Misi Interkultural GKJW Jemaat Sitiarjo:
Misi Interkultural sebagai kerangka Misi bagi GKJW Jemaat Sitiarjo dalam mendampingi para pekerja migran perempuan
Oleh:
YUNIA FITRI ASTUTI 01092239
SKRIPSI UNTUK MEMENUHI SALAH SATU SYARAT DALAM MENCAPAI GELAR SARJANA PADA FAKULTAS TEOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA 2016
iv
Kata Pengantar
Semua hanya karena anugerahNYA!Hanya karena anugerah dan kasihNya semata tulisan skripsi yang merupakan tugas akhir masa perkuliahan ini dapat terselesaikan. Terimakasih Tuhan, untuk setiap proses yang boleh penulis lalui. Sebuah proses yang menyadarkan penulis akan arti menghidupi, dan mempertanyakan “ membunuh ego untuk menghargai seseorang, atau membunuh perasaan seseorang demi ego?”
Secara khusus, penulis ingin berterimakasih pada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam proses mengerjakan skripsi ini. Terimakasih untuk setiap dukungan dan doa yang tak sempat penulis ketahui. Penulis mengucapkan terimakasih kepada,
1. Pdt. Dr. Djoko Prasetyo A.W, Th.M selaku dosen pembimbing. Terimakasih atas bimbingan, pembelajaran, kesabaran yang begitu panjang, dan kasih yang tak terhingga. Trimakasih juga untuk pesan “orang bodoh akan lebih dihargai daripada orang pandai yang malas”. maafkan penulis yang badung ini ya pak
2. Dosen-dosen Fakultas Teologi UKDW yang selalu memberikan support bagi penulis: Pak Yahya Wijaya, Pak Kees De Jong, Bu Hendri Wijayatsih, Bu Rena Sesaria Yudhita, dan dewan dosen yang tak dapat penulis sebutkan satu per satu. Terimakasih untuk setiap dukungannya!
3. Segenap rekan administrasi Fakultas Teologi: Mbak Yuni, Mbak Eka, Pak Mardi, yang selalu menyambutku dengan senyum cerianya, serta Bu Heni yang selalu sabar dan memiliki kenangan tragedi “titipan yang hilang. Bu Emi yang menjadi teman curhatku di Poliklinik.
4. Segenap warga GKJW Jemaat Sitiarjo : Pak Christa Andrea, mbak Ira, bu eti, dan seluruh warga jemaat yang masih mengadu nasib di negeri asing, terimakasih untuk segenap bantuannya. Terimakasih untuk keluarga sevinia yang telah menerima saya seperti anak sendiri selama saya di Sitiarjo.
5. Duo vikar (mas Argo & mas ocep), Bu Pdt. Wuri Ajeng, Pak Pdt. Totok, serta Pak Pdt. Kristian (Krispong) yang banyak membantu saya dan menjadi teman sharing saya.
6. Keluarga tercintaku : Bapak, Ibu, Engkung, Mama Lia, Yudhistira, Yodi, Mas Teguh. Terimakasih untuk setiap do’a, cinta, yang menjadi sumber semangat dan inspirasiku.
v
Keluarga kedua ku : keluarga Bp. Yahya Wijaya, trimakasih untuk do’a, bimbingan, serta kasih sayangnya, sehingga penulis merasakan memiliki keluarga, orang tua, di Jogja. 7. Keluarga Besar Toko Buku Duta Wacana yang telah mendukungku dan memprosesku. 8. Patran CS (Risang, Heri, Prist, Andi, John, Johan) terimakasih telah menjadi sahabat,
teman diskusi, ngobrol, canda tawa, duka ketika kehabisan uang, serta selalu mensupport ku dengan tulus.
Akhir kata, kiranya apa yang telah penulis tuangkan melalui skripsi ini dapat bermanfaat. Kasih Tuhan Yesus Kristus senantiasa melingkupi kehidupan kita.
Yogyakarta, 12 mei 2016
Penyusun
vi
ABSTRAK
Misi Interkultural GKJW Jemaat Sitiarjo:Misi Interkultural sebagai kerangka Misi bagi GKJW Jemaat Sitiarjo dalam mendampingi para pekerja migran perempuan
Oleh : Yunia Fitri Astuti (01092239)
GKJW Jemaat Sitiarjo dengan konteks perekonomian tidak merata, lapangan pekerjaan yang sempit, bencana alam rutin, dan kemiskinan. Kondisi itu memaksa masyarakatnya untuk meninggalkan kampung halaman dan mengadu nasib di kota, serta melahirkan pekerja – pekerja perempuan yang bekerja di negeri asing sebagai pekerja migran demi memperbaiki perekonomian keluarga. Perempuan yang bekerja di luar negeri disebut sebagai pekerja migran perempuan. Pekerja migran perempuan memiliki permasalahan yang kompleks, dari masa prapemberangkatan, penempatan, dan pascabekerja (kembali ke tanah air). Di negeri asing (masa penempatan) mereka mengalami culture shock akibat ketidaksiapan mereka dalam mengalami perjumpaan budaya. culture shock yang menjadi bagian besar dari kompleksitas permasalahan mereka, belum begitu mendapatkan perhatian berbagai pihak, termasuk gereja. Dalam kerangka Misi Interkultural, perjumpaan budaya yang mereka alami merupakan sebuah peluang untuk para pekerja migran perempuan menjadi ujung tombak Misi. tidak lagi sekedar menjadi korban, namun menjadi pelaku pergeseran paradigma misiologis Kristen, dari yang semula ditujukan
bagi yang lain, menjadi bagi dan bersama dengan yang lain.
Kata kunci : GKJW Jemaat Sitiarjo, Misi Interkultural, Budaya, Perjumpaan Budaya culture
shock, pekerja migran perempuan, perekonomian,
Lain-lain:
Ix + 66 hal; 2016
24 (1984 – 2015)
Dosen Pembimbing:Pdt. Dr. Djoko Prasetyo Adi Wibowo,Th.M
vii DAFTAR ISI Judul...i Lembar Pengesahan...ii Pernyataan Integritas...iii Kata Pengantar...iv Abstrak...vi Daftar Isi...vii Bab I. Pendahuluan...1
1. Latar Belakang Permasalahan…...1
2. Rumusan Masalah...4
3. Penjelasan Judul...5
4. Tujuan Penulisan…...6
5. Metode Penelitian…...7
6. Sistematika Penulisan…...7
Bab II. Dilema Pekerja Migran...10
1. Pendahuluan…...10
2. Gambaran Umun GKJW Jemaat Sitiarjo. ...10
a.Sejarah Pemikiran dan Perkembangan GKJW Jemaat Sitiarjo...10
b. Konteks GKJW Jemaat Sitiarjo... ...12
3. Pekerja Migran Perempuan GKJW Jemaat Sitiarjo………...14
a. DefinisiPekerjaMigran Perempuan...14
b. Proses Pengambilan Data dan Profil Informan...15
©UKDW
viii
c. Interpretasi Data...17
(1). Fase PraPemberangkatan...17
(2). Fase Selama Bekerja...19
(3). Fase Pasca (Kembali ke Tanah Air)...22
4. Kesimpulan...24
Bab III. MisiInterkultural Bagi Perubahan Sosial...28
1. Memahami Makna “Interkultural”...28
2. Misi Interkultural: Sejarah Singkat, Prinsip-prinsip, serta Kerangka Kerjanya...32
3. Teologi Interkultural………...33
4. Misi Interkultural……...36
5. Interkulturalisasi dan Pergeseran Paradigma dalam Misiologi...37
6. Kesimpulan...39
Bab IV. Pendampingan Perempuan dalam Konteks GKJW Sitiarjo...41
1. Pendahuluan…...41
2. Misi Interkultural Bagi dan Bersama Pekerja Migran Perempuan………...41
a. Pekerja Perempuan dan culture-shock...41
(1). Gejala culture-shock...42
(2). Pemicu culture-shock...43
(3). Fase culture-shock...43
b. Pekerja Migran Perempuan dan Keluarga sebagai Prioritas Pelayanan Pastoral………..45
c. Konseling Edukatif Berbasis Misi Interkultural...48
3. Kesimpulan...52
©UKDW
ix
Bab V. Penutup...55 DAFTAR PUSTAKA...57 LAMPIRAN...59
vi
ABSTRAK
Misi Interkultural GKJW Jemaat Sitiarjo:Misi Interkultural sebagai kerangka Misi bagi GKJW Jemaat Sitiarjo dalam mendampingi para pekerja migran perempuan
Oleh : Yunia Fitri Astuti (01092239)
GKJW Jemaat Sitiarjo dengan konteks perekonomian tidak merata, lapangan pekerjaan yang sempit, bencana alam rutin, dan kemiskinan. Kondisi itu memaksa masyarakatnya untuk meninggalkan kampung halaman dan mengadu nasib di kota, serta melahirkan pekerja – pekerja perempuan yang bekerja di negeri asing sebagai pekerja migran demi memperbaiki perekonomian keluarga. Perempuan yang bekerja di luar negeri disebut sebagai pekerja migran perempuan. Pekerja migran perempuan memiliki permasalahan yang kompleks, dari masa prapemberangkatan, penempatan, dan pascabekerja (kembali ke tanah air). Di negeri asing (masa penempatan) mereka mengalami culture shock akibat ketidaksiapan mereka dalam mengalami perjumpaan budaya. culture shock yang menjadi bagian besar dari kompleksitas permasalahan mereka, belum begitu mendapatkan perhatian berbagai pihak, termasuk gereja. Dalam kerangka Misi Interkultural, perjumpaan budaya yang mereka alami merupakan sebuah peluang untuk para pekerja migran perempuan menjadi ujung tombak Misi. tidak lagi sekedar menjadi korban, namun menjadi pelaku pergeseran paradigma misiologis Kristen, dari yang semula ditujukan
bagi yang lain, menjadi bagi dan bersama dengan yang lain.
Kata kunci : GKJW Jemaat Sitiarjo, Misi Interkultural, Budaya, Perjumpaan Budaya culture
shock, pekerja migran perempuan, perekonomian,
Lain-lain:
Ix + 66 hal; 2016
24 (1984 – 2015)
Dosen Pembimbing:Pdt. Dr. Djoko Prasetyo Adi Wibowo,Th.M
1
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Permasalahan
Permasalahan ekomomi dan kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang sampai saat ini belum juga tertuntaskan
.
Jumlah penduduk yang berada dibawah garis miskin pun masih sangat tinggi.
Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, serta sempitnya lapangan pekerjaan memaksa dan menuntut manusia untuk berusaha lebih keras lagi dan lebih kreatif dalam usahanya mencukupi kebutuhan hidupnya dan memperbaiki perekonomian keluarganya.
Kondisi demikian ini juga yang terjadi di Desa Sitiarjo yang terletak di kecamatan Sumber Manjing Wetan, kabupaten Malang, Jawa Timur.
Desa Sitiarjo yang rawan dengan bencana alam banjir bandang ini juga tidak luput dari permasalahan ekonomi.
Ekonomi tidak merata serta sempitnya lapangan pekerjaan membuat penduduk desa ini harus mencari pekerjaan di daerah lain, ke kota, bahkan bekerja di luar negeri menjadi seorang pekerja migran.
Di desa Sitiarjo yang merupakan daerah agraris yang sangat subur ini, Kesuburan tanahnya membuat sektor pertanian menjadi pekerjaan yang umum
.
Bagi desa agraris seperti Sitiarjo, peran perempuan dalam kehidupan ekonomi keluarga sangatlah besar.
Seperti perempuan desa pada umunya, perempuan – perempuan Sitiarjo dalam kesehariannya selain mengurusi pekerjaan domestik, ia juga membantu pekerjaan di sawah, ladang, maupun kebun.
Selain itu beberapa pekerjaan lain yang dilakukan adalah menjadi buruh tani dan penjual sayur.
Namun menurut pemaparan kepala desa setempat, sejak adanya krisis ekonomi tahun 1998, Sitiarjo mulai melahirkan ‘pahlawan devisa’ yaitu para pekerja migran perempuan yang mengadu nasib di negeri asing dengan negara tujuan Arab Saudi, singgapore, Malaysia, Taiwan, dan HongKong.
1
1 Hasil wawancara dengan kepala desa Sitiarjo Bp
.
Lispijanto Daud pada tanggal 7 Juni 20152
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa Data statistik Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengenai jumlah buruh migran perempuan yang diberangkatkan ke HongKong dari tahun 2006 – Mei 2012 mengalami peningkatan
.
Dari tahun 2006-2011 mengalami peningkatan dari 19.
243 menjadi 49.
122.
sedangkan jumlah buruh migran perempuan yang berangkatpadajanuari-mei 2012 (lima bulan) sudah mencapai 17.
905.
2Meningkatnya jumlah pekerja migranperempuan dari tahun ketahun dengan dampak yang positif dalam pertumbuhan ekonomi dan kemajuan desa ini pun tidak begitu saja tanpa masalah
.
Masalah ini terutama dialami oleh para pekerja migran perempuan itu sendiri.
Dari proses pemberangkatan, penempatan, bekerja, sampai dengan mereka kembali lagi ke tanah air, mereka selalu bertemu dengan masalah.
Komnas Perempuan menyatakan bahwa para buruh migran perempuan tersebut harus terus menghadapi ekpolitasi demi ekploitasi. Pertama,sebelum
berangkat mereka diekpolitasi oleh calo, Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), pejabat pemerintah lokal, bahkan anggota keluarga sendiri
.
Tidak jarang di antara mereka yang “dijual” oleh anggota keluarganya sendiri karena iming-iming sejumlah uang yang ditawarkan oleh para calo.
Mereka pun harus membayar sejumlah besar uang kepada pejabat pemerintah lokal untuk mengurus dokumen-dokumen yang mereka butuhkan.
Di tempat pemusatan dan pelatihan, mereka harus rela tinggal dengan akomodasi yang buruk dan menanti begitu lama sebelum akhirnya ditempatkan (meskipun, berdasarkan aturan yang berlaku, batas waktu maksimal penempatan adalah tiga bulan lamanya).Kedua, para
buruh migran perempuan tersebut sering kali menerima upah yang lebih rendah dari yang ditetapkan pemerintah,mendapatkan akomodasi yang tidak layak, bekerja lebih lama dari jam kerja yang ditetapkan pemerintah (delapan jam tiap harinya), kehilangan/penghilangan kontak dengan keluarga di tanah air, mengalami kekerasan verbal maupun fisik, bahkan pelecehan seksual hingga pemerkosaan
. Ketiga, para buruh
migran yang telah habis masa kontraknya dan kembali ke tanah air pun sering tidak mampu mengelola keuangannya dengan baik, sehingga hasil jerih payah mereka selama bekerja pun menguap dalam sekejap dan memaksa mereka kembali mengulang kembali
2AmnestyInternational,ExploitedforProfit,FailedbyGovernments:IndonesianMigrantDomesticWorkersTraffic
kedtoHongKong,(London:AmnestyInternational,2013),h
.
18.
3
mengadu nasib sebagai buruh migran dan mengalami kembali lingkaran setan ekploitasi tersebut
.
3Selain permasalahan yang telah dipaparkan oleh Komnas Perempuan diatas,terinspirasi dari film “Minggu Pagi di Victoria Park” yang disutradarai oleh Lola Amaria yang dirilis tahun 2010 yang menceritakan tentang kehidupan para pekerja migran perempuan di Hong Kong, serta dari beberapa kerabat penyusun yang juga menjadi pekerja migran perempuan, penyusun melihat adanya masalah lain yang sifatnya personal yang dihadapi oleh para pekerja migran,yaitu culture-shock
.culture-shock
merupakan “penyakit" yang diderita oleh individu yang tinggal di sebuah lingkungan budaya baru
.
menurut Oberg, culture Shock merupakan akibat dari hilangnya tanda dan simbol budaya yang dikenal, membuat individu mengalami kecemasan, frustrasi, dan perasaaan tidak berdaya.
4Shock-culture ini sebenarnya sudah dialami oleh para pekerjamigran sebelum mereka berangkat atau masa prapemberangkatan, yaitu melalui informasi – informasi yang mereka terima dari cerita pengalaman para pekerja migran yang telah lebih dahulu berangkat maupun dari informasi yang ia terima dari agen atau calo
.
Kendatipun shock-culture yang dialami mereka pada masa prapemberangkatan, tidak sebesar dengan yang mereka alami ketika berada dalam masa penempatan.
Dalam masa penempatan, culture-shock yang mereka alami tentunya sangat mempengaruhi kinerja serta pola hidup mereka.
Sebagai contoh, masalah bahasa.
Tidak menguasai bahasa tempat atau Negara tujuan mereka bekerja adalah masalah yang dialami oleh seluruh pekerja migran asal Sitiarjo.
Ketidakmenguasai bahasa ini dirasakan sangat mengganggu dalam mereka menjalani pekerjaan mereka, termasuk mengganggu relasi mereka dengan majikan karena sulitnya berkomunikasi.
Contoh lainnya lagi adalah pola hidup konsumtif.
negara tempat mereka bekerja memberikan upah yang lumayan besar, sehingga mendorong mereka untuk membeli barang-barang yang selama ini sulit untuk mereka dapatkan, meskipun barang – barang itu sebenernya bukanlah apa yang sebenarnya
3KomnasPerempuan,BuruhMigranIndonesia:PenyiksaanSistematisdiDalamdanLuarNegeri,(Jakarta:Komnas
Perempuan,2003),h
.
9-14.
4Dayakisni Tri dkk, psikologi lintas budaya, (Malang:UMM Press,2004)h
.
3594
mereka butuhkan
.
Sehingga tidak jarang justru membuat mereka menghambur-hamburkan uangnya, bahkan menggiring mereka untuk terjerumus dalam jeratan hutang.
Permasalahan yang dihadapi oleh para pekerja migran begitu luas dan kompleks
.
Sehingga menarik perhatian berbagai pihak untuk berusaha menanggapi serta mengatasinya, termasuk pemerintah.
Dalam merespon masalah-masalah yang dihadapi oleh para pekerja migran ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, diantaranya adalah dalam bidang advokasi, dan perbaikan undang-undang ketenagakerjaan.
Dalam lingkup GKJW jemaat Sitiarjo terdapat kurang lebih 120 anggota jemaat yang bekerja sebagai buruh migran.
Lebih lanjut, menurut penuturan Pdt.
Christa (pendeta GKJW Jemaat Sitiarjo), 76 diantaranya menghadapi permasalahan terkait dengan pekerjaan mereka sebagai sebagai buruh migran.
Sehingga sudah semestinya jika GKJW Jemaat Sitiarjo tidak menutup mata kepada pergumulan hidup para pekerja migran, dan memikirkan misi gereja yang seperti apakah yang seharusnya dilakukan oleh GKJW Jemaat Sitiarjo sehingga mampu menanggapi, menyentuh, serta menjawab permasalahan pekerja migran tersebut?2. Rumusan Masalah
Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh pekerja migranmengundang keprihatinan penulis, namun dari sekian banyaknya permasalahan yang dihadapi, penulis lebih memfokuskan diri pada permasalahan shock-culture
.
Karena penulis melihat bahwa permalahan shock-culture ini belum banyak mendapatkan perhatian dan memiliki dampak yang besar dalam kehidupan para pekerja migran, baik ketika mereka berada negara tempat kerja mereka maupun ketika mereka sudah kembali ketanah air (kampung halaman).
Permasalahan culture-shock yang dialami oleh para pekerja migran merupakan akibat dari ketidaksiapan mereka dalam mengalami perjumpaan dengan budaya lain.
Dewasa ini, teologi misi yang dikembangkan gereja-gerejatelah menyadari arti penting budaya dalam setiap laku berteologi misi(doing theology)
.
Budaya telah menjadi salah satu locus theologicus yang penting dalam berteologi kontekstual.
Maka dari itu,5
fenomena culture shock yang dihadapi buruh migran oleh penulis dipandang layak dan perlu dikaji serta direfleksikan secara teologis
.
Salah satu perspektif teologis yang tepat untuk mengkaji dan merefleksikannya adalah perspektif misi interkultural.
Dalam kerangka misi interkultural, permasalahan shock-culture yang dihadapi oleh pekerja migran perempuan menjadi begitu penting
.
Penting karena dua alasan.Pertama,
shock-culture terjadi dalam perjumpaan budaya.Dalam kerangka misi interkultural, perjumpaan budaya menjadi titik tolak rancang bangun misi gereja.Kedua, Dalam
kerangka misi interkultural, para pekerja migran tidak semata dipandang sebagai korban yang perlu dibantu dan dijangkau oleh misi gereja
.
Para pekerja migran tersebut, berbekal pengalaman perjumpaan budaya mereka, dapat dan perlu diberdayakan sebagai agen atau pelaku aktif misi interkultural itu sendiri.
Berdasarkan urian diatas, maka penulis melakukan pembahasan tentang permaslahan ini dengan menitik beratkan pada beberapa pertanyaan sebagai berikut:
a. Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh pekerja migran perempuan? b. Bagaimanakah permasalahan tersebut terkait dengan culture-shock ?
c. Upaya apa saja yang telah dilakukan GKJW Jemaat Sitiarjo dalam menanggapi permasalahan para pekerja migran perempuan?
d. Bagaimanakah kerangka misi interkultural dapat menjawab permasalahan – permasalahan tersebut?
3. Penjelasan Judul
Berdasarkan pemaparan tentang rumusan masalah di atas, penulis memberi judul pada tulisan skripsi ini sebagai berikut:
Misi Interkultural GKJW Jemaat Sitiarjo:
Misi Interkultural sebagai kerangka Misi bagi GKJW Jemaat Sitiarjo dalam mendampingi para pekerja migran perempuan
6
Judul tersebut mengarah kepada GKJW Jemaat Sitiarjo sebagai yang menjadi komunitas terdekat bagi pendampingan para pekerja migran perempuan
.
Misi Interkultural menjadi sarana pendampingan bagi calon pekerja migran yang belum berangkat dan juga pekerja migran yang sudah kembali ke tanah air.
Penulis akan meninjau dan mengkaji fenomenacultural shock dalam perspektif misi interkultural sehingga pekerja migran perempuan
tidak hanya dipandang dan menjadi korbansaja, akan tetapi juga pelaku-pelaku misi dalam mengupayakan kesejahteraan perempuan pekerja migran lainnya di lingkungan masyarakat Sitiarjo
.
4. Tujuan Penulisan
Tidak ada solusi mutlak! Kalimat ini merupakan sebuah penggambaran yang tepat yang penulis pahami dalam mendampingi kehidupan para pekerja migran perempuan
.
Permasalahan ekonomi keluarga yang menjadi masalah awal dan pergi ke negeri asing untuk menjadi seorang pekerja migran perempuan sebagai solusi ternyata juga menjadi masalah yang baru yang tentunya menjadi keprihatinan penulis.
Terlebih permasalahan ini kebanyakan terjadi pada lingkup GKJW, gereja yang basis wilayahnya adalah Jawa Timur yang merupakan pemasok terbesar pekerja migran perempuan.
Tujuan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah:a. Untuk memberikan pemahaman tentang culture shockyang dialami pekerja migran perempuan sebagai salah satu faktor permasalahan penting
.
b. Memberikan alternatif dalam menghadapi permasalah ini dengan menempatkan teologi misi interkultural sebagai kesadaran baru bagi pedampingan para pekerja migran yang mengalami culture shock
.
c. memberikan beberapa catatan kecil kepada GKJW Sitiarjo untuk meneruskan pendampingan terhadap pekerja migran perempuan saat ini serta mengembangkannya di masa depan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat luas
.
d. memberikan tinjauan kritis kepada masyarakat desa Sitiarjo bahwa meskipun hasil yang didapatkan sebagai pekerja migran sangat menjanjikan secara
7
finansial tetapi hal ini tidak sebanding dengan culture shock yang diakibatkannya, sehingga diperlukan kearifan, kesiapan dalam menghadapi fenomena ini, serta memikirkan alih profesi atau menciptakan lahan kerja baru di daerah setempat terutama terkait kesadaran bahwa desa Sitiarjo adalah desa yang memiliki banyak potensi
.
5. Metode Penelitian
Dalam rangka penelitian bagaimana GKJW Sitiarjo merespon fenomena culture shock yang terjadi pada jemaatnya yang menjadi pekerja migran perempuan Hongkong, penulis menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan metode penelitian partisipatoris
.
Pada proses ini penulis akan terlibat langsung dengan para pekerja migran perempuan yang sedang bekerja, maupun yang telah kembali ke tanah air, yaitu dengan melakukan wawancara langsung, maupun perbincangan tidak langsung, serta menemui beberapa tokoh / orang kunci yang pengalaman langsung dengan isu-isu terkait pekerja migran.
6. Sitematika Penulisan
Pembahasan skripsi ini disampaikan dengan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Dalam pembahasan pada bab ini penyusun menyampaikan beberapa kondisi baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kondisi pekerja migran perempuan di wilayah pelayanan GKJW Sitiarjo
.
Penulisannya dimasukkan dalam beberapa bagian yaitu: latar belakang, rumusan permasalahan, penjelasan judul tulisan, tujuan penulisan, serta metodologi penelitian serta metode wawancara yang dilakukan.
8
Bab II Dilema Pekerja migran perempuan
Pekerja migran perempuan memahami bahwa mereka akan mengalami berbagai permasalahan baik ketika proses melakukan persiapan, pemberangkatan, maupun pada saat bekerja serta masa setelah mereka mengakhirinya
.
Informasi yang didapatkan tentang hal ini cukup banyak, tetapi para perempuan terutama usia muda tetap memiliki ketertarikan untuk menjadi pekerja di luar negeri.
Hal inilah yang ingin penulis paparkan yaitu mengenai alasan serta cara berpikir para perempuan muda di Sitiarjo, mengapa mereka tetap tertarik pada pekerjaan di luar negeri? Bagaimana mereka mempertimbangkannya?Bagaimana para perempuan ini mengatasi situasi kerja maupun sepulang dari bekerja di luar negeri?
Bab III Misi Interkultural Bagi Upaya PerubahanSosial
Salah satu masalah yang dihadapi para pekerja migran perempuan ini adalah culture shock
.
Sejauh mana culture shock itu disadari dan dialami, serta bagaimana selama ini gereja melakukan persiapan dan pendampingan bagi mereka? Misi interkultural dirasakan menjadi cara yang dapat digunakan untuk menolong gereja mengembangkan kesadaran ini.
Oleh karenanya topik misi interkultural akan dibahas secara khusus pada bab ini meliputi pengertian interkultural serta bagaimana hal ini mempengaruhi misi gereja saat ini.
Bab IV Pendampingan Perempuan dalam Konteks GKJW Sitiarjo
9
Culture shock selalu dialami oleh manusia di era globalisasi
karena adanya ketidaksiapan perjumpaan dengan budaya lain
.
Oleh karenanya melalui pembahasan misi interkultural pada bab sebelumnya diharapkan dapat memberikan kesadaran baru tentang makna dan bentuk misi interkultural yang seharusnya dikembangkan oleh gereja-gereja, termasuk dalam hal ini adalah GKJW Sitiarjo
.
Pada bab ini pula disampaikan tinjauan kritis serta penekanan pentingnya langkah konkrit yang perlu dikembangkan GKJW Sitiarjo untuk mendampingi para perempuan agar lebih sejahtera dan siap menghadapi perkembangan jaman.
Tidak mungkin melarang mereka bekerja di luar negeri, tetapi pendampingan yang diberikan secara tepat dan dekat justru menjadi kunci bagi keberhasilan pekerjaan dan kehidupan mereka.
Bab V Penutup
Pada bab ini penyusun memberikan kesimpulan hasil pembahasan pada keseluruhan bab, serta memberikan saran-saran dan usulan
.
55
BAB V
PENUTUP
Perekonomian yang tidak merata, sempitnya lapangan pekerjaan, serta ketidakharmonisan rumah tangga, menyebabkan perempuan – perempuan GKJW Jemaat Sitiarjo memiliki pemikiran untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga dengan menjadi tenaga migran perempuan di luar negeri
.
Bekerja di negeri asing dengan upah yang tinggi merupakan hal yang sangat menarik dan mendukung cita – cita para perempuan GKJW Jemaat Sitiarjo tersebut. Selain permasalahan ekonomi, permasalahan ketidakharmonisan dalam rumah tangga juga menjadi faktor pendukung bagi mereka untuk menjadi pekerja migran perempuan. Tekat dan keinginan yang kuat para pekerja migran perempuan ini, rupanya tidak diimbangi dengan bekal yang cukup. Bekal pengetahuan serta ketrampilan yang minim pada akhirnya membawa para pekerja migran perempuan ini terjebak dalam berbagai macam permasalahan, termasuk masalah culture-shock.
Fenomenaculture-shock ini terjadi akibat katidaksiapan para pekerja migran perempuan dalam menghadapi
perjumpaan budaya
.
Permasalahan awal yang merupakan pendorong bagi pekerja migran perempuan ini juga memiliki pengaruh yang besar terhadap adaptasi dan culture-shock yang ia hadapi.
Dalam kerangka Misi Interkultural, fenomena yang dihadapi oleh para pekerja migran perempuan ini sangat penting
.
Penting karena mereka mengalami perjumpaan budaya, sehingga mereka yang selama ini dianggap sebagai korban, dalam kerangka misi Interkultural justru mereka menjadi pelaku atau agen misi Intrekultural.
Sehingga makna dan bentuk – bentuk misi Interkultural ini yang harus dikembangkan di GJKW Jemaat Sitiarjo untuk menanggapi dan sekaligus menghadapi para pekerja migran perempuan dengan segala permasalahannya.
bentuk pendampingan yang dibutuhkan oleh para pekerja migran perempuan ini adalah pendampingan yang sifatnya edukatif dan preventif.
Sehingga yang mungkin dilakukan adalah dengan pendampingan atau konsedling edukatif berbasis Misi (teologi) Interkultural.
Konseling edukatif ini memiliki tujuan untuk memberikan pengetahuan, pendidikan, dan wawasan terkait dengan56
perjumpaan budaya
.
Interkulturalitas mengandaikan interdependensi, interpenetrasi dan hibridisasi budaya.Kesadaran akan interkulturalitas itulah yang diharapkan dimiliki oleh para pekerja migran perempuan , sehingga mampu memicu mereka untuk menjadi agen-agen misi Kristen bagi dan bersama yang lain. Dengan demikian para pekerja migran yang disiapkan secara matang dalam menghadapi perjumpaan budaya, akan mampu membawa perubahan bagi kehidupannya pribadi, keluarga, lingkungan masyarakat,serta bagi gereja. Mereka tidak lagi menjadi korban, namun menjadi pelaku – pelaku misi interkultural yang mampu mentransformasi kehidupan keluarga, masyarakat, dan gereja.
57
DAFTAR PUSTAKA
Agbara, Felix I. 2011. The Possibility of Convivence in Nigeria: Towards Intercultural
Hermeneutics and Religion in Dialogue.Berlin: Lit Verlag
Amnesty International. 2013. Exploited for Profit ,Failed by Governments: Indonesian
Migrant Domestic Workers Trafficked to HongKong. London: Amnesty International
Asis, Maruja M. B. dkk. 2012. “Strenghtning Pre Departure Orientation Program mesin Indonesia, Nepala and The Philippines”, International Organization for Migration Issue
in Brief, No.5
Berry, John Wdkk.1999. Psikolog Lintas Budaya-Risetdan Aplikasi. Jakarta: Gramedia
Clinebell, Howard.2002.Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral. Yogyakarta: Kanisius
Cuccioletta, Donald. 2001/2002. “Multiculturalism or Transculturalism: Towards a
Cosmopolitan Leadership”,London Journal of Canadian Studies
De Jong, Kees. 2015. “Teologi (Misi) Interkultural,” Teologi dalam Silang Budaya: Menguak
Makna Teologi Interkultural serta Peranannya Bagi Upaya Berolah Teologi di Tengah-tengah Pluralisme Masyarakat Indonesia, ed. Kees de Jong dan Yusak Tridarmanto.
Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen
Kalvaro, Oberg. 2006. Cultural Shock: Adjustment to New Cultural Environment”, Curare edisi 29
Komnas Perempuan. 2003. Buruh Migran Indonesia: Penyiksaan Sistematis di Dalam dan
Luar Negeri. Jakarta: Komnas Perempuan
Liu, Shuang dkk. 2014. “Integrating intercultural communication and cross-cultural
psychology: Theoretical and pedagogical implications”, Online Readings in Psychology and Culture, Vol. 2, No.1
Organisasi perburuhan Internasional, Underpayment
58
Organisasi Perburuhan Nasional. 2004. Pembuatan Keputusan dan Persiapan untuk
Pekerjaan di Luar Negeri. Jakarta: Kantor Perburuhan Internasional
Parekh, Bhikhu. 2000. Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory. London: Palgrave
Phil Wood, Charles Landry dan Jude Bloomsfield, Cultural Diversity in Britain: a toolkit for
cross-cultural co-operation, (York: Joseph Rowntree Foundation),
Phillips, Anne. 2007. Multiculturalism without Culture. Princeton: Princeton University Press
Powell, Diane dkk (ed.). 2004. Interculturalism: Exploring Critical Issues. Oxford: Inter-disciplinary Press
Rosaldo, Renato. 1989.Culture and Truth: The Remaking of Social Analysis. Boston: Beacon Press
Setio, Robert. 2015. “Menimbang Posisi Teologi Interkultural”, Teologi dalam Silang
Budaya: Menguak Makna Teologi Interkultural serta Peranannya Bagi Upaya Berolah Teologi di Tengah-tengah Pluralisme Masyarakat Indonesia, ed. Kees de Jong dan
Yusak Tridarmanto. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen
Suseno, Frans Magnis. 1984. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan
Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia
Sutrisno, Mudji dkk (ed). 2004. Hermeneutika Pasca Kolonial Soal Identitas. Yogyakarta: Kanisius
Tri, Dayakisni dkk. 2004. Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMM Press
Ustorf, Werner. 2008. “The Cultura Origins of ‘Intercultural Theology’,” Mission Studies 25
Wijsen, Frans. 2007.Seeds of Conflict in A Haven of Peace: From Religious Studies to
Interreligious Studies in Africa. Amsterdam: Rodopi
Wijsen, Frans. 2015. “Apa Makna Interkulturalisasi dalam Teologi Interkultural?,” dalam
Teologi dalam Silang Budaya: Menguak Makna Teologi Interkultural serta Peranannya Bagi Upaya Berolah Teologi di Tengah-tengah Pluralisme Masyarakat Indonesia, ed.
Kees de Jong dan Yusak Tridarmanto. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen
59 SUMBER LAIN
Tim Sejarah: Panitia HUT ke 110 GKJW Jemaat Sitiarjo, Tidak Ada Buah yang Tidak
Bernilai: Sejarah Pelayanan GKJW Jemaat Sitiarjo 1995-2005, Sitiarjo: GKJW Jemaat
Sitiarjo, 2005
Kutipan kata-kata Blomjous dalam Aylward Shorter, Toward A Theology of Inculturation, (Eugene: Wipf & Stock, 2006),
http://www.oikoumene.org/en/resources/documents/wcc-programmes/unity-mission-
evangelism-and-spirituality/just-and-inclusive-communities/migration/migration-and-migrant-workers-discerning-responses-as-churches,diakses 4Juli 2015