1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang menginfeksi sel-sel CD4+ T yang biasanya digunakan untuk pengenalan antigen akan tetapi digunakan untuk pengikatan dan menyerang sistem kekebalan tubuh dengan cara mengganggu fungsinya(S. A. Putri et al., 2018). Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) muncul setelah virus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah akan membuat penyakit lain dapat tumbuh. Karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa menjadi lebih berat daripada biasanya. (Nurul Hidayat & Barakbah, 2018).
HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan penyakit yang mengancam seluruh lapisan masyarakat dari berbagai usia, jenis kelamin maupun kelas ekonomi. Sebagian besar orang-orang yang menderita penyakit HIV/AIDS merupakan orang-orang yang melakukan perilaku menyimpang, seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik, dan perilaku homoseksual. Selain itu juga bayi yang lahir dari ibu yang positif terinfeksi HIV dan pasangan suami istri yang terinfeksi HIV/AIDS (Pratiwi & Basuki, 2016).
Hubungan seksual sangat beresiko tinggi menularkan virus HIV, tetapi ada pasangan seksual penderita HIV yang tidak tertular virus HIV, mereka biasa disebut serodiskordan. Pasangan ODHA serodiskordan adalah jalinan hubungan pasangan ODHA dengan status salah satu dari pasangan terinfeksi HIV (HIV Positif) dan pasangan lainnya tidak terinfeksi HIV (HIV Negatif) (Astuti. AW & Rayasari, 2017).
Perilaku seksual, merupakan segala bentuk perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk perilaku seksual, mulai dari bergandengan tangan, berpelukan, merengkuh bahu dan pinggang, bercumbu, meraba bagian tubuh yang sensitif, menggesekgesekkan alat kelamin sampai dengan memasukkan alat kelamin. Sementara itu perilaku seksual beresiko merupakan suatu aktivitas seksual berkaitan dengan hubungan seks vaginal dan anal yang dilakukan individu dengan pasangan seksnya sehingga rentan tertular penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS (Sodik & Ali, 2018).
Perilaku safe-sex pada ODHA mengacu pada aktivitas seksual dan khususnya hubungan seksusal di mana berbagai tindakan seperti penggunaan kondom, diambil untuk menghindari Infeksi Menular Seksual (IMS) (Addoh, Sng, & Loprinzi, 2017). Akan tetapi masih banyak tidak menggunakan pengaman pada saat aktivitas seksual, dengan alasan kurang nyaman atau kurang puas. Dengan pencegahan infeksi yang tepat pada saat berhubungan seksual dengan menggunakan kondom secara tepat dan konsisten kepada mereka yang berperilaku tidak wajar seperti hubungan seksual melalui dubur (anal) dan oral (mulut) (Haryati, 2019).
Penyakit HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang dan menjadi masalah global yang melanda dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan terdapat sekitar 630.000 ODHA di Indonesia pada tahun 2015. Penderita dengan HIV positif sebanyak 35,3 juta dan terdapat sekitar 2,3 juta orang penderita baru terinfeksi HIV (WHO, 2019). .
Di Indonesia, dari bulan januari hingga maret 2019 total jumlah penderita AIDS 807.488, dan HIV 11.081, penularannya terjadi karena perilaku sex beresiko. Prosentase penularan pada Men who have Sex with Men (MSM) (21%), Heteroseksual
(18%), dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (1%) (Kemenkes RI, 2019). Ada 255.527 kasus pada setiap provinsi di Indonesia, ada sekitar 100 ribu kasus per hari. Sebagian besar karena seks berisiko secara heterogen maupun homogeny (Sodik & Ali, 2018).
Terdapat 5 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi yaitu DKI Jakarta (60.501), diikuti Jawa Timur (50.060), Jawa Barat (35.529), Papua (33.485), dan Jawa Tengah (29.048). Di Jawa Tim`1ur khususnya di Kota Malang jumlah kasus HIV terus berkembang. Dari tahun 2005 sampai 2019 dilaporkan sebanyak 4.300 kasus HIV/AIDS. Namun di Kabupaten Malang sekitar 437 orang yang termasuk dalam kelompok yang berisiko melakukan tes HIV dan 10 orang dinyatakan positif terkena HIV (Kemenkes RI, 2019).
Hasil studi pendahuluan dengan mewawancarai 7 orang ODHA di puskesmas Permata Turen pada 21 September dan 26 November 2014, menunjukkan bahwa masih adanya ODHA yang menutupi status HIV-positif yang mereka derita, dimana 3 ODHA menjawab tidak membuka status HIV/AIDS mereka kepada pasangan (pria/wanita) mereka dengan alasan takut ditinggalkan pasangan (pria/wanita) mereka. Tiga ODHA lainnya terbuka pada pasangan karena mereka adalah korban penularan dari suami mereka sendiri, dan 1 ODHA sisanya terbuka pada pasangan karena tidak ingin pasangannya tertular HIV darinya dan ingin mendapat bantuan dari suaminya (Gunawan, 2015).
Penggunaan kondom pada hubungan seksual berisiko merupakan salah satu strategi pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan PMS dan HIV pada kelompok beresiko. Meskipun saat ini kondom telah terbukti menjadi alat yang efektif untuk mencegah PMS termasuk HIV pada hubungan seksual beresiko,
penggunaan kondom di Indonesia disinyalir masih rendah (Hiv, Wanita, & Seksual, 2017). Dampak penggunaan kondom yang tidak rutin pada saat melakukan hubungan seksual sangat berisiko terjadi penularan HIV/AIDS (Bancin, Anita, & Aritonang, 2019).
Pada saat berhubungan seksual lebih beresiko dari pria ke wanita dari pada wanita ke pria. Disebabkan karena wanita adalah resipien penerima atau pasangan penerima dalam berhubungan seksual (Haryati, 2019). Dampak HIV/AIDS pada perempuan sangat tinggi bagi kelangsungan generasi penerus selanjutnya (Tuty & Indah, 2019). Perempuan dengan mudah 5 kali tertular HIV/AIDS dari pada laki-laki. Perbedaan dari bentuk alat kelamin perempuan lebih luas permukaannya sehingga lebih mudah terpapar oleh cairan maniyang tertinggal lebih lama dalam tubuh (Haryati, 2019).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik ingin mengetahui gambaran perilaku safe-sex (seks yang aman) pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran tentang perilaku safe sex (seks yang aman) pada orang dengan HIV AIDS (ODHA)?
1.3 Tujuan
Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku safe sex (seks yang aman) pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dalam menyusun karya tulis, khususnya tentang gambaran perilaku safe sex (seks yang aman) pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).
1.4.2 Manfaat Responden
Responden dan keluarga serta masyarakat mendapatkan pemahaman dan gambaran perilaku safe sex (seks yang aman) pada orang dengan HIV AIDS (ODHA).
1.4.3 Bagi Peneliti Lain
Sebagai informasi dan literatur bagi peniliti berikutnya dalam melakukan penelitian yang lebih menyeluruh.
1.5 Keaslian Penelitian
Peniltian yang dilakukan oleh (E. C. V. Costa, McIntyre, & Ferreira, 2018) dengan judul “Safe-Sex Knowledge, Self-Assessed HIV Risk, and Sexual Behaviour of Young Portuguese Women” pada kasus infeksi HIV di Portugal terdapat pada 26% pada wanita muda, tetapi untuk mengenali resiko Penyakit Menular Seksual (PMS), pengetahuan, dan perilaku seks aman pada pasangan kurang diteliti. Akan tetapi pada kedua variabel independent antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan berbeda yaitu pada penelitian ini pengetahuan safe-sex sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan perilaku safe-sex. Didapatkan hasil dari penelitian E. C. V. Costa et al., (2018) pada pengetahuan yang baik tentang penularan dan pencegahan HIV, tetapi masih ada 79,9% dari perempuan tahu bahwa kondom mencegah penularan HIV, tetapi hanya 46% dari mereka menyatakan menggunakannya secara teratur. Jadi pengetahuan tidak menyiratkan perilaku
pencegahan yang memadai. Perempuan yang berpendidikan kurang, memiliki pengetahuan tentang HIV yang lebih rendah dan resiko pasangan HIV. Keterbatasan dari penelitian ini yaitu didalam komunitas mereka kebanyakan wanita menganggap diri mereka beresiko kecil, terutama mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh (Ncube, Ansong, Daniels, Campbell-Stennett, & Jolly, 2017) dengan judul “Sexual risk behavior among HIV-positive persons in Jamaica” menggunakan metode randomized controlled trial dari 118 (33 laki-laki dan 85 perempuan) Odha digunakan untuk menilai demografi dan kesehatan karakteristik, pengetahuan HIV / AIDS, sikap, dan keyakinan dan perilaku seksual berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menilai prevalensi dan prediktor perilaku seksual berisiko di antara orang HIV-positif dalam perawatan klinis di Northwestern Jamaika. Dengan hasil sekitar 12% dari populasi penelitian menyatakan bahwa mereka memiliki anal tanpa kondom atau seks vaginal tanpa mengungkapkan status HIV mereka. Peserta yang setuju bahwa kondom mengurangi risiko penularan HIV 13,1 kali lebih mungkin untuk menggunakan kondom selama pertemuan terakhir mereka seksual (95% CI: 2,1-79,0) dibandingkan mereka yang tidak setuju. Sekitar 75% dari peserta melaporkan menggunakan kondom setiap kali mereka melakukan hubungan seksual pada tahun lalu, sementara 25% menggunakan kondom tidak teratur. Peserta yang memiliki anal tanpa kondom atau seks vaginal tanpa mengungkapkan status kurang mungkin untuk memiliki kondom digunakan selama terakhir kontra en- seksual (OR = 0,1; 95% CI: 0,02-0,5). Dapat disimpulkan prevalensi seks yang tidak aman tetap tinggi di antara orang-orang yang aktif secara seksual yang hidup dengan HIV / AIDS di Jamaika. Peserta penelitian yang terlibat dalam seks tanpa kondom tanpa mengungkapkan status HIV-positif mereka berpotensi menempatkan pasangan mereka pada risiko penularan HIV dan infeksi
menular seksual lainnya. Temuan penelitian menyoroti kebutuhan untuk mempromosikan perilaku seksual yang aman dan lingkungan sosial yang positif bagi orang yang hidup dengan HIV / AIDS di Jamaika.
Penelitian yang dilakukan oleh (Céline Nguefeu et al., 2017) dengan judul “Differential risky behaviors among HIV positive and HIV negative people” dengan positif HIV dan HIV-negatif yang kembali cruited di ibukota Kamerun. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur, pretested dan divalidasi, sebelum dan sesudah pengetahuan tentang status HIV meliputi: usia pada hubungan seksual pertama, pasangan seksual, penggunaan kondom dan frekuensi hubungan seksual. Dengan desain studi cross sectional dimana data dikumpulkan untuk membandingkan perilaku berisiko antara ODHA ddi Yaounde, Kamerun. Perbedaan penelitian Céline Nguefeu et al., (2017) dengan penelitian yang akan dilakukan terdapat perbedaan antara variabel independen yaitu pada penelitian ini pengetahuan tentang HIV, sedangkan penelitian yang akan dilakukan perilaku safe-sex. Dengan hasil yang didapat Sebanyak 320 peserta yang terdaftar, di antaranya 162 Orang yang hidup dengan HIV (67,3% wanita) dan 158 HIV negatif (63,92% perempuan). 18,3% dari ODHA melaporkan berhubungan seks sebelum usia 15 terhadap 10,8% dari HIV negatif (p = 0,001). ODHA memiliki lebih banyak mitra seksual dari HIV negatif sebelum dan sesudah pengetahuan tentang status HIV mereka (P = 0,000 dan p = 0,001 masing-masing). Di antara ODHA, 39,2% pernah menggunakan kondom sebelum memulai pengobatan terhadap 15,3% dari HIV negatif (p = 0,000). Ke depan menyadari status HIV mereka, ODHA digunakan kurang kondom dari HIV negatif (p = 0,000). Kesadaran status mereka, tidak ada perbedaan yang signifikan (p = 0,37) dalam penggunaan kondom dalam dua kelompok, menyiratkan pengurangan risiko di kalangan ODHA. Keterbatasan dari penelitian ini, mengingat penggunaan
kondom ditingkatkan oleh ODHA setelah kesadaran status HIV mereka, kami perkirakan keberhasilan dalam pencegahan positif.
Penelitian yang dilakukan oleh (E. C. V. Costa et al., 2018) dengan judul “Safe-Sex Knowledge, Self-Assessed HIV Risk, and Sexual Behaviour of Young Portuguese Women” dengan sampel 177 wanita dari Northern Portugal berlatar belakang sosial, pendidikan, dan agama yang sama. Lalu mereka mengisi beberapa kuesioner laporan diri agar mereka bisa menilai tentang pengetahuan HIV, persepsi risiko, dan perilaku safe-sex berisiko. Terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu pelitian ini ingin mengetahui tentang pengetahuan, persepsi dan perilaku sedangkan penelitian yang akan dilakukan fokus meneliti gambaran perilaku safe-sex. Hasil dari penilitian ini pada peneliti mendokumentasikan pengetahuan yang baik tentang penularan dan pencegahan HIV, meskipun masih ada beberapa pengetahuan seperti 79,9% dari wanita tahu bahwa kondom mencegah penularan HIV, tetapi h anya 46% dari mereka menyatakan untuk menggunakannya secara teratur. Dengan begitu pengetahuan tidak menjamin perilaku pencegahan HIV. Wanita yang kurang pendidikan tinggi memiliki pengetahuan yang lebih miskin tentang HIV dan risiko HIV. Penting untuk mengekang tentang penyakit menular seksual (PMS) di kalangan wanita muda.
Penelitian yang dilakukan oleh (E. C. Costa, McIntyre, Trovisqueira, & Author, 2016) dengan judul “The Impact of Age on Safe-Sex Knowledge, Cognitive Variables and Safe Sex Practices in HIV at-Risk Portuguese Women” menguji dampak langsung usia terhadap variabel kognitif dan perilaku safe-sex, serta efek usia dalam hubungan antara predictor kognitif. Terdapat perbedaan antara variabel independent penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu pada penelitian ini tingkat usia sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan perilaku
safe-sex. Hasil menunjukkan bahwa perempuan yang lebih muda memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi tentang AIDS, lebih sering menggunakan pengaman (kondom) sedangkan pada perempuan yang lebih tua menunjukkan lebih banyak pengetahuan terkait HIV. Dari analisis regresi hierarkis menunjukkan bahwa hambatan terhadap perilaku safe-sex menambah signifikan menjelaskan variasi persiapan terhadap perilaku safe-sex, pengetahuan, dan kepercayaan diri; penggunaan kondom lebih erat terkait dengan wanita muda dan wanita dengan kurangnya persepsi risiko; usia adalah prediktor yang signifikan untuk penggunaan kondom tetapi tidak untuk perilaku safe-sex; dan efek moderator usia ditambahkan sedikit ke persamaan regresi. Keterbatasan dari penelitian ini yaitu penggunaan desain cross-sectional. Dalam penelitian ini menggunakan periode waktu selama enam bulan untuk beberapa perilaku menyebabkan kesalahan dalam mengingat. Penelitian ini juga terbatas pada populasi di mana penelitian dilakukan, dan penelitian lebih lanjut harus diperluas untuk wanita dari berbagai usia, populasi dan pengaturan.
Berdasarkan uraian di atas, walaupun sudah ada penelitian yang berkaitan dengan safe-sex pada kelompok orang dengan keadaan yang sama mengidap HIV, namun tetap akan berbeda dengan penelitian yang peneliti lakukan. Dengan demikian topik penelitian yang diteliti benar-benar asli.