8
BIOLOGI BERBASIS KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA KONSEP SISTEM REPRODUKSI
A. Kajian Teori
1. Modul Pembelajaran 1) Pengertian Modul
Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik. Modul minimal memuat tujuan pembelajaran, materi atau substansi belajar dan evaluasi. Modul berfungsi sebagai sarana belajar yang bersifat mandiri, sehingga peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan masing-masing (Daryanto, 2013:9).
Menurut buku Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar (Dalam Prastowo, 2011:104) modul diartikan sebagai sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Dalam Prastowo, 2011: 104), modul adalah kegiatan program belajar mengajar yang dapat dipelajari oleh peserta didik dengan bantuan yang minimal dari guru atau dosen pembimbing meliputi perencanaan tujuan yang akan dicapai secara jelas, penyediaan materi pelajaran, alat yang dibutuhkan dan alat penilai serta pengukuran keberhasilan peserta didik dalam penyelesaian pembelajaran. Menghasilkan modul yang mampu meningkatkan motivasi belajar, pengembangan modul harus memperhatikan karakteristik yang diperlukan sebagai modul.
2) Tujuan dan Fungsi Modul
Adapun tujuan penyusunan atau pembuatan modul, antara lain:
a. Agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik.
b. Agar peran pendidik tidak terlalu dominan dan otoriter dalam kegiatan pembelajaran.
c. Melatih kejujuran peserta didik.
e. Agar peserta didik mampu mengukur sendiri tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari.
Sebagai salah satu bentuk bahan ajar, modul memiliki fungsi sebagai berikut:
1) Bahan ajar mandiri. Maksudnya, penggunaan modul dalam proses pembelajaran berfungsi meningkatkan kemampuan peserta didik untuk belajar sendiri tanpa tergantung kepada kehadiran pendidik.
2) Pengganti fungsi pendidik. Maksudnya, modul sebagai bahan ajar yang harus mampu menjelaskan materi pembelajaran dengan baik dan mudah dipahami peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan usia mereka.
3) Sebagai alat evaluasi. Maksudnya, dengan modul peserta didik dituntut untuk dapat mengukur dan menilai sendiri tingkat penguasaannya terhadap materi yang telah dipelajari.
4) Sebagai bahan rujukan bagi peserta didik. Maksudnya, karena modul mengandung berbagai materi yang harus dipelajari oleh peserta didik. 3) Prinsip dan Penyusunan Modul
Terdapat sembilan aspek yang harus diperhatikan saat mengembangkan modul. Pertama, membantu pembaca untuk menemukan cara mempelajari modul. Kedua, menjelaskan hal-hal yang perlu pembaca persiapkan sebelum mempelajari modul. Ketiga, menjelaskan hal yang diharapkan dari pembaca setelah mereka selesai mempelajari modul. Keempat, memberi pengantar tentang cara pembaca menghadapi atau mempelajari modul. Kelima, menyajikan materi sejelas mungkin. Keenam, memberi dukungan kepada pembaca agar berani segala langkah yang dibutuhkan untuk memahami materi mdoul. Ketujuh, melibatkan pembaca dalam latihan serta kegiatan yang membuat mereka berinteraksi dengan materi. Kedelapan, memberi umpan balik pada latihan dan kegiatan yang dilakukan pembaca. Kesembilan, membantu pembaca untuk meringkas dan merefleksi apa yang sudah mereka pelajari dari modul (Rotwntree dalam Prastowo, 2011).
4) Karakteristik Modul
Menurut Daryanto (2013: 21), karakteristik modul adalah sebagai berikut: a. Self Instruction
Self Instruction merupakan karakteristik penting dalam modul, dengan karakter tersebut memungkinkan sesorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pihak lain.
Untuk memenuhi karakteristik self instruction, maka modul harus: a) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat menggambarkan
pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
b) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang kecil atau spesifik sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas.
c) Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran.
d) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan peserta didik.
e) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan peserta didik.
f) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif. g) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
h) Terdapat instrument penilaian yang memungkinkan peserta didik melakukan penilaian mandiri.
i) Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik sehingga peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi.
j) Terdapat informasi tentang rujukan atau pengayaan atau referensi yang mendukung materi pembelajaran dimaksud.
b. Self Contained
Seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep adalah memberikan kesempatan peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas karena materi belajar dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh.
c. Berdiri Sendiri
Modul tidak tergantung pada bahan ajar atau media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar atau media lain. Peserta didik tidak perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari atau mengerjakan tugas pada modul tersebut.
d. Adaptif
Modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, secara fleksibel atau luwes digunakan di berbagai perangkat keras.
e. Bersahabat atau Akrab (User Friendly)
Modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly atau bersahabat atau akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termask kemuadahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta menggunakan istilah yang mduah digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.
5) Unsur-Unsur Modul
Surahman (2010:2) dalam (Prastowo, 2012:113) memaparkan bahwa ternyata modul dapat disusun dengan struktur sebagai berikut ini: 1) judul modul, 2) petunjuk umum meliputi: a) kompetensi dasar, b) pokok bahasan, c) indikator pencapaian, d) referensi, e) strategi pembelajaran (menjelaskan pendekatan, metode, langkah yang dipergunakan dalam proses pembelajaran), f) lembar kegiatan pembelajaran dan evaluasi. Adapun langkah-langkah pembuatan modul dan kerangka modul menurut Diknas (2008) secara ringkas adalah: 1) analisis kurikulum, 2) desain modul, 3) implementasi modul, 4) penilaian modul, 5) evaluasi dan validasi modul, 6) jaminan kualitas modul. Berikut ini adalah kerangka modul menurut Diknas.
Kata Pengantar Daftar Isi
Peta Kedudukan Modul I. PENDAHULUAN
A. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar B. Deskripsi
C. Waktu
D. Prasyarat Pengguna Modul E. Petunjuk Pengguna Modul F. Tujuan Akhir
G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi II. PEMBELAJARAN
A. Pembelajaran 1 1. Tujuan 2. Uraian Materi 3. Rangkuman
4. Tugas 5. Tes
6. Lembar Kerja Praktik
B. Pembelajaran 2-n (seterusnya mengikuti jumlah pembelajaran yang dirancang) 1. Tujuan 2. Uraian Materi 3. Rangkuman 4. Tugas 5. Tes
6. Lembar Kerja Praktik III. EVALUASI A. Tes Kognitif B. Tes Psikomotorik C. Penilaian Sikap KUNCI JAWABAN DAFTAR PUSTAKA
2. Modul Berbasis Konstruktivisme
1) Pengertian Modul Berbasis Konstruktivisme
Modul pembelajaran konstruktivisme merupakan salah satu bentuk modul hasil perpaduan yang dikemas dengan pendekatan secara konstruktivisme. Modul ini disusun dan dirancang dengan pendekatan konstruktivisme, dimana dalam pembelajarannya siswa bekerja bersama dan menyokong antara yang satu dengan yang lain.
Konstruktivisme adalah pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan menciptakan sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. (Suparno, 1997:83)
Pengembangan modul yang dibuat bernuansa konstruktivisme ini menekankan pentingnya siswa memeriksa konsep yang sudah ada di kepalanya,
kemudian diperbaiki lagi jika tidak sesuai lagi dengan struktur kognitif yang sudah dimilikinya sehingga kesalahan konsep tidak berlanjut.
Pendekatan konstruktivisme digunakan oleh siswa untuk membantu belajar yaitu menghubungkan informasi yang baru dengan pengalaman yang dimiliknya sehingga menjadi pengetahuan baru sehingga hasilnya muncul kognitif yang baru. Pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran biologi diperkirakan lebih memotivasi siswa belajar karena pembelajaran berpusat pada siswa, dalam pembelajaran siswa dituntut untuk dapat berpikir kritis.
Penyusunan modul pembelajaran berbasis konstruktivisme, di dalamnya mengandung unsur bahwa siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna baginya dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa juga harus mengkonstrksi pengetahuan di benak mereka sendiri (Trianto, 2009:113).
Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman.Pengalaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru. Menurut Piaget dalam Trianto (2009:114) manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda.
2) Ciri-Ciri Modul Berbasis Konstruktivisme
Konstruktivisme (counstructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan konstekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat.
Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa hanya menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan (Sagala, 2012:88).
Piaget merupakan psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Ia menjelaskan bagaimana proses pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan intelektual. Menurut
(Wadsworth, 1989 dalam Paul 1997:30), teori perkembangan intelektual Piaget dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi. Piaget percaya bahwa setiap makhluk hidup perlu beradaptasi dan mengorganisir lingkungan fisik di sekitarnya agar tetap hidup. Bagi Piaget, pikiran dan tubuh juga terkena aturan main yang sama. Oleh karena itu, berpikir bahwa perkembangan pemikiran juga mirip dengan perkembangan biologis, yaitu perlu beradaptasi dengan dan mengorganisasi lingkungan sekitar.
Modul berbasis konstruktivisme disusun dengan tujuan agar siswa belajar dan berlatih mandiri. Siswa dituntut untuk mengapresiasikan pengetahuan awal mereka tentang konsep yang akan dibahas. Adapun ciri-ciri dari modul berbasis konstruktivisme adalah:
a. Modul tidak langsung memberikan materi atau pengetahuan pada siswa. di setiap pokok pembahasan yang akan dibahas, terdapat bermacam-macam lembar kerja siswa yang harus diisi dengan memanfaatkan pengetahuan awal siswa untuk membangun pengetahuan baru tentang materi pembelajaran.dan menuntut siswa untuk aktif dalam melakukan berbagai kegiatan pembelajaran. Bagian isi modul yang berupa materi di dalamnya memuat cros-cek jawaban, identifikasi miskonsepsi dan menjelaskan konsep yang salah sebagai pemahaman awal siswa tentang materi yang akan dipelajari, sehingga jika terjadi kesalahan tidak akan berlanjut.
b. Modul telah memfasilitasi siswa untuk melakukan kegiatan melihat, mendengar, menjamah dan merasakan untuk memperoleh konsep baru mengenai materi pembelajaran.
c. Modul mengajak siswa untuk membangun sendiri pengetahuan barunya tentang materi pembelajaran dengan membuat hubugan antara pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki.
d. Modul telah mengintegrasikan pembelajaran sehingga terjadi transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya.
e. Modul melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan memotivasi siswa untuk belajar.
f. Modul disajikan dengan penerapan melakukan uji diri pada akhir materi pembelajaran untuk mengukur pemahaman siswa dengan berupa kata ajakan,
untuk menggugah dan membangun pemahaman siswa setelah memahami konsep pembelajaran.
3) Langkah-Langkah Penyusunan Modul Berbasis Konstruktivisme
Merancang sumber belajar berbasis konstruktivisme, setidaknya menganut beberapa prinsip, (1) siswa terlibat aktif dalam belajar mengembangkan pengetahuan mereka, siswa harus mendapat tekanan; (2) informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menyatu dengan skema yang dimiliki oleh siswa; (3) mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan, dengan melibatkan pengalaman konkrit; (4) memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif; (5) menggunakan pertanyaan dan pernyataan dengan ujung terbuka yang dapat menimbulkan proses kognitif. Aspek-aspek tersebut akan menjadi prinsip dasar sekaligus memberi batasan dan arah berpikir dalam proses pembentukan lingkungan belajar berbasis konstruktivisme (Suparno, 1997: 81).
Rancangan modul yang berisi peta konsep dan bagan membantu siswa dalam proses akomodasi, adanya pernyataan tidak lengkap yang harus diisi siswa dalam mengerjakan lembar kegiatan membantu siswa dalam proses asimilasi. Proses penjelasan dari guru setelah kesalahan konsepsi teridentifikasi membantu siswa dalam keseimbangan, yaitu menyeimbangkan antara asimilasi dan akomodasi. Dalam proses yang terjadi pada pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, prinsip Piaget ini diaplikasikan.
Gambar 2.1.Rangka Modul Pembelajaran Konstruktivisme Sumber: Jurnal Kependidikan Triadik, April 2009 Volume 12, No.1
3. Keterampilan Berpikir Kritis 1. Pengertian Berpikir
Berpikir adalah serangkaian, gagasan, idea atau konsepsi-konsepsi yang diarahkan kepada suatu pemecahan masalah. Jika melihat arti berpikir seperti ini maka dapat dipahami bahwa pengertian ini merujuk berdasarkan hasi berpikir dan tujuan berpikir. Berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Jadi berpikir adalah satu keatipan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita kehendaki.
Berpikir sangat diperlukan dalam dunia keilmuan, diantaranya dalam memecahkan masalah memerlukan penggunaan keterampilan secara terpadu dan dasar pengethuan yang relevan. Pengetahuan yang relevan dan keterampilan berpikir sangat berpengaruh pada cara pandang seseorang dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya. Berpikir merupakan keterampilan memecahkan masalah yang dipandang sebagai manipulasi informasi secara sistematis, langkah demi langkah, dengan mengolah informasi yang diperoleh melalui pengamatan untuk mencapai suatu hasil pemikiran sebagai respon dari problema yang dihadapi (Nasution, 2009:117).
Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak.Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia. Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek tertentu, menyadari secara aktif dan menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang obyek tersebut.
Berpikir juga berarti berjerih-payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan, merancang, menghitung, mengukur, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, memilah-milah atau membedakan, menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, membuat analisis dan sintesis menalar atau menarik kesimpulan dari premis-premis yang ada, menimbang dan memutuskan.
2. Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis
Tradisi berpikir kritis sudah lama dan ada terus berkembang. Namun demikian, tidak terlalu sulit untuk meringkas gagaan-gagasan dalam berpikir kritis. Berpikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara berpikir tentang idea tau gagasan yang berhubungan dengan konsep yang diberikan atau masalah yang dipaparkan. Berpikir kritis juga dapat dipahami sebagai kegiatan menganalisis idea tau gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakan secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah lebih sempurna. (Susanto, 2013:121).
Keterampilan berpikir kritis menurut Dewey dalam Fischer (2008:2) merupakan pertimbangan yang aktif, terus menerus dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan yang mendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya.
Berpikir kritis adalah metode berpikir, mengenai hal, substansi atau masalah apa saja di mana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-stuktur yang melekat dalam pemikiran dan penerapan standar-standar intelektual padanya. (Paul, Fischer dan Nosich, 1993: 4 dalam Fischer 2008:4).
Menurut Fischer (2008:2) menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan sebuah proses aktif di mana memikrikan berbagai hal secara mendalam, mengajukan berbagai pertanyaan, menemukan informasi yang relevan, dari pada menerima berbagai hal dari orang lain sebagian besar secara pasif. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Ennis (1982:45) dalam Nurhayati (2010:32) berpikir kritis adalah berpikir yang wajar dan reflektif yang berfokus pada memutuskan apa yang harus diyakini atau dilakukan.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat dipahami adanya kesamaan mengenai definisi berpikir kritis yakni sebagai sebuah proses aktif untuk memahami informasi secara mendalam, sehingga memberikan keyakinan tentang kebenaran informasi yang diperoleh atau pendapat yang disampaikan. Sangat jelas berpikir kritis berbeda dengan berpikir tidak reflektif, berpikir dimana kita langsung mengarah ke kesimpulan atau menerima beberapa bukti, tuntutan atau kesimpulan begitu saja tanpa sungguh-sungguh memikirkannya.
Berpikir kritis adalah aktivitas terampil yang biasa dilakukan dengan lebih baik atau sebaliknya dan pemikiran kritis yang baik akan beragam standar intelektual
seperti kejelasan, relevansi, kecukupan, koherensi dan lain-lain. Berpikir kritis dengan jelas menurut interpretasi dan evaluasi terhadap observasi, komunikasi dan sumber-sumber informasi lainnya. Ia juga menuntut keterampilan dalam memikirkan asumsi-asumsi dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dalam menarik implikasi-implikasi singkatnya dalam memikirkan dan memperdebatkan isu-isu secara terus menerus.
Definisi berpikir kritis menurut Ennis (1962) : Berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Menurut Ennis (1999) dalam Nurhayati (2010:32) memberikan definisi berpikir kritis adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan.
Dari beberapa pendapat ahli indikator berpikir kritis, maka penulis menyimpulkan indikator berpikir kritis diterapkan untuk melatih daya berpikir siswa diantaranya mensintesis, menganalisi, mengevaluasi. Siswa tidak hanya memperoleh materi pembelajaran yang didapat, tetapi mereka mencari bukti yang lebih nyata sehingga materi pembelajaran yang didapat sesuai dengan pemahaman dan bahasa mereka sendiri.
3.Indikator Berpikir Kritis
Tujuan dari berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Pemahaman membuat kita mengerti maksud di balik ide yang mengarahkan hidup kita sehari. Pemahaman mengungkapkan makna di balik suatu kejadian.
Dimotivasi oleh keinginan untuk menemukan jawaban dan mencapai pemahaman, pemikir kritis meneliti proses berpikir mereka sendiri dan proses berpikir orang lain untuk mengetahui apakah proses pemikir mereka masuk akal. Mereka mengevaluasi pemikiran tersirat dari apa yang mereka dengar dan baca dan mereka meneliti proses berpikir mereka sendiri saat menulis, memecahkan masalah, membuat keputusan atau mengembangkan sebuah proyek.
Keterampilan berpikir kritis, di dalamya terdapat beberapa indikator yang dicapai.Menurut Ennis dalam Komalasari (2009: 13) berpikir kritis, dikelompokkan dalam lima kelompok keterampilan berfikir, yaitu:
Tabel 2.1 Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Menurut Ennis
No Kelompok Indikator Sub Indikator
1 Memberikan penjelasan sederhana Memfokuskan pertanyaan Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk mempertimbangkan
kemungkinan jawaban
Menjaga kondisi berpikir Menganalisis argumen Mengidentifikasi kesimpulan Mengidentifikasi kalimat-kalimat pertanyaan Mengidentifikasi kalimat-kalimat bukan pertanyaan
Mengidentifikasi dan menangani suatu ketidaktepatan
Melihat struktur dari suatu argumen Membuat ringkasan Bertanya danmenjawab pertanyaan Memberikan penjelasan sederhana Menyebutkan contoh 2 Membangun keterampilan dasar Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak
Mempertimbangkan keahlian Mempertimbangkan kemenarikan konflik Mempertimbangkan kesesuaian sumber Mempertimbangkan reputasi Mempertimbangkan penggunaan prosedur yang tepat
Mempertimbangkan risiko untuk reputasi
lanjutan tabel 2.1
No Kelompok Indikator Sub Indikator
2 alasan
Kebiasaan berhati-hati Mengobservasi dan
mempertimbangkan laporan observasi
Melibatkan sedikit dugaan
Menggunakan waktu yang singkat antara observasi dan laporan
Melaporkan hasil observasi
Merekam hasil observasi
Menggunakan bukti-bukti yang benar
Menggunakan akses yang baik
Menggunakan teknologi
Mempertanggungjawabkan hasil observasi
3 Menyimpulkan Mendeduksi dan mempertimbangkan hasil induksi
Siklus logika Euler
Mengkondisikan logika
Menyatakan tafsiran Menginduksi dan
mempertimbangkan hasil induksi
Mengemukakan hal yang umum
hipotesis
Merancang eksperimen
Menarik kesimpulan sesuai fakta
Mengemukakan kesimpulan dan menarik kesimpulan dari hasil menyelidiki
Membuat dan
menentukan hasil pertimbangan
Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan latar belakang fakta-fakta
Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan akibat
lanjutan tabel 2.1
No Kelompok Indikator Sub Indikator
Membuat dan menentukan
hasil pertimbangan
berdasarkan penerapan fakta
Membuat dan menentukan
hasil pertimbangan
keseimbangan dan masalah 4 Memberikan penjelasan lanjut Mendefinisikan istilah danmempertimbangkan suatu definisi
Membuat bentuk definisi
Strategi membuat definisi
Bertindak dengan memberikan penjelasan lanjut
Mengidentifikasi dan menangani ketidakbenaran yg disengaja
Membuat isi definisi Mengidentifikasi
asumsi-asumsi
Penjelasan bukan pernyataan
Mengonstruksi argument 5 Mengatur strategi dan Menentukan suatu tindakan Mengungkap masalah Memilih kriteria untukmempertimbangkan solusi yang mungkin
Merumuskan solusi alternative
Menentukan tindakan sementara Mengulang kembali Mengamati penerapannya Berinteraksi dengan orang lain Menggunakan argumen
Menggunakan strategi logika
Menggunakan strategi retorika
Menunjukkan posisi, orasi, atau tulisan
B. Analisis Materi Sistem Reproduksi 1. Tujuan Pembelajaran
Sistem reproduksi merupakan salah satu materi pada pelajaran biologi yang diperoleh saat kelas XI SMA pada semester dua. Di bangku SMP, materi sistem reproduksi ini juga diajarkan, tetapi hanya sekilas saja.
Tujuan dari pembelajaran sistem reproduksi ini antara lain:
a. Memberikan dasar dan landasan yang kuat kepada anak sedini mungkin untuk mencegah terjadi penyimpangan seksualitas, seks bebas, kehamilan di usia muda atau kehamilan tidak dikehendaki atau aborsi.
b. Menjelaskan peran hormon dalam menjaga siklus menstruasi manusia.
c. Menghubungkan peran hormon seks dengan perubahan-perubahan yang tejadi di dalam ovarium dan uterus.
d. Menguraikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya selama masa menstruasi.
e. Mengaitkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan perubahan kadar hormon gonadotropin.
f. Memahami sistem kesehatan reproduksinya, implikasinya terhadap fungsi organ tubuh itu sendiri maupun hubungan komunikasi dengan orang lain.
2. RingkasanMateri
Reproduksi berarti “membuat kembali”, jadi “reproduksi pada manusia berarti kemampuan manusia untuk memperoleh keturunan (beranak), sehingga sistem reproduksi adalah organ-organ yang berhubungan dengan masalah seksualitas.
Sistem reproduksi pada manusia akan mulai berfungsi ketika seseorang mencapai kedewasaan (pubertas) atau masa akil baligh. Pada seorang pria testisnya telah mampu menghasilkan sel kelamin jantan (sperma) dan hormon testosteron. Sedangkan seorang wanita ovariumnya telah mampu menghasilkan sel telur (ovum) dan hormon yaitu estrogen.
A. Sistem Reproduksi Pria
Organ-organ yang menyusun sistem reproduksi pada pria terdiri atas: a. Testis
b. Saluran reproduksi
Saluran reproduksi pada pria terdiri atas: a) Epididimis
b) Vas deferens (saluran sperma) c. Uretra
d. Penis
B. Sistem Reproduksi Wanita
Organ yang menyusun sistem reproduksi pada wanita terdiri atas: a. Ovarium (indung telur)
b. Saluran reproduksi, terdiri atas: 1) satu pasang corong infundibulum 2) 1 pasang tuba falopii atau oviduk 3) Uterus (rahim)
4) Vagina
5) Alat kelamin luar, umumnya dinamakan vulva, terdiri atas labia mayora, labia minora dan
6) Klitoris.
Proses Pembentukan Sperma
Pembentukan sperma berlangsung di dalam testis. Proses pembentukan atau pemasakan sperma ini disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis berawal dari sel spermatogonia yang terdapat pada dinding tubulus seminiferus. Proses Pembentukan Ovum
Proses pembentukan ovum disebut oogenesis. Proses ini terjadi di dalam ovarium. Sejak masa embrio hingga dewasa, oogonia (sel induk telur) di dalam ovarium mengalami perkembangan.
C. Menstruasi
Pada wanita terdapat siklus menstruasi. Siklus ini berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukan endometrium. Siklus menstruasi pada umumnya berlangsung selama 28 hari, tetapi ada juga yang berlangsung 21 hari bahkan 30 hari. Perbedaan siklus ini dipengaruhi oleh hormon-hormon reproduksi.
D. Fertilisasi dan Kehamilan
Fertilisasi pada manusia diawali dengan terjadinya persetubuhan (koitus). Fertilisasi merupakan peleburan antara inti spermatozoa dengan inti sel telur. E. Kontarsepsi
Secara umum berdasarkan sifat kerjanya kontrasepsi dibedakan menjadi dua macam, yaitu kontrasepsi permanen dan kontrasepsi temporer. Kontrasepsi permanen disebut juga kontrasepsi mantap.
2.Penyakit Pada Sistem Reproduksi Manusia A. AIDS B. Gonorea C. Sifilis D. Kemandulan E. Kanker rahim F. Dan lain-lain
Beberapa Upaya Pencegahan Yang Dapat Dilakukan
Karena penyakit tersebut merupakan penyakit yang berbahaya maka lebih baik mencegah daripada mengobati. Cara pencegahannya antara lain:
a. Memberikan penerangan mengenai bahaya-bahaya penyakit kelamin dan bagaimana cara pencegahannya.
b. Menghindari hubungan seksual di luar perkawinan. c. Menjaga kesehatan sistem reproduksi antara lain:
- Sering mengganti pembalut pada wanita yang sedang menstruasi. - Setelah buang air kecil selalu membasuh alat kelamin bagi wanita.
D. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelitian Nining Gustianingsih tahun 2013, tentang Pengembangan Bahan Ajar Modul Berbasis Konstruktivisme dengan Model ADDIE pada Pokok Bahasan Ekosistem Kelas X Di SMA Al-Azhar 5 Kota Cirebon memperoleh hasil sebagai berikut: perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kontrol yaitu 73% dan 17%. Hasil belajar di kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol.
Hasil penelitian Dwi Fitriani, dkk tahun 2013, tentang Penerapan Modul Ekosistem Berbasis Konstruktivisme Di SMP YPE Semarang, memperoleh hasil sebagai berikut: berdasarkan hasil uji t terhadap hasil belajar siswa diperoleh
thitung>ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar kelompok kontrol dengan presentase ketuntasan belajar klasikal kelompok eksperimen mencapai 90% sedangkan kelompok kontrol hanya mencapai 50%. Hasil analisis tanggapan guru dan siswa terhadap modul mencapai presentase 100% dengan kriteria sangat baik menunjukkan bahwa modul yang diterapkan dapat menarik minat siswa untuk mempelajari materi ekosistem.
Penelitian Ndaru Restaya tahun 2012, tentang Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme Model Learning Cycle (siklus belajar) 4E Materi Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan serta upaya Pelestariannya untuk Kelas X SMA Diponegoro Tumpang Kabupaten Malang, memperoleh hasil bahwa pada kelas eksperimen nilai hasil belajarnya lebih tinggi dari kelas kontrol yaitu dengan presentase 88,2%.
Hasil penelitian Rizki Christyarini Prihanti tahun 2012, tentang Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Lima Fase Materi Gerak pada Tumbuhan untuk Kelas VIII SMP Negeri 13 Malang, memperoleh hasil bahwa pada kelas eksperimen nilai hasil belajarnya lebih tinggi dari kelas kontrol yaitu dengan presentase 86,65%.
Hasil penelitian Hendrik Saputra tahun 2012 tentang Pengembangan Modul Jamur Berbasis Konstruktivisme dengan Model Siklus Belajar untuk Pembelajaran Biologi Kelas X di MAN Malang, memperoleh hasil bahwa pada kelas eksperimen nilai hasil belajarnya lebih tinggi dari kelas kontrol yaitu dengan presentase 75%.