Sejarah Asia Selatan
1. Pendahuluan
Asia Selatan adalah sebuah wilayah geopolitik di bagian selatan benua Asia, terdiri dari daerah-daerah di dan sekitar anak benua India. Wilayah ini dibatasi oleh Asia Barat, Tengah, Timur, dan Tenggara. Wilayah Asia Selatan meliputi 10% luas benua Asia, kira-kira 4.480.000 km² tetapi populasinya mencakup 40% populasi Asia. Kebanyakan dari daerah itu mendapat pengaruh budaya India.
Umumnya, yang disebut Asia Selatan adalah negara-negara atau daerah berikut:
§ Bangladesh § Bhutan § India § Maladewa § Nepal § Pakistan § Sri Lanka
§ Teritori Britania di Samudera Hindia
Seluruh wilayah tersebut, kecuali Tibet dan Teritori Britania, tergabung dalam South Asian Association for Regional Cooperation bersama Afganistan. Subwilayah Asia Selatan di PBB mencakup wilayah di atas ditambah Afganistan dan Iran. Iran memang kadang dimasukkan ke Asia Selatan, walaupun kadang juga disebut Asia Barat. Selain itu, Myanmar juga kadang digolongkan ke Asia Selatan. Istilah anak benua India lebih tepat dipakai untuk wilayah-wilayah yang terletak di Lempeng India.
Kawasan Asia Selatan mempunyai sejarah yang panjang. Peradaban kuno berkembang di sekitar Lembah Sungai Indus. Masa sebelum abad ke-18 merupakan masa keemasan kawasan ini, saat Kekaisaran Mughal berkuasa di sebelah utara. Penguasa kolonial Eropa kemudian memimpin penjelajahan kawasan ini, awalnya Portugis dan Belanda, namun kemudian Kekaisaran Britania dan Perancis. Sebagian besar dari Asia Selatan memperoleh kemerdekaan dari Eropa pada akhir 1940-an.
2. Pembahasan
a. Peradaban Sungai Indus
Lembah sungai Indus terletak di Pakistan. Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di sekitar sungai itu terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjo Daro dan Harappa. Mereka sudah menetap di sana dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah di sekitarnya.
Menurut teori kehidupan bangsa Dravida mulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena adanya pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan berkulit putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India dan membentuk Kebudayaan Dravida namun, sebagian lagi ada yang bercampur antara bangsa Arya dan Dravida yang kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu.
Peradaban Sungai Indus, 2800 SM–1800 SM, merupakan sebuah peradaban kuno yang hidup sepanjang Sungai Indus dan Sungai Ghaggar-Hakra yang sekarang Pakistan dan India barat. Peradaban ini sering juga disebut sebagai Peradaban Harappan Lembah Indus, karena kota penggalian pertamanya disebut Harappa, atau juga Peradaban Indus Sarasvati karena Sungai Sarasvati yang mungkin kering pada akhir 1900 SM. Pemusatan terbesar dari Lembah Indus berada di timur Indus, dekat wilayah yang dulunya merupakan Sungai Sarasvati kuno yang pernah mengalir.
Sindhu yang sekarang lebih dikenal dengan sungai Indus adalah nama salah satu sungai besar di India. Terletak di sekitar daerah Punjab yang mana sekarang ini terbagi menjadi 2, sebagian di India dan sebagian di Pakistan.
Pada jaman prasejarah, di lembah sungai Sindhu yang subur terdapat sebuah peradaban manusia. Peradaban manusia ini yang adalah kaum bangsa Arya ini masuk melalui celah - celah pegunungan Hindu Kush lalu menetap pertama kali di lembah Mohanjo Daro dan Harappa di barat laut India. Di sinilah lahirnya agama Hindu yang akar katanya berasal dari nama sungai Sindhu tersebut. Aliran sungai Sindhu sendiri yang dengan aliran anak - anak sungai yang lain kemudian bertemu dan menyatu menjadi aliran sungai Gangga di India Utara.
Harappa ialah sebuah kota di Punjab, timur laut Pakistan sekitar 35 km tenggara Sahiwal. Kota ini terletak di bantaran bekas Sungai Ravi. Kota modernnya terletak di sebelah kota kuno ini, yang dihuni antara tahun 3300 hingga 1600 SM. Di kota ini banyak ditemukan relik dari masa Budaya Indus, yang juga terkenal sebagai budaya Harappa. Pada masa itu, Harappa berpenduduk sekitar 40.000 jiwa, yang dianggap besar pada zamannya.
b. Kemaharajaan Mughal
Kemaharajan Mughal, (Mughal Baadshah, atau sebutan lainnya Mogul) adalah sebuah kerajaan yang pada masa jayanya memerintah Afghanistan, Balochistan, dan kebanyakan anak benua India antara 1526 dan 1857. Kerajaan ini didirikan oleh pemimpin Mongol, Barbur, pada 1526, ketika dia mengalahkan Ibrahim Lodi, Sultan Delhi terakhir pada Pertempuran pertama Panipat. Kata mughal adalah versi Indo-Aryan dari Mongol. Agama rakyat Mughal adalah Islam.
Kerajaan ini sebagian besar ditaklukkan oleh Sher Shah pada masa Humayun, namun di bawah Akbar, kerajaan ini tumbuh pesat, dan terus berkembang sampai akhir pemerintahan Aurangzeb. Jahangir, anak Akbar, memerintah kerajaan ini antara 1605-1627. Pada Oktober 1627 Shah Jahan, anak dari Jahangir mewariskan tahta dan kerajaan yang luas dan kaya di India. Pada abad tersebut, ini mungkin merupakan kerajaan terbesar di dunia. Kaisar Mughal Shah Jahan, memerintahkan pembangunan Taj Mahal antara 1630-1653 di Agra, India.
Setelah kematian Aurangzeb pada 1707, kerajaan ini mulai mengalami kemunduran, meskipun tetap berkuasa selama 150 tahun berikutnya. Pada 1739 dia dikalahkan oleh pasukan dari Persia dipimpin oleh Nadir Shah. Pada 1756 pasukan Ahmad Shah merampok Delhi lagi. Kerajaan Britania akhirnya membubarkannya pada 1857 bersama Kekaisaran Humayunis.
Masa pemerintahan Mughal, tahun 1500-1600-an, dianggap sebagai zaman keemasan India. Anak Benua India berhasil dipersatukan secara politik sebagai sebuah bangsa, dan dikembangkan secara kultural sebagai masyarakat yang multiagama dan multibudaya. Pada zaman Mughal, untuk pertama kali India menjadi sebuah pemerintahan yang disentralisasikan. Pemerintah berhasil membangun India dalam suasana perdamaian, ketertiban dan stabilitas. Stabilitas politik dan dan kemakmuran melahirkan kehidupan budaya yang menakjubkan. Ilmu, Filsafat, dan berbagai kesenian mencapai kemajuan pesat. Dalam seni rupa dan arsitektur, Kekaisaran Mughal melahirkan sebuah Mazhab unik, Mazhab Mughal. Disini, gaya Persia-Islam dan gaya India-Hindu berpadu dalam sintesis yang indah. Salah satu jejak Mughal yang kecantikannya bertahan ratusan tahun adalah Taj Mahal.
Kebesaran Kekaisaran Mughal tidak dinisbatkan kepada pendirinya Babur, keturunan Taymur-i Lang, tetapi kepada Akbar, yang memerintah pada tahun 1542-1605. Sejarah mencatat, Akbar sebagai raja Muslim yang berhasil memerintah sebuah anak benua yang mayoritas beragama Hindu. Ketika ia meninggal, semua pemeluk agama menangisinya. Ia dikenang sebagai sulthaan-I 'aadil, Sang Ratu Adil.
Abu al-Fadhl menggambarkan kepada kita pemerintahan Akbar serta ideologi yang mendasarinya dalam tiga jilid 'Ayn-i Akbari dan tiga jilid Akbarnamaa. Akbar ternyata seorang raja sufi yang menghabiskan malam dalam bermunajat kepada Tuhan. Ia mempraktikkan zikir seperti Yaa Hu dan Yaa Haadi sepanjang malam. Ia sering berkhalwat, mengasingkan dirinya dari urusan duniawi, untuk beberapa waktu. Kadang ia pergi ke hutan dengan alasan berburu. Abu al-Fadhl menggambarkannya, "Ia terus menerus berburu, tapi secara bathiniah berjalan bersama Tuhan."
Pada tahun 1575, Akbar mendirikan 'Ibadat-khana, rumah ibadat. Disitu semua agama melakukan dialog antaragama dan intraagama. Semua aliran bebas mengeluarkan pendapatnya. Akbr menghidupkan
nonsektarianisme dan menyerahkan semua agama pada pengadilan akal. Tak mungkin terjadi dialog antaragama bila setiap agama membuktikan kebenarannya dengan merujuk kitab sucinya. Akbar percaya, dalam dialog yang terbuka tanpa campur-tangan kekuasaan, kebenaran akan lahir. Empat tahun kemudian, Akbar meminta Syaikh Mubarak, seorang yang dikenal sangat alim dan salih, merancang "garis-garis besar haluan negara." Dibalik konsep ini terdapat pandangan tentang Ratu Adil. Keadilan adalah esensi ajaran agama. Keadilan juga sifat Tuhan.
Untuk memerintah dengan adil, raja harus menjadikan akal sebagai pembimbingnya. Ia tak boleh membeda-bedakan rakyatnya berdasarkan agama atau keyakinannya. Bila seorang raja sudah mengistimewakan satu golongan -berdasarkan agama, ras arau aliran- serta meremehkan golongan lain, ia telah bertindak tidak adil. Yang harus
menjadi perhatian raja bukanlah golongan, tapi kepentingan seluruh bangsa. Untuk itu, ia boleh berijtihad. Selama tidak bertentangan dengan Alquran, ia dapat saja menetapkan keputusan-keputusan legal yang bermanfaat bagi rakyat. Ratu Adil tak boleh terikat pada satu mazhab fikih. "Manusia sejati ialah orang yang menjadikan keadilan sebagai petunjuk pencarian kebenaran, dan mengambil dari semua aliran apa saja yang sesuai dengan akal," begitu bunyi dekrit yang disahkan Akbar. Tujuan pemerintahan adalah menyejahterakan rakyat, terutama rakyat kecil. Kepada Todar Mal, menteri keuangannya, Akbar menegaskan bahwa ibadah yang paling utama ialah menolong orang lemah.
Pembaharuan Akbar bukan tak mendapat kritik. Para ulama fikih menentang dekrit Akbar. Berbagai tuduhan dilemparkan kepadanya : Syi'ah, murtad, Hindu, pendiri agama baru. Ia dituding Syi'ah karena mempunyai guru dari Persia, Mir 'Abdullathif, seorang yang sangat terbuka. Menurut Abu al-Fadhl, 'Abdullathif disebut Syi'ah di India dan Sunni di Persia, karena keluasan pandangan dan sikapnya yang tidak fanatik. Ia dituduh murtad karena berpegang pada paham wahdah al-wujuud. Ia dianggap Hindu karena mempekerjakan orang-orang Hindu pada posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Ia dipandang mendirikan agama baru karena menegaskan bahwa untuk memperoleh kebenaran kita harus bersedia mendengar dan belajar dari semua agama. Ia memang mendirikan sebuah tarekat, yang disebut tawhiid-I ilaahii. Ia juga mengkritik agama yang formalistis dan didasarkan pada taklid. Islaam-i majazi wa taqlidi. Ada yang menduga, Akbar memasuki tarekat karena pengaruh aliran tarekat Chisytiyyah yang didirikan Mu'iinuddin Chisytii dari Sistan, Iran Timur. Tarekat Chisytiyyah mengajarkan, kita hanya dapat mendekati Tuhan dengan berkhidmat tanpa pamrih kepada makhluk Tuhan, apapun agamanya. Seorang pengikut Chisytiyyah
memulai perjalanannya menuju Tuhan dengan melayani keperluan orang miskin. Mu'iinuddiin sendiri mendapat gelar Pembela Orang Miskin. Kuburannya di Azmer diziarahi oleh ribuan orang Islam dan Hindu.
Boleh jadi, Akbar terpengaruh ajaran Chisytiyyah yang menyatakan bahwa Akhlak yang membuat Tuhan sayang kepada kita ada tiga : kedermawanan, seperti sungai yang mengalirkan airnya kemana pun tempat yang lebih rendah darinya, kasih sayang matahari yang memberikan sinarnya kepada semua yang di bawahnya, besar atau kecil, dan keramahan, seperti bumi yang bersedia menerima intan dan sampah ke dalam pelukannya. Akbar berusaha mewujudkan doktrin ini dalam pemerintahannya. Yang didirikannya bukan negara agama, tapi negara supra-agama.
c. Imperium Britania
Imperium Britania pada tahun 1897 ditandai dengan warna merah muda, warna tradisional kekuasaan imperium Britania pada peta. Imperium Britania adalah imperium paling luas di dalam sejarah dunia dan pada suatu periode tertentu pernah menjadi kekuatan utama di dunia. Imperium ini merupakan produk dari era penemuan Eropa, yang dimulai dengan penjelajahan maritim global negara-negara Iberia pada akhir abad ke-15 yang menandai era kerajaan global Eropa.
Pada tahun 1921, Imperium Britania mencakup populasi antara 470 sampai 570 juta orang, kurang lebih seperempat populasi dunia, dan membentang seluas lebih dari 37 juta km², sekitar seperempat luas total bumi. Walaupun wilayah-wilayah tersebut sekarang telah berkembang menjadi Negara-Negara Persemakmuran, pengaruh Britania tetap melekat kuat di seantero dunia: dalam praktek ekonomi, hukum dan sistem pemerintahan, masyarakat, olahraga (seperti kriket dan sepak bola), serta penggunaan bahasa Inggris sendiri.
karena wilayahnya membentang sepanjang bola dunia dan menyebabkan matahari selalu bersinar, paling tidak di salah satu dari begitu banyak koloninya.
2.2. Percaturan Strategis di Asia Selatan
Wilayah Asia Selatan memiliki karakterstik tersendiri terutama dalam hubungan antar negara. Jika di Asia Tenggara, telah tercipta sebuah mekanisme diplomasi melalui ASEAN, di Asia Selatan sejauh ini belum ada bentuk yang jelas. Konflik antara negara yang besar penduduknya seperti India masih berlangsung dengan Pakistan dan Sri Lanka. Akibat konflik laten seperti itulah maka muncul pola hubungan internasional yang khas.
SAARC atau forum kerja sama Asia Selatan mencerminkan komposisi yang ada di Asia Selatan. Dengan komposisi penduduk India terbesar dibandingkan tetangga lainnya dan perilaku politik India yang cenderung hegemonik menyebabkan kecemburuan dan kekhawatiran muncul diantara tetangganya.
Akibat kekhawatiran itu, negara besar seperti Uni Soviet (Rusia sekarang), Cina dan Amerika Serikat ikut menentukan kerangka diplomasi kawasan Asia Selatan. Kaitan dengan negara besar bukan karena kepentingan negara luar kawasan tetapi terutama karena kebutuhan negara di Asia Selatan, misalnya, Pakistan untuk beraliansi dalam rangka menghindari ancaman.
a. Hubungan Internasional
Sebelum mengkaji bagaimana bentuk hubungan internasional masa kini berlangsung perlu diperhatikan sejumlah faktor penting yang mempengaruhi perjalanan sejarah negara-negara di kawasan ini.
1) Faktor Sejarah
Anak benua India lahir dari tangan Inggris dalam satu kesatuan pada tahun 1947. Perjuangan Mahatma Gandhi dengan swadeshi dan tindakan anti kekerasan untuk mencapai mencapai kemerdekaan telah berbekas secara mendalam di India yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu. Namun peninggalan Inggris di anak benua ini melahirkan potensi konflik yang bersuhu tinggi. Seperti halnya di Teluk Persia, peninggalan Inggris di Asia Selatan pun meledak menjadi perang saat kemerdekaan India lahir karena tak lama kemudian Pakistan lahir, memisahkan diri dari India.
2) Faktor Agama
Dapat dikatakan salah satu pemicu perpecahan India dan Pakistan adalah perbedaan agama. Di bawah Ali Zinah, Pakistan mengambil jalan sendiri memisahkan diri dari India karena merasa bahwa aspirasi politik umat Islam saat itu tak bisa disalurkan. Oleh karena itu karena dukungan masyarakat penganut Islam maka lahir Pakistan bebas dari India.
3) Faktor Politik
timur tidak tertampung aspirasi politiknya. Dengan dukungan India, Pakistan timur berpisah dari Pakistan barat yang kemudian melahirkan negara baru, Banglades. Kepentingan Pakistan timur akan penampungan aspirasi politiknya menjadi pendorong terjadinya kelahiran baru Banglades meskipun tidak ada persoalan agama karena keduanya mayoritas penduduknya Muslim.
4) Faktor Campur Tangan Negara Besar
Sudah menjadi bukti dalam sejarah, dimana terjadi konflik apalagi sesudah Perang Dunia II yang melahirkan Perang Dingin, negara adidaya senantiasa berusaha memperluas lingkungan pengaruhnya. Tidak terkecuali di Asia Selatan. Uni Soviet saat itu dan Amerika Serikat berlomba-lomba mempengaruhi kawasan tersebut. Pakistan mencari perlindungan ke Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman dari India.
5) Faktor Keamanan
Karena merasa adanya ancaman terutama dari negara besar seperti India di Asia Selatan, Pakistan ataupun Sri Lanka merasakan betapa perlunya mempersenjatai diri. Pakistan terutama sering merasa ancaman ideologi yang dilatarbelakangi agama Hindu terus membayang-bayangi. Oleh karena itu interaksi yang terjadi di kawasan pun lebih dilandasi oleh kecurigaan dan kehati-hatian terutama melihat tindak-tanduk India yang tak bisa dipercaya begitu saja. Perbedaan agama dan ideologi di India dan Pakistan telah melahirkan perlombaan senjata. Dengan kata lain, pacuan senjata di Asia Selatan dipicu oleh kecurigaan terutama dari Pakistan ke India dan sebaliknya. Tidak mengherankan apabila Pakistan berusaha mencari senjata pamungkas yakni nuklir sebagai kekuatan penggetar yang kemudian justru mempercepat kelahiran program senjata nuklir India. Meskipun kedua negara belum secara terus terang menggelar senjata nuklirnya namun sudah menjadi pendapat umum bahwa baik Pakistan maupun India memiliki kemampuan membuat bom atom.
6) Persaingan Pengaruh
Dua negara besar di kawasan ini berusaha saling memantapkan pengaruhnya di Asia Selatan maupun ikut mempengaruhi negara besar di luar kawasan untuk masuk ke wilayah itu. Baik persaingan pengaruh antara negara adidaya maupun persaingan pengaruh domestik ikut mewarnai percaturan diplomasi di Asia Selatan. India dan Pakistan berusaha untuk menjadi regional leader meskipun secara de facto sebenarnya India yang bisa dikatakan pemimpin kawasan.
7) Kerja Sama Ekonomi
Meskipun terjadi persaingan untuk memperbutkan pengaruh dan saling curiga yang terus menerus namun kerja sama ekonomi dan teknik telah menjadi bagian dari kawasan Asia Selatan. Pertukaran budaya dan informasi seperti tidak terpengaruh oleh ketegangan yang diciptakan oleh para pemimpin politik dan militer kedua negara.
Terbentuknya SAARC merupakan puncak dari kesadaran adanya usaha kerja sama.
Dilihat dari seajarahnya Asia Selatan memiliki sejarah dan peradaban yang kuat. Tak terlepas dari peradaban kerajaan India. Masa pemerintahan Mughal, tahun 1500-1600-an, dianggap sebagai zaman keemasan India. Anak Benua India berhasil dipersatukan secara politik sebagai sebuah bangsa, dan dikembangkan secara kultural sebagai masyarakat yang multiagama dan multibudaya. Pada zaman Mughal, untuk pertama kali India menjadi sebuah pemerintahan yang disentralisasikan. Pemerintah berhasil membangun India dalam suasana perdamaian, ketertiban dan stabilitas. Stabilitas politik dan dan kemakmuran melahirkan kehidupan budaya yang menakjubkan. Ilmu, Filsafat, dan berbagai kesenian mencapai kemajuan pesat. Dalam seni rupa dan arsitektur, Kekaisaran Mughal melahirkan sebuah Mazhab unik, Mazhab Mughal. Disini, gaya Persia-Islam dan gaya India-Hindu berpadu dalam sintesis yang indah. Salah satu jejak Mughal yang kecantikannya bertahan ratusan tahun adalah Taj Mahal.
Tata hubungan internasional di Asia Selatan banyak dipengaruhi oleh persaingan Pakistan dan India. Hubungan kedua negara ini banyak mempengaruhi suasana di kawasan ini. Semakin tegang kedua negara maka suhu
kawasan pun meningkat. Misalnya, saat terbentuk pemerintahan India di bawah Partai Bharatiya Janata, (BJP) maka Pakistan segera meningkatkan kesigaannya karena partai itu berideologikan Nasionalis Hindu yang berbeda dengan Partai Kongres yang flatformnya sosialis sekuler.
Percaturan Strategis di Asia Selatan
I. Pendahuluan
Wilayah Asia Selatan memiliki karakterstik tersendiri terutama dalam hubungan antar
negara. Jika di Asia Tenggara, telah tercipta sebuah mekanisme diplomasi melalui ASEAN, di Asia
Selatan sejauh ini belum ada bentuk yang jelas. Konflik antara negara yang besar penduduknya
seperti India masih berlangsung dengan Pakistan dan Sri Lanka.
Akibat konflik laten seperti itulah maka muncul pola hubungan internasional yang khas.
Negara-negara yang termasuk kedalam kawasan ini adalah India, Pakistan, Banglades,
Maladewa, Bhutan, Nepal dan Sri Lanka. SAARC atau forum kerja sama Asia Selatan mencerminkan
komposisi yang ada di Asia Selatan. Dengan komposisi penduduk India terbesar dibandingkan
tetangga lainnya dan perilaku politik India yang cenderung hegemonik menyebabkan kecemburuan
dan kekhawatiran muncul diantara tetangganya.
Akibat kekhawatiran itu, negara besar seperti Uni Soviet (Rusia sekarang), Cina dan Amerika
Serikat ikut menentukan kerangka diplomasi kawasan Asia Selatan. Kaitan dengan negara besar
bukan karena kepentingan negara luar kawasan tetapi terutama karena kebutuhan negara di Asia
Selatan, misalnya, Pakistan untuk beraliansi dalam rangka menghindari ancaman.
II. Hubungan Internasional
Sebelum mengkaji bagaimana bentuk hubungan internasional masa kini berlangsung perlu
diperhatikan sejumlah faktor penting yang mempengaruhi perjalanan sejarah negara-negara di
kawasan ini.
1. Faktor Sejarah
Anak benua India lahir dari tangan Inggris dalam satu kesatuan pada tahun 1947. Perjuangan
Mahatma Gandhi dengan swadeshi dan tindakan anti kekerasan untuk mencapai mencapai
kemerdekaan telah berbekas secara mendalam di India yang mayoritas penduduknya menganut
agama Hindu. Namun peninggalan Inggris di anak benua ini melahirkan potensi konflik yang
bersuhu tinggi. Seperti halnya di Teluk Persia, peninggalan Inggris di Asia Selatan pun meledak
menjadi perang saat kemerdekaan India lahir karena tak lama kemudian Pakistan lahir,
memisahkan diri dari India.
2. Faktor Agama
Dapat dikatakan salah satu pemicu perpecahan India dan Pakistan adalah perbedaan agama. Di
bawah Ali Zinah, Pakistan mengambil jalan sendiri memisahkan diri dari India karena merasa
bahwa aspirasi politik umat Islam saat itu tak bisa disalurkan. Oleh karena itu karena dukungan
masyarakat penganut Islam maka lahir Pakistan bebas dari India.
3. Faktor Politik
Setelah Pakistan memisahkan diri dari India menjadi Pakistan timur dan barat, pada perjalanan
sejarahnya Pakistan timur tidak tertampung aspirasi politiknya. Dengan dukungan India, Pakistan
timur berpisah dari Pakistan barat yang kemudian melahirkan negara baru, Banglades. Kepentingan
Pakistan timur akan penampungan aspirasi politiknya menjadi pendorong terjadinya kelahiran baru
Banglades meskipun tidak ada persoalan agama karena keduanya mayoritas penduduknya Muslim.
3. Faktor Campur Tangan Negara Besar
Sudah menjadi bukti dalam sejarah, dimana terjadi konflik apalagi sesudah Perang Dunia II yang
melahirkan Perang Dingin, negara adidaya senantiasa berusaha memperluas lingkungan
pengaruhnya. Tidak terkecuali di Asia Selatan. Uni Soviet saat itu dan Amerika Serikat
berlomba-lomba mempengaruhi kawasan tersebut. Pakistan mencari perlindungan ke Amerika Serikat untuk
menghadapi ancaman dari India.
4. Faktor Keamanan
Karena merasa adanya ancaman terutama dari negara besar seperti India di Asia Selatan, Pakistan
ataupun Sri Lanka merasakan betapa perlunya mempersenjatai diri. Pakistan terutama sering
merasa ancaman ideologi yang dilatarbelakangi agama Hindu terus membayang-bayangi. Oleh
karena itu interaksi yang terjadi di kawasan pun lebih dilandasi oleh kecurigaan dan kehati-hatian
terutama melihat tindak-tanduk India yang tak bisa dipercaya begitu saja. Perbedaan agama dan
ideologi di India dan Pakistan telah melahirkan perlombaan senjata. Dengan kata lain, pacuan
senjata di Asia Selatan dipicu oleh kecurigaan terutama dari Pakistan ke India dan sebaliknya. Tidak
mengherankan apabila Pakistan berusaha mencari senjata pamungkas yakni nuklir sebagai kekuatan
penggetar yang kemudian justru mempercepat kelahiran program senjata nuklir India. Meskipun
kedua negara belum secara terus terang menggelar senjata nuklirnya namun sudah menjadi
pendapat umum bahwa baik Pakistan maupun India memiliki kemampuan membuat bom atom.
5. Persaingan Pengaruh
Dua negara besar di kawasan ini berusaha saling memantapkan pengaruhnya di Asia Selatan
maupun ikut mempengaruhi negara besar di luar kawasan untuk masuk ke wilayah itu. Baik
persaingan pengaruh antara negara adidaya maupun persaingan pengaruh domestik ikut mewarnai
percaturan diplomasi di Asia Selatan. India dan Pakistan berusaha untuk menjadi regional leader
meskipun secara de facto sebenarnya India yang bisa dikatakan pemimpin kawasan.
6. Kerja Sama Ekonomi
Meskipun terjadi persaingan untuk memperbutkan pengaruh dan saling curiga yang terus menerus
namun kerja sama ekonomi dan teknik telah menjadi bagian dari kawasan Asia Selatan. Pertukaran
budaya dan informasi seperti tidak terpengaruh oleh ketegangan yang diciptakan oleh para
pemimpin politik dan militer kedua negara. Terbentuknya SAARC merupakan puncak dari
kesadaran adanya usaha kerja sama.
III. Kesimpulan
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa tata hubungan internasional di Asia Selatan banyak
dipengaruhi oleh persaingan Pakistan dan India. Hubungan kedua negara ini banyak mempengaruhi
suasana di kawasan ini. Semakin tegang kedua negara maka suhu kawasan pun meningkat.
Misalnya, saat terbentuk pemerintahan India di bawah Partai Bharatiya Janata, (BJP) maka
Pakistan segera meningkatkan kesigaannya karena partai itu berideologikan Nasionalis Hindu yang
berbeda dengan Partai Kongres yang flatformnya sosialis sekuler.
06 October 2011 - dalam Umum Oleh jurnalphobia-fisip08
GEOSTRATEGI INDIA DAN PAKISTAN
Pertemuan keduabelas, 9 Juni 2011
Pendahuluan:
Geopolitik dan geostrategi di Asia Selatan dapat dipahami melalui analisis dua negara besar di Asia Selatan yakni India dan Pakistan. India dan Pakistan merupakan dua kekuatan politik dominan yang sangat mempengaruhi arti penting strategis kedua negara di Asia Selatan. Perbedaan antara kedua negara yang tadinya bersatu tersebut selalu diwarnai konflik. Adapun konflik yang selalu menjadi wacana kesepakatan perdamaian selalu berhubungan dengan persoalan perbatasan dua negara yang masih simpang siur, kapabilitas perekonomian, isu nuklir, dan regionalisme. Terdapat beragam strategi yang diimplementasikan kedua negara, salah satunya ialah “Cricket Diplomasi” dan
perekonomian sebagai instrumen geopolitik penting saat ini. Tulisan di bawah ini memaparkan konteks geopolitik yang mengkontruksi hubungan India-Pakistan, arena geopolitik yang berperan terkait dengan kapabilitas
perekonomian, kedekatan geopolitik dengan Timur Tengah sebagai negara Islam, kedekatan dengan kekuatan eksternal seperti Amerika, China, dan Rusia sebagai konsekuensi logis pasca Perang Dingin yang menyisakan strategi dua negara, serta wacana kedua negara dalam mendapatkan pengaruh dari negara-negara Asia Selatan lainnya.
Tujuan:
Mahasiswa mampu menjelaskan situasi geopolitik dan geostrategi yang sebenarnya India dan Pakistan di Asia Selatan
Pembahasan Materi
India. India, negara republik yang merdeka dari Inggris pada 15 Agustus 1947. Melalui kekuatan ekonomi,
kapabilitas militernya, membuat India secara politis negara paling berpengaruh di Asia Selatan. Kemampuannya diilustrasikan melalui sasaran-saaran strategis pertumbuhan ekonomi, penduduk yang menguasai informasi teknologi perangkat lunak di dunia. Selain itu sasaran strategisnya yang lain ialah membangun hubungan diplomatis yang baik dan erat utamanya dengan negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat. Sebelumnya, semasa Perang Dingin menerima bantuan dari Uni Soviet. Sekarang India lebih memiliki kedekatan dengan Amerika Seriakt dan Israel terutama di bidang pertahanan dan pengembangan nuklir (Guttinger, 2011: 6).
India menghadapi persoalan diversitas terkait dengan pluralisme dan bentuk-bentuk diveristas lain seperti agama, etnis, struktur sosial yang mengakar kuat dalam masyakarat, dan lainnya. Selain itu, India juga menghadapi isu kebangsaan yang selama ini didominasi oleh Arya yang mengklaim sebagai ras terbaik, separatisme, dan isu
regionalisme di tingkat kawasan. Nation Building menjadi persoalan yang sulit diwujudkan karena perbedaan agama, etnis, dan kasta dalam kounitasnya. Gerakan separatisme Kasmir secara geopolitik sangat strategis bagi kedua negara. Sedangkan prospek regionalisme di Asia Selatan, India selalu entusias untuk menggagas adanya regionalisme karena India berambisi muncul sebagai hegemoni kawasan di masa mendatang. Pertanyaannya adalah apakah regionalisme di Asia Selatan tersebut merupakan wacana resolusi konflik yang menjembatani harmonisasi hubungan India-Pakistan (Guttinger, 2011: 2).
Pertumbuhan ekonomi India semakin membaik. Akan tetapi, India menghadapi persoalan kemiskinan, ketikmertaan ekonomi. Oleh karena itu, sampai sekarang masih menjadi persoalan tentang siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut. Maka dari itu, pertumbuhan ekonoi bisa menyesatkan jika tidak jeli meneliti aspek-aspek minornya seperti kemiskinan, inequality, dan perubahan struktur demografi.
Lalu bagaimana strategi untuk merekonsiliasi pertumbuhan ekonomi dengan isu sosial tersebut di atas? Strategi India terletak pada pertumbuhan ekonomi India didukung oleh kebanggaan atas produk dalam negerinya. Hal ini berkaitan dengan filosofi “swades”. Contoh kasus, kebangkrutan MNC Coca Cola di India, ketika orang India justru memilih untuk mengkonsumsi minuman produksi sendiri (meskipun tidak terlalu enak).
Pakistan. Pakistan ialah menjadi satu-satunya negara Islam yang tidak berdasarkan rezim otoriter. Pakistan
didirikan oleh kelompok Islamis (dipimpin oleh Muhammad Ali Jinnah) yang berpisah dan mendirikan negara sendiri terlepas dari teritori India, yakni Republik Islam Palestina. Ide memisahkan diri dari India ini bermula pada akhir tahun 1930 demi melindungi warga muslim dari dominasi, diskriminasi, dan humiliasi masyarakat Hindu di
India. Adapun sistem politiknya menerapkan sistem hibrida yakni menjadi negara demokrasi sekaligus negara Islam. Para pemimpin menggabungkan kedua bentuk negara ini yang kemudian memicu serangkaian masalah politik, hukum, dan keagamaan sehingga dibentuk Pakistan modern sebagai solusi terhadap diversitas yang ada. Secara geopolitik, Pakistan memainkan peran penting sebagai stabilitator pengaruh India di kawasan. Dalam mengimbangi kekuatan India, Pakistan menggunakan instrumen arsenal yakni nuklir yang teknologi
pengembangannya merupakan warisan dari Perang Dingin melalui bantuan Uni Soviet. Isu kedua yang membuat Pakistan muncul sebagai wilayah strategis ialah terorisme. Amerika Serikat memberikan sejumlah bantuan persenjataan, bantuan ekonomi dan finansial, serta latihan-latihan militer bersama guna menumpas terorisme di Pakistan. Perkembangan terbaru berkaitan dengan “War on Terrorism” yang dirintis Amerika Serikat, ialah
terbunuhnya Osama bin Laden di Pakistan. Peristiwa ini sempat melonggarkan hubungan kedua negara diakibatkan Amerika Serikat secara de factomelanggar yurisdiksi hukum di Pakistan. Kedekatan Pakistan dengan aktor eksternal lain seperti China di wilayah konflik Kashmir juga menjadi isu penting bagi India sehingga India merasa antisipatif dengan kehadiran China di Asia Selatan. Untuk itu, hubungan India dan Pakistan dapat diilustrasikan sebagai perpanjangan kepentingan antara Amerika Serikat dan China di Asia Selatan
(http://www.foreignpolicy.com/articles/2011/06/03/pakistan_s_black_pearl (Diakses tgl 8 Juni 2011)). Kedekatan Pakistan dan China ini disinyalir sebagai strategi Pakistan Black Pearl yang merupakan perpanjangan strategi China “the String of Pearls” di Laut Arab melalui konstruksi pelabuhan Gwader yang 75% didanai oleh China. Prospek pelabuhan tersebut di Pakistan berfungsi sebagai pelabuhan angkatan militer laut China. Selain itu, China juga memfasilitasi Pakistan melalui pembelian Jet Tempur China JF-17.
Sejak pendiriannya, negara menghadapi persoalan dengan perbatasannya dengan India, utamanya Kashmir. Selain itu juga menghadapi instabilitas akibat persoalan terorisme di wilayahnya dan pengaruh militer asing yang sangat dominan. Saat ini, politik Pakistan sedang dalam masa transisi. Salah satu perhatian internasional terhadap Pakistan berkaitan denan isu nuklir yang dimiliki Pakistan yang dipandang sebagai ancaman, utamanya oleh India.
Kesimpulan
Secara keseluruhan konstelasi geopolitik di India dan Pakistan berkaitan dengan isu terorisme, persoalan nuklir, sengketa perbatasan di Kashmir, isu nasionalisme dan globalisasi, prospek regionalisme di kawasan Asia Selatan, dan strategi kekuatan eksternal untuk ikut mempengaruhi dinamika geopolitik di kawasan tersebut. Asia Selatan selalu diiringi ketidakstabilan apabila dua negara besar ini Pakistan dan India terus menerus memiliki hubungan tidak stabil. Misalnya Pakistan selalu menjadi berseberangan dengan India, dan menjadi sasaran tuduhan kelompok terorisme di Kashmir dan serangan terorisme baru-baru ini di Mumbai, India.
Dikarenakan ketegangan internal tersebut, Pakistan selalu memainkan strategi ganda guna mengkonter India antara lain: Cricket Diplomacy—menghalangi India berkoalisi dengan Uni Soviet (pada era Perang Dingin) sementara Pakistan bersekutu dengan Uni Soviet, saat ini Pakistan cenderung dekat dengan China, berhubungan dengan Amerika Serikat terkait isu terorisme, dan lainnya.
Persoalan baru yang melatarbelakangi hubungan dua negara yakni perbedaan pertumbuhan ekonomi yang mana perekonomian India seakan lebih besar daripada Pakistan. Sehingga, sampai pada kesimpulan bahwa sulit sekali untuk membuat perbandingan dua negara dengan satu atau dua variabel determinan, misalnya kepemilikan nuklir
dan perekonomian karena tingkat kapabilitas nuklir dua negara ini masih simpang siur sehingga sulit diestimasi. Baik India dan Pakistan sendiri tidak mau mengalah satu sama lain.
Penyebab utama terorisme di Asia Selatan adalah masalah rumit Jammu dan Kashmir. Perdamaian tidak dapat didirikan tanpa solusi dari Jammu dan Kashmir. Orang-orang dari Jammu dan Kashmir adalah menunjukkan ketahanan mereka yang tinggi sejak tahun 1947. Ini adalah hari tergelap dalam sejarah dunia ketika militer India menduduki ini konstituen yang indah dan sejahtera dariPakistan. Ini adalah hasil dari perencanaan yang menyimpang dari British Tuhan. Jika ia membuat keputusan yang tepat pada saat itu maka masalah seperti ini merugikan tidak diciptakan.
Setelah, Pakistan mendapat kesempatan emas untuk mengatur Kashmir bebas dari
liberticidal Indiaketika Pakistan memenangkan perang September 1965. Dan Pakistan menangkap lahan yang memadai India dan India pergi ke UNO. Kemudian kepemimpinan Pakistan kebingungan pada pembicaraan meja dan mengingat pasukannya dari wilayah yang diduduki. Jika kepemimpinan Pakistan menuntut untuk membebaskan Kashmir, bukan tanah yang diambil pada waktu yang kemudian
menantang Kashmir adalah hari ini. Tapi kepemimpinan Pakistan hanya berpikir untuk hal-hal pribadi mereka tidak untuk Pakistan secara keseluruhan sejak tahun 1949.
Sekarang, jika kepemimpinan Pakistan menjadi tulus dengan Pakistan maka tidak ada kekuatan dunia dari pengalihan kebebasan Kashmir. Namun, kepemimpinan seperti Jinnah harus diperlukan pada tahap yang pulih Pakistan dari krisis yang serius. Kami adalah Muslim Punjabi pertama kemudian Pakistan dan kemudian, Sindhi, Baluchi dan Pathan. Kita harus menjadi bersatu pada tahap ini jika tidak kita akan menghapus sama sekali. Kita tidak harus tergantung pada orang lain. Jika kita menjadi mandiri di segala bidang maka kita akan menantang kemajuan dengan pesat. Ini adalah satu-satunya cara di mana kita dapat mengalahkan terorisme.
Ini adalah waktu untuk semua Bangsa Muslim untuk bersatu demi kebebasan Kashmir dan membujuk isu Kashmir di tingkat Internasional. Meningkatkan tekanan pada India dan menciptakan lingkungan seperti yang memaksa India untuk meninggalkan Kashmir. Rusia selalu veto masalah Kashmir di UNO. Saya pikir Rusia lupa kejadian tahun 1980 di mana Rusia kehilangan kekuatan karena Pakistan. Saya pikir Rusia harus mempertimbangkan sejarah jika tidak dapat diulang dalam bentukIran.
Tanpa memecahkan masalah Kashmir dan orang Filistin, kita tidak menciptakan perdamaian di Asia Selatan maupun di Dunia. India dan Israel menyebarkan kekerasan dan saya terkejut bahwa tidak ada yang mengambil tindakan apapun untuk pagar itu. Bahkan PBB juga menjadi bisu dalam hal ini. Dengan solusi dari masalah Kashmir, Pakistan juga akan datang dari beberapa hal rumit seperti masalah air. India juga kelainan pada kesepakatan Perjanjian Air Indus. Itu sebabnya, Muhammad Ali
Jinnahmengatakan: Your Ad Here "
Dan juga penindasan Amerika di Afghanistan bisa mencerca. Amerika setuju bahwa dia tidak bisa memenangkan perang melawan diri nya dibuat Taliban 's. Amerika dibuat di Taliban dalam perang melawan Rusia dan hari ini ia juga cemas tentang perang berarti melawan Taliban. Sebenarnya itu Taliban punya tujuan mereka dalam perang melawan Neto. Amerika juga menciptakan kekerasan di Irak. Kita membutuhkan tekad seperti Iran. Kemudian, (insya Allah) kondisi internal dan eksternal dari Pakistan akan berubah. Dan Pakistan akan menjadi bebas dari virus berbahaya dari terorisme. Hanya kemudian, Pakistan akan menjadi negara yang paling kuat dan berkuasa Dunia. Dan kemudian akan menciptakan perdamaian abadi di Asia Selatan.