• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Profil umum Perusahaan. dengan nama Lucky Industrial Company. kemudian pada tahun 1966 produk development baru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV Profil umum Perusahaan. dengan nama Lucky Industrial Company. kemudian pada tahun 1966 produk development baru"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

43

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data

4.1.1 Profil umum Perusahaan

PT LG Electronic secara resmi berdiri pada tahun 1958 di Korea oleh Boon Joon Koe dengan nama Goldstar. Sebelum merambah ke bisnis elektronik, perusahaan ini mengawali pada produk alat-alat kosmetik, berdiri pada tahun 1947 dengan nama Lucky Industrial Company (sekarang LG Chem). Lalu mulailah mengembangkan bisnis dengan pengembangan pada bidang elektronik, tahun 1959 untuk pertama kalinya LG Korea melahirkan radio, lalu pada tahun 1965 berlanjut dengan refrigerator, kemudian pada tahun 1966 produk development baru dengan melahirkan produk TV. 2 tahun kemudian yaitu 1968 berhasil membuat produk AC bahkan setahun kemudian mereka mengembangkan sayap dan melahirkan

(2)

43

produk pun dikembangkan lebih baik..

Pada periode 1970-1979 Goldstar mengalami perkembangan yang cukup pesat, pada tahun 1977 berhasil membuat TV berwarna. Di tahun 1978 pendapatan perusahaan mencapai 100 Juta USD dari penjualan ekspor. Pada awal tahun 1980 perusahaan

GoldStar mulai menginjakkan bisnis mereka pada skala global,

sekitar tahun 1982 mereka berhasil membangun untuk pertama kali pabrik yang berpusat di US. 2 tahun kemudian penjualan mereka semakin maju pesat bahkan meraih keuntungan sebesar 1 trilyun Won.

4.1.2 Sejarah PT LG Electronics Indonesia

1. Tahun 1990

Di tahun 1990, Perushaan Korea ini mulai menapakkan kakinya di Indonesia. Diawali dengan Joint Venture dengan Astra dengan nama Goldstar Astra, maka dimulailah bisnis elektronik di Indonesia.

2. Tahun 1991

PT. LG Electronics mulai menjual produk untuk pasar domestik. Di tahun ini pula, PT LG Electronics juga

(3)

sudah mulai memproduksi sendiri CTV dengan memberdayakan SDM lokal Indonesia.

3. Tahun 1995

Di tahun ini, satu lompatan besar mulai tercapai. Pabrik yang dibangun di wilayah Tangerang telah siap untuk berproduksi dalam skala besar.

4. Tahun 1998

Tahun 1998, Joint Venture dengan Astra berakhir, dan segala pruduksi mulai diambil alih penuh oleh PT LG. Di tahun inilah nama Goldstar Astra mulai ditinggalkan dan brand produk menjadi LG Electronik.

5. Tahun 2003

Di tahun 2003, kapasitas produksi ditingkatkan secara besar – besaran. Pencapaian di tahun ini adalah kapasitas produksi 800.000 set per tahun.

6. Tahun 2005

Di tahun ini PT LG Electronics melakukan merger yaitu Factory 2 yang berpusat di Tangerang dengan

refrigerator produk dan Factory 1 di Cibitung dengan

(4)

7. Tahun 2006

Di tahun ini nama perusahaan berganti menjadi PT LG Electronic Indonesia atau LGEIN.

i. Visi dan Misi Perusahaan

4.1.3 Visi Perusahaan

Visi dari PT. LG Electronics Indonesia adalah :

“No. 1 Electronics Company in Indonesia”

dan “Global No. 1 Production Base”

4.1.4 Misi Perusahaan

1. Growth Strategy

Fast Growth

Fast growth is the result of strategies designed to expand the and earnings quickly, while improving the growth rate in terms of monetary value rather than quantity.

Fast Innovation

Fast innovation involves setting extremely high innovation goals and securing a competitive edge, aiming for a target of 30% more than what our competitors can achieve. Fast innovation also means 30% more sales and improvement in our market share, new product development and unveiling such products 30% faster, developing technology and establishing corporate value three years ahead of our competitors.

(5)

2. Core Capabilities

Product leadership

Refers to the ability to develop creative, top-quality products, using specialized new technologies.

Market leadership

Refers to the ability to achieve top ranking, worldwide, thanks to a formidable market presence in countries across the globe.

People leadership

Refers to the market dominance achieved by selecting and nurturing talented team players able to internalize and execute innovation across the board.

3. Corporate Culture

'We' not 'I'

We pursue a corporate culture that encourages all employees to work together and form a strong team.

Fun Workplace

We create a workplace where individual's creativity and freedom are respected and work is made fun.

4.1.5 Tujuan dan Sasaran Perusahaan

Dalam 5 tahun kedepan tujuan bisnis PT LG Electronik Indonesia adalah pencapain omset market meningkat hingga sebesar 900 juta $. Pada tahun 2014 ini perusahaan mentargetkan pecapaian omset sales produk hingga 416 juta $.

(6)

4.1.6 Goal dan Objective

Untuk mencapai tujuan dan sasaran di atas, perusahaan telah membuat rancangan seperti berikut:

1. Dominasi market

- Sasaran konsep pengembangan produk

o Meningkatkan domestic market menjadi no 1

o Memperluas premium pemasaran

- Memperluas area pasar di luar negeri

o Meningkatkan penjualan di Amerika Selatan

o Memperluas penjualan produk-produk baru focus di USP

2. Daya Saing mendasar dan kuat

- Memperkuat capabilitas R&D

- Meningkatkan line operasi dan produktifitas

- Memperkuat qualitas produk

(7)

4.2 Kegiatan Umum Perusahaan

4.2.1 Struktur Organisasi Perusahaan

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

4.2.2 Produk Perusahaan

PT. LG Electronics Indonesia memiliki 3 jenis produk utama yang masing – masing berdiri sebagai satu divisi. 3 produk utama tersebut adalah :

1. Refrigerator division

Produk utama dari divisi ini adalah kulkas. Kapasitas produksi per tahunnya adalah 1,56 juta set.

(8)

2. Media Division

Produk dari divisi ini antara lain adalah home theatre, CD/DVD, dan Audio. Kapasitas produksi per tahunnya adalah 12 juta set.

3. Display Division

Produk dari divisi ini terbagi menjadi 2 jenis yaitu :

a. LCD / LED TV, PDP dengan kapasitas produksi1,4 juta set per tahun serta monitor dengan kapasitas produksi 1,9 juta per tahun.

b. TV (CTV). Kapasitas produksinya adalah 1,4 juta set per tahun.

4.2.3 Produk Kulkas

Berikut ini merupakan produk kulkas yang di produksi oleh PT. LG Electronics Indonesia

(9)

(10)

4.3 Data yang diperoleh

Sebelum penulis membuat laporan ini, terlebih dahulu mengumpulkan data – data yang diperlukan untuk membantu berjalannya proyek six sigma.

Dari data yang diperoleh berdasarkan pengamatan selama bulan Februari 2014, dimana untuk proses Door assy, data cacat produk di dapat berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung selama proses produksi berjalan.

Sebagai bahan yang digunakan untuk analisa, penulis mendapatkan pengumpulan data reject pada PU Door Defect bulan Februari 2014, dimana setelah melakukan wawancara dan melihat proses produksi, terdapat 5 jenis cacat yang paling sering muncul pada PU Door, cacat tersebut muncul selama proses produksi berlangsung.

Data yang diperoleh merupakan data reject harian yang dikumpulkan oleh penulis. PU Door reject tersebut menimbulkan banyak biaya tambahan yang diperlukan untuk mengganti dengan yang baru, dan banyak waktu yang terbuang dikarenakan mundurnya jadwal pengiriman ke konsumen.

Untuk itu jika PT. LG Electronics Indonesia dapat menerapkan metode six sigma dengan baik dan secara kontinyu, maka tingkat produk cacat yang dihasilkan akan rendah dan memberikan efek penurunan biaya akibat rendahnya penggantian Door, sehingga mampu memenuhi semua keinginan pelanggan.

(11)

4.4 Pengolahan Data

Pada tahap pengolahan data ini akan menggunakan pendekatan DMAIC. Dimana pendekatan tersebut memiliki lima tahapan yaitu Define, Measure, Analize, Improve, Control.

Dibawah ini merupakan penjabaran dari masing – masing tahapan :

1. Tahap Define

Tahap Define bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau proses yang akan diperbaiki dan menentukan sumber-sumber (resources) apa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek. Sesuai dengan visi perusahaan yang mengedepankan kualitas dan menghasilkan kualitas yang lebih baik maka peneliti akan memfokuskan proyek six

sigma ini khusus pada peningkatan kualitas produk

untuk defect Cap Deco PU Leakage.

a. Pareto Masalah

Dalam mengidentifikasi masalah dalam defect produk, penulis menggunakan Diagram Pareto. Pareto masalah ini terkait dengan Inject PU Door yang mengalami cacat produk

Berikut data cacat produk PU Door pada bulan Februari 2014

(12)

Gambar 4.3 Data LQC Defect PU Door

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa jenis cacat terbanyak adalah Gasket F Gap Side dan

Gasket R Gap Side. Tetapi dikarenakan Gasket R Gap Side maupun Gasket F Side merupakan defect

yang banyak dipengaruhi saat proses pemasangan atau human error dan tidak terlalu berpengaruh atau kritikal maka jenis cacat yang dapat diteliti adalah

Deco FL Leakage PU.

Gambar 4.4 PU Door LQC Defect

Berdasarkan data LQC Defect, Deco FL Leakage

PU memiliki porsi / berpengaruh sebesar 11% dari PU Door LQC Defect.

(13)

Berikut ini data yang diperoleh untuk cacat produksi berdasarkan model yang running / diproduksi di PT LG Electronics untuk divisi Refrigerator

Tabel 4.1 Deco FL Leakage PU

Gambar 4.5 Diagram Pareto Cacat Produk Deco FL Leakage PU

Berdasarkan Diagram Pareto di atas, dapat diketahui bahwa jenis PU Door Leakage yang memiliki cacat produk paling tinggi adalah Leakage pada model Klaus 1 (K1)

(14)

2. Measure

Tahap selanjutnya adalah pengukuran kinerja perusahaan saat ini dan sebagai acuan awal sebelum melakukan perbaikan. Pengukuran meliputi DPMO,

Nilai Sigma dan yield.

a. Measurement Tools

Pada proses produksi, dalam melakukan assembling kulkas untuk proses keseluruhan dilakukan pengecekan oleh Line Quality Check. Pengecekan selalu dilakukan di setiap station / bagian.

Berikut ini hasil dari visual checking yang dilakukan oleh bagian Line Quality Check untuk cacat produk PU Leakage Door

Gambar 4.6 Deco F/L Leakage PU consist of 2 checking area

(15)

Leakage PU Out

3. Perhitungan Baseline kinerja

Pengukuran baseline kinerja dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu produk dapat memenuhi kebutuhan spesifik pelanggan, sebelum produk itu diserahkan kepada pelanggan. Dalam pengukuran baseline kinerja digunakan satuan pengukuran DPMO (Defect Per Million Opportunities) untuk menentukan tingkat sigma.

a. Menentukan peluang tingkat kegagalan produk per karakteristik CTQ (DPO = Defect Per Opportunities)

DPO = (265)÷(38271×2) = (0.003)

b. Menghitung tingkat kemungkinan kegagalan per sejuta kesempatan (Defect Per Million Opportunities)

(16)

DPMO = (0.003) × 1,000,000 = 3000 PPM

c. Penghitungan Yield Proses

Yield merupakan besarnya probabilitas produk yang

tidak cacat pada proses yang diinspeksi.

Perhitungan dimulai dengan mencari nilai defect per unit (DPU). DPU adalah :

DPU = (265)÷(38271) = (0.0069) Selanjutnya mencari nilai Yield.Yaitu :

Sedangkan untuk perhitungan Sigma Level-nya sebagai berikut :

Sigma Level (ZST) = ZLT + 1.5 shift = 2.46+ 1.50 = 3.96σ

YRT= e (-dpu) = 2.7183 -0.0069 = 99.31% YNA = (YRT)1/Opp = (0.9931)1/2= 2.46 ZLT = 2.46

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi
Gambar 4.2 Jenis – jenis Produk Kulkas
Gambar 4.3 Data LQC Defect PU Door
Tabel 4.1 Deco FL Leakage PU
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) di Desa Kandangan Kecamatan Trucuk Kabupaten Bojonegoro. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data

Untuk menyampaikan instruksinya, pimpinan pada divisi sales region Jabodetabek harus menyusun strategi komunikasi yang baik mengingat apa yang disampaikan dalam meeting

DAFTAR PEMILIH TETAP Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014.. Nomor

Langkah selanjutnya adalah menemukan data yang relevan dengan menemukan sumber data sesuai dengan unit analisis yang dipilih, yaitu dengan membaca buku dengan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Secara serempak faktor kemandirian, modal, emosional dan pendidikan berpengaruh

Komposisi Tenaga Volume Pekerjaan Waktu Pelaksana an Jumlah Bahan Dibutuhka n Bahan/Ha ri (A) (B) Komposisi Dibulatkan Komposisi Komposisi Dibulatkan Komposisi Koefisien

Pengusahaan obyek wisata budaya / Businesses of cultural tourism attraction 92322 92324 Maksimal / Maximum of 50% Tidak bertentangan dengan Perda / Not in conflict with the

Tinjauan terhadap iklim, pengertian alami, elemen-elemen pembentuk alami, tinjauan suasana alami terhadap bangunan Pusat Pengembangan Kecantikan Wanita di Yogyakarta yang