BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Umum Tentang Rokok a. Pengertian
Merokok merupakan kebiasaan yang memiliki daya merusak cukup besar terhadap kesehatan. Hubungan antara merokok dengan berbagai macam penyakit seperti kanker paru, penyakit kardiovaskuler, risiko terjadinya neoplasma laryng, esophagus dan sebagainya, telah banyak diteliti. Banyak pengetahuan tentang bahaya merokok dan kerugian yang ditimbulkan oleh tingkah laku merokok, meskipun semua orang tahu akan bahaya merokok, perilaku merokok tampaknya merupakan perilaku yang masih ditoleransi oleh masyarakat (Depkes, 2008).
b. Kandungan Rokok
Satu batang rokok mengandung berbagai zat yang berbahaya bagi tubuh, diantaranya adalah: (1) Tar. Dalam tubuh manusia, tar memicu terjadinya iritasi paru-paru dan kanker. Dalam tubuh perokok pasif, tar akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif. (2) Nikotin. Dalam tubuh manusia menimbulkan efek adiksi atau candu yang memicu peningkatan konsumsi. Dalam tubuh perokok pasif, nikotin akan rkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan
dalam tubuh perokok aktif. (3) Karbon monoksida. Merupakan gas berbahaya yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Pengikatan oksigen oleh karbon monoksida inilah yang kemudian memicu terjadinya penyakit jantung. Dalam tubuh perokok pasif, gas berbahaya ini akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif. (4) Bahan kimia berbahaya. Berupa gas dan zat berbahaya yang jumlahnya mencapai ribuan. Dalam tubuh manusia, bahan kimia berbahaya ini meningkatkan risiko penyakit kanker. Dalam tubuh perokok pasif, bahan kimia berbahaya ini akan terkonsentrasi 50 kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif (Depkes, 2009).
c. Tipe-Tipe Perokok 1) Berdasarkan Sifatnya
a) Perokok Aktif (Active Smoker)
Menurut Bustan (2007) perokok aktif adalah orang yang langsung menghisap rokok melalui mulutnya serta bisa mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
b) Perokok Pasif (Pasive Smoker)
Perokok pasif adalah orang yang menghirup asap rokok yang dihasilkan dari rokok seorang perokok aktif. Asap rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif dibandingkan dengan perokok aktif. Asap rokok yang dihembuskan oleh perokok aktif
dan terhirup oleh perokok pasif lima kali lebih banyak mengandung gas karbon monoksida (CO) dan empat kali lebih banyak mengandung tar dan nikotin (Windriya, 2013).
2) Berdasarkan Jumlah Rokok a) Perokok Ringan
Perokok ringan adalah orang yang merokok kurang dari 10 batang dalam sehari
b) Perokok Sedang
Perokok sedang adalah orang yang merokok 10-20 batang dalam sehari.
c) Perokok Berat
Perokok berat adalah orang yang merokok lebih dari 20 batang dalam sehari.
(Bustan, 2007) d. Paparan Asap Rokok
Paparan asap rokok adalah semua bahan kimia yang berasal dari pembakaran rokok yang mengenai perokok maupun bukan perokok (perokok pasif). Asap rokok yang dihirup oleh perokok pasif disebut asap sampingan sedangkan asap rokok yang dihirup oleh perokok aktif disebut asap utama. Asap sampingan adalah sumber utama asap tembakau lingkungan, dimana asap tersebut berasal dari sumber-sumber selain dari penghisapan rokok secara langsung, yakni berasal dari: (1) Asap yang dikeluarkan oleh perokok; (2) Pembakaran ujung
rokok; (3) Merembes melalui kertas dan filter dari rokok (Amini, 2010).
e. Lama Paparan Asap Rokok
Lama paparan adalah waktu dimana seseorang terpapar asap rokok. Perokok pasif dikategorikan sebagai bukan perokok yang menghisap asap rokok para perokok paling tidak 15 menit dalam satu hari selama satu minggu (Wang et al., 2009). Perokok pasif menghirup 75% asap rokok yang berasal dari asap sampingan, sedangkan perokok aktif hanya menghirup 25% asap rokok dalam bentuk asap utama yang berasal dari ujung rokok yang terbakar (Amini, 2010).
Nikotin dapat diserap dari semua tempat termasuk kulit. Nikotin terutama mengalami metabolisme di hati, paru, dan ginjal. Nikotin akibat inhalasi asap rokok dimetabolisme dalam jumlah yang berarti di paru-paru. Waktu paruh, half-life time, nikotin 20-40 menit. Misalkan sehabis merokok satu batang (10mg nikotin dalam satu batang rokok) dalam darah orang berat badan 70 kg (+/- 5kg darah) akan terdapat 40 ppb (part per billion) nikotin, setelah 30 menit jumlahnya tersisa 20 ppb, dan sesudah 30 menit berikutnya tersisa 10 ppb dan begitu seterusnya. Meski pada dosis rendah dan waktu yang singkat, nikotin tetap mampu menstimulir organ tertentu dan berbeda terhadap orang lain (Setiawati, 2009).
f. Bahaya Paparan Asap Rokok
Paparan asap rokok dengan berbagai macam zat berbahaya di dalamnya dapat mempertinggi faktor risiko terjadinya: (1) Batuk menahun; (2) Penyakit paru seperti Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM), bronchitis dan empisema; (3) Ulkus peptikum; (4) Infertilitas; (5) Gangguan kehamilan, bisa berupa keguguran, kehamilan di luar rahim; (6) Artherosklerosis sampai penyakit jantung koroner; (7) Beberapa jenis kanker seperti kanker kandung kemih, pankreas, atau ginjal, kanker mulut, kanker paru, dan kanker sistem pernapasan lainnya (Bustan, 2007).
Pengaruh lain yang dapat ditimbulkan oleh komponen asap rokok meliputi penurunan kadar oksigen dalam darah karena naiknya kadar karbon monoksida, meningkatkan jumlah asam lemak, glukosa, kortisol dan hormon lainnya di dalam darah dan peningkatan risiko mengerasnya arteri dan pengentalan darah (yang berkembang menjadi serangan jantung, stroke) dan karsinogenesis (Depkes, 2009).
2. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) a. Pengertian
Menurut Corwin (2009) infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikro-organisme. Infeksi-infeksi tersebut terbatas pada struktur-struktur saluran napas termasuk rongga hidung, faring, dan laring.
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit ISPA pada balita di Indonesia diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali per tahun), artinya seorang balita mendapatkan serangan ISPA sebanyak 3-6 kali setahun (Widoyono, 2008).
Menurut Depkes RI (2008) ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode penyakit batuk – pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 – 6 kali per tahun. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40% - 60% kunjungan berobat di Puskesmas dan 15% - 30% kunjungan berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA.
b. Etiologi
Menurut Widoyono (2008) etiologi ISPA terdiri dari: (1) bakteri
Diplococcus pneumonia, Pneumococcus, Streptococcus pyogenes, Stapylococcus aureus, Haemopillus influenzae, dan lain-lain. (2) virus influenza, adenovirus, sitomegalovirus. (3) Jamur Aspergilus sp., Candida albican, Histoplasma, dan lain-lain.
c. Faktor Risiko
1) Faktor individu anak a) Umur anak
Beberapa studi menunjukkan bahwa insiden penyakit pernafasan oleh virus lebih sering terjadi pada bayi dan balita
dimana insiden ISPA tertinggi pada umur 6-12 bulan dan pada balita usia 1-4 tahun (Rahajoe, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian Daulay (1999) di Medan, anak berusia dibawah 2 tahun mempunyai risiko mendapat ISPA 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua. Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit.
Hidayati (2009) menyatakan bahwa kebanyakan infeksi saluran pernapasan lebih sering mengenai balita usia di bawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa penelitian menunjukan bahwa balita pada usia muda akan lebih sering menderita ISPA dari pada usia yang lebih lanjut.
b) Berat badan lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan infeksi saluran pernapasan lainnya. Penelitian menunjukkan
bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram meningkatkan risiko kematian akibat infeksi saluran pernafasan (Behrman, 2014). c) Status gizi
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko terjadinya ISPA. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya lebih lama (Rahajoe, 2008).
Menurut Syair (2009) penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang, balita akan lebih mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya lebih lama.
d) Vitamin A
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Selain itu vitamin A sangat berhubungan dengan beratnya infeksi. Grant melaporkan bahwa anak dengan defisiensi vitamin A yang ringan mengalami ISPA dua kali lebih banyak daripada
anak yang tidak mengalami defisiensi vitamin A (Rahajoe, 2008).
e) Status imunisasi
Bayi dan balita dengan status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% kematian pneumonia dapat dicegah (Behrman, 2014).
f) Jenis kelamin
Pada umumnya tidak ada insidens ISPA akibat virus atau bakteri pada laki-laki atau perempuan. Akan tetapi, ada yang mengemukakan bahwa terdapat sedikit perbedaan, yaitu insidens lebih tinggi pada anak laki-laki yang berusia di atas 6 tahun (Behrman, 2014).
Secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak penelitian yang menunjukan adanya perbedaan prevalensi penyakit ISPA terhadap jenis kelamin (Hidayati, 2009).
2) Faktor lingkungan
a) Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama dengan ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi (Rahajoe, 2008).
b) Ventilasi rumah
Menurut Rahajoe (2008) ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 (oksigen) didalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida) yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit). c) Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati
luas rumah 8m2. Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas. Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada (Rahajoe, 2008).
3) Faktor perilaku
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita, dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya (Trisnawati, 2012).
d. Macam-Macam Infeksi Saluran Pernapasan Atas 1) Common Cold
Batuk pilek (common cold) adalah infeksi primer nasofaring dan hidung yang sering mengenai bayi dan anak. Penyakit ini cenderung berlangsung lebih berat kerena infeksi mencakup daerah sinus paranasal, telinga tengah, dan nasofaring disertai demam yang tinggi. Faktor predisposisinya antara lain kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginan. Pada umumnya
penyakit ini terjadi pada waktu pergantian musim (Ngastiyah, 2005).
Menurut Hassan (2007) penyebab penyakit ini adalah virus. Tanda dan gejalanya antara lain pilek, batuk sedikit dan kadang-kadang bersin. Hidung mengeluarkan sekret cair dan jernih yang dapat kental dan purulen bila terjadi infeksi sekunder oleh kokus. Sumbatan hidung (kongesti) menyebkan anak bernapas melalui mulut dan anak menjadi gelisah. Pada anak yang lebih besar kadang-kadang didapat rasa nyeri pada otot, pusing dan anoreksia.
Pengobatan yang diberikan pada penderita common cold hanya simtomatik yaitu ekspektoran untuk mengatasi batuk, sedativum untuk menenangkan, dan antipiretik untuk menurunkan panas penderita (Hassan, 2007).
2) Pharyngitis
Pharyngitis merupakan infeksi pada faring yang disebabkan
oleh bakteri atau virus. Streptokokus beta hemolitikus grup A adalah penyebab terbanyak pharyngitis/tonsilopharyngitis akut. Infeksi pada daerah faring dan sekitarnya ditandai dengan keluhan nyeri tenggorokan (Rahajoe, 2008).
Pharyngitis dapat terjadi secara tersendiri atau sebagai
bagian dari gejala common cold. Sebagian besar pharyngitis terjadi akibat infeksi virus, tetapi dapat pula disebabkan oleh
agen, contohnya streptococci ß-haemolitic grup A atau
Mycoplasma pneumonia (Francis, 2012).
Behrman (2014) menyebutkan bahwa inflamasi faring menyebabkan nyeri tenggorokan, disfagia dan demam. Apabila proses radang lebih menonjol pada area tonsil maka digunakan istilah tonsillitis atau tonsilopharyngitis.
Antibiotik pilihan pada terapi pharyngitis akut Streptokokus grup A adalah penisilin atau benzatin penisilin. Amoksisilin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin pada anak yang lebih kecil, karena selain efeknya sama amoksisilin juga memiliki rasa yang lebih enak. Untuk anak yang alergi penisilin dapat diberikan eritromisin (Rahajoe, 2008).
3) Sinusitis
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi pada sekurang-kurangnya satu sinus paranasal. Gejala sinusitis bervariasi mulai dari yang ringan sampai berat. Pasien anak dengan sinusitis biasanya datang dengan keluhan batuk kronik, post nasal drip, sakit kepala. Bila pasien mengeluh batuk yang produktif atau berdahak diagnosis yang ditegakkan adalah bronkitis akut (Rahajoe, 2008).
Menurut Hassan (2007) terapi sinusitis berupa tetes hidung vasokonstriktor yang akan menyebabkan penciutan mukosa, sehingga aerasi yang terganggu ditiadakan dan fungsi silia
dikembalikan. Dapat pula diberi antibiotik, antihistamin, kortikosteroid, dan pengobatan simtomatik lainnya.
4) Croup
Croup atau disebut juga laringitis akut merupakan infeksi
yang disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernapasan atas. Penyebab yang paling sering adalah virus seperti Human
Parainfluenza virus type 1 (HPIV-1), HPIV-2, 3, dan 4, virus
influenza A dan B, Adenovirus, Respiratory Syncytial virus (RSV), dan virus campak (Rahajoe, 2008).
Manifestasi klinis dari croup adalah batuk kasar yang dideskripsikan seperti menggonggong (barking cough) atau suara tiupan (brassy), suara serak, stridor inspirasi, demam ringan dan gangguan pernapasan yang dapat timbul secara lambat atau cepat (Behrman, 2014).
Terapi yang diberikan untuk anak dengan croup adalah deksametason oral ataupun intramuscular untuk meringankan gejala dan kebutuhan rawat inap di rumah sakit serta memperpendek masa perawatan. Sebagai alternatif, dapat juga diberikan prednisolon oral (Behrman, 2014).
5) Epiglotitis Akut
Epiglotitis merupakan infeksi yang sangat serius dari epiglotis dan struktur supraglotis, yang berakibat obstruksi jalan napas akut dan menyebabkan kematian jika tidak diobati.
Epiglotitis hampir selalu disebabkan oleh Haemophilus influenza tipe B. Secara klasik penyakit ini ditandai dengan demam tinggi mendadak dan berat, nyeri tenggorokan, sesak napas, diikuti dengan gejala obstruksi saluran respiratori yang progresif (dalam beberapa jam dapat memburuk menjadi obstruksi pernapasan total dan dapat menyebabkan kematian). Pada anak yang lebih besar biasanya didahului dengan nyeri tenggorokan dan disfagia, pasien lebih menyukai posisi duduk, badan membungkuk ke depan dengan mulut terbuka dan leher ekstensi (Rahajoe, 2008).
Menurut Short (2007) pengobatan antibiotik dan steroid harus segera diberikan pada penderita epiglotitis. Antibiotik yang diberikan berupa sefalosporin generasi ketiga seperti sefotaksim atau seftriakson dengan cara pemberian melaui intravena.
6) Influenza
Influenza adalah infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan, disebabkan oleh virus influenza dengan gejala demam ≥380C disertai batuk dan atau sakit tenggorokan (Depkes, 2013).
Menurut Francis (2012) influenza ditandai dengan gejala pireksia, malaise, mialgia, sakit kepala, dan kelelahan yang disertai gejala-gejala saluran napas atas. Penyakit ini sangat infeksius dan biasanya sembuh sendiri, tetapi dapat menyebabkan
morbiditas yang cukup besar dan penyakit sekunder seperti sinusitis, otitis media, dan pneumonia bakterial.
Terapi yang diberikan pada pasien dengan influenza berupa obat yang bersifat simptomatik (sesuai dengan gejala yang muncul) sebab antibiotik tidak efektif untuk infeksi virus. Pasien disarankan untuk bedrest dan meningkatkan intake cairan jika tidak ada kontra indikasi. Obat kumur bisa diberikan untuk meringankan sakit tenggorokan (Somantri, 2007).
3. Balita
Balita merupakan akronim dari kata Bawah Lima Tahun. Balita didefinisikan sebagai periode usia anak antara 1-5 tahun (Sulistyawati, 2014).
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa ini merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya (Soetjiningsih, 2005). 4. Hubungan Antara Lama Paparan Asap Rokok dengan Frekuensi Kejadian
ISPA pada Balita di Puskesmas Gambirsari Surakarta
Lama paparan asap rokok mempertinggi risiko timbulnya ISPA, karena dari satu batang rokok yang dinyalakan akan menghasilkan asap sampingan selama sekitar 10 menit, sementara asap utamanya hanya akan
dikeluarkan pada waktu rokok itu dihisap dan biasanya hanya kurang dari 1 menit. Walaupun asap sampingan dikeluarkan dahulu ke udara bebas sebelum dihisap perokok pasif, tetapi karena kadar bahan berbahayanya lebih tinggi dari pada asap utama, maka perokok pasif tetap menerima akibat buruk dari kebiasaan merokok orang di sekitarnya (Julia, 2011).
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak. Episode penyakit ISPA pada balita di Indonesia diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali per tahun), artinya seorang balita mendapatkan serangan ISPA sebanyak 3-6 kali setahun (Widoyono, 2008).
Paparan asap rokok dapat mempertinggi risiko kejadian ISPA karena komponen yang terkandung dalam asap rokok mengganggu efektifitas sebagian mekanisme pertahanan respirasi. Produk-produk asap rokok merangsang pembentukan mukus dan menurunkan gerak silia. Dengan demikian terjadi penimbunan mukus dan peningkatan risiko pertumbuhan bakteri. Batuk-batuk yang terjadi pada perokok (smoker’s cough) adalah usaha untuk mengeluarkan mukus kental ini, yang sulit didorong keluar saluran pernapasan. Infeksi saluran napas lebih sering terjadi pada perokok dan mereka yang perokok pasif, terutama bayi dan anak.
B. Kerangka Konsep
: variabel bebas : variabel pengganggu : variabel terikat : variabel perantara
C. Hipotesis
Ada hubungan antara lama paparan asap rokok dengan frekuensi kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Gambirsari Surakarta.
Paparan asap rokok Asap rokok lingkungan
4000 zat berbahaya
Merusak epitel mukosa Menurunkan gerak silia Volume mukus meningkat Kemampuan makrofag turun
Frekuensi Kejadian ISPA Faktor individu anak yang
mempengaruhi diantaranya yaitu: umur, jenis kelamin, status imunisasi, status gizi, vitamin A, berat badan lahir.