• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. Pendahuluan. I. 1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. Pendahuluan. I. 1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

Pendahuluan

 

I. 1 Latar Belakang

Pemberlakuan UU No 21 tahun 1999 dan telah direvisi dengan UU No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, dimana setiap daerah di Indonesia memiliki wewenang dalam pengelolaan daerah dalam kegiatan pemerintahan. Hal ini memicu pemerintah daerah untuk mengembangkan daerah baik dari segi pembangunan maupun meningkatkan pendapatan daerah tersebut. Upaya yang dapat dilakukan pemerintah daerah diantaranya menggali kembali potensi yang ada dari daerah tersebut dan mengenalkannya ke masyarakat luas baik didalam maupun diluar daerah yang bertujuan supaya daerah tersebut dapat bersaing dengan daerah-daerah lainnya. Untuk mendukung upaya mengenalkan potensi daerah ke masyarakat luas, dibutuhkan solusi agar pengenalan dapat bersifat lebih luas dan menarik, salah satunya berupa City Branding.

Branding itu sendiri berasal dari kata brand (merek) yang dapat

didefinisikan sebagai kombinasi dari atribut-atribut yang dikomunikasikan melalui nama atau simbol, yang dapat mempengaruhi proses pemilihan suatu produk/ jasa dibenak konsumen (Giribaldi:2003). Brand juga terkait dengan pengalaman ketika berhubungan dengan atau menggunakan produk/ jasa, dimana

brand akan bernilai jika konsumen mempunyai pengalaman yang positif

terhadapnya. Brand bisa berupa nama, logo, simbol, slogan, karakter, kemasan

dan jingle yang dapat digunakan untuk mengevaluasi brand itu sendiri

diantaranya kemudahan untuk diingat (memorability), mempunyai arti

(meaningfulness), mudah ditransfer ke produk kategori atau daerah yang berbeda

(ferability), tidak mudah usang (adaptability), dan dapat diproteksi secara legal (protectability).

Berdasarkan definisi diatas city branding dapat diartikan sebagai sebuah proses pembentukan identitas kota, baik berupa nama, logo, simbol, maupun

(2)

slogan. City branding merupakan sebuah janji yang diberikan kepada orang-orang dengan cara menunjukkan kualitas dari daerah atau kota yang sebenarnya yang menggambarkan keadaan dari daerah kemudian mengembangkan dan menggali potensi yang dimiliki daerah tersebut, guna untuk menonjolkan ciri khas maupun keunggulan dari daerah. Keuntungan melakukan city branding dimana daerah tersebut bisa dikenal luas, mempunyai tujuan khusus, menguatkan tujuan wisata

dan event-event, serta meraih persepsi-persepsi positif dari target pasar.

Kota Bukittinggi merupakan salah satu kota yang terletak ditengah-tengah provinsi Sumatera Barat, mempunyai luas ± 25.239 km2 dengan ketinggian antara 909 M– 941 M diatas permukaan laut. Kota Bukittinggi memiliki iklim udara yang sejuk dengan suhu udara berkisar 17,1° C sampai 24,9° C. Posisinya yang strategis merupakan segitiga perlintasan menuju ke utara, timur dan selatan Sumatera. Topografi kota yang berbukit dan berlembah dengan panorama alam yang indah serta dikelilingi oleh tiga gunung yaitu Merapi, Singgalang dan Sago seakan menjadi tonggak penyangga untuk memperkokoh kota Bukittinggi. Inilah yang menyebabkan Bukittinggi disebut juga sebagai “ Kota Tri Arga”.

Pada tanggal 11 Maret 1984 kota Bukittinggi dicanangkan sebagai Kota Wisata dan Daerah Tujuan Wisata Utama di provinsi Sumatera Barat. Disamping itu kota Bukittinggi juga dilengkapi dengan peninggalan sejarah seperti, Lobang Jepang, Benteng Fort De Kock, Jam Gadang, Rumah Kelahiran Bung Hatta, dll. Hal ini membuktikan kota Bukittinggi sebagai kota tua yang khas dengan sejarah, salah satunya yang selalu melekat dengan sejarah bangsa dimana kota Bukittinggi pernah menjadi Ibu Kota Republik pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Desember 1949 – Juli 1950. Karunia alam maupun sejarah ini menjadikan kota Bukittinggi menjadi tujuan wisata yang menarik untuk dinikmati. Sinergi dengan potensi unggulan daerah lainnya kota Bukittinggi juga dikembangkan menjadi wisata perdagangan dan jasa, wisata konfrensi dan peristirahatan serta jasa lain-lain. Untuk mendukung sektor pariwisata ini disamping objek alam yang ada dalam kota Bukittinggi, juga menyediakan paket-paket wisata daerah-derah sekitarnya, dimana kota Bukittinggi akan berperan sebagai “Home Base“ kunjungan wisata daerah-daerah lain. Saat ini Bukittinggi

(3)

terdapat sebanyak 43 buah hotel baik berbintang maupun melati ditambah 11 mes/ wisma/ pondok wisata.

Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk merancang branding Kota Bukittinggi sebagai upaya pengenalan identitas Kota yang mengangkat keunikan, ciri khas maupun potensi yang dimiliki oleh Kota Bukittinggi. Dengan Perancangan branding ini diharapkan dapat memberikan identitas visual khususnya pada identitas wisata kota Bukittingi. Identitas ini nantinya akan bermanfaat bagi pengenalan atau promosi kota Bukittingggi kepada siapapun terutama kepada wisatawan baik lokal maupun international dan dilain hal dapat memberikan suatu kebanggaan bagi masyarakat lokal kota Bukittingi.

I.2 Permasalahan

I.2.1 Identifikasi Masalah

1. Kota Bukittinggi belum memiliki brand yang kuat.

2. Kota Bukittinggi memiliki banyak potensi wisata yang masih butuh pengenalan dengan tepat, penggambaran yang nyata tentang objek wisata untuk menarik wisatawan.

3. Diperlukannya media promosi dan informasi untuk penggambaran Kota Bukittinggi yang memberikan ketertarikan bagi wisatawan untuk berkunjung sehingga memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi wisatawan tersebut.

I.2.2 Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah yang ingin disampaikan antara lain:

1. Bagaimana merancang identitas kota pariwisata bagi Kota

(4)

2. Bagaimana pengimplementasian rancangan identitas kota pariwisata terhadap media promosi yang tepat bagi khalayak sasaran.

I.3 Ruang Lingkup

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka ruang lingkup proyek tugas akhir ini hanya akan berkisar pada hal-hal yang dapat diolah melalui pendekatan DKV. Perancangan ini ditujukan untuk City Branding Bukittinggi dan bagaimana mempromosikannya. Adapun batasan yang akan dilakukan selama proyek tugas akhir ini adalah:

1. Perancangan identitas visual kota Bukittinggi sebagai kota pariwisata. 2. Perancangan visual media promosi yang tepat bagi khalayak sasaran

yang diharapkan untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota Bukittinggi.

I.4 Tujuan Perancangan

Adapun tujuan dari perancangan ini adalah untuk merancang identitas

visual City Branding Bukittinggi sebagai kota pariwisata dan

pengimplementasiannya ke dalam media promosi yang tepat.

I.5 Cara Pengumpulan Data

1. Studi Pustaka

Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai pariwisata di kota Bukittinggi dari berbagai buku, website, catatan dll.

2. Teknik Observasi

Melakukan pengamatan langsung mengenai destinasi wisata di kota Bukittinggi dimana metode ini digunakan untuk mendapat data yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

(5)

Melakukan wawancara langsung kepada pihak narasumber yang akan dilakukan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukittinggi.

I.6 Kerangka Perancangan

Kota Bukittinggi memiliki banyak potensi wisata

Rumusan masalah

- Belum memiliki yang kuat

- Masih membutuhkan pengenalan yang tepat

Ide    

City  branding  dan  Media  promosi  

Data  

• Studi  pustaka   • Obesrvasi   • Wawancara    

Teori   Brand,   city   branding,   pemasaran,  

periklanan,media,   AISAS,     teori   visual,   analisis   SWOT  

Analisis  

Wawancara,  observasi,  matriks   perbandingan  

Konsep  perancangan   Konsep  pesan,  konsep  kreatif,  konsep  

media,  konsep  visual   Gambar 0.1

Hasil perancangan Memberikan ketertarikan bagi

wisatawan dan meningkatkan kunjungan wisata ke kota Bukittinggi

(6)

I.7 Pembabakan

1. BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini berisikan penjelasan dari latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, ruang lingkup, tujuan perancangan, cara pengumpulan data, kerangka perancangan dan pembabakan singkat dari tiap- tiap bab perancangan tugas akhir ini.

2. BAB II DASAR PEMIKIRAN

Pada bab ini menjelaskan dasar pemikiran dari teori- teori yang relevan untuk digunakan sebagai pijakan dalam merancang dan berkaitan langsung dengan objek pada perancangan tugas akhir ini.

3. BAB III DATA DAN ANALISIS MASALAH

Pada bab ini berisikan data institusi pemberi proyek, data produk yang akan digarap, data khalayak sasaran (demografis, psikografis, dan perilaku konsumen), data proyek sejenis yang pernah dilakukan, dan data hasil observasi, wawancara, kuisioner, dll.

4. BAB IV KONSEP DAN HASIL PERANCANGAN

Pada bab ini berisikan tentang konsep pesan (ide besar), konsep kreatif (pendekatan), konsep media (media apa saja yang digunakan, perencanaan media), konsep visual (jenis- jenis huruf, bentuk, warna, gaya visual). Hasil perancangan mulai dari sketsa hingga penerapan visual pada media.

5. BAB V PENUTUP

Pada bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dari perancangan yang telah dilakukan serta saran dan ide yang bisa diterapkan.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menganalisis kinerja jaringan Wireless Local Area Network (WLAN) pada Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Selatan dengan cara mengukur kualitas layanan atau

Peta yang akan dihasilkan menggambarkan bentuk kota atau morfologi wilayah kota Jayapura, analisis peta dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis perubahan bentuk

Peningkatan terhadap kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) merupakan salah satu peran yang tidak pernah terlepas dari pembangunan ekonomi suatu daerah maupun negara

Pencarian dan pengumpulan data serta analisis yang tepat mengenai kondisi geologi dan endapan batubara di suatu daerah dapat menggambarkan jumlah dan kualitas

Sehingga dengan adanya pendidikan akhlak yang diberikan oleh para orang tua tersebut dapat senantiasa dijadikan sebagai suatu upaya penanaman nilai-nilai karakter

Pada sasaran ini, metode analisis deskriptif digunakan dengan cara meninjau data sekunder yang berasal dari dokumen resmi daerah Kota Metro terkait kebijakan dan strategi

Kemacetan jalanan yang sering membuat orang menjadi stress dan lapar serta banyaknya kesibukan yang dilakukan setiap individu seseorang terutama di daerah

Begitu pula dengan tren, semakin banyak manusia dalam suatu kota, maka tren akan mempengaruhi kehidupan kota tersebut, ditambah dengan keadaan gedung bioskop di Surakarta yang