PT MANDALA MULTIFINANCE Tbk
LAPORAN KEUANGAN
DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
31 DESEMBER 2006 DAN 2005
Daftar Isi
Halaman
Laporan Auditor Independen
Neraca ... 1 - 2 Laporan Laba Rugi ... 3 Laporan Perubahan Ekuitas... 4 Laporan Arus Kas ... 5 - 6 Catatan Atas Laporan Keuangan ... 7 - 37
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
Laporan No : DZS/Audit/MM/050307 Pemegang Saham, Komisaris dan Direksi PT Mandala Multifinance Tbk
Kami telah mengaudit neraca PT Mandala Multifinance Tbk tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen Perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT Mandala Multifinance Tbk tanggal 31 Desember 2006 dan 2005, hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Kantor Akuntan Publik
DEDY ZEINIRWAN SANTOSA
NIU KAP KEP-176/KM.6/2004
Drs. Yahya Santosa, Ak NIAP 98.1.0252 5 Maret 2007
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan
Catatan 2006 2005
AKTIVA
KAS DAN BANK 2b, 3 31.364.519.765 22.055.919.785
PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN 2c, 2d,
4, 10, 25a
Pihak ketiga
Piutang pembiayaan konsumen 1.112.373.567.851 681.872.886.012
Pendapatan pembiayaan konsumen yang
belum diakui (273.191.602.153 ) (165.742.673.082)
Penyisihan piutang pembiayaan konsumen
yang diragukan (13.449.455.102 ) (7.113.598.986)
Bersih 825.732.510.596 509.016.613.944
PIUTANG LAIN-LAIN 5 2.156.164.812 1.236.835.408
PIUTANG HUBUNGAN ISTIMEWA 2e, 26 1.036.073.100 803.840.000
BIAYA DIBAYAR DI MUKA DAN UANG MUKA 2f, 6 10.544.743.755 11.550.821.367
AKTIVA DIAMBIL ALIH - setelah dikurangi
dengan penyisihan penurunan nilai aktiva sejumlah Rp 897.152.507 pada tahun 2006
dan Rp 878.683.315 pada tahun 2005 2h, 2j, 7 2.488.328.537 4.059.971.095
AKTIVA TETAP - setelah dikurangi akumulasi
penyusutan sejumlah Rp 19.072.871.364 pada tahun 2006 dan Rp 12.729.777.679
pada tahun 2005 2g, 2h, 2i,
8,10, 12 34.524.016.062 31.048.574.086
AKTIVA LAIN-LAIN 9, 10 3.258.000.000 2.500.000.000
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan
Catatan 2006 2005
KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN
PINJAMAN BANK 4, 8, 9, 10,
25a 611.002.749.818 330.518.820.409
HUTANG USAHA
Pihak ketiga 11 26.443.240.127 21.509.942.949
Pihak hubungan istimewa 2e, 11, 26 1.000.365.000 717.340.000
HUTANG SEWA GUNA USAHA 2i, 12 2.261.959.630 2.352.461.593
HUTANG LAIN-LAIN 2.221.491.335 1.660.174.827
BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR 13 6.988.630.266 5.504.222.320
HUTANG PAJAK 2n, 14 5.649.921.581 8.885.382.810
KEWAJIBAN PAJAK TANGGUHAN - BERSIH 2n, 14 6.042.199.016 2.684.789.455
HUTANG DIVIDEN 17 - 4.770.000.000
ESTIMASI KEWAJIBAN ATAS IMBALAN
KERJA KARYAWAN 2l, 24 4.495.498.639 3.228.689.105
JUMLAH KEWAJIBAN 666.106.055.412 381.831.823.468
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 100 per saham Modal dasar - 4.000.000.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh -
1.325.000.000 saham 15 132.500.000.000 132.500.000.000
Tambahan modal disetor - bersih 2o,16 27.277.374.756 27.277.374.756
Saldo laba
Telah ditentukan penggunaannya
untuk dana cadangan umum 17 100.000.000 -
Belum ditentukan penggunaannya 85.120.926.459 40.663.377.461
JUMLAH EKUITAS 244.998.301.215 200.440.752.217
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Catatan 2006 2005
PENDAPATAN
Pembiayaan konsumen - bersih 2c, 2k, 18,
25a 254.798.574.495 188.487.821.565 Bunga 2k, 19 546.541.978 399.688.307 Lain-lain 2k, 20 356.001.760 379.333.253 Jumlah Pendapatan 255.701.118.233 189.266.843.125 BEBAN Beban pinjaman 2k, 21 (76.987.102.645 ) (47.262.510.164)
Gaji dan kesejahteraan karyawan 2k (48.172.033.638 ) (43.455.947.798)
Umum dan administrasi 2k, 22 (27.910.213.699 ) (21.190.172.131)
Penyusutan 2g, 2h, 2i, 8 (6.627.088.502 ) (5.133.062.140)
Estimasi beban imbalan kerja karyawan 2l, 24 (1.266.809.534 ) (884.806.703)
Lain-lain 2k, 4, 23 (23.327.716.155 ) (10.234.833.431)
Jumlah Beban (184.290.964.173 ) (128.161.332.367)
LABA SEBELUM BEBAN
PAJAK PENGHASILAN 71.410.154.060 61.105.510.758
BEBAN PAJAK PENGHASILAN 2n, 14
Tahun berjalan (17.502.864.500 ) (14.344.230.800)
Tangguhan (3.357.409.562 ) (3.711.956.728)
Jumlah Beban Pajak Penghasilan (20.860.274.062 ) (18.056.187.528)
LABA BERSIH 50.549.879.998 43.049.323.230
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Saldo Laba Telah Ditentukan Tambahan Penggunaannya
Modal Modal Disetor - Belum Ditentukan Untuk Dana Jumlah Catatan Saham Bersih Penggunaannya Cadangan Umum Jumlah Ekuitas
Saldo 1 Januari 2005 75.000.000.000 - 27.384.054.231 - 27.384.054.231 102.384.054.231
Kapitalisasi saldo laba 15 25.000.000.000 - (25.000.000.000 ) - (25.000.000.000 ) - Hasil penawaran umum
saham 15, 16 32.500.000.000 30.875.000.000 - - - 63.375.000.000 Biaya emisi efek ekuitas 2o, 16 - (3.597.625.244 ) - - - (3.597.625.244 ) Dividen tunai interim 17 - - (4.770.000.000 ) - (4.770.000.000 ) (4.770.000.000 )
Laba bersih tahun 2005 - - 43.049.323.230 - 43.049.323.230 43.049.323.230
Saldo 31 Desember 2005 132.500.000.000 27.277.374.756 40.663.377.461 - 40.663.377.461 200.440.752.217
Dividen tunai 17 - - (5.992.331.000 ) - (5.992.331.000 ) (5.992.331.000 ) Dana cadangan umum 17 - - (100.000.000 ) 100.000.000 - -
Laba bersih tahun 2006 - - 50.549.879.998 - 50.549.879.998 50.549.879.998
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Catatan 2006 2005
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari:
Konsumen 1.370.697.520.856 870.754.612.531
Bank-bank sehubungan dengan transaksi kerjasama penerusan pinjaman dan
pembiayaan bersama 471.846.843.607 989.978.136.345
Lain-lain 899.212.934 617.429.886
Jumlah penerimaan kas 1.843.443.577.397 1.861.350.178.762
Pembayaran kas untuk/kepada:
Dealer (1.014.951.079.794 ) (1.081.987.896.050)
Bank-bank sehubungan dengan transaksi kerjasama penerusan pinjaman dan
pembiayaan bersama (839.816.438.330 ) (689.424.933.385)
Beban umum dan administrasi dan lain-lain (27.152.157.518 ) (17.165.663.406)
Beban gaji dan kesejahteraan karyawan (47.858.487.876 ) (43.455.947.798)
Beban pinjaman (70.380.418.918 ) (44.430.435.890)
Pajak penghasilan (20.248.114.906 ) (13.418.930.900)
Jumlah pengeluaran kas (2.020.406.697.342 ) (1.889.883.807.429)
Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Operasi (176.963.119.945 ) (28.533.628.667)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Penambahan aktiva tetap (7.698.426.942 ) (13.725.049.760)
Penjualan aktiva tetap 106.343.767 426.854.216
Penambahan uang muka pembelian aktiva tetap - (307.985.000)
Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Investasi (7.592.083.175 ) (13.606.180.544)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Penambahan pinjaman bank 258.825.391.030 16.764.629.388
Pembayaran pinjaman bank (51.668.104.467 ) (14.145.882.285)
Pembayaran dividen tunai 17 (10.762.331.000 ) -
Pembayaran hutang sewa guna usaha (2.531.152.463 ) (5.640.180.934)
Penerimaan dari penawaran umum saham-bersih - 59.777.374.756
Penerimaan hutang hubungan istimewa - 41.374.000.000
Pembayaran hutang hubungan istimewa - (55.440.000.000)
Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan 193.863.803.100 42.689.940.925
KENAIKAN BERSIH KAS DAN BANK 9.308.599.980 550.131.714
KAS DAN BANK AWAL TAHUN 22.055.919.785 21.505.788.071
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan
(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)
Catatan 2006 2005
AKTIVITAS YANG TIDAK MEMPENGARUHI ARUS KAS
Perolehan aktiva tetap melalui hutang
sewa guna usaha 8 2.656.800.000 5.419.300.000
1. U M U M
a. Pendirian dan Kegiatan Usaha Perusahaan
PT Mandala Multifinance (Perusahaan), didirikan dengan nama PT Vidya Cipta Leasing Corporation berdasarkan akta Notaris Joenoes Enoeng Maogiman, S.H., No. 147 tanggal 13 Agustus 1983. Akta pendirian tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-6783.HT.01.01.TH.83 tanggal 15 Oktober 1983 dan telah didaftarkan dalam buku register pada Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah No. 4074/1983 tertanggal 21 Oktober 1983 serta telah diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 63 tanggal 8 Agustus 1989, Tambahan Berita Negara No. 1526. Pada tahun 1990, nama Perusahaan diubah menjadi PT Lautan Berlian Leasing, yang kemudian diubah lagi menjadi PT Gracia Dinamika Multifinance pada tahun 1996. Selanjutnya, sesuai dengan akta Notaris H. Asmawel Amin, S.H., No. 155 tanggal 31 Januari 1997, Perusahaan melakukan perubahan nama menjadi PT Mandala Multifinance, yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2 - 1845.HT.01.04.TH.97 tanggal 17 Maret 1997. Pada tahun 2005, Anggaran Dasar Perusahaan mengalami perubahan dengan akta No. 34 tanggal 28 April 2005 yang dibuat di hadapan Notaris Leolin Jayayanti, S.H. sehubungan dengan rencana penawaran umum saham Perusahaan kepada masyarakat, peningkatan modal dasar dan modal ditempatkan, perubahan nilai nominal saham menjadi Rp 100 per saham serta perubahan nama Perusahaan menjadi PT Mandala Multifinance Tbk. Akta perubahan tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-13165.HT.01.04.TH.2005 tanggal 16 Mei 2005 (lihat Catatan 15).
Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta Notaris Leolin Jayayanti, S.H., No. 28 tanggal 19 Mei 2006 sehubungan dengan penambahan bidang usaha Perusahaan dengan pembiayaan konsumen berdasarkan prinsip syariah. Akta perubahan tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-20161.HT.01.04.TH.2006 tanggal 10 Juli 2006.
Perusahaan memperoleh izin usaha sebagai perusahaan pembiayaan dari Menteri Keuangan dalam Surat Keputusan No. 323/KMK.017/1997 tanggal 21 Juli 1997, yang merupakan perubahan
Keputusan Menteri Keuangan No. KEP-002/KM.11/1984 tanggal 6 Januari 1984 tentang
Pemberian Izin Usaha Leasing kepada PT Mandala Multifinance (dahulu PT Vidya Cipta Leasing Corporation) yang telah diperpanjang terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan
No. KEP-133/KM.13/1988 tanggal 18 Juli 1988. Dengan diperolehnya izin tersebut maka
Perusahaan, sebagai perusahaan pembiayaan, dapat melakukan kegiatan dalam bidang sewa guna usaha, anjak piutang, usaha kartu kredit dan pembiayaan konsumen. Pada saat ini, Perusahaan bergerak dalam bidang pembiayaan konsumen.
Perusahaan berdomisili di Jalan Cideng Barat No. 47A, Jakarta dan memiliki 91 jaringan kantor pelayanan yang beroperasi di 22 propinsi di Indonesia.
Perusahaan memulai operasi komersialnya pada tahun 1984.
b. Penawaran Umum Efek Perusahaan
Pada tanggal 23 Agustus 2005, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua BAPEPAM dengan suratnya No. S-2303/PM/2005 untuk melakukan penawaran umum atas 325.000.000 saham Perusahaan kepada masyarakat dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan harga penawaran Rp 195 per saham. Perusahaan telah mencatatkan seluruh sahamnya pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 6 September 2005.
1. U M U M (lanjutan)
c. Komisaris, Direksi dan Karyawan
Susunan Komisaris dan Direksi Perusahaan tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 adalah sebagai berikut:
Komisaris
Komisaris Utama : Alex Hendrawan
Komisaris Independen : Deddy Heruwanto
Direksi
Direktur Utama : Harryjanto Lasmana
Direktur : Elise
Jumlah remunerasi yang diberikan kepada direksi dan komisaris Perusahaan adalah Rp 1,8 milyar dan Rp 1,4 milyar, masing-masing untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2006 dan 2005. Pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005, jumlah karyawan Perusahaan masing-masing sejumlah 541 orang dan 507 orang.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan
Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) dan peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (“BAPEPAM”).
Kebijakan akuntansi penting dalam penyusunan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 telah diterapkan secara konsisten.
Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep biaya perolehan (historical cost), kecuali untuk akun tertentu dinyatakan berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut. Laporan keuangan ini disajikan dengan menggunakan dasar akrual (accrual basis), kecuali untuk laporan arus kas.
Laporan arus kas menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas yang diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dengan menggunakan metode langsung, sesuai dengan peraturan BAPEPAM.
Mata uang fungsional dan pelaporan yang digunakan oleh Perusahaan adalah Rupiah.
b. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas terdiri dari kas, bank serta deposito berjangka dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan dan tidak digunakan sebagai jaminan atas hutang serta tidak dibatasi penggunaannya.
c. Akuntansi Pembiayaan Konsumen
Piutang pembiayaan konsumen merupakan jumlah piutang setelah dikurangi dengan bagian yang dibiayai bank-bank sehubungan dengan transaksi kerjasama penerusan pinjaman serta kerjasama pembiayaan bersama, pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui, dan penyisihan piutang ragu-ragu.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) c. Akuntansi Pembiayaan Konsumen (lanjutan)
Pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui, yang merupakan selisih antara jumlah keseluruhan pembayaran angsuran yang akan diterima dari konsumen dengan jumlah pokok pembiayaan konsumen, akan diakui sebagai pendapatan sesuai dengan jangka waktu perjanjian pembiayaan konsumen berdasarkan tingkat pengembalian berkala yang tetap dari piutang pembiayaan konsumen. Pendapatan pembiayaan konsumen disajikan setelah dikurangi dengan bagian yang merupakan hak bank-bank sehubungan dengan transaksi-transaksi tersebut di atas. Selisih bersih antara pendapatan yang diperoleh dari konsumen pada saat pertama kali perjanjian pembiayaan konsumen ditandatangani dan beban-beban yang timbul pertama kali yang terkait langsung dengan pembiayaan konsumen, termasuk beban administrasi terkait, ditangguhkan dan diakui sebagai penyesuaian atas imbal hasil pembiayaan konsumen selama jangka waktu pembiayaan konsumen dan disajikan sebagai bagian dari “Pendapatan Pembiayaan Konsumen - Bersih” pada laporan laba rugi tahun berjalan.
d. Penyisihan Piutang Ragu-ragu
Perusahaan menetapkan penyisihan piutang ragu-ragu berdasarkan jumlah tertentu dari jumlah pembiayaan dengan mempertimbangkan hasil penelaahan terhadap keadaan piutang konsumen pada akhir tahun. Piutang yang tak tertagih dihapuskan pada saat dinyatakan tidak tertagih oleh manajemen Perusahaan. Penerimaan dari piutang yang telah dihapusbukukan, jika ada, diakui sebagai pendapatan lain-lain pada saat terjadinya.
e. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa
Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana yang dimaksudkan dalam PSAK No. 7 mengenai “Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”. Yang dimaksud dengan hubungan istimewa adalah sebagai berikut:
(i) perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara (intermediaries), mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries, dan fellow subsidiaries);
(ii) perusahaan asosiasi (associated companies);
(iii) perorangan yang memiliki baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor);
(iv) karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; dan
(v) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara, dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh setiap orang yang diuraikan dalam (iii) atau (iv), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)
e. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa (lanjutan)
Semua transaksi yang signifikan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan persyaratan dan kondisi yang sama dengan pihak ketiga, telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
f. Biaya Dibayar Di muka dan Uang Muka
Biaya dibayar di muka, termasuk biaya asuransi dan sewa, dibebankan dengan menggunakan metode garis lurus sesuai masa manfaat masing-masing biaya yang bersangkutan yang berkisar antara 1 - 3 tahun. Pengeluaran untuk renovasi kantor dengan jangka waktu sewa yang relatif pendek, umumnya kurang dari 3 (tiga) tahun, disajikan sebagai bagian dari akun “Biaya Dibayar di Muka dan Uang Muka” dan diamortisasi sepanjang masa manfaat sewa.
Uang muka, termasuk untuk pembelian aktiva tetap, renovasi bangunan dan keperluan kantor dicatat sebesar jumlah uang yang diberikan pada saat terjadinya.
g. Aktiva Tetap - Pemilikan Langsung
Aktiva tetap, kecuali tanah, dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aktiva tetap sebagai berikut:
Tahun
Bangunan 20
Kendaraan 4 - 5
Peralatan kantor 4 - 5
Tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan, sesuai dengan PSAK No. 47 mengenai “Akuntansi Tanah“.
Biaya perbaikan dan pemeliharaan rutin dibebankan pada laporan laba rugi pada saat terjadinya; pemugaran dan penambahan dalam jumlah signifikan dan yang meningkatkan manfaat aktiva tetap sebagaimana dipersyaratkan dalam PSAK No. 16 mengenai “Aktiva Tetap”, dikapitalisasi ke akun aktiva tetap yang bersangkutan. Aktiva tetap yang sudah tidak dipergunakan lagi atau yang dijual, nilai tercatat dan akumulasi penyusutannya dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap yang bersangkutan dan laba atau rugi yang terjadi disajikan dalam laporan laba rugi pada tahun yang bersangkutan.
h. Penurunan Nilai Aktiva
Pada tanggal neraca, nilai aktiva ditelaah kembali atas kemungkinan penurunan nilai aktiva ke jumlah yang dapat diperoleh kembali yang disebabkan oleh peristiwa atau perubahan keadaan yang mengindentifikasikan nilai tercatatnya mungkin tidak dapat dipulihkan. Berdasarkan penelaahan atas jumlah aktiva yang dapat diperoleh kembali tersebut, manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak ada kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatatnya mungkin tidak dapat dipulihkan kembali pada tanggal neraca.
i. Sewa Guna Usaha
Sesuai dengan PSAK No. 30 mengenai “Akuntansi Sewa Guna Usaha“, transaksi sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease) apabila memenuhi seluruh kriteria yang disyaratkan. Jika salah satu kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka transaksi sewa guna usaha dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease).
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)
i. Sewa Guna Usaha (lanjutan)
Menurut metode capital lease, aktiva sewa guna usaha disajikan sebagai bagian dalam akun “Aktiva Tetap“ sedangkan kewajibannya disajikan dalam akun “Hutang Sewa Guna Usaha“. Aktiva sewa guna usaha dengan hak opsi dan hutang sewa guna usaha dinyatakan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa ditambah nilai sisa yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode yang sama dengan yang ditetapkan pada aktiva tetap - pemilikan langsung (lihat Catatan 2g). Laba atau rugi yang terjadi dari transaksi penjualan dan sewa kembali (“sale-and-leaseback”) ditangguhkan dan diamortisasi selama sisa masa sewa guna usaha dengan menggunakan metode garis lurus.
j. Aktiva Diambil Alih
Aktiva diambil alih dicatat sebesar nilai realisasi bersih. Selisih antara nilai realisasi bersih atas aktiva diambil alih dengan saldo piutang pembiayaan konsumen yang tidak tertagih dibukukan dalam laporan laba rugi. Pada saat aktiva diambil alih tersebut dijual, nilai tercatatnya dikeluarkan dari akun yang bersangkutan. Laba atau rugi yang timbul, termasuk biaya-biaya yang timbul setelah pengambilalihan aktiva tersebut, dicatat dalam laporan laba rugi tahun yang bersangkutan.
k. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Perusahaan mengakui pendapatan atas pembiayaan konsumen seperti yang dijelaskan pada Catatan 2c.
Pendapatan pembiayaan konsumen dinyatakan sebesar pendapatan bersih setelah dikurangi dengan bagian pendapatan milik bank-bank sehubungan dengan transaksi-transaksi kerjasama penerusan pinjaman dan kerjasama pembiayaan bersama. Pelunasan sebelum masa pembiayaan konsumen berakhir dianggap sebagai suatu pembatalan perjanjian pembiayaan konsumen dan laba atau rugi yang timbul diakui dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
Perusahaan berhak menentukan tingkat bunga yang lebih tinggi ke konsumen daripada tingkat bunga yang ditetapkan oleh bank-bank sehubungan dengan transaksi kerjasama penerusan pinjaman, serta kerjasama pembiayaan bersama. Selisihnya merupakan pendapatan dari transaksi-transaksi tersebut bagi Perusahaan dan disajikan sebagai “Pendapatan Pembiayaan Konsumen” pada laporan laba rugi tahun berjalan.
Beban, kecuali beban-beban yang timbul pertama kali yang terkait langsung dengan kredit pembiayaan konsumen seperti dijelaskan pada Catatan 2c, serta pendapatan lainnya diakui pada saat terjadinya (accrual basis).
l. Estimasi Kewajiban atas Imbalan Kerja Karyawan
Pada bulan Juni 2004, Ikatan Akuntan Indonesia merevisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24, “Imbalan Kerja”. Pernyataan ini mewajibkan Perusahaan mengakui seluruh imbalan kerja yang diberikan melalui program atau perjanjian formal dan informal, peraturan perundang-undangan atau peraturan industri, yang mencakup imbalan pasca-kerja, imbalan kerja jangka pendek dan jangka panjang lainnya, pesangon pemutusan hubungan kerja dan imbalan berbasis ekuitas. Berdasarkan PSAK No. 24 (Revisi 2004), perhitungan estimasi kewajiban untuk imbalan kerja karyawan berdasarkan Undang-undang ditentukan dengan menggunakan metode aktuarial “Projected Unit Credit“.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan)
l. Estimasi Kewajiban atas Imbalan Kerja Karyawan (lanjutan)
Keuntungan atau kerugian aktuarial diakui sebagai pendapatan atau beban apabila akumulasi keuntungan atau kerugian aktuarial bersih yang belum diakui pada akhir tahun pelaporan sebelumnya melebihi 10% dari nilai kini imbalan pasti pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian diakui atas dasar metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja karyawan yang diharapkan. Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup tahun dimulai pada atau setelah tanggal 1 Juli 2004 dan diterapkan secara retroaktif.
Perusahaan telah menerapkan PSAK No. 24 (Revisi 2004) tersebut, dimana perhitungan akrual atas estimasi imbalan kerja karyawan dilakukan dengan menggunakan metode aktuarial “Projected Unit Credit“ yang dihitung oleh PT Jasa Aktuaria Pensiun dan Asuransi, aktuaris independen (lihat Catatan 24).
m. Transaksi dan Saldo Dalam Mata Uang Asing
Transaksi dalam mata uang asing dicatat ke dalam Rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing, jika ada, dijabarkan ke dalam Rupiah berdasarkan kurs tengah rata-rata yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia pada hari terakhir transaksi perbankan pada tahun tersebut dan laba atau rugi selisih kurs yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada operasi tahun berjalan. Pada tanggal neraca, Perusahaan tidak memiliki saldo aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing.
n. Manfaat (Beban) Pajak Penghasilan
Beban pajak kini ditetapkan berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak tahun berjalan. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer antara aktiva dan kewajiban untuk tujuan komersial dan untuk tujuan perpajakan setiap tanggal pelaporan. Manfaat pajak di masa mendatang, seperti nilai terbawa atas saldo rugi fiskal yang belum digunakan (jika ada) juga diakui sejauh realisasi atas manfaat pajak tersebut dimungkinkan.
Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan diukur pada tarif pajak yang diharapkan akan digunakan pada tahun ketika aktiva direalisasi atau ketika kewajiban dilunasi berdasarkan tarif pajak (dan peraturan perpajakan) yang berlaku atau secara substansial telah diberlakukan pada tanggal neraca.
Perubahan terhadap kewajiban perpajakan diakui, antara lain, pada saat Surat Ketetapan Pajak diterima atau jika Perusahaan mengajukan keberatan/banding, pada saat keputusan atas keberatan/banding tersebut telah ditetapkan.
o. Biaya Emisi Efek Ekuitas
Biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan penawaran umum saham Perusahaan kepada masyarakat dicatat dan disajikan sebagai pengurang terhadap akun “Tambahan Modal Disetor - Bersih” (agio saham) yang berasal dari penawaran umum saham tersebut (lihat Catatan 16).
p. Laba per Saham Dasar
Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih masing-masing tahun dengan jumlah rata-rata tertimbang saham Perusahaan yang beredar pada tahun yang bersangkutan, setelah memperhitungkan dampak penyesuaian secara surut (retroaktif) atas perubahan nilai nominal per saham Perusahaan dari Rp 1.000.000 menjadi Rp 100 dan kapitalisasi saldo laba pada bulan April 2005 (lihat Catatan 15).
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) p. Laba per Saham Dasar (lanjutan)
Jumlah rata-rata tertimbang saham yang telah disesuaikan yang dijadikan sebagai dasar perhitungan laba bersih per saham, adalah sebesar 1.325.000.000 saham dan 1.103.287.671 saham, masing-masing pada tahun 2006 dan 2005 (Catatan 28).
q. Segmen Usaha
Informasi keuangan dilaporkan berdasarkan informasi yang digunakan oleh manajemen dalam mengevaluasi kinerja setiap segmen dan menentukan pengalokasian sumber daya. Sehubungan dengan ini, informasi segmen usaha dalam laporan keuangan disajikan berdasarkan pengklasifikasian umum atas daerah pemasaran sebagai segmen geografis. Rincian informasi segmen tersebut diungkapkan dalam Catatan 27.
r. Penggunaan Estimasi oleh Manajemen
Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mewajibkan pihak manajemen untuk membuat estimasi dan asumsi yang akan mempengaruhi jumlah aktiva dan kewajiban yang dilaporkan serta jumlah pendapatan dan beban yang dilaporkan selama tahun pelaporan. Sehubungan dengan ketidakpastian yang melekat dalam pembuatan estimasi, hasil realisasi yang akan terjadi dapat berbeda dengan jumlah yang diperkirakan sebelumnya.
3. KAS DAN BANK
Akun ini terdiri dari:
2006 2005 Kas 14.724.344.085 10.958.865.107 Bank Rupiah
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 4.785.299.792 5.404.854.149
PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk 3.692.957.040 125.409.762
PT Bank Central Asia Tbk 3.554.184.558 3.308.346.938
PT Bank Permata Tbk 1.259.312.353 59.026.390
PT Bank Danamon Indonesia Tbk 1.033.460.196 619.554.492
PT Bank Internasional Indonesia Tbk 970.371.426 1.052.800.609
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 821.742.384 114.989.906
PT Bank Mega Tbk 77.519.250 23.807.926
PT Bank Niaga Tbk 75.094.299 58.149.473
PT Bank Syariah Mandiri 73.123.212 -
PT Bank Akita 69.048.236 225.111.308
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk 42.804.803 11.175.391
PT Bank Danamon Syariah Indonesia 39.812.621 -
PT Bank Shinta Indonesia 38.254.187 -
PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk 32.600.724 25.709.120
PT Bank Pan Indonesia Tbk 31.945.908 -
PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 21.746.791 64.545.798
PT Bank Jasa Jakarta 17.195.904 -
PT Bank Eksekutif Internasional Tbk 3.701.996 3.573.416
Jumlah 16.640.175.680 11.097.054.678
4. PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN - BERSIH
Akun ini terdiri dari:
2006 2005
Pihak ketiga
Piutang pembiayaan konsumen - kotor 1.696.618.545.551 1.708.719.709.138
Dikurangi :
Bagian pinjaman yang dibiayai bank-bank sehubungan dengan transaksi
kerjasama pembiayaan bersama dan
penerusan pinjaman (Catatan 25a) (584.244.977.700 ) (1.026.846.823.126)
Piutang pembiayaan konsumen 1.112.373.567.851 681.872.886.012
Pendapatan pembiayaan konsumen yang
belum diakui (273.191.602.153 ) (165.742.673.082)
Penyisihan piutang pembiayaan konsumen
yang diragukan (13.449.455.102 ) (7.113.598.986)
Piutang Pembiayaan Konsumen - bersih 825.732.510.596 509.016.613.944
Rata-rata tingkat bunga efektif per tahun - Rupiah 26% - 40% 22% - 37%
Akun ini merupakan piutang yang timbul dari kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan kendaraan bermotor kepada konsumen dengan pembayaran angsuran secara berkala.
Angsuran piutang pembiayaan konsumen yang akan diterima dari konsumen sesuai dengan tanggal jatuh temponya adalah sebagai berikut:
Jatuh Tempo Dalam Waktu 2006 2005
< 1 tahun 879.530.003.198 889.717.784.300
1- 2 tahun 543.535.508.323 582.643.601.950
> 2 tahun 273.553.034.030 236.358.322.888
Jumlah Piutang Pembiayaan Konsumen - kotor 1.696.618.545.551 1.708.719.709.138
Analisis umur piutang pembiayaan konsumen - kotor adalah sebagai berikut:
2006 2005
Belum jatuh tempo 1.679.587.870.121 1.696.710.380.995
Lewat jatuh tempo:
1-30 hari 5.550.475.000 4.103.789.528
31-60 hari 1.907.200.430 1.468.704.900
61-90 hari 1.354.267.100 924.836.100
Lebih dari 90 hari 8.218.732.900 5.511.997.615
4. PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN - BERSIH (lanjutan)
Perubahan penyisihan piutang pembiayaan konsumen yang diragukan adalah sebagai berikut:
2006 2005
Saldo awal tahun 7.113.598.986 1.767.284.672
Penyisihan selama tahun berjalan 18.016.443.669 7.060.717.385
Penghapusan piutang (11.680.587.553 ) (1.714.403.071)
Saldo Akhir Tahun 13.449.455.102 7.113.598.986
Berdasarkan hasil penelaahan keadaan piutang pembiayaan konsumen pada akhir tahun, manajemen berpendapat bahwa jumlah penyisihan piutang pembiayaan konsumen yang diragukan di atas adalah cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya piutang pembiayaan konsumen.
Sebagai jaminan atas piutang pembiayaan konsumen yang diberikan, Perusahaan menerima jaminan dari konsumen berupa Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) atas kendaraan bermotor yang dibiayai.
Pada tanggal 31 Desember 2006, piutang pembiayaan konsumen sebesar Rp 210 milyar dijadikan jaminan dengan penyerahan hak secara fidusia atas fasilitas pinjaman yang diperoleh dari bank (lihat Catatan 10).
5. PIUTANG LAIN-LAIN
Akun ini terdiri dari:
2006 2005 Piutang karyawan 204.375.954 559.624.083 Klaim asuransi 448.243.824 166.118.623 Lain-lain 1.503.545.034 511.092.702 Jumlah 2.156.164.812 1.236.835.408
Berdasarkan hasil penelaahan keadaan akun piutang lain-lain pada akhir tahun, manajemen berpendapat bahwa seluruh piutang lain-lain dapat tertagih dan tidak diperlukan penyisihan piutang ragu-ragu.
6. BIAYA DIBAYAR DI MUKA DAN UANG MUKA
Akun ini terdiri dari:
2006 2005
Biaya Dibayar di Muka
Sewa dan renovasi 4.941.699.137 3.242.567.336
Provisi 3.112.642.070 5.622.126.856
Instalasi telepon dan listrik 503.225.096 532.854.458
Asuransi 177.666.512 242.314.040
6. BIAYA DIBAYAR DI MUKA DAN UANG MUKA (lanjutan)
2006 2005
Uang Muka
Pembelian aktiva tetap 530.663.661 307.985.000
Renovasi bangunan 135.275.600 224.769.660 Keperluan kantor 74.441.650 261.282.800 Lain-lain 196.363.895 308.001.820 Jumlah 10.544.743.755 11.550.821.367
7. AKTIVA DIAMBIL ALIH
Akun ini merupakan aktiva pembiayaan yang diambil alih atas piutang pembiayaan konsumen sebagai bagian dari penyelesaian piutang tersebut karena adanya keterlambatan pembayaran cicilan. Saldo
pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 masing-masing sejumlah Rp 2.488.328.537 dan
Rp 4.059.971.095 setelah dikurangi penyisihan penurunan nilai aktiva yang diambil alih sejumlah Rp 897.152.507 dan Rp 878.683.315, masing-masing pada tahun 2006 dan 2005.
Manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat - bersih aktiva diambil alih tersebut adalah dapat dipulihkan.
8. AKTIVA TETAP
Akun ini terdiri dari:
Penambahan/ Pengurangan/
2006 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir
Nilai Tercatat Pemilikan Langsung Tanah 8.236.362.500 502.750.000 - 8.739.112.500 Bangunan 7.529.065.039 3.833.695.886 - 11.362.760.925 Kendaraan 1.943.970.525 456.690.782 86.981.761 2.313.679.546 Peralatan kantor 12.756.903.701 3.117.455.474 13.874.720 15.860.484.455 Jumlah 30.466.301.765 7.910.592.142 100.856.481 38.276.037.426
Aktiva dalam Penyelesaian
Bangunan 648.000.000 - 648.000.000 -
Aktiva Sewa Guna Usaha
Kendaraan 12.664.050.000 2.891.608.334 234.808.334 15.320.850.000
Jumlah Nilai Tercatat 43.778.351.765 10.802.200.476 983.664.815 53.596.887.426
Akumulasi Penyusutan Pemilikan Langsung Bangunan 1.852.456.005 490.944.762 - 2.343.400.767 Kendaraan 1.284.081.328 264.126.243 62.459.326 1.485.748.245 Peralatan kantor 5.480.598.874 3.098.410.830 477.157 8.578.532.547 Jumlah 8.617.136.207 3.853.481.835 62.936.483 12.407.681.559
Aktiva Sewa Guna Usaha
Kendaraan 4.112.641.472 2.773.606.667 221.058.334 6.665.189.805
Jumlah Akumulasi Penyusutan 12.729.777.679 6.627.088.502 283.994.817 19.072.871.364
Nilai Buku 31.048.574.086 34.524.016.062
8. AKTIVA TETAP (lanjutan)
Penambahan/ Pengurangan/
2005 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir
Nilai Tercatat Pemilikan Langsung Tanah 1.976.000.000 6.260.362.500 - 8.236.362.500 Bangunan 5.526.516.419 2.002.548.620 - 7.529.065.039 Kendaraan 1.995.110.703 533.299.847 584.440.025 1.943.970.525 Peralatan kantor 8.321.339.574 4.726.733.554 291.169.427 12.756.903.701 Jumlah 17.818.966.696 13.522.944.521 875.609.452 30.466.301.765
Aktiva dalam Penyelesaian
Bangunan - 648.000.000 - 648.000.000
Aktiva Sewa Guna Usaha
Kendaraan 7.244.750.000 5.419.300.000 - 12.664.050.000
Jumlah Nilai Tercatat 25.063.716.696 19.590.244.521 875.609.452 43.778.351.765
Akumulasi Penyusutan Pemilikan Langsung Bangunan 1.435.518.052 416.937.953 - 1.852.456.005 Kendaraan 1.578.743.484 256.710.739 551.372.895 1.284.081.328 Peralatan kantor 3.120.805.500 2.418.767.389 58.974.015 5.480.598.874 Jumlah 6.135.067.036 3.092.416.081 610.346.910 8.617.136.207
Aktiva Sewa Guna Usaha
Kendaraan 2.071.995.413 2.040.646.059 - 4.112.641.472
Jumlah Akumulasi Penyusutan 8.207.062.449 5.133.062.140 610.346.910 12.729.777.679
Nilai Buku 16.856.654.247 31.048.574.086
Beban penyusutan yang dibebankan pada laporan laba rugi untuk tahun 2006 dan 2005, masing-masing adalah sejumlah Rp 6.627.088.502 dan Rp 5.133.062.140.
Berdasarkan penelaahan atas jumlah aktiva tetap yang dapat diperoleh kembali, manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak ada kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatatnya mungkin tidak dapat dipulihkan kembali pada tanggal-tanggal 31 Desember 2006 dan 2005.
Aktiva dalam penyelesaian pada tanggal 31 Desember 2006 telah direklasifikasi seluruhnya ke akun aktiva tetap.
Pada tanggal neraca, seluruh aktiva tetap, termasuk aktiva yang diambil alih (lihat Catatan 7), kecuali tanah, telah diasuransikan terhadap risiko kerugian kebakaran, kebanjiran dan risiko lainnya dengan nilai pertanggungan keseluruhan sebesar Rp 54,9 milyar dan Rp 33,5 milyar, masing-masing pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005. Pada tanggal neraca, aktiva tetap tersebut diasuransikan melalui perusahaan asuransi pihak ketiga yaitu PT Lippo Insurance General Tbk, PT Asuransi Tri Pakarta, PT Asuransi Raksa Pratikara, PT Asuransi Sumitomo Marine and Pool, PT Asuransi Sinar Mas, PT Asuransi Dayin Mitra, PT Asuransi Jasindo, PT Asuransi Himalaya Pelindung, PT Asuransi Buana Independent, PT Asuransi Central Asia, PT Asuransi Adira Dinamika, PT Asuransi Jasa Indonesia, PT Asuransi Bumida, PT Asuransi Rama Satria Wibawa dan PT Asuransi AXA. Manajemen Perusahaan berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas aktiva tetap yang dipertanggungkan.
Rincian penjualan aktiva tetap adalah sebagai berikut:
2006 2005 Nilai tercatat 335.664.815 875.609.452 Akumulasi penyusutan 283.994.817 610.346.910 Nilai buku 51.669.998 265.262.542 Harga jual 106.343.767 426.854.216
Laba Penjualan Aktiva Tetap (Catatan 20) 54.673.769 161.591.674
8. AKTIVA TETAP (lanjutan)
Pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005, tanah dan bangunan serta kendaraan milik Perusahaan senilai Rp 13,7 milyar dan Rp 11,04 milyar dijadikan sebagai jaminan atas fasilitas pinjaman yang diperoleh dari bank (lihat Catatan 10).
9. AKTIVA LAIN-LAIN
Pada tanggal 31 Desember 2006, akun ini merupakan penempatan deposito berjangka dalam mata uang Rupiah pada PT Bank Permata Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT Bank Danamon Syariah Indonesia, masing-masing sebesar Rp 2.500.000.000, Rp 708.000.000 dan Rp 50.000.000 yang digunakan sebagai jaminan atas fasilitas kredit lokal dari bank yang sama (Catatan 10). Deposito tersebut memiliki tingkat bunga per tahun masing-masing berkisar antara 8,75% - 11%; 4,75% - 5,75% dan 6,5% pada tahun 2006.
Pada tanggal 31 Desember 2005, akun ini merupakan penempatan deposito berjangka dalam mata uang Rupiah pada PT Bank Permata Tbk sebesar Rp 2.500.000.000 yang digunakan sebagai jaminan atas fasilitas kredit lokal dari bank yang sama (Catatan 10). Deposito tersebut memiliki tingkat bunga per tahun berkisar antara 6,5% - 11% pada tahun 2005.
10. PINJAMANBANK
Akun ini terdiri dari pinjaman yang diperoleh Perusahaan dari bank-bank berikut:
2006 2005
Rupiah
a. PT Bank Permata Tbk 162.641.895.972 115.665.636.730
b. PT Bank Syariah Mandiri 99.922.748.715 -
c. PT Bank Pan Indonesia Tbk 92.361.730.976 -
d. PT Bank Danamon Indonesia Tbk 74.940.763.626 -
e. PT Bank Internasional Indonesia Tbk 54.905.522.591 120.263.953.669
f. PT Bank Niaga Tbk 49.773.141.249 24.496.020.136
g. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk 37.633.879.909 38.268.993.316
h. PT Bank Shinta Indonesia 25.000.000.000 -
i. PT Bank Danamon Syariah Indonesia 4.755.380.969 -
j. PT Bank Akita 2.630.253.933 8.959.525.109
k. PT Bank Eksekutif Internasional Tbk 2.468.011.668 2.978.853.005
l. PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 2.289.853.778 9.003.992.393
m. PT Bank Jasa Jakarta 1.206.930.535 2.749.216.132
n. PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk 472.635.897 948.907.224
o. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk - 7.183.722.695
10. PINJAMANBANK (lanjutan)
a. PT Bank Permata Tbk (Bank Permata)
Berdasarkan perjanjian penerusan pinjaman pada tanggal 1 Agustus 2001 yang telah beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir pada tanggal 5 Desember 2006, Perusahaan dan Bank Permata setuju untuk melakukan kerjasama penerusan pinjaman kepada konsumen dengan jumlah fasilitas maksimum sebesar Rp 200.000.000.000 dengan jangka waktu fasilitas selama 1 (satu) tahun. Berdasarkan perjanjian tersebut, Perusahaan harus segera melunasi atau membeli kembali (buy back) seluruh sisa pinjaman apabila antara lain, konsumen menunggak angsuran tiga kali berturut-turut, selain itu, Perusahaan juga wajib melakukan pemberitahuan kepada Bank Permata atas setiap perubahan anggaran dasar Perusahaan. Atas fasilitas ini Bank Permata menentukan tingkat bunga efektif, sebesar 16% per tahun. Jaminan atas fasilitas ini antara lain adalah jaminan pribadi dari pihak hubungan istimewa, jaminan perusahaan dari JMG (Catatan 26) dan deposito berjangka (Catatan 9).
b. PT Bank Syariah Mandiri (Bank Syariah Mandiri)
Pada tanggal 27 Maret 2006, Perusahaan mengadakan perjanjian kredit dengan Akad Pembiayaan Al Murabahah dengan Bank Syariah Mandiri, dimana Bank Syariah Mandiri setuju untuk memberikan fasilitas kredit modal kerja dengan jumlah maksimum Rp 100.000.000.000 dengan jangka waktu pinjaman 3 (tiga) tahun sejak tanggal pencairan pembiayaan pertama kali. Berdasarkan perjanjian tersebut, Perusahaan tidak diperkenankan, antara lain, untuk melakukan akuisisi, merger, restrukturisasi dan/ atau konsolidasi, mengubah anggaran dasar, susunan pemegang saham, komisaris atau direksi tanpa persetujuan tertulis dari Bank Syariah Mandiri. Fasilitas ini dijamin dengan piutang Perusahaan senilai fasilitas pembiayaan, kendaraan yang dibiayai dengan fasilitas tersebut, jaminan perusahaan dari pihak hubungan istimewa dan jaminan perusahaan dan JMG (Catatan 26).
c. PT Bank Pan Indonesia Tbk (Bank Panin)
Berdasarkan Perjanjian Fasilitas Kredit tanggal 19 Juni 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank Panin dengan jumlah maksimum keseluruhan sebesar Rp 100.000.000.000, yang terdiri atas fasilitas pinjaman rekening koran untuk cadangan modal kerja yang bersifat revolving sebesar Rp 5.000.000.000 dan fasilitas pinjaman tetap untuk modal kerja pembiayaan konsumen yang bersifat non revolving sebesar Rp 95.000.000.000. Fasilitas pinjaman rekening koran memiliki jangka waktu selama 12 bulan sejak tanggal pengikatan dengan tingkat bunga per tahun sebesar 17%, sedangkan fasilitas pinjaman tetap memiliki jangka waktu selama 27 bulan sejak tanggal pengikatan dengan tingkat bunga per tahun sebesar 16,5%. Sesuai dengan perjanjian tersebut, Perusahaan harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Bank Panin sebelum melakukan hal-hal berikut ini, antara lain, mengubah anggaran dasar, melakukan merger dan melikuidasi Perusahaan. Fasilitas tersebut dijamin dengan jaminan Perusahaan dan piutang pembiayaan konsumen. Pada tanggal 31 Desember 2006, saldo pinjaman rekening koran dan pinjaman tetap masing-masing adalah sebesar Rp 4.835.176.463 dan Rp 85.500.000.000.
Berdasarkan Perjanjian Kredit Dengan Memakai Jaminan tanggal 23 Mei 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas Pinjaman Jangka Menengah dari Bank Panin dengan jumlah maksimum sebesar Rp 2.400.000.000. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu pinjaman sampai dengan tanggal 23 Mei 2009 dengan tingkat bunga pinjaman 15,5% per tahun dan dijamin dengan aktiva tetap Perusahaan berupa tanah dan bangunan. Pada tanggal 31 Desember 2006, saldo pinjaman jangka menengah adalah sebesar Rp 2.026.554.513.
10. PINJAMANBANK (lanjutan)
d. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon)
Berdasarkan Perjanjian Kredit tanggal 17 Oktober 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman rekening koran dari Bank Danamon untuk modal kerja pembiayaan konsumen yang bersifat revolving sebesar Rp 5.000.000.000. Fasilitas pinjaman rekening koran memiliki jangka waktu 12 (dua belas) bulan sampai dengan tanggal 17 Oktober 2007 dengan tingkat bunga floating sebesar suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1 (satu) bulan ditambah 6% per tahun. Pada tanggal 16 Oktober 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit pembiayaan konsumen dalam bentuk “asset buy” dari Bank Danamon yang bersifat revolving sebesar Rp 200.000.000.000. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu penarikan sampai dengan 1 (satu) tahun sejak tanggal perjanjian kerjasama dengan tingkat bunga bersifat tetap untuk setiap kelompok pencairan, dimana ditentukan untuk jangka waktu pembiayaan 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga) tahun : 16,5%, 4 (empat) tahun : 17% dan dijamin dengan BPKB kendaraan yang dibiayai dengan fasilitas tersebut dan deposito berjangka (Catatan 9).
Berdasarkan perjanjian tersebut, Perusahaan tidak diperkenankan, antara lain, untuk melakukan likuidasi, merger, konsolidasi dan akuisisi tanpa persetujuan tertulis dari Bank Danamon.
e. PT Bank Internasional Indonesia Tbk (Bank BII)
Berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Bersama Penyaluran Kredit Kendaraan Bermotor tanggal 26 September 2003, Bank BII setuju untuk memberikan fasilitas pembiayaan bersama dalam rangka pembelian kendaraan bermotor roda dua khusus untuk sepeda motor baru merk Jepang dengan ketentuan bahwa bagian pembiayaan Bank BII adalah sebesar 95% dan bagian pembiayaan Perusahaan adalah sebesar 5%. Fasilitas pembiayaan bersama ini mempunyai jumlah maksimum sejumlah Rp 25.000.000.000 yang bersifat tidak berulang dengan jangka waktu pembiayaan kepada konsumen adalah 3 (tiga) tahun.
Pada tanggal 17 Juni 2004, berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Bersama Penyaluran Kredit Kendaraan Bermotor, Perusahaan memperoleh peningkatan fasilitas pembiayaan bersama yang bersifat tidak berulang dari Bank BII sejumlah Rp 50.000.000.000 dengan jangka waktu pembiayaan kepada konsumen adalah 3 (tiga) tahun.
Pada tanggal 25 April 2005, Bank BII menyetujui penambahan fasilitas pembiayaan bersama yang bersifat berulang sebesar Rp 75.000.000.000 sehingga jumlah fasilitas maksimum menjadi Rp 150.000.000.000, dengan jangka waktu pembiayaan kepada konsumen adalah 3 (tiga) tahun dan dikenakan tingkat bunga efektif sebesar 15% per tahun.
Berdasarkan perjanjian tersebut, dalam hal terdapat nasabah yang tidak dapat memenuhi kewajiban pembayarannya, Perusahaan berkewajiban untuk melunasi seluruh hutang nasabah pada Bank BII. Fasilitas tersebut dijamin dengan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) asli kendaraan yang dibiayai melalui fasilitas ini dan jaminan perusahaan dari PT Jayamandiri Gemasejati (JMG) (Catatan 26), pemegang saham Perusahaan. Selain itu, sesuai dengan perjanjian tersebut, Perusahaan harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Bank BII sebelum melakukan hal-hal berikut ini, antara lain, melakukan merger, konsolidasi atau akuisisi dan pembayaran hutang pemegang saham.
10. PINJAMANBANK (lanjutan)
f. PT Bank Niaga Tbk (Bank Niaga)
Berdasarkan Perjanjian Kerjasama Dalam Rangka Pemberian Fasilitas Pembiayaan Bersama tanggal 19 Agustus 2004, Perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan bersama dari Bank Niaga dalam rangka pembelian kendaraan bermotor roda dua baru dengan ketentuan bahwa bagian pembiayaan Bank Niaga adalah sebesar 90% dan bagian pembiayaan Perusahaan adalah sebesar 10%. Fasilitas pembiayaan bersama ini mempunyai jumlah maksimum sejumlah
Rp 15.000.000.000 pada awal perjanjian dan terakhir telah diubah menjadi maksimum
Rp 50.000.000.000 yang bersifat berulang dengan jangka waktu penarikan fasilitas pembiayaan bersama sampai dengan tanggal 19 Agustus 2007. Tingkat bunga tahunan yang diberlakukan oleh Bank Niaga terhadap Perusahaan bersifat tetap untuk setiap kelompok pencairan dimana ditentukan untuk jangka waktu pembiayaan 1 (satu) tahun : 15%, 2 (dua) tahun : 15%, 3 (tiga) tahun : 16%. Sesuai perjanjian tersebut, dalam hal terdapat konsumen yang tidak melakukan kewajiban pembayarannya, Perusahaan berkewajiban membeli porsi Bank Niaga atau melakukan pelunasan dipercepat sebesar porsi Bank Niaga dan Perusahaan wajib memberitahu Bank Niaga secara tertulis apabila terdapat perubahan struktur modal, susunan para pemegang saham dan susunan Direksi dan Komisaris Perusahaan. Fasilitas tersebut dijamin secara fidusia dengan kendaraan bermotor yang dibiayai.
g. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat)
Berdasarkan Perjanjian Pembiayaan Wa’d (Line) Al Murabahah pada tanggal 21 Maret 2005, Perusahaan memperoleh fasilitas untuk modal kerja pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dari Bank Muamalat dengan jumlah maksimum Rp 50.000.000.000 pada awal perjanjian dan terakhir telah diubah pada tanggal 18 April 2006 menjadi maksimum Rp 80.000.000.000 dan berlaku untuk jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan. Berdasarkan perjanjian tersebut, besarnya margin keuntungan Bank Muamalat akan ditentukan kemudian pada saat penarikan sesuai surat permohonan realisasi pembiayaan dan surat sanggup yang ditandatangani oleh Perusahaan, selain itu, Perusahaan tidak diperkenankan, antara lain, untuk membubarkan Perusahaan, mengalihkan jaminan pada pihak lain, menerima fasilitas pembiayaan dari pihak lain, tanpa persetujuan dari Bank Muamalat. Fasilitas ini dijamin dengan piutang Perusahaan senilai fasilitas pembiayaan dan BPKB kendaraan yang dibiayai dengan fasilitas tersebut.
h. PT Bank Shinta Indonesia (Bank Shinta)
Berdasarkan Perjanjian Kredit tanggal 28 Maret 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit modal kerja dari Bank Shinta dengan jumlah maksimum sebesar Rp 20.000.000.000 pada awal
perjanjian dan terakhir telah diubah menjadi maksimum Rp 25.000.000.000 yang bersifat
berulang. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu selama 1 (satu) tahun sampai dengan tanggal 28 Maret 2007 dengan tingkat bunga pinjaman sebesar 17% per tahun. Sesuai perjanjian tersebut, Perusahaan wajib memberitahu Bank Shinta secara tertulis apabila terdapat perubahan struktur modal, susunan para pemegang saham dan susunan Direksi dan Komisaris Perusahaan dan perubahan anggaran dasar Perusahaan. Fasilitas tersebut dijamin dengan piutang pembiayaan konsumen sebesar 110% dari jumlah maksimum fasilitas kredit.
i. PT Bank Danamon Syariah Indonesia (Bank Danamon Syariah)
Pada tanggal 1 November 2006, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit pembiayaan bersama untuk pembiayaan murabahah dalam rangka pembelian kendaraan bermotor roda dua khusus untuk sepeda motor baru merk Jepang dari Bank Danamon Syariah dengan jumlah maksimum sebesar Rp 5.000.000.000. Fasilitas kredit ini memiliki jangka waktu pencairan fasilitas selama 1 (satu) tahun sampai dengan tanggal 1 November 2007. Sesuai perjanjian tersebut, besarnya margin keuntungan Bank Danamon Syariah adalah sebesar 16,5% per tahun dan dijamin dengan BPKB kendaraan yang dibiayai dengan fasilitas tersebut dan deposito berjangka sebesar 1% dari jumlah maksimum fasilitas kredit (Catatan 9). Selain itu, Perusahaan wajib memberitahu Bank Danamon Syariah secara tertulis apabila terdapat perubahan susunan para pemegang saham dan
10. PINJAMANBANK (lanjutan) j. PT Bank Akita (Bank Akita)
Berdasarkan Perjanjian Kredit (Pinjaman Rekening Koran) tanggal 10 Oktober 2003, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman rekening koran dari Bank Akita dengan batas maksimum kredit sejumlah Rp 8.000.000.000 dengan jangka waktu pinjaman selama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal 18 November 2003 sampai dengan tanggal 18 November 2004.
Pada tanggal 7 Februari 2005, fasilitas pinjaman tersebut telah diubah dengan Akta Perubahan Perjanjian Kredit sehingga batas maksimum kredit menjadi Rp 10.000.000.000 dan jangka waktu fasilitas pinjaman tersebut telah diperpanjang sampai dengan tanggal 18 November 2005, selanjutnya fasilitas pinjaman rekening koran tersebut diubah menjadi fasilitas pinjaman tetap reguler dan jangka waktu pinjaman diperpanjang kembali sampai dengan tanggal 18 November 2007.
Fasilitas pinjaman yang diperoleh dari Bank Akita tersebut di atas dikenakan tingkat bunga per tahun sebesar 16,5% dan 17,5%, masing-masing pada tahun 2006 dan 2005 serta dijamin, antara lain, dengan jaminan pribadi dari pihak hubungan istimewa, jaminan perusahaan dari JMG, dan piutang Perusahaan (Catatan 4). Sesuai perjanjian tersebut, Perusahaan wajib melakukan pemberitahuan kepada Bank Akita atas setiap perubahan anggaran dasar dan pengurus Perusahaan.
k. PT Bank Eksekutif Internasional Tbk (Bank Eksekutif)
Berdasarkan perjanjian kredit tanggal 9 Oktober 2003, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit dalam bentuk Akseptasi Angsur (KAA I) sebesar Rp 4.000.000.000, terakhir jatuh tempo pada tanggal 10 Oktober 2006 dengan tingkat bunga per tahun sebesar 18,5%. Berdasarkan perjanjian tersebut, Perusahaan wajib memberitahukan secara tertulis kepada Bank Eksekutif apabila terdapat perubahan anggaran dasar dan susunan anggota Direksi dan Komisaris Perusahaan. Fasilitas tersebut dijamin dengan tanah dan bangunan milik pihak hubungan istimewa. Pada tanggal 31 Oktober 2003, Perusahaan memperoleh fasilitas kredit dalam bentuk Akseptasi Angsur (KAA II) sebesar Rp 2.000.000.000, terakhir jatuh tempo pada tanggal 3 November 2006 dengan tingkat bunga per tahun sebesar 18,5%. Fasilitas tersebut dijamin dengan tanah dan bangunan serta jaminan pribadi dari pihak hubungan istimewa.
Saldo kredit akseptasi angsur tersebut pada tanggal 31 Desember 2005 adalah sebesar Rp 717.347.981. Pinjaman ini telah dilunasi pada tahun 2006.
Pada tanggal 12 Juni 2001, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman rekening koran sebesar Rp 2.500.000.000 yang telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir akan jatuh tempo pada tanggal 12 Juni 2007 dengan tingkat suku bunga per tahun terakhir sebesar 14,9%, dengan ketentuan besarnya suku bunga tersebut dapat berubah setiap waktu dan dijamin dengan tanah milik Perusahaan dan pihak hubungan istimewa. Saldo pinjaman rekening koran tersebut pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005, masing-masing adalah sejumlah Rp 2.468.011.668 dan Rp 2.261.505.024.
10. PINJAMANBANK (lanjutan)
l. PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (Bank Artha Graha)
Berdasarkan perjanjian penerusan pinjaman pada tanggal 7 Juni 2002, yang telah beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir pada tanggal 22 September 2004, Perusahaan dan Bank Artha Graha setuju untuk melakukan kerjasama penerusan pinjaman kepada konsumen dengan jumlah fasilitas maksimum sebesar Rp 20.000.000.000 pada awal perjanjian dan terakhir telah diubah menjadi maksimum sebesar Rp 45.000.000.000 yang bersifat berulang dengan jangka waktu pencairan seluruh fasilitas selama 1 (satu) tahun sampai dengan tanggal 8 Juni 2006, dengan tingkat bunga per tahun 16% sampai dengan 17%. Berdasarkan perjanjian tersebut, dalam hal konsumen lalai membayar angsuran 2 (dua) kali berturut-turut, maka Perusahaan wajib membayar seluruh sisa hutang konsumen tersebut ditambah bunga, denda dan biaya-biaya lain yang timbul (buy back guarantee). Jaminan atas fasilitas ini adalah kendaraan bermotor yang dibiayai oleh fasilitas tersebut, jaminan pribadi dari pihak hubungan istimewa dan jaminan perusahaan dari JMG, pemegang saham Perusahaan (Catatan 26). Selain itu, berdasarkan perjanjian tersebut, Perusahaan harus memberitahukan secara tertulis apabila terdapat perubahan pemegang saham dan atau perubahan pengurus.
m. PT Bank Jasa Jakarta (Bank Jasa Jakarta)
. Pada tanggal 24 Januari 2005, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman rekening koran dari Bank Jasa Jakarta dengan jumlah fasilitas sebesar Rp 400.000.000 dengan jangka waktu 12 (dua belas) bulan sampai dengan tanggal 24 Januari 2006 dengan tingkat bunga per tahun sebesar 15%. Saldo pinjaman rekening koran tersebut pada tanggal 31 Desember 2005 adalah sebesar Rp 361.134.866 dan telah dilunasi pada tahun 2006. Selanjutnya, pada tanggal yang sama, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman investasi dari Bank Jasa Jakarta dengan jumlah fasilitas sebesar Rp 1.250.000.000 dengan jangka waktu 60 (enam puluh) bulan sampai dengan tanggal 24 Januari 2010 dengan tingkat bunga per tahun sebesar 11,99%. Fasilitas tersebut di atas dijamin dengan tanah dan bangunan milik Perusahaan (Catatan 8). Saldo pinjaman investasi
tersebut pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 masing-masing adalah sebesar
Rp 871.406.806 dan Rp 1.073.001.964.
Berdasarkan Perjanjian Kredit Pemilikan Mobil pada tanggal 22 Februari 2005, 23 Februari 2005, 31 Maret 2005, 24 Juni 2005, 27 Juni 2005, 28 Juli 2005, 3 Agustus 2005, 4 Agustus 2005, 30 Agustus 2005, dan 14 November 2005, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman
masing-masing sebesar Rp 1.000.000.000, Rp 83.200.000, Rp 60.000.000, Rp 92.400.000,
Rp 43.200.000, Rp 43.200.000, Rp 92.400.000, Rp 372.800.000, Rp 129.600.000, dan Rp 172.200.000 dengan tingkat bunga berkisar antara 5,75% - 8,5% per tahun dan jangka waktu pinjaman selama 2 (dua) tahun. Pinjaman tersebut dijamin dengan kendaraan bermotor milik Perusahaan (Catatan 8). Saldo fasilitas pinjaman tersebut pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 masing-masing adalah sebesar Rp 335.523.729 dan Rp 1.315.079.302.
n. PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk
Pada tanggal 11 April 2005 dan 30 Mei 2005 Perusahaan memperoleh fasilitas kredit kendaraan bermotor dari PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk dengan jumlah fasilitas masing-masing sebesar Rp 101.600.000 dan Rp 120.000.000 dengan jangka waktu pinjaman selama 24 (dua puluh empat) bulan dan tingkat bunga per tahun sebesar 5,75% flat. Fasilitas tersebut dijamin, antara lain, dengan kendaraan bermotor yang dibiayai oleh fasilitas tersebut. Saldo atas fasilitas pinjaman tersebut pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 masing-masing adalah sebesar Rp 71.018.788 dan Rp 300.562.509.
10. PINJAMANBANK (lanjutan)
n. PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (lanjutan)
Selanjutnya, pada tanggal yang sama, Perusahaan juga memperoleh fasilitas kredit dalam bentuk Time Loan Angsur (TLA) dengan jumlah maksimum Rp 800.000.000 dengan jangka waktu fasilitas 36 (tiga puluh enam) bulan sejak tanggal penandatanganan perjanjian dan dikenakan tingkat bunga sebesar 11,5% per tahun. Saldo atas fasilitas pinjaman tersebut pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 masing-masing adalah sebesar Rp 401.617.109 dan Rp 648.344.715. Fasilitas TLA tersebut dijamin dengan tanah dan bangunan milik Perusahaan (Catatan 8). Selain itu, menurut perjanjian tersebut, Perusahaan harus mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum melakukan hal-hal berikut ini, antara lain, memperoleh kredit atau pinjaman dari pihak lain, menjaminkan harta kekayaan Perusahaan, menjual saham-saham Perusahaan, mengubah anggaran dasar, mengubah susunan pengurus serta susunan pemegang saham, membayar kewajiban lainnya kepada pemegang saham Perusahaan dan memberikan jaminan Perusahaan.
o. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (Bank BNI)
Pada tanggal 16 Juli 2003, Perusahaan memperoleh fasilitas pinjaman modal kerja dari Bank BNI dengan batas maksimum pinjaman sejumlah Rp 3.500.000.000, selanjutnya pada tanggal 25 November 2004, Bank BNI menyetujui penambahan fasilitas kredit modal kerja sejumlah
Rp 4.000.000.000, sehingga jumlah fasilitas maksimum menjadi Rp 7.500.000.000, sesuai
perubahan terakhir fasilitas pinjaman jatuh tempo pada tanggal 15 Juli 2006. Berdasarkan perjanjian tersebut, Perusahaan harus mendapatkan persetujuan secara tertulis sebelum melakukan hal-hal berikut ini, antara lain, melakukan investasi, mengubah susunan pengurus Perusahaan dan memperoleh fasilitas dari bank lain atau lembaga keuangan bukan bank. Fasilitas pinjaman yang diperoleh dari Bank BNI tersebut di atas dijamin antara lain tanah dan bangunan milik pihak hubungan istimewa, jaminan pribadi dari pihak hubungan istimewa dan jaminan Perusahaan dari JMG (Catatan 26). Pinjaman tersebut telah dilunasi seluruhnya pada tahun 2006.
11. HUTANG USAHA
Akun ini terdiri atas:
2006 2005 Pihak Ketiga Hutang dealer 24.692.589.307 20.828.852.724 Asuransi 1.750.650.820 681.090.225 26.443.240.127 21.509.942.949
Pihak Hubungan Istimewa
Hutang dealer (Catatan 26) 1.000.365.000 717.340.000
Jumlah 27.443.605.127 22.227.282.949
Hutang dealer merupakan kewajiban Perusahaan kepada dealer atas konsumen-konsumen yang telah memperoleh persetujuan kredit dari Perusahaan dan pihak dealer telah menyerahkan kendaraan yang dibiayai kepada konsumen tersebut.
12. HUTANG SEWA GUNA USAHA
Akun ini merupakan kewajiban sehubungan dengan sewa guna usaha kendaraan dengan rincian sebagai berikut:
Perusahaan Sewa Guna Usaha 2006 2005
PT Orix Indonesia Finance 2.261.959.630 2.228.586.953
PT Dipo Star Finance - 123.874.640
Jumlah 2.261.959.630 2.352.461.593
Pembayaran sewa minimum masa datang (future minimum lease payment) sesuai perjanjian sewa guna usaha pada tanggal 31 Desember 2006 adalah sebagai berikut:
Jumlah
Pembayaran yang jatuh tempo pada tahun
2007 1.971.794.260
2008 433.291.000
Jumlah pembayaran minimum sewa guna usaha 2.405.085.260
Bunga (143.125.630)
Hutang Sewa Guna Usaha - Bersih 2.261.959.630
Hutang sewa guna usaha dijamin dengan aktiva sewa guna usaha yang bersangkutan.
13. BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR
Akun ini terdiri dari akrual atas:
2006 2005
Beban umum dan administrasi dealer 3.825.119.535 5.501.281.264
Beban bunga 3.163.510.731 2.941.056
Jumlah 6.988.630.266 5.504.222.320
14. PERPAJAKAN Hutang Pajak
Akun ini terdiri dari:
2006 2005 Pajak Penghasilan: Pasal 21 418.918.128 919.875.518 Pasal 23 12.782.056 2.035.492 Pasal 25 1.195.352.567 763.235.000 Pasal 29 4.022.868.830 7.200.236.800 Jumlah 5.649.921.581 8.885.382.810
14. PERPAJAKAN (lanjutan)
Beban Pajak dan Taksiran Hutang Pajak Penghasilan - Pasal 29
Rekonsiliasi antara laba sebelum beban pajak penghasilan Perusahaan, seperti yang disajikan dalam laporan laba rugi dan taksiran penghasilan kena pajak untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 adalah sebagai berikut:
2006 2005
Laba sebelum beban pajak penghasilan
menurut laporan laba rugi 71.410.154.060 61.105.510.758
Beda temporer:
Penyisihan piutang pembiayaan
konsumen yang diragukan 18.016.443.669 7.060.717.385
Amortisasi beban administrasi dan
provisi bank 9.142.859.720 18.836.931.056
Estimasi kewajiban atas imbalan kerja
karyawan 1.266.809.534 884.806.703
Sewa guna usaha 26.304.704 (4.142.973.627)
Penyisihan penurunan nilai aktiva
yang diambil alih 18.469.192 721.498.664
Beban administrasi tangguhan (22.136.145.052 ) (25.037.463.916)
Penghapusan piutang pembiayaan
konsumen yang diragukan (11.680.587.553 ) (1.714.403.071)
Biaya provisi bank (5.780.620.987 ) (8.895.770.343)
Amortisasi (64.898.431 ) (86.531.256)
Beda tetap:
Jamuan dan sumbangan 227.979.352 139.405.482
Pendapatan yang telah dikenakan
pajak penghasilan bersifat final (546.541.977 ) (399.688.307)
Amortisasi biaya emisi efek ekuitas (1.499.010.518 ) (599.603.320)
Taksiran penghasilan kena pajak tahun berjalan 58.401.215.713 47.872.436.208
Perhitungan beban pajak penghasilan (tahun berjalan) dan taksiran hutang pajak penghasilan untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2006 dan 2005 adalah sebagai berikut:
2006 2005
Taksiran penghasilan kena pajak (dibulatkan) 58.401.215.000 47.872.436.000
Beban pajak penghasilan tahun berjalan 17.502.864.500 14.344.230.800
Dikurangi pajak penghasilan dibayar di muka
(Pasal 25) 13.479.995.670 7.143.994.000
Taksiran Hutang Pajak Penghasilan - Pasal 29 4.022.868.830 7.200.236.800
Perhitungan taksiran penghasilan kena pajak tahun 2005 tersebut telah sesuai dengan Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) yang disampaikan oleh Perusahaan kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Perusahaan akan menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) tahun 2006 kepada KPP sesuai dengan perhitungan taksiran penghasilan kena pajak tersebut di atas.