• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

C. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DALAM LINGKUNGAN KELUARGA DALAM KITAB AL-AKHLAQ LI ALBANIN

8. Membentuk karakter anak terhadap guru

Ketika anak telah beranjak dewasa, maka anak-anak tentunya akan memasuki dunia pendidikan, baik itu pendidikan non formal seperti lembaga kursus, sanggar, lembaga pelatihan, majlis taklim, dan pesantren, ataupun juga lembaga pendidikan formal seperti SD, SMP, dan SMA. Maka dari itu wajib bagi orang tua untuk mengenalkan akhlak-akhlak yang harus dimiliki seorang anak ketika ia berada di dunia pendidikan, terutama akhlak seorang murid terhadap gurunya.

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Allah ‘azza wa jalla.

Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orangtua, maka wajib pula mematuhi perintah guru, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama. Syaikh Umar bin Akhmad Baraja menjelaskan beberapa adab yang harus dimiliki seorang murid terhadap gurunya, diantaranya yaitu :

1. Selalu hormat padanya. Hormat di sini artinya kita sebagai seorang murid hendaklah mengikuti segala perintahnya selama kita berada di sekolah.

61 Agung Nugroho, Pola Pembentukan Akhlak Dalam Kitab Al-Akhlaq Lil Banin dan Kitab Al-Akhlaq lil Banat Karya Umar bin Akhmad Baraja (kajian pedagogis dan psikologis). Thesis, Pascasarjana IAIN Antasari, Banjarmasin, 2015, hlm 160.

2. Mengikuti kegiatan belajar dengan baik 3. Memberi salam dan menjabat tangannya 4. Menghadap dengan wajah tersenyum 5. Tidak membangkang perkataannya

6. Jangan bertanya sebelum guru kita berhenti berbicara

7. Tidak berprasangka buruk terhadap guru, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Point-point di atas dapat kita lihat dalam Al-Akhlaq li Al-Banin jilid 1 pasal 30 halaman 44-45 yang ditulis oleh Syaikh Umar bin Akhmad Baraja berikut :

ِهذاتسأ عم ذيملتلا بادآ

اكُذااتْسُأاو

Adab seorang pelajar kepada gurunya

1. Wahai murid yang beradab, sesungguhnya gurumu sangat lelah dalam mendidikmu, ia didik akhlakmu, dan mengajarkanmu ilmu yan yang bermanfaat bagimu, dan menasehatimu dengan nasihat yang bermanfaat, dan kesemuanya itu dilakukan karena ia sangat mencintaimu, sebagaimana ayah dan ibumu mencintaimu. Gurumu berharap kelak engkau dimasa yang akan datang menjadi seorang lelaki yang pintar dan terdidik.

2. Maka hormatilah gurumu, sebagaimana kau menghormati kedua orang tuamu, dengan engaku duduk didepannya dengan penuh adab, dan berbicara dengannya dengan adab, dan apabila ia berkata maka jangan potong pembicaraannya, akan tetapi tunggulah sampai ia telah selesai berbicara, dan dengarkanlah dengan seksama sesuatu yang disampaikannya dari pelajaran-pelajaran. Dan apabila engkau tidak memahami sesuatu dari pelajaran-pelajaranmu, maka bertanyalah kepadanya dengan lembut dan penuh rasa hormat, dengan cara kau angkat jarimu pertama-tama, sampai ia mengizinkanmu untuk bertanya, dan apabila ia bertanya kepadamu tentang sesuatu maka berdirilah dan jawablah semua pertanyaannya dengan jawaban yang baik, dan tidak boleh ia menjawab apabila gurunya bertanya kepada yang lain, karena perbuatan itu bukanlah adab (yang baik).

3. Apabila engkau ingin guru mencintaimu, maka kerjakanlah kewajiban-kewajibanmu, yaitu kau tekun untuk hadir seitap hari diwaktu yang telah ditentukan, maka janganlah engkau ghaib ataupun datang terlambat kecuali dengan udzur yang benar, hendaknya engkau juga harus bersegera masuk kedalam kelas setelah jam istirahat (berlalu), dan berhati-hatilah jangan sampai engkau suka terlambat, maka apabila gurumu menyalahkanmu maka engkau meminta udzu dengan udzur-udzur yang batil, dan engkau pahami seluruh pelajaranmu, kau harus konsisten dalam menghapal dan belajar, kau perhatikan kebersihan kitab, peralatan, dan kerapiannya. Kau tunduk atas perintah guru, bukan karena takut hukumannya. Dan hendaknya engkau tak marah apabila gurumu mendidikmu, karena bahwasanya tidaklah ia mendidikmu kecuali agar engkau menunaikan kewajiban-kewajibanmu, dan kelak kau akan bersyukur atas hal itu apabila engkau telah dewasa.

4. Dan gurumu bersama didikannya untukmu ia mencintaimu, ia mengharapkan pendidikan itu kelak akan bermanfaat bagimu, oleh sebab

itulah bersyukurlah atas keikhlasannya dalam mendidikmu. Jangan kau lupakan kebaikannya selamanya. Adapun pelajar yang buruk akhlaknya, ia akan selalu marah apabila dididik oleh gurunya, dan mengeluhkannya kepada orang tuanya.

Menurut Al-Ghazali terdapat tujuh akhlak yang seharusnya dimiliki oleh murid dalam proses pembelajaran diantaranya: (1) Membersihkan jiwanya dari akhlak yang tercela. (2) Mengurangi kesenangan duniawi dan menjauh dari tempat tinggalnya. (3) Bersikap tawadhu’ dihadapan gurunya.(4) Mengindar dari mendengarkan perselisihan. (5) Tidak menolak mempelajari ilmu yang terpuji. (6) Mengutamakan mempelajari ilmu yang terpenting yakni ilmu akhirat.

(7) Menghiasi batinnya dengan sifat terpuji.62

Dalam keterangan lain Al-Ghazali menyampaikan bahwa seorang murid juga harus memiliki etika terhadap gurunya, beberapa etika yang harus dimiliki seorang murid terhadap gurunya antara lain: (a) Mendahului mengucapkan salam dan memberikan penghormatan kepada guru. (b) Tidak banyak berbicara dihadapan guru. (c) Tidak berbicara sebelum guru bertanya. (d) Tidak bertanya sebelum meminta izin. (e) Tidak menyanggah penjelasan guru dengan mengatakan,“tetapi pendapatnya si fulan bertentangan dengan apa yang anda jelaskan.” (f) Tidak mengisyaratkan bahwa pendapatmu berbeda dengan gurumu sehingga membuatmu merasa lebih tahu dan lebih benar dari gurumu. (g) Tidak berbicara dengan teman saat pembelajaran. (h) Tidak menoleh kemana-mana saat dihadapan guru. (i) Tidak banyak bertanya saat guru dalam kondisi jenuh.

(j) Ketika guru berdiri hendaklah murid juga ikut berdiri. (k) Saat guru sudah bangun dari duduknya hendaklah murid tidak meneruskan pertanyaan kepada guru. (l) Tidak bertanya ketika guru sedang dalam perjalanan. (m) Tidak su’udzon kepada guru.63

62 Imam Al-Ghazali, Mukhtasar Ihya‟ Ulumuddin, Terj. Zeid Husein Al-Hamid, (Jakarta:

Pustaka Amani, 2007), hlm. 11-14

63 Imam Al-Ghazali, Menggapai Cahaya Hidayah, Terj. Abiza el Rinaldi dan Uswatun Khasanah, (Klaten: Pustaka Wasilah, 2013), hml. 172.

Seorang ulama besar nusantara yang juga pendiri Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi islam terbesar di Indonesia yaitu KH. Hasyim Asy’ari juga turut mendefinisikan akhlak seorang murid terhadap gurunya, beberapa akhlak murid terhadap guru menurut KH. Hasyim Asy’ariantara lain: (a) Memilih figur guru yang baik. (b) Bersungguh-sungguh mencari guru yang baik. (c) Murid harus mematuhi guru. (d) Memiliki pandangan yang mulia terhadap guru. (e) Mengerti akan hak-hak gurunya dan tidak melupakan jasa-jasanya. (f) Sabar atas sikap kerasnya guru.(g) Meminta izin ketika memasuki ruangan guru. (h) Duduk dihadapan guru dengan sopan. (i) Berbicara dihadapan guru dengan baik dan sopan. (j) Memerhatikan penjelasan guru dengan baik. (k) Tidak mendahului guru dalam menjelasakan suatu permasalahan. (l) Menerima pemberian guru menggunakan tangan kanan64

Sedangkan menurut , seorang murid haruslah memiliki keyakinan bahwa kemuliaan gurunya melebihi kemuliaan kedua orang tuanya sendiri, karena guru lah yang mendidik jiwanya, seorang murid juga harus menjaga adabnya terhadap guru, seperti tunduk ketika di hadapan guru, duduk dengan sopan ketika sedang menerima pelajaran dari guru, tidak bergurau, tidak mengunggul-unggulkan guru lain di hadapan gurunya, dan tidak malu ketika bertanya hal yang belum dipahaminya.

seorang murid juga harus memiliki adab yang berhubungan dengan dirinya sendiri, adapun adab murid yang berhubungan dengan dirinya sendiri antara lain ialah meninggalkan sifat ujub, memiliki sifat tawadhu’, ramah dan jujur, tenang dan berwibawa, tidak banyak menoleh ketika berjalan, dan tidak memandangi hal-hal yang dilarang gama.65

64 Muhammad Hasyim Asy’ari, Etika Pendidikan Islam, Terj. Mohamad Kholil, (Yogyakarta: Titian Wacana, 2007), hlm. 27-39.

65 Lailatul Asfufah, Adab Murid Terhadap Guru Dalam Kitab Akhlaq Lil Banin Karya Syaikh Umar Bin Akhmad Baraja’, skripsi IAIN Salatiga, Salatiga, 2019, hlm 57-58

D. POLA ASUH ORANG TUA YANG PERLU DIKEMBANGKAN