HIDROGEOLOGI
HIDROGEOLOGI
•
•
Air
Air
••
Daur Hidrologi
Daur Hidrologi
••
Curah Hujan
Curah Hujan
••
Akifer
Akifer
••
Tahap Pemboran Sumur
Tahap Pemboran Sumur
•HIDROGEOLOGI
HIDROGEOLOGI
•
•
Air
Air
•
•
Daur Hidrologi
Daur Hidrologi
••
Curah Hujan
Curah Hujan
••
Akifer
Akifer
••
Tahap Pemboran Sumur
Tahap Pemboran Sumur
•AIR
AIR
•
•
Hidrologi
Hidrologi
aa.. TTeerrjjaaddiinnyyaa b
b.. PPeerreeddaarraannnnyyaa cc.. SSiiffaat ft fiissiikk d
d.. SSiiffaat kt kiimmiiaa e
e.. RReeaakkssii ddeennggaann lliinnggkkuunnggaann
ff.. HHuubbuunnggaann ddeennggaann mmaakkhhlluukk hhiidduupp
•
•
Pe
Pe
nin
nin
gk
gk
at
at
an
an
k
k
ebu
ebu
tuh
tuh
an
an
air
air
•
•
Su
Su
mb
mb
er
er
ai
ai
r ba
r ba
wa
wa
h
h
ta
ta
na
na
h
h
/ ai
/ ai
r ta
r ta
na
na
h
h
aa.. TTeerrjjaaddiinnyyaa b
b.. PPeerrggeerraakkaannnnyyaa cc.. SSiiffaat ft fiissiikk
d
d.. SSiiffaat kt kiimmiiaa
3
3
AIR
•
Kestabilan air tanah terganggu terutama :
a. Daerah pantai b. Daerah perkotaan c. Daerah industri
Hidrogeologi
Pemanfaatan
a. Air minumb. Air rumah tangga c. Air industri
d. Air peternakan
e. Air irigasi / pertanian f. Air usaha pertambangan g. Air untuk kepentingan lain
•
En = E
o
(1±
)
n
Keterangan :
En = Jumlah penduduk setelah n tahun.
(5, 10. 15, 20, 25 tahun mendatang)
E
o
= jumlah penduduk saat ini
z = % pertambahan penduduk /thn
n = tahun yang akan datang
Standar Kebutuhan Air / Hari / Kepala
•
Negara Industri / eropa
: ±200 Lt/hr/kepala
•Pertanian
:
125
–
175
•
Kota
kecil
:
150
–
200
•Kota
Industri
:
200
–
300
•Negara berkembang
: 30
–
50
•Indonesia
: 30
–
40
•Target pemerintah (kota)
: 60
–
80
•Dep. Transmigrasi
: 5
–
10
HIDROGEOLOGI
•Air
•
Daur Hidrologi
•
Curah Hujan
•
Akifer
•
Tahap Pemboran Sumur
DAUR HIDROLOGI
9
Air dalam tanah Presipitasi Kondensasi Penguapan Air permukaan Peresapan air Tanah/batuan berpori
DAUR HIDROLOGI
• Penyebaran air di dunia (Manning, 1987)
Perkiraan jumlah air keseluruhan di bumi : 1.386 juta km³
HIDROGEOLOGI
•Air
•
Daur Hidrologi
•
Curah Hujan
•
Akifer
•
Tahap Pemboran Sumur
Secara kuantitatif daur air digambarkan dalam “Neraca Air” CH = I + R + E + ΔS Keterangan : CH= Curah Hujan (mm) I = Infitrasi (mm) R = Air Limpasan (mm) E = Penguapan (mm) ΔS = Perubahan mat. (mm) • Curah Hujan (CH)
Adalah Jumlah air hujan yang jatuh pada satu satuan luas, dinyatakan dalam mm
• Derajat Curah Hujan atau Intensits Curah Hujan
Penyajian Karakteristik CH Suatu Daerah Menurut Wenner
‘70•
Curah Hujan
•
Temperatur
Cara
–Cara Perhitungan CH
a. Cara Rata
–
rata AljabarP = ( P1+ P2 + . . . + Pn)
Keterangan :
P = CH daerah (mm)
n = Jumlah titik pengamatan
P1 ,P2 ,. . .,Pn = CH ditiap titik pengamatan (mm)
b. Cara Poligon (Thiessen)
A1P1+ A2P2+ . . . + AnPn A1 + A2 + . . . + An
Keterangan :
P = CH daerah
P1 ,P2 ,. . .,Pn = CH ditiap titik pengamatan
A1, A2, . . .,An = Luas daerah pengaruh titik pengamatan = At (Luas daerah total)
c. Cara Isohyet
Garis Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik - titik dengan CH yang sama.
Rumus sama dengan metode poligon Luas : daerah diantara 2 garis Isohyet
CH : hanya rata – rata dari 2 garis Isohyet
17
• Infiltrasi ?
Faktor faktor yang mempengaruhi infiltrasi ?
Pengukuran Infiltrasi :
1. Lysimeter - Baca Buku Suyono “Hidrologi untuk pengairan”
2. Kille - Data Q harian min. Sungai perbulan, tiap 30 data diambil 1 Minimum.
- diurutkan dari yang terkecil sampai dengan terbesar. - n data : 2 = debit rata rata min suatu DAS.
Contoh :
Data hasil pengukuran Suatu DAS dengan luas 10 km2 pada th. 2012, sbb :
INFILTRASI
G = Laju Infiltrasi
= Debit min. Rata rata Luas DAS = 1.5 x 103 = 150 liter/dt.km2 10 = ...mm/thn Q m i n m 3 / d e t i k n/2 Luas DAS : 10Km2
19
INFILTRASI
3. Villinger, 1982. Cara Villinger dapat dihitung dengan urutan sbb : - Data Minimum rata rata bulanan
- Plot data dan tentukan n/2 (urutkan 12 bilangan rata rata) Menjadi Q minimum12
G = Laju Infiltrasi = Q minimum12
Luas DAS
= ... Liter/Detik.Km2
Contoh hasil pengukuran :
INFILTRASI
n/2 Q m i n m 3 / d e t i k G = Laju Infiltrasi = Qmin12 Luas DAS = 6 x 103 = ... liter/dt.km2 10 Luas DAS : 10Km2 R1 R2 R3 R1221
EVAPORASI / EVAPOTRANSPIRASI
• Evaporasi
Penguapan / Evaporasi / Transpirasi / Evapotranspirasi (ET) // Evaporasi : Penguapan dari permukaan air laut dan tanah. Transpirasi : Penguapan oleh tumbuh tumbuhan.
Evapotranspirasi (ET)(mm/waktu(hari/bulan/tahun) : ET pot : Yang seharusnya terjadi.
ET reel : Yang sebenarnya terjadi (nyata/riil).
Faktor faktor yang berpengaruh : 1. Sinar matahari (Sumber Energi)
2. Temperatur udara dan derajat kejenuhan daripada udara. 3. Angin/ Pergerakan udara
EVAPORASI / EVAPOTRANSPIRASI
ET Pot : 1) TURC, 1970 ET Reel = N [0,9 + (N/Jt)2)0,5 Keterangan : N = Jumlah CH/Thn, (mm) Jt = 300 + 25t + 0,05t3, (fs.Suhu)t = Temperatur rata rata Tahunan, (Co) Contoh : Daerah X -N = 647 mm/thn, t = 8,3 Co ET Reel = 647 [0,9 + (647/536,1)2)0,5 = 421,5 mm/thn 2) Dengan Lysimeter
23
EVAPORASI / EVAPOTRANSPIRASI
ET Pot :
1) Thorntwaite
ET Pot = 1,6 (10t/J)a mm/bulan atau mm/tahun
Keterangan :
t = temperatur rata rata bulanan
J = Indeks panas setahun, jumlah daripada 12 bulan, dari angka (t/5)1,514
a = (1,6 x 10-2) J + 0,5
2) Haude, Schendel, Blaney Criddle dll.
LIMPASAN (RUN-OFF)
• Limpasan (Run-off)
Faktor faktor yang berpengaruh :
A. Faktor Meteorologi
- Jenis presipitasi - Intensitas CH
- Lamanya CH - Distribuasi CH dalam daerah pengaliran - Arah pergerakan hujan - CH terdahulu dan kelembaban tanah - Kondisi Lainnya : Suhu, Kecepatan Angin, Dll
B. Faktor Fisik Daerah Pengaliran
- Tata Guna Lahan (land use) - Luas Daerah - Keadaan Topografi - Jenis Tanah
- Karakteristik jaringan (Sungai, Saluran Drainase)
METODE PENAKSIRAN YANG UMUM
• Pendekatan Infiltrasi
Yaitu hanyalah perbedaan antara jumlah (banyaknya) CH dan Infiltrasi • Metode Rasional Q = 0,277 C.I.A Keterangan : Q = Debit (m3/detik) C = Koefisien I = Intensitas CH (mm/jam) A = Luas daerah (Km2)
(Rumus ini dapat digunakan pada aderah dengan luas maksimal 0,8 Km2)
• Rumus rumus Empiris • Metode Statistik
HIDROGEOLOGI
•Air
•
Daur Hidrologi
•
Curah Hujan
•
Akifer
•
Tahap Pemboran Sumur
AKIFER
• Air Tanah : Air pada daerah tak jenuh.
Air pada daerah jenuh
• Pengertian Akifer :
Adalah suatu formasi / kelompok formasi yang terdiri dari material permeabel jenuh air, yang mampu meloloskan air (Kandungan airnya mampu sebagai sumber
mata air atau sumur bor) Dengan kata lain :
Akifer merupakan lapisan batuan atau tanah yang bersifat permeabel dan mempunyai kemampuan untuk menyimpan air serta mengalirkan air dalam jumlah yang berarti.
JENIS JENIS AKIFER
29
• (Didasarkan nilai Permeabilitasnya)
1. Akifer Tertekan (Confined Aquifer)
Adalah lapisan permeable jenuh air yang bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh lapisan kedap. Akibatnya tekanan pada muka air tanah lebih tinggi dari pada tekanan atmosfer.
2. Akifer Setengah Tertekan (Semi Confined Aquifer)/Leaky Aquifer
Adalah lapisan jenuh air, yang pada bagian atas dan bawahnya terdiri dari (dibatasi) oleh lapisan semi permeabel.
3. Akifer Setengah Bebas (Semi Unfonfined Aquifer)
Apabila lapisan semi permeabel yang berada diatas akifer memiliki permeabilitas yang cukup besar, sehingga aliran horizontal pada lapisan tersebut tidak boleh diabaikan.
4. Akifer Bebas (tidak tertekan)
Suatu akifer yang pada bagian atasnya tidak ditutupi oleh lapisan Impermeabel
AKIFER
35
• LAPISAN PEMBATAS (Confined Bed), biasanya terletak diatas dan atau dibawah
akifer
Terdiri dari :
1. Aquifuge :
Lapisan batuan / tanah yang bersifat impermeabel / tidak dapat meloloskan air (tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan dan meloloskan air)
2. Aquiclude :
Lapisan batuan / tanah yang dapat menyimpan air tetapi tidak dapat meloloskan / mengalirkannya.
3. Aquitard :
Merupakan akifer yang secara regional mempengaruhi neraca air tetapi tidak cukup untuk dimanfaatkan
• Tiga tipe Akifer :
Karst Aquifer
Akifer Rekahan
Akifer Pori
• Sifat sifat Akifer:
Porositas (n)
Lapisan tanah yang porous, memiliki ruang – ruang (pori) antara butir butir padatan.
Cairan Pori Isi
Gas / Udara Dapat didefinisikan sebagai perbandingan dari pori terhadap Volume total (%)
AKIFER
37
2 Jenis Porositas :
Porositas Primer
Porositas yang ada pada saat pembentukan batuan.
Porositas Sekunder
Porositas yang dihasilkan dari tekanan tektonik (Retakan retakan saluran).
Permeabilitas (Kelulusan), K
Adalah Sifat Spesifik dari suatu medium padat (Tanah / batuan), untuk meloloskan fluida (Cairan atau gas).
AKIFER
38
Transmisibilitas (Transmisivitas) (T)
Didefinisikan sebagai jumlah air yang mengalir persatuan waktu persatuan lebar akifer.
Coefficient Storage (Keofisien Penyimpanan) (S):
Adalah Volume air yang dilepaskan atau disimpan persatuan luas permukaan akifer persatuan perubahan head pada permukaan tersebut.
HIDROGEOLOGI
•Air
•
Daur Hidrologi
•
Curah Hujan
•
Akifer
•
Tahap Pemboran Sumur
TAHAP PEMBORAN SUMUR
40
• Tahapan Pemboran Sumur Air Tanah:1. Penentuan Lokasi
a) Faktor faktor yang perlu dipertimbangkan
b) Pemetaan Hidrogeologi
c) Pendugaan Potensi Air Tanah
2. Persiapan
a) Perijinan dan Koordinasi
b) Pemilihan Jenis Mesin Bor dan Perlengkapannya
c) Penyiapan dan Trasportasi Peralatan, Material Pemboran
3. Pelaksanaan Pemboran dan Konstruksi Sumur a) Pelaksanaan Pemboran
TAHAP PEMBORAN SUMUR
41
• Diskripsi Conto Cutting
b) Konstruksi Sumur
• Hidrogeologi Lokasi Pemboran • Prosedur Konstruksi
4. Pembersihan dan Penyempurnaan Sumur a) Metode Swab dan Surging
b) Metode Jetting
c) Metode Air Lifting
d) Metode Back Washing
e) Metode Over pumping
5. Finishing
KEBOCORAN / LEAKAGE
42
KEBOCORAN / LEAKAGE
43
HIDROGEOLOGI
•Air
•
Daur Hidrologi
•
Curah Hujan
•
Akifer
•
Tahap Pemboran Sumur
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
45
Tujuan :
• Menentukan Karakteristik Akifer, yaitu :
a) Permeabilitas (K), m/dt
b) Transmisivitas (T), m2/dt, m2/hari
c) Koefisien Penyimpanan (S)
d) Spesific Yield (Sy), untuk akifer tidak tertekan
• Menentukan Karakteristik Sumur, yaitu :
a) Debit Optimum g) Biaya Operasi Sumur b) Penurunan Optimum
c) Well Loss d) Akifer Loss
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
46
Uji Pemompaan ada 2 metode :
1. Uji Pemompaan bertahap (step draw down test) Dilanjutkan Uji Kambuh
B, C, Q Opt, K, T & S Misal :
Tahap I = 2 liter/detik atau 5 liter/detik Tahap II = 3 liter/detik atau 10 liter/detik Tahap III = 4 liter/detik atau 15 liter/detik Tahap II = 5 liter/detik atau 20 liter/detik Tahap II = 6 liter/detik atau 25 liter/detik
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
47
Bila hal diatas tidak tercapai maka perkecil debitnya atau diperbesar bila penurunan terlalu kecil.
2. Uji Pemompaan dengan debit konstan / menerus (Longterm Constant rate test)
Minimal selama 3x24 jam (kondisi tunak tercapai) Dilanjutkan Uji Kambuh
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
48
Data yang direkam atau disimpan dari uji pemompaan :
1. Muka air tanah / pieometrik awal (sebelum pemompaan). 2. Debit pemompaan.
3. Penurunan muka air tanah selama pemompaan ( baik pada sumur yang bersangkutan maupun sumur pengamat).
4. Waktu sejak dimulai pemompaan. 5. Kenaikan muka air tanah kambuhan. 6. Waktu setelah pompa dimatikan. 7. Sifat fisik dan kimiawi air tanah.
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
49
SALAH
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
62
Misal : ∆S = 4,5 m t0 = 4 dt. Q = 10 liter/detik Maka : T = 2,3 Q 4∏∆S = 2,3 x 10.10-3 4 x 3,14 x 4,5 = 4,07 x 10-4 m2/detik T = K.D Atau K = T/D S = (2,25T.t0)/r2 Keterangan : D = Tebal Akifer, m K = Permeabilitas, m/detik T = Transmisivitas, m2/detik ∆S = Penurunan M.A.T, m S = Koefisien Penyimpanan t0 = waktu awalUJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
63
Bila : r1 = 7m r2 = 30m r3 = 140m S = 2,35 x 4,07 x 10-4 x 4 72 = 0,0000747UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
UJI PEMOMPAAN (PUMPING TEST)
WELL LOSS & AKIFER LOSS
WELL LOSS & AKIFER LOSS
67
67
•
• Well LossWell Loss
Penuru
Penurunan muka air nan muka air tanah yang terjadi pada tanah yang terjadi pada sumur pemompaan, terjadi akibat :sumur pemompaan, terjadi akibat :
KKeehhiillaannggaann ttiinnggggii tteekkaann aakkiibbaatt mmeennggaalliirrnnyyaa aaiirr ttaannaahh kkee ddaallaamm ssuummuurr pemompaan.
pemompaan.
PenPenadapadapanan sebagisebagian.an.
AlAliriranan tuturbrbululenen sasaatat aiairr tatananahh memelalaluluii sasariringnganan..
PiPipapa dadann popompmpananyaya sesendndiriri.i.
PePengengerinringangan sebsebagiaagiann kkeciecill akiakifeferr..
AdAdananyaya pepembmbatatasas pepembmbatatasas alalamamii yyanangg adadaa didi akakififerer..
PePengingisiasiann kekembambalili kkedaedalamlam akiakifferer..
Jadi, Well Loss menyatakan karakteristik dari sumur pemompaan tersebut, baik
Jadi, Well Loss menyatakan karakteristik dari sumur pemompaan tersebut, baik
penyadapnya,
WELL LOSS & AKIFER LOSS
68
Menurut Jacob, 1950 :
Sw = BQ + CQ 2 (m)
keterangan :
Sw = Penurunan total yang teramati (m) Q = Debit pemompaan (m3/detik)
C = Well Loss B = Akifer Loss
WELL LOSS & AKIFER LOSS
69
Hubungan antara konstanta Well Loss dengan kondisi sumur pemompaan menurut Walter, 1962 :
WELL LOSS & AKIFER LOSS
71
Contoh perhitungan well loss (Langguth, 1980)
Dari hasil pumping test disuatu daerah diperoleh hasil seperti Tabel dibawah :
Dari tabel dan gambar terlihat bahwa semakin besar sumur itu dipompa, maka well loss akan semakin besar, hal ini perlu mengindikasi bahwa sumur ini harus diperiksa lagi , apakah terdapat penyumbatan baik pada saringan atau pada kerikil
WELL LOSS & AKIFER LOSS
72
Sw / Q = B + CQ
WELL LOSS & AKIFER LOSS
74
Dari pers Jacob.
Sw = BQ + CQ2 ... ( * ) Sw maksimum jika dSw/dQ w = 0
dSw/dQ w =B + 2.CQ = 0 Q w maks = B/-2C
Sw maks = -1/4.B2/C
Dapat digunakan jika harga C ( - ) dan apabila ( + ) untuk mendapatkan Q w maksimum maka pada persamaan ( * ) dimasukkan harga Sw yang boleh terjadi pada sumur tersebut.
WELL LOSS & AKIFER LOSS
75
Pencegahan atau tindak lanjutnya :
Perlu diredevelop atau disempurnakan kembali sumurnya, dengan cara :
• Water Jetting • Over Pumping • Dll
Untuk menghancurkan clogging
Untuk mengatur Gravel pack
Untuk mengambil partikel partikel halus dari screen / formasi
Untuk mengangkut kotoran dari dalam sumur. Faktor Development (Fd)
Fd = (C/B) x 100%
WELL LOSS & AKIFER LOSS
76
Q max & Q opt . Pers. Sichardt :
Q max = 2.∏.re.D.√(K/15) Keterangan :
re = Jari jari efektif = ((r/b)+r3)/2, m D = Tebal Akifer
WELL LOSS & AKIFER LOSS
77
Kapasitas Jenis (Se)
Se = Q/s (m3/detik)/m = (liter/detik)/m
Keterangan
Se = Kapasitas jenis Q = Debit
s = Penurunan Muka Air Tanah Untuk mendapatkan debit optimum dan penurunan optimum digunakan cara :
WELL LOSS & AKIFER LOSS
78
Effisiensi Sumur
Perbandingan antara kapasitas khas secara teoritis (Q/BQ) dengan kapasitas khas yang didapat dari hasil uji dilapangan (Q/s)
E = ((Q/s)/(Q/BQ)) x 100 % E = (BQ/s) x 100 %
Cara lain : Pendekatan
yaitu jika pemompaan setelah 1 jam pemonpaan, 5 menit kemudian ternyata kenaikan air tanah kekeadaan semula sudah mencapai ≥ 90 % maka Sumur tersebut dapat dinyatakan Effisien (Todd.D.K, 1980)