Bab 7
Rencana Pembangunan
Infrastruktur Cipta Karya
Rencana pembangunan infrastruktur bidang cipta karya mencakup empat sektor yaitu
pengembangan permukiman, penataan bangunan dan lingkungan, pengembangan air minum, serta
pengembangan penyehatan lingkungan permukiman yang terdiri dari air limbah, persampahan, dan
drainase. Penjabaran perencanaan teknis untuk tiap‐tiap sektor dimulai dari pemetaan isu‐isu
strategis yang mempengaruhi, penjabaran kondisi eksisting sebagai baseline awal perencanaan, serta
permasalahan dan tantangan yang harus diantisipasi. Tahapan berikutnya adalah analisis kebutuhan
dan pengkajian terhadap program‐program sektoral, dengan mempertimbangkan kriteria kesiapan
pelaksanaan kegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan merumuskan usulan program dan kegiatan yang
dibutuhkan.
7.1. Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman,
permukiman didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu
satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang
kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau perdesaan. Kegiatan pengembangan permukiman
terdiri dari pengembangan permukiman kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Pengembangan
permukiman kawasan perkotaan terdiri dari pengembangan kawasan permukiman baru dan
peningkatan kualitas permukiman kumuh.
Dalam pengembangan perumahan dan permukiman nantinya harus memperhatikan tipologi
wilayah yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Secara umum, tipologi kawasan yang ada di Kabupaten
Bojonegoro ada 4 (empat), yaitu:
1. Kawasan pertanian/pegunungan, Sebagian besar kawasan ini terdapat di daerah yang
terletakdi bagian Selatan Kabupaten Bojonegoro. Kawasan ini tumbuh dan berkembang karena
tuntutan lahan mata pencaharian. Cirinya adalah bahwa masyarakat yang mempunyai
mata pencaharian sejenis dan tempat kerja yang berdekatan mengelompok membentuk
sebuah kampung. Secara spesifik angka pertumbuhan penduduk sangat rendah karena
kenaikanjumlah penduduk banyak ditentukan dari angka kelahiran, sedangkan angka
(dinding semi permanen, lantai tanah, atap genteng), kepadatan bangunan rendah hingga
sedang, prasarana dan sarana dapat dikatakan masih kurang. Potensi terhadap pengembangan
kawasan perumahan sangat kecil, sedangkan lahan kosong yang tersedia masih luas untuk
dikembangkan.
2. Kawasan perkotaan. Kawasan perkotaan, sebagian besar terdapat di daerah yang terletak
dekat dengan jalan utama kabupaten serta bagian tengah Kabupaten Bojonegoro.
Kawasan perkotaan ditandai dengan angka kepadatan penduduk yang relatiflebih tinggi dari
kawasan lainnya, kondisi rumah umumnya sudah baik, kepadatan bangunan sedang hingga
tinggi, prasarana dan sarana lengkap dan bahkan sebagai penyangga daerah sekitarnya.
Potensi terhadap pengembangan kawasan perumahan sangat besar, sedangkan lahan kosong
yang tersedia masih memungkinkan untuk pengembangan tersebut.
3. Kawasan potensial, Kawasan potensial, terdapat pada daerah‐daerah yang mempunyai
kecenderungan perkembangan yang pesat dan umumnya terletak pada posisi strategis.
Kawasan ini berkembang/terbentuk karena potensi strategis kawasannya (terletak pada
jaringan jalan utama) regional serta cepat berkembang. Haltersebut terlihat dari angka
pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, angka kepadatan penduduk yang relatif tinggi,
kondisi rumah umumnya sudah baik, kepadatan bangunan sedang hingga tinggi, prasarana dan
sarana dapat dikatakan cukup dan terus melengkapi. Potensi terhadap pengembangan
kawasan perumahan sangat besar, sedangkan lahan kosong yang tersedia masih
memungkinkan untuk pengembangan tersebut.
4. Kawasan Solo Valley, Kawasan Solo Valley sebagian besar terdapat di daerah yang
terletak di bagian Utara Kabupaten Bojonegoro yang dilewati Sungai Bengawan Solo.
Sesuai dengan namanya, kawasan ini terletak disepanjang sungai Bengawan Solo. Angka
kepadatan penduduk yang relatif sedang, kondisi rumah umumnya kurang baik dan
cenderung kumuh, kepadatan bangunan sedang‐tinggi terutama yang berada disepanjang
sungai. Potensi terhadap pengembangan kawasan perumahan sedang, namun karena
sebagaian besar masyarakatnya menghendaki bertempat tinggal di dekat Sungai, akibatnya
timbul kawasan kumuh.
Secara teknis, arahan pengembangan bidang perumahan dan permukiman di Kabupaten
Bojonegoro didasarkan pada beberapa kriteria, antara lain :
1. Berdasarkan fungsi wilayah dan kegiatannya terutama pada kawasan Perkotaan Bojonegoro,
pengembangan untuk perumahan dan permukiman diarahkan di Kecamatan Bojonegoro,
Kabupaten Bojonegoro dimana terdapat pemusatan kegiatan serta adanya pelayanan fasilitas
dan utilitas yang baik.
2. Arahan perumahan menurut RTRW Kabupaten Bojonegoro yaitu :
a. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari
bahaya bencana alam maupun buatan manusia, sehat dan mempunyai akses untuk
kesempatan berusaha;
b. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan permukiman dapat memberikan
manfaat yaitu 1) Meningkatkan ketersediaan permukiman dan mendayagunakan
prasarana dan sarana permukiman; 2) Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas
sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya; 3) Tidak mengganggu fungsi
lindung; 4) Tidak mengganggu upaya pelestarian sumberdaya alam; 5) Meningkatkan
pendapatan masyarakat; 6) Meningkatkan pendapatan nasional dan daerah; 7)
Menyediakan kesempatan kerja; 8) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3. Perumahan yang dikembangkan oleh developer (real estate) diarahkan berada pada kawasan
Perkotaan Bojonegoro, sedangkan perumahan individu pengembangannya diarahkan di
seluruh wilayah Bojonegoro baik pada kawasan perkotaan maupun pada kawasan perdesaan
dengan memperhatikan lokasi perumahan dan permukiman agar tidak berada pada kawasan
lindung maupun kawasan pertanian tanaman pangan berkelanjutan.
4. Pengembangan perumahan dan permukiman di kawasan perdesaan pada dataran tinggi
diarahkan agar membentuk suatu cluster dengan pembatasan pengembangan permukiman
pada kawasan lindung. Cluster‐cluster perumahan dan permukiman ini diarahkan mendekati
lokasi tempat bekerja untuk mempermudah akses, dimana pada umumnya tempat bekerja
pada kawasan perdesaan kawasan pertanian. Namun yang perlu diperhatikan adalah
pembatasan pengembangan pada kawasan lahan pertanian khususnya lahan pertanian
pangan berkelanjutan, sehingga konversi terhadap lahan pertanian tanaman pangan dapat
dihindari. Kawasan ini berada di Kecamatan Gondang, Kecamatan Temayang, Kecamatan
Bubulan, Kecamatan Ngambon, dan Kecamatan Sekar.
7.1.1. Kondisi Eksisting
Data kondisi eksisting kawasan kumuh sangatlah penting untuk pencapaian target nasional
tanpa permukiman kumuh pada tahun 2019. Sebagai upaya untuk mendukung target tersebut,
diperlukan data kawasan kumuh di Kabupaten Bojonegoro sebagai baseline perencanaan
pembangunan kawasan permukiman yang sehat. Kabupaten Bojonegoro masih belum memiliki SK
kumuh berasal dari hasil kajian dan penelitian oleh konsultan yang dapat dipertanggungjawabkan
sesuai dengan kriteria dan ketentuan terkait. Data kawasan kumuh di Kabupaten Bojonegoro dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 7. 1 Data Kawasan Kumuh di Kabupaten Bojonegoro Tahun 2016
No Kecamatan Luas Area
Terbangun Lokasi Kawasan Kumuh
Luas Kawasan Kumuh (Ha)
% Luas Kawasan Kumuh
1 Ngraho 1100 0 0
2 Tambakrejo 1424 0 0
3 Ngambon 222 0 0
4 Ngasem 2707 0 0
5 Bubulan 240 0 0
6 Dander 636 0 0
7 Sugihwaras 727 0 0
8 Kedungadem 2087 0 0
9 Kepohbaru 4443 0 0
10 Baureno 2619 0 0
11 Kanor 779 0 0
12 Sumberrejo 1085 0 0
13 Balen 1167 0 0
14 Kapas 1283 0 0
15 Bojonegoro 997 RT 20 Karangpacar 3,81 0,013
RT 4 Jetak 1,79 0,006
RT 5 Jetak 0,35 0,001
RT 8 Klangon 1,71 0,006
RT 1 RW 1 Karangpacar 1,67 0,006 RT 1 RW 1 Ledok Wetan 0,49 0,002 RT 2 RW 2 Ledok Kulon 1,35 0,005 RT 13 RW 3 Kadipaten 0,63 0,002 RT 2 RW 4 Ledok Kulon 1,72 0,006
16 Kalitidu 905 0 0
17 Malo 477 0 0
18 Purwosari 494 0 0
19 Padangan 642 0 0
20 Kasiman 493 0 0
21 Temayang 593 0 0
22 Margomulyo 1071 0 0
23 Trucuk 782 0 0
24 Sukosewu 683 0 0
25 Kedewan 201 0 0
26 Gondang 516 0 0
27 Sekar 681 0 0
28 Gayam 895 0 0
Total 29949 13,52 0,045
Kawasan kumuh di Kabupaten Bojonegoro sebagian besar berada di kawasan perkotaan
Bojonegoro. Hal ini dikarenakan kawasan perkotaan Bojonegoro cenderung memiliki kepadatan
penduduk tinggi dan pengelolaan lingkungan permukiman yang kurang sehat, utamanya di area
perkampungan. Variabel ini yang dapat menjadikan kriteria kawasan kumuh berada di kawasan
perkotaan Bojonegoro. Permukiman kumuh yang sedimikian luas sebesar 13,52 ha masih
membutuhkan perhatian dan upaya ekstra dari pemerintah maupun kesadaran warga sekitar untuk
menciptakan lingkungan permukiman yang sehat. Pengurangan kawasan kumuh dapat dilakukan
dengan berbagai cara, antara lain program bedah kampung, program kampung deret, program
pembangunan rusunawa, dan sebagainya.
Permasalahan permukiman di kawasan perdesaan pada umumnya adalah rumah tidak layak
huni atau rumah tidak permanen yang disertai dengan kurangnya sarana air bersih dan sanitasi,
namun kondisi lingkungannya masih bersih dan sehat. Pemecahan masalah permukiman di
perdesaan dapat dilakukan dengan cara perbaikan/rehabilitasi dan pembangunan baru permukiman
yang tidak layak huni serta penyediaan jaringan jalan, drainase lingkungan, sarana air bersih dan
sanitasi. Program ini sudah sering diberikan oleh pemerintah kepada warga berupa perbaikan dan
pembangunan rumah baru. Program ini terbukti efektif dengan semakin berkurangnya rumah tidak
layak huni di Kabupaten Bojonegoro dari tahun ke tahun.
Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi rawan bencana banjir dan tanah longsor. Bencana
banjir datang disebabkan oleh beberapa hal salah satunya adalah debit air yang mengalir di Sungai
Bengawan Solo melebihi ambang batas normal sehingga permukiman penduduk yang dekat dengan
bibir sungai menjadi terendam dan tergenang air. Kondisi topografi Bojonegoro yang membentuk
cekungan di bagian tengah menyebabkan wilayah tengah dan dekat dengan Sungai Bengawan Solo
rawan terjadi bencana banjir. Kabupaten Bojonegoro juga rawan terjadi bencana tanah longsor
terutama untuk wilayah selatan yang memiliki topografi relatif curam. Di kawasan ini masih
terdapat permukiman penduduk. Pada musim hujan biasanya terjadi bencana tanah longsor dimana
mengakibatkan rumah penduduk tergerus oleh material longsoran tanah. Permukiman di daerah
rawan bencana ini perlu penanganan yang antisipatif dan kewaspadaan. Perlu ada regulasi yang
mengatur jarak minimal yang diperbolehkan membangun rumah/bangunan lainnya terhadap area
potensi bencana.
7.1.2. Permasalahan dan Tantangan
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan permukiman di Kabupaten Bojonegoro
Kawasan‐kawasan permukiman yang terdapat di lahan‐lahan ilegal dengan kondisi
lingkungannya yang tidak sehat (berindikasi kumuh), antara lain adalah di sekitar rel
Kereta Api di Kecamatan Bojonegoro, dan di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo;
Dampak permukiman di sempadan Sungai Bengawan Solo yaitu meliputi banjir, longsor,
pencemaran sungai karena pembuangan sampah, dan pencemaran sungai karena air
limbah penduduk yang dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem;
Masih terdapat angka kemiskinan dan banyak penduduk yang tinggal di rumah tidak layak huni
sehingga munculnya permukiman yang cenderung kumuh;
Pada kawasan tertentu kepadatan penduduk cukup tinggi dan keterbatasan sarana
prasarana pendukung khususnya sanitasi dan air bersih serta fasilitas publik yaitu ruang
terbuka;
Alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman untuk pengembangan kebutuhan
permukiman;
Backlog dan pertumbuhan permintaan rumah yang besar;
Terbatasnya akses MBR untuk rumah layak huni;
Belum mantapnya kelembagaan dalam penyelenggaraan perumahan;
Lemahnya komitmen pemerintah dalam pengembangan kawasan perumahan dan
permukiman skala besar;
Belum memadainya penyediaan prasarana dan sarana dasar;
Belum terintegrasinya pengembangan kawasan perumahan dan permukiman dengan
sistem jaringan prasarana perkotaan.
Tantangan yang ada dalam pengembangan permukiman di Kabupaten Bojonegoro antara
lain:
Keberadaan perumahan dan permukiman yang berada di Sempadan Sungai Bengawan Solo
yang rawan berpotensi bencana mengakibatkan rumah penduduk selalu direndam banjir jika
turun hujan dan debit air sungai naik.
Kepadatan penduduk yang tinggi pada permukiman yang padat memunculkan kerawanan
kebakaran
Permukiman kepadatan tinggi yang menimbulkan masalah sanitasi.
Tabel 7. 2 Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman
No. Permasalahan yang
Dihadapi Tantangan Pengembangan Alternatif Solusi
1 Aspek Teknis
Masih banyaknya rumah yang belum memiliki sarana dan prasarana sesuai standar
Bertambahnya jumlah penduduk akan mempengaruhi jumlah rumah. Sehingga akan membuat daerah permukiman menjadi padat
Perlunya perbaikan kampung yaitu pembuatan saluran lingkungan,
2 Aspek Kelembagaan
Belum ada lembaga khusus yang menangani permukiman, saat ini masih menjadi satu dengan Dinas PU dan Bappeda
Pembuatan Badan khusus yang menangani sektor permukiman
Peningkatan kemampuan SDM, penambahan jumlah SDM atau pembentukan badan khusus (satgas, unit kerja) yang menangani pengembangan permukiman
3 Aspek Pembiayaan
Terbatasnya dana yang berasal dari APBD
Kebutuhan dana yang sangat besar untuk pengembangan permukiman
Mengoptimalkan sumber dana lainnya misalnya APBN, APBD Provinsi, masyarakat, komunitas/ kelompok, dan swasta
4 Aspek Peran Serta
Masyarakat / Swasta Masih minimnya peran serta masyarakat. Sedangkan peran swasta masih terbatas dalam bentuk CSR
Mendorong dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta di dalam pengembangan permukiman
Mengajak masyarakat dan pihak swasta di dalam pengembangan permukiman yang ada dengan memberikan stimulus kepada investor lokal (developer) untuk melakukan pengembangan berbasis program pemerintah 5 Aspek Lingkungan
Permukiman
Masih banyaknya lingkungan yang terlalu padat dan tidak dilengkapi dengan sanitasi yang mencukupi sehingga terkesan menjadi kawasan kumuh
Dengan aspek lingkungan yang terbatas, sedangkan jumlah penduduk semakin bertambah, maka akan meningkatkan kebutuhan akan permukiman dan prasarananya
Perbaikan lingkungan sekitar permukiman sehingga permukiman yang ada menjadi nyaman
dan berkelanjutan. Misalnya menata, mengelola, dan melestarikan kawasan tepi sungai menjadi kawasan yang menarik untuk dikunjungi Sumber : Hasil Analisis
7.1.3. Sasaran Program Pengembangan Permukiman
Tipologi kawasan perkotaan yang biasanya memiliki kepadatan tinggi sangat berbanding
terbalik dengan kawasan perdesaan. Hal ini yang mendasari bagaimana program pengembangan
perdesaan. Kegiatan pengembangan permukiman kawasan perkotaan Kabupaten Bojonegoro terdiri
dari:
1) Pengembangan kawasan permukiman baru dalam bentuk pembangunan permukiman baru dan
Rusunawa;
2) Peningkatan kualitas permukiman kumuh dan RSH;
3) Peningkatan prasarana dan sarana perumahan;
4) Peningkatan/penataan lingkungan.
Program pengembangan pada kawasan perdesaan disesuaikan dengan kondisi isu strategis
yang muncul di kawasan perdesaan tersebut. Pengembangan kawasan perdesaan terdiri dari:
1) Pengembangan berpijak pada wilayah yang sudah ada;
2) Peningkatan kualitas lingkungan;
3) Perbaikan kondisi rumah;
4) Pemenuhan sarana dan prasarana permukiman;
5) Penataan lingkungan.
Sasaran program dan kegiatan diperlukan untuk mengetahui daerah atau lokasi kawasan
mana yang akan mendapatkan alokasi anggaran pengembangan permukiman. Tipologi kawasan yang
menjadi sasaran program pengembangan kawasan permukiman dibagi menjadi 3 yaitu kawasan
kumuh perkotaan, kawasan permukiman perdesaan, dan kawasan permukiman khusus (rawan
bencana). Pengembangan kawasan permukiman pada ketiga tipologi kawasan tersebut ditentukan
luasan lokasi yang disasar setiap tahun. Selanjutnya ditunjukan oleh tabel berikut ini.
Tabel 7. 3 Sasaran Program Pengembangan Kawasan Permukiman di Kabupaten Bojonegoro
No Uraian Sasaran Program Total Luas kawasan
Sasaran Program Tahun
2017
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2020
Tahun 2021 Ket
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
I Kawasan Kumuh Perkotaan 13,52 Ha 3 Ha 4 Ha 4 Ha 2,52 Ha 0 Ha II Kawasan Permukiman Perdesaan 175 Ha 35 Ha 35 Ha 35 Ha 35 Ha 35 Ha
III Kawasan Permukiman Khusus (Rawan Bencana)
15 Ha 3 Ha 3 Ha 3 Ha 3 Ha 3 Ha
Sumber : Hasil Analisis
Sasaran kawasan program pengembangan kawasan permukiman adalah kawasan kumuh
perkotaan, kawasan permukiman perdesaan, dan kawasan rawan bencana. Kawasan kumuh
perkotaan di Kabupaten Bojonegoro saat ini sekitar 13,52 hektar (hasil kajian dan penelitian Dinas PU
Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur). Kawasan kumuh ini semuanya berada di
selama 5 tahun. Pada tahun 2017, kawasan kumuh yang akan ditangani seluas 3 hektar. Tahun 2018
dan 2019 kawasan kumuh yang akan ditangani masing‐masing 4 hektar. Sisanya yaitu sekitar 2,52
hektar akan ditangani pada tahun 2020 sehingga diharapkan pada tahun 2021 tidak ada lagi kawasan
kumuh perkotaan di Kabupaten Bojonegoro. Hal ini sejalan dengan pencapaian target universal akses
100‐0‐100.
Penanganan kawasan permukiman perdesaan adalah perbaikan rumah yang tidak layak huni,
pembangunan rumah baru, beserta jaringan jalan dan drainase lingkungan permukiman. Rumah yang
tidak layak huni di Kabupaten Bojonegoro diperkirakan kurang lebih 25.000 unit. Dengan asumsi
setiap rumah memiliki luas sekitar 70 m2 maka luas kawasan permukiman perdesaan yang akan
ditangani seluas 175 hektar. Penanganan kawasan permukiman perdesaan dilakukan secara bertahap
35 hektar/tahun selama 5 tahun.
Kabupaten Bojonegoro diindikasikan mempunyai potensi rawan bencana banjir dan tanah
longsor. Bencana banjir umumnya berada di daerah yang dialiri oleh Sungai Bengawan Solo. Daerah
yang terdampak bencana banjir biasanya di Kecamatan Padangan, Kecamatan Malo, Kecamatan
Kalitidu, Kecamatan Trucuk, Kecamatan Bojonegoro, Kecamatan Kapas, Kecamatan Sumberrejo,
Kecamatan Kanor, dan Kecamatan Baureno. Bencana tanah longsor biasanya melanda wilayah
Kecamatan Gondang, Kecamatan Sekar, Kecamatan Tambakrejo, Kecamatan Ngambon, Kecamatan
Margomulyo, Kecamatan Kedewan, dan Kecamatan Malo. Luas kawasan rawan bencana keseluruhan
di Kabupaten Bojonegoro diperkirakan sekitar 15 hektar. Upaya penanganan permukiman di kawasan
rawan bencana dilakukan secara bertahap selama 5 tahun. Penanganan permukiman di kawasan
rawan bencana hanya bersifat antisipatif dan perbaikan rumah yang rusak akibat bencana.
7.1.4. Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman
Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting. Analisis
kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang harus dicapai. Program
pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan prioritas akan dirumuskan berdasarkan
kebutuhan dan kapasitas penanganan.
Tabel 7. 4 Kebutuhan Program Pengembangan Kawasan Permukiman
No. Kawasan Permukiman Luas
Kawasan
Rencana Program
Ket Tahun
2017
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2020
Tahun 2021
1 2 3 4 5 6 7 8 9
I Kawasan Kumuh Perkotaan
1. Kawasan RT 20 Karangpacar 3,81 Ha 0,85 Ha 1,13 Ha 1,13 Ha 0,71 Ha 0 2. Kawasan RT 4 Jetak 1,79 Ha 0,40 Ha 0,53 Ha 0,53 Ha 0,33 Ha 0 3. Kawasan RT 5 Jetak 0,35 Ha 0,08 Ha 0,10 Ha 0,10 Ha 0,07 Ha 0 4. Kawasan RT 8 Klangon 1,71 Ha 0,38 Ha 0,51 Ha 0,51 Ha 0,32 Ha 0 5. Kawasan RT 1 RW 1 Karangpacar 1,67 Ha 0,37 Ha 0,49 Ha 0,49 Ha 0,31 Ha 0 6. Kawasan RT 1 RW 1 Ledok Wetan 0,49 Ha 0,11 Ha 0,14 Ha 0,14 Ha 0,09 Ha 0 7. Kawasan RT 2 RW 2 Ledok Kulon 1,35 Ha 0,30 Ha 0,40 Ha 0,40 Ha 0,25 Ha 0 8. Kawasan RT 13 RW 3 Kadipaten 0,63 Ha 0,14 Ha 0,19 Ha 0,19 Ha 0,12 Ha 0 9. Kawasan RT 2 RW 4 Ledok Kulon 1,72 Ha 0,38 Ha 0,51 Ha 0,51 Ha 0,32 Ha 0
II Kawasan Permukiman Perdesaan
Sumber : Hasil Analisis
Pengembangan kawasan permukiman dibagi menjadi 3 tipologi yaitu kawasan kumuh
perkotaan, kawasan permukiman perdesaan, dan kawasan permukiman khusus. Seperti yang telah
dijelaskan pada sasaran program pengembangan kawasan permukiman, untuk mencapai target
universal akses penanganan kawasan kumuh dilakukan secara bertahap setiap tahun. Target capaian
program masing‐masing lokasi kawasan kumuh dapat dilihat pada tabel di atas. Untuk peningkatan
kualitas permukiman kumuh ini dibutuhkan program dan kegiatan alternatif diantaranya adalah
pembangunan rusunawa, peningkatan kualitas jalan lingkungan, pembangunan drainase lingkungan,
dan penyediaan sanitasi dasar. Perlakuan program dan kegiatan pada setiap lokasi kawasan berbeda‐
beda tergantung kondisi lingkungannya.
Program pengembangan kawasan permukiman perdesaan yang dapat dilakukan adalah
peningkatan kualitas/rehabilitasi rumah, pembangunan rumah baru, peningkatan jalan lingkungan,
pembangunan drainase lingkungan. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap selama 5 tahun ke depan.
Wilayah yang menjadi prioritas tentunya yang memiliki rumah tidak layak huni terbanyak serta
mempunyai kawasan potensial yang dapat berkembang. Pada tahun awal akan diprioritaskan pada
Kecamatan Kepohbaru, Baureno,Ngasem, dan Kedungadem. Selanjutnya kawasan permukiman
perdesaan di seluruh kecamatan akan ditangani secara merata.
Permukiman khusus diperuntukkan bagi daerah rawan bencana baik itu banjir maupun tanah
longsor. Daerah rawan banjir diperkirakan seluas 9 hektar dan rawan longsor sekitar 6 hektar. Luas
daerah bencana ini hanya untuk kawasan permukiman saja tidak termasuk kawasan pertanian dan
peruntukkan lainnya. Upaya pencegahan bencana dilakukan dengan cara pembangunan
talud/bronjong/plengsengan di lokasi yang diperkirakan menjadi sumber bencana. Upaya perbaikan
dilakukan dengan berbagai cara diantaranya rehabilitasi rumah, perbaikan kualitas jalan, pembuatan
talud/bronjong di tebing atau di tepi sungai, dan pemulihan infrastruktur yang rusak. Untuk kasus
22. Kawasan Perdesaan Sekar 3,98 Ha 0,38 0,90 0,90 0,90 0,90 23. Kawasan Perdesaan Sugihwaras 4,25 Ha 0,40 0,96 0,96 0,96 0,96 24. Kawasan Perdesaan Sukosewu 3,99 Ha 0,38 0,90 0,90 0,90 0,90 25. Kawasan Perdesaan Sumberrejo 5,34 Ha 0,60 1,44 1,44 1,44 1,44 26. Kawasan Perdesaan Tambakrejo 8,32 Ha 0,79 1,88 1,88 1,88 1,88 27. Kawasan Perdesaan Temayang 3,47 Ha 0,33 0,78 0,78 0,78 0,78 28. Kawasan Perdesaan Trucuk 4,57 Ha 0,43 1,03 1,03 1,03 1,03
III Kawasan Permukiman Khusus
bencana alam yang ekstrim dapat dilakukan pembangunan kawasan permukiman korban bencana.
Meskipun hal ini tidak pernah terjadi di Kabupaten Bojonegoro.
Tabel 7. 5 Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman Perkotaan
No. Uraian Unit Tahun
2017
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2020
Tahun 2021
Keterangan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Jumlah Penduduk Jiwa 1.450.889 1.472.550 1.498.300 1.523.324 1.548.265 Kepadatan Penduduk Jiwa/km 62.889 63.828 64.944 66.029 67.110 Proyeksi Persebaran
Penduduk Miskin
Jiwa/km 2,3 2,1 2,1 1,9 1,7
2 Kebutuhan RSH Unit 25.000 25.000 25.000 25.000 25.000 3 Kebutuhan
Pengembangan Permukiman Baru
Kws 5 4 3 3 2 Dander,
Campurejo
Sumber : Hasil Analisis
Tabel 7. 6 Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman Perdesaan
No. Uraian Unit Tahun
2017
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2020
Tahun 2021
Keterangan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Jumlah Penduduk Jiwa 1.450.889 1.472.550 1.498.300 1.523.324. 1.548.265 Kepadatan Penduduk Jiwa/km 62.889 63.828 64.944 66.029 67.110 Proyeksi Persebaran
Penduduk Miskin
Jiwa/km 2,3 2,1 2,1 1,9 1,7
2 Desa Potensial untuk Agropolitan
Desa 1 1 1 1 1
3 Desa Potensial untuk Minapolitan
Desa 1 1 1 1 1
4 Kawasan Rawan Bencana
Kws 1 1 1 1 1 Kawasan
Tepi B Solo
Sumber : Hasil Analisis
7.1.5. Usulan Pembiayaan Pengembangan Permukiman
Pembiayaan pengembangan permukiman berasal dari dana pemerintah dan dana non
pemerintah. Dana pemerintah berasal dari APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten. Selain itu
ada pula dana pembiayaan dari perusahaan swasta, CSR, dan swadaya masyarakat. Dalam
pengembangan permukiman, Pemerintah Daerah didorong untuk terus meningkatkan alokasi
anggaran pada sektor tersebut serta mencari alternatif sumber pembiayaan dari masyarakat dan
Tabel 7. 7 Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman Kabupaten Bojonegoro
No. Output Lokasi Vol Satuan Sumber Dana Tahun
Indikator Output APBN APBD Prov APBD Kab Masya
rakat Swasta CSR 2017 2018 2019 2020 2021
Rincian Rp Murni PHLN
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10 (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Kegiatan: Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan, dan Penyelenggaraan Dalam Pengembangan Permukiman
1 PERATURAN PENGEMBANGAN
PERMUKIMAN
Jumlah NSPK Bid
Pengembangan Permukiman
1a Penyusunan NSPK,
Legalisasi Draft NSPK
1 NSPK 250.000.000
2 PENGEMBANGAN
PERMUKIMAN/PENYEDIAAN
INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN
KAWASAN PERDESAAN POTENSIAL
Jumlah kawasan yang tertata
bangunan dan lingkungannya
2a Kegiatan Pembangunan
Infrastruktur Penunjang Agropolitan
Kalitidu 1 Kwsn 515.000.000 √
2b Kegiatan Pembangunan
Infrastruktur Penunjang Agropolitan
Dander 1 Kwsn 1.203.000.000 √
2c Kegiatan Pembangunan
Infrastruktur Penunjang Agropolitan
Kapas 1 Kwsn 2.321.750.000 √
3 PENGEMBANGAN
PERMUKIMAN/PEMBANGUNAN
PERMUKIMAN DAN INFRASTRUKTUR
PERDESAAN
Jumlah Desa yang terbangun
infrastruktur jalan lingkungan
3a Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
No. Output Lokasi Vol Satuan Sumber Dana Tahun
Indikator Output APBN APBD Prov APBD Kab Masya
rakat Swas
ta
CSR 2017 2018 2019 2020 2021
Rincian Rp Murni PHLN
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10 (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Kalitidu 1 Desa 218.750.000 156.250.000 250.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Sumberrejo 1 Desa 753.375.000 538.125.000 861.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Ngasem 1 Desa 328.125.000 234.375.000 375.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Kapas 1 Desa 322,875.000 230.625.000 369.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Temayang 1 Desa 328.125.000 234.375.000 425.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Trucuk 1 Desa 328.125.000 234.375.000 475.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Bojonegoro 1 Desa 322.875.000 230.625.000 369.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Kedewan 1 Desa 218.750.000 156.250.000 250.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Kdungadem 1 Desa 218.750.000 156,250.000 350.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Malo 1 Desa 350.000.000 275.000.000 500.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Ngraho 1 Desa 218.750.000 156.250.000 350.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Sukosewu 1 Desa 765.625.000 546.875.000 875.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Sekar 1 Desa 328.125.000 234.375.000 375.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Gondang 1 Desa 328.125.000 234.375.000 425.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Sugihwaras 1 Desa 328.125.000 234.375.000 475.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Kasiman 1 Desa 328.125.000 234.375.000 375.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Tambakrejo 1 Desa 322.875.000 230.625.000 369.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
No. Output Lokasi Vol Satuan Sumber Dana Tahun
Indikator Output APBN APBD Prov APBD Kab Masya
rakat Swas
ta
CSR 2017 2018 2019 2020 2021
Rincian Rp Murni PHLN
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10 (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Balen 1 Desa 645.750.000 461.250.000 738.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Jalan Lingkungan
Padangan 1 Desa 656.250.000 468.750.000 750.000.000 √
3b Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Kepohbaru 1 Desa 1.260.000.000 900.000.000 1.440.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Ngringinrejo 1 Desa 1.260.000.000 900.000.000 1.020.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Dander 1 Desa 5.000.000.000 2.250.000.000 10.000.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Sumberejo 1 Desa 1.610.000.000 1.150.000.000 1.840.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Kapas 1 Desa 1.207.500.000 862.500.000 1.380.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Bojonegoro 1 Desa 1.207.500.000 862.500.000 1.380.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Bubulan 1 Desa 892.500.000 637.500.000 1.020.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Ngraho 1 Desa 5.000.000.000 2.250.000.000 10.000.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Sukosewu 1 Desa 892.500.000 637.500.000 1.020.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Sekar 1 Desa 595.000.000 425.000.000 680.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Gondang 1 Desa 367.500.000 262.500.000 420.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Kasiman 1 Desa 892.500.000 637.500.000 1.020.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Tambakrejo 1 Desa 866.250.000 618.750.000 990.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Balen 1 Desa 1.443.750.000 1.031.250.000 1.650.000.000 √
Kegiatan Pembangunan
Drainase Lingkungan
Padangan 1 Desa 1.470.000.000 1.050.000.000 1.680.000.000 √
TOTAL 35.033.375.000 19.486.093.750 44.367.000.000
7.2. Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai
bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan lingkungan binaan
di perkotaan, khususnya wujud fisik bangunan gedung dan lingkungannya. Kebijakan penataan
bangunan dan lingkungan mengacu pada Undang‐undang dan peraturan antara lain:
1) UU No.1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
UU No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman memberikan amanat
bahwa penyelenggaraan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman adalah
kegiatan perencanaan, pembangunan, pemanfaatan, dan pengendalian, termasuk di
dalamnya pengembangan kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran
masyarakat yang terkoordinasi dan terpadu. Pada UU No. 1 tahun 2011 juga diamanatkan
pembangunan kaveling tanah yang telah dipersiapkan harus sesuai dengan persyaratan
dalam penggunaan, penguasaan, pemilikan yang tercantum pada rencana rinci tata ruang
dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
2) UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
UU No. 28 tahun 2002 memberikan amanat bangunan gedung harus diselenggarakan secara
tertib hukum dan diwujudkan sesuai dengan fungsinya, serta dipenuhinya persyaratan
administratif dan teknis bangunan gedung. Persyaratan administratif yang harus dipenuhi
adalah :
a. Status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah;
b. Status kepemilikan bangunan gedung; dan
c. Izin mendirikan bangunan gedung.
Persyaratan teknis bangunan gedung melingkupi persyaratan tata bangunan dan persyaratan
keandalan bangunan. Persyaratan tata bangunan ditentukan pada RTBL yang ditetapkan
oleh Pemda, mencakup peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur
bangunan gedung, dan pengendalian dampak lingkungan. Sedangkan, persyaratan keandalan
bangunan gedung mencakup keselamatan, kesehatan, keamanan, dan kemudahan. UU No.
28 tahun 2002 juga mengamatkan bahwa dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang
meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran, juga
diperlukan peran masyarakat dan pembinaan oleh pemerintah.
3) PP 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung
Secara lebih rinci UU No. 28 tahun 2002 dijelaskan dalam PP No. 36 Tahun 2005 tentang
gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, peran
masyarakat, dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Dalam peraturan ini
ditekankan pentingnya bagi pemerintah daerah untuk menyusun Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan (RTBL) sebagai acuan rancang bangun serta alat pengendalian
pengembangan bangunan gedung dan lingkungan.
4) Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan
Sebagai panduan bagi semua pihak dalam penyusunan dan pelaksanaan dokumen RTBL,
maka telah ditetapkan Permen PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Dalam peraturan tersebut, dijelaskan bahwa
RTBL disusun pada skala kawasan baik di perkotaan maupun perdesaan yang meliputi
kawasan baru berkembang cepat, kawasan terbangun, kawasan dilestarikan, kawasan rawan
bencana, serta kawasan gabungan dari jenis‐jenis kawasan tersebut. Dokumen RTBL yang
disusun kemudian ditetapkan melalui peraturan bupati.
5) Permen PU No.14 /PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang
Permen PU No: 14 /PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang mengamanatkan jenis dan mutu pelayanan dasar Bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak
diperoleh setiap warga secara minimal. Pada Permen tersebut dilampirkan indikator
pencapaian SPM pada setiap Direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian PU beserta
sektor‐sektornya.
Lingkup kegiatan untuk dapat mewujudkan lingkungan binaan yang baik sehingga
terjadi peningkatan kualitas permukiman dan lingkungan meliputi :
a. Kegiatan penataan lingkungan permukiman
Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL);
Bantuan Teknis pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH);
Pembangunan prasarana dan sarana peningkatan lingkungan pemukiman
kumuh;
Pembangunan prasarana dan sarana penataan lingkungan pemukiman
tradisional.
Diseminasi peraturan dan perundangan tentang penataan bangunan dan
lingkungan;
Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung;
Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur;
Pelatihan teknis.
7.2.1. Kondisi Eksisting
Bangunan‐bangunan di Kabupaten Bojonegoro secara umum saat ini diarahkan kepada
penataan sesuai dengan fungsi kawasan yang telah direncanakan, baik untuk kegiatan perdagangan,
perindustrian, perkantoran, permukiman, pendidikan dan kegiatan lainnya sesuai dengan produk
rencana tata ruang yang telah disusun dan disahkan menjadi Perda.
Secara umum pola penataan bangunan di Kabupaten Bojonegoro tidak diatur secara
teknis. Bangunan yang direncanakan tidak berpedoman pada kajian teknis yang telah ada, seperti
Dokumen RDTRK yang di dalamnya telah di atur pola dan fasa bangunan yang akan dibangun sesuai
dengan peruntukan dan fungsi kawasan yang telah ditetapkan. Bangunan fasilitas umum milik
Negara seperti kantor‐kantor pemerintahan daerah telah tertata dengan baik dan namun tersebar
pada beberapa wilayah sehingga akses pelayanan kepada masyarakat rendah karena jarak yang
jauh antar satu dengan yang lain. Pada tiap wilayah kecamatan telah memilki bangunan
pelayanan pemerintahan.
Kawasan strategis migas sampai saat ini belum tertata dengan baik padahal kawasan
ini cenderung memiliki potensi bahaya yang besar, dimana disekitar pengeboran minyak terdapat
permukiman dengan kepadatan tinggi. Ruang terbuka hijau yang tersedia di Kabupaten
Bojonegoro saat ini hanya terkonsentrasi pada taman kota dan taman tepi jalan, namun untuk
RTH (pengadaan lapangan olahraga dan penghijauan) di IKK belum dilakukan pengelolaan. Peraturan
teknis lokal terkait penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Bojonegoro antara lain:
a) Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro No. 8 Tahun 2013 tentang Bangunan Gedung di
Kabupaten Bojonegoro. Peraturan ini mengamanatkan bahwa pendirian bangunan sesuai
dengan peruntukan tata ruang.
b) Peraturan Bupati Bojonegoro No. 31 Tahun 2013 tentang Resapan Air. Peraturan ini
mengamanatkan bahwa setiap penutupan lahan 7 m2 harus membuat 1 lubang biopori, 75‐150
m2 membuat 1 sumur resapan dan minimal 5.000m2 membuat kolam penampungan air.
Tabel 7. 8 Penataan Lingkungan Permukiman
Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) terhadap ruang terbuka hijau di perkotaan
Kabupaten Bojonegoro masih kurang. Ruang terbuka hijau publik yang saat ini tersedia adalah Alun‐
alun Bojonegoro, RTH di sekitar Stadion Bojonegoro, dan Taman Rajekwesi. Taman kota yang
tersedia jumlahnya terbatas dan luasannya juga masih minim. Ke depannya ruang terbuka hijau
perlu ditambah untuk menambah keindahan kota, sarana rekreasi bagi warga, dan menyerap polusi
udara. Standar minimal RTH yang diperlukan sebesar 30% dari luas kawasan. Ini masih jauh dari
kondisi eksisting RTH di perkotaan Bojonegoro hanya sekitar 20.000 m2.
Tabel 7. 9 Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
No. Kawasan/
K
Jumlah BG Negara
B d k F i
Status
K ilik
Kondisi
B
Ketersediaan
U ili BG
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Pusat Kota Fungsi Hunian : Rumah Dinas Bupati (1 unit)
Pemkab Baik, Terawat Utilitas Listrik, Air Bersih , Sampah
Fungsi Keagamaan : Masjid ( 1 unit)
Pemkab Baik,Terawat Utilitas Listrik, Air Bersih , Sampah
Fungsi Usaha : Kantor PD Pasar ( 1 unit)
Pemkab Baik Utilitas Listrik, Air Bersih ,
Sampah
Fungsi Sosial Budaya : Gedung Serbaguna ( 1 unit)
Pemkab Baik Utilitas Listrik, Air Bersih , Sampah
Fungsi Khusus : Pendopo Kabupaten ( 1 unit)
Pemkab Baik Utilitas Listrik, Air Bersih , Sampah
Sumber: Hasil Analisis
Bangunan gedung dan rumah negara di Kabupaten Bojonegoro masih terlihat dalam kondisi
baik dan terawat. Mayoritas gedung negara di pusat kota merupakan bangunan yang berfungsi
sebagai sarana pemerintahan dan rumah dinas bupati. Gedung negara ini berstatus milik
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Bangunan ini dilengkapi dengan fasilitas gedung yang memadai
RTH Pemenuhan SPM Penanganan
Kebakaran
Lokasi/Nama RTH
Luas RTH
% Luas RTH
Ketersediaan IMB
% IMB
HSBGN Instansi Prasarana Kebakaran
(3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Alun‐alun Kabupaten
5000 0,3 Tersedia 20 Tidak Dinas
PMK
Mobil PMK
Taman Rajekwesi
seperti utilitas listrik, air bersih, sanitasi, dan persampahan. Namun di beberapa saran
pemerintahan dan masjid belum memiliki sarana parkir yang memadai. Parkir kendaraan masih
menggunakan badan jalan yang dapat mengganggu arus lalu lintas. Penataan ruang terbuka hijau
juga sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan namun ruang terbuka hijau privat masih perlu
ditingkatkan lagi. Secara umum, perawatan gedung negara ini dalam kondisi baik karena sebagian
besar adalah bangunan baru.
7.2.2. Permasalahan dan Tantangan
Isu strategis penataan bangunan dan lingkungan yang ada di Kabupaten Bojonegoro
saat ini antara lain:
Kepadatan penduduk dan bangunan yang ada di Kabupaten Bojonegoro pada kawasan
tertentu termasuk dalam kategori padat, bahkan di beberapa bagian kota menjadi kurang
tertata dengan baik, sehingga terkesan menjadi kawasan kumuh terutama yang berdekatan
dengan bantaran sungai serta rel kereta api.
Peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan Standar Pelayanan Minimal.
Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di
perkotaan.
Kondisi eksisting permukiman dengan jarak dari bibir sungai sampai tanggul kurang lebih 0‐
20 meter.
Daerah permukiman yang hanya memiliki jarak kurang lebih 1‐5 meter dari bibir sungai
dan menjadi daerah rawan banjir setiap tahunnya, dimana terdapat kurang lebih 1.300
bangunan yang menempati daerah sempadan sungai.
Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan
dan tantangan yang dihadapi. Penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Bojonegoro
terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi, antara lain:
a) Penataan Lingkungan Permukiman
Beberapa permasalahan terkait dengan penataan lingkungan permukiman yaitu :
Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana sistem proteksi kebakaran;
Belum siapnya landasan hukum dan landasan operasional berupa RTBL untuk
lebih melibatkan pemerintah daerah dan swasta dalam penyiapan infrastruktur guna
pengembangan lingkungan permukiman;
Kurang diperhatikannya permukiman‐permukiman tradisional yang memiliki
Terjadinya degradasi kawasan strategis, padahal punya potensi ekonomi
untuk mendorong pertumbuhan kota.
b) Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara:
Kelembagaan bangunan gedung yang belum berfungsi efektif dan efisien
dalam pengelolaan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
Belum tersusunnya RTBL yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam
mengendalikan bangunan gedung;
Belum ada rencana tata bangunan lingkungan di kawasan strategis pengeboran
minyak;
Prasarana dan sarana hidran kebakaran yang masih kurang memadai;
Masih banyaknya aset negara yang tidak teradministrasikan dengan baik.
c) Penyelenggaraan Sistem Terpadu Ruang Terbuka Hijau:
Sarana lingkungan hijau/open space atau public space, sarana olah raga, dan lain‐
lain kurang diperhatikan hampir di wilayah perkotaan, terutama IKK.
d) Kapasitas Kelembagaan Daerah
Masih terbatasnya kesadaran aparatur dan SDM pelaksana dalam
pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung termasuk pengawasan;
Masih perlunya peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung di
daerah dalam fasilitasi penyediaan perangkat pengaturan.
Tabel 7. 10 Permasalahan dan Tantangan Penataan Bangunan dan Lingkungan
No. Aspek PBL Permasalahan yang
dih d i
Tantangan
P b
Alternatif Solusi
(1) (2) (3) (4) (5)
I. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
1 Aspek Teknis Belum ada rencana tata bangunan lingkungan
Penyusunan RTBL terkendala teknis administratif
Percepatan penyusunan RTBL
2 Aspek Kelembagaan Belum ada unit kerja khusus BG
Unit Kerja yang ada tidak optimal
Dibentuk satgas khusus menangani penataan BG dan lingkungan 3 Aspek Pembiayaan Diperlukan anggaran yang
lebih besar
Terdapat Kebutuhan anggaran pada pos yang lebih urgen
Dialokasi anggaran sesuai dengan kebutuhan secara terukur
4 Aspek Peran Serta Masyarakat/Swasta
Perlu peran serta masyarakat swasta
Kurang optimalnya pendampingan
5 Aspek Lingkungan Permukiman
Penurunan kualitas lingkungan hunian akibat sanitasi buruk
Diperlukan peran serta yang cukup intesif oleh masyarakat dengan perilaku ramah lingkungan
Penguatan lembaga di masyarakat terutama komunitas
Sumber: Hasil Analisis
7.2.3. Sasaran Program Penataan Bangunan dan Lingkungan
Sasaran program penataan bangunan dan lingkungan terdiri dari 6 item yaitu
penyelenggaraan bangunan gedung negara, penataan bangunan dan lingkungan strategis,
revitalisasi kawasan tematik perkotaan, pengembangan RTH, Fasilitasi ruang terbuka publik, dan
pengaturan pembinaan pengawasan (turbinwas) bangunan gedung. Sasaran program penataan
bangunan dan lingkungan tahun 2017‐2021 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 7. 11 Sasaran Program Penataan Bangunan dan Lingkungan
NO URAIAN SASARAN PROGRAM SASARAN PENANGANAN
SASARAN PROGRAM KET
Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
I Penyelenggaraan Bangunan Gedung
12.500 m2 4.600 m2 2.000 m2 2.000 m2 1.400 m2 2.500 m2
II Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis
100.000 m2 20.000 m2 20.000 m2 20.000 m2 20.000 m2 20.000 m2
III Revitalisasi Kawasan Tematik Perkotaan
5 Kawasan 1 kawasan 1 kawasan 1 kawasan 1 kawasan 1 kawasan
IV Pengembangan RTH 20.000 m2 3.000 m2 5.500 m2 1.500 m2 5.000 m2 5.000 m2
V
Fasilitasi Ruang terbuka Publik/ Edukasi dan Partisipasi Masyarakat
28 Kecamatan 6 kecamatan 6 kecamatan 6 kecamatan 6 kecamatan 4 kecamatan
VI
Pengaturan Pembinaan dan Pengawasan Bangunan Gedung
95% Bangunan ber IMB
75% 80% 85% 90% 95%
Sumber: Hasil Analisis
Sasaran program penataan bangunan dan lingkungan antara lain:
1. Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Bangunan gedung milik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang akan dibangun dan atau
Bojonegoro, fasilitas GOR Bojonegoro, dan beberapa unit sekolah. Gedung milik Pemkab
dan fasilitas GOR yang saat ini sedang dibangun, direncanakan akan selesai pada tahun
2017. Gedung Kejaksaan Negeri Bojonegoro direncanakan selesai tahun 2018. Gedung
sekolah dan gedung kantor pemerintahan kecamatan direncanakan dibangun pada tahun
2019 hingga 2021.
2. Penataan Bangunan dan Lingkungan Strategis
Penataan bangunan dan lingkungan strategis untuk kawasan bisnis (CBD) di Jalan Veteran.
Kawasan CBD Jalan Veteran yang akan ditata diperkirakan seluas 100.000 m2 atau 10
hektar. Penataan kawasan bangunan dan lingkungan pada kawasan ini dilakukan secara
bertahap sekitar 2 hektar tiap tahun.
3. Revitalisasi Kawasan Tematik Perkotaan
Kawasan tematik perkotaan yang berpotensi dikembangakan adalah kawasan Pecinan
"Little China" di Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Jaksa Agung Suprapto. Mayoritas penduduk
di kawasan ini adalah warga keturunan etnis Tionghoa. Jika kawasan ini dikembangkan
menjadi kawasan Pecinan maka dapat berpotensi menjadi daya tarik wisata karena salah
satu keunikan khas yang dimiliki oleh Bojonegoro. Kawasan tematik lainnya adalah kawasan
kuliner Bhinneka Tunggal Ika yang berada di sebelah Taman Rajekwesi. Kawasan lain juga
memiliki potensi bertema tertentu yang mencirikan Bojonegoro
4. Pengembangan RTH
Pengembangan RTH publik dapat dilakukan dengan menambah taman dan tanaman yang
menambah keindahan kota. Pengembangan taman yang dapat dilakukan adalah Taman
Bengawan Solo, Taman Ekspresi, Taman Lettu Suyitno, dan Taman Pelelangan Kayu (TPK)
milik Perhutani. Taman ini berfungsi sebagai sarana rekreasi dan wisata bagi warga serta
menambah keindahan dan kenyamanan kota.
5. Fasilitasi Ruang terbuka Publik/ Edukasi dan Partisipasi Masyarakat
Kegiatan fasilitas ruang terbuka publik juga dapat dilaksanakan untuk memberikan edukasi
dan pembinaan kepada masyarakat akan pentingnya ruang terbuka publik. Bentuk kegiatan
ini dapat berupa sosialisasi, fasilitasi, bimbingan, dan pelatihan cara membuat dan
memelihara taman mini di sekitar rumah. Hal ini dapat menumbuhkembangkan minat
masyarakat untuk mencintai lingkungannya.
6. Pengaturan Pembinaan dan Pengawasan Bangunan Gedung
Kegiatan pengaturan bangunan gedung sudah terlaksana melalui mekanisme perijinan
mendirikan bangunan/gedung. Dalam mendirikan bangunan/gedung masyarakat harus
dilaksanakan oleh pemerintah adalah melaksanakan sidak kepada bangunan/gedung yang
tidak memiliki IMB. Hal ini dibutuhkan sebagai alat kontrol terhadap ketaatan pada
peraturan dan hukum yang berlaku.
7.2.4. Kebutuhan Program Penataan Bangunan dan Lingkungan
1. Kegiatan Penataan Lingkungan PermukimanDengan kegiatan yang terkait adalah penyusunan Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan (RTBL), Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK), pembangunan
prasarana dan sarana lingkungan permukiman tradisional dan bersejarah, pemenuhan
Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di
perkotaan.
A. RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan)
RTBL berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana
Tata Bangunan dan Lingkungan didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu
lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang,
penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program
bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana
investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan
pengembangan lingkungan/kawasan. Materi pokok dalam Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan meliputi:
Program Bangunan dan Lingkungan;
Rencana Umum dan Panduan Rancangan;
Rencana Investasi;
Ketentuan Pengendalian Rencana;
Pedoman Pengendalian Pelaksanaan
B. RISPK atau Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
RISPK atau Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran seperti yang
dinyatakan dalam Permen PU No. 26 tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem
Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, bahwa Sistem Proteksi
Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan adalah sistem yang terdiri
atas peralatan, kelengkapan dan sarana, baik yang terpasang maupun terbangun
proteksi pasif maupun cara‐cara pengelolaan dalam rangka melindungi
bangunan dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran.
Penyelenggaraan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan
meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan
pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran sistem proteksi kebakaran pada bangunan
gedung dan lingkungannya.
C. Penataan Lingkungan Permukiman Tradisional/Bersejarah
Pendekatan yang dilakukan dalam melaksanakan Penataan Lingkungan
Permukiman Tradisional adalah:
Koordinasi dan sinkronisasi dengan Pemerintah Daerah;
Pendekatan Tridaya sebagai upaya pemberdayaan terhadap aspek
manusia, lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat setempat;
Azas "berkelanjutan" sebagai salah satu pertimbangan penting untuk
menjamin kelangsungan kegiatan;
Rembug warga dalam upaya menggali sebanyak mungkin aspirasi
masyarakat, selain itu juga melakukan pelatihan keterampilan teknis
dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
2. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
Kegiatan penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara meliputi:
Menguraikan kondisi bangunan gedung negara yang belum memenuhi
persyaratan keandalan yang mencakup (keselamatan, keamanan, kenyamanan
dan kemudahan);
Menguraikan kondisi Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
Menguraikan aset negara dari segi administrasi pemeliharaan.
Untuk dapat melakukan pendataan terhadap kondisi bangunan gedung dan rumah negara
perlu dilakukan pelatihan teknis terhadap tenaga pendata HSBGN, sehingga perlu dilakukan
pendataan kegiatan pembinaan teknis penataan bangunan gedung.
Tabel 7. 12 Kebutuhan sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No.
Uraian
Satuan
Tahun 2017
Tahun 2018
Tahun 2019
Tahun 2020
Tahun
2021 Keterangan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
I Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
1 Ruang Terbuka Hijau (RTH)
M2 500
2 Ruang Terbuka M2 500
3 PSD unit 1 1 1 1 1
4 PS Lingkungan unit 1 1 1 1 1
5 HSBGN Laporan 1
6 Pelatihan Teknis Tenaga Pendata HSBGN
Laporan 1
II Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
1 Bangunan Fungsi Hunian
unit 1 Rumah
Dinas Bupati 2 Bangunan Fungsi
Keagamaan
unit 1 Masjid Jami’
3 Bangunan Fungsi Usaha
unit 1 Kantor PD
Pasar 4 Bangunan Fungsi
Sosial Budaya
unit 1 Gedung
Serbaguna 5 Bangunan Fungsi
Khusus
unit Pendopo
Kabupaten 6 Bintek Pembangunan
Gedung Negara
laporan 1
Sumber : Hasil Analisis
7.2.5. Usulan Pembiayaan Penataan Bangunan dan Lingkungan
Pembiayaan program penataan bangunan dan lingkungan berasal dari dana pemerintah dan
dana non pemerintah. Dana pemerintah berasal dari APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten.
Selain itu ada pula dana pembiayaan dari perusahaan swasta, CSR, dan swadaya masyarakat.
Dalam pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan, Pemerintah Daerah didorong untuk terus
meningkatkan alokasi anggaran pada sektor tersebut serta mencari alternatif sumber pembiayaan
dari masyarakat dan swasta (KPS, CSR). Usulan pembiayaan program penataan bangunan dan
VI‐
VI‐ Tabel 7. 13 Usulan Program dan Kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan Kabupaten Bojonegoro
No. Out Put Lokasi Vol Satuan Sumber Dana Tahun
Indiktor Output APBN APBD Prov APBD Kab Masya
rakat
Swasta CSR 2017 2018 2019 2020 2021
Rincian Rp Murni PHL
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
Kegiatan: Pengaturan, Pembinaan, Pengawasan, dan Penyelenggaraan Dalam Pengembangan Permukiman
1 LAYANAN PERKANTORAN
Jumlah Bulan Layanan
Perkantoran
1a Penyelenggaraan
operasional &
pemeliharaan perkantoran
12 Bln/th 300.000.000 √
2 PERATURAN PENGEMBANGAN
PERMUKIMAN
Jumlah NSPK Bid Penataan
Bangunan dan Lingkungan
2a Penyusunan NSPK, Legalisasi Draft NSPK
1 NSPK 250.000.000 √
3 PEMBINAAN PELAKSANAAN PENATAAN
BANGUNAN DAN LINGKUNGAN,
PENGELOLAAN GEDUNG DAN RUMAH
NEGARA
Jumlah Laporan Pembinaan Penyelenggaraan Bidang Penataan
Bangunan dan Lingkungan
3a Bantek dan Pendampingan penyusunan Ranperda BG
1 Laporan 300.000.000 100.000.000 √
3b Fasilitasi penyusunan RTBL Kalitidu 1 Laporan 450.000.000 50.000.000 √
3c Fasilitasi penyusunan RTBL Bojonego 1 Laporan 900.000.000 100.000.000 √
3c Fasilitasi penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK)
1 Laporan 450.000.000 50.000.000 √