• Tidak ada hasil yang ditemukan

budaya organisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "budaya organisasi"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh : Akhmad Sudrajat, *)) Oleh : Akhmad Sudrajat, *))

A. Pengertian Budaya Organisasi A. Pengertian Budaya Organisasi

Pemahaman tentang budaya organisasi sesungguhnya tidak lepas dari Pemahaman tentang budaya organisasi sesungguhnya tidak lepas dari konsep dasar tentang budaya itu sendiri, yang merupakan salah satu terminologi yang banyak  konsep dasar tentang budaya itu sendiri, yang merupakan salah satu terminologi yang banyak  digunakan dalam bidang antropologi.

digunakan dalam bidang antropologi. Dewasa ini, dalam pandangan antropologi Dewasa ini, dalam pandangan antropologi sendiri, konsepsendiri, konsep  budaya ternyata telah mengalami pergeseran makna. Sebagaimana dinyatakan oleh C.A. Van  budaya ternyata telah mengalami pergeseran makna. Sebagaimana dinyatakan oleh C.A. Van

Pe

Peurursesen n (1(198984) 4) babahwa hwa dudulu lu ororanang g berberpependandapapat t bubudadaya ya memeliliputputi i sesegagala la mamaninifefeststasasi i dardarii kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani, seperti : agama, kesenian, kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani, seperti : agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara dan sebagainya. Tetapi pendapat tersebut sudah sejak  filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara dan sebagainya. Tetapi pendapat tersebut sudah sejak  lama disingkirkan. Dewasa ini budaya diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan lama disingkirkan. Dewasa ini budaya diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang. Kini budaya dipandang sebagai sesuatu yang lebih dinamis, bukan setiap kelompok orang-orang. Kini budaya dipandang sebagai sesuatu yang lebih dinamis, bukan sesuatu yang kaku dan statis. Budaya tidak tidak diartikan sebagai sebuah kata benda, kini lebih sesuatu yang kaku dan statis. Budaya tidak tidak diartikan sebagai sebuah kata benda, kini lebih dimaknai sebagai sebuah kata kerja yang dihubungkan dengan kegiatan manusia.Dari sini timbul dimaknai sebagai sebuah kata kerja yang dihubungkan dengan kegiatan manusia.Dari sini timbul   pe

  pertartanyanyaan, an, apa apa sessesungungguhnguhnya ya budbudaya aya itu itu ? ? MarMarvin vin BoweBower r sepseperterti i disdisampampaikaikain ain oleoleh h AlaAlann Cowli

Cowling ng dan dan PhilPhilip ip James (1996), secara ringkas memberikaJames (1996), secara ringkas memberikan n pengerpengertian budaya tian budaya sebagasebagai i “car“caraa kita melakukan hal-hal di sini”.

kita melakukan hal-hal di sini”.

Menurut Vijay Santhe sebagaimana dikutip oleh Taliziduhu Ndraha (1997)_budaya adalah : Menurut Vijay Santhe sebagaimana dikutip oleh Taliziduhu Ndraha (1997)_budaya adalah : ““ The set of important assumption (often unstated) that members of community share in common”. The set of important assumption (often unstated) that members of community share in common”. Secara umum namun operasional, Edgar Schein (2002) dari MIT dalam tulisannya tentang Secara umum namun operasional, Edgar Schein (2002) dari MIT dalam tulisannya tentang Organizational Culture & Leadership

Organizational Culture & Leadership mendefinisikan budaya sebagai:mendefinisikan budaya sebagai:

“A pattern of shared basic assumptions that the group learned as it solved its problems of  “A pattern of shared basic assumptions that the group learned as it solved its problems of  external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid  external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid  and, therefore, to be taught to new members as the correct way you perceive, think, and feel in and, therefore, to be taught to new members as the correct way you perceive, think, and feel in relation to those problems”.

relation to those problems”.

Dari Vijay Sathe dan Edgar Schein, kita temukan kata kunci dari pengertian budaya yaitu

Dari Vijay Sathe dan Edgar Schein, kita temukan kata kunci dari pengertian budaya yaitu shared  shared  basic

basic assumptionsassumptions atau menganggap pasti terhadap sesuatu. Taliziduhu Ndraha mengemukakanatau menganggap pasti terhadap sesuatu. Taliziduhu Ndraha mengemukakan  bahwa asumsi meliputi

 bahwa asumsi meliputi beliefsbeliefs (keya(keyakinan) kinan) dandan valuevalue (nilai).(nilai).  Beliefs Beliefs merupakan asumsi dasar merupakan asumsi dasar  tenta

(2)

dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa

dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa belief belief  (keyakinan) merupakan(keyakinan) merupakan state of  state of  mind 

mind (lukisan fikiran) yang terlepas dari ekspresi material yang diperoleh suatu komunitas.(lukisan fikiran) yang terlepas dari ekspresi material yang diperoleh suatu komunitas. Va

Valulue e (n(nililaiai) ) memerurupapakakan n susuatatu u ukukururan an nonormrmatatif if yayang ng memempmpenengagaruruhi hi mamanunusisia a ununtutuk k  melaksanakan tindakan yang dihayatinya. Menurut Vijay Sathe dalam Taliziduhu (1997) nilai melaksanakan tindakan yang dihayatinya. Menurut Vijay Sathe dalam Taliziduhu (1997) nilai merupakan “

merupakan “ basic assumption about what ideals are desirable or worth striving for.”basic assumption about what ideals are desirable or worth striving for.” SementaraSementara itu, Moh Surya (1995) memberikan gambaran tentang

itu, Moh Surya (1995) memberikan gambaran tentang nilai sebagai berikut :nilai sebagai berikut :

“…setiap orang mempunyai berbagai pengalaman yang memungkinkan dia berkembang dan “…setiap orang mempunyai berbagai pengalaman yang memungkinkan dia berkembang dan  belajar. Dari pengalaman itu, individu mendapatkan patokan-patokan umum untuk bertingkah  belajar. Dari pengalaman itu, individu mendapatkan patokan-patokan umum untuk bertingkah laku. Misalnya, bagaimana cara berhadapan dengan orang lain, bagaimana menghormati orang laku. Misalnya, bagaimana cara berhadapan dengan orang lain, bagaimana menghormati orang lain, bagimana memilih tindakan yang tepat dalam satu situasi, dan sebagainya. Patokan-patokan lain, bagimana memilih tindakan yang tepat dalam satu situasi, dan sebagainya. Patokan-patokan ini cenderung dilakukan dalam waktu dan tempat tertentu.”

ini cenderung dilakukan dalam waktu dan tempat tertentu.”

Pada bagian lain dikemukakan pula bahwa nilai mempunyai fungsi : (1) nilai sebagai standar; (2) Pada bagian lain dikemukakan pula bahwa nilai mempunyai fungsi : (1) nilai sebagai standar; (2) nilai sebagai dasar penyelesaian konflik dan pembuatan keputusan; (3) nilai sebagai motivasi; (4) nilai sebagai dasar penyelesaian konflik dan pembuatan keputusan; (3) nilai sebagai motivasi; (4) nilai sebagai dasar penyesuaian diri; dan (5) nilai sebagai dasar perwujudan diri. Hal senada nilai sebagai dasar penyesuaian diri; dan (5) nilai sebagai dasar perwujudan diri. Hal senada dikemukakan oleh Rokeach yang dikutip oleh Danandjaya dalam Taliziduhu Ndraha (1997) dikemukakan oleh Rokeach yang dikutip oleh Danandjaya dalam Taliziduhu Ndraha (1997)  bahwa :

 bahwa : “ a value system is learned organization rules to help one choose between alternatives,“ a value system is learned organization rules to help one choose between alternatives,  solve conflict, and make decision.”

 solve conflict, and make decision.” Dalam budaya

Dalam budaya organiorganisasi ditandai sasi ditandai adanyadanyaa sharing  sharing  atau berbagi nilai dan keyakinan yang samaatau berbagi nilai dan keyakinan yang sama dengan seluruh anggota organisasi. Misalnya berbagi nilai dan keyakinan yang sama melalui dengan seluruh anggota organisasi. Misalnya berbagi nilai dan keyakinan yang sama melalui  pa

 pakaikaian an serseragaagam. m. NamNamun un menmenerierima ma dan dan memmemakai akai serseragaagam m sajsaja a tidtidaklaklah ah cukcukup. up. PemPemakaiakaianan seragam haruslah membawa rasa bangga, menjadi alat kontrol dan membentuk citra organisasi. seragam haruslah membawa rasa bangga, menjadi alat kontrol dan membentuk citra organisasi. Den

Dengan gan demdemikiikian, an, nilnilai ai pakpakaiaaian n serseragam agam tertertantanam am menmenjadjadii basic.basic. MenMenuruurut t SatSathe he daldalamam Taliziduhu Ndraha (1997) bahwa

Taliziduhu Ndraha (1997) bahwa  shared basic assumptions shared basic assumptions meliputi : (1)meliputi : (1)  shared things shared things; (2); (2)  shared saying,

 shared saying, (3)(3) shared doing  shared doing ;; dan (4)dan (4) shared feelings. shared feelings. Pad

Pada a bagibagian an lailain, n, EdgEdgar ar SchSchein ein (20(2002) 02) menmenyebyebutkutkan an bahwbahwaa basic basic assumptassumptionion dihasilkandihasilkan melalui : (1)

melalui : (1) evolve as solution to problem is repeated over and over again;evolve as solution to problem is repeated over and over again; (2)(2) hypothesishypothesis becomes

becomes realitreality,y, dan (3)dan (3) to learn something new requires resurrection, reexamination, frameto learn something new requires resurrection, reexamination, frame breaking.

breaking.

Dengan memahami konsep dasar budaya secara umum di atas, selanjutnya kita akan berusaha Dengan memahami konsep dasar budaya secara umum di atas, selanjutnya kita akan berusaha me

memamahahami mi bubudadaya ya dadalalam m kokontntekeks s ororgaganinisasasi si atatau au bibiasasa a didisesebubut t bubudadaya ya ororgaganinisasasisi ((organizational cultureorganizational culture). Adapun pengertian organisasi di sini lebih diarahkan dalam pengertian). Adapun pengertian organisasi di sini lebih diarahkan dalam pengertian organisasi formal. Dalam arti, kerja sama yang terjalin antar anggota memiliki unsur visi dan organisasi formal. Dalam arti, kerja sama yang terjalin antar anggota memiliki unsur visi dan misi, sumber daya, dasar hukum struktur, dan anatomi yang jelas dalam rangka mencapai tujuan misi, sumber daya, dasar hukum struktur, dan anatomi yang jelas dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

tertentu.

Sejak lebih dari seperempat abad yang lalu, kajian tentang budaya organisasi menjadi daya tarik  Sejak lebih dari seperempat abad yang lalu, kajian tentang budaya organisasi menjadi daya tarik  tersendiri bagi kalangan ahli maupun praktisi manajemen, terutama dalam rangka memahami dan tersendiri bagi kalangan ahli maupun praktisi manajemen, terutama dalam rangka memahami dan mempraktekkan perilaku organisasi.

mempraktekkan perilaku organisasi. Edg

Edgar ar SchSchein ein (20(2002) 02) menmengemgemukaukakan kan bahbahwa wa budbudaya aya orgorganianisassasi i dapadapat t dibdibagi agi ke ke daldalam am duadua dimensi yaitu :

dimensi yaitu : Dimensi

Dimensi external environmentsexternal environments; yang didalamnya terdapat lima hal esensial yaitu: (a); yang didalamnya terdapat lima hal esensial yaitu: (a) missionmission and strategy

and strategy; (b); (b) goals goals; (c); (c) means to achieve goalsmeans to achieve goals; (d); (d) measurement measurement ; dan (e); dan (e) correction.correction. Dimensi

Dimensi internal integrationinternal integration yang di dalamnya terdapat enam aspek utama, yaitu : (a)yang di dalamnya terdapat enam aspek utama, yaitu : (a) commoncommon language

(3)

(d)

(d) developing norms of intimacy, friendship, and lovedeveloping norms of intimacy, friendship, and love; (e); (e) reward and punishment reward and punishment ; dan (f); dan (f) explaining and explainable : ideology and religion.

explaining and explainable : ideology and religion. Pad

Pada a bagibagian an lailain, n, EdgEdgar ar SchSchein ein menmengetgetengengahkaahkan n sepsepuluuluh h karkarateaterirististik k budbudaya aya orgorganianisassasi,i, mencakup : (1)

mencakup : (1) observe behavior: observe behavior: langualanguage, ge, customs, traditiocustoms, traditions;ns; (2)(2) groups norms: groups norms: standardstandardss and values;

and values; (3)(3) espoused values: espoused values: publispublished, hed, publipublicly cly announcannounced ed values;values; (4)(4) formal philosophy:formal philosophy: mission;

mission; (5)(5) rules of the game: rules to all in organization;rules of the game: rules to all in organization; (6)(6) climate: climate of group inclimate: climate of group in interaction;

interaction; (7)(7) embedded skills;embedded skills; (8)(8) habits of thinking, acting, paradigms: shared knowledge for habits of thinking, acting, paradigms: shared knowledge for   socialization

 socialization; (9); (9) shared meanings of the group;shared meanings of the group; dandan (10)(10) metaphors or symbols.metaphors or symbols. Semen

Sementara itu, tara itu, Fred Luthan (1995) Fred Luthan (1995) mengetmengetengahkan enam engahkan enam karaktkarakteristeristik ik pentipenting ng dari budayadari budaya organisasi, yaitu : (1)

organisasi, yaitu : (1) obeserved behavioral regularitiesobeserved behavioral regularities;; yakni keberaturan cara bertindak dariyakni keberaturan cara bertindak dari   para anggota

  para anggota yang tampak yang tampak teramteramati. Ketika ati. Ketika anggota organisaanggota organisasi si berinberinterakteraksi si dengan anggotadengan anggota lainnya, mereka mungkin menggunakan bahasa umum, istilah, atau ritual tertentu;

lainnya, mereka mungkin menggunakan bahasa umum, istilah, atau ritual tertentu; (2)(2) normsnorms;; yakni berbagai standa

yakni berbagai standar perilaku yang r perilaku yang ada, termasuk di ada, termasuk di dalamndalamnya tentang pedoman ya tentang pedoman sejausejauh h manamana suatu pekerjaan harus dilakukan; (3)

suatu pekerjaan harus dilakukan; (3) dominant valuesdominant values; yaitu adanya nilai-nilai inti yang dianut; yaitu adanya nilai-nilai inti yang dianut  bersama oleh seluruh anggota organisasi, misalnya tentang kualitas produk yang tinggi, absensi  bersama oleh seluruh anggota organisasi, misalnya tentang kualitas produk yang tinggi, absensi

yang rendah atau efisiensi yang tinggi; (4)

yang rendah atau efisiensi yang tinggi; (4) philosophy philosophy; ; yakni adanya yakni adanya kebijkebijakan-kebakan-kebijakaijakan n yangyang   berke

  berkenaan naan dengan keyakinan organisasi dalam dengan keyakinan organisasi dalam mempermemperlakukalakukan n pelangpelanggan gan dan dan karyakaryawan wan (5)(5) rules

rules; yaitu adanya pedoman yang ketat, dikaitkan dengan kemajuan organisasi (6); yaitu adanya pedoman yang ketat, dikaitkan dengan kemajuan organisasi (6) organizationorganization climate

climate; ; mermerupaupakan kan perperasaasaan an keskeselueluruhruhan an ((an an overoverall all “fe“feelieling”ng”) ) yayang ng tetergrgamambabarkrkan an dandan disampaikan melalui kondisi tata ruang, cara berinteraksi para anggota organisasi, dan cara disampaikan melalui kondisi tata ruang, cara berinteraksi para anggota organisasi, dan cara anggota organisasi memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain

anggota organisasi memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain

Dari ketiga pendapat di atas, kita melihat adanya perbedaan pandangan tentang karakteristik  Dari ketiga pendapat di atas, kita melihat adanya perbedaan pandangan tentang karakteristik   budaya organisasi, terutama dilihat dari segi jumlah karakteristik budaya organisasi. Kendati  budaya organisasi, terutama dilihat dari segi jumlah karakteristik budaya organisasi. Kendati

demikian, ketiga pendapat tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan perbedaan yang prinsipil. demikian, ketiga pendapat tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan perbedaan yang prinsipil. Budaya organis

Budaya organisasi dapat asi dapat dipandadipandang ng sebagasebagai i sebuah sistemsebuah sistem. . Mc Namara Mc Namara (2002) mengemu(2002) mengemukakankakan   ba

  bahwa hwa dildilihaihat t dardari i sissisi i in in putput, , budbudaya organiaya organisassasi i menmencakcakup up umpumpan an balbalik ik ((  fe  feed ed bacback k ) ) dadariri masyarakat, profesi, hukum, kompetisi dan sebagainya. Sedangkan dilihat dari proses, budaya masyarakat, profesi, hukum, kompetisi dan sebagainya. Sedangkan dilihat dari proses, budaya organisasi mengacu kepada asumsi, nilai dan norma, misalnya nilai tentang : uang, waktu, organisasi mengacu kepada asumsi, nilai dan norma, misalnya nilai tentang : uang, waktu, manusia, fasilitas dan ruang. Sementara dilihat dari out put, berhubungan dengan pengaruh manusia, fasilitas dan ruang. Sementara dilihat dari out put, berhubungan dengan pengaruh   b

  bududayaya a ororganganisisasasi i teterhrhadadap ap perperililakaku u ororganganisisasasi, i, teteknknolologogi, i, ststraratetegigi, , imimageage, , prproduoduk k dadann sebagainya.

sebagainya.

Dilihat dari sisi kejelasan dan ketahanannya terhadap perubahan, John P. Kotter dan James L. Dilihat dari sisi kejelasan dan ketahanannya terhadap perubahan, John P. Kotter dan James L. Hes

Hesketkett t (19(1998) 98) memmemililah ah budbudaya aya orgorganianisassasi i menmenjadjadi i ke ke daldalam am dua dua titingkangkatan tan yanyang g berberbedabeda.. Dikemukakannya, bahwa pada tingkatan yang lebih dalam dan kurang terlihat, nilai-nilai yang Dikemukakannya, bahwa pada tingkatan yang lebih dalam dan kurang terlihat, nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu bahkan dianut bersama oleh orang dalam kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu bahkan meskipun anggota kelompok sudah berubah. Pengertian ini mencakup tentang apa yang penting meskipun anggota kelompok sudah berubah. Pengertian ini mencakup tentang apa yang penting dalam kehidupan, dan dapat sangat bervariasi dalam perusahaan yang berbeda : dalam beberapa dalam kehidupan, dan dapat sangat bervariasi dalam perusahaan yang berbeda : dalam beberapa hal orang sangat mempedulikan uang, dalam hal lain orang sangat mempedulikan inovasi atau hal orang sangat mempedulikan uang, dalam hal lain orang sangat mempedulikan inovasi atau kes

kesejaejahtehteraaraan n karkaryawyawan. an. PadPada a titingkangkatan tan ini ini budabudaya ya sansangat gat suksukar ar berberubahubah, , sebsebagiagian an karkarenaena anggota kelompok sering tidak sadar akan banyaknya nilai yang mengikat mereka bersama. Pada anggota kelompok sering tidak sadar akan banyaknya nilai yang mengikat mereka bersama. Pada tingkat yang terlihat, budaya menggambarkan pola atau gaya perilaku suatu organisasi, sehingga tingkat yang terlihat, budaya menggambarkan pola atau gaya perilaku suatu organisasi, sehingga kar

karyawyawan-kan-karyaryawaawan n barbaru u secsecara ara otootomatmatis is terterdordorong ong untuntuk uk menmengikgikuti uti perperilailaku ku sejsejawaawatnytnya.a. Sebagai contoh, katakanlah bahwa orang dalam satu kelompok telah bertahun-tahun menjadi Sebagai contoh, katakanlah bahwa orang dalam satu kelompok telah bertahun-tahun menjadi “pe

“pekerkerja ja kerkeras”as”, , yanyang g lailainnynnya a “sa“sangangat t ramramah ah terterhadhadap ap oraorang ng asiasing ng dan dan lailainnynnya a laglagi i selselalualu mengenakan pakaian yang sangat konservatif. Budaya dalam pengertian ini, masih kaku untuk  mengenakan pakaian yang sangat konservatif. Budaya dalam pengertian ini, masih kaku untuk 

(4)

 berubah, tetapi tidak sesulit pada tingkatan nilai-nilai dasar. Untuk lebih jelasnya lagi mengenai  berubah, tetapi tidak sesulit pada tingkatan nilai-nilai dasar. Untuk lebih jelasnya lagi mengenai

tingkatan budaya ini dapat dilihat dalam bagan 1. tingkatan budaya ini dapat dilihat dalam bagan 1.

Tak Tampak

Tak Tampak ———————————————————————————Suli———————Sulit berubaht berubah  Nilai yang dianut bersama

 Nilai yang dianut bersama : Keyakinan dan tujuan penting yang dimiliki bersama: Keyakinan dan tujuan penting yang dimiliki bersama oleh kebanyakan orang dalam kelompok yang cenderung membentuk perilaku oleh kebanyakan orang dalam kelompok yang cenderung membentuk perilaku kelompok, dan sering bertahan lama, bahkan walaupun sudah terjadi perubahan kelompok, dan sering bertahan lama, bahkan walaupun sudah terjadi perubahan dalam anggota kelompok.

dalam anggota kelompok.

Contoh: para manajer yang mempedulikan pelanggan; eksekutif yang suka dengan Contoh: para manajer yang mempedulikan pelanggan; eksekutif yang suka dengan  pertimbangan jangka panjang.

 pertimbangan jangka panjang.  Norma perilaku kelompok 

 Norma perilaku kelompok : cara bertindak yang sudah lazim atau sudah meresap: cara bertindak yang sudah lazim atau sudah meresap yang ditemukan dalam satu kelompok dan bertahan karena anggota kelompok  yang ditemukan dalam satu kelompok dan bertahan karena anggota kelompok  cenderung berperilaku dengan cara mengajarkan praktek-praktek (juga- nilai-nilai cenderung berperilaku dengan cara mengajarkan praktek-praktek (juga- nilai-nilai yang mereka anut bersama) kepada para anggota baru memberi imbalan kepada yang mereka anut bersama) kepada para anggota baru memberi imbalan kepada mereka yang menyesuaikan dirinya dan menghukum yang

mereka yang menyesuaikan dirinya dan menghukum yang tidak.tidak.

Contoh: para karyawan cepat menanggapi permintaan pelanggan; para menajer  Contoh: para karyawan cepat menanggapi permintaan pelanggan; para menajer  yang sering melibatkan karyawan tingkat bawah dalam pengambilan keputusan. yang sering melibatkan karyawan tingkat bawah dalam pengambilan keputusan. Tampak 

Tampak  —————————————————  ————————————————— Mudah berubahMudah berubah

Bagan 1. Budaya dalam Sebuah Organisasi Bagan 1. Budaya dalam Sebuah Organisasi

(sumber : John P. Kotter. &

(sumber : John P. Kotter. & James L. Heskett, 1998.James L. Heskett, 1998. Corporate Culture and Corporate Culture and  Performance. Performance. (terj(terjBenyamin Molan). Jakarta:Benyamin Molan). Jakarta: PT Prehalindo, h.5)

PT Prehalindo, h.5)

Pada bagian lain, John P. Kotter dan James L. Heskett (1998) memaparkan pula tentang tiga Pada bagian lain, John P. Kotter dan James L. Heskett (1998) memaparkan pula tentang tiga konsep budaya organisasi yaitu : (1) budaya yang kuat; (2) budaya yang secara strategis cocok; konsep budaya organisasi yaitu : (1) budaya yang kuat; (2) budaya yang secara strategis cocok; dan (3) budaya adaptif.

dan (3) budaya adaptif.

Organisasi yang memiliki budaya yang kuat ditandai dengan adanya kecenderungan hampir  Organisasi yang memiliki budaya yang kuat ditandai dengan adanya kecenderungan hampir  semua manajer menganut bersama seperangkat nilai dan metode menjalankan usaha organisasi. semua manajer menganut bersama seperangkat nilai dan metode menjalankan usaha organisasi. Karyawan baru mengadopsi nilai-nilai ini dengan sangat cepat. Seorang eksekutif baru bisa saja Karyawan baru mengadopsi nilai-nilai ini dengan sangat cepat. Seorang eksekutif baru bisa saja di

dikorkorekseksi i ololeh eh babawawahanhannynya, a, seselalain in jujuga ga ololeh eh bobossssnynya, a, jijika ka didia a memelalanggnggar ar nonormrma-a-nonormrmaa organisasi. Gaya dan nilai dari suatu budaya yang cenderung tidak banyak berubah dan organisasi. Gaya dan nilai dari suatu budaya yang cenderung tidak banyak berubah dan akar-akarny

akarnya a sudah mendalam, walaupun sudah mendalam, walaupun terjterjadi adi penggantpenggantian ian manajmanajer. er. Dalam organisasDalam organisasi i dengandengan  bu

 budaydaya a yanyang g kuatkuat, , karkaryawyawan an cencenderderung ung berberbarbaris is menmengikgikuti uti penpenabuh abuh gendgenderaerang ng yanyang g samsama.a.  Nilai-nilai dan perilaku yang dianut bersama membuat orang merasa nyaman dalam bekerja, rasa  Nilai-nilai dan perilaku yang dianut bersama membuat orang merasa nyaman dalam bekerja, rasa komitmen dan loyalitas membuat orang berusaha lebih keras lagi. Dalam budaya yang kuat komitmen dan loyalitas membuat orang berusaha lebih keras lagi. Dalam budaya yang kuat memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan, tanpa harus bersandar pada birokrasi formal memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan, tanpa harus bersandar pada birokrasi formal yang mencekik yang dapat menekan tumbuhnya motivasi dan inovasi.

yang mencekik yang dapat menekan tumbuhnya motivasi dan inovasi. Bu

Budadaya ya yayang ng ststraratetegigis s cocococok k sesecacara ra ekekspsplilisisit t memenynyatatakakan an babahwhwa a ararah ah bubudadaya ya haharuruss menyelaraskan dan memotivasi anggota, jika ingin meningkatkan kinerja organisasi. Konsep menyelaraskan dan memotivasi anggota, jika ingin meningkatkan kinerja organisasi. Konsep utama yang digunakan di sini adalah “kecocokan”. Jadi, sebuah budaya dianggap baik apabila utama yang digunakan di sini adalah “kecocokan”. Jadi, sebuah budaya dianggap baik apabila cocok dengan konteksnya. Adapun yang dimaksud dengan konteks bisa berupa kondisi obyektif  cocok dengan konteksnya. Adapun yang dimaksud dengan konteks bisa berupa kondisi obyektif  dari organisasinya atau strategi usahanya.

dari organisasinya atau strategi usahanya. Bu

Budadaya ya yayang ng adadaptaptif if beberarangngkat kat dadari ri lologigika ka bahbahwa wa hahanynya a bubudadaya ya yayang ng dadapat pat memembmbanantutu organi

organisasi sasi mengantmengantisipisipasi asi dan dan beradapberadaptasi dengan tasi dengan perubaperubahan han lingklingkungan, ungan, akan akan diasosdiasosiasiiasikankan dengan kinerja yang superiror sepanjang waktu. Ralph Klimann menggambarkan budaya adaptif  dengan kinerja yang superiror sepanjang waktu. Ralph Klimann menggambarkan budaya adaptif  ini

ini mermerupaupakan kan sebsebuah uah budabudaya ya dengdengan an pendpendekaekatan tan yanyang g berbersifsifat at siasiap p menmenanganggung gung resresikoiko,,  percaya, dan proaktif terhadap kehidupan individu. Para anggota secara aktif mendukung usaha  percaya, dan proaktif terhadap kehidupan individu. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan ya

yang ng dadapapat t beberfrfunungsgsi. i. AdAda a susuatatu u rarasa sa pepercrcayaya a ((confidenceconfidence) ) yayang ng didimimililiki ki bebersrsamama. a. PaParara anggotanya percaya, tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah anggotanya percaya, tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah   baru dan peluang apa saja yang akan mereka temui. Kegairahan yang menyebar luas, satu   baru dan peluang apa saja yang akan mereka temui. Kegairahan yang menyebar luas, satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi.

(5)

Para anggota ini

Para anggota ini resepreseptif terhadap perubahan dan tif terhadap perubahan dan inovasinovasi. i. RosabRosabeth Kanter eth Kanter mengemmengemukakanukakan   bahwa jenis budaya

  bahwa jenis budaya ini menghargai dan ini menghargai dan mendormendorong kewiraswasong kewiraswastaan, yang taan, yang dapat membantudapat membantu sebuah organisas

sebuah organisasi i beradaberadaptasi dengan ptasi dengan lingkulingkungan ngan yang berubah, yang berubah, dengan memungkinkadengan memungkinkannyannya me

mengingidedentintififikakasi si dan dan memengengeksksplploioitatasi si pepeluluangang-p-peleluauang ng barbaru. u. CoContntoh oh peperurusasahahaan an yayangng mengembangkan budaya adaptif ini adalah

mengembangkan budaya adaptif ini adalah Digital Equipment Corporation Digital Equipment Corporation dengan budaya yangdengan budaya yang mempr

mempromosiomosikan kan inovasinovasi, i, pengambpengambilan ilan resiresiko, ko, pembahpembahasan asan yang yang jujurjujur, , kewirkewiraswastaswastaan, aan, dandan kepemimpinan pada banyak tingkat dalam hierarki.

kepemimpinan pada banyak tingkat dalam hierarki.

B. Proses Pembentukan Budaya Organisasi B. Proses Pembentukan Budaya Organisasi

Selan

Selanjutnyjutnya, a, kita akan kita akan membimembicarakcarakan an tentatentang ng proseproses s terbeterbentuknyntuknya a budaybudaya a dalam organisasdalam organisasi.i. Munculnya gagasan-gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu budaya Munculnya gagasan-gagasan atau jalan keluar yang kemudian tertanam dalam suatu budaya dalam organisasi bisa bermula dari mana pun, dari perorangan atau kelompok, dari tingkat dalam organisasi bisa bermula dari mana pun, dari perorangan atau kelompok, dari tingkat   bawah atau

  bawah atau puncak. Taliziduhu puncak. Taliziduhu NdrahNdraha a (1997) menginvent(1997) menginventarisiarisir r sumbersumber-sum-sumber ber pembenpembentuk tuk   budaya organisasi, diantaranya : (1) pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya  budaya organisasi, diantaranya : (1) pendiri organisasi; (2) pemilik organisasi; (3) Sumber daya

manusia asing; (4) luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan organisasi ( manusia asing; (4) luar organisasi; (4) orang yang berkepentingan dengan organisasi ( stake stake holder 

holder ); dan ); dan (6) masyara(6) masyarakat. Selanjutnkat. Selanjutnya dikemukakan pula ya dikemukakan pula bahwa proses budaya dapat bahwa proses budaya dapat terjterjadiadi dengan cara: (1) kontak budaya; (2) benturan budaya; dan (3) penggalian budaya. Pembentukan dengan cara: (1) kontak budaya; (2) benturan budaya; dan (3) penggalian budaya. Pembentukan  budaya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang sekejap, namun memerlukan waktu dan bahkan  budaya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang sekejap, namun memerlukan waktu dan bahkan  biaya yang tidak sedikit untuk dapat menerima

 biaya yang tidak sedikit untuk dapat menerima nilai-nilai baru dalam organisasi.nilai-nilai baru dalam organisasi. Set

Setelaelah h mapmapan, an, budabudaya ya orgorganianisassasi i sersering ing menmengabgabadiadikan kan dirdirinyinya a daldalam am sejsejumlumlah ah halhal. . CalCalonon anggota kelompok mungkin akan disaring berdasarkan kesesuaian nilai dan perilakunya dengan anggota kelompok mungkin akan disaring berdasarkan kesesuaian nilai dan perilakunya dengan  budaya organisasi. Kepada anggota organisasi yang baru terpilih bisa diajarkan gaya kelompok   budaya organisasi. Kepada anggota organisasi yang baru terpilih bisa diajarkan gaya kelompok  secara eksplisit. Kisah-kisah atau legenda-legenda historis bisa diceritakan terus menerus untuk  secara eksplisit. Kisah-kisah atau legenda-legenda historis bisa diceritakan terus menerus untuk  mengingatkan setiap orang tentang nilai-nilai kelompok dan apa yang dimaksudkan dengannya. mengingatkan setiap orang tentang nilai-nilai kelompok dan apa yang dimaksudkan dengannya. Para manajer bisa secara eksplisit berusaha bertindak sesuai dengan contoh budaya dan gagasan Para manajer bisa secara eksplisit berusaha bertindak sesuai dengan contoh budaya dan gagasan  budaya tersebut. Begitu juga, anggota senior bisa mengkomunikasikan nilai-nilai pokok mereka  budaya tersebut. Begitu juga, anggota senior bisa mengkomunikasikan nilai-nilai pokok mereka secara terus menerus dalam percakapan sehari-hari atau melalui ritual dan perayaan-perayaan secara terus menerus dalam percakapan sehari-hari atau melalui ritual dan perayaan-perayaan khusus.

khusus.

Orang-orang yang berhasil mencapai gagasan-gagasan yang tertanam dalam budaya ini dapat Orang-orang yang berhasil mencapai gagasan-gagasan yang tertanam dalam budaya ini dapat ter

terkenkenal al dan dan dijdijadiadikan kan pahlpahlawaawan. n. ProProses ses alaalamiamiah h daldalam am ideidentintifikfikasi asi dirdiri i dapadapat t menmendordorongong anggota muda untuk mengambil alih nilai dan gaya mentor mereka. Barangkali yang paling anggota muda untuk mengambil alih nilai dan gaya mentor mereka. Barangkali yang paling mendasar, orang yang mengikuti norma-norma budaya akan diberi imbalan (

mendasar, orang yang mengikuti norma-norma budaya akan diberi imbalan (reward reward ) sedangkan) sedangkan yang tidak, akan mendapat sanksi (

yang tidak, akan mendapat sanksi ( punishment  punishment ). Imbalan (). Imbalan (reward reward ) bisa berupa materi atau pun) bisa berupa materi atau pun   promosi jabatan dalam organisasi tertentu sedangkan untuk sanksi (

  promosi jabatan dalam organisasi tertentu sedangkan untuk sanksi ( punishment  punishment ) tidak hanya) tidak hanya diberikan berdasar pada aturan organisasi yang ada semata, namun juga bisa berbentuk sanksi diberikan berdasar pada aturan organisasi yang ada semata, namun juga bisa berbentuk sanksi sosial. Dalam arti, anggota tersebut menjadi

sosial. Dalam arti, anggota tersebut menjadi isolated isolated di lingkungan organisasinya.di lingkungan organisasinya.

Dalam suatu organisasi sesungguhnya tidak ada budaya yang “baik” atau “buruk”, yang ada Dalam suatu organisasi sesungguhnya tidak ada budaya yang “baik” atau “buruk”, yang ada hanyalah budaya yang “cocok” atau “tidak cocok” . Jika dalam suatu organisasi memiliki budaya hanyalah budaya yang “cocok” atau “tidak cocok” . Jika dalam suatu organisasi memiliki budaya yang cocok, maka manajemennya lebih berfokus pada upaya pemeliharaan nilai-nilai- yang ada yang cocok, maka manajemennya lebih berfokus pada upaya pemeliharaan nilai-nilai- yang ada dan perubahan tidak perlu dilakukan. Namun jika terjadi kesalahan dalam memberikan asumsi dan perubahan tidak perlu dilakukan. Namun jika terjadi kesalahan dalam memberikan asumsi dasar yang berdampak terhadap rendahnya kualitas kinerja, maka perubahan budaya mungkin dasar yang berdampak terhadap rendahnya kualitas kinerja, maka perubahan budaya mungkin diperlukan.

diperlukan.

Karena budaya ini telah berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang Karena budaya ini telah berevolusi selama bertahun-tahun melalui sejumlah proses belajar yang telah berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah. Kebiasaan lama akan sulit dihilangkan. telah berakar, maka mungkin saja sulit untuk diubah. Kebiasaan lama akan sulit dihilangkan. Walaupun demikian, Howard Schwartz dan Stanley Davis dalam bukunya

Walaupun demikian, Howard Schwartz dan Stanley Davis dalam bukunya Matching CorporateMatching Corporate Cultu

Culture re and Business and Business StrateStrategygy yang dikutip oleh yang dikutip oleh Bambang Tri Cahyono Bambang Tri Cahyono mengemmengemukakan empatukakan empat alter

(6)

kendalikan disekitarnya; (3) upayakan untuk mengubah unsur-unsur kultur agar cocok dengan kendalikan disekitarnya; (3) upayakan untuk mengubah unsur-unsur kultur agar cocok dengan strategi; dan (4) ubah strategi. Selanjutnya Bambang Tri Cahyono (1996) dengan mengutip strategi; dan (4) ubah strategi. Selanjutnya Bambang Tri Cahyono (1996) dengan mengutip  pemikiran Alan Kennedy dalam bukunya

 pemikiran Alan Kennedy dalam bukunya Corporate CultureCorporate Culture mengemukan bahwa terdapat limamengemukan bahwa terdapat lima alasan untuk membenarkan perubahan budaya secara besar-besaran : (1) Jika organisasi memiliki alasan untuk membenarkan perubahan budaya secara besar-besaran : (1) Jika organisasi memiliki nilai-nilai yang kuat namun tidak cocok dengan lingkungan yang berubah; (2) Jika organisasi nilai-nilai yang kuat namun tidak cocok dengan lingkungan yang berubah; (2) Jika organisasi sangat bersaing dan bergerak dengan kecepatan kilat; (3) Jika organisasi berukuran sangat bersaing dan bergerak dengan kecepatan kilat; (3) Jika organisasi berukuran sedang-sedang saja atau lebih buruk lagi; (4) Jika organisasi mulai memasuki peringkat yang sangat sedang saja atau lebih buruk lagi; (4) Jika organisasi mulai memasuki peringkat yang sangat  besar; dan (5) Jika organisasi kecil tetapi berkembang

 besar; dan (5) Jika organisasi kecil tetapi berkembang pesat.pesat.

Selanjutnya Kennedy mengemukakan bahwa jika tidak ada satu pun alasan yang cocok dengan Selanjutnya Kennedy mengemukakan bahwa jika tidak ada satu pun alasan yang cocok dengan di atas, jangan lakukan perubahan. Analisisnya terhadap sepuluh kasus usaha mengubah budaya di atas, jangan lakukan perubahan. Analisisnya terhadap sepuluh kasus usaha mengubah budaya menunjukkan bahwa hal ini akan memakan biaya antara 5 sampai 10 persen dari yang telah menunjukkan bahwa hal ini akan memakan biaya antara 5 sampai 10 persen dari yang telah di

dihabhabisiskakan n ununtutuk k memengngubaubah h perperililakaku u ororanang. g. MeMeskskipipun un dedemimikikian an mumungngkikin n hahanynya a akaakann didapatkan setengah perbaikan dari yang diinginkan. Dia mengingatkan bahwa hal itu akan didapatkan setengah perbaikan dari yang diinginkan. Dia mengingatkan bahwa hal itu akan memakan biaya lebih banyak lagi. dalam bentuk waktu, usaha dan uang.

memakan biaya lebih banyak lagi. dalam bentuk waktu, usaha dan uang.

C. Pengembangan Budaya Organisasi di Sekolah C. Pengembangan Budaya Organisasi di Sekolah

Dengan memahami konsep tentang budaya organisasi sebagaimana telah diutarakan di atas, Dengan memahami konsep tentang budaya organisasi sebagaimana telah diutarakan di atas, selanjutnya di bawah ini akan diuraikan tentang pengembangan budaya organisasi dalam konteks selanjutnya di bawah ini akan diuraikan tentang pengembangan budaya organisasi dalam konteks  persekolahan. Secara umum, penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak   persekolahan. Secara umum, penerapan konsep budaya organisasi di sekolah sebenarnya tidak   jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Kalaupun terdapat perbedaan  jauh berbeda dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya. Kalaupun terdapat perbedaan mungkin hanya terletak pada jenis nilai dominan yang dikembangkannya dan karakateristik dari mungkin hanya terletak pada jenis nilai dominan yang dikembangkannya dan karakateristik dari   pa

  para ra pendpendukunukungnygnya. a. BerBerkenkenaan aan dendengan gan pendpendukunukung g budbudaya aya orgorganianisassasi i di di seksekolaolah h PauPaul l E.E. Heckman sebagaimana dikutip oleh Stephen Stolp (1994) mengemukakan bahwa “

Heckman sebagaimana dikutip oleh Stephen Stolp (1994) mengemukakan bahwa “the commonlythe commonly held beliefs of teachers, students, and principals

held beliefs of teachers, students, and principals.”.”   Nila

  Nilai-nili-nilai ai yang dikembangkan di yang dikembangkan di sekolsekolah, ah, tentutentunya nya tidak dapat tidak dapat dilepdilepaskan dari askan dari keberakeberadaandaan sek

sekolaolah h itu itu sensendirdiri i sebsebagaagai i orgorganianisassasi i pendpendidiidikankan, , yanyang g memmemililiki iki perperan an dan dan funfungsi gsi untuntuk uk    be

  berusrusaha aha menmengemgembangbangkankan, , melmelestestariarikan kan dan dan mewmewariariskaskan n nilnilai-ai-nilnilai ai budabudaya ya kepkepada ada parparaa sis

siswanywanya. a. DalDalam am hal hal iniini, , LarLarry ry LasLashway (1996) hway (1996) menmenyebyebutkutkan an bahbahwa wa ““ sch  schoolools s are are mormoral al  institutions, designed to promote social norms,

institutions, designed to promote social norms,…” .…” .

 Nilai-nilai yang mungkin dikembangkan di sekolah tentunya sangat beragam. Jika merujuk pada  Nilai-nilai yang mungkin dikembangkan di sekolah tentunya sangat beragam. Jika merujuk pada  pemikiran Spranger sebagaimana disampaikan oleh Sumadi Suryabrata (1990), maka setidaknya  pemikiran Spranger sebagaimana disampaikan oleh Sumadi Suryabrata (1990), maka setidaknya terdapat enam jenis nilai yang seyogyanya dikembangkan di sekolah. Dalam tabel 1 berikut ini terdapat enam jenis nilai yang seyogyanya dikembangkan di sekolah. Dalam tabel 1 berikut ini dikemukakan keenam jenis nilai d

dikemukakan keenam jenis nilai dari Spranger beserta perilaku dasarnya.ari Spranger beserta perilaku dasarnya.

Tabel 1. Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut Spranger  Tabel 1. Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut Spranger 

N

Noo NNiillaaii PeerriillaP akku u DDaassaarr

1

1 IIllmmu u PPeennggeettaahhuuaann BBeerrffiikkiir  r   2

2 EEkkoonnoommii BBeekkeerrjjaa 3

3 KKeesseenniiaann MMeenniikkmmaatti i kkeeiinnddaahhaann 4

4 KKeeaaggaammaaaann MMeemmuujjaa 5

5 KKeemmaassyyaarraakkaattaann BBeerrbbaakkttii//bbeerrkkoorrbbaann 6

6 PPoolliittiikk//kkeenneeggaarraaaann BBeerrkkuuaassaa//mmeemmeerriinnttaahh Sumber : Modifikasi dari Sumadi Suryabrata. 1990.

Sumber : Modifikasi dari Sumadi Suryabrata. 1990. Psikologi Kepribadian Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali.. Jakarta: Rajawali.

Dengan merujuk pada pemikiran Fred Luthan, dan Edgar Schein, di bawah ini akan diuraikan Dengan merujuk pada pemikiran Fred Luthan, dan Edgar Schein, di bawah ini akan diuraikan ten

(7)

regularities;

regularities; (2)(2) norms;norms; (3)(3) dominadominant nt value.value. (4)(4)  philosophy philosophy; (5); (5) rulesrules dan (6)dan (6) organizationorganization climate.

climate. 1.

1. Obeserved behavioral regularitiesObeserved behavioral regularities buday budaya a organiorganisasi di sasi di sekolasekolah h ditanditandai dengan dai dengan adanyaadanya keberaturan cara bertindak dari seluruh anggota sekolah yang dapat diamati. Keberaturan keberaturan cara bertindak dari seluruh anggota sekolah yang dapat diamati. Keberaturan  berperilaku ini dapat berbentuk acara-acara ritual tertentu, bahasa umum yang digunakan  berperilaku ini dapat berbentuk acara-acara ritual tertentu, bahasa umum yang digunakan atau simbol-simbol tertentu, yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh anggota atau simbol-simbol tertentu, yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh anggota sekolah.

sekolah. 2.

2.  Norms Norms; budaya organisasi di sekolah ditandai pula oleh adanya norma-norma yang berisi; budaya organisasi di sekolah ditandai pula oleh adanya norma-norma yang berisi tentang standar perilaku dari anggota sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Standar  tentang standar perilaku dari anggota sekolah, baik bagi siswa maupun guru. Standar    perilaku ini bisa berdasarkan pada kebijakan intern sekolah itu sendiri maupun pada   perilaku ini bisa berdasarkan pada kebijakan intern sekolah itu sendiri maupun pada

kebij

kebijakan akan pemeripemerintah ntah daeradaerah h dan dan pemerpemerintah pusat. intah pusat. StandaStandar r perilperilaku aku siswa terutamsiswa terutamaa   be

  berhurhubungbungan an dendengan gan penpencapacapaian ian hashasil il belbelajaajar r sissiswa, wa, yanyang g akan akan menmenententukan ukan apaapakahkah seorang siswa dapat dinyatakan lulus/naik kelas atau tidak. Standar perilaku siswa tidak  seorang siswa dapat dinyatakan lulus/naik kelas atau tidak. Standar perilaku siswa tidak  hany

hanya a berberkenakenaan an dendengan gan aspaspek ek kogkognitnitif if ataatau u akaakademdemik ik semsemata ata namnamun un menmenyanyangkugkutt seluruh aspek kepribadian. Jika kita berpegang pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, seluruh aspek kepribadian. Jika kita berpegang pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, secara umum standar perilaku yang diharapkan dari tamatan Sekolah Menengah Atas, secara umum standar perilaku yang diharapkan dari tamatan Sekolah Menengah Atas, diantaranya mencakup : (1) Memiliki keyakinan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran diantaranya mencakup : (1) Memiliki keyakinan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran ag

agamama a yayang ng didiananututnynya; a; (2(2)M)Mememililikiki i ninilalai i dadasasar r huhumamaniniorora a untuntuk uk memenenerarapkpkanan kebersamaan dalam kehidupan; (3) Menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik  kebersamaan dalam kehidupan; (3) Menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik  serta beretos belajar untuk melanjutkan pendidikan; (4) Mengalihgunakan kemampuan serta beretos belajar untuk melanjutkan pendidikan; (4) Mengalihgunakan kemampuan akademik dan keterampilan hidup dimasyarakat local dan global; (5) Berekspresi dan akademik dan keterampilan hidup dimasyarakat local dan global; (5) Berekspresi dan men

menghaghargargai i senseni; i; (6) (6) MenMenjagjaga a kebkebersersihaihan, n, keskesehaehatan tan dan dan kebkebugarugaran an jasjasmanmani; i; (7)(7) Berpartisipasi dan berwawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, Berpartisipasi dan berwawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan

dan berberneganegara ra secsecara ara demdemokrokratiatis. s. (De(Depdipdiknasknas, , 20022002). ). SedSedangangkan kan berberkenkenaan aan dengdenganan standar perilaku guru, tentunya erat kaitannya dengan standar kompetensi yang harus standar perilaku guru, tentunya erat kaitannya dengan standar kompetensi yang harus dimiliki guru, yang akan menopang terhadap kinerjanya. Dalam perspektif kebijakan dimiliki guru, yang akan menopang terhadap kinerjanya. Dalam perspektif kebijakan   pe

  pendindidikdikan an nasnasionional, al, pempemerierintah ntah teltelah ah mermerumuumuskaskan n empempat at jenjenis is komkompetpetensensi i gurguruu seb

sebagaagaimaimana na tertercancantum tum daldalam am PenPenjeljelasaasan n PerPeratuaturan ran PemPemerierintantah h No No 14 14 TahTahun un 20052005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu : (1) Kompetensi pedagogik yaitu merupakan tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu : (1) Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik  mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik  unt

untuk uk memengngakaktutualalisisasasikikan an beberbrbagagai ai potpotenensi si yayang ng didimimililikikinynya; a; (2(2) ) KoKompmpetetenensisi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa

dewasa; ; (d) arif (d) arif dan bijaksana; (e) dan bijaksana; (e) berwiberwibawa; (f) bawa; (f) berakhberakhlak lak mulimulia; a; (g) menjadi teladan(g) menjadi teladan   b

  bagagi i pepesesertrta a didididik k dadan n mamasysyararakakatat; ; (h(h) ) memengngevevalaluauasi si kikinenerjrja a sesendndiriri; i; dadan n (i(i)) men

mengemgembanbangkan gkan dirdiri i secsecara ara berberkelkelanjanjutautan; n; (3) (3) KomKompetpetensensi i sossosial ial yaiyaitu tu mermerupakupakanan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tuli

tulisan; san; (b) menggunakan teknologi komunikas(b) menggunakan teknologi komunikasi i dan dan inforinformasi secara masi secara fungsfungsional; (c)ional; (c)   be

  bergargaul ul secsecara ara efeefektiktif f dendengan gan pespeserterta a diddidik, ik, sessesama ama pendpendidiidik, k, tentenaga aga kepkependiendidikdikan,an, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar; dan orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar; dan (4)

(4) KompetKompetensi ensi profeprofesional merupakan kemampuan sional merupakan kemampuan penguaspenguasaan aan matermateri i pembelpembelajaraajarann se

secacara ra luluas as dadan n memendndalalam am yayang ng memelilipuputiti: : (a(a) ) kokonsnsepep, , ststruruktkturur, , dadan n memetotodada keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d)   pe

(8)

secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

nasional. 3.

3.   Dominant values;  Dominant values; jika dihubungkan dengan tantangan pendidikan Indonesia dewasa inijika dihubungkan dengan tantangan pendidikan Indonesia dewasa ini ya

yaititu u tetentntanang g pepencancapapaiaian n mumutu tu pependindididikakan, n, mamaka ka budbudayaya a ororgaganinisasasi si di di sesekolkolahah seyogyanya diletakkan dalam kerangka pencapaian mutu pendidikan di sekolah. Nilai seyogyanya diletakkan dalam kerangka pencapaian mutu pendidikan di sekolah. Nilai dan keyakinan akan pencapaian mutu pendidikan di sekolah hendaknya menjadi hal yang dan keyakinan akan pencapaian mutu pendidikan di sekolah hendaknya menjadi hal yang utama bagi seluruh warga sekolah. Adapun tentang makna dari mutu pendidikan itu utama bagi seluruh warga sekolah. Adapun tentang makna dari mutu pendidikan itu sendiri, Jiyono sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengartikannya sendiri, Jiyono sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengartikannya sebagai gambaran keberhasilan pendidikan dalam mengubah tingkah laku anak didik  sebagai gambaran keberhasilan pendidikan dalam mengubah tingkah laku anak didik  yang dikaitkan dengan

yang dikaitkan dengan tujuatujuan n pendidpendidikan. Sementarikan. Sementara a itu, dalam itu, dalam konteks Manajemkonteks Manajemenen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Depdiknas, 2001), mutu pendidikan meliputi aspek  Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Depdiknas, 2001), mutu pendidikan meliputi aspek  input, proses dan output pendidikan. Pada aspek input, mutu pendidikan ditunjukkan input, proses dan output pendidikan. Pada aspek input, mutu pendidikan ditunjukkan melalui tingkat kesiapan dan ketersediaan sumber daya, perangkat lunak, dan melalui tingkat kesiapan dan ketersediaan sumber daya, perangkat lunak, dan harapan-harapan. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut. harapan. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut. Sedangkan pada aspek proses, mutu pendidikan ditunjukkan melalui pengkoordinasian Sedangkan pada aspek proses, mutu pendidikan ditunjukkan melalui pengkoordinasian dan penyerasian serta pemanduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga dan penyerasian serta pemanduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptak

mampu menciptakan an situasituasi si pembelpembelajaran yang ajaran yang menyemenyenangkan (nangkan (enjoyenjoyable able learnilearning ng ),), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan  peserta didik. Sementara, dari aspek out put, mutu pendidikan dapat dilihat dari prestasi  peserta didik. Sementara, dari aspek out put, mutu pendidikan dapat dilihat dari prestasi sekolah, khususnya prestasi siswa, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. sekolah, khususnya prestasi siswa, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Be

Berbrbicicarara a tetentntanang g upupayaya a memenunumbmbuhuh-ke-kembmbanangkagkan n budbudayaya a mumutu tu di di sesekolkolah ah akakanan mengingatkan kita kepada suatu konsep manajemen dengan apa yang dikenal dengan mengingatkan kita kepada suatu konsep manajemen dengan apa yang dikenal dengan istilah

istilah Total Quality Total Quality ManagemManagement ent (TQM)(TQM),, yanyang g mermerupaupakan kan suasuatu tu pendpendekaekatan tan daldalamam men

menjaljalankaankan n suasuatu tu uniunit t usausaha ha untuntuk uk menmengopgoptimtimalkalkan an daydaya a saisaing ng orgorganianisassasi i melmelalualuii   p

  prarakakarsrsa a peperbrbaiaikan kan teterurus s memenenerurus s atatas as prprododuk, uk, jajasasa, , mamanusnusiaia, , prprososes es kekerjrja, a, dadann lin

lingkungkungangannyanya. . BerBerkaikaitan tan dengdengan an bagbagaimaimana ana TQM TQM dijdijalaalankannkan, , GotGotsch sch dan dan DavDavisis sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa aplikasi TQM sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa aplikasi TQM didasa

didasarkan atas rkan atas kaidahkaidah-kaid-kaidah ah : : (1) Fokus pada (1) Fokus pada pelangpelanggan; (2) gan; (2) obsesobsesi i terhaterhadap dap kualikualitas;tas; (3) pendekatan ilmiah; (4) komitmen jangka panjang; (5) kerjasama tim; (6) perbaikan (3) pendekatan ilmiah; (4) komitmen jangka panjang; (5) kerjasama tim; (6) perbaikan kin

kinerjerja a sissistem tem secsecara ara berberkelkelanjanjutautan; n; (7) (7) dikdiklat lat dan dan penpengemgembangbangan; an; (8) (8) kebkebebasebasanan terkendali; kesatuan tujuan; dan (10) keterlibatan dan pemberdayaan karyawan secara terkendali; kesatuan tujuan; dan (10) keterlibatan dan pemberdayaan karyawan secara opt

optimaimal. l. DenDengan gan menmengutgutip ip pempemikiikiran ran SchScheuieuing ng dan dan ChrChrististophopher, er, dikdikemuemukakkakan an pulpulaa empat prinsip utama dalam mengaplikasikan TQM, yaitu: (1) kepuasan pelanggan, (2) empat prinsip utama dalam mengaplikasikan TQM, yaitu: (1) kepuasan pelanggan, (2) respek terhadap setiap orang; (3) pengelolaan berdasarkan fakta, dan (4) perbaikan secara respek terhadap setiap orang; (3) pengelolaan berdasarkan fakta, dan (4) perbaikan secara ter

terus us menmeneruerus.(s.(SudSudarwarwan an DaniDanim, m, 20022002). ). SelSelanjanjutnutnya, ya, daldalam am konkontekteks s ManManajeajemenmen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Depdiknas (2001) telah memerinci tentang Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Depdiknas (2001) telah memerinci tentang elemen-elemen yang terkandung dalam budaya mutu di sekolah, yakni : (a) informasi kualitas elemen yang terkandung dalam budaya mutu di sekolah, yakni : (a) informasi kualitas ha

harurus s didigungunakakan an untuntuk uk perperbabaikikanan; ; bukbukan an ununtutuk k memengngadiadilili/m/menengongontrtrol ol ororangang; ; (b(b)) kewenangan harus sebatas tanggung jawab; (c) hasil harus diikuti penghargaan (

kewenangan harus sebatas tanggung jawab; (c) hasil harus diikuti penghargaan (reward reward )) atau sanksi (

atau sanksi ( punishment  punishment ); (d) kolaborasi dan sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan); (d) kolaborasi dan sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan  basis kerja sama; (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya; (f) atmosfir   basis kerja sama; (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya; (f) atmosfir 

kead

keadililan an (( fairness fairness) ) harharus us diditatananamkmkan; an; (g(g) ) imimbabal l jajasa sa haharurus s sesepapadan dan dedengangan n ninilalaii  pekerjaannya; dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. Di lain pihak, Jann E.  pekerjaannya; dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. Di lain pihak, Jann E.

Fre

Freed ed et. et. al. al. (19(1997) 97) daldalam am tultulisaisannynnya a tententantangg   A   A CulCulture ture for for AcaAcademidemic c ExcExcellellencence:e:   Im

  Implplememententining g ththe e QuQualalitity y PrPrininciciplples es in in HiHighegher r EdEducaucatitionon. . dadalalamm   ER  ERIC IC DigDigest est  memapa

memaparkan tentang rkan tentang upaya membangun budaya upaya membangun budaya keunggulkeunggulan an akademakademik ik pada pendidikanpada pendidikan tin

tinggiggi, , dengdengan an menmengguggunakanakan n priprinsinsip-prp-prinsinsipip ToTotatal l QuQualalitity y MaMananagemgemenent t , , yyaanngg me

(9)

lea

leadersdershiphip: : creacreatinting g a a qualquality ity culculturturee; ; ((44))   system  systematic atic indivindividual idual develodevelopment pment ; ; ((4)4) deci

decisiosions ns basebased d on on facfact t ; (5); (5) deldelegaegatiotion n of of decdecisiision on makimaking ng ; (6); (6) collaborationcollaboration; (7); (7)  planning for change

 planning for change; dan (8); dan (8) leadership: supporting a quality cultureleadership: supporting a quality culture. Dikemukakan pula. Dikemukakan pula  bahwa “

 bahwa “when the quality principles are implemented holistically, a culture for academicwhen the quality principles are implemented holistically, a culture for academic excellence is created.

excellence is created. Dari pemikiran Jan E.Freed et. al. di atas, kita dapat menarik Dari pemikiran Jan E.Freed et. al. di atas, kita dapat menarik   benang merah bahwa untuk dapat membangun budaya keunggulan akademik atau budaya  benang merah bahwa untuk dapat membangun budaya keunggulan akademik atau budaya

mut

mutu u pendpendidiidikan kan betbetapa apa pentpentingingnya nya kitkita a untuntuk uk dapdapat at menmengimgimplemplementaentasiksikan an priprinsinsip- p- prinsip

 prinsip Total Total QualiQuality ty ManageManagement,ment, dan dan menmenjadjadikaikannynnya a sebsebagaagai i nilnilai ai dan dan keykeyakiakinannan  bersama dari setiap anggota sekolah.

 bersama dari setiap anggota sekolah. 4.

4.  Philosophy Philosophy; budaya organisasi ditandai dengan adanya keyakinan dari seluruh anggota; budaya organisasi ditandai dengan adanya keyakinan dari seluruh anggota organi

organisasi dalam sasi dalam memandmemandang ang tentatentang ng sesusesuatu atu secarsecara a hakikihakiki, , misamisalnya tentang lnya tentang waktu,waktu, ma

manunusisia, a, dadan n sesebabagaigainynya, a, yayang ng didijajadidikakan n sesebabagai gai kekebibijajakakan n ororgaganinisasasisi. . JiJika ka kikitata men

mengadgadopsi opsi filfilosoosofi fi daldalam am dunidunia a bisbisnis nis yanyang g memmemang ang teltelah ah terterbuktbukti i memmemberberikaikann keunggulan pada perusahaan, di mana filosofi ini diletakkan pada upaya memberikan keunggulan pada perusahaan, di mana filosofi ini diletakkan pada upaya memberikan kepuasan kepada para pelanggan, maka sekolah pun seyogyanya memiliki keyakinan kepuasan kepada para pelanggan, maka sekolah pun seyogyanya memiliki keyakinan akan pentingnya upaya untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dalam konteks akan pentingnya upaya untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dalam konteks Manaje

Manajemen men PeninPeningkatan Mutu gkatan Mutu BerbasBerbasis is SekolSekolah, ah, DepdiDepdiknas knas (2001) mengemukak(2001) mengemukakanan   bahwa : “pelanggan, terutama siswa harus merupakan fokus dari semua kegiatan di   bahwa : “pelanggan, terutama siswa harus merupakan fokus dari semua kegiatan di sekolah. Artinya, semua in put – proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya sekolah. Artinya, semua in put – proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik . Konsekuensi logis dari ini semua untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik . Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan in put, proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan adalah bahwa penyiapan in put, proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan siswa.”

sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan siswa.” 5.

5.  Rules Rules; ; budbudaya aya orgorganianisassasi i ditditandandai ai dendengan gan adaadanya nya ketketententuan uan dan dan atuaturan ran maimain n yanyangg mengikat seluruh anggota organisasi. Setiap sekolah memiliki ketentuan dan aturan main mengikat seluruh anggota organisasi. Setiap sekolah memiliki ketentuan dan aturan main tertentu, baik yang bersumber dari kebijakan sekolah setempat, maupun dari pemerintah, tertentu, baik yang bersumber dari kebijakan sekolah setempat, maupun dari pemerintah, yang mengikat seluruh warga sekolah dalam berperilaku dan bertindak dalam organisasi. yang mengikat seluruh warga sekolah dalam berperilaku dan bertindak dalam organisasi. At

Atururan an umumum um di di sesekokolalah h inini i didikemkemas as daldalam am bebentntuk uk tatatata- - tetertrtib ib sesekokolalah h (( school  school  discipline

discipline), di dalamnya berisikan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh), di dalamnya berisikan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh war

warga ga seksekolaolah, h, seksekalialigus gus dildilengengkapi kapi pulpula a dendengan gan ketketententuan uan sansanksiksi, , jikjika a melmelakuakukankan   pelan

  pelanggaranggaran. . Joan Gaustad Joan Gaustad (1992) dalam (1992) dalam tulistulisannya tentangannya tentang School School DisciDisciplinepline yangyang dipublikasikan dalam

dipublikasikan dalam ERIC Digest  ERIC Digest 7878 mengatakan bahwa : “mengatakan bahwa : “ School disciplSchool discipline has ine has twotwo main goals: (1) ensure the safety of staff and students, and (2) create an environment  main goals: (1) ensure the safety of staff and students, and (2) create an environment  conducive to learning.

conducive to learning. 6.

6. Organization climate;Organization climate; budaya organisasbudaya organisasi i ditandditandai ai dengan adanya dengan adanya ikliiklim m organiorganisasi.sasi. Hay Hay   Re

  Resoursources ces DirDirect ect  (2(2003003) ) memengngememukukakakan an babahwhwa a ““oooorgarganinizatzatioional nal clclimimatate e is is ththee  perception of how it feels to work in a particular environment. It is the “atmosphere of   perception of how it feels to work in a particular environment. It is the “atmosphere of 

the workplace” and people’s perceptions of “the way we do things here the workplace” and people’s perceptions of “the way we do things here

Di sekolah terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungannya, Di sekolah terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungannya,  baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan ini akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu  baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan ini akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan kesan dan perasaan tertentu. Dalam hal ini, sekolah harus dapat tersebut sehingga menimbulkan kesan dan perasaan tertentu. Dalam hal ini, sekolah harus dapat menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi setiap anggota menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan bagi setiap anggota sekolah, melalui berbagai penataan lingkungan, baik fisik maupun sosialnya. Moh. Surya (1997) sekolah, melalui berbagai penataan lingkungan, baik fisik maupun sosialnya. Moh. Surya (1997) menyebutkan bahwa:

menyebutkan bahwa: Lin

Lingkungkungan gan kerkerja ja yanyang g konkondusdusif if baibaik k lilingkungkungan ngan fifisiksik, , sossosial ial maumaupun pun psipsikolkologiogis s dapadapatt menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu, menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu, dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak,

(10)

fasilitas dan sebagainya. Demikian pula, lingkungan sosial-psikologis, seperti hubungan antar  fasilitas dan sebagainya. Demikian pula, lingkungan sosial-psikologis, seperti hubungan antar    pribadi, kehidupan kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan, kesempatan   pribadi, kehidupan kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan, kesempatan

untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya. “ untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya. “

Dalam konteks Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS, Depdiknas (2001) Dalam konteks Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS, Depdiknas (2001) mengemukakan bahwa salah satu karakterististik MPMBS adalah adanya lingkungan yang aman mengemukakan bahwa salah satu karakterististik MPMBS adalah adanya lingkungan yang aman dan tertib, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman dan tertib, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning).

(enjoyable learning).

D. Arti Penting Membangun Budaya Organisasi di Sekolah D. Arti Penting Membangun Budaya Organisasi di Sekolah

Pen

Pentintingnygnya a memmembangbangun un budabudaya ya orgorganianisassasi i di di seksekolaolah h terterutautama ma berberkenkenaan aan dengdengan an upaupayaya   p

  penencapcapaiaian an tutujujuan an pependndididikikan an sesekokolalah h dadan n penpeniningkgkatatan an kikinenerjrja a sesekokolalah. h. SeSebabagagaimimananaa disampaikan oleh Stephen Stolp (1994) tentang School Culture yang dipublikasikan dalam ERIC disampaikan oleh Stephen Stolp (1994) tentang School Culture yang dipublikasikan dalam ERIC Diges

Digest, t, dari beberapa hasil dari beberapa hasil studi menunjustudi menunjukkan kkan bahwa budaya bahwa budaya organiorganisasi di sasi di sekolasekolah h berkorberkorelasielasi dengan peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa serta kepuasan kerja dan produktivitas dengan peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa serta kepuasan kerja dan produktivitas gur

guru. u. BegBegitu juga, itu juga, stustudi di yanyang g dildilakuakukan kan LesLeslilie e J. J. FyFyansans, , JrJr. . dan Martidan Martin n L. L. MaeMaehr hr tententantangg  pengaruh dari lima dimensi budaya organisasi di sekolah yaitu : tantangan akademik, prestasi  pengaruh dari lima dimensi budaya organisasi di sekolah yaitu : tantangan akademik, prestasi

kompar

komparatifatif, , pengharpenghargaan gaan terhaterhadap dap prestprestasi, komunitas sekolah, asi, komunitas sekolah, dan dan perseppersepsi si tentatentang ng tujuatujuann sekolah menunjukkan survey terhadap 16310 siswa tingkat empat, enam, delapan dan sepuluh sekolah menunjukkan survey terhadap 16310 siswa tingkat empat, enam, delapan dan sepuluh dari 820 sekolah umum di Illinois, mereka lebih termotivasi dalam belajarnya dengan melalui dari 820 sekolah umum di Illinois, mereka lebih termotivasi dalam belajarnya dengan melalui  budaya organisasi di sekolah yang kuat. Sementara itu, studi yang dilakukan, Jerry L. Thacker   budaya organisasi di sekolah yang kuat. Sementara itu, studi yang dilakukan, Jerry L. Thacker  and William D. McInerney terhadap skor tes siswa sekolah dasar menunjukkan adanya pengaruh and William D. McInerney terhadap skor tes siswa sekolah dasar menunjukkan adanya pengaruh  budaya organisasi di sekolah terhadap prestasi siswa. Studi yang dilakukannya memfokuskan  budaya organisasi di sekolah terhadap prestasi siswa. Studi yang dilakukannya memfokuskan

tentang

tentang new mission statement, goals based on outcomes for students, curriculum alignment new mission statement, goals based on outcomes for students, curriculum alignment  corresponding with those goals, staff development, and building level decision-making 

corresponding with those goals, staff development, and building level decision-making . Budaya. Budaya org

organianisassasi i di di seksekolaolah h jugjuga a memmemiliiliki ki korkorelaelasi si dengdengan an siksikap ap gurguru u daldalam am bekbekerjerja. a. StuStudi di yanyangg dil

dilakuakukan kan Yin Yin CheCheong ong CheCheng ng memmembuktbuktikaikan n bahbahwa wa ““   st  strongronger er schoschool ol culculturtures es had had betbetter ter  mo

motitivavateted d teteacachehersrs. . In In an an enenviviroronmnmenent t wiwith th ststrorong ng ororgaganinizazatitiononal al idideoeolologygy, , shsharared ed   participation, charismatic leadership, and intimacy, teachers experienced higher job satisfaction  participation, charismatic leadership, and intimacy, teachers experienced higher job satisfaction

and increased productivity and increased productivity”.”.

Upaya untuk mengembangkan budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan tugas kepala Upaya untuk mengembangkan budaya organisasi di sekolah terutama berkenaan tugas kepala sekolah selaku leader dan manajer di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah hendaknya mampu sekolah selaku leader dan manajer di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah hendaknya mampu melihat lingkungan sekolahnya secara holistik, sehingga diperoleh kerangka kerja yang lebih melihat lingkungan sekolahnya secara holistik, sehingga diperoleh kerangka kerja yang lebih luas guna memahami masalah-masalah yang sulit dan hubungan-hubungan yang kompleks di luas guna memahami masalah-masalah yang sulit dan hubungan-hubungan yang kompleks di sekolahnya. Melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia sekolahnya. Melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang  penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan belajarnya.

 penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan belajarnya.

Daftar Pustaka Daftar Pustaka

Alan Cowling & Philip James. 1996

Alan Cowling & Philip James. 1996 .The Essence of Personnel Management .The Essence of Personnel Management  and Industrial Relationsand Industrial Relations (terj. Xavier (terj. Xavier  Quentin Pranata)

Quentin Pranata).. Yogyakarta: ANDIYogyakarta: ANDI.. CarterMcNamara

CarterMcNamara.“.“OrOrgaganinizazatitiononal al CuCultlturure” e” ThThe e MaMananagegemement nt AsAssisiststanance ce PrProgograram m fofor r NoNonpnprorofifitsts.. ((http://wwwhttp://www.mapnp.org/librar.mapnp.org/library/orgthry/culture/y/orgthry/culture/culture.htmculture.htm))

Depd

Depdiknasiknas. . 20012001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; B. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; B uku 1 uku 1 KonsKonsep dan ep dan PelaPelaksanaksanaan. Jakarta :an. Jakarta : Direktorat SLTP Dirjen

Direktorat SLTP Dirjen Dikdasmen,Dikdasmen, Fred Luthan. 1995.

Fred Luthan. 1995. Organizational Behavior.Organizational Behavior. Singapore: Singapore: McGraw-HilMcGraw-Hill,Inc.l,Inc. Ha

Hay y GrGrououp. p. 20200303,,. . “In“Intertervenventiotion: n: ManManageageriarial l StyStyle le & & OrgOrganianizatzationional al ClClimaimate te AssAssessessmement”nt”.. (http://(http:// hayresourcesdir

Gambar

Tabel 1. Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut Spranger Tabel 1. Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut Spranger  N
Tabel 1Tabel 1

Referensi

Dokumen terkait

3) Peneliti selanjutnya dapat menggali lagi keterkaitan antara compassion dengan pola asuh orangtua, untuk mengetahui apakah orangtua dengan tingkar compassion

Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara minat belajar terhadap hasil belajar fisika kelas X SMA Negeri

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran proses pengambilan keputusan yang terjadi pada orang yang menjadi misionaris meliputi seluruh tahapan yang dilalui serta

Berdasarkan WHO katarak adalah hilangnya kejernihan lensa kristalin dari mata. Katarak merupakan suatu keadaan kekeruhan yang terjadi pada lensa akibat hidrasi lensa,

Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya melalui Bidang Permukiman berupaya untuk selalu mereview dan memperbaharui status dari Database infrastruktur,

Sejauh ini data mengenai pengukuran morfometrik dan meristik jenis-jenis ikan dikawasan muara sungai sugihan sumatera selatan masih sangat kurang dan belum terdokumentasi

Pada penelitian ini membahas perancangan purwarupa pengendali pintu pagar rumah otomatis dengan menggunakan mikrokontroller arduino dan modul WiFi ESP8266

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek