VITKA JMP Volume 02 Nomor 01: 14 – 22 | e-ISSN: 2685-1199 p-ISSN: 2684-7892 ©2020
Original Research
STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN
DI KEPULAUAN RIAU
Environmental Insight Tourism Development Strategy in Riau Islands
Devid Trinaldo Simatupang, M.Par
Manajemen Divisi Kamar,Politeknik Pariwisata Batam, Jl. Gajah Mada, The Vitka City Complex, Tiban Ayu, Sekupang, Batam, Indonesia
INFO ARTIKEL ABSTRACT
Diterima : 17/09/20 Direvisi : 17/09/20 Disetujui : 17/09/20 Tersedia online : 20/09/20 Email korespondensi: [email protected]
VITKA Jurnal Manajemen Pariwisata
www.journal.btp.ac.idThis study aims to find a strategic component in the development of environmentally tourism that is a strategic plan that can be developed for the development of tourism and improve the welfare of the community. This research uses descriptive qualitative research method with reference to the concept of tourism and environmental development. Population in this research is in the form of social situation with the participant that is in it that is Government and stakeholder of tourism, tourist and society. Instruments in this study are observation, and interviews using model coding, interpretation and congratulation. The results of this study indicate that the development of tourism can bring positive and negative impacts. Positive impacts can be seen in the economic improvement of people around the tourist area and also contribute to the acquisition of local revenue. While negative impacts include: air pollution, water pollution, garbage, destruction of historical sites, and land use issues
1
1. PENDAHULUANPariwisata menurut UU No. 9 Tahun 1990 adalah segala seuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan, daya tarik dan atraksi wisata serta usaha-usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Pengertian tersebut meliputi: semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata, sebelum dan selama dalam perjalanan dan kembali ke tempat asal, pengusahaan daya tarik atau atraksi wisata (pemandangan alam, taman rekreasi, peninggalan sejarah, pagelaran seni budaya). Usaha dan sarana wisata berupa: usaha jasa, biro perjalanan, pramu wisata, usaha sarana, akomodasi dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pariwisata.
Beberapa ahli mendefenisikan Pariwisata adalah kepergian orang-orang sementara dalam jangka waktu pendek ke tempat-tempat tujuan di luar tempat tinggal dan pekerjaan sehari-harinya serta kegiatan-kegiatan mereka selama berada di tempat-tempat tujuan tersebut, mencakup kepergian untuk berbagai maksud (Pendit, 2006). Selain itu pariwisata menurut Mulyadi (2009)
The sum total of operation, mainly of an economic nature, which directly relate to the entry, stay and movement of foreigners inside and outside a certain country, city or region. Dari definisi tersebut dapat
diartikan bahwa pariwisata adalah keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan masuk, tinggal, dan pergerakan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota atau wilayah tertentu.
Defenisi pariwisata yang dikemukakan oleh World Tourism Organization (WTO) memfokuskan pada sisi demand dan dimensi spesial,dengan menetapkan dimensi waktu dengan perjalanan yang dilakukan wisatawan yaitu tidak lebih dari satu tahun berturut-turut. (
www.world-tourism.org)
Richardson and fluker (2004)
Tourism comprises the activities or persons,travelling to and staying in place outside their usual environment for not more than one consecutive
year for leisure,bussines and other purpose.
Franklin (2003) Tourism becomes absolutely everyting associable with acts of tourist,or put into it’s proper tantological form “tourism is tour
Pengembangan pariwisata
menurut swarbrooke ( dalam http :
www.scribd.com) merupakan suatu
rangkaian atau upaya untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya pariwisata dan mengintegrasikan segala bentuk aspek di luar pariwisata yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung akan keberlangsungan pariwisata. tujuan sari (2004:7-8) adalah memberikan dampak positif dan keuntungan sebesar-besarnya baik bagi seluruh lapisan dan golongan masyarakat,pemerintah,swasta,maup un bagi wisatawan.keuntungan-keuntungan tersebut diantaranya adalah:
1. Penerimaan devisa dapat di perbesar
2. Memperluas lapangan pekerjaan karena jumlah tenaga kerja yang setiap tahunnya meningkat 3. Memperluas bidang usaha guna
meningkatkan pendapatan masyarakat
4. Mendorong pembangunan daerah.
Pengembangan pariwista mempunyai dampak positif maupun negatif ,maka di perlukan perencanaan untuk mencegah dampak negatif yang di timbulkan ( Spilane 1994:51-62)
Dampak positif yang diambil dari pengembangan pariwisata meliputi :
1. Penciptaan lapangan kerja,dimana pada umumnya pariwisata merupakan industri padat karya dimana tenaga kerja tidak dapat di gantikan dengan modal atau peralatan
2. Sebagai sumber devisa asing
3. Pariwisata dan dan distribusi pembangunan spiritual ,disini pariwisata secara wajar cenderung mendistribusikan pembangunan dari
2
pusat industri ke arah wilayah desa yang belum berkembang,bahkan pariwisata di sadari dapat menjadi pembangunan regional.
Dampak negatif yang di di timbulkan dengan adanya pengembangan pariwisata meliputi :
1. Pariwisata dan vulnerability ekonomi , karena di negara kecil dengan perekonomian terbuka, pariwisata menjadi sumber mudah kena serang atau luka (
Vulnerability),khususnya kalau negara tersebut sangat tergantung dengan pasar asing. 2. Banyak kasus kebocoran sangat
luas dan besar,khusunya kalau proyek-proyek pariwisata berskala besar dan di luar kapasitas perekonomian,seperti barang-barang impor, biaya promosi ke luar negeri,tambahan pengeluaran untuk warga negara sebagai akibat dari penerimaan dan percontohan dari pariwisata dan lainnya
3. Polarasi spasial dari industri pariwisata dimana perusahaan besar mempunyai kemampuan untuk menerima sumber daya modal yang besar dari kelompok besar perbankan atau lembaga keuangan lain,sedangkan perusahan kecil hatus tergantung dari pinjaman atau subsidi dari pemerintah dan tabungan pribadi.hal ini menjadi hambatan dimana terjadi konflik aspasial anatara perusahaan kecil dan besar.
4. Sifat dari pekerjaan dalam industri pariwisata cenderung menerima gaji yang rendah menjadi pekerjaan musiman ,tidak ada serikat buruh.
5. Dampak industri pariwisata terhadap alokasi sumber daya ekonomi industri ini dapat menaikan harga tanah dimana kenaikan harga tanah dapat menimbulkan kesulitan bagi penghuni daerah tersebut yang tidak bekerja di sektor pariwisata yang ingin membangun atau mendirikan rumah di sini.
6. Dampak terhadap lingkungan , bisa berupa polusi udara, air, keramaian lalu lintas dan kerusakan dari pemandangan alam yang tradisonal.
Pengembangan pariwisata harus memperhatikan beberapa prinsip yaitu ( Douglas dan Fandelli 2000):
1. Pengembangan harus sesuai dengan tata ruang
2. Menyesuaikan antara potensi alam dan tujuan pengembangan 3. Sedapat mungkin pengembangan
yang di lakukan mempunyai fungsi ganda dalam arti memberikan keuntungan secara ekonomi dan tidak meninggalkan aspek konservasi
4. Sejauh mungkin tetap mengalokasikan areal untuk tidak di kembangkan.
Kebijakan pengembangan pariwisata mengacu terhadap visi misi pembangunan kepariwisataan nasional yaitu terwujudnya pariwisata indonesia sebagai negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat berdasarkan peraturan pemerintah No 50 tahun 2011 tentang rencana induk pembangunan pariwisata nasional tahun 2010-2025 meliputi :
a. Prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan
b. Orientasi pada upaya peningkatan pertumbuhan , peningkatan kesempatan kerja , pengurangan kemiskinan serta pelestarian lingkungan secara terpadu , lintas sektor, lintas daerah, pelaku dengan mendorong kemitraan sektor publik.
2. KAJIAN PUSTAKA
Defenisi pariwisata Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan Bab I Pasal 1 ; dinyatakan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang kunjungi dalam jangka waktu sementara.
Berdasarkan penjelasan di atas, pada dasarnya wisata mengandung unsur yaitu : (1) Kegiatan perjalanan; (2) Dilakukan secara sukarela; (3) Bersifat sementara; (4) Perjalanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Batasan pariwisata bisa ditinjau
3
dari berbagai sudut pandang dimana belum ada keseragaman sudut pandang. Seperti yang dikemukakan oleh para ahli pada tabel berikut ini :
Tabel 2.1 Pendapat Para ahli dan menurut Undang-undang tentang pariwisata
No. Pendapat Pengertian Pariwisata
1. E. Guyer Freuler dalam Yoeti (1996: 115)
Pariwisata dalam artian modern adalah merupakan phenomena dari jaman sekarang yang didasarkan di atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan menumbuhkan (cinta) terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya
pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyarakat manusia sebagai hasil daripada perkembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan daripada alat-alat pengangkutan 2. H. Oka A. Yoeti
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat yang lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tapi semata-mata untuk menikmati perjalanan guna bertamasya atau rekreasi dan untuk menutupi kebutuhan yang beraneka ragam. Pengertian ini dapat dipahami bahwa unsur pokok dari pariwisata adalah adanya unsur perjalanan, unsur tempat, aktivitas perjalanan, adanya unsur waktu, unsur tempat dan tujuan serta pemenuhan kebutuhan” 3. McIntosh bersama Shaskinant Gupta dalam Oka A.Yoeti (1992:8) Pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah tuan rumah serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan-wisatawan serta para pengunjung lainnya 4. Nyoman S. Pendit (2003:33) Kepariwisataan juga dapat memberikan dorongan langsung terhadap kemajuan kemajuan pembangunan atau perbaikan pelabuhan pelabuhan (laut atau udara), jalan-jalan raya, pengangkutan
setempat,program program kebersihan atau kesehatan, pilot proyek sasana budaya dan kelestarian lingkungan dan sebagainya. Yang kesemuanya dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik bagi masyarakat dalam lingkungan daerah wilayah yang bersangkutan maupun bagi wisatawan pengunjung dari luar. Kepariwisataan juga dapat memberikan dorongan dan sumbangan terhadap pelaksanaan pembangunan proyek-proyek berbagai sektor bagi negara-negara yang telah berkembang atau maju ekonominya, dimana pada gilirannya industri pariwisata merupakan suatu kenyataan ditengah-tengah industri lainnya”. 5. Schulard
dalam Yoeti (1996:114)
Pariwisata adalah sejumlah kegiatan yang dilakukan terutama yang ada kaitannya langsung berhubungan dengan masuknya kegiatan perekonomian secara langsung berhubungan
4
dengan maksudnya, adanya pendiaman dan bergeraknya orang-orang asing yang keluar masuk suatu kota, daerah atau negara” 6. Karyono
(1997:15),
Rangkaian kegiatan yang dilakukan manusia baik secara perorangan maupun kelompok di dalam wilayah negara sendiri atau negara lain 7. Waluyo
(2007)
Usaha jasa pelayanan yang melayani keperluan perjalanan seseorang/kelompok ke destinasi wisata (tourism/travel/industry). 8. Richard Sihite dalam Marpaung dan Bahar ( 2000:46-47)
Suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamsyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam 9. Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setemoat, sesame wisatawan, pemerintah, pemerintah daaerah dan pengusaha.
Sumber : Dikutip Tesis Wa Ode Almira
Berdasarkan beberapa pengertian pariwisata di atas, dapat disimpulkan bahwa
pariwisata adalah “suatu kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih yang diselenggarakan dalam jangka waktu yang pendek dari suatu tempat ke tempat yang lain, dengan maksud untuk bertamasya atau rekreasi”. Selain itu, dapat dikatakan bahwa orang yang melakukan perjalanan dalam berwisata akan memerlukan berbagai barang dan jasa sejak mereka pergi dari tempat asalnya sampai di tempat tujuan dan kembali lagi ke tempat asalnya.
Pariwisata berwawasan lingkungan adalah pariwisata yang menekan dampak negatif pada lingkungan dan budaya lokal ,dengan meningkatkan pendapatan, pekerjaan dan konservasi ekositem setempat hal ini merupakan pariwisata yang bertanggung jawab yang sensisitif terhadap nilai-nilai ekologi dan budaya seperti ecotourism.
Ecotourism atau pariwisata berwawasan lingkungan di sub kategorikan dari pariwisata berkelanjutan (suistainable tourism) atau salah satu segmen pasar berbasis lingkungan alam. pariwisata berbasis lingkungan alam ( pariwisata hutan/ Pariwisata bahari hanya merupakan aktivitas kunjungan ketempat alamiah di hutan, sedangkan ecotourism memberi keuntungan bagi lingkungan,budaya dan ekonomi komunitas lokal dan memberi kontribusi ekonomi bagi masyarakat lokal eco-charge.( Kementrian Pariwisata RI 2015).
Strategi pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan memiliki konsep dengan menghargai daya dukung lingkungan ( Carrying capacity), tanggung jawab sosial dan kesatuam aktifitas pariwisata dengan keinginan masyarakat lokal. Tourism concern ( TC) dan worldwide fond for nature (WWF 2012 ) mendefenisikan pariwisata brwawasan lingkungan adalah sebagai berikut:
a. Pariwisata dengan kapasitas alami untuk regenerasi dan masa depan untuk produktivitas alam ,sosial dan budaya b. Memberikan kontribusi bagi masyarakat
dan komunitas di kawasan tersebut. Dengan berwawasan lingkungan tersebut di harapkan nantinya pariwisata menjadi informasi pengetahuan, mendukung kesatuan ekositem ,memberi keuntungan bagi masyarakat,memeilhara lingkungan dan menghormati budaya serta tradisi lokal.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hal yang di kaji penulis dalam penelitian ini adalah mengenai strategi
5
pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan dengan kerangka berpikir yang merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah di identifikasi masalah yang penting.berikut ini kerangka berpikir penulis :
Gambar 2.1 Kerangka berpikir penulis dalam melakukan penelitian yang meliputi (1) Pemerintah, (2) Pelaku usaha , (3) Masyarakat , (4) Wisatawan ( Hasil Pengamatan 2019)
Penelitian ini di lakukan berdasarkan observasi langsung oleh peneliti langsung di lokasi objek penelitian. Sedangkan, untuk data sekunder, peneliti juga mendapatkan bantuan dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang berkutat di masalah pariwisata yaitu Dinas Pariwisata.
Wawancara, observasi, dan studi dokumentasi adalah berbagai macam cara dan metode yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Dalam rangka pengumpulan data sekunder maka peneliti menggunakan wawancara. Sedangkan dalam rangka pengumpulan data primer, peneliti melakukan observasi langsung dan juga melakukan studi dokumentasi selama beberapa hari di lapangan. Dalam proses ini, peneliti juga melakukan wawancara tidak terstruktur terhadap warga sekitar kawasan wisata. Pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul. Dalam proses pengolahan data ini dilakukan proses pemilahan dan pengelompokan terhadap data yang diperoleh langsung di lapangan serta data sekunder. Hasil dari pengklasisfikasian tersebut kemudian dibuatkan ke dalam narasi data yang untuk kemudian ditarik menjadi kesimpulan. Kesimpulan ini diharapkan akan mewakili perspektif masyarakat, organisasi kelembagaan, wisatawan, dan keseluruhan stakeholder yang terpaut di kawasan tersebut.
4. KESIMPULAN
Dalam mengkaji strategi pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan , perlu dibedakan antara elemen fisik dan non fisik. Elemen fisik yang ada dapat di kuantifikasi seperti aksesbilitas, amenitas, . adapun elemen non fisik meliputi elemen yang tidak dapat di hitung pada umumnya berkaitan dengan sosial budaya masyarakat setempat yaitru cara hidup dan tata nilai dan perilaku.berikut ini adalah hasil analisis strategi pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan:
Tabel 3. Analisis strategi Pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan : ( Sumber : Hasil Pengamatan 2015 )
Berdasarkan hasil pengidentifikasian dan olah data yang dilakukan pada saat peneliti berada di lapangan, terdapat beberapa analisis strategi pariwisata berwawasan lingkungan .Adapun Faktor yang dianalisis adalah empat buah faktor yaitu (1) Konsep Anaslisis SWOT , (2) Pemerintah, (3) Pelaku Pariwisata, dan (4) wisatawan. Faktor-faktor tersebut bisa dikatakan sebagai wujud abstrak dari nilai usaha dalam rangka (1) meningkatkan daya saing dan nilai tambah bagi produk wisata daerah (kawasan destinasi wisata); (2) dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat; serta (3) mengoptimalkan pengelolaan potensi sumber daya pariwisata. Ketiga hal ini
ASPEK PENILAIAN PARIWISATA BERWAWAS AN LINGKUNGA N KETERSE DIAAN KELENGK APAN KONDIS I FISIK AD A TID AK MEM ADAI TID AK B AI K TID AK STRA TEGI Peme rintah V V V Pelak u usaha Pariwi sata V V V Masy arakat V V V Wisat awan V V V Analisis SWOT V V V Rekomendasi V V V
Strategi Pengembangan Pariwis ata Berwawas an Lingk ungan
Pemerintah Pelak u us aha Mas y arak at Wis atawan
Analis is SWOT
Has il Analis is
Kes impulan dan Rek omendas i
6
diharapkan dapat meningkatkan dan menjadikan kawasan tersebut sebagai daerah tujuan wisata berwawasan lingkungan.
Analisis tersebut juga menemukan bahwa faktor-faktor yang ada sebenarnya dapat ditingkatkan melalui peranan sumber daya manusia, regulasi dan mekanisme operasional yang efektif dan efisien dalam rangka mendorong terwujudnya pengembangan sebagai daerah tujuan wisata. Hal ini juga merupakan salah satu bagian dari strategi yang dicanangkan oleh pemerintah daerah terkait dengan strategi pariwisata berwawasan lingkungan.
Dari hasil temuan dan analisis strategi pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan secara keseluruhan dapat disimpulkan dua hal. Kesimpulan yang pertama bahwa secara umum pemahaman dari warga terkait dengan pariwisata masih kurang. Kesimpulan yang kedua adalah bahwa pemahaman terhadap pengembangan pariwisata warga juga masih rendah. Sebagai kawasan destinasi pariwisata semestinya menjadi kawasan yang diunggulkan oleh masyarakat.
Dengan demikian ke depannya akan datang keuntungan baik secara finansial maupun melalui hal lain yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Berbagai macam sosialisasi dan usaha yang gencar dilakukan oleh para pemangku kepentingan terasa belum terpadu dan belum terkoneksi antara satu dan lainnya dengan baik. Sehingga secara langsung jumlah wisatawan yang berkunjung kurang maksimal dan terkesan tidak stabil pertumbuhannya. Padahal sebagai daerah tujuan wisata sudah memiliki potensi untuk berkembang menjadi lebih baik lagi.Ke depannya hal ini dapat ditingkatkan kembali melalui beberapa kegiatan yaitu (1) peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan alam; (2) koordinasi antar lembaga kepariwisataan daerah.(3) Merencanakan konsep Pengembangan berwawasan lingkungan dengan melibatkan lintas sektoral Terkait dengan peningkatan kapasitas sumber daya bisa dilakukan melalui kegiatan pelatihan bagi kelompok sadar wisata. maupun masyarakat secara langsung.
Pelatihan bisa berbentuk pelatihan pemandu (guide) bagi para remaja dan pemuda yang ada. Selain memberikan mereka pendapatan hal ini juga bisa membantu peningkatan kualitas destinasi. Selain itu sumber daya lainnya juga perlu diperbaiki seperti peningkatan amenities bagi wisatawan. Keberadaan rumah makan,
perbaikan sarana berupa penanda (signage) dan juga pembuatan saran informasi lainnya bisa juga meningkatkan kualitas dari kawasan destinasi wisata.Dalam rangka meningkatk an koordinasi antara lembaga kepariwisataan yang ada di kawasan ini bisa dilakukan dengan pelaksanaan berbagai aktivitas seperti melalui pembentukan focus group
discussion, mendukung peran serta asosiasi
pariwisata seperti Assosiasi Travel Agent, Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia, Badan Promosi Pariwisata dan Himpunan Pramuwisata Indonesia untuk pengembangan kawasan tersebut. Dengan adanya koordinasi antar lembaga yang baik bisa saja kedepannya dibuatkan satu paket perjalanan yang saling mendukung. Selain itu, dukungan tersebut bisa saja didorong dalam bentuk promosi kawasan bersama dengan destinasi lainnya di lingkungan Provinsi kepulauan riau.
Hal-hal tersebut apabila dilakukan ke depannya akan menjadi penting dalam rangka membantu sinergisitas antara stakeholder untuk meningkatkan peranan antara stakeholder di kepulauan mentawai. Selain itu konsep pengembangan tersebut dapat didorong melalui intensifikasi dan penekanan atas keterlibatan serta peran dari berbagai institusi yang ada di dalam lingkungan destinasi seperti sekolah atau perguruan tinggi yang bercirikan kepariwisataan, perusahaan swasta dalam bentuk corporate social responsibility secara langsung bagi masyarakat dan juga melalui penyerapan atau pelatihan tenaga kerja putera daerah yang memiliki keahlian atau minat untuk bekerja di bidang pariwisata. Dua, hal-hal ini akan menjadi peningkatan yang lebih berkualitas dalam pembangunan wisata di Propinsi kepulauan riau .
UCAPAN TERIMA KASIH
Dengan terselesaikannya penelitian ini, penulis mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa. atas limpahan karunia dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
2. Ayah dan Ibu penulis tercinta yang senantiasa mendoakan penulis.
3. Yayasan Vitka yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini.
4. Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian ini.
7
DAFTAR PUSTAKAAgung.Yoeti,Oka A (1996) .Pengantar Ilmu Pariwisata.Bandung : angkasa offset
Butler, R. & Hinch, T. (2007). Tourism and
Indigenous People: Issues and Implication.
Amsterdam: Butterworth Heinemann.
Cascante, D.M, Brennan, M.A, & Luloff, A.E. (2010). Community Agency and Sustainable
Tourism Development: The Case La Fortuna of Costarica, Journal Sustainable Tourism, 18
(6), 735– 756.
Cooper, C., Shoprherd, R. & Westlake, J. (1996). Educating the Educators in Tourism:
A Manual of tourism and Hospitality Education. World Tourism Organization: University of Surrey
Cannon, F. D. (2013). Training and Development for the Hospitality Industry. US:
American Lodging
Damardjati, R. S. (2002). Istilah-Istilah Dunia
Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. (2015).
Data Potensi, Kebijak an dan daya Tarik Bidang Destinasi Pariwisata:Propinsi
Kepulauan Riau.
Dodds, R. & Butler, R. (2010). Barries To
Implementing Sustainable Tourism Policy in Mass Tourism Destination. Tourimos: An
International Multidisplinary Journal of Tourism 5(1), Spring 2010. Pp, 35-53
Godfrey, K. & Clarke, J. (2000). The Tourism
development handbook : A pratical Approach To planning and mark eting. London: Continuum.
Gunn, Clare A. (1988). Tourism planning. New York, US
Hadinoto, K. (1996). Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata.
Jakarta: UI Press.
Lawson dan Bovy.1977. Tourism and Recreation Development.Boston.CBI
Publishing company,INC
Marpaung, Happy dan Bahar,Herman (2002).Pengantar Pariwisata: Bandung Mathieson, A. & Wall, G. (1982). Tourism:
Economic, physical, and social impacts.
London and New York: Longman Michele, H. (1999). A Christian View of
Hospitality. Canada: Heral Press
Pitana, I. G., & Diarta, I. K. S. (2009).
Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Poerwadarminta. (2002). Kamus Umum dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka
Richardson,John and Martin Fluker (2004).Understanding and Managing Tourism.Australia: Pearson education.
Soegiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Research & Development. Bandung: Alfabeta
Strauch, A. (1993). The Hospitality Commands. Dallas Texas, US