• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DIDIK MENURUT AL GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL W A L AD - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DIDIK MENURUT AL GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL W A L AD - Test Repository"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S.Pd.l)

Dalam Ilmu Tarbiyah

Oleh :

MUHAMMAD SHOL1HUN NIM. 111 03 016

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) SALATIGA

(2)

Website : www.stainsalatiua.ac.id E-mail: [email protected]

M. Gufron, M. Ag Dosen STAIN Salatiga

NOTA PEMBIMBING Salatiga, 22 Februari 2008

Lamp. : 3 eksemplar

Hal : Naskah Skripsi Kepada Yth.

Sdr. Muhammad Sholihun Ketua STAIN Salatiga di

-SALATIGA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan

seperlunya, maka skripsi Saudara :

Nama : Muhammad Sholihun NIM. : 111 03 016

Jurusan : Tarbiyah Progdi : PAI

Judul : PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DIDIK MENURUT AL GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL WALAD

Sudah dapat diajukan dalam sidang munaqasah.

Demikian surat ini, harap menjadikan perhatian dan digunakan

sebagaimana mestinya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembimbing

M, Gufron, M. Ag NIP. 150 327 089

(3)

SALATIGA

Jl. Stadion No. 2 Salatiga (0298) 323706

PENGESAHAN

SKRIPSI Saudara : Muhammad Sholihun dengan Nomor Induk Mahasiswa : 111 03 016 yang berjudul PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DIDIK MENURUT AL GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL WALAD telah dimunaqosahkan dalam Sidang Panitia Ujian, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, pada hari Sabtu, 8 Maret 2008 M yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awal 1429 H. Dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar Saijana dalam Ilmu Tarbiyah.

c . . 8 Maret 2008 M

Salatiga,---1 Rabiul Awal Salatiga,---1429 H Panitia Ujian

(4)

Website : www.sltiinsakniuti.ttc.id E-mail: [email protected]

DEK LA R A SI

Bismillahirrahmanirrahim

Penulis menyatakan dengan penuh kejujuran, bahwa skripsi yang berjudul

Pendidikan Akhlak Anak Didik Menurut Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad ini adalah hasil karya penelitian yang dilakukan oleh penulis sendiri, bukan dari

hasil karya orang lain ataupun Penerbit. Demikian juga skripsi ini tidak berisi

satupun pemikiran orang lain kecuali informasi yang terdapat dalam referensi

yang dijadikan bahan rujukan.

Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran

orang lain diluar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup

mempertanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang munaqosah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 22 Februari 2008

Penelili-Muhammad Sholihun NIM. 111 03 016

(5)

“(Rindu cinta fcepadaJACCad adaCad de6adagiaan fidup

(6)

Karya tulis ilm iah ya n g herbentuk skrip si in i penulis persem bahkan

1. A y a h dan Ibu tercinta, ya n g telah m emberikan m otivasi, m endoakan dan

mengorbankan jiw a , raga m aupun m aterial dalam jenjang pendidikan saya.

2. Paman serta B ib iku semua ya n g b a ik hati

3. K a kek dan N en ekku semua yang mendo 'akan dan merestui

4 . M . G hufron, M A g selaku pem bim bing skripsi

5. Sahabat serta tem an-tem anku (A n i, O ni, Tsani, Yaden, H im in, B ikhah,

N u ru l, M a lik, B idin, dan lain sebagainya), yang banyak m embantu dan

menghibur.

6. Calon istriku tercinta ya n g setia menunggu

7. M a s Y u liya n g telah m em bantu dalam penulisan skrip si in i

8. Para pembaca yang budim an, sehingga skrip si in i dapat bermanfaat.

(7)

Alhamdulillahi Robbil 'Alamin, segala puji hanya penulis panjatkan kepada Allah SWT yang hanya dengan pertolongan, Rahmat dan HidayahNya,

penulis mampu menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu kelengkapan syarat

terselesainya jenjang pendidikan Strata Satu (SI) pada jurusan Tarbiyah STAIN di

Salatiga.

Penulis sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu terselesaikannya penulisan skripsi ini serta penghargaan yang setinggi-

tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Ketua STAIN Salatiga, yang telah memberikan izin dan restu dalam

menyusun skripsi ini.

2. Bapak M. Gufron, M. Ag, selaku pembimbing dalam penulisan skripsi ini

yang telah banyak mencurahkan perhatian dan waktu pada penulis dalam

membimbing dan mengarahkan penyusunan skripsi ini.

3. Para bapak dan Ibu Dosen serta Civitas Akademika STAIN Salatiga yang

membantu sejak awal hingga terselesainya perkuliahan dan skripsi ini.

4. Teman sejawat dan semua pihak yang telah membantu serta memberikan

motivasi dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

5. Bapak Ibu dan semua keluarga yang telah memberikan do'a restu dan

motivasi sehingga penulisan sekripsi ini selesai.

Penulis berkeyakinan bahwa apa yang telah diperbuat oleh semua pihak

telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini baik yang dapat

(8)

Dalam penulisan skripsi ini apabila masih banyak kekeliruan, kekurangan

dan kesalahan, itu semua karena keterbatasan kemampuan penulis, untuk itu pula

kritik dan saran yang konstruktif akan penulis terima dengan senang hati.

Akhirnya semoga skripsi ini ada manfaatnya baik bagi penulis khususnya

maupun pembaca umumnya. Amiin.

Salatiga, 22 Februari 2008

Shoiihun

(9)

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN NOTA PEMBIMBING... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN DEKLARASI... iv

HALAMAN MOTTO... v

HALAMAN PERSEMBAHAN... vi

KATA PENGANTAR... vii

DAFTAR IS I... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... . 1

B. Penegasan Istilah... 5

C. Pokok-pokok Masalah... 7

D. Tujuan Penelitian... 7

E. Manfaat Hasil Penelitian... 8

F. Kajian Pustaka... 8

G. Metode Penelitian... 9

H. Sistematika Penulisan... 12

BAB II SETING SOSIAL IMAM AL GHAZALI A. Riwayat Hidup Imam Al Ghazali... 13

B. Kerangka Pikir Imam Al Ghazali... 15

C. Situasi Sosial pada masa Al Ghazali... 20 D. Kondisi Pendidikan pada Masa Al Ghazali 23

(10)

A. Sistematika Penulisan Kitab Ayyuhal W alad... 30

B. Latar Belakang Penulisan Kitab Ayyuhal W alad... 31

C. Pokok Bahasan, Konsep tentang Pendidikan Akhlak Anak Didik... 32

1. Akhlak Anak Didik terhadap Tuhan... 33

2. Akhlak Anak Didik terhadap Sesama Manusia... 36

3. Akhlak Anak Didik terhadap Gurunya... 38

4. Akhlak terhadap Ilm u... 41

5. Akhlak yang baik dan akhlak yang tercela... 43

D. Metode Pendidikan dalam kitab Ayyuhal W alad... 45

1. Metode Keteladanan... 45

2. Metode Pemberian Nasihat... 46

3. Metode Pemberian W asiat... 46

4. Metode Cerita... 47

5. Metode Perintah dan larangan... 48

E. Tujuan Pendidikan Menurut Al Ghazali... 48

BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DIDIK DALAM KITAB AYYUHAL WALAD DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESI MASA SEKARANG A. Tinjauan Tentang Pendidikan Akhlak Anak dalam Islam ... 51

1. Definisi Pendidikan... 51

2. Definisi Akhlak... 54

(11)

Sekarang... 57

1. Relevansi Materi Pendidikan... 58

a. Akhlak Anak Kepada Tuhan... 58

b. Akhlak Anak terhadap Sesama Manusia... 66

c. Akhlak Anak Terhadap G uru... 67

d. Akhlak Terhadap Ilm u... 71

e. Akhlak yang baik dan Akhlak yang Tercela... 73

2. Relevansi Metode Pendidikan... 74

a. Metode Keteladanan... 75

b. Metode Pemberian Nasihat... 76

c. Metode Pemberian W asiat... 78

d. Metode Cerita... 79

e. Metode Perintah dan Larangan... 80

3. Relevansi Tujuan Pendidikan... 81

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 84

B. Saran... 86 DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN

(12)

A. Latar Belakang Masalah

Menurut ajaran Islam, anak adalah amanat Allah yang wajib

dilaksanakan. Tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. Secara

umum inti tanggung jawab tersebut adalah penyelenggaraan pendidikan bagi

anak' guna mengarahkan kepada perilaku maupun budi pekerti yang mulia,

sehingga dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta sumber daya

insani menuju terbentuknya Insan kamil (manusia seutuhnya) sesuai dengan

norma yang Islami.

Upaya untuk membentuk kepribadian muslim yang berbudi mulia

tersebut perlu adanya pemberian nilai-nilai ajaran Islam kepada anak didik,

sehingga mereka dapat memahami dan menghayati nilai-nilai ajaran tersebut

dengan sebaik-baiknya. Kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-

hari baik dalam bentuk ibadah maupun muamalah. Anak sejak dini harus

diberi pendidikan agama supaya tingkah laku kesehariannya sesuai dengan

ajaran agama, lebih-lebih pada masa remaja yang emosinya masih labil,

tindakannya kadang-kadang dinilai sebagai tindakan nakal, tetapi masa-masa

ini adalah masa yang baik untuk belajar.

'Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam P erspektif Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2007, him. 160.

(13)

Allah SWT telah menurunkan agama Islam yang ditujukan untuk

manusia supaya dapat merealisasikan kepentingannya di dunia dan akhirat,

cepat atau lambat, dengan cara memberi hal-hal yang bermanfaat bagi mereka

serta menghindari bahaya yang dapat mengancam mereka. Semua yang

berkaitan dengan kepentingan manusia di dunia dan akhirat telah digariskan

syari’at Islam yang benar, yakni dengan memberi manusia hukum-hukum

yang meliputi cara memperolehnya, cara memeliharanya, dan sekaligus cara

menjaganya. Demikian juga semua yang berkaitan dengan hal-hal yang

merusak kehidupan manusia di dunia dan akhirat, yang akan datang padanya

cepat atau lambat.

Manusia diperingatkan dan diberi petunjuk untuk menghindari serta

menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak kehidupannya. Semua itu untuk

mengangkat martabat manusia menjadi khalifah Allah di muka bumi dan sekaligus menjamin kebahagiaannya. Untuk itu, Islam sangat memperhatikan

terhadap perkembangan jiwa manusia, terutama pengawasan yang menyeluruh

terhadap pendidikan yang meliputi pendidikan individu dan kemasyarakatan.

Jadi pendidikan yang menyangkut akhlak atau budi pekerti manusia sebagai

subjek didik sangatlah penting dilaksanakan.

Masa sekarang ini banyak sekali tindakan-tindakan yang dilakukan

oleh manusia yang mengarah pada krisis akhlak sering disebut juga ddngUn

krisis moral seperti perampokan, tindak korupsi di kalangan pejabat, pelacuran

dan lain sebagainya, semua itu sudah tidak asing dalam tayangan berita di

(14)

yang lebih memprihatinkan lagi bahwa pelaku dari pada tindak kriminal

tersebut kebanyakan dari orang-orang Islam.

Anak adalah generasi muda, sedangkan generasi muda adalah sebagai

penerus bangsa, apabila penerus bangsa memiliki jiwa yang berakhlak mulia

tentu saja negara akan maju dan rakyat akan hidup tentram, tetapi sebaliknya

apabila penerus bangsa memiliki jiwa yang berakhlak buruk tentu saja negara

kita akan mengalami banyak kerusakan dan kemunduran. Oleh sebab itu

mempersiapkan generasi muda yang berakhlak mulia adalah sangat penting

didalam dunia pendidikan.

Mengingat pentingnya pendidikan akhlak manusia tersebut, tentu saja

tidak meninggalkan jasa para pemikir pendidikan Islam yang tidak diragukan

lagi pengaruhnya dalam kemajuan Islam. Dalam pendidikan Islam terdapat

seorang tokoh yang tidak asing lagi yaitu Hujjatul Islam Abu Hamid bin

Muhammad bin Muhammad Al Ghazali yang sering disebut dengan Imam Al

Ghazali.

Sejarah memberikan fakta bahwa muncul pemikir pendidikan Islam yang tidak asing lagi yaitu Hujjatul Islam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali2 yang terkenal dengan sebutan Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing lagi baik di kalangan ulama maupun orang awam. Buah fikirannya banyak mempengaruhi para ahli, baik di timur ataupun di barat. Beliau adalah salah satu dari ulama yang cerdas dan banyak menarik perhatian para pengkaji ilmiah di zaman dahulu maupun

(15)

sekarang, baik dari umat Islam sendiri maupun para orientalis. Imam Al Ghazali memang sangat luas pengetahuannya dan banyak berjasa bagi kemajuan agama Islam, beliau sangat berperan penting untuk mensikapi dan menindaklanjuti berbagai macam persoalan, baik mengenai pendidikan, syari’at, aqidah, akhlak dan lain sebagainya.

Misalnya saja ketika memberikan jawaban kepada seorang siswa yang sudah mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, tetapi masih mengalami kebingungan untuk memenuhi sesuatu yang menjadi bekal di akhirat kelak, kemudian Imam Al Ghazali menulis sebuah kitab yang diberinama Ayyuhal Walad yang berisi tentang nasehat kepada para pelajar untuk mengetahui dan membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.

Sesungguhnya Imam Al Ghazali selain sebagai pemikir dalam

pendidikan Islam, juga pernah berkecimpung langsung menjadi praktisi

pendidikan, pengalamannya sebagai guru di Madrasah Nizhamiyah, itu menunjukkan bahwa beliau juga merupakan ulama yang teijun langsung di

dalam dunia pendidikan.

Berawal dari urian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan bentuk skripsi dengan judul:

“PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DIDIK MENURUT AL GHAZALI

(16)

B. Penegasan Istilah

Penegasan istilah adalah untuk mendapatkan kejelasan tentang judul

skripsi di atas, supaya tidak terjadi kesalahpahaman maka penulis perlu

memberikan batasan-batasan dan penegasan secukupnya terhadap istilah-

istilah yang ada, yaitu :

1. Pendidikan Akhlak

Pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu : “Paedagogike”. Ini

adalah kata majemuk yang terdiri dari kata “paes” yang berarti “anak” dan

kata “ago” yang mempunyai arti “aku membimbing” oleh sebab itu

paedagogike berarti aku membimbing anak. Sedangkan orang yang

memiliki pekerjaan membimbing anak dengan tujuah membawanya

ketempat belajar disebut dengan paedagogos. Apabila kata ini diartikan

secara simbolis, maka suatu perbuatan membimbing merupakan inti dalam mendidik.3 Kemudian yang dinamakan akhlak sebagaimana perkataan

Imam Al Ghazali

4 A mi j (jjioli ^ AiiA (jc.

Aiig-ll

(jli

A

j j j j

^ll 4->U.

ijjo j x j ii

j

Al

</ a'I (JlxiaVJ ^ C m j

Ifr’lC- ( j j j 1 k.iN Uil^. A ng W lAV\

\ n Lalx

(17)

Artinya: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Apabila perilaku tersebut mengeluarkan beberapa perbuatan baik dan terpuji, baik menurut akal maupun tuntunan agama, perilaku tersebut dinamakan akhlak yang baik. Apabila perbuatan yang dikeluarkan itu jelek, maka perilaku tersebut dinamakan akhlak yang jelek.4

Jadi pendidikan akhlak adalah bimbingan secara sadar oleh seorang

pendidikan terhadap perkembangan jiwa anak didik baik jasmani maupun

rohani sehingga memiliki prilaku yang baik dan terpuji menurut akal

maupun tuntunan agama Islam serta bisa menjauhi dan meninggalkan

prilaku yang buruk menurut akal maupun tuntunan agama Islam.

2. Al Ghazali

Nama Al Ghazali yang dimaksud di sini adalah Abu Hamid

Muhammad bin Muhammad at Tusi Al Ghazali, beliau termasuk seorang

pemikir Islam, teolog, filsuf dan sufi yang termasyur. Ia dilahirkan di kota

Gazalah, sebuah kota kecil dekat Tus di Khurasan, yang pada waktu itu

sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Beliau

meninggal juga di kota Tus Setelah peijalanan mencari ilmu dan

ketenangan batin, kemudian nama Al Ghazali dan At Tusi itu dinisbatkan

kepada tempat kelahirannya.5

3. Kitab Ayyuhal Walad

Kitab Ayyuhal Walad adalah kitab kecil berbahasa Arab dan termasuk salah satu karya Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Di dalam kitab * 3

4Abu Hamid Muhammad Al Ghazali, Ih ya ’ Ulum A l Din, Jilid III, Dar Al Fikr, Beirut, 1989, him. 58.

(18)

ini dari segi isinya menggunakan metode mauizah atau pemberian nasehat

dengan memberikan arahan-arahan kepada anak meliputi teori-teori yang

disandarkan pada Al Qur'an maupun hadits juga dengan menggunakan

pemikiran-pemikiran Al Ghazali itu sendiri dengan pengalamannya

sebagai seorang pendidik yang profesional.

Kitab ini muncul karena permintaan dari salah satu siswa zaman

dahulu, yang meminta kepada Imam Al Ghazali untuk menulis kitab yang

di dalamnya memuat ilmu yang membedakan antara ilmu yang bermanfaat

dan yang tidak bermanfaat bagi dirinya di dunia maupun di akhirat.

C. Pokok-pokok Permasalahan

Melihat uraian di atas, maka selanjutnya penulis mengemukakan

pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut, supaya dapat

mempermudah dalam proses penelitian ini, antara lain yaitu:

1. Bagaimana setting sosial Imam Al Ghazali ?

2. Bagaimana konsep pendidikan akhlak anak didik menurut Al Ghazali

dalam Kitab Ayyuhal Walad ?

3. Bagaimana relevansi konsep pendidikan akhlak anak didik menurut Al

Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad dengan pendidikan Islam di Indonesia

masa sekarang ?

D. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan permasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan

(19)

1. Untuk mengetahui setting sosial Imam Al Ghazali.

2. Untuk mengetahui konsep pendidikan akhlak anak didik menurut Al

Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad.

3. Untuk mengetahui relevansi konsep pendidikan akhlak anak didik menurut

Al Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad dengan pendidikan Islam di Indonesia masa sekarang.

E. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia

pendidikan, serta dapat memberikan motivasi bagi guru agar lebih

meningkatkan kompetensinya sebagai seorang pendidik yang membentuk

kepribadian anak berbudi pekerti mulia, serta memberikan semangat dalam

mencapai keberhasilan tujuan belajar mengajar dan setia dalam menunjang

mutu pendidikan.

F. Kajian Pustaka

Penulis pernah menemukan penelitian yang secara khusus membahas

tentang pemikiran Imam Al Ghazali tentang pendidikan yaitu karya Zainuddin

dengan judul Seluk Beluk Pendidikan dari Al Ghazali telah diterbitkan oleh

Bumi Aksara di kota Jakarta pada tahun 1991. Di antara isi karya tersebut ada

yang mengandung tentang pendidikan anak meliputi pendidikan keimanan

bagi anak-anak (anak didik), pendidikan akhlak bagi anak didik, pendidikan

akliah bagi anak didik, pendidikan sosial bagi anak didik dan pendidikan

(20)

Karya Hussein Bahreisj dengan judul Ajaran Ajaran Akhlak Imam Al Ghazali yang telah diterbitkan oleh Al IKHLAS di kota Surabaya pada tahun

1981. Diantara isinya ada yang membahas tentang pendidikan akhlak meliputi

akhlak yang baik dan akhlak yang buruk.

Suatu hal yang perlu dicatat adalah penelitian tentang pemikiran Al

Ghazali yang dipaparkan di sini merupakan penelitian yang difokuskan pada

penelitian Islam tentang pendidikan akhlak anak didik berdasarkan pada

pemikiran Al Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad. Dengan demikian

penelitian ini dimaksudkan suatu hal yang relatif untuk menambah informasi

serta dapat memperkaya cakrawala dari pemikiran Al Ghazali tentang

pendidikan yang berhubungan dengan anak didik, kemudian dapat dijadikan

pedoman bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Penelitian mengenai pendidikan akhlak anak didik dalam kitab

Ayyuhal Walad terbilang masih sangat langka. Sepanjang pengetahuan

penulis, belum pernah menemukan penelitian yang difokuskan pada kitab

Ayyuhal walad. Sehingga peneliti sangat tertarik untuk menjadikan kitab tersebut sebagai objek penelitian.

G. Metode Penelitian

Proses dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode

sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah, di antaranya yaitu menggunakan

metode librari untuk mencapai atau memperoleh data, kemudian metode studi

pustaka untuk mengumpulkan data. Sedangkan metode deduktif dan metode

(21)

Secara jelas akan penulis paparkan sebagai berikut:

1. Sumber Data

Data yang dibutukan dalam penyusunan skripsi ini diperoleh dari

research kepustakaan (library research) yaitu hasil dari penelitian berbagai

buku dan karya ilmiah yang ada relevansinya dengan permasalahan,

terutama buku-buku tentang pendidikan anak baik itu karya Imam Al

Ghazali maupun lainnya.

Adapun sumber data dibagi menjadi dua :

a. Sumber Data primer

Sumber data primer, yaitu data yang diambil dari sumber

utamanya. Data ini diambil dari Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al

Ghazali.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yaitu data yang diambil dari sumber

kedua,6 yang dipergunakan untuk melengkapi, menunjang dan

merupakan alat bantu untuk menganalisis permasalahan yang ada

kaitannya dengan judul penelitian, yaitu berupa buku-buku, dokumen,

majalah yang berkaitan dengan penelitian.

2. Pengumpulan Data

Dalam penyusunan skripsi ini penulis pergunakan teknik

pengumpulan data pustaka yaitu membaca dan mencatat serta mengolah

(22)

bahan penelitian' dari berbagai buku dan karya ilmiah yang ada hubungannya dengan permasalahan. Dengan mengutamakan data

pokoknya yaitu Kitab Ayyuhal Walad kemudian data dari buku-buku yang

berkaitan dengan permasalahan.

3. Analisa Data

Melihat obyek penelitian ini adalah buku-buku atau literatur yang

termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan, maka penelitian ini

adalah merupakan library research.

Data yang terkumpul selanjutnya akan penulis analisa dengan

menggunakan teknik analisa kualitatif dengan cara :

a. Deduktif

Maksudnya adalah bertolak dari hal-hal atau teori yang bersifat

umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Dalam arti

pengambilan kesimpulan yang berawal dari suatu pernyataan tentang

pendidikan akhlak anak dalam Islam secara umum kemudian j

dilakukan penarikan kesimpulan dari pendidikan akhlak anak menurut

Al Ghazali sehingga menghasilkan kesimpulan yang bersifat khusus.

b. Induktif

Maksudnya adalah mengambil kesimpulan yang bertitik tolak

dari hal-hal yang bersifat khusus dan mengambil atau menarik kesimpulan yang bersifat umum.7 8 Dalam arti penarikan kesimpulan

(23)

yang berangkat dari uraian-uraian khusus Al Ghazali, kemudian

diformulasikan ke dalam suatu kesimpulan yang bersifat umum.

H. Sistematika Penulisan

Guna memperoleh gambaran yang jelas, menyeluruh dan

mempermudah dalam memahami masalah-masalah yang akan dibahas, maka penulis menyusun sistematika sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan, membahas tentang latar belakang masalah,

penegasan istilah, pokok-pokok permasalahan, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian,kajian pustaka, metode penelitian, dan

sistematika penulisan.

Bab II Berisi tentang setting sosial Imam Al Ghazali yang membahas

tentang riwayat hidup Imam Al Ghazali, kerangka berfikir, situasi

sosial, situasi pendidikan dan hasil karyanya.

Bab III Mengenal Kitab Ayyuhal Walad, yang membahas tentang sistematika penulisan kitab Ayyuhal Walad, latar belakang penulisan kitab Ayyuhal Walad, pokok bahasan tentang konsep

pendidikan akhlak anak didik, metode pendidikan dan tujuan

pendidikan menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad. Bab IV Analisis pendidikan akhlak anak didik dalam Kitab Ayyuhal

Walad yang membahas tentang tinjauan pendidikan akhlak anak dalam Islam dan relevansi pendidikan akhlak anak didik dalam kitab Ayyuhal Walad dengan pendidikan Islam di Indonesia masa sekarang.

(24)

A. Riwayat Hidup Imam Al Ghazali

Al Ghazali adalah ulama besar dalam bidang agama. Dia termasuk

salah seorang terpenting dalam sejarah pemikiran agama secara keseluruhan.

Nama lengkap beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Tusi

Al Ghazali yang bergelar Syaikh Al Ajal Al Imam Al Zahid, Al Said Al

Muwafaq Hujjatul Islami.1 Beliau dilahirkan pada tahun 450/451 (1058/1959)

dibesarkan di kota Tus, sekarang dekat Masyhad, sebuah kota kecil di

Khurasan yang sekarang adalah Iran. Tahun kelahirannya kira-kira bersamaan

dengan proses pengangkatan Alp Arselan ke Singgasana kekuasaan Saljuk.

Melihat keterangan tersebut Al Ghazali termasuk orang Persia asli.

Al Ghazali lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya, Muhammad

adalah seorang pengusaha yang bekeija memintal wol dan menjualnya di

tokonya sendiri. Dia adalah seorang yang mempunyai tipe pecinta ilmu,

sehingga disamping menekuni pekerjaannya, juga sering mengunjungi majlis-

majlis pengajian. Dari sinilah ia berkeinginan dan berdo'a supaya dikaruniai

anak yang kelak menjadi orang besar dan berpengetahuan luas seperti ulama-

ulama tempat ia mengambil ilmu.* 2

'Abuddin Nata, P erspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-M urid Studi Pemikiran Tasawuf A l Ghazali, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2001, him. 55.

2Waryono Abdul Ghofur, Kristologi Islam Telaah Kritis Kitab Rad al Jam il Karya A l Ghazali, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2006, him. 25-26.

(25)

Al Ghazali memiliki seorang saudara laki-laki yang bernama Abu al

Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad at Tusi Al Ghazali,

dengan gelar Majduddin (w. 520 H), keduanya menjadi ulama besar. Hanya

saja, Majduddin lebih berprofesi pada kegiatan dakwah sedangkan Al Ghazali

menjadi penulis dan pemikir. Pendidikan Al Ghazali pada masa kecil

berlangsung di kampung halamannya. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia

dan saudaranya dididik oleh salah seorang sufi yang mendapat wasiat dari

ayah keduanya untuk mengasuh mereka, yaitu Ahmad bin Muhammad ar

Razikani at Tusi, ahli tasawuf dan Fikih dari Tus. Mula-mula sufi ini mendidik

keduanya secara langsung. Tetapi, setelah harta keduanya habis, sementara

sufi itu seorang yang miskin, mereka dimasukkan ke sebuah madrasah di

Tus.3

Setelah itu Al Ghazali pindah ke Naisabur, ia belajar kepada Imam al

Juwaini yang terkenal dengan sebutan Imam al Haramain, seorang teolog

Asy'ariyah. Imam Al Ghazali belajar ilmu fiqh dan ilmu kalam kepada

gurunya. Dari Naisabur ia pindah ke Mu'askar kemudian ia berkenalan dengan

Nizamul Mulk, Perdana Menteri bani Saljuk. Nizamul Mulk menjadikan Al

Ghazali sebagai guru pada tahun 1091 M di Madrasah al Nizamiyah Baghdad

yang telah didirikan oleh Nizamul Mulk sendiri. Di kota Baghdad ini Al

Ghazali menjadi terkenal. Pengajian halaqohnya semakin ramai. Ia pun telah menulis banyak karya ilmiah. Pada tahun 1095 M, Al Ghazali meninggalkan

(26)

jabatan yang terhormat di Baghdad, kemudian menuju kota Makkah,4 guna

menunaikan ibadah haji. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Syam dan

tinggal sementara di kota Baitul Maqdis. Selanjutnya Imam Al Ghazali pergi

ke Damaskus dan ber'uzlah di sebuah Zawwiyah di dalam masjid raya Al

Umawi Zawiyah tempat Imam Al Ghazali uzlah tersebut sampai sekarang

masih ada dan terkenal dengan sebutah Az Zawiyat Al Ghazaliyah. Di tempat ini beliau menggunakan waktunya untuk menulis kitab lhya' Ulumuddin.5 6

Akhirnya Imam Al Ghazali kembali ke Thus. Sampai di sana beliau mendirikan lembaga pendidikan. Di lembaga pendidikan tersebut beliau

mengajar dan beribadah. Kemudian di akhir kehidupannya tepatnya pada

tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H, setelah ia selesai berwudhu dengan

sempurna, lalu berbaring meluruskan badan dan kakinya, kemudian

menghadap ke arah kiblat dan tidak lama setelah itu beliau meninggal dunia.0

B. Kerangka Pikir Imam Al Ghazali

Pembahasan mengenai pemikiran tokoh dalam pendidikan Islam,

senantiasa selalu berhubungan dengan keadaan lingkungan yang mengitarinya. Oleh karena itu situasi maupun kondisi yang berkembang juga menentukan perkembangan pola pikirannya.

4Muh. Zuhri, Hukum Islam dalam Lintas Sejarah, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1997, him. 131.

5H.M. Fadlil Sa'd An Nadwi, Tuntunan Mencapai Hidayah Ilahi, Surabaya, Al Hidayah, 1418 H, him. 11.

(27)

Imam Al Ghazali, seperti dalam keterangannya sendiri dalam al Munqidz menggambarkan kehausannya guna mencari kebenaran yang tidak

pernah puas. Sifat tersebut diakuinya, bermula semenjak masa kecil, sudah

menjadi fitrah yang tidak bisa ditolak. Kedahagaan yang tidak kunjung puas

ini membawa munculnya suatu wajah baru pada perilaku Al Ghazali semenjak

ia kira-kira berumur dua puluh tahun, yaitu keraguan (syak) terhadap

kepercayaan yang menjadi tinggalan dari nenek moyang. Tidak bosan-

bosannya mengarungi gelombang pertarungan kepercayaan dan pemikiran di

zamannya, sehingga tidak - satupun bidang kepercayaan dan ilmu yang

ketinggalan untuk dipelajarinya guna mencari kebenaran itu. Beliau mengkaji

tentang kebatinan untuk melihat yang tersembunyi di sebaliknya, mengkaji

seluruh aliran falsafah yang ada pada masanya, menyelami segala mazhab

ilmu kalam yang bisa dijangkaunya, begitu juga dengan segala aliran tasawuf

yang pernah didengarnya, melainkan juga aliran-aliran yang tidak percaya

kepada Tuhan, disebut zindiq, tidak bebas dari penyelidikannya. Pendek kata,

sifat dahaga terhadap ilmu yang disertai dengan keragu-raguan terhadap segala

sesuatu yang tidak meyakinkan itulah sifat Al Ghazali sejak kecil, sampai

suatu masa dahaga dan ragu itu mencapai puncaknya, yaitu sepuluh tahun

sebelum beliau meninggal. Melihat dari peristiwa tersebut, dapat dikatakan

bahwa persoalan sebenarnya yang membuat keragu-raguan Al Ghazali adalah

(28)

perbedaan dan perselisihan faham ahli-ahli ilmu pada masanya yang masing- masing beranggapan bahwa dialah yang paling benar dan selamat. 7

Imam Al Ghazali dalam mensikapi para filosof dalam karyanya

Tahafut al Falasifah dan al Munqidz min ad Dlalal, beliau menentang filosof- filosof Islam. Bahkan mengkafirkan mereka dalam tiga masalah, pertama

pengingkaran kebangkitan jasmani, kedua membataskan ilmu Tuhan pada hal- hal yang besar saja, ketiga kepercayaan tentang qadimnya alam dan

keazaliannya. Tetapi dalam karyanya yang lain, yaitu Mizan al Amal, diungkapkan bahwa ketiga-tiga persoalan tersebut menjadi kepercayaan

orang-orang sufi juga. Dalam karyanya Al Madlnun ‘Ala Ghairi Ahlihi beliau

mengakui qadimnya alam. Kemudian dalam Al Munqidzu min ad Dlalal beliau

menyatakan bahwa kepercayaan yang dipeluknya ialah kepercayaan orang-

orang sufi. Tapi dalam karyanya yang lain lagi, M i’raj al Salikin beliau menentang orang-orang tasawuf yang telah berpendapat adanya kebangkitan

rahani saja. Jadi Al Ghazali menolak kepercayaan dalam tiga soal tersebut

dalam beberapa karyanya dan mempercayai dalam buku-bukunya yang lain.

Uraian tersebut menyebabkan teijadi berbagai tafsiran dari orang-orang yang

membahas hal tersebut. Menurut Ibnu Tufail, pertentangan tersebut memang

suatu kontradiksi benar-benar dari pikiran Al Ghazali. Sedangkan menurut

Ibnu Shalah, karena Al Ghazali dari aliran ahlussunnah, maka corak pemikiran

dan buku-bukunya yang berlawanan dengan aliran ini dianggap bukan dari beliau, seperti kitab Al Madlunun ‘Ala Ghairi Ahlihi. Menurut Dr. Zaki

(29)

Mubarok dalam karyanya Al Akhlaq ‘Indal Ghazali, perbedaan pendapat itu dikarenakan perkembangan pikiran Al Ghazali, mulai dari status murid biasa,

kemudian sebagai murid yang cemerlang namanya, setelah itu menjadi

seorang guru yang terkenal, ampai pada akhirnya menjadi seorang kritikus

yang amat kuat dan mendalami dan menyikapi berbagai pendapat, kemudian

menjadi pengarang yang mendunia dengan pembahasan dan karya-karyanya.

Kemudian menurut Dr. Sulaiman Dunia menafsiri bahwa karya-karya Al

Ghazali masih dipakai sampai akhir hayatnya, tetapi ada buku-buku yang

ditujukan kepada orang awam, tapi juga ada yang ditujukan untuk orang-orang o

tertentu sekali sehingga isinya tidak akan sama.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution bahwa Imam Al Ghazali membagi

umat manusia menjadi tiga golongan, yaitu kaum awam yang cara berpikirnya

sangat sederhana, kaum pilihan yang akalnya tajam dan berpikir secara

mendalam, dan kaum yang suka mendebat atau disebut juga dengan kaum

penengkar. Golongan kaum awam yang daya akalnya sangat sederhana sekali

tidak dapat menangkap hakikat-hakikat, mereka memiliki sifat lekas percaya

dan mudah menurut. Golongan ini hams dihadapi dengan pemberian nasihat

dan petunjuk. Sedangkan orang-orang pilihan yang daya akalnya sangat kuat

dan mendalam tentu saja hams dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-

hikmat, sedangkan golongan penengkar dihadapi dengan sikap pematahan

argumen-argumen.9 8

(30)

Jika dalam kitab Al Tahafut, Imam Al Ghazali melakukan serangan

terhadap para filosof, menyanggah metode akali yang mereka gunakan dalam

makrifah agamawi kemudian hanya itu saja sepenuhnya yang mereka akui,

maka ia juga menyerang para teolog seperti mu’tazilah dan asy'ariyah yang

mendahuluinya. Kemudian ia membuat suatu metode baru dalam teolog yang

oleh Ibn Khaldun disebut Tariq al M uta’akhirin (cara ulama terakhir) yaitu cara ilham para sufi, dengan merobohkan sebab akibat, memandang Tuhan

sebagai sebab dan pembuat hakiki. Alam dan manusia tidak dapat bebas

berbuat apapun karena kekuasaan pada hakikatnya di tangan Allah. Imam Al

Ghazali tidak mengingkari para filosof dalam pembahasan ilmu matematika

dan fisika. Keduanya sangat berguna bagi peradaban manusia, dan agama juga

menganjurkan untuk mempelajarinya karena manfaatnya besar, sehingga tidak

mungkin orang yang memiliki akal menolak manfaat dari ilmu kedokteran

guna mengobati penyakit. Tetapi ada bahayanya dalam ilmu matematika

terhadap sebagian orang yang melihat bukti-buktinya, sehingga mempercayai

apa yang dikatakan para filosof matematika dalam masalah ketuhanan dapat

diyakini kebenarannya seperti halnya ilmu matematika tersebut. Padahal

kalam mereka kufur belaka dalam masalah ketuhanan. Sedangkan bahayanya

ilmu fisika itu adalah bahwa peneliti ilmu botani dan biologi serta jisim-jisim

hidup yang lainnya akan berkata bahwa sesungguhnya makhluk-makhluk

(31)

manusia akan mengalami demikian tanpa dibangkitkan kemudian jiwa

raganya di hari kiamat.10 *

Imam Al Ghazali diakhir kehidupannya semenjak ia didominasi oleh

kecenderungan sufis dan mulai mengeluarkan kritikan terhadap studi-studi

rasional yang sebelumnya sudah ia lakukan, bertindak begitu keras terhadap

ilmu kalam (teologi Islam) guna mengalahkan sikap kerasnya terhadap studi-

studi lain. Beliau menetapkan bahwa dengan demikian bertujuan untuk

membentengi akidah ahl al sunnah wa al jama’ah dan meletakkan penjagaan

dari gangguan ahli bid’ah. Sebagaimana penganut aliran asy’ariyah, Imam Al

Ghazali menyelaraskan akal dengan naql. Beliau berpendapat bahwa akal itu

harus difungsikan sebagai penopang, karena akal itu bisa mengetahui dirinya

sendiri dan juga bisa mempersepsi benda lain, yang apabila lepas dari sumbat

angan-angan dan khayalan maka ia bisa mempersepsi benda-benda secara

hakiki. Namun Imam Al Ghazali menghentikan akal pada batasan-batasan

tertentu, kemudian hanya naql-lah yang bisa melalui batasan-batasan ini.11

C. Situasi Sosial pada Masa Al Ghazali

Imam Al Ghazali adalah seorang tokoh Islam yang hidup pada zaman

raja-raja Daulat Saljuk Raya (Turki) yang telah menguasai daerah Khurasan,

Ray, Jibal, Irak, Jazirah, Persia dan Ahwaz. Kemudian yang mendirikan daulat

Saljuk Raya tersebut adalah Rukunuddin Abu Thalib Thughrul Bek. Dan

l0Ahmad Daudy, Segi-segi Pemikiran Filsafi dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984, him. 64-65.

"Ibrahim Madkaur, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2004,

(32)

Imam Al Ghazali sendiri pada waktu itu telah menyaksikan masa Adududdin

Abu Syuja’ Alp Arsalan, Jalaluddin Abui Fatah Malik Syah, Nasiruddin

Mahmud, Rukunuddin Abui Muzafar Barkiaruk, Rukunuddin Malik Syah (11)

dan Muhammad bin Malik Syah. Dan kelahiran Imam Al Ghazali bertepatan

pada akhir pemerintahan Thughrul Bek yang telah menguasai kota Bagdad.12 13

Imam Al Ghazali, secara politik hidup dan bekeija pada masa

kekacauan. Menurut sejarawan Abu Al Fida’, pemerintahan Abbasiyah tengah

mengalami posisi kemerosotan, kekuasaan Arab di daerah kota Baghdad telah

hilang, atau hampir hilang, Spanyol tengah melakukan pemberontakan

melawan para pejabat muslimnya, Peter Sang Pertapa menyeru Eropa ke

dalam Perang Salib. Pada masa itu pula masyarakat (umum) terbagi menjadi

kelompok Syiah dan Sunnah berdasarkan perbedaan-perbedaan keagamaan

dan politik. Sementara aliran Asy’ariyah dan filsafat Skolastik Islam, dengan

mendapatkan dukungan dari orang-orang Seljuk, guna menentang terhadap

orang-orang Mu’tazilah. Rezim politik di daerah Baghdad sangat rumit dan

membingungkan. Satu sisi di dalamnya terdapat khalifah, yang luas

kekuasaannya sebatas penyebutan namanya pada shalat jum’at, dan di sisi

yang lain terdapat Sultan Seljuk, yang telah menguasai pasukan dan

politik.ij

Imam Al Ghazali mendengar tentang peristiwa kehancuran dan menimpa dunia Islam pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, yaitu peristiwa

12Hussein Bahreisi, Ajaran-ajaran Akhlak Imam A l Ghazali, Surabaya, Al Ikhlas, 1981, him. 17.

(33)

serangan yang dilakukan oleh tentara salib yang mengarah ke Raha (di lembah Eufrat) pada tahun 490 H dan di Antioch pada tahun 491 H. kemudian Jerussalem dapat dikuasainya pada tahun 492 H dan Tripoli (Libanon) pada tahun 495 H. Peristiwa-peristiwa ini tidak tercatat pada karya-karya Imam Al Ghazali sehingga dapat kritikan dari Zaki Al Mubarak. Tetapi Farid Jabre telah menemukan alasan untuk itu yaitu bahwa pada saat itu Imam Al Ghazali berada di Khurasan, yang letaknya jauh dari tempat pertempuran, dan pada saat itu kawasan-kawasan Islam semuanya terlibat dalam permusuhan dan pertikaian. Sedangkan perebutan kekuasaan antara para penguasa tidak kunjung usai dan peristiwa ini yang telah memisahkan orang-orang muslim di satu negeri dari berbagai peristiwa yang telah terjadi di negeri-negeri muslim yang lain. Dalam masa ini juga muncul ancaman teror kelompok Bathiniyyah yang telah merajalela, yang ujung-ujungnya berpuncak pada pembunuhan mereka terhadap Nizam al Muluk pada 485 H dan putranya. Fakhr al Dawla pada tahun 500 H dan juga terhadap Wazir dari Sultan Barkyaruq pada tahun 495 H.14

Masa Al Ghazali hidup, banyak sekali para pemimpin negara dan ulama-ulama sebagai penjilat yang menipu masyarakat guna memperoleh keuntungan-keuntungan dunia. Adapun bukti nyata peristiwa ini yaitu munculnya kitab Al Ghazali yang berjudul uAl Munqidz Minadh DhalaT’ (Pembebasan Kesesatan) yang ia telah berusaha membebaskan masyarakat dari kesesatan yang telah terjadi pada waktu itu. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya ualama pada masa itu yang saling mengadu kekuatan dengan

(34)

perdebatan untuk memamerkan ilmu dan agamanya, dibalik semua itu sebenarnya berkeinginan meminta sanjungan dari masyarakat, karena mereka itulah termasuk ulama-ulama yang mencari harta. Sehingga Al Ghazali menggambarkan masyarakat pada waktu itu sebagai orang-orang yang takwa tapi palsu, juga sebagai orang-orang sufi palsu yang akan menipu manusia dengan ketakwaannya, kedudukan para menteri dan raja-raja Islam pada masa itu kebanyakan berusaha memperalat rakyat guna berperang atas nama agama, sehingga terjadi perang saudara dalam Islam yang dipimpin oleh rajanya masing-masing, yang sebenarnya keadaan masyarakat Islam cukup baik, tetapi fitnah yang sengaja dikeluarkan oleh pemimpin-pemimpin mereka baik di Mesir, Siria, Irak, Khurasan dan lain-lain telah dikuasai oleh pemimpin- pemimpin yang tercela.15

D. Kondisi Pendidikan Pada Masa Al Ghazali

Abu Hamid Al Ghazali hidup pada masa Nizamul Mulk, seorang wazir besar dari kalangan Bani Saljuk, pada waktu itu wazir telah berhasil mendirikan sekolah-sekolah tinggi yang disediakan untuk memperdalam penyelidikan tentang agama dan perkembangannya. Ini membuktikan bahwa kondisi pendidikan pada masanya mengalami kemajuan.16

Abad ke 5/11 merupakan masa terjadinya konflik antara kelompok-

kelompok beragama dalam Islam, seperti halnya Mu’tazilah, Syi’ah,

Asy’ariyah, Hanafiyah, Hambaliyah, dan Syafi’iyah. Wazir Saljuk sebelum Nizham Al Mulk yaitu Al Kunduri salah seorang yang menganut mazhab

l5Hussein Bahreisj, op. cit., him. 18-19.

l6Hamka, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta, Pustaka Panjimas, 1993,

(35)

Hanafi dan pendukung Mu’tazilah, termasuk dari kebijakannya sebagai wazir adalah mengusir dan menganiaya para penganut asy’ariyah yang sering kali

juga berarti penganut madzhab Syafi’i. Al Kunduri selanjutnya digantikan

posisinya sebagai wazir oleh Nizham Al Mulk, salah seorang yang menganut

mazhab Syafi’i Asy’ariyah, oleh karena itu secara alamiah ia berhadapan

dengan kelompok yang bermadzhab Mu’tazilah, Hanbaliyah dan Hanafiyah.

Tidak ada bukti bahwa Nizham Al Mulk membalik kebijakan setelahnya

dengan melancarkan penganiayaan kelompok tertentu seperti kelakuan wazir sebelumnya. Tetapi Nizham Al Mulk sebagai seorang Syafi’iyah, seluruh

sekolahan yang ia bangun diperuntukkan secara khusus bagi penganut mazhab

yang sama. Jelas bahwa hal ini posisi mazhab Syafi’iyah Asy’ariyah menjadi

semakin kuat dan secara tidak langsung melemahkan. Walaupun para pengkaji

yang dahulu menyimpulkan bahwa pembangunan sekolah atau madrasah oleh

Nizham Al Mulk guna mengancurkan mazhab-mazhab lain terutama

Mu’tazilah dan Syiah. Hal ini tidak didasari alasan dan bukti yang kuat.

Bahwa dirinya menginginkan kuatnya posisi Syafi’iyah Asy’ariyah yang

sebelumnya telah dianiaya, tetapi hal ini tidak berarti Nizham Al Mulk menghancurkan yang lain. Jadi pada dasarnya, percekcokan kelompok inilah

yang melatarbelakangi usahanya lewat pembangunan sekolah, guna

memperbaiki keadaan kelompok yang bermazhab Syafi’iyah Asy’ariyah guna mencapai stabilitas yang diinginkan dengan jalan pendidikan.17

(36)

Melihat hal tersebut penulis mengambil ungkapan bahwa Imam Al Ghazali hidup pada masa yang didalamnya telah dikuasai oleh pemimpin yang tidak mengambil tindakan kekerasan pada pemerintahannya, tetapi seorang pemimpin yang bernama Nizham Al Mulk lebih menyukai jalan pendidikan dalam usahanya untuk memenangkan pertikaian antar kelompok beragama juga di masa Imam Al Ghazali adalah masa yang telah berkembang lembaga- lembaga pendidikan walaupun di dalamnya terdapat berbagai macam perselisihan.

Teladan yang dilakukan oleh Nizham Al Mulk segera menjadi

terkenal. Para penguasa, bangsawan juga para hartawan lainnya segera

mengikuti tindakannya dengan mendirikan berbagai sekolah. Jika Nizham Al

Mulk membangun sekolahnya untuk golongan Syafi’iyah maka pada waktu

selanjutnya para mazhab lainnya masing-masing juga membangun jaringan

sekolahnya sendiri guna mendukung penyebaran ajarannya.18

E. Hasil Karya-karya Al Ghazali

Al Ghazali adalah seorang ulama yang produktif dalam menyampaikan

pemikirannya lewat tulisan-tulisan (karya ilmiah) yang banyak jumlahnya.

Diantara karya-karyanya yaitu : 19

1. I h ya ' U lu m u d d in

Kitab ini telah diterbitkan ribuan kali, diantaranya di Bulaq tahun 1269, 1279, 1282, 1289 H. juga diterbitkan di Istambul tahun 1321 H, di Teheran 1293 H dan diterbitkan Darul Qolam Beirut tanpa disebutkan tahunnya.

"Ibid., him. 55.

(37)

2. Al Adab Fid Diin

Kitab ini diterbitkan satu edisi dengan kumpulan risalah Al Ghazali (Maimu'ur Rasa'il) di Kairo tahun 1328 H/1910 M.

3. Kitabul Arbai'in Fi Ushuluddin

Terbit di Kairo, tahun 1328 H/1910 M, dan diterbitkan pula oleh al Maktabah at Tijariah Kairo, tanpa tahun.

4. A susul Qixas

Kitab ini terbitan Mesir tahun 1324 H/1907 M. 5. Al lstidraj

6. A sraru Mu 'amalatud Din 7. Al Iqtishadfil I'tiqad

Diterbitkan oleh Musthafa al Qabbany, Kairo, tahun 1320 H

8. Iljamul 'Awam 'an 'llmil Kalam. Diterbitkan di Istambul tahun 1278 H, di Kairo tahun 1303 H, 1309 H, dan 1350 H, atas jasa Muhammad Ali Athiyah al Katby, serta tahun 1351 H, diterbitkan pula oleh Idaratul Muhiriyah.

9. Al Imla' 'ala Musykilil Ihya' 10. Ayyuhal Walad

Terbit dalam satu kumpulan edisi di Kairo, tahun 1328 H. Di Istambul juga terbit pada tahun 1305 H, dan di Qazan tahun 1905 M, dengan terjemah bahasa Turki oleh Muhammad Rasyid. Diterjemahkan juga ke dalam bahasa Jerman oleh Hammer Y di Wina tahun 1837 M. diterjemahkan pula ke da!am bahasa Prancis dalam publikasi edisi khusus UNESCO tahun 1951 M, dengan judul Traite du Disciple

(38)

12. Bidayatul Hidayah

Diterbitkan oleh Bulaq tahun 1287 H, Kairo 1277 H, dan 1303 H. Dalam

terbitan yang disertai catatan-catatan Muhammad an Nawawi al Jary, terbit

di Kairo tahun 1308 H, Bulaq 1309 H, Lucknow 1893, Kairo 1306, 1326

H lerbit di Madaby 1326 H, Kairo 1353 H, Maktabatul Qur'an juga menerbitkan pada tahun 1985.

13. Al Basil h fiil Furu'

14. Ghayatul Ghaur f i Dirayai id Daur

15. Al Ta'wilaat

16. Al Tabbarrul M asbukfi Mashaihil Muluk

Kitab ini aslinya berbahasa Persia, dengan judul "Nashihatul Muluk'’, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ali bin Mubarak bin

Mauhub, kemudian diterbitkan di Kairo tahun 1277 H.

17. Tahshinul Maakhidz 18. Talbis Iblis

19. At Ta'liqatf i Furuil Madzhab

20. Faishal at Tafriqah Bainal Islami was Zindiqoh

21. Tofsirul Qur'anil Adzim 22. Tahafutul Faiasifah

Diterbitkan di Kairo, tahun 1302 H, 1320 H, 1321 H, dan tahun 1955 M. juga telah diterbitkan di Bombay pada tahun 1304 H.

(39)

24. Jaw abui Ghazaly 'an Da'wati Mu'ayyidil Muluk Lahu LI Mu'aw adati at Tadris bin Nidzamiyah f i Baghdad

25. Al Jawahir al Lali'y fi Mutsailatsil Ghazaly 26. Jawahirul Qur'an wa Duraruh

27. Hujjatul Haq 28. Haqiqatul Qur'an 29. Haqiqatul Qaulaini

30. Al Hikmah f i Makhluqatillah Azza wa Jalla 31. Khulashatul Mukhtashar wa Niqauhul Mu’tashar 32. Ad Durjul Marqum bil Jadawil

33. Ad Durratul Fakhir ah f i Kasyfi Ulumil Akhir ah 34. Ar Risalatul Wa'dziyah

Dinamakan pula dengan "Al Wa'dziah" dan "Mawaidzul Ghazaly",

diterbitkan di Kairo, 1343 H.

35. Zaad Akhirat

36. Sirrul A lamin wa Kasyfu Maafid Darain

Diterbitkan di Bombay tahun 1314 H, Kairo tahun 1343 dan 1327 H, juga

telah diterbitkan di Teheran tanpa menyebutkan tahun

37. Syifaul Ghalil Fil Qiyas wat Ta’lil 38. Qawashimul Bathiniyah

39. Al Kasyfwat Tabyin f i Ghururil Khalq Ajma'in

Telah dicetak dalam bentuk Hamisy kitab Tambihul Maghrurin karya Asy

(40)

40. Kirnya' As Sa'adah

Diterbitkan oleh Hijr di Luctenaw tahun 1279 H dan di Bombay tahun

1883 M.

41. Lubabun Nadzar

42. Mihakkun Nadzar fil Fiqh

43. Al Mustashfa fi Ilmil Ushul

Diterbitkan di Bulaq tahun 1322, dalam bentuk dua juz

44. Al Mustadzhirfir Radd 'Alal Bathiniyah

45 .A l Munqidz Minadh Dhalal

Telah dicetak di Istambul, tahun 1286 H dan 1303 H, kemudian di Kairo

tahun 1309 H.

46. Al Wajiz

Kitab ini telah diterbitkan di Kairo oleh penerbit al Muayyad, tahun 1317

dengan bentuk dua juz

47. Al Wasith

48. Raudhatuth Thalibin w a Umdatus Salikin

Telah diterbitkan oleh Darul Fikr Beirut dalam edisi Majmu'at Rasailil

Imam Al Ghazali tahun 1996

49. Ar Risalatul Laduniyah

Dan masih banyak lagi ratusan karya Imam Al Ghazali yang belum

(41)

A. Sistematika Penulisan Kitab A y y u h a l W ahid

Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al Ghazali memiliki sistematika penulisan yang agak berbeda dengan kitab-kitab lainnya, pertama-tama adalah

halaman judul yang diikuti dengan nama pengarangnya yaitu Imam Abu

Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali.

Halaman berikutnya adalah tentang latar belakang penulisan kitab

Ayyuhal Walad. Dengan gaya bahasa yang halus dan sopan penulisannya didahului dengan bacaan basmalah dan hamdalah kemudian diikuti dengan

penjelasan tentang permulaan kejadian yang mendorong untuk penulisan

kitab Ayyuhal Walad tersebut.

Pembahasan berikutnya tentang materi yang berhubungan dengan

akhlak anak didik yang diakhiri dengan materi do'a. Kitab tersebut, menjelaskan sistem pergantian antara pembahasan masalah yang satu dengan

pembahasan masalah yang lain tidak ditandai dengan bab-bab tertentu yang

sesuai dengan pembahasan masalah, tetapi ditandai dengan kalimat ^

(wahai anak) kemudian baru menyampaikan materi yang disampaikan.

Lebih simpelnya, sistematika penulisan kitab Ayyuhal Walad dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

(42)

1. Halaman Judul

2. Latar Belakang Penulisan Kitab

3. Isi atau kandungan kitab, yang diakhiri dengan do'a.

B. Latar Belakang Penulisan Kitab A y y u h a l W alad

Kitab Ayyuhal Walad yang telah ditulis oleh Imam Al Ghazali dilatar belakangi dari salah satu murid (yang tidak disebutkan namanya) yang selalu

memberikan pelayanan kepada Syekh Al Imam Zamuddin Hujjatul Islam Abu

Hamid bin Muhammad Al Ghazali, ia telah sibuk dengan menghasilkan dan

membaca ilmu di hadapan beliau. Sehingga ia berhasil mengumpulkan

berbagai macam ilmu yang lembut serta telah berhasil menyempurnakan

beberapa keutamaan jiwanya.

Siswa tersebut, pada suatu hari merenung dan berfikir tentang keadaan

jiwanya serta berkata-kata dalam hati dengan mengucapkan : “Saya telah

membaca berbagai macam ilmu, dan mengarahkan keutamaan umurku untuk mempelajari dan mengumpulkannya. Sekarang sebaiknya bagiku mengetahui

manakah ilmu yang bermanfaat bagi saya di kemudian hari serta

menjadikanku tentram di dalam kuburku? Dan apakah ilmu yang tidak

memberikan manfaat bagi saya, sehingga saya meninggalkannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. 1

(43)

Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat”.

Renungan fikiran tersebut terus menerus berada pada jiwanya,

sehingga pada akhirnya ia mengirim sepucuk surat kepada gurunya yaitu

Hujjatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al Ghazali, isi surat tersebut yaitu :

“Meskipun kitab-kitab Syekh seperti Ihya' dan lain sebagainya telah memuat jawaban masalah-masalah saya, tetapi saya berkeinginan agar Syekh menuliskan kebutuhan saya pada beberapa lembaran-lembaran yang ada bersamaku selama hidup, dan dengan isinya Insya Allah saya akan mengamalkan selama masih hidup”. Maka kemudian Syekh Imam Al Ghazali menulis kitab Ayyuhal Walad sebagai jawaban dari surat yang telah dikirimkan oleh salah satu siswa beliau tersebut”.* 3

C. Pokok Bahasan; Konsep tentang Pendidikan Akhlak Anak Didik

Imam Al Ghazali dengan pemikirannya dalam kitab Ayyuhal Walad lebih menekankan pada aspek akhlak yang harus ditanamkan pada anak didik

supaya memiliki jiwa yang tenang dan tidak khawatir untuk menghadapi

kehidupan selanjutnya yakni di akhirat.

Dua jalur komunikasi yang sangat penting untuk dihadapi manusia

dalam kehidupannya yaitu jalur fertikal dan dan horisontal. Jalur fertikal adalah jalur komunikasi antara manusia dengan Tuhannya, sedangkan jalur horisontal adalah jalur komunikasi antara manusia dengan alam sekitarnya,

2 Al Hafidz Abi Abdillah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah, Juz I, Beirut Libanon, Dar Al Kitab Al llmiyah, him. 92

(44)

terutama dengan manusia itu sendiri.4 5 Begitu pula dengan pemikiran Imam Al

Ghazali tentang pendidikan akhlak anak dalam kitab Ayyuhal Walad juga memuat dua jalur baik fertikal maupun horizontal, sebagaimana yang akan disajikan sebagai berikut.

1. Akhlak Anak Didik kepada Tuhan

a. Beriman kepada Allah

Imam Al Ghazali dalam membentuk akhlak anak kepada tuhan

dengan cara mengajarkan iman kepadanya. Sedangkan iman itu sendiri

menurut beliau harus memenuhi tiga sarat yaitu:

1) Iman harus dibuktikan dengan ucapan lisan.

2) Iman harus dibuktikan dengan pembenaran dalam hati.

3) Iman harus dibuktikan dengan perbuatan anggota badan.

Sebagaimana keterangannya yaitu:

Artinya: Iman adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dengan anggota badan dalil- dalilnya amal itu lebih banyak daripada sesuatu yang dibatasi, walaupun hamba itu bisa masuk surga dengan anugrah dan kemulyaan Allah tetapi setelah mempersiapkan dengan ketaatan kepada Allah dan beribadah kepadaNya.

(45)

Karena sesungguhnya rahmat Allah itu sangat dekat dari orang-orang yang berbuat baik.

b. Taat dan Beribadah kepada Allah

Imam Al Ghazali dalam menasihati anak didik senantiasa

mengandung nilai ibadah dan bentuk ketaatan, yaitu mengikuti segala

sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah yang telah membuat syariat Islam, dalam arti mengikuti maupun mengerjakan perintah-

perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, yang diwujudkan

dalam bentuk ueapan dan perbuatan dari anak didik.

Jadi semua apa yang diucapkan maupun yang dikerjakan dan

yang ditinggalkan anak didik diharuskan sesuai dengan syariat Islam. Seperti contoh puasa di hari raya (fitri dan adha) dan hari tasriq, itu

semua di kategorikan sebagai bentuk kemaksiatan. Contoh yang lain

yaitu melaksanakan sholat dengan menggunakan pakaian dari hasil

ghasab, walaupun kelihatannya ibadah tetapi mendapatkan dosa. Sebagaimana penjelasan beliau yaitu:

A-pliaJ! j l U j*!*» j l jjmll 1 jijil

(46)

j l j

i

^

wUXrf?

j \

< L*? U' vi^* ^j-U ^

6. pit i b U Artinya : Wahai anak, inti sari ilmu yaitu apabila engkau mengetahui

apa itu taat dan ibadah, ketahuilah bahwa taat dan ibadah itu adalah mengikuti terhadap yang membuat syari’at (aturan agama) baik itu perintah-perintahNya maupun larangan- laranganNya, dengan ucapan maupun perbuatan serta apa yang kamu tinggalkan itu semua mengikuti syari’at (aturan- aturan agama). Seperti halnya kamu puasa di hari raya dan hari-hari tasyriq maka kamu termasuk maksiat, atau apabila kamu melaksanakan sholat memakai pakaian yang kamu ghasab walaupun bentuknya ibadah tetapi engkau berdosa.

c. Menambah Ketaatan dengan Ibadah Sholat Tahajud, Membaca Al

Qur’an dan Beristigfar.

Waktu malam merupakan waktu untuk beristirahat bagi

manusia dengan tidur di malam hari. Tetapi Imam Al Ghazali

mengajarkan kepada anak didik supaya tidak memperbanyak tidur di

malam hari, karena menurut beliau bahwa banyak tidur di waktu malam itu akan menyebabkan pelakunya menjadi fakir di hari kiamat

yang akan datang.

Imam Al Ghazali memberikan jalan alternatif untuk mengisi

malam sebagai ganti dari memperbanyak tidur dengan melaksanakan

sholat tahajud sebagai perintah dari Allah SWT, kemudian membaca

istighfar sebagai bukti bersyukur kepada Allah SWT sedangkan orang- orang yang beristighfar atau mohon ampun kepada Allah SWT adalah

(47)

orang yang berzikir atau ingat kepada Allah, dan membaca Al Qur'an.

Artinya: Wahau fulan janganlah engkau memperbanyak tidur di waktu malam, karena sesungguhnya banyaknya tidur di malam hari akan menyebabkan pelakunya menjadi fkair di hari kiamat. Wahai anak ingatlah firman Allah yang artinya : di sebagian waktu malam, sholatlah tahajjud sebagai tambahan bagimu, ini adalah perintah, dan di waktu sahur orang-orang sama-sama memohon ampun, ini adalah syukur, dan orang-orang yang membaca istighfar, ini adalah zikir, Nabi saw bersabda ada tiga suara yang disukai oleh Allah yaitu suara ayam jago, suara orang yang membaca Al Qur'an dan suara orang yang membaca istighfar di waktu sahur.

2. Akhlak Anak Didik Terhadap Sesama Manusia

Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa ilmu tasawuf itu ada dua yaitu :

a. Selalu menghambakan diri kepada Allah SWT

b. Tenang dalam menghadapi masyarakat

Jadi orang yang selalu menghambakan diri kepada Allah dan

berbudi pekerti baik terhadap masyarakat disebut orang sufi.

7 Ibid., him. 31-32

(48)

Menurut Imam Al Ghazali bahwa berbudi pekerti baik terhadap masyarakat itu dengan cara tidak mempergauli dengan membebani atau

mengharuskan masyarakat untuk menurut kepadanya. Tetapi sebaliknya

dirinyalah yang seharusnya menuruti keinginan masyarakat selagi mereka

tidak menyalahi atau melanggar syari’at (peraturan-peraturan agama)

^ L»

^S '

J

j

b

P

Artinya : Kemudian ketahuilah bahwa ilmu tasawuf itu memiliki dua tingkah yaitu istiqamah (selalu) beribadah kepada Allah dan tenang (tabah) menghadapi masyarakat, maka barang siapa istiqamah olehnya beribadah kepada Allah azza wajalla, baik budi pekertinya terhadap masyarakat dan mempergauli dengan lemah lembut, orang itulah ahli tasawuf, yang dinamakan istiqamah yaitu apabila orang menebus bagian nafsunya terhadap perintah Allah SWT dan baik budi pekertinya dengan sesama manusia, itu apabila kamu tidak membebani manusia untuk menuruti keinginanmu, tetapi dirimulah yang menuruti kehendak masyarakat selagi tidak melanggar syari ’at.

(49)

3. Akhlak Anak Didik Terhadap Gurunya a. Kriteria guru yang baik

Imam Al Ghazali dalam membentuk akhlak anak didik sangat

memperhatikan faktor guru atau pendidik, beliau menganjurkan

terhadap anak didik supaya memiliki guru yang mampu mendidik dan menunjukkan untuk mengeluarkan budi pekerti yang buruk dengan

proses pendidikan. Kemudian seorang guru juga sebagai orang yang

mampu menggantikan budi pekerti yang buruk dengan menanamkan

budi pekerti yang baik terhadap anak didik.

\A>-Artinya : Sebaiknya bagi orang yang belajar (salih) memiliki guru yang mampu mendidik dan menunjukkan untuk mengeluarkan budi pekerti yang buruk darinya dengan proses pendidikan, serta menjadikan tempat akhlak buruk tersebut dengan ganti akhlak yang baik.

b. Menghormati guru

Seorang murid sangatlah beruntung apabila mendapatkan guru

yang mampu mendidiknya sehingga memiliki akhlak yang mulia.

Kemudian Imam Al Ghazali juga memberikan arahan kepada anak

(50)

1) Memuliakan secara lahir yaitu seorang murid hendaknya tidak mendebat gurunya dan tidak menyibukkan diri mencari alasan

lain dari gurunya pada tiap-tiap masalah walaupun mengetahui

bahwa gurunya salah. Anak didik tidak diperbolehkan

membentangkan sajadah milik gurunya dihadapannya kecuali

pada waktu melaksanakan sholat, apabila gurunya sudah selesai

sholat maka anak didik mengangkat sajadahnya, anak didik tidak

diperbolehkan memperbanyak sholat sunnah disamping gurunya,

anak didik hendaknya melaksanakan amal yang diperintahkan

gurunya menurut waktu luang dan kemampuannya.

2) Memuliakan secara batin yaitu :

- Anak didik hendaknya tidak mengingkari dengan batinnya

semua apa yang diterima dari gurunya baik itu berupa

perbuatan maupun ucapan, dengan tujuan supaya tidak ada

tanda-tanda munafik pada dirinya.

Apabila anak didik tidak kuat melaksanakan apa yang

diperintahkan gurunya supaya ia meninggalkan gurunya

sampai batinnya bisa sesuai dengan lahirnya sehingga bisa memuliakan gurunya.

Hendaklah murid bisa menjaga dari berteman dengan orang yang jelek budi pekertinya, supaya anak didik bisa mencegah

(51)

j J ^Uai l S->-\ L«l \jW i j I j l aI^j memuliakan gurunya lahir maupun batin. Adapun memuliakan lahir yaitu murid tidak mendebat gurunya dan tidak sibuk membuat alasan dari gurunya pada tiap- tiap masalah walaupun mengetahui bahwa gurunya salah. Tidak membentangkan sajadah gurunya dihadapannya kecuali pada waktu melaksanakan shalat, apabila selesai shalat maka ia mengangkat sajadah gurunya. Tidak memperbanyak shalat sunnah disamping gurunya. Mengerjakan apa yang diperintahkan gurunya dengan sekedar waktu luang dan kemampuan. Sedangkan memuliakan secara batin yaitu setiap sesuatu yan didengar dan diterima dari gurunya tidak diingkarinya dengan batinnya baik berupa perbuatan maupun ucapan, supaya tidak membuat tanda munafik apabila tidak kuat melaksanakan perintah gurunya supaya ia meninggalkan dari menemani gurunya

(52)

sehingga batinnya cocok dengan zahirnya. Dan menjaga dari berteman dengan orang yang buruk untuk mempersempit kekuasaan setan, jin, dan manusia dan lubuk hatinya. Kemudian dibersihkan dari jiratan kotoran setan.

4. Akhlak Terhadap Ilmu a. Giat dalam belajar

Imam Al Ghazali dalam menasehati anak didik menganjurkan

untuk memanfaatkan malam supaya dipergunakan untuk belajar

dengan cara mengulang-ulang ilmu dan mempelajarinya, sehingga

ilmu yang diperoleh tidak dilupakan begitu saja. Dengan aktivitas

belajar dan mengulang-ulang kitab di malam hari tentu saja waktu

malam tidak hanya dipergunakan untuk tidur saja.

S J \1 X .J j J J I j l / 1 \ ^ \ J U J , f : jJ jil y

" rjd l J L - i / p Artinya : Wahai anak, berapa (banyak) kamu menghidupkan malam

dengan mengulang-ulang ilmu, muthalaah beberapa kitab dan jagalah dirimu dari tidur.

b. Mengamalkan ilmu

Imam Al Ghazali menghendaki supaya anak didik tidak

mengalami kerugian yang disebabkan tidak melaksanakan suatu amal

perbuatan, sehingga anak didik tersebut mempunyai aktivitas sesuai dengan posisinya sebagai pelajar.

(53)

i2u u . j \ > v \ u i . ^ j y t y Artinya : Wahai anak, janganlah kamu menjadi orang yang rugi amal

(tidak memiliki amal) dan janganlah menjadi orang yang sepi dari tingkah (gerak hati)

Imam Al Ghazali juga menjelaskan bahwa ilmu yang banyak

dibaca bahkan sampai seribu masalah yang dipelajarinya, tetapi tidak

ada pengamalan dari ilmu tersebut maka tidak ada manfaatnya bagi

orang yang memilikinya. Jadi ilmu dicari bukan hanya untuk

diketahui saja melainkan juga untuk diamalkan.

13 0 I Aji 1«

Artinya : Apabila ada orang yang membaca seratus ribu masalah dan sudah dipelajarinya, sedang ia tidak mengamalkannya maka ia tidak akan memperoleh manfaat ilmu tersebut kecuali dengan mengamalkannya.

Mengamalkan ilmu adalah suatu perkara yang harus dilaksanakan, dalam masalah ini Imam Al Ghazali mencontohkan

bahwa orang-orang yang beruntung dan menjadi penghuni surga

Firdaus adalah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dengan mengutip Al Qur'an surat Al Kahfi ayat 107 dan 108 yang berbunyi

12 Ibid. 13 Ibid.

14

• p_i> IjAaPj jJI ij] 12 13 14

(54)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.15

5. Akhlak yang Baik dan Akhlak yang Tercela

a. Akhlak yang baik (mahmudah)

Akhlak yang baik adalah akhlak yang harus dikerjakan dan

pelakunya akan menjadi orang terpuji, Imam Al Ghazali memberikan

beberapa contoh akhlak yang baik antara lain :

1) Sabar

2) Melaksanakan sholat

3) Bersyukur

4) Bertawakal

5) Berkeyakinan (memiliki kemantapan)

6) Qana 'ah (menerima)

7) Tenang j i wanya (hatinya)

8) Bersifat santun

9) Tawadhu ’ (andap asar) 10) Bersifat malu

11) Menepati (janji) 12) Memiliki kesopanan

13) Tenang

14) Tidak tergesa-gesa

(55)

jvLsJlj Syw^ aJ ij -+m\£

-3«X^ailj p-lA-lj

#>

AJ^jIAp j A-plAilj

j &j SIj -lijSlj

Artinya : Contohnya akhlak yang baik seperti sabar, sholat, syukur, tawakkal yaqin, qana’ah, tenang jiwanya, santun, tawadhu’, mengetahui, benar, malu, menepati, sopan, tenang, dan tidak tergesa-gesa.

Termasuk daripada akhlak yang baik menurut Al Ghazali adalah ikhlas yaitu apabila seluruh amal yang dikerjakan hanya karena Allah SWT dan tidak condong di dalam hatinya untuk mendapatkan pujian dari manusia dan tidak memperdulikan celaan dari mereka.

y Au uAlL-pl

J U %

Artinya : Ikhlas yaitu apabila semua amalmu hanya karena Allah SWT dan harimu sama sekali tidak condong pada pujian manusia dan tidak memperdulikan celaan mereka.

b. Akhlak yang tercela (mazmumah)

Akhlak yang tercela adalah akhlak yang harus dihindari dan tidak dilaksanakan. Apabila dilaksanakan maka pelakunya sebagai orang yang tercela. Kemudian Imam Al Ghazali memberikan contoh beberapa akhlak yang tercela antara lain :

Referensi

Dokumen terkait

Sc dang metode penyampaian materi pendidikan akhlak anak dalam kitab Al Akhlak Li al Banin adalah dengan menggunakan 6 metode yaitu :. metode nasehat, metode