• Tidak ada hasil yang ditemukan

Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya Kota Banda Aceh Provinsi Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya Kota Banda Aceh Provinsi Aceh"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya

Kota Banda Aceh Provinsi Aceh

Kementerian Pendidikan dan

(2)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Daftar Isi

A. Pendahuluan

B. Hasil Verifikasi dan Validasi Data Master Referensi Cagar Budaya Kota Banda Aceh

C. Konsep Integrasi Kebudayaandan Pendidikan

D. Arah Pembangunan Informasi Kebudayaan, Pendidikan dan Bahasa Berbasis Spasial

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(3)

Verifikasi dan Validasi Cagar Budaya

Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Latar Belakang dan Tujuan

1. Dalam rangka Kebijakan Satu Peta, verifikasi validasi sebaran Cagar Budaya menggunakan peta RBI 2016. 2. Membangun satu Master Referensi Kebudayaan, Pendidikan dan Bahasa yang terintegrasi

3. Membangun Informasi Kebudayaan, Pendidikan dan Bahasa yang terintegrasi

Batasan Verifikasi Validasi

1. Verval 6 Cagar Budaya Kota Banda Aceh

Waktu Pelaksanaan

: Tgl 17 s/d 20 September 2017

Yang Terlibat

1. Tim Pusat

a. Widhi Permanawiyat (PDSPK – Kemendikbud) b. Prayudi Permana (PDSPK – Kemendikbud)

2. Tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh (4 Peserta)

Kementerian Pendidikan dan

(4)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hasil Verifikasi dan Validasi 6 Cagar Budaya

(5)

Kementerian Pendidikan dan

6 Cagar Budaya di Kota Banda Aceh Provinsi Aceh, yang sudah didukung dengan surat keputusan.

(6)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

GEDUNG BANK INDONESIA

Gedung Bank Indonesia ini merupakan gedung De Javasche Bank yang

dibangun pada 2 Desember 1918 oleh Pemerintah Hindia Belanda atas hasil

rancangan sang biro arsitek terkemuka di Hindia Belanda, N.V.

Architecten-Ingenieurs BureauHulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te

Amsterdam yang didirikan pada tahun 1910 oleh Eduard Cuypers

(1859-1927) dan Marius J. Hulswit bersama A.A. Fermont.

De Javasche Bank

sendiri, awalnya didirikan di Amsterdam, Belanda pada tanggal 29

Desember 1826 atas prakarsa Raja Belanda kala itu, yaitu Raja Willem I.

Namun, gedung ini baru beroperasi sebagai Bank dalam pengertian

sesungguhnya pada 24 Januari 1828 melalui Surat Keputusan Komisaris

Jenderal Hindia Belanda No. 25. Kemudian, kantor pertama De Javasche

Bank di Hindia Belanda ini didirikan di Semarang pada tanggal 1 Maret

1829. Baru disusul daerah lainnya, seperti: Batavia, Surabaya, Bandung,

Cirebon, Yogyakarta, Solo, Kediri, Malang, Surabaya, Manado, Padang, dan

Banda Aceh. [Sumber: Kantor Bank Indonesia Banda Aceh)

Sampai saat ini, gedung Bank Indonesia ini tetap berdiri dan masih dalam

bentuk gedung De Javasche Bank seperti masa belanda dahulu. Walaupun

ada beberapa tiik yang sudah direnovasi karena dimakan usia

(7)

Kementerian Pendidikan dan Data Indentitas (Tabular)

Data Spasial (Koordinat)

Data Citra/Foto

(8)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(9)

Kementerian Pendidikan dan

Gedung BAPERIS

Gedung ini terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah No. 15 Kelurahan Peuniti, Kecamatan

Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi gedung berada di antara

Museum

Negeri Aceh

dan Meuligo (Pendopo Gubernuran).

Dulu, gedung ini pernah difungsikan sebagai Kantor Gubernur Belanda. Gedung ini diperkirakan

dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1883 yang hampir bersamaan dengan

selesainya pembangunan Meuligo yang tepat berada di seberangnya. Memang

dulu, Meuligo hanya digunakan sebagai rumah dinas kediaman Gubernur Belanda tersebut.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gedung ini dikuasai tentara Jepang atau yang

dikenal juga dengan sebutan Dai Nippon, dan kemudian gedung tersebut dijadikan Kantor

Pemerintahan Militer Jepang serta Residen Aceh (Shu-chokan). Lalu, pada waktu rakyat Aceh

mendengar kabar bahwa Soekarno-Hatta telah memproklamirkan Indonesia maka rakyat Aceh

serempak berusaha merebut gedung tersebut dari militer Jepang. Setelah berhasil direbut,

dikibarkanlah Sang Saka Merah Putih pada 24 Agustus 1945. Simbol dari perjuangan inilah lalu

gedung ini dikenal sebagai Gedung Juang.

Pada tahun 1969, gedung ini sempat digunakan sebagai Kantor BAPERIS (Badan Pembina

Rumpun Iskandarmuda), organisasi tentara yang bertugas mengelola Museum Aceh saat

dipindahkan dari Blang Padang ke lokasi museum sekarang ini. Sejak itu pula, bangunan tua ini

juga dikenal sebagai Gedung BAPERIS. Gedung yang terdiri dari tiga kamar dan satu aula ini

kini menjadi Markas Daerah Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Aceh serta sekaligus

menjadi Kantor Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan

Polri (DPD PEPABRI) Aceh. Di atas pintu masuk gedung tua ini terdapat tulisan dalam bahasa

Aceh “Udep Saree Matee Sjahid”, yang artinya hidup bersatu atau mati syahid.

(10)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Data Indentitas (Tabular)

Data Spasial (Koordinat)

Data Citra/Foto

(11)

Kementerian Pendidikan dan

(12)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Gedung Menara (Sentral Telepon Militer Belanda)

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, Gedung Menara ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1903 atau

pada era kepemimpinan Sultan Muhammad Daudsyah (1874 – 1903). Hal ini didasarkan pada angka 1903 yang tertera di

bagian atas bangunan dekat ventilasi jendela.

Gedung berbentuk oktagonal ini sengaja dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk keperluan militernya. Semula

menggunakan telegraf dalam komunikasi jarak jauh, kemudian pihak militer Belanda mengalihkankan ke telepon. Belanda

pun menyebut gedung ini sebagai Kantor Telepon Koetaradja yang sesungguhnya berdiri di atas lahan milik Dalam (sebutan

untuk Kraton atau Istana/ Kerajaan Aceh Darussalam). Sebagai pusat telepon yang pertama kali dibangun oleh Pemerintah

Kolonial di Hindia Belanda ini, jaringannya menembus berbagai kota yang terbentang dari Banda Aceh hingga Asahan

(Sumatera Utara). Sentral telepon ini berguna sekali bagi Gubernur Militer Belanda dalam berkomunikasi dan menghadapi

serangan pejuang Aceh.

Gedung dengan luas bangunan 18,7 m² yang berdiri di atas lahan seluas 932 m² ini, memiliki gaya arsitektur Kolonial akan

tetapi sudah dipadukan dengan kondisi tropis di Hindia Belanda. Hal ini ditandai dengan pintu dan jendela yang lumayan

besar dan berjalusi untuk pintunya. Lantai satu bangunan ini terbuat dari beton, sedangkan lantai duanya semi permanen

yang sekaligus bisa berfungsi sebagai gardu pandang juga.

Pada waktu pendudukan Jepang (1942 – 1945), gedung ini tetap digunakan oleh Jepang untuk hal yang sama. Begitu pula,

ketika Indonesia merdeka, bangunan ini sempat dijadikan Kantor Telepon Militer Kodam I Iskandar Muda yang disebut

Wiserbot (WB) Taruna sampai menjelang tahun 1960. Kemudian berturut-turut digunakan sebagai Kantor KONI, Kantor Surat

Kabar Atjeh Post, dan terakhir sebagai Kantor PSSI hingga tahun 2000.

Kini, Gedung Menara ini dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang terdapat di Kota Banda Aceh karena sejak

tahun 1991 sentral telepon ini telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional mengingat bangunan tersebut sudah

memenuhi kriteria, yaitu berumur lebih dari 50 tahun, dan mempunyai arsitektur yang khas yang ditunjang oleh data

(13)

Kementerian Pendidikan dan Data Indentitas (Tabular)

Data Spasial (Koordinat)

Data Citra/Foto

(14)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gedung Menara (Sentral Telepon Militer Belanda) (Foto/Citra 18 September 2017

)

(15)

Kementerian Pendidikan dan

Komplek Makam Kandang Meuh

Makam Kandang Meuh merupakan kompleks makam kuno tempat berbaringnya jasad para raja yang

pernah memerintah di Kesultanan Aceh Darussalam beserta kerabat dan ulama. Sesuai petunjuk

papan yang terpampang dalam kompleks makam di sebelah kiri, jasad yang dimakamkan di Makam

Kandang Meuh, antara lain Putri Raja Anak Raja Bangka Hulu, Sultan Alauddin Mahmudsyah

(1760-1764), Raja Perempuan Darussalam, dan Tuanku Zainal Abidin serta keluarga sultan lainnya.

Sedangkan, di dalam kompleks makan di sebelah kanan, dimakamkan Pocut Rumoh Geudong alias

Meurah Limpah atau Pocut Lamseupeung (permaisuri Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah), Pocut Sri

Banun (putri Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah), Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah (1857-1870),

Sultan Alaiddin Muhammad Syah (1781-1795), Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah alias Sultan Husein

(1795-1824), Putroe Bineu alias Pocut Meurah Di Awan (ibunda Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah),

Tuanku Pangeran Husein (putra Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah dan Panglima Armada Aceh

dalam penerbitan dan peneguhan kekuasaan Aceh di Deli Serdang dan Langkat pada 1854), Tuanku

Zainal Abidin (Panglima Perang Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Alaiddin Ibrahim

Mansur Syah, dan ayahanda Sultan Aceh terakhir, Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah), Teungku

Chik (kakak perempuan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah)

(16)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Data Indentitas (Tabular)

Data Spasial (Koordinat)

Data Citra/Foto

(17)

Kementerian Pendidikan dan

(18)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kompleks Taman Sari Gunongan

Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615 melalui penyerangan dengan kekuatan ekspedisi Aceh 20.000 tentara laut dan darat, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan

Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan glondong pengareng-areng (pampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Di samping itu juga harus menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri boyongan itu biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukkannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya. Penaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Melayu berpengaruh besar terhadap diri Iskandar Muda. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan

menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana

pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana Brakel (1975) melukiskan dalam Bustan, gunongan ini dikenal sebagai gegunungan dari kata Melayu gunung dengan menambahkan akhiran ‘an’ yang melahirkan arti “bangunan seperti gunung” atau “simbol gunung”. Jadi gunongan adalah simbol gunung yang merupakan bagian dari taman-taman istana Kesultanan Aceh.

(19)

Kementerian Pendidikan dan Data Indentitas (Tabular)

Data Spasial (Koordinat)

Data Citra/Foto

(20)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(21)

Kementerian Pendidikan dan

Pendopo Gubernur (Istana Sultan)

Pendopo Gubernur Aceh ini dibangun pada tahun 1880 M di bekas peninggalan kerajaan Sultan. Pendopo merupakan salah satu pembangunan awal kolonial Belanda di Aceh. Pendopo ini awalnya merupakan bangunan bekas kediaman gubernur Belanda dan sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur Aceh. Invasi

militer Belanda ke Aceh mulai dilakukan setelah penandatanganan perjanjian London 1871 antara Inggris dan Belanda. Salah satu pasal dari perjanjian tersebut menyatakan, Inggris memberikan kekuasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan terhadap Aceh. 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh. Dikirimlah Mayor Jenderal JH Rudolf Kohler memimpin ekspedisi Belanda pertama untuk menaklukkan Aceh dengan membawa sejumlah pasukannya. Mereka menjejak di bumi Nanggroe pada 6 April 1873, sayang Kohler sepertinya kurang beruntung. Setelah menduduki Masjid Baiturrahman, seminggu setelah kedatangannya; Kohler terkapar di halaman mesjid itu. 14 April 1873, Kohler tewas terkena terjangan peluru dari seorang sniper Aceh.

Pada 1877 pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang pemimpin militer di Aceh yang merangkap sebagai petinggi sipil untuk

mengatur strategi ekspansi Belanda di bumi Serambi Mekkah. Karel van der Heijden pun diangkat menjadi Gubernur merangkap Panglima Militer Belanda yang pertama untuk Aceh. Demi kelancaran urusan administrasi antara pemerintah pusat, Aceh dan wilayah jajahan lainnya; van der Heijden mengambil inisiatif untuk membangun sebuah bangunan yang menjadi pusat pemerintahan di Kutaraja. Sebuah bangunan bergaya Eropa dan Aceh pun dibangun di atas tanah di dalam bekas lingkungan Keraton Kesultanan Aceh. Bangunan megah yang masih tegak berdiri itulah Meuligo Aceh atau Mahligai Aceh yang fungsi bangunannya tak bergeser sesuai dengan tujuan awal pendiriannya. Menjadi rumah tinggal gubernur jenderal semasa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang masih difungsikan sebagai rumah dinas Gubernur Aceh.

(22)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Data Indentitas (Tabular)

Data Spasial (Koordinat)

Data Citra/Foto

(23)

Kementerian Pendidikan dan

(24)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(25)

Kementerian Pendidikan dan Data Awal Master Referensi

dari Direktorat Jenderal Kebudayaan

Data Master Referensi Pendidikan dan Kebudayaan

Konsep awal integrasi data dan informasi

kebudayaan, yaitu dengan membangun satu

data master referensi kebudayaan, langkah

awal disusun untuk Cagar Budaya, langkah

selanjutnya Museum, Sanggar Kebudayaan,

Bahasa dll, berkoordinasi dengan unit-unit

terkait.

Langkah-langkah

1. Identifikasi

2. Verifikasi

3. Validasi

4. Integrasi

(26)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Data Master Referensi dan Informasi Yang Terintegrasi

Informasi Terintegrasi

http://sekolah.data.kemdikbud.go.id/

http://referensi.data.kemdikbud.go.id/cagarbudaya/ http://referensi.data.kemdikbud.go.id/

Informasi Pendidikan dan Kebudayaan Terintegrasi Data Master Referensi Pendidikan dan Kebudayaan

(27)

Kementerian Pendidikan dan

Contoh

Pengelolaan Data Master

Referensi Pendidikan

dan Kebudayaan yang

terintegrasi maka sangat

memungkinkan untuk

menyusun Informasi

Lokasi yang terintegrasi

antara Sekolah degan

Cagar Budaya

disekitarnya.

Cagar Budaya lainnya yang terdekat dengan Pendopo Gubernur Sekolah-sekolah yang terdekat dengan Cagar Budaya Pendopo Gubernur

(28)

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sekolah

Arah Integrasi Informasi Berbasis Spasial Yang Terintegrasi

Kantor Pendidikan Rumah Museum Direktorat Jenderal Kebudayaan

BIG

Badan Informasi Geospasial

(Kebijakan Satu Peta) Sudah ada di Data Warehouse Kemendikbud Overlay dengan Google Maps

Kawasan Cagar Budaya Cagar Budaya

Pusat Belajar (Bahasa, Kebudayaan, Ketrampilan, dll)

(29)

Kementerian Pendidikan dan

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga pendidikan karakter dalam perspektif Islam lebih menitikberatkan pada sikap peserta didik, hal tersebut pada kehendak positif yang selalu dibiasakan, sehingga

Pencantuman logo atau nama perusahaan dan atau produk sponsor pada bagian bawah atau samping dibeberapa media publikasi dan promosi event dengan besar space 15 % dari space SPONSOR

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis akan mengkaji masalah tersebut dengan melakukan penelitian tindakan kelas melalui pembelajaran tematik dengan

Kegiatan ini dilaksanakan di desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo dengan tujuan menemukan perlakuan/intervensi yang efektif dan meningkatkan pemberdayaan, serta kerja

Sama halnya seperti outer marker , middle marker   juga meman"arkan gelombang elektromagnetik untuk memberikan informasi ke pilot dengan jarak  yang berbeda dari :M yaitu

Status hidrasi pada atlet dapat diketahui melalui berbagai macam parameter, antara lain perubahan berat badan sebelum dan sesudah latihan, pengukuran jumlah total

Berangkat dari akar masalah dalam orientasi kurikulum dalam pandangan kritis (critical theory) dan postmodernism penelitian ini difokuskan pada (1) dialog emansipatoris dan

Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Suatu Teori Pendidikan.. Yogyakarta: Rake