commit to user 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran pada anak usia dini khususnya pada Taman Kanak- Kanak merupakan tempat yang tepat untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki oleh anak untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan yang dimilikinya seperti: aspek kognitif, bahasa, fisik motorik, dan sosial emosionalnya. Pada masa inilah sering disebut sebagai masa kritis perkembangan, karena saat stimulasi sangat dibutuhkan untuk menstimualsi otak anak. Masa keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, oleh karena itu dimasa inilah anak sebaiknya memperoleh stimulasi yang tepat, karena tanpa adanya stimulasi sel-sel saraf akan musnah lewat proses alamiah, sebagaimana dinyatakan Al-khoiriyah (2013: 4) tentang sistem kerja neuron pada otak, jika otak kita sering digunakan untuk berfikir maka neuron-neuron akan saling berhubungan yang menjadikan otak cenderung akan lebih peka dalam menerima informasi dan memberikan respon pada informasi tersebut.
Proses pembelajaran anak TK masih menjadi permasalahan pendidikan sampai saat ini. Hal ini disebabkan oleh pola pengajaran yang dilakukan kebanyakan TK cenderung menanamkan pembelajaran secara akademik atau calistung (baca, tulis, dan hitung) yang ditanamkan oleh pendidik untuk memahami potensi yang ada pada dalam diri anak. Dalam hal ini anak menjadi objek dan pendidik menjadi subjek dalam proses pembelajaran, anak belum mengerti semua hal sedangkan pendidik mengerti segalanya, pendidik berpikir dan anak dipikirkan, pendidik yang bercerita sedang anak hanya duduk mendengarkan sekaligus membayangkan isi cerita.
Hal tersebut bertentangan dengan hakikat pembelajaran yang tertuang dalam surat edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 (Lampiran 24 hlm. 185) yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia, menyatakan bahwa TK seharusnya hanya menciptakan lingkungan yang kaya dengan beragam bentuk keaksaraan yang
commit to user
akan lebih memacu kesiapan anak didiknya untuk memulai kegiatan calistung (baca, tulis, dan hitung) di tingkat lanjut. Selaras dengan pendapat Ranis (2013) yang berpendapat bahwa pembelajaran calistung belum diperkenalkan kepada anak usia dini dikarenakan pada masa ini anak-anak belum mampu berpikir secara terstuktur sehingga ditakutkan pelajaran tersebut akan membebani anak (hlm. 2). Dengan demikian, tingkat pencapaian pekembangan pada anak usia TK tidak ditujukan untuk pencapian tingkat calistung (baca, tulis, dan hitung), melainkan ditujukan untuk pengembangan potensi aspek – aspek perkembangan yang ada pada diri anak tersebut.
Akan tetapi, bukan berarti anak usia TK tidak boleh diajarkan bidang akademik khususnya berhitung. Hal yang ditekankan adalah pendidik perlu memperhatikan tahapan-tahapan anak dalam belajar berhitung permulaan. Ini berarti kegiatan yang diberikan di TK diharapkan lebih menunjang anak untuk memiliki kesiapan berhitung. Mengingat pentingnya berhitung permulaan dan kenyataan bahwa sampai sekarang masih banyak anak yang mengalami kesulitan dalam belajar berhitung, Moony (Siswono, 2008:5) mengungkapkan sebaiknya belajar berhitung untuk anak usia dini dilakukan melalui permainan dan eksplorasi seperti bercerita, mendengarkan cerita, dan membuat cerita, bernyanyi, permainan imajinatif, maupun bermain peran. Kegiatan kegiatan tersebut lebih menarik dan menyenangkan siswa terlibat dalam aktifitas-aktifitas yang mencakup dunianya.
Simanjuntak, Manurung, dan Matutina, (1993: 64) mengungkapkan bahwa matematika pada umumnya adalah kemampuan berhitung yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang hasilnya dimanfaatkan pada ilmu teknik, arsitek dan musik. Sedangkan matematika di PAUD menurut Moony (Siswono, 2008: 6) adalah kegiatan belajar tentang pengenalan konsep matematika melalui aktifitas bermain dalam kehidupan sehari hari yang dekat dengan anak yang bersifat ilmiah dan menyenagkan.
Dalam kenyataanya, pembelajaran pengenalan matematika pada anak kelompok B Gugus IV Banjarsari Surakarta, masih menggunakan pola pembelajar yang kurang aktif bahkan cenderung membosankan dan tidak
commit to user
menyenangkan bagi anak. Dalam hal ini anak TK hanya diberitahu bukannya mencari tahu, tidak diberikan kegiatan yang merangsang rasa ingin tahu anak dan yang paling berpengaruh adalah ketidak mampuan pendidik untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga hal tersebut mengakibatkan pengembangan berbagai potensi perkembangan anak tidak akan tercapai. Seperti yang dikemukakan Rusman (2013: 326) dalam situasi pembelajaran yang berlangsung karena adanya keterpaksaan dan tekanan, anak merasa akan cepat bosan dan cenderung tidak mau untuk belajar. Apalagi pendidik sebagai motivator pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah, maka suasana pembelajaran akan semakin menyiksa. Oleh karena itu, perlu dipikirkan untuk merancang model pembelajaran yang akan memberikan kesan menyenagkan tersendiri bagi anak dalam belajar.
Menyenangkan dalam hal ini berarti anak berada dalam keadaan yang sangat rileks, sebelum dibawa memasuki pembelajaran pada kegiatan inti. Anak sudah tidak membawa ketegangan dalam dirinya baik fisik maupun non fisik. Keadaan tersebut akan memberikan kenyamanan tersendiri bagi anak dalam belajar yang akan memudahkan jalan bagi anak untuk mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya dalam memahami pembelajaran yang sedang berlangsung. Dalam kondisi tersebut, anak TK mudah menfokuskan diri dan berkonsentarsi pada pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik, situasi belajar akan menjadi kondusif, anak akan kerasan tinggal di kelas dan motivasi belajar akan meningkat yang akhirnya mampu mempengaruhi hasil prestasi pembelajaran anak
Melihat realita kasus di atas pola pemelajaran yang kurang aktif dan cenderung tidak menyenangkan pada awal pembelajaran yang menjadi penyebab anak kurang tertarik serta kurang memperhatikan dan tidak berkonsentari pada pembelajaran selanjutnya, khususnya pada pembelajaran pengenalan matematika permulaan. Anak yang masih belum optimal dalam prestasi hasil belajar pengenalan matematika menjadi faktor utama bagi peneliti untuk mengubah pola pembelajaran yang digunakan.
commit to user
Untuk mengatasi permasalahan tersebut agar tidak berkelanjutan, peneliti mencoba suatu metode yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar anak dalam pembelajaran pengenalan matematika AUD. Metode yang dimaksud adalah pembelajaran menggunakan Brain Gym. Brain Gym menurut Dennison dan Dennison (2008) merupakan serangkaian latihan gerak sederhana, yang mengaktifkan semua bagian otak untuk meningkatkan kemampuan belajar, senam ini mampu memberikan sensasi rileks dan menyenangkan dalam tubuh seseorang, karena dalam keadaan tegang seseorang anak sulit mengoptimalkan kemampuan otaknya dikarenakan otak tersebut sedang kosong.
Hyatt (2007:120) menyatakan Brain Gym juga mampu dilakukan dengan mudah oleh siapa saja segala umur meliputi anak – anak, remaja, dewasa maupun lansia dalam waktu yang singkat, tanpa membutuhkan bahan atau tempat yang khusus, Brain Gym ini juga mampu membantu anak untuk mengoptimalkan kinerja otak mereka, dapat meningkatkan konsentrasi anak saat pembelajaran berlangsung, mengurangi stres bagi anak yang mengalami kesulitan belajar, menajamkan penerimaan informasi sehingga anak berminat dalam pembelajaran. Selanjutnya, menurut Gunawan (2007: 207) bahwa Brain Gym bisa juga dilakukan untuk menyegarkan fisik dan pikiran anak setelah menjalani proses pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi tinggi yang mengakibatkan kelelahan pada otak anak.
Studi lain yang dilakukan Nussbaum (2010) menunujukan bahwa gerakan – gerakan dalam brain gym dapat meningkatkan dan memperbaiki kempuan membaca dan kecakapan matematika anak. Selain itu, gerakan brain gym mampu mengurangi prilaku-prilaku yang kurang baik seperti prilaku agresi, hiperaktif, kurang perhatian, depresi, kecemasan, dan somatisasi. Brain gym juga dapat meningkatkan kemampuan beradaptasi, keterampilan bersosialisai anak, dan melatih kepemimpinan anak.
Melihat dari penjelasan di atas Brain Gym ini sangat baik dilakukan pada kegiatan awal proses pembelajaran pada anak TK terlebih lagi bila diiringi dengan lagu atau musik yang bersifat riang dan gembira. Pada
commit to user
awalnya anak akan merasa nyaman dan senang, sehingga anak akan berkonsentrasi dan sudah siap pada pembelajaran inti yang akan diberikan oleh pendidik. Sehingga memudahkan anak memahami dan memfokuskan diri pada pembelajaran yang berakibat pada hasil prestasi pembelajaran anak yang meningkat.
Dari permasalahan di atas, peneliti tertarik ingin mengkaji seberapa besar efektifitas Brain Gym terhadap hasil pembelajaran pengenalan matematika anak usia dini. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “Efektifitas Brain Gym Terhadap Hasil
Pembelajaran Pengenalan Matematika pada Anak Kelompok B TK se-Gugus IV Kecamatan Banjarsari Surakarta Tahun 2013/2014”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas dapat diidentifikasikan masalah pada penelitian ini kebanyakan TK di Gugus IV kecamatan Banjarsari masih menerapakan kegiatan yang kurang menyenangkan yang masih membuat anak tidak fokus pada awal kegiatan terutama pada bagian apersepsi yang mempengaruhi kesiapan anak untuk menerima pembelajaran yang berikutnya, sehingga secara berkelanjutan menyebapkan hasil pembelajaran pengenalan matematika rendah.
C. Pembatasan Masalah
Untuk mempermudah dan menambah kejelasan dalam penelitian ini, maka perlu adanya pembatasan masalah. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka batasan masalah dalam penelitian ini subjek penelitianya diabatasi pada anak kelompok B TK se-gugus IV Kecamatan Banjarsari Surakarta tahun 2013/2014. Objek penelitian dibatasi dengan menggunakan Brain Gym. Dalam kelompok eksperimen diberikan perlakuan Brain Gym pada saat kegiatan awal dan pada kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan Brain Gym.
commit to user
D. Rumusan Masalah
Berpedoman pada latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah yang dikemukakan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat efektifitas penggunaan Brain gym terhadap hasil pembelajaran pengenalan matematika pada anak kelompok B TK se-gugus IV Kecamatan Banjarsari Surakarta tahun 2013/2014 ?
2. Seberapa besar efektifitas penggunaan Brain gym terhadap hasil pembelajaran pengenalan matematika pada anak kelompok B TK se-gugus IV Kecamatan Banjarsari Surakarta tahun 2013/2014 ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini antara lain untuk:
1. Mengetahui adanya efektifitas brain gym terhadap hasil pembelajaran pengenalan matematika pada anak kelompok B TK se-gugus IV Kecamatan Banjarsari Surakarta tahun 2013/2014.
2. Mengetahui seberapa besar efektifitas brain gym terhadap hasil pembelajaran pengenalan matematika pada anak kelompok B TK se-gugus IV Kecamatan Banjarsari Surakarta tahun 2013/2014.
F. Manfaat Penelitian
Berlandaskan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas, manfaat penelitian dapat di tinjau dari dua aspek yakni aspek teoritis dan aspek praktis, manfaat dari masing-masing aspek sebagi berikut :
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini dapat dijadikan refrensi sebagai peningkatan kualitas pembelajaran dalam penerapan brain gym untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran pengenalan matematika pada anak usia dini
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang.
commit to user
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Anak
1.) Mampu untuk meningkatkan hasil pembelajaran anak khusunya terhadap pembelajaran pengenalan matematika.
2.) Memberikan kesempatan untuk memusatkan perhatian dan lebih senang dalam kegiatan pembelajaran.
b. Bagi Pendidik.
1.) Menciptakan suasana pemebelajaran yang menarik, menyenangkan dan berkualitas.
2.) Dengan penelitian ini pendidik dapat meningkatkan pembelajaran yang inovatif dalam pendidikan melalui gerakan brain gym pada pembelajaran pengenalan metematika anak.
c. Bagi Lembaga
1.) Memberikan sumbangan yang positif dalam rangka memperbaiki pembelajaran pengenalan matematika pada anak usia dini.
2.) Memberikan masukan bagi lembaga pendidikan untuk berperan aktif melaksanakan pembelajaran yang aktif dan inovatif.