PEDOMAN PELAYANAN KOMITE PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH TULANGAN SIDOARJO
DAFTAR ISI
Surat Keputusan Direktur Tentang PPI ……… 3
BAB 1 PENDAHULUAN ………... 6
A. Latar Belakang ………. 6
B. Tujuan……… 8
C. Ruang Lingkup ………. 8
D. Batasan Operasional ………. 9
E. Jenis Penyakit Menular ……… 12
1. AIDS ……… 12 2. SARS ……….. 14 3. TBC ………. 17 4. MRSA ……….. 19 F. Kegiatan PPIRS ………. 22 1. Surveilens ……… 22 2. Kebersihan Tangan ………... 41 3. APD ……… 45 4. CSSD ……… 52 5. Dekontaminasi ………. 61
6. Kewaspadaan Standart dan Berdasarkan Transmisi……. 61
7. Management RISK PPI ……….. 63
8. Kohorting ……….. 66
9. Pengelolaan Kebersihan lingkungan ……….. 71
10. Pengelolaan Linen ……… 75
11. Antibiogram ………. 79
12. Upaya Kesehatan Karyawan ………. 79
13. Pemeriksaan Swab dan Kultur ……… 70
BAB II STANDART KETENAGAAN ……… 92
A. Kualifikasi Ketenagaan ………... 92
B. Uraian Tugas ……… 93
C. Distribusi Ketenagaan ……… 98
BAB III STANDART FASILITAS ………. 99
A. Fasilitas bagi Petugas ………. 99
B. Fasilitas bagi Pelayanan ………. 107
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN ……… 108
BAB VI KESELAMATAN KERJA ……… 112
BAB VII KESELAMATAN PASIEN ………. 113
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU ……….. 115
BAB IX PENUTUP ……… 122 Lampiran – lampiran
Lamp 1.Gambar Penanganan Tumpahan Darah Lamp 2. Tabel Desinfeksi
Lamp 3. Tabel Cara Membuat Larutan Clorin Lamp 4. Tabel ASA Score
Lamp 5. Tabel Daftar Tilik Penyakit Menular Lamp 6. Tabel Daftar Tilik Penggunaan APD
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH SIDOARJO NOMOR: ...
Tentang
PEDOMAN PELAYANAN
PELAYANAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH SIDOARJO
DIREKTUR RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH SIDOARJO
Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang bermutu tinggi dari setiap gugus tugas/ unit pelayanan yang ada;
b. bahwa pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan salah satu gugus tugas/ unit pelayanan di RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo yang harus mendukung pelayanan rumah sakit secara keseluruhan maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi yang bermutu tinggi.
c. bahwa agar pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya Surat Keputusan Direktur tentang Kebijakan pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo sebagai landasan bagi penyelenggaraan pelayanan.
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a, b dan c, perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo
Mengingat : 1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 2. Keputusan Pengurus ... Nomor ...
tentang Penetapan Struktur Rumah Sakit Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo
3. SK Pengurus ... Nomor: ... tentang Pengangkatan dr.Dedy Tri Soetjahjono sebagai Direktur RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo Periode …………..
4. SK Direktur RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo Tentang Kebijakan Pelayanan RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo.
Menetapkan :
Pertama : KEPUTUSAN DIREKTUR RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH SIDOARJO Tentang PEDOMAN PELAYANAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI.RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH SIDOARJO
Kedua : Pedoman pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjosebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.
Ketiga : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi dilaksanakan oleh Direktur RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo
Keempat : Kepala pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi wajib mensosialisasikan keputusan ini ke seluruh karyawan di Pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi.
Kelima : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini, akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di ...tanggal ... RS ‘AISYIYAH SITI FATIMAH SIDOARJO
Dr.Dedy Tri Soetjahjono Direktur,
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah Sakit, perlu dilakukan pengendalian infeksi, diantaranya adalah pengendalian infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial masih banyak dijumpai di rumah sakit dan biasanya merupakan indikator bagi pengukuran tentang seberapa jauh rumah sakit tersebut telah berupaya mengendalikan infeksi nosokomial.
Pengendalian infeksi nosokomial dipelopori oleh Nightingale, Simmelweis, Lister dan Holmes melalui praktek-praktek hygiene dan penggunaan antiseptik. Tantangan dalam pengendalian infeksi nosokomial semakin kompleks dan sering disebut disiplin epidemiologi rumah sakit.
Kerugian ekonomik akibat infeksi nosokomial dapat mencapai jumlah yang besar, khususnya untuk biaya tambahan lama perawatan, penggunaan antibiotika dan obat-obat lain serta peralatan medis dan kerugian tak langsung yaitu waktu produktif berkurang, kebjiakan penggunaan antibiotika, kebijakan penggunaan desinfektan serta sentralisasi sterilisasi perlu dipatuhi dengan ketat.
Tekanan-tekanan dari perubahan pola penyakit infeksi nosokomial dan pergeseran resiko ekonomik yang harus ditanggung rumah sakit mengharuskan upaya yang sistematik dalam penggunaan infeksi nosokomial, dengan adanya Komite Pengendalian Infeksi dan profesi yang terlatih untuk dapat menjalankan program pengumpulan data, pendidikan, konsultasi dan langkah-langkah pengendalian infeksi yang terpadu. Keberhasilan program pengendalian infeksi nosokomial dipengaruhi oleh efektivitas proses komunikasi untuk menyampaikan tujuan dan kebijakan pengendalian infeksi tersebut kepada seluruh karyawan rumah sakit baik tenaga medis maupun non medis, para penderita yang dirawat maupun berobat jalan serta para pengunjung Rumah Sakit ’Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo.
Upaya pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit ’Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo
bersifat multidisiplin, hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Discipline: perilaku semua karyawan harus didasari disiplin yang tinggi untuk mematuhi prosedur aseptik, teknik invasif, upaya pencegahan dan lain-lain.
2. Defence mechanisme: melindungi penderita dengan mekanisme pertahanan yang rendah supaya tidak terpapar oleh sumber infeksi.
3. Drug: pemakaian obat antiseptik, antibiotika dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kejadian infeksi supaya lebih bijaksana
4. Design: rancang bangun ruang bedah serta unit-unit lain berpengaruh terhadap resiko penularan penyakit infeksi, khususnya melalui udara atau kontak fisik yang dimungkinkan bila luas ruangan tidak cukup memadai.
5. Device: peralatan protektif diperlukan sebagai penghalang penularan, misalnya pakaian pelindung, masker, topi bedah dan lain-lain.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo melalui pencegahan dan pengendalian infeksi yang dilaksanakan oleh semua departemen/ unit dengan meliputi kualitas pelayanan, management resiko, clinical governace, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Tujuan Khusus
Sebagai pedoman pelayanan bagi staf PPIRS dalam melaksanakan tugas,wewenang dan tanggung jawab secara jelas.
Menggerakan segala sumber daya yang ada dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lain secara efektif dan efisien.
Menurunkan angka kejadian infeksi dirumah sakit secara bermakna.
Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pelayanan PPIRS P’Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan Pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi : Kewaspadaan standart dan berdasarkan transmisi
Pelayanan surveilens PPI
Hand Higiene sebagai bariier protection. Penggunaan APD
Pelayanan CSSD Pelayanan Linen
Pelayanan Kesehatan karyawan
Pelayanan Pendidikan dan edukasi kepada staf,pengunjung dan pasien
Pelayanan pemeriksaan baku mutu air bersih dan IPAL bekerja sama dengan IPSRS. Pelayanan pengelolaan kebersihan lingkungan
Pelayanan management resiko PPI
Antibiogram dan pola kuman RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Sidoarjo Penggunaan bahan single use yang di re-use
D. Batasan Operasional
Pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi kegiatan sebagai berikut: 1. Surveilens
2. Kebersihan Tangan 3. APD
4. CSSD
5. Dekontaminasi
6. Kewaspadaan Standart dan Berdasarkan Transmisi 7. Management RISK PPI
8. Kohorting
9. Pengelolaan Kebersihan lingkungan 10. Pengelolaan Linen
11. Antibiogram
12. Upaya Kesehatan Karyawan 13. Pemeriksaan Swab dan Kultur E. Jenis Penyakit Menular
1. Konsep dasar penyakit
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia termasuk indonesia, ditinjau dari asalnya infeksi dapat berasal dari (Community Acquaired Infection) atau berasal dari (Hospital Acquired Infection). Karena seringkali tidak bisa secara pasif ditentukan asal infeksi maka istilah infeksi nosokomial (Hospital Acqured infeksi) diganti (HAIs) yaitu healthcare assosiated infections dengan arti lebih luas tidak hanya terjadi dirumah sakit juga bisa terjadi fasilitas kesehatan yang lain juga tidak terbatas pada pasien namun infeksi juga dapat terjadi pada petugas yang didapat saat melakukan tindakan medis atau perawatan. Batasan
a. Kolonisasi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi, dimana organisme tersebut hidup, tumbuh dan berkembang biak, namun tanpa disertai adanya respon imun atau gejala klinis. Pada kolonisasi tubuh pejamu tidak dalam keadaan suspectibel pasien dan petugas dapat mengalami kolonisasi dengan dengan kuman patogen tanpa mengalami rasa sakit tetapi menularkan kuman tersebut ke orang lain (sebagai carrier).
b. Infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi (organisme dimana terdapat respon imun tetapi tidak disertai gejala klinik.
c. Penyakit infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi (organisme) yang disertai adanya respon imun dan gejala klinik.
d. Penyakit menular
Adalah penyakit infeksi tertentu yang dapat berpindah dari satu orang ke orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
e. Inflamasi
Merupakan bentuk respon tubuh terhadap suatu agen yang ditandai adanya dolor, kalor, rubor , tumor dan fungsiolesa.
f. SIRS (Sistem Inflamtory Respon Syndroma)
Merupakan sekumpulan gejala klinik atau kelainan laboratorium yang merupakan respon tubuh (inflamasi) yang bersifat sitemik. Kriteria SIRS bila ditemukan 2 atau
lebih keadaan berikut: (1) hipertermi atau hipotermia, (2) takikardia sesuai usia, (3) takipneu sesuai usia, (4) leukositosis atau leukopenia atau pada hitung jenis leukosit jumlah sel muda (batang) lebih dari 10 %. SIRS dapat terjadi karena infeksi atau non infeksi seperti luka bakar, pankreatitis, atau gangguan metabolik. SIRS yang disebabkan oleh infeksi disebut sepsis.
2. Rantai penularan
Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mengetahui rantai penularan, apabila salah satu rantai dihilangkan atau dirusak maka infeksi dapat dicegah atau dihentikan.
a. Agen Infeksi adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia, dapat berupa bakteri, virus, riketsia, jamur, dan parasit. Ada 3 faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu: virulensi, patogenesis, jumlah dosis obat. b. Reservoir atau tempat hidup dimana agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang
biak dan siap ditularkan pada orang lain, reservoir yang paling umum adalah manusia, binatang, tumbuhan, tanah, air dan bahan bahan organik. Pada manusia sehat permukaan kulit, selaput lendir saluran napas, pencernaan dan vagina merupakan reservoir yang umum.
c. Pintu keluar adalah jalan darimana agen infeksi meninggalkan reservoir, pintu keluar meliputi saluran napas, pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit, membran mukosa, trasplacenta dan darah serta cairan tubuh lainnya.
d. Transmisi adalah bagaiman mekanisme penularan meliputi (1) kontak langsung dan tidak langsung, (2) droplet, (3) airborne, (4) Vehicle; makan, minuman, darah (5) vektor biasanya binatang pengerat dan serangga.
e. Pintu masuk adalah tempat dimana agen infeksi memasuki tubuh pejamu (yang supectibel) dapat melalui saluran pernapsan, pencernaan, perkemihan atau luka. f. Pejamu (host) yang suspectibel adalah orang yang tidak tidak memiliki daya tahan
tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi, faktor yang mempengaruhi umur, usia, status gizi, ekonomi, pekerjaan, gaya hidup, terpasang barrier (kateter, implantasi), dilakukan tindakan operasi.
3. Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi a. Peningkatan daya tahan pejamu.
Dengan pemberian imunisasi (vaksin Hepatitis B), promosi kesehatan nutrisi yang adekuat.
b. Inaktivasi agen penyebab infeksi.
Menggunakan metoda fisik maupun kimia contoh fisik dengan pasteurisasi atau sterilisasi ataupun memasak makanan hingga matang. Kalau kimia dengan pemberian clorin pada air dan desinfeksi .
c. Memutus rantai penularan.
Dengan menerapkan tindakan pencegahan dengan menerapkan kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan transmisi
Hal ini berkaitan dengan pecegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lain yang dikarenakan tertusuk jarum bekas pakai utamanya hepatitis B, C dan HIV.
4. Jenis penyakit menular 1. AIDS
Pengertian
Adalah Penyakit akibat menurunnya daya tahan tubuh yang didapat karena terinfeksi HIV (Human Imunodefisiency Virus).
Penyebab
Virus HIV tergolong retrovirus yang terdiri atas 2 tipe, tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2)
Klasifikasi infeksi AIDS 1. Infeksi Akut.
a. Hampir 30-50 % pasien sudah terinfeksi HIV.
b. Pasien sudah terjadi pemaparan virus dan dapat berlangsung 6 minggu setelah kontak.
c. Patogenesis kurang jelas tetapi sangat mungkin terjadi reaksi imunitas terhadap masuknya HIV. Saat ini pemeriksaaan terhadap antibodi terhadap virus HIV masih ( - ) tetapi pemeriksaan Ag p24 sudah (+) sangat infeksius. 2. Infeksi kronik asimtomatik
a. Lamanya dapat bertahun tahun
b. Tanpa gejala, kemungkinan tubuh masih dapat mengkompensasi 3. PGL (PERSISTREN GENERALIZED LYMPHADENOPATHY)
Terjadi pembesaran kelenjar getah bening yang semetris.sering terjadi pembesaran limpa di leher posterior dan anterior. Kelompok ini berkembang menjadi AIDS kira-kira 10-30 % dalam jangka waktu 24- 60 bulan.
Cara penularan HIV
1. Penularan melalui hubungan seksual 2. Penularan melalui darah
3. Penularan secara perinatal
Cairan tubuh yang dapat mengandung HIV yaitu; Cairan vagina
ASI Air mata Air liur Air seni Air ketuban
Dan cairan cerebrospinal Gejala dan tanda
Biasanya tidak ada gejala klinis yang khusus pada orang yang terinfeksi HIV dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Setelah terjadi penurunan sel CD 4 secara bermakna baru AIDS mulai berkembang dan menunjukan gejala – gejala seperti:
Diare yang berkelanjutan
Penuunan berat badan secara drastis
Pembesaran kelenjar limfe leher dan atau ketiak Batuk terus menerus
2. Flu burung
Dibagi menjadi 4 sebab:
a) Seseorang dalam penyelidikan
Diputuskan oleh pejabat berwenang untuk dilakukanpenyelidikan epidemiologi kemungkinan terinfeksi H5N1, misal orang sehat namun kontak erat dengan kasus atau penduduk sehat namun tinggal di daerah flu burung, adapun gejala yang ditimbulkan:
Batuk
Sakit tenggorokan Pilek
Sesak napas dan terdapat satu atau lebih keadaan dibawah ini :
1. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek, probabel atau konfirm) seperti merawat, berbicara atau bersentuhan dengan pasien dalam jarak 1 meter.
2. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek, probabel atau konfirm) seperti memasak, menyembelih atau membersihkan bulu).
3. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek, probabel atau konfirm) seperti membersihkan kotoran, bahan atau produk lain.
4. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek, probabel atau konfirm) mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna.
5. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek, probabel atau konfirm) memegang atau menangani sampel hewan atau manusia yang dicurigai mengandung H5N1. 6. Dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala mempunyai riwayat kontak erat dengan penderita (suspek, probabel atau konfirm) atau binatang selain unggas yang terinfeksi (babi atau kucing)
7. Ditemukan leukopeni.
8. Ditemukan titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA untuk influensa A tanpa subtipe.
9. Foto Rontgen dada menggambarkan pneumonia yang cepat memburuk pada serial foto.
Infeksi selaput mata
Diare atau gangguan pencernaan. Fatigue
b) Kasus suspek. c) Kasus probabel
Dengan kriteria. :
1. Ditemukan kenaikan titer antibodi terhadap H5 min 4 x dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA.
2. Hasil lab terbatas untuk influenza H5 (terdeteksi antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan uji netralisasi (dikirim ke lab rujukan) d) Kasus konfirmasi
Dengan kriteria :
1. Isolasi virus H5N1 positif 2. Hasil PCR H5N1 positif.
4. Konvalesen dibandingkan dengan spesimen akut (diambil 7 hari setelah awitan gejala penyakit) dan titer antibodi metralisasi konvalesen harus pula 1/80 .
5. Titer antibodi mikronetralisasi H5N1 1/80 pada spesimen serum yang diambil pada hari ke stelah awitan disertai hasil positif uji serologi lain,mis titer HI sel darah merah kuda 1/160 atau western blot spesifik H5 positif. Pencegahan
1. Menghindari kontak dengan benda terkontaminasi,atau burung terinfeksi. 2. Menghindari peternakan unggas.
3. Hati hati ketika menangani unggas.
4. Memasak ddengan suhu 60C selama 30 menit,atau 80C selama 1 menit) 5. Menerapkan tindakan untuk menjaga kebersihan tangan :
Setelah memgang unggas
Setelah memegang daging unggas Setelah memasak
Sebelum memasak Pengobatan
Obat anti virus bekerja menghambat replikasi virus sehingga mengurangi gejala dan komplikasi yang terinfeksi.
Macam obat: 1. Amantadine 2. Rimatadine 3. Oseltamivir (tamiflu) 4. Zanavir (relenza) 3. TUBERKULOSIS (TBC) Penyebab
TBC disebabkan oleh kuman/ basil tahan asam (BTA) yakni micobacterium tuberkulosis. Kuman ini cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa hari ditempat yang lembab dan gelap. Beberapa jenis micobakterium lain juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia (matipik). Hampir semua oirgan tubuh dapat terserang bakteri ini seperti kulit, otak, ginjal, tulang dan paling sering paru.
Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia dalam jumlah pasien TB setelah India dan Cina, diperkirakan penduduk dunia terinfeksi Tb secara laten. Di indonesia diperkirakan terdapat 583.000 kasus baru dengan 140.000 kematian setiap tahun. Faktor resiko
HIV, DM, Gizi kurang, kebiasaan merokok. Cara penularan
Menular dari orang ke orang melalui droplet atau percikan dahak. Masa Inkubasi
Sejak masuknya kuman sampai timbul gejala lesi primer atau reaksi tes tuberculosis positif memerlukan waktu antara 2-10 minggu. Resiko menjadi TB paru dan TB ekstrapulmoner progresif infeksi primer umumnya terjadi pada tahun pertama dan kedua. Infeksi laten bisa terjadi seumur hidup. Pada pasien dengan imun defisiensi seperti HIV masa inkubasi bisa lebih pendek.
Masa penularan
Berpotensi menular selama penyakitnya masih aktif dan dahaknya mengandung BTA, penularan berkurang apabila pasien menjalani pengobatan adekuat selama minimal 2 minggu, sebaliknya pasien yang tidak diobati secara adekuat dan pasien dengan persisten AFB positif dapat menjadi sumber penularan sampai waktu lama. Tingkat penularan tergantung pada jumlah basil yang dikeluarkan, virulensi kuman, terjadinya aerosolisasi waktu batuk/bersin, dan tindakan medis beresiko tinggi seperti intubasi dan bronkoskopi.
Gejala klinis
Batuk terus menerus disertai dahak selama 3 minggu /lebih. Batuk berdahak
Sesak napas Nyeri dada Sering demam
Nafsu makan menurun Penurunan berat badan BTA (+)
Pengobatan spesifik dengan kombinasi obat anti tuberculosis (OAT) dengan metoda DOTS (directly observed treatment shourtcore ) diawasi oleh pengawas minum obat. Untuk pasien baru TB BTA (+), WHO menganjurkan pemberian 4 macam obat setiap hari selama 2 bulan berturut-turut terdiri rif, inh, pza,dan etambutol diikuti inh dan rif 3 kali seminggu selama 4 bulan.
Pencegahan
Penemuan dan pengobatan TB
Imunisasi BCG sedini mungkin terhadap mereka yang belum terinfeksi Perbaikan lingkungan dan status gizi dan kondisi sosial ekonomi 4. MRSA (Methicilin Resistent Stapylococcuc Aereus)
Adalah salah satu tipe bakteri stapylococus yang ditemukan pada kulit dan hidung dan kebal terhadap antibiotika. Jumlah kematian MRSA lebih banyak dibandingkan AIDS.
Saat ini ada 2 tipe :
1. Health care asosiated (HA –MRSA)
Biasanya ditemukan difasilitas kesehatan terutama rumah sakit. 2. Community asosiated (CA-MRSA)
Yang baru ini ditemukan ditempat-tempat umum, fitness, loker-loker, sekolah dan perabotan rumah tangga.
Biasanya menginfeksi orang dan anak-anak yang daya tahan tubuhnya lemah, jika daya tahan tubuh baik tidak akan menimbulkan gejala. Bakteri yang dibawa si pasien menyebar dan berpindah pada orang lain dengan cara kontak kulit dan menyentuh barang yang terkontaminasi. Stapylococcus menimbulkan gejala seperti infeksi kulit, jerawat, bisul, abses atau gigitan serangga, ini biasa menyebabkan bengkak, merah dan nyeri. Bakteri ini dapat menembus kulit sampai dengan menimbulkan infeksi di tulang, sendi, aliran darah, jantung dan paru yang bias mengancam jiwa.
Penyebaran MRSA
1. Menyentuh kulit atau luka terinfeksi dari siapa saja yang MRSA
2. Berbagi objek seperti handuk atau peralatan atletik, peralatan rumah tangga yang MRSA
3. Kontak fisik dapat juga disebarkan melalui batuk dan bersih 4. Menyentuh hidung dari penderita MRSA
Tanda dan gejala 1. Infeksi luka 2. Bisul
3. Folikel rambut yang terinfeksi 4. Impetigo
5. Kulit yang sakit seperti digigit serangga Diagnose
Contoh kulit, nanah, darah, urin atau bahan biopsy dikirim ke laborat dan dikultur untuk S aureus. Juka S aureus yang diisolasi (tumbuh dipiring pantry) bakteri tersebut kemudian terkena antibiatikyang berbeda termasuk Meticilin dan S aureus tumbuh dengan baik di Meticilindalam kultur yang disebut MRSA. Prosedur yang sama juga dilakukan untuk menentukan apakah seseorang merupakan pembawa MRSA (Screning untuk carrier) tetapi sample kulit atau selaput lendir hanya diswab tidak dibiopsi.
Pengobatan MRSA
Minor infeksi MRSA kadang kadang dapat mengalami komplikasi serius seperti menyebar infeksi kejaringan sekitar darah, tulang dan jantung. Karena MRSA yang tahan terhadap antibiotik banyak akan sulit untuk mengobati namun beberapa antibiotik berhasil mengendalikan infeksi tapi jarang.
Tindakan pencegahan
1. Kebersihan tangan sesering mungkin terutama setelah menyentuh hidung anda. 2. Bila batuk terapkan etika batuk
3. Jika anda mengalami infeksi kulit jaga daerah yang terinfeksi dengan ditutup kain kasa, ganti ferban sesering mungkin terutama jika basah.
4. Bersihkan kamar mandi dengan baik karena penularan juda melalui feces dan urine
5. Isolasikan peralatan mandi dan peralatan makan khusus untuk penderita MRSA. 6. Jangan berbagi handuk, pisau cukur, sikat gigi dan barang pribadi yang lainnya. 7. Isolasikan pasien, dikontaminasi semua peralatan pasien dengan sabun dan clorin
0,5%.
1. Surveilens
Adalah suatu pengamatan yang sistematis, efektif dan terus menerus terhadap timbulnya dan penyebaran penyakit pada suatu populasi serta terhadap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan meningkatnya atau menurunnya resiko terjadinya penyebaran penyakit :
1. Pada saat pasien masuk rumah sakit tidak ada tanda-tanda tidak dalam masa inkubasi infeksi tersebut.
2. Inkubasi terjadi 2x24 jam setelah pasien dirawat di rumah sakit. Apabila tanda- tanda infeksi sudah timbul sebelum 2x24 jam sejak mulai dirawat, maka perlu diteliti masa inkubasi dari infeksi tersebut.
3. Infeksi pada lokasi yang sama tetapi disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda dari mikroorganisme saat masuk rumah sakit atau mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi infeksi berbeda.
4. Infeksi terjadi setelah pasien pulang dan dapat dibuktikan berasal dari rumah sakit. Ada 2 keadaan yang bukan disebut infeksi nosokomial:
1. Infeksi yang berhubungan dengan komplikasi atau meluasnya infeksi yang sudah ada pada waktu masuk rumah sakit.
2. Infeksi pada bayi baru yang penularannya melalui placenta (mis toxoplasmosis, sifilis) dan baru muncul pada atau sebelum 48 jam setelah masa kelahiran .
Ada 2 keadaan yang bukan disebut infeksi :
1. Kolonisasi yaitu adanya mikroorganisme (pada kulit, selaput lender, luka terbuka) yang tidak memberikan gejala dan tanda klinis.
2. Inflamasi yaitu suatu kondisi respon jaringan terhadap jejas atau rangsangan zat non infeksi seperti zat kimia.
Infeksi nosokomial mudah terjadi karena adanya beberapa kondisi antara lain:
1. Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit, sehingga jumlah dan jenis kuman penyakit yang ada lebih banyak dari pada tempat lain.
2. Orang sakit mempunyai daya tahan tubuh yang rendah sehingga mudah tertular.
3. Dirumah sakit sering orang dilakukan tindakan invasive mulai dari yang paling sederhana seperti pemasangan infuse sampai tindakan operasi.
4. Mikroorganisme yang ada cenderung lebih resisten terhadap antibiotika, akibat penggunaan berbagai macam antibiotika yang sering kali tidak rasional.
5. Adanya kontak langsung antar petugas dengan pasien, petugas ke lingkungan yang dapat menularkan kuman pathogen.
6. Penggunaan alat/instrument yang telah terkontaminasi dengan kuman. Sumber-sumber infeksi yang terjadi di rumah sakit dapat berasal dari : 1. Petugas rumah sakit.
2. Pengunjung pasien. 17 Penyakit Masa inkubasi Menular selama/ virus shedding
Cara transmisi Kewasp adaan yang perlu dijalank an Masa petugas diliburkan/ tindakan Tindakan
Abses Selama luka
mengeluarka
n cairan
tubuh
kontak Kontak konserfatif
Acinetoba cter baumanii Luka bakar yang di hydroterapi Flora N kulit manusia, mukus menbran dan tanah. Bertahan di tempat lembab dan kering sampai berbulan, menular melalui peralatan rawat respirasi, tangan petugas, humidifier, stetoscop, termometer, matras, bantal, prmk TT, mop, gorden, tempat mandi luka terbuka
Standar dan kontak Adenoviru s type 1-7 6-9 hari Sekret saluran nafas Droplet, kontak Konserfatif Aspergilos is Infeksi jar luas dengan cairan berlebihan Inhalasi stadium airbone, conidia Kontak dan airbone candidiasi s Standar, kontak Chlamidia C trachomati s Standar, kontak, termasuk seksual Congenital rubella Sampai umur 1 tahun Kontak dengan bahan nasofaring dan urin Standar, kontak Restriksi 7 hari Conjungti vitis *adenovir us type 8 5- 12 hari 14 hari stl onset Kontak dengan tangan, alat terkontaminasi Kontak standar Sampai mata tidak kluar kotoran Pengobatan Campak 5-21 hari 3-4 hr stl bercak timbul mel nasofaring
Droplet yang besar (kontak dekat) & udara Transmis i udara Restriksi 7 hari setelah bercak merah timbul (yg imun) 5hr stl ekspos- 21 hr stl ekspos Pengobatan simtomatik Campiloba cter Standar Closrtidiu m difficile kontak Cytomegal o virus Tidak diketahui Tahan di lingkungan dlm wkt pendek Kontak dg sekresi &eksresi : saliva dan urin Standar hand hygiene Tidak perlu
Difteria Sekresi dr mulut
mengandung c difteriae Droplet, kontak Sampai terapi antibiotika telah lengkap dan sampai 2 kultur berjarak 24 jam dinyatakan negatif, perlu imunisasi tiap 10 tahun Pengobatan simtomatik dan virus. Minum eritromicin 3x 1 tb sampai 7 hari Gastroente ritis *salmonell a *shingella *yenteroc olitica Kontak px, konsumsi makanan/ air terkontaminasi Standar atau kontak Tidak mengolah makanan sp 2x jarak 24jam kultur feses negatif Glardia lambilia Feses Kontak Hepatitis A 15- 50 hari 2 minggu, kadang2 sp 6 bulan (prematur)
Fekal oral melalui feses
Standar Libur di area perawatan/ pengolahanma kanan,i minggu setelah sakit kuning imunisasi paksa ekspos Vaksinasi hepatitis a Hepatitis B,D B:6-24mgg D: 3-7 mgg Akut atau kronik dg HbsAg positif Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain
Standar Tidak perlu dibatasi smp HbeAg negatif. -segera periksa HbsAg atau HbeAg,tidak perlu divaksin bila petugas telah mengandung Anti HBs ≥ 10 mliu/ml Hepatitis C,F,G Perkutaneus mukosa kulit yg tdk utuh kontak gdn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain Standar Restriksi sampai kondisi membaik / sampai HceAg negatif Herpes simplex 2-14 hr Asiptomatik dpt mengeluarka n virus Kontak dgn ludah karier mengandung virus langsung/ lwt sekresi luka aberasi/ cairan vesikel Standar, kontak tangan Retriksi tidak perlu, tp dibatasi kontak dgn px HIV Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan yubuh yg lain
Standar Kurang dari 4 jam
paska pajanan -diberikan arv,azt dan 3 tc. -dilakukan pemeriksaan HIVserologi dan menitor setelah 3 bln,9bln,11 bln Helicobact er pylori Standar MDRO (MRSA, VRE, VISA, ESBL, Srep pneumoni a
Kontak luka Kontak
Influensa 1-5hr Infeksius pd 3hr pertama sakit.Virus dpt dikeluarkan sblm gejala timbul smp 7hr stlh dimulai sakit, lebih panjang pd anak dan orang Airbone, kontak langsung/ droplet dgn sekresi saluran napas kontak Vaksinasi pd petugas yg rentan. Amantadin untuk kontak dgn influensa A Hemophil us Influenzae Dewasa Anak Standar droplet Human Metapneu mo virus (HMPV) Batuk non produktif, kongesti nasal whezing, bronkhiolitis, pneumonia pada anak + 11,5 tahun Droplet sekret respirasi Kontak Droplet Novirus 12-48 jam
Diare, KLB Makanan, air terkontamibasi feses Kontak, makanan , air N meningitis 2-10 hr Kontak dgn sekret saluran napas Trasmisi mel droplet Libur spm 24jam stlh terapi paska ekspos. Rifampin2x60 0mg, 2hr; ciprofloxacin1 x500mg atau ceftriaxon250 mg IM -perlu profilaksis dgn Rif2x600 mg selama 2 hari ,dan dosis tunggal cipro1x1,atau ceftriaxone 250 mg IM Parotitis, Mumps 16-18hr (12-25hr) Community acquired, virus berada dlm saliva 6-7hr sbl parotitis sp 9hr stl onset Px immunokom promls Kontak dengan droplet atau langsung dgn sekret sal napas, yi saliva, hidung dan mulut Trasmisi droplet Vaksinasi efektif, MMR Restriksi sp 9hr stlh onset parotitis. Petugas renyan : 12hr paska ekspos pertama sp 25 hr stlh ekspos terakhir Parvovirus /B19 6-10hr Menular sblm bercak merah sp 7hr stlh onset Kontak dgn droplet besar, muntahan Transmis i drolpet Tidak perlu restriksi Pertusis 7-10 hr F catarrhal sangat menular Kontak dgn sekresi sal napas, droplet besar kontak dekat
Transmis i droplet sp 5 hr menerim a antibioti k Vaksin direkomen umur 11-64 th petugas dgn pertusis: restriksi fase catarrhal sp mg 3 stl onst / 5 hr stlh tx antibiotik kontak saja tidak perlu retriksi Pollomyeli tis Nonparal itik: 3-6hr; paralitik 7-12hr Sal napas 1mgg stlh gejala muncul, dlm feses bbrp mgg-bulan stlh gejala muncul
Kontak cairan sal napas, benda terkontaminasi fese Transmis i kontak Imunisasi direkomendasi kan Rubella 12-23hr, bintik merah timbul 14-16hr stlh ekspos Sangat menular saat bintik merah keluar, virus lepas 1mgg sblm smp 5-7hr stl onset, congenital rubella bisa melepas virus berbulan-bertahun2 Kontak dgn droplet nasofaring px Transmis i droplet dan kontak dgn cairan sal napas 5hr stlh bintik keluar : petugas rentan 7hr stl ekspos pertama sp 21hr stl ekspos terakhir RSV (infeksi virus respiratori k) 2-8hr (terserin g 4-6hr) Orang sakit dapat mengeluarka n virus selama 3-8hr. Tp pd bisa anak 3-4mgg Tangan terkontaminasi saat merawat pasien atau menyentuh benda mati, transmisi RSV bila menyentuh mata atau hidung Transmis i kontak erat dhn droplrt atau aerosol partikel kecil Batasi kontak dgn pasien rawat dan lingkungan bila ada KLB RSV Restriksi sampai gejala akut hilang MRSA Kontak dengan petugas, mungkn karier nares anterior, tangan, axilla, perineum, nasofaring, orofaring Strandar transmisi kontak, dapat airbone Retriksi perawatan pasien dan pengolahan makanan bila petugas dengan lesi kulit basah tidak perlu retriksi bila kolonisasi Streptococ A Kontak sisi terinfeksi & mensekresi Kulit, faring rektum, vagina Standar berdasar transmisi Retriksi perawatan pasien & pengolahan makanan sp 24 jam stl mendapat antibiotik Tidak perlu retriksi petugas dg kolonisasi Salmonell a, Shingella
Orang- orang lewat fekal oral air/ makanan
terkontaminasi
Sypilis Kontak langsung
dg lesi primer atau sekunder sypilis Kontak Tuberkolo sis Sp 1 bl minum OAT Inhalasi droplet nuklei Airbone, kontak (mengelu arkan c tubuh infeksius ) Sampai terbukti non infeksius -petugas yg terexpose perlu tes mantoux bila indurasinya> 10 mm perlu profilaksis INH sesuai rekomendasi lokal
Varicella Sp lesi kering & berkusta Airbone, kontak, standar 8 hari pasca kontak sp 21 hari paska kontak, beri imuno globulin IV paska kontak, imunisasi petugas paska pajanan dalam 4 hari Vaksinasi varicella Vibrio kolera Kontak feces Zoster *lokal Tutupi lesi, jangan kontak dg pasien rawat Retriksi sampai lesi mengering dan mengelupas * menyeluru h atau orang immuno komproma is Jangan kontak dg pasien Retriksi sampai semua lesi kering dan mengelupas * paska pajanan (person yang rentan) Jangan kontak dg pasien rawat Dari hr ke 10 paska pajanan pertama sp hari ke 21 atau hr 28 bila di beri lagi atau sampailesi kering dan
1 18 Penyakit Masa inkubasi Menular selama/ virus shedding
Cara transmisi Kewasp adaan yang perlu dijalank an Masa petugas diliburkan/ tindakan Tindakan
Abses Selama luka
mengeluarka
n cairan
tubuh
kontak Kontak konserfatif
Acinetoba cter baumanii Luka bakar yang di hydroterapi Flora N kulit manusia, mukus menbran dan tanah. Bertahan di tempat lembab dan kering sampai berbulan, menular melalui peralatan rawat respirasi, tangan petugas, humidifier, stetoscop, termometer, matras, bantal, prmk TT, mop, gorden, tempat mandi luka terbuka
Standar dan kontak Adenoviru s type 1-7 6-9 hari Sekret saluran nafas Droplet, kontak Konserfatif Aspergilos is Infeksi jar luas dengan cairan berlebihan Inhalasi stadium airbone, conidia Kontak dan airbone candidiasi s Standar, kontak Chlamidia C trachomati s Standar, kontak, termasuk seksual Congenital rubella Sampai umur 1 tahun Kontak dengan bahan nasofaring dan urin Standar, kontak Restriksi 7 hari Conjungti vitis *adenovir us type 8 5- 12 hari 14 hari stl onset Kontak dengan tangan, alat terkontaminasi Kontak standar Sampai mata tidak kluar kotoran Pengobatan Campak 5-21 hari 3-4 hr stl bercak timbul mel nasofaring
Droplet yang besar (kontak dekat) & udara Transmis i udara Restriksi 7 hari setelah bercak merah timbul (yg imun) 5hr stl ekspos- 21 hr stl ekspos Pengobatan simtomatik Campiloba cter Standar Closrtidiu m difficile kontak Cytomegal o virus Tidak diketahui Tahan di lingkungan dlm wkt pendek Kontak dg sekresi &eksresi : saliva dan urin Standar hand hygiene Tidak perlu
Difteria Sekresi dr mulut
mengandung c difteriae Droplet, kontak Sampai terapi antibiotika telah lengkap dan sampai 2 kultur berjarak 24 jam dinyatakan negatif, perlu imunisasi tiap 10 tahun Pengobatan simtomatik dan virus. Minum eritromicin 3x 1 tb sampai 7 hari Gastroente ritis *salmonell a *shingella *yenteroc olitica Kontak px, konsumsi makanan/ air terkontaminasi Standar atau kontak Tidak mengolah makanan sp 2x jarak 24jam kultur feses negatif Glardia lambilia Feses Kontak Hepatitis A 15- 50 hari 2 minggu, kadang2 sp 6 bulan (prematur)
Fekal oral melalui feses
Standar Libur di area perawatan/ pengolahanma kanan,i minggu setelah sakit kuning imunisasi paksa ekspos Vaksinasi hepatitis a Hepatitis B,D B:6-24mgg D: 3-7 mgg Akut atau kronik dg HbsAg positif Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain
Standar Tidak perlu dibatasi smp HbeAg negatif. -segera periksa HbsAg atau HbeAg,tidak perlu divaksin bila petugas telah mengandung Anti HBs ≥ 10 mliu/ml Hepatitis C,F,G Perkutaneus mukosa kulit yg tdk utuh kontak gdn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain Standar Restriksi sampai kondisi membaik / sampai HceAg negatif Herpes simplex 2-14 hr Asiptomatik dpt mengeluarka n virus Kontak dgn ludah karier mengandung virus langsung/ lwt sekresi luka aberasi/ cairan vesikel Standar, kontak tangan Retriksi tidak perlu, tp dibatasi kontak dgn px HIV Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan yubuh yg lain
Standar Kurang dari 4 jam
paska pajanan -diberikan arv,azt dan 3 tc. -dilakukan pemeriksaan HIVserologi dan menitor setelah 3 bln,9bln,11 bln Helicobact er pylori Standar MDRO (MRSA, VRE, VISA, ESBL, Srep pneumoni a
Kontak luka Kontak
Influensa 1-5hr Infeksius pd 3hr pertama sakit.Virus dpt dikeluarkan sblm gejala timbul smp 7hr stlh dimulai sakit, lebih panjang pd anak dan orang Airbone, kontak langsung/ droplet dgn sekresi saluran napas kontak Vaksinasi pd petugas yg rentan. Amantadin untuk kontak dgn influensa A Hemophil us Influenzae Dewasa Anak Standar droplet Human Metapneu mo virus (HMPV) Batuk non produktif, kongesti nasal whezing, bronkhiolitis, pneumonia pada anak + 11,5 tahun Droplet sekret respirasi Kontak Droplet Novirus 12-48 jam
Diare, KLB Makanan, air terkontamibasi feses Kontak, makanan , air N meningitis 2-10 hr Kontak dgn sekret saluran napas Trasmisi mel droplet Libur spm 24jam stlh terapi paska ekspos. Rifampin2x60 0mg, 2hr; ciprofloxacin1 x500mg atau ceftriaxon250 mg IM -perlu profilaksis dgn Rif2x600 mg selama 2 hari ,dan dosis tunggal cipro1x1,atau ceftriaxone 250 mg IM Parotitis, Mumps 16-18hr (12-25hr) Community acquired, virus berada dlm saliva 6-7hr sbl parotitis sp 9hr stl onset Px immunokom promls Kontak dengan droplet atau langsung dgn sekret sal napas, yi saliva, hidung dan mulut Trasmisi droplet Vaksinasi efektif, MMR Restriksi sp 9hr stlh onset parotitis. Petugas renyan : 12hr paska ekspos pertama sp 25 hr stlh ekspos terakhir Parvovirus /B19 6-10hr Menular sblm bercak merah sp 7hr stlh onset Kontak dgn droplet besar, muntahan Transmis i drolpet Tidak perlu restriksi Pertusis 7-10 hr F catarrhal sangat menular Kontak dgn sekresi sal napas, droplet besar kontak dekat
Transmis i droplet sp 5 hr menerim a antibioti k Vaksin direkomen umur 11-64 th petugas dgn pertusis: restriksi fase catarrhal sp mg 3 stl onst / 5 hr stlh tx antibiotik kontak saja tidak perlu retriksi Pollomyeli tis Nonparal itik: 3-6hr; paralitik 7-12hr Sal napas 1mgg stlh gejala muncul, dlm feses bbrp mgg-bulan stlh gejala muncul
Kontak cairan sal napas, benda terkontaminasi fese Transmis i kontak Imunisasi direkomendasi kan Rubella 12-23hr, bintik merah timbul 14-16hr stlh ekspos Sangat menular saat bintik merah keluar, virus lepas 1mgg sblm smp 5-7hr stl onset, congenital rubella bisa melepas virus berbulan-bertahun2 Kontak dgn droplet nasofaring px Transmis i droplet dan kontak dgn cairan sal napas 5hr stlh bintik keluar : petugas rentan 7hr stl ekspos pertama sp 21hr stl ekspos terakhir RSV (infeksi virus respiratori k) 2-8hr (terserin g 4-6hr) Orang sakit dapat mengeluarka n virus selama 3-8hr. Tp pd bisa anak 3-4mgg Tangan terkontaminasi saat merawat pasien atau menyentuh benda mati, transmisi RSV bila menyentuh mata atau hidung Transmis i kontak erat dhn droplrt atau aerosol partikel kecil Batasi kontak dgn pasien rawat dan lingkungan bila ada KLB RSV Restriksi sampai gejala akut hilang MRSA Kontak dengan petugas, mungkn karier nares anterior, tangan, axilla, perineum, nasofaring, orofaring Strandar transmisi kontak, dapat airbone Retriksi perawatan pasien dan pengolahan makanan bila petugas dengan lesi kulit basah tidak perlu retriksi bila kolonisasi Streptococ A Kontak sisi terinfeksi & mensekresi Kulit, faring rektum, vagina Standar berdasar transmisi Retriksi perawatan pasien & pengolahan makanan sp 24 jam stl mendapat antibiotik Tidak perlu retriksi petugas dg kolonisasi Salmonell a, Shingella
Orang- orang lewat fekal oral air/ makanan
terkontaminasi
Sypilis Kontak langsung
dg lesi primer atau sekunder sypilis Kontak Tuberkolo sis Sp 1 bl minum OAT Inhalasi droplet nuklei Airbone, kontak (mengelu arkan c tubuh infeksius ) Sampai terbukti non infeksius -petugas yg terexpose perlu tes mantoux bila indurasinya> 10 mm perlu profilaksis INH sesuai rekomendasi lokal
Varicella Sp lesi kering & berkusta Airbone, kontak, standar 8 hari pasca kontak sp 21 hari paska kontak, beri imuno globulin IV paska kontak, imunisasi petugas paska pajanan dalam 4 hari Vaksinasi varicella Vibrio kolera Kontak feces Zoster *lokal Tutupi lesi, jangan kontak dg pasien rawat Retriksi sampai lesi mengering dan mengelupas * menyeluru h atau orang immuno komproma is Jangan kontak dg pasien Retriksi sampai semua lesi kering dan mengelupas * paska pajanan (person yang rentan) Jangan kontak dg pasien rawat Dari hr ke 10 paska pajanan pertama sp hari ke 21 atau hr 28 bila di beri lagi atau sampailesi kering dan
19 Penyakit Masa inkubasi Menular selama/ virus shedding
Cara transmisi Kewasp adaan yang perlu dijalank an Masa petugas diliburkan/ tindakan Tindakan
Abses Selama luka
mengeluarka
n cairan
tubuh
kontak Kontak konserfatif
Acinetoba cter baumanii Luka bakar yang di hydroterapi Flora N kulit manusia, mukus menbran dan tanah. Bertahan di tempat lembab dan kering sampai berbulan, menular melalui peralatan rawat respirasi, tangan petugas, humidifier, stetoscop, termometer, matras, bantal, prmk TT, mop, gorden, tempat mandi luka terbuka
Standar dan kontak Adenoviru s type 1-7 6-9 hari Sekret saluran nafas Droplet, kontak Konserfatif Aspergilos is Infeksi jar luas dengan cairan berlebihan Inhalasi stadium airbone, conidia Kontak dan airbone candidiasi s Standar, kontak Chlamidia C trachomati s Standar, kontak, termasuk seksual Congenital rubella Sampai umur 1 tahun Kontak dengan bahan nasofaring dan urin Standar, kontak Restriksi 7 hari Conjungti vitis *adenovir us type 8 5- 12 hari 14 hari stl onset Kontak dengan tangan, alat terkontaminasi Kontak standar Sampai mata tidak kluar kotoran Pengobatan Campak 5-21 hari 3-4 hr stl bercak timbul mel nasofaring
Droplet yang besar (kontak dekat) & udara Transmis i udara Restriksi 7 hari setelah bercak merah timbul (yg imun) 5hr stl ekspos- 21 hr stl ekspos Pengobatan simtomatik Campiloba cter Standar Closrtidiu m difficile kontak Cytomegal o virus Tidak diketahui Tahan di lingkungan dlm wkt pendek Kontak dg sekresi &eksresi : saliva dan urin Standar hand hygiene Tidak perlu
Difteria Sekresi dr mulut
mengandung c difteriae Droplet, kontak Sampai terapi antibiotika telah lengkap dan sampai 2 kultur berjarak 24 jam dinyatakan negatif, perlu imunisasi tiap 10 tahun Pengobatan simtomatik dan virus. Minum eritromicin 3x 1 tb sampai 7 hari Gastroente ritis *salmonell a *shingella *yenteroc olitica Kontak px, konsumsi makanan/ air terkontaminasi Standar atau kontak Tidak mengolah makanan sp 2x jarak 24jam kultur feses negatif Glardia lambilia Feses Kontak Hepatitis A 15- 50 hari 2 minggu, kadang2 sp 6 bulan (prematur)
Fekal oral melalui feses
Standar Libur di area perawatan/ pengolahanma kanan,i minggu setelah sakit kuning imunisasi paksa ekspos Vaksinasi hepatitis a Hepatitis B,D B:6-24mgg D: 3-7 mgg Akut atau kronik dg HbsAg positif Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain
Standar Tidak perlu dibatasi smp HbeAg negatif. -segera periksa HbsAg atau HbeAg,tidak perlu divaksin bila petugas telah mengandung Anti HBs ≥ 10 mliu/ml Hepatitis C,F,G Perkutaneus mukosa kulit yg tdk utuh kontak gdn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain Standar Restriksi sampai kondisi membaik / sampai HceAg negatif Herpes simplex 2-14 hr Asiptomatik dpt mengeluarka n virus Kontak dgn ludah karier mengandung virus langsung/ lwt sekresi luka aberasi/ cairan vesikel Standar, kontak tangan Retriksi tidak perlu, tp dibatasi kontak dgn px HIV Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan yubuh yg lain
Standar Kurang dari 4 jam
paska pajanan -diberikan arv,azt dan 3 tc. -dilakukan pemeriksaan HIVserologi dan menitor setelah 3 bln,9bln,11 bln Helicobact er pylori Standar MDRO (MRSA, VRE, VISA, ESBL, Srep pneumoni a
Kontak luka Kontak
Influensa 1-5hr Infeksius pd 3hr pertama sakit.Virus dpt dikeluarkan sblm gejala timbul smp 7hr stlh dimulai sakit, lebih panjang pd anak dan orang Airbone, kontak langsung/ droplet dgn sekresi saluran napas kontak Vaksinasi pd petugas yg rentan. Amantadin untuk kontak dgn influensa A Hemophil us Influenzae Dewasa Anak Standar droplet Human Metapneu mo virus (HMPV) Batuk non produktif, kongesti nasal whezing, bronkhiolitis, pneumonia pada anak + 11,5 tahun Droplet sekret respirasi Kontak Droplet Novirus 12-48 jam
Diare, KLB Makanan, air terkontamibasi feses Kontak, makanan , air N meningitis 2-10 hr Kontak dgn sekret saluran napas Trasmisi mel droplet Libur spm 24jam stlh terapi paska ekspos. Rifampin2x60 0mg, 2hr; ciprofloxacin1 x500mg atau ceftriaxon250 mg IM -perlu profilaksis dgn Rif2x600 mg selama 2 hari ,dan dosis tunggal cipro1x1,atau ceftriaxone 250 mg IM Parotitis, Mumps 16-18hr (12-25hr) Community acquired, virus berada dlm saliva 6-7hr sbl parotitis sp 9hr stl onset Px immunokom promls Kontak dengan droplet atau langsung dgn sekret sal napas, yi saliva, hidung dan mulut Trasmisi droplet Vaksinasi efektif, MMR Restriksi sp 9hr stlh onset parotitis. Petugas renyan : 12hr paska ekspos pertama sp 25 hr stlh ekspos terakhir Parvovirus /B19 6-10hr Menular sblm bercak merah sp 7hr stlh onset Kontak dgn droplet besar, muntahan Transmis i drolpet Tidak perlu restriksi Pertusis 7-10 hr F catarrhal sangat menular Kontak dgn sekresi sal napas, droplet besar kontak dekat
Transmis i droplet sp 5 hr menerim a antibioti k Vaksin direkomen umur 11-64 th petugas dgn pertusis: restriksi fase catarrhal sp mg 3 stl onst / 5 hr stlh tx antibiotik kontak saja tidak perlu retriksi Pollomyeli tis Nonparal itik: 3-6hr; paralitik 7-12hr Sal napas 1mgg stlh gejala muncul, dlm feses bbrp mgg-bulan stlh gejala muncul
Kontak cairan sal napas, benda terkontaminasi fese Transmis i kontak Imunisasi direkomendasi kan Rubella 12-23hr, bintik merah timbul 14-16hr stlh ekspos Sangat menular saat bintik merah keluar, virus lepas 1mgg sblm smp 5-7hr stl onset, congenital rubella bisa melepas virus berbulan-bertahun2 Kontak dgn droplet nasofaring px Transmis i droplet dan kontak dgn cairan sal napas 5hr stlh bintik keluar : petugas rentan 7hr stl ekspos pertama sp 21hr stl ekspos terakhir RSV (infeksi virus respiratori k) 2-8hr (terserin g 4-6hr) Orang sakit dapat mengeluarka n virus selama 3-8hr. Tp pd bisa anak 3-4mgg Tangan terkontaminasi saat merawat pasien atau menyentuh benda mati, transmisi RSV bila menyentuh mata atau hidung Transmis i kontak erat dhn droplrt atau aerosol partikel kecil Batasi kontak dgn pasien rawat dan lingkungan bila ada KLB RSV Restriksi sampai gejala akut hilang MRSA Kontak dengan petugas, mungkn karier nares anterior, tangan, axilla, perineum, nasofaring, orofaring Strandar transmisi kontak, dapat airbone Retriksi perawatan pasien dan pengolahan makanan bila petugas dengan lesi kulit basah tidak perlu retriksi bila kolonisasi Streptococ A Kontak sisi terinfeksi & mensekresi Kulit, faring rektum, vagina Standar berdasar transmisi Retriksi perawatan pasien & pengolahan makanan sp 24 jam stl mendapat antibiotik Tidak perlu retriksi petugas dg kolonisasi Salmonell a, Shingella
Orang- orang lewat fekal oral air/ makanan
terkontaminasi
Sypilis Kontak langsung
dg lesi primer atau sekunder sypilis Kontak Tuberkolo sis Sp 1 bl minum OAT Inhalasi droplet nuklei Airbone, kontak (mengelu arkan c tubuh infeksius ) Sampai terbukti non infeksius -petugas yg terexpose perlu tes mantoux bila indurasinya> 10 mm perlu profilaksis INH sesuai rekomendasi lokal
Varicella Sp lesi kering & berkusta Airbone, kontak, standar 8 hari pasca kontak sp 21 hari paska kontak, beri imuno globulin IV paska kontak, imunisasi petugas paska pajanan dalam 4 hari Vaksinasi varicella Vibrio kolera Kontak feces Zoster *lokal Tutupi lesi, jangan kontak dg pasien rawat Retriksi sampai lesi mengering dan mengelupas * menyeluru h atau orang immuno komproma is Jangan kontak dg pasien Retriksi sampai semua lesi kering dan mengelupas * paska pajanan (person yang rentan) Jangan kontak dg pasien rawat Dari hr ke 10 paska pajanan pertama sp hari ke 21 atau hr 28 bila di beri lagi atau sampailesi kering dan
BAB II
STANDART KETENAGAAN
A. Kualifikasi Ketenagaan.
Jenis ketenagaan menurut Peraturan Pemerintah RI tahun No .32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
No Jenis tenaga Pendidikan formal sertipikat Jumlah
1 Dokter spesialis Anestesi PPI lanjut 1
2 ICN D-3 PPI dasar 1/150 TT
3 Perawat D-3 cssd 1
4 Sanitasi linen D-3 Management linen 1
5 Sanitasi gizi D-3 Management Gizi 1
6 farmasi D-3 1
7 Laborat D-3
Kualifikasi ketenagaan PPI
1. Karyawan yang berminat dalam bidang PPI. 2. Minimal pendidikan D3
3. Mempunyai sertipikat PPI (basic maupun advand) 4. Bekerja purna waktu
B. Uraian Tugas : B.1. Direktur.
Membentuk Komite dan TIM PPIRS dengan surat keputusan
Bertanggung jawab dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyelenggaraan upya PPI 20 Penyakit Masa inkubasi Menular selama/ virus shedding
Cara transmisi Kewasp adaan yang perlu dijalank an Masa petugas diliburkan/ tindakan Tindakan
Abses Selama luka
mengeluarka
n cairan
tubuh
kontak Kontak konserfatif
Acinetoba cter baumanii Luka bakar yang di hydroterapi Flora N kulit manusia, mukus menbran dan tanah. Bertahan di tempat lembab dan kering sampai berbulan, menular melalui peralatan rawat respirasi, tangan petugas, humidifier, stetoscop, termometer, matras, bantal, prmk TT, mop, gorden, tempat mandi luka terbuka
Standar dan kontak Adenoviru s type 1-7 6-9 hari Sekret saluran nafas Droplet, kontak Konserfatif Aspergilos is Infeksi jar luas dengan cairan berlebihan Inhalasi stadium airbone, conidia Kontak dan airbone candidiasi s Standar, kontak Chlamidia C trachomati s Standar, kontak, termasuk seksual Congenital rubella Sampai umur 1 tahun Kontak dengan bahan nasofaring dan urin Standar, kontak Restriksi 7 hari Conjungti vitis *adenovir us type 8 5- 12 hari 14 hari stl onset Kontak dengan tangan, alat terkontaminasi Kontak standar Sampai mata tidak kluar kotoran Pengobatan Campak 5-21 hari 3-4 hr stl bercak timbul mel nasofaring
Droplet yang besar (kontak dekat) & udara Transmis i udara Restriksi 7 hari setelah bercak merah timbul (yg imun) 5hr stl ekspos- 21 hr stl ekspos Pengobatan simtomatik Campiloba cter Standar Closrtidiu m difficile kontak Cytomegal o virus Tidak diketahui Tahan di lingkungan dlm wkt pendek Kontak dg sekresi &eksresi : saliva dan urin Standar hand hygiene Tidak perlu
Difteria Sekresi dr mulut
mengandung c difteriae Droplet, kontak Sampai terapi antibiotika telah lengkap dan sampai 2 kultur berjarak 24 jam dinyatakan negatif, perlu imunisasi tiap 10 tahun Pengobatan simtomatik dan virus. Minum eritromicin 3x 1 tb sampai 7 hari Gastroente ritis *salmonell a *shingella *yenteroc olitica Kontak px, konsumsi makanan/ air terkontaminasi Standar atau kontak Tidak mengolah makanan sp 2x jarak 24jam kultur feses negatif Glardia lambilia Feses Kontak Hepatitis A 15- 50 hari 2 minggu, kadang2 sp 6 bulan (prematur)
Fekal oral melalui feses
Standar Libur di area perawatan/ pengolahanma kanan,i minggu setelah sakit kuning imunisasi paksa ekspos Vaksinasi hepatitis a Hepatitis B,D B:6-24mgg D: 3-7 mgg Akut atau kronik dg HbsAg positif Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain
Standar Tidak perlu dibatasi smp HbeAg negatif. -segera periksa HbsAg atau HbeAg,tidak perlu divaksin bila petugas telah mengandung Anti HBs ≥ 10 mliu/ml Hepatitis C,F,G Perkutaneus mukosa kulit yg tdk utuh kontak gdn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain Standar Restriksi sampai kondisi membaik / sampai HceAg negatif Herpes simplex 2-14 hr Asiptomatik dpt mengeluarka n virus Kontak dgn ludah karier mengandung virus langsung/ lwt sekresi luka aberasi/ cairan vesikel Standar, kontak tangan Retriksi tidak perlu, tp dibatasi kontak dgn px HIV Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan yubuh yg lain
Standar Kurang dari 4 jam
paska pajanan -diberikan arv,azt dan 3 tc. -dilakukan pemeriksaan HIVserologi dan menitor setelah 3 bln,9bln,11 bln Helicobact er pylori Standar MDRO (MRSA, VRE, VISA, ESBL, Srep pneumoni a
Kontak luka Kontak
Influensa 1-5hr Infeksius pd 3hr pertama sakit.Virus dpt dikeluarkan sblm gejala timbul smp 7hr stlh dimulai sakit, lebih panjang pd anak dan orang Airbone, kontak langsung/ droplet dgn sekresi saluran napas kontak Vaksinasi pd petugas yg rentan. Amantadin untuk kontak dgn influensa A Hemophil us Influenzae Dewasa Anak Standar droplet Human Metapneu mo virus (HMPV) Batuk non produktif, kongesti nasal whezing, bronkhiolitis, pneumonia pada anak + 11,5 tahun Droplet sekret respirasi Kontak Droplet Novirus 12-48 jam
Diare, KLB Makanan, air terkontamibasi feses Kontak, makanan , air N meningitis 2-10 hr Kontak dgn sekret saluran napas Trasmisi mel droplet Libur spm 24jam stlh terapi paska ekspos. Rifampin2x60 0mg, 2hr; ciprofloxacin1 x500mg atau ceftriaxon250 mg IM -perlu profilaksis dgn Rif2x600 mg selama 2 hari ,dan dosis tunggal cipro1x1,atau ceftriaxone 250 mg IM Parotitis, Mumps 16-18hr (12-25hr) Community acquired, virus berada dlm saliva 6-7hr sbl parotitis sp 9hr stl onset Px immunokom promls Kontak dengan droplet atau langsung dgn sekret sal napas, yi saliva, hidung dan mulut Trasmisi droplet Vaksinasi efektif, MMR Restriksi sp 9hr stlh onset parotitis. Petugas renyan : 12hr paska ekspos pertama sp 25 hr stlh ekspos terakhir Parvovirus /B19 6-10hr Menular sblm bercak merah sp 7hr stlh onset Kontak dgn droplet besar, muntahan Transmis i drolpet Tidak perlu restriksi Pertusis 7-10 hr F catarrhal sangat menular Kontak dgn sekresi sal napas, droplet besar kontak dekat
Transmis i droplet sp 5 hr menerim a antibioti k Vaksin direkomen umur 11-64 th petugas dgn pertusis: restriksi fase catarrhal sp mg 3 stl onst / 5 hr stlh tx antibiotik kontak saja tidak perlu retriksi Pollomyeli tis Nonparal itik: 3-6hr; paralitik 7-12hr Sal napas 1mgg stlh gejala muncul, dlm feses bbrp mgg-bulan stlh gejala muncul
Kontak cairan sal napas, benda terkontaminasi fese Transmis i kontak Imunisasi direkomendasi kan Rubella 12-23hr, bintik merah timbul 14-16hr stlh ekspos Sangat menular saat bintik merah keluar, virus lepas 1mgg sblm smp 5-7hr stl onset, congenital rubella bisa melepas virus berbulan-bertahun2 Kontak dgn droplet nasofaring px Transmis i droplet dan kontak dgn cairan sal napas 5hr stlh bintik keluar : petugas rentan 7hr stl ekspos pertama sp 21hr stl ekspos terakhir RSV (infeksi virus respiratori k) 2-8hr (terserin g 4-6hr) Orang sakit dapat mengeluarka n virus selama 3-8hr. Tp pd bisa anak 3-4mgg Tangan terkontaminasi saat merawat pasien atau menyentuh benda mati, transmisi RSV bila menyentuh mata atau hidung Transmis i kontak erat dhn droplrt atau aerosol partikel kecil Batasi kontak dgn pasien rawat dan lingkungan bila ada KLB RSV Restriksi sampai gejala akut hilang MRSA Kontak dengan petugas, mungkn karier nares anterior, tangan, axilla, perineum, nasofaring, orofaring Strandar transmisi kontak, dapat airbone Retriksi perawatan pasien dan pengolahan makanan bila petugas dengan lesi kulit basah tidak perlu retriksi bila kolonisasi Streptococ A Kontak sisi terinfeksi & mensekresi Kulit, faring rektum, vagina Standar berdasar transmisi Retriksi perawatan pasien & pengolahan makanan sp 24 jam stl mendapat antibiotik Tidak perlu retriksi petugas dg kolonisasi Salmonell a, Shingella
Orang- orang lewat fekal oral air/ makanan
terkontaminasi
Sypilis Kontak langsung
dg lesi primer atau sekunder sypilis Kontak Tuberkolo sis Sp 1 bl minum OAT Inhalasi droplet nuklei Airbone, kontak (mengelu arkan c tubuh infeksius ) Sampai terbukti non infeksius -petugas yg terexpose perlu tes mantoux bila indurasinya> 10 mm perlu profilaksis INH sesuai rekomendasi lokal
Varicella Sp lesi kering & berkusta Airbone, kontak, standar 8 hari pasca kontak sp 21 hari paska kontak, beri imuno globulin IV paska kontak, imunisasi petugas paska pajanan dalam 4 hari Vaksinasi varicella Vibrio kolera Kontak feces Zoster *lokal Tutupi lesi, jangan kontak dg pasien rawat Retriksi sampai lesi mengering dan mengelupas * menyeluru h atau orang immuno komproma is Jangan kontak dg pasien Retriksi sampai semua lesi kering dan mengelupas * paska pajanan (person yang rentan) Jangan kontak dg pasien rawat Dari hr ke 10 paska pajanan pertama sp hari ke 21 atau hr 28 bila di beri lagi atau sampailesi kering dan
Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk anggaran yang dibutuhkan.
Menentukan kebijakan PPI
Mengadakan evaluasi kebijakan PPI berdasarkan saran dari panitia PPIRS
Dapat menutup suatu unit perawatan /instalasi yang dianggap potensial menularkan penyakit untuk beberapa waktu sesuai saran dari PPIRS.
Mengesahkan SPO untuk PPIRS. B.2. IPCO ketua komite PPI
B.2.1 Kriteria IPCO ;
- Ahli atau dokter yang berminat dalam PPI - mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar PPI. - memiliki kemampuan leadership.
Tugas IPCO sbb;
Berkontribusi dalam diagnosis dan terapi infeksi.
Turut menyusun pedoman penulisan resep antibiotika dan surveilens.
Mengidentifikasi dan melaporkan kuman patogen dan pola resistensi antibiotika. Bekerjasama dengan perawat PPI memonitor kegiatan surveilens infeksi dan deteksi
dini KLB.
Membimbing dan mengajarkan praktek dan prosedur PPI yang berhubungan dengan prosedur terapi.
Turut memonitor cara kerja tenaga kesehatan lain dalam merawat pasien. B.2 IPCN
B.2.1Kriteria IPCN :
- Perawat dengan pendidikan min D3 dan memiliki sertifikasi pelatihan PPI - Memiliki komitmen di bidang PPI
- Memiliki pengalaman sebagai kepala Ruangan atau setara. - Memiliki kemampuan leadership,inovatif dan confident - Bekerja purna waktu.
21 Penyakit Masa inkubasi Menular selama/ virus shedding
Cara transmisi Kewasp adaan yang perlu dijalank an Masa petugas diliburkan/ tindakan Tindakan
Abses Selama luka
mengeluarka
n cairan
tubuh
kontak Kontak konserfatif
Acinetoba cter baumanii Luka bakar yang di hydroterapi Flora N kulit manusia, mukus menbran dan tanah. Bertahan di tempat lembab dan kering sampai berbulan, menular melalui peralatan rawat respirasi, tangan petugas, humidifier, stetoscop, termometer, matras, bantal, prmk TT, mop, gorden, tempat mandi luka terbuka
Standar dan kontak Adenoviru s type 1-7 6-9 hari Sekret saluran nafas Droplet, kontak Konserfatif Aspergilos is Infeksi jar luas dengan cairan berlebihan Inhalasi stadium airbone, conidia Kontak dan airbone candidiasi s Standar, kontak Chlamidia C trachomati s Standar, kontak, termasuk seksual Congenital rubella Sampai umur 1 tahun Kontak dengan bahan nasofaring dan urin Standar, kontak Restriksi 7 hari Conjungti vitis *adenovir us type 8 5- 12 hari 14 hari stl onset Kontak dengan tangan, alat terkontaminasi Kontak standar Sampai mata tidak kluar kotoran Pengobatan Campak 5-21 hari 3-4 hr stl bercak timbul mel nasofaring
Droplet yang besar (kontak dekat) & udara Transmis i udara Restriksi 7 hari setelah bercak merah timbul (yg imun) 5hr stl ekspos- 21 hr stl ekspos Pengobatan simtomatik Campiloba cter Standar Closrtidiu m difficile kontak Cytomegal o virus Tidak diketahui Tahan di lingkungan dlm wkt pendek Kontak dg sekresi &eksresi : saliva dan urin Standar hand hygiene Tidak perlu
Difteria Sekresi dr mulut
mengandung c difteriae Droplet, kontak Sampai terapi antibiotika telah lengkap dan sampai 2 kultur berjarak 24 jam dinyatakan negatif, perlu imunisasi tiap 10 tahun Pengobatan simtomatik dan virus. Minum eritromicin 3x 1 tb sampai 7 hari Gastroente ritis *salmonell a *shingella *yenteroc olitica Kontak px, konsumsi makanan/ air terkontaminasi Standar atau kontak Tidak mengolah makanan sp 2x jarak 24jam kultur feses negatif Glardia lambilia Feses Kontak Hepatitis A 15- 50 hari 2 minggu, kadang2 sp 6 bulan (prematur)
Fekal oral melalui feses
Standar Libur di area perawatan/ pengolahanma kanan,i minggu setelah sakit kuning imunisasi paksa ekspos Vaksinasi hepatitis a Hepatitis B,D B:6-24mgg D: 3-7 mgg Akut atau kronik dg HbsAg positif Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain
Standar Tidak perlu dibatasi smp HbeAg negatif. -segera periksa HbsAg atau HbeAg,tidak perlu divaksin bila petugas telah mengandung Anti HBs ≥ 10 mliu/ml Hepatitis C,F,G Perkutaneus mukosa kulit yg tdk utuh kontak gdn darah, semen, cairan vagina, cairan tubuh yg lain Standar Restriksi sampai kondisi membaik / sampai HceAg negatif Herpes simplex 2-14 hr Asiptomatik dpt mengeluarka n virus Kontak dgn ludah karier mengandung virus langsung/ lwt sekresi luka aberasi/ cairan vesikel Standar, kontak tangan Retriksi tidak perlu, tp dibatasi kontak dgn px HIV Perkutaneus mukosa, kulit yg tdk utuh kontak dgn darah, semen, cairan vagina, cairan yubuh yg lain
Standar Kurang dari 4 jam
paska pajanan -diberikan arv,azt dan 3 tc. -dilakukan pemeriksaan HIVserologi dan menitor setelah 3 bln,9bln,11 bln Helicobact er pylori Standar MDRO (MRSA, VRE, VISA, ESBL, Srep pneumoni a
Kontak luka Kontak
Influensa 1-5hr Infeksius pd 3hr pertama sakit.Virus dpt dikeluarkan sblm gejala timbul smp 7hr stlh dimulai sakit, lebih panjang pd anak dan orang Airbone, kontak langsung/ droplet dgn sekresi saluran napas kontak Vaksinasi pd petugas yg rentan. Amantadin untuk kontak dgn influensa A Hemophil us Influenzae Dewasa Anak Standar droplet Human Metapneu mo virus (HMPV) Batuk non produktif, kongesti nasal whezing, bronkhiolitis, pneumonia pada anak + 11,5 tahun Droplet sekret respirasi Kontak Droplet Novirus 12-48 jam
Diare, KLB Makanan, air terkontamibasi feses Kontak, makanan , air N meningitis 2-10 hr Kontak dgn sekret saluran napas Trasmisi mel droplet Libur spm 24jam stlh terapi paska ekspos. Rifampin2x60 0mg, 2hr; ciprofloxacin1 x500mg atau ceftriaxon250 mg IM -perlu profilaksis dgn Rif2x600 mg selama 2 hari ,dan dosis tunggal cipro1x1,atau ceftriaxone 250 mg IM Parotitis, Mumps 16-18hr (12-25hr) Community acquired, virus berada dlm saliva 6-7hr sbl parotitis sp 9hr stl onset Px immunokom promls Kontak dengan droplet atau langsung dgn sekret sal napas, yi saliva, hidung dan mulut Trasmisi droplet Vaksinasi efektif, MMR Restriksi sp 9hr stlh onset parotitis. Petugas renyan : 12hr paska ekspos pertama sp 25 hr stlh ekspos terakhir Parvovirus /B19 6-10hr Menular sblm bercak merah sp 7hr stlh onset Kontak dgn droplet besar, muntahan Transmis i drolpet Tidak perlu restriksi Pertusis 7-10 hr F catarrhal sangat menular Kontak dgn sekresi sal napas, droplet besar kontak dekat
Transmis i droplet sp 5 hr menerim a antibioti k Vaksin direkomen umur 11-64 th petugas dgn pertusis: restriksi fase catarrhal sp mg 3 stl onst / 5 hr stlh tx antibiotik kontak saja tidak perlu retriksi Pollomyeli tis Nonparal itik: 3-6hr; paralitik 7-12hr Sal napas 1mgg stlh gejala muncul, dlm feses bbrp mgg-bulan stlh gejala muncul
Kontak cairan sal napas, benda terkontaminasi fese Transmis i kontak Imunisasi direkomendasi kan Rubella 12-23hr, bintik merah timbul 14-16hr stlh ekspos Sangat menular saat bintik merah keluar, virus lepas 1mgg sblm smp 5-7hr stl onset, congenital rubella bisa melepas virus berbulan-bertahun2 Kontak dgn droplet nasofaring px Transmis i droplet dan kontak dgn cairan sal napas 5hr stlh bintik keluar : petugas rentan 7hr stl ekspos pertama sp 21hr stl ekspos terakhir RSV (infeksi virus respiratori k) 2-8hr (terserin g 4-6hr) Orang sakit dapat mengeluarka n virus selama 3-8hr. Tp pd bisa anak 3-4mgg Tangan terkontaminasi saat merawat pasien atau menyentuh benda mati, transmisi RSV bila menyentuh mata atau hidung Transmis i kontak erat dhn droplrt atau aerosol partikel kecil Batasi kontak dgn pasien rawat dan lingkungan bila ada KLB RSV Restriksi sampai gejala akut hilang MRSA Kontak dengan petugas, mungkn karier nares anterior, tangan, axilla, perineum, nasofaring, orofaring Strandar transmisi kontak, dapat airbone Retriksi perawatan pasien dan pengolahan makanan bila petugas dengan lesi kulit basah tidak perlu retriksi bila kolonisasi Streptococ A Kontak sisi terinfeksi & mensekresi Kulit, faring rektum, vagina Standar berdasar transmisi Retriksi perawatan pasien & pengolahan makanan sp 24 jam stl mendapat antibiotik Tidak perlu retriksi petugas dg kolonisasi Salmonell a, Shingella
Orang- orang lewat fekal oral air/ makanan
terkontaminasi
Sypilis Kontak langsung
dg lesi primer atau sekunder sypilis Kontak Tuberkolo sis Sp 1 bl minum OAT Inhalasi droplet nuklei Airbone, kontak (mengelu arkan c tubuh infeksius ) Sampai terbukti non infeksius -petugas yg terexpose perlu tes mantoux bila indurasinya> 10 mm perlu profilaksis INH sesuai rekomendasi lokal
Varicella Sp lesi kering & berkusta Airbone, kontak, standar 8 hari pasca kontak sp 21 hari paska kontak, beri imuno globulin IV paska kontak, imunisasi petugas paska pajanan dalam 4 hari Vaksinasi varicella Vibrio kolera Kontak feces Zoster *lokal Tutupi lesi, jangan kontak dg pasien rawat Retriksi sampai lesi mengering dan mengelupas * menyeluru h atau orang immuno komproma is Jangan kontak dg pasien Retriksi sampai semua lesi kering dan mengelupas * paska pajanan (person yang rentan) Jangan kontak dg pasien rawat Dari hr ke 10 paska pajanan pertama sp hari ke 21 atau hr 28 bila di beri lagi atau sampailesi kering dan