• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN SERTA UGENSINYA Oleh : Asrowi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN SERTA UGENSINYA Oleh : Asrowi"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN SERTA UGENSINYA

Oleh : Asrowi A. Pendahuluan

Di era globalisasi ini, tuntutan untuk terus mengembangkan potensi pendidikan yang ada dalam diri manusia sangatlah penting agar tidak tergeser oleh persaingan yang semakin lama semakin kompleks, salah satunya dengan mendapatkan arahan pendidikan yang benar, sehingga potensi manusia dapat berkembang secara maksimal. Pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik. Hal ini mendorong lembaga-lembaga sekolah untuk selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikannya agar lebih berkualitas dan dapat mengikuti perkembangan zaman untuk mencetak para lulusan yang handal, berkualitas, kreatif dan juga beriman dan bertakwa.1

Dewasa ini pendidikan untuk semua (education forall) akan menjadi dambaan setiap orang. Pendidikan seutuhnya (holisticeducation) akan banyak dibicarakan. Manusiaakan sadar bahwa hidup ini membutuhkan belajar, untuk memperoleh pengalaman berarti menemukan kemanusiannya manusia. Orang yang belajar memerlukan bantuan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran mendambakan orang yang mampu mendapat bantuan (assisting), mendapat support (supporting) dan diajak untuk tukar menukar (informasi).

Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggungjawab. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut perlu adanya peningkatan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar guru mempunyai peranan yang sangat penting karena gurulah yang berfungsi secara langsung dalam proses belajar mengajar dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.

Pendidikan yang merupakan sistem kerja yang harus saling terkait antara komponen yang satu dengan lainnya. Bila selama ini guru selalu menjadi sorotan sekaligus ujung tombak pelaksanaan pendidikan di berbagai jenjang, sebenarnya masih ada komponen lain yang harus diberdayakan dalam aplikasi pendidikan di lapis bawah yaitu peran kepala sekolah. Kinerja guru dalam mengabdikan dirinya sebagai pemecahannya, sehingga tidaklah mengherankan jika hampir setiap bangsa telah menempatkan masalah pendidikan dalam suatu tempat yang utama.

Namun demikian, upaya untuk melaksanakan pencapaiannya yakni mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki, hal itu harus diikuti dengan prinsip-prinsip yang telah dikembangkan serta teruji kebenarannya sehingga prinsip-prinsip itupun kiranya akan mendasari pemecahan masalah baik dalam hal kebijakannya yang akan tercermin dalam perencanaan pendidikan atau dalam perencanaan kurikulum maupun dalam hal-hal yang lebih operasional, yang dapat kita tinjau di sekolah atau di kelas sebagai lembaga yang melaksanakan pendidikan secara formal.

Keberhasilan suatu pendidikan didasarkan oleh banyak faktor yang mendukung. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa terdiri atas: 1) faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa, 2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa, 3) faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.2

Dari faktor-faktor tersebut, faktor pendekatan pembelajaran sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi antara peserta didik dengan para pendidik serta berbagai sumber pendidikan.3 Interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi pergaulan (pendidikan), pengajaran, latihan, serta bimbingan.4

Dengan demikian, untuk pencapaian hasil pembelajaran yang maksimal dalam proses pendidikan agama Islam, maka diperlukan sesosok guru yang profesional. Proses pendidikan akan berhasil dengan baik jika didukung oleh seorang guru yang profesional, karena dalam dunia pendidikan khususnya bagian pengajaran tolak ukur keberhasilannya adalah guru.

1 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006), hal.

24

2 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004), hal. 132 3 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006), hal.

24

4

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006), hal. 25

(2)

2

Dalam kenyataanya tidak sedikit dari mereka (para guru) menemui beberapa hambatan pada dirinya yang menyebabkan kurang maksimalnya pelaksanaan proses belajar mengajar. Menurut Muhammad Ali yang dikutip oleh Cece Wijaya, secara garis besar hambatan-hambatan tersebut adalah kurangnya daya inovasi, lemahnya motivasi untuk meningkatkan kemampuan, ketidakpedulian terhadap berbagai perkembangan dan kurangnya sarana dan prasarana pendukung.5

Dengan adanya hambatan-hambatan tersebut yang berimbas pada tercapainya hasil pendidikan yang kurang maksimal, maka guru tersebut memerlukan bimbingan dan pengarahan dan juga bantuan dari pihak lain yang mempunyai kelebihan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru tersebut. Usaha untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut dapat diperoleh dari berbagai pihak yang dapat memberikan bimbingan dan pengarahan, salah satunya adalah dengan adanya supervisi.6

Supervisi merupakan pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. sebab, kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya agar kualitas pembelajarannya meningkat. Sebagai dampak meningkatnya kualitas pembelajaran, tentu dapat meningkatkan pula prestasi belajar siswa, dan itu berarti meningkatlah kualitas lulusan sekolah itu.7

Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan adalah tantangan yang paling penting dalam pembangunan pendidikan. Sentralisasi dalam manajemen atau pengelolaan pendidikan telah menyebabkan kurang berkembangnya kemampuan daerah untuk mengatur dan mengelola berbagai urusan pendidikan daerah masing-masing. Salah satu sarana terpenting dalam pendidikan adalah sekolah. Guru sebagai tenaga pengajar merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangankan secara terus menerus. Potensi sumber daya guru harus terus berkembang agar dapat melaksanakan fungsinya secara professional. Oleh karena itu diperlukanlah supervisi pendidikan untuk mengawasi dan memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.

Sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikannya dengan mengetahui perkembangan sekolah melalui supervisi, selain itu supervisi sangat dibutuhkan oleh seorang guru yang mengalami berbagai hambatan yang telah dipaparkan diatas dengan memberikan bimbingan, pengarahan, dan bantuan dalam mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi seorang guru yang profesional. Oleh karena itu, supervisi sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh seluruh sekolah.

B. Kajian Teori

1. Perencanaan Supervisi

Secara bahasa perencanaan berasal dari bahasa Inggris yaitu “planning” yang mempunyai arti membuat rencana.8 Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilaksanakan pada masa depan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan.9

Ada beberapa definisi tentang perencanaan yang rumusannya berbeda-beda satu dengan yang lain. Pertama, Cunningham mengatakan bahwa perecanaan itu ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta-fakta, imajinasi-imajinasi dan asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang untuk tujuan memvisualisasikan dan memformulasikan hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian. Definisi yang kedua mengemukakan tentang perencanaan ialah hubungan antara adanya sekarang (what is) dengan bagaimana seharusnya seharusnya (what should be) yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program dan alokasi sumber.10 Ketiga mendefinisikan perencanaan sebagai persiapan menyusun sesuatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu atau suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan perubahan sesuai dengan tujuan.11

Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut, Friendman mengemukakan bahwa “Planning is a process

by which a scientific and technical knowledge joined to organized action” (perencanaan adalah proses

yang menggabungkan pengetahuan dan tehnik ilmiah ke dalam kegiatan yang diorganisasi.12 Suherman dalam buku “Tehnik-tehnik Dasar Pembangunan Masyarakat” mengemukakan bahwa perencanaan adalah

5 Cece Wijaya, A. Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, Cet. III,1994), hal.185

6 Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan teknologi dan Kejuruan, (Jakarta: Rajawali Pusat,

1990), hal. 154

7 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hal. 5

8 Faiz Baraba, et.al., Kamus Umum Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, (Surabaya : Indah Karya, 1989), hal. 134 9

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, , 2001), hal. 49

10 Made Sudarta, Perencanaan Pendidikan Partisipatoris Dengan Pendekatan Sistem, (Jakarta : PT. Rineka Cipta,

1999), hal. 3-4

11

Hadi Nawawi, Administrasi Pendidikan, (Jakarta : Guru Agung, 2001), hal. 41

12

Sudjana S., Manajemen Program Pendidikan : Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya

(3)

3

suatu penentuan urutan kegiatan yang didasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas yang wajar dengan efisien untuk tercapainya tujuan.

Dari beberapa definisi perencanaan yang telah dikemukakan di atas memperlihatkan tekanan dan rumusan yang berbeda. Yang satu mencari wujud yang akan datang serta usaha untuk mencapainya, sedang definisi yang lainnya menghilangkan kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang dengan menggunakan tehnik-tehnik ilmiah secara sistematis agar sejalan dengan keadaan lingkungan yang juga berubah dengan prioritas yang wajar sesuai tujuan yang diharapkan.

Namun dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, pada hakekatnya sama-sama ingin mencari dan mencapai wujud yang akan datang, tetapi tidak menyatakan secara eksplisit wujud yang dicari itu kausalitas dari terjadinya perubahan, termasuk perubahan yang diharapkan. Sehingga dapat dibuat rumusan baru tentang pengertian perencanaan sebagai suatu cara yang diambil untuk melaksanakan tindakan selama waktu tertentu (sesuai dengan jangka waktu yang direncakan) agar pencapaian tujuan menjadi lebih efektif dan efesien serta relevan dengan kebutuhan kausalitas dari terjadinya perubahan pada lingkungan.

Sedangkan pengertian supervisi secara etimologi adalah dari kata “super” yang berarti atas dan “visi” yang berarti melihat. Dengan demikian supervisi diartikan melihat dari atas. Berdasarkan pengertian secara etimologi, istilah-istilah supervisi yang dalam praktek, isi dan kegiatannya mengarah pada kegiatan ke-inspeksi, kepengawasan, kepenilik.13 Inspeksi berasal dari istilah bahasa Belanda Inspective yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Inspection. Kedua kata tersebut berarti pengawasan, yang terbatas kepada pengertian mengawasi apakah bawahan (dalam hal ini guru) menjalankan apa yang diinstruksikan oleh atasannya dan bukan berusaha membantu guru.

Adapun istilah pengawas dan penilik di dalam PP No. 38 tahun 1992 Pasal 20 dijelaskan bahwa istilah pengawas dipakai untuk menunjukkan tugasnya pada jalur pendidikan sedangkan istilah penilik dipakai untuk menunjukkan tugasnya pada jalur pendidikan luar sekolah.14 Sedangkan dalam Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (SK Menpen) No. 118 tahun 1996 Bab I Pasal 1 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya dinyatakan bahwa istilah pengawas sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas tanggungjawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan di sekolah dengan pembinaan dan penilaian dari segi teknis pendidikan dan administrasi pendidikan pra-sekolah, dasar dan menengah.15

Istilah supervisi sering kita temukan dalam berbagai kepustakaan baik Indonesia maupun asing, namun istilah supervisi sebenarnya berasal dari kurikulum SD, SMP, SMA yang diartikan pembinaan guru. Jika yang dimaksudkan supervisi adalah pembinaan guru, maka pengertian supervisi secara terminologi sering diartikan sebagai serangkaian usaha bantuan kepada guru terutama bantuan yang berwujud layanan profesional yang dilakukan oleh kepala sekolah, penilik sekolah dan pengawas serta pembina lainnya untuk meningkatkan proses dan hasil belajar.16

Dalam Dictionary of Education Good Carter memberikan pengertian bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran. Berbeda dengan Mc Nerney yang melihat supervisi sebagai suatu prosedur memberi arahan serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran.17 Sedangkan dalam Pedoman Guru PGAN memberikan definisi supervisi pendidikan sebagai suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk diberikan kepada staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik secara efektif dan efisien.18

Dari berbagai definisi di atas, ada kesepakatan umum bahwa supervisi adalah sebagai berikut : 1) Serangkaian bantuan yang berwujud layanan profesional yang berencana

2) Layanan profesional tersebut diberikan kepada staf sekolah (dalam hal ini guru) yang diberikan oleh yang ahli (kepala sekolah, penilik sekolah dan pengawas serta pembina lainnya). Maksud layanan profesional tersebut adalah perbaikan kualitas pengajaran sehingga tujuan pendidikan yang direncanakan tercapai

Jadi dari devinisi di atas bahwa pengertian perencanaan supervisi pendidikan adalah sebagai suatu cara yang memuaskan dalam pembinaan dan perbaikan kualitas pengajaran dalam bentuk layanan profesional oleh yang ahli (kepala sekolah, penilik sekolah dan pengawas serta pembina lainnya) selama waktu tertentu (sesuai dengan jangka waktu yang direncanakan) agar pencapaian tujuan menjadi lebih efektif dan efesien serta relevan dengan kebutuhan kausalitas dari terjadinya perubahan pada lingkungan.

13 Ali Imron, Pembinaan Guru Di Indonesia, (Jakarta : Pustaka Jaya, 1995), hlm 10

14 Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta,PT. Rinekca Cipta, 1999), hal. 231-132 15

Panduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Depaetemen Agama RI, 2000, hal.7

16 Ali Imron, Pembinaan Guru Di Indonesia, (Jakarta : Pustaka Jaya, 1995), hlm 9 17

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar Supervisi Pendidikan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000), hal. 17

18

Pedoman Guru PGAN¸ Badan Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Guru Agama, Departemen Agama, 1983, hal. 111

(4)

4

Selanjutnya, supervisi menurut Suharsimi Arikunto adalah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik.19 Pembinaan tersebut dapat berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru, seperti memberikan dorongan motivasi pada guru dalam peningkatan kualitas pengajaran, membimbing dalam usaha pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, seperti pemilihan metode, alat, strategi, dan cara penilaian yang baik terhadap fase seluruh proses pengajaran, dan lain sebagainya. Hal ini juga sesuai dengan definisi yang diungkapkan oleh Ngalim Purwanto, bahwa supervisi adalah suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.20

Menurut P. Adams dan Frank G. Diekey yang dikutip oleh Piet A. Sahertian, supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran.21 Program supervisi pada hakekatnya adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas penbelajaran. Oleh karena itu, pelaksanaan program supervisi harus direncanakan secara baik agar perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat dicapai maksimal. Hal ini menuntut adaya seorang supervisi yang profesional sehingga pengetahuan tentang ilmu supervisi penting dipelajari oleh seorang supervisor sebelumnya.

Boardman et.yang dikutip oleh Piet. A. Sahertian, Supervisi adalah suatu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstimulir dan membimbing pertumbuhan tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.22

Ungkapan Boardman tentang supervisi di atas menyatakan bahwa kegiatan supervisi tidak hanya dilakukan sekali, tetapi harus secara kontinyu, dengan demikian perkembangan potensi-potensi yang ada pada guru dapat berkembang secara kontinyu. Salam buku yang ditulis oleh Piet. A. Sahertian, beliau mengutip ungkapan Mc. Nerney bahwa supervisi adalah prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran. Dengan penilaian yang secara kontinyu, maka permasalahan–permasalahan yang terdapat dalam proses pembelajaran akan segera diketahui dan dianalisis yang kemudian dicari solusinya secara bersama-sama, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal.23

Selanjutnya, H. Burton dan Leo. J. Bruckner yang dikutip oleh Piet A. Sahertian, supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama- sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.24 Menurut Kimball Wiles, supervisi adalah bantuan dalam perkembangan dari belajar mengajar yang baik.25

Menurut Piet. A. Sahertian beberapa unsur pokok yang termasuk dalam pengertian supervisi adalah sebagai berikut:

b. Tujuan akhir pendidikan ialah perkembangan pribadi anak secara maksimal c. Pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan

d. Pendidikan mempunyai banyak aspek dan faktor-faktor yang banyak kait-mengkait e. Salah satu faktor penting ialah hal belajar (murid) dan hal mengajar (guru)

f. Dua istilah itu terjalin dalam faktor-faktor lain, sehingga terdapatlah pengertian situasi belajar-mengajar

g. Supervisi bertugas melihat dengan jelas masalah-masalah yang muncul dalam mempengaruhi situasi belajar dan menstimulir guru ke arah usaha perbaikan.26

Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan di atas dapat diketahui bahwa supervisi pendidikan merupakan pembinaan yang berupa dorongan, bimbingan, bantuan, arahan dan penilaian yang diberikan kepada seluruh staf sekolah secara kontinyu dan profesional sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik, yang pada akhirnya tujuan pendidikan dapat tercapai yaitu perkembangan pribadi anak secara maksimal.

Intinya, supervisi memuat beberapa kesamaan yaitu: (1) merupakan suatu proses pemberian bantuan, pengarahan, dan pembinaan, (2) pengajaran ditujukan kepada guru-guru, (3) bukan mencari kesalahan bawahan, (4) diberikan untuk membantu meningkatkan dan memperbaiki kemampuan guru dalam pengajaran, (5) meningkatkan prestasi belajar siswa.

C. Hasil Penelitian

1. Kontoks Supervisi Pendidikan

19 Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan teknologi dan Kejuruan, (Jakarta: Rajawali Pusat,

1990), hal. 154

20 M. Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT Rosdakarya, 2002) hal.76 21

Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001), hal. 18

22 Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001), hal. 19 23 Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001), hal. 20 24

Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001), hal. 20

25

Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001), hal. 18-21

(5)

5

Supervisi pendidikan perlu dilaksanakan, menurut Swearingen dilihat dari latar belakang sebagai berikut:

a. Latar Belakang Kultural

Di zaman yang semakin maju, manusia berkembang mengikuti kemajuan zaman, hal ini menyebabkan perubahan dan percampuran kebudayaan. Hasil bahan-bahan yang makin komplek, sangat mempengaruhi sikap dan tindakan manusia. Sekolah sebagai salah satu pusat kebudayaan, bertugas dan bertanggung jawab untuk menyeleksi antara yang negatif dan yang positif. Budaya yang bermacam-macam dapat mempengaruhi lapangan gerak pendidikan dan pengajaran. Sekolah bertugas mengkoordinir semua usaha dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Oleh karena itu dibutuhkan supervisi pendidikan yang bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha sekolah, dan memperkembangkan segala usaha untuk mencapai tujuan pendidikan.27

b. Latar belakang filosofis

Tiap zaman alam pikiran manusia mengalami peningkatan secara bertahap. Kecakapan untuk berpikir, merencanakan dan berbuat merupakan usaha-usaha nyata dalam mengisi kebutuhan manusia. Manusia mempunyai potensi-potensi yang menghasilkan sesuatu pada setiap situasi, sehingga dengan demikian setiap pengalaman itu bersifat potensial kreatif, mau tidak mau dibutuhkan daya koordinasi dan penyusunan rencana-rencana untuk mengatur interaksi manusia. Hal ini menjadi dasar filosofi bahwa dalam pendidikan perlu adanya supervisi yang mengatur dan mengkoordinir pendidikan dan pengajaran.

c. Latar belakang psikologis

Salah satu pandangan psikologi moderen di dalam pendidikan adalah pentingnya dorongan-dorongan emosional bagi anak waktu belajar seperti memberi motivasi. Hal ini juga dibutuhkan oleh orang dewasa. Usaha untuk memperkembangkan dorongan-dorongan emosional bagi orang dewasa yang sedang belajar adalah salah satu fungsi supervisi.

d. Latar belakang sosial

Supervisi bersumber pada dasar kehidupan sosial, di mana masyarakat demokratis, pemimpin juga demokratis. Seorang supervisor biasanya adalah seorang status leader oleh kedudukannya dan oleh karena itu ia memikul tanggung jawab untuk merealisasikan potensi-potensi dalam memecahkan setiap problema dengan cara mengikut sertakan pendapat orang lain.

e. Latar belakang sosiologis

Perkembangan seseorang tidak saja berdasarkan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi bergantung juga kepada perlengkapan fisik yaitu perkembangan melalui kondisi-kondisi sosial. Oleh karena itu dalam proses kehidupan, maka sekolah dan masyarakat bersama-sama menaruh perhatian khusus terhadap perkembangan intelek, emosi dan sebagainya dari anak-anak. Perlunya menyelidiki kondisi-kondisi masyarakat yang mempengaruhi, langsung atau tidak langsung perkembangan anak sehingga guru dapat membantu sekolah dan membina usaha-usaha didiknya adalah salah satu fungsi kreatip dari supervisi pendidikan.

f. Latar belakang pertumbuhan jabatan

Membantu pertumbuhan jabatan guru, merupakan suatu tugas supervisor yang penting. Guru memerlukan pengetahuan dalam menganalisa situasi belajar, menerapkan Prinsip-prinsip psikologi modern dalam pelajaran, pengetahuan dasar research, pengetahuan tentang cara-cara kerjasama. Sorang supervisor dapat menggunakan penemuan-penemuan baru, menyumbangkan pengetahuan untuk memperkembangkan tanggungjawab dari setiap guru dan kesadaran dalam menggunakan setiap kesempatan untuk belajar.

2. Fungsi Supervisi Pendidikan

Supervisi pendidikan memiliki fungsi utama yaitu ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Menurut (Suhertian : 2008 ) supervisi pendidikan sebagai berikut:28

a. Mengkoordinasi semua usaha sekolah. Usaha-usaha sekolah meliputi: (1) Usaha tiap guru. Guru ingin menggemukakan ide dan materi pelajaran menurut pandanganya kearah peningkatan. Usaha-usaha tersebut bersifat individu maka perlu adanya koordinasi, dan itulah fungsi koordinasi. (2) Usaha sekolah. Sekolah dalam menentukan kebijakan, merumuskan tujuan atas setiap kegiatan sekolah, termasuk program-program sepanjang tahun, perlu adanya koordinasi yang baik. (3) Usaha bagi pertumbuhan jabatan. Setiap guru menginginkan jabatanya selalu naik. Oleh karena itu, guru harus selalu belajar, mengikuti seminar, workshop, dan lain-lain.Untuk itu, perlu adanya koordinasi yang merupakan tugas supervisi.

b. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah. Kepemimpinan merupakan sebuah keterampilan yang harus dipelajari dan membutuhkan latihan terus menerus. Salah satu fungsi supervisi adalah melatih dan memperlengkapi guru agar memiliki keterampilan dalam kepemimpinan sekolah.

27

Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001), hal. 22-23

(6)

6

c. Mememperluas pengalaman guru. Supervisi harus dapat memotifasi guru untuk mau belajar pengalaman nyata dilapangan, karena dengan adanya pengalaman tersebut akan memperkaya pengetahuan mereka.

d. Menstimulasi usaha sekolah yang kreatif. Seorang supervisi harus bisa memberikan stimulus kepada guru agar mereka tidak hanya bekerja atas dasar instruksi atasan, namun mereka harus dapat berperilaku aktif dalam proses pembelajaran.

e. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus. Penilaian yang diberikan harus bersifat menyeluruh dan kontinu. Karena mengadakan penilaian secara teratur merupakan suatu fungsi utama dari supervisi pendidikan.

f. Menganalisis situasi belajar mengajar. Tujuan dari supervisi adalah untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, agar usaha ini dapat berhasil maka perlu adanya analisis hasil dan proses belajar.

g. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf supervisi berfungsi untuk memberikan bantuan kepada guru agar dapat mengembangkan pengetahuan dalam keterampilan mengajar.

h. Memberi wawasan luas dan terintregasi dalam merumuskan tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru.

Fungsi utama dari supervisi adalah ditujukan kepada perbaikan pengajaran. Dalam analisis Swearingen, menurutnya ada 8 fungsi supervisi yaitu:

a) Mengkoordinir semua usaha sekolah. b) Memperlengkapi kepemimpinan sekolah. c) Memperluas pengalaman guru-guru. d) Menstimulir usaha-usaha yang kreatif.

e) Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus-menerus. f) Menganalisa situasi belajar dan mengajar.

g) Memberikan pengetahuan/ skill kepada setiap anggota staf. h) Membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.29

3. Tujuan Supervisi Pendidikan

Sebagai seorang pendidik, guru memiliki tugas yang tidak ringan, ditambah lagi beban hidup yang berat serta harus mengahadapi peserta didik yang masih dalam proses perkembangan dan tentunya memiliki background keluarga, budaya, ekonomi, maupun problem yang berbeda-beda. Oleh karena itu supervisi pendidikan perlu untuk dilakukan karena pada dasarnya supervisi pendidikan dilakukan untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada guru agar dapat menemukan jalan keluar dalam menghadapi permasalahan-permasalahan diatas secara mandiri, sehingga dapat berimplikasi juga terhadap peningkatan prestasi kerjanya.

Tujuan supervisi pendidikan harus sama dengan tujuan pendidikan nasioanal sesuai dengan keputusan MPR yang tertera dalam GBHN. Tujuan khusus supervisi pendidikan merupakan tugas khusus seorang supervisor, meliputi:30

a) Membina guru-guru untuk lebih memahami tujuan umum pendidikan. Dengan demikian akan menghilangakn tentang anggapan adanya mata pelajaran yang penting dan tidak penting, sehingga guru dapat mengajar dan mencapai prestasi maksimal bagi siswanya.

b) Membina guru-guru guna mengatasi problem siswa demi kemajuan prestasi belajarnya.

c) Membina guru untuk mempersiapkan siswanya menjadi anggota masyarakat yang produktif, kreatif, etis, dan religious.

d) Membina guru dalam kemampuan mengevaluasi, mendiagnosa kesulitan belajar dan seterusnya. e) Membina guru dalam memperbesar kesadaran tentang tata kerja yang demokratis, kooperatif serta

gotong royong.

f) Memperbesar ambisi guru dan karyawan untuk meningkatkan mutu profesinya. g) Membina guru dan karyawan untuk dapat meningkatkan popularitas sekolah. h) Melindungi guru dan karyawan dari tuntutan dan kritik tak wajar dari masyarakat.

i) Mengembangakan sikap kesetiakawanan dan ketemansejawatan dari seluruh tenaga pendidikan. Intinya, tujuan supervisi ialah memperkembangkan situasi belajar dan mengajar yang lebih baik. Tujuan umum supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru (dan staf sekolah yang lain) agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran.31 Usaha ke arah perbaikan belajar dan mengajar ditujukan kepada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu pembentukan pribadi anak secara maksimal.32

Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

29 M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2006) hal. 179-180 30

Ary H.Gunawan. Administrasi Sekolah. (Jakarta: PT.Rineka Cipta:1996), hal.198-199

31

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, hal.40

(7)

7

a) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas kerja ini erat hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta makin terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis antara atasan dan bawahan.

b) Supervisi dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja. Peningkatan efesiensi kerja ini erat kaitannya dengan makin berkurangnya kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga pemakaian sumber daya (tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia akan dapat dicegah.

Apabila kedua peningkatan ini dapat diwujudkan, sama artinya dengan telah tercapainya tujuan suatu organisasi. Tujuan pokok dari supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan secara benar dan tepat, dalam arti lebih efektif dan efesien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat dicapai dengan memuaskan.

4. Jenis Supervisi Pendidikan

Dalam memahami supervisi pendidikan, ada beberapa jenis teori supervisi, yang di antaranya : a. Supervisi umum dan supervisi pengajaran

Supervisi umum adalah supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan atau pekerjaan yang secara tidak langsung berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran seperti supervisi terhadap kegiatan pengelolaan bangunan dan perlengkapan sekolah atau kantor-kantor pendidikan, supervisi terhadap kegiatan pengelolaan administrasi kantor, supervisi pengelolaan keuangan sekolah atau kantor pendidikan, dan sebagainya.33

Supervisi umum yang diungkapkan oleh Ngalim Purwanto tersebut, sama pengertiannya dengan yang dimaksud dengan pengertian supervisi administrasi dalam bukunya Suharsimi Arikunto. Beliau mengungkapkan bahwa supervisi administrasi adalah supervisi yang menitikberatkan pengamatan pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran.34 Jadi dapat disimpulkan bahwa supervisi umum adalah supervisi yang ditujukan pada aspek-aspek pendukung terlaksananya pembelajaran dengan kegiatan yang tidak langsung berhubungan dengan pengajaran.

Sedangkan yang dimaksud dengan supervisi pengajaran adalah kegiatan-kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik personel maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan.35 Supervisi pengajaran sama dengan supervisi akademik. Supervisi akademik adalah supervisi yang menitikberatkan pengamatan pada masalah akademik, yaitu yang langsung berada dalam lingkup kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa ketika sedang dalam proses belajar.36

b. Supervisi Klinis

Menurut Richard Waller dalam bukunya Ngalim Purwanto mendefinisikan supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk mengadakan modifikasi yang rasional. Selain itu definisi supervisi klinis juga dikemukakan oleh Keith Acheson dan Meredith D. Gall, mereka mendefinisikan supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil ketidaksesuaian (kesenjangan) antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal.37

Dari kedua definisi di atas maka kita dapat mengetahui bahwa supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran, karena prosedur pelaksanaannya lebih ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar, dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut. Secara teknik supervisi klinis terdiri dari 3 fase yaitu: (1) pertemuan perencanaan (2) observasi kelas dan (3) pertemuan balik

c. Pengawasan melekat dan pengawasan fungsional

Istilah "pengawasan melekat" diturunkan dari bahasa asing built in controle yang berarti suatu pengawasan yang memang sudah dengan sendirinya (melekat) menjadi tugas dan tanggung jawab semua pimpinan, dari pimpinan tingkat atas sampai pimpinan tingkat yang paling bawah dari semua organisasi atau lembaga. Sedangkan yang dimaksud dengan "pengawasan fungsional" adalah kegiatan-kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang yang fungsi jabatannya sebaagai pengawas.38

Jadi dapat disimpulkan bahwa semua pemimpin bertanggungjawab atas pengawasan pelaksanaan semua tugas dan kewajiban yang dilaksanakan oleh pimpinan bawahannya dalam organisasi kerjanya.

33

M. Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi, hal. 89

34 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, hal. 5 35 M. Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi, hal. 89 36

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, hal. 5

37

M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi, hal. 90

(8)

8

Hal ini sesuai dengan definisi pengawasan melekat, sedangkan supervisi pengawasan fungsional bertugas mengawasi khusus bagian-bagian yang telah ditunjuk.

5. Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan

Menurut Ngalim Purwanto beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam supervisi adalah sebagai berikut: 39

a) Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif. Yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus dapat menimbulkan dorongan untuk bekerja.

b) Supervisi harus didasarkan atas keadaan dan kenyataan yang sebenar-benarnya (realistis, mudah dilaksanakan)

c) Supervisi harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya.

d) Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada guru-guru dan pegawai-pegawai sekolah yang disupervisi.

e) Supervisi harus didasarkan atas hubungan profesional, bukan atas dasar hubungan pribadi.

f) Supervisi harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap, dan mungkin prasangka guru-guru dan pegawai sekolah.

g) Supervisi tidak bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan perasaan gelisah atau bahkan anti pati dari guru-guru.

h) Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan pangkat/kedudukan atau kekuasaan pribadi. i) Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan.

j) Supervisi tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil dan tidak boleh lekas kecewa.

k) Supervisi hendaknya juga bersifat preventif, korektif, dan kooperatif. Preventif berarti berusaha mencegah jangan sampai timbul hal-hal yang negatif, mengusahakan/ memenuhi syarat-syarat sebelum terjadinya sesuatu yang tidak kita harapkan. Korektif berarti memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Kooperatif berarti bahwa mencari kesalahan-kesalahan-kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan dan usaha memperbaikinya dilakukan bersama-sama oleh supervisor dan orang-orang yang diawasi.

Sedangkan menurut Tahalele dan Indrafachrudi prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut; a) Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif,

b) Supervisi harus kreatif dan konstruktif, c) Supervisi harus ”scientific” dan efektif,

d) Supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru, e) Supervisi harus berdasarkan kenyataan,

f) Supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan “self

evaluation”

Prinsip-prinsip tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang supervisor dalam pelaksanaan supervisi. Dengan melaksanakan Prinsip-prinsip tersebut maka pelaksanaan supervisi dapat berjalan dengan baik dan maksimal.

6. Teknik-teknik Supervisi Pendidikan

Teknik dalam supervisi ini adalah cara-cara yang digunakan dalam kegiatan supervisi. Menurut Gwynn, Teknik-teknik supervisi itu bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu (a) teknik supervisi individual, dan (a) teknik supervisi kelompok.40

a. Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan.41 Teknik supervisi pendidikan yang bersifat individual antara lain perkunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, saling mengunjungi kelas, dan menilai diri sendiri.42

b. Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih.43 Guru-guru yang diduga mempunyai permasalahan yang sama maka dikelompokkan sesuai dengan masalah atau kebutuhan mereka, kemudian setiap kelompok diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Teknik kelompok dapat dilakukan dengan cara seperti rapat guru, lokakarya, penataran, seminar, diskusi, dan sebagainya.

39 M. Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan, hal.117-118

40 Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru,, (Jakarta:

Bumi Aksara, 1992) hal. 45

41 Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru,, (Jakarta:

Bumi Aksara, 1992) hal. 46

42

Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, hal. 45

43

Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru,, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992) hal. 49

(9)

9

Selanjutnya, Supervisor hendaknya dapat memilih teknik supervisi yang tepat, sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Untuk kepentingan tersebut, berikut diuraikan beberapa teknik supervisi yang dapat dipilih dan digunakan supervisor pendidikan. Teknik-teknik supervisi menurut Pidarta (1992) meliputi:

a. Teknik-teknik yang berhubungan dengan kelas, meliputi: (1) Observasi kelas (2) Kunjungan kelas b. Teknik-teknik dengan berdiskusi, meliputi: (1) Pertemuan formal (2) Pertemuan informal

c. Rapat guru

d. Supervisi yang direncanakan bersama, meliputi: (1)Teknik supervisi sebaya (2)Teknik yang memakai pendapat siswa dan alat elektronika

e. Teknik yang mengunjungi sekolah lain f. Teknik melalui pertemuan pendidikan.44

7. Tipe-Tipe Supervisi Pendidikan

Dalam konsep lama, supervisor dilakukan oleh seorang pemimpin, maka dalam tipe-tipe supervisi tidak dapat dilepaskan dari tipe-tipe kepemimpinan, tetapi juga tipe-tipe kepengawasan. Menurut Suharsimi Arikunto ada lima tipe supervisi yaitu : 45

a. Tipe Inspeksi

Dalam administrasi dan kepemimpinan yang otokratis, supervisi berarti inspeksi. Inspeksi bukanlah suatu pengawasan yang berusaha menolong guru untuk mengembangkan dan memperbaiki cara dan daya kerja sebagai pendidik dan pengajar.46 Supervisi inspeksi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.47 Supervisi tipe inspeksi dikonotasikan sebagai upaya untuk mencari-cari kesalahan. Hal itu dimaksudkan untuk mengidentifikasi hal-hal yang baik dan buruk yang sudah dilaksanakan, kemudian untuk dapat memberikan angka atau nilai dalam rangka menentukan posisi kondisi baik atau buruk bagi seorang pegawai.

b. Tipe Laisses Faire

Tipe ini menginterpretasikan demokrasi sebagai pemberi kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan sehingga akhirnya supervisor sendiri kehilangan otoritas sama sekali. Supervisor menyerahkan/ mempercayai bawahannya untuk mengambil keputusan apa saja.48 Supervisor yang biasa menerapkan tipe ini dapat dikatakan tidak memberikan bimbingan kepada para bawahan yang menjadi tanggungjawabnya.49

c. Tipe Coersive

Supervisi ini juga disebut dengan supervisi otoriter, hampir sama dengan tipe inspeksi. Tipe supervisi ini bersifat memaksa. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi, tetap saja dipaksakan berlakunya.50 Dengan demikian pada tipe ini guru tidak diberi kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang diberlakukan tersebut. Tipe ini baik dilakukan pada guru-guru yang baru mulai belajar mengajar dan pelaku supervisor adalah orang yang telah dianggap senior sehingga dapat dijadikan panutan dan contoh bagi orang yang disupervisi.

d. Tipe Training and Guidance

Supervisi tipe training dan guidance diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan.51 Tipe supervisi ini berlandaskan suatu pandangan bahwa pendidikan itu merupakan proses pertumbuhan bimbingan. Supervisi yang dilakukan ialah untuk melatih (to train) dan memberi bimbingan (to guide) kepada guru-guru tersebut dalam pekerjaannya sebagai guru.52 Dalam tipe ini staf dan guru selalu mendapatkan bimbingan dan latihan dari supervisor, sehingga menimbulkan kurang adanya kepercayaan terhadap kemampuan guru-guru dan staf yang mereka miliki.

e. Tipe Demokratis

Dalam tipe ini, supervisor selalu menghargai pendapat dari para bawahannya (yang disupervisi) dan memberikan kepada mereka untuk mengembangkan daya kreatifitasnya. Mereka bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Semua keputusan diambil dengan jalan musyawarah bersama.

44 Jurnal. Supervisi Pendidikan Sekolah Dasar. Imam Setiyono. 2005. Jurnal pendidikan dasar, vol. 6, no.1, 2005 45 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, hal.14

46 M. Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan, hal. 80 47 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, hal. 15

48

Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah Administrasi Pendidikan Mikro, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996) hal. 200-201

49 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi ,hal. 16 50

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi ,hal. 16

51

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi ,hal. 16

(10)

10

Pelaksanaan keputusan dilakukan bersama-sama karena keputusan tersebut dirasakan telah menjadi miliknya.53

8. Metode-Metode Supervisi Pendidikan

Dalam melaksanakan supervisi pendidikan, terdapat dua metode supervisi pendidikan yang dapat dilakukan untuk dapat mencapai tujuan supervisi pendidikan, yaitu:54

a. Metode Langsung (direct method)

Bila seorang supervisor menghadapi orang-orang yang disupervisi tanpa perantara atau media, maka dikatakan bahwasanya dia mengunakan metode langsung, baik individu maupun kelompok. Misalnya konsultasi pribadi/kelompok, pertemuan guru bidang studi dan sebagainya.

b. Metode tak langsung (indirect method)

Bila seorang supervisor menghadapi orang-orang yang disupervisi menggunakan alat/benda perantara dalam melaksanakan supervisi, maka hal tersebut dengan metode supervisi tidak langsung. Misalkan dengan menggunakan media papan pengumuman, handphone, telephone, e-mail dan sebagainya. C. Pembahasan Temuan

Kajian yang berkaitan dengan kegiatan perencanaan supervisi pendidikan meliputi beberapa segi, yaitu; segi kelembagaan, segi kepegawaiaan dan segi komponen-komponen dan substansi.55

1. Segi kelembagaan

Dalam segi kelembagaan, pengawas/ supervisor adalah Pegawai Negeri Sipil Jabatan Fungsional dilingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan maupun di Departemen Agama yang melaksanakan tugas dalam pembinaan dan perbaikan kualitas pengajaran. Perencanaan supervisi pendidikan di tingkat departemen/ instansi ini dilihat dari ruang lingkup perencanaan merupakan jenis perencanaan meso, yaitu perencanaan yang ruang lingkupnya mencakup wilayah pendidikan tertentu, misalnya satu provinsi yang pada umumnya diprakarsai oleh departemen/ instansi pendidikan yang membawahi lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah di daerah itu. Kegiatan perencanaan supervisi pendidikan yang dilakukan departemen pendidikan dalam menentukan kebijakan-kebijakan di daerah dengan berdasarkan pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan dan Angka Kredit untuk departemen/ instansi masng-masing.56 Hal tersebut sesuai dengan pertanggungjawaban vertikal antara Pemda Propinsi dan Pemerintah Pusat dalam hubungan kemitraan, seperti yang telah ditentukan dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemda, Kabupaten mempunyai otonomi yang seluas-luasnya.57

2. Segi kepegawaian

Dalam kepegawaian, kenaikan pangkat dan jabatan pengawas ditetapkan berdasarkan Angka Kredit, karena pengawas merupakan pejabat fungsional. Penetapan Angka Kredit (PAK) prestasi kerja pengawas sesuai dengan bukti prestasi yang ditentukan dalam evaluasi kerja. Melalui perencanaan langkah-langkah kegiatan supervisi yang mencakup; persiapan. pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut yang terencana disamping akan meningkatkan profesionalisme pengawasan juga pada pengembangan karier kerja pengawas untuk kenaikan jabatan/ pangkat.58

3. Segi komponen-komponen dan substansi

Komponen pengawasan/ supervisi pendidikan meliputi; segi teknis pendidikan dan administrasi. Adapun dari segi teknis pendidikan meliputi; kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian dan kegiatan ekstra kurikuler. Sedangkan dari segi administrasi meliputi; administrasi madrasah/ sekolah, kepegawaian, kesiswaan, guru, laboratorium dan sebagainya. Disamping komponen tersebut, setiap pengawas diharapkan memiliki wawasan dan kemampuan profesional dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kaitannya dengan kurikulum, sehingga diharapkan mampu memberikan penilaian dan pembinaan secara benar.59

Secara umum, gambaran perencanaan supervisi dapat digambarkan sebagai berikut, kegiatan perencanaan mengacu pada kegiatan identifikasi permasalahan, yakni mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu disupervisi. Identifikasi dilaksanakan dengan menganalisis kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman dari aspek kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru agar supervisi lebih efektif dan tepat sasaran. Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan supervisi adalah

a) Mengumpulkan data melalui kunjungan kelas, pertemuan pribadi dan rapat staf

53 Hendyat Soetopo dan Wasty Sumanto, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha

Nasional,1982) hal.285

54 Ary H.Gunawan. Administrasi Sekolah. (Jakarta: PT.Rineka Cipta:1996), hal..203-204

55 Panduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama RI, Jakarta, 2000, hal.

3

56 Standart Supervisi dan Evaluasi Pendidikan : Supervisi Akademik dan evaluasi Program, Direktorat Madrasah dan

Pendidikan Agama Islam Pada sekolah Umum, Departemen Agama RI, 2003, hal. 2

57

A.R. Tila’ar, Paradigma Pendidikan Nasional, (Jakarta,Rineka Cipta, 2000), hal. 106

58

A.R. Tila’ar, Paradigma Pendidikan Nasional, (Jakarta,Rineka Cipta, 2000), hal. 106

(11)

11

b) Mengolah data dengan melakukan koreksi kebenaran terhadap data yang dikumpulkan c) Mengklasifikasi data sesuai dengan bidang permasalahan

d) Menarik kesimpulan tentang permasalahan sasaran sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

e) Menetapkan teknik yang tepat digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan profesionalisme guru.

Selanjutnya, supervisi pendidikan merupakan kesatuan aspek dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah,60 rincian ruang lingkup supervisi pendidikan yang kaitannya dengan penyenggaraan suatu sekolah adalah :

a. Supervisi di bidang kurikulum b. Supervisi di bidang Kesiswaan c. Supervisi di bidang Kepegawaian

d. Supervisi di bidangsa sarana dan prasarana e. Supervisi di bidang keuangan

f. Supervisi di bidang humas

g. Supervisi di bidang ketatausahaan.61

Pelaksanaan supervisi di sekolah sangat perlu dilaksanakan, sebab permasalahan yang hadapai sekolah semakin komplek. Dengan supervisi diharapkan mampu merubah paradikma pemikiran yang bercorak otoriter, otoratik dan korektif. Untuk itu, supervisi harus dilakukan dalam pembenahan secara nyata dan bertahap di tingkat sekolah dan harus berdasarkan data dan realita yang oblektif.62

Selanjutnya, ada dua aspek yang mendasar dalam pelaksanaan supervisi pendidikan, yaitu :

a) Aspek perkembangan kurikulum. Perkembangan ini harus selalu berjalan dalam rangka penyesuaian dengan kebutuhan pendidikan dari masa ke masa. Oleh karenanya, guru dituntut kreatif dan inofatif dalam peningkatan kualitas pembelajaran, sebab permasalahan dan kebutuhan informasi serta peningkatan mutu sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

b) Aspek pengembangan individu dan kelompok. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan mutu penyelenggara pendidikan melalui kegitan-kegiatan yang mendukung program kerja sekolah. Di antara kegitan itu di antaranya menyelenggarakan lokakarya, penataran, tugas belajar, seminar dan berbagai kegitan yang terkait dengan riset pendidikan.63

Selain supervisi pendidikan, ada jenis lain supervisi yaitu, supervisi pengajaran. Di dalam supervisi pengajaran ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah, yang tujuannya memperbaiki kinerja lembaga pendidikan dari mulai guru, kepala sekolah dan ruang lingkupnya dalam proses pembelajaran.64 Secara umum ada dua macam supervisi pengajaran, yaitu :

a. Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah pada staf dan guru di sekolah.

b. Supervisi yang dilakukan oleh pengawas sekolah kepada kepala sekolah dan guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Hal-hal yang diamati oleh pengawas sekolah meliputi :

1) Bidang akademik 2) Bidang kesiswaan 3) Bidang Personalia 4) Bidang Keuangan

5) Bidang sarana dan prasarana 6) Bidang hubungan masyarakat.65

D. Penutup

Supervisi merupakan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya. Supervisi sering diartikan sebagai bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar mengajar yang lebih baik. supervisi pendidikan perlu untuk dilakukan karena pada dasarnya supervisi pendidikan dilakukan untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada guru agar dapat menemukan jalan keluar dalam menghadapi permasalahan-permasalahan diatas secara mandiri, sehingga dapat berimplikasi juga terhadap peningkatan prestasi kerjanya. Supervisi pendidikan memiliki fungsi utama yaitu ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Dalam melaksanakan tugasnya seorang supervisor harus berpegang pada prinsip-prinsip yang kokoh demi kesuksesan tugasnya.

60 Ibrahim Bafadal, Dasar-dasar Menejemen dan Supervisi Taman Kanak-kanak, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001),

hal.74

61

Ibrahim Bafadal, Dasar-dasar Menejemen dan Supervisi Taman Kanak-kanak, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hal.75-78

62 Muhthar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, (Jakarta : GP Press, 2009), hal. 46 63

Suryasubrata, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 1997), hal. 82

64

Suryasubrata, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 1997), hal. 89

(12)

12

Sedangkan, langkah-langkah supervisi yaitu: pengawas dan kepala sekolah berdiskusi menyusun rencana kerja untuk jangka waktu tertentu, pengawas dan kepala sekolah menciptakan koordinasi yang baik dalam pelaksanaan supervisi agar tidak terjadi kesalahpahaman, pengawas dan kepala sekolah menelaah instrumen yang diperlukan, kepala sekolah mengadakan rapat pleno dengan guru, kepala sekolah menyampaikan usulan dari guru ke pengawas, pengawas dan kepala sekolah menyusun rencana operasional untuk melaksanakan supervisi, dan pengawas dan kepala sekolah menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi untuk lingkup wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kepada Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota. Di dalam supervisi pengajaran ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah, yang tujuannya memperbaiki kinerja lembaga pendidikan dari mulai guru, kepala sekolah dan ruang lingkupnya dalam proses pembelajaran.

Tujuan supervisi ialah membantu memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan sekolah sehingga tercapai kondisi belajar mengajar yang baik. Berlandaskan tujuan supervisi tersebut diharapkan guru dapat bekerja keras, demokratis, ramah, sabar, luas pandangan, sopan santun, jujur, suka humor, konsisten, fleksibel, dan lain-lain.Agar supervisi mendapatkan hasil yang baik, hendaknya supervisor bersikap bersahabat, mendengarkan pembicaraan, berusaha meningkatkan partisipasi, ikut menyumbang teknik menganalisis permasalahan, memberi saran-saran, mencatat rencana, membuat ringkasan dan membuat penilaian. Supervisor dalam melakukan supervisi, perlu membuat instrumen yang meliputi: instrumen penerimaan dan orientasi siswa baru, instrumen pengendali jadwal pelajaran, instrumen pemantauan ulangan umum, instrumen pemantauan ujian akhir, instrumen supervisi administrasi sekolah dan kelas, dan instrumen observasi kelas.

DAFTAR PUSTAKA

A.R. Tila’ar, Paradigma Pendidikan Nasional, Jakarta,Rineka Cipta, 2000. Ali Imron, Pembinaan Guru Di Indonesia, Jakarta : Pustaka Jaya, 1995.

Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah Administrasi Pendidikan Mikro, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996) Ary H.Gunawan, Administrasi Sekolah, Jakarta: PT.Rineka Cipta:1996

Cece Wijaya, A. Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994.

Faiz Baraba, et.al., Kamus Umum Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Surabaya : Indah Karya, 1989. Hadi Nawawi, Administrasi Pendidikan, Jakarta : Guru Agung, 2001.

Hendyat Soetopo dan Wasty Sumanto, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional,1982.

Ibrahim Bafadal, Dasar-dasar Menejemen dan Supervisi Taman Kanak-kanak, Jakarta : Bumi Aksara, 2001

Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru,, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992)

Jurnal. Supervisi Pendidikan Sekolah Dasar. Imam Setiyono, Jurnal pendidikan dasar, vol. 6, no.1, 2005 M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta,2006.

M. Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Rosdakarya, 2002.

Made Sudarta, Perencanaan Pendidikan Partisipatoris Dengan Pendekatan Sistem, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1999

Maryono, Dasar-Dasar dan Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan, Yogyakrta: Ar-Ruzz, 2011.

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2004 Muhthar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, Jakarta : GP Press, 2009.

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001.

Panduan Tugas Jabatan Fungsional Pengawas Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Depaetemen Agama RI, 2000.

Pedoman Guru PGAN¸ Badan Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Guru Agama, Departemen Agama, 1983.

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar Supervisi Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000. Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, Surabaya: Usaha Offset Printing, 2001. Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Jakarta,PT. Rinekca Cipta, 1999.

Standart Supervisi dan Evaluasi Pendidikan : Supervisi Akademik dan evaluasi Program, Direktorat Madrasah dan Pendidikan Agama Islam Pada sekolah Umum, Departemen Agama RI, 2003. Sudjana S., Manajemen Program Pendidikan : Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan

Sumber Daya Manusia, Bandung :Falah Production, 2004.

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004.

Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan teknologi dan Kejuruan, Jakarta: Rajawali Pusat, 1990.

Referensi

Dokumen terkait

Siswa menuju posisi kelompoknya masing-masing Memotivasi siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran PQ4R dengan pendekatan structural TSOS Mendengarkan dan memperhatikan

Penelitian ini mengenai pertumbuhan dan hasil tanaman padi varietas Ciherang serta jenis hama, patogen penyakit, dan musuh alaminya yang ditanam pada dua waktu

Elemen fungsional “use case login actor pemohon, LPP, TUK, LPJ, DSAT dan Admin BPPT” sudah terakomodir dalam prototype user interface.. Elemen fungsional login

Proses ini terjadi karena cahay melewati dua medium (udara dan air) yang memiliki kerapatan optik yang berbeda. Syarat- syarat terjadinya pembiasan ada dua. Pertama, cahaya

19 Urusan Wajib Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri. Organisasi

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh seseorang yang hendak membahas masalah-masalah tertentu berdasarkan tafsir al-Maud}u’i>. Menurut Abdul Hay

[r]

Bagi peserta pemilihan langsung yang merasa keberatan atas hasil Penetapan Pemenang Pemilihan Langsung ini, diberi kesempatan untuk mengajukan sanggahan lewat