RENCANA STRATEGIS
SEKRETARIAT KABINET RI
2015—2019
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas rido-Nya Rencana Strategis (Renstra) Sekretariat Kabinet 2015—2019 telah dapat diselesaikan dengan baik sesuai amanah yang ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional.
Sebagaimana diketahui, Renstra Sekretariat Kabinet 2015—2019 berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015—2019. Renstra Setkab 2015—2019 ini disusun untuk menjadi panduan pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretariat Kabinet lima tahun ke depan sesuai Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2015 tentang Sekretariat Kabinet dan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 4 Tahun 2012.
Renstra ini disusun, antara lain, berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra Setkab 2010—2014, analisis terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis baik global maupun nasional, dan Rencana Reformasi Birokrasi Sekretariat Kabinet.
Penyusunan Renstra Setkab 2015—2019, tentunya telah memperhatikan potensi dan kondisi umum saat ini. Namun demikian, sesuai perkembangan dan dinamika yang terjadi kiranya perlu dilakukan penyesuaian dari waktu ke waktu. Semoga Renstra Setkab 2015—2019 ini bermanfaat untuk mewujudkan tujuan Sekretariat Kabinet ke depan yaitu memberikan dukungan manajemen kabinet kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan.
Jakarta, April 2015 Sekretaris Kabinet,
ii
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan ... 1
1.1 Kondisi Umum ... 1
1.1.1 Tujuan dan Sasaran Strategis Periode Tahun 2010—2014 ... 2
1.1.2 Capaian Kinerja Sekretariat Kabinet Periode Tahun 2010—2014 ... 6
1.1.3 Reformasi Birokrasi... ... 10
1.2 Potensi dan Permasalahan... ... 30
Bab II Visi, Misi, dan Tujuan Sekretariat Kabinet... ... 33
2.1 Visi Sekretariat Kabinet ... 33
2.2 Misi Sekretariat Kabinet ... 34
2.3 Tujuan Sekretariat Kabinet... 37
2.4 Sasaran Strategis Sekretariat Kabinet ... 37
2.4.1 Terwujudnya Peningkatan Kualitas Hasil Analisis Kebijakan... 39
2.4.2 Terwujudnya Peningkatan Kualitas Penyelesaian Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, dan Instruksi Presiden ... 42
2.4.3 Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pengelolaan Persidangan Kabinet... ... 45
2.4.4 Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Administrasi Aparatur yang Wewenang Penetapannya di Tangan Presiden...49
2.4.5 Terwujudnya Peningkatan Layanan Sistem Informasi yang Responsif dan Transparan ...53
Bab III Arah Kebijakan, Strategi, Kerangka Regulasi dan Kerangka Kelembagaan... 58
3.1 Arah Kebijakan dan Strategi Nasional ... 58
3.2 Arah dan Kebijakan Strategi Sekretariat Kabinet ... 58
3.3 Kerangka Regulasi ... 62
3.4 Kerangka Kelembagaan ... 64
Bab IV Target Kinerja dan Kerangka Pendanaan ... 70
4.1 Target Kinerja ... 70
4.2 Kerangka Pendanaan ... 99
Bab V Penutup ... 101 Lampiran I Matriks Kinerja dan Pendanaan Sekretariat Kabinet
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perubahan Sasaran Strategis Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 ... 4
Tabel 1.2 Capaian Kinerja Renstra untuk Periode 2010—2013 ... 7
Tabel 2.1 Sasaran dan Indikator Sasaran Sekretariat Kabinet ... 38
Tabel 2.2 Rentang Nilai Kepuasan ... 49
Tabel 2.3 Rentang Nilai Pengukuran Survei Tingkat Kepuasan ... 53
Tabel 4.1 Outcome dan Indikator Kinerja Program Teknis Sekretariat Kabinet ... 71
Tabel 4.2 Output dan Indikator Kinerja Kegiatan Teknis Sekretariat Kabinet ... 74
Tabel 4.3 Outcome dan Indikator Kinerja Program Generik Sekretariat Kabinet ... 90
Tabel 4.4 Output dan Indikator Kinerja Kegiatan Generik Sekretariat Kabinet ... 94
Tabel 4.5 Tabel Kebutuhan Pendanaan Pembangunan Sekretariat Kabinet Tahun 2015—2019...100
iv
DAFTAR GAMBAR
BAB. I
PENDAHULUAN
1.1. Kondisi Umum
Perubahan paradigma tata kelola pemerintahan menuju tata kelola pemerintahan yang baik dalam berbagai aspek, telah mendorong pelaksanaan penerapan sistem akuntabilitas kinerja penyelenggaraan negara yang terintegrasi sebagai instrumen utama pertanggungjawaban pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. Sebagai salah satu unsur penting Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Rencana Strategis (Renstra) merupakan instrumen awal untuk mengukur kinerja setiap instansi pemerintah baik terkait mewujudkan visi, misi, tujuan maupun sasaran yang telah ditetapkan organisasi.
Dengan perencanaan strategis, perhatian organisasi yang sebelumnya
berparadigma pada kegiatan administratif (staffing) dan berorientasi pada output
(output oriented), sekarang lebih menitikberatkan pada hasil (outcome oriented). Sekretariat Kabinet sebagai salah satu lembaga pemerintah, wajib menerapkan manajemen strategis dengan menetapkan perencanaan strategis yang disusun secara periodik dan berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang ada. Perencanaan strategis tersebut sekaligus sebagai sarana pengendalian manajemen.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional, Kementerian/Lembaga (K/L) dalam menyelenggarakan kegiatannya, berkewajiban menyusun Rencana Strategis (Renstra) dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Adapun tata cara penyusunan Renstra-K/L diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan dan Penelaahan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga 2015—2019.
Sekretariat Kabinet sebagai salah satu lembaga pemerintah setingkat kementerian, berkewajiban pula untuk menyusun Renstra Tahun 2015—2019 dengan berpedoman kepada peraturan-peraturan yang ada, sekaligus sebagai sarana pengendalian manajemen.
SEKRETARIAT KABINET
2
BAB I
Gambaran tentang kondisi umum meliputi tujuan dan sasaran strategis serta capaian kinerja selama periode sebelumnya, selain itu menjelaskan pula mengenai pelaksanaan Reformasi Birokrasi (RB) di Sekretariat Kabinet.
1.1.1. Tujuan dan Sasaran Strategis Periode Tahun 2010—2014
a. Tujuan
Keberhasilan Sekretariat Kabinet dalam mewujudkan visi dan misinya dapat diukur dari keberhasilan pencapaian tujuan strategis. Tujuan merupakan kondisi yang ingin dicapai Sekretariat Kabinet, yang sedapat mungkin tidak berubah. Namun demikian, karena dinamika yang berkembang baik di lingkup internal maupun eksternal Sekretariat Kabinet dan sesuai dengan filosofi dasar suatu perencanaan organisasi yakni untuk mengantisipasi setiap perubahan yang dinamis, maka dalam pelaksanaannya tujuan Sekretariat Kabinet telah mengalami penyempurnaan. Pada dokumen Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 terdapat 5 (lima) tujuan namun pada dokumen revisi Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 kelima tujuan tersebut diringkas menjadi satu tujuan yang lebih bersifat umum, menyeluruh
dan menggambarkan core business Sekretariat Kabinet serta
memperjelas peran Sekretariat Kabinet sebagai “think tank” dan
“sekretariat”.
Adapun kelima rumusan tujuan dalam dokumen Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 adalah sebagai berikut:
1. Meningkatnya kualitas dukungan saran kebijakan dalam
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah serta permasalahan hukum.
2. Meningkatnya kualitas penyelesaian rancangan Peraturan
Presiden, Keputusan Presiden, dan Instruksi Presiden.
3. Meningkatnya kualitas penyelenggaraan sidang kabinet.
4. Meningkatnya kualitas penyelesaian pengangkatan dan
pemberhentian dalam jabatan pemerintahan dan kepangkatan Pegawai Negeri Sipil yang menjadi wewenang Presiden.
5. Meningkatnya aksesibilitas stakeholders terhadap informasi yang
dihasilkan Sekretariat Kabinet.
yang kemudian dalam revisi dokumen Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 diringkas menjadi “Memberikan dukungan teknis,
SEKRETARIAT KABINET
3
BAB I
administrasi, dan pemikiran yang prima dalam rangka mendukung Presiden menjalankan kekuasaan Pemerintahan.”
b. Sasaran Strategis
Dari misi dan tujuan yang telah ditetapkan, dijabarkan sasaran yang ingin dicapai Sekretariat Kabinet. Sasaran Sekretariat Kabinet menggambarkan keadaan yang ingin dihasilkan dalam periode setiap tahun selama 5 (lima) tahun. Keberhasilan tersebut direncanakan serta dirumuskan secara terukur dan spesifik untuk memberikan fokus pada penyusunan kegiatan dan alokasi sumber daya yang dimiliki Sekretariat Kabinet dalam kegiatan tiap tahun.
Sebagaimana pada perumusan Tujuan, Sasaran Strategis juga telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Perubahan terakhir dilakukan dalam revisi dokumen Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014. Fokus penetapan sasaran dalam Renstra
tersebut telah diupayakan mengarah kepada outcome. Hal ini dapat
dilihat pada perubahan nomenklatur sasaran-sasaran strategis dari “terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan” menjadi “terwujudnya peningkatan kualitas” yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek “kecepatan” dan “ketepatan” semata, namun juga
menitikberatkan pada upaya “pengukuran kepuasan stakeholder” atas
sejumlah layanan Sekretariat Kabinet yang direpresentasikan dalam Sasaran Strategis Sekretariat Kabinet. Selain itu, terdapat perubahan jumlah Sasaran Strategis dari 7 (tujuh) sasaran strategis pada Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 yang selanjutnya diubah menjadi 6 (enam) Sasaran Strategis dalam dokumen Rencana Kerja Tahunan (RKT) tahun-tahun selanjutnya, menjadi 5 (lima) Sasaran Strategis dalam dokumen revisi Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014. Sasaran Strategis yang dihilangkan atau dilebur adalah sasaran tentang “penyelesaian permasalahan hukum”. Sasaran ini tidak dimunculkan lagi dalam dokumen perencanaan terbaru karena berdasarkan ketentuan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet penyelesaian permasalahan hukum tersebut telah tercakup dalam sasaran tentang “peningkatan kualitas hasil analisis kebijakan” dan “peningkatan kualitas pelayanan administrasi aparatur yang wewenang penetapannya di tangan Presiden.”
SEKRETARIAT KABINET
4
BAB I
Dengan demikian, perbaikan rumusan sasaran tidak hanya pada penyempurnaan nomenklatur sasaran namun juga subtansi dan kualitas sasaran tersebut.
Gambaran tentang perubahan atau penyempurnaan Sasaran Strategis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1
Perubahan Sasaran Strategis Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 SASARAN STRATEGIS RENSTRA 2010—2014 SASARAN STRATEGIS RKT 2011 SASARAN STRATEGIS REVISI RENSTRA 2010—2014 1. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan pemberian saran kebijakan hasil pemantauan, evaluasi, dan analisis atas pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah yang ditindaklanjuti 1. Terwujudnya peningkatan kecepatan penyelesaian dan ketepatan saran kebijakan hasil pemantauan, evaluasi dan analisis atas perumusan rencana dan pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah 1. Terwujudnya peningkatan kualitas hasil analisis kebijakan 2. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan pemberian saran penyelesaian permasalahan hukum yang ditindaklanjuti 2. Terwujudnya peningkatan kecepatan pemberian dan ketepatan saran penyelesaian permasalahan hukum
SEKRETARIAT KABINET 5 BAB I SASARAN STRATEGIS RENSTRA 2010—2014 SASARAN STRATEGIS RKT 2011 SASARAN STRATEGIS REVISI RENSTRA 2010—2014 3. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan penyelesaian rancangan Perpres, Keppres, dan Inpres yang ditindaklanjuti 3. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan penyelesaian rancangan Perpres, Keppres dan Inpres 2. Terwujudnya peningkatan kualitas penyelesaian Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, dan Instruksi Presiden 4. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan penyiapan bahan wicara sidang kabinet 4. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan penyiapan bahan wicara sidang kabinet serta pendistribusian risalah sidang kabinet kepada peserta sidang 3. Terwujudnya peningkatan kualitas pengelolaan persidangan kabinet 5. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan pendistribusian hasil risalah sidang kabinet kepada peserta sidang 6. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan penyelesaian rancangan Keputusan Presiden mengenai pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintah dan kepangkatan pensiun PNS yang 5. Terwujudnya peningkatan kecepatan dan ketepatan penyiapan dan penyelesaian rancangan Keppres mengenai jabatan pemerintah, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun 4. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan administrasi aparatur yang wewenang penetapannya di tangan Presiden
SEKRETARIAT KABINET 6 BAB I SASARAN STRATEGIS RENSTRA 2010—2014 SASARAN STRATEGIS RKT 2011 SASARAN STRATEGIS REVISI RENSTRA 2010—2014 menjadi wewenang Presiden PNS yang menjadi wewenang Presiden 7. Terwujudnya peningkatan kecepatan aksesibilitas penyediaan informasi yang dihasilkan Sekretariat Kabinet kepada stakeholders 6. Terwujudnya peningkatan kecepatan aksesibilitas penyediaan informasi yang dihasilkan Sekretariat Kabinet kepada stakeholders 5. Terwujudnya peningkatan layanan sistem informasi yang responsif dan transparan
Perubahan Sasaran Strategis tersebut dilandasi oleh adanya perubahan indikator-indikator kinerja yang menjadi ukuran keberhasilan capaian Sasaran Strategis tersebut. Dalam hal ini perubahan nomenklatur Sasaran Strategis dilakukan untuk mengakomodir perubahan dan penambahan indikator yang tidak terdapat di Sasaran Strategis sebelumnya.
1.1.2. Capaian Kinerja Sekretariat Kabinet Periode Tahun 2010—2014
Pencapaian tujuan Sekretariat Kabinet dapat digambarkan melalui capaian sasaran-sasaran strategisnya selama periode jangka menengah maupun jangka panjang. Guna mengetahui apakah Tujuan dan Sasaran Strategis telah dicapai dengan maksimal, terdapat tolok ukur yang dapat digunakan antara lain melalui penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) Sekretariat Kabinet dan penetapan indikator-indikator sasaran yang mendukung pengukuran pencapaian sasaran.
Tingkat capaian Sasaran Strategis Renstra Sekretariat Kabinet tahun 2010—2013 digambarkan melalui tabel berikut ini:
SEKRETARIAT KABINET
7
BAB I
Tabel 1.2
Capaian Kinerja Renstra untuk Periode 2010—2013
No. Indikator Kinerja Utama (IKU) Capaian Kinerja (%)
2010 2011 2012 2013
1 Persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan secara tepat waktu
102.45 110.36 88.73 102.67 2 Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah 105.2 106.45 96.3 104.17 3 Persentase penyelesaian RPerpres, RKeppres, dan RInpres secara tepat waktu
107.82 111.36 105.47 104.17
4 Persentase RPerpres, RKeppres, dan RInpres yang ditindaklanjuti
108.21 107.52 105.47 103.26
5 Persentase penyelesaian hasil sidang kabinet secara tepat waktu
122.33 119 103.69 98.57
6 Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap penyelenggaraan sidang kabinet
(indikator ini baru ada di tahun 2012)
- - 99.20 94.54
7 Kecepatan penyiapan dan penyelesaian Keppres tentang Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I 97.73 136 151.13 152 Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan fungsional jenjang utama 85.33 83.87 98.33 Kepangkatan 76.6 117.04 121.88 109.12 Kenaikan pangkat pengabdian dan pensiun 8 90.8 76.18
SEKRETARIAT KABINET
8
BAB I
No. Indikator Kinerja Utama (IKU) Capaian Kinerja (%)
2010 2011 2012 2013 Pemberhentian dan pensiun 43.2 99.28 40.52 8 Akurasi/ketepatan Keppres tentang: Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I 99.99 99.99 99.75 100 Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan fungsional jenjang utama 99.79 99.75 100 Kepangkatan 103.47 104.63 99.32 99.75 Kenaikan pangkat pengabdian dan pensiun 102.17 98.12 99.55 Pemberhentian dan pensiun 104.93 99.35 99.15 9 Persentase tingkat kepuasan stakeholder terhadap penyelesaian Keppres tentang pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden (indikator ini baru ada di tahun 2012) - - 86.10 90.42 10 Persentase keberlanjutan layanan (continuity of service) 99.99 100 100.67 98.90 11 Jumlah pengakses layanan data dan informasi Sekretariat Kabinet
178.06 122.03 212.29 328.02
12 Jumlah pen-download
layanan data dan informasi Sekretariat
SEKRETARIAT KABINET
9
BAB I
No. Indikator Kinerja Utama (IKU) Capaian Kinerja (%)
2010 2011 2012 2013
Kabinet
(indikator ini baru ada di tahun 2012)
13 Tingkat kepuasan pengakses terhadap layanan website
Sekretariat Kabinet (indikator ini baru ada di tahun 2013)
- - - 103
Sumber: LAKIP Sekretariat Kabinet, 2013
Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja Sekretariat Kabinet selama 4 (empat) tahun terakhir memang berfluktuasi, meskipun demikian masih menunjukkan tren yang positif ke arah peningkatan capaian kinerja. Secara umum rata-rata capaian IKU tersebut cukup memuaskan, dan apabila terdapat penurunan hal itu disebabkan adanya peningkatan target yang cukup subtansial dibandingkan tahun sebelumnya sehingga mempengaruhi angka capaian. Selain itu, terdapat kondisi lain yang mempengaruhi besaran capaian kinerja antara lain perbedaan/perubahan metode dan instrumen pengukuran, perluasan
cakupan kinerja yang diukur, peningkatan requirement/persyaratan kinerja,
dan lain-lain.
Sejumlah upaya telah dilakukan Sekretariat Kabinet dalam rangka peningkatan capaian kinerja jangka pendek, menengah, maupun jangka
panjang. Upaya tersebut antara lain berupa benchmarking terhadap best
practices pelaksanaan SAKIP dari K/L lain, terutama yang sejenis/tipologinya mirip dengan Sekretariat Kabinet dan melakukan perbaikan terhadap manajemen kinerja Sekretariat Kabinet secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Peningkatan capaian kinerja tersebut tercermin dari prestasi yang telah dicapai Sekretariat Kabinet dalam kurun waktu 2010—2014, sebagai berikut:
1. Penilaian dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan
Keuangan Sekretariat Kabinet Tahun 2012 dan 2013 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sejak mempunyai bagian anggaran sendiri (BA 114).
SEKRETARIAT KABINET
10
BAB I
2. Penilaian atas hasil evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(AKIP) Sekretariat Kabinet Tahun 2013 dengan predikat penilaian “B” oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN dan RB).
3. Penilaian atas capaian Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
Tahun 2013 oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pembangunan (UKP4) dan Bappenas mendapatkan kategori hijau atau targetnya tercapai 100% (seratus persen).
Selain prestasi di atas, Sekretariat Kabinet beberapa kali mendapatkan penghargaan dalam kurun waktu 2010—2014, sebagai berikut:
1. Penghargaan dalam Menyusun dan Menyajikan Laporan Keuangan
Tahun 2012 dan 2013 dengan Capaian Standar Tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah. Penghargaan ini diberikan mengacu kepada Opini WTP dari BPK.
2. Penghargaan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) terkait pelaksanaan Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK) yang ditetapkan pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2013 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2013.
3. Sejak tahun 2012 sampai dengan 2014, Sekretariat Kabinet
memperoleh penghargaan (reward) atas pelaksanaan anggaran belanja
K/L dari Kementerian Keuangan sebesar 1% (satu persen) dari pagu anggaran.
4. Pada tahun 2014 Sekretariat Kabinet menerima penghargaan
“Penyelamatan dan Pelestarian Arsip yang Bernilai Guna Pertanggungjawaban Nasional Bagi Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara” dari Kepala Arsip Nasional.
1.1.3. Reformasi Birokrasi
Reformasi Birokrasi adalah proses menata ulang, mengubah, memperbaiki dan menyempurnakan sistem penyelenggaraan pemerintahan agar menjadi lebih baik, profesional, produktif, bersih, efektif, efisien, transparan dan akuntabel, yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Pada
SEKRETARIAT KABINET
11
BAB I
hakikatnya pembaharuan dan perubahan mendasar tersebut terutama menyangkut aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan dan sumber daya manusia aparatur.
Secara de jure, pelaksanaan RB di Sekretariat Kabinet dan
Sekretariat Negara dimulai pada akhir tahun 2007, dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 1562 Tahun 2007 tanggal 28 Desember 2007, tentang Pembentukan Tim Percepatan Reformasi Birokrasi di lingkungan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet. Namun
secara de facto, Sekretariat Kabinet telah menerapkan prinsip dan
semangat RB sejak tahun 2005.
Dalam kurun waktu gelombang pertama (tahun 2005—2009), Sekretariat Kabinet telah melaksanakan RB secara terencana, komprehensif, sistemik dan berkelanjutan pada empat bidang, yaitu bidang kelembagaan, bidang ketatalaksanaan, bidang sumber daya manusia, dan bidang sistem informasi manajemen.
Sekretariat Kabinet selalu menyesuaikan diri terhadap perubahan peraturan yang terkait dengan RB. Pada kurun waktu gelombang kedua (tahun 2010—2014) pelaksanaan RB di Sekretariat Kabinet diarahkan pada 8 (delapan) area perubahan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Program Manajemen Perubahan
Dalam rangka mewujudkan peningkatan komitmen pimpinan dan pegawai dalam melakukan RB, terjadinya perubahan pola pikir dan budaya kerja serta menurunnya resiko kegagalan yang disebabkan kemungkinan timbulnya resistensi terhadap perubahan, telah dilakukan upaya sebagai berikut:
a. Penetapan rencana rinci (operasional) untuk 5 (lima) tahun untuk
tahapan/gelombang ke-2, dan rencana rinci per tahun, dengan:
1) Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1/RB Tahun 2011 tentang
Road Map Reformasi Birokrasi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia Tahun 2010 – 2014;
2) Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 2/RB Tahun 2011 tentang
Rencana Kerja Reformasi Birokrasi Sekretariat Kabinet Tahun 2011;
3) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 9 Tahun 2012 tentang
Rencana Kerja Reformasi Birokrasi Sekretariat Kabinet Tahun 2012;
SEKRETARIAT KABINET
12
BAB I
4) Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Rencana Kerja Reformasi Birokrasi Sekretariat Kabinet Tahun 2013.
b. Pembentukan Tim Pengelola Manajemen Perubahan, untuk
mengarahkan dan mengoordinasikan pelaksanaan RB di lingkungan Sekretariat Kabinet, dengan:
1) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 25 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Reformasi Birokrasi;
2) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 24 Tahun 2012 tentang
Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Reformasi Birokrasi di Lingkungan Sekretariat Kabinet Tahun 2012 sebagaimana disempurnakan dengan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 41 Tahun 2012;
3) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 21 Tahun 2013 tentang
Pembentukan Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Reformasi Birokrasi di Lingkungan Sekretariat Kabinet Tahun 2013;
4) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 3/RB Tahun 2011 tentang
Tim Penjaminan Kualitas (Quality Assurance) Pelaksanaan
Reformasi Birokrasi;
5) Keputusan Sekretaris Kabinet terkait pengangkatan Inspektur di
Sekretariat Kabinet yang menjalankan fungsi Quality Assurance
(Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 23 Tahun 2012);
6) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 40 Tahun 2012 tentang
Pembentukan Tim Asesor Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Lingkungan Sekretariat Kabinet Tahun 2012;
7) Keputusan Deputi Bidang Administrasi Nomor
KEP.67/ADM/IX/2012 tentang Tim Agen Perubahan di Lingkungan Sekretariat Kabinet.
c. Penetapan Role Model, dengan:
1) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 1/RB Tahun 2011 tentang
Penunjukkan Role Model Pengembangan Budaya Kerja di
SEKRETARIAT KABINET
13
BAB I
2) Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 54 Tahun 2012 tentang
Role Model Pengembangan Budaya Kerja di Lingkungan Sekretariat Kabinet.
d. Penetapan, pelaksanaan, dan optimalisasi Program Quick Wins,
dengan:
1) Perumusan program Quick Wins yang meliputi identifikasi
pemangku kepentingan, identifikasi harapan pemangku kepentingan dan identifikasi produk utama Sekretariat Kabinet berdasarkan hasil survei kepada para pemangku kepentingan;
2) Penetapan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 3/RB Tahun
2011 tentang Program Percepatan (Quick Wins) Reformasi
Birokrasi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia;
3) Penyusunan Laporan pelaksanaan Quick Wins;
4) Pelaksanaan survei terhadap pelaksanaan Quick Wins,
termasuk tindak lanjut hasil survey.
e. Penerapan Kode Etik:
1) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 4/RB Tahun
2011 tentang Kode Etik Pegawai Sekretariat Kabinet;
2) Penyelenggaraan internalisasi melalui sosialisasi kode etik
kepada seluruh pejabat/pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet pada tanggal 28-29 November 2011 dan pada tanggal 10-11 Desember 2012 dan pendistribusian buku saku tentang kode etik kepada pegawai;
3) Pelaksanaan survei pemahaman pegawai terhadap Kode Etik
Pegawai Sekretariat Kabinet pada tahun 2011 dan 2012.
f. Penyusunan strategi komunikasi manajemen perubahan, yang
meliputi:
1) Pembuatan kolom menu RB dalam website www.setkab.go.id
untuk mensosialisasikan hal terkait pelaksanaan RB di lingkungan Sekretariat Kabinet;
2) Pelaksanaan survei terhadap efektivitas alat komunikasi dalam
menginformasikan hal-hal penting kepada seluruh pegawai pada tanggal 10-11 Desember 2012;
3) Pelaksanaan survei peningkatan indeks persepsi terhadap
SEKRETARIAT KABINET
14
BAB I
4) Pelaksanaan survei indeks persepsi terhadap partisipasi
pegawai dalam pelaksanaan RB tanggal 10-11 Desember 2012;
5) Pelaksanaan survei kepuasan stakeholder terhadap organisasi
Sekretariat Kabinet dan pelaksanaan RB pada tanggal 10-11 Desember 2012;
6) Pelaksanaan strategi komunikasi (dalam bentuk coffee morning,
pemuatan berita dalam bentuk web) untuk mengomunikasikan
hal-hal penting kepada pegawai, antara lain melalui:
a) Pendistribusian buku saku tentang kode etik kepada
pegawai, dan leaflet peta risiko;
b) Pemasangan banner role model di setiap lantai;
c) Pemuatan Perseskab dan Kepseskab terkait pelaksanaan
reformasi birokrasi Sekretariat Kabinet di website
Sekretariat Kabinet.
7) Penerbitan Laporan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi
Sekretariat Kabinet Tahun 2011 dan 2012, serta penyusunan laporan Tahun 2013.
g. Penetapan Peta Risiko, meliputi:
1) Penyusunan Dokumen Peta Risiko Tahun 2011 yang digunakan
sampai dengan sekarang;
2) Pendistribusian dan diseminasi leaflet peta risiko Sekretariat
Kabinet pada tanggal 10 dan 11 Desember 2012.
2. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan
Sasaran untuk mewujudkan program ini adalah menurunnya tumpang tindih dan disharmonisasi Peraturan Sekretaris Kabinet dan meningkatnya efektivitas pengelolaan Peraturan Sekretaris Kabinet (Perseskab) dan Peraturan Presiden (Perpres).
Program ini telah dilaksanakan melalui berbagai upaya dan langkah-langkah yang tercermin dalam bentuk, antara lain:
a. Penerbitan peraturan yang menjadi landasan penataan
perundang-undangan, yang meliputi:
1) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 51 Tahun 2012 tentang
Standar Operasional Prosedur di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
SEKRETARIAT KABINET
15
BAB I
2) Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 57 Tahun 2012 tentang
Standar Pelayanan Unit Kerja di Lingkungan Sekretariat Kabinet.
b. Upaya peningkatan efektivitas pengelolaan Peraturan
Perundang-undangan (PUU), melalui:
1) Penerbitan Surat Sekretaris Kabinet mengenai izin penyusunan
yang dapat memberikan pedoman bagi pemrakarsa dalam pelaksanaan penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres), Rancangan Keputusan Presiden (Rkeppres), dan Rancangan Instruksi Presiden (Rinpres);
2) Penerbitan Surat Sekretaris Kabinet mengenai pengembalian
Rancangan yang dinilai disharmonis dan tidak memenuhi unsur formil dan materiil kepada menteri/kepala lembaga pemerintah non kementerian;
3) Penerbitan Surat Edaran Sekretaris Kabinet Nomor
SE.8/Seskab/I/2012 tentang Percepatan Proses Penyelesaian RPerpres, Rkeppres, dan RInpres;
4) Penerbitan Memorandum Sekretaris Kabinet kepada Presiden
mengenai pengajuan RPerpres, RKeppres, dan RInpres guna penetapannya;
5) Penyelesaian Briefing Sheet/telaahan staf/memorandum atas
izin prakarsa penyusunan RPerpres, RKeppres, dan RInpres;
6) Penyelesaian Briefing Sheet/telaahan staf/memorandum atas
suatu RPerpres, RKeppres, dan RInpres;
7) Penyelesaian Briefing Sheet/telaahan staf/memorandum yang
menjabarkan disharmonis, tumpang tindih, atau multitafsir suatu PUU;
8) Penyelesaian surat (daftar A dan B) distribusi
perundang-undangan (Perpres, Keppres, dan Inpres);
9) Penyelesaian Daftar Rekapitulasi Perpres, Keppres, dan Inpres;
10) Pemuatan Peraturan Sekretaris Kabinet dan Keputusan
Sekretaris Kabinet dalam Sistem Informasi Perundang-Undangan (SIPUU);
11) Pembangunan SIPUU yang telah dilakukan perbaikan tampilan
SEKRETARIAT KABINET
16
BAB I
12) Penyelesaian Daftar Rekapitulasi Perseskab dan Keputusan
Sekretaris Kabinet (Kepseskab).
3. Program Penataan dan Penguatan Organisasi
Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi secara proporsional sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas, sehingga organisasi menjadi tepat fungsi dan tepat ukuran. Program ini telah dilaksanakan melalui berbagai langkah dan upaya antara lain:
a. Pelaksanaan evaluasi kelembagaan Sekretariat Kabinet tahun 2010
yang menghasilkan berbagai rekomendasi untuk penyempurnaan organisasi dan tata laksana;
b. Penyempurnaan organisasi, sebagai tindak lanjut hasil evaluasi
kelembagaan Sekretariat Kabinet tahun 2010, dengan menerbitkan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet;
c. Penguatan unit kerja yang menangani organisasi, kepegawaian,
kehumasan, dan diklat.
4. Program Penataan Tatalaksana
Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem, proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien dan terukur pada masing-masing unit kerja di lingkungan Sekretariat Kabinet, telah dilakukan berbagai langkah dan upaya melalui:
a. Pengembangan Sistem Informasi dalam rangka mendukung
pembangunan manajemen pemerintahan berbasis Teknologi Informasi (TI) dalam rangka mendukung pembangunan manajemen pemerintahan berbasis teknologi informasi, yang menghasilkan:
1) Terbentuknya Grand Design Sistem Informasi Manajemen
Sekretariat Kabinet yang ditindaklanjuti dengan beroperasi-nya:
a) SIPUU;
b) Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG);
SEKRETARIAT KABINET
17
BAB I
2) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 56 Tahun
2012 tentang Grand Design Pengembangan Sistem Informasi
Manajemen Tahun 2011—2014.
b. Pelaksanaan seluruh tugas dan fungsi sesuai prosedur kerja yang
telah diformalkan, melalui:
1) Penerbitan Petunjuk Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi
Pelaksanaan Standar Pelayanan (SP) di lingkungan Sekretariat Kabinet yang ditetapkan dengan Keputusan Deputi
Sekretaris Kabinet Bidang Administrasi Nomor
KEP.65/Setkab/DA /XII/2010;
2) Pembentukan Tim Evaluasi Pelaksanaan Standar Pelayanan
Unit Kerja di lingkungan Sekretariat Kabinet yang ditetapkan dengan Keputusan Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Administrasi Nomor KEP.66/Setkab/DA/XII/2010;
3) Penerbitan Pedoman Penyusunan dan Evaluasi Standar
Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan dengan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 9 Tahun 2013;
4) Pelaksanaan evaluasi atas Standar Pelayanan berdasarkan
ketentuan dari Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Nomor 35 dan 36 Tahun 2012;
5) Pelaksanaan tindak lanjut evaluasi melalui perumusan ulang
SP dengan menyesuaikan pada struktur organisasi baru yang menghasilkan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 51 Tahun 2012 tentang SOP di Lingkungan Sekretariat Kabinet dan Nomor 57 Tahun 2012 tentang SP Unit Kerja di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
6) Penetapan sebanyak 153 (seratus lima puluh tiga) SOP dan 6
(enam) SP sesuai dengan tugas dan fungsi pada tahun 2012;
7) Penambahan SOP sebanyak 16 (enam belas) SOP dan 1
(satu) SP pada tahun 2013 yang ditetapkan dengan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 66 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Kepseskab Nomor 51 Tahun 2012 tentang SOP di Lingkungan Sekretariat Kabinet (SOP Inspektorat), sedangkan penambahan SP ditetapkan oleh Keputusan Deputi Bidang Administrasi Nomor Kep.41/ADM/IX/ 2013 Tahun 2013 tentang SP Pelayanan Informasi Publik;
SEKRETARIAT KABINET
18
BAB I
8) Penetapan IKU Sekretariat Kabinet melalui Perseskab dan
penetapan IKU untuk masing-masing Kedeputian;
9) Penyesuaian IKU yang ada dengan Renstra Sekretariat
Kabinet 2010—2014;
10) Penetapan jadwal retensi arsip dan pedoman klasifikasi arsip
Sekretariat Kabinet melalui Perseskab Nomor 1 Tahun 2013 untuk jadwal retensi arsip dan Perseskab Nomor 7 tahun 2013 untuk Klasifikasi Arsip Sekretariat Kabinet;
11) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 16 Tahun
2012 Tentang Tata Naskah Dinas Sekretariat Kabinet.
c. Penerbitan Peraturan dan Keputusan Sekretaris Kabinet serta
Peraturan dan Keputusan Deputi Bidang Administrasi mengenai Penataan Tata Laksana, melalui:
1) Tahun 2010
a) 2 (dua) Perseskab;
b) 17 (tujuh belas) Kepseskab;
c) 66 (enam puluh enam) Keputusan Deputi Bidang
Administrasi.
2) Tahun 2011
a) 6 (enam) Perseskab;
b) 41 (empat puluh satu) Kepseskab;
c) 81 (delapan puluh satu) Keputusan Deputi Bidang
Administrasi.
3) Tahun 2012
a) 18 (delapan belas) Perseskab;
b) 57 (lima puluh tujuh) Kepseskab;
c) 108 (seratus delapan) Keputusan Deputi Bidang
Administrasi.
4) Tahun 2013
a) 9 (sembilan) Perseskab;
b) 66 (enam puluh enam) Kepseskab;
c) 2 (dua) Peraturan Deputi Bidang Administrasi;
d) 57 (lima puluh tujuh) Keputusan Deputi Bidang
SEKRETARIAT KABINET
19
BAB I
5. Program Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur
Program ini dimaksudkan untuk mewujudkan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia aparatur yang didukung oleh sistem rekruitmen dan promosi berbasis kompetensi, transparan serta memperoleh gaji dan bentuk jaminan kesejahteraan yang sepadan melalui:
a. Peningkatan ketaatan terhadap pengelolaan sumber daya manusia
aparatur, dengan menerbitkan:
1) Dokumen analisis jabatan;
2) Dokumen peta jabatan;
3) Dokumen analisis beban kerja;
4) Dokumen evaluasi jabatan;
5) Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 6 tahun 2011
tentang Peringkat Jabatan di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
6) Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 129 Tahun 2011
tentang Pemberian Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
7) Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 6 Tahun 2012
tanggal 18 April 2012 tentang Peringkat Jabatan di lingkungan Sekretariat Kabinet;
8) Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 115 Tahun 2012
tanggal 30 April 2012 tentang Pemberian Tunjangan Kinerja Pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet.
b. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sumber
daya manusia aparatur, melalui:
1) Penyusunan Draf Pola Karir Sekretariat Kabinet (masih
menunggu Pedoman Pola Karir Nasional);
2) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor
KEP.15/SESKAB/X/2010 tentang Pembentukan Tim Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Lingkungan Sekretariat Kabinet Tahun Anggaran 2010;
3) Penerbitan Keputusan Deputi Administrasi Nomor
KEP.47/SEKRETARIAT KABINET/DA/X/2010 tentang
Pembentukan Sekretariat Tim Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Kabinet Tahun Anggaran 2010;
SEKRETARIAT KABINET
20
BAB I
4) Penerbitan Keputusan Deputi Administrasi Nomor
KEP.48/SEKRETARIAT KABINET/DA/X/2010 tentang
Pembagian Bidang dan Tugas Anggota Tim Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Sekretariat Kabinet Tahun Anggaran 2010;
5) Pengadaan CPNS Tahun 2013 secara online dengan seleksi
melalui metode Computer Asissted Test (CAT);
6) Penerbitan Keputusan Deputi Bidang Administrasi Nomor
KEP.35/ADM/08/2013 tentang Tim Penyusun Sistem Seleksi
Penerimaan CPNS secara Online di Lingkungan Sekretariat
Kabinet;
7) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 57 Tahun
2013 tentang Tim Pewawancara Pengadaan CPNS Sekretariat Kabinet;
8) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 49 Tahun
2013 tentang Tim Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil Sekretariat Kabinet;
9) Penerbitan Keputusan Deputi Bidang Administrasi Nomor
KEP.46/ADM/10/2013 tentang Panitia Pelaksanaan Ujian Tertulis Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Sekretariat Kabinet;
10) Pemberian penghargaan kepada pegawai (satya lancana karya
satya, wira karya dan usulan pegawai teladan);
11) Penyelenggaraan survei kepuasan pegawai tahun 2012 dan
2013.
c. Peningkatan disiplin sumber daya manusia aparatur, melalui:
1) Sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010
tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, yang diselenggarakan pada 28-29 November 2011, yang dihadiri oleh 350 (tiga ratus lima puluh) pejabat dan pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet;
2) Sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010
tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, yang diselenggarakan pada 10-11 November 2012, yang dihadiri oleh 243 (dua ratus empat puluh tiga) pejabat dan pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet;
SEKRETARIAT KABINET
21
BAB I
3) Penyusunan laporan pelanggaran disiplin dan penerapan
hukum disiplin di lingkungan Sekretariat Kabinet;
4) Penerbitan Keputusan Deputi Bidang Administrasi Sekretariat
Kabinet Nomor KEP.32/ADM/VII/2011 tanggal 15 Juli 2011 tentang Penetapan Koordinator Pengelola Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
5) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 21 Tahun
2011 tanggal 13 Juli 2011 tentang Penetapan Wajib Lapor Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
6) Pemberian teguran terhadap wajib LHKPN yang belum
menyampaikan LHKPN;
7) Sosialisasi Pengendalian Gratifikasi pada tanggal 16 Desember
2013 yang dihadiri oleh 146 (seratus empat puluh enam) pejabat dan pegawai.
d. Peningkatan efektivitas manajemen sumber daya manusia aparatur,
melalui:
1) Pembangunan dan pengembangan Sistem Manajemen Kinerja
yang telah dilaksanakan pada tahun 2011—2012;
2) Penyusunan Cascading Penilaian Kinerja Individu tanggal 1
Oktober 2013 yang dihadiri oleh 62 (enam puluh dua) orang perwakilan pejabat eselon III dan IV di seluruh unit kerja Sekretariat Kabinet;
3) Penyelarasan Sasaran Kerja Pegawai dan Pelatihan
Penggunaan Aplikasi Altius (Sistem Penilaian Kinerja Individu) tanggal 15 November 2013;
4) Sosialisasi PP Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi
Kerja PNS pada tanggal 21-22 Mei 2013 yang dihadiri oleh 292 (dua ratus sembilan puluh dua) pejabat dan pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet;
5) Pengembangan dan pemutakhiran database kepegawaian
secara terus menerus sejak tahun 2006.
e. Peningkatan profesionalisme sumber daya manusia aparatur,
melalui:
SEKRETARIAT KABINET
22
BAB I
2) Penerbitan Standar Kompetensi Jabatan;
3) Pelaksanaan uji kompetensi yang menghasilkan profil
kompetensi pegawai yang dilakukan secara bertahap, dan telah diselesaikan pada tahun 2013;
4) Kerjasama dengan pihak ketiga untuk pelaksanaan kegiatan
assessment pejabat dan pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet;
5) Penyusunan kebijakan pengelolaan diklat yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan diklat;
6) Pelaksanaan survei terhadap pelaksanaan diklat melalui
kuesioner;
7) Pelaksanaan capacity building melalui diklat teknis dan
fungsional;
8) Pelaksanaan workshop budaya kerja.
6. Program Penguatan Pengawasan
Dalam rangka peningkatan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, telah dilaksanakan berbagai langkah dan upaya meliputi:
a. Peningkatan kepatuhan terhadap pengelolaan keuangan negara,
melalui:
1) Penerbitan Perseskab Nomor 2 Tahun 2012 tentang Sistem
Akuntansi Sekretariat Kabinet;
2) Penerbitan Perseskab Nomor 10 Tahun 2012 tentang
Mekanisme dan Tata Cara Pelaksanaan Anggaran pada Bagian Anggaran 114 Sekretariat Kabinet;
3) Penerbitan Perseskab Nomor 13 Tahun 2012 tentang
Penyelesaian Kerugian Negara Pada Bagian Anggaran 114 (Sekretariat Kabinet);
4) Penerbitan Perseskab Nomor 4 Tahun 2013 tentang Petunjuk
Pelaksanaan, Perencanaan dan Penganggaran Pada Bagian Anggaran 114 (Sekretariat Kabinet);
5) Pelaksanaan evaluasi kinerja pelaksanaan RKA Sekretariat
Kabinet, setiap tahun;
6) Penerbitan Laporan Keuangan Sekretariat Kabinet secara tepat
SEKRETARIAT KABINET
23
BAB I
7) Pelaksanaan Reviu Internal atas Laporan Keuangan, setiap
tahun;
8) Penerbitan Laporan Bulanan Realisasi Kementerian/Lembaga
Sekretariat Kabinet setiap 3 bulan sekali dan penyampaian
laporan dimaksud secara online kepada Tim Evaluasi dan
Pengawasan Penyerapan Anggaran (TEPPA) melalui UKP4 untuk diteruskan kepada Presiden RI;
9) Penerbitan Laporan Semesteran dan Tahunan Pelaksanaan
Tugas dan Fungsi Sekretariat Kabinet tepat waktu;
10) Monitoring dan evaluasi atas Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan
(TLHP) BPK atas audit Laporan Keuangan Sekretariat Kabinet, setiap tahun;
11) Penerbitan Laporan Pelaksanaan Rencana Pembangunan (PP
39/2006) Sekretariat Kabinet per tri wulanan setiap tahun dan
penyampaian laporan dimaksud secara online kepada
Bappenas;
12) Penilaian WTP dari BPK sejak mempunyai Bagian Anggaran
sendiri (BA 114) pada tahun 2012;
13) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2012
tentang Kelompok Kerja Layanan Pengadaan secara Elektronik di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
14) Penerbitan Keputusan Deputi Bidang Administrasi Nomor
Kep.5/Adm/I/2012 tentang Pembentukan Kelompok Pelaksana LPSE di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
15) Penerbitan Dokumen hasil kajian/analisis kebutuhan dan
dokumen pelaksanaan e-Procurement (LPSE) Sekretariat
Kabinet tahun 2012 dan 2013;
16) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 12 Tahun 2012
tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
17) Penyelenggaraan berbagai sosialisasi dan bimtek terkait
pelaksanaan pengelolaan keuangan negara.
b. Penurunan tingkat penyalahgunaan wewenang, melalui:
1) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 8 tahun 2012
tentang Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
SEKRETARIAT KABINET
24
BAB I
2) Sosialisasi SPIP yang diselenggarakan pada tanggal 14-15
November 2011;
3) Evaluasi terhadap penyelenggaraan SPIP Sekretariat Kabinet
Tahun 2012, Evaluasi ini sudah terlaksana di bulan Desember 2012 dengan pelaksana Inspektorat Sekretariat Kabinet bekerjasama dengan auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Hasil evaluasi tersebut dapat
diketahui dari Laporan Hasil Diagnostic Assessment SPIP pada
Sekretariat Kabinet;
4) Penerbitan Laporan Hasil Pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun
2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi dan Prosiding Kegiatan Kormonev sejak tahun 2009 sampai dengan 2011;
5) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Penanganan dan Pengaduan (Whistle Blower)
Tindak Pidana Korupsi di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
6) Penerbitan Surat Edaran Nomor 624/ADM/VI/2012 perihal
pelaksanaan Inpres tentang penghematan energi dan air;
7) Penerbitan Dokumen Aksi Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi Sekretariat Kabinet Tahun 2013 dan penandatanganan MoU Sekretariat Kabinet dengan Bappenas terkait Dokumen Aksi PPK Sekretariat Kabinet.
7. Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja
Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas Sekretariat Kabinet, dan telah dilaksanakan melalui:
a. Pembangunan dan pengembangan sistem akuntabilitas kinerja
yang mampu mendorong tercapainya kinerja organisasi yang terukur, melalui:
1) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor
Per.1/SESKAB/II/2010 Tahun 2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2010—2014;
2) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 5 Tahun 2012
tentang Penyempurnaan Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014;
SEKRETARIAT KABINET
25
BAB I
3) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 2 Tahun 2013
tentang Penyempurnaan Kedua Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014;
4) Penetapan IKU Sekretariat Kabinet setiap tahun melalui
Peraturan Sekretaris Kabinet;
5) Penetapan Kinerja (PK) Sekretariat Kabinet;
6) Penerbitan RKT Sekretariat Kabinet;
7) Penerbitan dan penyampaian Laporan Akuntabilitas Kinerja
(LAKIP) Sekretariat Kabinet;
8) Penerbitan dokumen AKIP di setiap satuan organisasi
(kedeputian) dan seluruh unit kerja (unit eselon II);
9) Penerbitan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 2 Tahun 2011
tentang Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Evaluasi AKIP di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
10) Penerbitan Laporan Hasil Evaluasi AKIP Eselon I dan II di
Lingkungan Sekretariat Kabinet (evaluasi internal) setiap tahun;
11) Penerbitan dokumen Laporan Reviu Capaian PK Triwulan I dan
II Tahun 2013;
12) Sosialisasi SAKIP di Lingkungan Sekretariat Kabinet yang
diselenggarakan pada tanggal 27-29 Oktober 2011;
13) Bimtek Sistem Pengumpulan dan Pengolahan Data Kinerja
Sekretariat Kabinet pada tanggal 7-10 Desember 2011;
14) Pembangunan Sistem Manajemen Kinerja yang melibatkan
konsultan, pada tahun 2011 sampai dengan 2012;
15) Pembangunan Sistem Penilaian Kinerja Individu pada tahun
2013;
16) Pembangunan dan pengembangan workflow management
system untuk mempercepat pemrosesan berkas-berkas masuk serta memonitor kecepatan pemrosesan berkas-berkas tersebut guna mendukung sistem pengumpul-an/pengolahan data kinerja.
b. Pembentukan pusat layanan informasi dan pengaduan masyarakat,
dengan:
1) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 4/RB Tahun
2011 tentang Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
SEKRETARIAT KABINET
26
BAB I
2) Penyediaan loket pengaduan (Contact Media Center) dan kotak
pengaduan masyarakat;
3) Penyediaan Media untuk menampung pengaduan secara online
(melalui website Sekretariat Kabinet).
8. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat, dilakukan upaya dan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Penyediaan dukungan teknologi komunikasi dan informasi dalam
implementasi pelayanan, melalui:
1) Pembangunan dan pengembangan sistem informasi
manajemen (SIM) di masing-masing unit kerja;
2) Integrasi SIM di tingkat Sekretariat Kabinet;
3) Peningkatan kapasitas bandwith jaringan berdasarkan MoU
Sekretariat Kabinet dengan PT. Telkom;
4) Penyediaan ruang layanan informasi publik (contact media
center);
5) Survei secara manual maupun online melalui pooling website
Sekretariat Kabinet terhadap 3 (tiga) layanan yang menjadi
Quick Wins Sekretariat Kabinet maupun layanan website
Sekretariat Kabinet.
b. Pembentukan imej positif terhadap organisasi, melalui:
1) Inventarisasi jenis layanan dan standar pelayanan baru
berdasarkan tugas dan fungsi;
2) Penetapan Standar Pelayanan (SP) Sekretariat Kabinet dengan
Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor SP 01 Tahun 2009 yang telah disempurnakan dengan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 57 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Unit Kerja di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
3) Penerbitan Perseskab Nomor 5 Tahun 2013 tentang Pedoman
Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi;
4) Penerbitan Kepseskab Nomor 19 Tahun 2013 tentang
Pembentukan Tim Pengelola Informasi dan Dokumentasi di Lingkungan Sekretariat Kabinet;
5) Sosialisasi SP dan SOP secara tatap muka dan uploading SP
SEKRETARIAT KABINET
27
BAB I
6) Penerbitan Keputusan Deputi Bidang Administrasi No.
Kep.106/Adm/XII/2012 tentang Penetapan SP Penerbitan Keputusan Presiden tentang KPP dan Pensiun PNS Golongan IV/c ke atas;
7) Penerbitan Keputusan Deputi Bidang Administrasi Nomor
Kep.41/ADM/IX/2013 Tahun 2013 tentang SP Pelayanan Informasi Publik;
8) Penilaian Pelayanan Publik pada Sekretariat Kabinet oleh
Kementerian PAN dan RB tanggal 30 Desember 2013;
9) Penyediaan kotak pengaduan/kotak saran untuk
stakeholder/pengunjung Sekretariat Kabinet maupun pegawai di lingkungan Sekretariat Kabinet;
10) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 27 Tahun
2011 tentang Desk Info Sekretaris Kabinet;
11) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 9 Tahun 2012
tentang Desk Info Sekretaris Kabinet;
12) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 13 Tahun
2013 tentang Desk Info Sekretaris Kabinet;
13) Penerbitan Keputusan Sekretaris Kabinet Nomor 3 Tahun 2014
tentang Desk Info Sekretaris Kabinet.
Dalam rangka menjamin kualitas pelaksanaan RB, Sekretariat Kabinet melakukan monitoring dan evaluasi sebagai dasar penilaian atas keberhasilan pelaksanaan RB. Berdasarkan PerMenpan dan RB Nomor 1 Tahun 2012, Sekretariat Kabinet melaksanakan penilaian secara mandiri (PMPRB) terkait 5 (lima) Kriteria Pengungkit (Kepemimpinan; Perencanaan Strategis; Sumber Daya Manusia Aparatur; Kemitraan dan Sumber Daya; dan Proses), dan 4 (empat) Kriteria Hasil (Hasil Pada Masyarakat dan Pengguna Layanan; Hasil pada SDM Aparatur; Hasil Pada Komunitas Lokal dan Nasional; dan Hasil Kinerja Utama). PMPRB tersebut memberikan gambaran hal-hal yang sudah baik dan hal-hal yang masih memerlukan perbaikan yang perlu diupayakan perbaikannya oleh unit kerja, sebagaimana dituangkan dalam Kertas Kerja Rencana Perbaikan.
Tindak lanjut dari rencana perbaikan tersebut, antara lain:
1. Kepemimpinan
a. Penyelenggaraan Workshop Pengembangan Budaya Kerja sebagai
SEKRETARIAT KABINET
28
BAB I
lingkungan Sekretariat Kabinet, yang menghasilkan konsep Budaya Kerja Sekretariat Kabinet, yaitu PAsTI (Profesional, Akuntabilitas, Tanggap dan Integritas) dan draf Perseskab penetapannya. Dalam
penetapan budaya kerja, didalamnya mencakup penetapan role
model di Sekretariat Kabinet, dengan ketentuan bahwa role model
adalah seluruh pejabat eselon I, II, dan anggota tim RB, serta menyertakan penetapan agen perubahan yang berperan sebagai katalisator proses perubahan di dalam pelaksanaan RB di Sekretariat Kabinet.
b. Optimalisasi media komunikasi serta penguatan fungsi kehumasan,
antara lain melalui penyempurnaan tampilan dan update content website Sekretariat Kabinet, dan pengikutsertaan dalam kegiatan diklat kehumasan, seperti mengikuti kegiatan Badan Koordinasi Kehumasan Pemerintah (BAKOHUMAS).
2. Perencanaan Strategis
Optimalisasi evaluasi kinerja individu dan organisasi, melalui penyusunan sistem penilaian kinerja individu.
3. SDM Aparatur
a. Pembangunan dan pengembangan sistem manajemen kinerja
organisasi dan individu berbasis Balanced Scorecard dan
menyempurnakan sistem penilaian kinerja individu sampai dengan level staf, serta meningkatkan transparansi dalam perekrutan
pegawai melalui pembangunan e-CPNS dalam penerimaan CPNS
secara online
b. Optimalisasi tindak lanjut hasil assessment individu sebagai bahan
pertimbangan dalam penataan SDM aparatur maupun sebagai
feedback bagi individu yang bersangkutan.
c. Promosi jabatan struktural yang dilakukan oleh Badan
Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) salah satunya mempertimbangkan aspek kepemimpinan disamping kompetensi lainnya.
4. Kemitraan dan Sumber Daya
a. Optimalisasi pencapaian Quick Wins untuk meningkatkan intensitas
komunikasi dengan pemangku kepentingan utama dengan
menindaklanjuti hasil survei Quick Wins, antara lain perlunya
SEKRETARIAT KABINET
29
BAB I
b. Optimalisasi media komunikasi elektronik dalam mendiseminasi
kebijakan dan menjaring saran dan masukan dari masyarakat.
c. Optimalisasi fungsi SPIP secara optimal untuk meningkatkan
ketaatan, efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi, dan optimalisasi efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran diantaranya melalui reviu internal atas laporan keuangan setiap periode.
d. Peningkatan knowledge management khususnya terkait dengan
analisis kebijakan, melalui diklat yang intensif, serta menyediakan
informasi dan pengetahuan bagi pegawai dalam bentuk manual
book dari setiap aplikasi yang dibangun.
e. Optimalisasi penggunaan fasilitas dan pelaksanaan evaluasi
kebijakan pengelolaan aset, serta peningkatan keterampilan pegawai dalam penguasaan penggunaan fasilitas terutama yang berkaitan dengan teknologi.
f. Optimalisasi teknologi dan sistem informasi, diantaranya melalui:
Pengembangan sistem informasi Sekretariat Kabinet melalui
penyempurnaan tampilan dan content SIPUU, Sistem Informasi
Kepegawaian, Sistem Informasi Sidang Kabinet dan website
Sekretariat Kabinet;
Optimalisasi Sistem Persuratan dan Disposisi Elektronik (SPDE)
menuju paperless;
Optimalisasi jejaring media sosial seperti twitter (@setkabgoid)
dan facebook sebagai sarana untuk mendiseminasikan informasi kepada publik.
5. Proses
a. Penyusunan SP dan SOP serta evaluasi survei pelaksanaan dan
penyempurnaan SOP.
b. Peningkatan intensitas diklat sevice excellent sesuai dengan tugas
dan fungsi masing-masing unit kerja, terutama unit kerja yang
terkait dengan program Quick Wins Sekretariat Kabinet.
c. Peningkatan sumber daya (anggaran) dalam pengembangan
inovasi sebagai investasi organisasi serta optimalisasi media komunikasi khususnya elektronik guna meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan inovasi.
SEKRETARIAT KABINET
30
BAB I
1.2. Potensi dan Permasalahan
Setiap organisasi ingin terus berkembang untuk meningkatkan eksistensinya dalam memenuhi tuntutan lingkungan baik internal maupun eksternal, sehingga organisasi perlu berupaya untuk menggunakan kemampuan, memperhatikan kelemahan, memanfaatkan peluang dan mengatasi tantangan yang kompleks. Guna mengetahui isu-isu penting bagi organisasi, diperlukan suatu analisis lingkungan strategis yang menganalisis organisasi mencakup lingkungan internal berupa kekuatan dan kelemahan organisasi, dan lingkungan eksternal berupa peluang dan tantangan. Kekuatan dan peluang merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam rangka memperkuat organisasi, sedangkan kelemahan dan tantangan merupakan permasalahan yang perlu diantisipasi agar organisasi dapat terus berkembang.
Analisis lingkungan tersebut dilakukan dengan menggunakan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Kekuatan (Strengths)
Sekretariat Kabinet berkembang menjadi organisasi yang profesional dan handal, karena memiliki kekuatan yaitu:
a. Visi dan misi organisasi yang jelas;
b. Tugas dan fungsi yang jelas;
c. Komitmen yang kuat dari pimpinan dan seluruh staf untuk mewujudkan visi
dan misi organisasi;
d. SDM yang dapat terus ditingkatkan kompetensinya melalui pendidikan dan
pelatihan struktural, teknis, dan fungsional termasuk kerjasama dengan pihak/lembaga pemerintah yang lain;
e. Dokumen hukum dan hasil-hasil sidang kabinet, rapat dan atau pertemuan
yang dipimpin oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden yang mendukung penelaahan dalam rangka memberikan analisis kebijakan kepada Presiden secara optimal;
f. Struktur organisasi yang lebih efektif dan dinamis dengan pendekatan
pembagian fungsi Kementerian Koordinator dalam rangka mendukung tugas Presiden.
g. Pengembangan dan pemanfaatan TI dalam pelaksanaan tugas secara efektif
dan efisien; dan
h. Meningkatnya imej positif pemangku kepentingan dan masyarakat terhadap
SEKRETARIAT KABINET
31
BAB I
2. Kelemahan (Weaknesses)
Di samping kekuatan-kekuatan yang dimiliki Sekretariat Kabinet yang dapat mendukung menjadi organisasi yang profesional dan handal tersebut, Sekretariat Kabinet perlu mewaspadai kelemahan-kelemahan yang sampai saat ini masih ada dalam organisasi untuk segera melakukan pembenahan. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan pengembangan kapasitas SDM belum optimal;
b. Pelaksanaan SP dan Standard Operating Procedure (SOP) belum optimal
dalam menunjang tugas dan fungsi Sekretariat Kabinet;
c. Sarana dan prasarana belum terpenuhi sesuai kebutuhan;
d. Pengendalian internal belum berjalan secara optimal; dan
e. Pengembangan nilai budaya kerja Sekretariat Kabinet belum optimal.
3. Peluang Organisasi (Opportunities)
Dinamika lingkungan eksternal yang cepat berkembang masih memberikan peluang-peluang yang memungkinkan organisasi berkembang untuk menjadi yang terbaik. Peluang-peluang tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kebijakan-kebijakan nasional terkait tata kelola pemerintahan yang baik
(good governance) memperkuat landasan lembaga pemerintahan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat;
b. Komitmen nasional untuk melaksanakan reformasi birokrasi dan
pemberantasan KKN;
c. Pengembangan dan kemajuan TI yang cepat dan dinamis dalam mendukung
pengembangan e-government di setiap instansi pemerintah;
d. Pengembangan mekanisme dan kesempatan partisipasi masyarakat dalam
aktivitas proses penyelenggaraan atau pengawasan pelayanan publik;
e. Kerjasama dengan berbagai pihak dalam hal ini lembaga pemerintah,
masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha; dan
f. Tuntutan pemangku kepentingan yang semakin tinggi terhadap kinerja
Sekretariat Kabinet.
4. Ancaman Organisasi (Threats)
Di samping peluang-peluang yang ada, perubahan lingkungan eksternal dapat mengancam keberadaan organisasi, terutama apabila organisasi tidak segera memperbaiki diri. Ancaman organisasi tersebut adalah:
a. Dinamika perekonomian global yang mempengaruhi perekonomian nasional,
SEKRETARIAT KABINET
32
BAB I
b. Dinamika sosial politik yang dapat mempengaruhi eksistensi lembaga
pemerintah; dan
c. Pemberitaan terkait pelaksanaan kebijakan pemerintah belum berimbang dan
belum obyektif.
Berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang masih akan dihadapi organisasi selama lima tahun ke depan, meliputi:
a. Aspek Kelembagaan
1) Pelaksanaan tugas dan fungsi di beberapa unit kerja khususnya yang terkait
dengan pengelolaan manajemen kabinet masih belum optimal; dan
2) Kelembagaan Sekretariat Kabinet masih perlu dikaji dan dievaluasi kembali
dalam rangka pencapaian pelaksanaan tugas lebih optimal, khususnya Koordinasi dan kerja sama antar lembaga pemerintah di pusat dan daerah maupun dengan Lembaga Kepresidenan lainnya.
b. Aspek Ketatalaksanaan
SP dan SOP belum diterapkan secara konsisten dan menyeluruh.
c. Aspek Sumber Daya Manusia
Kualitas SDM perlu terus ditingkatkan dalam mendukung tugas dan fungsi Sekretariat Kabinet.
d. Aspek Sarana dan Prasarana
1) Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung kegiatan organisasi yang
memadai; dan
BAB. II
VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKRETARIAT KABINET
2.1. Visi Sekretariat Kabinet
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 12 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan ketentuan Pasal 1 angka 15 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional, visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan dan Penelahaan Renstra K/L 2015—2019 ditegaskan bahwa visi memberikan gambaran konsistensi kinerja K/L selama 5 (lima) tahun mendatang serta gambaran menyeluruh mengenai peranan dan fungsi suatu organisasi.
Dalam kaitan tersebut, perumusan visi Sekretariat Kabinet berpedoman pada visi misi Presiden yang dijabarkan kedalam RPJMN 2015—2019, khususnya pada agenda Pemantapan Politik Dalam Negeri yang terkait dengan Penguatan Lembaga Kepresidenan. Perumusan visi juga mengacu pada tugas dan fungsi Sekretariat Kabinet sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2010 tentang Sekretariat Kabinet serta dengan memperhatikan capaian kinerja organisasi periode sebelumnya, yaitu tahun 2010—2014. Perumusan visi tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan yang diharapkan Sekretariat Kabinet ke depan dengan memperhatikan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005—2025 mengenai peranan dan fungsi suatu organisasi.
Gambaran mengenai keadaan yang tercermin dalam visi Sekretariat Kabinet
adalah “menjadi Sekretariat Kabinet yang profesional dan handal dalam
mendukung Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan.”
Visi tersebut mengandung pengertian bahwa Sekretariat Kabinet merupakan lembaga pemerintah yang strategis, profesional, dan dapat diandalkan dalam memberikan dukungan kepada Presiden untuk melaksanakan tugas sehari-hari sebagai kepala pemerintahan berupa pemberian dukungan kebijakan dan administrasi secara cepat, tepat, transparan, dan akuntabel.
34
BAB II
Pemberian dukungan kebijakan dan administrasi tidak semata ditujukan kepada Presiden, namun juga kepada Wakil Presiden dan anggota kabinet. Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri/anggota kabinet merupakan satu kesatuan dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan.
Adanya visi ini diharapkan Sekretariat Kabinet akan mampu mengantisipasi berbagai tantangan di masa depan sekaligus meningkatkan kualitas kinerja secara maksimal dalam rangka memberikan dukungan kebijakan dan administrasi kepada Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan.
2.2. Misi Sekretariat Kabinet
Sesuai ketentuan Pasal 1 angka 13 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan ketentuan Pasal 1 angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional, misi merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.
Perumusan ini diperlukan untuk memberi gambaran kepada seluruh pegawai dan stakeholders mengenai peran dan tindakan Sekretariat Kabinet dalam menjalankan tugas dan fungsinya, termasuk berbagai hasil yang ingin dicapai di masa yang akan datang. Perumusan misi Sekretariat Kabinet ini sekaligus berfungsi sebagai landasan kerja yang harus diikuti oleh seluruh pegawai sesuai dengan tugas dan fungsi organisasi.
Rumusan misi Sekretariat Kabinet 2015─2019 adalah “memberikan
dukungan manajemen kabinet kepada Presiden dengan memegang teguh pada
prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).”
Misi tersebut dimaksudkan bahwa dalam rangka membantu Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan diperlukan dukungan manajemen kebijakan dan pengelolaan sidang-sidang kabinet sehingga penyelenggaraan kabinet dapat terlaksana dengan baik dengan mengacu pada prinsip-prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance).
Sekretariat Kabinet tidak hanya sebagai kesekretariatan yang bertugas memberikan dukungan administrasi kepada Presiden, tetapi juga mempunyai tugas memberi dukungan teknis dan pemikiran kepada Presiden selaku Kepala Pemerintahan. Selain itu, Sekretariat Kabinet juga melaksanakan fungsi manajemen kabinet untuk memastikan kebijakan, arahan, keputusan, dan instruksi Presiden dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh para anggota kabinetnya, terutama kebijakan dan program yang menjadi perhatian dan prioritas Presiden.