• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Karakter dalam Lingkungan Keluarga Perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pendidikan Karakter dalam Lingkungan Keluarga Perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.pd)

Disusun oleh:

Syafa’atul Mu’minin 11160110000039

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1442 H/ 2021

(2)

dalam Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:

Syafa’atul Mu’minin NIM.11160110000039

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Skripsi

Ahmad Irfan Mufid, MA NIP. 197403182003121002

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1442 H/ 2021

(3)

Al-Banin, disusun oleh Syafa’atul Mu’minin NIM : 11160110000039, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiyah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang diterapkan oleh fakultas.

Jakarta, 31 Maret 2021 Yang mengesahkan, Pembimbing

Ahmad Irfan Mufid, MA NIP. 197403182003121002

(4)
(5)
(6)

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang harus ditanamkan sejak dini, hal ini bertujuan agar dapat mewujudkan manusia yang berbudi baik, karena karakter bukanlah sifat bawaan lahir, akan tetapi dibentuk melalui pengalaman dan pembiasaan. Dalam Islam karakter lebih dikenal dengan akhlak, sehingga pendidikan karakter dapat diartikan sebagai pendidikan yang berbasis akhlak.

Sehubungan dengan itu penulis mencoba melakukan penelitian kepustakaan dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin, berdasarkan hasil penelitian ini, dapat kami simpulkan bahwa, pembentukan karakter seorang anak yang baik dimulai sejak masih dalam masa pendidikan informal, pendidikan karakter yang dilakukan dalam lingkungan keluarga harus ditempuh secara runtut dari mulai pemberian pendidikan akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada Nabi Muhammad SAW, akhlak kepada kedua orang tua, akhlak kepada saudara, akhlak kepada pembantu, akhlak kepada tetangga dan akhlak kepada guru, dan lain sebagainya

Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Lingkungan Keluarga, Kitab Al-Akhlak li Al Banin, Syaikh Umar bin Akhmad Baraja.

(7)

ABSTRAK

Syafa’atul Mu’minin (NIM: 11160110000039) Pendidikan Karakter dalam Lingkungan Keluarga Perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin

Character education is education that must be instilled from an early age, this is aimed at realizing good-natured humans, because character is not an innate character, but is formed through experience and habituation. In Islam, character called morals, so that character education can be interpreted as morally education.

The author examined to do literature research in the book Al-Akhlaq li Al- Banin, based on the results of this study, we can conclude that, the character building of a good child starts from the time of informal education, character education carried out in a family environment must be taken sequentially starting from giving moral education to Allah SWT, morals to the Prophet Muhammad SAW, morals to both parents, morals to siblings, morals to helpers, morals to neighbors and Morals to teachers, and other morals so on.

Keywords: Pendidikan Karakter, Lingkungan Keluarga, Kitab Al-Akhlak li Al Banin, Syaikh Umar bin Akhmad Baraja.

(8)

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan penelitian ini. Dan tak lupa sholawat serta salam penyusun curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi suri tauladan dalam kebaikan bagi kita semua serta membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman penuh ilmu pengetahuan.

Ucapan terima kasih kepada para dosen yang tidak pernah bosan membimbing dan mendidik kami untuk memahami setiap mata kuliah yang diberikan, melatih kami menjadi mahasiswa yang disiplin dan bertanggung jawab. Tak lupa pula penyusun ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang tiada henti memberikan semangat dan juga kepada teman-teman seilmu seperjuangan.

Dengan izin Allah SWT, penyusun dapat menyelesaikan penelitian tentang konsep pembentukan karakter dalam lingkungan keluarga menurut Syaikh Umar bin Akhmad Baraja’ dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin. Laporan ini disusun sebagai persyaratan akhir kelulusan jenjang S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam menyelesaikan skripsi ini, terdapat banyak kesulitan yang penyusun alami, terutama disebabkan oleh terbatasnya ilmu yang penyusun miliki, dan juga sulitnya mencari landasan teori yang sesuai dengan tema yang telah penyusun pilih.

Namun, alhamdulillah penyusun mendapat begitu banyak dukungan, bantuan, bimbingan, motivasi, saran, serta do’a dari berbagai pihak sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan skripsi ini. Maka dari itu penyusun mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Sururin M.Ag., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Drs. Abdul Haris M.Ag., Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Drs. Rusdi Jamil M.Ag., Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(9)

ii

4. Prof. Dr. H. Akhmad Syafi’i Noor. Selaku dosen Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan bimbingan serta arahan sejak awal perkuliahan sehingga saya dapat menyelasaikan segala tugas-tugas dengan baik. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada setiap kebaikan bapak.

5. Ahmad Irfan Mufid, MA selaku dosen pembimbing penulisan skripsi yang tidak bosannya memberikan bimbingan, masukan, arahan, serta nasehat dalam proses penulisan skripsi. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada setiap kebaikan bapak.

6. Seluruh dosen-dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada saya selama masa kuliah. Semoga Allah berikan karunia-nya kepada seluruh dosen atas segala ilmu yang telah Bapak dan Ibu dosen berikan.

Semoga segala ilmu yang telah diberikan dapat bermanfaat dan berkah bagi saya, dan semoga Bapak Ibu dosen selalu diberikan kesehatan, perlindungan, dan keberkahan dari Allah.

7. Ibu Farah, serta seluruh staf jurusan Pendidikan Agama Islam yang telah membantu dan memudahkan saya selama masa kuliah hingga mengajukan proposal skripsi ini. Semoga ibu dan seluruh staff Pendidikan Agama Islam Allah berikan kemudahan, kesehatan serta keberkahan baik di dunia maupun di akhirat.

8. Kedua orang tua. Ibu Wiwik Sri Lestari dan Bapak Nur Kholis.

Terimakasih atas bimbingan, motivasi, doa, kesabaran, serta dukungan moril maupun materil, yang selalu menjadi semangat dalam menyelesaikan karya ini

9. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, namun tak mengurangi rasa hormat dan terimakasih saya. Saya ucapkan terimakasih banyak atas semua do’a dan dukungan yang selalu tercurahkan kepada saya. Semoga Allah membalas apa yang telah kalian berikan dengan kebaikan yang yang berlipat ganda.

(10)

iii

Penyusun sepenuhnya sadar bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu Pada kesempatan ini penyusun juga turut mengucapkan terima kasih kepada pembaca laporan ini dan kesediaannya memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun demi menyempurnakan laporan-laporan penyusun berikutnya.

Dan penyusun berharap, semoga laporan ini dapat memberikkan manfaat bagi penulis khususnya, serta bagi pembaca secara umum dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ciputat, 4 Januari 2021 Penyusun

Syafa’atul Mu’minin 11160110000039

(11)

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang ... 1

b. Identifikasi Masalah ... 8

c. Pembatasan Masalah ... 8

d. Perumusan Masalah ... 9

e. Tujuan dan Manfaat Hasil Penelitian ... 9

BAB II: KAJIAN TEORITIS a. Konsep Pendidikan Karakter dalam Sistem Pendidikan Nasional .... 10

b. Konsep Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam ... 16

c. Pendidikan Karakter menurut Syaikh Umar bin Akhmad Baradja ... 20

d. Pendidikan Keluarga menurut Syaikh Umar bin Akhmad Baradja .. 23

e. Penelitian Yang Relevan ... 26

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN a. Pendekatan Penelitian ... 30

b. Sumber Data ... 32

c. Teknis Analisis Data ... 33

BAB IV: HASIL PENELITIAN a. Biografi Syaikh Umar bin Akhmad Baradja ... 35

b. Deskripsi Singkat Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin ... 40

c. Konsep Pendidikan Karakter Anak Dalam Lingkungan Keluarga Dalam Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin ... 47

d. Pola Asuh Orang Tua yang Perlu Dikembangkan Perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin ... 75

BAB V: PENUTUP Kesimpulan ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang tua, karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban orang tua untuk mengasuh, merawat, dan mendidik seorang anak hingga ia menginjak usia dewasa, orang tua juga lah yang paling bertanggung jawab dalam membimbing anak-anaknya terutama membimbing atau mendidik anaknya dalam pendidikan agama. Karena pendidikan agama ini yang akhirnya akan menjadi landasan atau pondasi dalam diri seseorang.

Oleh karena itu orang tua mempunyai peran penting untuk membimbing atau mendidik anaknya.

Tanggung jawab besar orang tua untuk mendidik anak menjadi pribadi yang shaleh tertuang dalam firman Allah SWT surat al-Tahrim ayat 6:

ُةارااجِْلْااو ُساَّنلا ااهُدوُقاو اًرانَ ْمُكيِلْهاأاو ْمُكاسُفْ ناأ اوُق اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ

نوُرامْؤُ ي اام انوُلاعْفا ياو ْمُهاراماأ اام اَّللَّا انوُصْعا ي الَ ٌدااد ِش ٌظ الَِغ ٌةاكِئ الَام ااهْ ي الاع

Artrinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.1

Keluarga merupakan sarana yang pertama dalam proses interaksi sosial dan menjalin hubungan yang erat baik antar anggota keluarga ataupun secara luas.2 Selain merupakan sarana yang pertama dalam proses interaksi sosial, keluarga juga merupakan sarana yang pertama kalinya memberikan pendidikan kepada seorang

1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Kumudasmoro Grafindo, 1994).

2 Saifuddin Aziz, Pendidikan Keluarga Konsep dan Stategi, ( Yogyakarta, Penerbit Gava Media, 2015) hlm 18

(13)

anak, pendidikan ini sering disebut dengan pendidikan ilmiah yang melekat pada setiap rumah tangga.

Akan tetapi pada zaman sekarang ini banyak sekali orang tua yang lepas tangan untuk mendidik anak-anaknya sendiri. mereka lebih sibuk dengan dunianya sendiri yaitu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah, sehingga tidak ada kesempatan bagi orang tua untuk berkomunikasi, mendidik, memberi contoh, ataupun memantau perkembangan anak. Dari sinilah tugas orang tua dalam membentuk akhlak dan kepribadian anak tidak terlaksana dengan baik. Sehingga mengakibatkan orang tua tak lagi menjadi figur panutan dan menjadikan anak mudah terjerumus pada hal-hal yang bersifat negatif

Kekacauan dan kerusakan yang terjadi pada bangsa indonesia sekarang ini diyakini sebab rusaknya akhlak/ moral pada seluruh segmen kehidupan dan seluruh lapisan masyarakat, banyak bukti yang menjelaskan terjadinya kerusakan moral di seluruh lapisan masyarakat tersebut, pada tingkatan elit (Pemimpin) kerusakan moral dapat kita lihat dari maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) pada hampir seluruh instansi pemerintahan.

Sementara pada kalangan bawah (Masyarakat) kerusakan moral bangsa ini dapat kita lihat dari maraknya tindak kejahatan yang hampir setiap hari terjadi kasus-kasus baru, mulai dari pencopetan, perampokan, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, dan juga berbagai macam tindak kekerasan yang mengatas namakan suku, ras, budaya, ataupun agama. Kerusakan moral ini juga telah menjangkiti para remaja dan juga para pelajar, tak jarang ditemukan kasus-kasus kriminal yang dilakukan oleh para pelajar yang seharusnya memberikan contoh sikap seorang yang terpelajar. Maraknya pergaulan bebas, penyalah gunaan narkoba, beredarnya foto dan video porno, serta tawuran antar pelajar cukup memberikan isyarat bahwa negeri ini butuh perbaikan moral.

Fenomena-fenomena di atas seharusnya dapat mendorong pemerintah agar memberikan perhatian khusus dalam pembangunan karakter bangsa, dan menurut penulis, salah satu solusi yang dapat diberikan ialah dengan menekankan pentingnya pendidikan akhlak/ karakter pada setiap institusi pendidikan, baik itu pendidikan formal, non formal, ataupun informal. Jika setiap pendidikan hanya

(14)

mengedepankan intelektualitas tanpa disertai dengan pembentukan moral, maka yang akan terjadi pada bangsa ini hanyalah kerusakan, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, akan tetapi kekurangan orang jujur, dan sikap jujur dapat kita tanamkan pada generasi bangsa dengan menanamkan pendidikan karakter sejak dini.

Pendidikan merupakan suatu upaya yang amat penting demi mengangkat harkat dan martabat serta menyiapkan generasi yang memiliki intelektualitas, spiritualitas dan akhlakul kamrimah, maka kita harus memberikan suatu usaha dan pemikiran yang keras dan serius dalam dunia pendidikan demi mewujudkan cita- citanya. Banyak terjadinya kekerasan di kalangan muda-mudi, adanya pergaulan bebas, maraknya minuman keras dan obat-obatan terlarang dikonsumsi di mana- mana, adanya perkelahian antar remaja, tumbuhnya perzinaan dan perbuatan maksiat di kalangan muda mudi, merupakan bukti dari kurang berhasilnya pendidikan di lingkungan kita.

Kegagalan tersebut bisa saja terjadi pada pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah ataupun pendidikan yang berada di berbagai lembaga pendidikan. Oleh karena itu, yang menjadi prasarat utama dalam upaya mencapai tujuan pendidikan adalah dengan memulai dari diri kita sendiri (ibda’ bi nafsika), utamanya dalam pendidikan keluarga yang menjadi titik tolak dan titik pangkal dari berkembang dan bertumbuhnya anak didik dalam pembentukan sikap dan kepribadiannya dengan mengambil nilai-nilai Islami yang terkandung dalam al- Qur’an dan Hadits nabi.3

gejala krisis akhlak yang merambah pada para peserta didik seakan memberi isyarat bahwa penanaman moral perlu ditanamkan jauh sebelum anak-anak melangkah pada jenjang pendidikan formal, yaitu ketika anak-anak masih dalam tahap pendidikan informal (keluarga). Keadaan seperti itu mengacu pada kesamaan inti permasalahan, yaitu rapuhnya pondasi moral. Moralitas kebangsaan kita saat ini berada pada titik terendah. Terutama krisis akhlak yang terjadi akibat gagalnya

3 Hasan Baharun, Pendidikan Anak dalam Keluarga; Telaah Epistimologi, Probolinggo;

Jurnal Pendidikan, Vol.3 No.2, 2016, 97

(15)

dunia pendidikan dalam menanamkan nilai moral atau menyiapkan generasi muda bangsa selanjutnya.4

Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak (berkarakter) mulia. Berbicara mengenai pendidikan memang tidak pernah ada habisnya.

Berbagai persoalan pendidikan pun muncul seiring dengan perkembangan zaman.

Begitu juga solusinya yang kian hari kian banyak opini, pendapat, jurnal, artikel bahkan penelitian khusus tentang pendidikan, baik kajian teoritik maupun empirik.

Kebutuhan manusia akan pendidikan merupakan suatu yang sangat mutlak dalam hidup ini, dan manusia tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pendidikan. Fatah Yasin mengutip perkataan John Dewey menyatakan bahwa “Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia guna membentuk dan mempersiapkan pribadinya agar hidup dengan disiplin”.5

Lembaga pendidikan sudah seharusnya dapat berperan untuk mendidik dan melaksanakan tujuan dan fungsi pendidikan. Dimana tujuan dan fungsi pendidikan nasional itu telah diatur dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, yang berbunyi :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.6

Makna yang terkandung dalam pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian manusia. Manusia yang mempunyai kepribadian yang baik adan memunculkan prilaku yang baik pula, akan tetapi membentuk kepribadian yang

4 Syamsu S, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Antisipasi Krisis Akhlak Peserta Didik Pada SMA Negeri Di Palopo, Palopo, Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol. 9 No. 2, 2015

5 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm 15

6Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm 76

(16)

baik bukanlah hal yang mudah. Pendidikan pada masa kanak-kanak pada akhirnya akan dimunculkan sebagai solusi pembentukan karakter dapa masing-masing individu. Islam datang untuk mengantarkan manusia kejenjang kehidupan yang gemilang dan bahagia sejahtera melalui berbagai segi. Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dialami sekarang ini tidak sedikit dampak negatifnya terhadap kehidupan atas kemajuan yang dialaminya, sehingga pada saat ini manusia terlampau mengejar materi, tanpa menghiraukan nilai-nilai spiritual yang sebenarnya berfungsi untuk memelihara dan mengendalikan akhlak.

Jika anda hanya menjejali anak dengan pendidikan tanpa membimbingnya agar berprilaku baik sebagaimana nilai-nilai pendidikan yang dipelajarinya, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tapi prilaku tindakan serta mental mereka tak ubahnya orang yang bodoh. Karena itu jangan heran jika kemudian ada seorang yang pandai, tetapi kepandaiannya justru membuatnya berprilaku negatif.7

Pembentukan karakter adalah roh pendidikan. Hal ini mengandaikan bahwa pendidikan yang dilakukan tanpa dibarengi pembentukan karakter, sama halnya dengan jasad tanpa jiwa (nyawa). Seorang yang hanya terdidik dan tidak terlatih atau tidak terbentuk karakternya, maka ia hanya menjadi manusia “tanpa mata”, yang segala tindakannya cenderung mengarah pada hal-hal yang diskriminafif dan merusak.8

Islam menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat tinggi, karena melalui pendidikan manusia dapat menjadi insan yang cerdas, dan dengan ilmu orang dapat mengenal Tuhannya, mencapai ma’rifatullah, dan dengan ilmu pula peribadatan seseorang akan menjadi lengkap dan sempurna. Demikian juga tinggi rendahnya derajat seseorang, disamping iman, juga sangat ditentukan oleh kualitas keilmuan (kearifan) seseorang. Karena ilmu sangat menentukan, maka pendidikan sebagai sebuah proses perolehan ilmu menjadi sangat penting.

7 Nurla Isna Aunillah, Membentuk Karakter Anak, (Yogyakarta; flashbook, 2015) hlm 13

8 Ibid., hlm 13

(17)

Dalam islam pendidikan juga dipahami sebagai sebuah proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai ajaran islam terhadap peserta didik, melalui proses pengembangan fitrah agar memperoleh keseimbangan dalam semua aspek kehidupannya.

Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah Al- Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an sebagai sumber ajaran sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan hadis, sebagai sumber ajaran islam, diakui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja. Melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, termasuk didalam mengatur masalah pendidikan. Nabi Muhammad Saw. telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup. Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada Al-Qur’an dan hadis sejak awal telah menancapkan revolusi dibidang pendidikan dan pengajaran.

Sebagai agama, islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan komperehensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan pada era sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna, ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman.

Untuk memahami konsep keagamaan pada anak-anak berarti kita perlu memahami sifat agama pada anak-anak, keagamaan pada anak-anak hampir sepenhnya autoritarius, maksudnya ialah konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka.9

Sedemikian pentingnya pendidikan sehingga harus dilakukan secara terus- menerus oleh manusia sampai akhir hayatnya. Dan pendidikan yang paling penting ialah pendidikan dalam keluarga, karena pendidikan keluarga jugalah yang paling berperan untuk mendidik seorang anak.

9 Jalaludin, psikologi agama, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2010) hlm 70

(18)

Pendidikan anak yang pertama dan paling utama dalam Islam adalah pendidikan dalam keluarga yang berperspektif Islam. Pendidikan dalam keluarga yang ber Perspektif Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada tuntunan agama Islam yang diterapkan dalam keluarga yang dimaksudkan untuk membentuk anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia yang mencakup etika, moral, budi pekerti, spiritual atau pemahaman dan pengalaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu wujud amar makruf nahi munkar dalam kehidupan keluarga, yaitu dengan memberikan pendidikan kepada putra putrinya berdasarkan ajaran Islam. Anak dalam menuju kedewasaannya memerlukan bermacam-macam proses yang diperankan oleh bapak dan ibu dalam lingkungan keluarga. Pola atau metode pendidikan agama dalam Islam pada dasarnya mencontoh pada perilaku Nabi Muhammad SAW dalam membina keluarga dan sahabatnya. Karena segala apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan manifestasi dari kandungan al-Qur’an. Adapun dalam pelaksanaannya, Nabi memberikan kesempatan pada para pengikutnya untuk mengembangkan cara sendiri selama cara tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh Nabi SAW.

Perhatian ulama terhadap pembentukan akhlak tampak pada kitab Al-Akhlaq li Al-Banin dan Al-Akhlaq li Al-Banat, yang dikarang oleh Umar Bin Akhmad Baradja. Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin terdiri dari 4 jilid sedangkan Al-Akhlaq li Al- Banat terdiri dari 3 jilid. Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin dan Al-Akhlaq li Al-Banat hampir digunakan di berbagai pondok-pondok pesantren. Bahkan, sudah sejak lama dijadikan kitab wajib. Kitab ini tidak hanya digunakan di pondok pesantren, tetapi juga di madrasah

Dengan diajarkannya kitab-kitab ini, menunjukkan bahwa Kitab Al-Akhlaq li Al-Banin dan Al-Akhlaq li Al-Banat karya Umar Bin Akhmad Baradja merupakan kitab populer atau bisa dikatakan kitab wajib, khususnya di madrasah-madrasah swasta, ataupun pondok pesantren. Kepopuleran kitab ini juga dilihat terjemahan buku ke berbagai bahasa daerah, seperti Jawa, Madura, dan Sunda. Penterjemahan

(19)

ini tentunya bertujuan untuk memudahkan masyarakat yang awam akan bahasa arab untuk mempelajari dan menerapkan pendidikan ahlak.

Hal itulah yang melatar belakangi penulis melakukan kajian tentang pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga dengan mengacu pada perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam kitabnya yanmg berjudul Al-Akhlaq li Al- Banin

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Banyak terjadi tindak kriminal yang disebabkan oleh ketidak sadaran masyarakat akan pentingnya penanaman moral

2. Pendidikan yang diberikan kepada anak di era sekarang ini lebih terfokuskan pada peningkatan intelektual dibandingkan dengan pembentukan karakter dan kepribadian.

3. Sebagian masyarakat masih belum menyadari pentingnya pendidikan karakter ketika anak masih dalam tahap pendidikan informal.

4. Di era sekarang ini orang tua cenderung lebih menyerahkan masalah pendidikan karakter pada lembaga pendidikan yang ada, tanpa memperbaiki pendidikan dalam lingkup keluarga

C. Pembatasan Masalah

Agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang maka dari pokok masalah dan lebih terarah, maka diperlukan adanya pembatasan masalah. Untuk itu penulis membatasi masalah pada:

1. Penelitian yang dilakukan merujuk pada kitab induk yaitu kitab Al- Akhlaq li Al-Banin

2. Penelitian difokuskan pada pendidikan akhlak atau pembentukan karakter

3. Pendidikan karakter yang dimaksudkan adalah berfokus pada pendidikan yang dilaksanakan dalam lingkungan keluarga

(20)

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga menurut Syaikh Umar Bin Akhmad Baraja dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin

2. Bagaiman pola asuh orang tua kepada anak yang perlu dikembangkan dalam membentuk Ahklakul karimah menurut kitab Al-Akhlaq li Al- Banin

E. Tujuan dan Manfaat Hasil Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

a. Mengetahui konsep Pendidikan Akhlak dalam lingkungan keluarga yang terkandung dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin karya Syaikh Umar Bin Akhmad Baraja.

b. Mengetahui tentang pola asuh dalam membentuk karakter anak 2. Manfaat Hasil Penelitian

Sedangkan manfaat hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sebagai bahan perhatian orang tua dan guru atau pendidik tentang pentingnya pendidikan Akhlak dalam proses mendidik akhlak anak.

b. Sebagai bahan informasi kaitannya dengan nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin sehingga dapat dijadikan referensi bagi orang tua maupun guru dalam mendidik akhlak anak.

c. Dari segi kepustakaan, penelitian ini dapat menjadi salah satu karya ilmiah yang dapat menambah koleksi pustaka Islam yang bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan peneliti khususnya

(21)

10

BAB II

KAJIAN TEORITIS

1. Konsep Pendidikan Karakter dalam Sistem Pendidikan Nasional

Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 perlu disambut gembira dan didukung semua pihak. Pendidikan karakter bukan hanya penting, tetapi mutlak dilakukan oleh setiap bangsa jika ingin menjadi bangsa yang beradab. Banyak fakta membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang maju bukan disebabkan bangsa tersebut mem iliki sumber daya alam yang berlimpah, melainkan bangsa yang memiliki karakter unggul seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab dan lainnya.

Pendidikan karakter menjadi sesuatu yang penting untuk membentuk generasi yang berkualitas. Pendidikan karakter merupakan salah satu alat untuk membimbing seseorang menjadi orang yang lebih baik, sehingga mampu memfilter pengaruh yang tidak baik. Abuddin Nata menggambarkan bahwa gejala keruntuhan moral dewasa ini sudah benar-benar mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong, dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal, dan saling merugikan. Banyak terjadi adu domba dan fitnah, menjilat, menipu, mengambil hak orang lain sesuka hati, dan perbuatanperbuatan maksiat lainnya.10 Semua itu menjadi alasan mengapa pendidikan karakter penting diterapkan dalam dunia pendidikan.

Beberapa tokoh mendefinisikan karakter sama dengan kepribadian.

Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak

10 Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, MengatasiKelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Cet. Ke-III (Jakarta: Prenada Media Group, 2003), hlm 197.

(22)

lahir.11 Karakter dipengaruhi oleh hereditas (keturunan). Perilaku seorang anak seringkali tidak jauh dari perilaku orang tuanya. Karakter juga dipengaruhi oleh lingkungan. Anak yang berada di lingkungan yang baik, cendrung akan berkarakter baik, demikian juga sebaliknya. Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).12 Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti to engrave (mengukir). Dengan demikian, membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu yang pelaksanaannya tidak mudah. Dari makna asal tersebut kemudian pengertian karakter berkembang menjadi tanda khusus atau pola perilaku . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter diartikan sebagai tabiat;

sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pengertian ini tidak jauh berbeda ditemukan dalam Oxford Dictionary, yang mendefinisikan karakter sebagai the mental and moral qualities distinctive to an individual (kualitas mental dan moral yang khas pada seseorang), the distinctive nature of something (sifat khas sesuatu), the quality of being individual in an interesting or unusual way (kualitas individu dalam pandangan yang menarik atau tidak biasa), strength and originality in a person's nature (kekuatan dan orisinalitas dalam diri seseorang), a person's good reputation (reputasi yang baik seseorang).13

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karakter merupakan watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Atau karakter dapat pula dinyatakan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, karakter berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi

11 Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral, Intelektual, Emosional, dan Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), hlm 11

12 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm 10

13 Mohammad Kosim, Urgensi pendidikan karakterm, Pamekasan: Journal of Social and Islamic Culture Vol. 19, No. 1, 2012

(23)

‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas moral positif

Adapun pendidikan, menurut Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan memperhatikan makna karakter dan pendidikan, maka pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya mengembangkan potensi peserta didik dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa agar mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warganegara.

Pusat Pengkajian Pedagogik (P3) mendefinisikan pendidikan karakter dalam setting sekolah sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Definisi ini mengandung makna:

1. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada suatu mata pelajaran

2. Diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh, asumsinya anak merupakan organism manusia yang memiliki potensi untuk dikuatkan dan dikembangkan

3. Penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah (lembaga).14

Landasan dan sumber pendidikan karakter bangsa yang hendak dikembangkan melalui lembaga pendidikan digali dari nilai-nilai yang selama ini menjadi karakter

14 Raihan Putri, Nilai Pendidikan Karakter Anak Di Sekolah Perspektif Kemendiknas, : Internasional Journal of Child and Gender Studies, vol. 4, No.1, 2018

(24)

bangsa Indonesia, yaitu nilai-nilai agama, Pancasila, budaya bangsa, dan tujuan pendidikan nasional.

1. Agama; masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama, oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2. Pancasila; negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsipprinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3. Budaya; sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan karakter bangsa.

4. Tujuan Pendidikan Nasional; sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

(25)

bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.” Dari bunyi pasal tersebut, setidaknya terdapat lima dari delapan potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksana-an pendidikan karakter.

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;

keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan;

kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.15

Sementara itu, berdasar nilai-nilai agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional merumuskan delapan belas nilai-nilai yang perlu dikembangkan melalui pendidikan karakter masing-masing nilai ini tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi, nilai-nilai tersebut yaitu:

1. Religius; sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur; perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

15 Lok.Cit., Mohammad Kosim hlm 89

(26)

3. Toleransi; sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin; tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja keras; perilaku yang menunjukkan upaya sungguhsungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaikbaiknya.

6. Kreatif; berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri; sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugastugas.

8. Demokratis; cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa ingin tahu; sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat kebangsaan; cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta tanah air; cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12. Menghargai prestasi; sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif; tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta damai; Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar membaca; Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

(27)

16. Peduli lingkungan; sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli sosial; sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung-jawab; sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

2. Konsep Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Karakter dalam KBBI diartikan sebagai sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, prilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau mahluk hidup lainnya. Dalam Islam karakter lebih akrab disapa dengan akhlak, kepribadian, serta watak sesorang yang dapat dilihat dari sikap, cara bicara, dan perbuatan yang melekat dalam dirinya. Akhmad Shodiq mendefinisakan karakter sebagai nilai yang melembaga dalam diri seseorang yang dikenal sebagai sifat. Disebutkan juga bahwa karakter adalah hal serupa dengan pembahasan akhlak dalam kajian islam.16

Soekidjo mendefinisikan Akhlak adalah kebiasaan kehendak yang dilakukan secara langsung tanpa mikir terlebih dahulu.17 Secara etimologis akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.18 Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq (pencipta).19 kesamaan akar kata diatas mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan) dengan prilaku makhluk (manusia). Atau dengan kata lain, tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan

16 Akhmad Shodiq, Prophetic Character Building, (jakarta: Kencana, 2018) hlm 1

17 Soekidjo Notoatmodjo, Pendidikan dan Perilku Kesehatan, Cet ke-1, (Jakarta, PT Rineka Cipta, 2003) hlm 114

18 Al-Munjid fi al-Lughah wa al- I‟lam (Beirut: Dar al – Masyriq, 1989), cet. Ke 28, hlm 164.

19 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam (LPPI UMY), 2011), hlm 1

(28)

lingkungannya baru mengandung nilai akhlak yang hakiki manakala tindakan atau prilaku tersebut didasarkan kepada kehendak khaliq.

Dari pengertian etimologis di atas, dapat kita simpulkan bahwa akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku dalam kehidupan bersosial saja, akan tetapi jauh lebih luas dari itu, akhlak juga merupakan tata aturan atau norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.20

Secara terminologis ada beberapa ulama besar yang defenisi tentang akhlaq : Imam al-Ghazali mendefinisikan Akhlak sebagai sebuah sifat yang tertanam dalam jiwa yang akan menimbulkan perbuatan- perbuatan dengan sendirinya dan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”21 Pendapat serupa juga dikemukakan oleh seorang ulama besar bernama Ibrahim Anis, ia mendefinisikan Akhlak sebagai sifat yang ditanam di dalam jiwa, yang dengan sifat itu akan lahirlah segala jenis perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”22

Abdul Karim Zaidan juga turut mengafirmasi pendapat keduanya dengan mendefinisikan Akhlaq sebagai nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatanya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.”23

Ketiga defenisi yang dikutip di atas sepakat menyatakan bahwa akhlaq atau khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.

Disamping istilah akhlaq, juga dikenal istilah etika dan moral.

20 Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta; Djambatan, 1992), hlm 98

21. Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya ‘Ulum ad -Din, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), Jilid III, hlm 58

22. Ibrahim Anis, Al- Mu‟jam al-Wasith, (Kairo: Dar ul ma’arif, 1972), hlm 202.

23. Abdul Karim Zaidan, Ushul ad- Da‟wah (Baghdad: Jam’iyyah al-Amani, 1976), hlm 75.

(29)

Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap perbuatan manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlaq standarnya adalah Al-Qur’an dan Sunnah, bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran, dan bagi moral standarnya adat kebiasaan yang umum maupun berlaku dimasyarakat.24

Dari masing-masing pengertian yang telah dijelaskan diatas, dapat kita lihat kesamaan antara karakter dalam kajian moderen dan juga akhlak dalam kajian islam ini terlihat dari inti pada kedua kajian tersebut, yaitu mengenai penanaman nilai sejak dini sehingga menjadi sifat yang menetap pada diri seseorang

Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter dapat dikatakan sebagai pendidikan agama yang berbasis akhlak, pendidikan ini memiliki kedudukan yang tinggi. Demikian tingginya dalam Islam hingga Nabi shallAllahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai barometer keimanan. Beliau bersabda:

اًقُلُخ ْمُهُ ناسْحاأ ًنَاايمِإ اينِنِمْؤُمْلا ُلامْكاأ

Artinya:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abû Dâwûd dan Tirmidzî).

Dalam Islam, akhlak sangat terkait dengan keimanan dan tidak terpisah darinya. Keterkaitan antara iman dengan akhlak juga terlihat jelas pada pengarahan- pengarahan Nabi shallAllahu ‘alaihi wasallam tentang akhlak. Beliau sering sekali mengaitkan keimanan kepada Allah dan hari akhir dengan akhlak. Ketika seseorang memiliki orientasi dan cita-cita yang tinggi yaitu ridha Allah, maka dengan sendirinya ia akan menganggap rendah apa saja yang bertentangan dengan cita-cita tersebut yaitu seluruh perbuatan atau sifat yang dibenci oleh Allah.

Berbicara masalah pembentukan karakter sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak yang mulia. Muhammad

24 Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak (Jakarta: Rajawali Pers, 1992), hlm 9

(30)

Athiyah al-Abrasyi misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa dan tujuan pendidikan islam.

Menurut sebagian ahli, akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Selanjutnya pendapat lain mengatakan bahwa akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh.

Menurut Akhmad shodiq akhlak bukanlah watak bawaan, akan tetapi harus dibentuk melalui pengalaman dan pembiasaan.25 Ibnu Miskawaih, Ibn Sina, al- Ghazali juga termasuk kelompok yang mengatakan akhlak adalah hasil usaha (Muktasabahah).

Pada kenyataanya dilapangan, usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dengan berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada orang tua, sayang kepada sesama makhluk Tuhan dan seterusnya. Bayangkan saja jika anak-anak tidak dibina dalam hal akhlak?. Keadaan pembinaan ini semakin terasa diperlukan terutama pada saat dimana semakin banyak tantangan dan godaan sebagai dampak dari kemajuan dibidang iptek.

Dengan demikian pembentukan karakter dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk pribadi, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan karakter ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya. Potensi rohaniah yang ada pada diri manusia, termasuk didalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani dan intuisi dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.

25 Akhmad Shodiq, Loc. Cit.

(31)

Jadi, pendidikan karakter disini merupakan suatu proses mendidik, memelihara, membentuk dan memberikan latihan mengenai akhlaqul karimah yang didasarkan pada ajaran-ajaran Islam. karena pendidikan karakter merupakan pendidikan yang berorientasi membimbing dan menuntun kondisi jiwa, khususnya agar dapat menumbuhkan akhlak dan kebiasaan yang baik sesuai dengan aturan akal manusia dan syariat agama”. Sehingga mampu mencerminkan kepribadian seorang muslim. Bila dikaitkan antara karakter dengan akhlak, dapat disimpulkan bahwa individu yang berkarakter baik adalah seorang yang berusaha melakukan suatu hal dengan cara yang terbaik

3. Konsep Pendidikan Karakter Perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja Syaikh Umar bin Akhmad Baradja juga merupakan salah satu tokoh yang berpendapat bahwa karakter bukanlah watak bawaan, akan tetapi harus dibentuk melalui pengalaman dan pembiasaan, pendapat tersebut tercermin dari pemikiran beliau yang dituangkan dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin dan Al-Akhlaq li Al- Banat yang merupakan sebuah karya yang sangat populer di kalangan santri nusantara, kitab tersebut sudah sejak lama digunakan para santri di kalangan pondok Pesantren di Indonesia, khususnya pada Pondok Pesantren yang ada di Pulau Jawa. Kitab beliau ini menjadi kitab wajib yang dijadikan sebagai rujukan oleh para pengasuh dalam pendidikan, untuk mendidik karakter santri agar dapat mengontrol sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-harinya, terutama pada ruang lingkup bermasyarakat dan beribadah agar memiliki akhlak karimah

Salah satu contoh pemikiran beliau yang menunjukkan bahwa karakter adalah harus dibentuk melalui pengalaman dan pembiasaan, dapat kita lihat dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin jilid I, didalamnya dikatakan bahwa seorang anak haruslah memiliki adab sejak kecil, karena dengan begitu ia akan tumbuh dan dewasa dengan nilai-nilai kebaikan, akan tetapi jika seorang anak tidak ditanami nilai sejak kecil, maka saat ia dewasa tidak mungkin ia memiliki adab atau karakter yang baik, Syaikh Umar bin Akhmad Baradja mengumpamakannya dengan sebuah pohon, jika sejak kecil pohon itu dibiarakan bengkok, maka ketika ia besar tidak akan bisa diluruskan, karena kulitnya sudah mengeras, begitupun seorang anak, jika ia sejak

(32)

kecil tidak diberikan pendidikan karakter, maka ketika ia besar karakter buruknya tidak akan dapat diubah karena sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya sejak ia kecil.26

Mengenai bimbingan karakter, Syaikh Umar bin Akhmad Baraja dalam karyanya membuat dua versi yaitu kitab Al-Akhlaq li Al-Banin dan Al-Akhlaq li Al- Banat yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan karakter anak laki-laki dan anak perempuan dalam tujuan untuk mewujukan insan kamil, baik itu berhubungan dengan sang khalik maupun dengan makhluk, dalam sajian kitab beliau juga memuat tentang doa-doa dan amalan yang mengacu pada al-Qur’an dan as-Sunnah (Hadis) Rasulullah saw.

Pemikiran Syaikh Umar bin Akhmad Baradja mengenai pembangunan manusia baik secara moral maupun spiritual sangatlah luas, terutama yang berkaitan dengan akhlak yang menjadi tolak ukur baik buruknya karakter seseorang. Syaikh Umar bin Akhmad Baraja menyatakan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah pendidikan yang sangat penting bagi tegaknya kehidupan individu dan masyarakat, selain itu juga dapat membentuk kepribadian muslim yang terdidik dan beradab serta berguna bagi bangsa27

Abd. Adim menyebutkan bahwa Syaikh Umar bin Akhmad Baradja bukan hanya berjasa dalam bidang pendidikan, akan tetapi ia juga memiliki kontribusi yang sangat besar kepada bangsa dan negara dengan membawa ajaran Akhlak sebagai kontribusi pemikirannya, kepedulian Syaikh Umar bin Akhmad Baradja terhadap bangsa dan negara dapat kita lihat dalam karya beliau kitab Akhlak li Al- Banin yaitu: Umat suatu bangsa dinilai baik dan buruknya dari akhlak atau moralnya, sekali-kali bukan dipandang dari kekayaan dan kebagusan wajah mereka.

Sebagai modal utamanya adalah mendidik putra-putri bangsa kita dengan akhlak budi pekerti yang luhur, di samping ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Dengan demikian nantinya masa depan mereka akan menjamin nama baik bangsa kita. Jika

26 Umar bin Akhmad Baradja, Al-Akhlaq Li Al-Banin jilid I, (surabaya, Maktabah Muhammad bin Akhmad Nabhan Wa Auladahu) hlm 4.

27 Yanti, Konsep Pendidikan Akhlaq dalam Kitab Al-Akhlaq Lil Banin-Studi Analisis dalam Perspektif Gender, Yogyakarta: Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Sunan Kalijaga, 2003, hlm 61

(33)

kita mau mengkaji isi pemikiran Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam kitab yang kecil, tipis dan berjilid ini, maka semua kalangan bisa mengambil pelajaran guna memperbaiki akhlak dengan bercermin kepada anak kecil.28

Terkait dengan kajian tasawuf, akhlak merupakan akar untuk menumbuhkan dimensi spritualisme kaum sufi. Kemudian jika kita melihat dari sistem yang ada pada ajaran akhlak maka tasawuf bersenyawa dengan akhlak yang tidak akan bisa terpisahkan. Dengan mengacu pada akhlaklah maka muncul ajaran tasawuf akhlaqi.

Cecep alba menilai Syaikh Umar bin Akhmad Baradja juga merupakan seorang sufi yang menjalani dimensi spritualnya dan seruan untuk masuk kedunia tasawuf dengan media dakwahnya, yaitu melalui karya-karyanya yang dibutuhkan oleh semua kalangan.

Dalam diri manusia memiliki potensi untuk menjadi baik dan buruk. Tasawuf akhlaki tentu saja berusaha mengembangkan potensi baik supaya manusia memiliki karakter yang baik, dan dapat mengendalikan potensi buruknya. Potensi untuk menjadi baik yang dimiliki manusia ialah Al-Aql dan Al-Qolb sedangkan potensi untuk menjadi buruk An-Nafs yang dibantu oleh syaithan.29

Secara etimilogi tasawuf akhlaqi diartikan sebagai tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak dengan mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan manusia yang dapat makrifat kepada Allah dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan.

1. Takhalli

Takhalli adalah pijakan pertama untuk melangkah menuju jalan spiritual yaitu berusaha mengosongkan diri dari sifat, tindakan dan perilaku yang terlarang/tercela. Caranya dengan memadamkan hawa nafsu yang tidak habis-habisnya menyala yang mendorong untuk melakukan perbuatan nista pada jiwa manusia dengan jalan menghindari segala bentuk perbuatan maksiat.

28 Abd. Adim, Pemikiran Akhlak Menurut Syaikh Umar bin Akhmad Baradja, Banjarmasin; Jurnal Pemikiran Akhlak, Vol. 4, No. 2, 2016, hlm 134

29 Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2012), hlm 31.

(34)

2. Tahalli

Tahalli adalah upaya untuk memenuhi kekosongan dari perbuatan tercela dengan mengisi dan menghiasi diri melalui latihan dan mebiasakan bersikap dan berprilaku dalam tindakan-tindakan yang terpuji.

3. Tajalli

Tajalli adalah upaya terakhir setelah melewati fase takhalli dan tahalli untuk memantapkan dan memperdalam materi dalam proses kesempurnaan dan kesucian jiwa, meskipun ada perbedaan sebagian kaum sufi bahwa kesempurnaan dan kesucian jiwa seluruhnya tergantung pada jalan yang satu yaitu mahabbah kepada Allah swt serta memperdalam rasa kecintaan itu sebagai wujud hamba yang berakhlak terhadap Tuhannya.

4. Pendidikan dalam Lingkungan Kelurga perspektif Syaikh Umar bin Akhmad Baradja

Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang anak. Karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan primer yang lebih kuat pengaruhnya kepada individu dibanding lingkungan skunder.30 Sebelum anak mengenal lingkungan sekolah dan masyarakat, keluargalah yang pertama dijumpainya. Seorang anak yang lahir sejak awal kehidupannya adalah dalam lingkungan keluarga, dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan.

Keluarga adalah suatu kelompok yang ditandai oleh tempat tinggal bersama, kerjasama ekonomi, dan reproduksi yang dipersatukan oleh pertalian perkawinan atau adopsi yang disetujui secara sosial, yang saling berinteraksi sesuai dengan peranan-peranan sosialnya. Secara normatif, keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang terikat oleh suatu ikatan perkawinan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai suatu gabungan yang khas dan bersamasama memperteguh gabungan itu

30 Muhammad Khafid, Pengaruh Disiplin Belajar Dan Lingkungan Keluarga Terhadap Hasil Belajar Ekonomi, semarang; Jurnal Pendidikan Vol. 2 no. 2, 2007, hlm 192.

(35)

untuk kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman semua anggota yang ada di dalam keluarga tersebut. Secara definitif, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami istri, suami istri dan anak-anak, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.31

Keluarga merupakan kelompok sosial yang bersifat abadi, dikukuhkan dalam hubungan pernikahan yang memberikan pengaruh keturunan dan lingkungan sebagai dimensi penting yang lain bagi anaknya. Lingkungan keluarga merupakan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Dikatakan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah di dalam keluarga. Adapun tujuan pendidikan anak dalam keluarga adalah agar anak itu menjadi saleh atau agar anak itu kelak tidak menjadi musuh orang tuanya, yang akan mencelakakan orang tuanya.32

Masyarakat dan keluarga adalah tempat anak-anak belajar, tumbuh, dan berkembang menuju kedewasaan. Akan tetapi keluarga merupakan lembaga pertama dimana anak mengenal lingkungan masyarakatnya dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Di dalam keluarga kepribadian anak akan terbentuk karena daya interaksi yang intim antara anggota keluarga terutama orang tua (ayah dan ibu).

Menurut Syaikh Umar bin Akhmad Baradja, keluarga merupakan ladang terbaik dalam penyemaian nilai-nilai agama. Pendidikan dan penanaman nilai- nilai agama harus diberikan kepada anak sedini mungkin, salah satunya melalui keluarga sebagai tempat pendidikan pertama yang dikenal oleh anak. pendidikan keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama, tempat anak pertama kalinya menerima pendidikan dan bimbingan dari orang tua atau anggota keluarga lainnya. Di dalam keluarga inilah tempat orang tua meletakkan dasar-dasar kepribadian anak dan membentuk karakternya, yaitu

31 Saifudin Aziz, Op.Cit., hlm 15-16

32 Hasan Baharun, Pendidikan Anak Dalam Keluarga; Telaah Epistimologi, Probolinggo;

Jurnal Pendidikan, Vol.3 No.2, 2016, 103

(36)

ketika anak masih dalam usia dini, karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikan (orang tua dan anggota lain).33

Salah satu contoh nasehat Syaikh Umar bin Akhmad Baradja adalah : “putri sekarang akan menjadi ibu di masa mendatang. Apabila ia besar dalam akhlak yang mulia dan tumbuh dengan pendidikan yang benar, maka ia pun akan menjadi sekolah dasar dimana anak-anak menerima dasar-dasar kebaikan dan tonggak- tonggak kebesaran serta kemuliaan darinya.”34

Anak akan meniru apa-apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya baik yang di sengaja ataupun tidak disengaja. Oleh karena itu, orang tua harus berperilaku hiti-hati dalam kehidupannya agar dapat menjadi suri teladan yang baik bagi anak- anaknya. Karena apabila teladan itu baik maka anakpun akan tumbuh sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu memiliki akhlak yang sesuai dengan ajaran agama Islam dan aturan sosial masyarakat

Sebagai contoh: bila anak sering melihat orang tuanya saling menolong dan bergaul dengan baik, maka anak pun akan berprilaku sama. Dan sebaliknya, jika pendidikan anak jauh dari akidah Islam dan tidak menghargai aturan masyarakat yang ada, maka dengan sendirinya anak akan tumbuh dan terbentuk dengan mengikuti hawa nafsu dan bergerak dengan hawa nafsu negatif yang ada di lingkungannya

Dari urgensi pendidikan anak dalam keluarga yang telah diuraikan, dapat kita pahami bahwa pendidikan dalam keluarga harus benar-benar mendapatkan prioritas yang utama dan pertama agar tujuan pendidikan Islam dapat terwujud secara maksimal yaitu menciptakan manusia yang memiliki pengetahuan tinggi, beriman teguh dan berakhlaq mulia serta berguna bagi agama dan Negara. Dan seorang guru yang akan menanamkan nilai-nilai pada diri seorang anak ialah ibu, karena itu seorang wanita harus tumbuh dengan karakter dan nilai-nilai yang benar, agar kelak

33 Zuhairini, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya:Usaha Nasional,1981), hlm 38

34 Umar bin Akhmad Baradja, Bimbingan Akhlak Bagi Putri-Putri Anda, (Surabaya: YPI

“Al-Ustadz Umar bin Akhmad Baradja”, 1992), hlm 7.

(37)

ketika ia menjadi seorang ibu, ia dapat menyamaikan benih-benih kebaikan dalam diri anak-anaknya.

5. Penelitian Yang Relevan

Menurut Syamsudin dan Fadlillah Aisyah Amini perhatian orang tua terhadap tingkah laku putra-putri atau anak-anak didik merupakan suatu hal yang penting sekali dan tidak boleh kita lewatkan sejak awal perkembangan mereka, karena hal itu merupakan kunci kebahagiaan bagi mereka dimasa depan. Sebaliknya jika mereka kita biarkan tanpa pengawasan hingga terbiasa dengan tingkah laku yang buruk, maka mereka pun akan memiliki masa depan yang buruk, sulit untuk di didik kembali, atau tidak mungkin di didik lagi selama-lamanya. Syamsudin dan Fadlillah Aisyah Amini menegaskan bahwa Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan kita, Untuk itu kita harus patuh dan hormat kepada orang tua. Menghormati orang tua dalam Islam disebut birrul walidain. Hormat artinya menghargai, mengagungkan atau sopan santun. Sedangkan patuh artinya menuruti atau mentaati. Jadi yang dimaksud dengan hormat dan patuh adalah menunjukan sikap hormat dan mematuhi segala perintahnya. Banyaknya jasa orang tua itulah maka Islam menempatkan sikap hormat dan patuh kepada orang tua sebagai kedudukan kedua setelah Allah Swt.35

Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra a yat 23-24 Allah Swt. berfirman:

ِع َّناغُلْ با ي اَّمِإ ًنَااسْحِإ ِنْيادِلااوْلِبِاو ُهَّيَِإ َّلَِإ اوُدُبْعا ت َّلَاأ اكُّبار ىاضاقاو ْلُقا ت الَاف ااُهُ الَِك ْواأ ااُهُُداحاأ اابَِكْلا اكادْن

( اًيمِراك ًلَْوا ق اامُالَ ْلُقاو ااُهُْراهْ نا ت الَاو ٍّ فُأ اامُالَ

23 )

( اًيرِغاص ِنِاايَّ بار ااماك اامُهْاحْْرا ِ بار ْلُقاو ِةاْحَّْرلا انِم ِ لُّذلا احااناج اامُالَ ْضِفْخااو 24

)

Artinya:

35 Syamsudin. Fadlillah Aisyah, Pengembangan Materi Mata Pelajaran Aqidah AkhlakPokok Bahasan Berbakti Kepada Orang Tuadalam Perspektif Kitab Akhlak Lil Banin, Jurnal Pendidikan Islam, Vol XIII, No 1, 2016, hlm 60-61

(38)

(23) Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.

(24) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(Q,S. Al-Isra’

23-24).

Pentingnya menanamkan karakter kepada peserta didik atau generasi muda agar bisa mengontrol moral serta akhlak mereka, sehingga bisa melaksanakan seperti yang diungkapkan oleh sang proklamator yaitu berdiri diatas kaki sendiri, dalam artian berkarakter atau mempunyai karakter. Dan itu sesuai dengan ajaran agama yang telah penulis bahas. Lebih hususnya Al-Akhlaq li Al-Banin yang biasanya kita pelajari sebagai kitab akhlak, ternyata didalamnya memuat nilai-nilai pendidikan karakter yang telah menjadi tujuan kementrian pendidikan agar membentuk siswa-siwa serta ganerasi muda yang berkarakter baik sesuai dengan agama,pancasila, budaya serta tujuan pendidikan nasional. Yang menyangkut dalam 18 nilai-nilai pembentuk karakter. Yang didalam nya menyangkut nilai religius, jujur, disiplin, mandiri, demokratis, menghargai prestasi, bersahabat, peduli sosial, serta tanggung jawab. Semua nilai-nilai karakter itulah yang penulis temukan dalam kitab Al-Akhlaq li Al-Banin.36

Keberadaan akhlak sangatlah penting pada kehidupan di masyarakat, para filosof muslim menaruh akhlak menjadi yang teratas dalam hal yang harus di pelajari, meminjam pemaparan dari Abu Nasir Al-Farabi, yang menyatakan tentang akhlak adalah kesimpulan ilmu dan pengantar kebahagiaan, karena orang alim yang tidak berakhlak tidaklah mulia dan sempurna. Berawal dari seberapa pentingnya keberadaan akhlak, Syaikh Umar bin Akhmad Baradja dalam kitab Al-Akhlaq li Al-

36 Fajar Septian Cahya. Saiful Bahri. Hayaturrahman, Nilai-nilai karakter Dalam Kitab Al-Ahlaq Lil Banin Karya syekh Umar Baradja, Jurnal Study Al-Qur’an, Vol 12, No 1, 2016, hlm 94

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pembandingan operasi OLAP, didapat bahwa perbedaan waktu terbesar terjadi pada operasi OLAP yang melibatkan proses query yang kompleks, sebagai contoh pada operasi

Pada kelompok K2 yang merupakan kelompok hewan coba yang diberikan boraks 20mg, berdasarkan gambar 4.2 tikus yang mendapatkan pemberian boraks 20mg selama 1 hari, terlihat sel

Keabsahan data merupakan konsep penting dalam suatu penelitian dengan pengujian keabsahan data peneliti dapat menurut Sugiyono (dalam Kulsum, 2015, hlm. 37) yaitu dengan

Dari hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis ketiga yang menyatakan “Ada pengaruh minat belajar mahasiswa dan peran orangtua terhadap kesiapan menjadi guru pada

Tidak berpengaruhnya kejujuran terhadap motivasi kerja karyawan ini mengindikasikan bahwa pihak perusahaan perlu meringankan perjanjian- perjanjian dalam bekerja tapi

Setiap peusahaan atau organisasi pasti selalu berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara maksimal, untuk mencapai tujuan utama tersebut dibutuhkan

be!aar dan mem&erbaiki &roses &embe!aaran# Peni!aian terhada& materi ini da&at di!akukan sesuai kebutuhan $uru +aitu dari  &en$amatan

Dalam lingkungan kerja yang seperti ini para karyawan merasa tidak enak dan tidak aman dalam bekerja, sehingga produktivitas dan efisiensi kerja akan menurun, ini