• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 1 - Manusia Sebagai Pelaku Komunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kelompok 1 - Manusia Sebagai Pelaku Komunikasi"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MANUSIA SEBAGAI PELAKU KOMUNIKASI

MANUSIA SEBAGAI PELAKU KOMUNIKASI

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi

Etika dan Filsafat Komunikasi

Dosen

Dosen

:

: Mardhiyyah,

Mardhiyyah, S.

S. Ikom,

Ikom, M.

M. Ikom

Ikom

Disusun

Disusun oleh

oleh

:

: Kelompok

Kelompok II

Anggota

Anggota kelompok

kelompok ::

1.

1. Raka

Raka Purwana

Purwana

44114010158

44114010158

2.

2. M.

M. Kahfi

Kahfi Noor

Noor

44114010211

44114010211

3.

3. Abdullah Syafi’i

Abdullah Syafi’i 

 

44114010141

44114010141

4.

4. Halimatussyadiah

Halimatussyadiah

44114010125

44114010125

5.

5. Salma

Salma

6.

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya kami diberikan petunjuk dan kemudahan dalam penyusunan makalah berjudul “Manusia sebagai pelaku komunikas”. Makalah ini  kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi.

Pembuatan makalah ini tidaklah lepas dari bantuan serta bimbingan dari berbagai  pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang kami tujukan kepada:

1. Ibu Mardhiyyah, S. Ikom, M. Ikom selaku dosen mata kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi,

2. Orang tua yang selalu mendoakan dan memberikan semangat kepada kami,

3. Teman-teman yang selalu memberikan masukan baik kritik maupun saran untuk makalah kami.

Dengan segala kerendahan hati dan ucapan syukur, semoga Allah SWT memberikan limpahan rahmat kepada semua pihak yang telah banyak membantu kami dengan limpahan kebaikan. Makalah ini kami susun dengan harapan agar pembaca memahami makna dari manusia sebagai pelaku komunkasi. Penulisan makalah ini tentu tidaklah sempurna,  penulis berharap kritik dan saran agar lebih baik kedepannya.

Jakarta, 17 April 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...ii DAFTAR ISI ... 3 BAB I PENDAHULUAN ... 4 BAB II PEMBAHASAN... 5 2.1 Pelik-pelik Manusia... 5

a Anima Avegativa atau roh vegetative ... 5

 b Anima Sensitiva atau roh sensitive... 5

c Anima Intelektiva atau roh ... 5

2. 2. Paham-paham mengenai manusia ... 6

a Paham materialisme... 6  b Paham idealisme... 6 c Paham eksistensialisme ... 6 2. 3. Ethos komunikator ... 7 a. Ethos... 7  b Phatos ... 7 c Logos... 7 2. 4. Komunikator Humanistik ... 10 i. Asumsi behavioristik ... 10

ii. Asumsi Psikoanalitik ... 11

iii. Asumsi Humanistik  ... 11

2. 5. Ciri-ciri komunikator humanistik ... 1 1 I. Berpribadi... 11

II. Unik ... 12

III. Aktif ... 12

IV. Sadar diri dan Keterlibatan social... 12

BAB III... 13

PENUTUP ... 13

3.1 KESIMPULAN ... 13

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

Komunikasi adalah sebuah proses, komunikasi adalah kegiatan yang secara  berkesinambungan dilakukan oleh pelaku komunikasi. Jika dilihat dari prosesnya, komunikasi diawali oleh kegiatan komunikator yang melemparkan pesan mellaui media tertentu dan berharap usahanya ini diterima oleh komunikan dan dapat menghasilkan sebuah umpan balik. Melihat proses ini tampaklah bahwa peran komunikator sangat penting. Komunikasi tidak akan terjadi jika tidak ada manusia sebagai pelaku komunikasi.

Seperti telah diketahui sebelumnya dan ini mengukuhkan pendapat bahwa komunikasi adalah suatu ilmu yaitu pendapat bahwa objek kajian komunikasi terdiri dari satu golongan masalah yaitu bagaimana usaha manusia menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain, bukan usaha angin, hewan, pohon atau yang lain kepada Tuhan, hewan, dan bukan usaha manusia mencari nafkah, bukan usaha manusia mencari keadilan, bukan usaha manusia memperoleh keamanan. Dan usaha ini dilakukan oleh manusia kepada manusia. Manusia yang berakal budi (mampu menggunakan akal budinya) menyampaikan pernyataan kepada manusia lain yang berakal budi (mampu menggunakan akal budinya) pula, bukan kepada manusia yang sakit jiwa.

Komunikasi yang dibahas adalah komunikasi manusia (human communication), komunikasi antara manusia dengan manusia, bukan komunikasi antara binatang dengan  binatang (animal communication), juga bukan komunikasi antara manusia dengan binatang (man-animal communication), pula bukan komunikasi antara manusia dengan tuhan (trancendental communication).

Secara teleologis dipahami bahwa komunikasi antar manusia adalah bertujuan (teleologis). Komunikasi mengandung tujuan mengubah sikap, opini, perilaku, kepercayaan, dll.1

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pelik-pelik Manusia

Apakah manusia itu? Secara sederhana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manusia berarti “makhluk yang berakal budi (mampu mengusai makhluk lain)”.

Aristoteles mengatakan bahwa di alam ini terdapat tiga jenis makhluk dengan roh yang tarafnya bertingkat-tingkat, antara lain :

a Anima Avegativa atau roh vegetative

Yang dimiliki tumbuh-tumbuhan. Jadi tumbuh-tumbuhan hanya mempunyai roh vegetative dengan fungsinya terbatas pada makan, tumbuh menjadi besar dan berkembang biak.

 b Anima Sensitiva atau roh sensitive

Yang dimiliki binatang sehingga binatang yang memiliki dua jenis anima, yakni anima vegetative dan anima sensitive itu, selain menjadi  besar dan berkembang biak, juga mempunyai perasaan, naluri, nafsu,

sehingga mampu mengamati, bergerak, dan bertindak.

c Anima Intelektiva atau roh

Yang hanya dimiliki oleh manusia. Jadi manusia mempunyai ketiga anima atau roh tersebut. Karena memiliki roh yang lengakap itu, manusia menjadi besar, berkembang biak, bernafsu, bernaluri,  bergerak, bertindak, juga berpikir, berkehendak.

Jelaslah, bahwa manusia bukan hanya materi saja, bukan hanya “apa” saja, tetapi juga siapa. Dan kesiapaan inilah yang terpenting pada manusia. Manusia bukan hanya badan jasmani, tetapi perpaduan jasmani dan rohani. Manusia itu adalah kesatuan  jasmani dan rohani yang tidak mungkin dipisahkan. Hanyalah manusia makhluk yang dapat berkata AKU dengan sadar. Itulah persona atau pribadi yang terdapat pada manusia, dan kepribadian ini berdasarkan kerohaniannya. Adapun persona itu terbina dalam kehidupan bersama dan dengan kehidupan bersama dengan orang lain. Bagi  persona sudah menjadi kebutuhan pokok untuk mengadakan komunikasi dengan

(6)

Menurut Prof. Drijarkara dalam filsafat ada beberapa aliran atau paham mengenai manusia, antara lain :

a. Paham materialisme

Paham materialisme berpemandangan bahwa manusia pada prinsipnya hanyalah materi atau benda. Memang manusia ada kelebihannya dibandingkan dengan benda lainnya, seperti kerbau atau batu, namun  pada hakikatnya sama saja. Manusia adalah materi semata-mata, akibat

dari proses unsur kimia.

 b. Paham idealisme

Paham idealism adalah aliran yang bertentangan secara ekstrim dengan  paham materialism.Idealism beralasal dari perkataan eidos, yang  berarti pikiran. Manusia adalah manusia, karena ia berpikir, karena ia

mempunyai idea, karena ia sadar akan dirinya.

Menurut Descartes, manusia itu terdiri dari dua macam zat, yang  berbeda secara hakiki, yaitu :

 Res cogitans, zat yang dapat berpikir  Res extensa, zat yang mempunyai luas

Res cogitans adalah zat roh, zat yang bebas, tidak terikat oleh hokum alam, bersifat rohaniah.

Res extensa adalah zat materi, tidak bebas, terikat dan dikuasai oleh hokum alam.

Kedua zat itu berbeda dan terpisah kehidupannya. Kehidupan manusia  berpokok pada kesadarannya, pikirannya yang bebas. Jadi disitu terdapat

dualism antara jiwa dan raga. c. Paham eksistensialisme

Menurut kata asalnya :

 Eks berarti ke luar  Sistensia berarti berdiri

Eksistensi berarti : berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri.

(7)

Yang dimaksudkan dengan eksistensi ialah cara manusia berada di dunia, dan cara ini dengan untuk manusia, tidak untuk lain benda. Sebab  beradanya manusia di dunia berbeda dengan beradanya bnda-benda lain di

dunia.

Pentingnya penelaahan manusia sebagai faktor hakiki bagi komunikasi. Komunikasi social lebih bersifat rohaniah daripada jasmaniah. Message yang disampaikan komunikator kepada komunikan adalah “isi kesadaran” (das Bewustseininhalte) (istilah Hageman) atau “gambaran dalam benak” (picture in our head), istilah Walter Lippman, komunikasi akan berlangsung kalau komunikan mengerti pesan tersebut. Jelas disitu terdapat kegiatan rohaniah komunikator dengan kegiatan rohaniah komunikan.

Sejak zaman Yunani Purba tatkala komunikasi masih berkisar pada komunikasi lisan yang waktu itu dinamakan retorika ditekankan kepada para komunikator yang dalam retorika disebut orator atau rhetor agar mereka melengkapi diri dengan ethos, phatos, dan logos (Casmir, 1974 : 19-20).

a. Ethos

Ethos berarti “sumber kepercayaan” (source credibility) yang ditunjukkan oleh seorang orator bahwa ia memang pakar dalam  bidangnya, sehingga oleh karena seorang ahli, maka ia dapat

dipercaya.

 b Phatos

Phatos berarti “imbauan emosional (emotional appeals)” yang ditunjukkan oleh seorang rethor dengan menampilkan gaya dan  bahasanya yang membangkitkan kegairahan dengan semangat yang  berkobar-kobar pada khalayak

c Logos

Logos mengandung arti “imbauan logis” (logical appeals) yang

(8)

Apa komponen ethos dan apa faktor pendukung ethos? Menurut paparan Austin J. Freeley dalam bukunya “Argumentation and Debate”.

1) Komponen-komponen ethos

Komponen komponen ethos adalah :

 Competence (kemampuan/kewenangan)  Integrity (integritas/kejujuran)

 Good will (tenggang rasa)

Komunikan akan menentukan apakah mereka percaya bahwa komunikator memiliki kualitas tersebut. Tugas komunikator ialah membimbing komunikan untuk  percaya, bahwa ia adalah orang yang berkemampuan dalam subjek yang ditanganinya,  bahwa ia mempunyai integritas, dan bahwa ia mempunyai good will terhadap

komunikan.

Sebagai tahap pertama dalam pembinaan ethosnya, komunikator harus  berusaha untuk mengembangkan komponen tersebut didalam dirinya sendiri. Tetapi ini hanya suatu tahap pertama, karena kualitas yang benar-benar dikehendaki tak dapat mempengaruhi situasi komunikasi, kecuali kalu komunikator mengadakan  pilihan untuk ditimbulkan kepada komunikan.

2) Faktor-faktor pendukung ethos

Berbagai macam faktor akan menimbulkan berbagai derajat kepentingan (importance) dengan berbagai kominikan, dan komunikator harus menganalisis komunikan dan mengadakan pilihan yang sesuai untuk itu. Dalam hal yang  berhubungan dengan setiap faktor komunikator harus mengadakan pilihan. Sukses komunikator akan ditentukan oleh kemampuan dalam mengadakan pilihan yang akan meningkatkan ethosnya dalam mata komunikan.

a) Persiapan (preparation)

Persiapan adalah mutlak. Meskipun demikian, hanya persiapan saja tidaklah sempurna. Ia harus memperlihatkan kepada komunikan bahwa ia telah melakukan  persiapan. Ia harus menyajikan argumennya sehingga jelas bagi komunikan bahwa ia telah mempelajari problemnya dengan seksama, bahwa ia telah memilih bahannya denga teliti dan bahwa ia telah berpengalaman dalam semua hal yang bersangkutan dan problema yang dibahas.

(9)

 b) Kesungguhan (seriousness)

Komunikator yang sungguh-sungguh akan menimbulkan kepercayaan daripada komunikator yang tidak demikian. Seorang komunikator harus menangani subjeknya, audiencenya dan peristiwanya dengan ksungguhan yang memadai. Banyak orator politik yang sukses menyisipkan humornya kedalam pidatonya. Tetapi mereka dengan hati-hati pula menghindarkan diri reputasinya sebagai pelawak.

c) Ketulusan (sincerity)

Seorang komunikator harus membawakan kesan kepada audience bahwa ia orang yang tulus hatinya dalam pikiran dan perbuatan. Ia harus berhati-hati untuk menghindarkan kata-kata yang membawa audience ke arah kecurigaan akan ketidaktulusannya. Seorang komunikator yang mahir bisa menstimuluskan faktor ethos, menciptakan kesan palsu dalam pikiran audience, dengan demikian dapat memastikan menerima argumennya.

d) Kepercayaan (confidance)

Seorang komunikator harus senantiasa memancarkan kepastian. Selamanya ia harus muncul dengan penguasaan diri dan situasi secara sempurna. Cara satu-satunya untuk itu, ialah melakukan persiapan secara menyeluruh untuk segala situasi.

e) Ketenangan (poise)

Audience akan cendrung untuk lebih mempercayai pembicara yang tenang, yang santai dalam pidatonya dan dalam situasi social di sekitar pidatonya, dan yang mempunyai kesadaran akan kelemahan yang memadai bagi peristiwa pidatonya. Jadi, tenang dalam segala situasi pidato baik dihadapan orang-orang penting maupun rakyat awam.

f) Keramahan (friendship)

Oleh karna lebih mudah mempercayai teman daripada orang yang kita tidak kenal, maka komunikator harus menunjukkan dirinya sebagai seorang sahabat kepada mereka yang menyelenggarakan pertemuan itu terdapat perdebatan. Kepada yang terakhir ini paling tidak menyatakan hormat.

g) Kesederhanaan (moderation)

(10)

Komunikator humanistik adalah diri seseorang yang unik dan otonom, dengan  proses mental mencari informasi sevara aktif, yang sadar akan dirinya dan

keterlibatannya dengan masyarakat, memiliki kebebasan memilih dan bertanggung  jawab terhadap perilaku yang diakibatkan.

Teori humanstik yang sejak awal tahun 1970-an menjadi objek studi para  peneliti komunikasi bermula dari psikologi yang dijuluki revolusi ketiga dalam  psikologi, sebagai perkembangan dari model behavioristic dan model psikoanalitik.

Untuk memperoleh kejelasan mengenai ketiga pandangan itu (behavioristic,  psikoanalitik, dan humanistic), simak asumsi dari masing-masing pandangan tersebut.

i. Asumsi behavioristik

Model sifat dasar dari kaum behavioris pada dasarnya merupakan model teori belajar (learning theory model) yang menganggap bahwa melalui peneguhan perilaku yang dapat diterima, anda dapat mengetahui struktur masyarakat. Ada tiga asumsi pokok mengenai sifat dasar manusia :

a) Asumsi yang menyatakan bahwa perilaku dipelajari dengan membentuk asosiasi. Asosiasi ini dianggap dapat disebut kebiasaan, refleksi, atau hubungan antara respons dengan peneguhan hal-hal yang memungkinkan dalam lingkungan.

 b) Asumsi yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya bersifat hedonistic, berupaya mencari kesenangan dan menghindari kesulitan. Pada dasarnya asumsi tersebut merupakan suatu model yang menyampingkan perilaku tertentu seperti derma, cinta, atau altruism (sifat mementingkan orang lain).

c) Asumsi yang menyatakan bahwa perilaku pada dasarnya ditentukan oleh lingkungan. Oleh karena perilaku merupakan fungsi asosiasi antara tindakan dengan peneguhan, dan semua peneguhan berasal dari lingkungan, maka dengan menggunakan lingkungan, orang pada akhirnya dapat menghasilkan perilaku yang diinginkan. Oleh sebab itu asumsi tersebut menyatakan bahwa karena perilaku dapat dipelajari dan dapat dihasilkan, maka ia dapat dikendalikan. “Perkembangan seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya”.

(11)

ii. Asumsi Psikoanalitik

Model psikoanalisis merupakan model yang bersifat internal yang sangat berbeda dengan kaum behaviorist. Oleh karna dikendalikan oleh dorongan mental yang tak nampak, maka seseorang berbeda dibawah  pengaruh dorongan tersebut seperti halnya organisme pada kaum  behaviorist yang berada dibawah pengaruh pada lingkungan. Freud membatasi dua dorongan dasar, yakni seks dan agresi. Apabila kedua kebutuhan ini tidak disalurkan, maka tekanan yang timbul dapat muncul dalam bentuk perilaku lain, seperti ekspresi ilmiah atau seni.

Menurut kaum psikoanalisis perilaku seseorang diakibatkan oleh konflik antara pemuasan dorongan dasar (seks atau agresi) dengan norma-norma masyarakat. Dengan demikian, hidup dipandang sebagai perjuangan untuk menyelaraskan keinginan dengan perilaku yang diterima oleh masyarakat.

iii. Asumsi Humanistik

Humanistik yang muncul zaman Renaissence berperan untuk membebaskan pikiran manusia dari beban yang diletakkan pihak gereja  pada waktu itu (antara abad 14 dan 17). Dengan kebebasan ini timbul upaya-upaya untuk memperoleh pengetahuan melalui periaku aneh atau di luar kebiasaan. Konsep utama yang disumbangkan humanism Renaissance adalah konsep mengenai martabat dan kebebasan serta kemampuan untuk mengetahui dan mengekspresikan perasaan, pikiran dan pengalaman.

f. Ciri-ciri komunikator humanistik

Berikut ini adalah ciri-ciri komunikator humanistic sebagai penjelasan dari definisi diatas.

I. Berpribadi

Aspek yang paling penting dari pandangan humanistic ini adalah pandangan sebagai diri seseorang (person). Diri seseorang (a  person) akan mempunyai nama, dan segera kita mulai dengan

(12)

II. Unik

Diri sesorang sebagai manusia yang berpribadi adalah unik, lain daripada yang lain, khas, dan keunikan itu merupakan ciri yang  paling bernilai.

III. Aktif

Yang melekat pada proses mental adalah aktivitas. Asumsi ini adalah perbedaan paling nyata antara psikologi humanistic dengan aliran-aliran lain. Secara esensial dapat dikatakan bahwa kita tidak semata-mata penanggap rangsangan internal dan eksternal, melainkan sebagai system yang aktif dan bersinambung menanggapi dan menciptakan perangsang yang cocok untuk kita.

IV. Sadar diri dan Keterlibatan social

Ini merupakan prinsip dasar dari psikologi humanistic dan suatu faktor dari teori komunikasi antarmanusia yang menopang  pemahaman mengenai faset-faset proses komunikasi antarmanusia. Kesadaran diri membantu kita dihadapkan pada pilihan-pilihan terhadap apa yang harus kita lakukan. Pada akhirnya ini menuntut rasa tanggung jawab. Dengan demikian ini membantu pemahaman kita mengenai masing-masing sebagai “person”, bukan sebagai objek yang ditarik oleh lingkungan atau didorong oleh desakan yang tidak tampak.

(13)

BAB III

PENUTUP

Peliknya komunikasi antarmanusia, oleh karena secara sosiologis berlangsung secara horizontal atau vertical dengan perbedaan status sosial ekonomi, tingkat  pendidikan, agama, suku, bangsa, atau ras, dan lain sebagainya. Rumitnya komunikasi antarmanusia, oleh karena secara telelogis komunikasi mengandung tujuan, yakni mengubah sikap, opini, perilaku, kepercayaan, agama. Oleh karena itu untuk memahami proses komunikasi secara mendalam kita perlu memahami manusia.

(14)

Daftar Pustaka

Ardianto, Elvinaro, Bambang Q-Anees. 2011. FilsafatIlmuKomunikasi . Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

Referensi

Dokumen terkait

Penyarian Cannabis sp menggunakan teknik maserasi dengan pelarut yang berbeda juga memberikan perbedaan profil fingerprint HPTLC (Gambar 3).. Perbedaan kelarutan cannabinoid

Pihak kedua bersedia mematuhi seluruh kesepakatan yang menyangkut teknis dan peraturan pertandingan, serta kesepakatan mengenai keamanan demi kelancaran penyelenggaraan PORIKAN

Kendatipun demikian, di antara mereka masih ada yang berusaha meneliti masalah tersebut melalui cara yang tidak jauh berbeda dengan cara yang ditempuh oleh para

Dengan I0 adalah intensitas radiasi yang masuk; It adalah intensitas radiasi yang di transmisikan; A dikenal sebagai absorbans dan merupakan ukuran jumlah cahaya yang diserap

Anda diperintahkan agar diam di rumahmu (maksudnya adalah firman Allâh yang memerintahkan istri Rasûl agar tinggal di rumah: ‘Tinggallah dengan tenang dalam rumahmu’) 57 dan

Apakah senyawa-senyawa hidrokarbon yang dihasilkan dalam fraksi nafta dan light oil sebagai produk pencairan batubara memiliki karakter yang sama dengan komposisi senyawa

Kalau penyebab yang terpilih dihubungkan dengan satu atau lebih kondisi lain di dalam sertifikat oleh sebuah ketentuan di dalam klasifikasi atau di dalam catatan

Itulah sebabnya, penggunaan ujian masuk atau alat seleksi lainnya untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademik terbaik dan diharapkan