jenis kelembagaan dalam bidang penyediaan peruamahan, yaitu lembaga pemerintah dan non-pemerintah.

(33)

BAB 6

KERJASAMA ATAU KEMITRAAN BIDANG

PERUMAHAN

(34)

26 Kelembagaan Bidang Perumahan

Kerjasama Atau Kemitraan Bidang Perumahan

A. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu menjelaskan kerjasama atau kemitraan bidang perumahan.

B. Mitra Kerjasama

Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 29/PRT/M/2016 tentang Pembentukan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, bahwa dalam menjalankan tugas dan fungsinya mitra kerjasama dari Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan dalam penyelenggaraan perumahan dapat diterjemahkan sebagai berikut:

1. Pemerintah Daerah

2. Badan Usaha (milik negara atau swasta) 3. Masyarakat

4. Bilateral/Multilateral

5. Kementerian atau Lembaga lainnya

C. Kemitraan Bilateral/Multilatleral

Penyelenggaraan kerjasama luar negeri (KLN) didasarkan pada Kesepakatan Bersama (MOU) Kementerian/Lembaga antar negara yang dikoordinasikan oleh Biro Perencanaan Anggaran dan Kerjasama Luar Negeri (PAKLN) untuk seluruh UNOR dalam Kementerian PUPR. Sedangkan untuk tingkat Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan, dikoordinasikan oleh Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan untuk selanjutnya diselenggarakan oleh direktorat bersangkutan.

1. Kemitraan Multilateral

Kemitraan Bilateral/Hibah Luar Negeri (PHLN) adalah salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh Ditjen Penyediaan Perumahan.:

(35)

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 2011 Tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah, dalam Pasal 1 Ketentuan Umum dijelaskan bahwa:

“Pinjaman Luar Negeri adalah setiap pembiayaan melalui utang yang

diperoleh Pemerintah dari Pemberi Pinjaman Luar Negeri yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.

Hibah Pemerintah, yang selanjutnya disebut Hibah, adalah setiap penerimaan negara dalam bentuk devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari Pemberi Hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri.”

Dari kedua pengertian tersebut terdapat perbedaan yang paling prinsip antara pinjaman dengan hibah luar negeri yaitu pinjaman luar negeri harus dibayar kembali karena merupakan bentuk utang sedangkan hibah luar negeri tidak perlu dibayar kembali. Pinjaman/hibah luar negeri harus dikelola dalam mekanisme APBN. Pengelolaan pinjaman luar negeri menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam kebijakan pengelolaan ekonomi makro.

Pemberi Hibah Luar Negeri, yang selanjutnya disingkat PHLN, adalah pemerintah suatu negara asing, lembaga multilateral, lembaga keuangan dan lembaga non keuangan asing, serta lembaga keuangan non asing, yang berdomisili dan melakukan kegiatan usaha di luar wilayah negara Republik Indonesia, yang memberikan hibah kepada Pemerintah.

Menurut Pasal 3 Menteri berwenang melakukan peminjaman dan atau menerima hibah dari luar negeri. Selanjutnya pinjaman yang dilakukan dapat diteruspinjamkan dan/atau dihibahkan, dan hibah yang diterima dapat diterushibahkan dan/atau dipinjamkan kepada pemerintah daerah dan BUMN. Penggunaan pinjaman luar negeri diatur dalam Pasal 7 sebagai berikut;

(1) Pinjaman Luar Negeri digunakan untuk: a. Membiayai defisit APBN;

(36)

28 Kelembagaan Bidang Perumahan

c. Mengelola portofolio utang;

d. Diterus pinjamkan kepada Pemerintah Daerah; e. Diterus pinjamkan kepada BUMN; dan/atau f. Dihibahkan kepada Pemerintah Daerah

Pinjaman luar negeri yang berasal dari pemerintah/negara asing dikenal dengan istilah pinjaman bilateral. Pinjaman ini diterima Pemerintah Indonesia dari negara/pemerintah asing melalui suatu badan atau lembaga yang dibentuk oleh negara yang bersangkutan yang ditugasi untuk mengelola atau melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberian pinjaman kepada negara lain.

Sebagai salah satu langkah untuk memenuhi target pemerintah dalam RPJMN 2015-2019 dalam hal ini, Ditjen Pembiayaan Perumahan dan Ditjen Penyediaan Perumahan melakukan kerjasama dengan World Bank melalui “National Affordable Housing Program” yang bertujuan meningkatkan akses masyarakat berpendapatan menengah dan rendah kepada rumah terjangkau.

2. Kemitraan Bilateral (Knowledge Sharing)

Kerjasama Kementerian PUPR RI dengan MLIT Jepang diwujudkan dengan pelaksanaan High Level Meeting (HLM) on Infrastructure Development setiap tahunnya dengan lokasi bergantian antara Indonesia dan Jepang. Kegiatan HLM dimaksudkan sebagai sarana pertukaran pengalaman dan ilmu pengetahuan bidang infrastruktur dengan peserta mencakup seluruh Kementerian/Lembaga/ Instansi serta pelaku terkait.

Ditjen Penyediaan Perumahan cq Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan dan Ditjen Pembiayaan Perumahan cq Direktorat Perencanaan Pembiayaan Perumahan bertindak sebagai Koordinator Working Group III –

Housing Sector dengan materi panel:

a. The Role of Housing Finance to Provide Sufficient and Good Quality Houses

in Japan oleh Shoichiro Konishi, Direktur Luar Negeri, Japan Housing Finance Agency;

b. Perumnas’ Role in Housing Provision oleh Galih Prahananto, Direktur Korporasi dan Pengembangan Bisnis, Perum Perumnas;

(37)

c. Indonesia Housing Finance Policy: Developing Primary Market and

Secondary Mortgage Facility oleh Haryo Bekti M., Kepala Subdit Strategi

Pembiayaan dan Analisa Pasar Perumahan, Ditjen Pembiayaan Perumahan dan Sid Kusuma, SVP Pemasaran dan Pengembangan Pasar.

Peserta yang diundang adalah Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian BUMN, Perum Perumnas, dan PT. SMF.

Dalam diskusi disimpulkan bahwa terdapat dua langkah intervensi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan akses perumahan kepada MBR yaitu:

a. Dari sisi supply (penyediaan perumahan), inovasi teknologi konstruksi rumah murah dan dukungan lahan untuk Perum Perumnas;

b. Dari sisi demand (pembiayaan perumahan), pengembangan pembiayaan sekunder perumahan dan perpanjangan tenor kredit rumah menjadi 30–35 tahun.

Rekomendasi tindak lanjut kerjasama untuk bidang penyediaan perumahan dan pembiayaan perumahan adalah perlunya dukungan Jepang untuk Indonesia dalam pengembangan teknologi konstruksi rumah murah dan pengembangan skema pembiayaan perumahan (baik primer maupun sekunder).

3. Bantuan Teknis: Pendampingan Penyusunan NSPK

Kerjasama bidang infrastruktur antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia dan Kementerian Pekerjaan Umum, Transportasi, dan Komunikasi (PUTK) Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) telah ditetapkan berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) tanggal 22 Maret 2011. Pada tahun 2017, implementasi kerjasama secara umum (pada tingkat Kementerian PUPR) dilakukan melalui pembahasan amandemen MoU, sedangkan secara umum (pada tingkat Ditjen Penyediaan Perumahan) dilakukan pengiriman tenaga ahli dalam rangka pendampingan penyusunan NSPK Bidang Perumahan di Timor Leste.

Pelaksanaan pendampingan dilakukan dari bulan April–Desember 2017 dengan daftar NSPK yang disusun sebagai berikut (status Oktober 2017):

(38)

30 Kelembagaan Bidang Perumahan

b. Peraturan Menteri PUTK tentang Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung yang Dibiayai dari Anggaran Negara; dan

c. Peraturan Menteri PUTK tentang Perizinan Bangunan Pribadi.

D.

Kemitraan Lintas Unit Organisasi PUPR

1. Penyelenggaraan Event Kolaboratif

Bersamaan dengan pelaksanaan Konferensi Habitat III di Quito, Ekuador, Bulan Oktober diperingati sebagai Urban October dimana dalam sebulan, kota-kota di dunia akan mendukung gerakan-gerakan yang dapat mengingatkan masyarakat pentingnya sistem perkotaan dalam kehidupan masyarakat.

Hari Habitat Dunia (World Habitat Day) dimulai pada tahun 1985 dimana PBB (melalui Resolusi 40/202) menetapkan Senin pertama bulan Oktober untuk memikirkan kondisi kota dan hak dasar atas hunian yang layak, dan mengingatkan dunia bahwa kita punya kekuatan dan tanggung jawab untuk membentuk masa depan kota dan permukiman yang berkelanjutan. Sedangkan, Hari Kota Dunia (World Cities Day) baru dimulai pada Desember 2013, dimana PBB menetapkan tanggal 31 Oktober sebagai hari untuk meningkatkan perhatian komunitas intenasional tentang urbanisasi global, mendorong kerjasama antara negara, menjawab tantangan urbanisasi dan mendukung pembangunan perkotaan berkelanjutan.

Tema yang diusung oleh Hari Habitat Dunia 2016 adalah Housing at the Center yang bermaksud bahwa rumah sebagai tempat bermula masyarakat belajar, berasal, jiwa masyarakat dimulai dari rumah yang ditempatinya. Indonesia melalui Ditjen Penyediaan Perumahan, Kementerian PUPR menjadi lead untuk peringatan HHD tahun ini. Sedangkan Ditjen Cipta Karya akan fokus pada peringatan Hari Kota Dunia yang jatuh tanggal 31 Oktober dengan tema ‘Inclusive Cities, Shared Development’.

Kegiatan yang dilakukan antara lain: Kampanye Media untuk mendorong perhatian publik pada isu-isu perumahan dan perkotaan di dunia. Kampanye media dilakukan melalui media surat kabar, majalah (advetorial), media workshop, TV dan radio; seminar, diskusi, sosialisasi, peresmian proyek, pameran, peluncuran buku yang terkait program perumahan dan perkotaan

(39)

PUPR dapat menjadi rangkaian acara yang mendukung peringatan seperti lomba foto, lomba poster, lomba jurnalis.

2. Knowledge Sharing

Mitra dari Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan dalam kegiatan KPBU tahun 2016 adalah Direktorat Bina Investasi Infrastruktur, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi. Direktorat Bina Investasi Infrastruktur menjadi mitra tunggal dalam kegiatan ini karena rangkaian kegiatan KPBU yang terjadi di Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan adalah dalam rangka mendukung kegiatan di direktorat tersebut yang sedang mempersiapkan Direktorat Jenderal Bina Konstruksi sebagai Simpul Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Hubungan timbal balik atau kemitraan antara Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan dan Direktorat Bina Investasi Infrastruktur berupa transfer pengetahuan dan informasi.

Direktorat Bina Investasi Infrastruktur mewakili Direktorat Jenderal Bina Konstruksi melakukan penyebaran informasi melalui rangkaian kegiatan: sosialisasi, konsinyasi, workshop, talkshow, maupun Focus Group Discussion. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Direktorat Bina Investasi Infrastruktur melakukan transfer pengetahuan kepada para peserta (termasuk Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan) tentang berbagai tema substansi berkaitan dengan penyelenggaraan KPBU dalam pembangunan infrastruktur PUPR.

Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan yang diwakili oleh Sub Direktorat Kemitraan dan Kelembagaan mendukung rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Investasi Infrastruktur dengan menjadi peserta aktif berkontribusi memberikan masukan maupun informasi pada rangakaian kegiatan tersebut. Kontribusi dengan memberi masukan maupun pertanyaan secara lisan disampaikan pada kegiatan FGD, sosialisasi. Konsinyasi, sedangkan penyampaian data atau informasi secara tertulis sesuai dengan permintaan atau kebutuhan dari Direktorat Bina Investasi Infrastruktur dilakukan pada proses penyusunan kajian.

(40)

32 Kelembagaan Bidang Perumahan

3. Kerjasama Berbasis Program dan Tusi

Dalam rangka untuk memfasilitasi kegiatan kerjasama berbasis program dan tusi, Ditjen Penyedian Perumahan mempunyai mekanisme dalam penyusunan draft MoU dan PKS sebagai berikut:

a. Subdit Kemitraan Dan Kelembagaan, Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai diatur dalam Permen PUPR Nomor 15/PRT/M/2015 tentang.terkait kerjasama yang dilaksanakan oleh Ditjen Penyediaan Perumahan dengan lembaga atau instansi lain, mempunyai tugas terkait kelembagaan terlibat dalam berkoordinasi dengan lembaga atau instansi tersebut;

b. Subdit Standar Dan Pedoman yang ada di lingkungan Ditjen Penyediaan Perumahan dalam penyelenggaraan MoU dan PKS mempunyai tugas terkait subtansi yang diatur dalam MoU dan PKS tersebut;

c. Bagian Hukum Dan Komunikasi Publik, Setditjen Penyediaan Perumahan mempunyai tugas memastikan muatan dalam draft MoU dan PKS tersebut sudah sesuai dengan ketentuan legal drafter dan memastikan muatan MoU dan PKS tersebut sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pada tahun 2017, kegiatan kerjasama berbasis program dan tugas dan fungsi kemitraan telah memfasilitasi penandatangan:

(i) 4 (empat) Kesepakatan Bersama dengan Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Agama, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan Kementerian Pertanian;

(ii) 1 (satu) Kesepakatan Bersama dengan Lembaga Sandi Negara;

(iii 4 (empat) perjanjian kerjasama pembangunan rumah susun bagi pegawai di Kementerian/Lembaga;

(iv) 13 (tiga belas) perjanjian kerjasama dengan perguruan tinggi tentang pembangunan rumah susun bagi mahasiswa; dan

(v) 24 (dua puluh empat) perjanjian kerjasama dengan pondok pesantren tentang pembangunan rumah susun bagi pondok pesantren.

(41)

E. Bentuk Dokumen Legalitas Kerjasama

Penyelenggaraan pembangunan perumahan bersifat multisektoral melibatkan peran dari berbagai pemangku kepentingan serta memerlukan koordinasi dan komitmen dari setiap pelaku pembangunan. Dalam hal penyediaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) membutuhkan suatu kerja sama antara dua atau lebih pihak. Kerja sama tersebut perlu dituangkan dalam suatu nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) serta Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Kesepakatan Bersama (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS)merupakan salah satu pembentukan hukum di bidang pekerjaan umum dengan didukung metode baku yang mengikat para pihak yang menandatangani.

1. Letter/Memorandum of Agreement (LOA/MOA – Loan)

Loan Agreement sebagai perjanjian internasional merupakan salah satu inovasi pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan dan Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan telah melakukan Perjanjian Internasional dengan World Bank dalam rangka untuk memenuhi target pemerintah yang tercantum dalam RPJMN 2015-2019

Dalam UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Pasal 1 angka 1, Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.

Selanjutnya, Pasal 4 ayat (1) UU PI dikatakan bahwa Pemerintah RI membuat perjanjian dengan satu negara ataw lebih, organisasi internasional, atau subjek hukum internasional lain berdasarkan kesepakatan, dan para pihak berkewajiban untuk melaksanakan perjanjian tersebut dengan itikad baik. 2. Memorandum of Understanding (MoU)

Memorandum of Understanding (MoU) atau disebut juga kesepakatan bersama merupakan perjanjian yang tidak mengikat para pihak dalam artian baru bentuk kesepakatan diantara para pihak.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 29/PRT/M/2016 tentang Pembentukan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian

(42)

34 Kelembagaan Bidang Perumahan

Kerjasama di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kesepakatan Bersama adalah penyelarasan suatu keinginan atau harapan yang timbul untuk melaksanakan suatu kegiatan atau urusan tertentu dalam bentuk kesepakatan diantara para pihak tanpa merinci hak dan kewajiban para pihak. 3. Perjanjian Kerja Sama (PKS)

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 29/PRT/M/2016 tentang Pembentukan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Perjanjian Kerjasama adalah perbuatan hukum para pihak yang merupakan tindak lanjut kesepakatan bersama atau tanpa kesepakatan bersama, yang memuat uraian isi kesepakatan dan didalammnya mengatur hak dan kewajiban serta akibat hukum apabila terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam perjanjian.

F. Pengembangan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha

Kebijakan RPJMN 2015-2019 memperkirakan bahwa kebutuhan investasi infrastruktur prioritas mencapai 4.796 Trilyun Rupiah. Sementara itu, ketersediaan pendanaan fiskal yang ada hanya mencapai 30% dari kebutuhan tersebut. Sisa pendanaan diharapkan datang dari partisipasi badan usaha, baik dari BUMN maupun swasta. Alternatif pendanaan yang melibatkan peran dari swasta ini diwadahi dalam bentuk skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Pemerintah menunjukkan keseriusannya untuk mengembangkan KPBU dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 yang menggantikan peraturan sebelumnya (Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 dan perubahannya) tentang Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Salah satu perubahan penting pada peraturan tersebut adalah ditambahkannya jenis-jenis infrastruktur sosial, yang umumnya tidak menghasilkan pendapatan/tarif dari penggunanya atau hanya menghasilkan pendapatan yang relatif kecil dari penggunanya sehingga kurang menguntungkan bagi swasta, yaitu: infrastruktur lembaga pemasyarakatan; infrastruktur kesehatan; infrastruktur perumahan rakyat; infrastruktur sarana dan prasarana olah raga serta kesenian.

Peraturan tersebut diikuti dengan beberapa peraturan turunannya, antara lain Peraturan Menteri PPN/Bappenas Nomor 4 Tahun 2015 tentang Tata Cara

(43)

Pelaksanaan Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur; dan Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Nomor 19 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Badan Usaha Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Berbagai peraturan tersebut dibuat untuk menarik minat dan partisipasi swasta pada pengadaan jenis-jenis infrastruktur sosial atau publik.

Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, maka pembangunan infrastruktur perumahan rakyat mempunyai peluang untuk didanai dengan skema KPBU. Infrastruktur perumahan rakyat yang dimaksud oleh Perpres 38/2015, yaitu: perumahan rakyat untuk golongan rendah dan rumah susun sederhana sewa. Selama ini, penyediaan infrastruktur perumahan rakyat hanya mengandalkan pendanaan dari Pemerintah saja (ketersediaan dana Pemerintah hanya 33 T dari kebutuhan 184 T), dikhawatirkan jika terus begini, target penyediaan perumahan tidak dapat tercapai dengan optimal. Penggunaan skema KPBU sebagai alternatif pendanaan untuk penyediaan perumahan diharapkan dapat membantu mempercepat penyelesaian 2 (dua) tantangan besar dalam penyediaan perumahan, yaitu Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan backlog.

Manfaat KPBU bidang Perumahan

 Terjadi pengurangan biaya siklus hidup proyek dengan adanya inovasi

(bundling, desain)

 Mitigasi beban fiskal pemerintah

 Peningkatan kualitas konstruksi dan pemeliharaan

Pembagian resiko konstruksi dan pemeliharaan (Risk Sharing)

 Penyediaan konstruksi dan operasi tepat waktu

G. Rangkuman

1. Kerjasama dari Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan dalam penyelenggaraan perumahan dapat diterjemahkan sebagai berikut:

 Pemerintah Daerah

 Badan Usaha (milik negara atau swasta)

 Masyarakat

 Bilateral/Multilateral

(44)

36 Kelembagaan Bidang Perumahan

2. Bentuk dokumen legalitas kerjasama dapat berbentuk :

Letter/Memorandum of Agreement (LOA/MOA – Loan)

Loan Agreement sebagai perjanjian internasional merupakan salah satu inovasi pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan dan Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan telah melakukan Perjanjian Internasional dengan World Bank dalam rangka untuk memenuhi target pemerintah yang tercantum dalam RPJMN 2015-2019

Memorandum of Understanding (MoU)

Memorandum of Understanding (MoU) atau disebut juga kesepakatan bersama merupakan perjanjian yang tidak mengikat para pihak dalam artian baru bentuk kesepakatan diantara para pihak.

Perjanjian Kerja Sama (PKS)

Perjanjian Kerjasama adalah perbuatan hukum para pihak yang merupakan tindak lanjut kesepakatan bersama atau tanpa kesepakatan bersama, yang memuat uraian isi kesepakatan dan didalammnya mengatur hak dan kewajiban serta akibat hukum apabila terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam perjanjian.

(45)

BAB 7

PEMBINAAN KELEMBAGAAN BIDANG

PERUMAHAN

(46)

38 Kelembagaan Bidang Perumahan

Pembinaan Kelembagaan Bidang Perumahan

A. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu menjelaskan pembinaan kelembagaan bidang perumahan.

B. Pembentukan dan Pendampingan Kelompok Kerja PKP

Pembentukan Pokja PKP di daerah pada dasarnya merupakan wujud pelaksanaan amanat Pasal 131 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016. Selain itu, juga merupakan bentuk respon terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016, yang memasukkan urusan perumahan rakyat dan kawasan permukiman sebagai urusan pemerintahan wajib. Keempat peraturan tersebut menjadi dasar kuat untuk pembentukan Pokja PKP di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) sejatinya dibentuk untuk menjawab isu, permasalahan, dan tantangan dalam penyediaan perumahan dan pengelolaan kawasan permukiman di daerah. Pokja PKP diandalkan dalam menjawab isu, permasalahan, dan tantangan tersebut karena Pokja PKP yang bersifat inklusif dipercayai mempunyai kemampuan, komitmen, dan kekuatan bersama yang cukup kuat untuk melakukan sinergi dan komunikasi yang dapat menjembatani berbagai fungsi dari regulator, operator, dan penerima manfaatn Pokja PKP di daerah.

Dari data yang telah dilakukan sejak tahun 2015 dan 2016 melalui Kegiatan Dekonsentrasi Bidang Perumahan dan dilanjutkan melalui kegiatan Fasilitasi Pokja PKP Provinsi Tahun 2017, di tingkat Provinsi seluruh Pokja PKP telah terbentuk di 34 provinsi, dan sebanyak 227 Pokja PKP di tingkat Kabupaten/Kota. Melihat hal tersebut, terlihat jelas bahwa isu Perumahan dan Kawasan Permukiman menjadi penting dan membutuhkan peran berbagai macam sektor dalam mengatasinya.

C.

Pembentukan Badan Pengelolaan Rusun

1. Penyelenggaraan Rumah Susun Milik

Pengembang harus memfasilitasi terbentuknya Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun atau yang disebut P3SRS. P3SRS akan membentuk

(47)

unit pengelola, dan dapat menunjung pengembang, atau badan usaha lain sebagai Badan Pengelola.

Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Rusun No. 20 Tahun 2011 pada pasal 56 bahwa pengelolaan rumah susun harus berbadan hukum dan harus mendaftar dan mendapatkan izin usaha dari bupati/walikota Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta, badan hukum harsus mendaftar dan mendapatkan izin usaha dari Gubernur.

(1) Besarnya biaya pengelolaan dihitung berdasarkan kebutuhan nyata biaya

operasional, pemeliharaan dan perawatan. Tugas badan pengelola yang

dibentuk oleh PPRS adalah :

a. Melaksanakan pemeriksaan, pemeliharaan, kebersihan dan perbaikan rusun dan lingkungannya pada bagian-bersama, benda-bersama dan tanah-bersama;

b. Mengawasi ketertiban dan keamanan penghuni serta penggunaan bagian-bersama, benda-bersama dan tanah-bersama sesuai dengan peruntukannya;

c. Secara berkala memberikan laporan kepada dewan pengurus pprs sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan disertai permasalahan dan usulan penyelesaiannya.

2. Penyelenggaraan Rumah Susun Sewa

a. Untuk Rusun sewa milik swasta, Pengembang tetap hadir melalui unit pengelola yang dibentuknya

b. Untuk Rusun Sewa milik Pemerintah/Pemda, pengelolaan dilakukan dengan:

1) Menunjuk/membentuk UPTD di bawah Dinas PKP 2) Menunjuk BUMN (Perumnas)

3) Membentuk BUMD

4) Bagi Lembaga Non Pemerintah Daerah, pengelolaan Rumah Susun Sewa dilakukan dengan menunjuk masing-masing unit pengelolanya

(48)

40 Kelembagaan Bidang Perumahan

Badan pengelola bertugas melakukan pengelolaan rusunawa untuk menciptakan kenyamanan dan kelayakan hunian dan bukan hunian serta kelangsungan umur bangunan rusunawa.

D. Penguatan Peran Perumnas

Penguatan Perumnas sebagai pengembang perumahan nasional merupakan sebuah amanat yang telah diarahkan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005 – 2025. Hal ini ditujukan untuk pengelolaan rumah, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, lebih terkendali. Pengelolaan lahan melalui mekanisme HPL serta pengelolaan aset melalui peran sebagai off-taker perlu dikaji sehingga peningkatannya mampu selaras dengan tujuan penyediaan perumahan bagi berbagai kelompok masyarakat di Indonesia.

Melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2015, Pemerintah merevitalisasi Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional atau Perumnas (National Housing Corporation) dengan pelaksanaan penugasan utama, yaitu sebagai:

a. Penyedia & Pengelola Tanah

b. Pelaksana peran sebagai Pelaksana Penyedia Perumahan Rakyat & Pembangunan Permukiman

c. Pengelola Bangunan dan Permukiman Rakyat.

Tujuan dari penguatan terhadap peran Perumnas, untuk: (i) memampukan Perumnas dalam memproduksi dan menyampaikannya (delivery) rumah dengan berbagai alternatif pilihan hunian sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya; (ii) memampukan Perumnas menjadi pengembang perumahan perkotaan terjangkau yang berorientasi pada pemberian pelayanan prima bagi konsumennya; (iii) memampukan Perumnas untuk mendapatkan atau menambah cadangan tanah dan mengelola lahan yang dipunyai serta mengembangkan pemanfaatannya untuk penyediaan perumahan dan pengembangan perkotaan; dan (iv) memampukan Perumnas untuk mengelola aset bangunan, gedung maupun properti yang telah dibangunnya agar kualitas terjaga secara berkelanjutan.

(49)

E. Rangkuman

Pembentukan Pokja PKP di daerah pada dasarnya merupakan wujud pelaksanaan amanat Pasal 131 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016. Selain itu, juga merupakan bentuk respon terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016, yang memasukkan urusan perumahan rakyat dan kawasan permukiman sebagai urusan pemerintahan wajib. Keempat peraturan tersebut menjadi dasar kuat untuk pembentukaPokja PKP di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) sejatinya dibentuk untuk menjawab isu, permasalahan, dan tantangan dalam penyediaan perumahan dan pengelolaan kawasan permukiman di daerah. Pokja PKP diandalkan dalam menjawab isu, permasalahan, dan tantangan tersebut karena Pokja PKP yang bersifat inklusif dipercayai mempunyai kemampuan, komitmen, dan kekuatan bersama yang cukup kuat untuk melakukan sinergi dan komunikasi yang dapat menjembatani berbagai fungsi dari regulator, operator, dan penerima manfaatn Pokja PKP di daerah.

F. Latihan

1. Jelaskan pengertian kelembagaan dan kemitraan menurut yang Anda ketahui!

2. Sebutkan bentuk-bentuk dokumen legalitas yang Anda ketahui !

3. Jelaskan urgensi pembentukan kelompok kerja bidang perumahan dan permukiman menurut yang Anda tahu!

(50)
(51)

BAB 8

(52)

44 Kelembagaan Bidang Perumahan

Penutup

A. Simpulan

1. Saat ini, perumahan menghadapi tantangan lingkungan strategis yang semakin berat, yang dapat dilihat dari peningkatan jumlah kekurangan rumah backlog 7,6 juta unit pada tahun 2014 berdasarkan konsep penghunian (Sumber: Perpres No.2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019), backlog sebesar 13,5 juta unit pada tahun 2014 berdasarkan konsep kepemilikan (Sumber: BPS dan Bappenas), dan 3,4 juta unit RTLH (Sumber: Proyeksi Data Inperkesling BPS) dengan pertambagan rumah tangga baru sebesar sekitar 800 ribu unit pertahunna melalui sejuta rumah.

2. Penyelenggaraan pembangunan perumahan bersifat multisektoral melibatkan peran dari berbagai pemangku kepentingan serta memerlukan koordinasi dan komitmen dari setiap pelaku pembangunan. Dalam hal penyediaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dibutuhkan suatu kerja sama dengan berbagai pihak baik dalam dan luar negeri.

3. Pencapaian hunian yang layak tidak dapat dicapai tanpa keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan, karena pada dasarnya pembangunan penyelenggaraan pembangunan perumahan bersifat multisektor dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pelaku usaha atau swasta dan juga masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan perumahan sangat bergantung pada sinergitas antara seluruh pemangku kepentingan baik di tingkat pusat dan daerah.

4. Kemitraan merupakan salah satu dari asas penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman yang tertera dalam Pasal 2 Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Kemitraan adalah memberikan landasan agar penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman dilakukan oleh Pemerintah dan

(53)

Pemerintah Daerah dengan melibatkan peran pelaku usaha dan masyarakat dengan prinsip saling memerlukan, memercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang dilakukan, baik langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian hubungan kemitraan dan kelembagaan dalam penyelenggaraan penyedian perumahan bersifat komplementer atau saling melengkapi.

B. Tindak Lanjut

Pelatihan ini perlu ditindaklanjuti dengan pelatihan terkait materi pembinaan kelembagaan untuk (1) Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) dan (2) Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

(54)

46 Kelembagaan Bidang Perumahan

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN);

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional;

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah;

Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2015 tentang Perusahaan Umum (Perum) Pembangunan Perumahan Nasional;

Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019;

Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara;

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 14/PERMEN/M/2007 tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sew

Peraturan Menteri PPN/Bappenas Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengajuan Usulan, Penilaian, Pemantauan, dan Evaluasi Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman Luar Negeri dan Hibah;

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 29/PRT/M/2016 tentang Pembentukan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerjasama di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,

(55)

GLOSARIUM

Kelembagaan

Suatu sistem badan sosial atau organisasi yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu.

Kemitraan Suatu kesepakatan hubungan antara dua pihak atau

lebih untuk mencapai tujuan bersama tertentu. Hubungan kemitraan antara dua pihak atau lebih dapat berupa hubungan dalam tingkatan yang dinilai lebih longgar seperti koordinasi (coordination) hingga tingkatan yang lebih mengikat seperti kerjasama

(cooperation) dan kolaborasi (collaboration).

Perjanjian Internasional

Perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.

Gambar

Gambar 1 Kelembagaan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kasus Kota Bandung, kegiatan yang dilakukan harus disesuaikan untuk memastikan kampanye tidak hanya mengangkat isu konsumsi alkohol di bawah umur, tetapi juga konsumsi

DAM EVALUASI STATUS KESUBURAW TAMAH Dl BAWAH VEGETASI BAMBU.. Dl DESA KALIMULYA, KECAMATAN SUKMAJAYA, KRBUPATEW

Studi Tentang Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur’an al-Karim. Studi al-Qur‟an

Dengan memperhatikan dua hal di atas, observer akan terdorong untuk menemukan jawaban-jawaban theologis yang relevan terhadap situasi aktual dengan tetap berpijak

Bekasi Timur Kota Bekasi, ditangkap oleh saksi Agus Triyono bersama dengan saksi Koko Rizqi dan saksi Popianto serta saksi Puji Joko Bintoro yang mendapat

Karakter (Dalam mm) Melem Biru dari Kab. Ponorogo dan Kab. Jumlah jari jari sirip dorsal Ikan Melem Biru Kab. Jumlah jari jari sirip anal Malang Ikan Melem Biru

Jika dibandingkan kadar boraks bakso tusuk dari produsen dan yang dibuat sendiri oleh pedagang menunjukkan hasil bahwa kadar boraks dari produsen lebih besar dengan kadar

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dengan melakukan teknik dokumetasi yaitu dengan mencatat atau mengkopi data historis harga penutupan saham bulanan perusahaan