• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar yaitu Bos javanicus/bibos banteng

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar yaitu Bos javanicus/bibos banteng"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Sapi Bali

Menurut Meijer (1962), sapi bali yang berasal dari family Bovidae didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar yaitu Bos javanicus/Bibos banteng atau Bos sondaicus. Domestikasi banteng kemungkinan besar terjadi di Bali atau di Jawa. Dugaan ini juga dikemukakan oleh Slijper (1954) yang melaporkan bahwa sapi bali adalah hasil domestikasi banteng liar yang ada di Bali. Ciri yang paling khas dari sapi bali adalah rambut berwarna merah bata dan hitam (untuk sapi bali jantan dewasa). Ciri lainnya adalah warna putih pada empat kaki bagian bawah, mulai dari daerah tarsus dan karpus ke bawah. Warna putih juga terdapat pada daerah pantat, bibir atas dan bibir bawah. Sapi jantan berwarna merah bata dan akan berubah menjadi kehitaman pada umur 12-18 bulan. Sapi betina berwarna merah bata, di daerah punggung terdapat garis belut berwarna hitam, dan warna hitam terdapat pula pada bagian ekor dan tanduk. Sapi bali berwarna tidak umum juga kerap ditemukan seperti sapi putih, sapi injin, sapi tutul, sapi panjut, sapi bang dan sapi cundang (Batan, 2002).

Petani di Bali sudah begitu dekat dengan sapi bali sejak ratusan tahun yang silam. Mereka memelihara sapi tersebut untuk beberapa tujuan seperti : membantu saat mengerjakan tanah/sawahnya, sebagai tabungan yang sewaktu-waktu bisa dijual apabila mereka memerlukan uang, dan juga sering digunakan dalam beberapa upacara adat/agama Hindu di Bali (Tim Pusat Kajian Sapi Bali Unud, 2012).

(2)

6 Pedet adalah anak sapi yang baru lahir hingga umur 8 bulan. Pedet yang baru lahir membutuhkan perawatan khusus, ketelitian, kecermatan dan ketekunan dibandingkan dengan pemeliharaan sapi dewasa. Pada saat lahir lambung ruminansia terdiri atas abomasum, sehingga proses pencernaan mendekati hewan monogastrika. Pada pedet yang masih menyusu terdapat sulcus esophagus, yaitu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan susu dari cavum oris ke abomasum. Dengan demikian susu terbebas dari fermentasi di rumen. Seiring dengan pertambahan umur pedet, rumen berkembang pesat, sehingga hewan akan berubah dari monogastrika pada saat lahir menjadi poligastrika pada saat dewasa (Mukhtar et al., 2006).

Kalau dilihat produksi susunya, susu sapi bali rendah antara 0,9-2,8 kg per hari yang memungkinkan pertumbuhan pedet lambat dan angka kematiannya tinggi terutama pada kelahiran musim kering (Soehaji, 1991). Untuk mengurangi tingginya angka kematian pedet sebelum disapih, maka dilakukan penyapihan dini. Pada umumnya pedet sapi Bali disapih pada umur 7 bulan (Bamualim dan Wirdahayati, 2002). Sehingga idealnya pedet sedini mungkin dikenalkan dengan pakan padat selain susu, seperti konsentrat dan pakan hijauan, sehingga pedet dapat disapih umur 6-8 minggu setelah mampu mengkonsumsi pakan starter 500 g/hari (Davis dan Drackley, 1998). Kuantitas dan kualitas ransum yang diberikan menyangkut dengan tinggi rendahnya produksi dan kecepatan pertumbuhan sapi yang sedang tumbuh (Tillman et al, 1998).

Sapi bali mempunyai ciri-ciri fisik yang seragam, dan hanya mengalami perubahan kecil dibandingkan dengan leluhur liarnya (banteng). Warna sapi betina dan anak atau muda biasanya coklat muda dengan garis hitam tipis terdapat

(3)

7 disepanjang tengah punggung. Warna sapi jantan adalah coklat ketika muda tetapi kemudian warna ini berubah agak gelap pada umur 12-18 bulan sampai mendekati hitam pada saat dewasa, kecuali sapi jantan yang dikastrasi akan tetap berwarna coklat. Pada kedua jenis kelamin terdapat warna putih pada bagian belakang paha (pantat), bagian bawah (perut), keempat kaki bawah (white stocking) sampai di atas kuku, bagian dalam telinga, dan pada pinggiran bibir atas (Hardjosubroto dan Astuti, 1993).

Sapi bali memiliki beberapa keunggulan, diantaranya mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan yang buruk, seperti daerah yang bersuhu tinggi, mutu pakan yang rendah/kasar, dan lain-lain. Di samping itu, tingkat kesuburan (fertilitas) sapi bali termasuk amat tinggi dibandingan dengan jenis sapi lain, yaitu mencapai 83% (Darmadja, 1980), tanpa terpengaruh oleh mutu pakan. Menurut Guntoro (2006) di daerah baru (daerah transmigran), sapi bali merupakan ternak “primadona” bagi petani karena merupakan tenaga kerja yang tangguh, di samping memiliki adaptasi yang bagus terhadap lingkungan dan reproduksi yang tinggi. Sapi bali memiliki bentuk badan yang kompak dan persentase karkas yang tinggi (56%) sehingga cocok untuk dikembangkan sebagai sapi potong.

1.2 Pertumbuhan Pedet dan Faktor - faktor yang Mempengaruhi

Pertumbuhan adalah pertambahan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, otak, jantung, dan semua jaringan tubuh, serta alat-alat tubuh lainnya. Periode pertumbuhan dan perkembangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) periode prenatal atau sebelum lahir dan (2) periode postnatal atau sesudah lahir (Soeparno, 1992). Pertumbuhan dan perkembangan prenatal dapat dibedakan menjadi tiga periode, berupa proses yang

(4)

8 berkesinambungan, yaitu periode ovum, embrio dan fetus. Pertumbuhan sebelum lahir (prenatal) terjadi saat embrio, meliputi pembelahan sel dan pertambahan jumlah sel tubuh serta terjadi perubahan fungsi sel menjadi sistem-sistem organ tubuh. Embrio juga mengalami perkembangan sel menjadi lebih besar sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang lebih banyak (Muhibbah, 2007).

Perbandingan dimensi panjang pedet dengan induknya yaitu panjang telinga 57,6 %, panjang leher 45,5 %, panjang kepala 44,9%, panjang ekor 44 %, dan perbandingan panjang tubuh 43,8 % (Saptayanti et al., 2015). Dan perbandingan dimensi lebar kepala pedet adalah 59,6 % dari lebar induknya, lebar leher 45,9 % dari lebar induknya, lebar kemudi 43,3 % dari lebar induknya, lebar dada 42,1 % dari lebar induknya, lebar leher 40,2 % dari lebar induknya dan perbandingan lebar pantat pedet 34,8 % dari lebar induknya (Pradana et al., 2014). Sedangkan dimensi lingkar dada pedet adalah 38,9 % dari dimensi lingkar dada induknya, dimensi lingkar kemudi pedet adalah 38,7 % dari dimensi lingkar kemudi induknya, dimensi leher depan pedet adalah 50,8 % dari dimensi lingkar leher depan induknya, dan dimensi leher belakang pedet adalah 39,0 % dari dimensi lingkar leher belakang induknya (Maharani, 2000).

Sampurna dan Suatha (2010) menyatakan pertumbuhan dimensi panjang sapi bali jantan di mulai dari panjang leher, panjang kepala, panjang tubuh bagian belakang dan berakhir panjang tubuh bagian depan. Sedangkan pertumbuhan dimensi lingkar dimulai dari lingkar dada kemudian diikuti lingkar abdomen, lingkar leher belakang dan lingkar leher depan tumbuh paling belakang Pertumbuhan dimensi panjang sapi bali jantan termasuk tumbuh sedang atau potensi pertumbuhannya sedang. Lingkar dada dan lingkar abdomen termasuk

(5)

9 tumbuh dini atau potensi pertumbuhannya rendah, lingkar leher bagian belakang termasuk tumbuh sedang atau potensi pertumbuhannya sedang, lingkar leher bagian depan termasuk tumbuh paling belakang atau potensi pertumbuhannya tinggi.

Menurut Anggorodi (1994), bahwa pakan dengan kandungan protein yang cukup dapat berfungsi memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme untuk energi dan merupakan penyusun hormon. Salah satu akibat dari pertumbuhan tulang adalah memanjangnya panjang badan. Ransum berkualitas baik yang dikonsumsi ternak terutama protein dapat merangsang sekresi hormon, diantaranya adalah hormon progesteron. Hasrati (2001), melaporkan bahwa progesteron berfungsi dalam pertumbuhan masa uterus, sehingga dapat menyebabkan peningkatan hormon laktogen plasenta yang berpengaruh terhadap hormon pertumbuhan dan hormon tersebut berperan dalam menginduksi panjang badan serta bobot foetus.

Pertumbuhan postnatal dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertumbuhan sebelum penyapihan dan sesudah penyapihan. Menurut Salisbury dan Van Demark (1985) perkembangan dan pertumbuhan pedet setelah lahir sangat bergantung pada jumlah dan kualitas pakan yang diberikan. Pada saat lahir, perut depan pedet belum berkembang seperti pada ruminan dewasa. Bobot abomasum pedet sekitar setengah berat perut total. Setelah lahir, rumen, retikulum, dan omasum akan terus berkembang hingga berfungsi baik. Pedet memulai tahap transisi pada umur 5 minggu dan berakhir umur 12 minggu. Pada tahap ini, pola metabolisme karbohidrat berubah. Penggunaan glukosa secara langsung yang diserap dari usus halus sebagai hasil hidrolisis laktosa mulai hilang dan proses glukoneogenesis asam propionate mulai muncul (Arora, 1989).

(6)

10 Dalam pertumbuhan seekor ternak ada dua hal yang terjadi yaitu:

1. Pertumbuhan yaitu bobot badan meningkat sampai mencapai bobot badan dewasa.

2. Perkembangan yaitu terjadi perubahan konformasi dan bentuk tubuh serta berbagai fungsi dan kemampuannya untuk melakukan sesuatu menjadi wujud penuh.

Sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot sapih pada hewan mamalia dipengaruhi oleh genetik individu hewan secara langsung dari induk dan bapaknya dan pengaruh genetik induk (maternal effect) yang merupakan ekspresi dari gen-gen induk. Gen adalah faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam sel makhluk hidup (Warwick et al., 1983). Masing-masing jenis (spesies), bahkan masing-masing individu memiliki gen untuk sifat tertentu. Hewan ternak yang memiliki gen unggul, misalnya pertumbuhannya cepat dan dengan memberikan makanan yang cukup maka akan menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik pula. Sebaliknya, jika hewan ternak tersebut tidak memiliki gen unggul dengan pertumbuhan yang cepat, meskipun didukung dengan pemberian makanan yang cukup maka pertumbuhan dan perkembangannya tidak sebaik bila hewan tersebut memiliki gen unggul. Ada genotip tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan sehingga lebih cepat pertumbuhannya dari pada yang lain. Sebagai contoh : ternak dari daerah beriklim sedang secara umum relatif lebih cepat pertumbuhannya daripada ternak yang berasal dari daerah panas. Campbell dan Lasley (1977) melaporkan bahwa gen mempengaruhi pertumbuhan pada semua hewan, termasuk manusia, tetapi penjelasannya tidak lengkap yang dapat digunakan untuk menggambarkan jalan fisiologis dari aksi gen.

(7)

11 1.3 Komposisi Tubuh Pedet

Teknik pengukuran komposisi tubuh terdapat dua teknik yaitu teknik pemotongan dan pendugaan. Teknik pemotongan merupakan cara yang terbaik untuk mengetahui komposisi tubuh dengan menganalisis karkas dan komponen lain di dalamnya. Hanya saja ada beberapa kerugian yang didapatkan dari pengukuran komposisi tubuh dengan metode pemotongan yaitu membutuhkan biaya tinggi, tenaga, dan waktu yang cukup besar jika dilakukan pada ternak-ternak besar. Beberapa peneliti sudah menerapkan cara yang tepat dan dapat dilakukan untuk mengetahui komposisi tubuh sapi pedaging tanpa memotong ternaknya, yaitu dengan teknik pendugaan (Fransisca, 2009).

Teknik pendugaan ini menggunakan beberapa bahan kimia sebagai perunut. Penggunaan perunut memberikan hasil yang lebih akurat dalam menduga komposisi tubuh. Hal ini didasarkan oleh prinsip hubungan yang konstan antara air dengan komponen tubuh lainnya. Menurut Sutardi (1980), bahan kimia yang dapat digunakan sebagai perunut atau indikator dalam penentuan kadar air tubuh harus memenuhi persyaratan berikut :

1. Bahan tersebut harus larut dalam air segera setelah disuntikkan, diharapkan dapat menyebar ke dalam tubuh secara merata.

2. Bahan tersebut dalam tubuh tidak dimetabolisasikan sehingga penyusutan kadarnya tidak disebabkan oleh faktor lain selain oleh ekskresinya dari dalam tubuh.

3. Tidak berupa racun bagi tubuh.

4. Dapat dianalisis dengan mudah dan bahan tersebut bukan merupakan komponen tubuh. Bahan lain yang dapat digunakan untuk pengukuran kadar

(8)

12 air tubuh, yaitu: antypirine, N-acetyl-4 asam amino antypirine, deuterium, dan tritium.

Bahan pengencer sudah umum dikembangkan untuk mengukur komposisi tubuh secara in vivo oleh beberapa peneliti. Tritium merupakan salah satu radioisotop yang banyak dipakai dalam penelitian ilmu nutrisi, namun radioisotop ini tergolong ke dalam pemancar partikel beta negatif berenergi lemah, sehingga memiliki kelemahan yaitu efisiensi pencacahannya atau absorbansinya sering rendah sehingga tidak tercatat. Manfaat tritium sebagai perunut dalam penentuan kadar air tubuh umumnya dianggap sangat terbatas. Sementara untuk larutan antipirin pernah dicobakan ke dalam darah seseorang untuk menduga kadar air tubuhnya. Hanya saja banyak keragaman yang ditimbulkan, sehingga memerlukan banyak hewan percobaan untuk mengatasi keragaman tersebut. Selain antipirin, pengukuran komposisi tubuh juga dapat menggunakan nacetyl-4 amino-antypirine (NAAP).

Beberapa kelebihan dari NAAP adalah proses analisisnya lebih murah daripada antipirin. Penggunaan NAAP tidak membentuk ikatan protein plasma dan metabolismenya lambat (Sutardi, 1980). Adapun kekurangan dari bahan kimia ini adalah tidak terdapatnya kandungan NAAP di dalam cairan rumen ataupun plasma darah, sehingga untuk mengukur komposisi tubuh sulit dilakukan (Whiting et al., 1960). Bahan kimia lainnya adalah deuterium oxide (D2O) yang merupakan isotop stabil, bentuknya seperti air sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh. Cara memasukkannya ke dalam tubuh juga mudah yaitu dapat diberikan melalui air minum (Sutardi,1980).

(9)

13 Pengukurannya dari uap air yang dikondensasikan dari gas ekspirasi. Teknik ini pernah dilakukan oleh Byers (1979) dengan menginjeksikan D2O ke dalam tubuh. Hasilnya tidak jauh berbeda dari teknik pemotongan, hanya saja alat pendeteksi masih sangat mahal, dan kurang relevan jika diaplikasikan oleh peternak maupun industri. Pengukuran air tubuh dengan menggunakan D2O merupakan dasar dari beberapa metode yang pernah diterapkan sebelumnya secara tidak langsung dan dapat menilai komposisi tubuh, karena air adalah komponen terbesar pada tubuh bebas lemak dan ada beberapa indikator yang dapat mengukur air tubuh. Beberapa perlakuan yang terdahulu menggunakan air untuk menilai komposisi tubuh ditinjau oleh Sheibaita (1977).

Dalam menilai komposisi tubuh dengan menggunakan total air tubuh terbatas disebabkan adanya variasi dalam jumlah air yang terdapat dalam sistem pencernaan, khususnya pada ruminansia yang pakannya berbeda-beda. Bartle et al. (1987) menyimpulkan bahwa pendugaan komposisi tubuh yang lebih mudah dan akurat untuk ternak ruminansia pada tahap pertumbuhan dan penggemukan adalah dengan menggunakan urea.

1.4 Pengaruh Pakan terhadap Komposisi Tubuh Pedet

Komposisi Tubuh hewan dibangun dari zat-zat makanannya. Komponen penyusun utama kimiawi tubuh terdiri dari air, lemak, protein, dan mineral (abu). Rasio masing - masing komponen tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya jenis ternak, bobot badan, umur, jenis kelamin, dan status nutrisi. Komposisi tubuh dapat mengindikasikan kemampuan ternak dalam merespon nutrien yang dikonsumsinya. Selain itu, komposisi tubuh juga merupakan cerminan dari makanan yang dikonsumsi oleh ternak (Tillman et al.,1998). Menurut Pond et

(10)

14 al. (2005), komposisi tubuh sapi dewasa terdiri atas 60% air, 20% lemak, dan 16% protein tubuh. Sementara peneliti lain menyatakan komposisi tubuh sapi dewasa terdiri atas 40%-80% air, 50% lemak, dan 12%-20% protein (Berg dan Butterfield, 1976). Dilihat dari persentase komposisi tubuh tersebut, nutrien berperan penting dalam memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan tubuh. Sementara menurut Riis (1983), total protein tubuh ternak dewasa mencapai 15%-18% dari berat tubuh.

Sumber energi utama untuk sapi adalah serat kasar yang dipenuhi dari hijauan sebanyak 80% dari seluruh makanannya. Kandungan serat kasar banyak terdapat dalam bahan pakan nabati seperti hijauan dan jenis kacang-kacangan (leguminosa). Makanan yang mengandung serat kasar tinggi akan menghasilkan lebih banyak asam asetat yang akan dimanfaatkan oleh tubuh sebagai lemak susu bagi ternak, sementara asam propionat lebih banyak dihasilkan dari makanan yang mengandung biji-bijian (konsentrat tinggi) yang akan ditransfer ke jaringan otot dan adiposa (Pond et al., 2005). Komponen utama pakan sapi lokal adalah hijauan (Stur dan Horne, 2001) yang akan menghasilkan asam asetat dalam jumlah banyak.

Lemak umumnya tidak banyak dikonsumsi oleh ternak ruminansia, karena kandungannya yang rendah pada hijauan seperti rumput. Beberapa lemak tidak didegradasi oleh mikroorganisme, hanya saja saat kandungannya di dalam pakan rendah, mikroorganisme akan merubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak tak jenuh yang umumnya dihasilkan dari hijauan akan dirubah oleh mikroorganisme menjadi asam lemak jenuh. Kedua asam ini bersama-sama disintesis sebagai lemak susu dan lemak tubuh (Pond et al., 2005).

Komposisi tubuh kosong ternak sapi menurut Maynard dan Loosli (1979). Pada anak sapi saat lahir : air 74%, protein 19%, lemak 3%; anak sapi gemuk : air

(11)

15 68%, protein 18%, lemak 10%; Sapi jantan kebiri kurus : air 64%, protein 19%, lemak 12%; Sapi jantan kebiri gemuk :air 43%, protein 13%, lemak 41%. Dapat menjelaskan bahwa sebagian besar tubuh ternak terdiri atas air, hal ini sesuai dengan pernyataan Anggorodi (1994). Pernyataan ini dapat memberi petunjuk tentang pentingnya peranan air dalam memelihara kelangsungan hidup dan proses produksi. Kebutuhan air untuk ternak selalu diperhatikan, bahkan harus diberikan ad libitum. Status fisiologis dari ternak akan mempengaruhi kebutuhan air minum.

Air merupakan nutrien yang paling esensial bagi makhluk hidup, karena sekitar 75% dari jaringan-jaringan yang bebas lemak disusun oleh air (Tillman et al., 1998). Anggorodi (1994) juga menambahkan lebih dari 50% komposisi tubuh terdiri dari air. Air masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman, lalu diekskresikan melalui keringat, pernafasan, feses, dan urin (Church et al., 1991). Menurut Parakkasi (1999) air memiliki beberapa fungsi, diantaranya: 1) pengatur temperatur tubuh; 2) pelarut zat-zat makanan yang ada dalam tubuh, 3) mengedarkan zat-zat makanan, dan 4) mengatur fungsi osmosis dalam sel.

Air yang digunakan oleh ternak berasal dari air minum, air dalam bahan makanan, dan air metabolik (Parakkasi, 1999). Air dari bahan makanan sangat bervariasi sekitar 5%-80%. Hijauan segar memiliki kadar air kurang lebih 75% - 90%, sementara kadar air yang dimiliki konsentrat berkisar 12% - 25%. Church et al. (1991) menyatakan bahwa variasi kadar air tubuh dipengaruhi oleh umur dan lemak tubuh. Hanya saja komposisinya relatif tetap pada beberapa spesies ternak (sapi, domba, babi, ayam, dan ikan). Selain umur dan lemak tubuh, kandungan air tubuh juga dipengaruhi oleh bobot badan, luas permukaan tubuh, konsumsi bahan kering, dan temperatur lingkungan.

(12)

16 Konsumsi air akan meningkat bila konsumsi bahan kering meningkat. Air lebih banyak dibutuhkan untuk memetabolisme zat-zat makanan di dalam tubuh yang masuk melalui makanan. Salah satunya adalah protein, semakin banyak protein yang dikonsumsi, maka konsumsi air semakin meningkat. Begitu juga dengan temperatur lingkungan yang berubah menyebabkan konsumsi bahan kering menurun, sementara konsumsi air akan terus meningkat (Parakkasi, 1999). Proporsi air tubuh pada ternak tersebar di dalam sel (intraseluler) sebanyak 40% dan 17%-30% berada di luar sel (ekstraseluler) yang terdiri atas 6% plasma darah, cairan limfa, sinovial, dan cerebrospinal. Sisanya kurang lebih 30% air terdapat di saluran pencernaan dan ginjal (Church et al., 1991).

Banyaknya air yang tersebar di seluruh tubuh memacu ternak mengkonsumsi air minum. Jika kebutuhan air minum tidak terpenuhi (dibatasi), ternak langsung memberikan respon dengan cepat, menunjukkan tingkah laku yang gelisah, menjilati tempat minum (Phillips, 2002). Pembatasan air akan mengurangi feed intake, terutama dalam kondisi lingkungan yang panas. Kadar air tubuh erat hubungannya dengan umur. Kadar air tubuh menurun dengan bertambahnya umur. Kadar air pada embrio sapi kurang lebih 95%, sedangkan setelah dilahirkan kadar airnya turun menjadi 75%-80%. Pada anakan sapi umur lima bulan turun menjadi 66%-77% dan akhirnya menjadi 50%-60% pada saat dewasa (Sutardi, 1980). Semakin tua maka kadar air semakin menurun, sedangkan kadar lemak cenderung meningkat. Ternak yang lebih muda akan lebih mampu menggunakan zat-zat makanan yang diperolehnya untuk membangun tubuhnya. Sedangkan hewan yang lebih tua, energi di dalam tubuh akan digunakan sebagai hidup pokok, selebihnya akan menjadi lemak tubuh.

(13)

17 Lemak merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air, melainkan larut dalam senyawa organik lainnya. Lemak yang terdapat dalam bahan makanan akan dicerna oleh tubuh dan diubah menjadi energi. Dari satu gram lemak dapat menghasilkan 9,32 kkal, hal ini dapat dikatakan lemak merupakan penyumbang energi terbesar dari zat makanan lainnya. Komposisi lemak tubuh pada spesies berlambung sederhana sangat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsinya (Church, 1991).

Lemak yang dikonsumsi hewan ruminansia tergolong sedikit, disebabkan kadarnya di dalam pakan hijauan terbatas. Pada saat kandungan lemak dalam ransum yang dikonsumsi sedikit, mikroorganisme dalam rumen akan menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol (Pond et al., 2005). Ternak yang mengkonsumsi ransum dengan kadar lemak tinggi (±10%) akan membentuk lemak tubuh secara normal. Jika ternak mengkonsumsi minyak/lemak dari berbagai sumber seperti bungkil kacang tanah, biji matahari, atau ikan, akan menghasilkan lemak tak jenuh dalam tubuh dalam jumlah sedikit. Penambahan lemak sebanyak 5%-7% dalam ransum tidak dapat didegradasi oleh mikroorganisme tetapi langsung dicerna di dalam usus dengan bantuan enzim lipase. Adanya perubahan pakan yang diberikan akan mempengaruhi komposisi lemak tubuh pada ruminansia, hal ini disebabkan efek dari mikroorganisme rumen terhadap bahan pakan. Lemak dalam bahan pakan akan dirubah menjadi asam lemak yang sebagian akan digunakan menjadi lemak karkas dan lemak susu. Hasil perombakan berupa gliserol akan diedarkan ke hati dan digunakan sebagai glukosa. Selain itu fungsi lemak bagi tubuh adalah: 1). Menyediakan energi untuk kebutuhan hidup pokok dan produksi.

(14)

18 2). Penyedia asam lemak esensial. 3). Transport vitamin yang larut dalam lemak ke jaringan yang membutuhkan, dan penyusun membran sel.

Kelebihan lemak dalam tubuh akan disimpan sebagai cadangan lemak yang sewaktu-waktu dapat digunakan jika tubuh memerlukan energi. Sekitar 50% lemak terdapat di bawah kulit (jaringan lemak), sisanya tersebar di seluruh organ tubuh, ginjal (jumlah terbanyak), membran usus, dan urat daging. Lemak cadangan tidak hanya dibentuk dari lemak yang dikonsumsi, tetapi juga dari karbohidrat dan protein yang berlebih di dalam tubuh.

Protein adalah senyawa organik yang ada dalam tubuh organisme hidup dan merupakan nutrien yang paling tinggi konsentrasinya di dalam jaringan daging ternak. Untuk kelangsungan hidup dan tujuan-tujuan produktif, sel dalam jaringan tubuh ternak harus mensintesis protein. Menurut Anggorodi (1994), beberapa fungsi protein dalam tubuh diantaranya: 1). Pertumbuhan jaringan-jaringan baru. 2). Memperbaiki jaringan yang rusak. 3). Sebagai antibodi yang berfungsi untuk 10 mencegah terjadinya infeksi. 4). Perkursor enzim-enzim esensial dalam tubuh, dan mengatur keseimbangan air tubuh.

Sebagian besar kandungan protein tubuh terdapat dalam urat daging, tulang rawan, jaringan ikat, kulit, rambut, wol, bulu, kuku, dan tanduk (Pond et al., 2005). Menurut Burke (1980), protein tubuh tersebar 20% pada tulang, 50% pada otot, 5% dalam darah, dan sisanya terdapat pada kulit, organ, dan jaringan lemak. Total protein tubuh pada ternak dewasa menurut Riis (1983) sekitar 15%-18% dari total bobot badan. Protein tubuh pada sapi didapatkan dari pakan yang dikonsumsinya. Beberapa bahan pakan sumber protein yang berasal dari hijauan seperti, leguminosa, hay, dan silase dapat diberikan ke ternak. Bahan pakan tambahan

(15)

19 seperti konsentrat juga perlu diberikan seperti bungkil kedelai, bungkil biji kapuk, tepung ikan, gandum, dan tepung jagung.

Tinggi rendahnya kualitas protein dalam bahan pakan tergantung dari kandungan asam aminonya. Seekor ternak ruminansia memperoleh protein (asam amino) dari dua sumber utama, yaitu protein mikroba dan protein pakan. Kadar protein pada konsentrat umumnya lebih tinggi daripada hijauan. Protein pakan yang masuk ke dalam rumen akan didegradasi oleh mikroba (bakteri, protozoa, fungi). Bakteri ini memiliki enzim protease yang berfungsi mengubah protein pakan menjadi peptida. Peptida dikatabolisasi menjadi asam-asam amino yang diedarkan melalui usus halus dan berfungsi sebagai komponen pembentuk jaringan tubuh ternak (Anggorodi, 1994).

Beberapa asam amino digunakan oleh mikroba untuk mensintesis protein selnya menjadi protein mikroba dan amonia. Protein ini tidak digunakan untuk sintesis jaringan tubuh. Protein mikroba juga dapat disintesis dari bahan pakan yang mengandung nitrogen bukan protein. Protein mikroba yang dihasilkan di dalam rumen merupakan komponen utama protein yang ada di usus halus (Beever, 1993). Menurut Damry (2008) sapi membutuhkan asam amino dalam jumlah yang bervariasi. Kebutuhan asam amino tertinggi adalah untuk pertumbuhan awal pada pedet sapi yang disapih dini, umur kebuntingan tiga bulan terakhir, dan pada saat laktasi. Sementara kebutuhan asam amino relatif rendah pada pedet akhir pertumbuhan dan pada ternak dewasa untuk keperluan hidup pokok.

Selain dari status fisiologis ternak, hal lain yang dapat mempengaruhi komposisi protein tubuh adalah umur, pakan (konsumsi bahan kering), dan bobot badan. Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa kebutuhan protein sapi semakin

(16)

20 meningkat seiring dengan meningkatnya bobot badan. Artinya, semakin besar bobot badan suatu ternak, semakin besar pula kebutuhan protein pada tahap pertumbuhan. Protein dalam ransum akan digunakan sepenuhnya oleh tubuh ternak untuk mencukupi kebutuhan pokok dan produksi. Kelebihan protein tidak akan disimpan dalam bentuk asam amino, melainkan digunakan sebagai energi atau sebagai cadangan lemak dan karbohidrat.

Kadar air tubuh sapi yang mendapat perlakuan A (45% rumput gajah + 15% gamal +10% kaliandra + 30% konsentrat) adalah 48,02%. Sapi yang mendapat perlakuan B (30% rumput gajah + 10% jerami padi + 20% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat), C (15% rumput gajah + 20% jerami padi + 25% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat) dan D (30% jerami padi + 30% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat) berturut-turut kadar airnya adalah 48,18%, 48,50%, dan 47,79%. Komposisi air tubuh yang tertinggi terdapat pada perlakuan C 48,50%, diikuti oleh sapi dengan perlakuan B 48,18%, A 48,02% dan terrendah pada perlakuan D 47,79% (Widiadyana et al., 2013)

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Tugas akhir ini diajukan untuk memenuhi persyaratan Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang.. Penulis menyadari tugas akhir ini masih jauh

Berdasarkan uraian-uraian di atas perlu diadakan suatu penelitian terhadap pelaksanaan pembagian harta warisan dalam masyarakat Tionghoa Nias di Gunungsitoli-Nias

Faktor perancu penelitian ini yaitu usia dan penelitian, sebanyak 80% kelompok interaksi riwayat terapi perilaku selama 40 jam/minggu sosial aktif tetapi aneh

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul

Beralihnya kepemilikan pabrik olechemical – PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk pada tahun 2010 sempat menaruh harapan pabrik akan beroperasional secara normal,

Pemilihan tanggal konfirmasi dapat dilakukan juga atas saldo sebelum tanggal neraca dan untuk mendapatkan keyakinan atas kebenaran saldo piutang per tanggal neraca, lakukan

Pendahuluan  Kelas di mulai dengan salam dilanjutkan dengan menanyakan kabar peserta didik melalui WhatsApp Group (Religius dan Integritas)..  Menanyakan kabar peserta didik

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan nikmat-Nya, karena skripsi dengan judul ” Penerapan Sistem Informasi