• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bovidae didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar yaitu Bos javamicus/bibos banteng atau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bovidae didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar yaitu Bos javamicus/bibos banteng atau"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi Bali

Menurut Aafls (1934) yang dikutip oleh Meijer (1962), sapi bali yang berasal dari famili Bovidae didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar yaitu Bos javamicus/Bibos banteng atau Bos sondaicus. Menurut Meijer (1962) domestikasi banteng kemungkinan besar terjadi di Bali atau di Jawa. Dugaan ini juga dikemukakan oleh Slijper (1954) yang melaporkan bahwa sapi bali adalah hasil domestikasi banteng liar yang ada di Bali. Oleh karena itu disebut sapi bali. Ciri yang paling khas dari sapi bali adalah rambut berwarna merah bata dan hitam (untuk sapi bali jantan dewasa). Ciri lainnya adalah warna putih pada empat kaki bagian bawah, mulai dari daerah tarsus dan karpus ke bawah. Warna putih juga terdapat pada daerah pantat, bibir atas dan bibir bawah. Sapi jantan berwarna merah bata dan akan berubah menjadi kehitaman pada umur 12-18 bulan. Sapi betina berwarna merah bata, di daerah punggung terdapat garis belut berwarna hitam, dan warna hitam terdapat pula pada bagian ekor dan tanduk. Tanduk berbentuk runcing dan melengkung ke arah tengah (Julia, 2010). Sapi bali berwarna tidak umum juga kerap ditemukan seperti sapi putih, sapi injin, sapi tutul, sapi panjut, sapi bang dan sapi cundang (Batan, 2002).

Petani di Bali sudah begitu dekat dengan sapi bali sejak ratusan tahun yang silam. Mereka memelihara sapi tersebut untuk beberapa tujuan seperti : membantu saat mengerjakan tanah/sawahnya, sebagai tabungan yang sewaktu-waktu bisa dijual apabila mereka memerlukan

(2)

uang, dan juga sering digunakan dalam beberapa upacara adat/agama Hindu di Bali (Tim Pusat Kajian Sapi Bali UNUD, 2012)

2.2 Karakteristik Indukan Sapi Bali

Sapi betina berwarna merah bata, di daerah punggung terdapat garis belut berwarna hitam, dan warna hitam terdapat pula pada bagian ekor dan tanduk (Pusat Kajian Sapi Bali, 2012). Sapi bali adalah sapi terbaik di antara sapi-sapi lokal lainnya, karena kemampuan sapi bali beranak setiap tahun (Nuna, 2009). Sesudah seekor sapi betina mencapai estrus, maka untuk pertama kalinya berahi dan memulai suatu siklus berahi yang berulang setiap 21 hari sekali apabila dalam kondisi tidak bunting (tidak dikawinkan) (Pusat Kajian Sapi Bali, 2012).

2.3 Pedet Sapi Bali

Pada pedet yang masih menyusu terdapat sulcus esophagus, yaitu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan susu dari cavum oris ke abomasum. Dengan demikian susu terbebas dari fermentasi di rumen. Seiring dengan pertambahan umur pedet, rumen berkembang pesat, sehingga hewan akan berubah dari monogastrika pada saat lahir menjadi poligastrika pada saat dewasa (Mukhtar, 2006).

Pada saat pedet lahir pencapaian berat badan baru sekitar 8%. Secara berurutan yang tumbuh atau terbentuk setelah lahir ialah saraf, kerangka dan otot yang menyelubungi seluruh kerangka. Semua itu sudah terbentuk semenjak masih berada di dalam kandungan. Namun, pada saat pedet lahir ukuran kepalanya relatife besar dengan kaki yang panjang dan tubuh yang kecil. Hal ini terjadi karena didalam proses pertumbuhan setiap bagian tubuh berbeda-beda. Misalnya

(3)

kepala dan kaki merupakan bagian tubuh yang tumbuh paling awal daripada bagian tubuh yang lain. Sedangkan bagian punggung, pinggang dan paha baru akan tumbuh kemudian.

Jika dibandingkan dengan sapi dewasa, pedet atau sapi muda kakinya lebih tinggi dan dadanya kelihatan lebih sempit. Kaki belakang lebih panjang daripada kaki depan. Dengan demikian sapi muda berkaki lebih tinggi, berbadan pendek atau dangkal dan tipis , serta berkepala lebih pendek. Semakin bertambah umurnya semakin memanjang ukuran kepalanya.

Berat pedet waktu lahir sangat variasi. Hal ini terutama secara umum tergantung dari jenis atau bangsa sapi yang bersangkutan. Misalnya berat lahir rata-rata bangsa-bangsa sapi luar seperti Aberdeen angus 28 kg, shorthorn 30 kg, Hereford 34 kg dan devon 36 kg.

Kalau dilihat produksi susunya, susu sapi bali rendah antara 0,9-2,8 kg per hari yang memungkinkan pertumbuhan pedet lambat dan angka kematiannya tinggi terutama pada kelahiran musim kering (Soehaji, 1991). Untuk mengurangi tingginya angka kematian pedet sebelum disapih, maka dilakukan penyapihan dini. Pada umumnya pedet sapi bali disapih pada umur 7 bulan (Bamualim dan Wirdahayati, 2002). Sehingga idealnya pedet sedini mungkin dikenalkan dengan pakan padat selain susu, seperti konsentrat dan pakan hijauan, sehingga pedet dapat disapih umur 6-8 minggu setelah mampu mengkonsumsi pakan starter 500 g/hari (Davis dan Drackley, 1998 dalam Prihantoro, 2012). Kuantitas dan kualitas ransum yang diberikan menyangkut dengan tinggi rendahnya produksi dan kecepatan pertumbuhan sapi yang sedang tumbuh (Tilman et al, 1991, dalam Yudith, 2010).

2.4 Karakter Tubuh Sapi Bali

Sapi bali mempunyai ciri-ciri fisik yang seragam, dan hanya mengalami perubahan kecil dibandingkan dengan leluhur liarnya (Banteng). Warna sapi betina dan anak atau muda biasanya

(4)

coklat muda dengan garis hitam tipis terdapat disepanjang tengah punggung. Warna sapi jantan adalah coklat ketika muda tetapi kemudian warna ini berubah agak gelap pada umur 12-18 bulan sampai mendekati hitam pada saat dewasa, kecuali sapi jantan yang dikastrasi akan tetap berwarna coklat. Pada kedua jenis kelamin terdapat warna putih pada bagian belakang paha (pantat), bagian bawah (perut), keempat kaki bawah (white stocking) sampai di atas kuku, bagian dalam telinga, dan pada pinggiran bibir atas. (Hardjosubroto dan Astuti, 1993).

Variasi merupakan ciri-ciri umum yang terdapat di dalam suatu populasi. Keragaman terjadi tidak hanya antar bangsa tetapi juga di dalam satu bangsa yang sama, antar populasi maupun di dalam populasi, di antara individu tersebut. Keragaman pada sapi Bali dapat dilihat dari ciri-ciri fenotipe yang dapat diamati atau terlihat secara langsung, seperti tinggi, berat, tekstur dan panjang bulu, warna dan pola warna tubuh, perkembangan tanduk, dan sebagainya.

Gambar : anatomi tulang pada sapi (sumber : http://dc261.4shared.com/doc/zk-GSw1_/preview.html )

(5)

1. Pilih sapi dara yang penampilannya mencerminkan sapi yang sehat, matanya jernih, selaputnya tidak kotor atau merah, bulu badannya halus serta mengkilat.

2. Kondisi tubuhnya padat berisi, tapi tidak gemuk 3. Bagian leher dan bahunya lebar

4. Bagian dada lebar, dalam dan menonjol ke depan

2.5 Pertumbuhan Sapi Bali

Pertumbuhan adalah pertambahan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, otak, jantung, dan semua jaringan tubuh, serta alat-alat tubuh lainnya. Periode pertumbuhan dan perkembangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) periode prenatal atau sebelum lahir dan (2) periode postnatal atau sesudah lahir (Soeparno, 1992).

Pertumbuhan dan perkembangan prenatal dapat dibedakan menjadi tiga periode, berupa proses yang berkesinambungan, yaitu periode ovum, embrio dan fetus. Pertumbuhan sebelum lahir (prenatal) terjadi saat embrio, meliputi pembelahan sel dan pertambahan jumlah sel tubuh serta terjadi perubahan fungsi sel menjadi sistem-sistem organ tubuh. Embrio juga mengalami perkembangan sel menjadi lebih besar sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak (Field dan Taylor, 2002 dalam Muhibbah, 2007).

Bobot lahir ditentukan oleh kondisi pertumbuhan prenatal, yang ditunjang suplai nutrisi dari induk serta kemampuan induk untuk menggunakannya (Utomo et al, 2006). Hafez (1993)

(6)

dalam Utomo et al (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan prenatal dipengaruhi oleh hereditas, paritas, nutrisi induk, perkembangan embrio dan endometrium sebelum implantasi serta ukuran tubuh. Lebih lanjut Nggobe et al (1994) dalam Utomo et al (2006) dijelaskan bahwa akhir masa kebuntingan terjadi pertumbuhan fetus yang cepat dan mencapai puncak pada dua bulan akhir kebuntingan. Pemberian pakan berkualitas baik selama akhir masa kebuntingan dapat meningkatkan bobot lahir 5 – 8% dari bobot induk.

Perbandingan dimensi panjang pedet dengan induknya yaitu panjang telinga 57,6 %, panjang leher 45,5 %, panjang kepala 44,9%, panjang ekor 44 %, dan perbandingan panjang tubuh 43,8 % ( Janipa, 2013 ). Dan perbandingan dimensi lebar kepala pedet adalah 59,6 % dari lebar induknya, lebar leher 45,9 % dari lebar induknya, lebar kemudi 43,3 % dari lebar induknya, lebar dada 42,1 % dari lebar induknya, lebar leher 40,2 % dari lebar induknya dan perbandingan lebar pantat pedet 34,8 % dari lebar induknya (windhu, 2013). Sedangkan dimensi lingkar dada pedet adalah 38,9 % dari dimensi lingkar dada induknya, dimensi lingkar kemudi pedet adalah 38,7 % dari dimensi lingkar kemudi induknya, dimensi leher depan pedet adalah 50,8 % dari dimensi lingkar leher depan induknya, dan dimensi leher belakang pedet adalah 39,0 % dari dimensi lingkar leher belakang induknya ( Maharani, 2013).

Sampurna dan Suatha (2010 ) menyatakan Pertumbuhan dimensi panjang sapi bali jantan di mulai dari panjang leher, panjang kepala, panjang tubuh bagian belakang dan berakhir panjang tubuh bagian depan. Sedangkan pertumbuhan dimensi lingkar dimuali dari lingkar dada kemudian diikuti lingkar abdomen, lingkar leher belakang dan lingkar leher depan tumbuh paling belakang Pertumbuhan dimensi panjang sapi bali jantan termasuk tumbuh sedang atau potensi pertumbuhannya sedang. Lingkar dada dan lingkar abdomen termasuk tumbuh dini atau potensi pertumbuhannya rendah, lingkar leher bagian belakang termasuk tumbuh sedang atau potensi

(7)

pertumbuhannya sedang, lingkar leher bagian depan termasuk tumbuh paling belakang atau potensi pertumbuhannya tinggi.

Menurut Anggorodi (1994) dalam Utomo et al (2006), bahwa pakan dengan kandungan protein yang cukup dapat berfungsi memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme untuk energi dan merupakan penyusun hormon. Salah satu akibat dari pertumbuhan tulang adalah memanjangnya panjang badan. Ransum berkualitas baik yang dikonsumsi ternak terutama protein dapat merangsang sekresi hormon, diantaranya adalah hormon progesteron. Hasrati (2001) dalam Utomo et al (2006), melaporkan bahwa progesteron berfungsi dalam pertumbuhan masa uterus, sehingga dapat menyebabkan peningkatan hormon laktogen plasenta yang berpengaruh terhadap hormon pertumbuhan dan hormon tersebut berperan dalam menginduksi panjang badan serta bobot foetus.

Pertumbuhan postnatal dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertumbuhan sebelum penyapihan dan sesudah penyapihan. Menurut Salisbury & Van Demark (1985) dalam Hadziq (2011) perkembangan dan pertumbuhan pedet setelah lahir sangat bergantung pada jumlah dan kualitas pakan yang diberikan. Pada saat lahir, perut depan pedet belum berkembang seperti pada ruminan dewasa. Bobot abomasum pedet sekitar setengah berat perut total. Setelah lahir, rumen, retikulum, dan omasum akan terus berkembang hingga berfungsi baik. Pedet memulai tahap transisi pada umur 5 minggu dan berakhir umur 12 minggu. Pada tahap ini, pola metabolisme karbohidrat berubah. Penggunaan glukosa secara langsung yang diserap dari usus halus sebagai hasil hidrolisis laktosa mulai hilang dan proses glukoneogenesis asam propionat mulai muncul (Arora, 1989 dalam Hadziq, 2011 ).

(8)

- Pertumbuhan yaitu bobot badan meningkat sampai mencapai bobot badan dewasa.

- Perkembangan yaitu terjadi perubahan konformasi dan bentuk tubuh serta berbagai fungsi dan kemampuannya untuk melakukan sesuatu menjadi wujud penuh.

Sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot sapih pada hewan mamalia dipengaruhi oleh genetic individu hewan secara langsung dari induk dan bapaknya dan pengaruh genetic induk (maternal effect) yang merupakan ekspresi dari gen-gen induk. Gen adalah faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam sel makhluk hidup (Warwick et al., 1983). Masing-masing jenis (spesies), bahkan masing-masing individu memiliki gen untuk sifat tertentu. Hewan ternak yang memiliki gen unggul, misalnya pertumbuhannya cepat dan dengan memberikan makanan yang cukup maka akan menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik pula. Sebaliknya, jika hewan ternak tersebut tidak memiliki gen unggul dengan pertumbuhan yang cepat, meskipun didukung dengan pemberian makanan yang cukup maka pertumbuhan dan perkembangannya tidak sebaik bila hewan tersebut memiliki gen unggul. Ada genotip tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan sehinggah lebih cepat pertumbuhannya dari pada yang lain. Sebagai contoh : ternak dari daerah beriklim sedang secara umum relatif lebih cepat pertumbuhannya daripada ternak yang berasal dari daerah panas. Campbell dan Lasley (1977) mengatakan meskipun kita ketahui bahwa gen mempengaruhi pertumbuhan pada semua hewan, termasuk manusia, tetapi penjelasannya tidak lengkap yang dapat digunakan untuk menggambarkan jalan fisiologis dari aksi gen.

Pemerintah telah menetapkan bobot badan, panjang badan, tinggi badan (tinggi pundak atau tinggi gumba) dan lingkar dada sebagai ukuran statistik vital yang dijadikan sebagai kriteria pemilihan bibit sapi potong di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No

(9)

19/Permentan/OT.140/3/2012 tentang Persyaratan Mutu Benih, Bibit Ternak, dan Sumber Daya Genetik Hewan secara kuantitatif dimensi tubuh sapi bali sesuai Peraturan di bagi menjadi 3 kelas yaitu kelas I, Kelas II, dan Kelas III.

Yusuf et al (2010) mengatakan bahwa tinggi gumba ternak induk sapi bali yang ada di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan rata-rata 107 -108 cm, dengan rataan terendah di Desa Siddo dengan tinggi gumba 106,8 cm dan tertinggi di Desa Kiru-kiru dengan tinggi 108.46 cm. Tinggi pinggul rata-rata 105 – 107 cm dengan tinggi terendah di Desa Siddo dengan nilai 105,92 dan tertinggi 107,59 di Desa Kiru-kiru. Lingkar dada rata-rata berkisar 131 – 175 cm, dengan rataan terendah di Kelurahan Mangkoso dengan nilai 149,54 cm dan tertinggi di 152,47 di Desa Siddo. Panjang badan berkisar antara 95 – 137 dengan rataan tertinggi di Desa Kiru-kiru sebesar 114,65 cm. Bobot bervariasi antara 167 – 318 kg dengan rataan tertinggi di Desa Kiru-kiru sebesar 235,04 kg.

Gambar

Gambar : anatomi tulang pada sapi (sumber :  http://dc261.4shared.com/doc/zk- http://dc261.4shared.com/doc/zk-GSw1_/preview.html  )

Referensi

Dokumen terkait

pada siklus biasa atau siklus menstruasi tidak teratur. Menurut Winkjosastro, 2005. Gejala akibat pertumbuhan dapat menimbulkan. 1) Rasa berat di abdomen bagian bawah. 2)

Kondisi ini dapat terjadi pada perekonomian yang cenderung memanas (overheating economy) yang ditandai oleh tingkat pertumbuhan yang tinggi yang diikuti pula dengan

Menurut Husch (1963) volume pohon adalah ukuran tiga dimensi, yang tergantung dari lbds (diameter setinggi dada atau diameter pangkal), tinggi atau panjang batang, dan

Kanker ini terjadi apabila sel abnormal pada leher rahim, bagian bawah uterus (womb), tumbuh dan berkembang di luar kendali. Tanda gejala yang paling umum pada kanker

Asam empedu sekunder (asam deoksikolat, ursodeoksikolat dan asam litokolat), yang merupakan 20% asam empedu, berasal dari pemecahan asam empedu primer oleh bakteri di dalam

cedera abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, cedera kepala atau tulang belakang leher tanpa gangguan kesadaran serta luka bakar ringan.Pasien yang

Mengatasi kekurangan tersebut maka sumsum tulang merah pipih, seperti pada tulang dada, tulang selangka dan di dalam ruas-ruas tulang belakang akan segera membentuk sel darah

Percabangan tumbuh mulai dari 1/3 buku bagian atas diikuti percabangan dibagian tengah buluh terus ke bagian bawah, percabangan bambu betung termasuk kelompok banyak cabang