DAMPAK KEPEMILIKAN TANAH SECARA ABSENTEE DALAM PERSPEKTIF HUKUM
Oleh :
Benny Murdani, S.H.,M.H1
ABSTRAK
Tanah absentee yaitu pemilikan tanah yang letaknya diluar daerah tempat tinggal yang mempunyai tanah tersebut. Sebagaimana salah satu dari program landreform Indonesia terdapat larangan atas kepemilikan tanah absentee sebagaimana yang diatur dalam PP No. 224 Tahun 1961 jo. PP No. 41 Tahun 1964. Walaupun demikian, Ada pengecualian bagi pemilikan tanah absentee ini, yaitu dikecualikan bagiPegawai Negeri dan ABRI sebab golongan ini adalah abdi negara yang tugasnya dapat berpindah-pindah tempat, selain itu dapat juga dikecualikan bagi pemilik tanah yang tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari lokasi tanah tersebut.
Sejak berlakunya PP No. 224 Tahun 1961 jo. PP No. 41 Tahun 1964yang hingga saat ini belum dilakukan perubahan, apakah pemberlakuan peraturan mengenai larangan kepemilikan tanah secara absentee masih digunakan, mengingat kenyataan pada saat ini justru semakin banyak masyarakat yang memiliki tanah dimana-mana,bukan hanya berbeda kecamatan saja, namun juga diluar kota untuk berinvestasi, maka dari itu sudah patut dan selayaknya mengenai pemberlakuan terhadap kepemilikan tanah absentee harus diadakan amandemen yang disesuaikan dengan keadaan pada jaman sekarang.
A. LATAR BELAKANG
Tanah merupakan sumber utama bagi kelangsungan hidup dan penghidupan bangsa yang harus terbagi secara adil dan merata, maka dari itu tanah harus diusahakan dan digunakan bagi pemenuhan kebutuhan yang nyata.Sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan
1
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehubungan dengan itu, penyediaan, peruntukan, penguasaan, penggunaan dan pemeliharaannya perlu diatur agar terjamin kepastian hukum dalam penguasaan dan pemanfaatannya serta sekaligus terselenggaranya perlindungan hukum bagi rakyat banyak, terutama golongan petani, dengan tetap mempertahankan kelestarian dan kemampuannya dalam mendukung kegiatan pembangunan yang berkelanjutan.
Untuk menjamin kepastian hukum bagi rakyat khususnya golongan petani dalam pemanfaatan, penguasaan dan pengusahaan tanah, secara tegas telah diatur ketentuannya dalam UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau disebut UUPA, yang telah berlaku sejak tanggal 24 September 1960 hingga saat ini, yang mana dalam perkembangannya sering mencuat ke permukaan atas permasalahan tanah di Indonesia, yaitu salah satunya adalah kepemilikan tanah Absentee/guntai (Pasal 10). Penerapan Pasal 6 UUPA tentang fungsi Salah satu aspek hukum penting dengan diundangkannya UUPA adalah dicanangkannya “Program Landreform” di Indonesia yang bertujuan untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup para petani penggarap tanah, sebagai landasan atau prasyarat untuk terselenggaranya pembangunan ekonomi menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Sehubungan dengan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk menuangkannya dalam suatu tulisan dengan judul: “DAMPAK HUKUM KEPEMILIKAN TANAH SECARA ABSENTEE DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ”.
B. PERMASALAHAN
Dari uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah:
1. Apakah yang melatarbelakangiadanya pelarangan pemilikan tanah secara Absentee ??
2. Bagaimanakah dampak bagi pemilik tanah secara absentee dalam perspektif hukum ??
C. PEMBAHASAN
1. Pengertian Tanah Absentee.
Tanah Absentee yaitu pemilikan tanah yang letaknya diluar daerah tempat tinggal yang mempunyai tanah tersebut2.Kata Absentee berasal dari kata Absent yang berarti tidak hadir3, dengan kata lain tanah absentee adalah tanah yang letaknya berjauhan dengan tempat tinggal pemiliknya.
Dalam Pasal 10 UUPA yang mengatur bahwa:“setiap orang dan badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan“, dalam Pasal 3 ayat (1) PP Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian (telah diubah dan ditambah dengan PP Nomor 41 Tahun 1964)mengatur sebagai berikut :“Pemilik tanah pertanian yang bertempat tinggal di luar kecamatan tempat letak tanahnya, dalam jangka waktu 6 bulan wajib mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang lain di kecamatan tempat letak tanah itu atau pindah ke kecamatan letak tanah tersebut”.
Dari ketentuan diatas, menunjukkan bahwa pemilikan tanah secara absentee dalam hal ini,tanah yang dimaksud adalah lahan Pertanian.
2. Larangan Kepemilikan Tanah secara Absentee.
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau disebut UUPA mewajibkan pemilik tanah pertanian untuk mengerjakan atau mengusahakan sendiri tanah pertaniannya. Kewajiban ini diatur dalam Pasal 10 ayat (1) UUPA yang menentukan sebagai berikut:“setiap orang dan badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan“
Sebagai pelaksanaan dari ketentuan tersebut, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan
2
Boedie Harsono,Hukum Agrarian Indonesia, Djambatan, Jakarta,2008, hal. 384
3
Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian yang kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1964, dalam pasal 3 mengatur sebagai berikut : “Pemilik tanah pertanian yang bertempat tinggal di luar kecamatan tempat letak tanahnya, dalam jangka waktu 6 bulan wajib mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang lain di kecamatan tempat letak tanah itu atau pindah ke kecamatan letak tanah tersebut”
Dari aturan diatas, menunjukkan bahwa pemilikan tanah pertanian secara absentee tidak diperbolehkan.Tujuan melarang pemilikan tanah pertanian secara absentee adalah agar hasil yang diperoleh dari pengusahaan tanah pertanian sebagian besar dapat dinikmati oleh masyarakat petani yang tinggal di daerah tersebut, bukan dinikmati oleh masyarakat luar yang bukan petanidan tidak tinggal di daerah tersebut yang hanya untuk kepentingan sebagai asset di kemudian hari.
Untuk lebih jelasnya, tujuan dari Pemerintah mengatur mengenai adanya larangan kepemilikan tanah absentee, diantaranya adalah4 :
1. Agar hasil yang diperoleh dari pengusahaan tanah itu sebagian besar dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan tempat letak tanah yang bersangkutan, karena pemilik tanah akan bertempat tinggal di daerah penghasil;
2. Karena kepentingan sosial danperlindungan tanah, karena ada kekhawatiran dari pemerintah kalau tanah absentee dibiarkan akan menjadi tanah yang terlantar dan kurang produktif sebab tempat tinggal pemiliknya jauh. Untuk itu pemerintah akan segera mengambil langkah penyelamatan yaitu dengan cara melarang pemilikan tanah secara absentee ini;
3. Tanah penggarapan menjadi tidak efisien, termasuk mengawasinya dan pengangkutan hasil-hasilnya. Keadaan dapat menimbulkan pengisapan dari orang-orang kota terhadap desa, baik dengan sistem sewa ataupun bagi hasil. Dengan demikian keringat dan tenaga para petani juga dinikmati oleh pemiliknya yang tidak berada didaerah tersebut.
4
Sehingga hal itu tidak sesuai dengan tujuan landreform yang diselenggarakan di Indonesia yaitu untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup masyarakat petani penggarap tanah dan sebagai landasan atau persyaratan untuk menyelenggarakan pembangunan ekonomi menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
3. Pengecualian atas kepemilikan Tanah secara Absentee.
Pada dasarnya pemilikan tanah secara absente dilarang oleh pemerintah kecuali kepada Pegawai Negeri dan ABRI, hal ini dikarenakan Pegawai Negeri dan ABRI adalah abdi negara yang tugasnya dapat berpindah-pindah tempat. Di dalam Pasal 10 UUPA ayat (1) menentukan bahwa setiap orang dan Badan Hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan mencegah cara-cara pemerasan. Dalam penjelasan UUPA pada Bab II angka 7 membuka kemungkinan diadakannya dispensasi, contohnya Pegawai Negeri, yang untuk persediaan hari tuanya mempunyai tanah pertanian dan berhubungan dengan pekerjaannya tidak dapat memungkinkan dapat mengusahakannya sendiri.
Lebih lanjut ketentuan mengenai pengecualian pemilikan tanah secara absentee diatur pada Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 jo Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1964 pasal 3 yang menentukan bahwa mereka yang mendapatkan pengecualian untuk memiliki tanah secara absentee yaitu : 1. Bagi Pemilik tanah yang bertempat tinggal di kecamatan yang berbatasan
dengan kecamatan tempat letak tanah, dengan syarat jika jarak antara tempat tinggal pemilik dan tanahnya masih memungkinkan untuk mengerjakan tanah tersebut secara efisien menurut pertimbangan panitia landreform daerah tingkat II;
2. Mereka yang sedang menjalankan tugas Negara, menunaikan kewajiban agama atau mempunyai alasan khusus lainnya yang dapat diterima oleh Menteri Agraria;
3. Bagi pegawai-pegawai negeri dan pejabat-pejabat militer serta yang dipersamakan dengan mereka yang sedang menjalankan tugas Negara.
Dan untuk Pegawai Negeri diatur lebih lanjut pada Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1977 yaitu pasal 2 yang menentukan pengecualian pemilikan tanah secara absentee juga berlaku bagi pensiunan Pegawai Negeri serta janda pensiunan Pegawai Negeri selama tidak menikah lagi. Bagi para Pegawai Negeri dan pejabat militer serta mereka yang dipersamakan dapat memiliki tanah secara absentee sebatas 2/5 dari luas maksimum yang ditentukan untuk daerah yang bersangkutan.Kemudian dalam pasal 33 Peraturan Pemerintah No.224 Tahun 1961 diperbolehkannya menerima hibah tanah pertanian untuk persediaan hari tuanya, dengan tetap maksimum yang diperbolehkannya 2/5 dari luas yang diperbolehkannya.Yang dimaksud dengan Pegawai Negeri adalah baik pegawai negeri, anggota ABRI, pegawai perusahaan negara dan jika hibah itu diberikan kepada seseorang waris yang merupakan istri atau anak pegawai negara, asal saja mereka masih menjadi tanggungan dari pegawai negeri tersebut (Parlindungan, landrefrom di Indonesia, hal.124).
4. Dampak Hukum kepemilikan Tanah secara Absentee
Sebelum lebih jauh melihat dampak hukum kepemilikan tanah secara absentee, maka terlebih dahulu kitapahamifaktor-faktor penyebab banyaknya pemilikan tanah secara Absentee5, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat agar dapat berjalan dengan tertib dan teratur tentunya didukung oleh adanya suatu tatanan agar kehidupan menjadi tertib.Dalam hal ini, walaupun pemerintah telah berusaha untuk mencegah terjadinya pemilikan tanah pertanian secara absentee/guntai, namun hal ini tidak lepas pula dari peran serta masyarakat untuk mematuhi peraturan-peraturan yang telah ada.Hal ini tidak lepas dari itikad seseorang yang sudah mengetahui tentang peraturan adanya larangan pemilikan tanah pertanian secara absentee/guntai tersebut, mereka sengaja melanggar peraturan tersebut demi keuntungan ekonomi diri sendiri.
Kepemilikan tanah pertanian secara absenteedapat terjadi karena adanya jual beli di bawahtangan, yang pada umumnya oleh pemiliknya
5
Rahman, Makalah tentang “Faktor-Faktor Penyebab banyaknya Pemilikan Tanah Pertanian Secara Absentee/guntai”, 2015, hal. 4-7
pengelolaannya diberikan kepada penduduk setempat sebagai petani penggarap. Hubungan hukum seperti ini sudah berlaku umum dan bagi penduduk setempat, khususnya para petani penggarap dirasakan cukup menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun hubungan sosial/kekeluargaan.
2. Faktor Budaya yaitu Pewarisan.
Dalam kaitannya dengan faktor penyebab terjadinya tanah absentee dari aspek kebudayaanyaitu karena adanya Pewarisan.Hal pewarisan ini sebagai wujud kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Pewarisan sebenarnya menjadi peristiwa hukum yang lumrah terjadi dimana-mana di setiap keluarga, akan tetapi peristiwa hukum ini menjadi penting diperhatikan sehubungan dengan adanya larangan pemilikan tanah pertanian secara absentee, apalagi jika ahli warisnya berada jauh di luar kecamatan letak tanah pertanian tersebut berada. Kepemilikan tanah pertanian secara absentee itu sebenarnya bisa dihindari dengan ahli waris itu pindah ke kecamatan di mana tanah warisan itu berada, atau tanah warisan itu dialihkan kepada penduduk yang berdomisili di kecamatan itu, namun dalam kenyataannya yang sering dijumpai dalam praktiknya, bahwa pewarisan itu jarang sekali yang segera diikuti dengan pembagian warisan dalam tenggang waktu satu tahun sejak kematian pewarisnya. Hal itu disebabkan karena adat kebiasaan di masyarakat, dan adanya perasaan tidak etis bila ada kehendak untuk segera membagi-bagikan harta warisan sebelum selamatan 1000 hari kematian pewaris.Oleh karenanya alternatif secara yuridis yang ditawarkan dalam rangka menghindarkan diri dari ketentuan tanah absenteesulit untuk dapat dipenuhi.Namun, walaupun terjadi demikian, para kepala desa atau aparat desa umumnya melindungi pula kepentingan para ahli waris itu.
Pertimbangan yang dijadikan dasar untuk berbuat demikian antara lain karena mereka mengenal baik pewaris maupun ahli warisnya. Para ahli waris umumnya menyatakan ingin tetap memiliki tanah warisan itu sebagai penompang kehidupan di hari tua.Kehendak merantau bagi mereka adalah
untuk memperbaiki kehidupannya, dan setelah tua mereka ingin menghabiskan sisa hidupnya di daerah asalnya.Dengan alasan seperti itu, maka aparat desa tidak pernah melaporkan terjadinya tanah absentee karena pewarisan itu.Kalaupun ada pewarisan, ahli waris yang berada dalam perantauan itu selalu dianggap penduduk desanya.Dengan demikian, tanah-tanah absentee yang secara materiil memang ada dan terjadi karena pewarisan itu, secara formal tidak pernah diketahui datanya, sehingga lolos dari kemungkinan ditetapkan pemerintah sebagai obyek Landreform.
Dengan demikian dilihat dari nilai yang hidup dalam masyarakat petani, larangan pemilikan tanah absentee/guntai karena pewarisan tidak sesuai dengan keinginan mereka.Para petani hampir semua mengatakan konsep tanah pertanian untuk petani dan wajib diolah sendiri harus ditegakkan. Tanah pertanian banyak yang terlantar atau tidak diolah dengan semestinya karena pemiliknya bukan keluarga petani dan tinggal di daerah lain yang umumnya di perkotaan dan telah mempunyai sumber penghidupan yang lain.
3. Faktor sarana dan prasarana.
Selama ini Kantor Pertanahan diberbagai Kabupaten/kota tidak mempunyai data yang akurat tentang adanya pemilikan tanah pertanian secara absenteetersebut, yaitu tidak adanya laporan-laporan yang bersifat membantu dalam menanggulangi terjadinya pemilikan/ penguasaan tanah secara absentee dari aparat di tingkat kelurahan/desa dan kecamatan. Kurangnya koordinasi dan kerja sama ini justru menimbulkan bentuk pelanggaran yang semakin besar terhadap larangan pemilikan tanah pertanian secara absenteetersebut. Faktor aparat atau penegak hukumnya, yaitu dengan adanya kemudahan yang diberikan oleh aparat di tingkat kelurahan dan kecamatan dalam pembuatan KTP yang mengakibatkan banyak terdapat KTP ganda yang digunakan dalam transaksi pemilikan tanah di pedesaan.
4. Faktor Ekonomi
Sebagaimana diketahui bahwa tanah mempunyai nilai yang sangat penting karena memiliki nilai ekonomis.Sebagai contoh di Sumsel khususnya wilayah Kabupaten Banyuasin terdiri dari berbagai kecamatan yang memiliki tanah pertanian yang cukup subur sehingga mengundang perhatian masyarakat kota-kota besar yang kondisi ekonominya cukup baik dan bermodal kuat untuk membeli dan menjadikan tanah tersebut sebagai investasi di hari tuanya nanti, karena mereka mempunyai harapan tanah tersebut harganya akan selalu meningkat.
Seperti yang telah diuraikan di atas, bagi seorang petani, tanah pertanian adalah suatu sumber kehidupan, lambang status dalam masyarakat agraris.Karena itu seorang petani tidak mungkin meninggalkan tanah pertaniannya, membiarkan tanahnya menjadi tanah absentee. Selain itu data menunjukkan bahwa yang memiliki tanah pertanian secara absentee, bukanlah para petani, tetapi orang-orang kota yang membeli tanah pertanian. Tanah itu dibeli bukan untuk diolah sebagaimana peruntukkan tanahnya, tetapi dibeli sebagai sarana investasi dan dijual kembali setelah harganya tinggi.
Dengan demikian, ketidaktahuan seorang petani mengenai adanya larangan pemilikan tanah secara absentee tidak berpotensi untuk melahirkan tanah absentee, kecenderungan yang muncul dalam masyarakat petani adalah pemilikan tanah yang melebihi batas maksimum. Kecenderungan ini terjadi karena nilai budaya masyarakat tani itu sendiri. Misalnya, seorang keluarga petani yang telah berhasil merubah kehidupannya dan tinggal menetap di kota akan menyerahkan atau menjual tanahnya kepada orang yang memegang prioritas utama yaitu sanak keluarga yang masih tetap jadi petani. Namun demikian, kadangkala terjadi juga peristiwa yang sebaliknya, dimana keluarga petani yang telah berhasil hidup layak di kota dan mengetahui bahwa tanah merupakan investasi yang menjanjikan membeli tanah-tanah pertanian di kampung halamannya. Dalam hal ini telah terjadi imitasi terhadap perilaku orang-orang kota yang senang menanam investasinya dalam jual beli tanah.
Telah diketahui sebelumnya bahwa ketentuan larangan pemilikan tanah secara absentee termasuk ketentuan hukum yang bersifat memaksa, dengan kata lain ketentuan-ketentuan dalam Pasal 10 UUPA termasuk peraturan-peraturan yang tidak boleh dikesampingkan.Undang-undang ini dari segi hukumnya, jelaslah bahwa secara formal keseluruhan peraturan perundangan yang mengatur adalah sah, karena dibentuk oleh pejabat/instansi yang berwenang dan dalam pembentukannya telah melalui proses sebagaimana yang ditentukan.Namun, dari segi materiil, keseluruhan peraturan yang mengatur tentang larangan pemilikan/penguasaan tanah pertanian secara absentee adalah produk sekitar tahun 60-an. Sehingga dalam kenyataannya sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat saat ini, khususnya yang terjadi di berbagai Kabupaten/kota. Dilihat batas wilayah untuk menentukan keberadaan dari tanah absentee adalah wilayah kecamatan, atau setidaknya wilayah kecamatan yang berbatasan, yaitu dengan jarak tidak lebih dari 5 Km, namun dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi, transportasi dan semakin canggihnya metode pertanian saat ini, ternyata jarak yang demikian jauh bahkan antar pulau tidak menjadi hambatan untuk bisa mengolah tanah pertaniannya dengan efektif. Dari jarak yang berjauhan selama perantauan, ternyata para pemilik tanah masih bisa secara aktif memantau perkembangan atas penggarapan tanahnya sehingga tidak adanya tanah terlantar.
Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa ada pula tanah-tanah pertanian yang ditelantarkan pemiliknya karena dia sendiri berdomisili di luar kota atau bahkan di luar Provinsi. Hal itu tentu saja menimbulkan kesulitan bagi sebagian pihak.Dengan demikian, jelaslah terbukti bahwa ketentuan-ketentuan larangan pemilikan/penguasaan tanah pertanian secara absentee yang ada pada saat ini masih perlu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat pada saat ini.
Apabila seseorang ketahuan memiliki kelebihan tanah (absentee) maka tanah tersebut harus dilepaskan dan sanksi yang akan dikenakan jika kewajiban diatas tidak dilaksanakan atau terjadi pelanggaran terhadap sesuai yang diterangkan diatas maka tanah yang bersangkutan akan diambil oleh pemerintah untuk kemudian didistribusikan dalam rangka landreform, dan kepada bekas
pemiliknya diberikan ganti kerugian sesuai dengan peraturan yang berlaku bagi para bekas pemilik tanah tersebut. Akan tetapi, bagi pemilik tanah absentee dapat menyelamatkan haknya dari diambilnya oleh pemerintah antara lain dengan jalan :
1. Tanah tersebut dijual kepada masyarakat disekitar lokasi kecamatan tersebut; 2. Ditukarkan kepada penduduk setempat (yang berada diwilayah tempat tanah
berada);
3. Salah satu anggota keluarganya pindah tempat tinggal disekitar tanah itu berada;
4. Diberikan secara sukarela kepada penduduk setempat ( biasanya berupa wakaf atau hibah ).
D. PENUTUP 1. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Latar belakang adanya larangan kepemilikan tanah pertanian secara absentee adalah agar hasil yang diperoleh dari pengusahaan tanah pertanian sebagian besar dapat dinikmati oleh masyarakat petani yang tinggal di daerah tersebut, bukan dinikmati oleh masyarakat luar yang bukan petanidan tidak tinggal di daerah tersebut yang hanya untuk kepentingan sebagai asset/investasu di kemudian hari;
2. Dampak bagi pemilik tanah secara absentee dalam perspektif hukum, apabila seseorang ketahuan memiliki kelebihan tanah (absentee) maka tanah tersebut harus dilepaskan dan sanksi yang akan dikenakan jika kewajiban diatas tidak dilaksanakan atau terjadi pelanggaran terhadap sesuai yang diterangkan diatas maka tanah yang bersangkutan akan diambil oleh pemerintah untuk kemudian didistribusikan dalam rangka landreform, dan kepada bekas pemiliknya diberikan ganti kerugian sesuai dengan peraturan yang berlaku bagi para bekas pemilik tanah tersebut.
2. Saran
Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka penulis dapat memberikan saran sebagai solusi yang bisa gunakan untuk mengurangi pemilikan tanah pertanian secara Absenteeyaitu sebagai berikut:
1. Kantor pertanahan seharusnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat karena kebanyakan masyarakat masih kurang tahu mengenai pelararangan pemilikan tanah pertanian secara Absente, apalagi di masyarakat sering melakukan jual-beli tanah tanpa memikirkan tempat tinggal dan dan letak tanah yang akan dibelinya. Dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh kantor pertanahan sekiranya bisa mengurangi kepemilikan tanah secara Absentee di masyarakat;
2. Penertiban administrasi, yaitu dengan melakukan pengawasan yang ketat terhadap pemindahan hak atas tanah pertanian melalui kerja sama antara instansi yang terkait yaitu Kepala Desa, Kecamatan dan PPAT/Notaris;
3. Penertiban hukum, yaitu melalui penyuluhan hukum yang terarah dan diselenggarakan terus menerus secara luas terhadap masyarakat juga pejabat/aparat yang berkaitan dengan masalah pertanahan.
DAFTAR PUSTAKA
Boedie Harsono, Hukum Agrarian Indonesia, Djambatan, Jakarta,2008
Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Media Gropu, Jakarta, 2012
Rahman, Makalah tentang “Faktor-Faktor Penyebab banyaknya Pemilikan Tanah Pertanian Secara Absentee/guntai”, 2015
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria
Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1964tentang Perubahan Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1977 tentang Pemilikan Tanah Pertanian secara guntai (Absentee) bagi Para Pensiunan Pegawai Negeri