• Tidak ada hasil yang ditemukan

CYBER CRIME : KENALI, ANTISIPASI Norma Sari, S.H.,M.Hum.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CYBER CRIME : KENALI, ANTISIPASI Norma Sari, S.H.,M.Hum."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

CYBER CRIME :

KENALI, ANTISIPASI

(2)
(3)
(4)
(5)

NAMUN, ...

(6)

Ibu E di Bantul Curhat di FB

Ervani curhat pemberhentian kerja suaminya oleh

perusahaan. Ia menulis tentang pendapat sikap supervisor

di perusahaan suaminya yang dinilai tidak pantas jadi

pemimpin.

Pasal 27 ayat 3 UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi

Transaksi Elektronik(ITE).

(7)

Mahasiswa F di Bantul berkomentar di

akun Instagram Kapolda Jabar

Mahasiswa berkomentar foto tentang foto konferensi pers

terkait kasus penistan Pancasila beberapa waktu lalu

Komentar dilaporkan sebagai provokasi dan penyebar

kebencian kepada Kapolda Jabar

Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 tentang penyebaran

kebencian, permusuhan, dan provokasi dalam UU Nomor 11

Tahun 2008 tentang ITE.

(8)

Mahasiswi F di Sleman di Path

menghina Yogyakarta

Mahasiswa menyebut Yogya tolol dan dia mengajak teman-temannya agar jangan tinggal di Kota Pelajar itu. Hal itu dijadikan status akun jejaring

sosial Path-nya.

Dilaporkan ke Polda DIY oleh LSM Jangan Khianati Suara Rakyat (Jati Sura) Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 Ayat 2 tentang penyebaran kebencian,

permusuhan, dan provokasi dalam UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

PN)Yogyakarta menyatakan F tidak perlu dihukum 2 bulan penjara

asalkan tidak berbuat kejahatan selama 6 bulan ke depan dan denda Rp 10 juta.

F lalu mengajukan banding. PT Yogyakrta menghapuskan pidana denda. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi . MA menolak permohonan

kasasi jaksa

Skorsing 1 semester di kampusnya

(9)

Korban tidak

pandang bulu

(10)

Penipuan Online di Indonesia

Tertinggi

26 % konsumen Indonesia kehilangan uang karena

menjadi sasaran tindak penipuan daring (hasil

penelitian terbaru Kaspersky Lab dan B2B

International).

Indonesia menjadi negara dengan korban penipuan

daring tertinggi menurut hasil penelitian itu

Bentuk ancaman keuangan online terhadap konsumen

semakin berkembang. Selain penipuan online dengan

gaya tradisional, para penjahat siber mengeksploitasi

serta mencari cara baru untuk menipu konsumen

(11)

KOMISI PERLINDUNGAN ANAK

INDONESIA TAHUN 2011 – 2016

Kasus Pornografi dan Cyber Crime total 1809 kasus

Masalah 2011 2012 2013 2014 2015 201 6

Anak Korban Kejahatan Seksual Online 17 11 23 53 133 94 Anak Pelaku Kejahatan Seksual Online 8 7 16 42 52 72 Anak Korban Pornografi dari Media

Sosial

107 110 147 163 174 168

Anak Pelaku Kepemilikan Media Pornografi (HP/Video, dsb)

56 47 61 64 104 80 Total 188 175 247 322 463 414

Indonesia darurat pornografi dan

(12)

Cyber Crime?

The Prevention of Crime and the Treatment of Offenders di

Havana Cuba pada tahun 1990 dan di Wina Austria, 2000:

1. Cyber crime in a narrow sense (computer crime): any legal

behaviour directed by means of electronic operations that

targets the security of computer system and the data

processed byh them.

2. Cyber crime in a broader sense (computer related crime):

any illegal behaviour committed by means on in relation to, a

computer system or network, including such crime as illegal

possession, offering or distributing information by means of a

computer system or network.

(13)

Kualifikasi Cyber Crime menurut Convention on

Cyber Crime 2001 di Budhapest Hongaria,

yaitu:

1. Illegal access: yaitu sengaja memasuki atau mengakses sistem komputer tanpa hak.

2. Illegal interception: yaitu sengaja dan tanpa hak mendengar atau menangkap secara diamdiam pengiriman dan pemancaran data komputer yang tidak bersifat publik ke, dari atau di dalam sistem komputer dengan menggunakan alat bantu teknis.

3. Data interference: yaitu sengaja dan tanpa hak melakukan perusakan, penghapusan, perubahan atau penghapusan data komputer

4. System interference: yaitu sengaja melakukan gangguan atau rintangan serius tanpa hak terhadap berfungsinya sistem

(14)

5. Misuse of Devices: penyalahgunaan perlengkapan komputer, termasuk program komputer, password komputer, kode masuk (access code)

6. Computer related Forgery: Pemalsuan (dengan sengaja dan tanpa hak memasukkan, mengubah, menghapus data autentik menjadi tidak autentik dengan maksud digunakan sebagai data autenti)

7. Computer related Fraud: Penipuan (dengan sengaja dan tanpa hak menyebabkan hilangnya barang/kekayaan orang lain dengan cara memasukkan, mengubah, menghapus data computer atau dengan mengganggu berfungsinya computer/sistem computer, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomi bagi dirinya sendiri atau orang lain).

(15)

Menurut Convention on Cybercrime, tindak pidana yang

dapat digolongkan sebagai cyber crime adalah :

1. Illegal Access

2. Illegal Interception

3. Data Interception

4. System Interference

5. Misuse of Device

(16)

Sudut pandang Cyber Crime

( Barda Nawawi Arief)

1. Kejahatan biasa (ordinary crime) yang dilakukan dengan

komputer teknologi tinggi (high-tech) dan KUHP dapat

dipergunakan untuk menanggulanginya (tentu dengan

penambahan)

2. Kejahatan kategori baru (new category of crime) yang

membutuhkan suatu kerangka hukum yang baru dan

komprehensif untuk mengatasi sifat khusus teknologi

yang sedang berkembang dan tantangan baru yang tidak

ada pada kejahatan biasa, dan karena itu perlu diatur

(17)

Kebijakan Kriminal

Kebijakan kriminal pada hakikatnya merupakan

penanggulangan kejahatan sekaligus satu kesatuan dengan

upaya perlindungan masyarakat (social defence) dan upaya

mencapai kesejahteraan rakyat (social welfare). Dengan

kata lain tujuan final dari politik kriminal adalah

perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan

masyarakat.

Melaksanakan politik hukum pidana berarti mengadakan

pemilihan untuk mencapai hasil perundang-undangan

pidana yang paling baik yaitu yang memenuhi syarat

keadilan dan daya guna.

(18)

Sistem Hukum (Friedman)

Ketiga unsur harus berjalan dinamis dan mengantisipasi

dan mengatasi cyber crime

Struktur

Budaya

Substansi

(19)

Substansi Hukum

Kita belum meratifikasi Convention on Cyber Crime

KUHP,UU ITE dan perubahannya Nomor 19 Tahun 2016, dan Perkominfo Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Data Pribadi Dalam Sistem Elektronik

Namun perbuatan yang direkomendasikan dalam European Convention on Cyber Crime telah diatur dalam UU ITE.

Perbedaannya hanya pada tata letak atau urutan pengaturan berbagai perbuatan tersebut. Jika Konvensi memulai dengan perbuatan yang terkategori sebagai cyber crime dalam arti sempit (murni), maka

pengaturan dalam UU ITE tidak mengikuti pola tersebut. Hal ini terlihat bahwa pasal pertama (27) justru mengatur perbuatan yang sebenarnya merupakan tindak pidana konvensional (ada dalam KUHP), hanya saja sekarang dilakukan dengan media komputer berikut jaringannya.

(20)

KUHP

1. Pasal 362 KUHP dapat dikenakan untuk kasus carding dimana pelaku mencuri nomor kartu kredit milik orang lain walaupun tidak secara fisik karena hanya nomor kartunya yang diambil dengan menggunakan software card generator di Internet untuk melakukan transaksi di e-commerce. Setelah dilakukan transaksi dan barang dikirimkan, kemudian penjual yang ingin mencairkan uangnya di bank ternyata ditolak karena pemilik kartu bukanlah orang yang melakukan teransaksi.

2. Pasal 378 KUHP dapat dikenakan untuk penipuan dengan

seolah-olah menawarkan dan menjual suatu produk atau barang dengan memasang iklan di salah satu produk atau barang dengan memasang iklan di salah satu website sehingga orang tertarik

untuk membelinya lalu mengirimkan uang kepada pemasang iklan. Tetapi, pada kenyataannya , barang tersebut tidak ada. Hal tersebut diketahui setelah uang dikirimkan dan barang yang

(21)

3. Pasal 335 KUHP dapat dikenakan untuk kasus

pengancaman dan pemerasan yang dilakukan melalui

e-mail yang dikirimkan oleh pelaku untuk memaksa korban

melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh

pelaku dan jika tidak dilaksanakan akan membawa dampak

yang membahayakan. Hal ini biasanya dilakukan karena

pelaku biasanya mengetahui rahasia korban.

4. Pasal 310 dan 311 KUHP dapat dikenakan untuk kasus

penghinaan dan pencemaran nama baik dengan

menggunakan media Internet. Modusnya adalah pelaku

menyebarkan e-mail kepada teman-teman korban tentang

suatu cerita yang tidak benar atau mengirimkan e-mail ke

suatu mailing list sehingga banyak orang mengetahui cerita

tidak benar tersebut.

5. Pasal 303 KUHP dapat dikenakan untuk menjerat

permainan judi yang dilakukan secara online di Internet

dengan penyelenggara dari Indonesia

(22)

6. Pasal 282 KUHP dapat dikenakan untuk penyebaran

pornografi maupun website porno yang banyak beredar dan mudah diakses di Internet. Walaupun berbahasa Indonesia, sangat sulit sekali untuk menindak pelakunya karena mereka melakukan pendaftaran domain tersebut di luar negeri dimana pornografi yang menampilkan orang dewasa bukan merupakan hal yang ilegal.

7. Pasal 282 dan 311 KUHP dapat dikenakan untuk kasus penyebaran foto atau film pribadi seseorang yang vulgar di Internet, misalnya kasus Sukma Ayu dan Bjah.

8. Pasal 378 dan 262 KUHP dapat dikenakan pada kasus carding, karena pelaku melakukan penipuan seolah-olah ingin membeli suatu barang dan membayar dengan kartu kreditnya yang nomor kartu kreditnya merupakan curian.

9. Pasal 406 KUHP dapat dikenakan pada kasus deface atau

hacking yang membuat sistem milik orang lain, seperti website atau program menjadi tidak berfungsi atau dapat digunakan sebagaimana mestinya.

(23)

UU ITE dan perubahannya

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016

Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

1. Indecent Materials/ Illegal Content (Konten Ilegal) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan,

mentransmisikan, dan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik serta pemerasan, pengancaman serta yang menimbulkan rasa kebencian berdasarkan atas SARA serta yang berisi ancaman kekerasan (Pasal 27, 28, dan 29 UU ITE)

2. Illegal Acces (Akses Ilegal) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/ atau Sistem Elektronik milik orang lain dengan cara apapun untuk memperoleh Informasi elektronik serta melanggar, menerobos, melampaui atau menjebol sistem pengamanan (Pasal 30 UU ITE).

(24)

3. Illegal Interception (Penyadapan Ilegal) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan intersepsi atas Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik dalam suatu Sistem Elektronik tertentu milik orang lain, baik yang tidak

menyebabkan perubahan apapun maupun yang menyebabkan adanya perubahan, penghilangan, dan/ atau penghentian

Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang sedang ditransmisikan (Pasal 31 UU ITE).

4. Data Interference (Gangguan Data) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan, atau

mentransfer suatu Informasi Elektronik milik orang lain atau milik publik kepada Sistem Elektronik orang lain yang tidak berhak, sehingga mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya. (Pasal 32 UU ITE).

(25)

5. System Interference (Gangguan Sistem) Setiap orang

dengan sengaja dan tanpa hak melakukan tindakan apapun

yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/ atau

mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja

sebagaimana mestinya (Pasal 33 UU ITE).

6. Misuse of Devices (Penyalahgunaan Perangkat) Setiap

orang dengan sengaja dan tanpa hak memproduksi,

menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor,

mendistribusikan, menyediakan atau memiliki perangkat

keras atau perangkat lunak komputer yang dirancang atau

secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi

perbuatan yang dilarang dan sandi lewat komputer, kode

akses, atau hal yang sejenis dengan itu, yang ditujukan agar

sistem elektronik menjadi dapat akses dengan tujuan

(26)

7. Computer Related Fraud and Forgery (Penipuan dan

Pemalsuan yang berkaitan dengan Komputer) Setiap orang

dengan sengaja dan tanpa hak melakukan manipulasi,

penciptaan, perubahan, penghilangan, pengerusakan

Informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik

dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/ atau

Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data

yang otentik (Pasal 35 UU ITE).

Sebagaimana umumnya UU di luar KUHP yang mengatur

perbuatan dengan sanksi pidana, dalam UU ITE perumusan

perbuatan dan sanksi pidana juga dicantumkan secara

terpisah. Semua perbuatan yang dilarang dalam Pasal 27

sampai Pasal 35 di atas, diancam dengan sanksi pidana

dalam Pasal 45-52

(27)

Regulasi yang akan datang

Rancangan Undang-undang Republik Indonesia

Tentang Pemanfaatan Teknologi Informasi

Rancangan Undang-undang KUHP

RUU Perlindungan Data Pribadi

(28)

Struktur Hukum

Pertimbangan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari

badan-badan penegak hukum di Indonesia yang untuk

menegakkan ketentuan yang mengatur delik komputer

yang dikategorikan sebagai tindak pidana siber, sehingga

tidak terjadi beban tugas yang bersifat overbelasting

sehingga banyak peraturan yang dibuat ternyata dalam

prakteknya di lapangan tidak dapat ditegakkan

(29)

Budaya Hukum

Aktivitas di dunia siber masih dianggap kesenangan

Memanfaatkan tetapi kurang sadar bahaya

(30)

Penaggulangan kejahatan

1. Penal

Penerapan Hukum Pidana

2. Non-penal.

a. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punishment),

b. mempengaruhi pandangan masyarakat tentang kejahatan

c. pemidanaan melalui mass media (influencing views of

(31)

Tips

1. Hanya belanja dari toko terpercaya, misalnya toko online

yang sudah punya nama besar atau atas rekomendasi

teman.

2. Bertanya kepada pembeli yang pernah bertransaksi

dengan penjual bersangkutan. Pastikan bahwa kamu

bertanya dengan pembeli asli, bukan teman si penipu.

3. Jangan tergoda oleh harga yang terlalu murah

4. Gunakan jasa Cash on Delivery (COD).

5. Gunakan akal sehat

(32)

6. Berhati-hati dalam transasksi menggunakan kartu kredit : tempat, waktu, nominal, tujuan transaksi,

7. Berhati-hati terhadap penawaran khusus yang seakan-akan

memberikan banyak keuntungan

8. Simpanlah informasi transaksi kartu kredit Anda, jika ada

sesuatu yang mencurigakan, atau kehilangan kartu

kredit, segeralah menghubungi Contact Center penerbit kartu kredit Anda.

9. Hati-hati, ketika berhadapan dengan individu/perusahan yang

berada diluar negeri. Perlu diingat bahwa berbeda negara berbeda pula perlakuan hukumnya jika muncul masalah transaksi.

(33)

Langkah-langkah Korban Penipuan Online

untuk memblokir rekening Pelaku

1. Siapkan Bukti Transaksi (salinan email, data lengkap penipu seperti nama, nomor rekening dan nomor handphone, tak lupa siapkan juga bukti transfer bank.)

2. Buat Laporan Penipuan (laporan penipuan dan kronologi kejadian diatas materai sebagai pelengkap untuk meblokir rekening penipu)

3. Bawa Laporan ke Kantor Polisi ( sampai mendapatkan surat tanda penerimaan laporan)

4. Buat Surat Permintaan Penutupan Rekening ( sertakan surat laporan dari kantor polisi dan meminta pihak bank

memblokir rekening pelaku)

5. Tunggu Panggilan Dari Pihak bank ( Jika bank menyetujui permohonan pemblokiran, maka pelaku akan diminta untuk mendatangi bank dan pihak bank akan meminta pelaku untuk mengkontak Anda)

(34)

Sms

Palsu

(35)

Penipuan investasi?

Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan,

masyarakat bisa mengkonsultasikan atau melaporkan

kepada Layanan Konsumen OJK 1500655, email

[email protected] atau

[email protected]

.

Masyarakat juga bisa melihat langsung daftar perusahaan

yang tidak terdaftar dan tidak berada di bawah pengawasan

OJK, yang dimuat di laman

http://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/AlertPortal/Hom

e

.

(36)

Jagalah telunjuk dan jari-jarimu dari

kejahatan dunia maya baik pelaku

maupun korban

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang akan peneliti lakukan fokus pada strategi Snowball Throwing dalam kegiatan pembelajaran, sehingga para siswa tidak merasa jenuh dengan apa yang disampaikan

Implementasi Pasal 3 Peraturan Walikota Kediri Nomor 26 Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Restoran terkait penerapan self assessment system

Dari hasil pelaksanaan tindakan kelas, dengan menggunakan media pembelajaran Audio Visual telah nampak adanya peningkatan minat belajar siswa terhadap materi

1) Kop surat nama instansi adalah kepala surat yang menunjukkan nama instansi yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan alamat Badan Nasional Penanggulangan

Selanjutnya, dari hasil perhitungan juga dapat diketahui bahwa ada pengaruh gaya kepemimpinan situasional terhadap disiplin pegawai pada Puskesmas Rambung dengan persamaan

Konsep dasar dari strategi DCA adalah bila beban trafik tidak merata dalam tiap sel maka pemberian kanal frekuensi pada tiap sel akan sering tidak terpakai dalam sel yang

Skematik rangkaian elektronika pembangun sistem alat ukur suhu dan kelembaban relatif digital berbasis digital dengan data tersimpan ini dapat dilihat pada Lampiran

PERANCANGAN SISTEM KOMPETISI VIDEO KLIP GRUP BAND INDIE DENGAN MENGGUNAKAN SMS GATEWAY UNTUK POLLING PEMILIHAN DI MANAJ EMEN