DALAM KITAB
AL AKHLAK U A L BANIN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
NIM. 111 02 008
JURUSAN T ARBI YAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
Website : \v \v\v.stainsa 1 a 1 i»a.ac.id E-mail: [email protected]
D E K L A R A S I
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa
skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah
diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang
lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan
rujukan.
Apabila di kemudian hari temyata terdapat materi atau pikiran-pikiran
orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup
mempcrtanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang
munaqosvah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.
Salatiga, Januari 2007
Peneliti
MU Y A S I R O H NIM. 111 02 008
NOTA PEMBIMBING Salatiga, Januari 2007 Lamp. : 3 eksemplar
Hal : Naskah Skripsi Kepada Yth.
Sdr. Muyasiroh Ketua STAIN Salatiga
di
-SALATIGA
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan
seperlunya, maka skripsi Saudari:
Nama : Muyasiroh
NIM. : 111 02 008
Jurusan : Tarbiyah
Progdi : PAI
Judul : KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK ANAK
MENURUT UMAR IBNU AHMAD BARADJA
DALAM KITAB AL AKHLAK LI AL BANIN
Sudah dapat diajukan dalam sidang munaqasah.
Demikian surat ini, harap menjadikan perhatian dan digunakan
sebagaimana mestinya.
Wassalamu ’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing
NIP. 150 247 014
SALATIGA
Jl. Stadion No. 2 Salatiga (0298) 323706
PE N G E SA H A N
Skripsi Saudari : Muyasiroli dengan Nomor Induk Mahasiswa : 11102008
yang berjudul KONSEP PENDID1KAN AKHLAK ANAK MENURUT
UMAR IBNU AHMAD BARADJA DALAM KITa B AL AKHLAK LI AL BAN IN telah dimunaqosahkan dalam Sidang Panitia Ujian, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, pada hari Sabtu, 10 Februari 2007
yang bertepatan dengan tanggal 22 Muliarram 1428 H. Dan telah diterima sebagai
bagian dari syarat syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I).
Salatiga, 10 Februari 2007 M 22 Muharram 1428 H
Panitia Ujian
Pembimbing
NIP. 150 247 014
^ e ’ltaqwalah dimanapun J ln d a be\ada
kBukanbib keindaban itu kalena baju yang mengbiasi kita
Karya ini penulis persembahkan untuk :
• Ayahanda dan Ibunda tercinta yang tak pemah henti-hentinya memberikan
do’a dan jalan petunjuk untuk meraih kesuksesan hidup
• Kakak tercinta yang setiap hari dengan kesabaran dan kasih sayang
mengantarkan saya dan istrinya yang memberi semangat dan dukungan dalam
menuntut ilmu
• Keponankanku tersayang yang selalu menghibur hatiku
• Para guru terhormat yang telah memberikan jembatan hati.
Teriring rasa syukur alhamdulillah atas pertolongan, bimbingan dan
hidayah Allah Yang Maha dari segala Maha, penyusun dapat menyelesaikan
penulisan skripsi. Salam sejahtcra dan bahagia semoga selalu dilimpahkan kepada
Nabi Muhammad saw, segenap keluarga, sahabat dan para pengikutnya.
Skripsi yang berjudul : “Pendidikan Akhlak Anak Menurut Umar Ibn
Ahmad Baradja dalam Kitab A1 Ahlaq Li A1 Banin” ini, disusun guna memenuhi
salah satu syarat dalam rangka mcmperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.l) dalam
Jumsan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Penyusunan skripsi ini mclibatkan banyak pihak, oleh karena itu sudah
sepantasnva apabila penyusun berterima kasih kepada yang terhormat:
1. Drs. Imam Sutomo, M.Ag, selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Salatiga.
2. Fatchurrohman, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga.
3. Dr. H.M. Saerozi, M.Ag selaku pembimbing yang penuh kesabaran
membimbing penulis sehingga terwujudlah skripsi ini.
4. Seluruh bapak dan ibu dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)
Salatiga, khususnya Drs. Miftahuddin, M.Ag (terima kasih atas ide serta
bimbingannya). Juga segenap staf perpustakaan STAIN yang juga telah
berpartisipasi dalam penyusunan skripsi ini.
yang berarti pula penulis dapat menyelesaikans tudi di Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN) Salatiga.
6. Keluarga Umar Baradja yang senantiasa membantu mencarikan referensi
tentang Umar Baradja, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
7. Teman-teman seperjuangan PAI angkatan 2002 yang selalu memberi
scmangat.
8. Tcrakhir kepada sernua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung
telah membantu penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dalam
kcscmpatan kali ini, atas sernua dorongan dan bantuannya baik moral maupun
materi dalam penyusunan skripsi ini.
Pada akhimya penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini belum
mencapai kesempumaan yang diharapkan. Namun demikian, penulis berharap
semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya terutama orang-orang yang bergelut di dunia pendidikan.
Salatiga, Januari 2007
HALAMAN JUDUL... :... i
DEKLARASI ... ii
NOTA PEMBIMBING... iii
PENGESAHAN ... iv
MOTTO... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR... vii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian... 4
D. Manfaat Penelitian... 4
E. Telaah Pustaka... 5
F. Fokus Penelitian ... 5
G. Metode Penelitian... 6..
H. Sistematika Penulisan Skripsi... 8
BAB II BIOGRAFI DAN SETTING SOSIAL UMAR IBNU AHMAD BARADJA A. Biografi Umar Ibn Ahmad Baradja... 10
1. Riwayat Hidup Umar Ibn Ahmad Baradja... 10
2. Pendidikan Umar Ibn Ahmad Baradja... 11
4. Karya-Karya Umar Ibn Ahmad Baradja... 16
B. Latar Belakang Penulisan K itab... 17
BAB III ISI POKOK PEMIKIRAN UMAR IBN AHMAD BARADJA
DALAM KITAB AL AKHLAK LI ALBAN1N
A. Konsep Pokok Kitab Al Akhlak Li al Banin... 20
1. Materi Kitab Al Akhlak Li al Banin... 20
2. Metode Pendidikan dalam Kitab Al Akhlak Li al Banin .. 46
3. Tujuan Pendidikan Akhlak anak dalam Kitab Al Akhlak
Li al Banin ... 51
BAB IV RELEV ANSI PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DI DALAM
KITAB AL AKHLAK LI AL BANIN DENGAN
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
A. Relevansi Materi Pendidikan Akhlak Anak... 52
B. Relevansi Metode Pendidikan Akhlak Anak... 64
C. Relevansi Tujuan Pendidikan Akhlak Anak... 68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan... 70
B. Saran-saran ... 71
C. Penutup... 72
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN
A. Latar Bclakang Masalah
Menjelang era millenium ketiga Indonesia diguncang oleh prahara
yang tidak terbayangkan sebelumnya. Konflik kekerasan berujud perusakan,
pcmbakaran, penganiayaan dan pembunuhan yang tiba-tiba muncul di mana-
mana. Seakan memupus citra bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang ramah
tamah.1 Diantara kerusakan tersebut adalah peristiwa Situbondo, peristiwa di
Bangkalan, Ambon, Poso dan yang lainnya.
Namun, ketidakadilan, kekerasan dan kesewenangan penguasa tetap
mcwamai negeri ini. Korupsi, premanisme dan narkoba semakin merajalela di
tanah air ini. Aparatpun ada yang memakai dan mengedar narkoba. Selain itu
banyak aparat yang melakukan tilang di jalan raya, melindungi perjudian.
bisnis ilegal, bisnis amoral dan lain-lain.1 2
Penguasa yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat berubah
menjadi pemeras masyarakat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi
sebanyak-banyaknya. Contoh : masyarakat yang ingin mendapatkan pclayanan
publik yang servis cepat dan memuaskan, harus mengeluarkan uang pelicin,
itupun kadang masih dipersulit dan berbclit-belit.3 Penguasa menelantarkan
1 M. Zainudin Daulay, dkk., Konflik Sosial Bernuansa Agama, Reka Studiografis, Jakarta, 2002, him. 125
2 M. Arief Hakim, Bahaya Narkoba Alkohol, Nuansa, Bandung, 2004, him. 16
3 Antonius Sujata, Komisi In i Tekan Perilaku Korupsi, Forum Keadilan, 11-17 September 2006, him. 62
rakyat tlcngan membuat kcbijakan yang merugikan rakyat; seperti menggusur
rumah rakyat, menaikkan tarif kesehatan, mencabut subsidi BBM.4
Sedangkan di kalangan remaja isu-isu moral semakin merebak dimana-
mana seperti : penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba),
minum-minuman keras, tawuran remaja, pomografi, perkosaan, merusak milik
orang lain, perampokan, penipuan, pengguguran kandungan, penganiayaan,
pcrjudian, pelacuran, pembunuhan dan lain-lain. Pada garis besamya
kenakalan remaja tersebut merupakan masalah-masalah sosial yang dirasakan
sangat mengganggu kehidupan masyarakat baik di kota maupun di pelosok
desa. Akibatnya sangat memilukan, kehidupan masyarakat menjadi resah,
perasaan tidak aman bahkan sebagai anggota-anggotanya menjadi terasa
terancam.5
Hal tersebut bukan semata-mata karena kesalahan pribadi. Namun ada
banyak faktor yang melatar belakanginya. Faktor-faktor tersebut antara lain
adalah kurangnya penanaman nilai agama dalam keluarga khususnya dari
orang tua, kurang perhatian orang tua dalam mendidik tingkah laku anak.
Kemudian pengaruh dari pergaulan bebas yaitu pergaulan yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai moral dan agama. Faktor yang lainnya adalah ilmu tentang
akhlak belum begitu diperhatikan karena pendidikan akhlak dipandang
merupakan tanggung jawab orang tua, disamping itu yang tak kalah
pentingnya adalah referensi tentang akhlak di Indonesia masih minim.
4www.detik.com
Apalagi kajian-kajian akademik terhadap kitab-kitab yang bersifat
tradisional tidak pemah dilakukan. Jika ada itupun di dalam sekolah-sekolah
tcrtentu. Kajian kitab-kitab tradisional lebih banyak dilakukan oleh
lingkungan pokok pesantren. Karena memang pondok pesantren itu lembaga
pendidikan Islam yang lebih menitik beratkan kajian pada kitab-kitab
tradisional. Sebab orang-orang zaman dulu itu lebih banyak memperhatikan
tentang pendidikan akhlak. Sedangkan Indonesia sekarang ini cenderung
mengikuti pemikiran Barat, seperti dalam bidang pendidikan yaitu bersifat
sekular yang artinya mengarahkan anak didik pada masalah dunia dan materi
tanpa memperhatikan kepribadian anak didik setelah dewasa nanti dalam
menghadapi zaman yang penuh dengan tantangan.
Rendahnya akhlak di dalam masyarakat, generasi bangsa dan ditubuh
pejabat akan membawa kehancuran bangsa ini. Untuk menyelamatkan bangsa,
seluruh rakyat dari lapisan yang paling bawah sampai lapisan yang paling atas
harus dikembalikan kepada akhlak. Caranya membiaskaan anak dengan
akhlak yang baik sejak kecil agar tercipta generasi penerus yang memiliki
kepribadian yang sempuma dan dapat menghadapi tantangan hidup di zaman
sekarang.
Berangkat dari problematik tersebut di atas penulis termotivasi untuk
mengkaji lebih lanjut tentag pendidikan akhlak anak dengan mengacu
pemikiran seorang tokoh yang sangat memperhatikan pendidikan akhlak bagi
Li al Banin dengan judul Konsep Pendidikan Akhlak Anak Menurut Umar
Ibnu Ahmad Baradja dalam Kitab Al Akhlak li Al Banin.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang melatar belakangi Umar ibnu Ahmad Baradja menulis kitab
berjudul Al Akhlak Li al Banin ?
2. Bagaimana biografi Umar ibnu Ahmad Baradja ?
3. Bagaimana konsep pendidikan akhlak anak yang ada dalam kitab Al Akhlak Li Al Banin ?
4. Sejauhmana relevansi pemikiran Umar ibnu Ahmad Baradja dalam
konteks pendidikan Islam di Indonesia kontemporer ?
C. Tujuan Pcnelitian
1. Untuk mengetahui latar belakang Umar Ibnu Ahmad Baradja menulis
kitab berjudul Al Akhlak Li al Banin.
2. Untuk mengetahui biografi Umar Ibnu Ahmad Baradja.
3. Untuk mengetahui konsep pendidikan akhlak anak yang ada dalam kitab
Al Akhlak Li al Banin.
4. Untuk mengetahui relevansinya pemikiran Umar ibnu Ahmad Baradja
dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia kontemporer.
D. Manfaat Penclitian
Memberikan informasi dan dapat memperkaya wacana mengenai
pemikiran tentang seseorang ccndekiawan muslim Umar ibnu Ahmad Baradja
E. Telaah Pus taka
Untuk menghindari teijadinya telaah pustaka pengulangan hasil
temuan yang membahas permasalahan yang sama dari seseorang baik dalam
bentuk buku, kitab dan dalam bentuk tulisan yang lainnya, maka penulis akan
memaparkan beberapa buku yang sudah ada sebagai bandingan dalam
mengupas permasalahan tersbut sehingga diharapkan akan muncul penemuan
baru. Beberapa buku diantaranya :
Pertama yaitu Al Akhlak Li al Banin karya Umar Ibnu Ahmad Baradja
yang berisi tentang ajaran-ajaran akhlak anak, pengertian akhlak, dasar dan
tujuan pendidikan akhlak anak, dan metode akhlak anak.
Kedua yaitu Akhlak yang Mulia, Humaidi Tatapangarsa.
Ketiga yaitu buku Kaidah-kaidah Dasar karya Abdullah Nasih Ulwan
dimana didalamnya membahas tentang metode pendidikan anak, pedoman-
pedoman pendidikan anak.
F. Fokus Penelitian
Sebelum melangkah pada fokus penelitian sehingga pembatas terhadap
masalah yang diteliti di sini penulis perlu menjelaskan beberapa istilah yang
terkandung dalam judul skripsi, istilah-istilah yang akan dijelaskan makna
operasionalnya hanya istilahnya bersifat konseptual.
1. Pendidikan Akhlak Anak
Pendidikan akhlak anak adalah suatu bimbingan oleh si pendidik
terhadap anak didik dengan tujuan membentuk kebiasaan atau sikap yang
2. Al Akhlak Li al Banin
Al Akhlak Li al Banin adalah kitab yang diciptakan Umar Ibnu
Ahmad Baradja, pada bulan Dzulhijah 1372, yang terdiri dari Juz I, Juz II,
Juz III, Juz IV diterbitkan oleh Maktabah Muhammad Ibn Ahmad Nabhan
Waauladuha di kota Surabaya Indonesia.
Kitab ini diciptakan untuk murid-murid sekolah Islam di Indonesia.
Kitab Al Akhlak Li al Banin berisi tentang pelajaran-pelajaran akhlak bagi
anak, yang meliputi; kewajiban kepada Allah, kewajiban kepada Nabi,
kewajiban kepada orang tua, kewajiban kepada saudara, kewajiban kepada
teman, kewajiban kepada guru, akhlak mahmudah, akhlak mazmumah.
G. Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Sifat Penelitian
Sifat penyusunan skripsi ini adalah analisis yakni, cara pcnanganan
tcrhadap suatu obyek ilmiah dengan jalan memilah-milah pengertian yang
satu dengan pengertian yang lain.6 Analisis merupakan upaya untuk
mencari dan menata secara sistematis catatan hasil penelitian tentang
kasus yang diteliti yang menyajikan temuan bagi orang lain.7 Sedangkan
untuk meningkatkan pemahaman analisis perlu dilanjutkan dalam upaya
mencari makna.
r
i Jenis Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini menggunakan jenis studi
kepustakaan atau library research. Dalam arti bahwa bahan-bahan atau data-data penulisan skripsi ini diperoleh dari penelitian buku-buku dan
literatur-literatur yang berkenaan dengan topik yang sedang dibabas.
3. Sumber Data
Oleh karena penelitian ini termasuk penelitian pustaka atau library
research maka penelitian ini didasarkan pada studi kepustakaan. Adapun
sumber data dalam penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua macam
yaitu :
a. Sumber data Primer
Yaitu sumber data yang langsung berkaitan dengan obyek
riset.' Dalam penelitian ini sebagai sumber primernya adalah adalah
kitab Al Akhlak Li aI Bairn sekelumit riwayat hidup Umar Ibnu
Ahmad Baradja
b. Sumber data sekunder
Yaitu sumber data yang mengandung dan melengkapi sumber
data primer. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah
buku Akhlak Yang Mulia karya Ilumaidi Tatapangarsa, Sisiem Etika
Islanti karya Rachmad Djadmika. Pengantar Sutdi Akhlak karya
Asmaran, dan buku-buku lain yang isinya dapat melengkapi data
penelitian yang penulis teliti.
4. Teknik Pengolahan Data
Dalam hal Pengolahan data ini terdiri dari
a. Mengumpulkan data-data dan mengamatinya, terutama dari aspek
kelengkapan validitasnya dengan tema bahasan.
b. Mengklasifikasikan dan mendistematikan data-data, kemudian
diformalisasikan dengan pokok masalah yang ada.
c. Melakukan analisis lanjutan terhadap data-data yang telah
diklasifikasikan dengan menggunakan kaidah-kaidah dan teori-teori
yang sesuai sehingga memperoleh kesimpulan yang benar.
H. Sistematika Penulisan Skripsi
Penulisan ini dibagi menjadi lima bab yang perinciannya sebagai
berikut:
Bab 1 : PENDAHULUN
Dalam pendahuluan ini berisi : latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, fokus penelitian, metode
pcnelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II : Dalam bab ini dibahas masalah biografi dan seting sosial
pengarang meliputi tentang riwayat hidup Umar ibnu Ahmad
Baradja, Pendidikan, aktivitas Umar ibnu Ahmad Baradja,
karya-karya Umar ibnu Ahmad Baradja dan latar belakang
penulisan kitab.
Bab III : Isi Pokok Pcmikiran Umar Ibnu Ahmad Bardja dalam kitab
anak, metode pendidikan akhlak anak dan tujuan pendidikan
akhlak anak.
Bab IV : Analisis konsep pendidikan akhlak anak menumt Umar Ibnu
Ahmad Baradja (Relevansinya dengan pendidikan Islam di
Indonesia).
Bab V : Penutup
A. Biografi Umar Ibn Ahmad Baradja
1. Riwayat Hidup Umar Ibn Ahmad Baradja
Umar Ibn Ahmad Baradja Lahir di kampung Ampel Maghfur
Surabaya, pada tanggal 10 Jumadil Akhir 1331 H. bertepatan dengan 17
Mei 1913 M. Sejak kecil beliau dalam asuhan dan didikan kakeknya dari
pihak ibu, yang bemama Syeikh Hasan bin Muhammad Baradja, seorang
ulama ahli ilmu Nahwu dan Fiqih.
Silsilah nasab bangsa Baradja yang berasal dan berpusat di kota
Seiwoon, Hadramaut - Yaman adalah sebagaimana nenek moyang beliau
yang ke- 18 yang bemama Sheikh Sa’ad, laqob/julukannya Abi Raja (yang
selalu berharap), maka rantai ketumnan tersebut bertemu kepada kakek
Nabi Muhammad saw., yang ke-5 yang bemama : Kilab bin Murrah.
Umar Ibn Ahmad Baradja wafat pada hari Sabtu malam Ahad
tanggal 16 Rabiuts Tsani 1411/3 Nopember 1990 pukul 23.10 WIB di
Rumah Sakit Islam Surabaya, dalam usia 80 tahun. Dimakamkan keesokan
harinya, hari Ahad ba’da Ashar setelah disalatkan di Masjid Agung Sunan
Ampel, yang diimami oleh putra beliau. Jasad Ahmad Baradja
dimakamkan di Makam Islam Pegirikan Surabaya yang dihadiri lebih dari
seribu massa. 1 1
1 Biografi Umar Ibnu Ahmad Baradja diambil dari buku sekelumit riwayat hidup A1 Ustadz Umar bin Ahmad Baradja, Panitia Haul ke V, Surabaya
2. Pendidikan Umar Ibn Ahmad Baradja
Pada masa mudanya, A1 Ustadz Umar bin Achmad Baradja telah
menuntut ilmu agama dan bahasa Arab dengan tekun, sehingga menguasai
dan memahaminya. Pelbagai ilmu agama dan bahasa Arab yang beliau
dapatkan dari ulama/asatidz/masyaikh baik pertemuan langsung atau
melalui surat pada masa itu amat banyak.
Para alim ulama dan orang-orang saleh telah menyaksikan
kctakwaan dan kedudukan beliau sebagai ulama yang ‘amil (ulama yang
mengamalkcm ilmunya).
Beliau adalah salah satu alumni yang berhasil sukses dari didikan
Madrasah A1 Khairiyah di kampung Ampel madrasah, Surabaya. Yang
didirikan dan dibina oleh A1 Habib A1 Imam Muhammad bin Achmadi A1
Mahdhar pada tahun 1895, yang berasaskan Islam Ahlu Sunnah wal
Jamaah dan bermazhabkan Syafi’i.
Diantara guru beliau yang berada di Indonesia :
a. A1 Ustadz Abd Kadir bin Ahmad Bilfagih (Malang)
b. A1 Ustadz Muhammad bin 1 lusein Ba’abud (Lawang)
e. A1 1 labib Abd Kadir bin I ladi Asseggaf (Surabaya)
d. Al I labib Muhammad bin Achmad Asseggaf (Surabaya)
e. Al Habib Alwi bin Abdullah Asseggaf (Solo)
f. Al Habib Ahmad bin Alwi Aldjufri (Pekalongan)
g. Al Habib Ali bin Husein bin Syahab (Gresik)
i. A1 Habib Ahma bin Ghalib Alhamid (Surabaya)
j. A1 Habib Alwi bin Muhammad A1 Muhdhar (Bondowoso)
k. A1 Habib Abdullah bin Hasan Maulahela (Malang)
l. A1 Habib Hamid bin Muhammad As Sery (Malang)
m. Sheikh Robaah Hussanah A1 Kholili - Palestina - Tugas mengajar di
Indonesia
n. Sheikh Muhammad Mursyidi - Mesir - Tugas mengajar di Indonesia.
Guru-guru beliau yang berada di luar negeri, di antaranya :
a. A1 Habib Alwi bin Abbas Al Maliki (Mekah)
b. As Sayyid Muhammad Amin Al Quthbi (Mekah)
c. Asy Syeikh Muhammad Seif Nur (Mekah)
d. Asy Syeikh Hasan Muhammad Al Masysyaath (Mekah)
e. Al Habib Alwi bin Salim Alkaff (Mekah)
f. Asy Syeikh Muhammad Said Al Hadrawi Al Makky (Mekah)
g. Al Habib Muhammad bin Hadi Asseggaf (Seiwoon - Hadramaut -
Yaman)
h. Al Habib Abdullah bin Ahmad Alhaddar (Tnaat - Hadramaut -
Yaman)
i. Al habib Hadi bin Ahmad Alhaddar (‘Inaat - Hadramaut - Yaman)
j. Al Habib Abdullah bin Thahir Alhaddad (Geidoon - Hadramaut -
Yaman)
k. Al Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri (Tarim Hadramaut
l. A1 Habib Hasan bin Ismail bin Syeikhbubakar (Tnnat - Hadramaut -
Yaman)
m. A1 Habib Ali bin Zein A1 Hadi (Tariim - Hadramaut - Yaman)
n. A1 Habib Alwi bin Abdullah bin Syahab (Tarim - Hadramaut - Yaman)
o. A1 Habib Abdullah bin Hamid Asseggaf (Seiwoon - Hadramaut -
Yaman)
p. A1 Habib Muhammad bin Abdullah Alhaddar (A1 Baidhaa - Yaman)
q. Al Habib Ali bin Zein Bilfagih (Abu Dhabi-Emirat Arab)
r. Asy Syeikh Muhammad Bakhith Al-Muthii'i (Mesir)
s. Sayyidi Muhammad Al I'atih Al Kattaani (Faas-Marokko)
t. Sayyidi Muhammad al Muntashir Al Kattani (Marakisy-Marokko)
u. Al I labib Alwi bin Thohir Alhaddad (Johor-Malaysia)
v. Sheikh Abdul ‘Aliim Ash Shiddiqi (India)
w. Sheikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mesir)
x. Al I labib Abd Kadir bin Achmad Asseggaf (Jeddah-Saudi Arabia)
Ilmu-ilmu yang beliau kuasai adalah bahasa Arab dan sastra, ilmu
tafsir dan hadits, ilmu fiqih dan tasawuf, ilmu sirah dan tarikh dan sedikit
menguasai bahasa Belanda dan Inggris.
3. Aktivitas, Kiprah dan Dakwah Islamiyah Umar Ibn Ahmad Baradja
a. Aktivitas Mengajar Umar Ibn Ahmad Baradja
Mengajar di Madrasah Al Khairiyah Surabaya tahun 1935-
1945 yang berhasil menelurkan beberapa ulama/asatidz yang telah
Almarhum A1 Ustadz Achmad bin Hasan Asseggaf, almarhum Alhabib
Umar bin Idrus Almasyhur, almarhum A1 Ustadz Achmad bin Ali
Bebgei, Alhabib Idrus bin Hud Asseggaf, Alhabib Hasan bin Hasyim
Alhabsyi, Alhabib Hasan bin Abd Kadir Asseggaf, A1 Ustadz Ahmad
Zaki Ghufron dan A1 Ustadz Dja’far bin Agil Asseggaf.
Mengajar di Madrasah A1 Khairiyah Bondowoso. Mengajar di
Madrasah A1 Husainiyyah Gresik Tahun 1945-1947. Mengajar di
Robithah A1 ‘Alawiyah Solo tahun 1947-1950.
Pada tahun 1950-1951 Ahmad Baradja mengajar di Madrasah
Al Arabiyyah al Islamiyyah Gresik setelah itu pada tahun 1951-1957
bcrsama dengan Alhabib Zein bin Abdullah Alkaf memperluas serta
membangun lahan baru karena sempitnya gedung lama, sehingga
wujudlah Gedung Yayasan Badan Wakaf yang diberi nama Yayasan
Perguruan Islam Malik Ibrahim sampai saat ini.
Mengajar di rumah pribadi beliau, pagi hari dan sore hari, juga
majelis taklim/pengajian rutin malam hari. Karena semptinya tempat
dan banyaknya murid, maka beliau berusaha mengembangkan
pendidikan itu dengan mendirikan Yayasan Perguruan Islam atas nama
beliau Al Ustad Umar Baradja, halmana sebagai wujud nyata dari hasil
pendidikan dan pengalaman yang telah beliau dapat selama 50 tahun,
dan berjalan sampai sekarang ini di bawah asuhan putranya Al Ustadz
b. Gerakan Sosial
Salah satu gerakan sosial yang dilakukan oleh Ahmad Baradja
adalah mencarikan dana untuk kebutuhan para janda, fakir miskin dan
yatim piatu, khususnya para santri beliau, agar mereka lebih
konsentrasi dalam mcnimba ilmu.
Menjodohkan wanita-wanita muslimah dengan pemuda muslim
yang baik menurut pandangan beliau, sekaligus mengusahakan biaya
perkawinannya bersama Alhabib Idrus bin Umar Alaydrus.
Membanun masjid A1 Khoir Danakarya I Surabaya pada tahun
1971 bersama KH. Adnan Chamim, setelah mendapat petunjuk dari
Alhabib Sholeh bin Muhsin Alhamid (Tanggul) dan Alhabib Zein bin
Abdullah Alkaf (Gresik).
c. Akhlak dan Ibadah Umar Ibn Ahmad Baradja
Ketulusan niat disertai ikhlas dalam segala amal atau perbuatan
duniawi dan ukhrawi. Menjabarkan akhlak ahlul bait (keluarga Nabi)
dan para sahabat yang mereka mencontoh baginda Nabi Muhammad saw.
Sifat tawadhu’ atau rendah hati yang sangat tinggi telah
menghiasi diri beliau. Beliau tidak suka membanggakan diri baik
tentang ilmu, amal dan ibadah.
Dalam beribadah beliau beristiqamah, baik itu salat fardhu
ataupun sunnah, qabliyah, bakdiyah, dhuha dan tahajjud hampir tidak
Segala sisi kehidupannya, beliau usahakan untuk benar-benar
sesuai dengan yang digariskan agama, sekalipun yang sunnah dan mubah.
Cinta beliau kepada keluarga Nabi saw, dan zurriyahnya
(keturunan Nabi) sangat kenal tak tergoyakan, juga pada para sahabat
anak didik Rasulullah saw, itulah pertanda keimanan yang teguh dan
sempuma.
Sifat wara' beliau yang besar, perkara yang meragukan dan
syubhat beliau tinggalkan sebagaimana meninggalkan perkara-perkara
yang haram, juga beliau selalu berusaha berpenampilan sederhana.
Sifat Ghirah Islamiyah dan kecemburuan dalam beragama
sangat kuat dalam jiwa beliau. Konsisten dalam menegakkan amar
makruf nahi munkar. Misalnya, dalam menutup aurat - khususnya
aurat wanita - beliau sangat tegas dan tak kenal kompromi. pergaulan
bebas laki- perempuan selalu beliau ingkari, juga bercampumya antara
murid laki dan perempuan dalam satu kelas.
4. Karya-Karya Umar Ibn Ahmad Baradja
Karya-karya Umar Ibn Ahmad Baradja sekitar 11 judul buku yang
telah diterbitkan seperti:
a. Al Akhlak Li al Banin (4 jilid)
b. Al Akhlak Li al Banat (3 jilid)
c. Sullam Fiqih (2 jilid)
d. 17 Jauharah (17 mutiara doa) dan A d ’iyah Ramadhan (doa bulan
Yang semuanya dalam bahasa Arab, dimana sejak tahun 1950 telah
dipakai sebagai buku kurikulum di seluruh pondok pesantren di Indonesia.
Buku-buku tersebut pemah dicetak di Kairo Mesir pada tahun 1969
atas biaya Sheikh Siraj Ka'ki dermawan Mekkah, yang dibagikan secara
cuma-cuma ke seluruh dunia Islam.
Syukur Alhamdulillah, atas ridha beliau dan niat agar buku-buku
itu menjadi jariyah dan bermanfaat luas, maka pada tahun 1992 telah
diterbitkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia, Jawa, Madura
dan Sunda.
Syair-syair beliau dalam bahasa Arab dengan sastra tinggi cukup
banyak dan belum sempat dibukukan, juga karya-karya yang masih
bertuliskan tangan.
B. Latar Bclakang Penulisan Kitab
Umar Ibn Ahmad Baradja lahir di Surabaya dan dibesarkan dalam
lingkungan keluarga yang agamis. Beliau sangat tekun beribadah dan
mengamalkan ilmunya dengan niat tulus ikhlas, serta selalu menghiasi dirinya
dengan akhlak yang mulia. Ustadz Umar juga tekun dalam menuntut ilmu
agama dan Bahasa Arab, sehingga ia menguasai dan memahaminya.
Sebagai seorang pendidik di beberapa madrasah ia sangat
memperhatikan masa depan anak didiknya dan masa depan bangsanya. Sebab
masa depan bangsa terletak pada generasi muda. Untuk menciptakan suatu
negara yang aman dan makmur, maka warga negaranya harus berakhlak
Sebagaimana syair yang dikutip oleh Umar Ibn Ahmad Baradja di dalam
kitabnya
1 j \a& jjL i vii \_^ tjyX AVI ^ j Sesungguhnya kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap, maka musnah pulalah bangsa itu .2
Pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia baik kehidupan individu
maupun kehidupan masyarakat, Umar Ibn Ahmad Baradja berharap kepada
para orang tua atau wali murid dan para pengajar atau guru-guru, untuk
memperhatikan pendidikan anak dengan sebaik-baiknya, dengan mengawasi
dan memperhatikan tingkah laku putra-putra dan anak didik yang menjadi
tanggung jawab kita semua, menanamkan tingkah laku yang lahir di lubuk hati
mereka, dan menjauhkan mereka dari tingkah laku yang tercela agar mereka
menjadi orang-orang yang terdidik dan beradab, yang berguna bagi diri dan
bangsa mereka.
Apalagi hidup di tengah-tengah zaman yang mengalami kemerosotan
moral atau akhlak, dimana juga pendidikan akhlak telah tersisihkan,
memperhatikan tingkah laku dan putra-putra anak didik dari awal
perkembangannya adalah merupakan suatu hal yang sangat penting sekali dan
tidak boleh diremehkan. Karena hal itu merupakan kunci kebahagiaan bagi
anak didik di masa depan. Sebaliknya jika membiarkan anak didik hingga
terbiasa dengan tingkah laku yang buruk, maka masa depan anak didik akan
2
menjadi buruk, sulit untuk dididik kembali, atau tidak mungkin dididik lagi
selama-lamanya.3
Melihat pentingnya pendidikan akhlak atau moral, maka Umar Ibn
Ahmad Baradja terdorong hatinya untuk menulis sebuah kitab Al Akhlak Li al
Banin. Kitab ini berisi tentang bimbingan akhlak bagi anak, yang ditujukan
kepada orang tua atau wali murid di rumah serta guru-guru atau pengajar
sebagai pedoman untuk membimbing akhlak anak didiknya.
Peranan Umar Ibn Ahmad Baradja yang sangat memperhatikan dan
merasa bertanggung jawab pada penerus bangsa yaitu diungkapkan pada
karyanya “Al Akhlak Li al BanirF. Sebagai warisan pada generasi muda pada
masa itu, generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Secara garis besar
kitab Al Akhlak Li al Banin terdiri dari 4 jilid. Jilid pertama menerangkan
kewajiban kepada Allah, kepada Nabi, kewajiban kepada orang tua, kewajiban
kepada teman, kewajiban kepada saudara. Jilid kedua berisi tentang kewajiban
anak. Jilid ketiga berisi tentang adab-adab jilid keempat berisi tentang akhlak.
DAL AM KITAB AL AKHLAK LI ALBANIN
A. Konscp Pokok Kitab A l Akhlak Li al Banin
1. Materi Kitab Al Akhlak Li al Banin
Ustadz Umar Ibn Ahmad Baradja dalam kitabnya Al Akhlak Li al
Banin menekankan pada pendidikan akhlak yang harus ditanamkan kepada
anak. Maka penulis ungkapkan sebagai berikut:
a. Kewajiban terhadap Allah SWT
Ada dua jalur komunikasi yang dihadapi manusia dalam
hidupnya yaitu :
1) Jalur komunikasi yang bersifat vertikal, yaitu jalur komunikasi
manusia dengan Tuhan
2) Jalur komunikasi yang bersifat horisontal, yaitu jalur komunikasi
manusia dengan manusia itu sendiri.
Terhadap kedua jalur komunikasi yang dihadapi ini, baik yang
bersifat vertikal maupun horisontal, manusia harus bisa menjalin
hubungan dengan baik. Artinya manusia harus bisa menjalin hubungan
baik dengan Tuhan dan alam sekitar terutama manusia.
Membangun hubungan baik dengan Tuhan itu harus atau wajib
kita lakukan, karena Allah telah memberikan nikmat yang banyak bagi
manusia. Nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu antara
lain adalah :
1) Allah menciptakan kita sebagai manusia sempuma dan dalam
bentuk yang sebaik-baiknya. Firman Allah dalam surat At Tiin ayat
4 yang artinya : "Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yan sebaik-baiknya".1
2) Allah telah memberikan perlengkapan panca indera, berupa dua
mata untuk melihat, kedua telinga untuk mendengarkan suara,lidah
untuk berbicara, dua tangan untuk digunakan dalam berbagai
pekerjaan, dua kaki untuk berjalan, dan akal untuk mengenal mana
yang baik dan mana yang buruk.1 2
3) Allah telah menunjukkan agama Islam kepada kita.
4) Allah telah memberikan kesehatan.
5) Allah telah memberikan kasih sayang di dalam hati setiap orang
tua. Sehingga mereka mendidik anak-anaknya dengan pendidikan
yang baik.3
Demikian banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada
manusia. Sepantasnyalah manusia membalas itu semua dengan cara
menjalankan semua kewajiban. Adapun kewajiban-kewajiban manusia
kepada Tuhannya (Allah) adalah :
1 Umar Ibnu Ahmad Baradja, A t A khlak L i A t Banin, Jilid 2, Surabaya, Maktabah Muhammad Ibnu Ahmad Nabhan wal Auladuhu, t.t., him. 6
2 Umar Ibnu Ahmad Baradja, A t A khlak Li A t Banin, Jilid 1 Surabaya, Maktabah Muhammad Ibnu Ahmad Nabhan wal Auladuhu, t.t., him.5-6
1) Beriman kepada Allah yaitu wajib mempercayai dan meyakini
bahwa Allah itu ada.
2) Mencintainya lebih dari apapun
3) Bersyukur kepada Allah atas kenikmatan-kenikmatanNya dengan
cara melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.
4) Takut kepada Allah
5) Meminta pertolongan hanya kepada Allah serta bertawakal
kepadaNya
6) Mencintai malaikat-malaikatNya, Rasul-rasul dan Nabi-nabinya
serta mencintai hamba-hambanya yang sholeh.
b. Kewajiban kepada Nabi Muhammad saw
Seperti juga akhlak kepada Allah, maka akhlak kepada Nabi
Muhammad saw yang pertama adalah beriman kepada Nabi
Muhammad saw. Percaya bahwa beliau adalah betul nabi dan utusan
(Rasul) Allah kepada manusia.
Yang kedua ialah taat dan tunduk kepada Nabi Muhammad saw.
Bagi umat Islam taat dan tunduk kepada Nabi Muhammad saw
adalah suatu keharusan. Karena melalui beliaulah agama Islam
diturunkan di muka bumi ini. Dan dengan perantaraan beliau kita
mengenal Tuhan kita dan dapat membedakan antara yang halal dan
yang haram.4 Jadi sebagai umat Islam harus mentaati Nabi saw dan
mcnjalankan semua perintahnya.
Termasuk ketaatan kepada Nabi Muhammad saw adalah
membela agamanya dengan perkataan dan perbuatan. Termasuk
ketaatannya dalam membela syariat dengan segenap kemampuan, dan
mengucapkan sholawat kepada Nabi saw. sebagaimana firman Allah
/ / & / e S y I y c ^ y ^ J AS S ' £
4jil j j /
V
Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormalan kepadanya. (A1 Ahzab : 56)5
y S
Akhlak kepada Nabi Muhammad saw yang ketiga adalah
mencintainya dengan sepenuh hati seperti kita mencintai Allah SWT di
atas segala-galanya. Sabda Nabi :
“Tidak beriman salah seorang dianlara kamu, sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya dan ayahnya serta manusia semuanya
Cinta kepada Nabi Muhammad saw tidak cukup sekedar
dilahirkan dalam bentuk pengakuan kata-kata, melainkan harus
dibuktikan dalam bentuk yang nyata antara lain dengan :
1) Mengamaikan dan mcmatuhi agama Islam yang diajarkannya, baik
yang terdapat dalam A1 Qur'an, maupun hadits
2) Bcrjuang menegakkan, mengembangkan dan membela ajaran-
ajarannya, termasuk pula menjaga kemumiannya dari bid’ah dan
kurafat. * l
5Ibid., him. 10 l'lhid., him. 9
3) Memuliakan Nabi Muhammad saw dan memperbanyak sholawat
kepadanya.
4) Memuliakan keluarga dan sahabat-sahabatnya.
5) Mengikuti nasihat-nasihatnya dan mengamalkannya dalam
perikehidupan.
c. Kewajiban kepada orang tua
Hidupnya orang tua, ibu dan bapak merupakan kenikmatan
terbesar dari Allah bagi kita. Serta berkah dan rahmat bagi kita yang
kita nikmati dengan memandang mereka. Sehingga dari jalur
komunikasi yang bersifat horisontal yaitu jalur komunikasi antara
manusia dengan manusia, orang tua menduduki tempat paling istimewa
setelah Allah dan RasulNya. Karena ibu dan bapak sangat besar jasanya
kepada kita. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang lebih besar
jasanya kepada kita dari pada ibu bapak kita masing-masing. Dengan
susah payah kita dikandungnya, dilahirkan, didewasakan, dididik dan
dicukupi segala kebutuhan hidup kita. Karena keduanya menginginkan
anaknya tumbuh dengan akhlak yang luhur dan adab yang sempuma,
bcrpegang pada agama, dihargai diantara orang-orang dan bermanfaat
bagi diri sendiri serta masyarakat.7
Berbakti kepada kedua orang tua itu wajib bagi seorang anak
scbagaimana diperintahkan Allah dalam firmanNya :
# i p '
^
• ^ V y
^ L j
"Dan Juhanmu telah memerintah/can supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapa/cmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecii'. (A1 Isra’ : 23 - 24)
Berbuat baik kepada ibu bapak tidak saja harus dilakukan pada
waktu keduanya dalam kondisi hidup, tetapi juga ssesudah keduanya
meninggal.
1) Cara-cara berbuat baik kepada orang tua (ibu bapak) yang masih
hidup, ialah
a) Mencintai mereka dari lubuk hati yang paling dalam dengan
penuh kehormatan
b) Mendengar nasihat-nasihatnya dan mematuhi perintah-
perintahnya
c) Bersikap sopan terhadap mereka dan berbicara dengan perkataan
yang baik
e) Tidak berdusta
f) Meminta maaf apabila melakukan kesalahan
2) Cara-cara berbuat baik kepada orang tua (ibu bapak) yang telah
mcninggal dunia, ialah :
a) Berdoa untuk almarhum, memohonkan ampun kepada Tuhan
atas segala dosa-dosanya
o
b) Bersedekah untuk kedua orang tua
Tiada suatu yang menggembirakan orang tua selain melihat
anak yang menyenangkan hati mereka, berbakti, taat, bersopan santun
dan cerdas.
d. Kewajiban terhadap Guru
Kewajiban mcngajar dan mcndidik anak adalah tanggung jawab
orang tua. Tetapi banyak orang tua yang tidak mampu mengajar dan
mcndidik anak-anaknya. terutama tidak mampu mengajar ilmu-ilmu
pengetahuan. Karenanya tugas ini dilimpahkan kepada orang lain yang
mampu mengajar dan mendidiknya yang disebut guru. Guru adalah
orang yang kita mendapatkan pendidikan dan pengajaran dari dia baik
formal maupun-informal. Guru itu sangat berjasa bagi kita. Karena dia
telah mendidik kita dan mengajari kita ilmu yang berguna serta
memberi nasihat-nasihat yang berguna.9
Nilai ilmu dan pendidikan yang diberikan oleh guru, tidak dapat
diukur dengan nilai uang atau materi dan tidak dapat disamakan dcngan
materi atau dinilai dengan materi. Sebab ilmu apabila dimanfaatkan
akan mendatangkan materi dan kebahagiaan hidup. Apabila dengan
ilmu agama akan mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat. Sehingga kewajiban seorang murid kepada gurunya hampir
sama dengan kewajiban kepada orang tuanya.
Adapun kewajiban murid terhadap gurunya adalah
1) Mematuhi nasihat-nasihatnya dan tunduk terhadap perintah-
perintahnya, bukan karena takut hukuman, tetapi demi menjalankan
kewajibannya dengan tulus ikhlas.
2) Bersikap rendah hati
3) Menghormatinya
4) Memberi salam dan berjabat tangan ketika bertemu
5) Tidak melupakan kebaikannya, baik masih menjadi murid maupun
sudah keluar dari sekolah.
c. Kewajiban kepada Saudara
Orang-orang yang paling dekat dengan kita setelah kedua orang
tua adalah saudara-saudara kita, baik saudara laki-laki maupun saudara
perempuan. Sehingga selain berbuat baik kepada orang tua kita juga
harus berbuat baik kepada saudara kita. Orang tua akan merasa senang
apabila melihat anaknya hidup rukun atau bersatu.
Kewajiban terhadap saudara adalah :
1) Menghormati saudara yang lebih tua dan mencintainya dengan
2) Menyayangi saudara yang lebih muda dan mencintainya.
3) Jangan memukul atau memaki
4) Jangan merusak mainannya
5) Jangan bertengkar
6) Memaafkannya apabila saudara kita bersalah
7) Mcmbantunya apabila membutuhkan bantuan.10
f. Kewajiban kepada Tetangga
Tctangga adalah orang yang mendiami rumah berdampingan
dcngan rumah kita, dan ada tetangga yang agak jauh, yang tidak
berdampingan dengan rumah kita. Tetangga yang paling dekat dcngan
rumah kita mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kita. Mercka
seperti saudara sendiri. Sehingga tetangga itu mempunyai peran yang
sangat penting bagi kehidupan kita, sebagaimana yang kita rasakan
sclama ini. Karena sangat pentingnya, kadang-kadang peranannya
melcbihi peranan keluarga dan saudara yang tempatnya jauh. Kalau kita
sedang mempunyai kerja, sedang mendapat kesusahan seperti kematian,
kecurian, atau kecelakaan-kecelakaan yang lain, maka tetangga-
tetangga itulah yang pertama-tama membantu menolong. Oleh karena
itu sudah sepantasnya kita berbuat baik kepada tetangga.
Kewajiban kepada tetangga menurut Umar Ibnu Ahmad Baradja
adalah :
1) Mencintai mereka dan berbuat baik kepada mereka
2) Bersikap sopan terhadap mereka, mengucap salam ketika bertemu
tersenyum dihadapannya
3) Tidak boleh sombong
4) Membantu bila mereka memerlukan bantuan
5) Menjenguk ketika mereka sakit dan mendo'akannya agar dapat
sembuh
6) Tidak mengganggu mereka.'1
Tetangga itu ada 3 macam yaitu tetangga yang mempunyai satu
hak, tetangga yang mempunyai dua hak dan tetangga yang mempunyai
tiga hak. Tetangga yang mempunyai tiga hak adalah tetangga muslim
yang mempunyai ikatan kerabat. Maka ia mempunyai hak sebagai
tetangga, hak Islam, dan hak kerabat. Adapun tetangga yang
mempunyai dua hak adalah tetangga muslim. Ia mempunyai hak
tetangga dan hak Islam. Sedang tetangga yang mempunyai satu hak
adalah tetangga musyrik yang hanya mempunyai hak tetangga.* 12
g. Kewajiban kepada Teman
Teman ada bermacam-macam. Ada teman yang • senasib
sepenanggungan, yang sejalan selalu beriring, merasakan susah apabila
temannya susah, dan bergembira apabila temannya bergembira. Teman
yang akrab yang betul-betul teman adalah apabila kita dalam kesusahan.
dia tetapmemperlakukan kita sebagai teman dan bahkan menolong
untuk meringankan kesusahan.
Kewajiban kita kepada teman agar pertemanan/persahabatan
tctap terjalin dengan baik adalah :
1) Mencintai mcrcka dan menghormati yang lebih tua dari kita, serta
menyayangi yang lebih muda dari kita.
2) Bekerjasama dengan mereka dalam memelihara peraturan dan
ketenangan ketika belajar.
3) Memberi maaf bila temannya minta maaf atas kesalahannya.
4) Tidak sombong, dengki, dusta, mengadu domba dan lain-lain
5) Membantu mereka yang membutuhkan bantuan
6) Mendoakan mereka bila tidak hadir ke sekolah.
7) Jangan mengganggunya
8) Berbicara dengan baik.
h. Akhlak Mahmudah
Akhlak manusia terdiri atas akhlak terpuji dan akhlak tercela.
Akhlak terpuji disebut akhlak mahmudah dan akhlak tercela disebut
akhlak mazmumah. Jadi akhlak mahmudah maksudnya adalah
perbuatan-perbuatan yang baik yang datang dari sifat-sifat batin yang
ada dalam hati menurut syara’. Sehingga akhlak mahqiudah harus
dimiliki oleh seitap orang. Sedangkan akhlak mazmumah maksudnya
adalah perbuatan-perbuatan buruk yang dibenci oleh Allah dan
Umar Ibnu Ahmad Baradja banyak menjelaskan akhlak * i
mahmudah. Tetapi penulis akan menerangkan yang pokok-pokok saja :
1) Malu
Malu adalah pokok segala keutamaan dan sumber segala
adab. Karena dengan rasa malu manusia akan terhindar untuk
mclakukan hal-hal yang tercela yang bisa menghancurkan dirinya.
Menurut Umar Ibnu Ahmad Baradja rasa malu dibagi
menjadi 3 bagian yaitu :
a) Rasa malu terhadap Allah Azza wajalla
Rasa malu kepada Allah adalah sendi keutamaan dan
pokok dasar budi pekerti yang mulia. Karena dengan adanya
rasa malu kepada Allah, maka seseorang akan menjalankan
perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, baik
ketika dilihat orang atau ketika sendirian.
b) Rasa malu terhadap manusia
Hal ini akan terwujud apabila kamu menjaga pandangan
dari sesuatu yang tidak halal, menghargai setiap orang yang
meiniliki keutamaan dan menghargai orang-orang Vang patut
dihargai menurut deraj at mereka, seperti : ayah, ibu, guru-guru
serta orang-orang yang lebih tua dari kamu.
c) Rasa malu terhadap diri sendiri
Hal ini akan terwujud tidak melakukan suatu perbuatan
mengetahuinya. Orang beradab berkata : “Barangsiapa
melakukan suatu perbuatan di kala sendirian (tidak merasa
malu), tetapi apabila ia melakukannya secara terang-terangan
merasa malu, maka ia tidak menghargai dirinya”13
Setiap orang sebetulnya mempunyai rasa malu, entah besar
atau kecil yang merupakan semacam kekuatan preventif di dalam
dirinya. Rasa malu dapat menghindarkan seseorang dari terjatuh
kepada kehinaan, yaitu mencegah dari perbuatan rendah, sifat
pengecut, kikir, dusta, khianat dan kebodohan. Tetapi karena sebab
yang bermacam-macam, rasa malu itu dapat luntur dan pudar
sedikit demi sedikit, dan akhimya lenyap sama sekali. Kalau malu
sudah lenyap, yang berarti orang sudah tidak punya malu lagi maka
tidak akan dapat diharapkan kebaikan timbul daripadanya.
Di zaman sekarang ini banyak orang yang malu melakukan
kebaikan, tapi tidak malu melakukan keburukan (perbuatan-
perbuatan tercela).
2) Qonaah
Qonaah adalah menerima dengan rela apa yang ada atau
merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Qanaah yang diajarkan
Islam adalah qonaah hati bukan qonaah ikhtiar. Maksudnya
menerima dengan apa yang dimiliki tapi ia tetap bekerja bukan
hanya berpangku tangan. Karena tidak mau bekeija itu namanya
malas bukan qonaah. Orang yang bertakwa kepada Allah niscaya ia
akan percaya pada takdir Allah, dan jiwanya tetap tenang.
Qonaah itu bersangkutan dengan sikap hati (sikap mental)
dalam menghadapi apa yang kita miliki atau dalam menghadapi apa
yang menimpa diri kita. Tetapi kita tetap bekerja sebagaimana
mestinya sambil tetap bertawakal kepada Allah. Bersyukur kepada
Allah apabila yang kita usahakan berhasil dan ketika tidak berhasil,
kita terima dengan senang hati, tabah dan penuh kesabaran.
Menurut Umar Ibnu Ahmad Baradja ikhlas adalah beramal
bagi Allah semata, bersih dari campuran niat-niat lain. Jadi orang
yang beramal karena ingin dipuji orang atau yang lain, rnaka akan
sia-sia karena tidak syah dan amalnya tidak diterima oleh Allah.
Oleh karena itu Umar berpendapat ikhlas adalah dasar-dasar amal
dan jiwanya.14
Bersikap ikhlas dalam keyakinan dan perkataan akan
membawa keberuntungan dan mendapatkan ridho dari Allah. Di
dalam A1 Qur'an Allahpun berfirman menyuruh umatnya untuk
bcrbuat ikhlas : 3) Ikhlas
Artinya : radahal mere lea tidak disuruh kecudli supayd menyembdh Alldh dengdn memurnikdn ketd'dtdn kepddd-Nyd ddlam (menjdldnkdn) dgdmd dengdn lurus, ddn supdyd mereKd mendirikdn shdldt ddn menundikdn zdkdt; ddn ydng demikidn ituldh dgdmd ydng lurus. (A1 Bayyinah : 5)
4) Shidiq
Shidiq berarti jujur atau berbuat benar. Benar adalah
sesuainya sesuatu dengan kenyataannya yang sesungguhnya, baik
berupa perkataan maupun perbuatan.
Macam-macam sikap benar Umar Ibnu Ahmad Baradja
berpendapat itu ada 5 yaitu :
a) Bersikap benar dalam niat ialah tidak mempunyai pendorong
dalam gerak dan diam kecuali Allah dan bukan karena hawa
nafsu.
b) Bersikap benar dalam tekat adalah mempunyai kemauan yang
benar untuk melakukan berbagai kebaikan dan tidak memiliki
kecondongan maupun kebimbangan. Misalnya bertekat
mcmanfaatkan ilmu yang dikaruniai oleh Allah kepada orang
lain.
c) Bersikap benar dalam melaksanakan maksud ialah apabila
bertekat melakukannya, kemudian melaksanakannya, dan tidak
mundur darinya. Misalnya, apabila Allah mengaruniaiku harta,
atau akan menyedekahkannya, maka janganlah mundur dari
d) Bersikap benar dal am perbuatan ialah : apabila tidak
menampakkan perubatan-perbuatan yang berlainan dengan isi
hati.
e) Bersikap benar dalam berbagai amalan agama. Misalnya benar
dalam mengesakan Allah, sangat hati-hati dari syirik, takut
dengan siksa Allah dan berharap akan pahalanya.15
Benar atau jujur itu merupakan pokok atau semacam induk
dari sifat-sifat baik yang lain yang membawa seseorang kepada
kebaikan. Karena itu agama memerintahkan kepada kita agar
berbuat benar dalam semua perkataan dan keadaan, walaupun hal
itu menimbulkan bahaya bagi kita. Allah ta’ala berfirman (Surat At
Taubah ayat 119)
ljAi \ / j i \ 1^11
Artinya : lia i orang-orang yang Deriman, bertalcwalah Kepada Allah, clan henclaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
Kebenaran dan kejujuran adalah sendi terpenting bagi
berdiri tegaknya masyarakat. Tanpa kebenaran akan hancurlah
masyarakat, sebab hanya dengan kebenaran maka dapat tercipta
adanya saling pengertian satu sama lain dalam masyarakat. Tanpa
adanya saling pengertian tidak mungkin terjadi tolong menolong.
Sedangkan bahasa itu dicipta juga untuk kepentingan saling
pengertian itu, yang tanpa itu tidak mungkin terjadi kehidupan
masyarakat.
Sabar itu terbagi menjadi 3 macam yaitu sabar terhadap
musibah, sabar untuk meninggalkan maksiat, dan sabar dalam
melakukan ketaatan.
Seorang penyair berkata tcntang sabar sebagai berikut:
Artinya: Janganlah berputus asa sekalipun lama mencapai
Seseorang yang berakal ialah yang sabar menempuh segala
kesulitan, berhati tabah menghadapi segala rintangan serta berani
mengorbankan jiwa untuk menyingkirkan apa yang menghalang-
halangi usahanya dengan penuh kesungguhan dan kebenaran,
bahkan tidak akan mundur setapakpun demi mencapai cita-cita.
Sabar itu tidak ada batasnya, dalam pengertian pertama.
Yang dimaksud sabar ialah menahan diri (pada saat menerima
musibah ataupun pada waktu mampu berbuat) untuk tidak bertindak
mengikuti hawa nafsu yang bertentangan dengan peraturan Allah
dan petunjuk Rasulullah saw.
Dalam pengertian kedua, sabar adalah jalan pemecahan yang
terbaik. Sabar sebagai jalan keluar yang terbaik, tclah diakui
kebenarannya secara universal. Siapapun yang mau berfikir secara
5) Sabar
jemih, pasti akan sampai pada kesimpulan ini. Allah berfirman
dalam A1 Qur'an surat A1 Anfal ayat 66 sebagai berikut :
; / t /y S ' ^ 4 c y . S / * * s ' < y / . - ' s ' ' Z ' ' \ r '
4jU p>s*3 j> p l p j <0^ ^{1JS>- j j i
jSl>
p^w*
jJiU ijA»
o y \* 0( ■a £
Artinya : beKarang Allan tel ah meringanican Kepadamu aan Uia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jiKa ada di antaramu seralus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orangyang sabar.
Kebencian tidak pemah bisa diredam dengan kebencian.
Hanya dengan cinta kebencian bisa mereda. Pelampiasan emosi
hanya akan mendatangkan kepuasan sesaat saja, yang pada akhimya
senantiasa mendatangkan penyesalan.
Sabar dalam pengertian ketiga adalah perintah Allah SWT.
Bahwa sabar adalah suatu perintah Allah maka sabar dilakukan
bukan lantaran tcrpaksa, tetapi sabar dijalankan dengan penuh
kesadaran (bemiat) bahwa ini perintah Allah yang harus ditaati dan
dilaksanakan, yaitu sebagaimana halnya kita ikhlas mengerjakan
shalat. Indikator keberhasilan pelaksanaan sabar adalah rasa ikhlas.
Jadi, bila telah sabar namun hatinya masih merasa panas, maka
berarti sabar belum dilaksanakan secara benar. Yang dilakukan
sebenamya adalah hanya terpaksa mengalah atau menerima, karena
6) Syukur
Menurut Umar Ibnu Ahmad Baradja rasa syukur itu adalah pcngalihan pandangan hamba atas semua kenikmatan yang
dibcrikan Allah kepadanya menjadi renungan untuk apa dia
diciptakan. Rasa syukur itu dinyatakan dengan hati, lisan dan
anggota tubuh.
Pertama pemyataan syukur dengan hati. Yaitu selalu
mengingat Tuhanmu dengan hati yang disertai kecintaan dan
pengagungan serta menggambarkan semua kenikmatan dari Allah
(sengaja berbuat kebaikan).
Kedua pemyataan syukur dengan lisan ialah mengingatNya
dengan puji-pujian menunjukkan rasa syukur kepada-Nya. Misal :
membaca A1 Qur'an, shalawat atas Nabi saw, berbicara dengan baik.
Ketiga pemyataan syukur dengan anggota tubuh, yaitu
beribadah kepada-Nya, dengan mengerjakan shalat, berpuasa,
mengeluarkan zakat, pergi haji ke Baitullah, dan menggerakkan
anggota tubuh untuk perbuatan yang diridhoi Allah SWT.
Bersyukur adalah satu hal yang diperintahkan oleh Allah atau
Rasulnya. Firman Allah yang artinya : “Karena itu, ingatlah kamu
kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku” (A1
Kadang-kadang orang sudah mengerti nikmat karunia yang
diperolehnya dari Allah dan sudah menyadari sepenuhnya, akan
tctapi ia tidak dapat melakukan kesyukuran sebagaimana mestinya.
Karcna ia dikalahkan oleh pengaruh hawa nafsunya atau dikalahkan
oleh syaitan yang menggoda dan menyesatkan.
Bersyukur itu bukan hanya sekedar mengucapkan syukur
‘Alhamdulillah wa syukurillaK tetapi memanfaatkan nikmat karunia
itu untuk perbuatan-pcrbuatan yang diridhoi oleh Allah, dan bukan
untuk perbuatan-pcrbuatan kemaksiatan yang dilarang oleh-Nya.
Apabila akhlak yang mulia itu tertanam pada setiap pribadi,
hingga menjadi si fat dan tabiat dari pribadi dalam masyarakat
dan bangsa, Insya Allah bangsa itu akan hidup tenang, damai dan
sejahtera.
Akhlak Mazmumah
Seperti telah dikemukakan bahwa akhlak mazmumah ialah
akhlak yang buruk, akhlak yang tercela. Termasuk akhlak mazmumah
ialah.
1) Dusta atau Bohong
Arti dusta ialah pemyataan tentang sesuatu hal yang tidak
cocok dengan keadaannya yang sesungguhnya, dan ini tidak hanya
menyangkut perkataan tetapi juga perbuatan. Maksudnya, dusta
Dusta adalah penyakit yang jahat. Karena dusta adalah
pokok setiap dosa dan sumbcr sctiap kejahatan serta sumber setiap
kesengsaraan dan kehinaan. Sehingga Umar pun berkata “Pendusta
itu lebih keji daripada pencuri, karena pencuri adalah mencuri
hartamu sedangkan pendusta adalah mencuri akalmu”. 16
Setiap orang di dunia sangat memerlukan adanya
kepercayaan dari masyarakat terhadap dirinya. Maka dari itu
janganlah kamu berdusta, walaupun terhadap anak kecil. Dalam
hadits disebutkan : “Barang siapa berkata kepada anak kecil
‘kemarilah ambil m il' kemudian tidak memberinya, maka itu
adalah dusta’'.17Ini adalah ajaran dari Rasul saw bagi setiap orang
yang mengurusi pcndidikan anak-anak, sehingga mereka menjadi
besar di atas kebenaran sejak kecil dan tidak menganggap dusta
sebagai dosa kecil.
Perkataan dusta itu pada awalnya dimaksudkan untuk
mcmentingkan keuntungan diri sendiri. Tetapi pada dasamya ia
akan berakibat buruk kepada yang berdusta. Seandainya ketahuan
bahwa ia berdusta meskipun hanya satu kali, maka hil&nglah
kepercayaan orang kepadanya, yang pada gilirannya akan
merendahkan bahkan bisa menghilangkan status dan martabatnya.
Jika sifat dusta ini telah merajalela di masyarakat, maka tidak bisa
diharapkan terwujud keamanan dan kedamaian dalarn kehidupan
bersama.
2) Sombong
Sombong atau takabur adalah suatu perasaan yang terdapat
di dalarn hati seseorang bahwa dirinya hebat, mempunyai
kelebihan dari orang lain. Sesuai dengan maknanya ini, maka orang
yang sombong sclalu menganggap dirinya lebih, sedang orang lain
sclalu dipandang scrba rendah. Dan ini tidak peduli apakah
anggapan itu berdasarkan kenyataan atau tidak.
Sikap yang demikian ini berakibat, ia tidak tahu diri, sulit
menerima kelemahan atau kesalahan dirinya dan kelebihan atau
kebenaran orang lain. Kesombongan dapat mendorong seseorang
untuk berakhlak buruk, yang merupakan pintu-pintu neraka.
Misalnya dengki, dendam, dusta, marah, penghinaan orang lain,
dan keengganan menerima nasihat. Orang yang sombong tertutup
hatinya dan petunjuk yang diberikan, sedikitpun tidak akan
dihiraukannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala : demikianlah
Allah menutup hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”
(QS. A1 Mukmin : 35).18
Tanda-tanda sombong ialah :
a) Enggan menerima kebenaran
b) Menyombongkan ibadah, keshalihan, harta, ketampanan, keturunan dan kekuatan.
c) Memuji dirinya dan mcnccla orang lain.
Sombong dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu
sombong kepada Tuhan, sombong kepada Rasul dan sombong kepada
sesama manusia.
Adapun sombong kepada Tuhan berupa sikap tidak mau
memperdulikan ajaran-ajaran Tuhan, memandang enteng ancaman
Tuhan, bahkan merasa diri menjadi rendah dan hina sekiranya
mematuhi ajaran-ajaran Tuhan itu. Sombong kepada Rasul berupa
sikap dimana orang merasa rendah dirinya kalau mengikuti dan
mematuhi Rasul tersebut, karena umpamanya Rasul itu berasal dari
anak yatim yang miskin dan sebagainya. Sedangkan sombong
kepada sesama manusia berupa sikap mengejek teman-temannya,
menghina orang lain dan sebagainya.
3) Marah
Marah itu terjadi ketika seseorang mengalami kekecewaan
karena apa yang diinginkan tidak tercapai, atau tidak sesuai dengan
yang diharapkan.
Umar Ibnu Ahmad Baradja berkata, marah karena Allah
bukan karena menuruti hawa nafsu, adalah sifat terpuji dan
diperintahkan melakukannya serta dinamakan keberanian yang
dikerjakan dan kezaliman dilakukan serta kebenaran diingkari.19 Misalnya, marah terhadap raja yang dzalim. Karena dengan marah
itu kita akan berusaha mengembalikan negeri kita atau merebutnya
dari penguasa yang dzalim.
Cara-cara menenangkan marah menurut Umar Ibnu Ahmad
Baradja harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya :
Pertama : merenungkan ayat-ayat A1 Qur'an dan hadits-hadits Nabi
tentang keutamaan menahan diri.
Kedua : mengingat Allah dan membayangkan kekuasaan Allah atas
diri kita yang lebih besar daripada kekuasaan kita untuk membalas
dendam.
Ketiga : jangan mendengarkan perkataan setan.
Keempat : memperingatkan pada diri sendiri akan akibat balas
dendam.
Kelima : berfikiran kebutuhan muka kita pada waktu marah.20
4) Dengki
Dengki ialah rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan
yang diperoleh orang lain, dan berusaha untuk menghilangkan
kenikmatan itu dari orang lain tersebut baik dengan maksud supaya
kenikmatan itu berpindah ke tangan sendiri atau tidak.
Sebab-sebab yang menimbulkan rasa dengki antara lain
adalah :
a) Permusuhan dan kebencian
b) Meninggikan diri dan bersikap sombong
c) Takut tidak mencapai maksudnya. Ini biasanya terjadi antar
kerabat dan teman.
d) Jiwa yang jahat dan watak yang rendah. Dia tidak
menginginkan kebaikan bagi seseorang dan merasa berat atas
kenikmatan Allah atas hamba-hambaNya.21
Penyakit dengki ini sangat berbahaya dan sukar diobati
dengan terapi biasa. Penyakit dengki sangat merusak, mengganggu
dan menghilangkan kebahagiaan hidup. Dengki juga dapat
menyebabkan persengketaan, permusuhan, penipuan, fitnah, dan
lebih jauh lagi dapat menyebabkan timbulnya perang dan mala
petaka dalam masyarakat. Sehingga selama rasa dengki itu
bersarang di dalam hati seseorang selamanya ia tidak akan
mendapatkan rasa bahagia dalam hidupnya.
5) G hi bah
Menggunjing atau mengumpat adalah suatu perbuatan yang
suka membicarakan mengenai diri orang lain di belakang
orangnya. Sedangkan bila orang yang dibicarakan itu mendengar ia
akan marah dan membencinya.
Arti ghibah disebutkan dalam sebuah hadits : LLNabi saw
bersabda : tahukah kalian apakah itu ghibah itu? mereka
menjawab “Allah dan RasulNyalah lebih tahu” Rasulullah saw
bersabda : “Apabila kamu menyebut saudaramu dengan sifat yang
tidak disukainya ” a da yang mengatakan : “Apakah pendapatmu
jika pada diri saudaraku terdapat apa yang aku katakan?”
Rasulullah saw bersabda : “Jika terdapat padanya apa yang kamu
katakan maka kamu menggunjingnya, jika tidak terdapat padanya
apa yang kamu katakan maka kamu telah memfitnahnya
Sebab-sebab timbulnya ghibah menurut Umar Ibnu Ahmad Baradja adalah:
a) Marah. Orang yang marah pada seseorang dan menjadi
dendam maka dia selalu menggunjing orang lain tersebut.
b) Apabila menghadiri suatu majlis yang penghuninya
menggunjingkan seseorang dan dia takut menegurnya atau
meninggalkan majlis tersebut
c) Kesombongan
d) Dengki
e) Menghabiskan waktu untuk tertawa dan omong kosong
sehingga ia bergurau dengan mencela kehormatan orang
lain.22
Orang yang suka menggunjing diserupakan oleh Allah
dengan pemakan daging bangkai. Firman Allah : “...dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah
seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah
mat'x? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya...” (QS. A1 Hujarat :
12)
Ada 4 syarat bagi seseorang yang taubat dari ghibah yaitu
menyesal di dalam hati, berhenti dari dosa, bertekat untuk tidak
kembali melakukan dosa itu serta meminta dihalalkan dari orang
yang digunjingkannya dengan meminta maaf dan bersikap murah
hati.23
2. Metode Pendidikan dalam Kitab Al Akhlak Li al Banin
Metode penyajian yang diterapkan oleh Umar Ibnu Ahmad Baradja
dalam kitab Al Akhlak Li al Banin antara lain
a. Dengan Menggunakan Nasehat
Diantara metode pendidikan yang populer sejak diilu adalah
dengan cara nasehat, sebab manusia itu sangat senang dan selalu
memperhatikan jika mendengar nasehat dari orang lain yang
dicintainya. Maka dalam kondisi yang demikian ini, nasehat sangat
mampu berpengaruh pada diri orang yang mendengamya.
Umar Ibnu Ahmad Baradja pun lebih banyak menerapkan
metode nasehat di dalam mcndidik akhlak anak. Sebagai contob adab
pada waktu duduk. “Duduklah dengan gaya yang baik, yaitu tegak dan
tenang, tidak membengkokkan kepala atau badan dan tidak
mengulurkan kedua kaki, tidak menyembunyikan jari-jarimu dan tidak