Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 16 PERKEMBANGAN EMBRIO DAN PENYERAPAN KUNING TELUR
LARVA IKAN KERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis, PADA SALINITAS 27, 30 DAN 33 ppt
EMBRYO DEVELOPMENT AND YOLK SAC ABSORPTION ON SALINITY 27, 30 AND 33 ppt OF HUMPBACK GROUPER,
Cromileptes altivelis, LARVAE
Oleh :
Usman Bulanin* Che Roos Saad ** Ridwan Affandi *** Fera Permata Putri****
*Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta, ** Fakulti Pertanian UPM-Serdang *** Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB-Bogor,
**** Alumni Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana toleransi telur ikan kerapu bebek pada penurunan salinitas terhadap perkembangan embrio, larva dan penyerapan kuning telur. Dari pengamatan perkembangan embrio pada salinitas yang berbeda maka diketahui bahwa perkembangan embrio dan waktu penetasan pada salinitas 33, 30 dan 27 ppt dengan waktu penetasan masing-masing 20 jam 10 menit, 25 jam 35 menit dan 25 jam 50 menit.
Dari hasil analisa varian penyerapan kuning telur dan butiran minyak terdapat perbedaan yang sangat nyata antara salinitas 27 terhadap salinitas 30 dan 33 ppt ( P< 0,01) sedangkan salinitas 30 tidak berbeda nyata dengan salinitas. Lama waktu penyerapan kuning telur pada salinitas 27 ppt, 30 ppt dan 33 ppt masing-masing adalah 66 jam, 63,66 jam dan 62.33 jam setelah menetas.
Abstract
The objectives of the experiment is to know the influence of salinity towards embryo, larvae and yolk sac absorption. The result found that hatching time of larvae are long 20 h 10 minutes on salinity 33 ppt, 25 h 35 minutes on salinity 30 ppt and 25 h 50 minutes on salinity 27 ppt, respectivelly.
The result of variance analysis the yolk sac is significant (p<0,01) on salinity 27 ppt with 30 and 33 ppt, while on salinity 30 ppt no significant with of salinity 33 ppt . The long time of yolk sac absorption is 66 h, 63.66 h and 62.33 h after hatching on salinity 27 ppt, 30 ppt and 33 ppt respectivelly.
Key Word: Kerapu bebek, embrio, kuning telur dan salinitas.
PENDAHULUAN
Kerapu Bebek ( Cromileptes altivelis ) merupakan salah satu jenis ikan karang yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Namun usaha budidaya ikan kerapu
pada saat ini masih menghadapi kendala dalam hal pembenihan, ini disebabkan karena laju mortalitas yang cukup tinggi pada tingkat pertumbuhan larva. Salah
satu faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan mortalitas larva adalah faktor kualitas air, antara lain salinitas.
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23
Russel et al., dalam Mayunar (1991) menyatakan bahwa bagian integral dalam operasi pembenihan adalah pemantauan mutu air seperti amoniak, nitrit, pH, salinitas, oksigen terlarut dan temperatur.
Forrester dan Alderdice, Holliday, dalam Hardiyati (1992) Salinitas yang tinggi akan memerlukan waktu yang lebih singkat untuk proses penetasan begitu juga sebaliknya. Heuts and Holliday dalam Hardiyati, (1992) mengemukakan bahwa laju perkembangan telur pada salinitas berbeda tergantung pada beberapa hal diantaranya jenis ikan itu sendiri (pengaruh faktor genotipnya).
BAHAN DAN METODE
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap ( RAL ), dengan tiga perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali. Perlakuan pada penelitian ini adalah salinitas 27 ppt, 30 ppt dan 33 ppt terhadap lama perkembangan embrio penyerapan kuning telur dan butiran minyak.
Telur diperoleh dari hasil pemijahan pada bak beton yang berbentuk bulat dengan volume 80 ton. Telur hasil pemijahan ditampung di dalam happa kemudian telur-telur tersebut dipindahkan ke dalam akuarium sesuai dengan perlakuan. Jumlah telur untuk masing-masing akuraium berkisar antara 750 sampai 1000 butir.
Untuk mengamati perkembangan embrio diambil lima butir telur contoh dari masing aquarium kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan perkembangan embrio dilakukan secara terus menerus mulai dari telur dibuahi sampai menetas. Kemudian selama pengamatan dilakukan pemotretan (photo) setiap terjadi perubahan perkembangan embrio.
Setelah telur menetas menjadi larva, dilakukan pengukuran panjang total , diameter kuning telur dan butiran minyak.
Pengamatan panjang total, diameter kuning telur dan butiran minyak ini dilakukan setiap tiga jam sekali sampai kuning telur terserap habis. Volume
kuning telur dihitung dengan
menggunakan rumus : V. KT = π/6 × L × H 2
π = 3,14
L = panjang diameter kuning telur H = lebar diameter kuning telur. Sedangkan volume butiran minyak dengan menggunakan rumus : V. BM = 4/3 × π× r 3 , r = jari – jari butiran minyak (Kohno Shiro and Yosuhiko, 1986).
HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Embrio
Dari hasil pengamatan, perbedaan
salinitas berpengaruh terhadap
perkembangan embrio dan waktu
penetasan telur ikan kerapu bebek. Pada salinitas 27 ppt perkembangan embrio lebih lambat bila dibandingkan dengan salinitas 30 dan 33 ppt, Pada salinitas 27 ppt masa penetasan 26 jam 50 menit, sedangkan salinitas 30 ppt adalah 26 jam 35 menit dan 20 jam 10 menit pada salinitas 33 ppt (Tabel 1).
Terjadinya perbedaan waktu
perkembangan embrio disebabkan karena adanya pengaruh interaksi antara suhu dan salinitas. Sedangkan Forrester dan Alderdice dalam Hardiyati (1992) menyatakan bahwa perkembangan embrio dan waktu penetasan memerlukan sedikit waktu pada salinitas tinggi dan begitu juga sebaliknya.
Holiday (1969) melaporkan, tingginya mortalitas yang terjadi pada penetasan beberapa spesies ikan antara lain disebabkan karena lamanya periode penetasan dalam salinitas yang lebih rendah. Oleh karena itu, embrio yang tahan terhadap lingkungan luar saja yang
dapat menetas. Kemudian,
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23
berbeda juga tergantung pada beberapa hal, diantaranya jenis ikan itu sendiri
(Holliday and Blaxter, 1960 and Hollidays 1969).
Tabel 1. Perkembangan Telur Ikan Kerapu Bebek, Cromileptes altivelis, Pada Salinitas 27, 30 Dan 33 Ppt.
Perkembangan Telur Salinitas
27 ppt 30 ppt 33 ppt
Pembuahan 00.00 jam 00.00 jam 00.00 jam
2 sel 00.18 menit 00.20 menit 00.40 menit
4 sel 00.37 menit 00.39 menit 01.15 menit
8 Sel 00.51 menit 00.53 menit 01. 30 menit
16 Sel 01 jam 05 menit 01 jam 07 menit 01.50 menit
32 Sel 01jam 24 menit 01 jam 28 menit 02 jam 05 menit
64 Sel 01 jam 46 menit 01 jam 50 menit 02 jam 55 menit
Blastula 03 jam 25 menit 03 jam 30 menit 04 jam 05 menit
Gastrula 07 jam 57 menit 08 jam 00 menit 06 jam 20 menit
Neurulla 11 jam 38 menit 11 jam 37 menit 08 jam 45 menit
Embrio sempurna 19 jam 85 menit 19 jam 77 menit 18 jam 10 menit
Menetas 25 jam 50 menit 25 jam 35 menit 20 jam 10 menit
Perkembangan Larva
Pertumbuhan panjang larva yang baru masing-masing salinitas air media pemeliharaan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar. 1 dan Lampiran 1
Gambar 1 : Rata-rata panjang total larva (mm) selama pengamatan
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 42 45 48 51 54 57 58 60 61 62 63 Umur larva (jam)
R a ta -r a ta p a n ja n g t o ta l la rv a ( m m ) 27 ppt 30 ppt 33 ppt
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23
Pada salinitas 30 ppt terdapat pertumbuhan panjang total yang lebih besar. Hal ini diduga pada salinitas yang mendekati titik osmotik larva, maka energi yang dipergunakan untuk proses osmoregulasi lebih minimal sehingga sebagian besar energi tersebut dapat dipergunakan untuk perkembangan tubuh larva. Holiday (1965) menyatakan bahwa perbedaan salinitas berpengaruh terhadap perkembangan larva melalui proses osmoregulasi dan nilai konsentrasi osmotik media yang tidak jauh berbeda dengan konsentrasi osmotik cairan tubuh akan menghasilkan pertumbuhan tubuh yang cepat.
Huang, Chiu and Chang, (2000) bahwa pada beberapa spesies ikan pertumbuhan larva cendrung semakin meningkat
dengan semakin rendahnya salinitas air media. Pada salinitas yang rendah menimbulkan rendahnya aktivitas, sehingga pengeluaran energi lebih kecil serta kemampuan untuk hidup dan mencapai pertumbuhan dapat meningkat cepat (Holliday 1965, dan Fanta-Feofileff et al., 1986).
Penyerapan kuning telur untuk salinitas 27, 30 dan 33 ppt selama penelitian menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata antara salinitas 27 dengan salinitas 30 dan 33 ppt (p<0.01), sedangkan antara salinitas 30 dan 33 ppt tidak terdapat perbedaan (Tabel 2,
Lampiran 2 dan Lampiran 3).
Tabel 2. Rata-rata lama waktu penyerapan kuning telur pada salinitas 27, 30 dan 33 ppt Ulangan Perlakuan 27 ppt 30 ppt 33 ppt 1 66 63 63 2 66 64 63 3 66 64 61 Rata-rata 66 63.66 62.33
Gambar. 2. Rata-rata diameter kuning telur larva (mikron) selama pengamatan 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 42 45 48 51 54 57 58 60 61 62 63
Umur larva (jam)
R a ta -r a ta d ia m e te r k u n in g t e lu r (m ik ro n ) 27 30 33
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23
Laju penyerapan kuning telur dan butiran minyak (Lampiran 2 dan 3) dipengaruhi oleh perbedaan salinitas. Hal yang sama juga terjadi pada larva ikan milkfish (Swanson, 1996). Pada salinitas rendah laju penyerapan kuning telur lebih lama dari pada salinitas tinggi. Kemudian dengan bertambahnya umur larva berarti akan terjadi peningkatan penggunaan energi yang lebih besar, sebab larva akan mengalami tingkat perkembangan yang lebih baik menuju kasempurnaan organ tubuhnya terutama masa perkembangan saluran pencernaan. Sesuai dengan Holliday (1965) menyatakan bahwa tingkat aktivitas seringkali lebih kecil dalam salinitas yang lebih rendah dan pengeluaran energi yang lebih kecil. Perubahan yang cukup besar terhadap penyerapan kuning telur terjadi pada hari ketiga yaitu pada saat larva mendekati kesempurnaan saluran pencernaan
hingga terbukanya anus. Jika kisaran salinitas terlalu jauh dari titik osmotik larva maka larva tidak dapat berkembang bahkan akan mengalami kematian sebelum berkembang. Hal ini disebabkan karena larva tersebut tidak dapat melakukan proses osmoregulasi dengan baik karena tekanan osmotik tubuh dan tekanan osmotik lingkungan yang jauh berbeda sehingga larva sangat Hypertonis terhadap lingkungan akibatnya larva akan mengembung dan mati.
KESIMPULAN
1. Telur larva ikan kerapu bebek masih dapat berkembang dengan baik salinitas 27 ppt.
2. Salinitas mempengaruhi waktu penetasan telur.
3. Salinitas mempengaruhi terhadap
penyerapan kuning telur.
DAFTAR PUSTAKA
Fanta-Feofiloff, E., De Brito Eiras D. R., Boscardim A. T. and M. Lacenda-Krambeck. (1986). Effect of salinity on the behavior and oxygent consumption of Mugil curema. Physiol. Behav., 36: 11029 – 1034. Hardiyati, C. (1992). Pengaruh salinitas
terhadap penetasan telur sarta kelangsungan hidup larva kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus ) sampai umur 7 hari. Skripsi Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang. 40 hal.
Holliday, F. G. T. (1965).
Osmoregulation in marine teleost eggs and larvae California Cooperative Oceanic Fisheries Investigative Report 10, 89-95. Holliday, F. G. T. (1969). The effect of
salinity on the eggs and larvae of teleosts. pp. 291-311. In: W. S.
Hoar and D. J. Randall (eds.) Fish Physiology, vol. 1. Academic Press, New York. 465 pp.
Holliday, F. G. T. and Blaxter, J. H. S. (1960). The effects of salinity on the developing eggs and larvae of the herring. Journal of the Marine Biological Assosiation of the United Kingdom 39, 591-603.
Huang, B. W., Chiu, T. S. and T. S. Chang. (2000). Effects of salinity on egg and early larval characteristics of the black porgy, Acanthopagrus schlegeli. The Israel Journal of Aquaculture-Bamidgeh 52 (2) 61 – 69.
Kohno H., Shiro H., and Yosuhiko, T. (1986). Early larva development of Seabass Lates calcarifer with empasis on the transition of energy sources. Bulletin of Japanese
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23
Society of Scientific Fisheries. P 1791
Mayunar. (1991). Daya penetasan telur
kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus) pada berbegai salinitas dari hasil pemijahan alami dan penyuntikan. Buletin Penelitian Perikanan, Majalah Perikanan
Indonesia, Special Edisi No. 2. Hal 1-2
Swanson C. (1996). Early development of milkfish: effects of salinity on embryonic and larval metabolism, yolk absorption and growth. Journal of Fish Biology 48: 405 – 421.
Lampiran 1. Rata-rata panjang larva ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis, pada salinitas 27, 30 dan 33 ppt selama pengamatan
No. Jam SALINITAS
27 ppt 30 ppt 33 ppt 1 0 1,70 1,89 1,89 2 3 1,85 1,96 1,96 3 6 1,93 2,04 1,98 4 9 2,00 2,12 2,04 5 12 2,03 2,17 2,17 6 15 2,08 2,22 2,20 7 18 2,15 2,25 2,21 8 21 2,17 2,30 2,25 9 24 2,18 2,35 2,28 10 27 2,19 2,38 2,29 11 30 2,22 2,39 2,30 12 33 2,24 2,42 2,32 13 36 2,26 2,44 2,33 14 39 2,27 2,46 2,35 15 42 2,28 2,47 2,36 16 45 2,29 2,49 2,38 17 48 2,33 2,51 2,39 18 51 2,36 2,53 2,42 19 54 2,36 2,54 2,45 20 57 2,38 2,55 2,47 21 58 2,39 2,57 2,50 22 60 2,40 2,58 2,51 23 61 2,43 2,59 2,54 24 62 2,51 2,61 2,59 25 63 2,55 2,64 2,61
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23 Lampiran 2. Rata-rata diameter kuning telur larva ikan kerapu bebek, Cromileptes
altivelis pada salinitas 27, 30 dan 33 ppt selama pengamatan
No. Jam SALINITAS
27 ppt 30 ppt 33 ppt 1 0 690,42 766,83 732,21 2 3 667,39 716,06 714,11 3 6 654,08 664,41 655,15 4 9 627,20 616,19 587,53 5 12 590,25 535,36 561,52 6 15 531,95 487,39 520,43 7 18 500,27 466,29 474,01 8 21 462,93 437,92 423,36 9 24 449,12 409,92 382,79 10 27 398,97 377,44 356,16 11 30 356,28 340,29 330,78 12 33 295,68 312,67 312,49 13 36 273,41 285,20 288,46 14 39 255,34 259,72 261,21 15 42 232,09 234,83 242,50 16 45 218,90 173,41 204,71 17 48 188,10 156,99 154,68 18 51 169,31 147,44 129,05 19 54 141,49 140,19 114,49 20 57 100,43 136,64 110,94 21 58 96,32 134,40 94,03 22 60 82,55 132,16 83,92 23 61 68,87 127,06 80,85 24 62 60,71 112,37 77,53 25 63 52,72 93,61
Mangrove dan Pesisir Vol. III No. 3/2003 23 Lampiran 3. Rata-rata diameter butiran minyak larva ikan kerapu bebek, Cromileptes
altivelis pada salinitas 27, 30 dan 33 ppt selama pengamatan
No. Jam SALINITAS
27 ppt 30 ppt 33 ppt 1 0 0,00312 0,003350 0,00354 2 3 0,00304 0,000910 0,00305 3 6 0,00293 0,000860 0,00274 4 9 0,00233 0,000890 0,00260 5 12 0,00222 0,000510 0,00232 6 15 0,00206 0,000520 0,00206 7 18 0,00206 0,000460 0,00159 8 21 0,00186 0,000300 0,00140 9 24 0,00169 0,000260 0,00129 10 27 0,00163 0,000180 0,00120 11 30 0,00161 0,000190 0,00082 12 33 0,00158 0,001440 0,00076 13 36 0,00142 0,000740 0,00037 14 39 0,00125 0,000570 0,00025 15 42 0,00105 0,000370 0,00018 16 45 0,00060 0,000300 0,00012 17 48 0,00025 0,000350 0,00008 18 51 0,00010 0,000230 0,00006 19 54 0,00009 0,000150 0,00006 20 57 0,00005 0,000064 0,00004 21 58 0,00005 0,000053 0,00002 22 60 0,00005 0,000042 0,00002 23 61 0,00003 0,000040 0,00001 24 62 0,00002 0,000054 0,0000063 25 63 0,00001 0,000061 0,0000025