• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahasa Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bahasa Indonesia"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

I. BAHSASA INDONESIA

1. Bahasa

Pada waktu terakhir ini makin dirasakan betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Kenyataan yang dihadapidewasa ini adalah bahwa, selain ahli-ahli bahasa, semua ahli yangbergerak dalam bidang pengetahuan yang lain cenderung memperkuat dirinya dengan teori dan pratek bahasa. Semua menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akanlumpuh tanpa bahasa.

Begitu pula melalui bahasa, kebudayaan suatu bangsa dapat dibentuk, dibina, dan dapat dikembangkan serta dapat diturunkan kepada generasi kita mendatang. Dengan adanya bahasa sebagai alat komuniksi, maka semua yang ada di sekitar kita : peristiwa-peristiwa, binatang-binatang, tumbuhtumbuhan, hasil cipta karya manusia dan sebagainya mendapat tanggapan dalam pikiran manusia lalu disusun dan diungkapkan kembali kepada orang lain sebagai bahan komunikasi.

Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi dan memperhatikan wujud bahasa itu, maka kita dapat membatasi pengertian bahasa itu sebagai alat komunikasi antara masayarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

(2)

2. Aspek Bahasa

Telah disinggung sebelumnya, bahwa bahasa merupakan sistem

komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal yang bersifat arbitrer yang diperkuat denga n gerak gerik badaniah yang nyata. Simbol adalah makna yang diberikan kepada sesuatu yang dapat diserap oleh alat pendengaran kiata

Dalam hal ini bahasa pada dasarnya memiliki dua aspek, yaitu bunyi vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barabg yang diwakilinya. Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengar kita, sedangkan arti adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi vokal dengan barang atau hal yang diwakilinya .

Dalam sejarah bahasa ada satu kelompok berpendapat bahwa memang ada hubungan yang wajar antara kata dengan barangnya , dengan menggunakan etimologi bahasa, misalnya a, u, o menyatakan sesuatu yang besar, rendah dan berat, sedangkan vokal i, e menyatakan sesuatu yang tinggi, kecil dan tajam.

(3)

Bila kita meninjau kembali sejarah pertumbuhan bahasa sejak awal hingga Sekarang, maka fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar motip pertumbuh an bahasa itu sendiri , maka bahasa itu mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri → agar menarik perhatian

orang lain kepada kita.

b. Sebagai alat komunikasi→ dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kiata rasakan, fikirkan, dan kita ketahui kepada orang lain. c. Sebagai alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial→ melalui bahasa

manusia dengan pengalamannya dapat mempelajari segala sesuatu yang ada di sekitarnya,→melalui bahasa seorang anggota massyarakat perlahan-lahan belajar mengenal segala adat istiadat, tingkah laku dan tata-krama.

d. Sebagai alat untuk mengadakan kontrol sosial→ kontrol sosial adalah usaha untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindakan orang lain, dengan bahasa emua kegiatan sosial dapat kita lakukan.

(4)

4. Tujuan kemahiran bahasa

Melihat fungsi-fungsi bahasa seperti yang diuraikan

sebelumnya, terutama fungsi sebagai alat kemunikasi dan

kontrol sosial, maka maksud utama buku ini adalah untuk

memberika

dasar-dasar

kebahasaan

guna

memperoleh

kemahiran berbahasa bagi pengguna bahasa baik lisan atau

tulisan.

Sebab itu, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang

umum digunakan dalam kontak bahasa dan kontak sosial atau

bahasa yang tidak menyalahi norma-norma yang brlaku umum

dalam masyarakat.

Dengan latihankemampuan atau keterampilan secara intensif

Mendorong kita memperoleh keterampilan berbicara, setelah

menguasai sejumlah pembendaharaan kata dan perlahan-lahan

akan memungkinkan kita melahirkan ide, pengetahuan dsb.

(5)

5. Manfaat tambahan

a. Kita lebih mengenal diri kita sendiri: kita bisa mengetahui sampai di mana kesanggupan kita mempengaruhi orang lain, betapa hidupnya imaginasi kita, berapa jauh dapat kita harapkan hasil pemikiran kita sendiri.

b. Kita lebih dalam memahami orang lain: Komunikasi tidak berjalan searah tanpa adanya komunikasi timbak balik yang baik dan kompak. Biasanya dalam percakapan biasa, sering kita mengetahui kelemahan dari penuturan lisan seseorang.

c. Belajar mengenal dunia sekitar kita: Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak bertindak sebagai penonton ketimbang memikirkan lebih mendalam mengenai segala sesuatu yang ada disekitar kita.

d. Kita dapat mengembangkan suatu proses berpikir yang jelas dan teratur: Setiap kita mengatakan sesuatu orang selalu menganggap yang kita ucapkan itu benar adanya

(6)

y

6. Kesimpulan

Kemahiran berbahasa bertujuan untuk memperlancar pola komunikasi kita yang jelas dan teratur dengan semua anggota masyarakat. Ia memungkinkan terpeliharanya tata sosial, adat istiadat, kebiasaan dan sebagainya melalui penghususan dari fungsi komunikasi bahasa. Namun yang paling utama dari kemahiran bahasa adalah pemakaian bahasa secara baik untuk kepentingan individu dalam masyarakat itu sendiri.

Sejarah juga mencatat kenyataan-kenyataan yang sama sekali tidak diharapkan umat manusia. Sejarah memperlihatkan bahwa kemahiran bahasa yang dimiliki seseorang dapat disalahgunakan untuk menghancurkan umat manusia dan kebudayaan nya.

Sebab itu, pemakai bahasa harus moral yang tinggi agar bisa menjadi pemicu timbangan dalam melakukan kontrol sosial terhadap anggota masyarakatnya.

(7)

6. Kesalahan Umum Pemakaian Bahasa

Kesalahan bahasa lisan → bahasa yang dioralkan oleh Individu dalam kontak bahasa di tengah-tengah masyarakat. Bahasa tulisan — pencerminan dari bahasa lisan (oral) ke dalam bahasa tulis. Dalam bahasa lisan sering

ditemukan kesalahan-kesalahan pada:

1. Penyebutan huruf u — yu, seperti pada kata unit → yunit, Universitas→ yuniversitas, huruf g—h →idiologi diucapkan idiolohi, kolega →koleha. 2. Menjamakkan kata, misalnya pada kata data →data-data, kata mereka →mereka-mereka. Sesungguhnya kata data dan mereka adalah sudah jamak.

3. Penggunaan adverbial secara serampangan, misalnya pada sapaan kehadiran Bapak/Ibu adalah merupakan kebahgian kami.

4.Kesalahan pada bahasa lisan berpeluang terulang dalam bahasa tulisan yang lebih diperparah dengan kesalahan sistem ejaan / penulisan fonem, morfen, kata, frase, kalimat dan wacana, sesuai yang disyaratkan dalam buku petunjuk “ pedoman penulisan yang baik dan benar”.

(8)

7. Kesalahan dalam bahasa Tulis

Kesalahan menggunakan bahasa tulisan antara lain:

1. Salah menggunakan tanda baca, misalnya: Coba katakan , Saudara,

siapa namamu? Dalam ujaran yang wajar antara “katakan” dan “Saudara” tidak terdapat tanda perhentian, sebab itu seharusnya koma di situ di-

hilangkan.

2. Kesalahan menuliskan huruf kapital untuk menuliskan nama gelar/nama kesarjanaan (S1) seseorang, misalnya Dr. Hasan Basri. Yang seharusnya huruf kapital pada nama gelar kesarjanaan ditulis dengan hurus kecil “dr.” yang dibaca dokter.

3. Kesalahan menggunakan kata keterangan jamak, seperti pada kata, banyak

dari mereka-merka yang dipinggirkan oleh pemerintah. Beberapa dari

orang-orang itu datang dari luar kota. Banyak masalah-masalah yang harus ditangani oleh Gubernur Jakarta

4. Salah menuliskan kata depan, misalnya kata depan /di/ /ke/ disambung dengan kata yang mengikutinya, misalnya: dipasar, kepasar, seharusnya ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, seperti, di pasar. ke pasar, ke mana tempatnya? Di mana rumahmu? Dsb.

(9)

8. Kesalahan menggunakan huruf kapital pada singkatan kata

atau ungkapan yang sudah lazim.

Misalnya: A.n. seharusnya ditulis a.n. (atas nama).

D.a. seharusnya ditulis d.a. (dengan alamat).

U.b. seharusnya ditulis u.b. (untuk beliau).

Tsb. seharusnya ditulis tsb. (tersebut).

Dkk. seharusnya ditulis dkk. (dan kawan-kawan).

Dst. seharusnya ditulis dst. (dan seterusnya).

Dll. seharusnya ditulis dll (dan lain-lain).

Dsb. seharusnya ditulis dsb (dan sebagainya).

Kep. seharusny ditulid kep. (kependekan).

Dgn. seharusnya ditulis dgn (denganan)

(10)

II. Pungtuasi

A. Pentingnya Pungtuasi

Dalam percakapan lisan sehari-hari terdengar penyebutan

kata-kata seolah-olah dirangkaiakan satu sama lain, serta sana –

sini terdengar perhentian sebentar atau agak lama dengan suara

menaik atau menurun. Di samping itu masih terdapat expresi

air muka, berupa menggerak-gerakan mata,

mengangguk-anggukan kepala, mengacunkan tangan dan sebagainya.

Kata”ya” diucapkan berulang-ulang menyatakan persetujuan

yang bersemangat, atau bernada kemalu-maluan, kebimbangan

dan kekurangan kepercayaan, atau sebagai penolakan secara

kasar. Banyak sekali arti dari yang dapat diberikan kepada suatu

ucapan dengan perbedaan variasi kecepatan, keras lembut, dan

intonasi yang berlainan.

(11)

3. Macam-macam Pungtuasi

Pungtuasi yang lazim diperguanakan dewasa ini didasarkan

atas nada dan lagu (suprasegmental) dan sebagian lagi

didasarkan atas relasi gramatikal, frase, dan inter-relasi antar

bagian kalimat (hubungan sintaksis) yang lebih dikenal dengan

penyebutan tanda-tanda baca .Tanda-tanda b aca itu adalah:

a. Titik (.), .b. Koma (,) dan penggunaannya.

c. Titik koma (.;), d. Titik dua (:) dan penggunaannya

e. Petik (‘ …’), f. Tanda tanya (?) dan penggunaannya

g. Tanda seruh (!), h. Tanda hubung (-) dan penggunaannya

i. Tanda pisah ( ), j. Tanda elipsis dan penggunaannya

k. Tanda kurung ( ), l kurung siku [ ] dan penggunaannya

m. Garis miring (/), n. Huruf kapital dan penggunaannya.

(12)

5. Kaliamat yang efektif

Tujuan tulis menulis atau karang mengarang →untuk mengungkapkan fakta-fakta, perasaan, sikap dan isi pikiran secara jelas dan efektif kepada pembaca. Sebab itu, ada beberapa persyaratan yang harus dikuasai untuk dapat men guasai bahasa itu antara lain adalah:

1. Penguasaan secara aktif sejumlah besar penbendaharaan kata (kosa kata) bahasa itu,

2. Menguasaan sintaksis bahasa itu secara aktif,

3. Kemampuan menemukan gaya bahasa yan g cocok untuk menyampaikan gagasan-ga gasan,

4. Tingkat penalaran atau logika yang dimiliki seseorang.

Dalam poin ini tidak dibicarakan pembentukan kalimat berdasarkan kaidah-kaidah bahasa. Untuk sementara dianggap kita semua sudah tahu tentang segi-segi sintaksis bahasa itu. Dalam uraian ini kita akan bicarakan secara husus tentang uraian mengenai kalimat ditinjauh dari segi komposisi dan retorika yaitu mengenai kalimat yang efektif.

(13)

Dengan mempergunakan kedua syarat pertama di atas sudah dapat diharapkan bahwa kita sudah bisa berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa itu. Namun penguasakan kaidah-kaidah sintaksis dan kosa kata saja, belum memungkinkan kita mempergunakan bahasa itu dengan hidup dan segar. Sebab itu diperlukan syarat-syarat lain agar bahasa itu dalam bentuk kecilnya berupa kalimat dapat dirasakan hidup, segar, mudah ditangkap dan dipahami. Bila kalimat-kalimat kita sudah memiliki kemampuan ini, maka kalimat-kalimat itu dapat disebut sebagai kalimat yang efektif. Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat

mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan pengarang,

bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar, dan sanggup menarik perhatian pembaca dan pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Kalimat yang efektif memiliki kemampuan atau tenaga untuk

menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar yang dengan apa yang ada dibenak penulis.

(14)

Jadi yang dimaksud dengan kalimat yang efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis,

2) Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

Bila kedua syarat ini dipenuhi maka tidak mungkin akan terjadi salah paham antara mereka yang terlibat dalam komunikasi. Sebab itu seperti telah disebut terdahulu, di samping kerangka-kerangka sintaksis dan kosa kata, kita memerlukan syart-syarat lain untuk dapat menciptakan kalimat yang efektif. Syarat-syarat tersebut akan mencakup pula masalah kegayabahasaan dan penalaran. Syarat-syarat tersebut dapat diperinci lagi atas: Kesatuan gagasan, koherensi yang kompah, penekanan, variasi, paralelisme, dan penalaran.

(15)

a. Kesatuan gagasan

Setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasannya, mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan lain yang tidak ada hubungan atau menggabungkan kesatuan yang sama sekali tidak mempunyai hubungan. Bila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan, maka akan rusak kesatuan pikiran itu. Sebagai contoh:

a) Yang jelas kesatuan gagasannya

Kita bisa merasakan dalam kehidupane sehari-hari, betapa emosi itu

sering kali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindak kehidupan kita (kesatuan tunggal) .

b) Yang tidak jelas kesatuan gagasannya

Dengan adanya kenaklan anak-anak yang kadang-kadang sudah

merupakan perbuatan kriminil memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara

(16)

teraksi

b. Koherensi yang baik dan kompak

Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur

(kata atau kelompok kata) yang membentuk kalmat.

Bagaimana hubungan antara subjek dan predikat, hubungan antara

predikat dan objek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi.

a) Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.

BAIK: adik saya yang paling kecil memukul anjing di kebun kemarin pagi, dengan sekuat tenaganya.

TIDAK BAIK: adik saya yang paling kecil memukul dengan sekuat tenaganya kemarin pagi di kebun anjing.

b) Kepadua sebuah kalimat akan rusak karena salah mempergunakan kata-kata depan, kata penghubung, dan sebainya

“ Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang (tanpa bagi)”.

(17)

c. Penalaran

Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan

utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan.

Gagasan utama sebuah kalimat tetap didukung oleh subjek, dan

predikat, sedangkan unsur yang dipentingkan dapat bergeser

dari satu kata ke kata yang lain. Kata yang dipentingkan harus

mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur

yang lain. Dalam bahasa lisan kita dapat menggunkan tekanan,

gerak gerik, dan sebagainya untuk memberi tekanan pada sebuah

kata, tetapi dalam bahasa tulisan tidak bisa digunakan cara seperti itu. Namun masih ada beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memberi pekanan itu, baik dalam bahasa lisan atau pun

dalam bahasa tulisan. Cara-cara tersebut adalah:

a. Merubah-ubah posisi dalam kalimat

Sebagai prinsip dapat dikatakan bahwa semua kata yang di

tempatkan pada awal kalimat adalah kata yang dipentingkan.

c. Penalaran

Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan

utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan.

Gagasan utama sebuah kalimat tetap didukung oleh subjek, dan

predikat, sedangkan unsur yang dipentingkan dapat bergeser

dari satu kata ke kata yang lain. Kata yang dipentingkan harus

mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur

yang lain. Dalam bahasa lisan kita dapat menggunkan tekanan,

gerak gerik, dan sebagainya untuk memberi tekanan pada sebuah

kata, tetapi dalam bahasa tulisan tidak bisa digunakan cara seperti itu. Namun masih ada beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memberi pekanan itu, baik dalam bahasa lisan atau pun

dalam bahasa tulisan. Cara-cara tersebut adalah:

a. Merubah-ubah posisi dalam kalimat

Sebagai prinsip dapat dikatakan bahwa semua kata yang di

tempatkan pada awal kalimat adalah kata yang dipentingkan.

(18)

gan

b. Mempergunakan repetisi

Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat. Contoh:

“Harapan kita demikianlah dan demikian pula harapan setiap pejuang”.

c. Partikel Penekanan

Cukup banyak partikel yang dikenal dalam bahasa Indonesia antara

lain adalah: lah, kah, tah, pun, yang oleh kebanyakan tatabahasa disebut imbuhan. Contoh:

“Saudaralah yang harus bertanggungjawab dalam soal itu”. “Bapaklah yang harus lebih dahulu memberi contoh”

“Ia pun mencoba mendekatkan kedua belah phak dalam perundingan itu”.

“Tuan Ahmadkah yang datang ke rumah saya kemarin pagi? Putri saya sampaikan kepada saya”.

“Siapatah yang suka bergaul dengan orang yang dengki itu? Sapa si Ali.

(19)

d. Variasi

Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dari

repetisi. Variasi tidak lain dari daripada menganeka ragamkan

bentuk-bentuk bahasa agar tetap terpelihara minat dan

perhatian orang. Contoh:

a. Variasi sinonim kata

Variasi sinonim kata, atau penjelasan-penjelasan yang

berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidak merubah isi

dan amanat yang akan disampaikan.

Contoh:

Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu

realita yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral

yang menjiwai seluruh puisi (BKI).

(20)

gan

b. Variasi panjang pendeknya kalimat

Variasi panjang pendeknya struktur kalimat akan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang., pilihan yang tepat dari struktur

panjangnya sebuah kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan. Bila kita menghadapi kalimat atau rangkaian kalimat panjang yang identik strukturnya, maka itu merupakan

pertanda bahwa kalimat tersebut kurang baik digarap, serta pikiran pikiran pengarang sendiri tidak jelas.

Perhatikan variasi panjang pendeknya kalimat dalam contoh berikut:

Saudara J.U. Nasution memberikan alasan untuk menolak sajak tersebut dengan mengutarakan bahwa puisi itu tidak mengikuti logika puisi, pada malam lebaran tidak ada bulan. Sebenarnya tak perlu kita bawalogika puisi untuk menolak puisi tersebut.

Penciptaan puisi memang bukanlah hanya dapat melambangkan banyak hal. Tetapi pernyataan itu juga haus intensif, yang dengan aac sendirinya dapat menimbulkan kesan kepada pembaca...(BKI)

(21)

tuk

c. Variasi penggunaan bentuk kata me dan di.

Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam beberapa

kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Sebab itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal, terutama

dalam mempergunakan bentuk-bentuk kata kerja yang mengandung prefiks me dan di-.

Perhatikan kutipan berikut:

Seorang ahli Inggris yang duduk dalam Team Penelitian dan Pengembangan Pelabuhan –pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya, seyogianya pemerintah tidak membangun pelabuhan samudra. Namun pemerintah tidak memutuskan demikian.

Memang cukup mengendorkan semangat kalau kita melihat

keadaan di Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap tidur nyenyak meskipun pemerintah membangun banyak vasilitas pengangkutan laut dan udara.

(22)

d. Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat

Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai sangkut paut dengan penekanan dalam kalimat (lihat`4a).

Bagaimana saudara membuat variasi kalimat berikut dengan memberu tekanan pada kata-kata yang terdapat dalam tanda kurung:

Di bidang angkutan udara MNA`mempergunakan pesawat Twin Otter yang harganya tiga kali lebih mahal dari harga Dakota, karena beberapa keunggulannya, (Pergunakan MNA pesawat Twin Otter, harganya tiga kali lebih mahal, karena beberapa keunggulannya). Pelaksanaan bantuan hukum di negara kita, yang dilaksanakan

atas dasar peraturan peninggalan zaman penjajahan dahulu sifatnya sangat terbatas, (di negara kita; peraturan peninggalan zaman

(23)

e. Paralelisme

Bila variasi struktur kalimat merupakan suatu alat yang baik untuk menonjolkan gagasan sentral, maka paralelisme juga menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur/konstruksi gramatikal yang sama. Bila salah satu dari gagasan itu ditempatkan dalam struktur kata benda, maka kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang lain yang menduduki fungsi yang sama harus juga ditempatkan dalam struktur kata benda, bila yang satunya ditemoatkan dalam kata kerja, maka yang lainnya juga harus ditempatkan dalam struktur kata kerja. Perhatikan kutipan berikut: Apabila pelaksanaan pembangunan lima tahun kita jadikan titik tolak,

maka menonjollah beberapa masalah pokok yang minta perhatian dan pemecahan. Reorganisasi administrasi departemen-departemen. Ini yang pertama. Masalah pokok yang lain adalah pemb orosan dan

penyewengan. Ketiga karena masalah pembangunan eknomi yang kita jadikan titik tolak, maka kita ingin juga mengemukakan faktor lain,

yaitu bagaimana memobilisir potensi nasional secara maksimal dalam partisipasi pembangunan ini ; (Kompas)

(24)

f. Penalaran atau Logika

Struktur gramatika bukanlah merupakan tujua dalam komunikasi, tetapi sekedar merupakan suatu alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas-jelasnya. Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami kenyataan-kenyataan yang menjukkan bahwa ada anggota masyarakat dapat mengungkapkan pendapat dan isi pikirannya dengan teratur, tanpa mempelajari secara khusus struktur gramatikal suatu bahasa. Berarti ada unsur lain yang harus diperhitungkan dalam pemakaian suatu bahasa. Unsur lain ini adalah segi penalaran atau logika. Jalan pikiran

pembicara turut baik tidaknya kalimat seseorang, mudah tidaknya pikirannya dapat dipahami.

Yang dimaksud jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubung-hubungkan evidensi-evidensi menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal. Ini berarti

kalimat-kalimat yang diucapkan harus bisa dipertanggung jawabkan dari segi akal sehat atau singkatnya harus sesuai dengan penalaran.

(25)

IV. Alenia

A.Pengertian alinea

Dalam surat-surat kabar sering terdapat alinea yang terdiri dari satu kalimat. Sebaliknya ada sejumlah buku yang memiliki alinea yang sangat panjang, mungkin satu halaman penuh. Dalam hal ini timbul pertanyaan ekstrim mana yang benar di antara keduanya? Atau lebih jauh lagi kita bertanya: Apa yang dimaksud alinea?

Alinea bukanlah suatu pembagian kalimat secara konvensional, tetapi lebih dalam maknanya sebagai kesatuan kalimat saja. Alinea tidak lain dari suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat, merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.

Macam-macam alinea

a. Alinea pembuka → membuka atau mengantar pokok pikiran

b. Alinea penghubung →semua alinea yang terdapat di antara alinea pembuka dan alinea penutup

c. Alinea penutup→mengakhiri suatu karangan atau sebagai kesimpulan akhir dari sebuah karangan.

(26)

B. Perkembangan alinea

● Perkembangan dan pengembangan alinea mencakup 2(dua)

Persoalan, yaitu pertama, kemampuan memerinci secara

maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan-gagasasan

bawahan, kedua kemampuan mengurut gagasan-gagasasan

bawahan ke dalam urutan yang teratur.

● Gagasan utama alinea hanya akan menjadi jelas jika dilakukan

perincian secara cermat. Gagasan utama biasanya didukung oleh

kalimat topik. Gagasan-gagasan bawahan dapat didukung

masing-masing oleh sebuah kalimat atau lebih.

● Ada beberapa metode dalam mengembangkan sebuah alinea,

sangat tergantung pada sudut pandang penulis atas hal yang

(27)

c. Macam-macam Alinea

Berdasarkan sifat dan tujuannya , alinea-alinea dapat dibedakan atas :

a. Alinea pembuka

Tiap jenis karangan mempunyai alinea yang membuka atau menghantar karangan itu, atau pokok pikiran dalam bagian

karangan itu. Sebab itu sifat-sifat dari alinea semacam ini harus

menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pem baca kepada apa yang akan segera diuraikan. Alinea pembuka yang pendek jauh lebih baik, karena alinea panjang hanya membosankan pembaca.

Alat untuk menimbulkan minat pembaca , yang dapat dipergunakan dalam sebuah alinea pembuka ada bermacam-macam pula berdasarkan jenis karangan itu sendiri. Namun ada beberapa cara yang dianjurkan: Mulailah dengan sebuah kutipan, pribahasa, anekdot atau mulailah dengan membatasi arti dari suatu pokok kalimat (subjek).

(28)

utu

B . Alinea penghubung

Yang dimaksud alinea penghubung adalah semua alinea yang terdapat antara alinea pembuka dan penutup.

Inti persoalan yang akan dikemukakan penulis terdapat dalam alinea-alinea ini. Sebab itu dalam membentuk alinea-alinea penghubung harus diperhatikan agar hubungan antara alinea dengan alinea itu teratur, serta disusun secara logis.

C. Alinea penutup

Alinea penutup adalah alinea yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain alinea ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah dhubiuraikan terdahulu dalam alinea penghubung.

Seperti halnya dengan kedua alinea di atas, alinea penutup berbeda-beda pula menurut jenis karangannya. Dalam membicarakan pokok-pokok ilmiah atau politis, maka ramalan masa depan merupakan konklusi yang paling baik.

(29)

d. Syarat-syarat pembentukan alinea

Seperti halnya dengan kalimat, sebuuah alinea juga harus

memenuhi syarat-syarat tertentu. Alinea yang baik dan efektif

harus tiga syarat berikut:

a. Kesatuan: Yang dimaksud dengan kesatuan dalam alinea adalah

bahwa semua kalimat yang membina alinea itu secara bersama

sama menyatakan suatu hal, atau suatu tema tertentu.

b. Koherensi: Yang dimaksud dengan koherensi adalah kekompakan

hubungan antara sebuah dengan kalimat yang lain yang

membentuk

alinea itu.

c. Perkembangan alinea: Yang dimaksud perkembangan alinea

adalah penyusunan atau perincian daripada gagasan-gagasan

yang membina alinea itu.

(30)

VI. Metode pengembangan alinea

● Perkembangan gagasan alinea dapat disusun dengan meng-

gunakan Klimaks dan anti-klimaks → suatu gagasan utama

mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang

dianggap paling rendah kedudukannya, berangsur-angsur ke

gagasan lain yang dianggap lebih tinggi kedudukannya.

● Sudut pandang

Yang dimaksud sudut pandang → tempat pengarang/penulis

untuk melihat sesuatu.

● Perbandingan dan pertentangan

Yang dimaksud perbandingan dan pertentangan → suatu cara

yang dilakukan oleh penulis/pengarang untuk menyamakan atau

mempertentang sesuatu objek kepada para pembaca.

(31)

Lanjutan

● Analogi

Bila perbandingan dan pertentangan memberi sejumlah ketidaksamaan dan perbedaan dari dua objek, maka analogi → perbandingan yang sistematis dari dua objek yang berbeda, tetapi dengan memperlihatkan kesamaan kedua segi atau fungsi kedua objek tersebut.

● Contoh

Sebuah gagasan yang umum sifatnya memerlukan ilustrasi yang kongkrik agar dapat dipahami oleh pembaca. Misalnya tersirat

dalam ilustrasi berikut: “Dalam bukunya” The wolrd and the west’ Arnold Toynbee mengemukakan pendapatnya, bahwa hasil teknologi Barat tidak dengan serta merta ditanamkan ke dalam dunia Timur berhubung teknik itu merupakan hasil dari suatu perkembangan yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.

(32)

● Proses

Sebuah dasar lain yang dapat dipergunakan untuk menjaga agar perkembangan sebuah alinea dapat disusun secara teratur adalah proses. Proses → suatu urutan dari tindakan yang merujuk pada urutan dari

sesuatu kejadian atau peristiwa. Sebagi contoh kita ambil dari pertemuan angkasa “Gemini 7 tanggal 15 Desember 1965. Gemini 7 sudah berhari-hari berada dalam peredarannya yang berbentuk lingkaran dengan tinggi 294 km.

● Sebab-Akibat

Perkembangan sebuah alinea dapat pula dinyatakan dengan mempergunakan sebab akibat sebagai dasar. Dalam hal ini sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya atau sebaliknya. Sebagai contoh :”Meliahat sepintas lalu masyarakat kota bandar kita terkesan oleh kesibukan-kesibakan dan lalu lintas sehari-hari.

(33)

● Umum-Khusus

Kedua cara ini yang paling tepat diperganakan untuk

mengembangkan gagasan utama dalam sebuah alinea secara teratur . Dalam hal pertama gagasan utamanya ditempatkan padaa awal alinea, dan perinciannya pada kalimat berikutnya. Sebagai contoh “Sebuah teori tentang fungsi bahasa yang sangat terkenal ialah teori Karl Buhler,

seorang ahli jiwa dan ahli bahasa berkebangsaan Austria. Pada tahun 1918 ia memperkenalkan teori tentang tri fungsi bahasa dalam berbagai tulisan...

● Klasifikasi

Yang dimaksud klasifikasi→ sebuah proses untuk mengelompokkan sesuatu yang dianggap mempunyai kesamaan. Sebab itu klasifikasi

bekerja kedua arah berlawanan → pertama mempersatukansatuan-satuan ke dalam suatu kelompok, dan kedua memisahkan satuan-satuan tadi dari kelompok yang lain. Sebagai contoh: “Jika orang yang hendak membagi bahasa Melayu ataupun bahasa Indonesia itu juga , maka pastilah tidak cukup, apabila ia hanya membagi bahasa itu atas bahasa Melayu rendah dan bahasa Melayu ...

(34)

● Definisi Luas

Yang dimaksud definisi luas dalam pembentukan alinea → usaha pengarang untuk memberikan keterangan terhadap sebuah istilah atau Di sini kita menghadapi hanya satu kalimat, tetapi rangkaian kalimat yang membentuk alinea. Perhatika bagaimana Moh. Said mencoba memberi definisi tentang demokrasi Pancasila. Ia memerlukan suatu rangkaian alinea sebelumnya lalu kemudian ia smpai pengertian demokrasi

Pancasila.

“Istilah asing demokrasi biasanya diterjemahkan dengan kata

kedaulatan rakyat yang diartikan sebagai pemerintahan oleh rakyat dari rakyat dan untuk rakyat”.

Pengertian demokrasai di sini hanya mengandung satu pengertian, bagai mana pengertian demokrasi yang luas? Demorasi pada hakekatnya berupa suatu mentalitas untuk membina suatu kehidupan dalam

(35)

● Perkembangan dan Kepaduan antar-Alinea

Kesatuan–kesaatuan yang kita sebut alinea ini tidak beridiri sendiri, tetapi →suatu unsur yang kecil dalam sebuah unit yang lebih besar, entah berupa bab, maupun unit yang berupa sebuah karanganyang lengkap. Karena alinea →unit yang lebih kecil; maka harus dijaga agar hubungan anatara alinea yang satu dengan yang lain , yang bersama –sama

membentuk unit yang lebih besar selalu terjalain baik. Atau harus

terdapat perkembangan dan kepaduan antar-alinea satu dengan lainnya. Tiap tulisan yang baik selalu bertolak dari dari sebuah tesis. Dari tesis

itulah yang dikembangkan dalam alinea-alinea yang mempunyai pertalian yang jelas, baik pertalian dalam perkembangan gagasannya, maupun

kepaduan alinea-alineanya. Karena hubungan yang jelas itulah, pembaca dapat dapat mengikuti uraian itu dengan saksama dan dengan jelas dan mudah ia memahaminya.

(36)

9. Laras Ilmia Dan Ragam Bahasa 1. Pendahuluan

Pada dasarnay setiap kita menggunakan bahasa dalam berkomuni-kasi , maka bahasa itu memiliki berbagai macam laras sesuai fungsi

pemakaiannya, dalam hal ini kita mengenal beberapa laras, antara lain: laras iklan, laras lagu, laras ilmiah, laras ilmiah populer, laras feature , laras komik, laras sastra. Setiap laras masih dapat dibagi atas sub laras, misalnya sastra dibagi atas cerpen, puisi, laras drama, laras novel dan sebagainya.

Setiap laras memiliki format dan gaya tersendiri dan dapat

disampaikan secara lisan dan tulisan, entah dalam bentuk formal, semi-formal atau non semi-formal.Oleh karena itu, dalam menulis kita harus

menguasai berbagai laras yang berbeda agar kita dapat menetapkan laras yang tepat untuk disodorkan kepada khalayak sasaran. Laras bahasa

yang menjadi arah perhatian kita di sini → laras ilmiah entah dalam bahasa lisan atau tulisan.

(37)

2. Laras Ilmiah

Karya tulis ilmiah bukan sepenuhnya karya ekspresi diri. Sebuah karya tulis fiksi atau sering disebut karya sastra merupakan ekspresi diri pengarangnya yakni tulisan yang dihasilkan daya imajinasi penulis.Karya tulis ilmiah

semacam ini →hasil rekaannya sendiri berdasarkan realita dari sekelilingnya . Itulah sebabnya hasil akryanya disebut karangan, dan pemciptanya disebut pengarang ( Soeseno, 1993:1)

Sebaliknya, sebuah karya ilmiah →rangkaian fakta-fakta yang berupa hasil pemikiran , gagasan, peristiwa, gejala, pendapat, hukum alam. Jadi seorang penulis karya ilimah menyusun kembali pelagai bahan informasi menjadi sebuah karya besar atau karya yang utuh. Oleh sebab itu, tulisan ilmiah yang dihasilkan seseorang penulis semacam ini disebut tulisan ilmiah, dan

(38)

Laras ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Akan tetapi dalam laras ilmiah , aspek komunikasi tetap memegang peranan utama.

Sebab itulah berbagai kemungkinan penyampaian secara komunikatif selalu menajadi skala prioritas utamanaya. Penulisan laras ilmiah tidak hanya untuk mengekspresikan pikiran, akan tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus yakinkan kepada pembaca mengenai kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Tidak ada salahnya bila kita menyajikan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian . Jadi sebuah karya tulis ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.

Persyaratan lain bagi sebuah tulisan untuk dikategorikan sebagai karya ilmiah adalah sebagai berikut:

a. Menyajikan fakta objektif, disusun secara sistematis, menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.

(39)

c. Disusun secara sistematis

d. Menyajikan rangkaian sebab-akibat yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan .

e. Mengandung pernyataan disertai dukungan dan pembuktian berdasrkan hipotesis.

f. Ditulis secara tulus dan

g. Pada dasarnya bersifat eksploratif

Berdasarkan uraian di atas, dari segi bahasa dapat dikatakan bahwa karya tulis ilmiah memilki tiga ciri, yaitu:

(1) harus tepat dan tunggal maknanya, tidak remang-remang maknanya, tidak mendua makna, atau ambiguiti.

(2) harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah , sifat dan pengertian yang digunakan agar tidak menimbulkan kerancuan.

(40)

3. Ragam Bahasa Dalam Laras Ilmiah

Yang dimaksud ragam bahasa →variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa. Ragam bahasa terbagi atas dua kelompok → ragam

bahasa berdasarkan media pengantarnya ragam bahasa berdasarkan situasi pemakaiannya.

1. Berdasarkan media pengantarnya

Penggunaan bahasa berdasarkan media pengantarnya /sarananya terbagi atas ragam lisan dan tulisan. Ragam lisan → bahasa yang dituturkan oleh pemakai bahasa. Sedangkan ragam tulis → seringkali ditemukan dalam kondisi formal.

2. Berdasarkan situasi pemakaiannya

Pengelompokkan bahasa berdasarkan situasi pemakaiannya dikenal adanya ragam formal, semi formal dan non formal. Ragam tersebut → pengelompokkan bahasa berdasarkan situasi pemakaiannya. Bahasa ragam formal memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan yang tetap.

(41)

Untuk membedakan ragam formal, semiformal dan nonformal dapat ditandai melalui:

a. Topik yang sedang dibahas b. Hubungan antar-pembaca c. Medium yang digunakan d. Lingkungan

e. Situasi saat pembicaraan terjadi.

Bagamana cara membedakan ragama formal dari ragam nonformal dapat diketahui melalui ciri khasnya sebagai berikut:

a. Penggunaan kata sapaan/kata ganti b. Penggunaan kata tertentu

c. Penggunaan imbuhan

d. Penggunaan kata sambung, kata depan e. Penggunaan fungsi yang lengkap.

(42)

10. Ringkasan dan ikhtisar Pengertian

Ringkasan (precis) → suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk singkat. Suatu ringkasan bertolak dari penyajian yang karangan asli menjadi singkat, maka merupakan suatu keterampilan untuk melakukan reproduksi dari hasil karya yang sudah ada. Kata precis yang dipakai untuk pengertian ini sebenarnya berarti “memotong atau meringkas”. Sebab membuat ringkasan dari suatu karangan panjang diumpmakan memangkas sebatang pohon sehingga tinggal batang, cabang-cabang, ranting-ranting yang terpenting berserta daun-daun yang diperlukan, namun esensi pohon tetap dipertahankan.

Dalam ringkasan, keindahan gaya bahasa,ilustrasi, serta penjelasan- penjelasan yang terperinci dihilangkan, sedangkan sari karangannya dibiarkan tanpa hiasan. Seseorang yang melakukan ringkasan hendaklah berbira dalam kafasitas pengarang asli. Oleh sebab itu ia tidak boleh memulai ringkasan dengan mengatakan : “Dalam alinea/karang itu pengarang berkata dsb”. Ia langsung memulai dengan dengan membuat ringkasan kaliamat-kalimat , alinea-alinea, bagian-bagian dan seterusnya.

Ringksan hendaklah dibedakan artinya dengan ikhtisar yang juga merupakan bentuk penyajian yang singkat dari sebuah karangan asli. Dalam kenyataannya kedua istilah itu sering dicampur adukan satu sama lain, meskipun secara teknis keduanya istilah itu sangat berbeda pengertiannya. Ringkasan → penyajian singkat dari karangan asli dengan tetap mempertahankan isi dan sudut pandang penulis, perbanding bab atau bagian dipertahankan secara proportional, sedangkan ikhtisar sebaliknya tidak perlu mempertahankan urutan karang asli, tidak perlu merinci isi karangan asli secara proportional. Penulis ikhtisar langsung mengemukakan inti atau pokok permasalahan dan cara pemecahannya. Untk ilustrasi beberapa ilustrasi bagian atau pokok maslah itu, sementara bagian atau bab-bab yang kurang penting diabaikan saja.

(43)

2. Tujuan membuat ringkasan

Membuat ringkasan bertujuan untuk:

1. Mengembangkan ekspresi diri serta penghematan kata dan dengan

latihan intensif akan mengembangkan daya kreatif dan konsentrasi serta mempertajam pemahaman akan karya asli.

2. Membuat ringkasan kita sebenarnya mempelajari bagaimana seorang penulis dalam menyusun karangannya, bagaimana ia menyampaikan gagasan-gagasannya dalam bahasa yang baik.

3. Memahami dan mengetahui isi sebuah buku atau karangan, maka latihan untuk maksud tersebut akan membimbing dan menuntun seseorang permula.

4. Memilki kemampuan membedakan gagasan utama dari gagasan tambahan . Kemampuan membedakan tingkatan gagasan itu akan membantunya mempertajam gaya bahasa, serta menghidari uraian – uraian yang panjang lebar yang menelusup dalam karangan tersebut.

(44)

3. Cara membuat ringkasan

Beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur sebagai berikut:

1. Membaca naskah asli: Penulis ringkasan harus membaca naskah asli seluhnya beberapa kali untuk mengethui kesan umum dan maksud pengarang serta sudut pandangnya.

2. Mencatat gagasan utama: Semua gagasan utama atau gagasan yang penting dicatat atau digaris bawahi.

3. Membuat reproduksi: Sebagai langkah penulis ringkasan menyusun kembali suatu karangan singkat berdasarkan gagasan-gagasan utama sebagaimana yang dicatat dalam langkah kedua di atas.

4. Ketentuan tambahan: Di samping ketiga langkah di atas, masih ada

beberapa ketentuan tambahan tambahan yang perlu diperhatikan pada waktu menyusun ringkasan.

(45)

11. KUTIPAN

1. Pengertian kutipan

Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat penulis /pengarang yang kita temukan dalam buku-buku atau majalah-majalah . Dalam hal ini, penulis mengutip pendapat seorang ahli yang terkenal itu dengan menyebutkan di mana pendapat itu dibaca, sehingga pembaca dapat mencocokkan kutipan dengan sumbernya.

2. JENIS KUTIPAN

Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat seseorang pengarang dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat dari teks aslinya. Sebaliknya, kutipan tak langsung adalah pinjamn seorang pengarang atau tokoh terkenal berupa inti sari atau ikhtisar dari pendapat itu.

Kedua jenis kutipan yang di uraikan tadi harus diperhatikan oleh pengutip saat melakukan pengutipan, sebab salah akan membawa konsekwensi yang tidak baik bila dimasukkan sebuah karangan kita. Dengan demikian, kecermatan kita dalam mengutip pendapat seorang tokoh terkenal itu harus kita cermati.

(46)

3. Prinsip-prinsip mengutip

3. Prinsip- prinsip yang harus dipenuhi saat melakukan kutipan adalah sebagai berikut:

A. Jangan mengadakan perubahan

Pada saat melakukan kutipan langsung, pengarang tidak boleh mengubah kata-kata atau teknik penulisan dari teks aslinya. Jika pengarang menganggap perlu untuk mengadakan perubahan tekniknya, maka ia harus memberi keterangan yang jelas bahwa telah diadakan perubahan teknik penulisan. Misalnya dalam naskah asli tidak ditemukan adanya tulisan miring, tulisan yang digaris bawahi, dan sebagainya. Mungkin saja kita melakukan perubahan asal saja kita memberi keterangan dalam tanda kurung segi empat (….)

bahwa perubahan teknik itu dibuat oleh penulis dan tidak pada teks aslinya. Keterangan dalam segi empat itu misalnya berbunyi sebagai berikut: (huruf miring dari penulis).

B. Bila ada kesalahan

Jika pada kalimat yang akan dikutip terdapat kejanggalan, entah dalam persoalan ejaan, persoalan ketata-bahasaan lainnya, penulis tidak boleh memperbaikinya, ia hanya mengutip apa adanya. Demikian juga kalau penulis tidak setuju dengan suatu bagian dari kutipan itu. Perbaikan kutipan atau catatan terhadap kutipan dapat ditempatkan dalam tanda kurung atau pada catan kaki.

Dalam hal terakhir ini kutipan tetap dilakukan , hanya penulis diperkenankan mengadakan perbaikan atau catatan kesalahan tersebut. Misalnya, kalau kita tidak setuju dengan bagian itu, maka beri tanda catatan singkat (sic). Kata sic yang ditempatkan dalam tanda segi empat menunjukkan bahwa penulis tidak bertanggungjawab atas kesalahan itu.

(47)

C. Menghilangkan bagian kutipan

Dalam kutipan-kutipan kita diperkenangkan menghilangkan bagian tertentu dengan syarat tidak boleh menghilangkan makna dari kalimat yang kita kutip itu. Penghilangan itu biasanya dinyatakan dengan mempergunakan tiga titik berspasi (. . . ). Jika unsur yang dihilangkan itu terdapat di akhir sebuah kalimat, maka tiga titik berspasi itu titempatkan sesudahnya. Sebaliknya seandainya yang dihilangkan itu terdiri dari satu alinea atau lebih, maka ketiga titik berspasi itu ditulis sepanjang satu baris halaman kertas. Dalam hal ini sama sekali tidak diperkenkan menggunakan tanda penghubung ( ) sebagai pengganti titik-titik.

Perhatikan contoh berikut:

•Hal ini cocok dengan kehidupan para kepala itu sebagai pemimpin

masyarakat, tetapi juga sebagai pemimpin upacara-upacara keagamaan, Kata Mallinckrodt: . . .

•Penyampaian keterampilan itu berlangsung melalui tiru meniru dan dengan perantaraan bahasa lisan, ibarat mengalirkan air dari satu tempat ketempat lain. Kata orang bijak: . . .

(48)

4. Cara-cara mengutip

Perbedaan antara kutipan langsung dan kutipan tak langsung (kutipan isi) akan membawa akibat yang berlainan pada saat memasukkannya dalam teks. Begitu juga cara membuat kutipan langsung akan berbeda pula menurut panjang pendeknya kutipan itu. Perhatikan contoh berikut:

a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris

Sebuah kutipan langsung yang panjang tidak lebih dari empat baris ketikan akan dimasukkan dalam teks dengan cara-cara sebagai berkut:

(1) kutipan itu diintegrasikan langsung dengan teks, (2) jarak antara baris dengan baris adalah dua spasi, (3) kutipan itu diapit dengan tanda kutip,

(4) sesudah kutipan selesai ditulis, beri nomor urut penunjukkan setengah spasi ke atas atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit

buku, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan. Nomor urut penunjukan mempunyai pertalian dengan nomor urut penunjukan yang terdapat pada catatan kaki. Nomor penunjukan ini bisa berlaku untuk tiap bab, dapat pula berlaku untuk semua isi karangan. Untuk penunjukan nama pengarang yang pertama dalam karangan harus ditulis lengkap, dan pada bab lainnya cukup menggunakan singkatan – ibit, of cit, atau loc.cit.‘

(49)

Sebaliknya bila nomor urut penunjukan berlaku untuk seluruh karangan, maka hanya untuk penyebutan yang pertama, nama pengarang ditulis secara lengkap, penyebutan selanjutnya hanya mempergunakan nama singkat, dan singkatan-singkatan seperti diseutkan di atas

2

Singkatan ibit, op.cit dan loc.cit biasanya digunakan untuk menyebut karya yang disebut dalam penunjukan sebelumnya. Keterangan lebih lanjut lihat bab mengenai catatan kaki.

Misalnya ’

...

Guru tak dapat memperhatikan muridnya seorang demi seorang. Dalam seminar “The teaching of modern language” oleh sekretariat Unesco di Nuwara Eliya, Sailan, pada bulan Agustus 1953 dikatakan “Because of the very special nature of language, teaching us well on general education al grounds, it is that classes should small” (hal. 50). Jadi kalimat “Because of the very special nature dst. Kalimat

kutipan yang tidak lebih empat baris ketikan. Kutipan seperti ini biasanya ditulis terintegrasi dengan tulisan kita.

(50)

l

b. Kutipan lansung yang lebih dari empat baris

Jika sebuah kutipan terdiri lima baris atau lebih, maka seluruh kutipan itu harus digarap seperti berikut:

(1) kutipan itu dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi, (2) jarak antara baris dengan baris kutipan adalah satu spasi, (3) kutipan itu boleh atau tidak boleh diapit dengan tanda kutip,

(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, yang ingin menggunakan catatan kaki, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit buku, nomor halaman tempat dikutip pendapat itu.

(5) seluruh kutipan itu dimasukan ke dalam 5-7 ketikan, bila kutipan itu dimulai den gan alinea baru, maka baris pertama dari kutipan itu dimasukkan lagi 5-7 ketikan. Ada kalanya dalam kutipan itu menggunakan :

(1) tanda kutip tunggal (‘………..’) untuk kutipan asli dan tanda kutip tunggal bagi tanda kutipan ganda (“……….”) bagi dalam kutipan itu, atau

(2) bagi kutipan asli tidak mempergunakan tanda kutip, sedangkan dalam kutipan itu menggunkan tanda kutipan ganda.

(51)

c. Kutipan tak langsung

Dalam kutipan tak langsung biasanya inti sari dari pendapat itu yang dikemukakan oleh penulis. Sebab itu kutipan tidak boleh mempergunakan tanda kutip. Untuk membuat kutipan tak langsung perhatikan syarat-syarat berikut:

1. kutipan diintegrasikan dengan teks, 2. jarak antar-baris dua spasi,

3. kutipan tidak diapit dengan tanda kutip,

4. sesudah kutipan selesai diberi nomor urut pununjukan setengah spasi ke atas bagi mereka yang menggunakan catatan kaki, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit buku, dan nomor halaman buku tempat pendapat itu dikutip.

d. Kutipan pada catatan kaki

Selain kutipan langsung dan kutipan tidak langsung seperti diuraikan di atas, masih ada lagi bentuk kutipan lain yaiu kutipan pada catatan kaki. Misalnya,

1Kata beliau: “ However diseble studies of changes in whole culture may thus be,

it seems to most advantageous in practise for the students to analyse into its components the culture has experienced contact….

(52)

e. Kutipan atas ucapan lisan

Dalam karya-karya ilmiah atau tulisan-tulisan lainnya, sering ditemukan kutipan atas ucapan lisan entah yang diberikan secara dalam ceramah-ceramah, kuliah-kuliah, wawan cara. Sebenarnya kutipan atas sumber semacam ini sangat sulit

dipercaya, kecuali mungkin ucapan yang disampaikan seorang tokoh yang penting dalam suatu kesempatan yang luar biasa. Contoh

Dalam menjawab nota Keuangan & RAPBD Daerah Khusus ibukota tahun 1973, tanggal 2 Pebruari 1973, Gubernur Ali Sadikin mengatakan al; “… Tetapi apabila kita jujur berkenan

persoalan itu pada pespektif yang lebih luas dan pada proporsi yang wajar, maka akan terlihat bahwa kepentingan umum memang

(53)

j

5

.

Tanggungjawab Penulis

Sebuah kutipan hendaknya dibuat dengan penuh tanggung-

jawab. Harus diingat bahwa kutipan itu dapat dibuat

sekurang-kurangnya dua tujuan, pertma, kutipan dibuat untuk

mengadakan sorotan, analisis, atau kritik, kedua, kutipan

dibuat untuk memperkuat yang sedang kita garap.

Kutipan yang pertama tidak banyak meminta

pertanggung jawaban dari penulis. Pertanggung jawaban

penulis hanya berkisar pada persoalan apakah bagian yang

dikutip itu sepenuhnya mencerminkan gagasan pengarang

secara bulat, dan kutipan itu dibuat tanpa ada kesalahan.

Justru kutipan kedua, yang membutuhkan pertanggung

jawaban yang besar.

(54)

31. CATATAN KAKI DAN BIBLIOGRAFI

A. Catatan kaki 1. Pengertian

Yang dimaksud dengan catatan kaki keterangan-keterangan teks karangan yang di tempatkan pada k aki halaman karangan berssangkutan. Bila keterangan semacam ini

ditempatkan pada akhir bab seuah karangan , maka catatan atau karangan semacam itu disebut saja keteran gan.

Catatan kaki semacam ini bukanlah semata-mata dimaksudkan untuk menunjukan sumber tempatnya sebuah kutipan, tetapi dapat juga dipakai untuk membuat keterangan –keterangan lainnya terhadap teks. Sebab itu antara catatan kaki dan bagiandari teks yang diberi penjelasan itu terdapat hubungan yang sanat erat

Hubungan antara catata kaki dan teks yang dijelaskn itu biasanya dinyatakan denngan nomor-nomor penunjukkan yang sama baik yang terdapat dalam catatan kaki atau pun dalam teks. Kadang-kadang juga digunakan tanda asterik atau tanda bintang (*) pada halaman teks tersebut . Bila pada halaman yang sama terdapat dua catatan atau lebih , maka dipemrgunakan satu tanda asterik pada catatan yang pertama, dan dua tanda asterik pada catatan yang kedua dan seterusnya.

(55)

2. Tujuan

Pada dasarnya sebuah catatan kaki dibuat bertujuan untuk: a. Menyusun Pembuktian

Semua dalil /pernyataan yang penting , yang bukan pengetahuan umum harus didukung pembuktian. Pembuktian itu dapat dibeberkan dalam teks atau pada catatan kaki. Khususnya dalam hal ini kita harus menunjukkan kembali kebenaran yang telah dicapai oleh seseorang pengarang dalam tulisannya.

b. Menyatakan utang budi

Di samping tujuan pertama di atas , penunjukkan sumber pada catatan kaki dimaksudkan pula untuk menyatakan utang budi kepada pengarang yang dikutip .

c. Menyampaikan keterangan tambahan

Catatan kaki dapat pula dimaksudkan untuk menyampaikan keterangan tambahan demi memperkuat uraian di luar teks atau garis-garis yang

(56)

d

. Merujuk bagian lain dari teks

Di samping itu catatan kaki dapat pula dipergunakan

untuk menyediakan referensi kapada bagian-bagian

lain dari tulisan itu. Dalam hal ini penulis misalnya

memberi catatan kaki untuk melihat atau memeriksa

uraian pada halaman atau bab lain sebelumnya , atau

halaman-halaman sebelumnya , atau bab lain yang

akan diuraikan kemudian. Begitu pula penunjukan

pada apendiks atau lampiran harus melalui catatan

kaki. Untuk maksud ini sering dijumpai

singkatan-singkatan seperti: ef, atau conf, yang berarti

dibandingkan dengan , ut supra yang berarti seperti di

atas

, infra yang seperti di bawah dsb

.

(57)

B. BIBLIOGRAFI

1. Pengertian Bibliografi

Yang dimaksud dengan bibliografi atau daftar pustaka adaah sebuah daftar yang berisi judul buku , artikel dan bahan-bahan penerbitan lainnya yang bertalian dengan sebuah karangan atau sebagian karangan yang sedang digarap. Bagi orang awam, bibliografi mungkin tidak penting artinya, tetapi bagi seorang sarjana atau seorang cendekiawan bibliografi merupakan hal yang sangat penting.

Melalui daftar kepustakan yang disertakan pada akhir tulisan itu, para sarjana atau cendekiawan dapat melihat kembali kepada sumber aslinya. Mereka dapat menetapkan apakah sumber itu sesungguhnya mempunyai pertalian dengan isi itu, dan apakah bahan itu dikutip dengan benar atau tidak. Dan sekaligus dengan cara itu pembaca dapat memperluas pula horzon pengetahuannya dengan bermacam-macam referensi itu.

Dengan demikian pada saat terahir , ketika penulis siap dengan naskahnya, khususnya pada waktu menyusun daftar Bibliografi atau daftar kepustakaan – sebagai salah satu syarat yang mutlak untuk dipenuhi oleh seorang penulis.

(58)

2. Fungsi Bibliografi

Fungsi bibligrafi adalah sebagai berikut:

1. Menunjuk kepada sumber dari pernyataan atau ucapan yang dipergunakan dalam teks.

2. Menunjuk dengan tepat tempat di mana pembaca dapat menemu- kan pernyataan atau ucapan itu, termasuk nama pengarang, judul buku, dan nomor halaman di mana tempatnyaditemukan

pernyataan itu.

3. Memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah, artikel dan sebagainya seara rinci, runtut dan tuntas.

4. Memberikan informasi perihal kelengkapan dari sebuah daftar pustaka yang dapat ditelusuri lewat keterangan referensi itu. 5. Melalui bibliografi pembaca dapat menelusuri keterangan keterangan yang lengkap tentang buku, majalah, artikel dan sebagainya.

(59)

3. Unsur-unsur Bibliografi

Hal-hal pokok yang penting dimasukkan dalam sebuah

bibliografi adalah:

a. Nama pengarang yang dikutip secara lengkap,

b. Judul buku, termasuk judul tambahan

c. Data publikasi: Penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan

ke dan artikel diperlukan juga sebuah judul artikel yang

bersangkutan, nama majalah, jilid, nomor dan tahun.

4. Bentuk Bibliografi

Cara menyusun bibliografi tidak seragam bagi semua

bahan referensi, tergantung dari sifat referensi itu. Cara

menyusun bibliografi untuk buku beda dari majalah,

demikian juga dengan buku harian, serta manuskrip-

manuskrip yang belum diterbitkan.

(60)

5. Cara menyusun Bibliografi

Untuk mnyusun bibliografi perlu diperhatikan hal-hal sebagai

berikut:

a. Nama pengarang diurutkan menurut urutan alfabetik. Nama

yang digunakan dalamurutan itu adalah nma keluarga.

b. Jika tidak ada nama pengarang, maka judul buku atau judul

artikel yang diurut menurut alfabetik.

c. Jika seorang pengarang /penulis menulis sejumlah buku, maka

nama pengarang cukup satu kali saja ditulis, berikutnya cukup

menggunakan garis datar’

d. Jarak antara baris dengan baris adalah untuk satu referensi

adalah 1(satu) spasi

e. Baris kedua dst dari setiap pokok harus dimasukkan ke dalam

sebanyak 3 atau 4 ketikan.

(61)

6. Dua bentuk/atau cara penulisan daftar pustaka

A. Cara pertama

BIBLIOGRAFI

Bloomfield, Leonard. Language. London: George Allen & Unwin

Ltd. 1962.

Bolgar, Robert Ralph. “Rhetoric,” Encyclopedia Britanica , 1970,

XIX, 257- 260.

Gleason, H.a. An Introduction to Descriptive L inguistics. Rev,

ed. New York: Holt, Rinehart and Winston, 1961.

Gray, Louis H. Foundations of language. New York: The

MacMillan company. 1958.

Hoijer, Harry, ed. Language in Culture, Chicago: The University

of Chicago Press, 1954.

(62)

B. Cara kedua

BIBLIOGRAFI

Ali Lukman ed. 1967. Bahasa dan Kesustraan Indonesia sebagai terjemahan Indonesia Baru (BKI). Jakarta: Gunung Agung. Alisyahbana, S. Takdir. 1957. Dari Perjuangan dan

Pertumbuhan Bahasa Indonesia (PBI). Jakarta: P.T Pustaka Rakyat.

Campbell, Willian Giles. 1967. Form and Style in Thesis Writing. Bouston: Houghton Mifflin Company.

Keraf, Gorys. 1956. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Knight, T.W. 1958. Ad New Comprehensive English Course. London: University of London Press.

Kridalaksana, Harmurti dan Djoko Kentjono ed. 1971. Seminar Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Livin, Gerald. 1966. A Brief Handbooke of Rhetoric. New York: Harcout , Brace and World Inc.

(63)

*Ringkasan dan ikhtisar

1. Ringkasan & Ikhtisar

Pada dasarnya Ringkasan dan Ikhtisar merupakan suatu

bentuk penyajian singkat dari karangan asli. Ringkasan

meru-pakan suatu bentuk penyajian singkat dari suatu karangan asli

dengan tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang

karangan asli, sedang perbandingan bagian atau bab dari

karangan asli secara proporsional tetap dipertahankan

sebagaimana halnya karangan asli. Ikhtisar sebaliknya tidak perlu

mempertahankan urutan karangan asli, dalam artian tidak perlu

memberikan isi dari karangan asli secara proporsional.Penulis

ikhtisar bisa langsung mengemukakan inti atau pokok masalah

dan pemcahannya. Untuk ilustrasi beberapa bagian atau isi dari

suatu bab dapat diberikan untuk menjelaskan inti atau pokok

masala tadi, sementara bagian atau bab-bab yang kurang

penting dapat diabaikan.

(64)

2. Tujuan Membuat Ringkasan

Membuat ringkasan bertujuan untuk:

1. Mengembangkan daya kreasi dan konsentrasi serta mem-

pertajam pemahaman akan karya itu.

2. Mengetahui keterampilan seseorang dalam mereproduksi

sebuah tulisan yang proporsinya sama dengan asli.

3. Membantu memahami dan mengetahui isi sebuah buku atau

karangan.

4. Membiasakan penulis untuk sanggup membedakan gagasan

utama dari sebuah karangan dibaca.

5. Membantu penulis untuk memilki kemampuan mempertajam

gaya bahasa, serta menghindari uraian-uraian yang panjang

lebar yang mungkin menenlusup masuk dalam karangan itu.

(65)

3. Cara Memuat Ringkasan

Berkut ini disajikan beberapa cara untuk membuat ringkasan

sebagai berikut:

1. Membaca nskah asli, penulis ringkasan hendaklah membaca

naskah asliseluruhnya beberapa kali untukmengetahui kesan

umum dan maksud pengarang dan sudut pandangnya.

2. Mencatat gagasan utama: Semua gagasan utama dicatat atau

digaris bawahi.

3. Membuat Reproduksi: Sebagai langkah ketiga penuli ringkasan

harus menyusun kembali gagasan – gasan utama .sebagimana

yang dicatat dalam langkahkedua.

4. Ketentuan Tambahan: Di samping ketiga langkah di atas masih

ada beberapa langkah tambahan lainnya

(66)

LAPORAN DAN USUL

A. LAPORAN

1. Pengertian Laporan

Sebenarnya laporan itu merupakan suatu jenis dokumen

yang sangat bervarisi bentuknya, oleh karena itu sangat sulit

diberi defenisi yang tepat. Variasinya diawali dari laporan

yang sangat sederhana dalam bentuk angka-angka sebagai

gambaran mengai perkembangan suatu persoalan hingga

pada laporan yang terdiri dari beberapa jilid buku yang

masing-masing terdir dari ratusan halaman . Ada yang

berbentuk isian formulir-formulir standar , ada yang berbentk

surat , ada pula yng berbentk buku . Laporan merupakan

unsur yang sanagt penting terutama dalam menyusun

kebijakan –kebijakan dari pemerintah.

(67)

2. Dasar-dasar Laporan

Sebuah laporan bertolak dari dasar, yaitu orang yang memberi

laporan, pihak yang menerima laporan, sifat dan tujuan umum

laporan.

a. Pemberi laporan

Pertama-tama laporan melibatkan orang atau pihak yang

memberi laporan. Pemberi laporan bisa dilakukan secara

perseorangan , sebuah team yang ditugaskan untuk maksud

tertentu. Atau laporan dapat pula dibuat oleh perseorangan

atau badan kepada perseorangan atau instansi yang dianggap

perlu mengetahuinya mskipun tidak diminta.

b. Penerima Lapora

Penerima laporan adalah orang atau suatu badan yang

menugaskan atau orang atau badan yang dianggap perlu

mendapatkan laporan tersebut.

(68)

c. Tujuan Laporan

Telah disinggung di atas bahwa tujuan sebuah laporan

tergantung pada pembuat dan penerima laporan. Jika pemberi

laporan adalah orang yang ditugaskan untuk meneliti masalah,

maka tujuannya ditentukan oleh pemberi laporan. Sebaliknya

bila pemberi laporan tidak menerima tugas khusus, maka

tujuan laporan sangat tergantung pada pembuat laporan.

Tujuan laporan pada umumnya adalah untuk:

1. Mengatasi suatu masalah,

2. mengambil suatu keputusan yang lebih efektif,

3. Mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah,

4. Mengadakan pengawasan dan perbaikan,

(69)

3. Sifat Laporan

Sebuah laporan yang baik apabila :

1. Laporan itu ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas dan

mengesankan pembaca/pendengar bahwa apa yang ia baca

adalah benar adanya.

2. Fakta-fakta atau bahan-bahan yang disajikan pelapor dapat

menimbulkan kepercayaan .

3. Pelapor harus tahu secara tepat siapa sebenarnya yang

menerima laporann itu, berapa dalam

tentang sesuatu yang dilaporkan. pengetahuannya

4. Sifat laporan yang baik adalah laporan itu hendaknya

sempurnah dan komplit, yang berarti tidak boleh ada hal-hal

yang diabaikan.

(70)

4. Macam-macam laporan

Telah disinggung terdahulu bahwa ada laporan yang dibuat untuk kepentingan

perusaan, dan ada pula laporan yang dibuat untuk kepentingan pendidikan. Laproran-laporan umum (untuk perusahaan dsb) dapat dibagi-bagi lagi sesuai dengan bentuk dan maksudnya.

a. Laporan Berbentuk Formulir Isian

Untuk menulis laporan yang berbentuk formulir isian biasanya terlebih dahulu telah disiapkan blangko daftar isian yang diarahkan kepada tujuan yang akan dicapai. Laporan semacam ini biasanya bersifat rutin dan biasanya berbentuk angka-angka. Walaupun laporan berbentuk angka-angka itu bukan merupakan tulisan, namun semua angka itu harus dilakukan sermat-cermatnya.

b. Laporan Berbentuk Surat

Bentuk laporan yang paling umum dipergunakan adalah laporan dalam bentuk surat. Laporan yang mengambil bentuk ini tidak banyak berbeda dengan sebua surat biasa, hanya yang membedakan dari panjang pendeknya isi laporannya dan subjeknya diperjelas dalam laporan agar diketahui oleh penerima laporan.

c. Laporan Berbentuk Myemorandum

Dalam banyak hal laporan yang berbentuk memorandum (saran, nota, catatan pendek) mirip dengan laporan berbentuk surat, namun biasanya lebih ringkas. Laporan dalam bentuk memorandum ini biasanya digunakan dalam organisasi antara atasan dan bawahan dalam suatu hubungan kerja. Walaupun laporan memorandum ini sering

mengandung pengertian konotasi “sesuatu yang bersifat darurat”, namun tidak selamanya demikian halnya.

(71)

d. Laporan Perkembangan dan Laporan Keadaan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Respon dari Kemenkes dan Kemensos menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan jumlah pengguna agar mengikuti IPWL. Dalam hal ini sangat disayangkan bahwa kedua kementerian

(13) Compared with other common cancers among women, the incidence of cervical cancer among Bruneian women in 2005–2009 was significantly higher than that for colorectal or

bahwa pemerintah sebagai badan atau orang yang menjalankan pemerintahan, maupun pemerintahan sebagai fungsi dan kegiatan berpemerintahan adalah sebuah sistem.. Ada tiga

Dari perancangan hotel ini diha- silkan hotel yang terinspirasi dari bu- daya dan hasil seni kriya local sehingga citra keseluruhan bangunan terasa bu- daya

Dari teori tersebut dapat diketahui bahwa pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku merokok seseorang, terutama kapan seseorang harus memperoleh informasi mengenai bahaya

Sesuai dengan proposal yang diajukan oleh lembaga, kami siap untuk menjadi menyelenggarakan program Pendidikan Kewirausahaan Masyarakat dan menggunakan dana bantuan penyelenggaraan

Beberapa manfaat kawasan konservasi dikategorikan oleh Dixon dan Sherman (1990) antara lain : manfaat rekreasi, perlindungan daerah aliran, proses- proses ekologis, keragaman

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung nilai tunai manfaat dan nilai premi asuransi jiwa seumur hidup dengan tingkat suku bunga stokastik dan tingkat suku