CYBER CRIME :
KENALI, ANTISIPASI
NAMUN, ...
Ibu E di Bantul Curhat di FB
Ervani curhat pemberhentian kerja suaminya oleh
perusahaan. Ia menulis tentang pendapat sikap supervisor
di perusahaan suaminya yang dinilai tidak pantas jadi
pemimpin.
Pasal 27 ayat 3 UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi
Transaksi Elektronik(ITE).
Mahasiswa F di Bantul berkomentar di
akun Instagram Kapolda Jabar
Mahasiswa berkomentar foto tentang foto konferensi pers
terkait kasus penistan Pancasila beberapa waktu lalu
Komentar dilaporkan sebagai provokasi dan penyebar
kebencian kepada Kapolda Jabar
Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 tentang penyebaran
kebencian, permusuhan, dan provokasi dalam UU Nomor 11
Tahun 2008 tentang ITE.
Mahasiswi F di Sleman di Path
menghina Yogyakarta
Mahasiswa menyebut Yogya tolol dan dia mengajak teman-temannya agar jangan tinggal di Kota Pelajar itu. Hal itu dijadikan status akun jejaring
sosial Path-nya.
Dilaporkan ke Polda DIY oleh LSM Jangan Khianati Suara Rakyat (Jati Sura) Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 tentang penyebaran kebencian,
permusuhan, dan provokasi dalam UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.
PN)Yogyakarta menyatakan F tidak perlu dihukum 2 bulan penjara
asalkan tidak berbuat kejahatan selama 6 bulan ke depan dan denda Rp 10 juta.
F lalu mengajukan banding. PT Yogyakrta menghapuskan pidana denda. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi . MA menolak permohonan
kasasi jaksa
Skorsing 1 semester di kampusnya
Korban tidak
pandang bulu
Penipuan Online di Indonesia
Tertinggi
26 % konsumen Indonesia kehilangan uang karena
menjadi sasaran tindak penipuan daring (hasil
penelitian terbaru Kaspersky Lab dan B2B
International).
Indonesia menjadi negara dengan korban penipuan
daring tertinggi menurut hasil penelitian itu
Bentuk ancaman keuangan online terhadap konsumen
semakin berkembang. Selain penipuan online dengan
gaya tradisional, para penjahat siber mengeksploitasi
serta mencari cara baru untuk menipu konsumen
KOMISI PERLINDUNGAN ANAK
INDONESIA TAHUN 2011 – 2016
Kasus Pornografi dan Cyber Crime total 1809 kasus
Masalah 2011 2012 2013 2014 2015 201 6
Anak Korban Kejahatan Seksual Online 17 11 23 53 133 94 Anak Pelaku Kejahatan Seksual Online 8 7 16 42 52 72 Anak Korban Pornografi dari Media
Sosial
107 110 147 163 174 168
Anak Pelaku Kepemilikan Media Pornografi (HP/Video, dsb)
56 47 61 64 104 80 Total 188 175 247 322 463 414
Indonesia darurat pornografi dan
Cyber Crime?
The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders di
Havana Cuba pada tahun 1990 dan di Wina Austria, 2000:
1. Cyber crime in a narrow sense (computer crime): any legal
behaviour directed by means of electronic operations that
targets the security of computer system and the data
processed byh them.
2. Cyber crime in a broader sense (computer related crime):
any illegal behaviour committed by means on in relation to, a
computer system or network, including such crime as illegal
possession, offering or distributing information by means of a
computer system or network.
Kualifikasi Cyber Crime menurut Convention on
Cyber Crime 2001 di Budhapest Hongaria,
yaitu:
1. Illegal access: yaitu sengaja memasuki atau mengakses sistem komputer tanpa hak.
2. Illegal interception: yaitu sengaja dan tanpa hak mendengar atau menangkap secara diamdiam pengiriman dan pemancaran data komputer yang tidak bersifat publik ke, dari atau di dalam sistem komputer dengan menggunakan alat bantu teknis.
3. Data interference: yaitu sengaja dan tanpa hak melakukan perusakan, penghapusan, perubahan atau penghapusan data komputer
4. System interference: yaitu sengaja melakukan gangguan atau rintangan serius tanpa hak terhadap berfungsinya sistem
5. Misuse of Devices: penyalahgunaan perlengkapan komputer, termasuk program komputer, password komputer, kode masuk (access code)
6. Computer related Forgery: Pemalsuan (dengan sengaja dan tanpa hak memasukkan, mengubah, menghapus data autentik menjadi tidak autentik dengan maksud digunakan sebagai data autenti)
7. Computer related Fraud: Penipuan (dengan sengaja dan tanpa hak menyebabkan hilangnya barang/kekayaan orang lain dengan cara memasukkan, mengubah, menghapus data computer atau dengan mengganggu berfungsinya computer/sistem computer, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomi bagi dirinya sendiri atau orang lain).
Menurut Convention on Cybercrime, tindak pidana yang
dapat digolongkan sebagai cyber crime adalah :
1. Illegal Access
2. Illegal Interception
3. Data Interception
4. System Interference
5. Misuse of Device
Sudut pandang Cyber Crime
( Barda Nawawi Arief)
1. Kejahatan biasa (ordinary crime) yang dilakukan dengan
komputer teknologi tinggi (high-tech) dan KUHP dapat
dipergunakan untuk menanggulanginya (tentu dengan
penambahan)
2. Kejahatan kategori baru (new category of crime) yang
membutuhkan suatu kerangka hukum yang baru dan
komprehensif untuk mengatasi sifat khusus teknologi
yang sedang berkembang dan tantangan baru yang tidak
ada pada kejahatan biasa, dan karena itu perlu diatur
Kebijakan Kriminal
Kebijakan kriminal pada hakikatnya merupakan
penanggulangan kejahatan sekaligus satu kesatuan dengan
upaya perlindungan masyarakat (social defence) dan upaya
mencapai kesejahteraan rakyat (social welfare). Dengan
kata lain tujuan final dari politik kriminal adalah
perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan
masyarakat.
Melaksanakan politik hukum pidana berarti mengadakan
pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan
pidana yang paling baik yaitu yang memenuhi syarat
keadilan dan daya guna.
Sistem Hukum (Friedman)
Ketiga unsur harus berjalan dinamis dan mengantisipasi
dan mengatasi cyber crime
Struktur
Budaya
Substansi
Substansi Hukum
Kita belum meratifikasi Convention on Cyber Crime
KUHP,UU ITE dan perubahannya Nomor 19 Tahun 2016, dan Perkominfo Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Data Pribadi Dalam Sistem Elektronik
Namun perbuatan yang direkomendasikan dalam European Convention on Cyber Crime telah diatur dalam UU ITE.
Perbedaannya hanya pada tata letak atau urutan pengaturan berbagai perbuatan tersebut. Jika Konvensi memulai dengan perbuatan yang terkategori sebagai cyber crime dalam arti sempit (murni), maka
pengaturan dalam UU ITE tidak mengikuti pola tersebut. Hal ini terlihat bahwa pasal pertama (27) justru mengatur perbuatan yang sebenarnya merupakan tindak pidana konvensional (ada dalam KUHP), hanya saja sekarang dilakukan dengan media komputer berikut jaringannya.
KUHP
1. Pasal 362 KUHP dapat dikenakan untuk kasus carding dimana pelaku mencuri nomor kartu kredit milik orang lain walaupun tidak secara fisik karena hanya nomor kartunya yang diambil dengan menggunakan software card generator di Internet untuk melakukan transaksi di e-commerce. Setelah dilakukan transaksi dan barang dikirimkan, kemudian penjual yang ingin mencairkan uangnya di bank ternyata ditolak karena pemilik kartu bukanlah orang yang melakukan teransaksi.
2. Pasal 378 KUHP dapat dikenakan untuk penipuan dengan
seolah-olah menawarkan dan menjual suatu produk atau barang dengan memasang iklan di salah satu produk atau barang dengan memasang iklan di salah satu website sehingga orang tertarik
untuk membelinya lalu mengirimkan uang kepada pemasang iklan. Tetapi, pada kenyataannya , barang tersebut tidak ada. Hal tersebut diketahui setelah uang dikirimkan dan barang yang
3. Pasal 335 KUHP dapat dikenakan untuk kasus
pengancaman dan pemerasan yang dilakukan melalui
e-mail yang dikirimkan oleh pelaku untuk memaksa korban
melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh
pelaku dan jika tidak dilaksanakan akan membawa dampak
yang membahayakan. Hal ini biasanya dilakukan karena
pelaku biasanya mengetahui rahasia korban.
4. Pasal 310 dan 311 KUHP dapat dikenakan untuk kasus
penghinaan dan pencemaran nama baik dengan
menggunakan media Internet. Modusnya adalah pelaku
menyebarkan e-mail kepada teman-teman korban tentang
suatu cerita yang tidak benar atau mengirimkan e-mail ke
suatu mailing list sehingga banyak orang mengetahui cerita
tidak benar tersebut.
5. Pasal 303 KUHP dapat dikenakan untuk menjerat
permainan judi yang dilakukan secara online di Internet
dengan penyelenggara dari Indonesia
6. Pasal 282 KUHP dapat dikenakan untuk penyebaran
pornografi maupun website porno yang banyak beredar dan mudah diakses di Internet. Walaupun berbahasa Indonesia, sangat sulit sekali untuk menindak pelakunya karena mereka melakukan pendaftaran domain tersebut di luar negeri dimana pornografi yang menampilkan orang dewasa bukan merupakan hal yang ilegal.
7. Pasal 282 dan 311 KUHP dapat dikenakan untuk kasus penyebaran foto atau film pribadi seseorang yang vulgar di Internet, misalnya kasus Sukma Ayu dan Bjah.
8. Pasal 378 dan 262 KUHP dapat dikenakan pada kasus carding, karena pelaku melakukan penipuan seolah-olah ingin membeli suatu barang dan membayar dengan kartu kreditnya yang nomor kartu kreditnya merupakan curian.
9. Pasal 406 KUHP dapat dikenakan pada kasus deface atau
hacking yang membuat sistem milik orang lain, seperti website atau program menjadi tidak berfungsi atau dapat digunakan sebagaimana mestinya.
UU ITE dan perubahannya
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016
Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
1. Indecent Materials/ Illegal Content (Konten Ilegal) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan,
mentransmisikan, dan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik serta pemerasan, pengancaman serta yang menimbulkan rasa kebencian berdasarkan atas SARA serta yang berisi ancaman kekerasan (Pasal 27, 28, dan 29 UU ITE)
2. Illegal Acces (Akses Ilegal) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/ atau Sistem Elektronik milik orang lain dengan cara apapun untuk memperoleh Informasi elektronik serta melanggar, menerobos, melampaui atau menjebol sistem pengamanan (Pasal 30 UU ITE).
3. Illegal Interception (Penyadapan Ilegal) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan intersepsi atas Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik dalam suatu Sistem Elektronik tertentu milik orang lain, baik yang tidak
menyebabkan perubahan apapun maupun yang menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/ atau penghentian
Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan (Pasal 31 UU ITE).
4. Data Interference (Gangguan Data) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan, atau
mentransfer suatu Informasi Elektronik milik orang lain atau milik publik kepada Sistem Elektronik orang lain yang tidak berhak, sehingga mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya. (Pasal 32 UU ITE).
5. System Interference (Gangguan Sistem) Setiap orang
dengan sengaja dan tanpa hak melakukan tindakan apapun
yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/ atau
mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja
sebagaimana mestinya (Pasal 33 UU ITE).
6. Misuse of Devices (Penyalahgunaan Perangkat) Setiap
orang dengan sengaja dan tanpa hak memproduksi,
menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor,
mendistribusikan, menyediakan atau memiliki perangkat
keras atau perangkat lunak komputer yang dirancang atau
secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi
perbuatan yang dilarang dan sandi lewat komputer, kode
akses, atau hal yang sejenis dengan itu, yang ditujukan agar
sistem elektronik menjadi dapat akses dengan tujuan
7. Computer Related Fraud and Forgery (Penipuan dan
Pemalsuan yang berkaitan dengan Komputer) Setiap orang
dengan sengaja dan tanpa hak melakukan manipulasi,
penciptaan, perubahan, penghilangan, pengerusakan
Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik
dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/ atau
Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data
yang otentik (Pasal 35 UU ITE).
Sebagaimana umumnya UU di luar KUHP yang mengatur
perbuatan dengan sanksi pidana, dalam UU ITE perumusan
perbuatan dan sanksi pidana juga dicantumkan secara
terpisah. Semua perbuatan yang dilarang dalam Pasal 27
sampai Pasal 35 di atas, diancam dengan sanksi pidana
dalam Pasal 45-52
Regulasi yang akan datang
Rancangan Undang-undang Republik Indonesia
Tentang Pemanfaatan Teknologi Informasi
Rancangan Undang-undang KUHP
RUU Perlindungan Data Pribadi
Struktur Hukum
Pertimbangan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari
badan-badan penegak hukum di Indonesia yang untuk
menegakkan ketentuan yang mengatur delik komputer
yang dikategorikan sebagai tindak pidana siber, sehingga
tidak terjadi beban tugas yang bersifat overbelasting
sehingga banyak peraturan yang dibuat ternyata dalam
prakteknya di lapangan tidak dapat ditegakkan
Budaya Hukum
Aktivitas di dunia siber masih dianggap kesenangan
Memanfaatkan tetapi kurang sadar bahaya
Penaggulangan kejahatan
1. Penal
Penerapan Hukum Pidana
2. Non-penal.
a. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment),
b. mempengaruhi pandangan masyarakat tentang kejahatan
c. pemidanaan melalui mass media (influencing views of
Tips
1. Hanya belanja dari toko terpercaya, misalnya toko online
yang sudah punya nama besar atau atas rekomendasi
teman.
2. Bertanya kepada pembeli yang pernah bertransaksi
dengan penjual bersangkutan. Pastikan bahwa kamu
bertanya dengan pembeli asli, bukan teman si penipu.
3. Jangan tergoda oleh harga yang terlalu murah
4. Gunakan jasa Cash on Delivery (COD).
5. Gunakan akal sehat
6. Berhati-hati dalam transasksi menggunakan kartu kredit : tempat, waktu, nominal, tujuan transaksi,
7. Berhati-hati terhadap penawaran khusus yang seakan-akan
memberikan banyak keuntungan
8. Simpanlah informasi transaksi kartu kredit Anda, jika ada
sesuatu yang mencurigakan, atau kehilangan kartu
kredit, segeralah menghubungi Contact Center penerbit kartu kredit Anda.
9. Hati-hati, ketika berhadapan dengan individu/perusahan yang
berada diluar negeri. Perlu diingat bahwa berbeda negara berbeda pula perlakuan hukumnya jika muncul masalah transaksi.
Langkah-langkah Korban Penipuan Online
untuk memblokir rekening Pelaku
1. Siapkan Bukti Transaksi (salinan email, data lengkap penipu seperti nama, nomor rekening dan nomor handphone, tak lupa siapkan juga bukti transfer bank.)
2. Buat Laporan Penipuan (laporan penipuan dan kronologi kejadian diatas materai sebagai pelengkap untuk meblokir rekening penipu)
3. Bawa Laporan ke Kantor Polisi ( sampai mendapatkan surat tanda penerimaan laporan)
4. Buat Surat Permintaan Penutupan Rekening ( sertakan surat laporan dari kantor polisi dan meminta pihak bank
memblokir rekening pelaku)
5. Tunggu Panggilan Dari Pihak bank ( Jika bank menyetujui permohonan pemblokiran, maka pelaku akan diminta untuk mendatangi bank dan pihak bank akan meminta pelaku untuk mengkontak Anda)