• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUISI LAMA DAN PUISI BARU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PUISI LAMA DAN PUISI BARU"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1

PUISI LAMA DAN PUISI BARU

Semester 1 Kelas X SMA/MA – KTSP 2006

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Menulis

6. Memahami karakteristik, menulis, dan menyunting puisi lama dan puisi baru.

6.1 Mengetahui karakteristik puisi lama dan baru.

6.2 Menulis puisi lama dan puisi baru. 6.3 Menyunting puisi lama dan puisi

baru.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami konsep dasar puisi lama dan puisi baru.

2. Mengetahui karakteristik puisi lama dan puisi baru. 3. Mengetahui perbedaan antara pantun dan syair. 4. Menulis puisi lama dan puisi baru.

5. Menyunting puisi lama dan puisi baru.

A. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PUISI LAMA a. Pengertian Puisi Lama

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan, seperti jumlah kata dan suku kata dalam tiap baris; jumlah baris dalam tiap bait, rima, dan irama.

bahasa indonesia

K

e

l

a

s X

▸ Baca selengkapnya: contoh puisi hatarakibachi

(2)

2

Super "Solusi Quipper"

b. Karakteristik Puisi Lama

1. Karateristik Puisi Lama Secara Umum

• Anonim (tanpa nama pengarang). Puisi lama ada yang tidak mencantumkan namanya pegarang pada karyanya karena pada masa itu nama pengarang tidak perlu harus dikenal. Hal yang terpenting adalah karyanya bukan pengarangnya. Alasan lainnya adalah puisi-puisi lama diakui sebagai milik bersama.

• Dari mulut ke mulut. Puisi lama bersifat lisan. Artinya, puisi disampaikan langsung secara lisan kepada pendengar, kemudian diteruskan ke yang lain secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, puisi lama termasuk sastra lisan.

• Gaya bahasa yang digunakan umumnya adalah metafora serta cenderung esoferik, yaitu gaya bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara.

• Terikat aturan, di antaranya:

- rima dan irama. Rima adalah pola persajakan, yakni pola bunyi kata-kata yang ada di setiap baris. Irama adalah alunan yang terjadi karena mengatur tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan.

- Jumlah suku kata, bait, dan baris. Jumlah kata, suku kata, bait, dan baris pada puisi lama mempunyai aturan tertentu bergantung jenisnya. Sebagai contoh pantun, dalam satu baris harus terdiri dari delapan sampai dua belas suku kata dan satu bait terdiri dari empat baris.

Karakteristik Puisi Lama: ADAT GAYA

(Anonim, DAri mulut ke mulut, Terikat aturan, GAYA bahasa)

2. Karakteristik Khusus Puisi Lama Berdasarkan Jenisnya

• Pantun adalah bentuk puisi asli Indonesia yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun (Minangkabau) yang artinya “petuntun”. Kata pantun dalam bahasa Jawa yaitu parikan, dalam bahasa Sunda paparikan, dan bahasa Batak umpama. Kata pantun berarti

laksana, ibarat, atau umpama.

Adapun karakteristik pantun adalah sebagai berikut. - Tiap bait terdiri atas empat baris.

▸ Baca selengkapnya: suasana puisi padamu jua

(3)

3

- Baris pertama dan kedua merupakan sampiran yang berfungsi sebagai pengantar (paling tidak menyiapkan rima selanjutnya) untuk memudahkan pemahaman terhadap isi pantun.

- Baris ketiga dan keempat merupakan isi. - Bunyi akhir (rima) adalah (a – b – a – b).

Contoh:

Tumbuh merata pohon tebu (1) –u/ sampiran Pergi ke pasar membeli daging (2) –ing/ sampiran Banyak harta miskin ilmu (3) –u/isi

Bagai rumah tidak berdinding (4) –ing /isi

Macam-macam pantun berdasarkan bentuknya, yaitu:

- Karmina (pantun kilat) adalah pantun yang bertema kepahlawanan dengan gaya bahasa rayuan. Karakteristiknya adalah jumlah barisnya dua, yaitu baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi; dan rima akhir karmina adalah (a – a)

Contoh:

Kura-kura dalam perahu (1) –hu/sampiran Pura-pura tidak tahu (2) –hu/isi

- Talibun adalah pantun yang jumlah barisnya genap. Talibun berfungsi sebagai alat perhubungan tentang kemesraan, misalnya percintaan, berkelakar, dan nasihat. Karakteristik talibun adalah jumlah barisnya genap, yaitu 6, 8, 10, dan 12 baris; dan terdiri atas separuh sampiran dan separuhnya lagi isi. Misalnya enam baris (tiga baris untuk sampiran dan tiga baris untuk isi), dan seterusnya; tiap baris terdiri atas 2-8 suku kata tetapi umumnya sepuluh suku kata; rimanya (a – b – c, a – b – c atau (a – b – c – d) dan seterusnya.

Contoh:

Talibun enam baris

Kalau anak pergi ke lepau (1) –au/sampiran Yu beli belanak beli (2) –i/sampiran Ikan panjang beli dahulu (3) –lu/sampiran Kalau anak pergi merantau (4) –au/isi

(4)

4

lbu cari sanak pun cari (5) –i/isi lnduk semang cari dahulu (6) –lu/isi

• Seloka adalah puisi lama yang bercirikan adanya pertalian antarbait, yakni baris kedua dan keempat bait pertama muncul lagi sebagai baris pertama dan ketiga bait berikutnya; dan ada pengulangan baris yang sama.

Contoh:

Lurus jalan ke Payakumbuh (1) -uh / sampiran Kayu jati bertimbal jalan (2) -an /sampiran Di mana hati tidak akan rusuh (3) -uh / isi

Ibu mati bapak berjalan (4) -an /isi

Kayu jati bertimbal jalan (1) -lan / sampiran turun angin patahlah dahan (2) -an / sampiran

Ibu mati bapak berjalan (3) -lan / isi

ke mana untung diserahkan (4) -an / isi

• Syair adalah puisi lama yang berasal dari Persia. Kata syair berasal dari bahasa Arab Syi’ir atau syu’ur yang berarti perasaan. Makna kata syu’ur akhirnya berkembang yang berarti “puisi”. Isi syair berupa cerita yang mengandung mitos, sejarah, atau ajaran falsafah/agama.

Adapun karakteristik syair adalah sebagai berikut. - Tiap bait terdiri atas empat baris.

- Tiap baris biasanya mempunyai 8-14 suku kata. - Semua baris adalah isi.

- Rimanya adalah (a – a – a – a) dan bahasanya kiasan. Contoh:

Bila berkawan jangan bergaduh (1) –uh /isi Tiada guna bermusuh-musuh (2) –uh/ isi Jauhilah sesekali sikap angkuh (3) -uh/isi Tersisih hidup semakin keruh (4) –uh/isi

(5)

5

• Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India) yang artinya

perhiasan atau bunga. Isinya berupa nasihat, petuah, atau filsafat.

Karakterisitik gurindam adalah sebagi berikut. - Tiap bait terdiri atas dua baris.

- Jumlah suku kata 10-14 dalam tiap baris. - Rimanya (a – a).

- Hubungan baris gurindam terdiri dari dua kalimat tunggal yang membentuk kalimat majemuk.

- Baris pertama sebab/alasan, sedangkan baris kedua akibat/balasan apa yang tersebut pada baris/kalimat pertama.

Contoh:

Kurang pikir kurang siasat (1) –at/ sebab Tentu dirimu akan tersesat (2) –at/akibat

Jika hendak mengenal orang berbangsa (1) –sa/alasan Lihat kepada budi bahasa (2) –sa/balasan

• Mantra adalah susunan kata berunsur puisi, seperti rima dan irama, yang dianggap mengandung kekuatan gaib diucapkan oleh ahlinya (pawang). Keberadan mantra pada mulanya bukanlah sebuah karya sastra, melainkan berkaitan dengan adat kepercayaan.

Karakteristik mantra adalah sebagai berikut. - Tidak ada ketentuan jumlah baris.

- Kental dengan unsur irama dengan “permainan bunyi” - Mempunyai kekuatan magis.

- Gaya bahasanya mengandung metafora yang kuat dan terkadang adanya pengulangan.

Contoh:

Gelang-gelang si gali-gali Malukut kepala padi Air susu keruh asalmu jadi Aku sapa tidak berbunyi

(6)

6

B. MEMBANDINGKAN PANTUN DENGAN SYAIR

Pantun Syair

Persamaan Persamaan

Puisi lama yang terdiri dari empat baris dalam satu bait.

Puisi lama yang terdiri dari empat baris dalam satu bait.

Perbedaan Perbedaan

Sampiran terdapat pada baris pertama dan kedua.

Tidak terdapat sampiran.

Isi terdapat pada baris ketiga dan keempat. Semua baris adalah isi. Rima (a – b – a – b) Rima (a – a – a – a)

Contoh Contoh

Empat lima enam tujuh Ditambah dua jadi sembilan Adik jauh kakanda jauh Kalau rindu sama renungkan

Berhentilah kisah raja Hindustan Tersebutlah pula suatu perkataan Abdul Hamit syah padaku sultan Duduklah baginda bersuka-sukaan

C. MENULIS DAN MENYUNTING PUISI LAMA a. Menulis Puisi Lama

Dalam menulis puisu lama, ada beberapa langkah menulis yang perlu diikuti, yaitu sebagai berikut.

1. Sebelum menulis puisi lama ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: • tentukan jenis puisi lama yang akan ditulis, misalnya pantun;

• pahami karakteristik jenis puisi lama yang akan ditulis;

• ketahui terlebih dahulu unsur-unsur kebahasaan puisi lama yang akan ditulis; • temukan ide atau tema puisi lama; dan

• renungkan dan tafsirkan tema sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.

2. Penulisan puisi lama adalah sebuah proses yang paling penting dan rumit. Dalam penulisan dibutuhkan energi, kreativitas, intuisi, dan imajinasi, serta pengalaman dan pengetahuan. Setelah menguasai persiapan menulis puisi lama, gunakanlah unsur-unsur kebahasaan puisi lama berikut.

(7)

7

• Diksi, yaitu mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan sehingga kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi. Dalam hal ini dapat menggunakan kata arkais atau mutakhir.

• Apabila membuat pantun dapat menggunakan bahasa kias berupa ungkapan, majas, dan peribahasa. Gunakan bahasa kias apabila ingin memakainya dalam pantun yang akan ditulis.

• Buatlah puisi lama dengan unsur imaji atau citraan, yakni gambaran yang diciptakan secara tidak langsung dari diksi atau ungkapan yang terdapat dalam puisi lama, seolah-olah pembaca menggunakan alat indera penglihatan (visual), pendengaran (auditori), perasaan (taktil), dan penciuman.

• Pilihlah kata yang berkaitan dengan rima dan irama. Rima adalah pengulangan bunyi pantun yang terdapat di akhir setiap baris, misalnya pantun dengan rima (a – b – a – b). Irama adalah turun naiknya suara secara teratur saat melafalkan puisi lama.

3. Setelah menulis puisi lama, lakukanlah penyuntingan. Hal ini akan dibahas pada materi tersendiri dalam bab ini.

b. Menyunting Puisi Lama

Menyunting puisi lama adalah kegiatan perbaikan terhadap puisi lama yang telah ditulis. Langkah-langkahnya sebagai berikut.

1. Baca ulang puisi lama yang telah ditulis.

2. Koreksi kembali rangkaian kata, kalimat, baris, bait apabila belum sesuai. 3. Ubah, ganti, atau susun kembali setiap kata atau kalimat yang kurang tepat.

4. Baca ulang dan sunting kembali sampai puisi lama yang ditulis tersebut benar-benar sudah dianggap baik.

c. Menulis dan Menyunting Puisi Lama

Berikut adalah salah satu contoh dari menulis dan menyunting puisi lama yakni pantun berdasarkan langkah-langkah yang telah dipelajari pada materi di atas.

1. Ide: quipper video

2. Bahan: data tentang quipper video, misalnya jargon quipper video “Cara Baru Belajar Seru!”

Dalam hal ini penulis ingin menjadikan quipper video adalah salah satu cara baru dan belajar seru pada bagian isi. Tugas penulis adalah merenungkan dan memilih

(8)

8

kata agar dapat terbentuk persamaan bunyi (rima) pada bagian sampiran dan isi. Jadi, bentuk pantun yang dapat ditulis adalah sebagai berikut.

Ke Jatijajar mau membeli ayam jago Ayamnya besar dan berjalu

Mari belajar dengan Quipper Video Cara baru belajar jadi seru

3. Perhatikan baris demi baris dari pantun di atas. Sepertinya rima dan iramanya kurang menarik dan baris pertama lebih dari 12 suku kata. Untuk itu, perlu dilakukan penyuntingan sehingga menjadi seperti berikut.

Ke Jatijajar beli ayam jago Cari yang besar super berjalu Mari belajar di Quipper Video Cara baru belajar jadi seru

D. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PUISI BARU a. Pengertian Puisi Baru

Puisi baru adalah puisi yang muncul dan disukai pada masa angkatan Pujangga Baru (1930-an). Puisi baru mempunyai bait dan irama, tetapi terikat oleh jumlah bait, baris, suku kata, dan rima. Puisi baru mempunyai irama lebih dinamis dan menarik sesuai dengan pikiran dan perasaan penulis.

b. Karakteristik Puisi Baru

Berikut adalah karakteristik dari puisi baru. 1. Nama pengarang dapat diketahui.

2. Tidak terikat dengan aturan, seperti jumlah baris, suku kata, dan rima. 3. Perkembangannya secara lisan dan tertulis.

4. Memiliki bentuk yang lebih rapi dan simetris, penuh rima, dan irama. 5. Pilihan kata diwarnai dengan kata-kata yang indah-indah.

6. Menggunakan majas yang dinamis.

7. Bahasa kiasan yang banyak dimanfaatkan adalah perbandingan. 8. Umumnya berisi tentang kehidupan.

Para penyair puisi baru di antaranya adalah Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, J.E. Tatengkeng, dan Asmara Hadi.

(9)

9

Super "Solusi Quipper"

c. Macam-Macam Puisi Baru

Puisi baru dikelompokkan menjadi dua, yakni berdasarkan isi dan berdasarkan jumlah baris.

1. Puisi baru berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi himne, ode, romansa, epigram, elegi, balada, dan satire.

• Himne merupakan puisi pujaan dan ditujukan kepada Tuhan, pahlawan dan, tanah air. Kata himne berasal dari bahasa Yunani, yakni hymnos yang berarti pujian atau pujaan.

• Ode merupakan puisi yang berbentuk sanjungan kepada orang-orang yang berjasa dengan menggunakan nada atau irama yang sangat resmi. Kata ode berasal dari bahasa Yunani yang berarti nyanyian.

• Romansa merupakan puisi yang berisi tentang luapan perasaan cinta dan kasih sayang.

• Epigram merupakan puisi yang berisi tentang ajaran hidup atau tuntunan ke arah kebenaran. Kata epigram berasal dari bahasa Yunani, yaitu epigramma yang berarti pedoman, teladan, nasihat, atau ajakan untuk melakukan hal-hal yang benar. Epigram termasuk dalam kategori puisi yang ditulis dalam bentuk sederhana, singkat, langsung tertuju pada sasaran, serta menggunakan kosa kata yang berlebihan.

• Elegi merupakan puisi baru yang berisi tentang ratap tangis atau kesedihan. Objek yang digambarkan di dalam elegi biasanya berupa pengalaman-pengalaman pahit atas hal yang pernah dialami atau bisa juga berupa penyesalan dan sesuatu yang pernah dilakukan di masa lalu.

• Balada merupakan puisi yang berisi cerita atau kisah dari sebuah karangan pribadi, mitos, atau legenda yang diyakini kebenarannya di masyarakat. Balada terkadang ditulis oleh pengarang menyerupai dialog dengan tujuan menghidupkan cerita yang ada di dalamnya.

• Satire merupakan puisi yang berisi sindiran ataupun kritikan. Satire berasal dari bahasa Latin, satura yang berarti sindiran atau kecaman.

Puisi baru berdasarkan isinya: ingat HOREE BS (Himne, Ode, Romansa, Epigram, Elegi, Balada, Satire)

(10)

10

2. Puisi baru berdasarkan jumlah barisnya dapat dibedakan menjadi distikon, terzina, kuatrain, kuin, sektet, septima, oktaf (stanza), dan sonata.

• Distikon merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri dari dua baris dan pola persajakannya (a – a).

• Terzina merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri dari tiga baris dan pola persajakan dapat berupa (a – a – a , a – a – b, a – b – c, atau a – b – b)

• Kuatrain merupakan puisi empat seuntai yang tiap baitnya terdiri dari empat baris. Kuatrain lebih mirip seperti syair karena polanya (aa – aa). Namun, kuatrain dapat juga berpola (ab – ab) atau (aa – bb).

• Kuin merupakan puisi lima seuntai yang tiap baitnya terdiri dari lima baris dengan pola sajak lebih tetap, yakni (a – a – a – a – a)

• Sektet merupakan puisi enam seuntai yang tiap baitnya terdiri dari enam baris dengan pola persajakan tidak beraturan. Sektet merupakan cikal lahirnya puisi yang lebih variatif dan modern.

• Septima merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri dari tujuh baris atau disebut juga puisi tujuh seuntai. Septima memiliki karakter yang sama dengan sektet. Jadi, pola persajakan dalam septima pun terkesan bebas.

• Oktaf (stanza) merupakan puisi yang tiap baitnya terdiri dari delapan baris dengan pola persajakan yang tidak berpola.

• Soneta merupakan puisi yang terdiri dari empat belas baris dan terbagi menjadi dua, yaitu pada dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Istilah soneta merupakan istilah dari bahasa Italia yang berarti suara.

E. MENULIS DAN MENYUNTING PUISI BARU a. Menulis Puisi Baru

Berikut adalah hal-hal yang mesti diperhatikan dalam menulis puisi.

1. Tema adalah hal yang terlebih dahulu ditentukan dalam menulis puisi baru. Tema dapat berupa gagasan pokok yang dikembangkan bersama kesan dan imajinasi subjektif sehingga terbentuk luapan perasaan penulis.

2. Diksi merupakan pemilihan kata dengan lebih cermat. Kata yang dipilih benar-benar mewakili gagasan yang ingin disampaikan. Kata harus mengandung simbol yang sesuai, memberi kesan kepada pembaca berdasarkan makna denotasi dan konotasi.

3. Gaya bahasa yang khas dalam puisi dapat berupa ungkapan, peribahasa, atau majas. Penulis dapat mengungkapan harapan, suasana hati, pengalaman batin,

(11)

11

kekecewaan, atau semangat hidup secara berkias menggunakan gaya bahasa tersebut. Majas yang biasa dipakai dalam puisi di antaranya adalah personifikasi, hiperbola, metafora, simbolik, pleonasme, repetisi, sarkasme, atau retorik.

4. Persajakan (rima) dan irama. Irama adalah pengulangan bunyi atau persamaan bunyi dalam satu baris, beberapa baris, atau semua baris puisi terutama pada saat dibacakan. Persajakan yang sering digunakan penyair meliputi asonansi dan aliterasi. Asonansi adalah persamaan bunyi vokal dalam satu atau beberapa baris puisi, sedangkan aliterasi adalah persamaan penggunaan konsonan dalam satu baris puisi.

b. Menyunting Puisi Baru

Proses penyuntingan puisi baru sama dengan proses penyuntingan puisi lama. Hal yang membedakannya adalah dalam menyunting puisi baru tidak terlalu memerhatikan bait, irama, dan rima karena puisi baru tidak terikat dengan aturan-aturan seperti halnya puisi lama. Langkah-langkah yang dapat dilakukan apabila ingin melakukan penyuntingan puisi baru adalah sebagai berikut.

1. Baca ulang puisi baru yang telah ditulis.

2. Koreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait apabila belum sesuai.

3. Ubah, ganti, atau susun kembali setiap kata atau kalimat yang kurang tepat.

4. Baca ulang dan sunting kembali sampai puisi baru yang ditulis benar-benar dianggap sudah baik.

c. Menulis dan Menyunting Puisi Baru

Berikut akan dicontohkan langkah-langkah menulis dan menyunting puisi baru. Ide puisi barunya adalah tentang seseorang yang pergi di tengah jalan setapak pada malam hari yang sunyi dan dingin. Dalam hal ini penulis tidak perlu menuliskan puisi secara naratif layaknya prosa. Cerita tersebut dapat disingkat dalam bentuk larik seperti berikut, Dalam gelap di

jalan setapak atau juga bisa menggunakan larik seperti ini, Hitam itu teman ketika malam melangkah. Berikut perbandingan puisi yang ditulis sebelum dan sesudah disunting.

1. Puisi Sebelum Disunting

Rumah Sepi

Aku sendirian di rumah

Tak ada ayah dan ibu yang sibuk tak mau menemaniku Hanya layar televisi yang menemani

Dan tawaku akan keluar ketika kartun kucing dan tikus tayang Atau melihat sabut kuning dengan tingkah konyolnya.

(12)

12

Aku bisa tersenyum lagi

Ketika kakak datang dan mengelus rambutku Tapi ia kini asik sendiri

Dalam kamarnya dengan berbagai peralatan canggihnya Akupun tetap merasa sendiri

2. Puisi Setelah Disunting

Rumah Sepi

Tak ada sapa dari orang tua Mengulang hari yang sama

Dengan kartun yang bisa buatku senyum sementara kakak datang, sedikit hilang sepi

tapi aku cepat merasa sunyi ketika ia ramai di kamarnya dengan ponselnya

Setelah disunting, puisi kedua dengan diksi yang tepat terasa lebih baik dan memiliki efek tersendiri dibandingkan puisi pertama.

LATIHAN SOAL

1. Dengan cekatan anak kecil itu melambai-lambaikan koran sore yang dibawanya kepada orang-orang yang berdiri menunggu datangnya bus di terminal itu. Beberapa orang tertarik untuk membelinya. Ada yang karena sekadar kasihan dengan si anak, tetapi ada juga yang karena ingin mengetahui berita sore itu.

Pembuatan kalimat yang tepat untuk dijadikan larik puisi sesuai prosa tersebut adalah .... A. kibaran koran sore di tanganmu memanggil-manggil penuh sigap kan jemput

harapan

B. anak kecil itu melambai-lambaikan koran sore ia menunggu pembeli di tempat datangnya bus sore itu beberapa orang kasihan dan membeli koran itu

C. penunggu bus membeli koran yang didagangkan seorang anak kecil di terminal karena perasaan kasihan

(13)

13

D. anak kecil itu melambai-lambaikan koran sore kepada pembeli yang menunggu bus di halte bus

E. ketika orang pulang bekerja di terminal bus membeli koran sore yang dijajakan seorang anak kecil

2. Perhatikan syair berikut.

Dunia dijangka kekal selama Berbuat dosa sangat ternama Mencari wang sangat utama Tidak menurut kata ulama ….

Lanjutan syair di atas yang tepat adalah .… A. Wang terkumpul diri pun kaya

Takabur dan sombong timbul sebaya Perintah Tuhan Rabbi yang kaya Sekali-kali tidak percaya

B. Kaum kerabat dipandang lata Bangsa dimiskin jangan dikata Takdir dia datang meminta Haram dipandang sebelah mata

C. Adapun akan di zaman ini Banyak kulihat tolan ikhwani Selama hidup sebelum fani

Tidak mengingat Tuhan yang ghani

D. Ulama disangka bicara kosong Sebarang kata lalu disongsong Mencari wang berpesong-pesong Sangatlah suka berkata bohong

E. Dengarkan tuan suatu ibarat Keadaan alam timur dan barat Kuasa Allah punya kudrat Lautan boleh menjadi darat

(14)

14

3. Perhatikan puisi berikut.

Kulajukan perahuku menuju pantai-Mu Kubentangkan layarku biar berkibar

diterpa angin yang menampar kudamaikan hatiku

yang melarung di laut-Mu yang biru Dan bersama badai aku akan sampai di pantai teduh-Mu

Puisi di atas termasuk puisi ....

A. gurindam B. seloka C. puisi baru

D. puisi Lama E. pantun

4. Di bawah ini yang tidak termasuk puisi lama adalah .... A. Kurang pikir kurang siasat

Kelak hidupmu akan tersesat Kalau sampai waktuku Kumau tak seorang kan merayu

B. Tidak juga kau Tak perlu sedu-sedan itu … ,

C. Barang siapa berbuat jasa, Mulia namanya sepanjang masa.

D. Kota Jambi kota beradat Tempat tinggal sanak saudara Mari kita belajar giat

(15)

15

E. Bunga melur cempaka biru,

bunga rampai di dalam puan. Tujuh malam semalam rindu, belum sampai pemuda tuan.

5. Perhatikan gurindam berikut.

Bila terkena penyakit kikir ...

Isi yang tepat untuk mengisi bagian gurindam yang rumpang di atas adalah .... A. Tuan muda hidup kembali

B. Mulia namanya sepanjang masa C. Tentu dirimu kelak tersesat D. Supaya terelak silang sengketa E. Sanak saudara lari menyingkir

6. Perhatikan pernyataan berikut. i. Sajak akhir berirama a – a ii. Satu bait terdiri dari 2 baris iii. Berasal dari Tamil (India) iv. Satu bait terdiri dari 4 baris v. Berasal dari Arab

Pernyataan di atas yang tidak termasuk ciri-ciri gurindam adalah .... A. i, ii, dan v

B. i, iii, dan v C. ii dan iv D. iv dan v E. iv

7. engkau datang mengintai hidup,

engkau datang menunjukkan muka tapi sekejap matamu kau tutup melihat terang anakku tak suka ...

(16)

16

A. syair B. gurindam C. pantun D. karmina E. talibun 8. Mendatang-datang jua

Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua Yang dulu sinau silau Membayang rupa jua Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu

Puisi di atas termasuk dalam jenis .... A. terzina

B. kuin C. kuatrain D. stanza E. distikon

9. Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tegahnya tiada ia mengalah

Puisi lama di atas termasuk ....

A. syair B. gurindam C. pantun

D. karmina E. talibun

10. Perhatikan potongan puisi lama berikut.

...

Berangan besar di dalam padi Pantun tidak mengata orang Janganlah syak di dalam hati

(17)

17

Kalimat yang tepat untuk melengkapi puisi lama tersebut adalah .... A. Buah ara, batang dibantun

B. Mari dibantun dengan parang C. Cempedak di kerat-kerati

D. Sembarang dapat saya pantunkan E. Ribu-ribu jalan ke kandis

Referensi

Dokumen terkait

Terutama materi pembelajaran menulis puisi, hal itu dapat terlihat dari hasil gambaran di lapangan SDN 2 Cibodas sebagai berikut: (1) siswa kelas V masih sulit

Siswa menyimak mendengarkan informasi tentang materi yang akan dipelajari selanjutnya yaitu menulis puisi dengan menggunakan strategi pikir plus. Siswa dan guru

Berdasarkan bentuknya, puisi baru dibedakan menjadi 8 jenis yaitu distikon, terzina, quatrain, kuint, sektet, septime, oktaf, dan soneta. - Contoh Puisi Distikon

(1)Langkah-langkah penggunaan model quantum teaching dalam meningkatkan keterampilan siswa menulis pantun dimulai dengan kegiatan pendahuluan yaitu guru mengucapkan

pembelajaran“Siapa yang suka menulis puisi?‟‟ ; (3) guru menjelaskan materi tentang menulis puisi dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis puisi, (4)

Langkah awal dalam produksi media pembelajaran berupa penyusunan modul adalah mengumpulkan semua referensi yang berkaitan dengan materi menulis puisi, ilustrasi, dan

Dalam penelitiaan ini, karya sastra yang akan menjadi objek kajian adalah contoh karya sastra dalam bentuk puisi lama yaitu pantun. Peneliti telah melakukan

Penulisan menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan  Metode Pembelajaran  Model : Pembelajaran  Metode : Diskusi,Pemberian tugas dan presentase Langkah Langkah