490
PROSIDING
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata
Suntenjaya Sebagai Community Based Tourism
Nuryah Asri Sjafirah1*, Dian Wardiana Sjuchro2, Heru Ryanto Budiana3
123 Fikom Universitas Padjadjaran, Jl. Raya Bandung Sumedang KM.21, Jatinangor, 45363, Indonesia
[email protected], [email protected], [email protected]
Abstract
The tourism village has distinctive characteristics that make the village possible to become a tourism destination. It also applied in Suntenjaya Village that is known as a Batu Loceng Village (Rock Bell Village) has its own interesting tradition and culture. The development of Suntejaya Tourism Village has its purpose to maintain the local wisdom of the society as well as the nature preservation of the village. However, in its development Batu Loceng Toursim Village experienced obstacles. The disagreement between elderly figures who had first developed of the village cultural tourism with the local government has become one of the obstacles. This condition has resulted that the tourism village program which is already active has to experiencing a vacuum. The Suntenjaya Village is interesting to be studied because the tourism village program that had been run, it is formerly managed by the community. The problem now is, how to regenerate the participation of the community to play an active role in rebuilding Suntenjaya or Batu Loceng as a tourism village. This study aims to determine: How the form of synergy of government and society in the development of Suntenjaya Tourism Village (Batu Loceng) as Community Based Tourism. This study is applied a qualitative approach, with case study method. The data is collected uses in-depth interviews, observation and documentation study. Based on analysis results of these issues, the appropriate strategies required open communication from the government (Local Department of Culture and Tourism and Local Government) and the society that allow a sense of understanding about the concept of tourism village. The appropriate strategy for the development of Suntenjaya tourism village is "Community Based Tourism" which is tourism that is managed and owned by the community for the welfare together by taking into account the three main pillars (environmental, social and economic) that can guarantee its sustainability. The government continues to play a key role as a facilitator that can accommodate and direct the community to manifest the tourism village. Communication is the key word to realize synergy between government and society in resulting of Community Based Tourism.
Keywords : Communication, Community Based Tourism, Tourism Village Abstrak
Desa wisata memiliki karakteristik khas yang memungkinkan untuk menjadi daerah tujuan wisata. Demikian juga dengan Desa Suntenjaya yang dikenal sebagai Desa Batu Loceng memiliki tradisi dan budaya yang menarik. Pengembangan desa wisata Suntenjaya bertujuan untuk menjaga kearifan lokal masyarakat dan kelestarian alam di desa tersebut. Namun dalam perkembangannya desa wisata Batu Loceng mengalami kendala. Ketidaksepahaman antara tokoh kabuyutan yang sudah terlebih dahulu mengembangkan desa wisata budaya
491 dengan pemerintahan desa menjadi salah satu kendala. Kondisi tersebut menyebabkan program desa wisata yang sudah berjalan mengalami kevakuman. Persoalannya bagaimana menumbuhkan kembali partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun kembali Suntenjaya / Batu Loceng sebagai desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Bagaimana bentuk sinergi pemerintah dan masyarakat dalam pengembangan Desa wisata Suntenjaya (Batu Loceng) sebagai Community Based Tourism. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, adapun metode yang digunakan adalah studi kasus, dengan teknik pengumpulan data: wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis terhadap permasalahan tersebut strategi yang tepat diperlukan komunikasi yang terbuka dari pemerintah ( Disbudpar KBB, pemerintahan desa) dan komponen masyarakat yang memungkinkan terjain kesepahaman mengenai konsep desa wisata. Strategi yang tepat untuk pengembangan desa wisata Suntenjaya adalah “Community Based Tourism” yaitu pariwisata yang dikelola dan dimiliki oleh masyarakat untuk kesejahteraan bersama dengan memperhatikan tiga pilar utama yaitu (lingkungan, sosial dan ekonomi) yang dapat menjamin keberlanjutannya (sustainability). Pemerintah tetap memegang peran kunci sebagai fasilitator yang dapat menampung dan mengarahkan masyarakat untuk mewujudkan Desa wisata. Komunikasi merupakan kata kunci untuk mewujudkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Community Based Tourism.
Kata Kunci: Desa Wisata, Komunikasi, Community Based Tourism.
Copyright © 2017 Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. All rights reserved
Pendahuluan
Pariwisata merupakan salah satu sektor penting di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebagai salah satu kabupaten termuda di Jawa Barat. Wilayah Bandung Barat memiliki banyak potensi wisata alam dan wisata budaya. Beberapa kawasan wisata di Kabupaten Bandung Barat masih
menunggu pengembangan lebih lanjut
diantaranya kawasan wisata Desa Suntenjaya/ Batu lonceng. Desa ini merupakan salah satu desa yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata budaya.
Desa wisata tentu memiliki karakteristik khas yang memungkinkan untuk menjadi daerah
tujuan wisata. Demikian juga dengan Desa Suntenjaya yang dikenal juga sebagai Desa Batu Loceng memiliki tradisi dan budaya yang relatif asli. Kondisi ini dapat teramati dari struktur rumah penduduk, makanan khas, sistem pertanian, kesenian, kerajinan, tradisi, ritual, mitos, religi, dan kearifan lokal lainnya. Zebua (2006:36) Desa wisata
adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan
tradisi yang berlaku. Zebua (2016: 37)
menyebutkan dua konsep utama dalam
komponen desa wisata: 1) akomodasi, sebagian dari tempat tinggal para penduduk, 2. Atraksi,
seluruh kehidupan keseharian penduduk
setempat beserta setting fisik lokasi desa. Pengembangan desa wisata Suntenjaya bertujuan untuk menjaga kearifan lokal masyarakat dan kelestarian alam di desa tersebut. Desa wisata ini mengedepankan kearifan lokal dan mengajarkan masyarakatnya etika dan nilai moral seperti gotong royong, toleransi, menjaga dan melestarikan alam, serta
menghargai kebudayaan sendiri dengan
menjaga, alam dan kebudayaan tersebut. Desa wisata ini mulai berkembang karena gagasan
tokoh kabuyutan Batu Loceng (Encang
walyana) pada tahun 2012, Program wisata budaya ini berkembang dengan sokongan dana CSR, program tersebut berhasil menarik minat wisatawan lokal maupun internasional untuk berwisata budaya. Dalam program wisatanya, wisatawan diajak untuk menikmati ragam kesenian, makanan, pertunjukan, pola bercocok tanam, permainan bahkan struktur rumah adat
masyarakat setempat yang masih
mempertahankan kearifan lokal. Namun dalam perkembangannya desa wisata Batu Loceng tersebut mengalami kendala yaitu adanya
492
ketidaksepahaman antara tokoh kabuyutan yang sudah terlebih dahulu mengembangkan desa wisata budaya dengan pemerintahan desa. Kondisi tersebut menyebabkan program desa
wisata yang sudah berjalan mengalami
kevakuman.
Pada tahun 2013 Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Bandung Barat
menyatakan ada 5 (lima) desa wisata yang terdapat di Kabupaten Bandung Barat. Kelima desa tersebut terpilih berdasarkan hasil uji indikator yang ditetapkan konsultan pariwisata. Kelima desa wisata tersebut ialah Desa Rende (Cikalong Wetan), Desa Suntenjaya/ Batu
Loceng (Lembang), Desa Mukapayung
(Cililin), Desa Sirnajaya (Gununghalu) dan Desa Cihanjuang Rahayu (Parongpong). Tentu kelima desa wisata tersebut memiliki potensi budaya dan alam yang berbeda satu sama lain. Desa wisata memiliki keunikan tersendiri yang
memungkinkan untuk menarik minat
wisatawan. Keberadaan desa wisata
memberikan sumbangan besar terhadap
perkembangan sosial, ekonomi dan masyarakat desa. Desa Suntenjaya menarik untuk dikaji karena sebelumnya program desa wisatanya sudah berjalan dan dikelola oleh masyarakat.
Persoalannya bagaimana menumbuhkan
kembali partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membangun kembali Suntenjaya / Batu Loceng sebagai Desa Wisata. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Bagaimana bentuk sinergi pemerintah dan masyarakat dalam pengembangan Desa wisata Suntenjaya (Batu Loceng) sebagai Community Based Tourism?.
Tinjauan Pustaka
Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tat acara dan tradisi yang berlaku ( Zebua,
2016:37). Sedangkan Community Based
Tourism (CBT) menurut World Tourism Organization sebagaimana dikutip Judisseno (
2017:122) : “ The development of sustainable tourism requires the informed participation of all relevant stakeholders, as well as strong political leadership to ensure wide participation and consensus building. Achieving sustainable tourism is a continuous process and it requires constant monitoring of impacts, introducing the necessary preventive and/or corrective measures whenever necessary.
Beberapa kajian terkait dengan
penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Hayu Lusianawati dari Universitas Sahid Jakarta, hasil penelitiannya tertuang dalam Prosiding Konferensi Komunikasi 2016 dengan
judul artikel Perencanaan “Strategis
Komunikasi Pemasaran Wisata bahari (Studi Kasus Pantai Toronipa- Kendari, Sulawesi Tenggara)”. Penelitian ini menggunakan metologi penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam dan
observasi. Menurut hasil penelitian
Lusianawaty, Program pengembangan promosi dan komunikasi destinasi wisata bahari Pantai Tonipa bermanfaat untuk: 1) Terwujudnya daerah tujuan wisata Pantai Tonipa menjadi salah satu destinasi wisata di Sulawesi
Tenggara, 2) Terwujudnya citra positif
pariwisata Pantai Tonapa: terbinanya sumber daya alam, terbinanya sebagai potensi daerah tujuan wisata. 3) Meningkatnya daya Tarik pariwisata Pantai Tonapa bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Selain itu manfaat program pengembangan promosi destinasi wisata bahari bagi stakeholder adalah: 1) bagi pemerintah dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kembali rencana strategis pembangunan pariwisata.
2) bagi masyarakat dapat menjadi penopang ekonomi yang berkelanjutan. 3) Bagi investor dan pihak swasta semakin yakin untuk menginvestasikan bisnisnya di bidang wisata dan lebih kreatif dan inovatif 4) Bagi wisatawan diharapkan dapat lebih mencintai kekayaan alam dan menjadikan wisata bahari sebagi wisata favorit.
493
PenelitianTaufik Suprihatini dari
Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Diponegoro yang ditulis dalam artikel ilmiah dengan judul “Strategi
Mempertahankan Kearifan Lokal Masyarakat
Samin dalam Menghadapi Globalisasi”
(Prosiding
Konferensi Komunikasi 2016 ) Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif. Hasil
penelitian menunjukan bahwa meskipun
masyarakat Samin sekarang ini sudah
mengalami sedikit perubahan dalam bidang pendidikan, KB, sarana transportasi dan hubungan dengan pembangunan seperti harus memiliki agam yang resmi, harus memiliki surat nikah dan sebagainya. Berbekal pada ajaran yang dianutnya, masyarakat Samin bisa tetap hidup rukun dengan warga sekitarnya dan dapat melestarikan lingkungan di sekitarnya.
Penelitian Yuli Eva Dianti dan Thabita Carolina dari Universitas Tulang Bawang yang berjudul “ Promosi Wisata Melalui Kegiatan Festival Krakatau” (Prosiding Konferensi Nasional The
Power of Communication, 2016) Penelitian ini menggunakan studi kasus. Tujuan penelitian yaitu mengetahui aktivitas promosi wisata melalui kegiatan festival Krakatau yang ada di Propinsi Lampung. Hasil penelitian terbukti dengan diadakannya kegiatan Festival Krakatau wisatawan asing dan domestik yang datang semakin bertambah, pembangunan berbagai jenis usaha semakin banyak, peluang tenaga kerja semakin bertambah serta sarana dan prasarana terus diperbaiki agar mempermudah aksesibilitas menuju daerah wisata unggulan. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitataif, adapun metode yang digunakan adalah studi kasus. Mengacu pada pendapat Cresswell (1998:14) penelitian kualitataif adalah penelitian yang latar, tempat dan
waktunya alamiah, peneliti merupakan
instrument pengumpul data dan kemudian data
dianalisisnya secara induktif kemudian
menjelaskan proses yang ditelitiya. Data pada penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah: Encang Walyana ( Ketua kabuyutan Batu Loceng dan ketua RW 10 Desa Suntenjaya), Asep Wahyono ( Kepala Desa Suntenjaya), Ukas Maulana (Kepala Seksi Kemitraan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung Barat), David Oot (Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan objek wisata Disbudpar KBB), Hernandi Tismara (Kepala Seksi Bina Budaya Disbudpar KBB).
Hasil dan Pembahasan
Secara geologis, Batu Loceng
merupakan bagian wilayah purba Bandung. Bila diperhatikan di Desa Suntenjaya ada beberapa batu besar yang terkesan disusun. Berdasarkan pengamatan orang geologi, Batu Loceng ada dalam patahan Lembang. Secara geografis Desa Suntenjaya berbatasan langsung dengan Desa Suka Negara, Cisalak, Subang di sebelah utara, Desa Cimenyan Bandung di sebelah selatan, Desa Cipanjalu, Cilengkrang, Bandung di sebelah timur dan desa Cibodas Lembang di sebelah barat. Luas wilayah desa 357,1 ha yang terdiri dari tanah sawah, tanah kering, tanah hutan, tanah kebun, dan tanah fasilitas umum. Iklim di Desa Suntenjaya dengan suhu rata-rata 20 derajat celcius.
Batu Loceng hanya menjadi ikon, di kawasan desa tersebut ada bat berbentuk loceng (lonceng) yang memiliki banyak mitos dan diyakini masyarakat setempat sebagai batu keramat dan diziarai masyarakat setempat maupun pengunjung. Penamaan tersebut tidak dimaksudkan membuat pengunjung datang untuk menziarahi situs Batu loceng. Encang sebagai ketua kabuyutan Batu Loceng justru merasa khawatir pola ziarah tersebut dapat mendekatkan pada kemusyrikan. Di Suntenjaya
dikembangkan dua pilihan wisata bagi
pengunjung, yakni ke situs Batu loceng/ makam atau ke kabuyutan. Kabuyutan merupakan jejak
494
keturunan yang mendiami Batu Loceng. Menurut tokoh masyarakat setempat, yang pertama kali mendiami kawasan ini adalah Kyai Madhapi atau disebut Lebe Madhapi (seorang ulama) yang diberi tugas Padjadjaran di sini sejak 1901. Rumah yang sekarang menjadi sekretariat kabuyutan merupakan rumah
turun-temurun bagi keluarga Lebe Madhapi,
penghuninya diatur berdasarkan kesepakatan keluarga besar. Sejak 1980an bangunan utama berubah (direnovasi oleh Ayah Pak Encang).
Encangmerupakan keturunan dari Kyai
Madhapi yang diberikan amanah untuk
memimpin kabuyutan. Encang menuturkan tugasnya adalah menyatukan buyut Kyai Madhapi. Kabuyutan ini asalnya sebenarnya dari Ciseureuh Garut, sebagian ke arah Cisitu lama, Kyai Madhapi ke Batu Loceng. Lahan ini pada awalnya adalah lahan Perhutani di Jaman Belanda, pada 1916 ada permohonan ke pemerintah Belanda untuk dibagikan ke warga sebagai kawasan pemukiman dan pertanian dengan status tanah milik.
Pengembangan Batu Loceng sebagai daerah pelestarian budaya sejak 2012, saat itu Encang baru kembali dari perantauan (sejak 1984 Encang meninggalkan Batu Loceng). Pada 2012 Encang memunculkan ide agar warga perlu bersatu lagi. Warga Batu Loceng sesama urang Sunda, wayahna kudu ngahiji da urang teh sadulur. Ide ini timbul dan
dikembangkan ide Kabuyutan. “Sebenarnya pencetus Kabuyutan adalah orang Braga, pengelola Rumah Seni Rofiq. Di sana biasanya
kami berkumpul. Encang mulai
mengembangkan gagasan kawasan kampong budaya sejak 2012. Saat itu dirinya sudah bertindak menjadi pembina yang memberikan kebebasan kepada para seniman untuk berkreasi atau berlatih di sanggar. Terkadang tanpa kehadiran dirinya, proses kreatif terus berjalan. Mengacu pada pengakuan Encang Walyana (ketua kabuyutan Batu Loceng) Pada awalnya Encang mendirikan desa wisata, sebenarnya beberapa fasilitas di sini merupakan bantuan
dari BCA (CSR). Encang berupaya
melestarikan wisata budaya, memfasilitasi ragam keinginan warga, misalnya yang ingin mengembangkan karindingan, tarawangsa dan
lain-lain difasilitasinya. Encang sempat
membawa tim Batu Loceng mengikuti
kompetisi Penata Lingkungan Berbasis
Kearifan Lokal Tingkat Jawa Barat. Pada kompetisi tersebut Desa ini memperoleh juara 1 tahun 2013. Tiga kali jadi finalis, tahun 2013 sukses jadi juara 1. Tiap tahun ada hajat lembur, berbentuk ruwatan desa. Banyak tamu yang hadir dari berbagai daerah di Jawa Barat seperti Ciamis, Indramayu dan lain-lain. Selain itu di Batu Loceng terdapat rumah-ruah tradisional milik masyarakat yang memerlukan dukungan pemerintah untuk melestarikannya. Aspek budaya cukup banyak di Batu Loceng antara lain karinding, tarawangsa, kendang penca, calung, degung sampai wayang. Sanggar ini tiap malam minggu jadi tempat latihan seniman dari Cikole sampai Padalarang ikut berlatih di sini. Walaupun peralatan seadanya, kegiatan tetap berlangsung. Menurut Encang, seni itu merupakan bumbu untuk hiburan tapi yang saya lebih penting adalah penataan lingkungan berbasis kearifan lokal. Anak muda sekarang kurang mengenal istilah bangbarung, golodog, erang-erang, catang hawu, para seuneu. Istilah lingkungan seperti seke, gawir, lamping dan jurang juga udah jarang dikenal lagi, dan ini perlu dilestarikan. Dengan
kekayaan kearifan lokal tersebut, Desa
Suntenjaya sangat potensial menjadi desawisata berbasis kearifan lokal. Menurut pendapat Marpai (2013:34) Kearifan lokal mempunyai cakupan yang lebih luas daripada sekedar
pengetahuan tradisional. Kearifan lokal
merupakan perwujudan, implementasi artikulasi dan pengejawantahan dan bentuk pengetahuan tradisional yang dipahami oleh manusia atau masyarakat yang berinteraksi dengan alam sekitarnya, sehingga kearifan lokal merupakan
pengetahuan kebudayaan yang dimiliki
495
model-model pengelolaan sumberdaya alam secara lestari termasuk bagaimana menjaga hubungan dengan alam melalui pemanfaatan yang bijaksana dan bertanggungjawab.
Batu Loceng kerap dikunjungi turis asing berkat tawaran wisata budayanya. Sejumlah paket wisata budaya seperti kaulinan urang lembur dan fasilitas homestay sempat menarik perhatian turis lokal dan macanegara. Batu Loceng sempat menjadi tempat wisata keluarga Bank Mandiri, sebanyak 200 orang karyawan Bank Mandiri Jakarta menikmati paket kaulinan urang lembur di kebun miliknya. Encang menceritakan, Seorang turis asing yang datang berasal dari Jepang, datang bersama guide merangkap penerjemah untuk belajar berbagai jenis mata air. Turis Jepang tersebut sangat terkesan, bahkan enggan pulang setelah 2 minggu tinggal di Batu Loceng. Setelah kunjungannya, ada warga Batu Loceng yang diajak bekerja oleh turis tersebut sebagai perawat di Jepang. Bagi orang asing, Batu Loceng memiliki kekayaan alam dan budaya yang khas dan berkesan. Sangat disayangkan apabila masih ada orang lokal merasa tidak tertarik melestarikan budaya Sunda.
Turis yang datang ke Batu Loceng saat ini biasanya langsung menghubungi Bapak Encang, bahkan bila ada tamu yang melalui apparat desa setempat, selalu ditunjukkan ke Pak Encang. Encang berharap ke depan ada program bagi anak sekolah yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Harapan ini mulai dirintis salah satunya ada siswa sekolah di kawasan KPAD yang datang berkunjung dengan membawa bibit pohon buah-buahan untuk ditanam di bagian bukit. Setelah 6 bulan, para siswa menengok pohon yang ditanam dan mereka terharu karena pohon yang ditanamnya mayoritas sudah mulai berkembang. SMA 7 Bandung juga sempat melakukan penanaman.
Keinginannya sekarang adalah
memperkenalkan budaya melalui cinta
lingkungan hidup yang berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal kita sudah mengatur wilayah yang perlu ditanami pohon kayu, bambu,
menjadi kolam ikan dan lain-lain bergantung situasi lingkungan.
Namun karena ada sedikit permasalahan dengan pemerintahan desa membuat Encang mundur dari kepengurusan pengelola Desa
Wisata Batu Loceng. Konflik dan
ketidakpuasan beberapa pihak membuat Desa wisata Batu Loceng ini vakum, dan Encang sebagai ketua kabuyutan kemudian memilih untuk mundur karena merasa tidak sepaham
dengan beberapa kebijakan pemerintah
setempat. Perbedaan pendapat mengenai bentuk bentuk pengelolaan ini kemudian menyurutkan langkah perkembangan desa wisata Batu Loceng yang sebelumnya sudah berjalan dengan baik. Di sisi lain ketika tokoh
kabuyutan mengambil langkah mundur,
pemerintah belum bergerak optimal, seperti pernyataan Kepala Desa Suntenjaya “Dari tahun 2015 sebenarnya sudah dicanangkan sebagai desa wisata tapi ternyata pihak kabupaten sepertinya menghendaki masyarakat yang harus bergerak diawal, sekarang baru mau dibangun gapura, padahal masyarakat di sini sudah memiliki antusiasme dan inisiatif dengan berswadaya atau bekerja sama dengan perum
perhutani, tapi tetap saja pembangunan
infrastruktur harus didukung pemerintah
kabupaten”. Dari pernyataan tersebut jelas ada ketidaksepahaman antara pemerinatah setempat dan masyarakat. Lebih lanjut ada ketidakpuasan di kalangan masyarakat desa.
Sementara itu mengutip pernyataan
David Oot ( Kasi Pembinaan dan
Pengembangan Objek Wisata), pembangunan Desa Wisata ini sejalan dengan konsep
pembangunan pariwisata
berkelanjutan. pembangunan pariwisata
berkelanjutan memiliki empat pilar utama yang harus ditaati yaitu 1) ramah lingkungan, 2) terdapat unsur pemberdayaan, 3) peningkatan pendapatan masyarakat dan 4) pelestarian nilai-nilai budaya lokal termasuk di dalamnya
kearifan lokal. Menurut David, dalam
pegelolaan desa wisata, pemerintah hanya
496
seharusnya desa wisata dikelola oleh
masyarakat dan untuk masyarakat desa tersebut.
Pemerintah menetapkan skala prioritas
berdasarkan kajian-kajian, membangun
infrastruktur dan selanjutnya yang bergerak adalah masyarakatnya.
Mengacu pada pernyataan tokoh
kabuyutan Batu Loceng, kepala Desa
Suntenjaya dan pihak Disbudpar, terlihat ada ketidakpuasan pada masing-masing pihak, bahkan cenderung saling menyalahkan. Kondisi ini terjadi kemunginan karena tidak adanya komunikasi yang intensif yang memungkinkan
masing-masing pihak berkomunikasi,
mengemukakan sudut pandangnya dan
menggali sudut pandang pihak lain untuk mewujudkan kembali Desa Wisata Suntenjaya/ Batu Loceng.
Menurut hasil observasi peneliti Desa
Suntenjaya memiliki potensi untuk
mewujudkan konsep desa wisata yang berbasis
potensi masyarakatnya. Kaitan dengan
pemberdayaan masyarakat di Desa Suntenjaya ( Batu Loceng) sebagaimana dipaparkan kepala desa dan tokoh kabuyutan Batu loceng, masyarakatnya sudah memiliki potensi untuk berkreasi dan mengembangkan dirinya, melalui kelompok-kelompok seni, keterampilan dan kearifan lokalyang dimilikinya terkait dengan rumah- rumah penduduk dan sistem bercocok tanam. Apalagi pada awalnya desa wisata Suntenjaya sebelumya pernah berjalan dengan nama dwsa wisata Batu Loceng. Berdasarkan temuan penelitian tersebut yang diperlukan untuk membangiktkan kembali desa wisata batu loceng adalah melakukan musyawarah antara komponen masyarakat, kepala desa, tokoh kabyutan dengan difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di KBB. Melalui komunikasi yang baik antara pihak-pihak terkait diharapkan kesepahaman mengenai konsep desa wisata akan terbentuk kembali.
Berdasarkan permasalahan tersebut
strategi yang tepat untuk pengembangan desa wisata Suntenjaya adalah “Community Based Tourism” yaitu pariwisata yang dikelola dan dimiliki oleh masyarakat untuk kesejahteraan bersama dengan memperhatikan tiga pilar
utama yaitu (lingkungan, sosial dan ekonomi)
yang dapat menjamin keberlanjutannya
(sustainability). Pemerintah tetap memegang peran kunci sebagai fasilitator yang dapat menampung dan mengarahkan masyarakat untuk mewujudkan Desa wisata. Hal ini sejalan dengan pendapat Judisseno (2017: 122) untuk pelaksanaannya kosep Community Based Tourism ini tergantung pada kemampuan pemimpin masyarakat dalam hal ini pemerintah setempat untuk merangkul masyarakat agar
dapat berpartisipasi dalam konteks
pembangunan desa wisata yang berkelanjutan.
Upaya membangkitkan partisipasi
masyarakat di dalam pengembangan Desa Wisata Suntenjaya dapat dimulai melalui beberapa tahapan sesuai dengan pendapat
Sherry R. Arnestein (Judisseno, 2017: 123)
yaitu dengan langkah sebagai berikut:
Pertama Manipulation : Disbudpar KBB dan pemerintahan Desa Suntenjaya berusaha dengan berbagai cara untuk menanamkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam pembangunan Desa wisata Suntenjaya. Pemrintah harus sering blusukan untuk menyerap aspirasi masyarakat desa.
Kedua Therapy: Masyarakat distimualsi untuk mengikuti berbagai program yang diinisisasi oleh pemerintah. Idealnya Disbudpar, pemerintah desa bekerjasama dengan instansi terkait lainnya atau pihak swasta memiliki fokus untuk mengedukasi warganya dengan ragampelatihan, workshop atau mengikutsertakan dalam studi banding sehingga warga masyarakat memiliki peluang untuk menambah wawasan mengenai desa wisata.
Ketiga Informing: Setelah kesadaran tentang partisipasi meningkat, pemerintah menginformasikan kepada masyarakat tentang hak, kewajiban dan tanggung jawabnya dan berbagai opsi yang dapat diterimanya apabila mereka berpartisipasi dalam pembangunan. Situasi ini akan menumbuhkan rasa keterlibatan dan tanggung jawab masyarakat.
497
Keempat Consultation: Masyarakat sudah menunjukan partisipasinya melalui forum konsultasi dalam memamparkan pendapat dan pandangan mereka. Kondisi ini menujukan bahwa pada masing-masing pihak sudah terbangun rasa saling percaya dan saling membutuhkan untuk Bersama- sama membangun desa wisata.
Kelima Placation: Tingkat partisipasi masyarakat bertambah kuat, masyarakat sudah terlibat lebih dan terjun langsung dalam pembangunan pariwisata.
Keenam Partnership: Tingkatan masyarakat yang sudah mampu bernegosiasi dengan pemerintah dalam hal pengambilan keputusan, artinya masyarakat sudah bisa dipercaya untuk mengambil keputusannya sendiri dan bekerjasama dengan pemerintah.
Ketujuh Delegated Power:Setelah proses tersebut berjalan baik maka pendelegasian kewenangan sudah bisa didelegasikan dari pemerintah ke masyarakat.
Kedelapan Citizen Control: Pada akhirnya semua kontrol dan kewenangan untuk mengelola kepariwisataan sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat.
Langkah-langkah tersebut dapat ditempuh oleh pemerintah dalam hal ini Disbudpar KBB dan aparat Desa Suntenjaya untuk membangun kembali kepercayaan antar komponen masyarakat dan
membangkitkan kembali partisipasi dalam menggerakan roda desa wisata. Pengembangan desa wisata Suntenjaya/ Batu loceng sangat mustahil tanpa adanya partisipasi aktif masyarakat, oleh karena itu model pariwisata yang tepat untuk pengembangan desa wisata dalah community based tourism. Sebagaimana diungkapkan Zubaidi (2016:2) pengembangan masyarakat didasari cita-cita bahwa masyarakat bisa dan harus mengambil tanggung jawab dalam merumuskan kebutuhan,
mengusahakankesejahteraan,menangani
sumberdaya dan mewujudkan tujuan. Pengembangan masyarakat diarahkan untuk membangun supportive communities yaitu sebuah struktur masyarakat yang kehidupannya
didasarkan pada pengembangan dan pembagian sumberdaya secara adil serta adanya interaksi sosial, partisipasi, dan upaya saling mendorong antara satu dengan yang lain.
Kesimpulan
Komunikasi merupakan kata kunci untuk mewujudkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan Community
Based Tourism. pelaksanaannya kosep
Community Based Tourism ini tergantung pada kemampuan pemimpin masyarakat dalam hal ini pemerintah setempat untuk merangkul masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam konteks pembangunan desa wisata yang berkelanjutan. Pengembangan desa wisata Suntenjaya diharapkan dapat memberikan multiplier effect yaitu meningkatkan pendapatan asli daerah dan pendapatan masyarakat Suntenjaya. Pada akhirnya desa wisata akan memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan ekonomi desa dan masyarakatnya. Pada akhirnya mengembangkan desa- wisata Suntenjaya/ Batu Loceng dengan warisan budayanya merupakan upaya pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan kearifan lokal di Desa Suntenjaya/ Batu Loceng..
Ucapan Terima Kasih
Kepada Universitas Padjadjaran yang telah mengijinkan dan mendanai penelitian ini sampai selesai
Daftar Pustaka
Creswell, John W.1998. Qualitative Inquary and Research Design Choosing Among Five Traditions. California: Sage Publication Inc.
Judisseno, Rimsky K. 2017. Aktivitas dan
Kompleksitas Kepariwisataan: Mengkaji
Kebijakan Pembangunan Kepariwisataan.
Jakarta: PT. Gramedia.
Marpai, Muh aris. 2013. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
498
Pitana, Gde dan Putu G Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.
Zebua, Manahati. 2016. Inspirasi
Pengembangan Pariwisata Daerah. Yogyakarta: deepublish publisher.
Zubaidi. 2016. Pengembangan Masyarakat:
Wacana & Praktik. Jakarta: Prenadamedia. Prosiding Tantangan Komunikasi Global. 2016.
Tantangan Komunikasi Global.
Prosiding Konferensi Nasional Komunikasi. 2016. Gelanggang Aneka Ragam Perspektif Tantangan Komunikasi.