Oleh/by:
Siti Junawaroh, Cece Sobarna, Wahya, Sugeng Riyanto Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran [email protected]
*) Diterima: 27 April 2020; Disetujui: 10 September 2020
ABSTRAK
Bahasa Sunda Brebes merupakan salah satu bahasa daerah yang hidup di antara bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa internasional. Tulisan ini mengkaji sikap bahasa perempuan dan laki-laki Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Brebes. Hal ini penting dilakukan untuk mengungkap kedudukan bahasa Sunda Brebes bagi penuturnya. Perempuan Sunda biasanya memilih bahasa yang menurut mereka “baik”. Penelitian sikap bahasa dari sisi gender ini untuk melihat sikap positif bahasa Sunda Brebes perempuan dan laki-laki pada bahasa Sunda Brebes. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jumlah responden 400 orang. Hasil kajian menunjukkan bahwa sikap bahasa laki-laki terhadap bahasa Sunda Brebes lebih positif daripada perempuan. Kecenderungan sikap bahasa laki-laki adalah positif tinggi, sedangkan perempuan adalah positif rendah. Hal ini ditunjukkan dengan sikap kaum perempuan Sunda Brebes yang kurang percaya diri dengan bahasa Sunda Brebes. Pengakuan dan pembinaan bahasa Sunda Brebes menjadi penting untuk mempertahankan keberadaan bahasa itu.
Kata kunci: gender, sikap bahasa, bahasa Sunda Brebes, pemertahanan bahasa ABSTRACT
Brebes Sundanese is one local among di existence of Javanese, Indonesian, and international language. This paper discussed the language attitudes of male and female Brebes Sundanese people to Brebes Sundanese language. This is necessary to make in revealing the position of Brebes Sundanese language for its user. Females usually select "good" language. The research on language attitudes from gender side possibly see the positiveness of both males' and females' Brebes Sundanese language as Brebes Sundanese language users. This research used a quantitative approach with a total of 400 respondents. The research result showed that the males had more positive language attitudes than the females. The males' language attitudes tended to be high positive, while the females' tended to be low positive. These we're proven by the attitudes of female Brebes Sundanese people who we're less confident with their Brebes Sundanese language. Brebes Sundanese language acknowledgement and supervision are greatly required to maintain its existence.
Keywords: gender, language attitude, Brebes Sundanese language, language maintenance.
PENDAHULUAN
Bahasa Sunda Brebes digunakan sebagai istilah bahasa Sunda yang
dipakai oleh komunitas Sunda di Kabupaten Brebes. Pemakaian bahasa Sunda Brebes terbatas pada komunikasi lisan. Komunitas Sunda
116
bertahan hidup dengan bahasa Sunda di tengah keharusan mereka berinteraksi dengan budaya dan bahasa yang lebih dominan di Jawa Tengah, yakni budaya dan bahasa Jawa. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara turut mengisi ranah-ranah kehidupan masyarakat Sunda Brebes. Ditambah dengan keberadaan bahasa internasional, khususnya bahasa Inggris, melalui pendidikan dan media, ikut memengaruhi kehidupan masyarakat Sunda Brebes. Bahasa Sunda Brebes dalam hal ini dimasukkan dalam bahasa berpotensi terancam, yakni bahasa dengan jumlah penutur banyak (termasuk generasi muda) tetapi tidak mempunyai status resmi atau tidak prestisius (mengacu pendapat [Salminem, 1999]).
Bahasa Sunda digunakan oleh masyarakat di Kecamatan Salem serta sebagian besar masyarakat di Kecamatan Bantarkawung dan Kecamatan Banjarharjo. Selain itu, ada beberapa desa yang menggunakan bahasa Sunda di Kecamatan Ketanggungan, Losari, Kersana, Tanjung, dan Larangan (Junawaroh, Sobarna, Wahya, & Riyanto, 2018).
Kajian ini berisi sikap bahasa laki-laki dan perempuan penutur bahasa Sunda Brebes. Bagaimana sikap bahasa mereka terhadap bahasa Sunda Brebes. Apakah positif ataukah negatif. Tujuan kajian ini mendeskripsikan sikap bahasa masyarakat Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Brebes secara umum. Khususnya sikap bahasa masyarakat Sunda Brebes menurut karakteristik gender.
Penelitian terdahulu menyatakan bahwa perempuan cenderung
memiliki sikap positif terhadap bahasa pertama (Yildiz & Kiziltas, 2018) dan bahasa kedua (Slik, Hout, & Schepens, 2015). Sikap bahasa pelajar perempuan Turki lebih baik dari pada pelajar pria terhadap bahasa Turki (Yildiz & Kiziltas, 2018). Pelajar perempuan secara konsisten mengungguli kemampuan pelajar laki-laki dalam penguasaan bahasa Belanda sebagai bahasa kedua (Slik, Hout, & Schepens, 2015).
Dalam kajian ini, istilah gender dipilih dari pada jenis kelamin dengan pertimbangan bahwa istilah jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis, sedangkan istilah gender merujuk pada kriteria sosial budaya (Meyerhoff, 2006: 202). Secara sosial, laki-laki berbeda dengan perempuan. Begitu pula dengan pola tingkah laku mereka yang juga berbeda. Adanya keragaman bahasa berdasarkan gender karena bahasa menjadi cermin kenyataan sosial. Bahasa juga sebagai gejala sosial yang erat hubungannya dengan sikap sosial.
Bahasa kaum perempuan bukan hanya berbeda, melainkan juga lebih “benar”. Penelitian sosiologi menjelaskan bahwa kaum perempuan umumnya lebih sadar kedudukannya daripada laki-laki. Atas dasar itu perempuan lebih peka terhadap faktor kebahasaan yang dihubungkan dengan kelas sosial. Tutur kelas pekerja mempunyai konotasi kejantanan atau ada hubungannya dengan kejantanan, yang mengakibatkan kaum laki-laki cenderung lebih menyukai bentuk bahasa nonbaku (yang menyimpang dari yang baik) dibandingkan perempuan (Wibowo, 2012). Perempuan lebih merasa perlu
117
berhati-hati dalam berbahasa. Kehati-hatian ini tampak dalam kebiasaannya yang lebih menaati norma-norma baku kebahasaan dan kecenderungan untuk selalu menggunakan bahasa yang berprestise (Trudgill, 1984).
Melalui sudut pandang sosiolinguistik, sikap bahasa dapat memprediksi situasi kebahasaan pada masyarakat aneka bahasa. Selanjutnya, kriteria sikap bahasa ini dianalisis dengan parameter psikologi. Sikap bahasa sebagai bagian dari sikap secara keseluruhan dapat dianalisis dengan menggunakan indikator sikap, yakni kognitif, afektif, dan konatif.
Keberlangsungan bahasa Sunda Brebes dipengaruhi sikap penutur terhadap bahasanya. Holmes (Holmes, 2013: 63) menemukan bahwa sikap positif memotivasi penutur bahasa minoritas untuk menggunakan bahasa mereka di berbagai ranah dan ini membantu memperlambat pergeseran bahasa ke bahasa dominan. Pemertahanan bahasa akan menjadi sulit jika terdapat sikap negatif terhadap bahasa setempat di masyarakat. Sikap bahasa juga memiliki pengaruh terutama pada pergeseran dan pemeliharaan bahasa antara masyarakat Tonga, Yunani dan Cina di Selandia Baru (Holmes, 2013: 63).
Trudgill (2003: 73) melihat sikap bahasa sebagai sikap manusia secara positif atau sebaliknya terhadap bahasa, dialek, logat dan penutur bahasa yang berlainan. Sikap bahasa tidak hanya ditunjukkan dalam penilaian objektif terhadap ciri-ciri penutur, tetapi juga dalam penilaian objektif terhadap nilai estetika, tingkat standar, dan penggunaan suatu variasi (Trudgill, 2003: 73). Sikap
bahasa adalah posisi mental atau perasaan penutur terhadap bahasa itu sendiri atau orang lain (Kridalaksana, 1993: 153).
Secara umum, kelompok mentalisme mengelompokkan sikap bahasa dalam tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan konatif (Fasold, 1984: 148); (Triandis, 1971: 2—3). Aspek kognitif berkaitan dengan fakta, pemikiran, dan kepercayaan terhadap bahasa, yang biasanya dipengaruhi oleh aspek demografi, warisan kebudayaan, pentingnya sosial politik, situasi ekonomi, dan kompleksitas sistem kebahasaan. Aspek afektif berkaitan dengan perasaan tentang bahasa. Posisi seorang penutur suatu bahasa dalam menempatkan diri sendiri di antara bahasa-bahasa lain. Apakah satu bahasa dikatakan inferior, superior, atau seimbang, perasaan takut atau percaya diri menggunakan satu bahasa. Aspek konatif berkaitan dengan kesiapan atau kemauan untuk bertindak dengan tujuan. Ketiga aspek sikap bahasa tersebut berkaitan dengan dasar pemilihan masyarakat Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Brebes di antara sekian bahasa yang akan digunakan sebagai alat komunikasi, yakni bahasa Sunda Priangan, bahasa Jawa, dan bahasa Indonesia.
Urgensi penelitian sikap bahasa dalam masyarakat aneka bahasa seperti di Kabupaten Brebes menjadi penting dilakukan bagi perancang dan pembuat kebijakan bahasa untuk memahami sikap masyarakat terhadap bahasa mereka sendiri, termasuk ragam-ragamnya, dan juga terhadap bahasa lain. Pengetahuan tentang sikap bahasa dapat membantu untuk mengantisipasi cara masyarakat
118
dalam merespons perencanaan bahasa dan dalam penentuan bahasa atau ragam bahasa yang dianggap paling patut untuk pengembangan bahasa.
Tulisan ini menggunakan metode kuantitatif. Indikator variabel sikap bahasa dalam penelitian ini meliputi pernyataan sikap bahasa yang dijabarkan dalam dimensi kognitif, afektif, dan konatif.
Penutur bahasa Sunda Kabupaten Brebes sekitar 270 ribu orang yang tersebar di delapan kecamatan dari total 1.788.880 penduduk Kabupaten Brebes atau sekitar 14 persen dari penduduk Kabupaten Brebes (data diolah dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Brebes 2017). Penetapan responden dilakukan dengan sampel bertujuan atau purposive sampling. Responden dipilih yang memenuhi syarat menetap di wilayah penutur bahasa Sunda Brebes, lahir di wilayah Sunda Brebes, dan orang tua merupakan penutur bahasa Sunda Brebes. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket yang terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang mengukur sikap bahasa berjumlah 42 pertanyaan meliputi 14 pertanyaan kategori kognitif, 14 kategori afektif, dan 14 kategori konatif. Dengan pengujian validitas diperoleh 41 pertanyaan.
Tabel 1
Karakteristik Responden Berdasarkan Gender
No. Gender Jumlah Persentase
1. Laki-laki 197 49.25
2. Perempuan 203 50.75
Jumlah 400 100.00
Tabel tersebut terlihat bahwa banyaknya responden adalah 400 orang, terdiri atas 197 orang (49,25%) laki-laki dan 203 orang (50,75%) perempuan.
Data berupa kuesioner. Analisis kuantitatif dilakukan berdasarkan jawaban-jawaban atas pertanyaan
yang diberikan dan diberi bobot berdasarkan skala likert.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kecenderungan Sikap Bahasa Laki-laki dan Perempuan Sunda Brebes
Sikap Positif Laki-laki terhadap Bahasa Sunda Brebes
a. Laki-laki cenderung tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Indonesia.
Tabel 2
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Saya percaya bahwa lama kelamaan bahasa Sunda Brebes
akan terganti oleh bahasa Indonesia. Juml ah SS S R TS STS Ge nd er lak i-lak i Jumlah 14 35 37 90 21 197 % Berdasarka n Gender 7.1% 17.8 % 18.8 % 45.7 % 10.7 % 100.0 % % Keseluruha n 3.5% 8.8% 9.3% 22.5 % 5.3% 49.3 % per em pu an Jumlah 21 61 24 83 14 203 % Berdasarka n Gender 10.3 % 30.0 % 11.8 % 40.9 % 6.9% 100.0 % % Keseluruha n 5.3% 15.3 % 6.0% 20.8 % 3.5% 50.8 % Jumlah Jumlah 35 96 61 173 35 400 % Berdasarka n Gender 8.8% 24.0 % 15.3 % 43.3 % 8.8% 100.0 % % Keseluruha n 8.8% 24.0 % 15.3 % 43.3 % 8.8% 100.0 %
Tabel 2 terlihat bahwa lebih dari setengah responden laki-laki bersikap positif terhadap bahasa Sunda Brebes dengan 56,4% menyatakan tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Indonesia. Hampir setengah dengan
119
responden perempuan (47,8%) menyatakan tidak percaya. Sebagian kecil responden laki-laki (18,8%) dan responden perempuan (11,8%) menyatakan ragu-ragu. Sebagian kecil responden laki-laki (24,9%) dan hampir setengah responden perempuan (40,3%) menyatakan bahwa mereka percaya lama kelamaan bahasa Sunda Brebes akan terganti oleh bahasa Indonesia. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Indonesia (56,4%).
b. Laki-laki cenderung percaya bahwa bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Indonesia.
Tabel 3
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 5 29 37 84 42 197 % Berdasarkan Gender 2.5% 14. 7% 18. 8% 42.6 % 21. 3% 100.0 % % Keseluruhan 1.3% 7.3 % 9.3 % 21.0 % 10. 5% 49.3 % Per em pu an Jumlah 3 36 42 96 26 203 % Berdasarkan Gender 1.5% 17. 7% 20. 7% 47.3 % 12. 8% 100.0 % % Keseluruhan .8% 9.0 % 10. 5% 24.0 % 6.5 % 50.8 % Jumlah Jumlah 8 65 79 180 68 400 % Berdasarkan Gender 2.0% 16. 3% 19. 8% 45.0 % 17. 0% 100.0 % % Keseluruhan 2.0% 16. 3% 19. 8% 45.0 % 17. 0% 100.0 %
Lebih dari setengah responden laki-laki (73,9%) dan perempuan (60,1%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai
identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Sebagian kecil responden laki-laki (18,8%) dan perempuan (20,7%) menyatakan ragu-ragu. Demikian juga, sebagian kecil responden laki-laki (17,2%) dan responden perempuan (19,2%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Indonesia (73,9%). c. Laki-laki cenderung tidak
percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Jawa.
Tabel 4
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Saya percaya bahwa lama kelamaan bahasa Sunda Brebes akan terganti oleh
bahasa Jawa. Juml ah SS S R TS STS Ge nd er lak i-lak i Jumlah 4 12 24 129 28 197 % Berdasarkan Gender 2.0 % 6.1 % 12.2 % 65.5 % 14.2 % 100.0 % % Keseluruhan 1.0 % 3.0 % 6.0% 32.3 % 7.0% 49.3 % Per em pu an Jumlah 3 24 42 114 20 203 % Berdasarkan Gender 1.5 % 11. 8% 20.7 % 56.2 % 9.9% 100.0 % % Keseluruhan .8 % 6.0 % 10.5 % 28.5 % 5.0% 50.8 % Jumlah Jumlah 7 36 66 243 48 400 % BerdasarkanG ender 1.8 % 9.0 % 16.5 % 60.8 % 12.0 % 100.0 % % Keseluruhan 1.8 % 9.0 % 16.5 % 60.8 % 12.0 % 100.0 %
Tabel 4 terlihat bahwa sebagian besar responden laki-laki bersikap positif terhadap bahasa Sunda Brebes (79,7%) dan menyatakan tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes
120
akan tergantikan oleh bahasa Jawa. Lebih dari setengah responden perempuan (66,1% ) menyatakan tidak percaya. Sebagian kecil responden laki-laki (12,2%) dan responden perempuan (20,7%) menyatakan ragu-ragu. Selanjutnya, sebagian kecil (8,1%) responden laki-laki dan perempuan (13,3%) menyatakan mereka percaya lama kelamaan bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Jawa. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Jawa (79,7%).
d. Laki-laki cenderung mengakui bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Jawa.
Tabel 5
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Jawa. Juml ah ST S TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 2 34 49 84 28 197 % Berdasarkan Gender 1.0 % 17.3 % 24. 9% 42. 6% 14.2 % 100.0 % % Keseluruhan .5 % 8.5% 12. 3% 21. 0% 7.0% 49.3 % Per em pu an Jumlah 2 36 59 84 22 203 % Berdasarkan Gender 1.0 % 17.7 % 29. 1% 41. 4% 10.8 % 100.0 % % Keseluruhan .5 % 9.0% 14. 8% 21. 0% 5.5% 50.8 % Jumlah Jumlah 4 70 10 8 16 8 50 400 % Berdasarkan Gender 1.0 % 17.5 % 27. 0% 42. 0% 12.5 % 100.0 % % Keseluruhan 1.0 % 17.5 % 27. 0% 42. 0% 12.5 % 100.0 %
Lebih dari setengah responden laki laki (56,8%) dan perempuan (52,2%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Jawa. Sebagian kecil responden laki-laki (24,9%) dan hampir setengah responden perempuan (29,1%) menyatakan ragu-ragu. Demikian pula, sebagian kecil responden laki-laki (18,3%) dan responden perempuan (18,7%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Jawa. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih cocok sebagai identitas kebudayaan dibandingkan dengan bahasa Jawa (56,8%).
e. Laki-laki cenderung mengaku tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Sunda Priangan.
Tabel 6
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Saya percaya bahwa lama kelamaan bahasa Sunda Brebes akan terganti oleh
bahasa Sunda Priangan.
Juml ah SS S R TS STS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 17 50 29 82 19 197 % Berdasarkan Gender 8.6 % 25.4 % 14.7 % 41.6 % 9.6% 100.0 % % Keseluruhan 4.3 % 12.5 % 7.3% 20.5 % 4.8% 49.3 % Per em pu an Jumlah 18 48 48 73 16 203 % Berdasarkan Gender 8.9 % 23.6 % 23.6 % 36.0 % 7.9% 100.0 % % Keseluruhan 4.5 % 12.0 % 12.0 % 18.3 % 4.0% 50.8 % Jumlah Jumlah 35 98 77 155 35 400 % Berdasarkan Gender 8.8 % 24.5 % 19.3 % 38.8 % 8.8% 100.0 % % Keseluruhan 8.8 % 24.5 % 19.3 % 38.8 % 8.8% 100.0 %
Tabel 6 menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden
laki-121
laki bersikap positif terhadap bahasa Sunda Brebes dengan 51,2% menyatakan tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Sunda Priangan. Hampir setengah responden perempuan (43,9%) menyatakan percaya bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Sunda Priangan. Sebagian kecil responden laki-laki (14,7%) dan perempuan (23,6%) menyatakan ragu-ragu. Selanjutnya, hampir setengah (34%) responden laki-laki dan perempuan (32,5%) menyatakan bahwa mereka percaya lama kelamaan bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Sunda Priangan. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan tidak percaya bahwa bahasa Sunda Brebes akan tergantikan oleh bahasa Sunda Priangan (51,2%).
f. Laki-laki cenderung tidak merasa malu menggunakan bahasa Sunda Brebes ketika berbicara dengan orang bukan Sunda Brebes.
Tabel 7
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Saya malu menggunakan bahasa Sunda Brebes ketika berbicara dengan orang bukan
Sunda Brebes. Juml ah SS S R TS STS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 21 49 21 87 19 197 % Berdasarkan Gender 10.7 % 24.9 % 10.7 % 44.2 % 9.6% 100.0 % % Keseluruhan 5.3% 12.3 % 5.3% 21.8 % 4.8% 49.3 % Per em pu an Jumlah 29 62 30 70 12 203 % Berdasarkan Gender 14.3 % 30.5 % 14.8 % 34.5 % 5.9% 100.0 % % Keseluruhan 7.3% 15.5 % 7.5% 17.5 % 3.0% 50.8 % Jumlah Jumlah 50 111 51 157 31 400 % Berdasarkan Gender 12.5 % 27.8 % 12.8 % 39.3 % 7.8% 100.0 % % Keseluruhan 12.5 % 27.8 % 12.8 % 39.3 % 7.8% 100.0 %
Lebih dari setengah responden laki-laki (53,8%) dan hampir setengah responden perempuan (40,4 %) menyatakan tidak merasa malu menggunakan bahasa Sunda Brebes ketika berbicara dengan orang bukan Sunda Brebes. Di sisi lain, sebagian kecil responden laki-laki (10,7%) dan perempuan (14,8%) menyatakan ragu-ragu. Selanjutnya, hampir setengah responden laki-laki (35,6%) dan perempuan (44,8%) menyatakan merasa malu menggunakan bahasa Sunda Brebes ketika berbicara dengan orang bukan Sunda Brebes. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan tidak merasa malu menggunakan bahasa Sunda Brebes ketika berbicara dengan orang bukan Sunda Brebes. (53,8%).
g. Laki-laki cenderung merasa lebih akrab berbahasa Sunda Brebes dibanding dengan bahasa Jawa ketika mereka berkomunikasi dengan teman-teman sekampung.
Tabel 8
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Dibanding dengan bahasa Jawa, lebih akrab kalau saya
berbahasa Sunda Brebes dengan teman-teman sekampung. Juml ah ST S TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 1 6 12 93 85 197 % Berdasarkan Gender .5 % 3.0% 6.1% 47.2 % 43.1 % 100.0 % % Keseluruhan .3 % 1.5% 3.0% 23.3 % 21.3 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 0 14 11 96 82 203 % Berdasarkan Gender .0 % 6.9% 5.4% 47.3 % 40.4 % 100.0 % % Keseluruhan .0 % 3.5% 2.8% 24.0 % 20.5 % 50.8 %
122 Jumlah Jumlah 1 20 23 189 167 400 % Berdasarkan Gender .3 % 5.0% 5.8% 47.3 % 41.8 % 100.0 % % Keseluruhan .3 % 5.0% 5.8% 47.3 % 41.8 % 100.0 %
Sebagian besar responden laki-laki (90,3%) dan perempuan (87,7%) menyatakan dibanding dengan bahasa Jawa lebih akrab kalau mereka berbahasa Sunda Brebes dengan teman-teman sekampung. Sebagian kecil responden laki-laki (6,1%) dan perempuan (5,4%) menyatakan ragu-ragu. Sedikit responden laki-laki (3,5%) dan sebagian kecil responden perempuan (6,9%) menyatakan bahwa dibanding dengan bahasa Jawa, responden tidak lebih akrab kalau mereka berbahasa Sunda Brebes dengan teman-teman sekampung. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan lebih akrab menggunakan bahasa Sunda Brebes dibanding bahasa Jawa ketika berkomunikasi dengan teman-teman sekampung (90,3%).
h. Laki-laki cenderung lebih akrab berbahasa Sunda Brebes dibanding dengan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan teman sekampung.
Tabel 9
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Dibanding dengan bahasa Indonesia lebih
akrab kalau saya berbahasa Sunda Brebes
dengan teman-teman sekampung. Juml ah TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 8 6 99 84 197 % Berdasarkan Gender 4.1% 3.0% 50.3 % 42.6 % 100.0 % % Keseluruhan 2.0% 1.5% 24.8 % 21.0 % 49.3 % Per Jumlah 11 5 98 89 203 em pu an % Berdasarkan Gender 5.4% 2.5% 48.3 % 43.8 % 100.0 % % Keseluruhan 2.8% 1.3% 24.5 % 22.3 % 50.8 % Jumlah Jumlah 19 11 197 173 400 % Berdasarkan Gender 4.8% 2.8% 49.3 % 43.3 % 100.0 % % Keseluruhan 4.8% 2.8% 49.3 % 43.3 % 100.0 %
Sebagian besar responden laki-laki (92,9%) dan perempuan (92,1%) menyatakan lebih akrab kalau mereka berbahasa Sunda Brebes dibanding bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan teman-teman sekampung. Sedikit responden laki-laki (3%) dan perempuan (2,5%) menyatakan ragu-ragu. Demikian pula, sedikit responden laki-laki (4,1%) dan sebagian kecil responden perempuan (5,4%) menyatakan bahwa mereka tidak lebih akrab kalau berbahasa Sunda Brebes dibanding bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan teman-teman sekampung. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan mereka lebih akrab berbahasa Sunda Brebes dibanding bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan teman-teman sekampung (92,9%).
i. Laki-laki cenderung merasa bahwa bahasa Sunda Brebes lebih penting dari bahasa Jawa.
Tabel 10
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes lebih penting dari bahasa Jawa.
Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 8 44 45 74 26 197 % Berdasarkan Gender 4.1% 22.3 % 22.8 % 37.6 % 13.2 % 100.0 % % Keseluruhan 2.0% 11.0 % 11.3 % 18.5 % 6.5% 49.3 % Per Jumlah 1 52 66 69 15 203
123 em pu an % BerdasarkanG ender .5% 25.6 % 32.5 % 34.0 % 7.4% 100.0 % % Keseluruhan .3% 13.0 % 16.5 % 17.3 % 3.8% 50.8 % Jumlah Jumlah 9 96 111 143 41 400 % BerdasarkanG ender 2.3% 24.0 % 27.8 % 35.8 % 10.3 % 100.0 % % Keseluruhan 2.3% 24.0 % 27.8 % 35.8 % 10.3 % 100.0 %
Lebih dari setengah responden laki-laki (50,8 %) dan hampir setengah responden perempuan (41,4%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih penting dari bahasa Jawa. Di sisi lain, sebagian kecil responden laki-laki (22,8%) dan hampir setengah responden perempuan (32,5%) menyatakan ragu-ragu. Hampir setengah responden laki-laki (26,4%) dan perempuan (26,1%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak lebih penting dari bahasa Jawa. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih penting dari bahasa Jawa (50,8%).
Sikap Positif Perempuan terhadap Bahasa Sunda Brebes
a. Perempuan cenderung mengaku bahwa bahasa Sunda Brebes adalah bahasa yang mudah.
Tabel 11
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Saya percaya bahwa bahasa Sunda Brebes adalah bahasa yang
mudah Juml ah ST S TS R S SS Ge nd er laki-laki Jumlah 1 5 10 122 59 197 % Berdasarkan Gender .5 % 2.5% 5.1 % 61.9 % 29. 9% 100.0 % % Keseluruhan .3 % 1.3% 2.5 % 30.5 % 14. 8% 49.3 % pere Jumlah 1 4 9 117 72 203 mpua n % Berdasarkan Gender .5 % 2.0% 4.4 % 57.6 % 35. 5% 100.0 % % Keseluruhan .3 % 1.0% 2.3 % 29.3 % 18. 0% 50.8 % Jumlah Jumlah 2 9 19 239 13 1 400 % Berdasarkan Gender .5 % 2.3% 4.8 % 59.8 % 32. 8% 100.0 % % Keseluruhan .5 % 2.3% 4.8 % 59.8 % 32. 8% 100.0 %
Sikap positif masyarakat Sunda Brebes terlihat dari tabel tersebut yaitu sebagian besar responden laki-laki menyatakan bahasa Sunda Brebes merupakan bahasa yang mudah (91,8%). Begitu juga dengan responden perempuan (93,1%) menyatakan hal yang sama. Sebagian kecil responden laki-laki (5,1%) dan perempuan (4,4%) yang menyatakan ragu-ragu. Demikian juga, sedikit responden laki-laki (3%) dan perempuan (2,5%) yang menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes merupakan bahasa yang tidak mudah. Oleh karena itu, responden perempuan cenderung lebih berpandangan bahwa bahasa Sunda Brebes adalah bahasa yang mudah (93,1%).
b. Perempuan cenderung menyatakan bahwa sedapat-dapatnya mereka akan memiliki jodoh orang Sunda Brebes.
Tabel 12 Sikap Konatif Gender
Kecenderungan saya sedapat-dapatnya akan
memiliki jodoh orang Sunda Brebes. Juml ah ST S TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 7 43 40 74 33 197 % Berdasarkan Gender 3.6 % 21.8 % 20.3 % 37. 6% 16. 8% 100.0 % % Keseluruhan 1.8 % 10.8 % 10.0 % 18. 5% 8.3 % 49.3 % Per Jumlah 2 40 43 89 29 203
124 em pu an % Berdasarkan Gender 1.0 % 19.7 % 21.2 % 43. 8% 14. 3% 100.0 % % Keseluruhan .5 % 10.0 % 10.8 % 22. 3% 7.3 % 50.8 % Jumlah Jumlah 9 83 83 16 3 62 400 % Berdasarkan Gender 2.3 % 20.8 % 20.8 % 40. 8% 15. 5% 100.0 % % Keseluruhan 2.3 % 20.8 % 20.8 % 40. 8% 15. 5% 100.0 %
Pada tabel tersebut, responden laki-laki (54,4%) dan perempuan (58,1%) menyatakan bahwa sedapat-dapatnya mereka akan memiliki jodoh orang Sunda Brebes. Sebagian kecil responden laki-laki (20,3%) dan perempuan (21,2%) menyatakan ragu-ragu. Hampir setengah responden laki-laki (25,4%) dan perempuan (29,7%) menyatakan bahwa tidak sedapat-dapatnya mereka akan memiliki jodoh orang Sunda Brebes. Oleh karena itu, responden perempuan cenderung menyatakan bahwa sedapat-dapatnya mereka akan memiliki jodoh orang Sunda Brebes (58,1%).
c. Perempuan cenderung berusaha memakai bahasa Sunda Brebes di rumah
Tabel 13
Sikap Konatif Berdasarkan Gender
Saya berusaha memakai bahasa Sunda Brebes di rumah.
Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 1 10 7 116 63 197 % Berdasarkan Gender .5% 5.1% 3.6% 58.9 % 32.0 % 100.0 % % Keseluruhan .3% 2.5% 1.8% 29.0 % 15.8 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 1 5 11 138 48 203 % Berdasarkan Gender .5% 2.5% 5.4% 68.0 % 23.6 % 100.0 % % Keseluruhan .3% 1.3% 2.8% 34.5 % 12.0 % 50.8 % Jumlah Jumlah 2 15 18 254 111 400 % Berdasarkan Gender .5% 3.8% 4.5% 63.5 % 27.8 % 100.0 % % Keseluruhan .5% 3.8% 4.5% 63.5 % 27.8 % 100.0 %
Sebagian besar responden laki-laki (90,9%) dan perempuan (91,6%) menyatakan bahwa mereka berusaha memakai bahasa Sunda Brebes di rumah. Sedikit laki-laki (3,6%) dan sebagian kecil responden perempuan (5,4%) menyatakan ragu-ragu. Begitu juga, sebagian kecil responden laki-laki (5,6%) dan perempuan (3%) menyatakan bahwa mereka tidak berusaha memakai bahasa Sunda Brebes di rumah. Oleh karena itu, responden perempuan lainnya cenderung menyatakan bahwa mereka berusaha memakai bahasa Sunda Brebes di rumah (91,6%).
d. Perempuan cenderung berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika berbelanja
Tabel 14
Sikap Konatif Berdasarkan Gender
Saya berusaha memakai bahasa Sunda Brebes
ketika berbelanja. Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 4 59 38 84 12 197 % Berdasarka n Gender 2.0% 29. 9% 19. 3% 42.6 % 6.1 % 100.0 % % Keseluruha n 1.0% 14. 8% 9.5 % 21.0 % 3.0 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 5 45 42 94 17 203 % Berdasarka n Gender 2.5% 22. 2% 20. 7% 46.3 % 8.4 % 100.0 % % Keseluruha n 1.3% 11. 3% 10. 5% 23.5 % 4.3 % 50.8 % Jumlah Jumlah 9 10 4 80 178 29 400 % Berdasarka n Gender 2.3% 26. 0% 20. 0% 44.5 % 7.3 % 100.0 % % Keseluruha n 2.3% 26. 0% 20. 0% 44.5 % 7.3 % 100.0 %
125
Hampir setengah responden laki-laki (48,9%) dan lebih dari setengah responden perempuan (54,7% ) menyatakan berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika berbelanja. Sebagian kecil responden laki-laki (19,3%) dan perempuan (20,7%) menyatakan ragu-ragu. Hampir setengah responden laki-laki (31,9%) dan sebagian kecil responden perempuan (24,7%) menyatakan tidak berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika berbelanja. Oleh karena itu, responden perempuan cenderung menyatakan berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika berbelanja (54,7%).
Sikap Negatif Laki-laki terhadap Bahasa Sunda Brebes
a. Laki-laki cenderung mengaku bahasa Sunda Brebes lebih ekspresif daripada bahasa Indonesia.
Tabel 15
Sikap Kognitif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes lebih ekspresif daripada
bahasa Indonesia. Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 8 53 50 69 17 197 % Berdasarkan Gender 4.1% 26.9 % 25. 4% 35. 0% 8.6 % 100.0 % % Keseluruhan 2.0% 13.3 % 12. 5% 17. 3% 4.3 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 11 51 53 75 13 203 % Berdasarkan Gender 5.4% 25.1 % 26. 1% 36. 9% 6.4 % 100.0 % % Keseluruhan 2.8% 12.8 % 13. 3% 18. 8% 3.3 % 50.8 % Jumlah Jumlah 19 104 10 3 14 4 30 400 % Berdasarkan Gender 4.8% 26.0 % 25. 8% 36. 0% 7.5 % 100.0 % % Keseluruhan 4.8% 26.0 % 25. 8% 36. 0% 7.5 % 100.0 %
Hampir setengah responden laki-laki (43,6%) dan perempuan (43,3%) menyatakan bahasa Sunda Brebes lebih ekspresif daripada bahasa Indonesia. Begitu pun, hampir setengah (25,4%) responden laki-laki dan perempuan (26,1%) menyatakan ragu-ragu. Selanjutnya, responden laki-laki (31%) dan perempuan (30,5%) menyatakan bahasa Sunda Brebes tidak lebih ekspresif daripada bahasa Indonesia. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan bahasa Sunda Brebes lebih ekspresif daripada bahasa Indonesia (43,6%).
b. Laki-laki cenderung merasa bahasa Sunda Brebes tidak halus dibanding bahasa Sunda Priangan.
Tabel 16
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes sama halusnya dengan bahasa Sunda Priangan
Jumlah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 12 120 34 24 7 197 % Berdasarka n Gender 6.1% 60.9 % 17. 3% 12. 2% 3.6 % 100.0% % Keseluruha n 3.0% 30.0 % 8.5 % 6.0 % 1.8 % 49.3% Per em pu an Jumlah 9 115 40 36 3 203 % Berdasarka n Gender 4.4% 56.7 % 19. 7% 17. 7% 1.5 % 100.0% % Keseluruha n 2.3% 28.8 % 10. 0% 9.0 % .8 % 50.8% Jumlah Jumlah 21 235 74 60 10 400 % Berdasarka n Gender 5.3% 58.8 % 18. 5% 15. 0% 2.5 % 100.0% % Keseluruha n 5.3% 58.8 % 18. 5% 15. 0% 2.5 % 100.0%
Lebih dari setengah responden laki-laki (67%) dan perempuan (61,1%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak sama halusnya
126
dengan bahasa Sunda Priangan. Selanjutnya, sebagian kecil responden laki-laki (17,3%) dan perempuan (19,7%) menyatakan ragu-ragu. Demikian pula, sebagian kecil responden laki-laki (15,8%) dan responden perempuan (19,2%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes sama halusnya dengan bahasa Sunda Priangan. Oleh karena itu, responden laki-laki lebih menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak sama halusnya dengan bahasa Sunda Priangan (67%).
c. Laki-laki cenderung merasa bahwa bahasa Sunda Brebes tidak lebih penting dari bahasa Indonesia.
Tabel 17
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes lebih penting dari bahasa
Indonesia. Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 22 83 37 39 16 197 % Berdasarka n Gender 11.2 % 42. 1% 18.8 % 19.8 % 8.1 % 100.0 % % Keseluruha n 5.5% 20. 8% 9.3% 9.8% 4.0 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 13 94 50 40 6 203 % Berdasarka n Gender 6.4% 46. 3% 24.6 % 19.7 % 3.0 % 100.0 % % Keseluruha n 3.3% 23. 5% 12.5 % 10.0 % 1.5 % 50.8 % Jumlah Jumlah 35 17 7 87 79 22 400 % Berdasarka n Gender 8.8% 44. 3% 21.8 % 19.8 % 5.5 % 100.0 % % Keseluruha n 8.8% 44. 3% 21.8 % 19.8 % 5.5 % 100.0 %
Lebih dari setengah responden laki-laki (53,3% ) dan perempuan (52,7%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak lebih penting dari bahasa Indonesia. Sebagian kecil
responden laki-laki (18,8%) dan perempuan (24,6%) menyatakan ragu-ragu. Di sisi lain, responden laki-laki (27,9%) dan sebagian kecil responden perempuan (22,7%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes lebih penting dari bahasa Indonesia. Oleh karena itu, responden laki-laki lebih menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak lebih penting dari bahasa Indonesia (53,3%).
d. Laki-laki cenderung merasa bahwa bahasa Sunda Brebes berbeda dengan bahasa Sunda Priangan.
Tabel 18
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Saya merasa bahasa Sunda Brebes berbeda dengan bahasa Sunda Priangan.
Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 3 12 11 119 52 197 % Berdasarka n Gender 1.5% 6.1 % 5.6 % 60.4 % 26.4 % 100.0 % % Keseluruha n .8% 3.0 % 2.8 % 29.8 % 13.0 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 1 20 11 116 55 203 % Berdasarka n Gender .5% 9.9 % 5.4 % 57.1 % 27.1 % 100.0 % % Keseluruha n .3% 5.0 % 2.8 % 29.0 % 13.8 % 50.8 % Jumlah Jumlah 4 32 22 235 107 400 % Berdasarka n Gender 1.0% 8.0 % 5.5 % 58.8 % 26.8 % 100.0 % % Keseluruha n 1.0% 8.0 % 5.5 % 58.8 % 26.8 % 100.0 %
Sebagian besar responden laki-laki (86,8%) dan perempuan (84,2%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes berbeda dengan bahasa Sunda Priangan. Selanjutnya, sebagian kecil responden laki-laki (5,6%) dan perempuan (5,4%) menyatakan ragu-ragu. Sebagian kecil responden
laki-127
laki (7,6%) dan perempuan (10,4%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes berbeda dengan bahasa Sunda Priangan. Oleh karena itu, responden laki-laki lebih menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes berbeda dengan bahasa Sunda Priangan (86,8%). e. Laki-laki cenderung tidak
berusaha memakai bahasa Sunda ketika di sekolah.
Tabel 19
Sikap Konatif Berdasarkan Gender
Saya berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika
di sekolah. Juml ah ST S TS R S SS Ge nd er Laki-laki Jumlah 11 72 29 65 20 197 % Berdasarkan Gender 5.6 % 36.5 % 14.7 % 33.0 % 10.2 % 100.0 % % Keseluruhan 2.8 % 18.0 % 7.3% 16.3 % 5.0% 49.3 % Pere mpua n Jumlah 3 60 34 97 9 203 % Berdasarkan Gender 1.5 % 29.6 % 16.7 % 47.8 % 4.4% 100.0 % % Keseluruhan .8 % 15.0 % 8.5% 24.3 % 2.3% 50.8 % Jumlah Jumlah 14 132 63 162 29 400 % Berdasarkan Gender 3.5 % 33.0 % 15.8 % 40.5 % 7.3% 100.0 % % Keseluruhan 3.5 % 33.0 % 15.8 % 40.5 % 7.3% 100.0 %
Hampir setengah responden laki-laki (42,1%) dan sebagian kecil responden perempuan (31,1%) tidak berusaha memakai bahasa Sunda ketika di sekolah. Sebagian kecil responden laki-laki (14,7%) dan perempuan (16,7%) menyatakan ragu-ragu. Selanjutnya, hampir setengah responden laki-laki (43,2%) dan lebih dari setengah responden perempuan (52,2%) berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika di sekolah. Oleh karena itu, responden laki-laki cenderung menyatakan tidak berusaha memakai
bahasa Sunda ketika di sekolah (42,1%).
f. Laki-laki tidak berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika di kantor.
Tabel 20
Sikap Konatif Berdasarkan Gender
Saya berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika di
kantor. Juml ah STS TS R S SS Ge nd er La ki-lak i Jumlah 15 89 36 47 10 197 % Berdasarka n Gender 7.6% 45. 2% 18. 3% 23. 9% 5.1 % 100.0 % % Keseluruha n 3.8% 22. 3% 9.0 % 11. 8% 2.5 % 49.3 % Per em pu an Jumlah 5 76 51 60 11 203 % Berdasarka n Gender 2.5% 37. 4% 25. 1% 29. 6% 5.4 % 100.0 % % Keseluruha n 1.3% 19. 0% 12. 8% 15. 0% 2.8 % 50.8 % Jumlah Jumlah 20 16 5 87 10 7 21 400 % Berdasarka n Gender 5.0% 41. 3% 21. 8% 26. 8% 5.3 % 100.0 % % Keseluruha n 5.0% 41. 3% 21. 8% 26. 8% 5.3 % 100.0 %
Lebih dari setengah responden laki-laki (52,8%) dan hampir setengah responden perempuan (39,9%) menyatakan tidak berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika di kantor. Sebagian kecil responden laki-laki (18,3%) dan hampir setengah responden perempuan (25,1%) menyatakan ragu-ragu. Sebaliknya, hampir setengah responden laki-laki (29%) dan perempuan (35%) berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika di kantor. Oleh karena itu, responden laki-laki lebih menyatakan tidak berusaha memakai bahasa Sunda Brebes ketika di kantor (52,8%).
128
Sikap Negatif Perempuan terhadap Bahasa Sunda Brebes
Perempuan cenderung merasa bahwa bahasa Sunda Brebes tidak terdengar santun.
Tabel 21
Sikap Afektif Berdasarkan Gender
Bahasa Sunda Brebes terdengar santun. Jumlah STS TS R S SS Ge nd er Laki-laki Jumlah 6 44 62 59 26 197 % Berdasarka n Gender 3.0% 22.3 % 31.5 % 29.9 % 13.2 % 100.0% % Keseluruha n 1.5% 11.0 % 15.5 % 14.8 % 6.5% 49.3% Pere mpua n Jumlah 5 56 54 73 15 203 % Berdasarka n Gender 2.5% 27.6 % 26.6 % 36.0 % 7.4% 100.0% % Keseluruha n 1.3% 14.0 % 13.5 % 18.3 % 3.8% 50.8% Jumlah Jumlah 11 100 116 132 41 400 % Berdasarka n Gender 2.8% 25.0 % 29.0 % 33.0 % 10.3 % 100.0% % Keseluruha n 2.8% 25.0 % 29.0 % 33.0 % 10.3 % 100.0%
Hampir setengah responden laki-laki (25,3%) dan perempuan (30,1%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak terdengar santun. Hampir setengah responden laki-laki (31,5%) dan perempuan (26,6%) menyatakan ragu-ragu. Demikian juga, Hampir setengah responden laki-laki (43,1%) dan perempuan (43,4%) menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes terdengar santun. Oleh karena itu, responden perempuan cenderung menyatakan bahwa bahasa Sunda Brebes tidak terdengar santun (30,1%).
Rata–Rata Nilai Indikator dan Variabel Sikap Bahasa Masyarakat
Sunda Brebes terhadap Bahasa Sunda Brebes
Tabel 22
Rata-Rata Nilai Indikator dan Variabel Sikap Bahasa Masyarakat Sunda Brebes Terhadap Bahasa Sunda
Brebes
No. Indikator Variabel Rata-rata
Nilai 1. Komponen Kognitif 3.66 2. Komponen Afektif 3.43 3. Komponen Konatif 3.63 4. Sikap Bahasa 3.57 Kriteria skor
Skor 1,00—1,99 = sangat negatif Skor 2,00—2,99 = negatif Skor 3,00—3,99 = positif rendah Skor 4,00-- 5,00 = positif tinggi
Secara umum, sikap bahasa responden terhadap bahasa Sunda Brebes pada ketiga komponen adalah positif rendah dengan indeks 3,57. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa responden memiliki sikap baik terhadap bahasa Sunda Brebes. Rentang masing-masing komponen sikap ini tidak terlalu jauh, yakni masih dalam rentang positif rendah (3,00—3,99). Komponen kognitif merupakan komponen paling tinggi dalam sikap bahasa masyarakat Sunda Brebes (3,66). Hal ini bermakna, bahwa masyarakat Sunda Brebes memiliki pemikiran dan kepercayaan yang baik terhadap bahasa Sunda Brebes. Komponen afektif merupakan komponen paling rendah yang dimiliki responden. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa masyarakat Sunda Brebes memiliki perasaan yang kurang baik terhadap bahasa Sunda Brebes. Perasaan ini meliputi perasaan inferior dan kurang percaya diri dengan bahasa Sunda Brebes.
Berikut kategorisasi sikap bahasa masyarakat Sunda Brebes terhadap bahasa Sunda Brebes berdasarkan gender.
129
Berdasarkan tabel tersebut, sikap bahasa responden laki-laki cenderung positif tinggi. Hal ini dapat dilihat dari persentase paling besar untuk gender berdasarkan kategorisasi sikap bahasa responden laki-laki yaitu 60,5% pada kategori sikap positif tinggi. Di sisi lain, kecenderungan sikap bahasa responden perempuan adalah positif rendah. Hal ini ditunjukkan dengan persentase paling besar untuk gender berdasarkan kategorisasi sikap bahasa responden perempuan adalah 52,2% pada sikap bahasa positif rendah.
Kaum laki-laki memiliki sikap bahasa lebih baik daripada perempuan pada variabel afektif dan kognitif. Hal ini bermakna bawa kaum laki-laki memiliki kepercayaan dan pemikiran yang lebih baik tentang bahasa Sunda Brebes. Laki-laki labih percaya bahwa bahasa Sunda Brebes dalam kondisi baik-baik saja. Jumlah penuturnya masih banyak. Orang Sunda Brebes akan tetap menjadi orang Sunda Brebes dan tidak
berubah menjadi orang Jawa. Masyarakat Sunda dan Jawa sudah hidup berdampingan sejak dahulu dan tidak saling mengancam. Kaum laki-laki juga percaya bahwa penutur bahasa Sunda Brebes mudah mempelajari dan mempraktikkan bahasa Sunda Brebes. Laki-laki lebih memiliki perasaan bangga terhadap bahasa Sunda Brebes, sebagai jatidiri dan kepribadian orang Sunda Brebes. Namun, laki-laki beranggapan pemakaian bahasa Sunda Brebes disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam situasi resmi, tidak bermasalah jika menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pun, jika berbicara dengan orang Jawa tidak bermasalah jika menggunakan bahasa Jawa agar lebih akrab.
Sementara itu, kaum perempuan memiliki sikap konatif lebih baik daripada laki-laki. Perempuan memiliki kemauan yang lebih baik terhadap bahasa Sunda Brebes. Mereka ingin menggunakan bahasa Sunda Brebes di banyak ranah dan
Tabel 23
Tabulasi Silang Gender dan Kategorisasi Sikap Bahasa Kategorisasi Sikap Bahasa
Jumlah Negatif Tinggi Positif Rendah Positif Tinggi Gender
Laki-laki
Jumlah 8 163 26 197
Persentase berdasarkan Gender 4.1% 82.7% 13.2% 100.0%
Persentase berdasarkan Kategorisasi Sikap Bahasa
50.0% 47.8% 60.5% 49.3% Persentase Keseluruhan 2.0% 40.8% 6.5% 49.3% Pere mpua n Jumlah 8 178 17 203
Persentase berdasarkan Gender 3.9% 87.7% 8.4% 100.0%
Persentase berdasarkan Kategorisasi Sikap Bahasa
50.0% 52.2% 39.5% 50.8%
Persentase Keseluruhan 2.0% 44.5% 4.3% 50.8%
Jumlah Jumlah 16 341 43 400
Persentase berdasarkan Gender 4.0% 85.3% 10.8% 100.0%
Persentase berdasarkan Kategorisasi Sikap Bahasa
100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
130
situasi. Namun, ada kegelisahan di kalangan perempuan Sunda Brebes. Antara idealisme sebagai orang Sunda, tetapi di sisi lain mereka kurang percaya diri dengan bahasa Sunda Brebes.
SIMPULAN
Secara keseluruhan kaum laki-laki dan perempuan Sunda Brebes memiliki sikap bahasa positif rendah terhadap bahasa Sunda Brebes. Kecenderungan sikap bahasa laki-laki terhadap bahasa Sunda Brebes adalah positif tinggi, dan sikap bahasa perempuan terhadap bahasa Sunda Brebes adalah positif rendah. Tulisan ini menguatkan teori bahasa dan gender. Kaum perempuan cenderung memilih bahasa yang “baik”. Sikap bahasa kaum perempuan masyarakat Sunda Brebes lebih rendah daripada kaum laki-laki. Meskipun begitu, pada beberapa indikator perempuan menunjukkan sikap bahasa positif terhadap bahasa Sunda Brebes. Dengan sikap bahasa positif rendah yang dimiliki masyarakat Sunda Brebes, bahasa Sunda Brebes tetap dan masih dipakai dalam komunikasi sehari-hari oleh penutur. Untuk mempertahankan bahasa Sunda Brebes, perlu adanya pengakuan dan pembinaan bahasa Sunda di Kabupaten Brebes agar tidak terus bergeser ke bahasa Jawa, bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa asing. DAFTAR PUSTAKA
Fasold, R. 1984. The Sociolinguistics of Society. Newyork: Basil blakcwell.
Holmes, J. 2013. An Introduction to Sociolinguistics. Fourth Edition. New York: Routledge. Junawaroh, S., Sobarna, C., Wahya,
& Riyanto, S. 2018. Brebes Sundanese Language in the Realm of Social Intercourse as a Territorial Identity. ISLLE 2017 The Ist International Seminar on Language, Literature, and Education (357--363). Jakarta: KnE Social Sciences DOI 10.502/ kss.v3l9.2697.
Kridalaksana, H. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Meyerhoff, M. 2006. Introducing
Sociolinguistics. London and New york: Routledge Taylor and Francis Group.
Salminem.1999. UNESCO Red Book on Endangered Languages: . Europe.
Slik, F. W., Hout, R. W., & Schepens, J. J.2015. The Gender Gap in Second Language Acquisition: Gender Differences in the Acquisition of Dutch among Immigrants from 88 Countries with 49 Mother Tongues. PLOS ONE OI:10.1371/journal.pone. 0142056, 1—22.
Triandis, H. 1971. Attitude and Attitude Change (Foundations of Social Psychology). Hoboken: NJ John Wileys & Sons Inc.
Trudgill, P. 2003. Sociolinguistics. Edinburgh University Press.
131
Wibowo, P. A. 2012. Bahasa dan Gender. Lite Volume 8 Nomor 1, Maret 2012, 15—23.
Yildiz, M., & Kiziltas, Y. 2018. The Attitudes of Secondary School Students toward School and
Reading : A Comparison in
Terms of Mother
Tongue,Gender, and Class Level. International Journal of Education & Literacy Studies, 27—37.