7 BAB II LANDASAN TEO RI
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitia n terdahulu terkait dengan analisis pem asaran dalam usahatani digunakan sebagai bahan pertim banga n dalam pe nelitian ini. O leh karena itu, dicantum kan beberapa penelitian yang dilakuka n ole h peneliti sebe lum nya yang telah m eneliti tentang analisis pem asaran dalam usahatani.
Hasil penelitia n yang dilakukan oleh Zainal Abidin (2015) de ngan judul “Saluran Pemasaran Dan Efisiensi Biaya Serta Pendapatan Usahatani Tembakau Terhadap Kontribusi Pendapatan Keluarga di Desa Brani Kulon Probolinggo” Hasil penelitian m enunjukkan bahwa ada em pat tipe Saluran pem asaran yang terjadi pada usahatani tembakau didesa Brani Kulon yaitu, saluran I: Pabrik → Konsumen, saluran II: Pabrik → Pedagang Besar → Konsumen, saluran III: Pabrik → Pedagang Besar → Pedagang Kecil Konsumen, saluran IV: Pabrik → Pedagang Besar → Jobber → Pedagang Kecil → Konsumen. Pendapatan usahatani tembakau sebesar Rp. 17.820.188,73/ha dapat di katakan m enguntungkan karena biaya yang di keluarkan ole h petani lebih kecil dari pada penerim aan usahatani tem bakau dan efisiensi biaya R/C ratio pada usaha tani tem bakau di Desa Brani Kulon adalah sebesar 2,30. Hal ini berarti bahwa penggunaan biaya produksi yang dikeluarkan petani pada usahata ni tem bakau di Desa Brani adalah efisien karena nilai rata -rata R/C rationya lebih be sar dari sa tu. Saluran pem asaran tem bakau rajang di Desa Brani Kulon terda pat tiga sa luran dan di antara ketiga saluran pem asaran tersebut saluran pem asaran 1 (petani-gudang) yang paling efisien. Kontribusi penda patan usahatani tem bakau rajang di Desa Brani Kulon term asuk dalam kate gori se dang hal itu di pengaruhi oleh rata -rata pendapatan usaha tani non tem bakau dan non usahatani.
Perbedaan penelitia n yang dilakukan Zaina l Abidin (2015) denga n penelitian yang akan dilakukan adalah m enganalisis kontribusi Pendapatan. Penelitia n yang akan dilakukan M engana lisis biaya, keuntungan dan m arjin pem asaran.
Hasil pe nelitian yang Abdul Rahim , IkhsanG unawan, dan Defidelw ina (2016) denga n judul “Identifikasi Distribusi S aluran Pem asaran Keripik Tem pe di Desa Pasir Agung Kecamatan Bangun Purba Kabupaten Rokan Hulu” m enunjukkan bahwa ada tiga tipe Saluran pem asaran ya ng terjadi di Desa Pasir Kecam atan Agung Kecam atan Purba dalam pem asaran kripik tem pe ya itu, sa luran I: Pengusaha Keripik Tem pe → M ini M arket → Konsum en, saluran II: Pengusaha Keripik Tem pe → W arung → Konsum en, saluran III: Pengusaha Keripik Tem pe → Pedagang Pengecer → Konsumen. Saluran pemasaran I memiliki total margin sebesar Rp 1.000, Saluran pem asaran II m em iliki total m argin sebesar Rp 1.000, Saluran pem asaran III m em iliki tota l m argin sebesar
Rp 950.
Perbedaan penelitia n yang dilakukan Abdul Rahim , Ikhsan Gunawa n, dan Defidelw ina (2016) de ngan penelitian yang a kan dilakukan ada lah m enganalisis m argin pem asaran. Penelitian ya ng akan dilakuka n m enggunakan tolak ukur besar kecilnya farme r’s share.
Hasil pene litian yang dilakuka n oleh Em an Badruzam an, Soetoro, dan Tito Hardiyanto denga n judul (2017) dengan judul Analisis Saluran Pem asaran Buah Duku (Suatu Kasus di Desa Karanganyar Kecam atan Cijeungjing Kabupa ten Ciam is) m enunjukkan bahwa ada tiga saluran pem asaran di Desa Karanganyar yaitu; saluran pemasaran I: Petani buah duku → Pedagang pengumpul (Desa Karanganyar) → pedagang pengecer (Desa Karangkamulyan) → Konsumen, saluran pemasaran II: Petani buah duku → Pedagang pengumpul (Desa Karanganyar) → Pedagang Besar (Pasar Ciamis) → Pedagang Pengecer konsumen, saluran pemasaran III: Petani buah duku → pedagang pengumpul (Desa Karanganyar) → Broker → Pedagang besar (Cibitung) → Pedagang pengecer (W ilayah Cibitung) konsum en. saluran pem asaran I m em iliki total m argin sebesar Rp 3.700 per kilogram dan farmer share sebesar 57,47 % per kilogram , pada saluran pem asaran II m em iliki total m argin se besar Rp 4.000 per kilogram dan farme r share sebesar 55,56% per kilogram , pada saluran III m em iliki total m argin sebesar Rp 4.400 per kilogram dan farmer share sebesar 52,63% per kilogram .
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Em an Badruzam an, Soetoro, dan Tito Hardiyanto (2017) dengan judul dengan penelitian yang akan dilakukan adalah
dalam m engukur efisiensi sebuah saluran pem asaran m enggunakan tola k u kur besar kecilnya farmer’s share. Penelitia n yang akan dilakukan m engguna kan analisis efisiensi harga.
Hasil penelitia n yang dilakukan oleh Candra Desiana, Dini Rochdiani, Cecep Pardani (2017) dengan judul “Analisis Saluran Pemasaran Biji Kopi Robusta (Studi Kasus di Desa Kalijaya Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis” menunjukkan bahwa ada dua tipe saluran pem asaran kopi robusta di desa Kalijaya ya itu, sa luran I:Petani → Pedagang Pengepul → Konsumen Industri, saluran II: Petani → Pedagang Pengepul → Pedagang Besar → Konsumen Industri. Pada saluran I m em iliki total biaya pem asaran Rp 75,00/kg, m arjin pem asaran Rp 310,00/kg dan keuntungan pem asaran Rp 235,00/kg. Pada saluran II tota l biaya pem asaran Rp 324,53/kg, m arjin pem asaran Rp 970,00/kg dan keuntungan pem asaran Rp 645,47/kg.
Candra Desiana, Dini Rochdiani, Cecep Pardani (2017) dengan pene litian yang akan dilakuka n adalah dalam m engukur efisiensi sebuah saluran pem asaran menggunakan tolak ukur besar kecilnya farmer’s share. Penelitian yang akan dilakukan m enggunakan ana lisis efisiensi harga.
Hasil pene litian yang dilakukan ole h Sum iati¸Rusida, dan Idawati (2017) dengan judul “Analisis Saluran Pemasaran Kelapa Sawit di Desa Baku-Baku Kecam atan M alangke Barat Kabupaten Luwu Utara ” m enunjukkan bahwa ada satu tipe saluran pem asaran jeruk di Kabupa ten Bangli yaitu, saluran I: Hasil pene litian diperoleh satu saluran pem asaran Ta nda Buah Segar ke lapa saw it di pe tani yang bersifat hom ogen yaitu dari Petani → Pedagang Pengum pul → Pabrik Kelapa Sawit. Petani han ya m enjual hasil Tanda Bua h Segar ke pedagang pengum pul yang ada. Tanda Buah Segar oleh pedangang pengum pul ke pabrik kela pa sawit (konsum en akhir). Total biaya panen yang harus dikeluarkan sebe sar Rp 200/kg. Sedangkan keuntunga n sebe sar Rp. 450/kg, dan pe tani m endapatkan keuntungan 72%, karena singkatnya saluran pem asaran.
Perbedaan penelitian yang dilakukan ole h oleh Sum iati¸Rusida, dan Idawa ti (2017) de ngan pe nelitian ya ng akan dila kukan a dalah da lam m engukur efisiensi
sebuah saluran pem asaran m enggunakan besar biaya yang dike luarkan dalam kegiatan. Penelitian ya ng akan dilakukan m enggunakan analisi efisiensi harga.
Hasil pene litian yang dilakukan oleh Saepul Aziz, Yus Rusm an, dan Sudradjad (2016) de ngan judul “Analisis Saluran Pem asaran Kripik Ubi Kayu (Studi Ka sus Pada Perusahaan Ja ya Sari Di Desa Selam anik Keca m atan Cipaku Kabupate n Ciam is)”m enunjukan bahwa terdapat dua pola saluran pem asaran jeruk di Desa Selam anik yaitu; saluran I: Produse n → Pedagang Pengum pul → Pedagang Pengecer → Konsum en, saluran II: Produsen → Pedagang Besar → Pedagang Pengecer → Konsum en. Pola I m em iliki besar biaya sebesar Rp.6,53/pcs, jum lah m arjin sebesar Rp.200,00/pcs dan keuntungan Rp.193,47/pcs, pola II m em iliki besar biaya sebesar Rp.9,38/pcs m arjin sebesar Rp.20 0,00/pcs da n keuntungan sebesar Rp.190,62/pcs.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Saepul Aziz, Yus Rusm an, dan Sudradjad (2016) dengan penelitian yang akan dilakukan adalah da lam m engukur efisiensi sebuah saluran pem asaran m enggunaka n tolak uk ur besar kecilnya biaya, m argin, dan kentungan. Penelitia n yang akan dilakukan m enggunaka n indeks efisiensi saluran pem asaran.
Penelitia n yang dila kukan oleh M uhdiar dan Halim ah (2018) dengan judul “Analisis Margin Pemasaran beras kecamatan Sibulue Kabupaten Bone (Studi Kasus Di De sa Polewali, Desa Kalibong, dan Desa M assenrengpulu)” m enunjukkan bahwa terdapat 3 saluran pem asaran yang terjadi di Polewali, Desa Kalibong, dan Desa M assenrengpulu ya itu; saluran I: Petani → konsum en, saluran II: petani → pedagang besar → pedagang pengecer → konsum en, saluran III: petani → pedagang besar → konsumen. Pada saluran I tidak mempunyai jumlah margin pem asaran karena tida k m elalui perantara, pada saluran II jum lah m argin yang diperoleh sebesar Rp.1.000 terdiri dari m argin ped agang besar sebesar Rp.500,00, pedagang pengecer sebesar Rp. 500,00. Sedangkan untuk sa luran III jum lah m argin yang diperoleh sebesar Rp.500,00. Jadi saluran pem asaran yang m enguntungkan yaitu sa luran I.
Perbedaan penelitia n yang dilakukan oleh M uhdiar dan Halim ah (2018) dengan pene litian ya ng akan dilakukan ada lah m enggunakan besar biaya yang
dikeluarkan dalam kegiata n pendistribusian barang. Penelitian yang akan dilakukan dalam m engukur efisiensi sebuah saluran pem asaran m enggunakan indeks efisiensi saluran pem asaran.
Penelitia n yang dilakukan oleh Dr. Deepak Kum ar M ahanta (2015) dengan judul “Production and Marketing of Orange in Assam –A Study on Doomdooma Region of Tinsukia District” di distrik kawasan Assam yaitu; saluran I: Kontraktor → Pra-panen Produsen / Komisi Agen → Pengecer→ Konsumen, saluran II: Kontraktor → Pra-panen Produsen / K om isi Age n → Grosir → Pengecer→ Konsum en, saluran III: : Kontraktor → Pra-panen Produsen / Kom isi Agen → Grosir → Pedagang Grosir → Pengecer→ Konsum en.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Deepak Kum ar M ahanta (2015) dengan pene litian ya ng akan dilakukan ada lah m enggunakan besar biaya yang dikeluarkan dalam kegiata n pendistribusian barang. Penelitian yang akan dilakukan dalam m engukur efisiensi sebuah saluran pem asaran m enggunakan indeks efisiensi saluran pem asaran.
2.2. Landasan Teori 2.2.1. Saluran Pemasar an
Kotler (1987), m endefinisikan saluran pem asaran m erupakan su atu saluran distribusi (channel of distribution) dianggap m encakup suatu kelom pok lem baga -lem baga yang m elaksanakan keseluruhan kegiatan (fungsi) untuk m engalihkan produk diserta i hak m iliknya dari lingkunga n produksi ke arah lingkungan konsum si. Saluran pem asaran m erupakan suatu ja lur dari lem baga -lem baga pem enyalur yang m em punya i kegiatan m en yalurkan barang dari produsen ke konsum en. Penyalur ini secara aktif akan m engusahakan perpindahan bukan hanya secara fisik tapi dalam arti agar barang-barang tersebut dapa t dibe li konsum en (Stanton, 1993).
Rangkuti (2003) dalam Rochm adi Slam et (2012), pe m asaran adalah suatu proses kegiata n yang dipengaruhi oleh berba gai kegiatan socia l, budaya, ekonom i, dan m anajerial. Akibat pengaruh dari berba gai factor tersebut a dalah m asing
m asing individu m aupun kelom pok m enda patkan kebutuhan m enciptakan dan m enawarkan produk ya ng m em iliki nilai.
M enurut Swastha (2000), dalam penyaluran barang konsum si yang ditujukan untuk pasar konsum en, terdapat lim a m acam saluran. Pada setiap saluran, produsen m em iliki a lternative ya ng sam a untuk m enggunakan kantor dan cabang penj ualan. Selanjutnya, produsen juga dapat m enggunakan lebih dari satu pedagang besar lainnya. Adapun m acam m acam saluran distribusi barang konsum si tersebut yaitu: 1. Produsen → konsum en
2. Produsen → pengecer → konsum en
3. Produsen → pedagang be sar → pengecer → konsum en 4. Produsen → agen → pengecer → konsum en
5. Produsen → agen → pedagang besar → pengecer → konsum en 2.2.2. Pengertian Pemasaran
Pem asaran adalah proses sosial dan m anajerial denga n m ana seseorang atau kelom pok m em peroleh apa yang m ereka butuhkan dan inginkan m elalui penciptaan dan pertukaran produk dan nila i. Pem asaran m erupakan sem ua kegiatan m anusia yang dilakukan da lam hubungannya de ngan pa sar, yang berarti bekerja de ngan pasar guna m ewujudkan pertukaran potensial untuk m em uaskan kebutuha n dan keinginan m anusia (Kotler, 1992).
M enurut Swastha (1990), pem asaran adala h sala h satu dari kegia tankegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk m em pertaha nkan kelangsunga n hidupnya, untuk berkem bang dan m endapatkan laba. Berhasil tidaknya dalam pencapaian tujuan bisnis tergantung pada keahlian m ereka di bidang pem asaran, produksi, keuanga n, m aupun di bidang lain.
Pem asaran adalah suatu runtutan kegia tan atau jasa yang dilakukan untuk m em indahkan suatu produk dari titik produsen ke titik konsum en. Dari definisi ini paling tidak ada tiga hal yang perlu m enjadi perhatian.Yang pertam a yaitu kegiatan yang disebut sebagai jasa adalah suatu fungsi yang dilaksanakan dalam kegiatan pem asaraan.Fungsi ini bertujuan untuk m enguba h produk berdasarkan bentuk (form ), waktu (tim e), tem pat (place) atau kepem ilika n (possession).Yang kedua adalah titik produsen.T itik produsen adalah a sal dari produk itu dijual pertam a oleh
produsen atau pe tani.Yang ketiga adalah titik konsum en. Tujua n dari sua tu pem asaran adalah m enyam paikan produk ke konsum en akhir sebagai transaksi akhir (Anindita, 2004).
M enurut Sudiyono (2002) secara um um , pem asar an dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi dalam pasar. Dalam pem asaran ini, barang m engalir dari produsen sam pai ke konsum en akhir yang diserta i penam bahan guna bentuk m elalui proses pengolahan, guna tem pat m elalui prose s pengangkutan dan guna waktu m elalui prose s penyim panan.
2.2.3. Pengertian M argin Pemasaran
Saluran pem asaran ditinja u sebagai sa tu kelom pok ata u satu tim operasi, m aka m arjin dapat dinyataka n sebagai suatu pem bayaran yang diberikan kepada m ereka atas jasa-jasanya. Jadi, m arjin m erupakan suatu im balan, atau harga atas suatu hasil kerja.Apabila ditinjau sebagai pem bayaran atas jasa -jasa, m arjin m enjadi suatu elem en yang penting dalam strategi pem asaran.Konsep m arjin sebagai sua tu pem bayaran pada pe nyalur m em punyai dasar logis dalam konse p tentang nilai tam bah.M arjin didefinisikan sebaga i perbedaan a ntara harga be li dengan harga jua l (Swastha, 1992).
M arjin pem asaran m erupakan selisih antara harga yang dibayarkan oleh konsum en dengan harga yang diterim a oleh petani.K om pone n m arjin pem asar an terdiri dari biaya-biaya yang dike luarkan oleh setia p lem baga pem asaran dalam m enjalankan fungsi-fungsi pem asaran da n keuntungan yang ingin diperoleh oleh lem baga pem asaran, sehingga besarnya m arjin pem asaran pada dasarnya m erupakan penjum laha n antara biaya-biaya dan keuntungan yang diterim a lem baga pem asaran (M anggopa, 2013).
Secara m atematis form ula um um m argin pem asaran dirum uskan se bagai berikut (Ulya at all, 2007) dalam (Singarim bun 2013).
M p = Pr – Pf Keterangan:
M p = M argin pem asaran
Pr = Harga di tingkat konsum en Pf = Harga di tingkat produsen
Suatu sistem distribusi dikatakan efisien jika besarnya tingkat m arjin pem asaran bernila i kurang dari 50% dari tingkat harga yang dibayarkan konsum en. 2.2.4. K onsep Pemasaran dan Pendekatan Pemasaran
Pem asaran secara m udahnya adalah ke giata n m em asarkan barang ata u jasa um um nya kepada m asyarakat, dan khususnya kepa da pem beli potensial. Pem asaran dikem bangkan dengan suatu pola yang terta ta dalam suatu siste m yang sering ka li disebut seba gai ilm u dan juga dikem ba ngkan dengan cara m asing m asing pe laku sehingga disebut im provisasi dan karenanya disebut seni. Dalam praktiknya pem asaran dijalankan dengan kedua cara itu, ilm u dan seni. Pem asaran ritel sebagai kegiatan pem asaran dalam perdagangan eceran juga dijalankan denga n kedua cara itu.
Secara ringkas, pem asaran adalah (m engutip pe ndapat P hilip K otler) pekerjaan m enciptaka n, m em prom osikan, dan m enyam paika n barang dan jasa kepada konsum en dan pebisnis. Dalam uraian lain, Assosia si pem asran AS (Am erican M arketing Association) m em berikan definisi pem asaran sebagai berikut “pemasaran adalah sebuah proses perencanaan dan pelaksanaan penciptaan ide, barang, dan jasa berikut harga, prom osi, dan pendistribusiannya untuk m enciptakan transaksi yang m em uaskan ke butuha n individu dan institusi.
Zarem (2000) m engutip pernya taan Sanders, Direktur Yahoo, yang m enyatakan bahwa pengalam an m erupakan dasar perekonom ia n baru untuk sem ua industri.Sebagai contoh industry penerba ngan berkom petisi m enawarkan harga yang kom petitif dan keselam atan yang tinggi.M ereka berusaha m enawarkan pengalam an terba ng (flying experie nce) sebagai senja ta bersaingnya.Lebih lanjut Sanders menyatakan bahwa saat ini adalah masanya ‘experience’ economy.Tanpa m em pedulika n produk atau jasa yang dijua l, seo rang pem asar perlu mem berikan pengalam an yang tak terlupakan pagi pelanggannya karena hal inila h yang sangat m ereka hargai.
Lippm an, president of c orporate sales and marketing Em ap U SA , tidak sependapat dengan Sanders. M enurut Lippm an, pengalam an ini buka n m erupakan hal yang baru karena konsep pem asaran seperti ini sudah dila kukan seja k jam an dahulu. Yang m em bedakan adalah cara -cara mem asarkan produk dan
jasa.Sekarang ini pem asar m enggunakan internet dan TV kabel, yang belum tersedia bertahun-tahun lalu. Lippm an tidak m enyangkal akan efektifitas konsep ini karena m enurut beliau konse pnya teta p sam a tetapi kem asannya atau caranya saja yang berbeda.
M enurut W ong (2005), pengalam an m erupakan sebuah ala t yang m em bedakan produk atau jasa.Tidak dapat disangkal b ahwa dengan sem akin berkem bangnya teknologi produk dan jasa m aka penciptaan product differentiation sangatlah sulit, bahkan kada ng kala tida k m ungkin dilakuka n. Dengan kem atangan sebuah produk m aka kom petisi m enjadi sangat ke tat karena para com petitor m enawarkan core product dengan fungsi dan fitur yang sam a. Oleh karena itu hanya ada sedikit perbedaan yang bisa diciptakan. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk m engatasi hal ini?
M enurut W ong (2005) ada 2 pilihan ya ng dapa t disiasati :D ifferentia te on how well you do it (i.e., com pete on operationa l quality) or differentiate on how and where you do it. Kutipan itu artinya m em bedakan dengan cara sebaik m ungkin yang bisa dilakuka n pem asar (m isalnya bersa ing dalam m em perbaiki kinerja dan kualitas operasional) atau m em bedaka n dengan cara bagaim ana dan di m ana pem asar m elakukannya. Sebagai contoh dengan teknologi ya ng canggih, pem asar dapat m em berikan kem udahan checkout ba gi pe langga nnya, m em berikan pelangga n kesem patan untuk m elakukan sendiri dengan caranya sendiri atau dengan proses-proses inovatif lainnya.
2.2.5. Fungsi Pemasaran dan Lembaga Pem asaran
Definisi pem asaran tida k dapat dibahas secara terpisah ta pi m erupakan gabungan dari kegiatan penjualan, iklan pengecer (rentailer) dan sebagainya (Zikm ud, 1984) dalam (Rochm adi Slam et, 2012). (Lim bong da n Sitorus, 1987) dan (M ubyarto, 1982) dalam (Rochm adi Slam et, 2012) m enyatakan bahwa istilah pem asaran atau tatania ga adalah sam a denga n m arketing, lebih lanjut dinya takan bahwa pem asaran m erupakan serangkaian proses kegiatan atau aktivitas yang ditujukan untuk m enyalurkan barang barang atau jasa dari produsen ke konsum en.
Definisi fungsi pem asaran adala h sem ua ja sa jasa ata u kegiatan yang diberikan dalam proses penga liran jasa atau kom odite dari produsen ke konsum en
sehingga m erupakan aktivitas penting yang dispesialisasikan dalam pelaksanaan tataniaga (Atm akusum a, 1984) dalam (Rochm adi Slam et, 2012). M enurut Kohl dan Downey (1972), fungsi fungsi ta taniaga terdiri dari fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas.
Lem baga pem asaran adalah orang atau badan usaha atau lem baga yang secara langsung terlibat dida lam m engalirkan barang dari produsen ke konsum en. Lem baga-lem baga pem asaran ini dapa t berupa tengkulak, pe dagang pengum pul, pedagang besar dan pedagang pengecer. L em bagalem baga dapat didefinisikan sebagai berikut :
1. Tengkulak, yaitu lem baga pem asaran yang secara langsung berhubungan dengan petani, tengkulak m elakukan transaksi dengan petani baik secara tuna i, ijon m aupun denga n kontrak pem belia n.
2. Pedagang pengum pul, yaitu m em beli kom oditi pertanian dari tengkulak biasanya relatif kecil.
3. Pedagang besar, yaitu m elakuka n proses pengum pulan kom oditi dari pedagang pengum pul, juga m elakukan proses distribusi ke agen penjualan ataupun pengecer.
4. Pedagang pengecer m erupakan lem baga pem asaran yang berhadapan langsung dengan konsum en. (Sudiyono, 2002).
2.2.6. K euntungan Pemasaran
Selisih harga yang dipasarkan ke produsen dan harga yang diberikan oleh konsum en dikurangi dengan biaya pem asaran disebut keuntungan pem asaran. M asing-m asing lem baga ingin m endapatka n keuntungan, m aka harga yang dibayarkan oleh m asing-m asing lem baga pem asaran juga berbeda. Sem akin m aju tingkat pengetahua n produsen, lem baga pem asaran dan konsum en terhadap penguasaan inform asi pasar, m aka sem akin m erata distribusi m arjin pem asaran yang diterim a.Jarak yang m engantarkan produksi perta nian dari produsen ke konsum en m enyebabka n terjadinya perbe daan besarnya ke untungan. Perbedaan harga di m asing-m asing lem baga pem asaran sangat bervariasi tergantung besar kecilnya keuntungan yang diam bil oleh m asing -m asing lem baga pem asaran (Soekartawi, 1993).
2.2.7. Prospek Pengembangan Jeruk di Indonesia
Persebaran jeruk di Indonesia terse bar m eliputi Garut (Jawa Barat), Tawangm angu (Jawa Tenga h), Batu (Jawa Tim ur), Tejakula dan Kintam ani (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalim antan Barat) dan M edan (Sum atera Utara). Produktivita s jeruk di Indone sia m engalam i penurunan atau kem unduran hasil, akibat dari gangguan penyakit terutam a CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration) yang m enyebabka n kerugian besar tanam an jeruk di berbagai sentra produksi (Soelarso, 1996).
Jeruk m erupakan buah yang sanga t digem ari oleh m asyarakat selain karena enak dim akan, jeruk m engandung zat-zat yang dibutuhkan ole h tubuh. Berikut ini m acam -macam zat gizi yang terkandung da lam buah jeruk:
Tabel 2.1.7 K andungan G izi Buah Jeruk (100gr) N o Kandungan gizi Jeruk
besar
Jeruk manis Jeruk nipis Jeruk siam 1. V itaminC (mg) 10,50 10,08 27,00 10,60 2. Energi (kkal) 53,00 51,00 37,00 50,00 3. Protein (gr) 0,60 0,90 0,80 0,80 4. Lemak (gr) 0,20 0,20 0,10 0,20 6. K arbohidrat (gr) 12,20 11,40 - 11,60 7. Retinol (mcg) 125,00 57,00 - 57,00 8. K alsium (mg) 23,00 33,00 40,00 34,00 9. Phospor (mg) 27,00 23,00 22,00 23,00 10. Zat besi (mg) - 0,40 0,60 0,40 11 A s karbonat (mg) 49,00 49,00 - 49,00
Sumber: Departem en Pertanian RI dalam Sutom o, 2007
Berdasarkan Tabel dapat diketahui bahwa di dalam buah jeruk terdapat kandungan vitam in C, energi, protein, lem ak, karbohidrat, retinol, ka lsium , phospor, zat besi dan asam karbonat yang cukup tinggi dim ana zat-zat gizi tersebut sangat diperlukan oleh tubuh. Selain sebaga i m akanan buah segar atau m akanan olahan, jeruk dapa t berm anfaat untuk m encegah ka nker, m engoba ti ba tuk, m enurunkan risiko penyakit jantung, m elancarkan saluran pencernaan, m enjaga kesehatan kulit, m encegah konstipasi, sebagai antioksida n, m enurunkan kolesterol dan m encegah anem ia (Sutom o, 2007).
Jeruk siam m erupakan jeruk yang pa ling dikenal oleh m asyarakat luas di Indonesia dan m em punya i nila i kom ersia l yang tinggi. Di sam ping itu, bibit jeruk juga m udah diperoleh, sedangka n kulit buahnya m udah dikupas, serat cukup halus,
m engandung banyak air, m anis dan segar, bijinya sedikit dan kecil-kec il. Tidak sem ua jenis jeruk siam kom ersial diusaha kan peta ni. Beberapa jenis jeruk sam pai saat ini m asih diusahaka n peta ni secara besar -be saran diantaranya adala h jenis jeruk siam . Dengan usaha budidaya tanam an jeruk ini ternyata sudah banyak petani jeruk di Bali, Jawa Barat, Jawa Tim ur, Kalim antan Barat, Sulawesi Selatan, Riau, Jam bi dan Sum atera Utara, terangkat kehidupan ekonom inya m enjadi lebih baik (AAK, 1994).
Jeruk siam adalah salah satu spesies jeruk yang dianjurkan oleh Departem en Pertanian untuk ditanam . Buahnya sangat populer di Indonesia dan ba nyak dikonsum si sebagai buah segar. Hal ini di dukung oleh rasa buahnya yang m anis dan m enyegarkan (Sarwono, 1993).
Jeruk siam (Citrus nobilis lour) tum buh berupa pohon berbatang rendah dengan tinggi antara 2-8 m . Um um nya tanam an ini tidak berduri. Batangnya bulat atau setengah bulat dan m em iliki percabangan yang banyak dengan tajuk sangat rindang. Dahannya kecil dan le taknya terpencar tidak beraturan. Daunnya berbentuk bula t telur m em anjang, elips, denga n pangka l tum pul dan ujung m eruncing seperti tom ba k. Perm ukaan atas daun berwarna hijau tua m engkilat sedangka n perm ukaan bawah berwarna hijau m uda. Panjang daun berkisar antara 4-8 cm dan lebar 1,5-4 cm . Tangkai daunnya bersayap sanga t sem pit sehingga bisa dikata kan tidak bersaya p. Jenis-jenis jeruk yang diunggulka n dan dianjurkan untuk ditanam oleh Departem en Pendidikan adalah jeruk m andarin, jeruk siam , jeruk keprok brastagi atau jeruk m edan, jeruk ke prok bukit dan jeruk kerotan (W idyawa ti dan Paim in, 1993).
Kunci keberha sila n pengem bangan tanam an jeruk ditentukan oleh ketersediaan bibit ya ng berm utu pada saa t tanam an yang tepat dan dengan harga yang tejangkau ole h petani. Oleh karena itu, penelitian dan pengem bangan serta pengelolaan kebun-kebun bibit yang ada, perlu ditingkatkan guna m em enuhi perm intaan konsum en bibit yang terus m eningkat (Sum ekto dkk, 1995).
Pem inat jeruk siam sangat tinggi, hal ini dikarenakan rasa buah yang m anis, kulit bua hnya m uda h dikupas. Dilihat dari sisi ekonom i, jeruk siam m em punyai nilai kom ersial ya ng tinggi dan perm intaan pasar terhadap jeruk siam yang sem akin
m eningka t sehingga prospe k agribisnisnya sanga t bagus. Hal ini yang m endorong peneliti un tuk m enga dakan suatu penelitia n m engenai jeruk siam .
2.3. K erangka Berfikir
Desa Um bulsari adalah desa dengan dataran rendah yang m em iliki ketinggian kurang dari 100 m dari perm ukaan a ir laut. De sa Um bulsari m em iliki luas tanah 746.958 Ha dengan luas lahan pertanian sebe sar 423.489 Ha, jenis tanam an yang banyak di budidayakan di De sa Um bulsari ada lah ta nam an hortikultura. Pengem bangan tanam an hortikultura yang m em iliki nila i ekonom is tinggi m engharapkan untuk m eningkatkan penda patan petani di Desa Um bulsari. Sal ah satu tanam an hortikultura yang banya k dibudidayakan di desa Um bulsari adalah tanam an jeruk. Jeruk m erupakan buah yang sanga t digem ari oleh m asyarakat sela in karena enak dim akan, jeruk m engandung zat-zat yang dibutuhka n oleh tubuh. Dengan m eningkatnya pem inat terhada p jeruk m aka akan m eningka t pula perm intaan terhadap jeruk. Jeruk yang dihasilkan petani tida k bisa langsung dim anfaatkan ole h konsum en untuk m em enuhi kebutuhannya. Untuk dapat sam pai ke tangan konsum en jeruk harus m elalui proses distribusi ya ng biasa disebut de ngan proses pem asaran. Pem asaran dapat diartikan se bagai kegiatan yang m em bentuk rantai distribusi yang m enhubungkan antara produsen ke konsum en. Pola pem asaran yang diguna kan untuk m em asarkan jeruk akan berpe ngaruh terhadap pendistribusian jeruk terhadap konsum en. Terbentuknya saluran pem asaran yang baik dan efisien tida k akan luput denga n terlibatnya lem baga – lem baga pem asaran didalam nya. Lem baga – lem baga pem asaran yang terlibat da lam pendistribusian berperan sebagai penyam pai produk hasil produksi terha dap konsum en dan m em bentuk sebuah saluran pem asaran. Untuk m enge tahu i saluran pem asaran jeruk siam di desa Um bulsari denga n cara m engikuti aliran pem asaran dari petani sam pai ke konsum en. Kegia tan pem asaran dalam m enyalurkan produk dari produsen ke konsum en m em erlukan bia ya. Sedangkan biaya yang dibutuhkan berbeda – beda dari setiap lem baga pem asaran, tergantung perlakuan terhadap produk ketika proses pem saran. Biaya pem asaran yang dikeluar kan dalam pem asaran Jeruk siam m eliputi biaya pe tik, biaya angkut, biaya packing, biaya bongkar, dan biaya transportasi. Besarnya bia ya pem asaran dapat di rum uskan sebagai berikut :
BP = 𝐵𝑝1+ 𝐵𝑝2 +… +𝐵𝑝n
Keterangan :
BP = Biaya pem asaran jeruk
𝐵𝑝1, 𝐵𝑝2, = Biaya pem asaran tiap lem baga pem asaran Jeruk
Setiap lem baga pem asaran m enetapkan harga yang berbeda – beda sesuai de ngan biaya yang dikeluarkan dari m asing m asing lem baga pem asaran. Selain bia ya, dalam m enentukan harga dari suatu produk lem baga pem asara n juga m em perhitungkan besar kecilnya keuntungan yang diperoleh. Keuntungan se buah saluran pem asaran diperoleh denga n m enjum lahkan dari tiap lem ba ga pem asaran yang terlibat didalam nya dan dirum uskan sebaga i berikut :
𝐾 = 𝐴 − ( 𝐵 + 𝐶 ) Keterangan :
K = Keuntungan Pem asaran A = Harga jual
B = Biaya Pem asaran C = Harga Beli
M arjin pem asaran m erupakan selisih antara harga yang dibayarkan oleh konsum en dengan harga ya ng diterim a oleh petani. M argin pem asaran terse but dapat dirum uskan sebaga i berikut :
M p = Pr – Pf Keterangan :
M p = M argin pem asaran
Pr = Harga di tingka t konsum en Pf = Harga di tingka t produsen
Suatu saluran pem asaran dapa t dikatakan efisien a pabila salura n pem asaran tersebut m em iliki nilai m argin pem asaran yang relative rendah serta b agian yang diterim a oleh petani atau nilai presentase share nya lebih dari 50%.
Suatu proses pem asaran pertanian jeruk siam yang dim ulai dari petani ke lem baga pem asaran (pengecer) harus m elalui berbagai m acam proses yang dilakukan lem baga pem asaran yang disebut de ngan ranta i nila i. Langkah untuk m engetahui pem asaran di Desa Um bulsari dilakukan dengan cara m engikuti aliran jeruk siam
dari petani sam pai ke lem baga pem asaran (pengecer) . Proses pendistribusian tersebut m elalui pasar lokal m aupun luar kota m elibatkan lem baga - lem baga pem asaran seperti tengkula k, pedagang pengum pul, pedagang besar dan peda gang pengecer.
Lem baga pem asaran yang terlibat dalam proses pem asaran berperan m enyalurkan jeruk siam dari petani ke konsum en yang nantinya akan m em bentuk saluran pem asaran dan didalam nya juga terdapat kegiatan yang disebut rantai nilai. Skem a penelitian jeruk siam ini yang dihasilkan oleh petani kem udian dijual kelem baga pem asaran sam pai pada konsum en nantinya akan di deskripsikan m enggunaka n analisis pem asaran. Hasil dari analisis tersebut dapa t m engetahui saluran pem asaran m ana yang paling efisien di Desa Um bulsari.
Dalam penjelasan ya ng sudah tertera diatas da pat digam barkan skem a dari kerangka pem ikira n peneliti seba gai berikut :
Bagan 2.3. Kerangka Pem ikiran S a lu r a n P e m a sa r a n J e r u k S ia m Y a n g E fisie n M a rg in P e m a sa ra n K e u n t u n g a n P e m a sa ra n B ia y a P e m a sa ra n T e n g k u la k L e m b a g a P e m a sa ra n P e ta n i Je ru k P e n g e p u l P . B e sa r P e g e c e r