commit to user
97 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Ngayogyakarta Hadiningrat yang didirikan oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono 1) pada tahun 1755 hasil dari Perjanjian Giyanti, di kemudian hari tumbuh menjadi Kota yang kaya akan budaya dan kesenian Jawa. Yang menjadi titik sentral dari perkembangan kesenian dan budaya adalah Kesultanan. Beragam kesenian Jawa klasik, seperti seni tari, tembang, geguritan, gamelan, seni lukis, sastra serta ukuir-ukiran, berkembang dari dalam keraton dan kemudian menjadi kesenian rakyat.
1. Batas Wilayah
Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai Ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota disamping 4 daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten.
Kota Yogyakarta terletak ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Kabupate Sleman
b. Sebelah Timur : Kabupaten Bantul dan Sleman c. Sebelah Selatan : Kabupaten Bantul
commit to user
98
Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 110o 24l 19ll sampai 110o 28l 53ll Bujur Timur dan 7o 15l 24ll sampai 7o 49l 26ll Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114 m diatas permukaan laut. 2. Luas Wilayah
Kota Yogyakarta memiliki luas tersempit dibandingkan dengan daerah tingkat II lainnya, yaitu 32,5 Km2 yang berarti 1,025% dari luas wilayah Propinsi DIY.
Dengan luas 3.250 hektar tersebut terbagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Kelurahan 617 RW dan 2.531 RT, serta dihuni oleh 428.282 jiwa (Sumber dari SIAK per tanggal 28 Februari 2013) dengan kepadatan rata-rata 13.177 jiwa/KM2.
Gambar 4.1 Peta Wilayah Kota Yogyakarta 3. Keadaan Alam
Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan datar rendah dimana dari Barat ke Timur relatif datar dan dari Utara ke Selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat, serta terdapat 3 sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu :
commit to user
99
a. Sebelah Timur adalah sungai Gajah Wong b. Bagian Tengah adalah sungai Code
c. Sebelah Barat adalah sungai Winongo
Wilayah Kota Yogyakarta terbagi dalam lima bagian Kota dengan pembagian sebagai berikut:
a. Wilayah I
Ketinggian daerah ini ± 91 m - ± 17 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk dalam Wilayah ini adalah :
1) Sebagian Kecamatan Jetis 2) Kecamatan Gedongtengen 3) Kecamatan Ngampilan 4) Kecamatan Keraton 5) Kecamatan Gondomanan b. Wilayah II
Ketinggian daerah ini ± 97 m - ± 114 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah :
1) Kecamatan Tegalrejo
2) Sebagian Kecamatan Wirobrajan c. Wilayah III
Ketinggian daerah ini ± 102 m - ± 130 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah :
1) Kecamatan Gondokusuman 2) Kecamatan Danurejan 3) Kecamatan Pakualaman
commit to user
100
4) Sebagian kecil Kecamatan Umbulharjo d. Wilayah IV
Ketinggian daerah ini ± 75 m - ± 120 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah :
1) Sebagian Kecamatan Mergangsan 2) Kecamatan Umbulharjo
3) Kecamatan Kotagedhe 4) Kecamatan Mergangsan e. Wilayah V
Ketinggian daerah ini ± 83 m - ± 102 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk kedalam wilayah ini adalah :
1) Kecamatan Wirobrjan 2) Kecamatan Mantrijeron
3) Sebagian Kecamatan Gondomanan 4) Sebagian Kecamatan Mergangsan 4. Demografi
Jumlah penduduk Kota Yogyakarta berdasarkan perhitungan tahun 2011 adalah sebesar 11.958 jiwa/km2. Kepadatan penduduk tertinggi terdpat di Kecamatan Ngampilan yaitu sebesar 19.902 jiwa/km2. Kecamatan lain dengan kepadatan penduduk tinggi adalah Kecamatan Gedongtengen (17.901 jiwa) dan Danurejan (16.675 jiwa). Keberadaan pusat perdagangan dan wisata Kota Yogyakarta yaitu kawasan Malioboro, Pasar Bringharjo dan Kraton yang dekat dengan
commit to user
101
tiga kecamatan tersebut, membuat penduduk memilih ketiga kecamatan tersebut menjadi tempat bermukim.
Laju pertumbuhan penduduk Kota Yogyakarta tahun 2010 adalah minus 2,23%. Menurunnya pertumbuhan penduduk Kota Yogyakarta dapat disebabkan karena beberapa hal. Migrasi penduduk yang tinggal ke Kabupaten lain di sekitar Kota Yogyakarta dapat menjadi penyebab utama. Kepadatan Penduduk yang tinggi, dan mahalnya harga lahan di Kota Yogyakarta, dan mudahnya akses menuju dan keluar Kota Yogyakarta membuat keluarga baru memilih untuk bertempat tinggal di luar Kota Yogyakarta, seperti Kabupaten Sleman dan Bantul.
5. Fasilitas Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada di Kota Yogyakarta berdasarkan sumber data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta terdapat :
a. RSU 5 buah b. RS Khusus 9 buah c. RS Bersalin 9 buah d. Puskesmas 18 buah
e. Poliklinik Swasta 224 buah f. Praktek Dokter 221 buah g. Laboratorium 5 buah h. Apotek 61 buah i. Toko Obat 40 buah j. Optik 7 buah
commit to user
102 k. Praktek Bidan 21 buah l. Tenaga Dokter 379 orang m. Dokter Gigi 58 orang
Jumlah tenaga kesehatan dipandang sudah mencukupi, namun demikian secara kualitas masih kurang terutama tenaga pelayanan kesehatan di Rumah Sakit (paramedik), tenaga kesehatan yang profesional di Puskesmas dalam melaksanakan tugas pelayanan kesehatan masyarakat terutama penyuluhan.
6. Komponen Air Bersih
Potensi sumber daya air yang menonjol berasal dari curah hujan dan air tanah. Karena pengaruh kondisi dan struktur geografis yang bervariasi, maka potensi air tanah tidak merata. Daerah-daerah yang mempunyai potensi air tanah meliputi daerah lereng vilkan merapi, daerah endapan dan daerah pantai selatan. Sedangkan daerah yang potensi air tanahnya kecil terdapat di daerah perbukitan.
Tangkapan hujan (recharge area) berada di lereng Gunung Merapi. Kondisi air tanah yang bersifat tertekan dan tidak tertekan. Pda saat ini penduduk memanfaatkan air tanah yang tertekan dengan cara pembuatan sumur dangkal. Dengan melihat kondisi air tanah yang ada, maka sumber daya air cukup potensial, sehingga masyarakat cukup mudah memperoleh air non-perpipaan.
Prasarana air bersih cukup banyak mengalami masalah-masalah kualitas air yang disebabkan oleh prasarana Kota lainnya. Dalam hal ini sumber-sumber air bersih baik sumur gali maupun perpipaan tercemar
commit to user
103
kualitasnya akibat manusia, baik dari perkembangan industrinya maupun oleh kotoran manusia (air pembuangan). Kualitas air non-perpipaan (sumur dangkal) tidak memenuhi persyaratan sebagai air minum, karena kandungan bakteri coli mencapau 240 MPN/ml, meskipun secara fisik dan kimia memenuhi persyaratan.
7. Komponen Persampahan
Aspek persampahan ini akan sangat berpengaruh terlebih lagi terhadap kualitas lingkungan, apabila dalam pengolahan dan penanganan sampah tidak tepat, proses penguraian sampah akan mencemari kualitas udara, tanah dan air tanah. Pengelolaan persampahan Kota Yogyakarta secara umum telah mampu melayani wilayah Kota, dengan menggunakan mekanisme off-site management. Hampir di setiap rumah di Kota Yogyakarta memiliki unit pewadahan sendiri yang berupa ember, cor beton, tong plastik, bekas drum dan di pusat keramaian terdapat tong sampah umum.
B. Hasil Penelitian
BAB ini menyajikan hasil penelitian sebagai berikut dengan menggunakan analisis univariat, analisisi bivariat dan analisis multivariat. 1. Karakteristik Subjek Penelitian
Hasil penelitian kepada kelompok kasus 30 subjek ibu yang menderita kanker serviks (kasus) dan kelompok kontrol 90 subjek ibu yang tidak menderita kanker serviks (kontrol). Tabel distribusi frekuensi karakteristik subjek penelitian dapat dijelaskan pada Tabel 4.
commit to user
104
Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia ibu, pekerjaan, pendidikan dan pendapatan
No Karakteristik Kasus Kontrol
N (%) N (%) 1 Usia Ibu a. < 40 tahun 9 30 21 70 b. ≥ 40 tahun 21 23 69 77 2 Pendidikan Ibu a. < 12 tahun 19 33 38 67 b. ≥ 12 tahun 11 17,5 52 82,5 3 Pekerjaan Ibu a. Bekerja 3 10 26 90 b. Tidak bekerja 27 30 64 70 4 Pendapatan a. < Rp. 1.452.400 21 39,6 32 60,4 b. ≥ Rp. 1.452.400 9 13,4 58 86,6
Sumber: Data Primer, 2016
Hasil diskripsi Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia ibu, pekerjaan, pendidikan dan pendapatan dibagi menjadi dua subjek yang pertama yaitu subjek kasus dengan hasil, usia ibu (≥ 40 tahun) mayoritas yang menderita kanker serviks sebanyak 21 ibu (23%), pendidikan ibu mayoritas kurang < 12 tahun sebanyak 19 orang (33%), pekerjaan ibu mayoritas tidak bekerja sebanyak 27 orang (30%), dan pendapatan mayoritas kurang dari Rp. 1.452.400 sebanyak 21 orang (39.6%). Yang kedua subjek kontrol, usia ibu ≥ 40 tahun sebanyak 69 (77%), pendidikan ibu mayoritas ≥ 12 tahun sebanyak 52 orang (82.5%), pekerjaan ibu mayoritas tidak bekerja sebanyak 64 orang (70%) dan pendapatan ibu mayoritas ≥ Rp. 1.452.400 sebanyak 58 orang (86.6%).
commit to user
105 2. Hasil Analisis
a. Analisis Univariat
Deskripsi variabel penelitian secara univariat menjelaskan tentang gambaran umum data penelitian masing-masing variabel penelitian meliputi status kanker serviks, pendidikan, pendapatan, usia pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah pasangan seksual, penggunaan kontraepsi oral, status gizi, higiene genetalia, dan sanitasi lingkungan.
Tabel 4.2 Deskripsi Status Kanker Servik
Status Risiko Kanker Serviks Frekuensi (n) Persentase (%)
Tidak 90 75
Ya 30 25
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi status kanker serviksmenunjukkan terdapat 90 subjek ibu yang tidak mengalami kanker serviks (75%) dan 30 subjek ibu mengalami kanker serviks(25%).
Tabel 4.3 Deskripsi Pendidikan Ibu
Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah < 12 tahun 57 47.5
Tinggi ≥ 12 tahun 63 52.5
Total 120 100
Sumber : Data diolah, 2016
Hasil deskripsi pendidikan ibu menunjukkan terdapat 57 subjek yang memiliki pendidikan rendah< 12 tahun (47.5%) dan 57 subjek yang memiliki pendidikan tinggi ≥ 12 tahun (52.5%).
commit to user
106
Tabel 4.4 Deskripsi Pendapatan Keluarga
Pendapatan Keluarga Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah < Rp. 1.452.400 53 44.2
Tinggi ≥ Rp. 1.452.400 67 55.8
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi pendapatan keluarga dalam sebulan menunjukkan terdapat 53 subjek yang memiliki pendapatan keluarga rendah<Rp. 1.452.400 (44.2%) dan 67 subjek yang memiliki pendapatan tinggi ≥ Rp. 1.452.400 (55.8%).
Tabel 4.5 Deskripsi Usia Pertama Kali Hubungan Seksual Usia Pertama Kali Hubungan
Seksual Frekuensi (n) Persentase (%)
Beresiko < 20 tahun 43 35.8
Tidak Beresiko ≥ 20 77 64.2
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi usia pertama kali hubungan seksual menunjukkan terdapat 77 subjek yang tidak berisiko ≥ 20 (64.2%) dan 43 subyek memiliki usia berisiko < 20 tahun (35.8%).
Tabel 4.6 Deskripsi Jumlah Pasangan Seksual
Jumlah Pasangan Seksual Frekuensi (n) Persentase (%)
1 pasangan 73 60.8
> 1 pasangan 47 39.2
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi jumlah pasangan seksual menunjukkan terdapat 47 subjek yang tidak berisiko hanya 1 pasangan (39.2%) dan 73 subyek memiliki berisiko > 1 pasangan (60.8%).
commit to user
107
Tabel 4.7 Deskripsi Penggunaan Kontrasepsi Oral
Penggunaan Kontrasepsi Oral Frekuensi (n) Persentase (%)
< 5 tahun 86 71.7
≥ 5 tahun 34 28.3
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi penggunaan kontrasepsi oral menunjukkan terdapat 86 subjek yang menggunakan < 5 tahun (71.7%) dan 34 subyek menggunakan ≥ 5 tahun (28.3%).
Tabel 4.8 Deskripsi Status Gizi
Status Gizi Frekuensi (n) Persentase (%)
Normal 60 50
Tidak Normal 60 50
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi status gizi menunjukkan terdapat 50 subjek dengan status gizi tidak normal (50%) dan 50 subjek dengan status gizi normal (50%).
Tabel 4.9 Deskripsi Higiene Genetalia
Higiene Genetalia Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik ≥ 88 55 45.8
Buruk < 88 65 54.2
Total 120 100
Sumber: Data diolah, 2016
Hasil deskripsi higiene genetalia menunjukkan terdapat 65 subjek dengan higiene genetalia buruk < 88 (54.2%) dan 55 subjek dengan higiene genetalia baik ≥ 88 (45.8%).
Tabel 4.10 Deskripsi Sanitasi Lingkungan Tempat Tinggal Sanitasi Lingkungan Tempat
Tinggal Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik ≥ 12 87 72.5
Buruk < 12 33 27.5
Total 120 100
commit to user
108
Hasil deskripsi sanitasi lingkungan tempat tinggal terdapat 87 subjek dengan lingkungan baik Baik ≥ 12 (72.5%) dan 33 subjek dengan lingkungan buruk < 12 (27.5).
b. Analisis Bivariat
Analisis secara bivariat menjelaskan tentang pengaruh satu variabel independent terhadap satu variabel dependent yaitu pendidikan ibu, pendapatan keluarga, usia pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah pasangan seksual, kontrasepsi oral, status gizi, higiene genetalia dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian kanker serviks. Metode yang digunakan adalah uji chi-square, dengan taraf kepercayaan 95% (nilai p=0.05).
Tabel 4.11 Uji Chi-Square Pengaruh Pendidikan Ibu dengan Kejadian Kanker Serviks
Kelompok variabel
Status Kanker Serviks OR
CI (95%)
p Tidak (%) Ya(%) Batas
bawah
Batas atas Status Pendidikan Ibu
Tinggi ≥ 12 tahun 52 (82.5%) 11 (17.5%) 2.36 1 5.54 0.045 Rendah < 12 tahun 38 (66.7%) 19 (33.3%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.11 menyajikan analisis bivariat tentang pendidikan ibu dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 2.36 dengan nilai p=0.045 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 1-5.54. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pendidikan dengan kejadian kanker serviks.
commit to user
109
Tabel 4.12 Uji Chi-Square Pengaruh Pendapatan Keluarga dalam sebulan dengan Kejadian Kanker Serviks
Kelompok variabel Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak (%) Ya Batas bawah Batas atas (%) Pendapatan ≥Rp.1.452.400 58 (86.6%) 9 (13.4%) 4.22 1.73 10.32 0.001 <Rp.1.452.400 32 (60.4%) 21 (39.6%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.12 menyajikan analisis bivariat tentang pendapatan keluarga dalam sebulan dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 4.22 dengan nilai p =0.001 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 1.73-10.3. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pendapatan keluarga dalam sebulan dengan kejadian kanker serviks.
Tabel 4.13 Uji Chi-Square Pengaruh Usia Pertama Melakukan Hubungan Seksual dengan Kejadian Kanker Serviks Kelompok variabel Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak (%) Ya Batas bawah Batas atas (%)
Usia pertama Kali Hubungan Seksual Tidak beresiko ≥ 20 tahun 67 (87%) 10 (13%) 5.82 2.38 14.25 0.001 Berisiko <20 tahun 23 (53.5%) 20 (46.5%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.13 menyajikan analisis bivariat tentang usia pertama berhubungan seksual dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar
commit to user
110
5.82dengan nilai p=0,000 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 2.38-14.25. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara usia pertama melakukan hubungan seksual dengan kejadian kanker serviks.
Tabel 4.14 Uji Chi-Square Pengaruh Jumlah Pasangan Seksual dengan Kejadian Kanker Serviks
Kelompok variabel Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak Ya Batas bawah Batas atas (%) (%) Jumlah Pasangan Seksual 1 pasangan 63 (86.3%) 10 (13.7%) 4.66 1.93 11.28 0.001 > 1 pasangan 27 (57.4%) 20 (42.6%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.14 menyajikan analisis bivariat tentang jumlah pasangan seksual dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 4.66 dengan nilai p=0.001 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 1.93-1128. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jumlah pasangan seksual dengan kejadian kanker serviks.
commit to user
111
Tabel 4.15 Uji Chi-Square Pengaruh Kontrasepsi Oral dengan Kejadian Kanker Serviks
Kelompok variabel Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak (%) Ya Batas bawah Batas atas (%) KB Oral < 5 tahun 70 (81.4%) 16 (18.6%) 3.06 1.28 7.2 0.010 ≥ 5 tahun 20 (58.8%) 14 (41.2%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.15 menyajikan analisis bivariat tentang pengaruh kontrasepsi oral dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 3.06 dengan nilai p=0.010 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)=1.28-7.32. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengaruh kontrasepsi oral dengan kejadian kanker serviks.
Tabel 4.16 Uji Chi-Square Pengaruh Status Gizi dengan Kejadian Kanker Serviks Kelompok Variabel Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak (%) Ya Batas bawah Batas atas (%) Status gizi Normal 52 (86.7%) 8 (13.3%) 3.76 1.51 9.35 0.003 Tidak normal 38 (63.3%) 22 (36.7%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.16 menyajikan analisis bivariat tentang pengaruh status gizi dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 3.76 dengan nilai p=0.003
commit to user
112
lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 1.51-9.35. Hal ini menunjukkanterdapat hubungan signifikan antara status gizi dengan kejadian kanker serviks
Tabel 4.17 Uji Chi-Square Pengaruh Higiene Genetalia dengan Kejadian Kanker Serviks
Kelompok Variabel Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak (%) Ya Batas bawah Batas atas (%) Higiene Genetalia Baik ≥ 88 49 (89.1%) 6 (10.9%) 4.78 1.78 12.81 0.001 Kurang < 88 41 (63.1%) 24 (36.9%) Total 90 (75%) 30 (25%)
Sumber: Data diolah, 2016
Pada tabel 4.17 menyajikan analisis bivariat tentang pengaruh Higiene Genetalia dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 4.78 dengan nilai p=0.001 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 1.78-12.81. Hal ini menunjukkanterdapat hubungan signifikan antara higiene genetalia dengan kejadian kanker serviks.
Tabel 4.18 Uji Chi-Square Pengaruh Sanitasi Lingkungan Tempat Tinggal dalam sebulan dengan Kejadian Kanker Serviks Kelompok
variabel
Status Kanker Serviks OR CI (95%) p Tidak (%) Ya Batas bawah Batas atas (%) Sanitasi Lingkungan Baik ≥ 12 75 (86.2%) 12 (13.8%) 7.5 2.99 18.76 0.001 kurang < 12 15 (45.5%) 18(54.5%) Total 90 (75%) 30 (25%) Sumber: Data diolah, 2016
commit to user
113
Pada tabel 4.18 menyajikan analisis bivariat tentang pengaruh sanitasi lingkungan tempat tinggal dengan kejadian kanker serviks didapatkan nilai chi-square hitung Odd ratio (OR) sebesar 7.5 dengan nilai p=0.001 lebih kecil dari 0.05;CI (95%)= 2.99-18.76. Hal ini menunjukkanterdapat hubungan signifikan antara sanitasi lingkungan tempat tinggal dengan kejadian kanker serviks.
c. Analisis Multivariat dengan Multilevel
Pengaruh secara multivariat menjelaskan tentang pengaruh lebih dari satu variabel independent yaitu pendidikan, pendapatan, usia pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah hubungan seksual, status gizi, kontrasepsi oral, higiene genetalia dan sanitasi lingkungan terhadap satu variabel dependent yaitu risiko mengalami kanker serviks. Metode yang digunakan adalah regresi logistik dengan pendekatan multilevel menggunakan program STATA 13.
Analisis multilevel digunakan untuk data yang berstruktur hirarki. Pada penelitian ini terdapat level individu yaitu pendidikan, pendapatan keluarga, usia pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah pasangan seksual, status gizi, kontrasepsi oral dan higiene genetalia.
commit to user
114
Tabel 4.19 Hasil Regresi Logistik Dengan Pendekatan Analisis Multilevel Determinan Sosial Dengan Kejadian Kanker Serviks
Variabel Independent OR CI 95% p
Lower Upper
Fixed Effect:
Pendidikan ibu ≥ 12 tahun 0.14 (0.09 2.08 0.155)
Pendapatan keluarga (Rp. 1.452.400) 3.45 (0.26 45.45 0.346)
Usia pertama melakukan 8.54 (1.17 62.41 0.034)
hubungan seksual < 20 tahun
Jumlah pasangan seksual > 1 pasangan 14.6 (2.93 72.66 0.001) Kontrasepsi oral ≥ 5 tahun 1.85 (0.37 9.20 0.452) Status gizi (BMI < 18,50, ≥ 23,00) 5.69 (1.36 23.82 0.017) Higiene genetalia buruk <88 9.23 (1.76 48.35 0.009)
Random Effect:
Konstanta 0.005
Sanitasi lingkungan rumah
Var (Konstanta) 2.25 0.40 12.71
N Observasi = 120
-2 Likelihood Ratio -37.78
p = 0.004
Interclass correlation 40.68%
LR test vs. Logistic regression chi square (x2) = 7.32, p = 0.003 Sumber: Data diolah, 2016
Hasil persamaan regresi logistik dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Pendidikan Ibu
Terdapat pengaruh yang terbailk (negatif) antara pendidikan ibu dan risiko untuk mengalami kanker serviks, tetapi pengaruh tersebut secara statistik tidak signifikan. Ibu dengan pendidikan tinggi ≥ 12 tahun memiliki risiko untuk mengalami kanker serviks 1/7 kali lebih rendah daripada yang berpendidikan rendah < 12 tahun (OR=0.14, CI=0.09-2.08, p=0.155).
2. Pendapatan Keluarga
Terdapat pengaruh yang positif kuat antara pendapatan keluarga dan risiko untuk mengalami kanker serviks, tetapi secara statistik tidak signifikan (OR=3.45; CI=0.26-45.45; p=0.346).
commit to user
115
3. Usia Pertama Kali Melakukan Hubungan Seksual
Terdapat pengaruh yang positif kuat antara usia pertama kali melakukan hubungan seksual dan risiko mengalami kanker serviks dan pengaruh tersebut secara statistik signifikan. Wanita yang melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia dibawah 20 tahun memiliki risiko untuk mengalami kanker serviks 8.5 kali lebih besar dari usia lebih 20 tahun (OR=8.54, CI=1.17-62.41, p=0.034).
4. Jumlah Pasangan Seksual
Terdapat pengaruh yang positif kuat antara jumlah pasangan seksual dan risiko mengalami kanker serviks dan pengaruh tersebut secara statistik signifikan. Wanita dengan jumlah pasangan seksual lebih dari 1 pasangan memiliki risiko 15 kali untuk mengalami kanker serviks daripada yang hanya 1 pasangan (OR=14.6, CI=2.93-72.66, p=0.001)
5. Kontrasepsi Oral
Terdapat pengaruh yang lemah antara penggunaan kontrasepsi oral dan risiko mengalami kanker serviks, tetapi secara statistik tidak signifikan. (OR=1.85; CI=0.37-9.20; p=0.452).
6. Status Gizi
Terdapat pengaruh yang positif kuat antara status gizi dan risiko mengalami kanker serviks dan pengaruh tersebut secara statistik signifikan. Ibu dengan status gizi yang tidak normal memiliki
commit to user
116
risiko untuk mengalami kanker serviks 6 kali lebih besar daripada yang status gizi normal (OR=5.69; CI=1.36-23.82; p=0.017) 7. Higiene Genetalia
Terdapat hubungan yang positif kuat antara higiene genetalia dan risiko kanker serviks dan pengaruh tersebut secara statistik signifikan. Wanita dengan higiene genetalia yang buruk memiliki risiko untuk mengalami kanker serviks sebesar 9.5 kali dari yang higiene genetalianya baik (OR=9.23; CI=1.76-48.35; p=0.009) 8. Sanitasi Lingkungan Rumah
Pada tabel 4.19 ditunjukkan ICC=40,68%, indikator tersebut menunjukkan bahwa risiko kanker serviks pada ibu bervariasi, dan sebanyak 40,68% dari variasi tersebut ditentukan pada level yang lebih tinggi yaitu sanitasi lingkungan rumah. Angka tersebut lebih besar dari angka patokan rule of thumb 8-10%, maka pengaruh kontekstual sanitasi rumah tersebut yang ditunjukkan dari analisis multilevel memang penting untuk diperhatikan dan konstanta bervariasi menurt level 2 yaitu sanitasi lingkungan rumah. Pada tabel tersebut juga ditunjukkan LR test vs logistic regression chi square 7.32, p=0.003 artinya terdapat perbedaan secara statistik yang signifikan antara model tanpa memperhitungkan pengaruh konstektual dan model yang memperhitungkan pengaruh konstektual. Dalam hal ini kondisi sanitasi lingkungan rumah.